Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. DEFINISI
Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran atau hypertropi
prostat. Kelenjar prostat membesar, memanjang ke arah depan ke dalam
kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urine, dapat menyebabkan
hydronefrosis dan hydroureter. Istilah Benigna Prostat Hipertropi sebenarnya
tidaklah tepat karena kelenjar prostat tidaklah membesar atau hipertropi
prostat, tetapi kelenjar-kelenjar periuretralah yang mengalami hiperplasia(sel-
selnya bertambah banyak. Kelenjar-kelenjar prostat sendiri akan terdesak
menjadi gepeng dan disebut kapsul surgical.
Benigna prostate hiperplasi (BPH) adalah pembesaran secara progresif
dari kelenjar prostate (secara umum pada pria lebih dari 50 tahun)
menyebabkan berbagai derajat abstruksi uretral dan pembatasan aliran
urinarius (Doenges, 2000)
Benigna prostate hiperplasi (BPH) adalah pembesaran prostate yang
menyumbat uretra, menyebabkan gangguan urinarius (sandra M. nettina,
2002)

2. ETIOLOGI
Menurut Syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 adalah :
a. Adanya hyperplasia periuretral yang disebabkan karena perubahan
keseimbangan testosterone dan estrogen.
b. Ketidak seimbangan endokrin
c. Faktor umum /usia lanjut 30-40 tahun atau 50 tahun ke atas
3. PATOFISIOLOGI

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di
sebelah inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya
sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa ± 20 gram.
Menurut Mc Neal (1976) yang dikutip dan bukunya Purnomo (2000),
membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain zona perifer,
zona sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior dan periuretra
(Purnomo, 2000). Sjamsuhidajat (2005), menyebutkan bahwa pada usia
lanjut akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron estrogen karena
produksi testosteron menurun dan terjadi konversi tertosteron menjadi
estrogen pada jaringan adipose di perifer. Purnomo (2000) menjelaskan
bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon tertosteron,
yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubah menjadi
dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.
Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam
sel-sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi
pertumbuhan kelenjar prostat.

Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya


perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan
patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan
oleh kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher
vesika dan kekuatan kontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor
dipersarafi oleh sistem parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan
prostat oleh sistem simpatis. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran
prostat akan terjadi resistensi yang bertambah pada leher vesika dan daerah
prostat. Kemudian detrusor akan mencoba mengatasi keadaan ini dengan
jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat
detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti
balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok).
Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa
yang kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase
penebalan detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih.
Apabila keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya
mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga
terjadi retensi urin.Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu
obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi
dengan cukup lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus
(mengganggu permulaan miksi), miksi terputus, menetes pada akhir miksi,
pancaran lemah, rasa belum puas setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena
pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan
merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum
penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor (frekuensi miksi
meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency, disuria).

Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak
mampu lagi menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari
tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox
(overflow incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter
dan dilatasi. ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal.
Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik
mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan
hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan
yang menambal. Keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam
vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat
menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis
(Sjamsuhidajat, 2005)
4. MANIFESTASI KLINIK
1) Frekuensi : sering miksi / kencing
2) Sering terbangun untuk miksi pada malam hari
3) Perasaan ingin miksi yang mendesak
4) Nyeri pada saat miksi
5) Pancaran urine melemah
6) Rasa tidak puas sehabis miksi
7) Harus mengejan saat miksi

5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien dengan BPH


adalah:
1) Laboratorium

1.1) Sedimen Urin


Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau
inflamasi saluran kemih.
1.2) Kultur Urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau
sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa
antimikroba yang diujikan.

2) Pencitraan
2.1) Foto polos abdomen
Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau
kalkulosa prostat dan kadang menunjukan bayangan buii-buli
yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari retensi urin.
2.2) IVP (Intra Vena Pielografi)
Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa
hidroureter atau hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjr
prostat, penyakit pada buli-buli.
2.3) Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal)
Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli
atau mengukur sisa urin dan keadaan patologi lainnya seperti
difertikel, tumor.
2.4) Systocopy
Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang
uretra parsprostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam
rektum.

