Anda di halaman 1dari 60

KONSEP RZWP-3K dan

pedoman pembuatan peta peta


RZWP-3K
Dewayany Sutrisno

PELAT IHAN OPT IMALISAS I T EKNOLOGI SPAT IAL UNT UK PENYUSUN A N


R ENCANA R INCI WILYAH PESISIR DAN PULAU PULAU K ECIL
SEAMEO - BOGOR, 24 – 28 SEPT EMBER 2018
UNITED NATIONS CONVENTION ON THE LAW OF THE
SEA (UNCLOS)
Fiji, Indonesia, Papua New Guinea, the Bahamas, and the
Philippines are the five sovereign states that obtained
approval in the (UNCLOS) held in Montego Bay, Jamaica
on December 10, 1982 and qualified as archipelagic
states (Wikipedia, 2016) NATIONAL PROGRAM
Maritime axes

1. Re-developed the maritime culture


❖ Land spatial Planning has been implemented 2. Commitment to maintain and manage the
for decades marine resources, focusing on the marine
❖ Marine spatial planning still on the move, food sovereignty
supported by law No 1/2014 as amendment of 3. Commitment to develop the maritime
Law No 27/2007 infrastructure and connectivity
4. Maritime diplomacy
5. Establishment of maritime defense forces
1. Zonasi adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui
penetapan batasbatas fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya
dukung serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan
dalam ekosistem pesisir

2. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang bersifat umum, berisi arahan tentang
alokasi ruang dalam rencana Kawasan Pemanfaatan Umum, rencana Kawasan
Konservasi, rencana Kawasan Strategis Nasional Tertentu, dan rencana Alur Laut

3. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
mahluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya

4. Alokasi Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah


5. Kawasan Pemanfaatan Umum adalah bagian dari wilayah pesisir yang
ditetapkan peruntukkannya bagi berbagai sektor kegiatan. (= kawasan budidaya).

6. Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan


pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk
mewujudkan pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara
berkelanjutan. (Kawasan Konservasi = kawasan lindung).

7. Kawasan Strategis Nasional Tertentu adalah Kawasan yang terkait dengan


kedaulatan negara, pengendalian lingkungan hidup, dan/atau situs warisan dunia,
yang pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan nasional

8. Alur laut adalah merupakan perairan yang dimanfaatkan, antara lain, untuk alur
pelayaran, pipa/kabel bawah laut, dan migrasi biota laut

9. Sempadan Pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional


dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari titik
pasang tertinggi ke arah darat.
Based on Law 1/2014:
The marine zonation consist of:
1. Conservation area
2. Cultural area
1. Tourism
2. Marine culture
3. Ports
4. Capture fisheries activities
5. Settlements (tribal)
6. Others
3. National Strategic Area
4. Sea lanes
DEFINISI DAN PENGERTIAN WILAYAH PESISIR
(Dahuri, et.al., 1996)

“Kawasan peralihan antara ekosistem laut dan


darat”
BATAS KE ARAH DARAT :
1. Ekologis : Kawasan daratan yang masih dipengaruhi oleh
proses-proses kelautan, seperti pasang surut, interusi air
laut, dll.
2. Administratif : Batas terluar sebelah hulu dari desa
pantai atau jarak definitif secara arbitrer (2 km, 20 km,
dst. dari garis pantai))
3. Perencanaan : Bergantung pada permasahan atau substansi yang
menjadi focus pengelolaan wilayah
BATAS KE ARAH LAUT :
1. Ekologis : Kawasan laut yang masih dipengaruhi oleh
proses-proses alamiah di darat (aliran air sungai,, run off,
aliran air tanah,, dll. .), atau dampak kegiatan manusia di
darat (bahan pencemar, sedimen,, dll) ); atau kawasan laut
yang merupakan paparan benua (continental shelf).
2. Administratif : 12 mil, dari garis pantai ke
arah laut.
3. Perencanaan : Bergantung pada permasalahan atau
substansi yang menjadi fokus pengelolaan wilayah
pesisir.
• Pencemaran dan sedimentasi: suatu kawasan laut
yang masih dipengaruhi oleh dampak pencemaran dan
sedimentasi dari darat..
• Hutan mangrove : kawasan perairan laut yang masih
mendapat pengaruh dari proses dan atribut ekologis
1. pulau adalah daratan yang terbentuk secara alami dan dikelilingi oleh air, dan
selalu di atas muka air pada saat pasang naik tertinggi (pasal 121 UNCLOS 1982)

