Anda di halaman 1dari 16

SNP FINANCE DI UJUNG TANDUK

Jakarta, CNN Indonesia – Pihak berwajib mengamankan para direksi serta manajer PT
Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) berhubungan dengan kasus penipuan,
penggelapan, serta money laundrering dalam kegiatan usahanya sebagai usaha pembiayaan.
Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri berusaha mengungkap
kasus pembobolan 14 bank atas tindakan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance,
sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan. Kombes Daniel Tahimonang
Silitonga selaku Wakil Direktur Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim
menyatakan bahwa kasus tersebut dapat diketahui karena laporan dari salah satu bank yakni
Bank Panin. Bareskrim memprediksi kerugian dapat mencapai Rp 14 triliun dari 14 bank yang
dibobol.
Modus yang dilaksanakan oleh perusahaan ialah, pengurus PT SNP Finance
melaksanakan pengajuan fasilitas kredit rekening Koran serta kredit modal kerja kepada Bank
Panin untuk jangka waktu Mei 2016 sampai dengan September 2017, dengan plafon sebesar Rp
425 miliar. Dana tersebut diperoleh dari jaminan piutang kepada konsumen dari Colombia yang
dimiliki oleh PT Citra Prima Mandiri (CPM). Colombia ialah toko yang menjual alat-alat rumah
tangga secara kredit. Uang yang dicairkan serta diajukan oleh PT SNP seharusnya dilanjutkan
dengan pembayaran kepada pihak Colombia sesuai dengan lampiran daftar piutang ketika
pencairan kredit dilaksanakan. Namun, piutang tersebut fiktif, yang memberikan peluang untuk
fasilitas kredit tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan para pemegang saham serta
group perusahaan.
SNP Finance dapat dinyatakan sebagai perusahaan dengan pemasaran kelas menengah ke
bawah. Jumlah pembiayaan yang dilaksanakan kurang dari Rp 5 triliun per tahun. Hal tersebut
terjadi karena barang yang dibiayakan hanya sofa, perabot rumah tangga, kasur, lemari, dan
peralatan rumah tangga lainnya. Hal tersebut bertentangan dengan pembiayaan sekelas Astra
Sedaya Finance, BCA Finance, FIF, serta Adira Finance yang menyalurkan pembiayaan untuk
sepeda motor serta kendaraan roda empat. Hal tersebut menyebabkan jumlah pembiayaan yang
disalurkan sangat besar sekitar puluhan triliun per tahun.
Anto Prabowo sebagai Deputi Komisioner Manajemen Strategis serta Logistik Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa penurunan kinerja yang terjadi pada bisnis ritel

1
Columbia berimbas pada kredt perbankan yang dilaksanakan oleh SNP Finance menjadi
bermasalah serta menjadi NPL.
Berbagai perbankan (14 bank) telah memberikan fasilitas kredit modal kerja pada SNP
Finance. Bank Mandiri merupakan bank yang paling besar memberikan fasilitas tersebut. SNP
Finance merupakan nasabah dari Bank Mandiri sekitar 20 tahun. Tetapi, SNP Finance
mengajukan restrukturisasi kredit pada tahun 2016.
Pada saat itu, SNP Finance digolongkan ke dalam grup kolektabilitas 2 (kol 2) atau dalam
perhatian khusus. Retrukturisasi kredit dibutuhkan bukan karen SNP Finance mengalami
penunggakkan pembayaran, tetapi SNP Finance menginginkan pendanaan dari bank lainnya.
Rohan Hafas sebagai Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri menyatakan bahwa alih-alih
membaik, SNP Finance justru menunjukkan tindakan negatif. Kredit SNP Finance mulai macet
serta pengajuan pailit sukarela dilaksanakan oleh manajemen, padahal pada saat itu, kredit macet
SNP Finance jumlahnya sangat besar sekitar Rp 1,2 triliun.
Ongko Purba Dasuha selaku Sekretaris Perusahaan SNP Finance menyatakan bahwa total
nilai pinjaman kurang dari Rp 4 triliun. Hal tersebut juga tertera dalam Penundaan Kewajiban
pembayaran Utang (PKPU). PKPU diterbitkan pada tanggal 4 Mei 2018, setelah majelis hakim
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan hal tersebut. Jumlah tagihan SNP Finance sebesar
Rp 4,07 triliun dari 14 bank dengan jumlah jaminan Rp 2,2 triliun dan 336 pemegang MTN
sebesar Rp 1,85 triliun.
Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia menyatakan bahwa SNP Finance masih
dikategorikan berada di kol 1 berstatus lancar pada Desember 2017. Namun, Januari 2018,
terdapat peralihan kontrol di bawah OJK, yaitu Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK)
yang selanjutya status SNP Finance berubah berada pada kol 2 (Dalam Perhatian Khusus). Kol 2
ialah status kolektibilitas yang termasuk Performing Loan (PL) ditandai dengan lambat bayar
dari debitur yang melebihi jatuh tempo sekitar 1-2 bulan lamanya. Status DPK dari pihak bank
dapat dinyatakan sebagai keterpurukan.
Hal tersebut berimplikasi pada perbankan, mengapa memberikan dananya kepada SNP
Finance yang berimplikasi pada rendahnya aliran kredit bank-bank lainnya. Dari sisi SNP
Finance, perusahaan tersebut memiliki sistem manajemen penagihan di kantor-kantor cabang
yang semakin terpuruk.

