Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS SEPTEMBER 2018

ISPA

Disusun Oleh :
Rara Nabelo
N 111 17 033

Pembimbing :
dr. Maria Florence Putong
drg. Tri Setyawati, M. Sc

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT – KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia sebagai daerah tropis yang berpotensi menjadi daerah endemik dari
beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman kesehatan bagi
kesehatan masyarakat. Pengaruh geografis dapat mendorong terjadinya
peningkatan kasus maupun kematian akibat ISPA, misalnya pencemaran
lingkungan yang disebabkan oleh asap karena kebakaran hutan, gas buangan yang
berasal dari sarana transportasi dan polusi udara dalam rumah karena asap dapur,
asap rokok, perubahan iklim global antara lain perubahan suhu udara,
kelembaban, dan curah hujan merupakan ancaman kesehatan terutama pada
penyakit ISPA.[1]
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyakit infeksi yang
menyerang salah satu bagian dari saluran pernapasan mulai dari hidung (saluran
atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus,
rongga telinga tengah, dan pleura.[2]
Penyakit ISPA salah satu contoh penyakit infeksi akut yang menular pada
pernafasan yang masih menjadi isu kesehatan global di semua Negara. Riset
WHO (World Health Organization) pada tahun 2010 menyebutkan bahwa ± 13
juta balita di dunia meninggal akibat ISPA setiap tahun dan sebagian besar
kematian tersebut terdapat di Negara berkembang.[3]
Menurut Riskesdas 2013, periode prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut
(ISPA) berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan penduduk adalah 25
%. Lima provinsi dengan ISPA tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur, Papua,
Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur. Pada Riskesdas 2007, Nusa Tenggara
Timur juga merupakan provinsi tertinggi dengan ISPA. Insiden dan prevalensi
Indonesia tahun 2013 adalah 1,8 persen dan 4,5 persen. Lima provinsi yang
mempunyai insiden dan prevalensi pneumonia tertinggi untuk semua umur adalah

2
Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi
Selatan.[4]
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan
kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang
terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3 – 6 episode ISPA setiap tahunnya.
Setidaknya 40% - 60% dari kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA.
Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20% - 30%.
Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi
berumur kurang dari 2 bulan.[4]
Menurut data UPTD Puskesmas Mabelopura angka ISPA masih menduduki
posisi paling pertama dari 10 penyakit yang tersering di Puskesmas
Mabelopura.[6]
Gambaran 10 penyakit Rawat jalan Terbanyak Untuk Polik Umum di UPT
Puskesmas Mabelopura tahun 2017

NO JENIS PENYAKIT JUMLAH


PASIEN
1 ISPA 3369
2 Penyakit pulpa dan jaringan peripikal 2449
3 Hipertensi 1238
4 Penyakit lainnya 909
5 Gingivitis dan jaringan penyangga 867
lainnya
6 Penyakit kulit alergi 557
7 Caries gigi 506
8 Gangguan gigi dan jaringan 450
penyanggalainnya
9 Diabetes Melitus 347
10 Gastritis 346

3
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui gambaran kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Mabelopura
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui faktor risiko apa saja yang mempengaruhi masalah ISPA di
Wilayah kerja Puskesmas Mabelopura
2. Mengetahui tatalaksana ISPA di wilayah kerja Puskesmas Mabelopura

1.3 Sasaran
1. Seluruh penderita ISPA mendapat penanganan pelayanan kesehatan
2. Sasaran terapi terhadap penyebab ISPA, gejala ISPA, dan risiko terjadinya
ISPA

1.4 Dasar Hukum


Undang – undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan.
Peraturan Mentri kesehatan nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan
Masyarakat.

4
BAB II
PERMASALAHAN

2.1 Penentuan Prioritas Kasus Menggunakan Rumus Hanlon

Tabel 2.1 prioritas masalah di puskesmas Mabelopura

No Masalaah Besar Kegawat Kemungkinan Nilai


kesehatan masalah Daruratan Diatasi
1 ISPA 4 3 4 11
2 Pnemonia 3 3 4 10
3 Tonsilitis 3 2 3 8
4 Diare 2 3 4 9

*semakin tinggi total angka semakin besar prioritas masalah.

Dilihat dari tabel diatas masalah yang menjadi prioritas pada puskesmas
mabelopura adalah ISPA, Pnemonia, dan Tonsilitis.

