Anda di halaman 1dari 10

PENERAPAN KESELAMATAN PASIEN DALAM PEMBERIAN OBAT OLEH PERAWAT

DI RSJD PROPINSI JAWA TENGAH

Biby Prahastiawan *), Maria Suryani**), Supriyadi***)

*) Alumni Program Studi S.1 Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang


**) Wakil Ketua 1 Stikes Elisabeth Semarang
***) Dosen Pengampu D3 Keperawatan Poltekes Kemenkes Semarang

ABSTRAK

Keselamatan pasien berdasarkan JCI berkaitan dengan pemberian obat merupakan salah satu bentuk
pelayanan yang bertujuan agar obat yang diperlukan tersedia setiap saat dibutuhkan, dalam jumlah
yang cukup, mutu terjamin dan harga yang terjangkau untuk mendukung pelayanan. yang bermutu
serta memenuhi kebutuhan rumah sakit dalam meningkatkan kualitas keselamatan pasien. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan keselamatan pasien dalam pemberian obat oleh
perawat di RSJD Propinsi Jawa Tengah. Metode penelitian menggunakan kualitatif. Partisipan dalam
penelitian ini adalah perawat pelaksana dan kepala ruang di RSJD Aminogonduhutomo. Prosedur
pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Berdasarkan hasil penelitian diketahui implementasi
keselamatan pasien menurut perawat pelaksana dilakukan dengan berbagai cara seperti melakukan
setiap tindakan sesuai dengan SOP, mengikuti pelatihan-pelatihan tentang keselamatan pasien.
Implementasi keselamatan pasien menurut kepala ruang sudah bagus, karena telah dibuat Tim mutu
untuk keselamatan pasien, dimana semua bekerja sudah sesuai dengan standar-standar yang ada yaitu
SPO. Kendala yang dihadapi berkaitan dengan sarana pengecekan efek samping obat masih
membutuhkan farmakologi klinis yang masih terbatas sehingga untuk pemantauan obat, kemudian
pemberian obat dan lain-lain ada sebagian tugas dari farmasi yang didelegasikan ke perawat, karena
keterbatasan mereka dengan alasan kekurangan tenaga. Berdasarkan hasil di atas maka rumah sakit
diharapkan perlu mensosialisasikan program keselamatan pasien. adanya tim penggerak di ruangan,
membuat tim keselamatan pasien, melakukan uji coba disalah satu ruangan serta mengembangkan
langkah-langkah yang belum terlaksana.

Kata kunci : Keselamatan pasien, Penerapan minum obat

ABSTRACT

Patient safety by JCI related to medication is one form of service which aims to make the necessary
drugs available at any time, in sufficient quantity, quality assured and affordable prices in order to
support quality service and to meet the hospital needs in improving patient safety. The purpose of this
study is to discover the application of patient safety in the administration of drugs by nurses in RSJD
Central Java Province. This research uses qualitative methods. Participants in this study are nurses and
the ward head in RSJD Amino Gondohutomo. The sampling procedure is done purposively. Based on
the research, the results reveal that the implementation of patient safety is done by nurses in various
ways under SOP, and the nurses also attend trainings about patient safety. Implementation of patient
safety according to the ward head is good, because the quality team has made quality standards for
patient safety, where all the work already corresponds with existing standards of SOP. Obstacles
encountered with regard to the means of checking the side effects of drugs are that clinical

Penerapan Keselamatan Pasien dalam Pemberian Obat … (prahastiaboby@gmail.com) 1


pharmacology is still limited to monitoring the drug, and the pharmaceutical staff delegates the
administration to nurses, due to understaff .
Based on the above results, it is expected that the hospital will need to socialize the patient safety
program. The team in the ward, considering the safety of patients, does a trial test in one ward to
develop measures which have not been implemented.