2
Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP)
Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) ialah perusahaan yang bergerak untuk
pembiayaan dan didirikan pada tahun 2000. SNP sempat terhenti dalam kurun waktu 2 tahun.
Setelah itu, kepemilikan perusahaan diambil alih oleh Columbia Group pada tahun 2002, namun
PT.SNP baru melaksanakan operasi secara penuh ketika tahun 2004. SNP memiliki usaha di
bidang consumer finance yakni Prima Finance, serta dealer utama dengan pembiayaan didukung
penuh 100% oleh PT. SNP.
Pembiayaan produk yang dilaksanakan ialah seluruh keperluan rumah tangga, contohnya
seluruh furniture, produk elektronik, komputer, hand phone, motor roda dua. Selain itu, PT. SNP
juga melaksanakan pembiayaan dalam rangka pembiayaan produk produktif contohnya motor
roda tiga serta hand tractor.
Principal yang melaksanakan kerja sama dengan PT SNP, ialah Olympic, Nozomi,
Modena, Yanmar, Sanken, Fujitec, dan Galeri musik jakarta. Selain melaksanakan pembiayaan
pada outlet tersebut Columbia PT.SNP juga melaksanakan pembiayaan pada dealer yang lain,
baik tradisional market serta modern market, divisi yang menangani hal tersebut ialah Prima
Finance. Saat ini dengan diambil alih oleh Columbia Group, PT. SNP telah berada di 72 kota,
serta divisi Prima Finance telah beroperasi di 10 kota.
VISI
 Menjadi perusahaan finance berskala nasional dan terkemuka
 SNP ialah perusahaan bergerak di bidang pembiayaan dengan mandiri, memiliki etika bisnis
yang tinggi serta memiliki tanggung jawab yang baik yang didasari atas konsep/portfolio
bisnis yang menguntungkan serta berkembang dengan berkesinambungan serta memiliki
manajemen berdasarkan praktik bisnis yang terbaik:
 SDM : melaksanakan pemberdayaan serta pengembangan SDM dengan pemberian
arahan dengan dialog, motivasi, menginspirasi, pekerjaan yang menantang serta
memberikan reward/penghargaan pada mereka atas kontribusi yang telah dilaksanakan.
 Portofolio : menerapkan portofolio jasa pembiayaan dengan berkualitas yang
mengantisipasi serta dapat memberikan kepuasan untuk memenuhi kebutuhan serta
keinginan para pelanggan.
 Pelanggan : penilaian dilaksanakan oleh pelanggan sebagai pemberi solusi pembiayaan
yang sangat terpercaya, kompeten serta profesional

3
 Mitra : melaksanakan pembinaan jaringan kerja dengan lebih baik melalui Bank, dealer
(baik outlet modern dan tradisional) dan dealer dalam menciptakan nilai-nilai yang
langgeng serta manfaat bersama.
 Mewarnai industri pembiayaan nasional melalui cara serta pengalaman SNP
 Memberi layanan pembiayaan yang lain daripada yang lain melebihi harapan para pelanggan
serta memberikan inspirasi pada pelanggan yang didasari atas pengalaman SNP
MISI
 SNP memiliki komitmen untuk dalam pengembangan serta mendarmabaktikan
profesionalisme kami dalam:
 Pemberian jasa pembiayaan dengan kualitas terjangkau dan terbaik
 Pelayanan serta pemberian nasehat kepada para pelanggan kami yang ingin mempunyai
barang melalui kredit
 Misi kami ialah memberikan jasa pembiayaan secara lebih cepat efisien serta cepat.
 Berdasarkan kemampuan teknik, pengetahuan, komersial serta kesadaran kami pada
kesejahteraan masyarakat, maka kami menyiapkan jasa pembiayaan untuk menciptakan nilai
yang terus meningkat untuk para pelanggan, pemegang saham serta karyawan kami
 Kami membantu pelanggan kami untuk memiliki barang dengan pemberian jasa pembiayaan
yang memiliki kualitas tinggi dan dengan kemudahan

SNP Finance Merekayasa Laporan Keuangan


Pada awalnya perusahaan SNP Finance dilihat dan tercatat memiliki catatan atau rekor
yang baik dari pandangan bank maupun masyarakat luas yang mempunyai kualitas dari kredit
usaha yang berjalan dengan lancar. Hal ini memicu atau membuat bank-bank lainnya yang juga
kemudian banyak ikut memberikan kontribusi pembiayaan untuk diberikan kepada perusahaan
SNP Finance.
Rohan Hafas yang merupakan Corporate Secretary pada Bank Mandiri menyatakan
secara jelas bahwa perusahaan SNP Finance merupakan debitur Bank Mandiri yang
mengawalinya dari tahun 2004 sebagai perusahaan pembiayaan. Dalam jangka waktu yang
panjang kurang lebih selama belasan tahun perusahaan SNP Finance menjadi bagian dari Bank
Mandiri sebagai debitur yang baik. Dilihat dari hal yang telah disampaikan dan atas hal tersebut
penyaluran kredit yang dilakukan sampai saat sekarang kasus ini bukan satu-satunya penyebab

