Anda di halaman 1dari 22

handout

Pekerjaan Beton Bertulang

Dwinanda Galih H P
Universitas Negeri Malang
handout
Daftar Isi
1. Pelaksanaan Pekerjaan Beton Bertulang
1.1. Beton
1.2. Beton dan Beton Bertulang
1.3. Besi Tulangan
1.4. Penulangan Balok
1.5. Penulangan Pelat
1.6. Bekisting
1.7. Pengecoran
2. Pengujian Pekerjaan Beton Bertulang
2.1 Kuat Tekan Beton
2.2 Uji Slump
2.3 Pembuatan Adukan Beton
I. TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN BETON BERTULANG

1.1. BETON
Material komposit yang terdiri dari medium pengikat (pada uunya
campuran semen hidrolis dan air), agregat halus (pada umunya pasir) dan
agregat kasar (pada umunya kerikil) dengan atau tanpa bahan
tambahan/campuran/additives.

Material Utama Pembentuk Beton

Potongan Beton

Proporsi Bahan Penyusun Beton

Air Entrained Concrete: Beton yang terdapat gelembng-gelembung udara


kecil yang sengaja dibuat terperangkap oleh bahan tambahan khusus sehingga
akan merubah sifat-sifat beton. Pada beton segar, entrained air akan
meningkatkan workability campuran sehingga mengurangi jumlah air dan pasir
yang dibutuhkan.

JENIS-JENIS BETON
 Beton ringan
Berat jenisnya<1900 kg/m3, dipakai untuk elemen non structural. Dibuat
dengan cara-cara berikut: membuat gelembung udara dalam adukan
semen, emnggunakan agregat ringan (tanah liat bakar/batu apung) atau
pembuatan beton non pasir.
 Beton normal
Berat jenisnya 2200-2500 kg/m3, dipakai hamper pada semua bagian
structural bangunan.
 Beton berat
Berat jenis>2500 kg/m3, diapaki untuk struktur tertentu, missal struktur
yang harus tahan terhadap radiasi atom.
 Beton massa (mass concrete)
Beton yang dituang dalam volume besar, biasanya untuk pilar, bendungan
dan pondasi turbin pada pembangkit listrik. Pada saat pengecoran beton
jenis ini, pengendalian diutamakan pada pengelolaan panas hidrasi yang
timbil, karena semakin besar massa beton maka suhu di dalam beton
semakin tinggi. Bila perbedaan suhu di dalam beton dan suhu permukaan
beton > 20°C dapat menimbulkan terjadinya tegangan Tarik yang disertai
retak-retak.
 Ferosemen (ferrocement)
Mortar semen yang diberi anyaman kawat baja. Beton ini mempunyai
ketahanan terhadap retakan, ketahan terhadap patah lelah, daktilitas,
fleksibilitas dan sifat kedap air yang lebih baik dari beton biasa.
 Beton serat (fibre concrete)
Komposit dari beton biasa dan bahan lain yang berupa serat, dapat berupa
serat plastic/baja. Beton serat lebih daktail daripada beto biasa, diapakai
pada bangunan hidrolik, landasan pesawat, jalan raya dan lantai jembatan.
 Beton siklop
Beton biasa dengan ukuran agregat yang relative besar-besar. Agregat
kasar dapat sebesar 20 cm. Beton ini digunakan pada pembuatan
bendungan dan pangkal jembatan.
 Beton hampa
Seperti beton hampa biasa, namun setelah tercetak padat, air sisa reaksi
disedot dengan cara vakum (vacuum method)
 Beton ekspose
Beton ekspose adalah beton yang tidak memerlukan proses finishing,
biasanya beton ini dihasilkan permukaan beton yang halus (missal baja dan
multiplek film). Beton ini sering dijumpai pada gelagar jembatan, lisplang,
kolom dan balok bangunan.

