Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM TRANSCUTANEUS

ELECTRICAL
NERVE STIMULATION (TENS)
"KASUS KRONIK TENDINITIS BICIPITALIS"

DISUSUN OLEH:

YUSNITA
PO714241161079
KELAS C ELEKTRO
JURUSAN D.IV FISIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
2018/2019
LAPORAN PRAKTIKUM TRANSCUTANEUS ELECTRICAL
NERVE STIMULATION (TENS)

A. Patologi Kasus
1. Definisi
Tendinitis merupakan peradangan (kemerah-merahan, luka, bengkak) pada tendon. Tendinis pada
bahu, rotator cuff dan tendon biceps bisa terjadi radang biasanya sebagai akibat dari terjepitnya
struktur-struktur yang ada di sekitarnya.
Tendinitis Bicipitalis adalah peradangan pada tendon di sekitar head long biceps tendon atau caput
otot bicep. Tendinitis bicipitalis disebabkan iritasi dan inflamasi tendon bicep. Pada umumnya
penderita mengeluh nyeri bahu sepanjang otot bicep yang menjalar kelengan bawah dan nyeri tekan
pada daerah sulkus bicipitalis (Sianturi. 2003). Tendinitis bicipitalis biasanya disertai dengan SLAP
(superior labrum anterior ke posterior) lesi (Hsu, 2008).
Tendinitis Bicipitalis adalah peradangan yang tetap terlokalisir pada sarung tendon caput longum
bicepsbrachii (Hudaya,2007). Tendinitis bicipitalis adalah tensinovitis (radang pada sarung tendon)
dan degenerasi tendon pada caput longum otot biseps pada alur bisipitalis dari humerus (Rasjad,
1998).
Tendinitis bciipitalis merupakan suatu proses radang yang biasanya terjadi pada mereka yang
perkerjaannya memerlukan fleksi berulang melawan tahanan atau aktivitas olahraga seperti
melempar bola, ombak dan cakram (Sjamsuhidrajat, 1997).
2. Etiologi
Penyebab tendinitis bicipitalis berupa cidera langsung yang mengenai bahu ataupun juga karena
cidera atau trauma yang disebabkan oleh kerja m.bicep yang berlebihan. Sebelum berinsersio pada
tuberositas supraglenoidales, akan melewati terowongan pada daerah bahu yang dibentuk oleh caput
humeri sebagai alasnya pada bagian posterior tuberositas radii. Nyeri pada bahu depan di gambarkan
sebagai “denyutan sakit yang dalam” biasanya keluhan tersebut yang dirasakan pasien ketika terkena
tendinitis bicipitalis. Kerusakan ini dapat menyebabkan banyak perubahan mikroskopis yang tidak
terbataskan oleh poliferasi fibrocyte, arthrofi dari serat kolagen dan nekrosis fibrinoid sehingga
tendon ini kelebihan gerakan dapat menyebabkan kerobekan dan iritasi tendon bicep.
3. Patogenesis
Pada tahap awal biseps tendonitis, tendon menjadi merah dan
bengkak. Tendonitis berkembang, selubung tendon dapat menebal. Tendon itu sendiri sering
mengental atau tumbuh lebih besar. Tendonitis bisipitalmenyebabkan tendon menjadi merah dan
bengkak.Tendon dalam tahap akhir sering merah gelap karena peradangan. Kadang-kadang
kerusakan tendon dapat menghasilkan air mata tendon, dan kemudian deformitaslengan
(a"Popeye" tonjolan di lengan atas). Dalam kebanyakan kasus, kerusakan pada tendon biseps adalah
karena seumur hidup melakukan kegiatan overhead. Degenerasi ini dapat diperburuk oleh
mengulangi gerakan bahu yang sama secara berlebihan. Berenang, tenis, dan bisbol adalah beberapa
contoh olahraga kegiatan overhead yang berulang. Banyak pekerjaan dan tugas-tugas rutin dapat
menyebabkan kerusakan berlebihan juga. Gerak overhead yang berulang memainkan bagian dalam
masalah bahu lain yang terjadi dengan biseps tendonitis. Rotator cuff air mata, osteoarthritis, dan
ketidakstabilan bahu kronis sering disebabkan oleh aktivitas yang berlebihan (Hudaya, 2007).
4. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dasar tendinitis bicipital ialah nyeri lokal pada sulkus bicipitalis dan nyeri pada saat
supinasi lengan bawah melawan tahanan. Tangan dipertahankan pada posisi pronasi dan penderia
diminta memutar tangannya menjadi supinasi. Gerakan ini menyebabkan nyeri di sulkus biceps di
bahu sebab m.biceps merupakan otot supinator kuat. Nyeri yang terutama di bagian anterior lengan
timbul karena pergerakan bahu(Sjamsuhidrajat, 1997).
Biasanya rasa sakit yang mendalam secara langsung di bagian depan dan bagian atas bahu. Rasa
sakit dapat menyebar ke bawah ke bagian utama dari otot bisep. Sakit biasanya diperburuk dengan
kegiatan di atas kepala. Beristirahat umumnya memudahkan pengurangan sakit pada bahu. Lengan
mungkin merasa lemah dengan upaya untuk membengkokkan siku atau ketika memutar lengan
bawah ke supinasi (Yip, 2012).