4
dari adanya ketidak hati-hatian oleh sebuah perbankan, ini dilihat oleh Bank Mandiri itu sendiri
atas perusahaan SNP Finance. Apalagi fakta yang ada saat ini bahwa perbankan sudah sangat
berhati-hati dikarenakan oleh para regulator mulai menetapkan beberapa aturan-aturan atau
rambu-rambu yang sangat tegas bagi perbankan. Perusahaan SNP Finance mempunyai itikad
yang kurang baik dari pengurus perseroan dalam menghindari sebuah kewajiban yang mereka
harus pertanggungjawabkan, ini yang pertama kalinya menyebabkan kekisruhan pada perusahaan
SNP Finance tersebut. Terbukti dari perusahaan SNP Finance setelah terlihat bahwa ada indikasi
kualitas dari kredit menurun maka secara langsung untuk mengajukan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU) secara Sukarela. Ini sering atau biasanya terjadi sebagai istilah
modus, yang dilakukan dengan cara untuk memanfaatkan sesuatu yang telah ditentukan oleh
sebuah hukum yang dimana ini berhubungan dengan kepailitan suatu perusahaan.
Diketahui bahwa temuan dari para regulator sebagaimana merupakan sebuah hasil yang
diduga kuat sudah adanya tindakan melakukan rekayasa terhadap pembukuan perusahaan
terhadap laporan keuangan yang dihasilkan. Ini juga diduga kuat dilakukan melalui beberapa dari
KAP yaitu dari Group The Big Five yang ada di Indonesia terhadap laporan keuangan
perusahaan SNP Finance. Dari serangkain kejadian ini, maka laporan keuangan tersebut lah yang
dimana oleh perusahaan SNP Finance menjadikan ini sebagai sebuah dasar untuk lembaga lain
agar masuk dan kemudian perusahaan memperoleh pembiayaan tersebut. Terkait dengan kasus
dari dugaan tindak pidana atas pemalsuan terhadap sejumlah dokumen, penggelapan, pencucian
uang (money laundering) serta penipuan yang dilakukan dari aktivitas usaha perusahaan SNP
Finance sebagai perusahaan yang bergerak pada bidang pembiayaan, bahwa sebanyak 5 (lima)
orang dari direksi dan manajer perusahaan SNP Finance telah diamankan oleh pihak yang
berwajib.
Donni Satria sebagai Direktur Utama terseret dalam kasus ini yang oleh Bareskrim
Kepolisian menangkap dari petinggi dari perusahaan SNP Finance tersebut. Langkah-langkah
yang diambil Bank Mandiri terkait dengan perusahaan SNP Finance yang akan memperdalam
laporan untuk informasi yang sudah disampaikan kepada pihak-pihak yang berwenang dan
berwajib dalam menangani kasus ini. Disinyalir adanya dugaan terhadap informasi dan data yang
dipalsukan oleh perusahaan SNP Finance, bersama-sama dengan kreditur yang lainnya akan
kembali melakukan pelaporan.

5
Penyelidikan Otoritas Jasa Keuangan
Sejak pada bulan Juni 2017, masalah yang ada di SNP Finance mulai di ketahui satu-
persatu. Slamet Edy Purnomo selaku Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa permasalahan SNP Finance sudah mulai tercium dan
diketahui beritanya oleh publik menjadi masalah yang cukup menyita perhatian. Oleh para
pengawas, masalah SNP Finance terbongkar untuk pertama kalinya yang dimana sudah
tertangkap dan terbukti terdapat angka CAPS. Aplikasi tersebut merupakan alat yang berfungsi
untuk mengconnecting antara satu dengan yang lainnya yaitu antara SNP Finance yang
dimana sebagai multifinance dengan bank contohnya Bank Mandiri yang bisa dibilang
pengaruhnya paling besar. Dalam penyelidikan yang telah dilakukan, bahwa terdapat perbedaan
pada angka-angka dari laporan yang ada di perusahaan tersebut.
OJK sebagai pihak yang memiliki tugas dan wewenang untuk bertanggungjawab
kemudian meminta adanya dilakukan pemeriksaan kepada pihak perbankan, dengan melalui
internal perusahaan dan oleh para pengawas yang berwenang. OJK terus-menerus melakukan
evaluasi pada perusahaan SNP Finance berlanjut pada tahun berikutnya. Secara prosedur yang
berlaku maka OJK terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada pihak internal perusahaan
perbankan untuk menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dan diketahui ada terjadinya masalah.
Secara total keseluruhan untuk tagihan perusahaan SNP Finance telah mencapai Rp 2,4
Triliun dari beberapa kreditur, diantaranya adalah untuk Bank Mandiri senilai Rp 1,4 Triliun,
Bank Sinarmas senilai Rp 9 Miliar, Bank Woori Bersaudara senilai Rp 16 Miliar, Bank BJB
senilai Rp 25 Miliar dan Bank J-Trust senilai Rp 55 Miliar. Selain itu tercatat bahwa senilai Rp
2,23 Triliun belum dapat dipenuhi, hal tersebut merupakan total pokok kredit dari 14 bank
pemberi pinjaman kepada perusahaan SNP Finance.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai bahwa perkara yang dialami PT Sunprima
Nusantara Pembiayaan atau SNP Finance yaitu dalam hal gagal bayar Medium Term Notes
(MTN) menyisakan berbagai permasalahan. OJK berinisiatif agar penerbitan MTN seperti
penerbitan surat berharga obligasi, untuk kedepannya harus dilakukan melalui Perdagangan di
Bursa Efek Indonesia (BEI). OJK juga beranggapan bahwa mekanisme pada BEI dapat lebih
transparan dan diharapkan dapat lebih aman untuk para investor dalam hal penerbitan MTN. Ini
dilakukan dengan terus menjalin komunikasi bersama direktur utama BEI dalam hal pengkajian
penerbitan MTN melalui Bursa Efek.

