Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan masyarakat dan pemberdayaan rakyat tidak mungkin

dipisahkan dari arena dan konteks di mana ia beroperasi. Pemberdayaan masyarakat

merupakan bagian dari strategi dan program pembangunan kesejahteraan sosial.

Tujuan mempelajari masyarakat adalah agar dapat melakukan asesmen atau

penelitian mengenai masyarakat sehingga mampu. memahami konteks dimana

kegiatan pengorganisasian dan pengembangan masyarakat (PPM) akan

dilaksanakan, mengevaluasi sistem pelayanan kemanusiaan yang ada, dan mengerti

struktur pengambilan keputusan yang ada di wilayah tersebut (Suharto,2005).


Di dalam suatu negara yang mengalami perkembangan terdapat siklus

dimana suatu keadaan yang tak berujung seperti lingkaran yaitu mengalami

penghambatan pada perkembangan masyarakat secara keseluruhan. Berbagai

masalah pada masyarakat di indonesia mulai bermunculan disebabkan adanya

tingkat sosial ekonomi masyarakat sangat rendah sehingga mengakibatkan

ketidakamampuan dan ketidaktahuan dalam berbagai hal khususnya dalam bidang

kesehatan. Bila keadaan ini dibiarkan menyebabkan masalah kesehatan terhadap

individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dan berdampak pada penurunan

status kesehatan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Keadaan ini akan
berpengaruh terhadap produktivitas keluarga dan masyarakat untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya. Untuk itu, seorang perawat yang akan terjun di komunitas

perlu melakukan adanya tindakan agar dapat meningkatkan keadaaan masyarakat

secara keseluruhan (Sarwono,2002).


Dalam masyarakat itu sendiri sebenarnya terdapat suatu dinamika yang

membuat mereka mampu bertahan dalam keadaan yang sulit dan hal itu sebenarnya

merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Sampai seberapa jauh potensi itu telah dikembangkan, dapat dilihat dari keadaan

perkembangan masyarakat itu sendiri. Pada masyarakat yang sudah berkembang,

maka hal ini menunjukkan bahwa mereka telah dapat memanfaatkan potensi yang

mereka miliki sedangkan pada masyarakat yang belum berkembang mereka belum

banyak memanfaatkan potensi yang mereka miliki (Sarwono,2002).


Pengorganisasian masyarakat dapat dijelaskan sebagai suatu upaya

masyarakat untuk saling mengatur dalam mengelolah kegiatan atau program yang

mereka kembangkan, disini masyarakat dapat membentuk panitia kerja, melakukan

pembagian tugas, saling mengawasi, merencanakan kegiatan dan lain-lain.

Lembaga-lembaga yang ada sebaiknya perlu dilibatkan karena lembaga inilah yang

sudah mapan, tinggal meningkatkan kemampuannya saja. Dari beberapa kasus yang

dialami masyarakat maka perlu pengorganisasian dan pengembangan masyarakat

sangat berguna untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat

khususnya meningkatkan status kesehatan. Agar masyarakat lebih memahami maka


peran bidan sangat diperlukan dalam kegiatan tersebut, terutama dalam Konsep

Persiapan Social, Partisipasi Dan Kaderisasi Dalam Pengorganisasian

Masyarakat (PPM).

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana Konsep Persiapan Sosial dalam PPM?
2. Bagaimana Konsep Partisipasi dalam PPM?
3. Bagaimana Kaderisasi dalam PPM ?
3.1. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memahami secara dalam mengenai Konsep Persiapan Social,

Partisipasi Dan Kaderisasi Dalam Pengorganisasian dan Pengembangan

Masyarakat (PPM).
2. Tujuan Khusus
Secara khususnya, tujuan dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1) Untuk Mengetahui Konsep Persiapan Sosial Dalam Pengorganisasian

dan Pengembangan Masyarakat (PPM).


2) Untuk Mengetahui Konsep Partisipasi Dalam Pengorganisasian

dan Pengembangan Masyarakat (PPM).


3) Untuk Mengetahui Kaderisasi Dalam Pengorganisasian dan

Pengembangan Masyarakat (PPM).

3.2. Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan Informasi dan memperluas

cakrawala berpikir khususnya tentang pengembangan dan pengorganisasian

Masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep Persiapan Sosial
Tujuan persiapan sosial adalah mengajak pasrtisipasi atau peran serta

masyarakat sejak awal kegiatan, selanjutnya sampai dengan perencanaan program,

pelaksanaan hingga pengembangan program kesehatan masyarakat. Kegiatan-

kegiatan dalam persiapan sosial ini lebih ditekankan kepada persiapan- persiapan

yang harus dilakukan baik aspek teknis, administratif dan program-program

kesehatan yang akan dilakukan.