Keywords: patient safety, medication administering

PENDAHULUAN Keselamatan pasien berdasarkan JCI berkaitan


dengan pemberian obat merupakan salah satu
Keselamatan pasien telah menjadi isu global bentuk pelayanan yang bertujuan agar obat
yang sangat penting dilaksanakan oleh setiap yang diperlukan tersedia setiap saat
rumah sakit, dan seharusnya menjadi prioritas dibutuhkan, dalam jumlah yang cukup, mutu
utama untuk dilaksanakan dan hal tersebut terjamin dan harga yang terjangkau untuk
terkait dengan mutu dan citra rumah sakit. mendukung pelayanan. yang bermutu serta
Masalah utama dalam upaya implementasi memenuhi kebutuhan rumah sakit dalam
sistem keselamatan pasien ini adalah terjadinya meningkatkan kualitas keselamatan pasien.
insiden keselamatan pasien (IKP) dalam Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-
pelayanan kesehatan di rumah sakit. IKP ini bahan yang siap digunakan untuk
meliputi kejadian tidak diharapkan (KTD), mempengaruhi atau menyelidiki sistem
kejadian nyaris cedera (KNC), kondisi fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka
potensial cidera (KPC) dan kejadian sentinel penetapan diagnosis, pencegahan,
(sentinel event) dalam proses asuhan pelayanan penyembuhan, pemulihan, peningkatan
medis maupun asuhan pelayanan keperawatan kesehatan dan kontrasepsi (Dep Kes RI, 2005).
dari yang ringan sampai yang berat.
Berdasarkan analisis kejadian beresiko dalam
Upaya meminimalkan IKP harus disesuaikan proses kefarmasian, kejadian obat yang
dengan standar dari Joint Commission merugikan, kesalahan pengobatan dan reaksi
International (JCI) yang mencakup enam obat yang merugikan menempati kelompok
aspek yaitu melakukan identifikasi pasien urutan utama dalam keselamatan pasien. Hal
secara tepat, meningkatkan komunikasi yang ini memerlukan pendekatan ke sistem untuk
efektif, meningkatkan keamanan obat yang mengelola, mengingat kompleksitas
membutuhkan perhatian, mengurangi risiko keterkaitan kejadian antara kesalahan
salah operasi, salah pasien dan tindakan merupakan hal yang manusiawi dan proses
operasi, mengurangi risiko infeksi akibat farmakoterapi yang sangat kompleks. Faktor
perawatan kesehatan dan mengurangi risiko lain yang mempengaruhi terjadinya resiko obat
pasien cidera karena jatuh (Kuncoro, 2012; terebut adalah multifaktor dan multiprofesi
24). Program keselamatan pasien tersebut di yang kompleks, jenis pelayanan medik,
atas diharapkan dapat mencegah terjadinya banyaknya jenis dan jumlah obat per pasien,
cedera yang disebabkan oleh kesalahan/ error faktor lingkungan, beban kerja, kompetensi
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak karyawan, kepemimpinan dan sebagainya
melakukan tindakan yang seharusnya (Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
dilakukan dan meningkatkan Departemen Kesehatan RI tahun 2008).
pertanggungjawaban rumah sakit terhadap
pelayanan yang diberikan kepada pasien Penggunaan yang salah terhadap obat dapat
termasuk dalam pemberian obat. menimbulkan kecacatan bahkan kematian pada
manusia. Kesalahan dalam pemberian obat

2 Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK) Vol…No…


sering ditemukan meliputi kekeliruan dalam sampai pasien terppar akibat kesalahan
mengidentifikasi pasien, menetapkan jenis pemberian obat, kejadian yang pernah terjadi
obat, order dosis yang salah, rute yang tidak adalah kesalahan daftar obat yang akan
tepat, waktu pemberian yang tidak tepat, obat diberikan namun dapat ketahui sehingga obat
yang menimbulkan alergi atau kombinasi yang tersebut tidak jadi diberikan kepada pasien.
bertentangan sehingga menimbulkan akibat Hal ini tentunya juga harus menjadi perhatian
berupa kematian (Syamsuni, 2006; 36). agar tidak terhadi kasus serupa yang bisa
mengakibatkan kesalahan pemberian obat
Data tentang kesalahan pemberian obat terjadi. Dengan adanya keselamatan pasien
(medication error) di Indonesia belum dapat seluruh permsalahan yang berkaitan dengan
ditemukan. Darmansjah, (dalam Kuntarti, pelayanan medis disampaikan untuk mencari
2005), ahli farmakologi dari FKUI menyatakan pemecahannya yag dibahas secara bersama
bahwa kasus pemberian obat yang tidak benar dengan seluruh unit di RSJD Provinsi Jawa
maupun tindakan medis yang berlebihan (tidak Tengah. Dari semua kasus keselamatan pasien
perlu dilakukan tetapi dilakukan) sering terjadi ternyata kesalahan dalam pemberian obat ke
di Indonesia, hanya saja tidak terekspos media pasien menjadi permasalahan utama yang
massa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengakibatkan kejadian tidak diharapkan
oleh peneliti dari Auburn University di 36 (KTD) maupun kejadian nyaris cedera (KNC)
rumah sakit dan nursing home di Colorado dan sesuai dengan aturan dalam keselamatan
Georgia, USA, pada tahun 2002, dari 3216 pasien. Oleh karena itu dalam penelitian ini
jenis pemberian obat, 43% diberikan pada akan dilakukan penelitian dengan judul
waktu yang salah, 30% tidak diberikan, 17% “Penerapan keselamatan pasien dalam
diberikan dengan dosis yang salah, dan 4% pemberian obat oleh perawat di RSJD Provinsi
diberikan obat yang salah (Joint Commission Jawa Tengah”
on Accreditation of Health Organization
(JCAHO) dalam Kuntarti, 2005). Pada METODOLOGI PENELITIAN
penelitian ini juga mengemukakan hasil
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif
Institute of Medicine pada tahun 1999, yaitu dengan pendekatan fenomenologis. Informan
kesalahan medis (medical error) telah dalam penelitian ini adalah perawat pelaksana
menyebabkan lebih dari 1 (satu) juta cedera dan kepala ruang di RSJD
dan 98.000 kematian dalam setahun. Data yang Aminogonduhutomo Semarang yang terdiri
didapat JCAHO juga menunjukkan bahwa atas obyek/subyek yang memiliki kualitas dan
44.000 dari 98.000 kematian yang terjadi di karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
rumah sakit setiap tahun disebabkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesalahan medis (Kuntarti, 2005). kesimpulannya. Sampel dalam penelitian ini
adalah objek yang memenuhi kriteria
Penerapan keselamatan pasien di RSJD penelitian. Kriteria informan penelitian ini
Provinsi Jawa Tengah juga menjadi perhatian adalah perawat pelaksana dan kepala ruang di
penting. Perawat yang memberikan asuhan RSJD Aminogonduhutomo Semarang, yaitu 4
keperawatan di RSJD Provinsi Jawa Tengah orang.
selalu mengalami pertambahan dari tahun-ke
tahun. data tahun 2012 jumlah perawat
sebanyak 180 orang, tahun 2013 sebanyak 188
orang, tahun 2014 sebanyak 196 orang dan
tahun 2015 sebanyak 207 orang. Kasus yang
terjadi dalam kesalahan pemberian obat belum

