Anda di halaman 1dari 15

Laporan Kasus

Kejang Demam Komplek

Oleh :

Ria Subarti

Pembimbing
dr. Aspri Sulanto, Sp.A

PROGRAM KEPANITERAAN KLINIK


SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RS PERTAMINA BINTANG AMIN
BANDAR LAMPUNG
2019
BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama : An. RZS
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 10 bulan
TTL : Bandar Lampung, 29 Maret 2018
Alamat : Pesawaran
Agama : Islam
Nama Ayah : Tn. AS
Umur : 33 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan Terakhir : SMA
Nama Ibu : Ny. SR
Umur : 29 tahun
Pekerjaan : IRT
Pendidikan Terakhir : SMA
Tanggal Masuk : 06 Jan 2019
Diagnosa Masuk : Kejang Demam Kompleks
Ruang Perawatan : Ruang Anak

B. ANAMNESA
1. Keluhan Utama
Pasien datang ke IGD dengan keluhan kejang sebelum masuk rumah sakit.

2. Keluhan Tambahan
Keluhan juga disertai demam tinggi 2 hari yg lalu, mual (-) muntah (-)

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD diantar oleh keluarganya dengan keluhan kejang ½
jam sebelum masuk rumah sakit. Menurut keterangan keluarga pasien,
keluhan kejang dialami sejak sabtu malam. Kejang di rasakan sekitar ± 1
menit. Kejang kembali dirasakan pada minggu pagi. Lama Kejang
dirasakan sekitar ± 1 menit juga. Kejang pasien kelonjotan dan mata
mendelik keatas. Sebelumnya Pasien juga mengeluh demam tinggi sejak 2
hari yang lalu. Mual muntah (-), BAK dan BAB dalam batas normal.

1
Pasien sudah dibawa ke RS. Di metro namun tidak ada ruangan, jadi
pasien hanya diberi obat pulang.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Keluarga Pasien mengatakan belum pernah mengalami kejang
sebelumnya.

5. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama

6. Riwayat Alergi
Keluarga pasien mengatakan tidak ada alergi obat dan makanan

C. RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN


1. Riwayat Kehamilan
Ibu G3P2A0 28 tahun, saat hamil ibu tidak mengalami mual dan muntah
berlebihan, ibu tidak rutin kontrol kehamilan, ibu hamil cukup bulan.

2. Riwayat Persalinan
-PBL : 50 cm
-BBL : 3400 gr
-Sectio Caesaria ditolong oleh dr. OBGYN
-Anak ke tiga
-BBLC, NCB, SMK, LSC

D. RIWAYAT PEMBERIAN MAKANAN


ASI  10 bulan (sekarang)
Makanan Pendamping  6 bulan keatas

E. RIWAYAT PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN


- Umur 3-6 bulan : telungkup, miring kanan kiri dan telentang sendiri
- Umur 6-9 bulan : tepuk tangan, merayap, merangkak.
- Umur 9-10 bulan : berdiri lepas tangan dan bicara “apa-apa”
Kesan : pertumbuhan anak dan perkembangan sesuai umur

F. RIWAYAT IMUNISASI
Ibu Os mengatakan sudah melakukan imunisasi BCG 2 kali

G. RIWAYAT SOSIAL, EKONOMI DAN LINGKUNGAN


Pasien merupakan anak ketiga . Ayah penderita berumur 33 tahun, pendidikan
terakhir SMA, bekerja sebagai wiraswasta. Dan Ibu penderita berumur 29
tahun, pendidikan terakhir SMA sebagai ibu rumah tangga . Secara ekonomi,
keluarga penderita tergolong mampu.