SIFAT-SIFAT BETON
a. Beton segar
 Kemudahan pengerjaan/workability, umumnya dinyatakan dalam
besaran nilai slump (cm) dan dipengaruhi oleh:
 Jumlah air yang dipakai, Makin banyak air, beton makin mudah
dikerjaan
 Penambahan semen. Semen bertambah, air juga ditambahkan
agar FAS tetap, maka beton makin mudah dikerjakan
 Gradasi campuran pasir dan kerikil
 Pemakaian butir masksimum kerikil yang dipakai
 Pemakaian butir-butir batuan yang bulat
Beberapa sifat workabilitas untuk mengontrol kualitas diukur
dengan menggunakan beberapa pengujian antara lain:
 Slump test
 Compaction test
 Flow test
 Remoulding test
 Penetration test
 Mixer test
Strenght vs Workability

 Segregasi, kecenderungan agregat kasar untuk memisahkan diri dari


campuran adukan beton, peluang segregasi diperbesar dengan:
 Campuran yang kurus/kurang semen
 Pemakaian air terlalu banyak
 Semakin besar butir kerikil yang dipakai
 Campuran yang kasar, atau kurang agregat halus
 Tinggi jatuh pengecoran beton yang terlalu tinggi
 Bleeding, kecendurangn air campuran untuk naik keatas
(memisahkan diri) pada beton segar yang baru saja dipadatkan. Hal
ini dapat dikurangi dengan cara:
 Memberi lebih banyak semen dalam campuran
 Menggunakan air sedikit mungkin
 Menggunakan pasir lebih banyak
 Menyesuaikan intensitas dan durasi penggetaran pemadatan
sesuai dengan nilai slump campuran
b. Beton keras
 Sifat jangka pendek
 Kuat tekan dipengaruhi oleh:
1. Perbandingan air semen dan tingkat pemadatan
2. Jenis semen dan kualitasnya
3. Jenis dan kekasaran permukaan agregat
4. Umur
5. Suhu (kecepatan pengerasan bertambah dengan naiknya
suhu)
6. Perawatan
 Kuat tarik
Kuat tarik beton berkisar 1/18 kuat tekan beton saat umurnya
masih muda dan menjadi 1/20 sesudahnya. Kuat tarik berperan
penting dalam menahan retak-retak akibat perubahan kadar air
dan suhu.
 Kuat geser
Didalam prakteknya, kuat tekan dan tarik selalu diikuti oleh kuat
geser.
 Sifat jangka panjang
 Rangkak, adalah peningkatan deformasi (regangan) secara
bertahap terhdap waktu akibat beban yang bekerja secara konstan,
dipengaruhi oleh:
1. Kekuatan, rangkak berkurang bila kuat tekan makin besar
2. Perbandingan campuran. Bila FAS berkurang maka rangkak
berkurang
3. Agregat, rangkak bertambah bila agregat halus dan semen
bertambah banyak
4. Umur, kecepatan rangkak berkurang sejalan dengan umur
beton
 Susut, adalah berkurangnya volume beton jika terjadi kehilangan
kandungan uap air akibat penguapan, dipengaruhi oleh:
1. Agregat, berperan sebagai penahan susut pasta semen
2. FAS (Faktor Air Semen), efek susut makin besar
3. Ukuran elemen beton, laju dan besarnya penyusutan
berkurang jika volume beton makin besar
Dari semua sifat tersebut yang terpenting adalah kekuatan tekan beton
karena merupakan gambaran dari mutu beton yang ada kaitanya dengan
struktur beton. Berbagai test uji kekuatan dilakukan pada beton keras ini antara
lain:
 Uji kekuatan tekan (compression test)
 Uji kekuatan tarik belah ( spillting tensile test)
 Uji kekuatan lentur
 Uji lekatan anatara beton dan tulangan
 Uji modulus elastisitas