Penerapan Keselamatan Pasien dalam Pemberian Obat … (prahastiaboby@gmail.com) 3


HASIL DAN PEMBAHASAN rumah sakit membuat assesmen pasien lebih
aman yaitu meminimalkan resiko dan
Tabel 1 mencegah terjadinya cedera.
Analisis Data
Keselamatan pasien (patient safety) rumah
Tema Sub Tema Data sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit
Penerapan Cakupan - assesmen, resiko
keselamatan penerapan membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem
pasien oleh Optimalisasi - mengikuti SOP tersebut meliputi asesmen risiko, identifikasi
perawat implementasi - pelatihan-
pelaksana pelatihan) dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan
Komunikasi efektif - Kerja dalam Tim risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
- Laporan aktivitas
secara tertulis kemampuan belajar dari insiden dan tindak
Insiden - Penanganan
keselamatan terhadap pasien
lanjutnya serta implementasi solusi untuk
dulu kemudian meminimalkan timbulnya risiko. Sistem
membuat laporan
Sikap tenaga - melaksanakan tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya
kesehatan terhadap tugas harus sesuai cedera yan disebabkan oleh kesalahan akibat
keselamatan pasien dengan SOP
Cara penerapan - menerapkan cara melaksanakan suatu tindakan atau tidak
keselamatan pasien MPO melakukan tindakan yang seharusnya
- teknik 6 B dalam
pemberian obat dilakukan. (Panduan Nasional Keselamatan
Penerapan Cakupan - berpusat pada Pasien Rumah sakit, Depkes R.I. 2006).
keselamatan penerapan keperawatan
pasien oleh pasien
kepala ruang Optimalisasi - Melaksanakan
implementasi SPO
Pelayananan kesehatan bagi pasien di rumah
Komunikasi efektif - melaporkan dan sakit harus berkualitas dan aman. Keselamatan
wajib menulis pada
form yang sudah pasien dan kualitas merupakan dua hal yang
tersedia tidak terpisahkan. IOM menetapkan 6 tujuan
Insiden - ada laporan
keselamatan kemudian yang ingin dicapai pada abad 21, yaitu:
ditindaklanjuti keselamatan pasien, efisiensi, efektivitas,
Sikap tenaga - Kooperatif
kesehatan terhadap ketepatan waktu, berorientasi pada pasien dan
keselamatan pasien keadilan.Pemenuhan keselamatan pasien
Cara penerapan - Sesuai prosedur
keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan adalah wujud
Kendala Sumber daya - Jumlah cukup
penerapan manusia - Kualitas bagus
responsivitas dari pelayanan yang berkualitas.
keselamatan - Pelatihan MPO
Sarana prasarana - Perlu ditambah
- Penambahan Menurut Avedis Donabedian, untuk mengukur
bagian farmakologi pelayanan yang berkualitas dapat ditinjau
klinis
melalui struktur, proses dan hasil dari
pelayanan yang diberikan. Komponen struktur
PEMBAHASAN
diantaranya struktur organisasi, sumber daya
material dan SDM yang ada di institusi
Penerapan keselamatan pasien dalam
pelayanan. Struktur organisasi termasuk
pemberian obat oleh perawat pelaksana dan
didalamnya adalah staf medis, komite-komite
kepala ruang di RSJD Provinsi Jawa
dan tim keselamatan pasien. Komponen proses
Tengah
meliputi semua aktivitas pelayanan yang
dilakukan oleh staf rumah sakit dan diterima
Berdasarkan hasil penelitian menemukan
oleh pasien. Sedangkan hasil menggambarkan
bahwa semua informan memahami maksud
efek pelayanan yang diberikan selama pasien
dan tujuan keselamatan pasien. Informan
dirawat, yang berupa kesembuhan, kepuasan,
memberikan pengertian tentang keselamatan
peningkatan pengetahuan dan terhindar dari
pasien sebagai suatu sistem dimana pelayanan

