Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR REAKSI ANORGANIK


PREPARASI GARAM MOHR

OLEH :

KELOMPOK : 6

ANGGOTA : 1. HAFZHATUL HUSNA

2. FINNY RAHMATANIA

3. SERLI SUKMA YULI

4. RIZKI ANGGI SUHAIRAH NASUTION

DOSEN : MIFTAHUL KHAIR,S.Si,M.Sc,Ph.D

ASISTEN : 1. AULIA RAHMAN

2. MUTIA NURUL

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNVERSITAS NEGERI PADANG


2018
PREPARASI GARAM MOHR

A. Tujuan
1. Melakukan preparasi kristal besi (II) amonium sulfat heksahidrat (garamMohr)
2. Melakukan perhitungan dalam pembuatan garam Mohr

B. Waktu dan Tempat

Hari / tanggal : Rabu / 14 Maret 2018

Waktu : 07.00 – 9.40 WIB

Tempat : Laboratorium Kimia Anorganik,FMIPA UNP

C. Dasar Teori

Garam Mohr merupakan garam rangkap yang terdiri dari garam besi (II) sulfat dengan
garam amonium sulfat berbentuk kristal monoklin dan hijau kebiru-biruan (Anissa: 2010,
wikipedia). Oleh karena itu, proses pembuatan garam Mohr melalui proses kristalisasi,
yaitu melibatkan reaksi kimia, proses pemanasan, pendidingan, dan filtras.(Agustinus
Ngatin, Mentik Hulupi2, 2012)

Garam-garam logam alkali umumnya diarahkan oleh titik lelehnya yang tinggi, oleh
hantaran listrik lelehnya dan kemudahannya larut dalam air. Mereka kadang-kadang
terhidrasi bila anion-anionnya kecil, seperti dalam halida, karena energi hidrasi ion-ion
terbentuk tidak cukup untuk mengimbangi energi yang diperlukan untuk memperluas
kisi.(Cotton, 1990)

Unsur besi (Fe) dalam suatu sistem Periodik Unsur (SPU) termasuk ke dalam
golongan VIII. Besi dapat dibuat dari biji besi dalam tungku pemanas. Biji besi biasanya
mengandung Fe2O3 yang dikotori oleh pasir (SiO2) sekitar 10%, serta sedikit senyawa
sulfur, fosfor, aluminium, dan mangan. Besi dapat pula dimagnetkan.(S, 1999)

Besi adalah logam yang menempati urutan kedua dari logam-logam yang umum
terdapat di kerak bumi. Logam ini cukup reaktif sehigga lebih cenderung terdapat sebagai
senyawa dengan unsur lain dalam bijihnya. Ada dua macam bijih besi terpenting yang
mengandung oksidanya yaitu hematite, Fe2O3 dan magnetit, Fe3O4. Dalam bentuk
senyawanya besi umumnya terdapat sebagai sebagai besi (II) dan besi (III). Kedua kation
itu banyak terdapat sebagai garam, dan yang terpenting adalah garam besi (II) sulfat.
Garam ini dapat diperoleh dengan cara melarutkan besi atau besi (II) sulfida dalam asam
sulfat encer, sesuai dengan reaksi Setelah larutan disaring, kemudian diuapkan, maka
terbentuk kristal FeSO4·7H2O berwarna hijau. (T et al., 2017)

Semua garam besi (II) terhidrat mengandung ion [Fe(H2O)6]2+ yang berwarna pucat
kehijauan, jika sebagian teroksidasi menjadi besi (II) warna menjadi kuning kecokelatan.
Kristal garam besi (II) sulfat heptahedrat, FeSO4.7H2O cenderung kehilangan beberapa
molekul air. Dalam fase padat garam rangkap amonium besi (II) sulfat atau lebih tepatnya
ammonium heksa akua besi (II) menunjukkan stabilitas kisi yang paling tinggi. Garam ini
diudara terbuka tidak mengalami eflourense dan juga tidak teroksidasi, sehingga sering
dipakai sebagai larutan standar khususnya pada titrasi redoks, misalnya untuk standarisasi
kalium permanganat.(Kristian H .Sugiyarto, 2003)

