Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


1. Mengetahui proses pengeringan dan membuat kurva laju pengeringan
dengan suhu konstan.
2. Mempelajari pengaruh variasi laju alir udara terhadap perilaku
pengeringan padatan basah dengan suhu konstan.
3. Membuat kurva kadar air Vs waktu pengeringan.
4. Membuat kurva kecepatan pengering Vs kadar air.
5. Menghitung waktu pengeringan.

1.2 Dasar Teori


1.2.1 Pengertian Pengeringan
Pengeringan adalah penghilangan air yang jumlahnya relatif sedikit dari
bahan padat atau yang hampir padat dengan menggunakan panas. Pengeringan
dengan panas ini berlangsung pada suhu di bawah titik didih air dan sering kali
dengan bantuan udara atau gas yang dialirkan menyapu bahan yang akan
dikeringkan.Udara ini berfungsi sebagai penyedia panas dan menurunkan tekanan
parsial uap air didekat permukaan bahan. Proses pengeringan dengan cara
penghilangan air dari padatan sama dengan penguapan/ evaporasi air dalam
humidifier dan menara pendingin (cooling tower) yaitu melibatkan perpindahan
panas dan massa.Tidak hanya perpindahan panas dan massa melalui medium
pengering yang terlibat tetapi juga perpindahan air dari material padat.
Proses perpindahan panas terjadi pada perubahan dari fasa cair ke fasa uap
dimana diperlukan panas.Sedangkan proses perpindahan massa terjadi saat air dari
dalam bahan berdifusi kepermukaan bahan. Kecepatan pengeringan dikendalikan
oleh kecepatan pemindahan panas dari medium yang memberikan panas dan
kecepatan difusi air dari dalam bahan ke medium yang membawa uap (medium
pengering). Sebagai medium pengering umumnya dipakai udara. Kemampuan
udara membawa uap terbatas makin tinggi suhu udara makin besar
kemampuannya mengambil uap air.
Pengeringan berbeda dari operasi lainnya seperti evaporasi, karena pada
proses pengeringan kandungan air dalam bahan padat atau semi padat relatif
sedikit.Jika jumlah air banyak maka dikurangi dulu dengan cara yang lebih murah
dan cepat misalnya dengan memeras, sentrifugasi dan sebagainya.Banyak material
mungkin ekonomis dikeringkan dengan udara terbuka, industri modern biasanya
membutuhkan banyak kontrol dari medium pengering dan sirkulasinya.
Pengeringan merupakan bagian akhir dari suatu proses yaitu sebelum bahan
dikemas.Tujuan pengeringan bahan di suatu industri, adalah :
- Mengurangi biaya transportasi
- Agar mudah ditangani dan mudah penggunaanya
- Untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu seperti tahan lama pada penyimpanan
mudah mengalir dan tidak mudah rusak
- Untuk menghindari korosi akibat adanya air

1.2.2 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Laju Pengeringan


a. Luas Permukaan
Makin luas permukaan bahan makin cepat bahan menjadi kering
Air menguap melalui permukaan bahan, sedangkan air yang ada di bagian
tengah akan merembes ke bagian permukaan dan kemudian menguap.
Untuk mempercepat pengeringan umumnya bahan pangan yang akan
dikeringkan dipotong-potong atau di iris-iris terlebih dulu.
b. Perbedaan Suhu dan Udara Sekitarnya
Semakin besar perbedaan suhu antara medium pemanas dengan
bahan pangan makin cepat pemindahan panas ke dalam bahan dan makin
cepat pula penghilangan air dari bahan. Air yang keluar dari bahan yang
dikeringkan akan menjenuhkan udara sehingga kemampuannya untuk
menyingkirkan air berkurang. Jadi dengan semakin tinggi suhu
pengeringan maka proses pengeringan akan semakin cepat. Akan tetapi
bila tidak sesuai dengan bahan yang dikeringkan, akibatnya akan terjadi
suatu peristiwa yang disebut "Case Hardening", yaitu suatu keadaan
dimana bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya masih
basah.
c. Kecepatan Aliran Udara
Makin tinggi kecepatan udara, makin banyak penghilangan uap air
dari permukaan bahan sehinngga dapat mencegah terjadinya udara jenuh
di permukaan bahan. Udara yang bergerak dan mempunyai gerakan yang
tinggi selain dapat mengambil uap air juga akan menghilangkan uap air
tersebut dari permukaan bahan pangan, sehingga akan mencegah
terjadinya atmosfir jenuh yang akan memperlambat penghilangan air.
Apabila aliran udara disekitar tempat pengeringan berjalan dengan baik,
proses pengeringan akan semakin cepat, yaitu semakin mudah dan
semakin cepat uap air terbawa dan teruapkan.
d. Tekanan Udara
Semakin kecil tekanan udara akan semakin besar kemampuan
udara untuk mengangkut air selama pengeringan, karena dengan semakin
kecilnya tekanan berarti kerapatan udara makin berkurang sehingga uap air
dapat lebih banyak tetampung dan disingkirkan dari bahan pangan.
Sebaliknya jika tekanan udara semakin besar maka udara disekitar
pengeringan akan lembab, sehingga kemampuan menampung uap air
terbatas dan menghambat proses atau laju pengeringan.
e. Kelembapan Udara
Makin lembab udara maka semakin lama waktupengeringan,
sedangkan semakin kering udara maka semakin cepat waktupengeringan.
Karena udara kering dapat mengabsobsi dan menahan uap air setiap bahan
mempunyai keseimbangan kelembaban nisbi masing-masing. kelembaban
pada suhu tertentu dimana bahan tidak akan kehilangan air (pindah) ke
atmosfir atau tidak akan mengambil uap air dari atmosfir (Supriyono,
2003).