Di Indonesia, konsep kesejahteraan sosial juga telah lama dikenal. Ia telah

ada dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Undang-Undang Rl Nomor 6 tahun

1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial, misalnya,

merumuskan kesejahteraan sosial sebagai:


“Suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material maupun spiri,tual yang

diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir dan batin, yang

memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan

kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial yang sebail<-baiknya bagi

diri, keluarga, serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak a tau kewajiban

man usia sesuai dengan Pancasila.”


Dengan demikian, kesejahteraan sosial memiliki beberapa makna yang relatif

berbeda, meskipun substansinya tetap sama. Kesejahteraan sosial pada intinya

mencakup tiga konsepsi, yaitu :


1. Kondisi kehidupan atau keadaan sejahtera, yakni terpenuhinya kebutuhan-

kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial.


2. lnstitusi, arena atau bidang kegiatan yang melibatkan lembaga kesejahteraan

sosial dan berbagai profesi kemanusiaan yang menyelenggarakan usaha

kesejahteraan sosial dan pelayanan sosial.


3. Aktivitas, yakni suatu kegiatan-kegiatan atau usaha yang terorganisi untuk

mencapai kondisi sejahtera (Suharto, 2005).

Persiapan sosial di sini menunjuk pada proses pragmatis untuk menentukan

keputusan dan menetapkan tindakan dalam memecahkan masalah sosial tertentu

seperti kemiskinan, pengangguran, kenakalan remaja, kebodohan (buta huruf),

kesehatan masyarakat yang buruk (rendahnya usia harapan hidup, tingginya tingkat

kematian bayi, kekurangan gizi) dll. Berbeda dengan pengembangan masyarakat

lokal, perencanaan social lebih berorientasi pada "tujuan tugas" (task goa/). Sistem

klien Persiapan sosial umumnya adalah kelompok-kelompok yang kurang

beruntung (disadvantaged groups) atau kelompok rawan sosial-ekonomi, seperti

para lanjut usia, orang cacat, janda, yatim piatu, wanita tuna sosial. Pekerja sosial

berperan sebagai perencana sosial yang memandang mereka sebagai "konsumen"

atau "penerima pelayanan" (beneficiaries). Keterlibatan para penerima pelayanan

dalam proses pembuatan kebijakan, penentuan tujuan, dan pemecahan masalah

bukan merupakan prioritas, karena pengambilan keputusan dilakukan oleh para

pekerja sosial di lembaga-lembaga formal, semisal lembaga kesejahteraan sosial


pemerintah (Depsos) atau swasta (LSM). Para perencana sosial dipandang sebagai

ahli (expert) dalam melakukan penelitian, menganalisis masalah dan kebutuhan

masyarakat, serta dalam mengidentifikasi, melaksanakan dan mengevaluasi

program-program pelayanan kemanusiaan (Suharto, 2005).

a. Pengenalan Masyarakat
Dalam tahap awal ini kita harus datang ketengah – tengah masyarakat

dengan hati yang terbuka dan kemauan untuk mengenal masyarakat sebagaiman

aadanya, tanpa disertai prasangka serta menyampaikan maksud dan tujuan

kegiatan yang akan dilaksanakan. Tahap ini dapat dilakukan baik melalui Jalur

Formal yaitu dengan melalui sistem pemerintahan setempat seperti Pamong

Desa atau Camat, dan dapat juga dilakukan melalui Jalur Informal misalnya

wawancara dengan Tokoh Masyarakat, seperti Guru, Pemuka Agama, tokoh

Pemuda,dll.
Tujuan mempelajari masyarakat adalah agar dapat melakukan asesmen atau

penelitian mengenai masyarakat sehingga mampu memahami konteks dimana

kegiatan PM akan dilaksanakan, mengevaluasi sistem pelayanan kemanusiaan

yang ada, dan mengerti struktur pengambilan keputusan yang ada di wilayah

tersebut (Suharto, 2005).


Masyarakat adalah sekelompok orang yang memiliki perasaan sama atau

menyatu satu-sama lain karena mereka saling berbagi identitas, kepentingan-

kepentingan yang sama, perasaan memiliki, dan biasanya satu tempat yang

sama. Ada beberapa fungsi masyarakat: penyedia dan pendistribusi barang-


barang dan jasa, lokasi kegiatan bisnis dan pekerjaan, keamanan publik,

sosialisasi, wadah dukungan bersama atau gotong royong, kontrol sosial,

organisasi dan partisipasi politik. Beberapa aspek di bawah ini penting diketahui

dalam rnempelajari masyarakat:


 Nama dan batas wilayah serta jarak dari kota atau masyarakat lain.
 Demografis: jumlah penduduk, distribusi usia, kelompok minoritas,

jumlah anggota keluarga, status keluarga.


