Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS KADAR KARBOHIDRAT SAGU YANG DIKONSUMSI

MASYARAKAT

Di Susun Oleh:

Opan Sopian Efendi (J1B212104)

Dewi Listiani (J1B212035)

Sri Karniatik (J1B212131)

Taeran (J1B013113)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI

UNIVERSITAS MATARAM

2017
DAFTAR ISI
Daftar Isi……………………………………………………………………………..i

Ringkasan…………………………………………………………………………….ii

Pendahuluan …………………………………………………………………………1

Latar Belakang…………………………………………………………………...1

Tujuan ……………………………………………………………………………2

Manfaat……………………………………………………………………………3

Gagasan ………………………………………………………………………………3

Kesimpulan ……………………………………………………………………….....8

Daftar Pustaka………………………………………………………………………..9
RINGKASAN

Sagu (Metroxylon sagu Rottb) merupakan tanaman penghasil pati


yang sangat potensial namun pemanfaatannya masih sangat terbatas. Tanaman sagu
banyak dijumpai di Indonesia khususnya di daerah Indonesia bagian timur.
Sagu merupakan bahan makanan yang menjadi makanan pokok masyarakat
Maluku, Papua, Mentawai, dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Sagu mengandung karbohidrat yang cukup tinggi sehingga dapat


menjadi bahan pangan pengganti beras untuk kedepannya. Sampai sekarang
masih banyak masyarakat pedalaman di Indonesia mengkonsumsi sagu sebagai
makanan pokok. Tanaman sagu memiliki peranan yang sangat penting dalam
mengatasi kekurangan pangan nasional dan dapat mengurangi ketergantungan
masyarakat terhadap beras sebagai makannan pokoknya. Kandungan kalori dan gizi
sagu tidak kalah dengan sumber pangan lainnya. Oleh karena itu, mambangun
ketahanan pangan nasional untuk kedepannya sagu dapat menjadi jalan keluar dalam
mengatasi masalah tersebut (Bintoro,et al., 2010).
PENDAHULUAN

1.1 latar belakang


Bahan pangan sumber karbohidrat merupakan prioritas pertama, selain
sebagai sumber energi utama, juga dapat menghasilkan rasa lapar dengan
segera dan mendatangkan rasa puas setelah mengkonsumsinya dalam jumlah
yang cukup (Handajani, 1996).Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsiutama
karbohidrat adalah penghasil energi di dalam tubuh. Jenis karbohidrat yang
merupakan sumber utama bahan makanan yang umum dikomsumsi oleh
manusia adalah pati (strach). Yang termasuk golongan pati adalah semua bahan
pangan pokok di Indonesia khususnya dan di ASEAN pada umumnya;
misalnya: beras, jagung, Biopendix, 1 (1), 2014 60 gandum, ketela, sagu dan
lain-lain (Handajani, 1996).
Di daerah kita Maluku, sagu merupakan sumber pangan penghasil pati
terbaik yang daerah kita miliki dan dapat menjadi bahan pangan pokok
pengganti beras. Pohon sagu tumbuh pada habitat yang dekat dengan sumber
air, misalnya rawa atau sungai.Pati sagu memiliki kadar karbohidrat yang lebih
tinggi dari beras yaitu 80.35-85.90% yang dapat diolah menjadi berbagai bahan
makanan seperti papeda dan juga bahan baku industri.Tanaman sagu di Maluku
beragam jenisnya, dan ada 5 jenis sagu yang memiliki nilai ekonomis yang
tinggi yaitu Sagu Tuni, Sagu Ihur, Sagu Molat, Sagu Makanaru dan Sagu Duri
Rotan. Namun Sagu Tuni, Sagu Ihur, dan Sagu Molat yang lebih banyak
dikonsumsi oleh masyarakat setempat (Papilaya, 2009).
Masyarakat mengkonsumsi tepung sagu berdasarkan jenis sagu yang
tumbuh di tempat tinggal mereka. Hal ini menyebabkan jenis sagu yang
dikonsumsi masyarakat berlainan jenis antara daerah yang satu dengan yang
lainnya. Selain itu, masing-masing jenis sagu ini menghasilkan tepung sagu
yang memiliki ciri, kuantitas dan kualitas yang berbeda-beda. Selain sebagai
bahan pangan, pati sagu juga digunakan sebagai bahan dasar industri, antara
lain alcohol, industri tekstil, dan industri lem untuk plywood.Bahkan seluruh
bagian tanaman sagu sebenarnya dapat dimanfaatkan, khususnya di wilayah
Maluku (Papilaya, 2009).
Umumnya teknologi pengolahan pohon sagu menjadi pati sagu, di
Indonesia masih dilakukan secara tradisional dan hanya beberapa daerah seperti
Riau, Jambi dan Sumatra Selatan yang menggunakan cara semi mekanis dalam
mengekstraksi pati sagu. Pengolahan empulur pohon sagu secara tradisional
menghasilkan pati sagu bermutu lebih rendah dibandingkan dengan pengolahan
secara semi mekanis dan mekanis, padahal komoditi pati sagu juga dapat
dijadikan komoditi ekspor. Negara pengimpor membutuhkan puluhan ribu ton
pati sagu tiap-tiap tahunnya untuk dibuat sirup glukosa, sirup fruktosa, sorbitol
dan lain-lain.
1.2. MANFAAT