6. PENATALAKSANAAN

1) Observasi
Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan
kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien

2) Medikamentosa
Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan,
sedang, dan berat tanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan
berasal dari: phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens,
dll), gelombang alfa blocker dan golongan supresor androgen.

3) Pembedahan
Indikasi pembedahan pada BPH adalah :
3.1) Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin
akut.
3.2) Klien dengan residual urin  100 ml.
3.3) Klien dengan penyulit.
3.4) Terapi medikamentosa tidak berhasil.
3.5) Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.
Pembedahan dapat dilakukan dengan :
1. TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat  90 - 95 % )
2. Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy
3. Perianal Prostatectomy
4. Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy
4) Alternatif lain (misalnya: Kriyoterapi, Hipertermia, Termoterapi, Terapi
Ultrasonik .

7. KOMPLIKASI
1) Perdarahan
2) Inkotinensia
3) Batu kandung kemih
4) Retensi urine
5) Impotensi
6) Epididimitis
7) Haemorhoid, hernia, prolaps rectum akibat mengedan
8) Infeksi saluran kemih disebabkan karena catheterisasi
9) Hydronefrosi
10)
8. PENCEGAHAN
Berikut ini beberapa tips untuk mengurangi risiko masalah prostat, antara
lain:
1. Mengurangi makanan kaya lemak hewan
2. Meningkatkan makanan kaya lycopene (dalam tomat), selenium (dalam
makanan laut), vitamin E, isoflavonoid (dalam produk kedelai)
3. Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari
4. Berolahraga secara rutin
5. Pertahankan berat badan ideal
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
1) Sirkulasi :
Peningkatan tekanan darah (efek lebih lanjut pada ginjal )
2) Eliminasi :
2.1) Penurunan kekuatan / kateter berkemih.
2.2) Ketidakmampuan pengosongan kandung kemih.
2.3) Nokturia, disuria, hematuria.
2.4) Duduk dalam mengosongkan kandung kemih.
2.5) Kekambuhan UTI, riwayat batu (urinary stasis).
2.6) Konstipasi (penonjolan prostat ke rektum)
2.7) Masa abdomen bagian bawah, hernia inguinal, hemoroid (akibat
peningkatan tekanan abdomen pada saat pengosongan kandung
kemih)

3) Makanan / cairan:
3.1) Anoreksia, nausea, vomiting.
3.2) Kehilangan BB mendadak.
4) Nyeri / nyaman :
Suprapubis, panggul, nyeri belakang, nyeri pinggang belakang, intens
(pada prostatitis akut).
5) Rasa nyaman : demam
6) Seksualitas :
6.1) Perhatikan pada efek dari kondisinya/tetapi kemampuan seksual.
6.2) Takut beser kencing selama kegiatan intim.
6.3) Penurunan kontraksi ejakulasi.
6.4) Pembesaran prostat.
7) Pengetahuan / pendidikan :
7.1) Riwayat adanya kanker dalam keluarga, hipertensi, penyakit gula.
7.2) Penggunaan obat antihipertensi atau antidepresan, antibiotika /
antibakterial untuk saluran kencing, obat alergi.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1) Nyeri akut
2) Risiko infeksi
3) Intoleran aktivitas
4) Kurang pengetahuan

