Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.

A
DENGAN OBS. FEBRIS DI RSUD KAB. INDRAMAYU

Nama : Wiwin Ayu Komalasari A.Md.Kep


Ruang : Golek

JL. MURAH NARA NO.07 INDRMAYU


KODE POS45222 JAWA BARAT
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini. Makala ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan tugas dengan “Asuhan Keperawatan pada An. A dengan Obs. Febris di
ruang Golek Rumah Sakit Umum Daerah Kab. Indramayu”.

Harapan penulis, semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah kami masih banyak
kekurangan sehingga kritik dan saran sangat diharapkan untuk dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Indramayu, 07 Desember 2018

Penulis
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHUUAN

A. Latar Belakang
Demam (fever, febris) adalah kenaikan suhu tubuh diatas variasi sirkandian
yang normal sebagai akibat dari perubahan pada pusat termogulasi yang terletak
dalam hipotalamus anterior” (Isselbacher, 2004)
Terjadinya Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi
mikroorganisme (virus, bakteri, parasit). Demam juga bisa disebabkan oleh faktor
non infeksi seperti kompleks imun, atau inflamasi (peradangan) lainnya. Ketika
virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, berbagai jenis sel darah putih atau
leukosit melepaskan “zat penyebab demam (pirogen endogen)” yang selanjutnya
memicu produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior, yang kemudian
meningkatkan nilai-ambang temperatur dan terjadilah demam. Selama demam,
hipotalamus cermat mengendalikan kenaikan suhu sehingga suhu tubuh jarang
sekali melebihi 41ºC.( Soeparman, 2002).
Demam atau febris merupakan pengeluaran panas yang tidak mampu untuk
mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi panas yang
mengakibatkan peningkatan suhu tubuh abnormal. Demam yang berhubungan
dengan infeksi kurang lebih hanya 29-52% sedangkan 11-20% dengan keganasan,
4% dengan penyakit metabolik dan 11-12% dengan penyakit lain Dampak demam
jika tidak mendapatkan penenganan lebih lanjut antara lain dehidrasi sedang hingga
berat, kerusakan neurologis dan kejang demam (Febrile Convulsion).
Maka dari itu penulis tertarik untuk mengambil kasus kelolan tentang
“Asuhan Keperawatan pada An. A dengan Febris di Ruang Golek di Rumah Sakit
Umum Daerah Kab. Indramayu”.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu menerapkan Asuhan Keperawatan pada klien dengan obs. febris
2. Tujuan Khusus
a. Mampu meningkatkan pengertian mengenai masalah yang
berhubungan dengan febris
b. Mampu melakukan pengkajian data pada klien engan febris
c. Mampu melakukan analisa data pada klien febris
d. Mampu melakukan perencanaan pada klien febris
e. Mampu melakukan intervensi dan evaluasi pada klien febris.
C. Sasaran
Makalah ini dilakukan pada klien yang mengalami febris pada An A
diruangan Golek di RSUD Kab. Indramayu.
D. Tempat dan Lokasi
Tempat : Rumah Sakit Umum Daerah RSUD Indramayu
Lokasi : Ruang Golek
BAB II
LAPORAN KEGIATAN / ASUHAN KEPERAWATAN

A. Laporan Pendahuluan
1. Pengertian
Febris atau demam adalah suatu keadaan di mana pengeluaran
produksi panas yang tidak mampu untuk dipertahankan karena
terjadinya peningktan suhu tubuh abnormal (Valita, 2007). Produksi
panas dapat meningkat atau menurun dapat dipengaruhi oleh berbagai
sebab, misalnya penyakit atau sters, suhu tubuh yang terlalu ekstrim
baik panas ataupun dingin dapat memicu kematian (Hidayat, 2008).
Sedangkan menurut (Widjaja, 2001) Febris atau demam merupakan
reaksi alamiah dari tubuh manusia dalam usaha manusia untuk
melakukan perlawanan terdapat beragam penyakit yang masuk atau yang
berada di dalam tubuh manusia. Normalnya suhu tubuh manusia berkisar
antara 36o – 37o C di mana pada suhu tersebut diartikan sebagai
keseimbangan antara produksi panas tubuh yang diproduksi dan panas
yang hilang dari tubuh. Penyakit febris atau demam tidak hanya diderita
pada anak-anak, tetapi pada manusia dewasa maupun lansia juga,
tergantung dari sistem imun setiap individu itu sendiri (Hidayat, 2008)

2. Klasifikasi
a. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada
malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi
hari. Sering disertai keluhanmengigil dan berkeringat. Bila demam
yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga
demam hektik.
b. Demam remitmen
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidakpernah
mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin
tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan
suhuyang dicatat demam septik.
c. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa
jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari
sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam
diantara dua serangan demam disebut kuartana.
d. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu
derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali
disebut hiperpireksia.
e. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang
diikuti oleh beberapa periode bebeas demam untuk beberapa hari
yang kemudian diikuti oleh kenaiakan suhu seperti semula.