4 Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK) Vol…No…


akibat yang tidak diharapkan (cedera) selama memberikan asuhan kepada pasien.
(Cahyono, 2008). SPO yang dibuat memberikan petunjuk
langkah-langkah dalam penanganan pasien dan
Pelaksanaan pengembangan program melalui kepatuhan menjalankan SPO tersebut
keselamatan pasien berpedoman pada standar menjadi salah satu langkah untuk menjaga
keselamatan pasien dan sasaran keselamatan keselematan pasien.
pasien. Melalui penerapan 7 langkah menuju Penelitian yang dilakukan oleh Suparna (2015)
keselamatan pasien, akan mampu mendorong yang meneliti tentang evaluasi penerapan
upaya perbaikan yang lebih mengutamakan patient safety risiko jatuh unit gawat darurat di
pasien dalam setiap pelayanannya. Melalui Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Sleman,
struktur dan proses yang terstandarisasi, menemukan bahwa pelaksanaan patient safety
dengan penyediaan fasilitas dan sumberdaya tidak dilaksanakan 100% berdasarkan SOP.
yang adekuat serta peran serta aktif SDM akan Penelitian Firawati (2012) yang meneliti
menghasilkan outcome yang baik. Didukung tentang pelaksanaan program keselamatan
dengan peran kepemimpinan dalam pasien di RSUD Solok menemukan bahwa dari
menciptakan budaya keselamatan akan sangat tujuh langkah menuju keselamatan pasien,
menentukan keberhasilan program ini. lima langkah sudah dilaksanakan seperti,
bangun kesadaran akan nilai keselamatan,
Hasil penelitian menemukan bahwa rencana pimpin dan dukung staf anda, integrasikan
implementasi keselamatan pasien dilakukan aktivitas pengelolaan risiko, belajar dan
dengan berbagai cara seperti melakukan setiap berbagi pengalaman tentang keselamatan
tindakan sesuai dengan SOP, mengikuti pasien dan cegah cedera melalui implementasi
pelatihan-pelatihan tentang keselamatan keselamatan pasien, meskipun pelaksanaan
pasien. Implementasi keselamatan pasien di baru sebagian. Namun, kembangkan system
RSJD Amino Gondohutomo saat ini sudah pelaporan dan berkomunikasi dengan pasien
bagus, karena disini telah dibuat Tim mutu belum dilaksanakan.
untuk keselamatan pasien, dimana semua
bekerja sudah sesuai dengan standar-standar Implementasi keselamatan pasien memerlukan
yang ada yaitu SPO. kerjasama yang baik dari semua lini yang ada
di rumah sakit melalui pengorganisasian yang
Berdasarkan keterangan dari Informan 4 bak. Pengorganisasian merupakan kegiatan
menjelaskan bawha terkait dengan pengaturan pekerjaan, yang menyangkut
implementasi ini misalnya di dalam pemberian pelaksanaan langkah-langkahyang harus
obat harus cek dulu, betul identitasnya bahwa dilakukan sedemikian rupa sehingga semua
psaien A mendapat obat sesuai identitas pasien kegiatan yang akan dilaksanakan serta tenaga
A, dan identitas pasien saat ini dilengkapi pelaksana yang dibutuhkan, mendapatkan
dengan foto, sehingga setiap kali kita pengaturan yang sebaik-baiknya, serta setiap
memberikan obat dilakukan pengecekan kegiatan yang akan dilaksanakan tersebut
terlebih dahulu orangnya, cocok tidak dengan memiliki penanggung jawab pelaksanaannya.
fotonya.
Hasil penelitian dapat diketahui bahwa bentuk
Implementasi keselamatan seperti ini komunikasi dalam implementasi keselamatan
menunjukkan bahwa perawat dan tenaga pasien dilakukan dalam kerja Tim dan ada
kesehatan di RSJD Amino Gondohutomo laporan aktivitas secara tertulis. Terkait dengan
bekerja sesuai dengan standard an SPO yang komunikasi Tim keselamatan pasien selalu
ada. SPO menjadi standar dan panduan utama mengkomunikasikan ke semua lini dan
bagi perawat dalam menjalankan tugasnya ruangan. Sosialisasi tentang keselamatan

