Anda di halaman 1dari 8

e-ISSN : 2407-795X

JURNAL p-ISSN : 2460-2582


PENELITIAN PENDIDIKAN IPA
Vol 2, No, 1
http://jurnal.unram.ac.id/index.php/jpp-ipa
Januari 2016

SKRINING FITOKIMIA DARI EKSTRAK BUAH BUNCIS (Phaseolus vulgaris L)


DALAM SEDIAAN SERBUK

Rizki Nugrahani1, Yayuk Andayani2 dan Aliefman Hakim2


Program Studi Magister Pendidikan IPA, Program Pascasarjana Universitas Mataram123

Email: yayukkimia@gmail.com

Key Words Abstract


Phytochemic A research on the phytochemical screening of extracts of fruit powder beans (Phaseolus
al screening, vulgaris L). The aims study was determine the content of chemical compound in extract
bean fruit beans that had undergone a process of heating at high temperature and has been stored
extracts in a specified time. Classified of chemical compounds would be included flavonoids,
alkaloids, phenols, saponins, tannins, steroids and triterpenoids. Results of
phytochemical screening showed bean extract contains the chemical compound class of
flavonoids, alkaloids, phenols, saponins, steroids and triterpenoids.

Kata Kunci Abstrak


Skrining Telah dilakukan penelitian tentang skrining fitokimia dari serbuk ekstrak buah buncis
fitokimia, (Phaseolus vulgaris L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa
Ekstrak buah kimia yang terdapat pada serbuk ekstrak buah buncis yang telah mengalami proses
buncis pemanasan pada suhu tinggi dan telah disimpan dalam waktu yang sudah ditentukan.
Golongan senyawa kimia yang akan diuji meliputi flavonoid, alkaloid, fenol, saponin,
tanin, steroid dan triterpenoid. Hasil skrining fitokimia menunjukkan serbuk ekstrak
buah buncis mengandung senyawa kimia golongan flavonoid, alkaloid, fenol, saponin,
steroid dan triterpenoid
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA), Januari 2016