 Sejarah wilayah: kapan, mengapa dan oleh siapa daerah tersebut

dikembangkan, kejadian-kejadian penting yang mempengaruhi

perkembangan wilayah, perubahan karakteristik penduduk, alasan-

alasan mengapa pendatang baru datang ke wilayah tersebut dan

mengapa orang-orang pergi meninggalkan wi!ayah tersebut.


 Geografi dan pengaruh-pengaruh lingkungan terhadap masyarakat:

pengaruh cuaca, gunung, sungai, danau, pola-pola transportasi lokal,

pembangunan ekonomi, pengaruh jalan to!, interaksi sosial, suplai air,

listrik, jarak dari pasar.


 Kepercayaan dan sikap-sikap: nilai-nilai dominan, agama, sikap-sikap

penduduk, jenis-jenis lembaga pelayanan kemanusiaan, rasa memiliki

penduduk terhadap wilayahnya.


 Politik lokal: bentuk pemerintahan lokal, kekuasaan dan pengaruh partai

politik, tingkat partisipasi dalam pemilu, debat, isu dan kontroversi pada

saat ini.
 Ekonomi dan bisnis lokal: industri utama, bisnis, produksi wilayah,

jenis pekerjaan yang ada, keterampilan kerja yang diperlukan oleh


perusahaan-perusahaan besar, persentasi pekerja dan penganggur,

ramalan pertumbuhan ekonomi di masa depan


 Distribusi pendapatan: pendapatan rata-rata bagi pria dari wanita,

kelompok minoritas, jumlah orang dan keluarga yang hidup di bawah

garis kemiskinan, jumlah orang dan keluarga yang menerima bantuan

sosial (program kemiskinan).


 Perumahan: tipe peru mahan umum, biaya dan ketersediaan peru

mahan, persentasi peru mahan yang disewa atau kosong, persentasi

rumah yang padat atau kumuh.


 Fasilitas dan program-program pendidikan: lokasi dan jenis sekolah

ketersediaan sekolah bagi anak-anak khusus, tingkat drop-out,

ketersediaan pendidikan tinggi, pendidikan orang dewasa,

programprogram kejuruan dan pelatihan kerja.


 Sistem kesehatan dan kesejahteraan: nama dan lokasi pemberi

pelayanan kesehatan, pemberi pelayanan kemanusiaan, kelengkapan

dan keterjangkauan pelayanan, jaringan-jaringan informal.


 Keamanan publik dan sistem peradilan: kelengkapan polisi dan

pemadam kebakaran, sikap penduduk terhadap polisi lokal, pengadilan

dan pogram-program koreksional, jumlah orang dewasa dan remaja

yang dipenjara.
 Sumber informasi dan opini publik: Stasiun TV, radio dan surat kabar

yang paling berpengaruh, pemimpin kunci dan pembicara-pembicara

utama dari berbagai kelompok masyarakat.


 Masalah utama dan perhatian-perhatian masyarakat: jenis dan

penyebaran masalah (perumahan kumuh, transportasi yang tidak

memadai, keterbatasan kesempatan kerja), usaha-usaha yang tengah

dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, kesenjangan yang ada

pada berbagai pelayanan pendidikan, kesehatan dan sosial (Suharto,

2005).

b. Pengenalan Masalah Penyadaran


Dalam tahap ini dituntut suatu kemampuan untuk dapat mengenal masalah-

masalah yang memang benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat. Untuk dapat

mengenal masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh tersebut,

diperlukan interaksi dan interelasi dengan masyarakat setempat secara

mendalam. Dalam tahap ini mungkin akan banyak ditemukan masalah- masalah

kesehatan masyarakat, oleh karena itu harus disusun skala prioritas

penanggulangan masalah.
Beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk menyusun prioritas

