Anda di halaman 1dari 6

REFRAKSI

Definisi
1. Emetropia: sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dibiaskan oleh
sistem optik mata dalam keadaan tanpa akomodasi tepat di retina
2. Miopia: sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga, dibiaskan di depan
retina
3. Hipermetropia: sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga, dibiaska di
belakang retina
4. Astigmatisma: sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga, dibiaskan
dengan kekuatan yang tidak sama, sehingga fokus pada retina tidak terletak pada
satu titik
5. Presbiopia: sinar divergen yang datang dari jarak dekat dibiaskan di belakang
retina
6. Akomodasi: kemampuan lensa untuk mencembung akibat kontraksi dari otot
siliar
7. Pungtum proksimum: titik terdekat yang masih dapat dilihat dengan jelas
8. Pungtum remotum: titik terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas

MIOPIA
Menurut penyebabnya dibedakan atas:
1. Miopia aksialis: disebabkan jarak anteroposterior bola mata terlalu panjang
2. Miopia refraktif: disebabkan kelainan pada media refraksi, misalnya keratokonus,
keratoglobus, katarak imatur
Berdasarkan berat ringannya miopia dibedakan atas:
1. Miopia sangat ringan: kurang dari 1 dioptri (D)
2. Miopia ringan: 1 – 3 D
3. Miopia sedang: 3 – 6 D
4. Miopia tinggi: 6 – 10 D
5. Miopia berat: lebih dari 10 D

1
Secara klinis dibedakan atas:
1. Miopia simpleks: kurang dari 6 D. Timbul pada usia muda kemudian berhenti
setelah pubertas, atau sedikit kenaikkan sampai umur 20 tahun
2. Miopia progresif: melebihi 6 D. Dimulai sejak lahir, mencapai puncak pada waktu
remaja, bertambah terus sampai usia 25 tahun atau lebih
3. Miopia maligna: miopia progresif yang disertai kelainan degeneratif pada koroid
Gejala:
Penglihatan kabur jauh sedangkan penglihatan dekat terang. Pada miopia tinggi
pungtum remotum kedua mata terlalu dekat, sehingga kedua mata harus melakukan
konvergensi berlebihan sehingga akan timbul keluhan astenovergen berupa mata
cepat lelah, pusing dan silau.

HIPERMETROPIA
Menurut sebabnya dibedakan atas:
1. Hipermetropia refraktif: akibat pembiasan kornea, lensa, dan humor akuos
berkurang
2. Hipermetropia aksial: akibat sumbu bola mata terlalu pendek
Jenis-jenis hipermetropia:
1. Hipermetropia manifes: hipermetropia yang dapat ditentukan dengan koreksi
kacamat, tanpa sikloplegik
2. Hipermetropia manifes fakultatif: Hipermetropia yang masih dapat diatasi dengan
akomodasi
3. Hipermetropia manifes absolut: hipermetropia yang tidak dapat diatasi dengan
akomodasi
4. Hipermetropia total: Hipermetropia yang didapatkan setelah pemberian
sikloplegik
5. Hipermetropia laten: selisih hipermetropia total dan hipermetropia manifes
Gejala:
Astenopia akomodatif, disebabkan akomodasi terus menerus pada waktu melakukan
pekerjaan dekat, sehingga menimbulkan keluhan sakit kepala, sakit disekitar mata,
mata cepat lelah, penglihatan dekat kabur.

2
Pada hipermetropia tinggi dapat terjadi strabismus konvergen, akibat berakomodasi
terus menerus bolamata melakukan konvergensi sehingga akan terlihat esotropia.

ASTIGMSTISMA
Berdasrkan titik pembiasan dibagi atas:
1. Astigmatisma reguler: terdapat dua bidang pembiasan utama yang saling tegak
lurus, dengan daya pembiasan terkuat dan terlemah. Bila daya pembiasan terkuat
pada aksis 90° disebut astigmatisma “with the rule”, sedangkan bila daya
pembiasan terkuat p;ada aksis 180° derajat disebut astigmatisma “against the rule”
2. Astigmatisma ireguler: titik pembiasan tidak teratur, dan tidak terdapat dua
bidang pembiasan yang saling tegak lurus
Berdasarkan letak pembiasan, astigmatisma reguler dapat dibagi atas:
1. Astigmatisma miopik simpleks: satu meridian berupa miopia, sedangkan meridian
yang lainnya merupakan emetropia
2. Astigmatisma miopik kompositus: kedua meridian miopia
3. Astigmatisma hipermetropia simpleks: satu meridian hipermetropia, sedangkan
meridian yang lainnya emetropia
4. Astigmatisma hipermetropia kompositus: kedua meridian hipermetropia
5. Astigmatisma mixtus: satu meridian miopia, meridian lainnya hipermetropia

PRESBIOPIA
Pada presbiopia pungtum proksimum menjadi jauh, sehingga pekerjaan dekat sulit
dilakukan. Hal ini disebabkan lensa mengalami kemunduran untuk mencembung,
disebabkan proses sklerosis. Proses sklerosis ini akan berjalan progresif sesuai
dengan bertambahnya umur. Selain itu kontraksi otot siliar juga berkurang sehingga
pengendoran zonula zinii tidak sempurna. Proses ini biasanya dimulai pada umur 40
tahun.
Gejala:
Pekerjaan dekat sukar dilakukan karena penglihatan menjadi kabur, setelah membaca
mata terasa lelah dan berair.