2
H. SILSILAH KELUARGA

Laki-lakI Perempuan Pasien

I. ANAMNESIS SYSTEM
Cerebrospinal System : Pusing (-), nyeri kepala (-), demam (+)
Respiration system : Sesak (-), batuk(-), pilek (-)
Cardiovascular system : tidak ada keluhan
Gastrointestinal system : BAB cair (-), mual (-), muntah (-), nyeri perut (-)
Urogenital system : BAK (+)
J. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
- Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
- Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign
BB : 8 kg
TB : 56 cm
Lingkar Kepala : 44 cm
IMT : 25,51 kesan gizi baik
Nadi : 108 kali/menit
Respirasi : 28 kali/menit
Suhu : 39,00C

1. Kepala
Bentuk : Normocephali
Rambut : Hitam, lurus, tidak mudah dicabut
Mata : Sklera ikterik (-/-), Konjungtiva anemis (-/-), pupil isokor (+/+)
Telinga : Nyeri tekan auricular (-), massa (-)
Hidung : Pernafasan cuping hidung (-), septum deviasi (-)
Mulut : Bibir kering (-), pecah-pecah (-)
Pharing : Hiperemis (-)
Gigi : Karies dentis (-)

2. Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar.
Dalam batas normal.

3
3. Thorax
Inspeksi : sianosis (-), gerakan simetris, massa (-), perubahan warna kulit (-)
Palpasi : vokal fremitus pada semua lapang paru
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Aukultasi: Suara napas vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

4. Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat, DBN, massa (-)
Palpasi : Iktus cordis teraba, massa (-), nyeri tekan (-)
Perkusi : DBN
Auskultasi: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

5. Abdomen
Inspeksi : DBN, warna sama dengan kulit sekitar, massa (-)
Auskultasi : Bising usus normal
Perkusi : Timpani (+)
Palpasi : Massa(-), Nyeri tekan abdomen (-)

6. Genitalia
Dalam Batas Normal

7. Ekstremitas
Akral hangat (+), kaku sendi (-), sianosis (-), edema (-)

K. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium
1. Darah Lengkap (29 Mei 2018)

Hb : 9,7 [14 – 18] g%


Leukosit : 9.400 [4500 – 10.700] ribu/ul
Eritrosit : 4.0 [4,6 – 6,2] ribu/ul
Trombosit : 157.000 [159 - 400] ribu/ul
Eosinofil :0 [0 - 3] %
Basofil :0 [0 - 1] %
Batang :1 [2 - 6] %
Segmen : 72 [50 - 70] %
Limfosit : 24 [20 - 40] %
Monosit :3 [2 - 8] %
Hematokrit : 30 [50 - 54] vol%
MCV : 72 [80-96] fl
MCH : 24 [27-31] pg

4
MCHC : 33 [32-36] g/dl

L. DIAGNOSA BANDING
 Epilepsi
 Kejang demam sederhana

M. DIAGNOSA KERJA
Kejang Demam kompleks

N. PENATALAKSANAAN
IVFD RL VII tpm makro
Paracetamol syr 3 x 1 cth
Diazepam 3x1,5mg (puyer)

O. FOLLOW-UP

Tanggal Follow Up Assessment Terapi

S : kejang (-), keluhan Kejang demam IVFD RL VIII tpm


demam sudah Kompleks makro
berkurang. Badan Paracetamol 3 x 1 cth
lemas. BAB dan BAK k/p
07 jan
normal Diazepam 3x1,5mg
2019 O : KU : Lemah, CM (pulv) k/ suhu ≥ 38,5
Nadi : 104
kali/menit
RR : 24 kali/menit
Suhu : 37.5,0C
S : kejang (-), demam Kejang demam IVFD RL VIII tpm
menurun, Tak ada Kompleks makro
keluhan Paracetamol 3 x 1 cth
O : KU : sedang, CM k/p
08 jan
Nadi : 102 x/menit Diazepam 3x1,5mg
2019 RR : 22 kali/menit (pulv) k/ suhu ≥ 38,5
Suhu : 36.70C BLPL

Terapi Pulang :
Paracetamol 3x1 cth
k/p

P. PROGNOSIS
 Quo ad vitam : ad bonam

5
 Quo ad functionam : ad bonam
 Quo ad sanationam : ad bonam

BAB II

ANALISA KASUS

Pasien datang ke IGD diantar oleh keluarganya dengan keluhan kejang ½


jam sebelum masuk rumah sakit. Menurut keterangan keluarga pasien, keluhan
kejang dialami sejak sabtu malam. Kejang di rasakan sekitar ± 1 menit. Kejang
kembali dirasakan pada minggu pagi. Lama Kejang dirasakan sekitar ± 1 menit
juga. Kejang pasien kelonjotan dan mata mendelik keatas. Sebelumnya Pasien
juga mengeluh demam tinggi sejak 2 hari yang lalu. Mual muntah (-), BAK dan
BAB dalam batas normal. Pasien sudah dibawa ke RS. Di metro namun tidak ada
ruangan, jadi pasien hanya diberi obat pulang. Riwayat keluarga tidak ada yang
mengalami penyakit seperti ini. Karena keluhan tidak kunjung membaik, pasien
dibawa ke IGD RSPBA pada tanggal 06 Jan 2019 oleh keluarganya.

