Anda di halaman 1dari 106

RINGKASAN

UROLOGI

Prof. Dr. dr. Rifki Muslim, Sp.B, Sp.U

Bag. Bedah Urologi FK UNDIP


RS. Dr. Kariadi Semarang

1
DAFTAR ISI

Fungsi Ginjal ………………………………………………… 3


Simptomatologi Penderita Urologi ……………………….. 10
Gejala pada Kelainan Traktus Genito Urinarius ……… 29
Pemeriksaan Urologi ……………………………………….. 36
Pemeriksaan Laboratorium Urologi ……………………… 42
Pemeriksaan Pencitraan pada Kasus Urologi ………….. 54
Obstruksi dan Stasis ………………………………………... 62
Infeksi Traktus Urinarius ………………………………….. 68
Penanganan Kolik Ureter ………………………………….. 75
Endourologi dan ESWL …………………………………….. 82
Hidrokel Testis ………………………………………………. 88
Pengelolaan Disfungsi Ereksi ……………………………... 94
Vasektomi ……………………………………………………... 100

2
FUNGSI GINJAL

Pada dasarnya kita kenal 5 fungsi ginjal yaitu :


1. Filtrasi
2. Reabsorbsi
3. Sekresi
4. Endokrin
5. Eritropoetik

I. FUNGSI FILTRASI.
Kesatuan fungsional dari ginjal disebut nephron yang terdiri
dari glomerulus dan tubulus. Pada orang dewasa normal
terdapat kira – kira 1,5 juta glomerulus yang mempunyai
fungsi filtrasi. Setiap menit kira-kira 1200 ml darah (1/4
dari cardiac out put) melewati ginjal untuk dilakukan
filtrasi.
Pada orang dewasa normal dihasilkan 180 liter cairan filtrat
per 2470 m, dan sebagian besar direabsorbsi kembali,
sehingga yang tersisa berupa urine 1-1.5 liter / 24 jam.
Disini GFR=125 ml/menit.
Filtrasi dipengaruhi oleh :
1. Tekanan hidrostatik di arteriole afferent
2. Tekanan osmotik protein plasma
3. Tekanan didalam tubulus

Filtrasi didalam glomerulus tidak memerlukan energi


metabolik sebab filtrasi ini terjadi karena tekanan
hidrostatik arteriol lebih tinggi dari sekitarnya.
Tekanan filtrasi efektif : - 60 mmHg (tek. hidrost kapiler)
- 30 mmHg (tek. osm plasma prot)
- 15 mmHg (tek. hidrost dicapsula
Bowmani)
Tekanan Filtrasi Efektif =15 mmHg

3
Sifat autoregulasi renal :
Ialah kemampuan ginjal agar tekanan hidrostatik di kapiler
glomerulus konstan, ialah dengan cara kontraksi otot polos
dinding arteriole agar tahanannya meninggi bila tekanan
darah turun (hipotensi) dan terjadi relaksasi otot polos
dinding arteriole, bila tekanan darah naik, sehingga tekanan
hidrostatis di daerah glomerulus tetap 60 mmHg. Proses ini
tetap berjalan normal sampai tekanan darah turun (45 – 60
mmHg).

Mengukur GFR (glomeruler filtration rate) :


Cara mengukunya dengan konsep clearence yaitu sejumlah
ml plasma yang dibersihkan dari suatu zat dalam satu
menit.
Dulu dipakai inulin yang disuntikkan intravena dan
ditunggu 45 – 60 menit, kemudian dihitung kadarnya di
dalam plasma dan di dalam darah serta volume urine.

GFR = U.V U= kadar creatinin dalam urine


P V= volume urine per menit
P= kadar creatinin dalam plasma

Kadar massa otot tiap orang tidak sama maka rumus diatas
diberi koreksi sbb :

U.V 1.73
Cr.Cl = --------------- x -------------------------------
P perkiraan luas tubuh

Harga normalnya : 70 - 140 ml/menit.

Selain itu ada cara lain menghitung klirens kreatinin,


dengan rumus dibawah ini.
Cara ini lebih mudah diterapkan, karena hanya perlu
menghitung kadar kreatinin serum, umur dan berat badan.

4
Rumus Cockcroff – Gault (untuk laki-laki)
(140 – umur th) x BB (kg)
CR. Clearence = ---------------------------------------------
72 x serum creatinin

Pada wanita kadar kretinin klirens 0,85 x kadar pada laki-


laki.

Kadar BUN sebagai index GFR

Kadar BUN (blood urea nitrogen) dapat untuk


memperkirakan GFR dengan harga normal 10 – 15 mg/100
ml, yaitu kira – kira separuh dari kadar ureum darah. BUN
dipengaruhi oleh intake diet protein, fungsi hepar,
pemecahan protein karena trauma, demam dan pemecahan
darah dalam otot atau gastrointestinal.

II. REABSORPSI.
Dalam sehari difiltrasi oleh glomerulus 180 liter air, 1500
gram NaCl, 500 gram NaHCO3 dan 250 gram glukosa,
tetapi sebagian besar direabsorbsi dan hanya kira – kira
1% yang dikeluarkan dalam urine.
NaCl dan air di tubulus proksimalis sampai loop Henle di
reabsorbsi secara pasif sebanyak 80% dan sisanya di
reabsorbsi di tubulus distalis secara aktif dengan
pertolongan pompa sodium (sodium pump).
KAPILER SEL TUBULUS LUMEN

Na+ Na+
Sodium pump

Air Air

5
Energi sel akan memompa secara aktif Na dari lumen
tubulus dan dialirkan ke kapiler.
Air aakan ikut secara pasif mengikuti Na dari lumen ke
kapiler.
Energi ini dihasilkan oleh mitichondria yang terdapat
dalam sel tersebut.
40 – 50 % Kalium yang difiltrasi di reabsorbsi di tubulus
proksimalis sampai ke loop Henle dan hanya kurang dari
10% sampai ke tubulus distalis. Disini terjadi sekresi
Kalium juga sebagai pengganti ion Natrium yang
direabsorbsi. Selain itu di tubulus proksimalis juga terjadi
reabsorbsi glukosa, sulfat, asam amino, asam urat dan
protein. 99,9 % bicarbonat yang difiltrasi di reabsorbsi
sehingga kadar dalam darah 26 – 28 mEq/liter.

III. SEKRESI
Banyak zat yang disekresi aktif didalam tubulus seperti
fenol red, penisilin, PAH (para amino hipurat), diodrast
dan creatinin.
Beberapa basa kuat juga disekresi seperti guanidin,
piperidin, thiamin, cholin dan histamin yang terjadi di
tubulus proksimalis. Sekresi ion H sebagian besar di
tubulus proksimalis dan sebagian kecil di tubulus distalis.
Dalam keadaan normal di sekresi chorida 130 mEq/24 jam,
amonia 40 mEq, Natrium 125 mEq dan Kalium 78 mEq.

Keseimbangan asam basa :


Ginjal dan paru merupakan organ utama untuk
keseimbangan pH tubuh. Normal pH darah 7,35 – 7,45,
bila kurang dari 7,35 disebut asidosis dan bila lebih dari
7,45 disebut alkalosis.
Keseimbangan asam – basa oleh ginjal diatur dengan 4
mekanisme :

6
1. Mekanisme pembentukan asam karbonat
Co dan H2O didalam sel tubulus oleh enzim carbonic
anhidraze diubah menjadi asam karbonat, kemudian
dipecah menjadi bikarbonat dan H + . Bikarbonat ini
masuk kedalam darah melalui kapiler peritubuler dan
jumlah bikarbonat dalam darah inilah yang mengatur
pH darah.

2. Mekanisme pembentukan Na dan K.


Dalam sel tubulus terdapat pompa yang menarik Na
dari filtrat masuk ke dalam sel tubulus, dengan akibat
ion K terdorong keluar diikuti ion H +, yang berasal dari
pemecahan asam karbonat menjadi H+ dan bikarbonat
ion. Sesuai kebutuhan ion bikarbonat akan diproduksi
dan didorong masuk kedalam darah untuk mengatur
pH darah.

3. Mekanisme sekresi amonia


Amonia (NH3) disalam sel tubulus dihasilkan dari
metabolisme asam amino glutamin, dikeluarkan dari
sel tubulus dan didalam filtrat bereaksi dengan ion H+
dan Cl menjadi amonium chlorida (NH4Cl) dan
dikeluarkan dengan urine. Ion H+ yang diperlukan
diperoleh dari pemecahan asam karbonat menjadi
bikarbonat ion dan H+. Bikarbonat (HCO3- ) ini masuk
kedalam darah dan mengatur pH darah.

4. Mekanisme sekresi Natrium Fosfat.


Natrium fosfat ( monodihidrogen sodium phosphate =
Na H2 PO4) yang disekresi lewat filtrat berasal dari
reaksi ion Na+ + ion hidrogen fosfat (HPO4--) dan ion H+
menjadi Na H2 PO4. Ion H+ berasal dari pemecahan
asam carbonat menjadi ion H+ dan ion bicarbonat
(HCO3-) yang akan masuk kedalam darah mengatur
pH.

7
IV. FUNGSI ENDOKRIN
1. Sel juxta glomerulusa akan menghasilkan renin, dan
zat ini mengaktifkan angiotensinogen yang
dihasilkan oleh hepar menjadi angiotensin I --->
angiotensin II, yang akan merangsang kelenjar
kortek adrenal menghasilkan aldosteron. Aldosteron
akan memperbanyak reabsorpsi Na dan air
ditubulus distal, sehingga volume darah dan
tekanan darah naik.

Renin (sel juxta glom)

Angiotensinogen Angiotensin I Angiotensin II


(hepar)

Cortex adrenal

Volume dan Reabsorpsi Na+ Aldosteron


tekanan darah
naik Reabsorpsi H2O

Anti diuretik hormon (ADH).

ADH dihasilkan oleh lobus posterior kelenjar


pituitaria yang dipengaruhi oleh hipotalamus yang
mempunyai osmoreseptor, ADH ini akan
memperbanyak reabsorpsi air ditubulus distal dan
duktus kolektivus.

2. Prostaglandin
Merupakan lemak tidak jenuh yang dihasilkan
medulla renalis. Zat ini berpengaruh terhadap otot
polos, metabolisme karbohidrat dan lemak serta
aktivitas saraf.

8
3. Erythropoetin
Ginjal akan menghasilkan hormon erythropoetin
dengan stimulus hipoxia dan anemia. Hormon ini
akan memacu sistem erythropoesis untuk
menghasilkan banyak erythrocit.
Pada keadaan gagal ginjal kronik, ginjal yang rusak
tidak dapat memproduksi erythropoietin sehingga
terjadi anemia.
Bila dilakukan transplantasi ginjal maka ginjal
transplant akan menghasilkan hormone tersebut
sehingga kadar Hb naik.

KESEIMBANGAN AIR (WATER BALANCE).

80% cairan yang difiltrasi akan direabsorpsi kembali ditubulus


proximals. Pada pemeriksaan ternyata ditubulus proximalis
cairan filtrate isotonic, libih distal dari loop Henle yaitu
diconvulated tubule hypotonic, tetapi urine yangdiexcressi
bersifat hypertonic.
Reabsorpsi secara pasif mungkin dari tubulus proximalis
sampai ke loop Henle berjalan baik, sehingga setelah itu
ditubulus distalis cairan filtrate berupa cairan hypotonic dan
dengan sekresi aktif zat-zat lain, maka cairan urine bersifat
hypertonic.
Pada orang yang minum berlebihan maka volume darah relatif
meninggi sehingga merangsang osmo-reseptor dihipotalamus
dan akibatnya produksi ADH turun, dan kemampuan
reabsorpsi berkurang maka terjadi dieresis.
Juga pada pemberian obat-obat diuretika kemampuan
reabsorpsi air dihambat sehingga produksi air bertambah.

9
SIMPTOMATOLOGI PENDERITA UROLOGI

Penyakit urologi bisa member gejala sebagai berikut :


1. Gejala sistemik
2. Gejala sakit
3. Gejala gastro intestinal
4. Gejala miksi
5. Gejala seksual
6. Gejala lain

I. GEJALA SISTEMIK
1. Demam.
Terjadi pada infeksi traktus urinarius akuta, pada
pielonefritis akuta suhu tubuh bisa tinggi sekali (lebih
dari 400 C) disertai menggigil. Renal cell carcinoma juga
bisa menimbulkan demam sampai 390 C walaupun tidak
ada infeksi.

2. Penurunan berat badan


Bisa terjadi pada tumor ganas stadium lanjut, atau gagal
ginjal kronik

3. Kelelahan umum.
Bisa terjadi pada tumor, pielonefritis kronik maupun
gagal ginjal atau infeksi akut

4. Retensi cairan
Bisa terjadi misalnya pada atrofi ginjal yang
menyebabkan gagal ginjal. Retensi cairan ini
menimbulkan oedem termasuk oedem paru disertai sesak
nafas. Bisa juga menyebabkan decompensasio cordis,
ascitis, oedem tungkai dan anasarka.

10
5. Hipertensi (renal hypertension)
Bisa disebabkan kerusakan parenchim ginjal,
pielonefritis, hidronefrosis, ginjal polikistik, pasca ESWL
maupun stenosis arteria renalis.

6. Anemia , terjadi pada ginjal dan tumor ganas.

II. GEJALA SAKIT.


Terdapat dua macam gejala sakit pada penderita urologi
yaitu :
1. Sakit lokal (local pain)
2. Sakit yang dijalarkan (referred pain)

A. GINJAL.
1. Sakit lokal
Proses pada ginjal rasa sakitnya di pinggang dan
sudut vertebra. Sudut kosto vertebra adalah sudut
yang terbentuk antara kosta 12 dan kolumna
vertebralis.

2. Sakit yang dijalarkan.


Rasa sakit yang ditimbulkan oleh ginjal dapat
dijalarkan sepanjang daerah sub kosta sampai
umbilicus atau abdomen kuadran bawah.

B. URETER
1. Sakit lokal
Berupa rasa sakit dengan punctum maximum di
tempat batu ureter berada.

2. Sakit yang dijalarkan


Dijalarkan sepanjang jalannya ureter. Pada batu di
ureter proksimal rasa sakit dijalarkan sampai ke
testis (pada laki-laki) atau ovarium (pada wanita).
Jika batunya di ureter bagian tengah rasa sakit
dijalarkan ke titik Mc. Burney (yang kanan)
sehingga sering dikacaukan dengan diagnosa
11
appendicitis akut, sedangkan yang kiri dijalarkan
ke kontra Mc. Burney sehingga sering dikacaukan
dengan divertikulitis. Bila batu di ureter distal
maka rasa sakit dijalarkan ke supra pubik sehingga
seperti gejala sistitis.

C. VESICA URINARIA
1. Sakit lokal
Pada buli yang penuh sekali timbul rasa sakit di
supra pubik. Penyakit lain yang bisa menimbulkan
rasa sakit di supra pubik misalnya sistitis, batu
buli, trauma buli dan retensio urinae.

2. Sakit yang dijalarkan


Penjalaran rasa sakit dari buli yaitu sepanjang
urethra teerutama waktu miksi, sehingga dirasakan
sakit di batang penis. Pada batu vesica urinaria
timbul sakit di akhir kencing (terminal disuria).

D. PROSTAT
1. Sakit lokal
Rasa kemeng atau rasa penuh pada perineum atau
rectum terjadi pada prostatitis akut.

2. Sakit yang dijalarkan.


Sakit di punggung bagian bawah (low back pain)
yaitu di daerah lumbo sacral kadang-kadang bisa
terjadi pada prostatitis akuta (disertai disuria,
polakisuria dan urgensi).

E. TESTIS.
Rasa sakit bisa timbul akibat :
- Trauma
- Orchitis / epididimo orchitis
- Torsio testis
Sedangkan hidrokel, spermatokel dan tumor testis
jarang menimbulkan rasa sakit.
12
Varikokel menimbulkan rasa sakit ringan / kemeng di
daerah skrotum dan makin berat bila berdiri lama /
bekerja berat.
1. Sakit lokal
Di dalam kantong testis
2. Sakit yang dijalarkan
Ke atas sepanjang funikulus spermatikus ke
abdomen bagian bawah.

III. GEJALA GASTRO INTESTINAL


1. Nausea (mual) dan vomitus (muntah).
Sering terjadi pada penyakit ginjal dan ureter
misalnya batu ginjal, pielonefritis akut dan batu
ureter.
2. Kembung (abdominal distension)
Terdapat udara / gas yang banyak disertai gangguan
pencernaan sehingga terlihat perut kembung.
3. Ileus paralitikus
Pada batu ureter yang menimbulkan kolik bisa
terjadi ileus paralitikus, karena peristaltic usus
melemah sampai hilang.

Sebab terjadinya gejala gastro intestinal :


a. Reflek reno intestinal
Peregangan kapsul ginjal akan menimbulkan stimuli
melalui nervus aferen saraf otonom menuju ke pusat
reflek di medulla spinalis Th 12 – L3, melalui nervus
eferen akan menimbulkan spasme pylorus dan
mengganggu peristaltic usus.
b. Organ yang berdekatan.
Ginjal kanan berbatasan dengan kolon, duodenum,
kaput pancreas, hepar dan traktus biliaris, sehingga
proses penyakit di ginjal kanan bisa menimbulkan
gejala pada organ – organ tersebut. Ginjal kiri
berbatasan dengan kolon, gaster, pancreas dan limpa,
sehingga proses di ginjal kiri bisa menimbulkan gejala
pada organ – organ tersebut di atas.
13
c. Iritasi peritoneum.
Permukaan anterior ginjal ditempeli peritoneum,
sehingga adanya proses, misalnya peradangan ginjal
akan mengiritasi peritoneum, yang berakibat gejala
kekakuan otot dinding abdomen (defence muscular
positif). Rangsangan peritoneum ini bisa juga
menimbulkan gejala gastro intestinal, mirip pada ulkus
peptikum, batu empedu, appendicitis dan lain-lain. Oleh
karena itu pada setiap penyakit traktus digestivus,
tetap harus dipikirkan kelainan di traktus urinarius,
terutama batu di traktus urinarius bagian atas maupun
bawah.

IV. GEJALA MIKSI


1. Frequency (polakisuria)
- Yaitu bila kencing setiap kurang dari 2 jam.
- Paling sering dikeluhkan penderita urologi
- Bila terjadi siang hari disebut disuria, bila
malam disebut nocturia (lebih 2 kali malam
hari)
Dalam keadaan normal produksi urine sekitar
1 cc / kgBB / jam. Sensasi ingin kencing mulai
timbul bila vesica urinaria berisi 150 ml urine.
Pada orang dengan berat badan 50 kg, maka
produksi urine 50 ml per jam, maka 150 ml
dicapai dalam 3 jam. Oleh karena itu setiap 3 jam
orang tersebut ingin kencing, tetapi reflex miksi
tersebut maih bisa dihambat oleh kehendak.
- Etiologi :
a. Buli kecil, misal karena atrofi akibat sistitis
kronika, atau buli tertekan oleh tumor di luar
buli atau kehamilan.
b. Volume urine tambah, misalnya pada
diabetes atau banyak minum.
c. Sistitis (bacterial / non bacterial). Keadaan ini
menyebabkan iritasi pada detrusor sehingga
mudah berkontraksi, sehingga sering kencing.
14
d. Adanya rest urine (sisa air kencing), keadaan
ini mengakibatkan sebentar-sebentar buli
penuh kembali sehingga timbul miksi.
Keadaan ini terjadi misalnya pada obstruksi
infra vesikal (infra vesical obstruction) yang
bisa disebabkan prostat hiperplasia,
karsinoma prostat, sclerosis leher buli,
striktura uretra dll.
e. Psikogenik.
Adanya proses psikis misalnya ansietas
(kecemasan) atau stress psikis bisa
menimbulkan polakisuria atau bahkan
retensio urinae, keadaan ini lebih sering pada
wanita dibanding laki-laki.
f. Minum terlalu banyak, mengakibatkan
produksi ADH (Anti Diuretis Hormon)
menurun, sehingga terjadi polakisuria.
g. Pemberian obat diuretika, atau minuman
kopi, teh dan alkohol yang bersifat diuretik
akan mengakibatkan reabsorbsi air di tubulus
proksimal/distal berkurang, sehingga terjadi
polakisuria.
h. Adanya kelainan hipofise yang menyebabkan
produksi ADH berkurang. Misalnya pada
diabetes insipidus.
i. Pada fase rekoferi (penyembuhan) dari suatu
gagal ginjal, bisa berakibat poliuria dan
polikisuria.