Ion besi (II) dapat mudah dioksidasikan menjadi Fe (III), maka merupakan zat
pereduksi yang kuat. Semakin kurang asam larutan itu, semakin nyatalah efek ini; dalam
suasana netral atau basa bahkan oksigen dari atmosfer akan mengoksidasikan ion besi
(II). Garam-garam besi (III) atau feri diturunkan dari oksida besi (III), Fe 2O3. Mereka
lebih stabil daripada garam besi (II). Dalam larutannya, terdapat kation-kation Fe3+ yang
berwarna kuning muda; jika larutan mengandung klorida, warna menjadi semakin kuat.
Zat-zat pereduksi mengubah ion besi (III) menjadi besi (II). Ion ferro [Fe(H2O)6]2+
memberikan garam berkristal (Svehla, 1990)

Garam ini isomorf dengan garam Epsom, MgSO4.7H2O. Dalam skala besar, garam
ini ini dibuat dengan cara mengoksidasi FeS2 perlahanlahan di udara yang mengandung
air. Garam besi (II) sulfat dapat bereaksi dengan garam sulfat dari logam alkali
membentuk garam rangkap dengan rumus umum : M2Fe(SO4) · 6H2O dengan M logam
alkali tanah K, Rb, Cs, atau NH4. Jika besi (II) sulfat dan ammonium sulfat dilarutkan
dengan jumlah mol masing-masing sama menghasilkan larutan jenuh maka akan
terbentuk garam (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O. Pada proses ini besi (II) sulfat dilarutkan
dalam air panas dan sedikit asam sulfat untuk mencegah oksidasi menjadi besi (III),
kemudian larutan dicampur dengan larutan amonium sulfat dengan perbandingan mol
yang sama. Jika campuran kedua larutan didinginkan akan terbentuk kristal garam
(NH4)2FeSO4.6H2O berwarna hijau kebiru-biruan. Garam ini dikenal sebagai garam
Mohr. Salah satu kelebihan garam Mohr dibndingkan dengan garam besi (II) sulfat atau
besi (II) klorida adalah kestabilan garam ini terhadap oksidasi. Kristal garam Mohr stabil
di udara dan larutannya tidak mudah dioksidasi oleh oksigen di 28 atmosfir. Garam Mohr
antara lain digunakan dalam analisis volumetric untuk menstandarisasi kalium
permanganat atau kalium bikromat.(T et al., 2017)

Kualitatif Garam Mohr Garam Mohr mengandung kation besi (II) dan ion sulfat,
maka adanya ion besi (II) ditunjukkan dengan reaksi basa membentuk Fe(OH)2 yang
berwarna hijau kotor (Svehla G:1985) dan ion sulfat dengan ion barium membentuk
endapan putih dari barium sulfat (BaSO4). (Agustinus Ngatin, Mentik Hulupi2, 2012)

Besi yang sangat halus bersifat pirofor. Logamnya mudah larut dalam asam mineral.
Dengan asam bukan pengoksidasi tanpa udara, diperoleh Fe II. Dengan adanya udara atau
bila digunakan HNO3 encer panas, sejumlah besi menjadi Fe (III). Asam klorida encer
atau pekat dan asam sulfat encer melarutkan besi, pada mana dihasilkan garam-garam
besi (II) dan gas hydrogen. Besi murni cukup reaktif. Dalam udara lembap cepat
teroksidasi memberikan besi (III) oksida hidrat (karat) yang tidak sanggup melindungi,
karena zat ini hancur dan membiarkan permukaan logam yang baru terbuka. Suatu bahan
yang digunakan dalam proses peleburan besi yaitu biji besi, batu kapur (CaCO 3) dan
kokas(C). Semua dimasukkan dari atas menara. Pada bagian bawah dipompakan udara
yang mengandung oksigen. Salah satu kereakitfan besi yang merugikan secara ekonomi
adalah korosi, penyebabnya adalah udara dan uap air membentuk Fe 2O3. Bilangan
oksidasi besi adalah +2 dan +3, tetapi umumnya besi (II) lebih mudah teroksidasi spontan
menjadi besi (III). Oksidasi besi yang telah dikenal adalah FeO, Fe2O3, dan Fe3O4.
Oksidasi FeO sulit dibuat karena terdisproporsionasi menjadi Fe dan Fe 2O3.(Svehla,
1990)