TUJUAN PENELITIAN
PENDAHULUAN Penelitian ini bertujuan untuk
Tanaman buncis (Phaseolus mengetahui kandungan senyawa metabolit
vulgaris L) atau yang lebih dikenal sebagai sekunder yang terkandung dalam serbuk
kacang buncis merupakan tanaman yang ekstrak buah buncis yang sudah
sangat mudah di temukan di seluruh mengalami proses pemanasan dan
wilayah Indonesia. Tanaman buncis penyimpanan.
berasal dari wilayah selatan Meksiko dan
wilayah panas Guatemala. LANDASAN TEORI
Kandungan kimia tanaman buncis Tanaman buncis merupak tanaman
antara lain antosianin, flavonoid, alkaloid, polong jenis semak atau perdu yang kaya
saponin, triterpenoid, steroid, stigmasterin, akan manfaat. Terdapat dua tipe yaitu
trigonelin, arginin, asam amino, asparagin, merambat dan tegak. Tanaman ini biasa
kholina, tanin dan fasin (Sihombing dkk, dikonsumsi dalam keadaan muda atau
2010; Jannah dkk, 2013; Dzomba et al., dikonsumsi bijinya. Buncis dapat tumbuh
2013 dan Lima et al., 2014). Tanaman liar, ditemukan pada daerah dataran rendah
buncis dapat dimanfaatkan sebagai obat dan dataran tinggi pada lingkungan kering
antara lain dapat menurunkan kadar gula hingga lembab. Klasifikasi ilmiah tanaman
darah (Jannah dkk, 2013) mencegah buncis adalah sebagai berikut:
kanker usus besar dan kanker payudara Kerajaan : Plantae
(Waluyo dan Djuriah, 2013) serta dapat Divisi : Magnoliophyta
melancarkan pencernaan karena Kelas : Magnoliopsida
kandungan serat yang dimiliki (Batalla et Ordo : Fabales
al., 2006). Famili : Fabaceae
Kemampuan tanaman buncis Upafamili : Faboideae
menjadi tanaman obat tidak terlepas dari Genus : Phaseolus
kemampuan meproduksi metabolit Spesies : P. Vulgaris Linn
sekunder. Metabolit sekunder merupakan Tanaman buncis khususnya pada
senyawa kimia yang umumnya memiliki bagian buah memiliki manfaat besar
kemampuan bioaktivitas dan berfungsi karena kandungan gizi yang berlimpah.
sebagai pertahanan terhadap gangguan Hal tersebut merupakan gambaran dari
hama dan penyakit untuk tumbuhan itu kandungan kimia yang dimiliki oleh
sendiri (Chunaifi dan Tukiran, 2014). tanaman buncis. Kandungan kimia yang
Berdasarkan hasil penelitian terdapat merupakan jenis senyawa
sebelumnya terhadap tanaman buncis polifenol yang umum terdapat pada
dengan menggunakan ekstrak kental tumbuhan seperti hasil penelitian yang
diketahui tanaman buncis mengandung dilakukan pada ekstrak kental tanaman
komponen senyawa kimia seperti yang buncis oleh Kurnia (2013) yaitu flavonoid
telah diuraikan diatas. Melengkapi yang dapat berfungsi sebagai antioksidan.
informasi manaafat tanaman buncis di Senyawa polifenol merupakan
bidang fitofarmaka maka perlu dilakukan metabolid sekunder terbesar pada tanaman
penelitian mengenai kandungan senyawa (Ciptaningsih, 2012). Senyawa fenol
kimia tanaman buncis menggunakan terdiri dari sebuah cincin aromatik dengan
ekstrak buah buncis yang sudah satu atau lebih gugus hidroksil (Harbone,
dikeringkan menggunakan proses 2006). Senyawa fenol ada dalam bentuk
pemanasan pada suhu tinggi dan stuktur sederhana hinga struktur kompleks
penyimpanaan pada waktu yang sudah yang rumit seperti tanin dan lignin.
ditentukan. flavonoid (C6-C3-C6) tersusun atas 2 buah
cincin fenil yang terikat melalui 3 atom
karbon yang membentuk oksigenasi

