Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KRISTALISASI PROSES PRODUKSI

MONOSODIUM GLUTAMAT (MSG) DI PT.


PALUR RAYA KARANGANYAR

Disusun oleh:

Marzhya Azalea Vhilliany (03031381621065)

Cindy Putri Kasih (03031381621077)

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang membahas tentang
Proses Produksi Monosodium Glutamat di PT. Palur Raya Karanganyar ini tepat pada
waktunya.

Dalam makalah ini kami menyadari begitu jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu
kami mengharap saran dan kritik dari segenap pembaca untuk membangun kami sehingga
dapat mengalami kemajuan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat
dipahami oleh pembaca dan bermanfaat bagi kami sendiri maupun para pembaca.

11 Februari 2019
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………….. 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………….………………………………………….... 3


1.2 Rumusan Masalah………………………………………………...…………. 3
1.3 Tujuan……………………………………………………………………..… 3
1.4 Manfaat…………….………………………………………………………... 4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Total Organic Carbon………………............…………………... 5


2.2 Kerja Alat Total Organic Carbon ……………………………….…………. 5
2.3 Aplikasi alat Total Organic Carbon…………….......................…………… 9
2.4 Manfaat alat Total Organic Carbon………………………………………… 10
2.5 Cara pengukuran alat Total Organic Carbon……………………………….. 11
2.6 Metoda pendeteksi umum dalam analisis TOC modern…………………..... 12

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………….. 14

DAFTAR PUSTAKA……………………….…………………………………... 15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan manusia akan makanan sepanjang masa hidupnya
menjadikan industri pangan sebagai salah satu industri yang berkembang
sangat cepat. Perkembangan industri pangan erat kaitannya dengan
perkembangan ilmu dan rekayasa bioteknologi. Begitu juga dengan
perkembangan teknologi fermentasi, sehingga dihasilkan modernisasi alat
fermentasi dan keanekaragaman produk fermentasi. Salah satunya adalah
produk yang sangat berperan sebagai penyedap makanan, yaitu Monosodium
Glutamat (MSG).

Monosodium Glutamat (MSG) merupakan salah satu jenis bahan


tambahan makanan (food additive) yang berfungsi sebagai pembangkit cita
rasa atau dikenal masyarakat sebagai penyedap masakan. MSG merupakan
flavor enhancer (penguat rasa) yang memberi rasa enak pada makanan
apabila digunakan pada dosis yang sesuai. Saat ini hampir setiap makanan
menggunakan MSG sebagai bahan tambahannya untuk meningkatkan
kelezatannya.

PT. Palur Raya merupakan salah satu industri yang memproduksi


Monosodium Glutamat (MSG). PT. Palur Raya merupakan perusahaan swasta
nasional yang telah cukup lama berdiri, dimana produk MSG yang dihasilkan
tidak hanya dipasarkan dalam negeri tetapi juga diekspor keluar negeri.

Dalam proses produksi Monosodium Glutamat di PT. Palur Raya


terdapat beberapa tahapan yang dibagi kedalam tiga jenis unit yang digunakan
yaitu unit fermentasi, unit isolasi, dan unit refining.

1.2 Rumusan masalah

1. Bagaimanakah proses pembuatan MSG di PT. Palur Raya?


2. Bahan apa sajakah yang digunakan untuk membuat MSG di PT. Palur
Raya?
3. Apa sajakah peranan proses kristalisasi pada pembuatan MSG di PT. Palur
Raya?
1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui proses pembuatan MSG di PT. Palur Raya


2. Untuk mengetahui bahan apa saja yang digunakan untuk membuat MSG di
PT. Palur Raya
3. Untuk mengetahui peranan proses kristalisasi pada pembuatan MSG di PT.
Palur Raya

1.4 Manfaat

1. Dapat memahami proses pembuatan MSG di PT. Palur Raya


2. Dapat mengetahui bahan apa saja yang digunakan untuk membuat MSG di
PT. Palur Raya
3. Dapat mengetahui apa saja peranan proses kristalisasi pada pembuatan
MSG di PT. Palur Raya