Diagram Laju Kenaikan Kuat Tekan Beton

1.2. BETON BERTULANG


Beton bertulang merupakan material komposit yang terdiri dari beton dan
baja tulangan yang ditanam di dalam beton. Sifat utama beton adalah sangat
kuat di dalam menahan beban tekan (kuat tekan tinggi) tetapi lemah di dalam
menahan gaya tarik. Baja tulangan di dalam beton berfungsi menahan gaya
tarik yang bekerja dan sebagian gaya tekan.
Baja tulangan dan beton dapat bekerjasama dalam menahan beban atas
dasar beberapa alasan, yaitu: (1) lekatan (bond) antara baja dan beton dapat
berinteraksi mencegah selip pada beton keras, (2) campuran beton yang baik
mempunyai sifat kedap air yang dapat mencegah korosi pada baja tulangan, (3)
angka kecepatan muai antara baja dan beton hampir sama antara 0,000010-
0,000013 untuk beton per derajat Celsius sedangkan baja 0,000012 per derajat
Celcius.
Kekuatan beton tergantung dari beberapa faktor antara lain: proporsi
campran, kondisi temperature dan kelembaban tempat dimana beton akan
mengeras. Untuk memperoleh beton dengan kekuatan seperti yang diinginkan,
maka beton yang masih muda perlu dilakukan perawata/curing, dengan tujuan
agar proses hidrasi pada semen berjalan dengan sempurna. Pada proses hidrasi
semen dibutuhkan kondisi dengan kelembaban tertentu. Apabila beton terlalu
cepat mongering, maka akan timbul retak-retak pada permukaanya. Retak-
retak ini akan menyebabkan kekuatan beton turun, juga akibat kegagalan
mencapai reaksi hidrasi kimiawi penuh. Ada beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk perawatan beton, antara lain:
 Beton dibasahi air secara terus menerus
 Beton direndam dalam air
 Beton ditutup dengan karung basah
 Dengan menggunakan perawatan gabungan acuan membrane cair untuk
mempertahankan uap air semula dari beton basah
 Perawatan uap untuk beton yang dihasilkan dari kondisi pabrik, seperti
balok pracetak, tiang, girder pratekan, dll. Temperatur perawatan sekitar
150°F.
Lamanya perawatan biasanya dilakukan selama 1 hari untuk cara ke 5, dan 5
sampai 7 hari utnuk cara perawatan lain.

1.3. BEKISTING
Pada pekerjaan bekisting, khususnya bekisting plat dan balok biasanya
dilakukan pekerjaan perancah. Pekerjaan perancah dilakukan untuk
mendukung perencanaan pembuatan bekisting balok dan pelat. Pertama-tama
yang harus dilakukan sebelum mendirikan scaffolding adalah memasang jack
base pada kaki untuk memudahkan pengaturan ketinggian, setelah itu baru
dapat disusun dan disambung antara yang satu dengan lainnya
menggunakan joint pin, dan bagian atasnya dipasang U-head untuk menjepit
balok kayu yang melintang.

Gambar pendirian scaffolding


Pekerjaan bekisting dilakukan setelah pekerjaan pembesian. Hal tersebut
berlaku pada pekerjaan pembuatan kolom. Sedangkan pada pembuatan balok
dan pelat, bekisting terlebih dahulu dikerjakan. Bekisting memiliki fungsi
dalam bangunan untuk membuat bentuk dan dimensi pada suatu konstruksi
beton, dan mampu memikul beban sendiri yang baru dicor sampai konstruksi
tersebut dapat dipikul seluruh beban yang ada.
Pelaksanaan pekerjaan bekisting pada pembuatan balok baru dapat
dilakukan setelah pekerjaan perancah selesai. Bekisting yang dibuat adalah
bekisting balok, pelat, dan kolom. Petama-tama yang harus dipersiapkan
sebelum pembuatan bekisting adalah plywood 12 mm, dan balok kayu 8/12 dan
5/7 yang telah dipotong-potong sesuai kebutuhan. Kemudian balok kayu dan
plywoood tersebut dihubungkan dengan paku, sehingga membentuk dimensi
balok yang direncanakan. Balok kayu 8/12 digunakan untuk dudukan bekisting
balok pada bagian atas scaffolding. Rangka dan penopang bekisting
menggunakan kayu 5/7 yang dipaku, kemudian plywood yang sudah dipotong
dipaku ke rangka tersebut.
Gambar pekerjaan bekisting balok

Gambar pemasangan bekisting pada balok

Pembuatan bekisting pelat dimulai dengan persiapan. Bahan yang harus


dipersiapkan adalah plywood 9 mm dan balok ukuran 5/7, 4/6 atau sejenisnya.
Pertama-tama yang harus dilakukan untuk memulai pembuatan bekisting pelat
adalah memasang multispan yang berpegangan pada bekisting balok.
Kemudian plywood yang telah dipotong-potong diletakkan di atas balok dan
disusun dengan rapi dan rapat agar tidak bocor.
Gambar tampak bawah bekisting pelat

