Anda di halaman 1dari 12

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Data Demografi
1. Letak geografi dan Topografi

a. Daerah wilayah kerja Puskesmas serta topografinya bervariasi mulai dari tanah
datar, pegunungan dan berbukit-bukit dengan kemiringan rata-rata 10 derajat
sampai dengan 36 derajat, terdiri dari dataran, sungai dan danau.
b. Pegunungan dengan ketinggian kurang lebih 500 s/d 1000 meter dari permukaan
laut.
a) Hubungan antar kampung yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat dan
roda dua, adalah: kampung Nolokla, Asei Kecil, Nendali, Puai dan Yokiwa.
b) Hubungan antar kampung yang hanya bisa ditempuh dengan alat transportasi air,
adalah: kampung Asei Besar dan Itakiwa.
c) Hubungan antar kota Kabupaten dengan Distrik menggunakan alat transportasi
darat (roda empat dan roda dua).
d) Wilayah Distrik Sentani Timur beriklim tropis basah dengan variasi curah hujan
antara 1500 s/d 2500 mm/tahun
e) Musim hujan sepanjang tahun, hanya pada bulan mei, juni juli curah hujan agak
sedikit berkurang.
f) Musim pancaroba berdasarkan letak dan kondisi geografi seakan-akan musim
peralihan tidak terasa.
g) Angin kurang dipengaruhi oleh musim.
h) Suhu maksimal 33 derajat
B. Hasil Penelitian
1. Analisa Univariat
Pada analisis univariat ini data dideskripsikan menurut karakteristik masing-
masing variabel yang diteliti mulai dari umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien sebagai berikut;
a. Karakteristik Umur Responden
Tabel 5.1 Data Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden di Puskesmas
Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.
Umur Responden Frekuensi Presentase (%)
13-17 tahun 10 15.2
18-49 tahun 41 62.1
>50 tahun 15 22.7
Total 66 100.0

Pada tabel diatas 5.1 dari hasil analisa diperoleh frekuensi umur responden sebagian
besar berumur 18-49 tahun sebanyak 41 responden (62,1%), umur responden >50
tahun sebanyak 15 responden (22,7%) dan umur responden 13-17 tahun sebanyak
10 responden (15,2%).
b. Karakteristik Jenis kelamin responden
Tabel 5.2 Data Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Responden di
Puskesmas Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.
Jenis Kelamin Frekuensi Presentasi (%)
Laki-laki 21 31.8
Perempuan 45 68.2
Total 66 100.0

Pada tabel diatas 5.2 dari hasil analisa diperoleh jenis kelamin responden terbanyak
yaitu perempuan 45 responden (68,2%) dan frekuensi paling sedikit laki-laki 21
responden (31.8%).
c. Karakteristik Pendidikan responden
Pada tabel 5.3 Data Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di Puskesmas
Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.
Pendidikan Frekuensi Presentasi (%)
Tidak sekolah 3 4.5
SD 7 10.6
SMP 10 15.2
SMA 32 48.5
Perguruan tinggi 14 21.2

Total 66 100.0

Pada tabel diatas 5.3 dari hasil analisa diperoleh pendidikan responden sebagian
besar berpendidikan SMA sebanyak 32 responden (48,5%), Perguruan tinggi
sebanyak 14 responden (21,2%), SMP sebanyak 10 responden (15,2%), SD
sebanyak 7 responden (10,6%) dan yang terendah tidak sekolah sebanyak 3
responden (4,5%).
d. Karakteristik Pekerjaan responden
Pada tabel 5.4 Data Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di Puskesmas
Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.
Pekerjaan Frekuensi Presentasi (%)
Pelajar 18 27.3
Wiraswasta 2 3.0
PNS 4 6.1
Pegawai Swasta 3 4.5
IRT 27 40.9
Petani 12 18.2
Total 66 100.0