3
PEMERIKSAAN TAJAM PENGLIHATAN
1. Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan dengan memeriksa mata satu persatu
dengan menggunakan kartu “Snellen”, mata yang belum diperiksa ditutup.
2. Pasien duduk pada jarak 5 atau 6 meter, sinar yang datang dari jarak tersebut
dianggap sebagai sinar sejajar, atau seolah-olah berasal dari titik yang letaknya
pada jarak tak terhingga di depan mata.
3. Pasien disuruh membaca huruf pada kartu “Snellen” dari atas ke bawah, bila
kemampuan baca huruf terkecil pada baris yang menunjukkan angka 20, maka
visus tanpa kacamata adalah 5/20, artinya pada jarak 5 meter hanya dapat melihat
huruf yang seharusnya dapat dilihat pada jarak 20 meter.
4. Tambahkan lensa sferis + 0.50 D untuk menghilangkan akomodasi
5. Bila penglihatan bertambah jelas, maka kemungkinan terdapat kelainan
hipermetropia. Pada mata tersebut perlahan-lahan ditambahkan lensa sferis positif
sampai tajam penglihatan terbaik, bila tajam penglihatan maksimal yang dicapai
5/5, lensa positif ditambah lagi sampai tajam penglihatan berkurang. Koreksi
diberikan lensa sferis positif yang terkuat yang memberikan tajam penglihatan
5/5.
6. Bila penglihatan bertambah kabur, maka kemungkinan terdapat miopia,
tamabahkan lensa sferis negatif sampai tajam penglihatan terbaik, pada miopia
diberikan lensa sferis negatif terkecil yang memberikan tajam penglihatan 5/5.
7. Bila setelah pemeriksaan tersebut diatas tetap tidak tercapai tajam penglihatan
maksimal, kemungkinan terdapat astigmatisma. Lakukan “fogging technique”.
8. Setelah hipermetropia atau miopia dikoreksi, visus dikaburkan dengan lensa sferis
positif. Penderita melihat pada kisi-kisi juring astigmatisma yang berbentuk kipas,
tanyakan garis mana yang paling jelas terlihat. Bila pada garis 90° terlihat jelas,
maka tegak lurus padanya dipasang lensa silinder, yaitu pada aksis 180°.
9. Kekuatan lensa silinder perlahan-lahan dinaikkan sampai garis juring kisi-kisi
astigmatisma vertikal sama tegasnya dengan horizontal.
10. Penderita melihat kartu “Snellen”, pasang lensa sferis negatif sampai pasien
melihat jelas pada kartu “Snellen”.

4
11. Pada penderita berusia 40 tahun, dilakukan pemeriksaan baca dekat dengan kartu
“Jaeger”, kedua mata dipasang lensa sferis positif sampai penderita dapat
membaca huruf pada kartu “Jaeger”.
12. Ukur pupil distansia (PD), penderita disuruh melihat pada mata kanan pemeriksa
pada jaraj 33 cm, ukur jarak kedua pupil. Misalnya PD adalah 60 mm untuk jarak
dekat, maka untuk jarak jauh ditambah 2 – 4 mm.

STRABISMUS
Otot-otot mata, persarafan, dan fungsi:
1. M. Rektus lateralis: N. VI: abduksi
2. M. Rektus medialis: N. III: aduksi
3. M. Rektus superior: N. III: elevasi, aduksi, intorsi
4. M. Rektus inferior: N. III: depresi, aduksi, ekstorsi
5. M. Oblikus superior: N. IV: intorsi, abduksi, depresi
6. M. Oblikus inferior: N. III: ekstorsi, abduksi, elevasi
Pergerakan bolamata:
- Duksi: rotasi monokular, dengan mata lain ditutup
- Versi: pergerakan kedua mata kearah yang sama
Strabismus:
adalah suatu keadaan dimana kedudukan kedua bolamata tidak searah.
Pada keadaan normal kedudukan bolamata adalah ortoforia
Bentuk-bentuk strabismus:
1. Heterotropia: deviasi bolamata manifes, yang tidak dapat diatasi dengan
penglihatan binokular tunggal
2. Heteroforia: deviasi bolamata tersembunyi. Pada keadaan normal kedudukan
bolamata normal, apabila fusi mata diganggu akan timbul deviasi.
Cara pemeriksaan:
1. Tes Hirschberg: untuk mengukur derajat deviasi.
Penderita melihat cahaya pada jarak 30 cm, perhatikan refleks cahaya tersebut
pada pupil. Bila cahaya dipenggir pupil deviasinya 15°, cahaya diantara pinggir
pupil dan limbus deviasinya 30°, cahaya dilimbus deviasinya 45°.

5
2. Uji tutup mata: untuk mengetahui heterotropia
Mata melihat lurus kedepan, satu mata ditutup. Bila mata yang dibuka bergerak,
berarti mata yang dibuka tersebut terdapat heterotropia.
3. Uji tutup-buka: untuk mengetahui heteroforia
Mata yang ditutup akan berdeviasi, pada saat dibuka akan terlihat pergerakkan
mata tersebut untuk berfiksasi.