Penerapan Keselamatan Pasien dalam Pemberian Obat … (prahastiaboby@gmail.com) 5


pasien terus dilakukan oleh Wadir Pelayanan persepsi individu yang kurang terhadap
pada saat apel, ketika melakukan pelatihan teamwork berpotensi 3x lebih besar untuk
juga selalu disisipkan untuk materi tersebut, terjadi insiden keselamatan.
kemudian selalu ada evaluasi misalnya ada
tidak resep yang keliru nama, ada tidak resep Hasil penelitian dapat diketahui bahwa
yang tanpa nama dan sebagainya kalau ada pelaksanaan sistem penerapan pemberian obat
kejadian seperti ini akan ada tindakan dan hal kepada pasien adalah dengan menerapkan cara
itu selalu dievaluasi dan dikomunikasikan serta MPO dan penerapan teknik 6 B dalam
dilakukan evaluasi bertahap setiap tri wulan pemberian obat dan sesuai dengan prosedur
mengenai permasalahan keselamatan pasien. yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa
penerapan pemberian obat di RSJD Amino
Rumah sakit dengan interaksi profesi yang Gondohutomo berupaya untuk meminimalisir
cukup banyak, membutuhkan strategi yang kejadian kesalahan pemberian obat melalui
tepat dalam proses komunikasi antar profesi identifikasi yang cermat. Identifikasi melalui
terkait. Metode SBAR (situation, backgraound, gelang dianggap sudah tidak efektif karena
assessment, recomencation) dalam proses kualitas gelang yang kurang baik sehingga
komunikasi antar profesi dapat dijadikan mudah lepas, maka dilakukan inisiatif dengan
sebagai pilihan. Berdasarkan situasi, latar cara pemberian foto kepada masing-masing
belakang, penilaian dan rekomendasi yang klien yang dilakuka dua kali yaitu saat pertama
dikomunikasikan dengan baik akan kali masuk rumah sakit dan setelah pasien
memberikan kondisi pengobatan pasien lebih dalam kondisi rapi. Hal ini dilakukan untuk
informatif, jelas dan terstruktur. Hal ini akan mengantisipasi bahwa pasien pertama kali
mengurangi potensi insiden yang tidak masuk dalam kondisi yang masih kurang
diinginkan terjadi. terawat sehingga untuk mengantisipasi
kekeliruan karena saat pasien sudah di rumah
Strategi komunikasi lain adalah pada proses sakit akan lebih rapi maka di foto untuk kedua
komunikasi antar klinisi. Keseinambungan kalinya.
perawatan dan komunikasi antara sejawat
dokter sangat mempengaruhi keselamatan Pelaksanaan foto pasien ini sesuai dengan SOP
pasien. Melalui penerapan ringkasan pulang nomor lima yang berbunyi identifikasi pasien
khususnya bagi pasien pasca-rawat inap, dapat rawat inap dengn menggunakan foto.
sebagai upaya membangun komunikasi di Pengambilan foto dilakukan dua kali yaitu di
antara dokter. Hal ini akan dapat menurunkan IGD oleh petugas di tempat pada dokumen
angka perawatan kembali (hospital rekam medis dan hari berikutnya dalam
readmission). kondisi pasien sudah rapi dilakukan di bangsal
Kerjasama tim dalam pelayanan di RS dapat oleh petugas rekam medis. Foto ditempel di
mempengaruhi kualitas dan keselamatan lembar instruksi dan pelaksanaan pemberian
pasien. Potensi konflik yang mungkin terjadi obat di rawat inap.
dalam interaksi tim dapat berakibat pada
pelaksanaan kerjasama tim dalam pelayanan. Rumah Sakit telah berupaya untuk
Bekerja secara teamwork merupakan sebuah memperbaiki pelaksanaan identifikasi pasien
nilai yang harus dibangun sebagai budaya sesuai prosedur. Proses identifikasi pasien
keselamatan. Konflik yang muncul dapat dilakukan sejak dari awal pasien masuk rumah
menurunkan persepsi individu atas teamwork, sakit dan akan selalu dikonfirmasi dalam
yang dapat menganggu proses pelayanan dan segala proses di rumah sakit. Semua pasien
berujung pada kemungkinan terjadinya baru yang masuk telah difoto dan diberikan
insiden. Sebuah penelitian menunjukkan