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi MSG di PT. Palur Raya adalah
tetes tebu (molase). Tetes tebu merupakan limbah dari industri gula. Tetes tebu ini
digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme penghasil asam glutamat. Selain
menggunakan tetes tebu sebagai bahan baku utama PT. Palur Raya juga menggunakan
bahan baku tambahan berupa beet molase. Beet molase memiliki fungsi yang sama
dengan tetes tebu. PT. Palur Raya mengimport beet molase dari negara Mesir.
Tetes tebu yang digunakan PT. Palur Raya berasal dari pabrik gula terdekat di
sekitar Surakarta dan daerah-daerah lain di Jawa Tengah. Pabrik gula tersebut di
antaranya adalah PG (Pabrik Gula) Tasik Madu Karanganyar, PG Gondang Baru
Klaten, PG Madu Kismo Yogyakarta, PG Ranggel Pati, PG Sragi Pekalongan, PG Jati
Barang dan PG Rendeng Kudus.
Bahan pendukung yang digunakan PT. Palur Raya adalah:
a. Asam sulfat (H2SO4)
Asam sulfat digunakan dalam proses molases treatment di unit
2+
fermentasi yang berfungsi untuk mengendapkan Ca yang ada dalam
tetes tebu. Asam sulfat diperoleh dari PT. Cipta Sejahtera Gresik.
Kebutuhan H2SO4 sebesar 700-750 ton per bulan.
b. Amoniak (NH3)
Amoniak digunakan dalam proses fermentasi dan isolasi.
Penggunaan amoniak berfungsi untuk mendapatkan cairan dengan pH
atau derajat keasaman yang diinginkan. Selain itu amoniak juga
digunakan sebagai pengganti urea. Amoniak diperoleh dari PT. Cipta
Sejahtera Gresik dan PT. Kujang Cikampek.
c. Natrium Hidroksida (NaOH)
NaOH digunakan pada proses isolasi dan refining, berfungsi
untuk memperoleh pH yang diinginkan dan mengubah asam glutamate
menjadi monosodium glutamat. Kebutuhan NaOH per bulan rata-rata
700-750 ton. NaOH diperoleh dari PT. Aneka Kimia Raya Semarang.

d. Asam Klorida (HCl)


HCl digunakan pada proses hidrolisa yang berfungsi untuk
menghidrolisis asam amino yang ada di Glutamic Mother II (GM II).
Kebutuhan HCl sekitar 50-80 ton per bulan. HCl diperoleh dari PT.
Pakerin Surabaya dan PT. Ranson Surabaya.
e. Defoamer CC 222 atau antifoam
Defoamer ditambahkan pada proses fermentasi untuk
menghilangkan busa atau gelembung udara yang mengganggu
jalannya proses produksi. Kebutuhan defoamer setiap bulan sebesar 16
ton. Defoamer CC 222 atau antifoam diimport dari Jepang.
f. Urea (CO(NH2))
Ureadigunakan sebagai sumber nutrien untuk perkembang
biakan bakteri yang ada di tangki seeding dan tangki fermentor. Urea
(CO(NH2)) diperoleh dari PT. Marmas Gresik.
g. Asam phosphat (H3PO4)
Asam phosphat digunakan sebagai sumber nutrien
perkembangbiakan bakteri. Kebutuhan H3PO4 setiap bulan sebesar 10
ton/bulan. Asam Phosphat diimport dari Cina dan Korea.

h. Magnesium sulfat (MgSO4)


Magnesium sulfat berfungsi sebagai sumber nutrient
perkembang biakan bakteri yang ada di tangki seeding dan fermentor.
Magnesium Sulfat diperoleh dari PT. Lautan Luas Semarang.
i. Mangan sulfat (MnSO4)
Bahan ini memiliki fungsi yang sama dengan asam phosphat,
urea dan magnesium sulfat yaitu sebagai sumber nutrien

perkembangbiakan. Kebutuhan MnSO4 setiap bulan sebesar 200-300


kg yang diperoleh dari PT. Multi Kimia Semarang.
j. Penicillin
Penicillin digunakan untuk membatasi jumlah pertumbuhan
bakteri. Penicillin diimport dari Benmeyer.
k. Karbon Aktif
Karbon aktif digunakan pada proses refining yang berfungsi
untuk proses penjernihan atau dekolorisasi. Karbon aktif diperoleh dari
PT. Surya Mahakam Surabaya dan PT. Sinar Abadi Jakarta.

l. Aronvis
Bahan ini berfungsi sebagai koagulan dalam proses molasses
treatment. Kebutuhan aronvis diimport dari Jepang setiap tahunnya
dengan konsumsi 5 kg/bulan.
m. Asam nitrat
Asam nitrat digunakan pada proses fermentasi sebagai sumber
nitrogen bagi perkembangbiakan bakteri. Kebutuhan asam nitrat
sekitar 175 kg/th diperoleh dari PT. Bratako Gondang Rejo
Karanganyar.
n. Besi sulfat (FeSO4)
Besi sulfat digunakan sebagai bahan penyusun media
fermentasi. Kebutuhan besi sulfat sekitar 150-200 kg/bulan diperoleh
dari PT. Bratako Gondang Rejo Karanganyar.
o. Celite (Celaton)
Celite berfungsi melapisi filter pada proses pembuatan HS
(Hydrogen Source). Celite diperoleh dari PT. Sukabumi Trading
Semarang dengan jumlah pembelian sekitar 1 ton/bulan.