6
Setelah dilakukannya pembekuan kegiatan usaha terhadap SNP Finance, Fakhri Hilmi
selaku Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK, sedang melakukan pemeriksaan
terhadap lembaga pemeringkat efek yaitu pada PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
Dalam pemeriksaan tersebut bahwa yang sedang dilakukan adalah terkait dengan menggunakan
metode atau cara penyematan peringkat oleh lembaga tersebut yang merupakan anak perusahaan
dari PT Bursa Efek Indonesia. Salah satu pemeriksaan yang dilakukan adalah tentang basis data
untuk pemeringkatan, yang dimana pemeriksaan tersebut bersifat in query. OJK masih terus-
menerus mendalami kasus ini, yang selanjutnya jika ditemukan bahwa PT Pefindo melakukan
atau adanya kemungkinan melakukan pelanggaran maka akan diberikan sanksi oleh regulator
pasar modal selaku yang berwenang dan berkepentingan. Sekar Putih Djarot selaku juru bicara
OJK menyatakan bahwa apabila perusahaan SNP Finance dalam ketentuannya hingga sampai
berakhirnya jangka waktu untuk Pembekuan Kegiatan Usaha, tidak dapat memenuhi hal tersebut
maka sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan pada pasal 53 POJK No.29 tahun 2014
terkait izin dari usaha SNP Finance akan dicabut.
Anto Prabowo selaku pihak Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik dari
Otoritas Jasa Keuangan mengangkat suara dan menyatakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan
selaku pihak yang berkepentingan akan melakukan koordinasi dengan kepolisian serta
Kementerian Keuangan. Pihak-pihak tersebut merupakan instansi yang terkait dalam keperluan
untuk penindakan. Penerbitan MTN yang dilakukan dengan tanpa seizin Otoritas Jasa Keuangan
adalah merupakan hal yang dilarang keras oleh Otoritas Jasa Keuangan. Koordinasi yang
dilakukan dengan Kementerian Keuangan yang kemudian menjadi langkah Otoritas Jasa
Keuangan dengan Kantor Akuntan Publik berkaitan dengan kinerja. Untuk saat ini Otoritas Jasa
Keuangan memberikan perusahaan SNP Finance berada dalam keadaan status dikenakan sanksi
terkait dengan pembekuan kegiatan usaha. Hal tersebut dikarenakan bahwa perusahaan SNP
Finance belum disampaikannya atas informasi yang terbuka untuk semua kreditur dan para
pemegang MTN sampai dengan sanksi ketiga dengan batas waktu tertentu sesuai dengan pasal
53 POJK No.29 tahun 2014.
Pembekuan kegiatan usaha yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan atas perusahaan
SNP Finance membuat perusahaan dilarang untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan usaha yang
berhubungan dengan pembiayaan. Anto Prabowo menegaskan bahwa ketika perusahaan SNP
Finance dalam kegiatan menjalankan usahanya sebagai usaha pembiayaan tetap saja dilakukan,

7
maka Otoritas Jasa Keuangan secara langsung dapat dikenakan sanksi izin usaha yang dimana
segera dilakukan pencabutan usaha. Otoritas Jasa Keuangan mewajibkan bahwa selama pada
masa perusahaan SNP Finance menerima sanksi pembekuan kegiatan usaha, diwajibkan untuk
perusahaan SNP Finance dalam menyampaikan dan melaksanakan serangkaian kegiatan dari
tindakan yang korektif. Jika selama rentang waktu kurang lebih 6 (enam) bulan dari
ditetapkannya pembekuan kegiatan usaha, tindakan-tindakan tersebut sama sekali tidak dipenuhi
oleh perusahaan SNP Finance maka dengan kewenangan yang ada pada Otoritas Jasa Keuangan
akan dikenakan sanksi berupa pencabutan izin usaha perusahaan SNP Finance.
Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik dari Otoritas Jasa Keuangan
menjelaskan bahwa diketahui selama ini perusahaan SNP Finance adalah bagian dari sebuah
usaha dari Columbia, yang dimana bisa disebut sebagai toko yang menyediakan jual beli barang
yang dilakukan secara kredit. Dalam kegiatan usaha yang dilakukannya, perusahaan SNP
Finance juga mendukung secara penuh dalam pembiayaan dengan pembelian barang oleh
perusahaan Columbia. Kegiatan yang dijalankan tersebut mendapatkan dana atau bisa disebut
bersumber dari kredit usaha perbankan.

Penilaian PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO)


PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) itu sendiri merupakan perusahaan credit
rating agency yang sudah terkenal dan terkemuka di Indonesia, telah terdaftar dan diawasi oleh
OJK Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia. PT Pefindo memiliki pengalaman lebih dari 20
tahun dalam pemeringkatan dan mengelola data sensitif maupun rahasia. Dalam usaha biro kredit
dapat berperan dalam sejumlah kenaikan peringkat Indonesia dalam hal kemudian untuk
kemudahan berusaha (ease of doing business).
Diketahui sebelumnya oleh PT Pefindo bahwa berdasarkan keterbukaan informasi dari
perusahaan SNP Finance telah mendapatkan status pada peringkat efek single A (idA) yang
dimana peringkat ini merupakan kabar baik bagi perusahaan. Hal ini dapat menunjukkan atau
menandakan bahwa adanya prospek stabil yang baik pada perusahaan SNP
Finance,pemeringkatan ini terjadi sejak bulan Desember 2015.
Kemudian perusahaan SNP Finance kembali mendapatkan status pada peringkat efek
pada periode bulan Desember 2015-2017 yaitu single A minus (idA-/stable) yang selanjutnya
pada bulan Maret 2018, status SNP Finance mengalami kenaikan melalui rating yang mengalami