97
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA), Januari 2016

heterosiklik dari 3 cincin dengan label A, kertas saring, dan alumunium foil.
B, C. srtuktur sederhana flavonoid Penelitan dilakukan di Laboratorium
disajikan pada Gambar 1 berikut: Analitik Universitas Mataram.
Prosedur penelitian terdiri dari
beberapa tahapan yaitu tahap penyiapan
sampel dimana sampel diambil dari
C industri obat tradisional yang terdapat di
kota mataram dalam bentuk serbuk
A B ekstrak.
Tahap selanjutnya adalah tahap
skrining fitokimia. Skrining fitokimia yang
dilakukan meliputi uji flavonoid, alkaloid,
Gambar 1. Stuktur Dasar Flavonoid fenol, saponin, tanin, steroid dan
triterpenoid, metode analisis berdasarkan
Beberapa ribu senyawa fenol alam (Harborne, 1987 dalam Nugrahani, 2015)
telah diketahui strukturnya. Flavonoid a. flavonoid.
merupakan golongan terbesar, tetapi fenol Sebanyak 0,1 ekstrak dimasukan
monosiklik sederhana, fenilpropanoid dan kedalam gelas piala kemudian kemudin
kuinon fenolik juga terdapat dalam julam ditambahkan 10 ml aquades
besar. Golongan polimer penting seperti dipanaskan sampai mendidih selama 5
lignin, melamin dan tanin adalah senyawa menit. Setelah itu, disaring dan
polifenol dan terkadang satuan fenolik filtratnya digunakan sebagai larutan
dijumpai pada protein , alkaloid dan uji. Filtrat dimasukkan ke dalam
diantara terpenoid (Harbone, 1987). tabung reaksi lalu ditambahkan pita
Turunan senyawa fenol umumnya dapat Mg, 1 ml HCl pekat dan 1 ml
digunakan dalam pengembangan obat amilalkohol kemudian dikocok dengan
tradisonal karena dapat berfungsi sebagai kuat. Uji positif flavonoid ditandai
anti tumor, antiviral, antibiotik dan dengan terbentuknya warna merah,
antioksidan (Apak et all., 2007). kuning atau jingga pada lapisan
amilalkohol.
METODELOGI PENELITIAN b. Alkaloid.
Metode yang digunakan dalam Sebanyak 0,1 gr sampel
penelitian ini adalah dengan mereaksikan dilarutkan dalam 10 ml CHCl3
serbuk sampel dengan reagen kimia yang (kloroform) dan 4 tetes NH4OH
sesuai dengan senyawa yang akan kemudian disaring dan filtratnya
diidentifikasi. Bahan yang dibutuhkan dimasukkan kedalam tabung reaksi
dalam penelitian ini adalah serbuk ekstrak tertutup. Ekstrak CHCl3 dalam tabung
P Vulgaris L yang diperoleh dari industri reaksi kemudian dikocok dengan
obat tradisional di kota mataram, aquades, ditambah 10 tetes H2SO4 2 M, sampai
metanol 96 % v/v, methanol 50 % v/v, terbentuk 2 lapisan. Lapisan asam yang
Serbuk magnesium, asam klorida pekat 37 berada di atas dipisahkan ke dalam
% v/v, H2SO4 pekat 97% v/v, FeCl3 1% tabung reaksi yang lain dan
w/v, FeCl3 5% w/v, amoniak, klorofom, ditambahkan preaksi meyer yang
pereaksi dragendorff, pereaksi meyer, menghasilkan endapan warna putih
anhidra asetat, amil-alkohol. Alat yang sedangkan penambahan pereaksi
akan dibutuhkan dalam penelitian ini dragendorff yang akan menimbulkan
adalah neraca analitik, pipet volumetri, endapan warna merah jingga.
cawan porselen, penangas air, waterbath, c. Fenol
peralatan gelas, palate silika gel GF-254, Sejumlah sampel (0,1 gr)
fortex, chamber KLT, alat penyemprot, diekstrak dengan 20 ml metanol 70%.

98
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA), Januari 2016

Larutan yang dihasilkan diambil suhu tinggi setelah menjadi serbuk sampel
sebanyak 1 ml kemudian ditambahkan diletakkan dalam botol plastik tertutup
2 tetes larutan FeCl3 5%. Reaksi positif kemudian disimpan dalam variasi waktu
ditunjukkan dengan terbentuknya yang sudah ditentukan yaitu kurang dari 1
warna hijau atau hijau kebiruan. bulan s/d ± 3 bulan pada suhu ruang.
Analisis fitokimia serbuk ekstrak
d. Saponin buncis yang dilakukan antara lain
Sebanyak 0,1 gr sampel identifikasi tanin, saponin, alkaloid, fenol,
dimasukkan kedalam gelas piala flavonoid dan Streroid/Triterpenoid. Hasil
kemudian ditambahkan 10 ml air panas analisis fitokimia menggunakan pereaksi-
dan dididihkan selama 5 menit. Setelah pereaksi kimia, diuraikan sebgai berikut:
itu, disaring dan filtratnya digunakan
sebagai larutan uji. Filtrat dimasukkan a. Flavonoid
kedalam tabung reaksi tertutup Hasil uji flavonoid untuk
kemudian dikicok selama ± 10 detik masing-masing sampel dinyatakan
dan dibiarkan selama 10 menit, positif, karena pengujian serbuk
ditambahkan 1 ml HCL 2M. Adanya ekstrak menggunakan HCl pekat dan
saponin ditunjukkan dengan potongan pita magnesium
terbentuknya buih yang stabil. menghasilkan warna oranga/ jingga
e. Tanin pada lapisan amil alkohol. Hasil uji
Sebanyak 0,1 gr serbuk ekstrak ditunjukkan pada Gambar 2.
ditambahkan dengan 10 ml air panas,
dididihkan selama 5 menit dan
disaring. Sebagian filtrat yang
diperoleh ditambahakan dengan larutan
FeCl3 1%. Hasil positif ditunjukkan
oleh terbentuknya warna hijau
kehitaman.
f. Triterpenoid dan Steroid.
Sebanyak 0,1 gr sampel
dilarutkan dengan metanol kemudian Gambar 2. Hasil uji Flavonoid (Nugrahani, 2015)
di uapkan diatas waterbath. Filtrat
digerus kemudian dilarutkan dengan 2 Reaksi yang terjadi pada saat uji
ml kloroform dalam tabung reaksi, lalu flavonoid dapat di jelaskan pada Gambar
ditambah dengan anhidra asetat 3.
sebanyak 10 tetes, selanjutnya larutan
ditetesi dengan H2SO4 pekat ± 3 tetes
melalui dinding tabung reaksi. Jika
hasil yang diperoleh berupa cicin
kecoklatan atau violet pada perbatasan
dua pelarut menunjukkan adanya
triterpen, sedangkan munculnya warna
hijau menunjukkan adanya steroid.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sampel serbuk diperoleh dari
industri obat di kota mataram. Sampel di
produksi dengan metode perendaman buah
buncis segar menggunakan pelarut air dan Gambar 3. Reaksi flavonoid dengan HCl
dikeringkan dengan cara pemanasan pada dan logam Magnesium