Pada tabel diatas 5.4 dari hasil analisa diperoleh Pekerjaan responden sebagian
besar yaitu IRT 27 responden (40,9%), pelajar 18 responden (27,3%), Petani 12
responden (18.2%), PNS responden (6,1%) pegawai swasta 3 responden (4.5%)
dan yang paling rendah yaitu wiraswasta 2 responden (3,0).
e. Karakteristik Komunikasi Terapeutik responden
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik di Puskesmas Harapan
Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.
Komuniksi Terapeutik Frekuensi Presentasi (%)
Baik 48 72.7

Cukup 18 27.3

Kurang 0 0

Total 66 100.0

Tabel 5.5 menjelaskan bahwa responden yang memiliki Komunikasi Terapeutik


kategori baik berjumlah 48 responden (72,7%), yang memiliki katergori cukup
berjumlah 18 responden (27,3%) dan yang memiliki komunikasi terapeutik
kategori kurang berjumlah 0 responden (0%).
f. Karakteristik Kepuasan responden
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Kepuasan Pasien di Puskesmas Harapan Distrik
Sentani Timur Kabupaten Jayapura.

Kepuasan Pasien Frekuensi Presentase


Baik 63 95.5

Cukup 3 4.5

Kurang 0 0

Total 66 100.0

Tabel 5.6 menjelaskan bahwa responden yang memilki kepuasan kategori baik
berjumlah 63 responden (95,5%), kepuasan pasien kategori cukup berjumlah 3
responden (4,5%) dan kepuasan pasien kategori kurang berjumlah 0 responden
(0%).
2. Analisa Bivariat
Setelah melakukan analisis univariat selanjutnya dilakukan analisis bivariat
untuk melihat hubungan Implementasi Komunikasi Terapeutik dengan Kepuasan
Pasien Malaria sebagai berikut;
Tabel 5.7 Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kepuasan pasien
Komunikasi Kepuasan pasien p- value
terapeutik
Baik Cukup Kurang
Baik 48 0 0
Cukup 15 3 0 0,018
Kurang 0 0 0
Total 63 3 0

Tabel 5.7 mengambarkan bahwa perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik


kategori baik dengan kepuasan pasien baik berjumlah 48 responden sedangkan yang
menerapkan komunikasi terapeutik dengan kategori cukup dan kepuasan pasien cukup
berjumlah 0 responden, komunikasi terapeutik kategori kurang dan kepuasan pasien
kurang berjumlah 0 responden.
Perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik dengan kategori cukup dan
kepuasan pasien baik berjumlah 15 responden sedangkan perawat yang menerapkan
komunikasi terapeutik dengan kategori cukup dan kepuasan pasien cukup berjumlah 3
responden dan komunikasi terapeutik dengan kategori kurang dan kepuasan pasien
kurang berjumlah 0 responden.
Perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik dengan kategori kurang dan
kepuasan baik berjumlah 0 responden, sedangkan perawat yang menerapkan
komunikasi dengan kriteria cukup dan kepuasan pasien cukup berjumlah 0 responden
dan komunikasi terapeutik dengan kategori kurang dan kepuasan pasien kurang 0
responden.
Berdasarkan uji chiquare Terdapat sel yang nilai ekspektasinya kurang dari 5
ada sebnayak 50% sehingga sebagai alternatif maka digunakan uji Fisher dan
memperoleh nilai signifikasi 0.018, oleh karena itu nilai P< 0.05 maka dapat diambil
kesimpulan bahwa “ada hubungan antara implementasi komunikasi terapeutik perawat
dengan kepuasan pasien malaria”.
C. Pembahasan
Pada bagian ini akan dibahas hasil penelitian mengenai karakteristik responden malaria di
Puskesmas Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.
1. Karakteristik responden
a. Umur
Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden malaria yang melakukan
kunjungan berobat Ke Puskesmas Harapan berusia antara 18-49 tahun yaitu
sebanyak 41 (62,1%) responden, kemudian usia >50 tahun sebanyak 15 (22,7%)
responden dan usia 13-17 sebanyak 10 (15,2%) responden.
b. Jenis kelamin
Berdasarkan hasil penelitian, jenis kelamin sebagian besar yaitu perempuan 45
(68,2%) responden dan jenis kelamin laki-laki sebanyak 21 (31,8%) responden.
c. Pendidikan
Berdasarkan tingkat pendidikan responden malaria yang berobat di Puskesmas
Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura sebagian besar berpendidikan
SMA sebanyak 32 (48,5%) responden, kemudian yang berpendidikan perguruan
tinggi sebanyak 14 (21,2%) responden, yang berpendidikan SMP sebanyak 10
(15,2%) responden, yang berpendidikan SD sebanyak 7 (10,6) responden dan
berpendidikan yang sedikit adalah tidak sekolah sebanyak 3 (4.5%) responden.
Melihat hal tersebut dapat mengambarkan pasien malaria yang berobat ke
puskesmas harapan sebagian besar berpendidikan SMA/menengah. Pada pasien
yang dengan pendidikan menengah perhatian pasien terhadap kesehatannya jika
dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah. Pendidikan juga berpengaruh
terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan, semakin tinggi tingkat pendidikan
maka intensitas pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan akan semakin tinggi.
d. Pekerjaan
Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar adalah IRT yaitu sebanyak 27 (40,9%)
responden, kemudiaan pelajar sebanyak 18 (27,3%) responden, pekerjaan petani
sebanyak 12 (18,2%) responden, pekerjaan PNS sebanyak 4 (6,1%) responden,
pekerjaan pegawai swasta sebanyak 3 (4,5%) responden dan yang paling sedikit
wiraswasta 2 (3.0%) responden.
2. Analisa univariat
a. komunikasi terapeutik
Berdasarkan hasil penelitia yang dilakukan di Puskesmas Harapan Distrik
Sentani Timur Kabupaten Jayapura, responden yang memiliki Komunikasi
Terapeutik kategori baik berjumlah 48 (72,7%) responden, yang memiliki katergori
cukup berjumlah 18 (27,3%) responden dan yang memiliki komunikasi terapeutik
kategori kurang berjumlah 0 (0%) responden.
Menurut (Supriyanto, 2014) Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang
direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk
kesembuhan pasien. Jadi, komunikasi terapeutik merupakan suatu bentuk
komunikasi yang di rencanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan atau
pemulihan pasien. Oleh karena itu komunikasi terapeutik memegang peran penting
memecahkan masalah yang dihadapi, pada dasarnya komunikasi terapeutik
