Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH SURVEILANS GIZI

PERKEMBANGAN SURVEILANS GIZI DI INDONESIA

DISUSUN OLEH :

HELDA MILALISA PO.62.31.3.17.407

MARTINUS PO.62.31.3.17.411

MZ. FAISAL CANDRA PO. 62.31.3.17.415

RUSWANDI WARDANA PO. 62.31.3.17.429

TRIXI DESTIA JULIANI PO. 62.31.3.17.435

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN
SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN PALANGKARAYA
PROGRAM STUDI DIPLOMA GIZI
2019
Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Surveilans Gizi Di Indonesia.

Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasia meridoi segala usaha kita. Amin

Palangkaraya, 27 Januari 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………………………i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………1


1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………………...2
1.3 Tujuan ……………………………………………………………………….2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Surveilans Gizi…….…………………………………………….3


2.2 Sejarah Surveilans Gizi …...…………………………………………………4
2.3 Indikator Keberhasilan Surveilans …………………………………………. 8

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ………………………………………………………………....12


3.2 Saran ..………………………………………………………………………12

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebelum Anda mendalami tentang surveilans gizi maka berikut ini akan
diuraikan tentang arti surveilans secara umum. Dalam dunia kesehatan, surveilans
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengawasi kesehatan, baik perorangan
maupun komunitas. Dalam kesehatan kerja misalnya, surveilans kesehatan kerja
dilakukan dengan pemantauan kesehatan pekerja yang sistematis dan terus menerus
sehubungan dengan bahaya di tempat kerja, misalnya surveilans dan pemantauan
medis terhadap karyawan yang dilakukan suatu klinik di Malaysia. Kegiatan
surveilans ini dilakukan berdasarkan Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja, yang meliputi pemeriksaan kesehatan prakerja dan prapenempatan,
pemantauan biologis dan pemantauan efek biologis, pemantauan efek kesehatan,
investigasi penyakit atau keracunan kerja termasuk pemeriksaan di tempat kerja,
pemberitahuan tentang penyakit akibat kerja dan keracunan, penilaian kecacatan,
kembali ke ujian kerja, dan analisis perlindungan asuransi kesehatan.

Kegiatan surveilans di Indonesia juga dapat terlihat saat diadakannya


pemantauan kesehatan Ibadah Haji. Dalam menjaga kesehatan para jemaah haji ini
salah satu pelayanan yang diberikan kepada jemaah haji Indonesia adalah
pengawasan atau surveilans terhadap kelayakan dan kesehatan menu katering.
Pengawasan ini penting agar keamanan makanan bagi para jemaah haji tetap terjaga,
sehingga jemaah haji tidak jatuh sakit yang disebabkan karena ada kesalahan dalam
pelayanan makanan. Selanjutnya, pengertian surveilans epidemiologi yaitu kegiatan
untuk memonitor frekuensi dan distribusi penyakit di masyarakat. Frekuensi penyakit
adalah jumlah orang yang menderita suatu penyakit di dalam suatu populasi,
sedangkan distribusi penyakit adalah siapa saja yang menderita dilihat dari berbagai
karakteristik, baik umur, jenis kelamin, lokasi kejadian dan waktu terjadinya penyakit
tersebut

Dalam Kesehatan Masyarakat, sebelum tahun 1950, surveilans diartikan


sebagai upaya pengawasan secara ketat kepada penderita penyakit menular, sehingga
penyakitnya dapat ditemukan sedini mungkin dan diisolasi secepatnya serta dapat
diambil langkah-langkah pengendalian seawal mungkin.

Surveilans Kesehatan Masyarakat dapat didefinisikan sebagai upaya rutin


dalam pengumpulan, analisis dan diseminasi data yang relevan yang diperlukan untuk
mengatasi masalah-masalah kesehatan masyarakat.

Surveilans kesehatan masyarakat adalah bentuk aplikasi dari epidemiologi


deskriptik maupun analitik yang merupakan proses pengumpulan data kesehatan yang
mencakup tidak saja pengumpulan informasi secara sistematik, tetapi juga melibatkan
analisis, interpretasi, penyebaran, dan penggunaan informasi kesehatan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Pegertian surveilans gizi
2. Sejarah surveilans gizi
3. Indikator Keberhasilan Surveilans

1.3 Tujuan
 Mahasiswa mampu mengetahui yang di maksut dengan surveilans gizi
 Mahasiswa mampu mengetahui sejarah surveilans gizi di Indonesia
 Mahasiswa mampu mengetahui perkembangan surveilans gizi
 Mahasiswa mengetahui kegunaan surveilans gizi di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pegertian Surveilans Gizi

Surveilans gizi adalah proses pengamatan masalah dan program gizi secara
terus menerus baik situasi normal maupun darurat, meliputi: Pengumpulan,
pengolahan, analisis dan pengkajian data secara sistematis serta penyebarluasan
informasi untuk pengambilan tindakan sebagai respon segera dan terencana.

