Anda di halaman 1dari 10

Perbandingan nilai Mean Platelet Volume diantara Penderita PPOK Stabil

Derajat GOLD 2 dan GOLD 3 di RSKP Respira Yogyakarta

Wendhy Pramana, Ika Trisnawati*, Bambang Sigit Rianto*, Barmawi Hisyam*,


Sumardi*, Eko Budiono*, Heni Retnowulan*

*Sub Bagian Pulmonologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam


FK UGM/RSUP Dr Sardjito Yogyakarta

PENDAHULUAN
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) saat ini merupakan penyebab
kematian ke-4 di dunia, dan terus mengalami peningkatan morbiditas maupun
mortalitas yang progresif (Coultas et al., 2001). Sekitar 2,75 juta kematian per
tahun disebabkan oleh PPOK saat ini, dan pada tahun 2020 nanti, diperkirakan
PPOK akan menjadi penyebab kematian ke-3 di dunia (Michaud et al., 2001).
Penyakit jantung dan pembuluh darah yang terjadi sebagai suatu sekuela
dari PPOK telah diketahui sejak dekade yang lalu (Burrows et al., 1972).
Beberapa spektrum penyakit jantung dan pembuluh darah yang dapat terjadi
meliputi : disfungsi ventrikel kanan, hipertensi pulmoner, penyakit koroner, dan
aritmia (Hunninghake et al., 2005). Terganggunya fungsi paru yang terjadi pada
pasien PPOK, berhubungan dengan risiko penyakit jantung , pembuluh darah, dan
kematian yang berhubungan dengan penyakit jantung (Sin et al., 2005).
Prevalensi kejadian disfungsi ventrikel kiri, dan penyakit koroner, berdasarkan
penitian terdahulu, berturut-turut mencapai 30% dan 36% (Jeremy et al., 2008).
Suatu studi terdahulu menyatakan bahwa penyebab kematian yang sering terjadi
pada penderita PPOK derajat ringan, justru berasal dari komplikasi kardiovaskular
(Sidney et al., 2005). Studi epidemilogi sebelumnya juga menyatakan bahwa
penurunan fungsi paru, berkaitan erat dengan peningkatan kematian yang
disebabkan komplikasi kardiovaskular dari PPOK (Lung Health Study Research
Group., 2000).
Aktivasi dari platelet telah diketahui berhubungan dengan morbiditas
kardiovaskular. Platelet terlibat dalam proses atherogenesis, inflamasi, dan
atherotrombosis (Guzman et al., 2011). Mean platelet volume (MPV) meningkat

1
pada pasien-pasien dengan risiko terhadap penyakit atherotrombosis, dan
pengukuran terhadap MPV telah dijadikan suatu indikator terhadap tanda dari
adanya suatu aktivasi platelet (Park et al., 2005). Suatu studi meta analisis yang
mengkaji hubungan antara MPV dengan kejadian kardiovaskular, menyatakan
bahwa MPV lebih meningkat secara siginifikan pada infarct myocard dibanding
pada angina stabil. Studi yang lain menyatakan bahwa nilai MPV > 10,3 fL,
mempunyai risiko dua kali lipat terjadinya infarct myocard dibanding pada orang
dengan nilai MPV > 9 fL (Chu et al., 2010).
Beberapa studi menyatakan menyatakan bahwa PPOK berhubungan
dengan peningkatan nilai MPV. Onder et al (1997) merupakan peneliti pertama
yang menemukan bahwa peningkatan MPV terjadi pada penderita PPOK.
Selanjutnya, Bansal et al (2002) juga melaporkan bahwa MPV pada penderita
PPOK lebih besar secara signifikan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Ulasli et al ( 2012) menemukan bahwa MPV meningkat pada kondisi PPOK
stabil, dan akan menurun pada keadaan eksaserbasi. Penelitian baru-baru ini yang
dilakukan oleh Steiropoulos et al (2013) juga menyimpulkan bahwa MPV pada
penderita PPOK lebih besar secara signifikan jika dibandingkan dengan kelompok
perokok tanpa PPOK.
Pada penelitian terakhir di atas, didapatkan pula kesimpulan bahwa MPV
tidak berbeda secara signifikan jika dihubungkan dengan tingkat keparahan PPOK
sesuai klasifikasi GOLD (Global Initiative for Chronic Obstructive Lung
Disease). Namun hasil yang tidak signifikan tersebut kemungkinan disebabkan
karena jumlah pasien yang sedikit pada beberapa kelompok klasifikasi derajat
GOLD (Steiropoulos et al., 2013).. Maka dari itu, penelitian kali ini bertujuan
untuk mencari ada tidaknya hubungan antara penurunan fungsi paru terhadap
besar MPV, pada populasi penderita PPOK dengan derajat GOLD 2 dan 3 (FEV1
30 – 79 % prediksi).