2. da empat syarat yang harus dipenuhi agar dapat disebut sebagai 'pulau', yakni:
memiliki lahan daratan, terbentuk secara alami, bukan lahan reklamasi, dikelilingi
oleh air, baik air asin (laut) maupun tawar, selalu berada di atas garis pasang tinggi
(Retraubun, 2009)

3. pulau kecil merupakan pulau yang mempunyai luasan kurang atau sama dengan
10.000 km² (Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia No.
41 tahun 2000 )
Merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif dan atau aspek
fungsional

Ruang laut berdasarkan aspek administratif dapat


dibedakan menjadi RUANG LAUT NASIONAL, RUANG
LAUT PROPINSI dan RUANG LAUTKABUPATEN/
KOTA yang merupakan satu kesatuan yang utuh baik
visi, misi dan kebijakan makronya
RUANG LAUT DITINJAU DARI WILAYAH
YURIDIKSI DAN KEDAULATAN
NASIONAL:

1. Perairan pedalaman:
2. Laut kepulauan
3. Laut teritorial
4. Ruang laut dalam konstelasi
kedaulatan nasional dapat juga
meliputi wilayah ZEE dan landas
kontinen (UNCLOS 1982)
Dibedakan menjadi 3` layer, yaitu
permukaan laut, kolom air sampai
dengan dasar laut

DIMENSI SPASIAL
Z RUANG LAUT
1. alokasi ruang untuk akses publik;
2. alokasi ruang untuk kepentingan sosial, ekonomi, dan
budaya dengan tetap memperhatikan kepemilikan serta
penguasaan sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil;
3. keserasian, keselarasan dan keseimbangan dengan
RTRW provinsi dan/atau RTRW kabupaten/kota;
4. integrasi ekosistem darat dan laut;
5. keseimbangan antara perlindungan dan pemanfaatan
berbagai jenis sumber daya pesisir dan pulau-pulau
kecil, jasa lingkungan, dan fungsi ekosistem dalam satu
bentang alam ekologis (bioekoregion);
6. perencanaan Pembangunan lainnya seperti Rencana 7. kawasan, zona, dan/atau alur laut
Tata Ruang Hutan/Tata Guna Hutan Kesepakatan kabupaten/kota yang telah ditetapkan sesuai
(TGHK), Rencana Induk Pengembangan Pariwisata dengan peraturan perundang-undangan; dan
(RIPP), Kawasan Rawan Bencana, Wilayah Pengelolaan 8. peta rawan bencana dan peta risiko bencana
Perikanan (WPP), prasarana perhubungan laut, kawasan
pemukiman, dan kawasan pertambangan;
Persiapan Penyusunan
Dokumen Antara
Pengumpulan
Data
Konsultasi Publik
Survei
1.Memetakan pemangku Lapangan

kepentingan Pengolahan dan Penyusunan


Dokumen Final
Analisa Data
2.Sosialisasi rencana Deskripsi
potensi dan
3.Bimtek kajian Permohonan
Tanggapan dan saran
pemanfaatan
4.Penyusunan RZWP-3K Penyusunan
dokumen awal
Pembahasan
Konsultasi Ranpeda
Publik

Penentuan Penetapan
Alokasi Ruang
PESISIR DAN LAUT DALAM SATU
NEGARA
1. Common property
2. Free come and free exit
Sumber, KKP, 2013
A. Batas
administratif
B. Batasan
fungsional
Sesuai dengan undang-undang batas KEWENANGAN DAERAH ATAS
PENGELOLAAN

KEWENANGAN PENGELOLAAN:
• SDA HAYATI
• KELESTARIAN LINGKUNGAN
• NON HAYATI → Umumnya kewenangan
Propinsi : 0 – 12 mi negara dalam keterkaitannya dengan
Yuridiksi :0 – 200 mil/ ZEE pertambangan migas, logam mulia dst
Dari surut terendah

BATAS ANTAR WILAYAH:


Propinsi:
•< 12 mil : wilayah dibagi dua
•> 12 Mil : sesuai prosedur yang berlaku
Sumber KKP, 2013
CONTOH PENARIKAN BATAS WILAYAH ADMINISTRASI LAUT

Titik pangkal

Perencanaan Spasial Wilyah Pesisir dan Laut 2017


8. PETA WILAYAH PROV. SULTENG

ASPEK TEKNIS,
DATA GEOSPASIAL:

• Nama Daerah;
Provinsi,
Kabupaten/Kota
, Kecamatan,
Desa, dan nama
Pulau
• Nama Ibukota
• Batas Wilayah
• Luas Wilayah
• Sistem
georeferensi
• Daftar koordinat
• Skala peta
1:250.000
• Orientasi /arah
• Obyek dan
tononim
Perencanaan Spasial Wilyah Pesisir dan Laut 2017 rupabumi lainya
GEOSPASIAL DASAR