6 Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK) Vol…No…


nomor regsitrasi, pemberian foto tersebut Kendala penerapan keselamatan pasien
untuk memudahkan proses identifikasi pasien. dalam pemberian obat di RSJD Provinsi
Jawa Tengah
Menggunakan “dua identitas pasien” harus
mendapat perhatian dan harus selalu Hasil penelitian menemukan bahwa sumber
disosialisasikan oleh kepala ruang dan tim daya manusia berkaitan dengan jumlah telah
keselamatan pasien. Penggunakan dua identitas cukup sedangkan untuk kemampuan dilakukan
pasien jika akan melakukan prosedur pelatuhan Manajemen Penatalaksanaan Obat
memerlukan sedikitnya dua cara untuk (MPO). Jumlah SDM yang cukup ini dalam
mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama artian sesuai dengan kebutuhan pada tiap
pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir, foto ruangan. Berkaitan dengan kemampuan SDM
dan lain-lain. Nomor kamar pasien atau lokasi dalam pelaksanaan keselamatan pasien maka
tidak boleh digunakan untuk identifikasi. dilakukan pelatihan-pelatihan. Walaupun
Proses identifikasi pasien dapat dilakukan dalam pelaksanaannya pelatihan tidak dapat
perawat dengan bertanya kepada pasien dilaksanakan sekaligus terhadap semua tenaga
sebelum melakukan tindakan. keperawatan, namun pelaksanaannya bertahap
Salah satu tindakan yang mengancam dari sebagian terlebih dahulu.
keselamatan pasien adalah kesalahan
pemberian obat yang dilakukan oleh perawat. Tenaga perawat yang telah mendapatkan
Sebagian besar perawat telah menerapkan pelatihan keselamatan pasien wajib untuk
keamanan obat dan Cairan. Penerapan enam mensosialisasikan hasil pelatihannya tersebut
benar dalam menunjang keselamatan pasien kepada rekan kerja yang ada di ruangan yang
yaitu: benar pasien, benar obat, benar dosis, sama. Intinya bahwa semua tenaga
benar waktu, benar cara atau route pemberian, keperawatan dalam pelaksanaan keselamatan
benar dokumentasi. pasien telah tersosialisasi tentang tindakan
keselamatan pasien.
Menurut Kemenkes (2011), obat obatan
menjadi bagian dari rencana pengobatan SDM terlatih dalam bidang keselamatan pasien
pasien, manajemen RS harus berperan secara menjadi kunci dasar pelaksanaan keselamatan
kritis untuk memastikan keselamatan pasien. pasien. Kondisi ini mengakibatkan kinerja tim
Nama Obat, rupa dan ucapan mirip (NORUM), dalam program keselamatan pasien lebih
yang membingungkan staf pelaksana optimal. Keberadaaan tim menjadi pelengkap
merupakan salah satu penyebab yang paling dengan pelaksanaan program secara
sering dalam kesalahan obat (medication menyeluruh sebagaimana ditetapkan dalam
error). Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap kerangka acuan tim. Program keselamatan
obat-obat yang tingkat bahayanya tinggi harus pasien di rumah sakit tentunya memerlukan
ditunjukkan dengan menyimpannya di tempat SDM dengan kompetensi yang baik. Insiden
khusus dan tidak di setiap ruangan. Obat- keselamatan pasien yang terjadi tidak terlepas
obatan lain harus dibawah pengawasan dari faktor manusia yang melaksanakan
apoteker, sehingga kalau ada dosis yang pelayanan kesehatan. Human error ini tidak
berlebihan dapat disarankan ke dokternya bisa terhindarkan karena setiap individu
untuk meninjau kembali terapinya. tentunya memiliki banyak keterbatasan.
Penelitian Iswati (2011) yang meneliti Keterbatasan inilah yang menjadi pemicu
tentang penerapan sasaran keselamatan pasien terjadinya insiden yang tidak diharapkan.
di rumah sakit menemukan bahwa 95,7%
dalam kategori baik terkait dengan Faktor sumber daya yang dapat memengaruhi
keselamatan pemberian obat dan cairan. diantaranya adalah jumlah staf, beban kerja

Penerapan Keselamatan Pasien dalam Pemberian Obat … (prahastiaboby@gmail.com) 7


dan ketersediaan alat medis. Sedangkan dengan perencanaan SDM rumah sakit
keterbatasan SDM ditandai dengan khususnya bagian diklat rumah sakit. Bagi
ketrampilan dan pengetahuan yang kurang. petugas yang belum memenuhi standar
Kelelahan, lupa, kesulitan untuk konsentrasi kompetensi untuk profesinya, rumah sakit
dan hanya berpedoman pada asumsi menjadi dapat memberikan fasilitas untuk dapat
akibat dari keterbatasan-keterbatasan tersebut. memenuhi standar tersebut.