Pati sagu dalam industri digunakan sebagai bahan perekat. Pati sagu juga
dapat diolah menjadi alcohol. Alcohol dapat digunakan untuk campuran bahan
bakar mobil, spirtus, dan campuran lilin untuk penerangan rumah. Alcohol juga
dapat digunakan dalam bidang kedokteran, industri kimia, dan sebagainya. Pati
sagu dapat juga digunakan untuk makanan ternak, bahan pengisi dalam industri
plastik, diolah menjadi protein sel tunggal, dekstrin ataupun Siklodekstrin untuk
industri pangan, kosmetik, farmasi, pestisida, Selain itu sagu juga Dapat
memberikan efek mengenyangkan, tetapi tidak menyebabkan gemuk,
Mencegah sembelit serta dapat mencegah risiko kanker usus, dan
Tidak cepat meningkatkan kadar glukosa dalam darah (indeks glikemik rendah)
sehingga. Selain itu, konon ulat sagu ini dipercaya dapat menjaga stamina kita
dalam melakukan rutinitas kita sehari-hari.

1.3. GAGASAN

Pohon sagu memiliki multi fungsi dan memberikan keuntungan bagi dunia
dan masyarakat peramu sagu. Tak dapat diragukan akan keuntungan dari pohon
sagu. Oleh sebab itu, pohon sagu harus dibudidayakan karena pohon sagu
memiliki nilai yang tinggi. Bagi orang Sentani/masyarakat peramu sagu, serta
pada umumnya untuk dunia pohon sagu harus dibudidayakan karena memiliki
multi fungsi.
Sagu (pati sagu) adalah salah satu makanan pokok beberapa daerah di Indonesia
timur (Papua, Maluku, Sulawesi Utara, dan sejumlah daerah di Nusa Tenggara).
Konsumsi sagu sebagai makanan pokok antara lain dalam bentuk makanan
tradisional, seperti papeda, kapurung, dan sagu bakar.
Saat ini, sekitar 30 persen masyarakat Maluku dan Papua masih menggunakan
sagu sebagai makanan pokok dalam menu sehari-harinya, 50 persen
menggunakan menu sagu dan umbi-umbian, sedangkan sisanya, terutama yang
berada di daerah perkotaan, sudah beralih ke beras.
Banyak jenis tanaman sagu yang dapat menghasilkan tepung sagu dan tersebar
di beberapa wilayah di Indonesia, di antaranya Kepulauan Maluku, Papua,
Mentawai, Riau, dan Sumatera. Di Riau juga dijumpai sagu yang dikonsumsi
masyarakat dalam bentuk butiran yang dikenal dengan nama sagu rendang serta
dalam bentuk olahan lain, seperti kue bangkit, laksa sagu, dan sagu embel.
Selain sebagai makanan pokok, sagu mempunyai prospek yang baik sebagai
salah satu sumber utama pangan murah. Pengembangan produk baru dengan
komponen utama sagu yang sesuai dengan selera masyarakat diharapkan dapat
menjadi pangan sumber karbohidrat siap konsumsi, seperti tepung kering dan
mi, sehingga dapat membantu upaya percepatan penganekaragaman pangan
yang sedang kita galakkan. Tepung sagu kaya dengan karbohidrat (pati) namun
sangat miskin gizi lainnya. Ini terjadi akibat kandungan tinggi pati di dalam