Pada pemeriksaan fisik pasien tampak sakit sedang, Pernafasan 26 x/m, Nadi 110
x/menit, Suhu 39.00C.

Pemeriksaan laboratorium : Dalam batas normal

6
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan


suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 38 c) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan – 5
tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang
demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam
pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam.
Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain, misalnya infeksi SSP,
atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.

B. EPIDEMIOLOGI

Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan sampai


dengan 5 tahun. Di Amerika Serikat, kejang demam terjadi pada 2-5% anak
usia 6 bulan hingga 5 tahun. Diantaranya, sekitar 70-75% hanya mengalami
kejang demam sederhana, yang lainnya sekitar 20-25% mengalami kejang
demam kompleks, dan sekitar 5% mengalami kejang demam simtomatik.
Kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki-laki. Kejang demam
tergantung pada usia, dan jarang terjadi sebelum usia 9 bulan dan setelah usia
5 tahun. Puncak terjadinya kejang demam yaitu pada usia 14 sampai 18

7
bulan, dan angka kejadian mencapai 3-4% anak usia dini. Di Indonesia
sendiri, kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun
hampir 2-5%.

C. ETIOLOGI

Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Semua jenis infeksi


yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan demam dapat
menyebabkan kejang demam.

Demam sering disebabkan Infeksi saluran pernafasan atas, Otitis


media, Pneumonia, Gastroenteritis dan Infeksi saluran kemih. Kejang tidak
selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang demam yang tidak
begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.

D. FAKTOR RESIKO

Faktor resiko kejang demam yang penting adalah :

 Demam
 Riwayat kejang demam pada orang tua atau sudara kandung
 Perkembangan terlambat
 Problem pada masa neonatus
 Anak dalam perawatan khusus
 Kadar natrium rendah

Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali
rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau
lebih. Resiko rekurensi meningkat pada:

 Usia dini
 Cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul
 Temperatur yang rendah saat kejang

8
 Riwayat keluarga kejang demam
 Riwayat keluarga epilepsy

E. PATOFISIOLOGIS

Kenaikan suhu oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme


basal 10% -15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak
sirkulasi otak bisa mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dewasa
yang hanya 15-20%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi
perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat
terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran sel
sehingga terjadi lepas muatan listrik yang dapat meluas keseluruh sel maupun
ke membran sel sebelahnya melalui neurotransmitter dan terjadilah kejang.

Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke


seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang
disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang
kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya ambang kejang
seeorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak
dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38°C
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi
pada suhu 40°C atau lebih. Dari kenyataan inilah dapatlah disimpulkan
bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang
yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada
tingkat suhu berapa penderita kejang.

Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak


berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang
berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apneu,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang

9
akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anaerob, hipotensi disertai denyut jantung yang tidak teratur dan
suhu tubuh makin meningkat karena aktifitas otot dan menyebabkan
metabolisme otak meningkat. Hal ini akan menyebabkan kerusakan neuron
otak selama berlangsungnya kejang lama.

Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang


mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan
timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.
Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan
kejang yang berlangsung lama dapat menjadi “matang” di kemudian hari,
sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang
berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga
terjadi epilepsi.

F. MANIFESTASI DAN GEJALA KLINIS

Kebanyakan kejang demam berlangsung singkat, bilateral, serangan


berupa klonik atau tonik-klonik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu
kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi
setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa
adanya kelainan saraf.

Kejang demam dapat berlangsung lama dan/atau parsial. Pada kejang


yang unilateral kadang-kadang diikuti oleh hemiplegi sementara (Todd’s
hemiplegia) yang berlangsung beberapa jam atau bebarapa hari. Kejang
unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiplegi yang menetap.