Kriteria A: Besar masalah, dapat dilihat dari besarnya insidensi atau prevalensi.
Skor 1-10

Masalah Besar masalah Nilai


Kesehatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
X (ISPA) V 8
Y (Pnemonia) V 7
Z (Diare) V 6
Ket: 1-4 : insidensi kurang, 5-7 insidesi sedang, 8 – 10 Insidensi sangat banyak

Kriteria B :Kegawatan masalah (SKOR 1-5)

Masalah Keganasan Tingkat Biaya yang Nilai


Kesehatan urgency dikeluarkan
X (ISPA) 3 3 3 9
Y (Pnemonia) 3 3 3 9
Z (Diare) 2 3 3 8
Ket: 1-4 : tidak gawat, 5-7 tidak terlalu gawat ( sedang), 8 – 10 gawat

5
Kriteria C: Kemudahan dalam penanggulangan

Sangat sulit Y,Z X Sangat mudah

1 2 3 4 5
Ket : semakin kecil skor, maka penanggulangan maslah semakin sulit

Kriteria D: PEARL Factor

Masalah P E A R L Hasil
kesehatan perkalian
X 1 1 1 1 1 1
Y 1 1 1 1 1 1
Z 1 1 1 1 1 1
Ket:
- P = Propriety (Kesessuaian)
- E = Economics (Ekonmi Murah)
- A = Accetable (Dapat diterima)
- R = Resources Availability (Tersedianya sumber)
- L = Legality (legalitias terjamin)
- 0 = Tidak
- 1 = Ya

Penetapan Nilai:

 ISPA
NPD : (A+B) C = (8+9) 4 = 17 x 4 = 51
NPT : (A+B) CxD = (8+9) 4 x1 = 13x2 = 51
 Pnemonia
NPD : (A+B) C = (7+9) 3= 16 x 3 = 48
NPT : (A+B) CxD = (5+8) 3x1 = 16 x 2 = 48
 Diare
NPD : (A+B) C = (6+8) 4 = 14 x 3 = 42
NPT : (A+B) CxD = (6+8) 4x1 = 14x1 = 42

Ket :
- NPD : Penetapan prioritas dasar
- NPT : Penetapan priorita total

6
KESIMPULAN

Masalah A B C NPD D NPT Prioritas


kesehatan (PEARL)
ISPA 8 9 4 51 1 51 1
Pnemonia 7 9 3 48 1 48 2
Diare 6 8 3 45 1 45 2

Kesimpulan dari rumus ini yaitu penyakit ISPA merupakan prioritas masalah
dari 3 prioritas masalah terbesar dari angka kunjungan yang ada di puskesmas
Mabelopura. Hal ini berkaitan dengan tingkat morbiditas dan insidensi ISPA yang
timbul di ruang lingkup kerja Puskesmas Mabelopura. Oleh karena itu akan di bahas
mengenai suatu kasus penyakit ISPA pada laporan kasus saat ini.

2.2 Kasus
A. Identitas Pasien
Nama : An. M
Umur : 5 tahun 6 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jln. I Gusti Ngurah Rai
Tanggal Pemeriksaan : 14 September 2018
B. Identitas Orang Tua
Nama : Ny. F
Umur : 38 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : I Gusti Ngurahrai

7
Nama : Tn. M
Umur : 42 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Alamat : I Gusti Ngurah Rai

C. Deskripsi Kasus
Anamnesis :
Keluhan Utama :
Batuk
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke puskesmas dengan keluhan batuk disertai demam.
Batuk disertai ledir, beringus dan demam yang di rasakan sejak 4 hari
sebelum ke puskesmas. Pasien merasakan batuk sepanjang hari. Batuk di
keluhkan memberat pada malam hari disertai hidung tersumbat akibat
beringus sehingga pasien sulit tidur di malam hari. Demam awalnya di
rasakan pada saat malam hari. Namun pada saat di puskesmas pasien tidak
mengalami demam. Pasien juga mengalami muntah beberapa saat setelah
pasien makan. Muntahan berupa makanan yang baru saja pasien makan dan
di alami sebanyak 2 kali. Untuk memperingan keluhan pasien hanya
beristirahat dan mengonsumsi makanan hangat, pasien belum melakukan
pengobatan apa pun sebelum ke puskesmas. Tidak ada riwayat kejang,
tidak ada mual atau pun muntah. Nafsu makan menurun. Buang air kecil
lancar, berwarna kuning dengan frekuensi 3-5 kali sehari. Buang air besar
biasa, berwarna kekuningan dengan konsistensi padat.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.