2.2 Proses Produksi Monosodium Glutamat (MSG)


Proses pengolahan Monosodium Glutamat (MSG) di PT. Palur Raya
pada dasarnya terbagi dalam tiga unit proses, yaitu unit fermentasi, isolasi
dan refining. Diagram alir proses produksi monosodium glutamat di PT. Palur
Raya dapat dilihat pada gambar 1.

1. Unit Fermentasi
Unit fermentasi merupakan tahap pengolahan bahan baku menjadi
asam glutamat yang melibatkan mikroorganisme pada proses
pengubahannya. Tujuan utama proses fermentasi adalah untuk
mendapatkan hasil metabolisme bakteri yang menghasilkan asam
glutamat. Tetes tebu yang digunakan sebagai bahan baku mempunyai
kandungan gula yang tinggi. Gula tersebut digunakan untuk reproduksi
sel dan untuk menghasilkan asam glutamat.

Pada unit fermentasi ini terdapat tiga tahap proses utama yaitu
molases treatment, seeding dan fermentasi.

a. Molases Treatment
Molases treatment adalah perlakuan untuk menghilangkan zat-zat
pada tetes yang tidak dikehendaki. Zat-zat yang tidak dikehendaki
tersebut berupa unsur Ca yang tinggi yang berada dalam tetes. Selain itu
juga untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang terikut pada tetes.
Tetes dari setiap pabrik gula ditampung dalam tangki
penampung tetes. Tetes yang berada dalam tangki penampung
dianalisa komposisinya terlebih dahulu sebelum digunakan untuk
proses fermentasi. Analisa tersebut dilakukan untuk mengetahui
kemungkinan menurunnya kadar gula yang terdapat dalam tetes
selama berada di tangki penampung tetes.

Molases treatment dibagi menjadi dua tahapan proses, yaitu :


1) Pencampuran tetes

Tetes yang digunakan diperoleh dari berbagai pabrik gula,


sehingga akan diperoleh jenis atau kualitas tetes yang berbeda.
Kemudian tetes dari tangki-tangki penampung dicampur menjadi
satu dengan perbandingan tertentu dalam tangki timbang.
Kemudian dialirkan ke dalam bak penampung yang terbuat dari
beton dengan kapasitas 20 kiloliter dan dilengkapi dengan 2 buah
pengaduk.

2) Pembersihan tetes

Pembersihan tetes dari pengotor merupakan tahap pertama


pengolahan tetes. Setelah melalui tahap pencampuran maka tetes
dimasukkan ke tangki molases treatment. Pembersihan tetes mulai
dilakukan di tangki molases treatment dengan pemasakan.
Pemasakan tetes bertujuan untuk mengurangi kadar Ca dan
kotoran lain yang tidak dikehendaki. Batas kadar Ca dalam tetes
bersih maksimum 1000 ppm. Pemasakan dalam tangki molases

treatment dilakukan dengan penambahan asam sulfat. Pemanasan


o
dilakukan dengan menggunakan steam pada suhu 60 C dan diaduk
selama 1 jam dengan kecepatan 24 rpm. Setelah selesai
ditambahkan aronvis untuk mempercepat proses pengendapan.
Kemudian dialirkan ke tangki pengendap (thickener). Proses
pengendapan di thickener berlangsung selama 8 jam. Tetes bersih
hasil pengendapan ditransfer secara over flow di tangki
transfer(tangki 107) yang kemudian dipompa menuju ke mesin
brush stainer yang dilengkapi dengan penyaring dan pengaduk
yang berfungsi untuk memisahkan kotoron besar/kasar dan
endapannya. Setelah itu tetes dipompa ke mesin sand cyclone
untuk memisahkan tetes dari kotoran kecil/halus dan endapannya.
Tetes bersih lalu dipompa ke mesin westfalia separator untuk
dipisahkan antara cairan yang mengandung endapan yang disebut
PPT (precipitate) dan tetes bersih. Setelah itu tetes bersih akan
ditampung di penampung tetes bersih, yaitu tangki 105 dan tangki
108, dan selanjutnya digunakan di proses fermentasi.