3. Etiologi
Menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal 2000
bahwa etiologi febris,diantaranya:
a. Suhu lingkungan.
b. Adanya infeksi.
c. Pneumonia.
d. Malaria.
e. Otitis media.
f. Imunisasi

4. Patofisiologi
Demam adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon imun)
anak terhadap infeksi atau zat asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila
ada infeksi atau zat asing masuk ke tubuh akan merangsang sistem
pertahanan tubuh dengan dilepaskannya pirogen. Pirogen adalah zat
penyebab demam, ada yang berasal dari dalam tubuh (pirogen endogen) dan
luar tubuh (pirogen eksogen) yang bisa berasal dari infeksi oleh
mikroorganisme atau merupakan reaksi imunologik terhadap benda asing
(non infeksi). Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat
lain, terutama toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik yang
dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh menyebabkan demam selama
keadaan sakit.
Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap
pirogen. Pada mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan akan
difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh
bergranula besar. Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan
bakteri ke dalam cairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit.
Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat penerima
(reseptor) yang terdapat pada tubuh untuk disampaikan ke pusat pengatur
panas di hipotalamus. Dalam hipotalamus pirogen ini akan dirangsang
pelepasan asam arakidonat serta mengakibatkan peningkatan produksi
prostaglandin (PGEZ). Ini akan menimbulkan reaksi menaikkan suhu tubuh
dengan cara menyempitkan pembuluh darah tepi dan menghambat sekresi
kelenjar keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah
ketidakseimbangan pembentukan dan pengeluaran panas. Inilah yang
menimbulkan demam pada anak. Suhu yang tinggi ini akan merangsang
aktivitas “tentara” tubuh (sel makrofag dan sel limfosit T) untuk memerangi
zat asing tersebut dengan meningkatkan proteolisis yang menghasilkan
asam amino yang berperan dalam pembentukan antibodi atau sistem
kekebalan tubuh.
PATHWAY FEBRIS

Agen infeksius Dehidrasi


Mediator inflamasi

Monosit/makrofag Tubuh kehilangan cairan

Sitokin pirogen

Mempengaruhi hipothalamus penurunan cairan intrasel


Anterior
Demam

Peningkatan evaporasi meningkatnya Ph berkurang peningkatan suhu


Metabolik tubuhtubuh

Mk:
resikodefisit
volume cairan Anoreksia Kelemahan Mk
intake makanan :hipertermi
berkurang

Mk:intoleransia Mk:nutrisikur
ktivitas angdarikebut
uhan

gangguan rasa nyaman

gelisah tidakbisatidur

kurangpengetahuan
Mk:gangguanis
tirahattidur

Mk : ansietas

5. Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala terjadinya febris adalah:
a. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8⁰C - 40⁰C)
b. Kulit kemerahan
c. Hangat pada sentuhan
d. Peningkatan frekuensi pernapasan
e. Menggigil
f. Dehidrasi
g. Kehilangan nafsu makan
Banyak gejala yang menyertai demam termasuk gejala nyeri
punggung, anoreksia dan somlolen. Batasan mayornya yaitu suhu tubuh
lebih tinggi dari 37,5⁰C - 40⁰C, kulit hangat, takichardi, sedangkan batasan
karakteristik minor yang muncul yaitu kulit kemerahan, peningkatan
kedalaman pernapasan, menggigil/merinding perasaan hangat dan dingin,
nyeri dan sakit yang spesifik atau umum (misal: sakit kepala verigo),
keletihan, kelemahan, dan berkeringat (Isselbacher. 1999, Carpenito. 2000).

6. Komplikasi
Dehidrasi : demam meningkat penguapan cairan tubuh
Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Seringterjadi
pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam pertama
demam dan umunya sebentar, tidak berulang. Kejang demam ini juga tidak
membahayakan otak.

7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada pasien demam menurut (Mansjoer, 2009)
Yaitu:
1. Pemeriksaan leukosit : Pada kebanyakan kasus demam jumlah leukosit
pada sediaandarah tepi berada dalam batas normal,kadang kadang
terdapat leukositosis walaupuntidak ada komplikasi atau infeksi
sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlahleukosit berguna untuk
pemeriksaan demam.
2. Pemeriksaan SGOT (Sserum glutamat Oksaloasetat Transaminase) dan
ISGPT(Serum Glutamat Piruvat Transaminase) SGOT SGPT sering
meningkat tetapi kembalinormal setelah sembuhnya demam, kenaikan
SGOT SGPT tidak memerlukanpembatasan pengobatan.
3. Uji Widal : Uji widal aalah suatu reaksi antigen dan antibody /
agglutinin. Agglutininyang spesifik terdapat salmonella terdapat serum
demam pasien.Antigen yangdigunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dantelah diolah
dilaboratoriaum.Maksud uji Widal ini adalah untuk menentukan
adanyaagglutinin dalam serum pasien yang disangka menderita demam
thypoid.