8
Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan :
 Pasien makan 1-2 kali sehari. Menu makanan pasien yaitu nasi, lauk
pauk, dan terdapat sayur. Porsi sekali makan pasien yaitu sepiring nasi
berisi 1 sendok nasi, sayuran seperti sup dan tahu atau tempe yang
digoreng. Pasien jarang mengkonsumsi buah dan kurang suka makan
ikan.
 Pasien mandi 2 kali sehari pagi dan sore di kamar mandi yang tersedia
di rumah pasien.
 Pasien tinggal bersama ibu, ayah, kakek dan 2 orang kakak. Kakak dan
ayah pasien merupakan perokok aktif.
 Rumah tempat tinggal pasien terdiri atas 1 lantai dengan halaman
depan. Halaman depan rumah (pekarangan dengan sempit ±1m2 tampak
cukup bersih, terdiri dari tanah). Pasien tinggal tepat di jalan raya yang
memiliki lalu lintas yang sangat padat sehingga seringkali debu jalanan
masuk kedalam rumah. Pasien tinggal di rumah permanen berdinding
batako berlapis semen berlantai 1, berukuran luas sekitar 10x6 m2.
Rumah tinggal memiliki 3 ruang utama, yakni ruang depan, ruang
tengah dan ruang belakang. Ruang depan terdiri dari ruang tamu dan 1
buah kamar. Pada ruang tengah terdapat ruang keluarga dan 1 buah
kamar. Masing-masing kamar dilengkapi 2 jendela kayu, 2 ventilasi
tersedia fasilitas tempat tidur pada setiap kamar, kamar tidur pasien
tampak bersih dan rapi. Namun pada kamar pasien sirkulasi udara
kurang baik di sebabkan jendela dan ventilasi yang menghadap kearah
jalan yang cukup ramai, sehingga debu dan kotoran mudah masuk ke
dalam kamar pasien. Pada kamar pasien juga terdapat tumpukan baju
dan barang sehingga tampak kurang tertata rapi. Pencahayaan pada
kamar pasien mengandalkan cahaya dari sinar matahari. Ruang
belakang terdiri atas ruang makan, dapur serta kamar mandi. Lantai

9
rumah dilapisi oleh semen dengan rumah berdinding batako, dan langit-
langit rumah dilapisi oleh plafon namun hanya sampai di bagian rungan
depan. Tidak terdpat plafon pada ruang tengah, ruang belakang dan
kamar, sehingga sirkulasi udara di dalam rumah kurang baik. Atap
rumah terbuat dari seng. Pencayahaan alamiah dari sinar matahari
cukup pada beberapa ruangan. Sumber listrik berasal dari PLN. Secara
keseluruhan keadaan rumah pasien tampak cukup bersih dan tertata
rapi.
 Sumur suntik digunakan sebagai sumber air: air tampak cukup jernih,
tidak berbau. Sumber air digunakan untuk semua aktivitas MCK
(Mandi, Cuci & Kakus). Sumber air untuk minum keluarga pasien
menggunakan air yang dimasak.
 Rumah pasien memiliki satu kamar mandi dan septic tank. Tidak ada
saluran air limbah (got) di samping rumah yang mengalir ke depan
rumah.
 Sampah di rumah dikumpulkan dan kemudian di buang ke tempat
pembuangan sampah terdekat yang letaknya ± 200 meter.
 Sumber listrik rumah yaitu PLN.

Riwayat Antenatal :
Ibu rutin memeriksakan kandungan selama kehamilan di puskesmas
Mabelopura, dan tidak ada penyakit selama hamil.

Riwayat Natal :
Pasien lahir normal di bidan, cukup bulan, dengan berat badan lahir 2800
gr, dan panjang badan lahir 48 cm, langsung menangis.

10
Riwayat Imunisasi :
Jenis Vaksin Keterangan
HB O ( 0-7 hari) Diberikan
BCG (0-1 bulan) Diberikan
Polio (0, 2, 4, 6 bulan) Diberikan
DPT/HB (2, 4, 6 bulan) Diberikan
Campak (9 bulan) Diberikan

Riwayat Imunisasi Tambahan : tidak ada

Sosial Ekonomi
Pasien memiliki hubungan baik dengan keluarganya dan tetangga
sekitar. Orang tua pasien tergolong ekonomi menengah ke bawah, ayah
pasien bekerja sebagai supir. Pasien berobat di puskesmas tidak
menggunakan BPJS.