2
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif analitik dengan pendekatan
cross sectional yang dilakukan pada pasien PPOK yang berobat di RSKP Respira
Yogyakarta (Kotagede, Minggiran, Kalasan, Bantul) periode Maret hingga
Agustus 2014. Pemilihan lokasi ini atas dasar adanya kasus PPOK, tersedianya
fasilitas pemeriksaan serta belum adanya penelitian sebelumnya di rumah sakit
ini. Diagnosa PPOK ditegakkan berdasarkan karakteristik pada anamnesis,
pemeriksaan fisik, radiologis, serta tes spirometri. Variabel dependen adalah nilai
MPV dalam satuan fL, sedangngkan variabel independen pada penelitian ini
adalah derajat keparahan PPOK berdasar GOLD, yang dibagi menjadi GOLD 2
dan GOLD 3. Variabel dependen disajikan dalam data numerik, sedangkan
variabel independen disajikan dalam data kategorik, dan dilakukan pengkajian
mengenai ada tidaknya hubungan antar kedua variabel. Analisis statistik
dikerjakan menggunakan SPSS (Stastical Package for Social Sciences, Chicago,
Illinois) v.19.0. Tes normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Untuk
data yang terdistribusi normal, hasil dinyatakan dalam rerata ± standar deviasi. Uji
independent t-test kemudian digunakan untuk menentukan ada tidaknya hubungan
antar variabel. Signifikansi didefinisikan sebagai nilai p < 0,05.

HASIL PENELITIAN
Berdasar data hasil penelitian, terdapat tiga puluh enam pasien PPOK
stabil dengan derajat GOLD 2 atau 3 menjalani perawatan di RSKP Respira
Yogyakarta sepanjang periode bulan Mei hingga Agustus 2014. Sebagian besar
pasien adalah laki-laki, yakni 34 orang (94,44%), dan hanya terdapat 2 orang
wanita (5,55%) di mana semua subjek adalah perokok, dengan rerata umur pasien
adalah 64 tahun (SD ± 8,3). Berdasarkan data pemeriksaan darah lengkap, dan
pengukuran nilai MPV yang dilakukan pada seluruh subjek, didapatkan bahwa
rerata hemoglobin (Hb) 13,75 ± 1,53g/L, angka trombosit (AT) 260 ± 88 x103/µL,
angka leukosit 8,46 ± 2,94 x 103µL, Blood Urea Nitrogen (BUN) 13,73 ± 3,20,
creatinin 0,95 ± 0,18, SGOT 22 ± 6, SGPT 19 ± 13, albumin 4,26 ± 0,31, gula
darah sewaktu (GDS) 79 ± 24 g/dL, dan MPV 8,87 ± 1,57 fL. Sedangkan, dari

3
data hasil tes fungsi paru pada subjek, didapatkan bahwa rerata FEV1/FVC pada
subjek penelitian adalah 61,67 ± 8,9 %. Rerata persen prediksi FEV1 dan adalah
45,7 ± 12,21 % , dengan jumlah pasien yang masuk ke dalam derajat GOLD 2
adalah 13 subjek (38,9%), dan GOLD 3 adalah 23 subjek (61,1%) (Tabel 1).

Tabel 1. Karakteristik Populasi Penelitian


Parameter Rerata SD
Umur (tahun) 64 8,3
Jenis Kelamin, Laki-laki/Wanita 34/2 -
Indeks Masa Tubuh (kg/m2) 19,88 2,33
Hemoglobin (g/dL) 13,75 1,53
Angka Trombosit (x 103/µL) 260 88
Angka Leukosit (x 103/µL) 8,46 2,94
BUN (mg/dL) 13,73 3,20
Creatinin (mg/dL) 0,95 0,18
SGOT (IU/L) 22 6
SGPT (IU/L) 19 13
Albumin (g/dL) 4,26 0,31
Gula Darah Sewaktu (mg/dL) 79 24
FEV1/FVC (%) 61,67 9,9
Persen prediksi FEV1 (%) 45,75 12,21
MPV (fL) 8,87 1,57

Data pemeriksaan darah lengkap, dan MPV kemudian dibandingkan


diantara subjek dengan derajat PPOK GOLD 2 dan GOLD 3. Hasil perbandingan
pemeriksaan darah lengkap menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang
bermakna dari kadar gula darah sewaktu (GDS) antara dua kelompok, yakni 90 ±
27 g/dL pada kelompok GOLD 2, dibanding 73 ± 20 g/dL pada kelompok GOLD
3 (p<0,05). Sedangkan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada
komponen pemeriksaan darah lengkap yang lain. Dari data perbandingan nilai
MPV antara 2 kelompok, Berdasarkan data hasil penelitian, didapatkan bahwa

4
penderita PPOK dengan derajat yang lebih berat (GOLD 3), memiliki nilai MPV
yang lebih besar, yakni 9,01 ± 1,51 fL dibanding 8,63 ± 1,70 fL pada penderita
PPOK derajat GOLD 2 (Gambar 1). Namun, hasil analisa statistik menunjukkan
tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p=0.500) diantara dua kelompok
tersebut (Tabel 2).