merupakan komunikasi proporsional yang mengarah pada tujuan yaitu
penyembuhan pasien pada komunikasi terdapat dua komponen penting yaitu proses
komunikasinya dan efek komunikasinya.
b. Kepuasan Pasien
Berdasarakan hasil penelitan responden, yang memilki kepuasan kategori
baik berjumlah 63 (95,5%) responden, kepuasan pasien kategori cukup berjumlah 3
(4,5%) responden dan kepuasan pasien kategori kurang berjumlah 0 (0%)
responden.
Berdasarkan hasil penelitan diatas maka peneliti mengambil kesimpulan
bahwa kepuasan yang diperoleh pasien selama berobat di puskesmas harapan
dipengaruhi oleh bagaimana perawat memberikan pelayanan yang manusiawi dan
memberikan kewajiban-kewajiban yang baik kepada pasien sehingga pasien
mengatakan rasa puas atas apa yang diberikan perawat.
Kepuasan pasien adalah keluaran (outcome) layanan kesehatan. Dengan
demikian kepuasan pasien merupakan salah satu tujuan dari peningkatan mutu
pelayanan kesehatan. Dimensi kepuasan pasien terbagi menjadi lima yaitu
Reliabilitas (reability), Daya tanggap (raesponsiveness), Jaminan (assurance),
Empati (empathy) Bukti fisik (tangibles) (Tjijono, 2011).
Wiyono (2010) mengatakan bahwa kepuasan pelanggan (pasien) dirumah
sakit atau organisasi pelayanan lain atau kepuasan pasien dipengaruhi banyak faktor
antara lain pendekatan perilaku petugas, mutu informasi, fasilitas umum yang
tersedia, fasilitas perhotelan seperti mutu makanan, pengaturan kunjungan dan dan
privasi outcome terapi perawatan yang diterima. Salah satu faktor untuk
mempengaruhi kepuasan pasien adalah adalah pendekatan dan perilaku petugas
kesehatan (perawat) yaitu komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik
merupakan hal yang sangat penting bagi perawat untuk mendukung proses
keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan tindakan dan penilaian evaluasi peran komunikasi sebagai saran untuk
mengali kebutuhan pasien.
Hal ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan oleh Misi Siti tahun
2015 yang berjudul hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan
pasien di ruang rawat inap Pringgodani RSU Rajawali Citra Bantul Yogyakarta.
Hasil penelitian ini menunjukkan 49,1% komunikasi terapeutik perawat baik dan
68,4% responden puas. Untuk memenangkan pesaingan, rumah sakit harus mampu
memberikan kepuasan pada pasien misalnya dengan memberikan pelayanan
bermutu dan harganya lebih murah dari pada pesaingnya (Supranta, 2011).
3. Analisa bivariat
a. Hubungan implementasi komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien malaria.
Berdasarkan uji bivariat dengan menggunakan uji test chi-square di
peroleh nilai p< 0,05 dan terdapat sel yang nilai ekspantasinya kurang dari 5 ada
50% jumlah sel sehingga sebagai alternatif maka digunakan uji Fisher (Sopiyudin,
2011) dengan perolehan nilai signifikan 0.018, oleh karena nilai p< 0.05 maka
dapat diambil kesimpulan bahwa “ada hubungan implementasi komunikasi
terapeutik perawat dengan kepuasan pasien malaria” berdasarkan hubungan
tersebut didominasi oleh jumlah penerapan komunikasi terapeutik dengan kategori
baik klien sebanyak 48 responden.
Pada tabel 5.7 menjelaskan bahwa perawat yang menerapkan komunikasi
terapeutik kategori baik dengan kepuasan pasien baik berjumlah 48 responden
sedangkan yang menerapkan komunikasi terapeutik dengan kategori cukup dan
kepuasan pasien cukup berjumlah 0 responden, komunikasi terapeutik kategori
kurang dan kepuasan pasien kurang berjumlah 0 responden.
Perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik dengan kategori cukup
dan kepuasan pasien baik berjumlah 15 responden sedangkan perawat yang
menerapkan komunikasi terapeutik dengan kategori cukup dan kepuasan pasien
cukup berjumlah 3 responden dan komunikasi terapeutik dengan kategori kurang
dan kepuasan pasien kurang berjumlah 0 responden.
Perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik dengan kategori kurang
dan kepuasan baik berjumlah 0 responden, sedangkan perawat yang menerapkan
komunikasi dengan kriteria cukup dan kepuasan pasien cukup berjumlah 0
responden dan komunikasi terapeutik dengan kategori kurang dan kepuasan pasien
kurang 0 responden.