SEBAGAI
REFERENSI
DASAR
BAGI PETA
TEMATIK

(UU no 4
tahun 2011)

PERENCANAAN SPASIAL 2014


PETA DASAR
A: Administrative boundary (line)
B: building infrastructure (poly)
C: contour (line)
D: Navigation (point)
E: Elevation (point)
F: communication (poly)
G: Land cover (poly)
H: hydrology (line)
I: utility (Poly)
K: Communication (line)
L: coastline (line)
M: bathymetry (poly)
N: Toponimi/geographic names (point)
P: hydrology (poly)
R: Landform (poly)
S: Residential (poly)
T: control point (point)
U: utility (line)
W; bathymetry (line)
Jaring Kontrol Geodesi adalah satu kesatuan antara tanda titik
kontrol geodetik dan objek permanen-dan-stabil yang
ditempatinya yang digunakan untuk JKHN, JKVN, dan JKGN

Jaring Kontrol Horizontal Nasional yang selanjutnya disingkat JKHN


adalah sebaran titik kontrol geodesi horizontal yang terhubung
satu sama lain dalam satu kerangka referensi.

Jaring Kontrol Vertikal Nasional yang selanjutnya disingkat JKVN


adalah sebaran titik kontrol geodesi vertikal yang terhubung satu
sama lain dalam satu kerangka referensi.

Jaring Kontrol Gayaberat Nasional yang selanjutnya disingkat JKGN


adalah sebaran titik kontrol geodesi gayaberat yang terhubung
satu sama lain dalam satu kerangka referensi
BAGAIMANA IGT
IGD
TEMATIK DISUSUN

SRGI 2013 Mapping Coordinate


Reference System, IGT

DATA CAPTURED

Survei NSPK
PETA WILAYAH PESISIR KE ARAH DARAT
(LANDWARD)
Tingkat ketelitian tertentu meliputi:
a. ketelitian geometris; dan
b. ketelitian muatan ruang

Ketelitian geometris sebagaimana


meliputi:
a. sistem referensi Geospasial;
b. Skala; dan
c. Unit Pemetaan
Ketelitian muatan ruang meliputi:
a. kerincian kelas unsur; dan
b. simbolisasi.
DATA SPATIAL
▪ Berupa :
▪ Data Grafis: Vektor &
Raster

▪ Data yang
Bergeoreferensi Hutan

ditentukan dengan
sistim koordinat, Sawah Waduk
yang juga
mencakup datum
dan proyeksi peta.
DATA SPASIAL
▪ Titik posisi dengan format : sepasang
x1,y1,z x3,y3,z3
koordinat (X,Y) dengan tanpa mempunyai 1
dimensi panjang dan luas (area). x2,y2,z2
x4,y4,z4
▪ Garis, dengan format : kumpulan
pasangan-pasangan koordinat yang
mempunyai titik awal dan titik akhir
mempunyai dimensi panjang tapi tidak
mempunyai luas.
▪ Area (poligon), dengan format: kumpulan
pasangan-pasangan koordinat yang A1
A3
mempunyai titik awal dan titik akhir yang A5
A2
A4
sama, mempunyai dimensi panjang dan
luas
▪ Permukaan (surface) dengan format :
area dengan besaran (X, Y, Z), mempunyai
dimensi luas, panjang dan ketinggian.
JENIS FORMAT DATA SPASIAL

1. Data Raster 2. Data Vektor

aaaaa abbbbbbb
aaaaa abbbbbbb
aaaaa
aaaaa
abbbbbbb
aabbbbbb b
aaaaa acccbbbb
aaaaa
aaaaa
cccc cccc
cccc cccc
a
aaaac cccc cccc
aaaac cccc cccc
c
UU no 26 tahun 2007 UU No 1 tahun 2014 Kategori sub zona
berdasarkan 7-an

Kawasan budidaya Kawasan pemanfaatan 1. Perikanan


umum budidaya
2. Pemikuman
3. Industri
4. Pariwisata
5. P-elabuhan
6. Pertanian
7. Hutan
8. pertambangan
Kawasan lindung Kawasan konservasi 1. Konservasi
perairan
2. Konservasi pucil
3. Konservasi maritim
UU no 26 tahun 2007 UU n0 27 tahun 2007 Kategori sub zona
berdasarkan 7-an