Adapun sifat-sifat yang dimiliki dari unsur besi yaitu besi mudah berkarat dalam
udara lembab dengan terbentuknya karat (Fe2O3.nH2O), yang tidak melindungi besinya
dari perkaratan lebih lanjut, maka dari itu biasanya besi di tutup dengan lapisan logam zat
– zat lain seperti timah, nikel, seng dan lain – lain. Suatu besi jika dalam keadaan pijar
besi dapat menyusul O dan H2O (uap) dengan membentuk H2 dan Fe3O4. Sedangkan jika
di pijarkan di udara, besi akan membentuk Fe2O3 (ferri oksida) dan menggerisik, serta
jika suatu besi tidak termakan oleh basa, besi dapat larut dalam asam sulfat encer dan
asam klorida dengan membentuk H2, asam sulfat pekat tidak memakan besi.(Cotton and
Wikinson, 1989)

Garam-garam unsur triad besi biasanya terkristal dari larutan sebagai hidrat. Jika
diletakkan pada uap lembab atmosfer, tergantung pada tekanan parsial H 2O, hidrat dapat
terjadi dalam warna-warna yang berbeda. Pada udara kering, air hidrat lepas dan padatan
berangsur-angsur berubah warna menjadi merah muda. Senyawa besi (II) menghasilkan
endapan biru turnbull, jika direaksikan dengan heksasianoferrat (III).(Cotton and
Wikinson, 1989)

Besi membentuk dua deret garam yang penting. Garam-garam besi (II) (atau ferro)
diturunkan dari besi (II) oksida , FeO. Dalam larutan, garam-garam ini mengandung
kation Fe2+ dan berwarna sedikit hijau. Ion-ion gabungan dan kompleks-kompleks yang
berwarna tua adalah juga umum. Ion besi (II) dapat mudah dioksidasi menjadi besi (III),
maka merupakan zat pereduksi yang kuat. Semakin kurang asam larutan itu, semakin
nyatalah efek ini, dalam suasana netral atau basa bahkan oksigen dari atmosfer akan
mengoksidasi ion besi (II). Maka larutan besi (II) harus sedikit asam bila ingin disimpan
untuk waktu yang agak lama.(Svehla, 1990)

Garam Mohr (NH4)2SO4.[Fe(H2O)6]SO4 cukup stabil terhadap udara dan terhadap


hilangnya air, dan umumnya dipakai untuk membuat larutan baku Fe 2+ bagi analisis
volumetrik dan sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik. Sebaiknya
FeSO4.7H2O secara lambat melapuk dan berubah menjadi kuning coklat bila dibiarkan
dalam udara. Penambahan HCO3– atau SH– kepada larutan akua Fe2+ berturut-turut
mengendapkan FeCO3 dan FeS. Ion Fe2+ teroksidasi dalam larutan asam oleh udara
menjadi Fe3+. Dengan ligan-ligan selain air yang ada, perubahan nyata dalam potensial
bias terjadi, dan system FeII – FeIII merupakan contoh yang baik sekali mengenai efek
ligan kepada kestabilan relatif dari tingkat oksidasi.(Cotton and Wikinson, 1989)
Ion ferro [Fe(H2O)6]2+ memberikan garam berkristal. Garam mohr (NH4)2SO4.
Fe(H2O)6 SO4 cukup stabil terhadap udara dan terhadap hilangnya air, dan umumnya
dipakai untuk membuat larutan baku Fe2+ bagi analisis volumetri, dan sebagai zat
pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik. Sebaliknya FeSO4.7H2O secara lambat
melapuk dan berubah menjadi kuning cokelat bila dibiarkan dalam udara.(S, 1999)

D.ALAT DAN BAHAN

ALAT

(1) gelas piala 250 ml


(2) gelas ukur
(3) neraca
(4) Pembakar Bunsen
(5) Kaki tiga + kasa asbes
(6) Corong
(7) Pipet tetes