Hasil surveilans dan pengumpulan serta analisis data digunakan untuk


mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang status kesehatan populasi guna
menetapkan kebijakan program, merencanakan intervensi, pelaksanaan kegiatan, dan
mengevaluasi program kesehatan masyarakat untuk mengendalikan dan mencegah
kejadian yang merugikan gizi dan kesehatan.

2.2 Sejarah Surveilans Gizi


A. Sejarah Perkembangan Surveilans Gizi

Surveilans Gizi pada awalnya dikembangkan untuk mampu memprediksi


situasi pangan dan gizi secara teratur dan terus-menerus sehingga setiap
perubahan situasi dapat dideteksi lebih awal (dini) untuk segera dilakukan
tindakan pencegahan. Sistem tersebut dikenal dengan Sistem Isyarat Tepat
Waktu untuk Intervensi atau dalam bahasa Inggris disebut Timely Warning
Information and Intervention System (TWIIS), yang kemudian lebih dikenal
dengan nama Sistem Isyarat Dini untuk Intervensi (SIDI).

Pada periode 1986-1990 SIDI dikembangkan di beberapa provinsi dan


pada periode 1990-1997 berkembang mencakup aspek yang lebih luas,
dengan pertimbangan bahwa masalah gizi dapat terjadi setiap saat tidak hanya
diakibatkan oleh kegagalan produksi pertanian. Sistem yang dikembangkan
ini disebut Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) yang kegiatannya
meliputi: SIDI, Pemantauan Status Gizi, dan Jejaring Informasi Pangan dan
Gizi. Pada periode 1990-an kegiatan SKPG sudah ada di seluruh provinsi,
tetapi pamornya memudar.

Akhirnya, pada saat Indonesia mengalami krisis multidimensi pada tahun


1998 dilakukan upaya revitalisasi sehingga SKPG meliputi:

 Pemetaan situasi pangan dan gizi tingkat kabupaten/kota, provinsi dan


nasional,
 Memperkirakan situasi pangan dan gizi di tingkat kecamatan,
 Memantauan status gizi kelompok rentan serta kegiatan Pemantauan Status
Gizi (PSG) dan Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG), dan
 Surveilans Gizi Buruk.

Pada awal millennium ketiga (tahun 2000-an) Kementerian Kesehatan


melalui Direktorat Bina Gizi, lebih memfokuskan pada Surveilans Gizi yang
pada saat itu lebih ditujukan untuk penanganan masalah balita gizi buruk. Saat
ini masalah gizi (“malnutrition”) bukan hanya masalah kekurangan gizi
(“undernutrition”) tetapi sudah terjadi juga masalah kelebihan gizi
(“overnutrition”) atau dikenal dengan istilah masalah gizi ganda (“double
burden”).

Apabila surveilans gizi terhadap akar masalah maupun indikator-indikator


yang terkait penyebab masalah gizi dilaksanakan secara terus-menerus dan
berkala, maka potensi masalah akan lebih cepat diketahui, dan upaya
penanggulangan masalah gizi dapat dilakukan lebih dini, sehingga dampak
yang lebih buruk dapat dicegah.

Surveilans gizi sangat berguna untuk mendapatkan informasi keadaan gizi


masyarakat secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan, yang dapat
digunakan untuk menetapkan kebijakan gizi. Informasi yang digunakan
mencakup indikator pencapaian gizi masyarakat serta informasi lain yang
belum tersedia dari laporan rutin. Adanya surveilans gizi akan dapat
meningkatkan efektivitas kegiatan pembinaan gizi dan perbaikan masalah gizi
masyarakat yang tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat jenis tindakannya.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


yang dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa
salah satu kewajiban Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten dan Kota
adalah melaksanakan surveilans. Oleh karena itu Dinas Kesehatan
kabupaten/Kota dan Puskesmas selaku Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) wajib melaksanakan
surveilans gizi.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 141


menyebutkan bahwa upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk
peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat melalui perbaikan pola
konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang; perbaikan perilaku
sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan; peningkatan akses dan mutu
pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi; dan
peningkatan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Surveilans gizi
merupakan bagian dari SKPG