Menurut Behman kejang demam terkait dengan kenaikan suhu yang


tinggi dan biasanya berkembang bila suhu tubuh mencapai 39oC atau lebih
ditandai dengan adanya kejang khas menyeluruh tonik klonik lama beberapa
detik sampai 10 menit. Kejang demam yang menetap lebih dari 15 menit

10
menunjukkan penyebab organik seperti proses infeksi atau toksik selain itu
juga dapat terjadi mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan dan
kelemahan serta gerakan sentakan terulang.

G. DIAGNOSIS

Beberapa hal dapat mengarahkan untuk dapat menentukan diagnosis kejang


demam antara lain :

 Anamnesis
o Demam (suhu > 38oC)
o Adanya infeksi di luar susunan saraf pusat (misalnya tonsillitis,
tonsilofaringitis, otitis media akut, pneumonia, bronkhitis, infeksi
saluran kemih). Gejala klinis berdasarkan etiologi yang
menimbulkan kejang demam.
o Serangan kejang (frekuensi, kejang pertama kali atau berulang,
jenis/bentuk kejang, antara kejang sadar atau tidak, berapa lama
kejang, riwayat kejang sebelumnya (obat dan pemeriksaan yang
didapat, umur), riwayat kejang dengan atau tanpa demam pada
keluarga, riwayat trauma)
o Riwayat penyakit sebelumnya, riwayat penyakit keluarga, riwayat
kehamilan ibu dan kelahiran, riwayat pertumbuhan dan
perkembangan, riwayat gizi, riwayat imunisasi
o Adanya infeksi susunan saraf pusat dan riwayat trauma atau
kelainan lain di otak yang juga memiliki gejala kejang untuk
menyingkirkan diagnosis lain yang bukan penyebab kejang demam
o Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun
mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain
misalnya infeksi SSP, atau epilepsy yang kebetulan terjadi bersama
demam.
 Pemeriksaan Fisik

11
o Suhu tubuh mencapai 39°C.
o Keadaan umum, kesadaran, tekanan darah, nadi, nafas, suhu
o Pemeriksaan sistemik (kulit, kepala, kelenjer getah bening, rambut,
mata, telinga, hidung, mulut, tenggorokan, leher, thorax : paru dan
jantung, abdomen, alat kelamin, anus, ekstremitas : refilling
kapiler, reflek fisiologis dan patologis, tanda rangsangan
meningeal)
o Status gizi (TB, BB, umur, lingkar kepala)
 Pemeriksaan Penunjang
o Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada
kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber
infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya
gastroenteritis dehidrasi disertai demam.
 Darah rutin, glukosa darah, elektrolit
 Urin dan feses rutin (makroskopis dan mikroskopik)
 Kultur darah
o Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam
yang pertama.
 Usia < 12 bulan sangat dianjurkan
 Usia 12-18 bulan dianjurkan
 Usia > 18 bulan selektif

H. KOMPLIKASI
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah
dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal
pada pasien yang sebelumnya normal.

I. PENATALAKSANAAN

12
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien
dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan nafas
harus bebas agar oksigen terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti
kesadaran, tekanan darah, suhu, pernafasan dan fungsi jantung. Suhu
tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air dingin dan pemberian
antipiretik.

Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah Diazepam


yang diberikan intravena atau intrarekal. Dosis Diazepam intravena 0,3-
0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan dosis
maksimum 20 mg. Bila Diazepam intravena tidak tersedia atau
pemberiannya sulit, gunakan Diazepam intrarektal 5 mg (BB < 10 kg) atau
10 mg (BB > 10 kg). Bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 5
menit kemudian.

Bila tidak berhenti juga, berikan Fenitoin dengan dosis awal 10-20
mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan 1 mg/kgBB/menit. Setelah
pemberian Fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan NaCl fisiologis
karena Fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena. Bila dengan
Fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat
intensif.

Bila kejang berhenti dengan Diazepam, lanjutkan dengan


Fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk
bayi 1 bulan sampai dengan 1 tahun 50 mg, dan umur 1 tahun ke atas 75
mg secara intramuskular. Empat jam kemudian berikan Fenobarbital dosis
rumat. Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari dibagi
dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis.

Jika anak mengalami demam tinggi, kompres dengan air biasa


(suhu ruangan) dan perikan Parasetamol secara rektal (10-15 mg/kgBB).

13
14