PPT (precipitate) hasil dari pengendapan di thickener dan


pemisahan di separator akan diendapkan dan diproses lagi di
tangki treatment. Di tangki treatment dilakukan pengenceran
dengan air dan asam sulfat untuk mengendapkan tetes. Tetes
bersih dari PPT masuk ke tangki penampung sementara
(recycling) dan kemudian masuk ke sand cyclone kembali untuk
dipisahkan dari kotoran. Proses ini berjalan terus-menerus.
Kemudian PPT hasil proses pengendapan dimasukkan ke SDC
(Super Decanter) untuk dipisahkan cairan dengan endapannya.
Cairan yang terpisah dinamakan air PPT yang masih banyak
mengandung kadar gula/total sugar (TS). Air PPT akan
dimasukkan pada tangki molases treatment untuk dicampurkan
pada bahan yang dipanaskan karena mempunyai kandungan gula
yang masih tinggi. Sedangkan PPT yang berupa endapan dari SDC
masuk ke unit pengolahan limbah (UPL).

b. Seeding
Proses seeding adalah proses pembiakan bakteri agar bakteri
dapat menyesuaikan diri dengan media fermentor. Tangki seeding
mirip dengan tangki fermentor tetapi mempunyai volume lebih kecil.
Bakteri akan berkembang biak dengan perlahan sambil menyesuaikan
diri pada larutan media yang terdiri dari air, tetes, H 3PO4, MgSO4,

MnSO4, FeSO4, HS (Hydrogen Source), urea dan beet molase.


Proses seeding dikerjakan melalui beberapa tahapan proses,
yaitu sterilisasi tangki kosong, sterilisasi filter udara dan sterilisasi
media. Sterilisasi media dilakukan dengan menggunakan steam pada
o
suhu 120 C selama 20 menit sambil dilakukan pengadukan.
Kemudian tangki seeding didinginkan dengan air cooling sampai
o o
mencapai 31 C. Proses seeding dilakukan pada suhu 32 C dengan pH
7.4. Bakteri dari laboratorium II dimasukkan dalam botol sakaguchi
yang kemudian dihubungkan dengan tabung kecil yang berada
disamping tangki seeding. Tabung tersebut terlebih dahulu diberi
alkohol untuk mencegah agar bakteri tidak terkontaminasi dengan
udara luar. Saat bakteri ditransfer ke dalam tabung, botol sakaghuci
dan tabung tersebut ditutup dengan kain yang telah diberi alkohol.
Bakteri yang digunakan adalah bakteri aerob sehingga dalam
perkembangbiakannya dibutuhkan udara. Proses seeding berlangsung
selama 15 jam.

Peristiwa berkembangnya bakteri ditandai dengan


meningkatnya suhu dan menurunnya pH. Untuk menjaga suhu tetap
o
32 C maka digunakan aliran pendingin yang akan meningkat secara
otomatis. Sedangkan menurunnya pH diatasi dengan mengalirkan
amoniak ke dalam tangki seeding. Apabila perkembangbiakan bakteri
yang diinginkan telah tercapai maka bakteri siap ditransfer ke
fermentor.

c. Fermentasi
Bakteri yang digunakan pada proses fermentasi adalah bakteri
Micrococcus Glutamicus yang merupakan bakteri aerob. Menurut
Peppler (1967) asam glutamat dihasilkan oleh bakteri Micrococcus
Glutamicus dimana biosintesa asam glutamat bersifat aerob. Biakan
o
tumbuh pada suhu 28 C selama 24 jam di rotary shaker yang
mempunyai kecepatan 220 rpm dengan komposisi media terdiri dari
glukosa 2% pepton 1%, ekstrak daging 0,5%, NaCl 0,25% dan
besarnya pH diatur 7,0-7,2.

Proses fermentasi dilakukan dalam fermentor yang dilengkapi


dengan pengaduk, coil pendingin, cyclone udara, tabung pemasukan
defoamer, tabung pemasuk penicilin dan tabung pemasuk tetes dari
tangki feeding. Peralatan dan bahan-bahan yang digunakan pada
proses fermentasi harus dalam keadaan steril. Sebelum proses
fermentasi dilakukan sterilisasi tangki, filter udara dan sterilisasi
media. Sterilisasi peralatan dilakukan sebelum dan sesudah peralatan
fermentasi digunakan, karena bakteri yang digunakan untuk
fermentasi tidak akan membentuk GA (Glutamic Acid) apabila
terkontaminasi oleh bakteri lain. Apabila dalam fermentasi terjadi
kontaminasi maka semua bahan-bahan yang difermentasi akan
dibuang karena sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi dalam
pembentukan GA.

Sebelum media dimasukkan untuk proses fermentasi, terlebih


dahulu media disterilkan melalui Plate Heat Exchanger (PHE)
o
I/regenerator pada suhu 80 C. Dari PHE I media dimasukkan ke
o
PHE II (heater) pada temperatur 120 C dan dipertahankan sampai
10 menit. Kemudian media dialirkan ke PHE III (cooler) untuk
o
didinginkan sampai suhu 40 C dengan menggunakan air chiller.
Dari PHE III media fermentasi dimasukkan ke tangki fermentor
untuk proses fermentasi. Selama proses fermentasi berjalan, mula-
3
mula dialirkan udara dengan kecepatan 20 m /menit kemudian
dinaikkan sedikit demi sedikit untuk pertumbuhan bakteri.