2. Poliuria.
Yaitu suatu keadaan dimana jumlah volume urine
bertambah setiap kali miksi. Keadaan ini misalnya
terjadi pada diabetes mellitus dan diabetes
insipidus serta pada fase penyembuhan dari gagal
ginjal. Berdasarkan golongan umur, maka dalam
keadaan normal frekuensi dan jumlah volume air

15
kencing per 24 jam berbeda, seperti dapat kita lihat
dari table di bawah ini :

Tabel frekuensi dan volume urine per 24 jam


Umur Frekuensi miksi Volume urine
(ml)
1 – 2 hari 2–6 30 – 60
3 – 6 bulan 16 – 20 300 – 400
6 – 12 bulan 12 – 16 400 – 500
1 – 2 tahun 10 – 12 500 – 600
2 – 3 tahun 8 – 10 500 – 600
4 – 10 tahun 5–6 650 – 1000
>10 th–dewasa 4–5 800 - 1400

3. Oliguria.
Yaitu suatu keadaan dimana volume urine kurang
dari normal. Hal ini terjadi pada orang yang kurang
minum atau produksi ADH berlebihan. Dikatakan
oliguria apabila volume urine kurang dari 600 ml per
24 jam. Pada gagal ginjal pada fase tertentu terjadi
oliguria, tetapi pada fase lain bisa anuria atau
bahkan poliuria.

4. Urgency
Adalah suatu keadaan dimana orang tidak dapat
menahan kencing, sehingga bila timbul keinginan
miksi, sering keluar sebelum mencapai toilet.
Penyebab urgensi adalah hiperaktifitas dan
iritabilitas dinding buli yang disebabkan oleh
obstruksi infra vesikal, peradangan, sistitis, maupun
neurogenic bladder.

5. Hesitancy
Adalah keadaan dimana penderita sulit untuk mulai
kencing, sehingga ada jarak waktu antara permulaan
16
proses kencing dimana penderita mulai mengejan
sampai kencing keluar. Keadaan ini biasanya gejala
awal dari adanya obstruksi infra vesikal, paling
sering pada prostat hiperplasia, atau striktura
urethra.

6. Straining (mengejan)
Yaitu keadaan dimana penderita mengejan agar
tekanan intra vesikal naik supaya air kencing bisa
keluar, keadaan ini sering diikuti kekuatan aliran
urine turun (loss of forc) dan merasa ada sisa air
kencing di dalamnya (sense of residual urine). Pada
keadaan ini selain kontraksi otot – otot detrusor juga
kontraksi otot dinding abdomen.

7. Loss of force (pancaran lemah)


Adalah kekuatan pancaran air kencing yang
menurun, disebut juga slowing of stream (aliran
lambat). Keadaan in terjadi pada penderita prostat
hiperplasia.

8. Decrease of caliber of the stream (Pancaran air


kencing mengecil)
Yaitu kaliber aliran kencing mengecil. Gejala
pancaran lemah dan kaliber yang kecil bisa diperiksa
dengan adanya penurunan urinary flow rate yang
dalam keadaan normal sekitar 20 ml/detik. Cara
memeriksa flow rate yaitu, penderita disuruh minum
banyak sehingga buli penuh, kemudian disuruh
kencing dan ditampung, urine tampung yang 5 detik
pertama dibuang dan yang 5 detik kedua dihitung.
Misalnya dalam 5 detik kedua didapat 60 ml, maka
flow ratenya 12 ml per detik. Urine yang 5 detik
kedua ini disebut juga mid stream (pancaran tengah)
yang biasa diambil sebagai specimen untuk kultur
urine.

17
9. Dysuria.
Yaitu kencing merasa sakit, bisa terjadi pada sistitis,
maupun batu buli. Pada radang buli (sistitis) maka
rasa sakit bisa terjadi waktu buli terisi penuh urine
maupun miksi. Sedangkan pada batu buli rasa sakit
akan terjadi pada akhir kencing (disebut terminal
dysuria), tetapi bila batunya kecil dan terdapat di
meatus urethra interna atau didalam urethra, maka
rasa sakit terjadi selama proses miksi (disebut total
dysuria). Selain itu dysuria bisa terjadi pada
karsinoma buli yang infiltrasi ke sekitarnya.

10. Stranguria
Yaitu timbul rasa panas waktu kencing, disertai
volume air kencingnya sedikit. Keadaan ini terjadi
mislnya pada sistitis maupun uretritis.

11. Forking atau Spraying


Yaitu kencing yang terbelah / bercabang atau
menyebar, hal ini terjadi misalnya adanya obstruksi
partial / striktur uretra di uretra anterior pars penile
/ pendularis.

12. Pneumaturia
Kencing yang keluar berbuih atau berhenti sebentar
kemudian keluar lagi, karena terdapatnya udara /
gas yang tercampur dalam air kencing. Keadaan ini
terjadi bila terdapat vesiko-intestinal fistula dengan
lubang kecil, misalnya pada apendico vesikal fistula.

13. Fecaluria
Yaitu air kencing yang keruhdan bercampur feses
atau sisa – sisa makanan (misalnya serat sayuran).
Keadaan ini bisa terjadi bersama pneumaturia, tetapi
lubang fistula vesica intestinalnya cukup besar.Yang
sering terjadi misalnya pada apendico vesical fistula

18
sebagai akibat appendicitis akuta yang tidak
mendapat pengobatan adekuat.

14. Inkontinensia Urinae.


a. Urgency Incontinence
Kalau penderita merasa ingin kencing, maka
akan segera keluar tanpa dapat mencapai
toilet atau belum selesai melepas celana.
Penyebabnya bisa sistitis bakterial akut atau
tumor buli / dari luar buli yang infiltrasi
dinding buli, dan paling sering pada prostat
hiperplasia.
b. Stress Incontinence
Adalah keluarnya urine dengan peningkatan
sedikit tekanan intra vesikal, misalnya pada :
- Batuk / bersin
- Membongkokkan badan
- Mengangkat sesuatu
- Tertawa, naik tangga
- Hubungan seksual
- Defekasi
Bila penderita berdiri maka tekanan intra
vesika 2 kali lebih tinggi daripada posisi
penderita tiduran. Oleh karena itu biasanya
waktu tidur penderita tidak ngompol.
Stress incontinence terjadi akibat kelemahan
musculus sphincter urethra externus dan
bisa juga dengan yang internus.

c. Overflow Incontinence (Paradoxal


Incontinence)
Gejala pertamanya berupa ngompol pada
malam hari, dan lama-lama urine keluar
terus menerus. Hal ini terjadi pada retensio
urine kronik, misalnya oleh karena prostat
hiperplasia dan buli terisi banyak sekali
urine (bisa lebih dari 1 liter). Bila tekanan
19
bertambah terus, maka tahanan sphincter
urethra tidak bisa menahan lagi, sehingga
keluar terus urinenya.
d. True Incontinence.
Adalah keadaan dimana urine keluar terus
tanpa disadari, hal ini disebabkan kerusakan
musculus sphincter urethra akibat operasi,
kelainan kongenital atau kerusakan
persyarafan.

e. Flase Incontinence
Adalah inkontinens yang disebabkan bukan
oleh karena kerusakan / kelemahan m.
Sphincter urethrae, tetapi oleh karena
adanya fistula misalnya vesico vaginal fistula.
Bisa juga oleh karena kelainan kongenital
yaitu muara ureter ektopik di vagina, vulva
atau di uretra sebelah distal m. sphincter
urethra. Kelainan kongenital lain yaitu
epispadia dan extrofia – buli.

15. Pyuria
Yaitu adanya pus di dalam urine, yang dapat dilihat
kencing keruh seperti tercampur susu. Pada
pemeriksaan sedimen urine terdapat lebih dari 5
lekosit per lapangan pandang kecil ( lebih dari 8000
lekosit per ml urine ). Bila urine sangat basa, maka
banyak lekosit yang lisis, sehingga walau urine
keruh, tetapi pada sedimen urine lekosit sukar
ditemukan. Pada pH urine 7,4, lekosit yang lisis 20
%, pada pH 7,8 yang lisis 40 % dan pada pH 8,4 maka
60 % lekosit lisis. Kenaikan pH urine misalnya pada
infeksi bakteri pemecah urea (Urea Splitting
Bakteri), misalnya jenis Proteus. Pyuria yang
disebabkan infeksi 75 – 85 %, dan sisanya (15-25%)
karena radang non bakterial, adanya batu atau
tumor. Sebaliknya pada infeksi hanya 50% yang
20
disertai pyuria, tetapi selalu ada bakteriuria. Pada
infeksi TBC traktus urinarius terdapat pyuria, tetapi
bakterinya tidak ditemukan dan pada kultur hasilnya
negatif, keadaan ini disebut steril pyuria.

16. Chyluria
Adalah keadaan urine yang berwarna putih seperti
bercampur susu, yang disebabkan butiran lemak
(chylous) yang terdapat dalam cairan limfe masuk
kedalam urine karena adanya limphatic urinary
fistula didalam ginjal. Hal ini disebabkan adanya
obstruksi saluran limfe di suferia ginjal sehingga
saluran limfe ruptur di tempat yang paling lemah
yaitu di formix dan calyx.

Penyebab :
1. Sebagian besar oleh karena filariaus oleh karena
Wucheria Bancrofti.
2. Kadang – kadang bisa karena tumor intra
peritoneal, TBC dan trauma.

Klinis :
Bila penderita makan lemak / minyak cukup banyak
urine akan putih seperti susu, tetapi bila dietnya
kurang lemak maka hanya tampak urine berkabut
putih.

17. Enuresis
Adalah keluarnya kencing yang berulang – ulang
pada waktu tidak sadar (tidur), disebut juga ngompol.
Biasanya terjadi waktu tidur malam. Normal
ngompol biasa terjadi pada bayi sampai umur 2 - 4
tahun. Menurut penelitian 10 – 15 % anak berumur 4
– 12 tahun masih ngompol waktu tidur malam.
Etiologinya sebagian besar disebabkan kelemahan
otot sphincter uretra. Sekitar 10 % ngompol
disebabkan obstruksi infra vesical, bisa karena
21
meatal stenosis, striktur, bladder neck scerosis dll.
Akibatnya terjadi obstruksi dan stasis urine dengan
akibat sistitis, batu dan lain – lain. Hal ini
menyebabkan gejala iritasi pada buli yaitu nyeri,
polakisuria, nokturia dan disuria. Penyebab psikis
bisa juga berakibat enuresis, misalnya stress psikis,
cemas dan lain – lain.
Pengobatan enuresis :
1. Terapi kausal
2. Psikoterapi
3. Beri imipramin HCl tablet

18. Hematuria
Adalah terdapatnya eritrosit di ddalam urine lebih
dari dua per lapangan pandangan kecil pada sedimen
urine atau lebih 2000 eritrosit per ml urine.
Pembagian hematuria :
A. Berdasar warna
1. Gross hematuria : kencing berwarna merah /
merah tua / kehitaman
2. Mikroskopik Hematuria : kencing berwarna
kuning dengan terdapat eritrosit labih dari 2 /
LPK pada sedimen urine.

B. Berdasar waktu keluarnya :


1. Initial hematuria : darah keluar pada awal
kencing, misalnya perdarahan dari uretra.
2. Terminal hematuria : darah keluar pada akhir
kencing, yaitu perdarahan dari leher buli
3. Total hematuria : darah terdapat padaseluruh
kencing, asal darah dari tempat lain di traktus
urinarius.
Lisis eritrosit :
Pada BJ (berat jenis) urine yang rendah (urine
hipotonik), yaitu BJ < 1,008 maka hampir 100 %
eritrosit lisis, sehingga tidak ditemukan pada
sedimen urine, tetapi dlam pemeriksaan dipstick
22
hasilnya positif. Demikian juga pada pH urine :
lebih dari 7 (urine alkasis) sebagian besar eritrosit
lisis.
Pseudohematuria :
Yaitu kencing berwarna merah, tetapi pada
pemeriksaan mikroskopik eritrositnya tidak ada,
dan juga pada dipstick hasilnya negatif. Contoh
penyebab pseudohematuria :
1. Autosianin yang terdapat pada beets dan buah
berri.
2. Fenolftalein pada urine alkalis (terdapat pada
obat pencahar-laxativ)
3. Piridium obat untuk mengurangi rasa sakit /
panas pada waktu miksi.
4. Kadar urat yang tinggi dalam urine
5. Rhodamin B, zat pewarna makanan
6. Infeksi traktus urinarius oleh Serratia
mascessen yang menyebabkan raddiaper
syndrome
7. Beberapa jenis obat tertentu.

Penyakit penyebab hematuria :


1. Umur 0 – 20 tahun : - glomerulonefritis akut
- infeksi traktus urinarius
- kelainan kongenikal
2. Umur 20-40 tahun : - infeksi traktus urinarius akut
- batu
- tumor buli
3. Lelaki 40-60 tahun : - tumor buli
- batu
- infeksi traktus urikisa
4. Wanita 40-60 tahun :- infeksi traktus urinarius akut
- batu
- tumor buli
5. Lelaki > 60 tahun : - prostat hiperplasia
- karsinoma prostat
- tumor buli
23
- infeksi traktus urinarius
6. Wanita > 60 tahun : - tumor buli
- infeksi traktus urinarius
Pada gross hematuria kemungkinan penyebabnya
tumor 21,5 % (2/3 nya tumor buli). Pada mikroskopik
hematuria kemungkinan tumor hanya 2%.

19. Anuria.
Yaitu keadaan dimana penderita tidak mengeluarkan
kencing sama sekali atau ada juga yang menyebutkan
kencingnya kurang dari 100 ml per 24 jam.
Penyebab :
1. Gagal ginjal
Gagal ginjal akut misalnya akibat intoksikasi obat /
makanan maupun akibat shock yang
berkepanjangan / anafilaktik, hipovolemik dan lain
– lain.
Gagal ginjal kronik, misalnya akibat
glomerulonefritis, pielonefritis kronika dll.
2. Obstruksi bilateral ureter
Misalnya batu ureter bilateral.
Tumor yang menutup muara ureter / misalnya
karsinoma buli atau yang menginfiltrasi kedua
ureter / menekan ureter dari luar lumen (misalnya
tumor ginekologi, tumor abdomen)
3. Iatrogenik (cedera)
Cedera ureter bilateral yang bisa menimbulkan
anuria yaitu kedua ureter terikat, sehingga aliran
urine ke distal terhenti sama sekali. Tetapi bisa
juga ureter kanan / kiri terpotong keduanya
sehingga urine yang terjadi masuk ke dalam intra
peritoneal, sehingga terjadi asites urine.

20. Retensio Urinae


Pada retensio urinae, orang tidak dapat kencing, tetapi
produksi urine tersimpan didalam vesika urinaria.

24
Keadaan ini menimbulkan vesika urinaria penuh, jadi
berbeda dengan urinaria dimana buli kosong.
Retensio urine dibagi 2 :
1. RU total, penderita sama sekali tidak bisa kencing
2. RU partial, penderita kencing sedikit dan tidak
bisa habis, sehingga selalu ada urine sisa (reidual
urine).
Penyebab retensio urinae :
1. Sebab mekanik
Yaitu adanya obstruksi infra vesical, bisa karena
batu, tumor striktua, stenosis, ruptur uretra atau
pendesakan dari luar lumen uretra.
2. Sebab Miogenik
Terjadi karena ketidak mampuan kontraksi otot
detrusor, misalnya karena bekas terenggang terlalu
kuat (over distended) atau bisa juga karena
trauma.
3. Sebab Neurogenik
Yaitu kerusakan pusat refleks miksi di medulla
spinalis S 2-4 (bisa karena trauma Tumor atau
infeksi). Medula spinalis S 2-4 terletak setinggi
kolumna vertebralis Th XII – L I, sehingga
misalnya terjadi kompresi fraktur tulang tersebut,
akan menimbulkan retensio urine dan alvi
disamping para plegia / para parese karena terjadi
kerusakan LMN (Lower motor Neuron). Bila
kerusakannya lebih proximal / atas keadaan ini
menimbulkan kerusakan UMN (Upper Motor
Neuron) dimana pusat – pusat refleks miksi masih
baik, sehingga disebut Reflectoric Bladder, yaitu
penderita begitu ada rangsangan ingin kencing (isi
buli 150 ml atau kurang) penderita langsung miksi
langsung miksi tanpa dapat ditahan sebentarpun.
4. Sebab Psikogenik.
Adanya kelainan psikis (cemas, depresi dll) dapat
menyebabkan retensio urinae. Hal ini lebih banyak
terjadi pada wanita.
25
5. Sebab obat – obatan.
Beberapa macam obat dapat menimbulkan retensio
urinae, karena melemahkan otot detrusor maupun
memperkuat kontraksi otot spintcher urethrae.
Contoh obat tersebut misalnya efedrin, epinefrin,
hiosiamin, fenil efrin, imipramin HCl dan Beta
blocker (propanolol dsb).

21. Kencing terputus (Intermitensi).


Pada kasus batu vesika urinaria, kencing bisa tiba –
tiba berhenti bila batu terdorong ke meatus urethrae
internus dan dengan perubahan posisi batu tergeser
dari tempat tersebut, sehingga bisa kencing kembali.
Pada penderita obstruksi infra vesikal misalnya
karena prostat hiperplasia dengan mengejan kencing
keluar tetapi tidak bisa habis, setelah itu mengejan
ulang kencing akan keluar lagi dan seterusnya.

22. Terminal Dribling.


Yaitu menetes pada akhir kencing, hal ini terjadi pada
obstruksi infra vesikal akibat misalnya prostat
hiperplasia. Keadaan ini sering dikeluhkan oleh
penderita karena dirasa mengganggu.

23. Kencing Tidak Puas.


Kencing tidak puas terjadi karena penderita merasa
masih ada sisa di dalam buli (sense of ridual urine).
Cara mengukur ridual urine (rest urine) yaitu
penderita disuruh minum banyak sehingga buli
penuh. Setelah itu penderita disuruh kencing sepuas
mungkin dan setelah itu dikateter, maka air kencing
yang keluar lewat kateter adalah residual urine.
Dalam keadaan normal residual urine sebanyak
maksimal 10 ml. Bila residual urine lebih dari 300 ml
maka harus dipasang kateter menetap (Indwelling
Catheter / Dauer Catheter).

26
V. GEJALA SEKSUAL.
Beberapa penyakit urology menimbulkan gejala seksual,
pengaruh ini bisa bersifat organic maupun psikogenik.
Bersifat oganic maksudnya penyakit urology tersebut
langsung mempengaruhi gejala seksual, misalnya pada
gagal ginjal bisa menimbulkan impotensi atau kehilangan
kemauan seksual. Juga pada penderita pasca
prostatektomi bisa timbul komplikasi impotensi. Pada
wanita yang menderita urethro cystitis bisa menderita
disparenei (sakit waktu hubungan seksual).
Kelainan yang bersifat psikogenik, misalnya pasca
prostatektomi yang mengalami retograd ejakulasi akan
merasa invalid sebab waktu orgasme tidak ada ejuklat
yang keluar karena pada retograd ejakulasi, ejakulat
masuk ke dalam vesika urinaria pada waktu ejakulasi.
Oleh sebab itu penderita menjadi impotensi karena
merasa dirinya sudah cacat organ sexnya.

VI. GEJALA LAIN.


1. Metal bleeding
Yaitu darah yang keluar / menetes melalui meatu
urethrae eksternus, hal ini terjadi pada ruptur
urethra.
2. Urethral discharge.
Yaitu keluarnya pus melalui meatu, keadaan ini
terjadi pada uretritis Go maupun NGU (Non
Gonococcal Urethritis) misalnya pada Chlamidia
trachomatis.
3. Kulit gatal dan kering.
Terjadi pada sindroma uremia pada gagal ginjal
kronik (GGK)
4. Timbul benjolan atau massa.
Bisa terjadi akibat pembesaran ginjal (tumor,
polikistik, kista, hidronefrose) dll.
5. Oedema.
Terjadi akibat gagal ginjal, sindroma nefrotik dll.
6. Hemosperma.
27
Ejakulat yang campur darah bisa terjadi akibat
peradangan atau tumor prostat, vesikula seminalis
dan urethra posterior.
7. Rambut rontok : terjadi pada penderita gagal ginjal
atau tumor ganas yang mendapat kemoterapi.