8
perubahan sehingga peringkatnya menjadi stable outlook (idA/stable). Namun pada saat ini
dilakukan sebanyak 2 (dua) kali pemeringkatan, yaitu dari pihak PT Pefindo itu sendiri dengan
melalui kebijakan atau wewenangnya menurunkan rating dan menarik peringkat tersebut
sebelumnya dari perusahaan SNP Finance. Hal tersebut juga termasuk menarik surat utang yang
dari perusahaan SNP Finance dalam bentuk Medium Term Notes (MTN) yang terjadi pada
periode tahun 2017-2018. Dan kemudian setelah itu untuk pertama kalinya pada bulan Mei 2018
peringkat diturunkan menjadi idCCC/credit watch negative. Pada proses pemeringkatan yang
kedua kalinya pada bulan dan tahun yang sama peringkat diturunkan lagi sehingga menjadi
idSD/selective default. Peringkat selective default untuk sebuah perusahaan rating
mengindikasikan bahwa perusahaan masih membayar kewajibannya terhadap keuangan kepada
para sejumlah kreditur dan juga supplier nya.
Kemudian setelah dilakukan identifikasi pada perusahaan SNP Finance terhadap
kemampuan perusahaan membayar akan sejumlah kewajibannya yang pada akhirnya
menemukan hasil bahwa kewajiban perusahaan SNP Finance terbilang sebesar kurang atau
lebihnya sejumlah Rp 4,07 triliun, yang rinciannya tersebut terdiri dari kredit perbankan yang
adalah terbilang sejumlah Rp 2,22 triliun dan Medium Term Note (MTN) terbilang sejumlah Rp
1,85 triliun. Ketika pada saat terjadinya permasalahan ini perusahaan SNP Finance berusaha
semaksimalnya untuk melakukan beberapa upaya melalui internal perusahaannya, dalam
mengajukan beberapa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).
Handhayu Kusumowinahyu selaku Analis dari PT Pefindo, diketahui bahwa ketika
terjadi penarikan peringkat yang dilakukan PT Pefindo sebelumnya itu merupakan hal yang
dapat diambil atas dasar keputusan yang dirilis OJK terkait dengan Pembekuan Kegiatan Usaha
(PKU) dari perusahaan SNP Finance. Atas dasar perjanjian pemeringkatan yang telah dilakukan
diawal, PT Pefindo mempunyai kewenangan dan berhak untuk menarik suatu peringkat yang
telah diberikan jika pada kenyataannya perusahaan, yang dimana terkait dengan menyampaikan
atau melaporkan sebuah data terbukti tidak benar didalam untuk melakukan proses
pemeringkatan. Upaya untuk meminta informasi dari perkembangan data yang terbaru telah
dilakukan oleh PT Pefindo contohnya pada laporan keuangan yang telah diaudit per 31
Desember 2017, kemudian interim pada 31 Maret 2018, dan untuk kesiapan pembayaran
perusahaan terhadap kupon serta pokok dari Medium Term Note (MTN) yang segera jatuh tempo
pembayaran.

9
Sampai pada saat perusahaan SNP Finance pada tanggal 14 Mei 2018, diberikan sanksi
untuk Pembekuan Kegiatan Usaha (PKU) yang disebabkan oleh kegiatan usaha perusahaan
dicurigai dan disinyalir telah menggunakan informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya.
Kegiatan perusahaan juga diduga berimbas pada dirugikannya sejumlah pemangku kepentingan
yang ada di dalam perusahaan yaitu kepentingan debitur, kreditur, dan pemangku kepentingan
yang lainnya termasuk juga kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan. Sampai dengan tanggal 25
Mei 2018 saat itu, perusahaan SNP Finance masih saja tidak memberikan umpan balik ataupun
jawaban yang dimana sedang dibutuhkan oleh PT Pefindo.

Tindakan Bank Mandiri


Melalui investigator internal dari Bank Mandiri pihak perbankan lalu selanjutnya
melakukan investigasi terhadap perusahaan SNP Finance. Berdasarkan proses investigasi
tersebut ditemukan bahwa memang ternyata tidak pernah terjadi tindakan untuk melakukan
reconcile yang melibatkan antara kedua pihak yaitu banking dan perusahaan. Berdasarkan
informasi yang telah diperoleh tersebut dapat dilakukan pendalaman proses dari kasus ini dan
ternyata bahwa terdapat kesalahan pada sistem sehingga mengakibatkan tidak terjadi dengan
sempurna. Tim yang bertugas lalu selanjutnya berkoordinasi dengan pengawas dari perusahaan
SNP Finance di Industri Keuangan Non Bank (IKNB) untuk membahas kesalahan sistem yang
ada tersebut. Dari hasil yang diperoleh, bahwa kesalahan yang terjadi dapat saja diperbaiki.
Terlepas dari adanya kesalahan sistem yang terjadi di perusahaan, dan akhirnya muncul
hasil tersebut berdasarkan hasil investigasi yang lalu kemudian sampai kepada masalah MTN.
Semua jajaran pegawai Pefindo yang bersangkutan di panggil untuk meminta konfirmasi dan
penjelasan atas masalah baru tersebut.
Ketika melakukan pemeriksaan, maka dari pemeriksaan terlihat bahwa semua
pengawasan berjalan dengan baik dari pihak Bank Mandiri. Hasil pemeriksaan sampai saat ini
mengindikasikan bahwa adanya permasalahan yang terjadi merupakan kesalahan yang berada di
pihak SNP Finance, perihal terkait data yang diberikan oleh pihak SNP Finance itu sendiri.
Adapun masalah ini terkait dengan mekanisme atau tatacara pemberian pinjaman kepada SNP
Finance yang dimana dilakukan melalui sistem yang disebut dengan sistem executing. Ketika
terjadi proses dari sebuah bank untuk memberikan sebuah pembiayaan kepada sejumlah atau
sebuah perusahaan yang bermitra lalu perusahaan tersebut memindahtangankan kepada seorang