Bakteri di dalam media fermentor akan mengubah glukosa


untuk berkembangbiak dan bermetabolisme sehingga membentuk
Glutamic Acid (GA) yang dapat menyebabkan kadar gula dan pH
menurun. Selama fermentasi berlangsung, ke dalam tangki
fermentor ditambahkan tetes dari tangki feeding untuk menambah
kadar gula (TS) yang difermentasikan oleh bakteri dan apabila pH
turun maka ditambah dengan NH3 untuk menjaga pH tetap 7.4.
II
Jumlah bakteri yang ada di fermentor tidak boleh terlalu
tinggi. Apabila perkembangbiakan bakteri terlalu tinggi maka
dibatasi dengan penambahan penicillin dari tangki surfaktan yang
berfungsi untuk membatasi pertumbuhan bakteri. Pertumbuhan
bakteri yang tidak terkendali akan menghasilkan asam glutamat
yang rendah bahkan bisa tidak ada sama sekali. Jika selama proses
fermentasi banyak terbentuk busa, maka perlu dihilangkan dengan
penambahan defoamer agar proses fermentasi tidak terganggu.
Kondisi-kondisi tersebut harus selalu diamati dan dikontrol setiap
jam sampai proses fermentasi selesai selama kurang lebih 28-30
jam.

Setelah proses fermentasi selesai, maka terbentuk GA 6-8%


dengan kadar gula 2,5-3% yang disebut dengan Thin Broth (TB).
Kemudian cairan Thin Broth (TB) hasil dari proses fermentasi
dipompa dan ditampung di tangki TB untuk kemudian diolah di unit
isolasi.

2. Unit Isolasi
Isolasi dibagi menjadi tiga tahap proses, meliputi evaporasi, isolasi
dan hidrolisa.

a. Evaporasi
Hasil akhir dari proses fermentasi adalah Thin Broth (TB) yang
mengandung asam glutamat (GA). Sebelum kandungan GA tersebut
diambil, terlebih dahulu TB mengalami proses pemekatan atau pengu-

rangan kadar air. Proses tersebut dilakukan di evaporator dengan


o
menggunakan evaporator 4 efek. TB dengan temperatur 60 C
kemudian dipompa masuk ke dalam preheater I dengan kecepatan
aliran yang diatur dengan Flow Indicator Recorder Control Alarm
(FIRCA) yang bekerja secara otomatis. Dari preheater I TB dialirkan
ke evaporator efek I, efek II, efek III dan evaporator efek IV. TB yang
o
keluar dari evaporator 4 efek diatur agar kekentalannya 25 Be dan
o
suhunya 46-50 C. Volume TB dalam evaporator dipertahankan 50%
agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan bahan. Pengaturan
volume dilakukan dengan membuka atau menutup kran bahan masuk
atau bahan keluar. Hasil akhir dari proses evaporasi disebut CB
(Concentrate Broth).

b. Isolasi
CB (Concentrate Broth) dari evaporator dilewatkan dalam
PHE (Plate Heat Exchanger) dengan tujuan untuk mendinginkan dan
mensterilkan bahan. CB ditransfer ke unit isolasi kemudian masuk ke
tangki CB. Selain itu juga di tangki netralisasi ditambah HS
(Hydrogen Source) yang mengandung asam amino untuk membantu
pembentukan kristal α-GA. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan
perbandingan tertentu sehingga diperoleh campuran dengan pH 3,2
o
dan temperatur dijaga 35 C dengan menggunakan air chiller melalui
jaket yang berada di sekeliling tangki netralisasi. Titik isoelektrik α-
GA adalah pada pH 3,2 sehingga pada pH tersebut kristal α-GA
terbentuk paling banyak dan mudah dipisahkan dari larutan Glutamic
Mother (GM) ketika dalam SDC (Super Decanter).

Campuran tersebut kemudian masuk ke dalam tangki kristal α,


dimana kristal α mulai terbentuk. Tangki kristal α didinginkan
o
menggunakan air chiller sehingga temperatur menjadi 7 C.
Pendinginan tersebut dilakukan untuk memperoleh kristal α yang

tidak mudah patah. Kristal α berbentuk prisma segitiga dan umumnya


kristal berukuran besar (dapat dilihat di mikroskop).