masalah adalah :
 Beratnya Masalah
Perlu dipertimbangkan adalah Seberapa jauh masalah tersebut
menimbulkan gangguan terhadap masyarakat.
 Mudahnya Mengatasi
Yang diperhatikan adalah kemudahannya dalam menanggulangi
masalah tersebut.
 Pentingnya Masalah Bagi Masyarakat
Yang paling berperan disini adalah Subyektifitas masyarakat sendiri
dan sangat dipengaruhi oleh kultur – budaya setempat
 Banyaknya Masyarakat yang Merasakan Masalah
Misalnya perbaikan Gizi, akan lebih mudah dilaksanakan di wilayah
yang banyak balitanya.
Tahap Penyadaran Masyarakat ini adalah menyadarkan masyarakat agar
mereka:
 Menyadari masalah – masalah kesehatan yang mereka hadapi
 Secara sadar berpartisipasi dalam kegiatan penanggulangan masalah
kesehatan yang dihadapi,
 Tahu cara memenuhi kebutuhan akan upaya pelayanan kesehatan
sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada.
Agar masyarakat dapat menyadari masalah dan kebutuhan mereka akan
pelayanan kesehatan, diperlukan suatu mekanisme yang terencana dan
terorganisasi dengan baik, untuk itu beberapa kegiatan yang dapat dilakukan
dalam rangka Menyadarkan Masyarakat adalah :
1. Lokakarya Mini Kesehatan,
2. Musyawarah Masyarakat Desa ( MMD )
3. Rembuk Desa
Hal ini dilakukan untuk menyadarkan, membicarakan langkah-langkah yang
akan ditempuh dalam penanggulanagan masalah, penyusunan program kegiatan
yang menyangkut petugas, biaya, sarana dan prasarana serta bentuk-bentuk
kerjasama lintas sektoral dari instansi terkait maupun lintas program, sehingga
jelas peranan-peranan yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak yang
berkepentingan dalam mencapai tujuan masyarakat yang lebih luas. Hal-hal
yang mendapat perhatian dalam penyadaran masalah adalah :

1. Libatkan masyarakat secara keseluruhan baik formal maupun informal,


sehingga mereka sadar bahwa itu adalah masalah mereka bersama yang
perlu segera diatasi

2. Dalam menyusun rencana penanggulangan masalah, sesuaikan dengan


potensi dan sumber daya yang ada pada masyarakat

3. Hindari konflik dari berbagai kepentingan dalam masyarakat


4. Kesadaran dari kelompok-kelompok kecil masyarakat hendaknya
disebarkan kepada kelompok masyarakat yang lebih luas

5. Adakan interaksi dan interalasi dengan tokoh-tokoh masyarakat secara


intensif dan akrab, sehingga mereka dapat dimanfaatkan untuk usaha
motivasi, komunikasi sehingga dapat menggugah kesadaran masyarakat

6. Dalam mengatasi sifat-sifat paternalistik masyarakat dapat


memanfaatkan jalur kepemimpinan masyarakat setempat dalam
mendapatkan legitimasi dari pihak pemerintah setempat untuk
mempercepat kesadaran masyarakat (Mardikanto,2013).

2.2. Konsep Partisipasi

Menurut Rogers, partisipasi adalah tingkat keterlibatan anggota dalam


mengambil keputusan, termasuk dalam perencanaan. Namun pada dasarnya
Partisipasi berarti ikut serta, tetapi dalam bahasa kita hampir tidak ada perbedaan
antara kata tersebut sebagai kata kerja (to participate) atau kata benda
(participation).

Dalam arti manapun sudah jelas bahwa dalam partisipasi ada minimal dua
kelompok warga yang saling hubungannya cukup menyatu (united) karena pada
awalnya mempunyai tujuan hidup yang tidak sepenuhnya sama.

Sehingga seorang aktivis yang ingin mengembangkan partisipasi perlu


menemukan satu tujuan (purpose) yang bukan hanya diterima oleh kelompok-
kelompok dalam Community tetapi sekaligus salah satu dari kebutuhan mereka yang
dirasakan penting. Saat ini masalah peran serta masyarakat (partisipasi) dalam
pembangunan menjadi topik utama dimana kegagalan dalam setiap program
pemerintah disebabkan oleh kurangnya keikutsertaan masyarakat.
Alasan mengapa keikutsertaan (partisipasi) masyarakat dikatakan penting pada
masa pembangunan sekarang, antara lain :

1) Kita sedang berada dalam masa transisi dalam pembangunan era pertanian
ke era industri
2) Terciptanya demokrasi dan keterbukaan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara
3) Sebanyak 27 juta rakyat Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan
4) Berkembangnya etos kerja yang negatif
5) Masih terjadi pemisahan golongan antara kaum elite dan kaum bawahan.

Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran


dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya
untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan.
Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah
semata.
Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan emosi atau
perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan
sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung
jawab terhadap usaha yang bersangkutan.
Manfaat Partisipasi Masyarakat:
 Partisipasi adalah perwujudan kedaulatan rakyat, yang menempatkan
mereka sebagai awal dan tujuan pembangunan.
 Partisipasi menimbulkan rasa harga diri dan kemampuan pribadi untuk
turut serta dalam menentukan keputusan yand menyangkut masyarakat.
Dengan kalimat lain partisipasi merupakan bentuk “memanusiakan
manusia” (nguwongake).
 Partisipasi adalah proses saling belajar bersama antara pemerintah dan
masyarakat, sehingga bisa saling menghargai, mempercayai, dan
menumbuhkan sikap yang arif.
 Partisipasi menciptakan suatu lingkaran umpan balik informasi tentang
aspirasi, kebutuhan, dan kondisi masyarakat.
 Partisipasi merupakan kunci pemberdayaan dan kemandirian
masyarakat.
 Partisipasi merupakan cara yang paling efektif untuk mengembangkan
kemampuan masyarakat dalam pengelolaan program pembangunan guna
memenuhi kebutuhan.
 Partisipasi bisa mencegah timbulnya pertentangan, konflik, dan sikap-
sikap waton suloyo.
 Partisipasi bisa membangun rasa memiliki masyarakat terhadap agenda
pemerintahan, kemasyarakatan, dan pembangunan.
 Partisipasi dipandang sebagai pencerminan demokrasi.
(Dwipayana,2003)