10
atau beberapa nasabahnya yang bisa disebut sebagai end user, maka perusahaan tersebut akan
tercatat sebagai debitor dari bank. Sedangkan proses pembiayaan kepada nasabahnya tercatat
sebagai eksposur pembiayaan kepada perusahaan mitra, ini merupakan proses dari sistem
executing. Dalam proses yang dilakukan di bank bahwa untuk bisa memperoleh kredit tersebut,
maka yang harus dilakukan pertama-tama ialah memeriksa laporan keuangan yang dimana
sebelumnya telah ditunjuk atau ditentukan kepada auditor publik yang bertugas. Auditor yang
telah ditunjuk adalah auditor yang berasal dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte, kemudian
auditor akan menilai dari suatu kondisi yang ada pada sebuah laporan keuangan SNP Finance.
Seiring dengan penurunan bisnis, kemudian kredit perbankan tersebut akhirnya
mengalami permasalahan yang lebih luas menjadi Non Performing Loan (NPL) yaitu suatu
keadaan dimana yang diperjanjikan diawal kontrak oleh nasabah-nasabahnya sudah tidak
sanggup untuk membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada pihak bank tersebut.
Kondisi yang demikian telah diantisipasi oleh perbankan dengan melakukan sebuah pencadangan
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) pada tahun-tahun yang sudah lalu atau yang
telah lewat, sehingga oleh perbankan dapat mengabsorb mengetahui risiko gagal bayar. PPAP
tersebut merupakan suatu bentuk penyisihan yang dimana BPR diwajibkan untuk membentuk hal
tersebut agar menutup risiko kerugian dan kemungkinan buruk yang akan terjadi ke depannya
sehingga menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi. Minimal dari besaranya PPAP yang
umum adalah sebesar 0,5% (nol koma lima persen) yang dilihat dari aktiva produktif yang dapat
digolongkan sebagai aktiva atau aset lancar dan tidak termasuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Kemenkeu Jatuhkan Sanksi ke Deloitte Indonesia


Sehubungan SNP Finance atas pembobolan 14 bank, Kementerian Keuangan telah
memberikan sanksi pada tiga akuntan publik yang memiliki keterkaitan dengan kasus tersebut.
Sanksi dijatuhkan atas adanya laporan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang prosedur
audit yang dilanggar oleh kantor akuntan publik.
Nufransa Wira Sakti selaku Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi
Kementerian Keuangan menyatakan bahwa Kemenkeu telah menjatuhkan sanksi sejak Agustus
lalu. Akuntan publik yang diberikan sanksi ialah Akuntan Publik Merliyana Syamsul, Kantor
Akuntan Publik Satrio Bing Eny (KAP SBE), serta Kantor Akuntan Publik Marlinna. KAP SBE
ialah salah satu dari entitas Deloitte Indonesia.

11
Berdasarkan pemberitaan yang beredar, SNP Finance ialah anak usaha Columbia, yang
melaksanakan usaha pembiayaan untuk kebutuhan peralatan rumah tangga. Seiring dengan
penurunan bisnis dari perusahaan Columbia, kemudian kredit perbankan tersebut akhirnya
mengalami permasalahan yang lebih luas. Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI
melaksanakan pemeriksaan atas laporan dari Bank Panin karena adanya jaminan piutang fiktif
yang dilaksanakan oleh SNP Finance yang mengakibatkan ditetapkannya tersangka yakni lima
pimpinan SNP Finance. Akuntan publik menerbitkan laporan keuangan hasil audit, laporan
tersebut dimanfaatkan SNP untuk mendapatkan kredit dari bank-bank lainnya.
Bareskrim Polri memperoleh dokumen tentang pinjaman kredit yang telah didapatkan
oleh SNP Finance, dengan jumlah penggelapan sekitar Rp 14 triliun. Tetapi OJK menyatakan
bahwa kredit yang dipinjamkan oleh perbankan untuk SNP Finance tidak sampai di angka Rp 14
triliun. Berbagai perbankan menyalurkan dananya kepada SNP Finance, dengan total dana yang
disalurkan oleh 14 perbankan ialah Rp 2,2 triliun.
Kementerian Keuangan menjatuhkan sanksi administratif pada Kantor Akuntan Publik
Merliyana Syamsul serta Kantor Akuntan Publik Marlinna yakni dibatasinya jasa audit untuk
entitas jasa keuangan, seperti jasa asuransi serta jasa pembiayaan dalam jangka waktu 12 bulan,
yang mulai diberlakukan selama satu tahun yakni 16 September 2018 sampai 15 September
2019. Sedangkan KAP SBE serta Rekan dijatuhkan sanksi yakni rekomendasi untuk menyusun
kebijakan serta prosedur dalam sistem pengendalian mutu KAP sehubungan dengan ancaman
kedekatan anggota tim perikatan senior. KAP wajib melaksanakan prosedur serta implementasi
tersebut serta melaporkan pelaksanaan kebijakan serta prosedur tersebut paling lambat tanggal 2
Februari 2019.
Berdasarkan website resmi www.pppk.kemenkeu.go.id, dijelaskan bahwa pokok
permasalahan telah dianalisis oleh Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK) Kementerian
Keuangan. Lembaga tersebut menyatakan bahwa adaya standar profesi audit yang dilanggar oleh
akuntan publik ketika melaksanakan audit umum atas laporan keuangan SNP Finance dalam
tahun buku 2012-2016.
PPPK melaksanakan pemeriksaan KAP serta dua akuntan publik yang dimaksud untuk
memastikan hal tersebut. Hasil pemeriksaaan yang didapatkan ialah Kantor Akuntan publik
Merliyana Syamsul serta Kantor Akuntan Publik Marlina belum melaksanakan atau mematuhi