99
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA), Januari 2016

b. Alkaloid dengan pereaksi Dragendorff digunakan


Sampel Serbuk ekstrak buncis untuk membentuk ikatan kovalen
dengan variasi penyimpanan yang koordinat dengan K+ yang merupakan ion
berbeda menunjukkan semua sampel logam (Marliana, 2005). Reaksi pada uji
mengandung senyawa alkaloid, karena Dragendorff ditunjukkan pada Gambar 6.
saat di tetesi dengan reagen
Dragendorf dan reagen Meyer
mengahasilkan endapan berwarna
jingga kemerahan untuk reagen
Dragendorf dan endapat berwarna
putih untuk reagen Meyer (Gambar 4)

Gambar 6. Reaksi dengan pereaksi


dragendorf
Gambar 4. Hasil Uji Alkaloid (Nugrahani, 2015)
Endapan yang terbentuk c. Fenol
merupakan kalium-alkaloid, karena Sampel serbuk ekstrak buncis
senyawa alkaloid mengandung atom positif mengandung senyawa fenol
nitrogen yang mempunyai pasangan karena memberikan perubahan warna
elektron bebas sehingga dapat digunakan hijau kekuningan. Hasil uji
untuk membentuk ikatan kovalen ditunjukkan pada Gambar 7.
koordinat dengan ion logam. Nitrogen
pada alkaloid akan bereaksi dengan ion
logam K+ dari kalium
tetraiodomerkurat(II) membentuk
kompleks kalium-alkaloid yang
mengendap (Marliana, 2005) reaksi yang
terjadi dengan pereaksi Meyer ditunjukkan
pada Gambar 5.

Gambar 7. Hasil uji Fenol (Nugrahani, 2015)


Reaksi yang terjadi dinyatakan sebagai
berikut:

FeCl3(aq) + 6 ArOH(s) 6H+ + 3Cl-+[Fe(Oar)6]3-(aq)

d. Saponin
Pengujian senyawa saponin
Gambar 5. Reaksi dengan pereaksi Meyer dilakukan dengan memanaskan
sampel yang ditambahkan dengan air
Hasil positif alkaloid pada uji hingga mendidih selama 5 menit,
Dragendorff juga ditandai dengan setelah dingin sampel di kocok dengan
terbentuknya endapan coklat muda sampai kuat sehingga terbentuk busa
kuning jingga. Endapan tersebut adalah kemudian ditambahkan HCl 2M. Hasil
kaliumalkaloid. Nitrogen pada uji alkaloid yang diperoleh menunjukkan bahwa

