Anda di halaman 1dari 6

KASUS PEMBAJAKAN KAPAL INI DIDAPATKAN MELALUI ARTIKEL :

Liputan6.com. "WNI Disandera Abu Sayyaf, TNI AL Perketat Wilayah Pesisir Sulut".
Diakses tanggal 28 November 2018

Rimanews.co. "Kronologi Pembajakan Kapal WNI oleh Kelompok Abu


Sayyaf". Diakses tanggal 28 November 2018

Liputan6.com. "Siapa Kelompok Abu Sayyaf Terduga Pembajak Kapal RI di


Filipina". Diakses tanggal 28 November 2018

BBC Indonesia. "Dua kapal Indonesia dibajak di Filipina, 10 WNI disandera" Diakses
tanggal 28 November 2018

Liputan6.com. "Menlu: Pembajak Kapal Mengaku dari Kelompok Abu Sayyaf"


Diakses tanggal 28 November 2018

Tempo Nasional. "Panglima TNI Ungkap Motif Pembajakan Kapal oleh Abu Sayyaf"
Diakses tanggal 28 November 2018

1. LATAR BELAKANG
Pembajakan di kapal laut sudah ada sejak jaman Illyrians tahun 233 SM. Pada
saat itu kekaisaran Romawi telah melakukan upaya untuk melindungi pedagang Italia
dan Yunani dari kejahatan pembajakan ketika berlayar di laut. namun pembajakan
terus bertahan dan menyebar ke berbagai belahan dunia.
Pembajakan di laut mempunyai dimensi internasional karena biasanya
digunakan untuk menyebutkan tindakan kekerasan yang dilakukan di laut.
Pembajakan di laut sejak dahulu telah diatur berdasarkan hukum kebiasaan
internasional karena dianggap mengganggu kelancaran pelayaran dan perdagangan
antar bangsa. Pengaturan oleh hukum kebiasaan internasional tersebut terbukti dari
praktek yang terus menerus dilakukan oleh sebagian besar negara-negara di dunia.
Melihat sederet kasus pembajakan dan penyanderaan yang terjadi terhadap
kapal Indonesia dan juga melibatkan warga negara Indonesia sudah sepatutnya ada
upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mencegah hal ini
terjadi kedepannya dan juga sebagai upaya penyelamatan. Upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan adanya intervensi untuk perlindungan warga negara di
negara lain (Intervention for Protection of National Abroad). Namun upaya ini masih
diperdebatkan oleh beberapa akademisi tentang keabsahan ataupun legalitasnya
sebagai suatu alasan untuk penggunaan kekuatan bersenjata dalam penyelamatan
korban yang berada di wilayah yurisdiksi negara lain.
2. DASAR HUKUM YANG MENGATUR TERKAIT PEMBAJAKAN KAPAL
Dinyatakan telah melakukan pelanggaran terhadap undang undang antara lain :
A. Konperensi P.B.B. tentang Hukum Laut
diadakan di Jenewa dari 24 Pebruari sampai 27 April 1958, menerima baik
peraturan-peraturan yang berikut sebagai pernyataan umum akan dasar-dasar yang
diletakkan dari pada hukum internasional.
Pasal 4.
Tiap negara, baik negara berpantai maupun tidak, berhak melakukan pelayaran
dengan benderanya masing-masing di laut lepas.

Pasal 5.
(1) Tiap negara akan menentukan syarat-syarat kebangsaan yang telah diakui
bagi kapal-kapalnya untuk keperluan pendaftaran kapal-kapal itu dalam
daerahnya, serta memakai benderanya. Kapal-kapal memiliki kebangsaan negara,
yang memberikan hak kepadanya untuk mengibarkan benderanya. Meskipun
demikian agar supaya tanda kebangsaan kapal dapat diakui oleh negara-negara
lain, maka harus ada hubungan yag wajar antara negara dan kapal; khusus, negara
itu harus tegas (effectively) menyelenggarakan hal-hal yang ada sangkut pautnya
dengan kekuasaan hukum, (yurisdiction) dan pengawasan atas persoalan-
persoalan administrasi, teknik dan sosial dari kapal-kapal yang mengibarkan
benderanya.
(2) Sebagai pelaksanaan hal-hal tersebut, maka tiap negara harus memberikan
bukti-bukti kepada kapal-kapal yang telah diberi hak untuk mengibarkan
benderanya.

Pasal 6.
(1) Kapal-kapal harus mengibarkan benderanya satu negara saja dan dalam
keadaan luar biasa yang ditentukan dengan sengaja, dicantumkan dalam
perjanjian-perjanjian internasional atau dalam pasal-pasal ini, harus tunduk
kepada hukum-hukum yang khusus berlaku pada laut lepas. Sebuah kapal tidak
boleh mengganti benderanya selama dalam perjalanan atau selama berada di
pelabuhan yang disinggahi, kecuali jika kapal-kapal itu benar-benar dipindah
tangankan oleh pemilik atau dalam hal perubahan pendaftaran.
(2) Sebuah kapal yang berlayar memakai bendera dari dua negara atau lebih,
dengan sesuka hati, tidak. boleh menuntut sesuatu kebangsaan yang dimaksud
terhadap sesuatu negara, dan kapal itu dapat disamakan dengan sebuah kapal
tanpa kebangsaan.

Pasal 7.
Diadakannya pasal-pasal tersebut di atas merugikan (mengurangi) persoalan
tentang kapal-kapal yang dipergunakan bagi keperluan yang bersifat resmi dari
organisasi antara pemerintah, yang memakai bendera organisasi tersebut.