Gambar tampak atas bekisting pelat

Bekisting pada kolom menggunakan plywood 12 mm, baja sebagai


penguaat, dan rangka besi siku yang dirancang untuk plywood. Rangka besi
siku yang telah dipasang plywood didirikan, lalu antara rangka yang satu
dengan yang lainnya dihubungkan menggunakan baut. Bekisting tersebut
diberikan sokongan samping menggunakan baja ukuran 5/7.
Gambar bekisting kolom

Gambar pemasangan bekisting kolom


Gambar pemasangan core lift

1. Bahan-bahan bekisting
 Bekisting kayu
Bahan bekisting kayu, antara lain:
 Finner
Merupakan lembaran kayu yang tipis, diperoleh dari penyayatan
dolok kayu jenis tertentu. Dapat dibuat dengan tiga (3) cara:
mengupas, menusuk, dan menggergaji.
 Kayu lapis (plywood)
Kayu triplex yaitu: terdiri dari 3 lapisan kayu
Kayu multiplex, yang terdiri atas lebih dari 3 lapisan susunan
kayu lapis, disusum sedemikian rupa sehingga arah kayu secara
bergantian bersilangan 90°, dengan maksud untuk memperbesar
kekuatan kayu dan mencegah kembang susut.
 Pelat serat kayu (softboard, hardboard)
 Pelat tatal kayu (chipboard)
Bahan bangunan kayu yang memenuhi kualitas untuk bekisting dan
perancah
 Sifat kayu yang menguntungkan adalah:
 Kekuatan yang besar pada massa volumik yang kecil
 Isolasi thermis yang sangat baik
 Mudah dikerjakan dan alat-alat sambungan yang sederhana
 Dapat menerima tumbukan dan getaran
 Harga yang relative murah dan mudah untuk didapatkan
 Sifat kayu yang tidak menguntungkan:
 Tidak homogen (serat tidak terbagi rata pada kayu)
 Tahanan terhdap retakan dan geseran kecil
 Anisotrop (memiliki sifat yang tidak sama dalam semua
arah)
 Menyusut dan mengembanya kayu, karena pengaruh cuaca
 Bahan bekisting kayu
 Papan: kayu (meranti, keruing, pinus, sdb)
 Kayu kelas II, III, IV, ebal 2,5-5 cm, lebar maksimal 16 cm
 Balok kayu, panjang sampai dengan 6 m, ukuran 5/7, 6/10,
/6/12, 6/15, 8/12, 8/15, 10/10, 10/12, 10/15
 Kayu bulat
 Papan penghubung
 Baji, lebar 10-15 cm, panjang 25 cm, tebal 0-5 cm

 Bekisting baja
Dalam teknik bekisting, material baja dipergunakan dalam berbagai
bentuk. Hal hal yang menguntungkan dari penggunaan material baja
sebagai bahan bekisting diantaranya adalah:
 Kekuatan tinggi, modulus kekenyalan besar
 Susunan yang homogeny dan istrop
 Kekerasa yang tinggi dan tahan terhadap keausan
 Dapat diperoleh dalam berbagai bentuk
Beberapa hal yang tidak menguntungkan dari bekisting baja:
 Hantara thermis yang besar
 Berat massa yang tinggi ±7859 kg/m3
 Pembentukan karat
 Pembuatan ditempat kerja khusus
Sifat baja terpenting untuk penggunaan bekisting:
 Kekuatan tarik, batas lumer/batas rentang, modulus kekenyalan
dan kekokohan
 Kekerasan
 Ketahan pada muatan yang dinamis
 Memungkinkan untuk dilas dan ditarik
 Memungkinkan pengubahan bentuk
 Bekisting alumunium
Bahan bangunan dari alumunium dibandingkan material baja,
alumunium beratnya lebih ringan, lebih sedikit pemeliharaan, akan
tetapi harganya lebih mahal
 Alumunium campuran yang paling sesuai untuk bekisting adalah
tipe AI-Mg-Si
 Kekerasanya 750-1200 N/mm2
 Modulus kekenyalanya 70-75 N/mm2
 Ketahanan patah 250-400 N/mm2
 Berat massanya 2700-2800 kg/m3