12
Standar Audit-Standar Profesional Akuntan Publik sepenuhnya ketika melaksanakan audit umum
untuk laporan keuangan SNP Finance.
Beberapa hal yang belum sepenuhnya diterapkan ialah pengendalian atas sistem
informasi sehubungan dengan data nasabah serta keakuratan jurnal piutang pembiayaan dan
bukti audit yang cukup dan tepat untum akun Piutang Pembiayaan Konsumen. Selain itu
kurangnya pelaksanaan asersi keterjadan serta asersi pisah batas akun Pendapatan Pembiayaan,
pelaksanaan prosedur sehubungan dengan proses deteksi risiko kecurangan, dan skeptisme
profesional di dalam merencanakan dan melaksanakan audit.
KAP tersebut memiliki kelemahan pada sistem pengendalian mutu karena tidak dapat
mencegah dengan tepat ancaman kedekatan yakni hubungan yang cukup lama antara personel
senior, yaitu perikatan audit pada klien yang cukup lama dengan manajer tim audit. Kementerian
Keuangan menyatakan bahwa hal tersebut akan berimplikasi pada menurunnya skeptisme
profesional.
Berdasarkan pernyataan dari pernyataan dari Steve Aditya selaku Clients and Market
Leader Deloitte Indonesia mengatakan bahwa Deloitte tengah melaksanakan konsolidasi
internal. Hal tersebut dilaksanakan karena tindak pidana yang diberikan memberikan pengaruh
legal yang perlu dikaji dengan sikap kehati-hatian.

OJK Beri Sanksi Pada Akuntan Publik yang Terlibat dalam Kasus SNP Finance
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaksanakan pembatalan atas pendaftaran Akuntan
Publik (AP) Merliyana Syamsul, Kantor Akuntan Publik Marlinna, serta Kantor Akuntan Publik
Satrio, Bing, Eny dan Rekan sehubungan dengan pemeriksaan OJK pada PT Sunprima Nusantara
Pembiayaan.
Anto Prabowo selaku Deputi Komisioner Manajemen Strategis serta Logistik OJK
mengatakan bahwa dibatalkannya pendaftaran KAP Satrio, Bing, Eny dan rekan diberlakukan
efektif setelah KAP tersebut telah selesai melaksanakan audit Laporan Keuangan Tahunan Audi
(LKTA) tahun 2018 terhadap klien yang masih mempunyai ontrak serta tidak diperbolehkan
menambah klien yang baru. Selain itu KAP Merliyana Syamsul serta KAP Marlinna dibatalkan
pendaftarannya yang berlaku efektif ketika ditetapkan oleh OJK pada hari Senin tanggal 1
Oktober 2018.

13
Anto menyatakan bahwa audit atas Laporan Keuangan Tahunan PT SNP telah
dilaksanakan oleh akuntan publik dari KAP Satrio, Bing, Eny dan Rekan dengan memperoleh
opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Berdasarkan analisis yang dilaksanakan oleh OJK, SNP
Finance dinyatakan menyajikan laporan keuangan yang tidak sesuai secara signifikan dengan
keadaan keuangan perusahaan yang sesungguhnya yang berimplikasi negatif untuk banyak
pihak. Berdasarkan hal tersebut, OJK melaksanakan koordinasi dengan Pusat Pembinaan Profesi
Keuangan (PPPK) Kementerian Keuangan sehubungan dengan dilaksanakannya audit oleh KAP
Satrio, Bing, Eny dan Rekan atas lapoan keuangan SNP Finance. PPPK menyatakan KAP
tersebut telah melaksanakan pelanggaran sehingga Menteri Keuangan mengenakan sanksi atas
KAP yang melanggar.
OJK mempertimbangkan KAP Merliyana Syamsul, KAP Marlinna serta KAP Satrio,
Bing, Eny dan Rekan atas pelanggaran berat yang dilaksanakan. Menurut OJK, KAP tersebut
telah melaksanakan pelanggaran atas regulasi POJK nomor 13/POJK.03/2017 mengenai
Penggunaan Jasa Akuntan Publik serta Kantor Akuntan Publik dengan beberapa indikator:
a) Opini yang diberikan tidak berdasarkan keadaan perusahaan yang sesungguhnya.
b) Kerugian yang sangat besar merupakan hal yang sangat berimplikasi pada masyarakat
serta jasa keuangan atas opini yang diberikan
c) Kepercayaan masyarakat yang menurun pada sektor jasa keuangan karena akuntan publik
tidak memberikan penyajian LKTA yang berkualitas.
Berdasarkan hal tersebut, KAP Merliyana Syamsul, KAP Marlinna serta KAP Satrio,
Bing, Eny dan Rekan diberikan sanksi oleh OJK yakni pembatalan pendaftaran. Sanksi diberikan
untuk akuntan publik serta KAP oleh OJK karena LKTA yang sudah diaudit dimanfaatkan SNP
Finance untuk memperoleh kredit dari berbagai bank serta melaksanakan penerbitan MTN yang
memiliki potensi gagal bayar serta berpotensi menjadi kredit yang memicu permasalahan. Maka
dari itu, OJK berusaha untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat pada industri jasa
keuangan.