a. Urgensi Partisipasi
Pentingnya partisipasi dikemukakan oleh Conyers (1991: 154-155) sebagai
berikut:

1. Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi


mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat setempat, yang
tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan
gagal.
2. Masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan
jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya,
karena mereka akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek tersebut dan
akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut.

3. Suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan


masyarakat mereka sendiri.
Apa yang ingin dicapai dengan adanya partisipasi adalah meningkatnya
kemampuan (pemberdayaan) setiap orang yang terlibat baik langsung maupun
tidak langsung dalam sebuah program pembangunan dengan cara melibatkan
mereka dalam pengambilan keputusan dan kegiatan-kegiatan selanjutnya dan
untuk jangka yang lebih panjang.

Adapun prinsip-prinsip partisipasi tersebut, sebagaimana tertuang dalam


Panduan Pelaksanaan Pendekatan Partisipatif yang disusun oleh Department
for International Development (DFID) (dalam Monique Sumampouw, 2004:
106-107) adalah:

a) Cakupan. Semua orang atau wakil-wakil dari semua kelompok yang


terkena dampak dari hasil-hasil suatu keputusan atau proses proyek
pembangunan.
b) Kesetaraan dan kemitraan (Equal Partnership). Pada dasarnya setiap
orang mempunyai keterampilan, kemampuan dan prakarsa serta
mempunyai hak untuk menggunakan prakarsa tersebut terlibat dalam
setiap proses guna membangun dialog tanpa memperhitungkan jenjang
dan struktur masing-masing pihak.

c) Transparansi. Semua pihak harus dapat menumbuhkembangkan


komunikasi dan iklim berkomunikasi terbuka dan kondusif sehingga
menimbulkan dialog.

d) Kesetaraan kewenangan (Sharing Power/Equal Powership). Berbagai


pihak yang terlibat harus dapat menyeimbangkan distribusi kewenangan
dan kekuasaan untuk menghindari terjadinya dominasi.
e) Kesetaraan Tanggung Jawab (Sharing Responsibility). Berbagai pihak
mempunyai tanggung jawab yang jelas dalam setiap proses karena
adanya kesetaraan kewenangan (sharing power) dan keterlibatannya
dalam proses pengambilan keputusan dan langkah-langkah selanjutnya.

f) Pemberdayaan (Empowerment). Keterlibatan berbagai pihak tidak lepas


dari segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki setiap pihak, sehingga
melalui keterlibatan aktif dalam setiap proses kegiatan, terjadi suatu
proses saling belajar dan saling memberdayakan satu sama lain.

g) Kerjasama. Diperlukan adanya kerja sama berbagai pihak yang terlibat


untuk saling berbagi kelebihan guna mengurangi berbagai kelemahan
yang ada, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan sumber daya
manusia.

b. Esensi Partisipasi
Kata partisipasi berasal dari bahasa inggris yaitu “Partisipation” yang artinya
pengambilan bagian, pengikutsertaan. Sedangkan kata “Partisipation” berasal
dari kata “Partisipate” yang berarti mengikutsertakan. Seiring dengan definisi
tersebut partisipasi dapat diartikan sebagai turut serta berperan serta atau
keikutsertaan.
Dalam kamus bahasa Indonesia definisi partisipasi adalah hal yang
berkenaan dengan turut serta dalam suatu kegiatan atau berperan serta dalam
suatu kegiatan atau berperan serta. Jadi, dapat diartikan bahwa partisipasi
adalah suatu bentuk kerjasama yang diberikan apabila suatu pihak sedang
melakukan suatu kegiatan.
Dengan keterlibatan dirinya, berarti keterlibatan pikiran dan perasaannya.
Misalnya anda berpartisipasi/ ikut serta (dapat anda rasakan sendiri), maka
anda melakukan kegiatan itu karena menurut pikiran anda perlu dan bahwa
perasaan anda pun menyetujui/berkenan untuk melakukannya.
R.A Santoso Sastropoetro mengemukakan pengertian partisipasi adalah
keterlibatan yang bersifat spontan yang disertai kesadaran dan tanggung jawab
terhadap kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
Jenis-jenis partisipasi yang dikemukakan oleh sastropoetro, sebagai berikut:
1. Partisipasi dalam pikiran.
Dalam hal ini partisipasi berupa mengusulkan pendapat dan
merencanakan berbagai kegiatan demi kesuksesan suatu kegiatan atau
program.
2. Partisipasi dalam tenaga
Partisipasi ini dapat berupa sumbangsih tenaga yang diberikan oleh
sebagian atau seluruh masyarakat sehingga suatu kegiatan atau program
dapat berjalan lancer.
3. Partisipasi dalam keahlian.
Bentuk partisipasi ini adalah berdasarkan dari tingkat keahlian,
keterampilan, pendidikan, dan pekerjaan yang dimiliki oleh sebagian
atau seluruh masyarakat.
4. Partisipasi dalam fasilitas.
Partisipasi yang dimaksudkan disini adalah partisipasi atau keikutsertaan
yang dapat berupa kontribusi melalui uang, barang, dan jasa.