PEMERIKSAAN FISIK

Kondisi Umum : Sakit sedang Berat Badan : 20kg


Tingkat Kesadaran : Compos Mentis Tinggi Badan : 118cm
Status Gizi : BB/TB95%,BB/U 100%, TB/U 95% (gizi baik)

Tanda Vital
Nadi : 88 kali/menit (kuatangkat, isi cukup, reguler)
Suhu : 37.10C
Pernapasan : 28 kali/menit

11
Kulit : Warna sawo matang, lapisan lemak di bawah kulit
cukup.
Kepala : Normosefal, rambut berwarna hitam, tipis dan tidak
mengkilap, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterus, pupil bulat isokor (diameter 3 mm). Terdapat
sekret pada hidung (warna bening keputihan), tidak
terdapat pernapasan cuping hidung. Tidak ada sekret
pada telinga, bibir tidak sianosis.
Tenggorokan- : Tonsil T1/T1
Leher Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening.

Thoraks
Paru : Inspeksi : permukaan dada simetris, penggunaan
otot-otot bantu pernapasan (-).
Palpasi : massa (-), nyeri tekan (-) taktil
fremitus kiri = kanan.
Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : bunyi napas bronkovesikuler +/+,
wheezing (-/-), ronkhi (+/+).

Skoring TB anak :
Parameter 0 1 2 3 Skor
Kontak dengan Tidak Jelas Laporan Kontak dengan 0
pasien TB keluarga, BTA positif
kontak
dengan pasien
BTA negatif
atau tidak
tahu, atau
BTA tidak
jelas
Uji Tuberkulin Negatif Positif (≥10 mm,

atau ≥5 mmpada

keadaan

12
imunosupresan)

Berat Gizi kurang: Gizi buruk: 0


badan/Keadaan BB/TB <90% BB/TB <70%
gizi (dengan KMS atau BB/U <80% atau BB/U
atau Tabel) <60%
Demam tanpa ≥ 2 minggu 0
sebab jelas
Batuk ≥ 3 minggu 0
Pembesaran ≥ 1 cm 0
kelenjar limfe Jumlah ≥1, tidak
koli, aksila,
nyeri
inguinal
Pembengkakan Ada 0
tulang/ sendi pembengkakan
panggul, lutut,
falang
Foto dada Normal/ Sugestif TB
tidak jelas
JUMLAH SKOR 0

Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

Diagnosis Kerja
ISPA (bukan Pneumonia)

Diagnosis Banding
Pneumonia
Tuberkulosis
Bronchitis kronis

13
Terapi
 Medikamentosa :
Paracetamol Syrup 60mg/5ml 4 x 1 3⁄4 cth (kp)
Glyceryl Guaiacolate 2 tab
3x1pulv
CTM 1 tab
Trufit syrup 1x1 cth

 Nonmedikamentosa :
 Menghentikan kebiasaan merokok bagi orang tua dan kakak pasien atau
menghindarkan pasien dari paran asap rokok di dalam rumah.

 Memberikan perasan jeruk nipis hangat dengan madu atau kecap untuk
membantu mengurangi batuk
 Memberi makanan bergizi pada anak secara teratur untuk membantu
meningkatkan daya tahan tubuh anak.
 Memberikan minuman hangat, dan memperbanyak minum air putih ataupun
sari buah untuk membantu menurunkan demam dan mengencerkan dahak.
 Istirahat yang cukup.
 Konsul P2P ISPA.