28
GEJALA PADA KELAINAN
TRAKTUS GENITO URINARIUS

Pengetahuan terhadap gejala penyakit urologi sangat penting


dalam rangka pengelolaan yang baik. Secara umum kita
mengenal ada 5 gejala penyakit urologi yaitu :
1. Gejala sistemik
2. Gejala sakit lokal dan dijalarkan
3. Gejala gastro intestial
4. Gejala kencing
5. Gejala seksual

1. Gejala sistemik :
Paling banyak berupa panas yang kadang-kadang sangat
tinggi (40oc misalnya pada pyelonefritis akut yang sering
disertai menggigil. Pada radang chronik suhu tubuh tidak
tinggi (sub febril) sehingga perlu dicari gejala yang lain.
Pada karsinoma ginjal sering suhu juga naik sampai 390c
sihingga dikacaukan dengan radang akut.
Berat badan yang turun bisa karena tumor ganas kasep,
radang chronik dan Gagal ginjala akut.
Kelemahan tubuh secara umum dapat disebabkan proses
kasep tumor ganas, gagal ginjal akut maupun kronik serta
pielonefritis kronik.

2. Gejala sakit lokal dan dijalarkan :


Gejala sakit lokal terdapat didalam atau didekat organ
yang bersangkutan.
Proses ginjal : Rasa sakit di sudut kosto vertebra dan di
pinggang dibawah iga 12 dan bersifat tumpul. Penjalaran
sepanjang sub costa sampai umbilikus dan kuadran bawah
abdomen, yang disebabkan peregangan mendadak kapsul
ginjal seperti pada pielonefritis akut dan obstruksi
mendadak ureter. Pada pembesaran pelan seperti pada
tumor ginjal, pielonefritis kronika, batu staghorn, tbc ginjal

29
dan hidronefrosis karena obstruksi partial maka rasa sakit
tidak jelas atau bahkan kadang-kadang tidak sakit.
Nyeri pseudo renal (radikulitis) : disebabkan iritasi
saraf interkostal oleh misalnya radang atau penekanan
sendi kosto vertebra. Rasa sakitnya mirip sakit proses di
hinjal atau ureter, tetapi biasanya didahului mengangkat
barang berat dan sakit bertambah atau berkurang dengan
perubahan posisi tubuh, waktu bangun tidur tidak sakit
dan dengan aktivitas rasa sakitnya bertambah.
Nyeri ureter : disebabkan adanya batu atau bekuan
darah yang berusaha dikeluarkan dengan peristaltik usus.
Batu ureter proksimal : nyeri dijalarkan ke kosko
vertebra, umbilikus dan testis
Batu ureter tengah : nyeri dijalarkan ke Mc. Burney
(kanan) dan ke colon desendens (kiri),
disamping ke sudut kosto vertebra dan
juga umbilikus.
Batu ureter distal (dekat buli) : seperti gejala sistitis,
dijalarkan ke inguinal, kulit skrotum dan
paha bagian medial.
Nyeri buli : dirasakan di daerah supra pubik, paling
sering karena retensio urine total akut, bisa juga terjadi
pada sistitis dimana rasa sakit juga dijalarkan ke urethra
distal. Sakit menetap yang tidak khas bisa diakibatkan
ulserasi buli karena TBC, Schistosomiasis dan batu buli.
Nyeri prostat : prostatitis akut dapat menimbulkan rasa
sakit didaerah perineum dan erktum serta dijalarkan ke
lumbosakral.
Nyeri testis : disebabkan orchitis, trauma dan torsio
testis. Pada varikokel, permulaan hernia ingunalis leteralis
dan adanya batu ureter proksimal dapat menyebabkan
rasa sakit di testis juga.
Nyeri epididimis : disebabkan epididimitis akut, rasa
sakitnya dapat dijalarkan seperti pada ureter kolik.

30
3. Gejala Gastro Intestinal.
Penyakit urologik dapat memberi gejala gastro intestinal
seperti mual, muntah, kembung, sakit seluruh abdomen,
peristaltik usus menghilang sehingga tak dapat kentut /
berak, atau ada juga yang gejala diare.
Hal ini disebabkan :
a. Reno intestinal reflex : disebabkan adanya
hubungan saraf otonom dan sensoris, sehingga
peregangan kapsul ginjal dapat menimbulkan
spasme pilorus dan dinding usus.
b. Organ yang berhubungan, proses pada ginjal kanan
dapat mempengaruhi organ yang berdekatan
misalnya colon, duedenum, hepar, empedu, dll.
Ginjal kiri berhubungan dengan colon, lambung,
pankreas dan lien.
c. Iritasi peritoneum : proses dalam ginjal, misalnya
radang akan merangsang peritoneum sehingga
timbul gejala peritonesmus.
Oleh karena itu maka penyakit batu ginjal, tumor ganas
ginjal dan pielonefritis kronika harus di diagnosa banding
dengan gastritis, ulkus peptikum, penyakit kandung
empedu, appendicitis dan lain penyakit gastro intestinal
yang tidak khas.

4. Gejala Kencing :
a. Polakisuria atau frekwensi atau sebentar-sebentar
kencing
Kalau siang hari disebut Diuria, sedanglan kalau malam
hari Nokturia.
Hal ini disebabkan :
1. Volume buli berkurang (buli mengkerut karena
sistitis kronika,TBC buli, batu buli,tumor buli dll )
2. Buli yang iritabel misalnya kaeran radang
3. Proses neurogenik yaitu kerusakan medula
spinalis tipe Upper motor neuron sehingga terjadi
reflektoric bladder.
4. Sisa urine dalam buli (rest urine)
31
b. Poliuria yaitu jumlah air kencing banyak sekali,
misalnya pada penderita diabetes, minum diuretika dan
fase tertentu dari Gagal Ginjal.
c. Stranguria = burning sensation yaitu kencing terasa
panas. Hal ini biasa terjadi pada sistitis dan prostatitis
akut dan uretritis.
d. Enuresis yaitu ngompol malam hari.
Sampai umur 3-4 tahun masih dianggap normal karena
proses kejiwaan dan dianggap proses organik setelah
lebih 4 tahun, misalnya sistitis, uretritis, stenosis uretra,
posterior urethral valve dan neurogenic bladder.
e. Anuria : yaitu tak terdapatnya urine dalam buli,
disebakan adanya kegagalan fungsi ginjal atau adanya
obstruksi bilateral dari kedua ureter misalnya adanya
bat ureter duplek. Biasanya produksi urine kurang dari
100 ml / 24 jam.
f. Oloigurua : yaitu produksi urine kurang dari normal
(kurang dari 600 ml / 24 jam. Hal ini disebabkan
kegagalan fungsi ginjal dan adanya obstruksi partial
kedua ureter.
g. Retensio urine : yaitu tak dapat kencing dan buli penuh.
Penyebabnya :
1. Obstruksi mekanik infra vesikal
2. Neurogenik bladder
3. Sebab myogenic (kerusakan detrusor)
4. Obat-obatan tertentu
5. Sebab psikogenik
h. Hesitancy : yaitu akan mulai kencing harus ancang-
ancang dulu, berdiri lama dulu baru kencing keluar.
i. Straing : yaitu kencing dengan mengejan baru bisa
keluar.
j. Pancaran lemah
k. Kaliber aliran air kencing mengecil, misalnya pada
striktura urethra.
l. Terminal dribbling : yaitu akhir kencing menetes.
m. Pancaran kencing terbelah yaitu disebabkan adanya
striktura urethra.
32
n. Pancaran kencing tiba-tiba berhenti : hal ini disebabkan
adanya obstruksi mendadak waktu sedang kencing,
misalnya oleh adanya batu buli.
o. Kencing tidak puas karena merasa masih ada sisa
kencing dalam buli, hal ini disebabkan adanya retensio
urinae partialis.
p. Inkontinensia urinae : yaitu air kencing keluar sendiri
tanpa dirasa dan tak dapat dihentikan, sedangkan
penderita tetap sadar.
1. True incontinence terjadi pada kerusakan otot polos
sphincter urethra baik bawaan maupun dapatan
akibat operasi.
2. Over flow incontinence : yaitu air kencing keluar
dengan sendirinya karena buli sudah terlalu penuh
(mbludak)
3. False incontinence : yaitu terjadinya karena ada fistula
vesica vaginalis
4. Stress incontinence : yaitu terjadi karena kelemahan
otot sfingter sehingga dengan ketawa, batuk atau
menangis air kencing akan keluar.
5. Urgency incontinence : yaitu terjadi karena adanya
neurogenic bladder tipe upper motor neuron atau pada
wanita psikis dalam keadaan cemas atau tegang.
q. Pneumaturia : yaitu kencing bercampur udara / gas, hal
ini berarti ada hubungan antara traktus digestivus
dengan traktus urinarius misalnya fistula entero-vesikal,
akibat carc.colon, appendicitis, divertikulitis, trauma, dll.
r. Urine keruh, hal ini bisa disebabkan adanya endapan
kristal fosfat, pus, dan chyluria yaitu adanya chylus yang
masuk kedalam traktus urinarius akibat adanya fistula
dari saluran limfe yang biasanya akibat filariasis.
s. Pyuria yaitu adanya pus dalam urine (lekosit dalam
sedimen urine lebih dari 5 / lapangan pandangan besar.
Pada pyuria kalau dilakukan kultur akan ditemukan
kuman dalam jumlah lebih dari 100.000 per ml, kecuali
pada TBC traktus urinarius dan pada tumor ganas maka

33
pada kultur tidak ditemukan kuman, hal ini disebut
pyuria steril.
t. Hematuria : yaitu adanya eritrosit dalam urine
Bila tak dapat dilihat kencing berwarna tetapi terdapat
eritrosit 5 /LBP disebut eritrosituria atau
mikroskopikhematuria, sedang bila dapat dilihat kencing
berwarna merah maka disebut gross hematuria. Berdasar
keluarnya darah kita kenal :
1. Initial hematuria : darah berasal dari urethra
anterior.
2. Total hematuria : darah berasal dari buli, ureter dan
ginjal.
3. Terminal hematuria : darah berasal dari urethra
posterior, bladder neck dan trigonum vesicae.
Hematuria yang tidak disertai rasa sakit disebut Painless
hematuria yang bisa karena proses keganasan traktus
urinarius, glomerulonefritis dan TBC, sickle cell disease
dan minum obat tertentu.

5. Gejala Seksual
Sering penderita malu mengatakan keluhan seksual kepada
dokter dan mereka mengeluh hal yang tidak khas daerah
genetalia dengan harapan dokternya akan tahu sendiri
masalah seksual penderita.
a. Secara umum keluhan sex laki-laki disebut sebagai
impotensi dengan beberapa bentuknya : ereksi lemah,
prematur ejakulasi dan bahkan kehilangan nafsu birahi.
Sebagian besar keluhan tersebut disebabkan faktor psikis
walaupun ada penyakit yang dapat mengganggu ereksi
seperti uremia, diabetes mellitus, penyakit pembuluh
darah, penyakit saraf dan paska bedah daerah urogenital.
b. Keluhan seksual pada wanita bisa berupa tak bisa
orgasmus, sakit waktu coitus (dispareunia), keluhan
sistitis setelah koitus dll.
Tak bisa orgasmus biasanya karena problem psikis,
sedangkan dipareunia bisa karena psikosomatis atau
34
adanya infeksi urethra, vagina, buli dan jaringan
sekitarnya. Pada koitus yang terlalu sering maka kuman
akan masuk melalui urethra pendek wanita dengan
sistem pompa dan akan berakibat timbul sistitis, hal ini
sering pada pengantin baru dan disebut honeymoon
cystitis.
c. Keluarnya sekret uretra (urethral discharge) : merupakan
tanda dari uretritis, kalau sekret kental (pus) biasanya
karena kuman G.O, sedangkan bila sekret encer biasanya
karena uretritis N.G.U yang disebabkan oleh Chlamedia
Trachomatis.
d. Sperma campur darah (haemospermae) : disebabkan
adanya radang dari vesikula seminalis yang akan segera
membaik dengan pemberian horman estrogen dan anti
biotika.
e. Mikro penis yaitu pada anak lahir aterm panjang penis
kurang dari 2,5 cm. Kelainan kongenital ini disebabkan
kurangnya horon testoteron waktu dalam kandungan
misalnya pada sindroma hipopituitarisme yang bersama
gejala defek midline, hipoglikemia dan giant cell
hepatitis.
Pengobatan 25-50 mg testosteron enanthate 1 m tiap
bulan s/d 3 bulan biasanya akan memperpanjang 2 cm.

35
PEMERIKSAAN UROLOGI

I. Pemeriksaan tanda–tanda vital (vital signs), meliputi :


- Tensi / Tekanan darah
- Nadi
- Suhu
- Respirasi

II. Pemeriksaan umum (status generalis).


Dimulai pemeriksaan keadaan umum, inspeksi, lihat
wajah penderita, tampak kesakitan atau tudak, pucat
atau tampak sakit payah. Kulit tubuh kering, kasar dan
atoni menandakan adanya kegagalan ginjal/renal failure.
Kulit kuning/pucat mungkin suatu keganasan, oedema
mungkin berhubungan dengan decompensatio cordis,
penyakit pembuluh darah atau penyakit ginjal.

III. Pemeriksaan khusus (status lokalis)

1. Pemeriksaan Ginjal (status lokalis di pinggang)


Inspeksi : - bulging (bengkak) bisa karena
hidronefrose, tumor ginjal, kista ginjal,
tumor retroperitoneal.
- kulit merah dan bengkak atau oedema
kulit bisa disebabkan abses perinefrik.

Palpasi : - meraba ginjal dengan pemeriksaan


ballotemen yaitu penderita tidur
terlentang, tangan pemeriksa satu
dibawah dan satu diatas pinggang,
ditekan dan penderita disuruh nafas
panjang, ginjal akan terdorong
kekaudal oleh diaphragma sehingga
bisa diraba. Bila ginjal cukup besar
dengan menekan tangan kanan dan kiri

36
bergantian bisa diraba pembesaran
ginjal.

Perkusi : Pada sudut costo-vertebra maka akan


nyeri ketok pada pyelonefritis,
pembesaran ginjal karena tumor,
hidronefrose dll.

Auskultasi : Disudut costo-vertebra atau di abdomen


kuadran lateral atas bisa terdengar
bising arteri, akibat adanya aneurisma
a.renalis, bisa juga karena arteri-
venous fistulla yang cukup besar.

Transilluminasi :
Dikamar gelap dinyalakan lampu
senter dipinggang bagian posterior, bila
terlihat cahaya (diafanoskopi positif)
berarti hidronefrose atau kista ginjal.

2. Pemeriksaan buli (status lokalis di supra pubik)


Inspeksi : benjolan di supra pubik, berarti ada
retensio urine lebih dari 500 cc atau
tumor buli.

Palpasi : bila palpasi lunak berarti retensio urine


bila teraba kenyal atau keras berarti
tumor buli.

Perkusi : suara redup di supra pubik berarti buli


terisi lebih dari 150 cc urine.

Auskultasi : bising usus di supra pubik naik ke arah


cranial bila buli terisi banyak urine.

37
Rektal tuse bimanuil yaitu satu jari di rektum dan
jari lainnya di supra pubik untuk meraba tumor /
batu buli.

3. Pemeriksaan Penis.
Inspeksi : lihat preputium, glands penis, meatus
urethra eksternus (letak, besar,
bentuknya). Meatus dibuka, lihat ada
tumor/radang apa tidak, lihat
dischargenya.
Kulit oedematus apa tidak.
Palpasi : Raba batang penis, apa ada fibrosis
(pada Peyronies disease). Adanya
palpasi keras/kaku merupakan tanda
adanya periurethritis akibat striktur
urethra.
Raba sepanjang urethra apa ada batu
atau fibrosis sebagai tanda striktus
urethra.
Bila teraba tumos massa mungkin
suatu karsinoma.

4. Pemeriksaan Scrotum dan testis


Inspeksi : Inflamasi kulit scrotum jarang ada.
Fistel dikulit scrotum bisa urethro-
kutan fistula, rsctal fistula maupun
dari orchitis tuberkulosa.
Kulit menebal kasar karena elefantiasis
scroti.

Palpasi : Meraba testis kalau lunak sekali


berarti kelainan dysgenesis atau
endocrinopathy.
Testis keras / membesar curiga
keganasan.

38
Benjolan / noduli di epididimis biasanya
lebih dari satu seperti tasbih karena
TBC.
Benjolan lunak (kistik) di kaput
epididimis dengan diafanoskopi positif
merupakan spermatokel.
Benjolan di scrotum, lunak dengan
diafanoskopi + berarti hidrokel.
Benjolan seperti cacing dalam kantong
berarti varikokel.

Diafanoskopi / Transilluminasi :
Dengan sumber cahaya (senter) di
posterior testis dalam kamar gelap atau
dikamar biasa melihat melalui
gulungan kertas hitam yang
ditempelkan pada scrotum.
Positif berarti scrotum berisi cairan,
negatif berarti benda padat misalnya
tumor testis dan hernia.

5. Pemeriksaan Prostat
Cara paling mudah dan terbaik untuk memeriksa
prostat ialah dengan tuse rektal (RT).
Posisi penderita untuk RT bisa :

1. Terlentang dengan kedua tungkai bawah


diflexikan maksimal (knee chest positition).
2. Tidur miring kekanan atau kekiri.
3. Berdiri membongkok ditepi tempat tidur penderita
sehingga sendi coxa flexi 900.

Untuk memeriksa prostat kami lebih menyukai cara


pertama (knee chest position) sebab penderita lebih
relaks dan lebih mudah. Sebelum jari telunjuk
dimasukkan anus, periksa dulu keadaan perineal
apakah ada fistula atau kelainan lain misalnya
39
hemorhoid prolaps sebagai komplikasi dari prostat
hipertropi. Jari tuse dimasukkan, raba tonus
m.sphincter ani, normal tonus baik, bila ada
kelainan syaraf (misalnya lesi medulla spinalis),
maka tonus lembek. Raba ampula rektinya apa
kosong atau ada faecesnya. Raba mucosa recti apakah
licin, apa ada tumor (Ca recti) atau ada ulcerasi dll.
Meraba prostat : sulcus medianus normal teraba, bila
membesar sulcus ini bisa hilang, pembesaran
laterolateral 2-3 cm, polus cranial teraba pada prostat
normal. Normal penonjolan prostat kedalam rektum
palingbanyak 1 cm dan bila membesar maka bisa
lebih dari 1 cm.

Raba permukaan prostat, normal, licin, tidak ada


benjolan dengan konsistensi kenyal, tidak nyeri tekan
dan tidak panas.
Pada karsinoma prostat, teraba ada bagian yang
keras (indurasi) atau ada benjolan (nodulus), bila ada
abses prostat, teraba lunak dengan fluktuasi positif,
pada prostatitis teraba panas (warm prostat).
Jari prostat berputar 3600 untuk meraba seluruh
dinding rektum.

Bila diperlukan masase prostat misalnya pada


prostat abses, maka dengan cara seperti gambar
sebelah yaitu berselang-seling dari kanan-kekiri dst,
maka dischargenya dapat ditampung dari m.u.e.
Vesicula seminalis dapat kita raba di cranio lateral
prostat, pada keadaan normal sukar diraba tetapi
bila membesar, misalnya karena retensi sekresinya
maka mudah diraba. Dilakukan pemeriksaan BCR
(Bulbo Cavernosus Reflek) yaitu dengan memijit
glands penis (atau labia mayora daerah clitoris pada
wanita), maka akan terjadi kontraksi m. Sphincter
ani yang dapat kita raba dari jari tuse kita. Bila ada
kontraksi disebut BCR (+) (normal), bila tak ada
40
kontraksi maka BCR (-), berarti ada kerusakan
medulla spinalis S2-3-4 yang juga pusatnya reflek
miksi.