c. Metode Pendekatan Partisipasi

1. Pendekatan pasif, pelatihan dan informasi


yakni pendekatan yang beranggapan bahwa pihak eksternal lebih
menguasai pengetahuan, teknologi, keterampilan dan sumber daya.
Dengan demikian partisipasi tersebut memberikan komunikasi satu arah,
dari atas ke bawah dan hubungan pihak eksternal dan masyarakat
bersifat vertikal.
2. Pendekatan partisipasi aktif
yaitu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berinteraksi
secara lebih intensif dengan para petugas eksternal, contohnya pelatihan
dan kunjungan.
3. Pendekatan partisipasi dengan keterikatan masyarakat atau individu
diberikan kesempatan untuk melakukan pembangunan, dan diberikan
pilihan untuk terikat pada sesuatu kegiatan dan bertanggung jawab atas
kegiatan tersebut.
4. Pendekatan dengan partisipasi setempat
yaitu pendekatan dengan mencerminkan kegiatan pembangunan atas
dasar keputusan yang diambil oleh masyarakat setempat.

d. Mewujudkan Masyarakat Partisipasi


Berbagai upaya dapat dilakukan untuk menumbuhkan partisipasi di
masyarakat:
1. Mengeksplorasi nilai-nilai yang berkaitan dengan semangat partisipasi
(kebersamaan dan solidaritas, tanggung jawab, kesadaran kritis, sensitif
perubahan, peka terhadap lokalitas dan keberpihakan pada kelompok
marginal, dll).
2. Menghidupkan kembali institusi-institusi volunteer sebagai media
kewargaan yang pernah hidup dan berfungsi untuk kemudian
dikontekstualisasi dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat
terutama dinamika kontemporer (Mis. forum rembuk desa/dusun).
3. Memfasilitasi tebentuknya asosiasi-asosiasi kewargaan yang baru
berbasiskan kepentingan kelompok keagamaan, ekonomi, profesi, minat
dan hobi, dan politik maupun aspek-aspek kultural lainnya yang dapat
dimanfaatkan sebagai arena interaksi terbuka.
4. Mengkampanyekan pentingnya kesadaran inklusif bagi warga desa
dalam menyikapi sejumlah perbedaan yang terjadi dengan
mempertimbangkan kemajemukan.
5. Memperluas ruang komunikasi publik atau semacam public sphere yang
dapat dimanfaatkan warga desa untuk melakukan kontak-kontak sosial
dan kerjasama. (Dwipayana,2003)

e. Peran Organisasi Dalam Partisipas


Dalam berorganisasi setiap individu dapat berinteraksi dengan semua
struktur yang terkait baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung
kepada organisasi yang mereka pilih. Agar dapat berinteraksi secara efektif
setiap individu bisa berpartisipasi pada organisasi yang bersangkutan.
Dengan berpartisipasi setiap individu dapat lebih mengetahui hal-hal apa
saja yang harus dilakukan.
Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau
pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang
mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam
usaha mencapai tujuan.
Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti keterlibatan
jasmaniah semata. Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental,
pikiran, dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang
mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam
usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang
bersangkutan.
Unsur-unsur :
Menuruth Keith Davis ada tiga unsur penting partisipasi.
1. Unsur pertama, bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnya
merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada
semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.
2. Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada
usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat rasa
senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.

3. Unsur ketiga adalah unsur tanggung jawab. Unsur tersebut


merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Hal ini
diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of belongingness”.