Campuran dipisahkan antara Glutamic Mother (GM1) dan


kristalnya Glutamic Acid I (GA I) dengan menggunakan SDC I
(Super Decanter). Prinsip kerja SDC dengan gaya sentrifugal untuk
memisahkan kristal dengan GM nya. GM I ditrasfer ke unit
pembuatan pupuk organik cair. GM I mempunyai kandungan GA
yang sedikit, yaitu < 2%, sehingga tidak dapat digunakan untuk
proses lebih lanjut. Selain itu GM I banyak mengandung unsur
nitrogen, phosphat dan kalium sehingga GM I dapat diolah menjadi
pupuk. SDC I yang digunakan mempunyai kualitas alat yang bagus
sehingga dapat memisahkan campuran dengan lebih sempurna dari
pada SDC II, III dan IV.

Larutan kristal α-GA I ditambah dengan GM III hasil


penyaringan pada SDC III untuk pengenceran. Pengenceran
diperlukan karena α-GA I hasil pemisahan SDC I berwujud cairan
pekat sehingga ditambah dengan GM III agar lebih mudah dipisahkan
di SDC II. Kemudian larutan masuk ke SDC II dan dipisahkan antara
larutan α-GA II dan larutan GM II. Kristal α -GA II ditambah dengan
GM IV hasil dari pemisahan di SDC IV karena GM IV masih
mengandung banyak kristal α. Larutan kristal α GA II kemudian
dimasukkan ke tangki transform dan dipanaskan dengan steam hingga
o
mencapai suhu 90 C. Pada pemanasan ini kristal α-GA mengalami
transisi/perubahan bentuk menjadi kristal β-GA. Kristal α diubah
menjadi bentuk β karena kristal α akan cenderung larut kembali pada
GM nya. Selanjutnya larutan yang mengandung β-GA dimasukkan ke
tangki β cooling. Pada tangki ini larutan mengalami pendinginan
dengan cara mengalirkan air sehingga diperoleh temperatur larutan
o
50 C. Selanjutnya larutan dipompa ke tangki β growing.

Pada tangki β growing larutan mengalami pendinginan dengan


o
air chiller melalui jaket pendingin sampai suhu 20 C. Pendinginan ini
berfungsi untuk memperkuat ristal β-GA. Selanjutnya larutan kristal
β-GA dipompa ke SDC III. GM II kemudian masuk ke evaporator 2
efek yang menghasilkan CML (Concentrate Mother Liquor) dan
selanjutnya akan dilakukan pengolahan di unit hidrolisa.
Larutan kristal β-GA II yang masuk ke SDC III di pisahkan
antara GM III dan β-GA III. GM III dipompa ke α-GA I karena masih
mengandung kristal untuk diproses ulang. GA III di SDC IV
dipisahkan antara β-GA IV dan GM IV. GM IV dipompa ke α-GA II.
Larutan kristal β-GA IV dipompa masuk ke MSG liquid tank dan
ditambah dengan NaOH hingga diperoleh pH 6,5 dan kekentalan
o o
27 Be serta dipanaskan dengan steam sampai suhu larutan 50-55 C.
Hasil dari proses ini disebut sirup MSG cair yang berwarna coklat tua
yang kemudian dialirkan ke unit refining.

c. Hidrolisa
Pada unit hidrolisa ini dilakukan pembuatan Hydrogen Source
(HS) yang berfungsi untuk menurunkan pH CB pada proses isolasi
sehingga mencapai pH 3,2 agar GA yang terkandung dalam CB dapat
mengkristal. HS merupakan sumber asam amino yang dihasilkan dari
hidrolisa protein yang terkandung dalam GM II.

Proses hidrolisa dimulai dengan proses pemekatan Glutamic


Mother (GM II) dari unit isolasi menggunakan evaporator 2 efek
menghasilkan CML (Concentrate Mother Liquor). CML ditambahkan
HCl dengan perbandingan tertentu sebagai sumber asam untuk
membentuk HS di tangki pencampur. Larutan tersebut dimasukkan
dalam tangki hidrolisa dan dipanaskan dengan menggunakan steam
o
sampai suhu 150 C selama 5 jam kemudian dilakukan penyaringan.
Hasil penyaringan (filtrat) adalah larutan HS. Selanjutnya HS
ditampung di tangki receiver yang kemudian dipompa ke tahap
isolasi.