3. INTERVENSI

No Diagnosa keperawatan NOC NIC


1 Nyeri akut Setelah di lakukan Manajemen nyeri
tindakan keperawatan
Definisi: Pengalaman selama …X 24 jam Definisi: mengurangi nyeri da
sensori dan emosi yang pasien dapat mengontrol n menurunkan tingkat nyeri
tidakmenyenangkan nyeri dengan indicator: ang di rasakan pasien.
akibat adanya kerusakan 1) Mengenali faktor Intervensi:
jaringan yang actual atau penyebab 1. Observasi reaksi non
potensial. 2) Mengenali onset ( verbal dari
lamanya sakit) ketidaknyamanan
Batasan karakteristik: 3) Menggunakan 2. Lakukan pengkajian nyeri
1) Laporan nyeri metode pencegahan secara komprehensif
secara verbal atau 4) Menggunakan termasuk lokasi, karakteris
non verbal metode ti, durasi, frekuansi,
2) Gangguan tidur nonanalgenik untuk kualitas, dan factor
3) Tingkah laku mengurangi nyeri presipitasi
distraksi (jalan- 5) Menggunakan 3. Kontrol lingkungan yang
jalan, menemui analgenik sesuai dapat mempengaruhi nyeri
orang lain, kebutuhan seperti suhu ruangan,
aktivitas berulang- 6) Mencari bantuan pencahayaan dan
ulang) tenaga kesehatan kebisingan
4) Berfokus pada diri 7) Melaporkan gejala 4. Ajarkan tentang teknik non
sendiri pada tenaga farmokologi
5) Masker wajah kesehatan 5. Berikan analgetik untuk
6) Mengekspresikan 8) Menggunakan mengurangi nyeri
perilaku sumber- sumber 6. Tingkatkan istrahat
7) Perubahan selera yang tersedia Evaluasi pengalaman
makan 9) Mengenali gejala- nyeri masa lampau
8) Perubahan gejala nyeri
Tekanan Darah 10) Mencatat pengalam
9) Sikap melindungi nyeri
tubuh Melaporkan nyeri
10) Sikap melindungi sudah terkontrol
area nyeri
11) Fokus menyempit
2 Resiko infeksi Setelah di lakukan Kontrol infeksi
tindakan keperawatan 1. Bersihkan lingkungan
Definisi : Peningkatan selama …X 24 jam setelah dipakai pasien
resiko masuknya pasien dapat mencegah lain
organisme patogen terjadinya infeksi, 2. Pertahankan teknik
dengan indicator: isolasi
1. Klien bebas dari 3. Batasi pengunjung bila
tanda dan gejala perlu
infeksi 4. Instruksikan pada
2. Mendeskripsikan pengunjung untuk
proses penularan mencuci tangan saat
penyakit, factor berkunjung dan setelah
yang mempengaruhi berkunjung meninggalkan
penularan serta pasien
penatalaksanaannya 5. Gunakan sabun
3. Menunjukkan antimikrobia untuk cuci
kemampuan untuk tangan
mencegah timbulnya 6. Cuci tangan setiap
infeksi sebelum dan sesudah
4. Jumlah leukosit tindakan keperawatan
dalam batas normal 7. Gunakan baju, sarung
5. Menunjukkan tangan sebagai alat
perilaku hidup sehat pelindung
8. Pertahankan lingkungan
aseptik selama
pemasangan alat
9. Ganti letak IV perifer dan
line central dan dressing
sesuai dengan petunjuk
umum
10. Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kencing
11. Tingktkan intake nutrisi
12. Berikan terapi antibiotik
bila perlu