41
PEMERIKSAAN LABORATORIUM UROLOGI

I. PEMERIKSAAN URINE

Pemeriksaan laboratorium urine dalam bidang urologi


merupakan pemeriksaan terpenting karena dapat memberikan
banyak keterangan tentang penyakit urologi yang diderita
pasien tersebut.
Beberapa hal yang mengurangi arti penting urine analisa
antara lain :
1. Pengumpulan urine yang tidak baik, misalnya mengambil
urine yang sudah lama ditempat penampungan kateter,
atau mengambil urine pada permulaan miksi.
2. Pemeriksaan urine terlalu lama dari waktu
pengeluarannya, sehingga urine yang dikumpulkan sudah
rusak.
3. Pemeriksaan yang tidak lengkap, misalnya pH yang tidak
diperiksa, jumlah lekosit/eritrosit dll tidak jelas jumlahnya.
4. Pemeriksa yang kurang berpengalaman
5. Interpretasi hasil yang kurang baik.

Pengambilan sample urine :

1. Terbaik urine pertama dan segera diperiksa dalam


waktu 1 jam untuk menghindari lisis eritrosit, pH naik,
silinder hancur, dan bakteri cepat berkembang biak.
Tempat yang dipakai berupa botol steril yang dapat
ditutup rapat.
2. Sebaiknya jangan mengambil urine dari alat
penampungan urine urine bag, kondom kateter, dll.

Pada orang laki-laki diambil urine mid steam, yaitu dengan


cara preputium dibuka, glans penis dibersihkan dengan cairan
antiseptik. Urine pertama dibuang (15 – 30 cc) atau sekitar 5
detik pertama urine dibuang, kemudian urine berikutnya
ditampung dalam botol steril. Pengumpulan dengan kateter

42
tidak perlu dilakukan, kecuali pada retensio urinae atau pada
kultur urine.
Pada wanita bisa dengan mid steam yaitu penderita dalam
posisi lithotomi, labia mayora dibuka, vulva dan meatus uretra
eksternus dibersihkan dengan cairan antiseptik, dan penderita
disuruh kencing. Urine pertama dibuang baru kemudian yang
tengah diambil untuk sample.
Bisa pula sample urine diambil dengan kateterisasi. Cara
terbaik untuk menghindari kontaminasi oleh vulva dan
urethra wanita/pria untuk keperluan kultur, yaitu dengan
pungsi supra pubik atau kateterisasi.
Pada anak kecil pengambilan urine untuk kultur sebaiknya
dengan kateterisasi atau pungsi supra pubik, sedangkan untuk
urine analisa rutin dapat dengan memasang kantong plastik di
penis.

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK

1. Warna
Normal berwarna kuning muda atau jernih seperti air.
Beberapa macam obat memberi warna khusus misalnya warna
merah jambu karena fenoza piridin (pyridium), kuning
kemerahan oleh obat Rifampisin, merah-coklat oleh karena L-
dopa, metildopa dan metronidazol, warna coklat oleh karena
nitrofurantoin.
Urine merah selain oleh hematuri bisa juga oleh warna merah
dari makanan, fenoltalein dari laxansia, kadar urat dalam
urine tinggi, mioglobin uri akibat trauma otot atau hemoglobin
uria akibat hemolisis dan bisa juga akibat UTI karena kuman
Serratia marcescens. Kuning keruh bisa karena piuria, kadar
kristal urat berlebihan (yang bisa jernih kembali dengan
menetesi zat basa), kadar Kristal amorf fosfat tinggi dlam urine
(yang bisa jernih lagi dengan menetesi zat asam), bisa juga
karena Chyluria pada penyakit filariasis (yang bisa jernih
kembali dengan menetesi ether). Pada chyluria urine seperti
tercampur susu.

43
2. BD Urine
Normal 1,003 – 1,030. Pada penderita dehidrasi BD urine naik,
dan pada orang yang banyak minum serta pemakaian obat
diuretika, maka BD urine akan naik.
Pada trauma kapiti dan Diabetes insipidus maka BD turun,
pada penderita Diabetes Mellitus maka volume dan BD naik,
pada penderita Hipertensi volume normal sedangkan BD
turun, dan pada gagal ginjal kronik (CRF) maka volume
maupun BD turun. Bila terdapat protein – uria, glukosuria
dalam jumlah banyak dan pada penderita dehidrasi maka BD
urine akan naik bisa mencapai 1,050.

3. Test Kimia
Sekarang ada test kimia yang menggunakan kertas yang diberi
lapisan reagen kimia dan bila dicelupkan kedalam urine akan
berubah warna yang bisa dibandingkan dengan warna
standard. Metode ini disebut Dip Strip, yang hasilnya bisa
dipercaya bila belum kadaluwarsa, dan dipakai dalam suhu
kamar. Pemeriksaan dengan Dip Strip misalnya untuk :

3.1 Derajat Keasaman (pH) Urine


Normal 6,0 0 – 6,5 penurunan maupun kenaikkan pH urine
dipengaruhi oleh makanan, infeksi, obat, dll.
Banyak makan sayuran dan beberapa jenis buah-buahan akan
membuat urine bersuasana alkalis, sedangkan daging dan
buah yang asam akan menurunkan pH urine. Infeksi urea
splitting bacteria akan membuat urine menjadi alkalis (pH
lebih 7,0), sehingga memudahkan pengendapan batu garam
urat, batu infeksi (struvit), batu kalsium fosfat dan carbonat.
Urine yang asam (pH kurang 6,0 ) terjadi misalnya pada diet
dengan daging atau pada Renal tubular acidosis, yang akan
memudahkan pengandapan batu asam urat, batu sistin,
calcium oxalate dan pada nefrocalcinosis.
Beberapa obat membuat urne alkalis misalnya streptomisin,
neomisin dan kanamisin.

44
3.2. Protein
Dip strips yang mengandung bromfenol biru dpat untuk
menentukan apakah urine mengandung protein atau tidak.
Normal didalam urine tidak terdapat protein, tetapi pada
lekosit uria dapat memberikan hasil positif palsu. Orthostatic
protein uria yaitu pada waktu bangun tidur protein negatif,
tetapi bila sudah mengadakan aktivitas fisik terjadi protein
uria. Suhu tubuh yang naik juga member protein uria positif.
Beberapa kerusakan ginjal dapat menyebabkan protein uria
lebih 150 mg per 24 jam misalnya pada nefrosis, nefritis, ginjal
polikistik, tbc ginjal, batu ginjal, dan tumor ganas ginjal.
Beberapa kelainan diluar ginjal yang dapat memberikan
proteinuria misalnya panas, ascites, trauma, anemia berat,
lekemia, dll.

3.3. Glukosa
Pemeriksaan dengan Dip Strips memberikan hasil yang
akurat. Pada urine orang normal tidak terdapat glukosa dalam
urine. Pada pemberian obat aspirin, vit C, dan sefalosporin
dapat memberi hasil positip palsu. Pada Diabetes Mellitus
dengan kadar gula darah lebih 180 mg %, maka terjadi
glukosuria positip. Juga bisa terjadi pada kerusakan otak dan
pada infark otot jantung.

3.4. Hemoglobin
Pemeriksaan dengan Dip Strips untuk mendeteksi Hemoglobin
perlu untuk saringan awal terhadap hematuria, walaupun
pemeriksaan ini tidak khas untuk adanya eritrosit dalam
urine. Adanya hemoglobin bebas maupun mioglobin akan
memberi hasil positip, sedangkan dengan pemakaian vit-C bisa
memberi hasil negatip palsu.
Hasil positip bisa terjadi pada keadaan – keadaan : luka bakar
luas, kerusakan jaringan, reaksi transfusi darah, intoksikasi
(misalnya bahan kimia), malaria, gigitan ular dan hemolitik
anemia. Beberapa obat bisa memberi hasil positip seperti
basitrasin, amfoterisin, anti koagulan (misalnya coumarin) dan
aspirin.
45
3.5. Bakteria dan Lekosit
Dip Strips untuk melihat bakteria mengandung nitrit,
sedangkan untuk mengetahui lekosituria mengandung lekosit
esterase. Dengan Dip Strips nitrit saja akurasinya 40 – 60 %,
sedangkan bila digabung dengan Dip Strip lekosit esterase
hasilnya lebih baik. Negatip palsu pada lekosit esterase ialah
pyridium, nitrofurantoin, vit-C, dan rifampisin.

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS
Merupakan pemeriksaan yang sangat penting dari urine, sebab
banyak memberi gambaran klinik yang penting. Paling baik
dipakai urine pagi dan dalam beberapa menit sudah diperiksa.
Tetapi bila tidak memungkinkan dapat pula dipakai urine
sewaktu yang baru. 10 cc urine disentrifuge selama 5 menit
dengan kecepatan 2.000 rpm, 4 cc bagian atas dibuang dan
sisanya 1 cc yang diperiksa. Ini bisa langsung atau dengan
pengecatan. Yaitu dengan pengecatan metilin blue atau gram
yang akan menghasilkan kuman gram negatip dan positip.

Interpretasi

1. Bakteriuria
Bila ditemukan beberapa beberapa bakteri dalam lapangan
pandangan besar dari urine aliran tengah (mid stream)
laki – laki, atau urine kateter atau pungsi supra pubik
penderita wanita, maka bisa dianggap adanya infeksi
traktus urinarius, dan diteruskan dengan kultur urine.
Sambil menunggu kultur jadi, bis diberikan antibiotika
berdasar perkiraan kuman yang biasa menyebabkan
infeksi traktus urinarius. Hasil kultur dianggap bermakna
bila jumlah kuman lebih 100.000 per ml urine pada
pengambilan urine tengah atau dengan kateter. Tetapi bila
kurang dari 100.000 per ml tanpa gejala, mungkin bisa
diabaikan. Bila penderita dengan gejala dan tanda klinis
jelas, walaupun jumlah kuman kurang dari 100.000 per ml
atau berasal dari urine hasil pungsi supra pubik, maka
dianggap bermakna infeksi dan perlu pemberian antibiotik
46
yang sesuai. Hasil kultur biasanya kuman tunggal, dan
bila kuman lebih dari satu, mungkin disebabkan
kontaminasi atau kesalahan teknik laboratorium.

2. Lekosit
Jumlah lekosit dalam sedimen urine tengah laki – laki
atau urine kateterisasi wanita, normalnya dibawah 5 –
8 lekosit per LPB, bila lebih maka disebut Pyuria, yang
biasanya karena adanya infeksi traktus urinarius. Ada
pula yang menggangap jumlah lekosit pada laki – laki
normal 1 – 5 per LPB. Untuk lebih memastikan adanya
infeksi traktus urinarius, perlu dilakukan kultur urine.
Pada TBC traktus urinarius terdapat pyuria steril,
artinya adanya pyuria yang jelas, tapi pada kultur
banal, tidak ditemukan pertumbuhan kuman. Dan baru
bila dengan kultur khusus terhadap basil TBC selama 6
– 8 minggu, dapat ditemukan kumannya.

3. Eritrosit
Normal tidak ada eritrosit-uria, bila terdapat maka
harus ingat infeksi traktus urinarius (akut maupun
kronik) maupun penyebab lain. Penyebab
hematuria/eritrosituria lain ialah radang non bakterial,
neoplasma jinak maupun ganas, adanya trauma, benda
asing, dan batu traktus urinarius.
Pada orang normal bisa mengalami eritrosit uria
misalnya olahraga terlalu berat dan lama. Bisa juga
perdarahan dari vagina, dan adanya radang organ dekat
traktus urinarius, seperti divertikulitis dan apendisitis.

4. Sel Epitel.
Normal memang ada tetapi bila terdapat berlebihan
(dalam jumlah banyak sekali) harus ingat adanya UTI
atau neoplasma.

47
5. Silinder.
Normalnya tidak ada dalam sedimen urine. Bila ada
silinder lekosit berarti ada pielonefritis, walau masih
harus dibuktikan dengan pemeriksaan lain.
Silinder eritrosit merupakan tanda pathognomonik
untuk glomerulonefritis atau vasculitis.
Silinder hialin dalam jumlah sedikit tidak banyak
artinya, hialin terbentuk setelah olahraga, tetapi bila
jumlahnya banyak perlu diingat kemungkinan
gangguan fungsi ginjal.

6. Kristal uria
Tidak berarti adanya suatu batu traktus urinarius,
tetapi bila ada batu biasanya dalam urine sedimen,
terdapat kristalnya.

PEMERIKSAAN URINE LAIN


1. Pemeriksaan bahan pembentuk batu
Yaitu dengan urine tampung 24 jam, dan diperiksa
terhadap kadar asam urat, calcium, oksalat, magnesium,
fosfat dan sitrat.
Adanya kadar meninggi dari bahan tersebut diatas bisa
memperkirakan jenis batu yang ada. Hal ini perlu
diyakinkan dengan analisa batu setelah batu berhasil
dikeluarkan.

2. Pemeriksaan hormon VMA (venile mandelic acid)


Ini guna mendeteksi adanya tumor faeochromositoma dan
neuroblastoma. Pemeriksaan metanefrin, epinefrin, dan
nor epinefrin dalam urine juga untuk mendeteksi
faeochromositoma.
Pemeriksaan kadar 17-keto steroid untuk mendeteksi
adrenocortical tumr. Pemeriksaan alfa fetoprotein dan beta
HCG, untuk mendeteksi tumor ganas testis.

48
3. Pemeriksaan LDH dan CEA
Walaupun tidak spesifik tetapi hasilnya berguna pula
untuk deteksi tumor.

II. PEMERIKSAAN DARAH

TEST FUNGSI GINJAL


1. BD Urine
Pada fungsi ginjal menurun maka BD urine akan
rendah sekali, bisa 1,006 – 1,010. Sedangkan bila fungsi
ginjal membaik maka BD naik.

2. Creatinin darah
Creatinin adalah hasil akhir metabolisme creatin
dalam otot skelet, yang diproduksi secara konstan
setiap hari, dan diekskresikan lewat ginjal. Karenanya
kadar creatinin dalam serum dapat mencerminkan
fungsi ginjal. Harga normalnya pada anak – anak 0,4 –
0,8 mg%, sedang pada orang dewasa 0,8 – 1,2 mg%.
Ekskresi creatinin tidak dipengaruhi makanan, hidrasi
serta aktivitas tubuh.

3. Blood urea nitrogen (BUN)


Urea merupakan hasil pemecahan protein dan di
ekskresikan oleh ginjal. Kadarnya dipengaruhi oleh
makanan, hidrasi dan perdarahan usus.
Bila penurunan fungsi ginjal sampai 2/3 nya baru akan
menimbulkan kenaikkan kadar BUN. Normal
perbandingan kadar BUN dan creatinin darah adalah
10 : 1, tetapi bisa naik menjadi 20 : 1, bahkan 40 : 1,
bila terdapat dehidrasi, obstruksi ureter bilateral, atau
adanya ekstra vasasi urine. Ratio kurang dari 10 : 1
pada gangguan fungsi hepar dan over hidrasi.

49
4. Creatinin clearence
Karena produksi creatinin tetap dan difiltrasi di
glomerulus, maka dianggap harga creatinin clearence
adalah harga Glomerular filtration rate (GFR) dan hal
ini menggambarkan fungsi ginjal.
Harga normalnya setelah dikoreksi dengan luas
permukaan tubuh adalah 70-140 ml/menit. Mengenai
hal ini diterangkan pada bab fungsi ginjal.

PEMERIKSAAN DARAH LAIN

1. Kadar Hb untuk mengetahui kondisi penderita. Pada gagal


ginjal kronik (GGK) atau CRF (chronic renal failure) akan
terjadi gangguan erithropoesis, sehingga terjadi anemia
normochromic normocytic. Pada eritrosituria biasanya
tidak menyebabkan anemia.
Pada tumor ganas ginjal bisa terjadi kenaikan Hb dan Ht.
Kadar lekosit darah tidak khas, tetapi biasanya terjadi
pada penyakit infeksi termasuk infeksi traktus urinarius.

2. Pemeriksaan waktu pembekuan dan waktu perdarahan


Dalam keadaan normal tidak penting, tetapi bila ada
penyakit – penyakit perdarahan atau kelainan fungsi
hepar, penting sekali. Karena kelainan – kelainan tadi bisa
mengganggu pembekuan darah waktu operasi.

3. Pemeriksaan elektrolit :
3.1. Kalium (Potassium), normal 3,5 – 5 m eq/l
Bisa naik (hiperkalemia) pada gangguan fungsi ginjal
akut atau kronik. Bila terlalu tinggi akan
menyebabkan arithmia jantung, fibrilasi ventrikel
sampai otot jantung berhenti berkontraksi (cardiac
arrest) dan kematian. Bila kadarnya turun
(hipokalemia) maka terjadi gangguan kontraksi otot
dan konduksi listrik saraf, sehingga orang akan
lemas. Keadaan ini terjadi misalnya pada pemakaian
diuretika jenis furosemid.
50
3.2. Natrium (Sodium), normal 136 – 145 m eq/l.
Pada pemakaian diuretika atau digitalis, kadar Na
bisa turun. Pada TUR sindrom (dulu disebut
intoxication) kadar Na turun tiba – tiba (sudden
hyponatremia).

3.3. Chlorida
Kadar chlorida normal 96 – 106 m eq/l atau m mol/l.
Pada penurunan CRF terjadi kenaikkan kadar
chlorida (hyperchloremia) dan bisa bersama
hyperkalemia. Pada interstitial renal disease,
nefropathia karena Gout atau Diabetes, dapat
menimbulkan hyperchloremic metabolic acidosis
bersama hiperkalemia.

4. Pemeriksaan Enzym
Pemeriksaan fostafase asam total dari serum berguna
sebagai salah satu petanda tumor prostat (Carcinoma
prostat). Dikatakan bahwa pad ca prostat kadarnya naik
lebih 1,5 kali kadar normal.
Fosfatase asam prostat lebih khas, bila terdapat carcinoma
prostat maka kadarnya akan naik, sedangkan fosfatase
alkali baru akan naik bila terdapat metastase / kerusakan
pada tulang.

5. Pemeriksaan kada PSA (prostat spesifik antigen) dari


serum.
PSA adalah tumor marker carcinoma prostat, yaitu bila
kadarnya naik lebih 10 ng/dl. Secara umum pada penderita
umur 60 tahun PSA normal < 4,5 ng/dl antara 4,5 ng/dl –
10 ng/dl merupakan daerah abu – abu yaitu keyakinan bisa
jinak atau ganas (carcinoma prostat). Peninggian kadar
PSA tidak berhubungan dengan staging ca prostat, tetapi
kadar PSA ini penting untuk evaluasi pengobatannya. Bila
pengobatan berhasil kadar PSA turun, dan bila naik kita
curiga adanya residif atau pengobatan yang tidak berhasil.
51
6. Pemeriksaan hormon
Pemeriksaan hormon dalam darah yang perlu pada
penderita urologi, antara lain kadar Beta HCG dan alfa
fetoprotein. 85% penderita tumor testis non seminoma
kadarnya naik.
Pemeriksaan kadar testoteron dalam darah perlu untuk
mendeteksi etiologi impotensi dan infertilitas.
Pemeriksaan hormon Parathyreoid perlu untuk melihat
adanya Adenoma gld parathyroid, yang akan menyebabkan
kenaikkan kadar calcium darah dan timbulnya
urolithiasis.
Pemeriksaan kadar Renin dalam darah, akan naik, bila
terdapat hipertensi renal.
Pemeriksaan kadar steroid adrenal (aldosteron, cortison,
epinefrin dan non epinefrin) berguna untuk menentukan
fungsi adrenal dan pada tumor gld adrenalis.

7. Pemeriksaan kadar gula darah


Ini penting untuk persiapan operasi maupun penyakit
urologi yang berhubungan dengan diabetes mellitus,
seperti nefrophatia diabetika, retensio urine diabetika,
impotensia, dan infeksi traktus urinarius berulang. Pada
pasien baru diperiksa GDS (gula darah sewaktu), bila lebih
dari normal diteruskan pemeriksaan gula I dan II.

8. Pemeriksaan bahan pembantuk batu dalam darah dan


urine
Seperti kadar asam urat, calcium, magnesium, oksalat,
fosfat, dll berguna untuk memperkirakan jenis serta
etiologi batu traktus urinarius.