Tabel 2. Hasil analisis korelasi antara nilai MPV dengan FEV1


Parameter GOLD 2 GOLD 3 Nilai p
IMT (kg/m2) 20,28 ± 2,49 19,65 ± 2,58 0,483
Hb (g/dL) 13,54 ± 0,97 13,86 ± 1,78 0,557
AT (x 103/µL) 252 ± 75 265 ± 95 0,668
AL (x 103/µL) 8,12 ± 2,73 8,65 ± 3,09 0,506
BUN (mg/dL) 13,18 ± 3,62 14,05 ± 2,98 0,442
Creat (mg/dL) 1,00 ± 0,19 0,91 ± 0,17 0,160
SGOT (IU/L) 22 ± 6 23 ± 6 0,488
SGPT (IU/L) 16 ± 6 21 ± 15 0,269
Albumin (g/dL) 2,28 ± 0,33 4,25 ± 0,31 0,790
GDS (mg/dL) 90 ± 27 73 ± 20 0,044*
MPV (fL) 8,63 ± 1,70 9,01 ± 1,51 0,500
* p < 0,05

5
12 9,01 ± 1,51
8,63 ± 1,70

11

10
MPV (fl)

6
GOLD 2 GOLD 3

Gambar 1. Perbandingan nilai MPV pada kelompok GOLD 2 dan GOLD 3

DISKUSI
MPV merupakan salah satu dari penanda fungsi platelet (Park et al.,
2012). MPV merefleksikan tingkat produksi dan stimulasi platelet. Peningkatan
volume platelet menunjukkan peningkatan aktivitas platelet. Platelet yang besar
lebih reaktif, dan akan memproduksi lebih banyak faktor trombogenik. Selama ini,
peningkatan MPV telah dihubungkan dengan berbagai penyakit, seperti : myocard
infarct, unstable angina, stroke, dan hipertensi arteri pulmoner (Chu et al., 2010).
Melalui peneilitian terdahulu, juga didapatkan bahwa terjadi peningkatan MPV
pada penderita PPOK stabil. Bansal et al melaporkan bahwa nilai MPV lebih
tinggi secara signifikan pada 100 pasien dengan PPOK , dibandingkan dengan 100
orang sehat. Berdasar penelitian Onder et al (1997), juga disimpulkan bahwa
terdapat efek dari keadaan hipoksia pada trombosit pasien dengan PPOK, dan
menemukan bahwa nilai MPV lebih tinggi secara signifikan pada pasien PPOK
dibanding orang normal. Mekanisme yang mendasari terjadinya peningkatan
MPV pada pasien-pasien PPOK hingga saat ini belum jelas, namun terdapat teori
yang menyatakan bahwa keadaan hipoksia yang kronis, akan menyebabkan
stimulasi susmsum tulang untuk mensekresikan platelet yang lebih besar atau

6
terjadinya peningkatan sekuestrasi platelet kecil, di mana platelet yang lebih besar
akan tetap berada pada sirkulasi. Platelet yang lebih besar akan lebih aktif secara
metabolik maupun enzimatis, dan lebih banyak mengandung material
protrombotik seperti thromboxane A2 (Kamath et al., 2001). Platelet yang besar
akan meningkatkan agregasi platelet, dan pelepasan mediator aktif yang akan
menyebabkan cidera endotel (Shen et al., 1994). Cidera endotel sendiri, juga
merupakan salah satu faktor trombogenik. Pada akhirnya hal tersebut akan
meningkatkan risiko terjadinya keadaan trombosis vaskular, seperti pada penyakit
trombosis pulmoner, myocard infark, dan stroke.
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa nilai MPV pada penderita PPOK
dengan tingkat keparahan GOLD 3 lebih besar dibanding pada subjek dengan
tingkat keparahan GOLD 2. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
suatu keadaan hipoksia yang lebih berat, yang misalnya pada derajat obstruksi
saluran nafas yang lebih besar, akan menyebabkan peningkatan MPV (Biljak et
al., 2011). Namun, dari hasil analisa statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan yang siginifikan antara besaran nilai MPV diantara pasien PPOK
derajat GOLD 2 dan 3. Hal ini sesuai dengan beberapa hasil temuan penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh Biljak et al (2011), Ulasli et al(2012), dan
Steoropoulos et al (2012), yang menyatakan bahwa MPV tidak berbeda secara
statistik diantara derajat GOLD. Hasil seperti ini juga dapat disebabkan karena
besar sampel yang kecil. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa hingga saat ini,
belum nampak adanya suatu hubungan antara nilai MPV diantara berbagai derajat
tingkat keparahan PPOK.