100
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA), Januari 2016

sampel serbuk ektrak buncis f. Steroid dan Triterpenoid


mengandung saponin karena terbentuk Masing-masing sampel
busa yang stabil selama 10 menit dinyatakan positif mengandung
(Gambar 8). senyawa steroid dan triterpenoid,
karena setelah sampel ditambahkan
larutan anhidrida asetat dan asam
sulfat pekat menghasilkan cincin
kecoklatan pada perbatasan dua
pelarut, adanya perubahan warna
menjadi hijau pada larutan
menunjukkan adanya senyawa steroid
(Gambar 11).
Gambar 8. Hasil Uji Saponin (Nugrahani, 2015)
Timbulnya buih menunjukkan
adanya glikosida yang mempunyai
kemampuan membentuk buih dalam air
yang terhidrolisis menjadi glukosa dan
senyawa lainnya. Rekasi yang terjadi saat
uji saponin ditunjukkan pada Gambar 9.

Gambar 11. Hasil uji Steroid dan


Triterpenoid (Nugrahani, 2015)

Prinsip reaksi dalam mekanisme


reaksi uji triterpenoid yang disajikan
dalam Gambar 11 merupakan kondensasi
atau pelepasan H2O dan penggabungan
Gambar 9. Reaksi Hidrolisis Saponin dengan karbokation. Reaksi ini diawali
dalam Air dengan proses asetilasi gugus hidroksil
menggunakan asam asetat anhidrida.
e. Tanin Gugus asetil yang merupakan gugus pergi
Pengujian senyawa tanin yang baik akan lepas, sehingga terbentuk
menunjukkan hasil negatif karena ikatan rangkap.Selanjutnya terjadi
tidak terjadi prubahan warna hijau pelepasan gugus hidrogen beserta
kehitaman pada saat penambahan elektronnya, mengakibatkan ikatan
FeCl3 1% (Gambar 10). rangkap berpindah. Senyawa ini
mengalami resonansi yang bertindak
sebagai elektrofil atau karbokation.
Serangan karbokation menyebabkan adisi
elektrofilik, diikuti pelepasan hidrogen.
Kemudian gugus hidrogen beserta
elektronnya dilepas, akibatnya senyawa
mengalami perpanjangan konjugasi yang
memperlihatkan munculnya cincin
kecoklatan ( Setyowati dkk, 2014).
Gambar 10. Hasil Uji Tanin (Nugrahani,
2015)

101
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA), Januari 2016

O
Ac2O H +

HO
-HOAc
O
Berdasarkan hasil uji fitikomia
H+
-HOAc menunjukkan bahwa sampel serbuk
+ ekstrak buncis dengan variasi lama
A 15 +
- H+
penyimpanan yang berbeda yaitu sampel
Adisi Electrof ilik
H
segar (kurang dari 1 bulan), sampel yang
di simpan ±1 bulan, sampel yang disimpan
± 2 bulan dan sampel yang disimpan ± 3
+ H
- H+ bulan mengandung senyawa kimia
+
golongan saponin, fenol, flavonoid dan
- H+
alkaloid, sedangkan senyawa tanin tidak
H
i terdapat pada semua sampel. Ringkasan
hasil uji fitokimia disajikan pada Tabel
Gambar 12. Reaksi triterpenoid dengan 4.4.
pereaksi Liembermann-Burchard

Tabel 4.4 Hasil Uji Fitokimia


Jenis Golongan Senyawa
sampel Steroid/
Tanin Saponin Fenol Flavonoid Alkaloid Triterpenoid
<1 Bulan - + + + + +/+
1 bulan - ++ + + + +/+
2 bulan - ++ + + + +/+
3 bulan - ++ + + + +/+