III. Pemeriksaan Patologi Anatomi


Setiap jaringan yang diambil lewat operasi atau biopsi
harus diperiksa kelainan sel (histopatologis) misalnya
untuk mengetahui adanya tumor ganas atau pada biopsi
testis untuk mengetahui tingkat spermatogenesisnya.
52
Pada penderita hematuria dan curiga keganasan traktus
urinarius perlu dilakukan sitologi urine yaitu mencari sel
ganas dalam urine yang diperiksa.

IV. Analis Sperma


Penderita infertilitas harus diperiksa analisa sperma /
semen untuk mengetahui kelainan spermatogenesisnya.
Spesimen sperma didapat dengan masturbasi / onani atau
coitus interuptus, setalah abstinensia (tidak mengeluarkan
sperma dengan cara apapun) selama 3-4 hari. Spesimen
harus diperiksa stu jam setelah dikeluarkan untuk
menghindari kerusakan.

V. Analisa batu
Batu traktus urinarius yang dikeluarkan sebaiknya
dianalisa jenisnya. Paling banyak kalsium oksalat + 70 %,
kalsium fosfat + 10 %, batu struvit (magnesium amonium
fosfat) + 12 %, batu asam urat 5 – 10 %, dan saisanya batu
garam urat, batu sistin dan batu santin.

53
PEMERIKSAAN PENCITRAAN PADA KASUS
UROLOGI

I. FOTO POLOS ABDOMEN (F.P.A)


Adalah foto dari abdomen dalam keadaan perut bersih dan
tanpa diberi zat kontras. Dalam bahasa Inggris disebut Plain
Photo atauKUB (Kidney Ureter Bladder) dan dalam istilah
kuno / Belanda disebut BNO (Buick / Blaas Nier Oversich)

Hal – hal yang diperhatikan pada foto ini :


1. Sentrasi baik bila terlihat diagnose diatas dan simfisis
pubis dibawah serta bagian lateral dinding abdomen ditepi
kanan kiri.
2. Kondisi baik bila abdomen cukup bersih, tidak banyak
faeces dan udara.
3. Lihat gambaran garis psoas, hal ini bisa menghilang bila
ada pus, hematoma atau peradangan retroperitoneal.
4. Tulang, perhatikan bentuk, kelainan congenital misalnya,
Spina bifida, gambaran metastase pada tulang yaitu
Osteolitik (missal Care, mamae,thyroid, ginjal dll) maupun
Osteoblastik (tulang tampak lebih opak, missal pada Ca
prostat). Pada orang tua, immobilisasi lama atau
avitaminosis D dapat terlihat osteoporosis.
5. Bayangan ginjal (nefrogram) terletak setinggi Th XII
sampai L III/IV, yang kanan sedikit lebih rendah dari kiri.
Bayangan ginjal bisa tak terlihat bila tertutup bayangan
udara usus atau ada hematoma/abses retroperitoneal.
6. Bayangan radio opak bisa para vertebra (batu
ginjal/ureter/batu empedu) atau didaerah pelvis (batu buli
maupun flebolithis dll)

II. UROGRAFI INTRA VENA (U.I.V)


Disebut juga IVU (Intra Venaus Urography), kadang –
kadang IVP (Intra Venous Pyelography).

54
Prinspnya adalah penyuntikan zat kontras (urografin,
hypaque dll) secara I.V. atau dalam infuse dan kemudian
dibuat beberapa foto sesuai kebutuhan.
Dengan cara ini dapat dilihat bentuk sistim pielokaliks,
ureter dan buli – buli. Dapat dilihat ada tidaknya
hidronefrose dengan pembagian derajat sebagai berikut :

I. Pendataan kaliks (flattening)


II. Pencembungan kaliks (clubbing)
III. Beberapa kaliks bergabung menjadi satu
(fusion)
IV. Seluruh ginjal menjadi satu rongga seperti
balon (ballooning)

Bisa dilihat kemungkinan adanya batu, tumor, defek


maupun kelainan organic lain mulai dari kaliks, pielum,
ureter dan buli. Batu radio opak mudah terlihat,
sedangkan batu radiolusen akan member gambaran filling
defect (S.O.L = Space Occupying Lesion) yaitu adanya
bayangan hitam dikelilingi bayangan putih, hal ini bisa
disebabkan oleh :
1. Batu radio lusen
2. Neoplasma
3. Bekuan darah
4. Benda asing

Adanya additional defect (misalnya : pada buli – buli)


terlihat sebagai tonjolan yang berisi kontras yang
disebabkan oleh divertikel. Gambaran trabekulasi /
sakulari buli-buli terlihat sebagai dinding buli-buli yang
tidak rata misalnya pada obstruksi infra vesical dan sistitis
kronika.
Bila ada ekstra vasasi kontras maka berarti ada rupture
bisa di ginjal, ureter maupun buli – buli. Pada prostat
hiperplasis maka ureter distal melengkung seperti pancing
(fish hook ureter).

55
Identasi buli disebabkan pendesakan oleh pembesaran
kelenjar prostat biak oleh proses jinak / ganas.
Untuk lebih jelas melihat adanya divertikel maupun
indentasi buli – buli dpat dibuat x foto miring dari
sistogram (foto oblik). Foto setelah kencing (post mictie /
post voiding)dipakai untuk melihat sisa urine dalam buli-
buli (rest-urine) dimana dalam keadaan normal tidak
terlihat adanya rest urine. Bila ada rest urine berarti
terdapat retensio urinae partialis.

III. RETROGRADE PYELOGRAPHY (R.P.G)


Dikerjakan bila ureter atau system pielo kaliks tidak terlihat
(non visualizing). Caranya dengan sistoskop dimasukkan
ureter catheter melalui muara ureter dengan ukuran 3 – 6 F
dan disuntikkan cairan kontras urografin 30% 5 – 8 cc.
Dengan cara ini dapat dilihat bentuk anatomis sistim
pielokaliks dan ureter. Dengan cara ini dapat melihat batu di
sistim pielokaliks, batu atau striktur ureter.

IV. ANTEGRAD PIELOGRAFI


Bila da UIV tak terlihat kontras (non visualizing) maka dapat
dilakukan pemasukkan kontra langsung ke sistim pielokaliks
dengan menyuntikkan percutan dari pinggang bagian belakang
di sudut kosto vertebra. Dengan cara ini dapat diketahui
bentuk anatomis sistim pielokaliks sampai ke ureter.

V. SISTOGRAFI
Yaitu melihat bentuk buli – buli, bisa dengan UIV atau secara
retrograde melalui kateter menetap yang telah dipasang.
Dengan cara ini bisa dilihat kelainan di buli – buli maupun
prostat.

VI. URETHROGRAFI RETROGRADE


Yaitu membuat foto seluruh panjang urethra, dengan cara
memasukkan kateter dan balon dikembangkan di fossa
navicularis sebanyak 2 – 3 cc, kemudian disemprotkan cairan
kontras.
56
Cara ini sering digabung dengan foto sistografi menjadi urethra
sistografi retrograde. Dengan melihat foto urethrogram dapa
diketahui kemungkinan adanya batu, divertikel, tumor
maupun striktura urethra, bahkan bisa juga dilihat fistula
urethro – kutan.

VII. BIPOLAR URETHRO SISTOGRAFI


Yaitu tehnik foto untuk mengetahui lokasi , panjang striktura
urethra dan komplikasi dibuli dan uretra.
Cara :
 Masukkan cairan kontras kedalam buli – buli (dapat
melalui sistostomi atau intravena seperti pada UIV)
sebanyak 200 – 300 cc.
 Kateter 12 F dengan balon dikembangkan di fossa
navicularis dan dihubungkan dengan spuit berisi kontras.
 Penderita disuruh kencing/mengejan dan pada saat itu
dimasukkan kontras melalui kateter uretha tadi.
Bila ada striktura urethra terlihat contrast dari proximal
(buli – buli) dan dari distal (urethra) tidak dapat bertemu
dan bisa diukur panjang strikturanya.

VIII. ARTERIOGRAFI
Kateter masukkan melalui a. femoralis menuju aorta
abdominis sampai di a renalis. Kontras 12 cc (renografin /
angiografin / hypaque) dimasukkan.
Terlihat :
a. Fas arterial, 1,5 detik setelah contrast dimasukkan
terlihat a renalis dengan cabang – cabangnya.
b. Fase nefogram, 5 – 6 detik setelah kontras dimasukkan
terlihat gambaran nefrogram dan kontras telah sampai
di papilla dan mulai ada eksresi kedalam urine.
c. Fase vena, 7 – 12 detik setelah kontras di masukkan
terlihat gambaran vena renalis.

Garis besar indikasi arteriografi.


1. Tumor ginjal

57
2. Trauma ginjal
3. Hipertensi renal
4. Persiapan transplantasi ginjal
5. Dll
IX. VENOGRAFI = FLEBOGRAFI
Prinsipnya memasukkan kontras ke vena renalis mulai vena
femoralis atau vena brachialis. Dengan cara ini dapat dilihat
gangguan aliran vena di vena renalis dan cabang – cabangnya
termasuk vena spermatica interna.
Indikasi :
- Varikokel
- Tumor ganas ginjal
- Hipertensi renal

X. LIMFOGRAFI
Cara suntikan 0,25 cc patent blue disela metatarsal 1 – 2, 2 – 3
dan 3 – 4 pedis kanan kiri, tunggu 15 menit, maka terlihat
saluran – saluran limfe, pilih yang terbesar dan lurus. Insisi
kulit dan suntikan dengan jarum limfografi 5 cc lipiodal pelan –
pelan, dan dibuat x foto setelah beberapa jam sampai 24 jam.
Dngan cara ini dapat dilihat saluran limfe dan limfonodi
inguinal, pelvis. Para aorta sampai ke supra clavculer.

Indikasi :
- Metastase limfogen suatu tumor ganas
- Chyluria

XI. ISOTOP RENOGRAM


Adalah pemeriksaan untuk mengetahui fungsi ekskresi ginjal
dan kemungknan adanya obstruksi.
Disuntikkan Jod. 131 Hipuran intra vena. Radioaktif yang
dipancarkan ditangkap dengan detector di punggung kanan
kiri didaerah ginjal dan ureter (penderita telungkup) dan
hasilnya direkam dalam grafik, sbb :

58
XII. SCINTIGRAM
Kira – kira 2 menit setelah penyuntikan bahan radioaktif
(mislnya Jod 131 Hippuran) dibuat foto darah ginjal denagn
kamera khusus sinnar gamma, mka akan terlihat bayangan
ginjal berupa titik – titik. Bila ada daerah yang relative kosong
titik – titiknya berarti vaskularisasi disitu kurang baik,
misalnya pada ischemia atau kista, disebut cold area.
Bila ada neo vaskularisasi (misalnya pada tumor ganas) maka
terlihat bayangan yang makin padat titik titiknya dan disebut
hot – area.
Pada kegagalan ginjal maka gambar baru bisa dibuat setelah
10 menit atau lebih dari penyuntikan. Adanya trauma ginjal,
rest urine maupun reflux bisa dilihat dengan cara ini.

XIII. ULTRA SONOGRAFI (U.S.G)


USG merupakan pemeriksaan yang mudah dan non invasive,
dengan prinsip getaran suara dengan frekuensi sangat tinggi
(3,5 – 10 MHz) dipancarkan kearah organ tubuh dan
pantulannya ditangkap kembali dan dirubah menjadi
bayangan dilayar monitor.

59
Hal ini dapat terjadi karean pantulan oleh benda keras,
misalnya tulang berbeda dengan parenchim ginjal maupun
cairan. Suatu tranducer (kombinasi generator penghasil suara
getaran ultra dan penerima getaran) diletakkan dikulit diatas
organ yang mau diperiksa. Pantulan getaran tadi diteruskan
kelayar monitor.

Penggunaan pada urologi :


1. Ginjal
- Ada tidaknya ginjal serta ukuran ginjal
- Ginjal hidronefrotik
- Tumor ginjal
- Kista ginjal
- Batu ginjal, pielum dan urethra
- Parenchim ginjal
- Adanya cairan perirenal

2. Buli – buli
- Dinding buli – buli
- Retensio urinae
- Batu buli – buli
- Tumor buli – buli

3. Prostat
- Prostat hipertrofi
- Carc. Prostat
- Batu prostat

4. Testis
- Peradangan
- Tumor
- Hidrokel
- Varikokel dll

Pada USG prostat sebaiknya dipakai tranducer intra rectal


walaupun dapat juga dari supra pubik, disebut TRUS (Trans
Rectal Ultra Sonography) yang dapat mendeteksi volume
60
prostat, adanya nodul, kalifikasi dan simetris atau tidaknya
pembesaran prostat.
CT SCAN
Computed Tomography Scanning adalah pemeriksaan
menggunakan sinar rontgen yang dapat membuat foto organ
tubuh lapis demi lapis secara transversal maupun horizontal.

Pemakaian pada :
- Kolik uretre – untuk mancari causanya
- Hematuria – untuk mencari asal perdarahan
- Infeksi ginjal – untuk mencari kerusakan ginjalnya
- Tumor – untuk mencari besar, infiltrasi dan
metastasenya.
- Trauma buli – untuk menentukan luas traumanya.

Pemeriksaan dengan CT Scan bisa diberi kontras seperti paa


FPA/UIV agar lebih informative.

MRI
Magnetic Resonance Imaging adalah pemeriksaan dengan
menggunakan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan
pada organ tubuh dan pantulannya tergantung densitas organ
tersebut. Dibidang urologi pemakaian MRI belum banyak.

Penggunaan :
- Ginjal : pembuluh darahnya, derajat keganasan ginjal
dan fungsi ginjal
- Buli : mendeteksi tumor ganas buli dan penyebarannya
-
- Testis : - mencari letak testis pada cryptorchismas dll
- Keganasan dan pembesaran tumor ganas
testis
- Ureter : mencari obstruksi ureter.

61
OBSTRUKSI DAN STASIS
Oleh : dr. Rifki Muslim

Obstruksi traktus urinarius adalah bendungan pada suatu


tempat dari traktus urinarius dan akibat dari bendungan itu
akan terjadi stasis yaitu urine yang tidak dapat jalan yang bisa
disebabkan oleh obstruksi ataupun sebab lain misalnya
neurogenik.

Etiologi obstruksi :
I. Kongenital
- Meatal Stenosis
- Phimosis
- Katub uretra posterior (Posterior Urethral Valve)
- Stenosis muara ureter
- PUJO (Pelvi Ureteric Junctionn Obstruction) dll.
II. Dapatan
a. Traktus urinarius atas (upper tract)
- Batu pyelum
- Batu ureter
- Striktur uretra
- Stenosis ureter akibat jepitan tumor retroperitoneal,
kehamilan, fibrosis retroperitoneal dll.
b. Traktus urinarius tengah (middle tract)
- Batu buli-buli
- Sklerosis leher buli-buli
- Tumor buli-buli dll
c. Traktus urinarius bawah (lower tract)
- Prostat hipertropi
- Ca prostat
- Striktur uretra
- Batu uretra dll.

62
Akibat dari obstruksi dan stasis tersebut :
I. Upper tract
1. Ureter
Terjadi pelebaran ureter (hidroureter) yang bisa
diikuti oleh hidronefrosis.
Dinding ureter menebal untuk dapat mengeluarkan
urine dengan peristaltik. Dalam jangka lama ureter
memanjang dan berkelok-kelok. Pada tahap
dekompensasi ureter dapat kehilangan daya
kontraksinya sehingga ureter dapat besar sekali
seperti usus halus.

2. Ginjal
Akan terjadi dilatasi pelvis renis dan calices
(hidronefrosis).
Pembagian derajat hidronefrosis :
- Derajat I : kaliks mendatar (flattening)
- Derajat II : kaliks mencembung (clubbing)
- DerajatIII : beberapa kaliks bersatu
(fusion)
- Derajat IV : seluruh kaliks hilang, ginjal
seperti balon (balooning)
Akibat hidronefrosis terjadi penekanan terhadap
parenchim ginjal, sehingga terjadi atropi dan
penipisan parenchim yang berakibat fungsi ginjal
berkurang dan dapat berakibat gagal ginjal yang
kronik.
Akibat dari stasis urine pada upper tract :
Urine yang tidak mengalir menyebabkan
berkembangnya bakteri sehingga timbul radang
ureteritis pyelitis dan pyelonefritis. Suatu
pyelonefritis kronik juga akan menurunkan fungsi
ginjal dan dapat berakibat gagal ginjal kronik
(chronic renal failure).
Stasis juga menyebabkan timbulnya neoplasma
urothelium, yang biasanya bersifat ganas
(transitional cell carcinoma). Selain itu infeksi
63
kronik juga merangsang timbulnya batu pada
ginjal atau batu ureter.

II. Obstruksi dan stasisi pada mid tract


Obstruksi dibawah buli-buli (intra vesical obstruction)
akan menyebabkan tekanan intravesical naik sampai 50-
100 cm H2O (N:20-40 cm H2O) untuk mengeluarkan air
kencing.
Akibat dari obstruksi dalam buli terjadi perubahan:
A. Fase kompensasi
1. Stadium irritable
 Dinding buli menebal (hipertropi)
 Rasa ingin kencing sukarditahan (urgency)
 Sering kencing (polakisuri = frequency)

2. Stadium kompensasi
 Kencing lama keluarnya dan jarus ancang-
ancang (hesitancy)
 Pancaran air kencing melemah dan mengecil
 Timbul perubahan pada mukosa buli-buli
yaitu:
a. Trabekula
Yaitu serat-serat otot detrusor menonjol dan
oleh karena hipertropi dan mukosanya
tertekan lebih dalam, tonjolan ini berbentuk
anyaman tidak teratur.
b. Cellulae atau saculae
Yaitu mukosa buli-buli menonjol seperti
kantong disela otot detrusor tetapi belum
menembus lapisan serosanya.
c. Diverticula
Yaitu herniasi dari mukosa buli-buli
membentuk kantung dan menonjol keluar
dinding buli-buli.

64
B. Fase Dekompensasi
1. Dekompensasi akut
- Hesitancy makin berat
- Kencing tak puas oleh karena sisa urine
dalam buli-buli (residual urine)
- Bisa timbul retensio urine
3. Dekompensasi kronik
- Residual urine makin banyak
- Kapasitas buli-buli bertambah, bisa 1000-
3000 ml
- Timbul retensio urine total dan overflow
incontinence
Akibat stasis urine dalam buli-buli :
- Sistitis kronik
- Perubahan mukosa menjadi ganas
(transtitional cell carcinoma)
- Batu buli-buli
- Refluks vesico ureteral sehingga terjadi
hidroureter atau hidronefrosis
- Infeksi naik ke ginjal (ascending infektion)
sehingga timbul pyelonefritis kronika.

III. Obstruksi dan stasis pada lower tract


Uretra akan melebar dinding uretra menipis dan dapat terjadi
diverticel.
Infeksi dan penipisan uretra akan menyebabkan ruptura
spontan uretra dan berakibat ekstravasasi urine, urine infiltrat
dan bisa terjadi fistula urethrocutan.

Klinis
A. Symptom (gejala)
1. Lower dan mid tract
- Hesitancy - Hematuria
- Pancaran kencing lemah dan kecil - Stranguria
- Terminal dribling - Pyuria
- Retensio urin - Polakisuria

65
2. Upper tract
- Sakit pinggang yang dapat dijalarkan kesudut costo
vertebra dan sepanjang ureter
- Hematuria
- Gejala gastroistentinal (nausea, vomitus dll)
- Pyuria
- Panas
- Uremia dll.

B. Sign (tanda-tanda)
1. Lower dan mis tract dapat terjadi :
- Bisa teraba striktur uretra
- Pembesaran prostat
- Tanda – tanda retensio urine
- Tanda – tanda sistitis dll.
2. Upper tract :
- Hidronefrosis (ballotement ginjal positif)
- Nyeri ketok pinggang (sudut costovertebra)
- Terlihat ginjal membesar dll.

Laboratorium
Bisa didapatkan :
- Anemia
- Leukositosis
- Ureum dan cratinin darah naik
- Cratinin clearance menurun
- Urine kultur positif dll

Pemeriksaan radiologis
- Foto polos abdomen
- Urografi intravena
- Sistogram
- Urethrogram
- Bipolair urethrocystogram
- Retrograd pyelografi
- Pemeriksaan USG terutama untuk upper dan mid tract

66
- Isotop renogram dengan penyuntikan Yod 131 dan
aktivitasnya dicatat dengan gamma camera untuk
mengetahui fungsi ginjal apakah ada obstruksi atau
tidak.