8. Penatalaksanaan
a. Secara Fisik
Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara
berkala setiap 4-6 jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering
terkejut, atau mengigau. Perhatikan pula apakah mata anak cenderung
melirik ke atas atau apakah anak mengalami kejang-kejang. Demam
yang disertai kejang yang terlalu lama akan berbahaya bagi
perkembangan otak, karena oksigen tidak mampu mencapai otak.
Terputusnya suplai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya sel-sel
otak. Dalam keadaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi
berupa rusaknya fungsi intelektual tertentu.
1. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
2. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
3. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai
oksigen ke otak yang akan berakibat rusaknya sel-sel otak.
4. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak-banyaknyaMinuman
yang diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare
menyesuaikan), air buah atau air teh. Tujuannnya adalah agar cairan
tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh memperoleh
gantinya.
5. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
6. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya
untuk menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya
suhu tubuh dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh
digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Jangan
menggunakan air es karena justru akan membuat pembuluh darah
menyempit dan panas tidak dapat keluar. Menggunakan alkohol
dapat menyebabkan iritasi dan intoksikasi (keracunan).
7. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suam-
suam kuku. Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di
luar terasa hangat dan tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu
diluar cukup panas. Dengan demikian tubuh akan menurunkan
kontrol pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan pengatur
suhu tubuh lagi. Di samping itu lingkungan luar yang hangat akan
membuat pembuluh darah tepi di kulit melebar atau mengalami
vasodilatasi, juga akan membuat pori-pori kulit terbuka sehingga
akan mempermudah pengeluaran panas dari tubuh.
b. Obat-obatan Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu
di hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan
prostaglandin dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set
point hipotalamus direndahkan kembali menjadi normal yang mana
diperintah memproduksi panas diatas normal dan mengurangi pengeluaran
panas tidak ada lagi. Petunjuk pemberian antipiretik:
1. Bayi 6 – 12 bulan : ½-1 sendok the sirup parasetamol
2. Anak 1 – 6 tahun : ¼-½ parasetamol 500 mg atau 1-1½ sendokteh
sirup parasetamol
3. Anak 6 – 12 tahun : ½-1 tablet parasetamol 500 mg atau 2 sendok
teh sirup parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan dengan
air atau teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari.Gunakan
sendok takaran obat dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya.
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan
demam dan sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak
dengan kelainan kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit
neurologis dan pada anak yang berisiko kejang demam.Obat-obat anti
inflamasi, analgetik dan antipiretik terdiri dari golongan yang bermacam-
macam dan sering berbeda dalam susunan kimianya tetapi mempunyai
kesamaan dalam efek pengobatannya. Tujuannya menurunkan set point
hipotalamus melalui pencegahan pembentukan prostaglandin dengan jalan
menghambat enzim cyclooxygenase. Asetaminofen merupakan derivat para
-aminofenol yang bekerja menekan pembentukan prostaglandin yang
disintesis dalam susunan saraf pusat. Dosis terapeutik antara 10-15
mgr/kgBB/kali tiap 4 jam maksimal 5 kali sehari. Dosis maksimal 90
mgr/kbBB/hari Pada umumnya dosis ini dapat d itoleransi dengan
baik.Dosis besar jangka lama dapat menyebabkan intoksikasi dan
kerusakkan hepar.Pemberiannya dapat secara per oral maupun
rektal.Turunan asam propionat seperti ibuprofen juga bekerja meneka n
pembentukan prostaglandin.Obat ini bersifat antipiretik, analgetik dan
antiinflamasi. Efek samping yang timbul berupa mual, perut kembung dan
perdarahan, tetapi lebih jarang dibandingkan aspirin. Efek samping
hematologis yang berat meliputi agranulositosis dan anemia aplastik.Efek
terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut (terutama bila dikombinasikan
dengan asetaminopen).Dosis terapeutik yaitu 5-10 mgr/kgBB/kali tiap 6
sampai 8 jam.Metamizole (antalgin) bekerja menekan pembentukkan
prostaglandin.Mempunyai efek antipiretik, analgetik da n antiinflamasi.
Efek samping pemberiannya berupa agranulositosis, anemia aplast ik dan
perdara han saluran cerna. Dosis terap eutik 10 mgr/kgBB/kali tiap 6 -8 jam
dan tidak dianjurkan unt uk anak kurang dari 6 bulan.Pemberiannya secara
per oral, intramuskular atau intravena. Asam mefenamat suatu obat gol
ongan fenamat.Khasiat analgetiknya lebih kuat dibandingkan sebagai
antipiretik.Efek sampingnya berupa dispepsia dan anemia hemolitik.Dosis
pemberiannya 20 mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pemberiannya secara per
oral dan tidak boleh diberikan anak usia kurang dari 6 bulan.

9. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi, proses penyakit.
b. Resiko injuri berhubungan dengan infeksi mikroorganisme.
c. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan
diaforesis.
d. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
10. Rencana keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan (NOC) (NIC)
1. Hipertermia Setelah dilakukan tindakan - Fever treatment
berhubungan dengan keperawatan selama…x24jam - Monitir suhu sesering
proses infeksi, proses klien menunjukkan temperatur mungkin
penyakit. dalam batas normal dengan - Monitor IWL
Batasan karakeristik : kriteria hasil: - Monitor warna dan suhu
 Kenaikan suhu Suhu Tubuh dalam batas kulit
tubuh diatas normal - Monitor tekanan darah,
rentang normal Bebas dari kedinginan nadi dan RR
 Serangan atau Suhu tubuh stabil 36,50-37,50c - Monitor penurunan tingkat
konvulsi (kejang) Termoregulasi dbn kesadaran
 Kulit kemerahan Nadi dbn - Monitor WBC, HB dan
 Pertambahan RR <1 bln : 90-170 HCT
 Takikardi <1 thn : 80-160 - Monitor intake dan output
 Saat disentuh 2 thn : 80-120 - Kolaborasikan pemberian
tangan terasa 6 thn : 75-115 antipiretik
hangat 10 thn : 70-110 - Berikan pengobatan untuk
14 thn : 65-100 mengatasi penyebab
>14thn : 60-100 demam
Respirasi dbn - Selimuti pasien
BBL : 30-50 x/m - Berikan cairan intravena
Anak-anak : 15-30 x/m - Kompres pasien pada lipat
Dewasa : 12-20 x/m paha dan aksila
- Tingkatkan sirkulasi udara
- Berikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya
menggigil
- Temperature regulation
- Monitor suhu minimal tiap
2 jam
- Rencanakan monitoring
suhu secara kontinyu
- Monitor TD, nadi dan RR
- Monitor warna dan suhu
kulit
- Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
- Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi
- Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
- Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan
suhu dan kemungkinan
efek negative dari
kedinginan
- Berikan antipiretik bila
perlu
- Vital Sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu
dan RR
- Monitor VS pada saat
pasien berbaring, duduk
atau berdiri
- Monitor TD , nadi, RR,
sebelum, selama dan
sesudah aktivitas
- Monitor kualitas dari nadi
- Monitor frekuensi dan
irama dari pernafasan
- Monitor suara paru
- Monitor pola pernafasan
abnormal
- Monitor warna, suhu dan
kelembaban kulit
- Monitor sianosis perifer
- Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
- Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
2. Resiko injuri Setelah dilakukan tindakan - Sediakan lingkungan yang
berhubungan dengan keperawatan selama …x24jam aman untuk pasien
infeksi anak bebas dari cidera dengan - Identifikasi kebutuhan
mikroorganisme. kriteria hasil: keamanan pasien sesuai
Menunjukan homeostatis dengan kondisi fisik dan
Tidak ada perdarahan mukosa fungsi kognitif pasien dan
dan bebas dari komplikasi lain riwayat penyakit terdahulu
pasien
- Menghindari lingkungan
yang berbahaya misalnya
memindahkan perabotan
- Memasang side rail tempat
tidur
- Menyediakan tempat tidur
yang nyaman dan bersih
- Membatasi pengunjung
- Memberikan penerangan
yang cukup
- Menganjurkan keluarga
untuk menemani pasien
- Mengontrol lingkungan
dari kebisingan
- Memindahkan barang-
barang yang dapat
membahayakan
- Berikan penjelasan pada
pasien dan keluarga atau
pengunjung adanya
perubahan status
kesehatan dan penyebab
penyakit.
3. Resiko kurang cairan Setelah dilakukan tindakan - Fluid management:
berhubungan dengan keperawatan selama …x24jam - Pertahankan catatan intake
intake yang kurang volume cairan adekuat dengan dan output yang akurat
dan diaphoresis, kriteria hasil: - Monitor status dehidrasi
faktor yang Mempertahankan urine output (kelembaban membrane
mempengaruhi sesuai dengan usia dan BB, BJ mukosa, nadi adekuat,
kebutuhan cairan urine normal, HT normal tekanan darah ortostatik)
(hipermetabolik). Tekanan darah, nadi, suhu - Monitor vital sign
tubuh dalam batas normal - Monitor asupan makanan/
Tidak ada tanda- tanda cairan dan hitung intake
dehidrasi, elastisitas turgor kulit kalori harian
baik, membrane mukosa lembab, - Lakukan terapi IV
tidak ada rasa haus yang - Monitor status nutrisi
berlebihan. - Berikan cairan
- Berikan cairan IV pada
suhu ruangan
- Dorong masukan oral
- Berikan penggantian
nasogastrik sesuai output
- Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
- Anjurkan minum kurang
lebih 7-8 gelas belimbing
perhari
- Kolaborasi dokter jika
tanda cairan berlebih
muncul memburuk
- Atur kemungkinan
transfusi
4. Ansietas Setelah dilakukan tindakan - Kaji dan identifikasi serta
berhubungan dengan keperawatan selama 2x24jam luruskan informasi yang
hipertermi, efek ansietas klien/keluarga hilang dimiliki klien/keluarga
proses penyakit dengan kriteria hasil: mengenai hipertermi
Klien/keluarga dapat - Berikan informasi pada
mengidentifikasi hal-hal yang klien/keluarga yang akurat
dapat meningkatkan dan tentang penyebab
menurunkan suhu tubuh hipertermi
Klien/keluarga mau - Validasi perasaan
berpartisipasi dalam setiap klien/keluarga dan
tidakan yang dilakukan yakinkan klien/keluarga
Klien/keluarga bahwa kecemasan
mengungkapkan penurunan merupakan respon yang
cemas yang berhubungan dengan normal
hipertermi, proses penyakit - Diskusikan dengan
klien/keluarga rencana
tindakan yang dilakukan
berhubungan dengan
hipertermi dan keadaan
penyakit
B. Asuhan Keperawatan
Tanggal masuk RS : 07 Desember 2018
Tanggal Pengkajian : 08 Desember 2018
Ruang : Golek
No. RM : 038530
Diagnosa Medis : Febris