KESIMPULAN
Aktivasi platelet telah diketahui meningkatkan angka kejadian beberapa
penyakit kardiovaskuar, dan stroke. Mean Platelet Volume (MPV) sebagai salah
satu penanda aktivasi dari platelet, terbukti meningkat pada penderita PPOK. Pada
penelitian ini, didapatkan nilai MPV semakin meningkat dengan semakin beratnya
derajat obstruksi seorang penderita PPOK. Namun tidak didapatkan adanya
perbedaan yang bermakna dari hasil analisa statistik. Hal ini kemungkinan dapat

7
disebabkan kurangnya jumlah sampel pada penelitian ini. Sehingga, seharusnya
dilakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar.

8
DAFTAR PUSTAKA

Bansal R, Gupta HL, Goel A, Yadav M. 2002. Association of increased platelet


volume in patients of chronic obstructive pulmonary disease: clinical
implications. J Indian Acad Clin Med.;3(2):169-172.

Biljak VR, Pancirov D, Cepelak I, Popovic´-Grle S, Stjepanovic´ G, Grubisˇic´


TZˇ . 2011.Platelet count, mean platelet volume and smoking status in
stable chronic obstructive pulmonary disease. Platelets.;22(6):466-470.

Burrows B, Kettel LJ, Niden AH, Rabinowitz M, Diener CF. 1972.Patterns of


cardiovascular dysfunction in chronic obstructive lung disease. N Engl J
Med;286:912–918.

Chu SG, Becker RC, Berger PB et al. 2010. Mean platelet volume as a predictor
of cardiovascular risk: A systematic review and metaanalysis. J Thromb
Haemost.; 8: 148–156.

Coultas DB, Mapel D, Gagnon R, Lydick E. 2001.The health impact of


undiagnosed airflow obstruction in a national sample of United States
adults. Am J Respir Crit Care Med.;164(3):372-377.

Guzman-Grenfell A, Nieto-Velazquez N, Torres-Ramos Y et al. 2011. Increased


platelet and erythrocyte arginase activity in chronic obstructive pulmonary
disease associated with tobacco or wood smoke exposure. J.
Investig.Med.; 59: 587–92.

Hunninghake D. 2005. Cardiovascular disease in chronic obstructive pulmonary


disease. Proc Am Thorac Soc.;2:44–49.

Jeremy A, Kadiev S, Gerard J, Steven M, Omar A, Diaz P. 2008. Cardiac Disease


in Chronic Obstructive Pulmonary Disesase. Proc Am Thorac Soc Vol 5.
pp 543–548.

Kamath S, Blann AD, Lip GY. 2001.Platelet activation: assessment and


quantification. Eur Heart J.; 22:1561–1571. [PubMed: 11492985]

Lung Health Study Research Group.2000. Effect of inhaled triamcinolone on the


decline in pulmonary function in chronic obstructive pulmonary disease. N
Engl J Med;343:1902–1909.

9
Michaud CM, Murray CJ, Bloom BR. 2001.Burden of diseaseimplications for
future research. JAMA;285(5):535-539.

Onder I, Topcu S, Do¨kmetas HS, Tu¨rkay C, Seyfikli Z. 1997.Platelet


aggregation size and volume in chronic obstructive pulmonary disease.
Mater Med Pol;29(1-4):11-13.

Park Y, Schoene N, Harris W. 2002.Mean platelet volume as an indicator of


platelet activation: methodological issues. Platelets; 13: 301–6.

Sidney S, Sorel M, Quesenberry CP, DeLuise C, Lanes S, Eisner MD. 2005.


COPD and incident cardiovascular disease hospitalizations and mortality:
Kaiser Permanente Medical Care Program. Chest;128: 2068–2075.

Sin DD, Wu L, Man SF. 2005.The relationship between reduced lung function
and cardiovascular mortality: a population-based study and a systematic
review of the literature. Chest; 127: 1952–9.

Steiropoulos P, Papanas N, Nena E, Xnthoudaki M, Goula T, Froudarakis M, Pita


E, Maltezos, Bouros D. 2013. Mean Platetel Volume and Platelet
Distribution Width in Patients With Chronic Obstructive Pulmonary
Disesase: The Role of Comorbidities. J Ang; 64 (7): 535-539

Ulasli SS, Ozyurek BA, Yilmaz EB et al. 2012. Mean platelet volume as an
inflammatory marker in acute exacerbation of chronic obstructive
pulmonary disease. Pol. Arch.Med.Wewn.; 122: 284–90.

10