14
BAB III
PEMBAHASAN

Pada kasus ini, pasien An. M umur 5 tahun 6 bulan didiagnosis dengan ISPA (
bukan Pnemonia). Diagnosis tersebut di tegakkan berdasarkan hasi anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang di lakukan di wilayah kerja Puskesmas Mabelopura pada saat
poli. Dari hasil anamnesis didapatkan pasien mengalami batuk, keluhan batuk disertai
demam. Batuk disertai ledir, beringus dan demam yang di rasakan sejak 4 hari
sebelum ke puskesmas. Pasien merasakan batuk sepanjang hari. Batuk di keluhkan
memberat pada malam hari disertai hidung tersumbat akibat beringus sehingga pasien
sulit tidur di malam hari. Demam awalnya di rasakan pada saat malam hari. Namun
pada saat di puskesmas pasien tidak mengalami demam. Pasien juga mengalami
muntah beberapa saat setelah pasien makan. Muntahan berupa makanan yang baru
saja pasien makan dan di alami sebanyak 2 kali. Untuk memperingan keluhan pasien
hanya beristirahat dan mengonsumsi makanan hangat, pasien belum melakukan
pengobatan apa pun sebelum ke puskesmas. Tidak ada riwayat kejang, tidak ada mual
atau pun muntah. Nafsu makan menurun. Buang air kecil lancar, berwarna kuning
dengan frekuensi 3-5 kali sehari. Buang air besar biasa, berwarna kekuningan dengan
konsistensi padat.
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan Nadi 88 x/menit, Respirasi 28 x/menit,
dan Suhu 37,1oC. Pada pasien juga di lakukan skoring TB yang mana hasil yang di
dapatkan adalah 0.
Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena ketidak seimbangan faktor-faktor
utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma hidup
sehat yang diperkenalkan oleh H.L. Blum mencakup 4 faktor yaitu faktor
genetik/biologis, faktor perilaku individu atau masyarakat, faktor lingkungan dan

15
faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya). Berdasarkan kasus di
atas, jika dilihat dari segi konsep kesehatan masyarakat, maka ada beberapa yang
menjadi faktor risiko yang mempengaruhi derajat kesehatan ISPA, yaitu:
1. Faktor genetik
Berdasarkan teori ISPA bukanlah penyakit keturunan. Penyebab ISPA dapat
berupa bakteri maupun virus. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus
Streptokokus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus, Bordotella dan
Korinebakterium.Virus penyebabnya antara lain golongan Miksovirus,
Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, dan Herpervirus.Sekitar
90-95 % penyakit ISPA disebabkan oleh virus.Penyakit ISPA khususnya
pneumonia masih merupakan penyakit utama penyebab kesakitan dan kematian
balita. Keadaan ini berkaitan erat dengan berbagai kondisi yang melatar-
belakanginya seperti malnutrisi juga kondisi lingkungan baik polusi di dalam
rumah berupa asap maupun debu.[7]
2. Faktor perilaku
Faktor perilaku yang mempengaruhi pada kasus ini yaitu kebiasaan main
bersama hewan peliharaanya di rumah dan tidak mencuci tangan setelahnya.
Selain itu faktor resiko lain bagi pasien juga yaitu kontak dengan anggota
keluarga dalam hal ini, ayah dan kakak pasien yang merupakan perokok aktif,
dan status imunisasi pasien. Anak balita, khususnya batita rentan terkena
penyakit ISPA karena sistem imunitas anak masih lemah (belum sempurna)
sehingga lebih beresiko terkena pajanan penyakit. Selain itu, tingginya risiko
ISPA pada anak yang berusia <36 bulan kemungkinan disebabkan karena pada
usia tersebut anak lebih banyak melakukan aktivitas di dalam rumah sehingga
rentan terpajan faktor lingkungan, seperti anggota keluarga yang merokok,
penggunaan obat nyamuk bakar di dalam rumah, dan juga sumber infeksi yang
berasal dari keluarga.[8]

16
Imunisasi melindungi anak terhadap beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah
dengan Imunisasi (PD3I). Anak yang telah diberi imunisasi akan terlindungi dari
berbagai penyakit berbahaya yang dapat menimbulkan kecacatan atau kematian.
Pemberian imunisasi campak dapat mencegah kejadian penyakit ISPA pada
balita yang merupakan penyebab utama kematian balita dari penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi. Balita yang mendapatkan imunisasi lengkap apabila
terkena ISPA diharapkan penyakitnya tidak akan berkembang menjadi lebih
berat. [8]
3. Faktor lingkungan
Faktor resiko lainnya adalah ventilasi udara yang kurang baik. Dimana
rumah pasien langsung menghadap ke jalan raya yang selalu ramai sehingga
udara serta debu dari luar mudah masuk ke dalam rumah melalui jendela dan
ventilasi. Pada bagian dapur dan ruang makan pasien tidak memiliki plafon
sehingga debu luar dapat masuk melalui celah-celah atap.
Ventilasi adalah saluran udara untuk proses pergantian udara segar ke dalam
dan mengeluarkan udara kotor dari suatu ruangan tertutup. Dengan adanya
ventilasi yang baik maka udara segar dapat dengan mudah masuk ke dalam
rumah. Rumah yang ventilasinya tidak memenuhi syarat kesehatan akan
mempengaruhi kesehatan penghuni rumah. Hal ini disebabkan karena proses
pertukaran aliran udara dari luar ke dalam rumah tidak lancar sehingga bakteri
penyebab ISPA yang ada di rumah tidak dapat keluar.[9]
Menurut Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999:[6]
1. Bahan bangunan,
a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat
membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut :
 Debu Total tidak lebih dari 150 µg m3
 Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam

17
 Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg
b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya
mikroorganisme patogen.

2. Komponen dan penataan ruang rumah. Komponen rumah harus memenuhi


persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan.
b. Dinding
 Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi
untuk pengaturan sirkulasi udara.
 Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah
dibersihkan.
c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan
d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus
dilengkapi dengan penangkal petir.
e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu,
ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan
ruang bermain anak.
f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

 Rumah pasien memiliki sirkulasi yang kurang baik , hal ini di sebabkan
kamar dan ruang tamu pasien memilki ventilasi yang tepat menghadap ke
depan sehingga debu dan asap dari jalan raya langsung masuk ke dalam
rumah. Pada bagian ruangan belakang pasien dan kamar tidak terdapat
plafon sehingga sirkulasi udara di dalam rumah kurang baik.

18
1. Pencahayaan
Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat
menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan
tidak menyilaukan.
 Rumah pasien memiliki akses untuk pencahayaan alam yang
cukup, dimana terdapat jendela dan pintu yang dapat dibuka
untuk membantu pencahayaan pada siang hari.
2. Kualitas Udara
Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai
berikut :
a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8°C sampai 30°C
b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%
c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam
d. Pertukaran udara
e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam
f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3
 Kualitas udara dirumah pasien dapat dikatakan kurang, dinilai
dari pertukaran udara kurang baik yang sering bercampur dengan
gas kendaraan bermotor dan debu..
3. Ventilasi
Luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10%
dari luas lantai
 Dirumah pasien dapat dikatakan belum cukup dimana tidak
terdapat jendela di tiap sudut ruangan.
4. Binatang penular penyakit
Tidak ada tikus bersarang dalam rumah
 Dirumah pasien memelihara beberapa ekor ayam.

19
5. Air
a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minimal 60 lt/hari/orang
b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih
dan air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
 Dirumah pasien menggunakan sumber air bersih berupa sumur
suntik untuk keperluan mandi, cuci, kakus.
6. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene
 Penyimpanan makanan pasien di atas meja makanan, dan tidak
menggunakan penutup makanan.
7. Limbah
a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air,
tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah.
b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak
menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air
tanah.
 Jarak antara rumah pasien dan tempat sampah ±200 meter, dan
keluarga pasien selalu membuang limbah di tempat sampah
tersebut, sehingga pengelolaan limbah belum cukup baik.
8. Kepadatan hunian ruang tidur
Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih
dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah
umur 5 tahun.
 Ruang tidur dirumah pasien berjumlah 2 kamar dengan masing-
masing ukuran 3x4 m2, berisi 1 tempat tidur. Kebersihan kamar
tidur dirumah pasien dapat dikatakan kurang karena di kamar

20
tidur tergabung dengan pakaian seluruh penghuni rumah yang
tertata kurang rapi.
4. Faktor pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan masyarakat terkait kinerja puskesmas untuk
menanggulangi ISPA mulai dari pelayanan UKP berbasis pelayanan di polik
MTBS, melakukan pengukuran TB, BB, menilai status gizi serta penyuluhan
terkait diagnosa penyakit pasien, polik kesehatan anak melakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan diagnosa, kamar obat sebagai penyedia obat yang sesuai
dengan diagnose. Dari pelayanan UKM, berbasis pelayanan Kesling yang
berhubungan dengan ISPA melakukan kegiatan pokok pengawasan rumah yang
berfungsi meningkatan pengetahuan, keterampilan, kesadaran, kemampuan
masyarakat dalam mewujudkan perumahan dan lingkungan sehat.
Menurut penanggungjawab program kunjungan rumah hanya di lakukan apa
bila di dapatkan kasus kunjungan berulang ke puskesmas dengan keluhan yang
sama atau pun terdapat peningkatan angka kejadian di daerah tersebut. Hal ini
juga dikarenakan kurangnya SDM untuk dapat menjangkau pemukiman
penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mabelopura. Selain itu juga pemegang
program lain, seperti promosi kesehatan harus dilakukan dengan lebih masif
untuk mencegah terjadinya peningkatan morbiditas dari penyakit ISPA. Karena
dalam pelaksanaannya pada Puskesmas Mabelopura, promosi kesehatan
mengenai ISPA hanya dilakukan secara incidental pada saat pelayanan UKP.,