3. Unit Refining

Unit refining dibagi menjadi beberapa tahapan proses antara lain


proses netralisasi, dekolorisasi dan filtrasi, kristalisasi dan pengeringan.

a. Netralisasi
Pada tahap netralisasi ini terjadi proses pencampuran kristal β-
GA IV dengan air lunak dan larutan NaOH dengan perbandingan
tertentu hingga diperoleh sirup MSG yang berwarna coklat tua.
b. Dekolorisasi dan Filtrasi
Proses dekolorisasi dilakukan dalam 2 tahapan proses, yaitu
dekolorisasi I dan dekolorisasi II. Sirup MSG dengan pH 6,5,
o o
kekentalan 27 Be dan suhu 25 C masuk ke tahap dekolorisasi I di unit
refining. Pada proses dekolorisasi I sirup MSG ditambah dengan
karbon aktif sebagai absorbent (penyerap warna) dan air untuk
pengenceran. Karbon aktif mempunyai pori-pori efektif dengan luas
permukaan besar sehingga dapat menyerap bahan-bahan asing.
Campuran ini dipanaskan dengan aliran steam langsung hingga suhu
o
60 C sambil diaduk. Dekolorisari I berlangsung selama 1-1,5 jam
dalam tangki 300 E-F-G. Larutan hasil dekolorisasi I disaring dengan
filter press netzsch untuk dipisahkan antara sirup dan karbon aktif.
Hasil penyaringan tersebut menghasilkan cake karbon yang akan
dibuang dan diolah di UPL menjadi pupuk.

Proses dekolorisasi II berlangsung selama 1-1,5 jam karena


waktu tersebut adalah waktu optimum untuk proses penyerapan karbon
aktif. Filtrat hasil penyaringan dekolorisasi I ditambah dengan karbon
aktif sebagai absorben, air untuk pengencer dan NaOH yang berfungsi
untuk mengatur pH yang dikehendaki (6,9-7) dan menyempurnakan
perubahan asam glutamat menjadi MSG di tangki 301 A-B-C-D.
Campuran tersebut dipanaskan dengan aliran steam langsung hingga
o
suhu 55-60 C. Suhu tangki dekolorisasi II dipertahankan tetap karena
o
pada suhu diatas 60 C penyerapan karbon aktif menjadi kurang efektif

o
sedangkan jika dibawah suhu 55 C bakteri Micrococus glutamicus
yang masih tertinggal dapat aktif kembali.

Larutan hasil dekolorisasi II disaring dengan filter press netzsch.


o
Cake karbon dibuang sedangkan filtrat dengan kekentalan 23 Be
dialirkan ke dalam tangki penampung (303B/304A). Larutan dari
tangki penampung dialirkan ke anion resin untuk dekolorisasi mikro.
Warna kuning larutan akan berubah menjadi jernih dan ditampung
dalam tangki penampung (304B). Menurut Dechow (1991) dalam
Triantari (2005) pada proses recovery sukrosa dan gula reduksi dari
tetes menggunakan resin dalam bentuk K atau Na.
Larutan yang sudah jernih kemudian dilewatkan filter bag dan
catridge berukuran 5 mikron untuk menyaring partikel-partikel kecil
karbon yang masih terikut dalam larutan. Larutan bersih dipompa ke
tangki 306A-B/tangki feed kristalizer sebagai larutan feed dalam
proses kristalisasi. Larutan feed adalah larutan yang mengandung
kristal MSG yang akan dikristalkan.

c. Kristalisasi
Kristalisasi dapat dibedakan menjadi kristalisasi I dan kristalisasi
II. Kristalisasi I berlangsung selama kurang lebih 22 jam dalam tangki
kristalisasi/kristalizer B-C-D-E-I-K-L-H. Steam dialirkan melalui jaket
pemanas untuk mempercepat penguapan air dari larutan sampai suhu
o
60-80 C. Untuk mempercepat proses kristalisasi digunakan seed
sebagai pancingan kristal. Penambahan seed akan membuat larutan
o
mempunyai kekentalan sekitar 23 Be.
Pemasukan seed dilakukan secara bertahap agar kristalisasi
berlangsung lebih sempurna. Selain itu juga untuk mempertahankan
o
kekentalan larutan 22-24 Be. Apabila kekentalan larutan kurang dari
o
22 Be, maka kristal MSG yang sudah terbentuk akan larut kembali.
o
Sedangkan apabila kekentalan larutan diatas 24 Be, maka akan
terbentuk kristal yang jelek, yaitu berbentuk serbuk atau tepung.
Kristal yang digunakan sebagai seed disesuaikan dengan ukuran
Kristal

MSG yang diinginkan. Misalnya untuk mendapatkan kristal MSG


ukuran (S,M,L) digunakan seed kristal MSG ukuran S dan M dengan
perbandingan tertentu. Untuk mendapatkan kristal MSG besar (3XL,
2XL, XL) digunakan seed kristal MSG ukuran L, M, XL dengan
perbandingan tertentu sesuai jenis kristal yang diinginkan.