teras batang maupun proses pemanenannya.Seratus gram sagu kering setara
dengan 355 kalori. Di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0,2
gram protein, 0,5 gram serat, 10mg kalsium, 1,2mg besi, dan lemak, karoten,
tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil.Untuk manfaat kandungan
gizi dari ulat sagu itu sendiri, ditiap 100gr ulat sagu mentah yang akan dimasak
mengandung protein sekitar 9,34%, juga terdapat beberapa kandungan asam
amino esensial, seperti asam aspartat (1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin
(1,87%), lisin (1,97%), dan methionin (1,07%). Ulat sagu juga ini bisa kita
jadikan alternative lauk makanan yang bebas dari kolestrol, sangat baik untuk
tubuh kita.
Sagu memiliki potensi yang paling besar untuk digunakan sebagai
pengganti beras. Keuntungan sagu dibandingkan dengan sumber karbohidrat
lainnya adalah tanaman sagu atau hutan sagu sudah siap dipanen bila
diinginkan. Pohon sagu dapat tumbuh dengan baik di rawa-rawa dan pasang
surut, dimana tanaman penghasil karbohidrat lainnya sukar tumbuh. Syarat-
syarat agronominya juga lebih sederhana dibandingkan tanaman lainnya dan
pemanenannya tidak tergantung musim.
Sebagai sumber pati, sagu mempunyai peranan penting sebagai bahan
pangan. Pemanfaatan sagu sebagai bahan pangan tradisional sudah sejak lama
dikenal oleh penduduk di daerah penghasil sagu, baik di Indonesia maupun di
luar negeri seperti Papua Nugini dan Malaysia. Produk-produk makanan sagu
tradisional dikenal dengan nama papeda, sagu lempeng, buburnee, sagu
tutupala, sagu uha, sinoli, bagea, dan sebagainya. Sagu juga digunakan untuk
bahan pangan yang lebih komersial seperti roti, biskuit, mie, sohun, kerupuk,
hunkue, bihun, dan sebagainya.
Ciri-ciri pohon sagu yang kandungan patinya mencapai maksimum dan
siap untuk dipanen adalah apabila pangkal daun yang terletak di sebelah bawah
pelepah daun berwarna kelabu biru). Daun merupakan bagian sagu yang
peranannya sangat penting karena merupakan tempat pembentukan pati melalui
proses fotosintesis.
Apabila pertumbuhan dan perkembangan daun berlangsung dengan baik,
maka secara keseluruhan pertumbuhan dan perkembangan organ lain seperti
batang, kulit dan empulur akan berlangsung dengan baik pula dan proses
pembentukan pati dari daun yang kemudian disimpan di dalam batang sagu
akan berlangsung secara optimal. Palma sagu (Metroxylon sp.) dalam botani
sagu digolongkan menjadi dua, yaitu palma sagu yang berbunga dua kali atau
lebih (pleonanthic) dan palma sagu yang berbunga hanya sekali (hapaxanthic).
Kedua golongan palma sagu tersebut adalah sebagai berikut :