KESIMPULAN Bektasoglu, B., Berker, K and


Serbuk ekstrak buah buncis yang Ozyurt, D. 2007. Comparative
telah mengalami pemanasan pada suhu Evaluation of Various Total
tinggi dan telah disimpan selama kurang Antioxidant Capacity Assays
dari 1 s/d ± 3 bulan masih mengandung Applied to Phenolic Compounds
komponen senyawa poliphenol seperti with the CUPRAC Assay.
saponin, fenol, alkaloid, flavonoid dan Molecules, 12: 1496-1547.
triterpenoid. (Online,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubm
ed/17909504)
DAFTAR PUSTAKA
Balafif., Andayani., Gunawan. 2013.
Akbar, H. R. 2010. Isolasi dan Identifikasi Analisis Senyawa Triterpenoid dari
Golongan Flavonoid Daun hasil Fraksinasi Ekstrak Air Buncis
Dandang Gendis (Clinachanthus (Phaseolus vulgaris Linn). Tesis
nutans)Berpotensi Sebagai S2. Magister Pendidikan IPA.
Antioksidan. Institut Pertanian Universitas Mataram.
Bogor.
(Online, Batalla., Widholm., fahey., Tostado.,
http://repository.ipb.ac.id/handle/1 Lopez. 2006. Chemical
23456789/26741). Components with Health
Implications in Wild and
Apak, R., Guclu, K., Demirata, B., Cultivated Mexican Common Bean
Ozyurek, M., Celik, S.E., Seeds (Phaseolus vulgaris L.).

102
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA), Januari 2016

Jurnal Agricultural And Food Analisis Kromatografi Lapis Tipis


Chemistry. 54: 2045-2052. Komponen Kimia Buah Labu Siam
(Sechium edule Jacq. Swartz.)
Dzomba, P., Togarepi, E., Mupa, M. 2013. dalam Ekstrak Etanol. Biofarmasi.
Anthocyanin Content and 3(1):26-31.
Antioxidant Activities of
Commmon Bean Species Nugrahani, R. 2015. Analisis Potensi
(Phaseolus vulgaris L.) Grown In Serbuk Ekstrak Buncis (Phaseolus
Mashonaland Central, Zimbabwe. vulgaris L.) sebagai Antioksidan.
African Journal Of Agricultural Tesis S2. Universitas Mataram.
Research.
Sihombing, Noventy C. 2010. Formula
(Online,http://www.academicjourn
Gel Antioksidan Ekstrak Buah
als.org/journal/AJAR/articleabstrac
Buncis (Phaseulus vulgaris L)
t/F4BC4AF36155).
dengan Menggunakan Basis
Harbone. 1987. Metode Fitokimia
AQUPEC 505 HV. Jurnal ilmiah
Penuntun Cara Modern
universitas padjadjaran.
Menganalisi Tumbuhan. Kosasih
Padmawinata, Iwang Soediro Waluyo, N., Djuariah, D. 2013. Varietas-
(penerjemah). Bandung. ITB. Varietas Buncis ( Pheseolus
vulgaris L.) yang telah Dilepas
Jannah., Sudarma., Andayani. 2013.
oleh Balai Penelitian Tanaman
Analisis Senyawa Fitosterol Dalam
Sayur. Balai Penelitian Tanaman
Ekstrak buah Buncis (Phaseolus
Sayur. Bandung.
vulgaris L.). Program Pascasarjana,
Universitas Mataram. Wikipedia.http://id.wikipedia.org/wiki/Bu
ncis, diakses tanggal 26 November
Kurnia, N. 2013. Uji Aktivitas Antioksidan
2014.
Ekstrak Air Buah Buncis
(Pheseolus vulgaria L.). Tesis S2. Ciptaningsih, E. 2012. Uji Aktivitas
Universitas Mataram. Antioksidan dan Karakteristik
Fitokimia pda Kopi Luwak
Lima, P. F. d., Colombo, C. A., Chiorato,
Arabika dan Pengaruhnya terhadap
A.F., Yamaguchi, L. F., Kato, M. J
Tekanan Darah Tikus Normal dan
and Carbonell, S. A. M. 2014.
Tikus Hipertensi. Tesis S2 .
Occurrence of Isoflavonoids in
Universitas Indonesia.
Brazilian Common Bean
Germplasm (Phaseolus vulgaris Chunaifi, M dan Tukiran. 2014. Skrining
L.). Jurnal Agricultural and Food Fitokimia dari Ekstrak Etil Asetat
Chemistry. 62:9699−9704 Kulit Batang Tumbuhan Nyiri Batu
(Xylocarpus moluccencis). UNESA
Marliana, S. D., Suryanti,V dan Suyono. Journal of Chemistry.
2005. Skrining Fitokimia dan

103