Berdasarkan uji Fisher diperoleh nilai signifikasi 0.018, oleh karena itu
nilai P < 0.05 maka diambil kesimpulan bahwa “ada hubungan antara implementasi
komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien malaria”.
Menurut Tjiptono 2011, tentang penyebab buruk kualitas jasa antara lain
adalah memperlakukan semua klien dengan cara yang sama.
Hasil penelitian ini juga sama dengan penelitian yang dilakukan oleh
Rizky Hardhiyani pada tahun 2013 dengan judul penelitian Hubungan Komunikasi
terapeutik Perawat dengan Motivasi sembuh pada pasien rawat inap di ruang melati
Rumah Sakit Umum Daerah Kalisari Batang, pada hasil penelitian tersebut di
peroleh nilai p<=0.000 atau p<0.05 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan
antara komunikasi terapeutik dengan motivasi sembuh pasien rawat inap, namun
penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Hajarudin, 2014 dengan judul Hubungan Atara Komunikasi terapeutik dengan
kepuasan pasien di Puskesmas Bantual Jogjakarta tahun 2014. Yang memperoleh
nilai p 0.536 atau p >0.05.
Hasil penelitian ini juga bertolak belakang dengan penelitian yang
dilakukan oleh Ferlin Solisa tahun 2016 dengan judul penelitian Hubungan
Penerapan Komunikasi Terapeutik dengan Kepuasan pasien di Ruang Rawat Inap
RSUD Yowari pada hasil penelitian tersebut diperoleh nilai p> 0.305 atau P>0.05
yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik
dengan kepuasasn pasien di Ruang Rawat Inap rsud RSUD Yowari.
D. Keterbatasan penelitan
1. Peneliti hanya melakukan penelitian khusus hanya kepada pasien malaria sehingga
hasil penelitian ini tidak menyeluruh atau tidak merata kepada seluruh pasien sehingga
peneliti tidak mengetahui bagaimana pendapat kepuasan pasien yang bukan pasien
malaria.
2. Sampel hanya berjumlah 66 responden, dapat menyebabkan hasil penelitian ini belum
dapat digeneralisasikan untuk populasi yang lebih luas dan besar.
3. Instrumen dalam penelitian ini hanya berupa kuesioner dan hanya wawancara dengan
beberapa responden sehingga hasil yang didapatkan hanya merupakan ungkapan
pikiran responden saja dan bukan merupakan perilaku terbuka yang langsung dapat
bahwa data yang dikumpulkan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang
sebenarnya,
4. Keterbatasan peneliti dibidang riset, waktu dan dana sehingga hasil yang dicapai
kurang sempurna.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Penerapan komunikasi terapeutik perawat di Puskesmas Harapan, terdapat bahwa di
Puskesmas Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura, responden yang
memiliki Komunikasi Terapeutik kategori baik berjumlah 48 (72,7%) responden ,
yang memiliki katergori cukup berjumlah 18 (27,3%) responden dan yang memiliki
komunikasi terapeutik kategori kurang berjumlah 0 (0%) responden .
2. Kepuasan pasien di Puskesmas Harapan, yang memilki baik berjumlah 63 (95,5%)
responden, kepuasan pasien kategori cukup berjumlah 3 (4,5%) responden dan
kepuasan pasien kategori kurang berjumlah 0 (0%) responden .
3. Terdapat hubungan yang bermakna antara implementasi komunikasi terapeutik
perawat dengan kepuasan pasien malaria. Dimana nilai p <0,05 (nilai uji Fisher
P= 0.018).
B. Saran
1. Bagi Intitusi Puskesmas
Diharapkan bagi Puskesmas dapat memperkuat komunikasi yang baik kepada
pasien dan dapat melibatkan pasien atau keluarga saat melakukan serah terima
sehingga pasien akan mempunyai rasa kepuasan dengan pelayanan yang diberikan
tetapi juga melakukan evaluasi terhadap kepuasan pasien terhadap aspek-aspek
komunikasi perawat.
2. Bagi Pengembangan Ilmu Keperawatan
Diharapkan bagi istitusi dapat memperbanyak referensi buku mengenai
manajemen keperawatan dan keselamatan pasien dan juga senantiasa meningkatkan
mutu pelayanannya dan mengembangkan mahasiswa dengan cara memotivasi dan
menjelaskan isu-isu penting baik dampak maupun keuntungan jika komunikasi kurang
baik.
3. Bagi Peneliti
Diperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian, dapat membandingkan
antara teori dan praktek tentang komunikasi terapeutik agar dapat dilakukan
komunikasi terapeutik dari sudut pandang kepuasan pasien khususnya pasien malaria.