Jenis-jenis :

Keith Davis juga mengemukakan jenis-jenis partisipasi, yaitu sebagai


berikut:

1. Pikiran (psychological participation)


2. Tenaga (physical partisipation)

3. Pikiran dan tenaga

4. Keahlian

5. Barang

6. Uang

Syarat-syarat
Agar suatu partisipasi dalam organisasi dapat berjalan dengan efektif,
membutuhkan persyaratan-persyaratan yang mutlak yaitu .

 Waktu. Untuk dapat berpatisipasi diperlukan waktu. Waktu yang


dimaksudkan disini adalah untuk memahamai pesan yang
disampaikan oleh pemimpin. Pesan tersebut mengandung
informasi mengenai apa dan bagaimana serta mengapa diperlukan
peran serta.
 Bilamana dalam kegiatan partisipasi ini diperlukan dana
perangsang, hendaknya dibatasi seperlunya agar tidak
menimbulkan kesan “memanjakan”, yang akan menimbulkan efek
negatif.

 Subyek partisipasi hendaknya relevan atau berkaitan dengan


organisasi dimana individu yang bersangkutan itu tergabung atau
sesuatau yang menjadi perhatiannnya.[1]

 Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi, dalam


arti kata yang bersangkutan memiliki luas lingkup pemikiran dan
pengalaman yang sama dengan komunikator, dan kalupun belum
ada, maka unsur-unsur itu ditumbuhkan oleh komunikator.

 Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk melakukan


komunikasi timbal balik, misalnya menggunakan bahasa yang
sama atau yang sama-sama dipahami, sehingga tercipta pertukaran
pikiran yang efektif atau berhasil.

 Para pihak yang bersangkutan bebas di dlam melaksanakan peran


serta tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
 Bila partisipasi diadakan untuk menentukan suatu kegiatan
hendaknya didasarkan kepada kebebasan dalam kelompok, artinya
tidak dilakukan pemaksaan atau penekanan yang dapat
menimbulkan ketegangan atau gangguan dalam pikiran atau jiwa
pihak-pihak yang bersangkutan. Hal ini didasarkan kepada
prisnsip bahwa partisipasi adalah bersifat persuasif.

Partisipasi dalam organisasi menekankan pada pembagian wewenang


atau tugas-tugas dalam melaksanakan kegiatannya dengan maksud
meningkatkan efektif tugas yang diberikan secara terstruktur dan lebih jelas.