Infection Protection

1. Monitor tanda dan gejala


infeksi sistemik dan lokal
2. Monitor hitung granulosit,
WBC
3. Monitor kerentanan
terhadap infeksi
4. Batasi pengunjung
5. Saring pengunjung
terhadap penyakit
menular
6. Partahankan teknik
aspesis pada pasien
yang beresiko
7. Pertahankan teknik
isolasi k/p
8. Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
9. Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase
10. Ispeksi kondisi luka /
insisi bedah
11. Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
12. Dorong masukan cairan
13. Dorong istirahat
14. Instruksikan pasien
untuk minum antibiotik
sesuai resep
15. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
16. Ajarkan cara
menghindari infeksi
17. Laporkan kecurigaan
infeksi
18. Laporkan kultur positif
3 Intoleran aktivitas Setelah di lakukan 1).Catat frekuensi jantung,
tindakan keperawatan irama, dan perubahan
Definisi : Ketidakcukupan selama …X 24 jam TD selama dan sesudah
energy psikologis atau pasien dapat memenuhi aktifitas
fisiologis untuk melanjut kebutuhan aktivitasnya , 2). Tingkatkan istirahat ( di
kan atau menyelesaikan dengan indicator: tempat tidur )
aktivitas kehidupan sehar 1) klien berpartisipasi 3). Batasi aktifitas pada
ihari yang harus atau dalam aktifitas dasar nyeri dan berikan
yang ingin di lakukan sesuai aktifitas sensori yang
Batasan karakteristik kemampuan klien tidak berat.
1. Respon tekanan 2) Frekuensi 4). Jelaskan pola
darah abnormal jantung 60-100 x/ peningkatan bertahap
terhadap aktivitas menit dari tingkat aktifitas,
2. Respon frekuensi 3) TD 120-80 mmHg contoh bengun
jantung abnormal dari kursi bila tidak
terhadap aktivitas ada nyeri, ambulasi dan
3. Perubahan EKG istirahat selama 1 jam
yang mencerminkan setelah makan.
aritmia 5). Kaji ulang
4. Ketidaknyamanan tanda gangguan yang
setelah beraktivitas menunjukan tidak
5. Dispneu toleran terhadap
6. Keletihan aktifitas atau
7. Lemah memerlukan pelaporan
pada dokter.
4 Kurang pengetahuan Setelah di lakukan 1. Berikan penilaian tentang
tindakan keperawatan tingkat pengetahuan
Definisi : selama …X 24 jam pasien tentang proses
Tidak adanya atau pasien dapat mengetahui penyakit yang spesifik
kurangnya informasi tentang penyakitnya 2. Jelaskan patofisiologi dari
kognitif sehubungan dengan indicator: penyakit dan bagaimana
dengan topic spesifik. 1) Pasien dan keluarga hal ini berhubungan
menyatakan dengan anatomi dan
Batasan karakteristik : pemahaman tentang fisiologi, dengan cara
1. memverbalisasikan penyakit, kondisi, yang tepat.
adanya masalah, prognosis dan 3. Gambarkan tanda dan
ketidakakuratan program pengobatan gejala yang biasa muncul
mengikuti instruksi, 2) Pasien dan keluarga pada penyakit, dengan
perilaku tidak sesuai. mampu cara yang tepat
melaksanakan 4. Gambarkan proses
prosedur yang penyakit, dengan cara
dijelaskan secara yang tepat
benar 5. identifikasi kemungkinan
3) Pasien dan keluarga penyebab, dengna cara
mampu menjelaskan yang tepat
kembali apa yang 6. Sediakan informasi pada
dijelaskan pasien tentang kondisi,
perawat/tim dengan cara yang tepat
kesehatan lainnya 7. Hindari harapan yang
kosong
8. Sediakan bagi keluarga
informasi tentang
kemajuan pasien dengan
cara yang tepat
9. Diskusikan perubahan
gaya hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah komplikasi di
masa yang akan datang
dan atau proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
11. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat
13. Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk melaporkan
pada pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat.
4. PENYIMPANGAN KDM
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medical-Bedah. Edisi 8, Jakarta 2002

Brunner dan suddarth. Buku Saku Keperawatan Medical Bedah. Jakarta : EGC; 2002

Carpenito Lynda Jual, Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa Monica Ester. Jakarta,
EGC `2001
Doengoes E. maryline. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta, EGC: 2000

Mansjoer. Dkk.Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta, EGC : 2000

Nettina, sandra M. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta, EGC : 2002

Sjamsuhidayat. R dan Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta, EGC : 2002

http://nurse-edy-poltekkes.blogspot.com/2013/07/laporan-pendahuluan-askep-
benigna_9528.html (diakses tanggal 16 juli 2014 pukul 13.00)

http://lpkeperawatan.blogspot.com/2014/01/laporan-pendahuluan-bph-benigna-prostat-
hiperplasia.html#.U8aZNK6qRLg (diakses tanggal 16 juli 2014 pukul 13.00)

http://dokumenperawat.blogspot.com/2012/09/laporan-pendahuluan-bph.html

(diakses tanggal 16 juli 2014 pukul 13.00)

http://holisoh.wordpress.com/2010/07/31/laporan-pendahuluan-askep-bph/

(diakses tanggal 16 juli 2014 pukul 13.00)

http://lutfyaini.blogspot.com/2014/05/laporan-pendahuluan-dan-askep-benigna.html

(diakses tanggal 16 juli 2014 pukul 13.00)