B. Prosedur Pelaksanaan
1. Persiapan Alat : (mencakup persiapan operasional alat)
Cek kondisi alat pastikan dalam kondisi yang bagus seperti kabel TENS dan kabel Pad untuk
digunakan. Kemudian tentukan prosedur yang akan digunakan, semua tombol dalam posisi nol. Pad
dibasahi terlebih dahulu, untuk pad yang menggunakan gel diletakan pada permukaan pad yang akan
di kontakan dengan kulit pasien. Pesiapan semua materi metode yang akan digunakan. Pemanasan
alat yakinkan tombol intensitaas “off”.
2. Persiapan Pasien :
Posisikan pasien senyaman dan serileks mungkin. Lakukan pemeriksaan di area yang akan di terapi
dalam hal ini yang dimaksud meliputi kulit harus bersih dan bebas dari keringat, lotion. Lakukan tes
sensabilitas tajam-tumpul dan panas-dingin. Lepaskan semua metal diarea terapi meliputi perhiasan
kalung jam dan lain-lain. Sebelum memulai intervensi, terapist memberi penjelasan mengenai cara
kerja dan efek yang dapat ditimbulkan dari TENS.
3. Teknik Pelaksanaan :
Pad diletakan pada area nyeri.

Kasus : Kronik Tendinitis Bicipitalis


Nilai VAS : 5,7 1. Posisi pad elektrode : Area Dermatome
Foto
2. Metode pemasangan pad elektrode : Penempatan
pada dua tempat yaitu di anterior dan di posterior
dari suatu area dermatome tertentu
3. Pemilihan dosis :
a. Bentuk arus TENS : Burst

b. Bentuk gelombang : Asimetric biphasic


sinusoidal

c. Frekuensi : 100 Hz

d. Pulse Width : 400

e. Frekuensi Burst : 3 bps

f. Intensitas arus : Motorik

g. Waktu : 30 Menit

C. Evaluasi
Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian TENS terhadap perubahan intensitas nyeri
pasien kronik tendinitis bicipitalis.

KASUS-KASUS FISIOTERAPI :

1. Akut Sprain Ankle (VAS 8,6)


2. Kronik Sprain Ankle (VAS 5,2)
3. Akut Sprain Ligamen Collateral Medial Knee (VAS 9,3)
4. Akut Strain Tendon Achilles (VAS 7,6)
5. Akut Strain Gastrocnemius (VAS 7,2)
6. Akut Strain Hamstring (VAS 7,4)
7. Akut Contusio Quadriceps Femoris (VAS 7,8)
8. Akut Sprain Ligamen Cruciatum Knee (VAS 8,6)
9. Kronik Osteoarthritis Knee Joint (VAS 6,7)
10. Kronik Piriformis Syndrome (VAS 6,3)
11. Kronik Muscle soreness gastrocnemius (VAS 5,6)
12. Kronik Syndrome Tractus Iliotibial band (VAS 5,4)
13. Kronik Syndrome Pes Anserine Knee (VAS 6,2)
14. Kronik Tennis Elbow (VAS 6,3)
15. Kronik Shoulder Pain (VAS 6,4)
16. Kronik Tendinitis Bicipitalis (VAS 5,7)
17. Kronik Cervical Syndrome (VAS 6,7)
18. Kronik Spondylosis Lumbal (VAS 6,4)
19. Kronik Spondylosis Cervical (VAS 6,2)
20. Akut Non-spesific Low Back Pain (VAS 8,2)
21. Akut sprain wrist (VAS 8,5)
22. Kronik lesi meniskus knee (VAS 5,4)
23. Kronik Frozen Shoulder (VAS 5,8)
24. Kronik Ischialgia akibat HNP L4-L5 (VAS 7,8)
25. Kronik Brachialgia akibat Spondylosis/HNP C5-C6 (VAS 6,6)

Catatan :
Pilih dua kasus di atas, kemudian kasus yang dipilih dikerjakan sesuai format laporan di atas.
g

Anda mungkin juga menyukai