Perhitungan kebutuhan tenaga yang tepat Hasil penelitian dapat diketahui bahwa
untuk setiap profesi di rumah sakit sangat sebenarnya sarana prasarana sebagai
diperlukan untuk menghindari adanya penunjang implementasi keselamatan pasien
peningkatan beban kerja bagi masing-masing perlu ditambah. Berdasarkan keterangan dari
individu. Perhitungan rasio jumlah tenaga Informan 4 menyebutkan bahwa terkait dengan
dengan jumlah pasien serta waktu pelayanan fasilitas terutama untuk pemberian obat, semua
harus dimiliki rumah sakit. Perhitungan persiapannya sudah dilakukan oleh apotik,
kebutuhan dengan metode analisis beban kerja yang ini kita namakan one day unidose, hanya
adalah salah satu alternatif yang dapat saja untuk sarana pengecekan efek samping
dilakukan. Hal ini akan sangat berguna dalam obat masih membutuhkan farmakologi klinis
perencanaan SDM rumah sakit terutama untuk yang masih terbatas sehingga untuk
pada profesi tertentu dengan jumlah tenaga pemantauan obat, kemudian pemberian obat
yang masih terbatas. dan lain-lain ini ada sebagian tugas dari
farmasi yang didelegasikan ke perawat, karena
Ketersediaan SDM, fasilitas, dana dan sistem keterbatasan mereka. Alasannya kekurangan
informasi yang berorientasi pada keselamatan tenaga, tetapi secara tupoksi seharusnya itu
pasien sangat mendukung program. Langkah tugasnya farmasi dan bukan tugas dari
yang dapat ditempuh oleh rumah sakit perawat.
diantaranya dengan membuat kebijakan
pemetaan SDM yang dilengkapi dengan Pemenuhan fasilitas tidak terbatas pada
rencana pengembangan SDM baik kuantitas peralatan dan teknologi semata. Desain
dan kualitasnya. Rencana pengembangan SDM pembangunan sarana RS di masa yang akan
dengan mempertimbangkan kebutuhan datang perlu memperhatikan faktor
pelayanan untuk memenuhi kualitas dan keselamatan sebagai salah satu indikator. Hal
keselamatan pasien, termasuk program ini penting bagi kelangsungan pelayanan dan
pelatihan bagi SDM di rumah sakit. keamanan bagi pasien, petugas dan
pengunjung RS. Faktor ergonomis,
Petugas rumah sakit sebagai individu penempatan material dan pengaturan tata letak
pelaksana langsung pelayanan harus alat sesuai jenis dan fungsinya harus
memenuhi kecukupan baik kuantitas atau mencerminkan keselamatan pasien. Keamanan
kualitas. Aspek kualitas individu dilihat dari proses peralatan RS harus selalu diukur secara
pendidikan dan standar kompetensi yang berkala.
dimiliki. Kompetensi petugas di rumah sakit
dapat di lakukan dengan upaya memenuhi Interaksi kompleks antara petugas, pasien dan
standar kompetensi oleh setiap petugas sesuai peralatan yang ada di RS memerlukan
dengan standar yang ditetapkan di setiap pengelolaan khusus melalui manajemen risiko.
profesi. rumah sakit dapat menempuh upaya Manajemen risiko keselamatan pasien dapat
seperti pengiriman petugas untuk mengikuti dilakukan dengan : (1) menetapkan konteks;
pelatihan berbasis kompetensi untuk setiap (2) identifikasi risiko; (3) analisis dan evaluasi;
profesi yang ada. Langkah ini terintegrasi

8 Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK) Vol…No…


(4) intervensi risiko; (5) monitoring dan SARAN
komunikasi; (6) komunikasi dan konsultasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan
Langkah nyata yang dapat ditempuh RS adalah pihak rumah sakit perlu mensosialisasikan
dengan identifikasi risiko melalui telaah rekam program keselamatan pasien. adanya tim
medis, audit medis dan penilaian indikator penggerak di ruangan, membuat tim
keselamatan menggunakan daftar tilik. Risiko keselamatan pasien, melakukan uji coba
dilihat dari penyimpangan dari prosedur atau disalah satu ruangan serta mengembangkan
clinical pathway yang berlaku di RS. langkah-langkah yang belum terlaksana.
Penggunaan daftar tilik dapat didasarkan pada
sasaran dan standar keselamatan pasien sesuai
permenkes atau JCI. Selanjutnya dilakukan
DAFTAR PUSTAKA
analisis dan grading atas risiko yang ada
berdasarkan matriks grading risiko. Evaluasi Adisasmito, W. (2012). Sistem kesehatan
dari analisis dan grading risiko dulakukan (Cetakan ke-4). Jakarta: PT Raja
untuk mendapatkan prioritas solusi dan Grafindo Persada
intervensi yang akan dilakukan. Pelaksanaan
intervensi hendaknya dilakukan monitoring Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian :
berkelanjutan untuk memastikan Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta :
keberhasilannya, serta mengkomunikasikan
secara internal dan eksternal di RS. Beni Ahmad Saebani. 2008. Metode
penelitian. Bandung : Pustaka Setia