21
poli
Pasien Dokter Laboratorium kamar obat
MTBS/anak

Alur Pelayanan ISPA di Puskesmas Mabelopura

22
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. ISPA masih menempati posisi teratas untuk Sepuluh Penyakit Terbanyak di
Puskesmas Mabelopura.
2. Pada pasien ini faktor perilaku yang mempengaruhi dimana pasien menjadi
perokok pasif di dalam rumah.
3. Pada pasien ini faktor lingkungan yang mempengaruhi dimana sirkulasi
udara yang terdapat di dalam rumah tidak baik.
4. Pada pasien ini faktor pelayanan kesehatan kurangnya penyuluhan.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi ayah dan kakak pasien di sarankan untuk merokok di luar rumah.
2. Agar sirkulasi udara lebih baik pasien di sarankan untuk pindah ke kamar
yang tidak langsung berhadapan dengan jalan raya.
3. Menyarankan ke petugas kesehatan untuk lebih sering melakukan
penyuluhan tentang ISPA di masyarakat.

23
DAFTAR PUSTAKA

[1] Daroham, N.E. & Mutiatikum. 2014. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskerdas) di Indonesia, Jakarta: Puslitbang
Biomedis dan Farmasi.
[2] Kementrian Kesehatan RI., 2012. Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran
Perna-pasan Akut. Jakarta : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan
[3] Mariza, A., Trinaswati., 2013. Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan
Terjadi-nya Ispa pada Bayi (1-12 Bulan) Di Wilayah Kerja Puskesmas
Rajabasa Indah Bandar Lampung . Jurnal Kesehatan , Program Studi
Kebidanan Universitas Malahayati B. Lampung, pp. 1-5. [Diakses 12
September 2018]. dari [http://malahayati.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/12-
53-1-PB.pdf].
[4] Riset Kesehatan Dasar.2013. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan.
Kementrian Republik Indonesia.

[5] Rasmaliah, 2014. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan


Penanggulangannya. USU digital library. [Diakses 12 September 2018].
Diakses dari :http://library.usu.ac.id/
[6] UPTD Mabeopura, 2017. Profil Puskesmas Mabelopura Tahun 2017.
[7] Rahmayatul, F., 2013. Hubungan Lingkungan dalam Rumah terhadap ISPA
pada Balita di Kelurahan Ciputat Kota Tangerang Selatan.Skripsi, Program
Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
[8] Tandipayuk, A.D., 2015. Hubungan Antara Faktor Ibu, Anak Dan Lingkungan
Dengan Kejadian Ispa Pada Anak Balita Di Puskesmas Pakis Surabaya.Skripsi,
Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Katolik Widya Mandala.

24
[9] Suryani, I., Edison , Nazar, J., 2015. Hubungan Lingkungan Fisik Dan Tindakan
Penduduk Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas
Lubuk Buaya. Jurnal Kesehatan Andalas. Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas Padang, pp.1-11. [Diakses 20 September 2018]. dari [http:// jurnal.fk.
unand.ac.id].

25
DOKUMENTASI

Rumah tampak dari luar


Ruang Tamu

Kamar TIdur Dapur

26
Kamar Mandi Ventilasi Rumah Pasien

27
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan dibawah ini, menyatakan bahwa :

Nama : Rara Nabelo

Stambuk : N111 17 033

Judul Laporan Manajemen : P2P ISPA

Telah menyelesaikan Tugas Laporan Kasus dalam rangka kepaniteraan klinik pada
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedkteran Universitas Tadulako.

28
Palu, September 2018

PEMBIMBING LAPANGAN MAHASISWA

dr. Maria Florence Putong Rara Nabelo


N111 17 033

29