Bekisting setelah didirikan sebaiknya dicat dengan oli khusus,


sehingga mudah dapat dibongkar sesudah beton mengeras dan kuat,
jangan memakai oli mesin atau oli tuda dan sebagainya karena itu bias
mempengaruhi kualitas beton.
Bahan bangunan bekisting dari bahan-baha buatan oleh
perkembangan teknis, bahan-bahan buatan dapr digunakan sebagai
bekisting dengan sifat-sifat berikut:
 Tahan terhadap korosi
 Tahan ketokan serta tahan aus
 Mudah dibentuk
 Berat massanya rendah
 Dapat mengelak air

1.4. BESI TULANGAN


Beton adalah batu buatan yang kuat sekali menerima tekanan tetapi
sangat lemah apabila menerima gaya tarik. Jadi sifat-sifat beton sangat baik
apabila hanya menerima gaya tekan, seperti pada kolom. Tetapi setelah
beton tersebut menerima lenturan, seperti pada balok atau pelat, akan timbul
sifat-sifat lain yang tampak seperti pada karet busa. Satu sisi pada beton
lubang-lubang porinya tertekan sedangkan pada sisi yang lain
Lubang-lubang tersebut tertarik. Daerah yang tertekan terletak pada
bagian yang tertarik pada sebelah luarnya. Karena beton sangat lemah dalam
menerima gaya tarik, maka beton tersebut tidak mampu menerima gaya
tarik sehingga mengakibatkan terjadinya retak-retak yang lama-lama bisa
mengakibatkan elemen beton akan pecah. Untuk menjaga retak lebih lanjut
serta pecahnya balok tersebut, diperlukan pemasangan tulangan-tulangan
baja pada daerah yang tertarik dan daerah dimana beton akan mengalami
retak-retak. Alasan menggunakan tulangan baja ialah karena baja sangat
baik dan mampu menerima gaya tarik. Pada beton bertulang, kita
memanfaatkan sifat-sifat baik beton dalam menerima tekanan serta
memakai tulangan pada daerah-daerah yang menerima gaya tarik. Jadi
tulangan pada konstruksi beton sangat diperlukan untuk menahan gaya tarik
yang terjadi, maka dari itu diperlukan luasan tulangan minimum pada
penampang beton bruto. Dengan mengetahui φ tulangan minimum yang
harus terpasang, maka konstruksi relatif aman untuk dilaksanakan.

-
-
A. Parameter Besi Tulangan (SNI 07-2052-2002)
Besi tulangan pada umunya terbagi dua jenis, yaitu besi tulangan polos dan
ulir/sirip (deformed).
1. Diameter dan Toleransinya
 Besi tulangan polos haru memenuhi ketentuan sebagai berikut :
 Besi tulangan ulir/sirip (deform) harus memenuhi ketentuan :
Pengukuran diameter tulangan dilakukan dengan jarak yang cukup
dari ujung tulangan (min. 50 cm), untuk menghindari bagian yang
terdeformasi akibat pemotongan tulangan.

Posisi pengukuran yang salah

Untuk keperluan analisa dan perkiraan, dapat dipakai rumus-


rumus dan asumsi sebagai berikut :
jarak sirip maks = 70 x diameter nominal
tinggi sirip min = 0,05 x diameter nominal
tinggi sirip maks = 0,10 x diameter nominal
berat jenis baja tulangan = 7.850 kg/m³
luas penampang nominal = 0,25 x (22/7) x [diameter nominal]²

2. Sifat Mekanis Besi Tulangan


Besi tulangan struktur pada umunya dikelompokan berdasarkan
tegangan leleh karakteristik dan kandungan karbonya :
Parameter sifat mekanis yang harus dipenuhi oleh baja tulangan beton
adalah sebagai berikut :
Kode dan kelengkapan data material :

Sampling dan Pengujian