BAHAN

(1) serbuk besi atau paku halus


(2) H2SO4 10%
(3) Amonia
(4) Kertas saring

E.PROSEDUR KERJA

Larutan dibuat terpisah

-Larutan A
(dibuat dengan melarutkan 3.5 gram besi dalam 50 ml H2SO4 10 %)
-kemudian larutan tersebut dipanaskan sampai besi itu larut
Kemudian di saring panas
-Ditambahkan asam sulfat supaya tidak terjadi oksidasi besi menjadi
besi
-Larutan kemudian diuapkan sampai terbentuk kristal hijau
dipermukaan larutan menandakan terbentuknya besi (II) sulfat
Heptahidrat
Larutan B
-dibuat dalm gelas piala 250 ml
-100 ml H2SO4 10 % dinetralkan dengan amoniak menghasilkan
amonium sulfat
Larutan A dan larutan B di campurkan
-hingga terbentuk Kristal hijau muda
F.PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini membahas tentang preparasi garam Mohr. Preparasi
ini bertujuan untuk melakukan preparasi kristal besi (II) ammonium sulfta heksahidrat
serta mengetahui perhitungan dalam pembuatan garam Mohr.
Garam Mohr adalah garam rangkap dua yaitu garam yang pada kisi kristalnya
mengandung dua kation yang berbeda dengan proposi tertentu. Garam rangkap dua
terbentuk jika garam mengkristal bersamaan dalam perbandingan mol tertentu dan dalam
larutan garam rangkap akan terionisasi menjadi ion-ion komponennya.
Pada percobaan ini, praktikan akan menggunakan besi dalam bentuk serbuk.
Hal pertama yang dilakukan yaitu membuat larutan A dengan melarutkan 1,75 gram
serbuk besi dalam 25 ml H2SO4 10%. Larutan tersebut dipanaskan sampai larutan
berwarna abu-abu. Dimana warnanya tidak terlalu keruh dari Fe (paku). Tujuan dari
pemanasan ini adalah sebagai katalisator. Karena reaksi akan berlangsung cepat jika suhu
dinaikkan. H2SO4 adalah pelarut yang mengandung proton dan dapat diionkan dan
bersifat asam kuat. Serbuk besi yang sudah larut dalam H2SO4 larutannya akan berwarna
biru bening. Larutan tersebut langsung disaring saat masih panas bertujuan untuk
menghindari terbentuknya kristal pada suhu rendah.
Percobaan ini menghasilkan garam besi (II) yang merupakan garam Besi (II)
yang tepenting. Garam-garam (II) atau Fero diturunkan dari besi (II) oksida, FeO+.
Dalam larutan garam ini mengandung ion Fe2+ sehingga berwarna hijau dan
pembentukan FeSO4 dari logam Fe.
Hal kedua yang dilakukan yaitu membuat larutan B dengan menetralkan 25 ml
H2SO4 10% dengan amonnia. Campuran tersebut berupa larutan jenih dan panas.
Kemudian pengukuran pH dan mengatur pH agar menjadi normal atau netral. Larutan
kemudian diuapkan hingga jenuh sampai timbul endapan-endapan kristal. Reaksi yang
terjadi yaitu
H2SO4 + NH4+ (NH4)2SO4
Setelah kedua larutan tersebut siap, maka untuk membuat pembentukan garam
mohr dicampurkan kedua larutan dalam keadaan masih panas, kondisi ini dipertahankan
agar tidak terjadi pengkristalan larutan yang rendah. Larutan akan menghasilkan larutan
yang berwarna hijau muda. Untuk memperoleh kristal dibutuhkan suhu yang rendah.
Reaksi yang berlangsung yaitu
FeSO4(aq) + (NH4)2SO4 + 6H2O (NH4)2Fe(SO4)2. 6H2O
G.KESIMPULAN
1. Garam Mohr merupakan senyawa kompleks besi dengan ligan ammonium dan sulfat
dengan rumus molekul (NH4)2Fe(SO4)2. 6H2O
2. Garam yang diperoleh berbeda dari perhitungan (teori)

Jawaban Pertanyaan
1. Tuliskan dengan persamaan reaksi proses larutnya asam sulfat
H2SO4 + Fe FeSO4 + H2
2. Tuliskan persamaan reaksi pembentukan larutan ammonium sulfat dengan
menetralisir asam sulfat dengan ammoniak
H2SO4 + 2NH3 (NH4)2SO4
3. Bagaimana cara menguji kemurnian garam mohr yang dihasilkan?
Dengan menguji titik leleh kristal yang didapatkan
DAFTAR PUSTAKA

Agustinus Ngatin, Mentik Hulupi2, E. M. W. (2012). Sintesis Garam Mohr, 2(Ii).


Cotton, F. A. (1990). No Title. Jakarta: UI-Press.
Cotton and Wikinson. (1989). Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI- Press.
Kristian H .Sugiyarto. (2003). Dasar-dasar Kimia Anorganik Logam. Yogyakarta: UNY-
Press.
S, S. (1999). Kimia Dasar 3. Bandung: ITB.
Svehla, G. (1990). Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro
Bagian I. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka.
T, L., K, K., Fauziah, R., Si, M., Laelasari, E., & Pd, S. (2017). P enuntun P raktikum.
PADANG : FMIPA UNP.

Anda mungkin juga menyukai