a. Pohon sagu yang berbunga hanya satu kali selama hidupnya terdiri dari :
(1). Metroxylon longispinum MART, terdapat di Maluku. Jenis ini kurang
disukai karena produksi tepungnya rendah sekitar 200 kg tiap pohon.
Pohon sagu tersebut dikenal dengan sagu merah (red sago) atau sagu
“makanaru”. Patinya tidak enak, walaupun dapat dimakan.
(2). Metroxylon microcanthum MART, sagu ini dikenal dengan sagu rotan
dan terdapat di daerah Maluku dan Pulau Seram. Tepungnya kurang
disukai.
(3). Metroxylon rumphii MART, sagu ini dikenal dengan nama sagu “tuni”
atau “lapia tuni” di Ambon. Tiap pohon dapat menghasilkan 500 kg
tepung sagu dan tepungnya enak. Spesies ini paling komersil dan paling
banyak tumbuh di Indonesia.
(4). Metroxylon sagu ROTT, jenis tanaman ini banyak dijumpai di
kepulauan Riau. Tiap pohon dapat menghasilkan 200 kg tepung sagu.
Tepung ini juga paling disukai dan mempunyai sebutan sagu perempuan
atau sagu “molat” (lapia mulat).
(5). Metroxylon Sylvester MART, tepung sagu dari jenis ini kurang disukai
dan kurang enak. Pohon sagu jenis ini banyak terdapat di Halmahera
dan mempunyai nama lain sagu “ihur”.
b. Pohon sagu yang berbunga lebih dari satu kali selama hidupnya. Tepung
sagunya kurang disukai dan kandungan karbohidratnya rendah. Jenis sagu
ini ialah Metroxylon filare dan Metroxylon elatum.
c. Masyarakat Irian Jaya mengenal ciri-ciri pohon sagu yang siap dipanen
berdasarkan pelepah daun yang menjadi pendek bila dibandingkan dengan
pelepah sebelumnya. Tanda kedua adalah kuncup bunga mulai tampak dan
puncuk pohon mendatar bila dibandingkan pohon sagu yang lebih muda.
Untuk memastikan bahwa sagu telah mengandung pati yang cukup banyak,
ada juga yang melakukan pengujian dengan melubangi batang sagu kira-kira
satu meter di atas tanah. Kemudian diambil empulurnya dan dikunyah serta
diperas. Apabila air perasannya keruh berarti kandungan patinya sudah
cukup dan pohon siap dipanen. Oleh karena adanya gagasan yang dapat di
buat ialah dapat membantu masyarakat untuk manfaatkan sagu yang
mengandung pati karbohidrat mencadi suatu yang bermanfaat dan dapat di
jadikan sumberdaya pengasilan masyrakat shususnya di pulau riau.
1.4. KESIMPULAN
Sagu atau dikenal sebagai pengganti bahan pangan adalah salah satu jenis zat
gizi, yang memiliki karbohidrat sebagai penghasil energi di dalam tubuh. Jenis
karbohidrat yang merupakan sumber utama bahan makanan yang umum dikomsumsi
oleh manusia adalah pati (strach). Yang termasuk golongan pati adalah semua bahan
pangan pokok di Indonesia khususnya dan di ASEAN pada umumnya; misalnya:
beras, jagung, dan Biopendix. Ada beberapa jenis sagu diantaranya yaitu: Sagu Tuni,
Sagu Ihur, Sagu Molat, Sagu Makanaru dan Sagu Duri Rotan yang dapat kita jumpai
di daerah Maluku.
Sagu yang dikonsumsi oleh masyarakat yaitu berdasarkan jenis sagu yang
tumbuh di tempat tinggal mereka. Hal ini menyebabkan jenis sagu yang dikonsumsi
masyarakat berlainan jenis antara daerah yang satu dengan yang lainnya, bahkan
pengolahan pohon sagu menjadi pati sagu masih dilakukan secara tradisional dan
hanya terdapat dibeberapa daerah seperti Riau, Jambi dan Sumatra Selatan yang
menggunakan cara semi mekanis.
Selain sebagai makanan pokok, sagu mempunyai prospek yang baik sebagai
salah satu sumber utama pangan murah. Pengembangan produk baru dengan
komponen utama sagu yang sesuai dengan selera masyarakat diharapkan dapat
menjadi pangan sumber karbohidrat siap konsumsi, seperti tepung kering dan mi.
Selain itu tepung sagu kaya dengan karbohidrat (pati) namun sangat miskin gizi
lainnya. Ini terjadi akibat kandungan tinggi pati di dalam teras batang maupun proses
pemanenannya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2018.https://dokumen.tips/documents/makalah-sagu.html Diakses 6

Desember 2018

https://bennyw10.wordpress.com/2013/07/27/pohon-sagu-banyak-manfaatnya-

bagi-kehidupan-manusia/

https://manfaat.co.id/manfaat-sagu