2.3 Indikator Keberhasilan Surveilans


A. Indicator yang di gunakan
Penentuan indikator yang digunakan dalam menilai keberhasilan
pelaksanaan surveilans gizi didasarkan pada indikator input, proses, dan
output.
 Indikator Input meliputi beberapa variable yaitu:
a. Adanya tenaga manajemen data gizi yang meliputi pengumpul data
dari laporan rutin atau survei khusus, pengolah dan analis data serta
penyaji informasi,
b. Tersedianya instrumen pengumpulan dan pengolahandata,
c. Tersedianya sarana dan prasarana pengolahan data, dan
d. Tersedianya biaya operasional surveilans gizi
 Indikator Proses terdiri dari:
a. Adanya proses pengumpulan data,
b. Adanya proses pengeditan dan pengolahan data,
c. Persentase ketepatan waktu laporan dari puskesmas ke dinas
kesehatan,
d. Persentase kelengkapana laporan dari puskesmas ke dinas kesehatan,
e. Adanya proses pembuatan laporan dan umpan balik hasil surveilans
gizi,
f. Adanya proses sosialisasi atau advokasi hasil surveilans gizi, dan
g. Adanya tindak lanjut hasil pertemuan berkala yang dilakukan oleh
program dan sector terkait
 Indikator Output meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Tersedianya informasi gizi buruk yang mendapat perawatan.
b. Tersedianya informasi balita yang ditimbang berat badannya (D/S).
c. Tersedianya informasi bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif.
d. Tersedianya informasi rumah tangga yang mengonsumsi garam
beriodium.
e. Tersedianya informasi balita 6-59 bulan yang mendapat kapsul
vitamin A.
f. Tersedianya informasi ibu hamil mendapat 90 tablet Fe.
g. Tersedianya informasi kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans
gizi.
h. Tersedianya informasi penyediaan bufferstock MP-ASI untuk daerah
bencana, dan
i. Tersedianya informasi data terkait lainnya (sesuai dengan situasi dan
kondisi daerah).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Surveilans Gizi adalah proses pengamatan masalah dan program gizi
secara terus menerus baik situasi normal maupun darurat, meliputi:
Pengumpulan, pengolahan, analisis dan pengkajian data secara sistematis
serta penyebarluasan informasi untuk pengambilan tindakan sebagai respons
segera dan terencana. Surveilans Gizi pada awalnya dikembangkan untuk
mampu memprediksi situasi pangan dan gizi secara teratur dan terus-menerus
sehingga setiap perubahan situasi dapat dideteksi lebih awal (dini) untuk
segera dilakukan tindakan pencegahan.
Sistem tersebut dikenal dengan Sistem Isyarat Tepat Waktu untuk
Intervensi atau dalam bahasa Inggris disebut Timely Warning Information
and Intervention System (TWIIS), yang kemudian lebih dikenal dengan nama
Sistem Isyarat Dini untuk Intervensi (SIDI). Surveilans gizi sangat berguna
untuk mendapatkan informasi keadaan gizi masyarakat secara cepat, akurat,
teratur dan berkelanjutan, yang dapat digunakan untuk menetapkan kebijakan
gizi. Informasi yang digunakan mencakup indikator pencapaian gizi
masyarakat serta informasi lain yang belum tersedia dari laporan rutin.
Adanya surveilans gizi akan dapat meningkatkan efektivitas kegiatan
pembinaan gizi dan perbaikan masalah gizi masyarakat yang tepat waktu,
tepat sasaran, dan tepat jenis tindakannya. Perkembangan Sejarah Surveilans
Gizi Di Indonesia terjadi sebagai berikut.
Sejarah surveilans dimulai pada periode 1986-1990 yang disebut
dengan istilah Sistem Informasi Dini (SIDI), sebagai suatu respons dini
munculnya masalah gizi. Semula SIDI dikembangkan di beberapa provinsi,
dan pada periode 1990-1997 berkembang mencakup aspek yang lebih luas,
dengan pertimbangan bahwa masalah gizi dapat terjadi setiap saat tidak
hanya diakibatkan oleh kegagalan produksi pertanian. Sistem yang
dikembangkan ini disebut Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
yang kegiatannya meliputi: SIDI, Pemantauan Status Gizi, dan Jejaring
Informasi Pangan dan Gizi.
Tahun 1990-an kegiatan SKPG sudah ada di seluruh provinsi, tetapi
pamornya memudar. Akhirnya, pada saat Indonesia mengalami krisis
multidimensi pada tahun 1998 dilakukan upaya revitalisasi sehingga SKPG
meliputi:
1. Pemetaan situasi pangan dan gizi tingkat kabupaten/kota, provinsi dan
nasional,
2. Memperkirakan situasi pangan dan gizi di tingkat kecamatan,
3. Pemantauan status gizi kelompok rentan serta kegiatan Pemantauan Status
Gizi (PSG) dan Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG), dan
4. Surveilans Gizi Buruk.
3.2 Saran
Surveilans Gizi di Indonesia sangat di perlukan sebab Indonesia masih
memiliki masalah gizi yang beragam dan serius,di kerenakan Indonesia adalah
salah satu negara yang berkembang, dan jika kita ingin merubah bangsa kita
menuju gizi seimbang dan memberantas kan masalah gizi maka kita harus
megunakan pengetahuan kita untuk memberantas kan masalah gizi seimbang
di tanah air kita, yaitu salah satu nya kita harus menerapkan surveilans gizi di
Indonesia.
DAFTAR FUSTAKA

http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-
content/uplaods/2017/11/survailans-GIZI-FINAL-SC.pdt

http://gizi.depsdmk/wp-content/uploads/2018/05/surveilans-Giri-
Wurjandaru.pdf