Bentuk-bentuk organisasi

1. Organisasi politik
2. Organisasi sosial

3. Organisasi mahasiswa

4. Organisasi olahraga

5. Organisasi sekolah

6. Organisasi negara

2.3. Kaderisasi
Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan
inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya
sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-
tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah
keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan
(Depkes, 2005).
Fungsi kaderisasi antara lain :
1. Melakukan rekrutmen anggota baru. Penanaman awal nilai organisasi agar
anggota baru bisa paham dan bergerak menuju tujuan organisasi.
2. Menjalankan proses pembinaan, penjagaan, dan pengembangan anggota.
Membina anggota dalam setiap pergerakkannya. Menjaga anggota dalam nilai-
nilai organisasi dan memastikan anggota tersebut masih sepaham dan setujuan.
Mengembangkan skill dan knowledge anggota agar semakin kontributif.
3. Menyediakan sarana untuk pemberdayaan potensi anggota sekaligus sebagai
pembinaan dan pengembangan aktif. Kaderisasi akan gagal ketika potensi
anggota mati dan anggota tidak terberdayakan.
4. Mengevaluasi dan melakukan mekanisme kontrol organisasi. Kaderisasi bisa
menjadi evaluator organisasi terhadap anggota. Sejauh mana nilai-nilai itu
terterima anggota, bagaimana dampaknya, dan sebagainya.(untuk itu semua,
diperlukan perencanaan sumber daya anggota sebelumnya) (Depkes, 2005).
Peran kaderisasi:
1. Pewarisan nilai-nilai organisasi yang baik
Proses transfer nilai adalah suatu proses untuk memindahkan sesuatu
(nilai) dari satu orang keorang lain (definisi Kamus Besar Bahasa
Indonesia). Nilai-nilai ini bisa berupa hal-hal yang tertulis atau yang sudah
tercantum dalam aturan-aturan organisasi (seperti Konsepsi, AD ART, dan
aturan-aturan lainnya) maupun nilai yang tidak tertulis atau budaya-budaya
baik yang terdapat dalam organisasi (misalnya budaya diskusi) maupun
kondisi-kondisi terbaru yang menjadi kebutuhan dan keharusan untuk
ditransfer.
2. Penjamin keberlangsungan organisasi
Organisasi yang baik adalah organisasi yang mengalir, yang berarti
dalam setiap keberjalanan waktu ada generasi yang pergi dan ada generasi
yang datang (ga itu-itu aja, ga ngandelin figuritas). Nah, keberlangsungan
organisasi dapat dijamin dengan adanya sumber daya manusia yang
menggerakan, jika sumber daya manusia tersebut hilang maka dapat
dipastikan bahwa organisasinya pun akan mati. Regenerasi berarti proses
pergantian dari generasi lama ke generasi baru, yang termasuk di dalamnya
adanya pembaruan semangat.
3. Sarana belajar bagi anggota
Tempat di mana anggota mendapat pendidikan yang tidak didapat di
bangku pendidikan formal.Pendidikan itu sendiri berarti proses pengubahan
sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam proses
mendewasakan manusia melalui proses pengajaran dan pelatihan.
Pendidikan di sini mencakup dua hal yaitu pembentukan dan
pengembangan. Pembentukan karena dalam kaderisasi terdapat output-
output yang ingin dicapai, sehingga setiap individu yang terlibat di dalam
dibentuk karakternya sesuai dengan output. Pengembangan karena setiap
individu yang terlibat di dalam tidak berangkat dari nol tetapi sudah
memiliki karakter dan skill sendiri-sendiri yang terbentuk sejak kecil,
kaderisasi memfasilitasi adanya proses pengembangan itu.
Pendidikan yang dimaksudkan di sini terbagi dua yaitu dengan
pengajaran (yang dalam lingkup kaderisasi lebih mengacu pada karakter)
dan pelatihan (yang dalam lingkup kaderisasi lebih mengacu pada skill).
Dengan menggunakan kata pendidikan, kaderisasi mengandung
konsekuensi adanya pengubahan sikap dan tata laku serta proses
mendewasakan. Hal ini sangat terkait erat dengan proses yang akan
dijalankan di tataran lapangan, bagaimana menciptakan kaderisasi yang
intelek untuk mendekati kesempurnaan pengubahan sikap dan tata laku serta
pendewasaan (Depkes, 2005).
BAB IV
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Tujuan persiapan sosial adalah mengajak berpartisipasi atau peran serta
masyarakat sejak awal kegiatan, sampai dengan perencanaan program, pelaksanaan
hingga pengembangan program kesehatan masyarakat. Kegiatan-kegiatan dalam
persiapan sosial ini lebih ditekankan kepada persiapan-persiapan yang harus
dilakukan baik aspek teknis, administratif dan program-program kesehatan yang
akan dilakukan.
Partisipasi Menurut Keith Davis, partisipasi adalah suatu keterlibatan mental
dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di
dalamnya. Dalam defenisi tersebut kunci pemikirannya adalah keterlibatan mental
dan emosi. Sebenarnya partisipasi adalah suatu gejala demokrasi
dimana orang diikutsertakan dalam suatu perencanaan serta dalam pelaksanaan dan
juga ikut memikul tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat
kewajibannya. Partisipasi itu menjadi baik dalam bidang-bidang fisik maupun
bidang mental serta penentuan kebijaksanaan.
Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan
inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya
sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-
tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah
keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan.
Dalam berorganisasi setiap individu dapat berinteraksi dengan semua
struktur yang terkait baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung kepada
organisasi yang mereka pilih. Agar dapat berinteraksi secara efektif setiap individu
bisa berpartisipasi pada organisasi yang bersangkutan. Dengan berpartisipasi setiap
individu dapat lebih mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan.
3.2 Saran
Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau
pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang
mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha
mencapai tujuan.
Maka sebagai pelopor, kita harus meningkatkan peran dan partisipasi
masyarakat, agar usaha-usaha dalam kelompok untuk memenuhi tujuan hidup
tercapai dengan baik. Masyarakat mampu terlibat secara langsung dengan usaha-
usaha yang dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Davis, Keith dan John W. Newstrom. 1985. Perilaku Dalam Organisasi. Erlangga. Jakarta
Depkes RI., 1990, Modul Pelatihan Peningkatan PSM Pengorganisasian dan Pengembangan
Masyarakat, Jakarta _
_________, 1992, Peningkatan Peran Serta Masyarakat. Dirjen Penyuluhan Kesehatan Masyarakat,
Jakarta.
Depkes, 2005. Buku Pedoman Kegiatan Kader di Posyandu, Jakarta
Dwipayana, Ari AAGN dan Eko, Sturo. 2003. Membangun Good Governance di Desa.
Yogyakarta; IRE Press. net.
Sarwono,SW. 2002. Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat.FKMUI. Jakarta
Suharto,Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat : Kajian Starategis
Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial. Bandung : PT. Revika Aditama.
Totok Mardikanto, dkk. 2013. Pemberdayaan Masyarakat : Dalam Perspektif Kebijakan Publik.
Bandung : Alfabeta.