Setelah proses kristalisasi selesai, kristal MSG akan masuk ke


dalam mesin gutter A-B-C selama 2 jam untuk pendinginan. Didalam
mesin gutter kristal yang terbentuk akan terpisah dengan cairannya,
yang disebut Mother Liquor (ML), sehingga diperoleh kristal basah.

Kristal basah dijatuhkan ke dalam separator yang bekerja dengan


prinsip sentrifugasi. Kristal basah disentrifugasi selama 15 menit
sehingga kadar airnya menjadi sekitar 2%. ML yang masih ada dalam
kristal basah akan terpisah melalui celah-celah yang ada di dinding
separator, sedangkan kristal akan menempel pada saringan di dinding
separator. Kristal yang menempel pada saringan disemprot dengan air
lunak untuk mencuci kristal sehingga diperoleh kristal yang bersih dan
putih. Kristal MSG dari separator dibawa dengan vibrating conveyor
menuju ke fluidized bed dryer untuk dikeringkan. Kemudian kristal
diayak dan menjadi produk MSG I.

Kristalisasi II merupakan kristalisasi ML (Mother Liquor) hasil


penyaringan kristal MSG I. ML dari separator dan gutter akan diproses
kembali karena masih mengandung kristal MSG. ML dialirkan ke
dalam tangki penampung ML (306 A). ML dicampur dengan karbon
aktif untuk dekolorisasi dan air untuk pengenceran lalu dipanaskan
o
dengan aliran steam langsung sampai suhu 60 C disertai pengadukan.
ML kemudian disaring dengan filter press kayu untuk memisahkan
cake karbon dan larutan filtrat. Cake karbon diolah di UPL, sedangkan
larutan filtrat ditampung dalam tangki penampung ML (302/303A).
ML dialirkan ke anion resin untuk dekolorisasi mikro kemudian cairan
ML bersih masuk ke tangki penampung (304C). Sebelum masuk ke
tangki feed kristalisasi (306 C-D), partikel-partikel karbon yang terikut
dihilangkan di filter bag dan catridge berukuran 5 mikron. Selanjutnya
cairan tersebut digunakan sebagai larutan feed.

Kristalisasi II berlangsung selama 22 jam. Larutan feed diaduk


o
secara mekanik sambil dipanaskan sampai suhu 60-80 C dengan
steam yang dialirkan melalui jaket pemanas. Kristalisasi ini
berlangsung dalam kristalizer A-J-H. Kristal MSG II akan masuk ke
dalam gutter sehingga akan terpisah antara kristal basah dengan cairan
ML. Kristal basah kemudian dipisahkan dari air menggunakan
separator yang bekerja dengan prinsip sentrifugasi. Kristal yang
menempel pada dinding separator disemprot dengan air lunak untuk
membersihkan kristal. Kristal MSG dari separator dibawa dengan
vibrating conveyor menuju fluidized bed dryer untuk proses
pengeringan.

d. Pengeringan
Pengeringan dilakukan menggunakan fluidized bed dryer.
Prinsip pengeringan dengan fluidized bed dryer adalah udara panas
o
bersuhu 90 C dialirkan dari bawah tumpukan kristal menuju bagian
atas. Kristal yang sudah kering kemudian diayak dalam berbagai
ukuran mess sehingga diperoleh kristal dengan ukuran bermacam-
macam. Jika ada kristal berbentuk gumpalan maka akan diolah lagi
sedangkan bentuk kristal yang memenuhi standar akan dikemas.
Kristal yang diperoleh dari kristalisasi I diambil sebagai produk MSG I
dan sebagian digunakan sebagai seed/pancingan kristal. Sedangkan
hasil pengolahan ML pada kristalisasi II akan diambil sebagai produk
MSG II dan sebagian digunakan sebagai seed.

Produk MSG yang dihasilkan terdiri dari MSG kualitas I dan


MSG kualitas II. MSG kualitas I diperoleh dari kristalisasi larutan
MSG setelah melalui 2 kali dekolorisasi. MSG kualitas II diperoleh
dari kristalisasi Mother liquor (ML) dengan satu kali proses
dekolorisasi. Secara fisik kenampakan MSG I lebih putih dan
mengkilap dari pada MSG II.

e. Pengayakan
Kristal MSG masuk ke dalam shifter/ayakan untuk dipisahkan
sesuai dengan ukuran kristalnya. Shifter yang digunakan memiliki
beberapa ukuran antara lain:

1) Gumpalan kristal ukuran < 4 mess

2) Type 3XL ukuran 4-8 mess

3) Type 2XL ukuran 8-10 mess

4) Tipe XL ukuran 10-16 mess

5) Tipe L ukuran 16-24 mess

6) Tipe M ukuran 24-30 mess

7) Tipe S 1 ukuran 30-40 mess

8) Tipe S 2 ukuran > 40 mess