Multifinance Kesulitan Mencari Modal


Industri perusahaan pembiayaan mengalami kesulitan dalam hal mencari dana atau
modal, berupa Medium Term Notes (MTN) serta pinjaman berbagai bank. Hal tersebut dapat
terjadi karena implikasi dari kasus SNP Finance yang menimbulkan penurunan kepercayaan

14
pada perusahaan pembiayaan. Sebenarnya bahwa perusahaan SNP Finance yang menimbulkan
masalah tersebut juga tidak tinggal diam, mereka mengupayakan tindakan-tindakan yang
dilakukan salah satunya adalah untuk mengatasi kredit bermasalah melalui penerbitan Medium
Term Note (MTN) tetapi yang telah diketahui bahwa masalah ini sudah sangat besar. Oleh PT
Pefindo Biro Kredit (PBK) yang dimana akan diperingkat berdasarkan laporan keuangan SNP
Finance yang diaudit oleh Deloitte. MTN merupakan perjanjian yang bersifat private dan dapat
diperjualbelikan oleh karenanya dokumen tersebut akan lebih sensitif dalam penggunaannya
sehingga memerlukan pemeringkatan yang akurat agar tidak salah ketika digunakan.
Suwandi Wiratno selaku Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia
(APPI) menyatakan bahwa pendanaan yang diperoleh dari berbagai bank akan menurun karena
perbankan ragu atas kemampuan perusahaan pembiayaan untuk melaksanakan penyaluran
pembiayaan pada masyarakat. Suwardi menyatakan bahwa perbankan akan memikirkan atau
meninjau dengan kritis untuk memberikan pendanaan atau tidak untuk kedepannya terhadap
perusahaan pembiayaan. Apalagi selama 1 tahun sampai 1,5 tahun terakhir ini terjadi kesulitan
untuk memperoleh pendanaan. Hal tersebut akan dipersulit lagi karena adanya kasus SNP
Fiannce tersebut.
Suwandi juga menyatakan bahwa tidak hanya manajemen SNP Finance yang memiliki
tanggung jawab atas kasus penunggakan atas pembayaran kredit atau data yang tidak akurat.
Namun, auditor yang telah melaksanakan pemeriksaan pada laporan keuangan perusahaan juga
memiliki tanggung jawab. Maka dari itu, untuk pengaruh negative atas asus SNP Finance pada
perusahaan pembiayaan, asosiasi serta otoritas yang terkait akan berusaha melaksanakan
pendaftaran aset. Sehingga apabila suatu perusahaan menjaminkan piutang untuk memperoleh
piutang maka pendaftaran jaminan tersebut harus dilaksanakan. Hal tersebut memberikan
implikasi untuk mengurangi penjaminan ganda yang terjadi seperti kasus SNP Finance. Menurut
Suwardi, SNP Finance menjadi kasus besar akibat jeminan piutang yang tidak didaftarkan
sehingga dapat dijaminkan lagi dan lagi.

SNP Finance akan Fokus Melunasi Utang


Ongko Purba Dahusa selaku Corporate Secretary SNP Finance bersama dengan pengurus
penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dari perusahaan SNP Finance yaitu Irfan
Aghasar menemui Otoritas Jasa Keuangan guna untuk menghadap sesuai dengan pemanggilan.

15
Pertemuan ini dilakukan untuk sebagaimana Otoritas Jasa Keuangan mendengarkan perusahaan
SNP Finance dalam melaporkan perkembangan terkait dengan penundaan kewajiban
pembayaran utang. Pemegang saham pada perusahaan SNP Finance selaku pengendali dan
merupakan komisaris utama sudah dinyatakan tidak berfungsi lagi sebagaimana dalam
melakukan tugas dan tanggungjawabnya. Selanjutnya dalam waktu yang dekat perusahaan SNP
Finance segera melakukan Rapat Umum Pemegang Saham dalam hal untuk mengangkat atau
mengaktifkan kembali direksinya.
Majelis Hakim dari PKPU perusahaan SNP Finance selama 30 hari kedepan hingga
sampai pada tanggal 28 Oktober 2018, bahwa sudah memutuskan untuk dilakukannya
perpanjangan waktu penundaan kewajiban pembayaran utang. Total dari nilai utang perusahaan
SNP Finance senilai Rp 2,22 Triliun, yang dimana bahwa nilai tersebut merupakan bagian dari
utang bunga yang senilai Rp 9,75 Miliar dan juga pada utang denda yang senilai Rp 124 Juta.
Ada pula tagihan yang terkait dengan 336 pemegang MTN adalah sebesar Rp 1,85 Triliun. Itikad
baik dari perusahaan SNP Finance adalah suatu tindakan yang perlu di apresiasi, ketika
perusahaan SNP Finance dalam hal terkait melunasi utangnya mereka terus-menerus
mengupayakan dalam melakukan penambahan sejumlah aset perusahaan agar utang nya cepat
terlunasi. Ada ketidakmungkinan bahwa utang akan dilunasi dengan mengandalkan total dari
aset saat ini yang dimiliki perusahaan SNP Finance, ini direncanakan dengan skema suatu
konsultan keuangan pihak perusahaan SNP Finance agar dapat melunasi keseluruhan utang-
utang yang ada. Perusahaan SNP Finance harus terus berusaha menghasilkan aset-aset tambahan
agar dapat melunasi utang-utangnya.

16