SIMPULAN Depkes RI, (2005), Standar Pelayanan


1. Implementasi keselamatan pasien Keperawatan di Rumah sakit , Dirjen
dilakukan oleh perawat pelaksana adalah Yan Med , Jakarta
melakukan setiap tindakan sesuai dengan
SOP, mengikuti pelatihan-pelatihan Depkes RI. (2006). Panduan Nasional
tentang keselamatan pasien. Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2. Implementasi keselamatan pasien di RSJD (Patient Safety), Jakarta: Ditjen P2M
dan PLP, Jakarta
Amino Gondohutomo berdasarkan kepala
ruang saat ini sudah bagus, karena disini
telah dibuat Tim mutu untuk keselamatan Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Departemen Kesehatan RI tahun (2008)
pasien, dimana semua bekerja sudah sesuai
dengan standar-standar yang ada yaitu
SPO. Harmiady, Rauf (2014). Faktor–faktor yang
berhubungan dengan pelaksanaan
3. Kendala pelaksanaan keselamatan pasien prinsip 6 benar dalam pemberian obat
ditemukan pada sarana pengecekan efek oleh perawat pelaksana di ruang interna
samping obat masih membutuhkan dan bedah Rumah Sakit Haji Makassar.
farmakologi klinis yang masih terbatas Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosisi
sehingga untuk pemantauan obat, Volume 4 Nomor 5 Tahun 2014 ● ISSN
kemudian pemberian obat dan lain-lain ada : 2302-1721.
sebagian tugas dari farmasi yang
didelegasikan ke perawat, karena Hidayat. A Aziz Alimul. (2010). Riset
keterbatasan mereka dengan alasan keperawatan dan teknik penulisan
ilmiah. Jakarta: Salemb Medika.
kekurangan tenaga.

Penerapan Keselamatan Pasien dalam Pemberian Obat … (prahastiaboby@gmail.com) 9


Joint Commision on Acreditation of Health Sugiyono. (2011). Metode penelitian
Organization, Illinois, USA. (2007). kuantitatif kualitatif dan R&D.
Research shows disturbing drug error Bandung: Alfabeta.
rates
Syamsuny. (2006). Farmasetika dasar dan
Kee, J.L dan Evelyn R Hayes. (2009). hitungan farmasi. Jakarta: EGC
Farmakologi: Pendekatan Proses
Keperawatan. Jakarta: EGC. Tucker, SM., Mary M.C., Eleanor VP., dan
Majorie FW. (2009). Standar perawatan
Kuncoro, T. (2012). Hubungan antara pasien: Proses Keperawatan Diagnosis
pengetahuan, sikap dan kualitas dan Evaluasi. Jakarta: EGC
kehidupan kerja dengan kinerja perawat
dalam penerapan system keselamatan Undang-Undang Nomor 44 TAHUN 2009
pasien di Rumah Sakit XY. Tesis. Tentang Rumah Sakit
Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Program Studi Kajian Administrasi
Rumah Sakit Depok.

Kuntarti. (2005). Tingkat penerapan prinsip


„enam tepat‟ dalam pemberian obat oleh
perawat di ruang rawat inap. Jurnal
Keperawatan Indonesia, 9 (1). 19-25.

Lexi Moleong. (2009). Metodologi Penelitian


Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung :
Remaja Rosdakarya

Lia Mulyati dan Asep Sufyan. (2008).


Pengembangan Budaya Patient Safety
Dalam Praktik Keperawatan.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor


1691/MENKES/PER/VIII/2011 Tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit

Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A &


Hall, A. (2011). Basic nursing (Seventh
edition). Canada: Mosby Elsevier.

Setiawan, A. dan saryono. (2011). Metodologi


Penelitian kebidanan. Nuha Medika.
Jakarta

Stevens, PJM., Bordui, F., & Weyde, JAGVD.


(2009). Ilmu Keperawatan. Edisi 2.
Jakarta: EGC.

10 Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK) Vol…No…