Pemeriksaan Instrumentasi
Yaitu dengan dilihat melalui alat urethroscope atau alat cystos
copie untuk melihat kelainan di uretra atau buli-buli.
Ureterorenoscopy (URS) untuk melihat kelainan ditaktus
urinarius bagian atas yaitu ureter dan pyelum ginjal.

Pengobatan
Tergantung dari kausanya pada prinsipnya menghilang kan
obstruksi sehingga tidak ada stasis urine dan pengobatan
kausanya.

67
INFEKSI TRAKTUS URINARIUS

Kuman penyebab :
I. Infeksi non spesifik, paling sering disebabkan kuman
batang gram negatif :
- E Coli
- Enterobakter
- Kleibsiella spesies
- Proteus sp dan Proteus mirabilis
- Pseudomonas
- Serratia sp
Gram posistif cocci :
- Stafilococci
- Enterococci
Kuman lain :
- Chlamydia trachomatis
- Ureaplasma urelyticum
- Gardnerella vaginalis

II. Infeksi spesifik :


- TBC
- GO
- Actinomycosis
- Candida albicans
- Schistosomiasis
- Filariasis
- Echinococcsis

I. Infeksi non spesifik


Patogenesis
Bakteri masuk dan menyebar dalam traktus urinarius
dengan cara yaitu :
1. Ascending
2. Hematogen
3. Limfogen
4. Kontak langsung

68
Ascending Infection
Merupakan jenis penyebab infeksi terbanyak di traktus
urinarius. Infeksi yang naik dari meatus urethree externus
melalui uretra ke dalam buli-buli dan dengan adanya
uretero vesical reflux kuman dapat sampai ke ginjal
dengan menimbulkan pyelonephritis.
Hal seperti ini sering terjadi pada wanita dimana kuman
dari vagina atau vulva dan anus mudah masuk melalui
uretra yang pendek ke dalam buli-buli.
Pada laki-laki hal tersebut dapat terjadi dan terutama
pada tindakan instrumentasi (misalnya pemasangan
kateter).

Infeksi Hematogen
Kuman dari sumber infeksi dimana saja dalam tubuh
dapat mencapai ginjal melalui jaringan aliran darah
sehingga dapat menimbulkan multiple small abces dan
dari sini dapat menjalar ke lain bagian tractus urinarius.

Infeksi Limfogen
Pada tahanan dalam buli-buli yang tinggi (70-100 cm H2O)
maka kuman dapat masuk ke dalam saluran limfe menuju
ke ginjal.
Hal ini terjadi juga pada pemaasukan kuman dari usus ke
ginjal.

Kontak langsung
Kuman dapat masuk taktus urinarius dari organ
sekitarnya yang terinfeksi misalnya fistula enterovesical,
peritinitis, infeksi genetalia dll.
Faktor predisposisi I.T.U :
1. Stasis urine
2. Benda asing
3. Fistula
4. Daya tahan tubuh turun

69
1. Stasis Urine
Urine merupakan media yang baik sekali untuk
pertumbuhan beberapa jenis kuman.
Hal yang berpengaruh pada pertumbuhan tersebut:
a. Jarang kencing
Sebaiknya kencing tiap 4 jam senan bila 12 jam
tidak kencing,sati kuman bisa berubah menjadi 1
juta.
b. Obstruksi mekanki
Pengosongan yang jelek dari buli buli atau retensio
urine, hidro ureter dan hidroneprosis akan
memudahkan pertumbuahan bakteri.
c. Drainase jelekdari urine dalam kantong misalnya
urine dalam divertivula yang tidak ikut keluar
waktu pengosongan buli buli.
d. Megaureter yaitu ureter yang besar akibat reflux
atau obstruksi muara ureter.

2. Benda asing
Termasuk ini yaitu batu yang biasanya berpori-pori
sehingga merupakan tempat bersembunyi dan berkembang
biak bakteri yang baik. Benda asing lain seperti kateter,
bekuan darah dan adanya jaringan mekrose juga
merupakan tempat sembunyi dan berkembangbiak bakteri,
misalnya permukaan tumor ganas yang sudah nekrotik.

3. Fistula
Akan memasukkan kuman dari usus (misal entero vesical
fistula) atau dari vagina ( vesico vagina fistula) atau dari
luar vesico cutan atau urethro cutan fistula.

4. Daya tahan tubuh turun


Setelah terkena infeksi virus influensa, keluhan UTI akan
tampak, hal ini karena daya tahan tubuh turun akibat
influensa tadi memberi kemungkinan berkembang biaknya
bakteri UTI.

70
Penyebab lain : pada penderita DM, penggunaan obat
Immunosupresan pada transplatasi dan sistoststika pada
terapi keganasan.

Perjalanan ITU
Perjalanan dari suatu ITU akan berakhir dengan 4 proses:
1. Resolusi
2. Supurasi
3. Scaring
4. Granulla

Resolusi
Yaitu organ yang terkena kembali normal setelah sembuh,
hal ini terjadi pada infeksi akut (mis. pyelobefritis akut,
sistitis akut)
Supurasi
Pada keadaan tertentu timbul abses ginjal (carbuncle
ginjal) dan perinefritik abses. Pada prostat bisa terjadi
prostat abses dan yang sering urethritis yang
mengeluarkan pus.
Scarring
Timbulnya jaringan ikat, pada ginjal akibat pyelonefritis
chronika menimbulkan calyx panjang dan sempit dan bila
difus akan menimbulkan atrofi ginjal. Pada ureter dan
urethra menimbulkan striktura, pada buli-buli
menimbulkan fibrosis buli, sehingga buli-buli atrofi dengan
kapasitas yang sangat rendah.
Sedangkan pada prostat menimbulkan fobrosis prostat
dengan gejala prostatismus.
Granula
Yaitu timbulnya jaringan granuloma akibat infeksi kronik.
Misalnya TBC ginjal, brucellosis dan schistomiasis.
Keadaan ini akan menimbulkan penurunan fungsi ginjal.

71
Komplilasi
1. Acute Renal Failure (ARF=GGA)
Radang akut ginjal (pyelonefritis akuta) akan
menimbulkan ginjal yang meradang, merah, panas,
oedematous seluruh parenchim ginjal sehingga
glomerulus kurang/tidak berfungsi dan akibatnya
timbul kejala uremia. Pada pemberian antibiotika bed
rest, dan roborantia akan menimbulkan resolusi
sehingga ginjal bisa berfungsi normal lagi.

2. Septicemia (Urosepsis)
Kuman yang masuk kedalam pembuluh darah akibat
ITU, pada gram negatif basili akan mengeluarkan
lipid-A-endotoxin yang akan merangsang hipotalamus
untuk menimbulkan demam, melepaskan kinin yang
menyebabkan vasodilatasi, menaikkan permeabilitas
kapiler dan menghambat kerja otot jantung.
Pada kultur darah dan urine didapat kuman yang
sama. Urosepsis bisa terjadi pada operasi urologi
penderita yang sudah ada UTInya dan kondisi lemah
serta antibiotik yang kurang memadai.
Mula-mula tubuh hangat, lemas, nadi cepat dan tiba-
tiba dapat terjadi penurunan tekanan darah sampai
tak terdengar, acral dingin dan bisa timbul thrombosis
coroner (septik shock)
Pengelolaan :
- Ambil kultur darah
- Infus dengan plasma expander
- Pasang CVP (central venous pressure) untuk
mengetahui tekanan jantung kanan, ada dehidrasi
atau tidak. Infus untuk mengatasi dehidrasinya dan
antibiotika masiv yang sesuai.
Bila didapatkan, retensio urine segera padang
kateter men (DC), dengan cara ini bisanya penderita
dapat tertolong.

72
3. Papillary Necrosis dan Interstitial Nephritis
Akibat interstitial nefritis akut bisa terjadi
pengelupasan renal papilla sehingga terlepas dan
dapat menyebabkan kolik atau obstruksi ureter.

4. Pembentukan batu
Infeksi urea splitting bakteria (proteus, pseudomonas,
kleibsiella dan stafilokokus akan memecah urea
menjadi amonia sehingga PH urine sangat basa (lebih
besar 7,5) dan hal ini akan memudahkan timbul batu
calcium fosfat, garam urat dan batu struvit.

5. Supurasi
Abses di parenchim ginjal ginjal menimbulkan
carbuncle ginjal yang pada USG terlihat mirip kista
ginjal atau bahkan dikacaukan dengan tumor ginjal.
Pecahnya carbuncle ginjal atau penyebarannya
menimbulkan abses perinefrik.

6. Granuloma
Suatu pyelonefritik dapat menimbulkan
xantrogranuloma yang menyebar disekitar ginjal
berupa masa seperti bubur berwarna kuning, dengan
infilrtasi histiosit dan dapat menyerang colon
didekatnya sehingga timbul nefrokolik fistula. Hal ini
harus kita diagnosa banding dengan renal carcinoma.

7. Chronil renal failure (CRF = GGK)


Suatu pyelonefritis chronica dengan penyembuhan
fibrosis atau aktrofi ginjal akan merusak glomerulus,
sehingga fungsi ginjal segera terganggu dan bahkan
bisa timbul uremia stadium akhir. Bila sudah terjadi
hal seperti itu maka tak ada jalan lain kecuali
transplantasi ginjal dan kedua ginjal dibuang atau
kalau tidak mungkin hemodialisa seumur hidup.

73
8. Struktura
Radang kronik di ureter atau uretra dengan
penyembuhan yang tidak baik akan menimbulkan
penyempitan (striktura ureter atau urethra) dengan
akibat hidronefrosis atau retensio urine.

9. Athrofi Buli-buli
Terjadi akibat sistitis kronika dengan penyembuhan
fibrosis yang luas di buli menyebabkan volume buli
mengecil dan ditandai terjadinya polakisuria, nokturia
dll.

10. Vesico Urethral Relux


Pada sistitis terjadi oedema mukosa dan dinding buli
sehingga segmen ureter yang intravesical yang
intravesical menjadi lebih kaku dan pada peninggian
tekanan intravesical waktu miksi, segmen intravesical
dari ureter tersebut tidak dapat mengempis dan
menutup sempurna dan akibatnya ada aliran urine
naik kedalam lumen ureter (reflux).

11. Keganasan
Suatu radang kronis dapat menyebabkan timbulnya
metaplasia urothelium, sehingga dapat menimbulkan
transitional cell carcinoma, kadang-kadang squamous
cell carcinoma dan adeno carcinoma. Hal ini jelas
terbukti radang kronis pada divertikel buli yang akan
berakibat timbulnya keganasan, sehingga perlu
tindakan diverticulectomi.

74
PENANGANAN KOLIK URETER
OLEH : Rifki Muslim
Sub Bagian Urologi
Bagian Ilmu Bedah FK Undip / SMF Bedah RSUP Dr. Kariadi
Semarang

I. PENDAHULUAN
Kolik merupakan keluhan yang sangat sering terjadi
dan dirasakan sangat sakit sehingga biasanya merupakan
hal yang mendorong penderita mendatangi dokter.
Kolik terjadi akibat hiperperistaltik dari organ tubuh
berongga kemudian terjadi spasme otot polos dinding organ
tersebut. Oleh karena itu kolik dapat terjadi diureter,
saluran empedu dan usus.
Dalam keadaan tertentu misalnya kolik di abdomen
sebelah kanan dapat dikacaukan gejalanya antara kolik
ureter, kolik biliaris dan kolik usus. Akan tetapi dengan
pemeriksaan yang cermat tentu dapat dibedakan ketiga
macam kolik tersebut.

II. PATHOGENESA
Adanya benda asing dalam lumen ureter akan
menyebabkan timbulnya hiperperistaltik sebagai usaha
tubuh untuk mengeluarkan benda asing tersebut, dimana
hiperperistaltik yang terus menerus akan berakibat
spasme otot polos dinding ureter, dirasakan rasa sakit
hebat yang hilang timbul. Menurut Dracht adanya benda
asing yang menyebabkan obstruksi partial yang akan
menyebabkan ureter kolik tadi. Benda – benda asing yang
dapat menyebabkan kolik tadi antara lain batu, bekuan
darah, pecahan tumor ginjal yang terlepas serta benda
asing lain seperti ureter kateter dan benang yang tidak
direabsorbsi pada operasi pielum atau ginjal, tetapi yang
paling banyak dalam praktek / dimasyarakat adalah
disebabkan batu ginjal yang berusaha turun (batu ureter)
dan bekuan darah akibat adanya perdarahan dalam ginjal.
75
Rasa sakit di ginjal terjadi bila ada sumbatan
dipielum ginjal, tetapi rasa sakitnya terus menerus tidak
bersifat intermiten, sedangkan kolik ureter terjadi bila
sumbatannya ada disepanjang ureter, Rasa sakit biasanya
bersifat tajam, sakit seperti ditusuk – tusuk, rasa sakit
yang sangat hebat dan sering sampai berkeringat dingin,
sangat lemah, shock dan collapse.
Rasa sakit yang hebat seperti tersebut biasanya
justru terjadi bila obstruksi ureter partial, sedangkan bila
total rasa sakitnya tidak begitu hebat, malahan menjurus
bersifat menetap didaerah pinggang sampai sudut kosto
vertebra akibat peregangan kapsul ginjal mendadak dan
tidak lagi bersifat kolik. Juga dikatakan bahwa kolik yang
terulang – ulang timbul menandakan bahwa benda asing
dalam ureter tadi dalam keadaan bergerak. Pada
penyempitan ureter oleh stenosis atau struktur tidak
memberi gejala kolik, tetapi menyebabkan hidronefrose
kronik dengan rasa kemeng dipingggang dan sudut kosto
vertebra.

III. PENJALARAN RASA SAKIT


Adanya batu dibagian proximal ureter akan
menyebabkan rasa sakit yang dijalarkan sepanjang ureter.
Rasa sakit ini dijalarkan melalui saraf genitocruralis yang
akan mengiritasi pusat reflex di medulla spinalis T.11-12 dan
menyebabkan rasa sakit ditestis pada laki – laki atau
ovarium pada wanita dan kadang – kadang dirasakan sakit
di meatus uretra internus dan uretra internus dan uretra
sehingga menyebabkan rasa sakit waktu kencing. Adanya
viscerosensory reflex melalui n.ilioinguinalis menyebabkan
hiperestesi dipaha bagian medial yang dibatasi oleh
ligamentum inguinale dibagian oranial, otot sartorius
dibagian lateral dan otot aduktor dibagian medial ; bila
pada daerah ini dicubit maka timbul rasa sakit yang hebat
dan testis tertarik ke inguinal (disebut dindrom sub
inguinal dari koik ginjal), sebagai pembanding bila sisi

76
yang kontra lateral dicubit hanya akan terjadi kontraksi
otot kremaster.
Penjalaran lain ialah melalui saraf dari ginjal pada
mendulla spinalis segmen T, 10 – L.1 melalui ganglion
coeliaous, menuju medulla oblongata sehingga
menimbulkan gejala nausea, vomitus, diare dan gejala
gastro intestinal lain. Pada sistim peredaran darah timbul
reaksi vasomotor berupa keringat dingin, lemas dan
collapse.
Penjalaran reno renal karena ada interspinal
overflow yang menyebabkan rasa sakit ginjal kontra
lateral, juga bisa timbul rasa sakit ke dada isolateral, bahu
dan bahkan lutut. Ureter kolik ini bisa disebabkan juga
rasa sakitnya ke abdomen bagian atas (daerah
epigastrium) dibagian depan dan kesudut kosto vertebra
dibagian belakang.
Dengan cara yang sama dapat diterangkan mengapa
pada kolik ureter akibat batu disepertiga tengah akan
dijalarkan ke abdomen bagian depan, pada yang kanan
didaerah Mo.Burney, sehingga sering dikacaukan dengan
appendicitis atau seperti nyeri diverticulitis, atau penyakit
pada calon descendens atau sigmoid.
Pada proses dimana batu diureter distal maka rasa
nyeri didaerah inguinal dan di supra pubik. Bila batu
ureter di uretere-vesical junction maka akan menyebabkan
oedemamukosa buli – buli dan menimbulkan gejala –
gejala sistitis. Selain itu rasa sakitnya dijalarkan ke kulit
skrotum.
Adanya batu baik diureter sepertiga tengah maupun
distal akan menyebabkan hidronefrose akut dan ini
dirasakan sebagai rasa sakit daerah ginjal yaitu di
pinggang sampai ke sudut kosta vertebra. Rasa sakit ini
oleh saraf – saraf spinal dapat dirasakan juga dilain
tempat walaupun dengan kadar sakit yang lebih rendah
yaitu diujung iga ke 12 oleh saraf dari T.10, diatas spina
iliaka posterior superior oleh saraf dari T.11 dan bahkan
ketumit oleh saraf S3.
77
Sebaliknya pada appendicitis akuta rasa nyerinya
dapat juga menyebabkan keluhan mirip proses urologik
yaitu nyeri disudut kosto vertebra, inguinal, ovarium atau
testis, supra pubik, penis, pantat dan kadang – kadang
terdapat juga keluhan polakisuria dan gejala – gejala
sistitis lain dan bila appendiksnya retro coecal dan
menempel pada ureter dapat memberi gejala – gejala
hematuria atau pyuria.

IV. PENGELOLAAN SIMTOMATIK


Tujuannya menghilangkan rasa sakit dari spasme
otot polos. Dengan pemberian analgetika yang kuat
sebaiknya parenteral, kalau perlu diberi morfin atau
pethidine. Untuk mempercepat hilangnya rasa sakit dan
menghilangkan spasme dapat diberi spasmolitika (bahaya
ileus paralitikus).

V. PENGELOLAAN KAUSAL

A. BATU URETER
Batu ureter sebagai penyebab kolik paling banyak
terdapat apalagi didaerah – daerah endemis batu traktus
urinarius. Adanya kolik disertai kelainan urine, maka kita
curiga disebabkan batu. Kelainan urine ini bisa pH
urinenya yang rendah (kurang dari 5,5) disertai adanya
kristal urat maka kita curiga adanya batu asam urat, ini
terutama pada orang gemuk. Yang hampir selalu ada pada
kolik oleh batu ureter adlah adanya eriotrosituria (kadang
– kadang gross hematuria) dan mungkin ada lekosituria.
Kristal uria sering bukan analog dengan adanya batu,
sebab pada makanan tertentu bisa terdapat kristal
kalsium oksalat maupun kristal urat dalam urine tanpa
ada gejala apa – apa.
Pemeriksaan laboratorium lain untuk menegakkan
diagnose bisa berupa penhitungan kadar kalsium, asam
urat, fosfat anorganik, baik dalam darah dan yang
biasanya bila ada batu traktus urinarius dapat naik
78
kadarnya. Yang terpenting adalah Foto Polos Abdomen
(FPA) dengan cara ini saja 90-95 % batu bisa dilihat (radio-
opaque) dan sisanya radio-lucent yaitu batu urat, sistin
dan santin.
Urografi intravena (UIV) untuk mempertegas
diagnose, dimana akan terlihat bendungan (hidroureter
atau dengan hidronefrose). Pada batu radio-luscent akan
terlihat bayangan hitam disekeliling kontras yang putih.
Batu ureter dapat ditangani secara konservative
maupun operatif.
Indikasi tindakan pada batu ureter (URS,
Ureterolithotomi, ESWL) :
1. Batu lebih besar atau sama dengan ukuran 5 mm
2. Kolik terus menerus yang tidak bisa ditolong dengan
analgetik/spasmolitik/morvin-pethidin.
3. Ada komplikasi gross hematuria
4. Sudah menyebabkan hidro uretero nefrosis
5. Ada komplikasi infeksi
6. Batu tidak bergerak pada follow-up
Biasanya batu ureter akan tersangkut di tempat – tempat
penyampitan fisiologis ureter yaitu :
1. Pelvic – uereteric junction.
2. Waktu menyilang vasa iliaca
3. Uretero-vesica junction
Ada juga yang menambah penyempitan fidiologis tadi
dengan waktu ureter menyilang pinggir otot psoas dan
waktu menyilang pelvic brim.
Pengobatan konservativ dekerjakan bila tidak ada indikasi
operasi seperti tersebut diatas yaitu dengan cara minum
banyak, spasmolitika-analgetika dan diuretika.