1. Pengkajian
a) Identitas Klien
Nama : An. A
Umur : 3th
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Pendidikan :-
Pekerjaan :-
Status :-

b) Penanggung Jawab
Nama : Tn. C
Umur : 38th
Alamat : Kiajaran

2. Riwayat Keperawatan
1) Keluhan Utama
Demam
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien datang ke Rumah Sakit dengan demam ±7hari naik turun, sempat
turun beberapa hari kemudian 2 hari terakhir demam muncul kembali.
3) Riwayat kesehatan Masa Lalu
Keluarga klien mengatakan klien belum pernah sakit dan dirawat
sebelumnya.
4) Riwayat Kesehatan Keluarga.
Orang tua klien mengatakan tidak mempunyai penyakit berat sebelumnya
akan tetapi nenek klien pernah menderita penyakit asma. Nenek klien
pernah menderita penyakit asma.
5) Riwayat Psikososial
 Orang tua klien mengatakan apabila dirumah klien aktif dalam
melakukan tindakan.
 Orang tua klien mengatakan jika dirumah klien bermain dengan teman
sejawatnya.
 Orang tua klien mengatakan apabilah dirumah klien tidak rewel, akan
tetapi saat dirumah sakit klien cenderung rewel.
 Orang tua klien mengatakan tidak terlalu memfikirkan beban biaya
rumah sakit karena orang tua klien memiliki asuransi kesehatan
keluarga.
 Klien cenderung pendiam dan tidak aktif dalam bermain.

3. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaaan umum klien


 Tanda – tanda dari distress : klien sering rewel
 Penampilan dihubungkan dengan usia : -
 Ekspresi wajah,bicara, mood : wajah klien nampak pucat, bicaranya
lemah, kliean tidak terlalu mood dalam melakukan aktivitas.
 Berpakaian dan kebersihan umum : klien mandi 2 hari sekali dan selalu
mengati pakaiannya.
 Tinggi badan, BB, gaya berjalan : 100 cm, 20 Kg, Gaya berjalan normal
seperti anak - anak pada umumnya.
b. Tanda - tanda Vital :
 Suhu : 38,5 derajat
 Nadi : 77 kali/menit
 Pernafasan : 29 kali/ menit
 Takanan darah : -
c. Sistem Pernafasan
 Hidung : Inspeksi :kesimetrisan (+), pernafasan cuping hidung (-) adanya
secret atau polip (-), passase udara (-).
 Leher : Inspeksi dan palpasi : pembesaran kelenjar (-), tumor (-).
 Dada : Inspeksi ;bentuk dada ( normal), ukuran ( sama ), gerakan dada (
kiri dan kanan seimbang, retraksi (-), keadaan PX ( normal)
 Auskultasi :suara nafas ( normal), suara nafas tambahan (-).
 Palpasi : Clubbing finger (-).
a. Sistem Kardiovaskuler.
 Inspeksi : Conjungtiva (anemia), bibir (pucat), pembesaran jantung (-)
 Palpasi :Arteri carotis (normal), Tekanan vena jugularis (normal), Ictus
cordis/apex (teraba diantara costa 4)
 Auskultasi : suara jantung tambahan (-), bising aorta (-), murmur (-),
gallop (-), tricuspidalis dan mitral (-).
b. Sistem Pencernaan.
 Inspeksi : seklera (-), bibir (kering), Mulut (stomatitis (-), jumlah gigi (22
buah), kemampuan menelan (-), gerakan lidah (-).
 Gaster : kembung (-), gerakan peristaltik (-)
 Abdomen:
o Inspeksi: tidak ditemukan luka, bentuk simetris.
o Palpasi : Tidak ditemukan pembesaran di kuadran I – IV, Tidak
ditemukan nyeri tekan
o Perkusi : suara timpani
o Auskultasi : bising usus (+)
 Anus : kondisi (normal).
c. Sistem Indra
 Mata:
o Kelopak mata (+), bulu mata (+), alis (+), lipatan epikantus dengan
ujung atas telinga (+).
o Visus (+)
o Lapang pandang (+)
 Hidung
o Penciuman (+), perih dihidung (-), trauma (-), mimisan (-).
o Secret yang menghalangi penciuman (-).
 Telinga
o Keadaan daun telinga (+), operasi telinga (-)
o Kanal auditoris (+)
o Membran tympani (+)
o Fungsi pendengaran (+).
d. Sistem Saraf.
 Fungsi celebral
o Status mental : daya ingat (+), perhatian dan perhitungan (+), bahasa
(+).
o Kesadaran : GCS 7
o Bicara : expresive dan reseptive (-).
 Fungsi cranial
o Saraf cranial I s/d XII (+)
 Fungsi motorik
o Massa (-)
o Tonus dan kekuatan otot (+4)
 Fungsi sensorik
o Suhu : 38,5 derajat
o Nyeri : (+)
o Getaran posisi dan diskriminasi : (-)
 Fungsi cerebellum
o Koordinasi dan keseimbangan (+)
 Refleks
o Ekstermitas atas : (+4)
o Ekstermitas bawah : (+4)
o Superficial : (+4)
e. Sistem Muskuloskeletal
 Kepala : bentuk kepala bundar
 Vertebrae : Normal
 Pelvis : Normal
 Lutut : Normal
 Kaki : Normal
 Bahu : Simetrsis, normal
 Tangan : Normal
f. Sistem Integumen
 Rambut : tebal, warna hitam dan halus.
 Kulit : warna pucat, temperatur ( 38,5 derajat), kelembaban (-), bulu kulit
(halus), tahi lalat ( di bawah bibir sebelah kiri ), ruam (-).
 Kuku : warna (putih bening), mudah patah (-), kebersihan (+).
g. Sistem Endokrin
 Kelenjar tiroid : pembesaran (-)
 Percepatan pertumbuhan : Normal
 Gejala keratinisme atau gigantisme : (-)
 Ekskresi urin berlebihan (-), polidipsi (-), poliphagi (-)
 Suhu tubuh yang tidak seimbang (+), keringat berlebihan (+), leher kaku (-
).
 Riwayat bekas air seni dikelilingi semut : (-).
h. Sistem Perkemihan
 Edema Palpebra (-)
 Moon face (-)
 Edema Anasarka (-)
 Keadaan kandung kemih (+)
 Nocturia (-), dysuria (-), kencing batu (-).
 Penyakit hubungan seksual (-).
i. Sistem Reproduksi
 Keadaan glendpenis : tidak dikaji
 Testis : tidak dikaji
 Pertumbuhan rambut : tidak dikaji
 Pertumbuhan jakun : tidak dikaji
 Perubahan suara : tidak dikaji
j. Sistem Imun
 Alergi (-)
 Imunisasi : BCG, DPT, MMR
 Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca : Flu (+)
 Riwayat transfusi dan reaksinya : (-)
1. Aktivitas Sehari – hari
a. Nutrisi
 Selera makan : menurun
 Menu makan dalam 24 jam : BSTIK
 Frekuensi makanan dalam 24 jam : 2 kali sehari
 Makanan yang disukai : telur mata sapi
 Makanan pantangan : sayur wortel
 Pembatasan pola makan : (-)
 Cara makan : menggunakan sendok dan piring
 Ritual sebelum makan : membaca doa sebelum makan
b. Cairan
 Jenis minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam : air putih dan susu
 Frekuensi minum : tidak menentu
 Kebutuhan cairan dalam 24 jam : tidak diketahui
c. Eliminasi ( BAB & BAK )
 Tempat pembuangan : toilet
 Frekuensi : tidak diketahui
 Konsistensi : padat
 Kesulitan dan cara menanganinya : tidak
 Obat – obat untuk memperlancar BAK/BAB : -
d. Istirahat Tidur
 Apakah cepat tertidur : (+)
 Jam tidur : siang 3 jam dan malam hari 9 jam (dirumah), siang 2 jam dan
malam 5 jam ( di RS )
 Bila tidak dapat tidur apa yang di lakukan : orang tua klien mengendong
dan mengajak jalan – jalan
 Apakah tidur secara rutin : iya.
e. Personal Hygiene
 Mandi : frekuensi ( 2 kali sehari ), alat mandi : gayun, kesulitan (-),
mandiri/dibantu : dibantu, cara : seperti biasanya.
 Cuci rambut : 3 kali dalam seminggu
 Gunting kuku : 1 kali dalam 2 minggu
 Gosok gigi : 2 kali sehari.
f. Aktivitas / mobilitas fisik
 Kegiatan sehari – hari : bermain
 Pengaturan jadwal harian : -
 Penggunaan alat bantu untuk aktivitas : (-)
 Kesulitan pergerakan tubuh : (-)
g. Rekreasi
 Bagaimana perasaan anda saat bekerja : tidak dikaji
 Berapa banyak waktu luang : tidak dikaji
 Apakah puas setelah rekreasi : tidak dikaji
 Apakah anda dan keluarga menghabiskan waktu senggang : tidak dikaji
 Bagaimana perbedaan hari libur dan hari kerja : tidak dikaji
2. Test Diagnostik
a. Laboratorium
 Hemoglobin : 14, 8
Normal L: 13,5 – 18,09 /dl; P: 11,5 – 16,09 /dl
 Leukosit : 2.800
Normal : 3.300 / 10.300 / cmm
 LED : 15 – 22
Normal L: 6 – 15 mm; P: 0 – 20 mm
 Hitung jenis : 0/0/1/73/26/0
Normal : 1-2/0-1/3-5/54-62/25 – 33/3-7
 Hematokrit : 47,0
Normal L : 40 – 54 %, P : 35 – 47 %
 Trombosit : 262.000
Normal : 130.000 – 450.000
 Eritrosit : 4.980.000
Normal L : 4,5 – 6,5 juta / cmm; P : 3,0 – 6,0 juta / cmm
b. Widal : positif (+)
c. Ro foto : -
d. CT Scan : -
e. MRI, USG, EEG, ECG, dll : -
3. Terapi Saat Ini.
- Antipiretik : Parasetamol
- Antibiotik : cefotoxim
- Infus Kaen 1b

C. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
keperawatan
1 Ds : Terpapar S. thypoid Hipertermi
 Orang tua klien mengatakan, ↓
klien mengalami panas tinggi, Mediator inflamasi
dan tidak turun – turun. ↓
 Orang tua klien mengatakan Monosit/Makrofag
klien sudah 7 hari yang lalu ↓
mengalami panas. Panas Sitokin pirogen
muncul secara tiba – tiba dan ↓
semakin hari panasnya Mempengaruhi
semakin naik hipotalamus anterior
 Orang tua klien mengatakan ↓
apabilah dirumah klien tidak Memicu hormone
rewel, akan tetapi saat prostaglandin
dirumah sakit klien ↓
cenderung rewel. Respon fisiologis
DO : metabolism meningkat

 temperatur klien saat dikaji ↓

38,5 derajat Aksi antipiretik

 Pernafasan : 29 kali/ menit ↓

 Ditemukan adanya flu Demam (Hipertermi)

 wajah klien nampak pucat,


bicaranya lemah, kliean tidak
terlalu mood dalam
melakukan aktivitas
2 Ds: Terpapar S. thypoid Resiko kekurangan
 Orang tua klien ↓ volume cairan
mengatakan, klien Mediator inflamasi
mengalami panas tinggi, ↓
dan tidak turun – turun. Monosit/Makrofag
 Orang tua klien ↓
mengatakan klien sudah 7 Sitokin pirogen
hari yang lalu mengalami ↓
panas. Panas muncul Mempengaruhi
secara tiba – tiba dan hipotalamus anterior
semakin hari panasnya ↓
semakin naik Demam

 Klien cenderung pendiam Peningkatan evaporasi
dan tidak aktif dalam ↓
bermain Risiko Kekurangan
Do: Volume Cairan

 Konjungtiva anemis
 Bibir kering dan pucat
 Suhu tubuh : 38,5˚C
 Keringat berlebihan (+)
Ds: Mempengaruhi Kekurangan nutrisi
 Selera makan : menurun hipotalamus anterior kurang dari
 Orang tua klien ↓ kebutuhan tubuh
mengatakan apabilah Demam
dirumah klien tidak rewel, ↓
akan tetapi saat dirumah Peningkatan evaporasi
sakit klien cenderung ↓
rewel. Selera makan menurun
 Klien cenderung pendiam ↓
dan tidak aktif dalam Konjungtiva anemia
bermain. ↓
Do: Bibir pucat

 Conjungtiva (anemia), ↓
bibir (pucat), Adanya bisisng usus
 bibir (kering) ↓
 Perkusi : suara timpani Kondisi melemah
 Auskultasi : bising usus
(+)

D. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi b.d agent formaseotikal ditandai dengan suhu abnormal, gelisah,
kulit terasa hangat
dan takikardi.
2. Resiko kekurangan volume cairan b.d kehingan volume cairan aktif
(keringat yang berlebihan), penyimpangan yang mempengaruhi absorbs cairan
dan penyimpangan yang memepengaruhi asupan cairan.
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor biologis
(demam) ditandai dengan b.d faktor biologis ditandai dengan bising usus
hiperaktif, kurang minat pada makan, membrane mukosa kering dan pucat.