Pasal 10.
(1) Tiap negara harus mengadakan peraturan-peraturan bagi kapal-kapal yang
memakai benderanya yang perlu untuk menjamin keamanan di laut antara lain
sepanjang mengenai :
(a)pemakaian semboyan, pemeliharaan perhubungan dan pencegahan
pelanggaran;
(b)pengawakan kapal-kapal dan syarat-syarat kerja bagi awak kapal dengan
memperhatikan dokumen kerja internasional yang berlaku;
(c)konstruksi, perlengkapan dan laiklaut kapal-kapal.
(2) Dalam persoalan tentang peraturan-peraturan yang demkian tiap negara
diharuskan menyelaraskan diri dengan pokok-pokok umum internasional yang
telah disetujui, serta mengambil sesuatu langkah yang perlu untuk menjamin
ditaatinya peraturan-peraturan tersebut.

Pasal 11.
Tidak akan diperintahkan oleh para pejabat untuk menyita atau menahan kapal,
selain dari pada pejabat negaranya kapal itu sendiri, meskipun perbuatan itu
dilakukan sebagai tindakan pemeriksaan.
Pasal 12.
(1) Tiap negara akan mengharuskan nakhoda sebuah kapal untuk memakai
bendera negara itu, sepanjang ia dapat bertindak demikian tanpa benar-benar
membahayakan kapal, awak kapal atau penumpang-penumpang :
(a)memberi bantuan kepada setiap orang yang diketemukan di laut sedang dalam
keadaan bahaya akan tenggelam (hilang);
(b)bertindak secepat mungkin untuk menolong orang-orang yang dalam keadaan
bahaya, jika diberitahu bahwa mereka membutuhkan pertolongan, sepanjang
tindakan itu dapat diharapkan dari padanya secara layak;
(c)setelah terjadi pelanggaran, memberikan pertolongan kepada lain kapal, awak
dan penumpangnya dan, dimana mungkin, memberitahukan kepada lain kapal
namanya kapal sendiri, pelabuhan pendaftaran dan pelabuhan yang terdekat yang
akan disinggahinya.

B. Undang- undang pidana pembajakan kapal


 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Bab XXIX tentang Kejahatan
Pelayaran
Pasal 446
Barang siapa atas biaya sendiri atau orang lain, secara langsung maupun
tidak langsung turut melaksanakan penyewaan, pemuatan atau
pertanggungan sebuah kapal, padahal diketahuinya bahwa kapal itu akan
digunakan sebagai yang dirumuskan dalam pasal 438, 38, atau untuk
melakukan salah satu perbuatan yang dirumuskan dalam pasal 439 - 441,
diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun dalam

Pasal 447
Barang siapa dengan sengaja menyerahkan sebuah kapal Indonesia dalam
kekuasaan bajak laut, bajak tepi laut, bajak pantai, dan bajak sungai,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. jika ia
adalah nakoda kapal itu;
3. KRONOLOGI PEMBAJAKAN KAPAL
Dua kapal Indonesia, yakni kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand
12, telah dibajak kelompok yang mengaku Abu Sayyaf di Filipina. Kedua kapal itu
membawa 7.000 ton batubara dan 10 awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.
Saat dibajak, kedua kapal dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan
Selatan, menuju Batangas, Filipina Selatan. pembajakan terjadi “di perairan Tawi-
tawi” di Filipina Selatan. sebelumnya “tidak pernah ada kejadian (pembajakan) kapal
Indonesia di kawasan tersebut”.
kapal memulai pelayaran pada 15 Maret 2016 dan Pihak pemilik kapal baru
mengetahui terjadi pembajakan pada 26 Maret 2016, pada saat menerima telepon dari
seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf.
Abu Sayyaf adalah kelompok separatis yang terdiri dari milisi Islam garis
keras yang berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan dan
Mindanao. dalam dua kali telepon antara pembajak-penyandera sejak tanggal 26
Maret, mereka meminta tuntutan sejumlah uang tebusan. berdasarkan laporan yang
beredar, Abu Sayyaf meminta tebusan 50 juta peso atau setara Rp14,2 miliar, dengan
tenggat pada 31 Maret 2016.
4. SIMPULAN
Pembajakan di laut lepas baik yang dilakukan oleh kapal-kapal asing, maupun
oleh kapal-kapal domestik di wilayah perairan internasional akhir-akhir ini telah
menimbulkan keresahan bagi pelayaran internasional. Penindakan kejahatan
pembajakan laut lepas tersebut didasarkan pada berlakunya hukum internasional yang
berkaitan dengan pembajakan laut lepas.
Berdasarkan kasus yang diangkat dalam analisis ini ditinjau dari tinjauan
pustaka kasus tersebut telah memenuhi kriteria sebagai pembajakan di laut
(perompakan). Dengan dipenuhinya unsur-unsur berdasarkan pasal 101 UNCLOS
1982, yaitu :
 Dilakukan oleh awak atau penumpang pesawat pribadi lainnya (syarat
adanya dua kapal atau two-vessel requirement).
Dalam kasus yang telah diuraikan diatas, diketahui bahwa kelompok
perompak abu sayyaf telah melakukan penahanan sepihak dengan kekerasan
terhadap kapal berserta awak Dua kapal Indonesia, yakni kapal tunda Brahma
12 dan kapal tongkang Anand 12

 Tindakannya dilakukan untuk tujuan pribadi (private ends)


Penahanan sepihak yang dilakukan oleh kelompok perompak Militan abu
sayyaf tersebut dilakukan demi kepentingan pribadi. Hal tersebut terbukti dari
dalam dua kali telepon dari pembajak sejak tanggal 26 Maret, mereka
meminta tuntutan sejumlah uang tebusan, Abu Sayyaf meminta tebusan 50
juta peso atau setara Rp14,2 miliar, dengan tenggat waktu pada 31 Maret
2016.