B. BEKUAN DARAH
Bekuan darah diureter terjadi akibat
perdarahan masif di ginjal, bisa akibat :
1. Kelainan kongenital misalnya ginjal polikistik
2. Trauma sering trauma tumpul yang berakibat
robeknya parenchim dan sistim pielokaliks
79
3. Radang misalnya pielonefritis, TBC ginjal
4. Tumor misalnya Willms tumor, Grawitz tumor,
Adeno Ca
5. Lain – lain seperti sindrom nefrotik, glomerule
nefritis, haemengioma dalam parenchim ginjal,
keracunan obat – obatan , makanan, idiopathik
dll.
6. Perdarahan karena batu ginjal

Dengan sendirinya pada pemeriksaan laboratorium


urine terlihat adanya bekuan darah, kadang –
kadang bulat panjang berbentuk seperti cacing.
Pada urografi intra vena bisa terlihat kelainan
filling defect di sisitim pielo kaliks dan diureter.
Untuk memastikan diagnosa perlu dibuat sitologi
urine untuk mencari sel – sel ganas, perlu juga
kultur urine.
Kadang – kadang perlu dikerjakan pemeriksaan
USG, arterigrafi, CT Scan, maupun ureteroskopi.
Dalam hal ini pengobatan tergantung dari kausanya.

C. BENDA ASING LAIN


Benda asing lain sebagai penyebab kolik dapat
berupa pecahan tumor ginjal yang ikut aliran urine,
untuk ini dapat dideteksi dengan sitologi urine,
urografi intra vena, arteriografi dll.
Bila memang terdapat tumor ganas maka perlu
nefro-ureterektomi.
Pemasangan kateter ureter untuk keperluan
retregrade pielografi (RPG) ataupun untuk
mendapatkan sample urine dari salah satu ginjal
juga sering mengakibatkan nyeri kolik, dan bila ini
terjadi maka harus segera dicabut.

VI. PENUTUP
Oleh karena kolik ureter merupakan gejala
yang banyak terjadi di masyarakat dan sering kali
80
merupakan tanda awal dari suatu kelainan yang
cukup serius maka pemahaman patogenesa,
penjalaran kausa dan metoda penanganannya
merupakan hal yang penting yang seyogyanya
diketahui oleh para medis digaris depan seperti
dokter keluarga, puskesmas, poliklinik dan petugas
– petugas rumah sakit.

Diatas telah kami coba menguraikan hal tersebut secara


singkat dan jelas. Semoga bermanfaat.

81
ENDOUROLOGI DAN ESWL

Endourologi adalah pekerjaan urologi dengan alat – alat


khusus untuk melihat atau mengambil tindakan dengan alat
tersebut pada bagian dalam traktus urinarius dengan
pertolongan cahaya yang berasal dari sumber cahaya (light
source), dengan cara memasukkan alat lewat uretra atau
lubang kulit yang dibuat.

Pemeriksaan endoskopi :
1. Urethroskopi
Adalah memeriksa keadaan lumen urethra, dipakai lensa
0 derajat yaitu melihat langsung didepannya (direct vision)

2. Sistoskopi
Adalah pemeriksaan kedalam buli-buli, biasanya dipakai
lensa 30, 45, 70, 120 atau 135 derajat. Derajat ini
menunjukkan bidang yang dilihat dihitung dari garis
panjang alat endoskopinya.
Biasanya pemeriksaan ini digabungkan dengan
urethroskopi dan kadang – kadang disebut panendoskopi.
Kita bisa memeriksasenua kelainan di buli-buli seperti :
tumor buli, urine –jet dari muara ureter, refluk, batu buli,
prostat yang membesar dll.

3. Uretero-renoskopi (URS)
Mula-mula muara ureter dilebarkan dengan dilatator
sampai 13-14F kemudian alat seperti sistoskope kecil
panjang dimasukkan kedalam ureter dapat sampai ke
pielum.
Dengan cara ini dapat dilihat kelainan dilumen ureter
maupun ileum dan kaliks.

82
Tindakan Endoskopi

1. Urethrotomia interna dengan alat sachse


Prinsipnya lat ini mirip urethroskopi hanya disamping
lensa terdapat pisau yang dipakai untuk memotong
urethra yang striktur. Biasanya dipotong di jam 12 sampai
ke lapisan serosa. Bisa juga pemotongan bagian yang
fibrotik tersebut pada 4 tempat yaitu jam 12,3,6 dan 9
dengan hasil yang lebih baik. Suaya pemotongan tidak
salah arah (false route) maka sebaiknya dimasukkan
ureter catheter pada lubang urethra yang striktur sebagai
petunjuk arah (guide). Cara ini dikerjakan bila strikturnya
maksimal panjangnya 3 cm dan tidak ada komplikasi
fistula, batu, radang, dll (simple stricture). Setelah pisau
sachse memotong seluruh panjang striktur dan alat dapat
masuk sampai buli-buli, maka dipasang kateter menetap
dengan Foley (balon) catheter nomer 18 atau 20 F selama
beberapa hari. Bila jaringan fibrotiknya sangat hebat, bisa
dipasang kateter silicon (warna putih bening) yang dapat
dipertahankan 1 -3 bulan. Setelah kateter dilepas,
penderita diajari “self hydrolic dilatation” yaitu ketika
mengejan akan kencing, meatus urethra eksternum
ditutup dengan jari dan setelah terasa sakit sekali
didalamnya, baru dilepas, sehingga kaliber air kencing
tetap besar.

2. Reseksi Trans Urethra


TUR (Trans Urethral Resection) adalah pengambilan
tumor di urethra, prostat atau buli-buli dengan memotong
sedikit demi sedikit dan dikeluarkan dalam bentuk serpih
kecil (chips).
Prinsipnya tumor/prostat tadi diiris dengan pisau TUR
(cutting loop) yang dihubungkan dengan sumber tenaga
listrik. Tumor yang sudah pecah kecil-kecil masuk ke
dalam buli-buli dan dikeluarkan dengan alat Ellikx
Evacautor. Alat TUR bisa dipakai untuk : Prostat
hipertrofi, Karsinoma prostat, Sklerosis leher buli, tumor
83
jinak dan ganas buli, katur urethra posterior dan biopsy
prostat maupun tumor buli.

3. Retrograde Pyelography (RPG)


Prinsipnya dengan alat sistoscopi dimasukkan ureter
kateter nomer 3-6 F kedalam muara ureter. Dibagian
radiologi melalui ureter kateter tadi disuntikkan zat
kontras sehingga kita dapat melihat bentuk anatomi ureter
dan sistem pielo kaliks.
Indikasi RPG :
- Pada UIV tidak terlihat kontras di system
pielokaliks dan ureter (Non Visualize)
- Suspek batu ureter dan pielum.
- Cedera ureter

4. Ekstraksi Batu Ureter dengan Dormia Basket


Dormia basket bentuknya seperti kateter ureter 6F, hanya
pada ujungnya dapat dikembangkan basket.
Alat ini dipakai untuk mengambil batu kecil di ureter
distal dengan cara yaitu alat ini dimasukkan ke muara
ureter seperti pada RPG, setelah melewati daerah batu,
basket dikembangkan sehingga diharapkan batu masuk ke
dalamnya dan pelan-pelan ditarik keluar.

5. Lithotripsy Batu Buli


Untuk memecahkan batu buli-buli, prinsipnya alat
lithotripsi dimasukkan dalam buli, setelah terlihat batu,
kemudian dipecahkan dan pecahan dikeluarkan dengan
Ellik evacautor.
Untuk memecahkan batu tersebut bisa dengan cara :
- Mekanik
- Hidraulik
- Getaran ultra
Yang paling banyak dipakai ialah cara mekanik yaitu batu
dipegang dengan semacam tang batu dan kedua rahang
tang dikatupkan sehingga batu pecah.

84
6. URS Lithotripsi
Prinsipnya alat URS setelah masuk ke ureter dan dilihat
batunya, masukkan alat penggetar yang dihubungkan
dengan generator penghasil getaran frekwensi tinggi yang
ditempelkan ke batu ureter tadi. Setelah pecah kemudian
dikeluarkan sedikit demi sedikit.
Bisa juga batu dipecahkan dengan sinar laser.

7. Biopsi Tumor Buli


Selain dengan alat TUR untuk melakukan biopsi tumor
buli, pada tumor buli yang kecil kadang – kadang
dilakukan biopsi dengan alat khusus tang biopsi.
Dengan cara ini biopsi lebih cepat dikerjakan, tetapi ada
bahaya pendarahan.

8. PCN = Percutaneum Nephrolithotripsy


Adalah memecahkan batu ginjal di pielum / kaliks dengan
memasukkan alat nefroskop dari kulit di pinggang
langsung ke sistim pielokaliks.
Penderita dengan posisi telungkup dalam narkose umum
dan dilakukan pungsi ke sistim kaliks yang kita tuju.
Pielum dan kaliks dilihat dengan fluoroscopy
mempergunakan C-arm yaitu dengan memasukkan zat
kontrast kedalam pielum dengan menyuntikkan melalui
ureter kateter yang kita pasang lebih dahulu seperti waktu
mengerjakan RPG. Setelah berhasil lubang tadi dilebarkan
sehingga bisa dimasuki tube tadi, setelah batu terlihat,
batu dipecahkan dengan getaran ultra dan pecahan batu
dikeluarkan melalui tube tadi sampai bersih. Lubang yang
terjadi di ginjal tidak dijahit, hanya dipasang kateter
sebagai nephrostomi sekaligus tamponade, biasanya dalam
waktu beberapa hari perdarahan berhenti dan nephrostomi
dicabut.
Pada batu multiple atau batu dirongga kaliks yang sempit
kadang-kadang batu tidak bisa bersih dan tertinggal (rest
stone). Batu sisa bisa dibersihkan dengan ESWL( Extra
corporeal Shock Ware Lithotripsy )
85
ESWL
( Extra corporeal Shock Ware Lithotripsy)

Adalah cara memecahkan batu ginjal dengan me


nembakkan gelombang kejut dari luar tubuh. Penderita
dalam tidur terlentang tanpa narkose, letak batu
ditentukan dengan pertolongan sinar rontgen atau USG
dan diperlihatkan di layar monitor. Setelah tepat
gelombang kejut tadi ditembakkan sehingga batu pecah
dalam partikel kecil-kecil yang dapat lewat ke ureter.
Untuk setiap kali pengerjaan paling besar batu dengan
diameter 2cm, sehingga kalu batu besar sekali (misalnya
batu staghorn) perlu beberapa kali pengerjaan. Cara ini
sebetulnya cara yang terbaik untuk pengeluaran batu
ginjal, walaupun biayanya lebih mahal, sehingga tidak
terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Kadang-
kadang ESWL dikombinasi dengan PCN bila terdapat batu
yang terlalu besar atau pecahannya terlalu besar sehingga
tidak bisa melewati ureter. Mula-mula ESWL hanya untuk
batu ginjal saja, tetapi sekarang bisa juga untuk batu
ureter proksimal dan distal, sdang untuk batu ureter
tengah sukar karena bayangan batu sering tertutup
bayangan tulang pelvis. Batu buli-buli bisa juga
dipecahkan dengan ESWL tetapi mengingat biaya yang
mahal, sebaiknya dilakukan Lithotripsy saja. Bila batu
ginjal lebih dari 2 cm, maka untuk menghindari pecahan
batu menyumbat sepanjang ureter (disebut stein strasse)
maka perlu dipasang kateter ureter yang ujung
proksimalnya melengkung di pielum dan ujung distalnya
melengkung di buli-buli (disebut Double J Stent) dengan
cara ini pecahan batu dapat lewat dan tidak terjadi
hidronefrose. Bila pecahan batu sudah keluar semua, alat
ini dikeluarkan dengan sitoskopi.
ESWL tidak boleh dikerjakan bila fungsi ginjal jelek,
ada obstruksi ureter dan pada orang hamil. Gelombang
kejut yang difokuskan untuk memecahkan batu ini waktu

86
melewati parenkhim ginjal juga bisa merusak sehingga
dikatakan fungsi ginjal akan menurun dan diharapkan
kembali normal lagi setelah 1-2 minggu. Oleh karema itu
pada ginjal yang fungsinya sudah jelek dan tidak
mengeluarkan urine tidak boleh dilakukan ESWL.
Komplikasi dari ESWL :
1. Gross hematuria, yang biasanya bisa hilang sendiri
setelah 2-3 hari.
2. Ureter kolik, bila pecahan batu lewat di ureter dan
masih besar.
3. Hidronefrose terjadi bila pecahan batu menyumbat
ureter.
4. Perirenal hematoma, bila terjadi pecahnya
pembuluh darah kecil-kecil disekitar ginjal. Hal ini
biasanya darah di reabsorpsi spontan dalam
beberapa minggu.

Ternyata alat ESWL bisa juga untuk memecah batu


empedu, walaupun pemakaian dan indikasinya tidak
sebanyak batu traktus urinarius.
Mula-mula alat ini dikembangkan di Jerman pada awal
dekade delapan puluhan oleh pabrik Dornier, sekarang
sudah banyak dibuat oleh negara lain seperti merk EDAP
(Perancis), Wolft dan Siemens (Jerman). Dan sekarang
bahkan sudah dibuat oleh Amerika Serikat, RRC, Israel
dan Turki.

87
HIDROKEL TESTIS

Hidrokel testis ialah penimbunan cairan serosa diantara


kedua lapisan tunika vaginalis testis yang melebihi normal dan
menyebabkan pembengkakan skrotum kronis.

Embriologis :
Testis terbentuk di rongga retroperitoneal, pada awal bulan ke
tiga kehamilan peritoneum menonjol keluar mengikuti
perjalanan gubernakulum testis melalui kanalis inguinalis
sampai di rongga skrotum. Penonjolan peritoneum ini di rongga
skrotum disebut prosesus vaginalis. Setelah bulan ke tujuh
terjadi penurunan testis melalui kanalis inguinalis ke skrotum.
Setelah lahir testis dilapisi tunika vaginalis lamina viseralis
yang menempel pada testis dan lamina parietalis di sebelah
luarnya. Dalam keadaan normal terdapat cairan serosa
beberapa ml diantara kedua lapisan lamina tsb.

Insidensi :
Pada bayi laki-laki baru lahir 6% menderita hidrokel
kongenital, yang sebagian akan hilang sendiri dalam waktu 1
tahun.
Penelitian di Afrika didapatkan angka 5 – 7,5% dari penderita
laki-laki yang dirawat dirumah sakit menderita hidrokel.
Tingginya angka ini mungkin disebabkan masih tingginya
infeksi ( epididimo-orchitis dan limphadenitis) serta banyaknya
infestasi parasit filaria.
Penelitian di RS dr. Kariadi Semarang selama 5 tahun (1987 –
1992) ditemukan 101 kasus dimana 15,8% kongenital dan
84,2% dapatan.
Hidrokel kanan 52%, kiri 34% dan bilateral 14%, mengenai
mengapa sisi kanan lebih banyak dari yang kiri belum
diketahui sebabnya.
Berdasarkan distribusi umur ternyata 34% berumur dibawah
10 tahun dan 66% lebih dari 10 tahun.

88
Patofisiologi :
Pada hidrokel kongenital terdapat hubungan antara rongga
intraperitoneal dengan rongga tunika vaginalis akibatnya
terjadi pengumpulan cairan hidrokel yang berasal dari cairan
intraperitoneal.
Pada hidrokel dapatan cairan serosa di sekresi oleh tunika
vaginalis dan diresorbsi oleh sistem vena dan limphe funikulus
spermatikus. Bila sekresi tidak seimbang dengan reabsorbsi
maka cairan akan terkumpul dan membentuk hidrokel.

Cairan hidrokel :
Cairan ini bersifat netral, serosa, bening, tidak berbau, berat
jenis (BJ) : 1.010 – 1.025
Komposisinya yaitu air, sel endotel, lekosit, kristal kolesterin,
protein, elektrolit dan fibrinogen. Bila ada hubungan dengan
tubulus seminiferus bisa terdapat spermatozoa didalamnya.

Derajat :
Secara klinis belum manifes :
Derajat I : Pembengkakan funikulus spermatikus
Derajat II : Hidrokel kecil, sukar diraba cairan
Panjang s/d 6 cm
Secara klinis sudah manifes :
Derajat III : Panjang hidrokel 6 – 8 cm
Derajat IV : Panjang hidrokel 8 – 11 cm
Derajat V : Panjang hidrokel 11 – 15 cm
Derajat VI : Panjang hidrokel > 15 cm

Gejala ( Symptom ) :
Terasa berat, makin besar hidrokel makin berat, terutama bila
berdiri atau habis olah raga.
Kadang-kadang terasa kemeng /nyeri yang tidak khas.
Benjolan tidak dapat hilang waktu tiduran dan tidak tambah
besar bila berdiri atau mengejan.

89
Tanda (sign) :
Pada pemeriksaan kita lihat skrotum membesar, kulitnya
mengkilat dan warna kulit sama dengan sekitarnya.
Bentuk pembesaran skrotum cukup khas yaitu bagian kranial
kecil dan bagian kaudal membesar disebut “Pear shaped
appearance”.
Pada palpasi bisa lunak, elastis sampai tegang tergantung isi
cairan hidrokel didalamnya. Terdapat fluktuasi dan tidak
dapat direposisi kedalam rongga abdomen, dan testis biasanya
tidak teraba. Pada waktu penderita disuruh mengejan,
benjolan tidak bertambah besar.
Pada perkusi pekak dan auskultasi tidak ada bising usus.
Pemeriksaan diafanoskopi (transiluminasi) hasilnya positif,
yaitu cahaya diteruskan melewati hidrokel.
Kadang-kadang didapatkan diafanoskopi negatif palsu
(false negatif) yaitu bila cairan hidrokel keruh, dinding tebal,
terdapat adhesi tunika vaginalis dan hidrokel multilokuler.
Dapat juga positif palsu (false positive) yaitu Hernia pada
anak, tumor testis yang memproduksi cairan dan kista
hidatidosa.

Etiologi hidrokel :
1. Kongenital
Terjadi akibat tidak adanya obliterasi prosesus
vaginalis sehingga cairan intraperitoneal mengalir ke
tunika vaginalis melalui lubang penghubung tersebut. Bila
lubang penghubung kecil, maka hanya cairan
intraperitoneal yang lewat sehingga terjadi hidrokel, bila
lubangnya besar, maka yang lewat bisa omentum dan atau
usus sehingga terjadi hernia skrotalis.

2. Trauma
Akibat trauma pada skrotum dapat terjadi hematokel,
kemudian eritrosit mengalami lisis dan diresorbsi maka
akan tertinggal cairan berwarna kuning.

90
3. Infeksi epididimo-orchitis
Biasanya oleh karena kuman gonokoken, tetapi bisa juga
oleh karena kuman lain misalnya kuman TBC.
Akibat infeksi maka terjadi hipersekresi sel-sel endotel dan
sehingga terkumpul cairan di cavum tunika vaginalis.

4. Keganasan
Tumor ganas dari testis dapat menyebabkan sekresi cairan
sero-hemoragis yang terkumpul di cavum tunika vaginalis.

5. Filaria
Filariasis oleh wucheria Bancrofti akan menyebabkan
reaksi alergi dan terbentuk jaringan ikat serta kolagen
dipembuluh dan kelenjar limphe. Akibatnya pembuluh
limphe disebelah distalnya membesar dan bisa pecah,
sehingga cairan limphe terkumpul di cavum tunika
vaginalis. Bila prosesnya di limphonodi inguinalis
superfisialisis maka terjadi elefantiasis skroti. Bila yang
terkena limphonodi inguinalis profunda maka terjadi
hidrokel testis.

6. Sumbatan limphe dan vena


Akibat adanya sumbatan limphe dan vena oleh proses lain
diluar filariasis (mis ; limphadenitis banal), maka dapat
berakibat seperti pada filariasis.

7. Idiopatik
Disini penyebabnya tidak diketahui, tetapi yang jelas
resorbsi di funikulus spermatikus kurang baik, sehingga
cairan sekresi tertimbun di cavum tunika vaginalis.