E. Rencana Tindakan
1. Diagnose keperawatan 1: Hipertermi b.d agent formaseotikal ditandai dengan
suhu abnormal, gelisah, kulit terasa hangat dan takikardi.
 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam panas tubuh
klien dapat berkurang dengan
 Kriteria Hasil :
Noc thermogulation
No Indikator 1 2 3 4 5
1 Keringat ketika panas V

2 Hipertermi V
3 Peningkatan temperature V
kulit
4 Dehidrasi V

Nic :Temperature Regulation


1. Monitor suhu minimal tiap 4 jam atau sesuai indikasi
2. Monitor TD, nadi, RR
3. Monitor warna dan suhu kulit
4. Monitor tanda-tanda hipertermi
5. Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
7. Ajarkan pada klien cara mencegah keletihan akibat panas
8. Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan kedaruratan
yang diperlukan
9. Kelola pemberian anti piretik jika perlu
Nic :Fever Treatment
1. Monitor suhu tiap 4 jam atau sesuai indikasi
2. Monitor intake dan output cairan
3. Monitor penurunan tingkat kesadaran
4. Berikan antipiretik sesuai indikasi
5. Berikan pakaian yang tipis untuk pasien
6. Tingkatkan sirkulasi udara dengan kipas angina
7. Kompres pasien pada daerah ketiak dan lipatan paha

2. Diagnose 2 : Resiko kekurangan volume cairan b.d kehingan volume cairan aktif
(keringat yang berlebihan), penyimpangan yang mempengaruhi absorbs cairan dan
penyimpangan yang memepengaruhi asupan cairan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawtan selama 2x 24 jam resiko volume
cairan menurun
Kriteria Hasil : Didapatkan hasil pada idikator NOC
NOC: fluid balance
No Indikator 1 2 3 4 5
1 Kelembapan Membrane
mukosa
2 Konjungtiva anemis
3 Intake dan output selama
24 jam seimbang
NOC:hydration
No Indikator 1 2 3 4 5
1 Fluid intake

2 Elevasi suhu tubuh

NIC: Fluid management


- Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
- Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa), jika diperlukan
- Monitor vital sign
- Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian
- Lakukan terapi IV
3. Diagnosa keperawatan no 3: Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d faktor biologis (demam) ditandai dengan b.d faktor biologis ditandai
dengan bising usus hiperaktif, kurang minat pada makan, membrane mukosa kering
dan pucat
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam nutrisi dari
kebutuhan tubuh pasien akan membaik
Kriteria Hasil : Didapatkan skor pada indikator NOC
NOC :Nutritional status
No Indikator 1 2 3 4 5
1 Nutrient intake

2 Food Intake
3 Fluid intake
4 Hydration

NOC : Appetite
No Indikator 1 2 3 4 5
1 Keinginan untuk makan

2 Stimulus untuk makan

Nic : Nutrion Therapy


 Pengkajian terhadap nutrisi klien
 Monitoring makanan dan minuman yang masuk dan kalkulasikan berapa
kalori yang masuk
 Beri makanan yang bergizi seperti tinggi protein, kalori dan minum.
 Meningkatkan pengelolaan cairan

Nic: nutritional monitoring


 Monitor perkembangan klient
 Monitor turgor kulit
 Monitoring hasil laboratorium terkait dengan hemoglobin
 Identifikasi ketidak abnormalan pada kuku
BAB IV
PENUTUP

Setelah dilakukan pengkajian pada An. A selama 3 hari ini klien mengalami
keadaan yang cukup bagus. Demikianlah yang dapat penulis sampaikan mengenai materi
yang menjadi bahasan dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan
karena terbatasnya pengetahuan penulis.
Penulis menyadari sebagai penyusun makalah ini masih memiliki banyak
kekurangan, sehingga Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan
makalah selanjutnya.

Indramayu, 12 Desember 2018

Wiwin Ayu Komalasari, Amd.Kep


Daftar Pustaka

Soeparman dan Suparmin, 2002.Pembuangan Tinja dan Limbah Cair. Penerbit


Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Soegijanto, Soegeng, 2002. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosis dan Penatalaksanaan.
Edisi 1. Jakarta: Selemba Medika
Isselbacher, J Kurt. 1999. Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam / editor
edisi bahasa Inggris, Kurt J. Isselbacher....[et al] ; editor edisi bahasa
Indonesia, Ahmad H. Asdie.- Ed. 13- Jakarta : EGC.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2006. Konsensus Penatalaksanaan Kejang
Demam. Unit kerja Neurologis
Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi
Konsep dan Proses Keperawatan Buku 2, Jakarta: Salemba Medika.
Abraham, Rudolph, dkk. 2006. Buku Ajar Pediatric Rudolph. Jakarta : EGC.
Abdoerrachman. 2007. Ilmu Kesehatan Anak Cetakan Kesebelas. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Arief Mansjoer, dkk. 2002. Askariasis. Dalam : Kapita Selekta
Kedokteran. Jilid 1, Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. Halaman : 416 –
418.
Alimul Aziz, H. (2008). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Edisi 2. Jakarta:
Salemba Medika.