Kawasan strategis Kawasan strategis 1. Instalasi militer


nasional nasional tertentu 2. Perbatasan pucil
terluar
3. Situs warisan dunia
Zona alur 1. Pipa & kabel dasar
laut
2. Pelayaran
3. Migrasi biota
Seawater area suitability
Existing Activities
Seawater area Potentiality Upland spatial planning
Tourism
Seaweed culture Sites
Capture Fisheries
Conservation Zone Sea lanes

Sea Lanes Seaweed culture


Strategic Area
Kusuma, 2015
Social Economic Factors
Regional and local Regulations Modelbased development:
1. Matrix potentiality
Upland spatial Planning 2. GIS analysis, Union overlay
Sutrisno et al, 2017
REMOTE SENSING

PENGUMPULAN DATA
LAPANGAN
1. Data dikumpulkan pada satsiun stasiun yang ditetapkan di
lapangan, dengan metode grid
2. Isoline akan menghubungi titik titik yang mempunyai nilai
yang sama
3. Hasilnya berupa garis yang dapat di poligonkan
4. Dalam mengumpulkan data menggunakan GPS dengan
referensi nasional
Isolines menghubungkan titik yang
▪ 1.
mempunyai nilai yang sama.

5 5
10
10
10
10 15
15
Isolines dalam menarik garis
▪ 2.
dihindari membentuk sudut yang
tajam

5 5
10
10
10
10 15
15
Isolines selalu tertutup, meskipun harus
▪ 3.
bersambungan dengan peta lainnya
▪ 4. Isolines tidak pernah bertabrakan

50 ° 60 °
40 °

30 ° X

20° Z
Y
Isolines usually biasanya parallel.
▪ 5.
(They have a parallel trend.)
▪ Gradient shows how quickly the value changes from
one point to another.

 value
Gradient =
distance
1. Masukan informs
titik2 ke dalam
perangkat lunak
2. Tandai titik yang
digunakan.
Isikan
nilai
ruanag
kosong
Hubungkan
titik2 nya.
Kerjakan
yang
sama ke
nilai
berikutny
a.
1. Suhu permukaan laut
2. Kandungan klorofil
3. Ekosistem laut: mangrove, sea grass, terumbu karang, seaweed
4. Konsentrasi sediment tersuspensi
5. Kedalaman
6. Kekeruhan
7. Kecerahan
8. Garis pantai
9. Arus dan gelombang
10.Tumpahan minyak
11.dll
PENYUSUN DATA SPASIAL
▪ Model dunia nyata membutuhkan format yang dapat
diproses oleh komputer

SIG

Data Spasial Data Tekstual

Geometri Atribut
Titik Kuantitatif
Garis Kualitatif
Poligon
Metode Beragam
CONTOH DISINI UNTUK BOBOT SCORING
Matrix
Variables P1 = Total n (Bobot X scoring)
K1 = (bp1.1.sp1.1 ) + (bp1.2 .sp1.2 ) + ........(bp1.n .sp1.n )
K2 = (bp2.1.sp2.1 ) + (bp2.2 .sp2.2 ) + ........(bp2.n .sp2.n )
K3 =  (bp3.1.sp3.1 ) + (bp3.2 .sp3.2 ) + ........(bp3.n .sp3.n )
K4 = (bp4.1.sp4.1 ) + (bp4.2 .sp4.2 ) + ........(bp4.n .sp4.n )
Social Economic Factors
Seawater area suitability
Existing Activities Regional and local Regulations
K + K2
P1 = 1 (+)
2
K 2 + K3
P2 =
2
K3 + K 4
Upland spatial Planning
N=
2 (- river mouth)
Dimana;

Seawater area Potentiality

Seaweed culture Sites

Conservation Zone

Sea Lanes Kusumanto, 2011


(-)
Strategic Area Sutrisno et al, 2017
No Variables Supporting Agencies
1 Protection zone BIG (based on analysis)
2 Pollutions Ministry of Environment and forestry or others

3 Depth BIG, MCMRP Project


4 Seed availability Ministry of Marine and Fisheries
5 Seabed Type Indonesian Institute of Sciences, MCMRP Project
6 Infrastructure BIG
7 Visibility Ministry of Marine and Fisheries, MCMRP Project
8 Salinity Ministry of Marine and Fisheries, MCMRP Project
9 Dissolved oxygen Ministry of Marine and Fisheries, MCMRP Project

10 pH Ministry of Marine and Fisheries , MCMRP Project


11 Security Ministry of Marine and Fisheries, MCMRP Project
12 Economic Data central bureau of statistics
13 Social Data central bureau of statistics

Kusuma, 2015
Modelbase : Matrix potentiality → GIS analysis, Union overlay
Sutrisno et al., 2017