Komplikasi :
Bila suatu hidrokel sangat tengang, maka dapat menekan
arteri dan vena testikularis, sehingga terjadi atropi testis
dengan akibat gangguan spermatogenesis.

91
Pada suatu hidrokel yang mengalami infeksi baik hematogen
atau perkontinuitatumdapat berubah menjadi piokel. Piokel
ini dapat menyebabkan orchitis dan abses testis.
Trauma pada hidrokel dapat menimbulkan perdarahan dan
disebut hematokel.

Pengobatan

1. Pada hidrokel kongenital


Observasi sampai umur 1 tahun, biasanya bisa hilang
spontan. Bila pada observasi hidrokelnya bertambah besar,
maka perlu tindakan operasi hidrokelektomi dan lipari
saluran tunika vaginalis dari intra peritoneal.

2. Pada hidrokel dapatan yang kecil dan tidak


mengganggu mungkin tidak perlu diterapi, tetapi apabila
mengganggu kehidupan sehari-hari maka aperlu tindakan
operasi.

3. Pungsi dan aspirasi walaupun mungkin ada


manfaatnya, tetapi sangat berbahaya oleh karena
memasukkan kuman, sehingga menjadi piokel dan orchitis.
Oleh karena itu sebaiknya tidak dikerjakan.

4. Skleroterapi.
Setelah cairan dikeluarkan dengan pungsi aspirasi
kedalamnya dimasukkan bahan skleroterapi mis : Quinine,
larutan urethane, sodium morhuate, glukose 50% dll.
Cara ini jarang dikerjakan oleh karena hasilnya belum
tentu baik.

5. Operasi
Prinsip operasi hidrokel yaitu :
a. Menghilangkan cairan
b. Mengurangi produksi cairan
c. Memperbaiki resorbsi

92
Dengan kata lain membuat keseimbangan antara produksi
dan resorbsi cairan.

Contoh metoda operasi :


A. Metoda Lord
Setelah tunika vaginalis dibuka, permukaan tunika
vaginalis diperkecil dengan dijahitkan berlipat-lipat
(dilakukan plikasi), sehingga produksi cairan
berkurang.

B. Metoda Window.
Yaitu dengan membuat lubang jendela pada tunika
vaginalis sehingga produksi cairan yang dihasilkan
akan mengalir ke sub kutis dimana resorbsinya lebih
baik.

C. Bergman – Winkelmann
Merupakan cara – cara standard yaitu dengan eksisi
tunika vaginalis dan dibuang, sisanya dibalik dan
dijahitkan kebelakang. Cara ini paling baik karena
produksi cairan berkurang akibat eksisi tadi dan kalau
masih ada produksinya akan mudah diresorbsi karena
setelah dibalik, maka akan menghadap subkutis yang
resorbsinya lebih baik.

93
PENGELOLAAN DISFUNGSI EREKSI

Oleh : Rifki Muslim


Bag. Bedah Urologi FK UNDIP
RS. Dr. Kariadi Semarang

I. Pendahuluan
Disfungsi seksual laki-laki terdiri atas :
1. Gangguan dorongan seksual
- Penurunan libido
- Kenaikan libido
2. Disfungsi ereksi (DE) impotensi
3. Gangguan ejakulasi
- Ejakulasi dini
- Ejakulasi lambat
- Ejakulasi retrograde
4. Disfungsi orgasme tidak bias puas.

Disfungsi seksual laki-laki dan disfungsi seksual wanita me


nyebabkan gangguan kehidupan seksual perkawinan, berakibat
terganggunya keharmonisan perkawinan.
Keharmonisan perkawinan faktornya antara lain :
- Kecocokan pasangan
- Kesamaan pandangan hidup
- Keharmonisan hubungan keluarga
- Lingkungan yang kondusif
- Tak ada problem ekonomi
- Kehidupan seksual
Kehidupan seksual dalam keluarga mempunyai 4 dimensi :
1. Prokreasi
2. Rekreasi
3. Relasi
4. Institusi

II. Frekwensi
Diantara disfungsi seksual yang paling banyak berupa ejakulasi
dini (20% - 30%) diikuti DE sebanyak 10% - 15% dan seterusnya.
Pada penelitian di Amerika didapat hasil sebagai berikut :

94
Tabel 1. Disfungsi Seksual laki-laki

Jenis Jumlah (%)


Ejakulasi dini 28,5
Disfungsi ereksi (DE) 17,0
Libido kurang 15,8
Kurang menikmati 8,1

Disamping disfungs seksual laki-laki terdapat pula disfungs ereksi


wanita yang ternyata jumlahnya cukup banyak yaitu diderita
25-50% wanita menikah. Disfungsi seksual wanita bisa
dikelompokkan sebagai berikut :

Tabel 2. Disfungsi seksual wanita

Jenis Jumlah(%)
Gangguan orgasme :
- Tidak pernah puas 55,7
- Jarang 12,7
Rasa sakit :
- Dyspareunia 2,6
- vaginismus 1,2
Libido turun 2,9
Gangguan bangkitan seksual -

III. Disfungsi Ereksi


Jumlah disfungsi ereksi (DE) di dunia ternyata makin banyak.
Hal ini bias kita lihat dari penelitian di Eropa tahun 195
terdapat 31 juta kasus dan angka ini naik sehingga pada tahun
2025 diperkirakan 43 juta orang. Diseluruh dunia diperkirakan
jumlah orang yang DE pada tahun 1995 ada 152 juta orang dan
akan menjadi 322 juta pada tahun 2025. Di Italy pada laki-laki
berumur 39 tahun yang menderita DE 2% sedangkan pada umur
70 tahun menjadi 48%. Di Amerika pada penelitian didapat
cukup banyak penderita DE seperti dapat kita lihat table
dibawah ini.

95
Tabel 3. DE dan Tingkatannya

Umur (th) DE (%)


40-70 52 %: - 1 ringan
- 25 sedang
- 10 kuat
>70 66 %: - 17 ringan
- 34 sedang
- 15 berat

IV. Patogenesa
Secara garis besar impotensi dibagi dua, yaitu :
1. Impotensi primer, yaitu tidak bias ereksi sejak kecil. Hal ini
bisa disebabkan problem berat sejak kecil atau ada kelainan
organik.
2. Impotensi sekunder, yaitu dimana sebelumnya bisa ereksi
dengan baik.

Penyebab Impotensi

I. Psikis
Dulu dianggap 90% penyebab impotensi, sekarang dianggap 50%,
sedang sisanya sebab organic.

II. Organik
1. Gangguan endokrin 4-35%
Terjad akibat rendahnya kadar testosteron akibat produksi
yang terganggu.
2. Diabetes Mellitus
Pada Diabetes Mellitus buat terjadi impotensi 50% (ringan
sampai kuat). Hal ini disebabkan terjadinya atherosclerosis
maupun neuropathy diabeticum. Bila Diabetes Mellitus terjadi
pada orang muda kemungkinan impotensinya 25%, bila pada
orang tua 75%.

96
3. Neurogenik
Yaitu bila terjadi kerusakan saraf pusat, misalnya tumor /
trauma medula spinalis atau kerusakan saraf tepi akibat
operasi di dalam rongga panggul.
4. Vaskuler
Adanya oklusi , atherosclerosis atau emboli pada arteri yang
menuju penis (a. pudenda interna, dll) akan menyebabkan
pengisian corpus cavernosum terganggu sehingga impoten.
Bila ada kerusakan katup vena yang dari dalam penis maka
walaupun corpora dalam penis terisi darah maka akan segera
kempis lagi karena rusaknya katup vena tersebut.
5. Gangguan Fungsi Ginjal
Dengan menurunnya fungsi ginjal maka bias menimbulkan
DE dan pada penderita CRF (Chronic Renal Failure) yang
menglami hemodialisa terus menerus, maka 50% mengalami
DE yang disebabkan produksi testosteron turun, kerusakan
vaskuler, obat-obatan maupun psikis.
6. Obat
Obat yang menyebabkan DE 25%, yaitu alkohol, antihipertensi
(metildopa, klonidin, reserpin, beta blocker dan spironolakton),
anti depresan tertentu, tranquilizer, hipnotik, estrogen, anti
androgen (simetidin, ketokonazol, siproteron asetat),
narkotika, marijuana dan opium.
7. Merokok
Bisa menimbulkan vasokonstriksi dan kebocoran katup vena.

III. Pengobatan
1. Lini pertama
a. Psikoterapi
Termasuk disini hipnoterapi dan seks terapi
b. Medikamentosa / peroral
- Testosteron (efektivitas kurang)
- Yokimbin (dosis 3 x 6 mg – hasil baik 62 %)
- Trazadone, suatu antidepresan (hasil baik 24 – 42%)
- Pentoksifilin (dosis 2 x 400 mg perhari – hasil kurang
baik)
- Sildenafilsitrat (Viagra)
(dosis 25 mg – hasil baik 63 %, dosis 100 mg – hasil baik
82%), gairah seksual tak terpengaruh. Efek samping :
headache 16%, mabuk 10%, dispepsi 7%, penglihatan

97
kabur 3%. Hati – hati bila ada penyakit jantung, hepar
dan ginjal bisa menimbulkan kematian. Tidak
boleh diberikan bersama eritromisin, ketokonazol dan
itrakonazol.
- Fitofarmaka
Beberapa tanaman yang punya khasiat seksual dan
secara tradisional dipakai antara lain :
- Ginseng, menambah kesegaran tubuh
- Eurycomae zadix (pasak bumi, tongkat ali);
merangsang pengeluaran androgen hormon,
mempunyai efek aprodisiak (gairah dan nafsu seks)
- Jamur ganoderma; meningkatkan stamina
c. Alat vakum

2. Lini kedua
Yang termasuk disini yaitu medikamentosa yang disuntikkan
maupun dimasukkan uretra.
- Dimasukkan dalam corpus cavernosum penis, yaitu HCl
papaverin fentolamin, alpostadil – suatu prostaglandin E1
(caver ject), dll.
- Dimasukkan dalam uretra sebelum koitus. Yaitu jenis
fosfodiesterase inhibitor hasil baik 64 – 66%. Efek
sampingnya yaitu sakit pada penis 21%, penis rasa
terbakar 7%, penyakit peyzone 1,7% dan priapismus 1%.
Nama dagang MUSE.
- Suntikan IM / SC
Bisa dipakai hormon testosteron, LHRH atau HCG.
Bahayanya bisa menimbulkan retensi air dan elektrolit,
priapismus, prostat hiperplasi dan karsinoma prostat.

3. Lini Ketiga
Pilihan terakhir bagi penderita impoten yaitu pemasangan
protesa penis (operasi)

IV. Pencegahan

1. Pendidikan / informasi seksualitas yang benar


2. Hindari problem psikis
3. Pelihara kesehatan tubuh agar tetap segar
4. Bina hubungan harmonis dengan keluarga

98
5. Jangan menkonsumsi obat, bahan kimia, jamu tanpa indikasi
dan petunjuk ilmiah yang jelas
6. Jangan malu membicarakan problem seksual dengan suami /
istri
7. Hindari hubungan seks ekstra marital.

99
VASEKTOMI

Vasektomi adalah metoda kontrasepsi mantap dengan cara


memotong dan melipasi vasdeferens, dengan tujuan utama
keluarga berencana. Dulu cara ini bersifat permanen
(Irreversibel), tetapi dengan kemajuan bedah mikroskopik
pasca vasektomi dapat disambung lagi dengan hasil cukup
baik.

I. Syarat-syarat calon akseptor vasektomi :


1. Sehat jasmani baik rohani maupun rohani
2. Persetujuan dari istri
3. Dilakukan atas dasar sukarela
4. Calon akseptor harus mempunyai keluarga yang sah dan
harmonis.
5. Telah dikaruniai anak paling sedikit 2 orang dan yang
paling kecil umur >2 tahun dan umur istri lebih 35
tahun.
6. Sebelum mengambil keputusan calon akseptor berhak
mengetahui tentang vasektomi.

II. Indikasi :
Tidak dikehendaki lagi mempunyai anak secara permanen.
Dahulu bertujuan untuk :
1. Mencegah menjalarnya penyakit ke epididi mis
2. Mensterilkan penderita dengan penyakit ingatan atau
penjahat tidak mendapatkan keturunan.
3. Meremajakan manula.

III. Kontra Indikasi :


1. Kontra indikasi mutlak tidak ada
2. Kontra indikasi relatif :
a. Terdapat peradangan kulit atau penyakit jamur
didaerah skrotum.

100
b. Bila terdapat kelainan hernia, varikokel, hidrokel
sebaiknya dilakukan perbaikan dahulu sebelum
vasektomi.
c. Filariasis genetalia eksterna.
d. Penyakit DM tak terkontrol.
e. Kelainan pembekuan darah.

TEHNIK VASEKTOMI KONVENSIONAL


I. 1. Bahan – bahan
- 2 buah karet gelang
- Sarung tangan steril 2 pasang
- Syringe lengkap dengan jarum, 5 dan 10ml.
- Larutan desinfektan : - Klorheksidin 4 %
- Povidon Iodine 10 %
- Deppers steril 5-10 buah.
- Kassa steril 5-10 buah.
- Benang catgut 3/0
- Benang sutera 3/0
- Prokain 1% atau lidocain injetie.
- Larutan aquadest steril
- Plester.

2. Instrumen.
- Doek klem : 2 buah
- Skalpel dengan pisau no 10 : 1 buah
- Pinset anatomis : 2 buah
- Pinset chirrugie : 2 buah
- Klem lurus/bengkok : 6 buah
- Gunting lurus : 1 buah
- Needle holder : 1 buah
- jarum tajam : 1 buah
- Jarum bulat : 1 buah

3. Linen set terdiri dari :


- Baju operasi 2 buah

101
- Topi dan masker 2 buah
- Baju khusus untuk akseptor
- Doek lubang steril berukuran 60 x 80 cm
- Tutup meja steril
II. Persiapan operasi.

1. Persetujuan operasi dari istri


2. Penderita : - Mandi bersih
- Cukur rambut daerah skrotum (< 6 jam)
- Pakai celana bersih
3. Keklinik sebaiknya dengan pengantar
4. Sampai di klinik lapor petugas
5. Sebelum operasi penderita ganti baju khusus.

III. Teknik operasi

1. Penderita berbaring di meja operasi


2. Asisten menyiapkan keperluan operasi
3. Operator memeriksa keadaan penderita
4. Gelang karet dipasang di belakang gland penis,
ujung karet dibawa kekranial dan di klem ke baju
operator.
5. Operator dengan baju steril melakukan desinfeksi
pada lapangan operasi.
6. Lapangan operasi ditutup doek lubang steril
sehingga hanya skrotum yang tampak.
7. Operator disebelah kanan menggunakan tangan kiri
dengan sistem 3 jari : jari tengah dibawah kulit
skrotum, ibu jari diatas kulit skrotum mencari vas
deferens dan funikulus kiri membawanya kemedial
sampai 1-2 cm para raphe, jari telunjuk
meregangkan kulit skrotum sehingga rata.
8. Operator melakukan anestesi local dengan tangan
kanan, 1-2 cc prokain diinfiltrasikan diantara ibu
jari dan telunjuk tangan kiri sepanjang 3 cm,
kemudian jarum ditusukkan kearah anulus

102
inguinalis eksterna dan diinfiltrasikan 1-2 cc
prokain.
9. Fiksasi vas deferens didaerah kulit yang telah
dianestesi dengan memasang 2 buah doek klem
berjarak kurang lebih 2 cm sehingga hanya kulit
dan vas yang berada dilingkungan doek klem.
10. Sayatan kulit longitudinal 1-2 cm sampai mendekati
vas deferens kemudian vas dipegang dengan klem
chirurgic. Selanjutnya vas deferens disiangi
sehingga fascia dapat disisihkan dan vas berwarna
putih mengkilap. Pembebasan ini kurang lebih 2 cm
dan perdarahan dirawat.
11. Vas deferens yang telanjang dijepit diantara 2 klem
berjarak 2 cm, vas dipotong diantara 2 klem dan
ujungnya diikat dengan cara order binding dengan
sutera 3/0, benang diangkat keproksimal untuk cek
perdarahan, bila tenang benang yang proksimal
dipotong. Benang distal untuk melakukan
interposisi.
12. Lakukan interposisi dengan menggunakan sarung
untuk mencegah terjadinya rekanalisasi spontan
dengan cara : vaas proksimal dmasukkan kedalam
sarung vas dengan menarik benang pengikat vas ke
proksimal dan jahit sarung vas dengan catgut 3/0
dan vas distal berada diluar sarung vas kemudian
potong benang.
13. Tutup sayatan kulit 2 buah dengan catgut 3/0 dan
dilakukan yang sama pada vas deferens
kontralateral.

IV. Komplikasi
1. Perdarahan
2. Hematom
3. Infeksi
4. Granuloma sperma
5. Antibodi sperma
6. Abses punting vas deferens
103
7. Kegagalan

V. Perawatan dan Pemerikasaan Pasca Bedah

1. Berbaring selama 15 menit dan awasi rasa nyeri dan


perdarahan pada luka.
2. Dianjurkan pada pasien agar :
- Luka jangan sampai kena air sebelum sembuh
- Makan obat antibiotic profilaktik dan analgetik yang
diberikan
- Cepat kembali jika luka berdarah, rasa nyeri yang
badan panas dan mual
- Jangan bekerja berat
- Setelah vasektomi diperbolehkan dan bahkan
dianjurkan hubungan seksual dengan memakai
kondom

TEHNIK OPERASI VASEKTOMI TANPA PISAU (VTP)

Fiksasi vas deferens dengan 3 jari.


1. Vas deferens sebelah kanan.
a. Tentukan titik pada garis tengah skrotum 1 cm dibawah
penoskrotal.
b. Sisipkan jari tengah tangan kiri kebawah skrotum dari
sisi kanan.
c. Dengan menggaet kearah permukaan oleh jari tengah
dari bawah skrotum dan meraba dari atas dengan ibu
jari, akan teraba vas deferens sebagai jaringan liat
memanjang
d. Fiksir vas diantara jari tengah dibawah skrotum, ibu jari
dikaudal, jari telunjuk dikranial pada permukaan pada
titik yang telah ditetapkan.

104
2. Vas deferens kiri
a. Sisipkan jari tengah tangan kiri kebawah skrotum dari
arah kiri akseptor untuk mengenali dan fiksasi vas
deferens kiri.
b. Selanjutnya sama dengan 3d dan 3c diatas.

Tindakan pada vas deferens kanan :

1. Fiksasi dengan klem fiksasi dengan tehnik 3 jari


2. Pungsi kulit
3. Pembukaan kulit dan sheat
4. Mengungkit vas deferens
5. Fiksasi vas deferens dengan klem fiksasi
6. Pembebasan vas deferens dengan jaringan sekitarnya
7. Ligasi dan pemotongan vas deferens
8. Interposisi vas deferens

Tindakan pada vas deferens kiri :

1. Untuk memegang vas tangan kiri operator memegang dari


kiri penderita
2. Kulit tidak ussah dipungsi lagi
3. Pungsi langsung pada sarung vas deferens kiri
4. Selanjutnya sama dengan sebelah kanan

Kegagalan Vasektomi
Kegagalannya 0,3 – 1,2 % yang disebabkan oleh :
1. Rekanalisasi spontan
2. Salah potong, bukan vas deferens tapi vena
3. Kelainan bawaan misalnya vas deferensnya 2 buah

REKANALISASI

Rekanalisasi adalah operasi penyambungan kemba li vas


deferens yang telah dilakukan vasektomi.
105
Caranya dengan :- memotong ujung – ujung vas
deferens yang diikat.
- Ditest potensi yang distal dengan
menekan epididimis maka akan keluar
cairan putih
- Disambung end to end anastomose
dengan jahitan benang monofilament 6-
0, kalau bisa 2 lapis, paling tidak satu
lapis, secara nicrosurgery.

Keberhasilan :- Potensi duktus vas deferens 95 %


- Istri hamil 60 – 70 %

FATWA MUI PUSAT 1993

Vasektomi haram hukumnya.


Alasan : merusak secara permanen ciptaan Allah SWT.
Sekarang dengan adanya tehnik microsurgery dan angka
keberhasilan rekanalisasi maka mestinya tidak haram lagi.

106