1.2.3 Peralatan Pengering


Peralatan pengering terdiri dari unsur berikut :
- Pemanas udara
- Kipas untuk menghembuskan udara
- Tempat bahan yang akan dikeringkan
Sebagai pemanas dapat berupa gas-gas panas hasil pembakaran, udara
dipanasi dengan uap air jenuh. Berdasarkan cara pemanasannya alat pengering
dapat dikelompokkan dalam pemanasan langsung atau tidak langsung. Pada alat
dengan pemanasan langsung, gas panas langsung kontak dengan bahan yang akan
dikeringkan. Kelembaban udara / panas memegang peranan penting.
Pada alat dengan pemanasan tidak langsung bahan dipanasi oleh suatu
permukaan panas. Karena tidak ada hembusan udara, suhu tinggi diperlukan.
Apabila bahan tidak tahan panas ruangan harus dibuat hampa agar titik didih air
turun. Cara ini dilakukan bila bahan yang dikeringkan tidak boleh kontak dengan
udara atau gas.Pengeringan zat padat diartikan sebagai penghilangan sejumlah
kecil air atau cairan yang lain dari suatu zat padat dengan cara menguapkannya ke
dalam arus gas.

1.2.4 Pengering Tray (Tray atau Shelf Dryer)


Untuk padatan basah seperti bahan butiran. Padatan basah disimpan di atas
tray atau rak dengan sebuah dinding atau cabinet, dan medium pengering
dialirkan melintasi salah satunya atau melewati tray-tray tergantung pada
kealamian material sampai kekeringan yang diinginkan tercapai. Dryer mungkin
dilengkapi dengan damper dan heater untuk mengontrol humidity dan temperatur
operasi. Umumnya pengering jenis ini biasanya dirancang sebagai alat kontinyu
yang mana tray-tray disusun ke atas dan berpindah kontinyu melalui tunnel.

Gambar 1.1 Tray dryer


1.2.5 Kandungan Air Bahan
Seperti proses perpindahan massa lainnya, pengeringan juga diperlakukan
sama yaitu pendekatan dengan hubungan keseimbangan. Bahan yang dikeringkan
kontak dengan campuran udara – uap, maka diperlukan data keseimbangan antara
udara – uap dengan bahan yang dikeringkan. Suatu padatan basah jika kontak
dengan udara pada suhu dan kelembaban tetap, setelah lama akan diperoleh
kandungan air dalam bahan mencapai keseimbangan.Kandungan air dinyatakan
dalam kg air/kg bahan kering:
1. Kandungan air keseimbangan. Bagian air yang terdapat di dalam zat padat
yang basah yang tidak dapat dikeluarkan dengan udara.
2. Kandungan air bebas. Bagian air di atas jumlah air keseimbangan yang
dapat dihilangkan dengan proses pengeringan
3. Air terikat. Cairan yang dikandung oleh suatu bahan pada kelembaban
relative 100 % yang terikat secara kimia.
4. Air tak terikat. Cairan yang merupakan kelebihan dari air terikat.
Segera setelah terjadinya kontak antara padatan basah dan media
pengering, suhu padatan naik hingga mencapai suatu keadaan steady. Suhu
padatan dan laju pengeringan bisa jadi naik atau turun untuk mencapai
keadaansteady. Pada keadaan steady suhu permukaan padatan basah sama dengan
suhu wet bulb gas tetapi karena adanya selang waktu dalam perpindahan massa
dan panas menyebabkan terjadinya sedikit deviasi. Ketika suhu padatan sudah
mencapai suhu wet bulb gas, maka suhunya menjadi stabil dan laju pengeringan
menjadi konstan. Ini disebut laju pengeringan konstan (constan rate) yang
berakhir bila kadar air dalam padatan sudah mencapai kadar kritisnya. Setelah
titik ini dicapai suhu permukaan naik dan laju pengeringan turun dengan tajam.
Tahap falling rate ini lebih lama dibandingkan dengan tahap konstan rate
walaupun air yang diuapkan mungkin lebih sedikit. Laju pengeringan mendekati
nol bila sudah mencapai kadar air kesetimbangan yang merupakan kadar air yang
paling rendah yang ada dalam padatan pada kondisi operasi pengeringan yang
digerakkan.
1.2.6 Kurva Kecepatan Pengering
Penentuan kecepatan pengering konstan dengan cara:
1. Bahan diletakkan pada tray dan memenuhi seluruh tray
2. Pada interval waktu tertentu, bahan ditimbang sampai berat bahan konstan
3. Data berupa berat bahan (M) Vs waktu (t)
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ−𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
4. Kadar air teruapkan (X) = 𝑥 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔

Hubungan antara kandungan cairan dan waktu digambarkan seperti kurva


di bawah ini:

A
e
B
Kadar Air n
C
teruapkan (%) g
e D E
X
ri
n
Waktu
g pengeringan (menit)
T
Gambar1.2. kurva Hubungan antara kadar air teruapkan dan waktu pengeringan A
r
a
1.2.7. Higrometer
y
Higrometer adalah sejenis alat untuk mengukur tingkat kelembaban pada
(
suatu tempat. Biasanya alat ini ditempatkan di dalam bekas (container)
T
penyimpanan barang yang memerlukan tahap kelembapan yang terjaga seperti dry
r
box penyimpanan kamera. Kelembaban yang rendah akan mencegah pertumbuhan
a
jamur yang menjadi musuh pada peralatan tersebut. Higrometer juga banyak
y
dipakai di ruangan pengukuran dan instrumentasi untuk menjaga kelembapan
a
udara yang berpengaruh terhadap keakuratan alat-alat pengukuran. Kini
t
Higrometer banyak dipakai untuk pengukur kelembaban ruangan pada budidaya
a
jamur, kandang reptil, sarang burung
u
walet maupun untuk pengukuran
kelembaban pada penetasan telur S
h
e
lf
D
r
y
Gambar 1.5. Higrometer

Higrometer (hygrometer) adalah perangkat untuk menentukan kelembaban


atmosfer yang dapat menunjukkan kelembaban relatif (persentase kelembaban di
udara), kelembaban mutlak (jumlah kelembaban) atau keduanya. Beberapa
higrometer standar hanya mampu menginformasikan dua keadaan seperti pada
kondisi udara kering atau basah. Sedangkan jenis higrometer lainnya merupakan
bagian dari perangkat yang disebut humidistats, yang digunakan untuk
mengontrol pelembab udara atau pengering untuk mengatur kelembaban udara.
Higrometer biasanya digunakan dalam peramalan cuaca, memantau kelembaban
di laboratorium, area penyimpanan dan pembuatan tanaman, di mana tingkat
kelembaban tertentu harus dijaga.

1.2.8. Anemometer
Anemometer adalah sebuah alat pengukur kecepatanangin yang banyak
dipakai dalam bidang Meteorologi dan Geofisika atau stasiun prakiraan cuaca.
Nama alat ini berasal dari kata Yunanianemos yang berarti angin. Perancang
pertama dari alat ini adalah Leon Battista Alberti pada tahun 1450. Selain
mengukur kecepatan angin, alat ini juga dapat mengukur besarnya tekanan angin
ituAnemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur
kecepatan angin dan untuk mengukur arah, anemometer merupakan salah satu
instrumen yang sering digunakan oleh balai cuaca seperti Badan Metereologi
Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kata anemometer berasal dari Yunani
anemos yang berarti angin, Angin merupakan udara yang bergerak ke segala arah,
angin bergerak dari suatu tempat menuju ke tempat yang lain. Anemometer ini
pertama kali diperkenalkan oleh Leon Battista Alberti dari Italia pada tahun 1450.
Anemometer harus ditempatkan di daerah terbuka. Pada saat tertiup angin, baling-
baling atau mangkok yang terdapat pada anemometer akan bergerak sesuai arah
angin. Makin besar kecepatan angin meniup mangkok-mangkok tersebut, makin
cepat pula kecepatan berputarnya piringan mangkok-mangkok. Dari jumlah
putaran dalam satu detik maka dapat diketahui kecepatan anginnya. Di dalam
anemometer terdapat alat pencacah yang akan menghitung kecepatan
angin.Fungsi Anemometer:

- Mengukur kecepatan angin


- Memperkirakan cuacah
- Memperkirakan tinggi gelombang laut
- Memperkirakan kecepatan dan arah arus

Gambar 1.6. Anemometer

Secara umum ada dua jenis anemometer, yaitu anemometer yang


mengukur kecepatan angin (velocity anemometer) dananemometer yang
mengukur tekanan angin (pressureanemometer). Dari kedua tipe anemometer ini
velocity anemometer lebih banyak digunakan. Salah satu jenis dari velocity
anemometer adalah thermal anemometer lebih dikenal dengan hot wire
anemometer yaitu anemometer yang mengkonversi perubahan suhu menjadi
kecepatan angin. Tetapi karena keduanya memiliki hubungan yang sama, maka
anemometer dirancang untuk memberikan informasi tentang keduanya.

1.2.9. Batubara
Batu bara adalah batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar, terbentuk
dari sisa tumbuhan yang terhumifikasi, berwarna coklat sampai hitam yang
selanjutnya terkena proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun
sehingga mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya. Batu bara adalah
bahan tambang non logam yang sifatnya seperti arang kayu, tetapi panas yang
dihasilkan lebih besar. Komposisi penyusun batu bara terdiri dari campuran
hidrokarbon dengan komponen utama karbon. Di samping itu juga mengandung
senyawa dari oksigen, nitrogen, dan belerang. Batu bara diklasifikasikan menurut
kadar kandungan karbon yang ada di dalamnya, yaitu berturut-turut makin besar
kadarnya lignite, bitumen, dan antrasit.
Batu bara hasil penambangan memiliki ukuran partikel yang beragam
sehingga pada pengolahannya perlu dilakukan pengayakan (screening) agar
ukuran partikel batu bara seragam dan dapat sesuai dengan spesifikasi pasar. Batu
bara ini akan dimasukkan ke alat screening dan akan terpisah sesuai ukuran mesh
pada ayakan. Partikel batu bara yang akan dilewatkan ke dalam alat screening
dapat dilihat pada gambar 1.7.

Gambar 1.7 Batubara

BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan bahan


2.1.1 Alat yang digunakan:
 Tray dryer UOP 8
 Spatula
 Anemometer
 Hygrometer
 Gelas ukur 100 mL
 Neraca analitik
 Screening Shaker

2.1.2 Bahan yang digunakan:


 Air
 Batubara

2.2 Prosedur Kerja


2.2.1 Persiapan Bahan
1. Menyetarakan ukuran batu bara menggunakan alat screening shaker
untuk mendapatkan ukuran 10mesh
2. Menimbang berat tray kosong untuk masing-masing tray 1 dan 2.
3. Menambahkan batubara sebanyak 30 gram pada tray 1 dan 30 gram
batubarapada tray 2
4. Menimbang berat tray yang telah terisi batubara
5. Menambahkan air sebanyak 100 mL pada masing-masing tray 1 dan 2
kemudian menimbang beratnya
6. Mengulangi langkah 1-5 dengan ukuran batubara 12 mesh

2.2.2 Pengoperasian Alat


1. Menghubungkan stop kontak dengan sumber listrik.
2. Menghidupkan powerair flow control pada posisi 5
dengantemperaturecontroltetap pada posisi 7.
3. Menghidupkan stopwatchdan memasukkan tray ke dalam alat
pengering dan menutupnya dengan rapat.
4. Mengukur temperatur, dew point, humidity dan laju alir udara awal.
5. Menunggu hingga 10 menit kemudian mengukur temperatur, dew point,
humidity, laju alir udara dan massa tray berisi sampel.
6. Mengulangi pengambilan data setiap 10 menit sampai berat tray berisi
sampel konstan.
7. Mematikan alat dan memutuskan sumber arus listrik.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Pengamatan


Tabel 3.1.1 Data Berat Tray, Batu Bara, Air Pada Ukuran Batubara 10 Mesh
dan 12 mesh dengan Air Flow Control 5 dan Temperature Control 7

Berat Berat Tray +


Berat Tray +
No. Isi Tray Batubara + air
Batubara (gram)
(gram) (gram)
1 Tray 1 (Batubara) 347,64 377,95 471,82
2 Tray 2 (Batubara) 76,02 106,07 201,44

Tabel 3.1.2 Data Berat Tray Keseluruhan dan Udara Panas Sebelum dan
Sesudah Melewati Tray Dengan Ukuran Batubara 12 mesh

Berat Tray +
Laju Alir
Batu bara + Air Sebelum Tray Sesudah Tray
Waktu Udara
(gram)
(menit) Pengering
(m/s) Dew Bubble % Dew Bubble
Tray 1 Tray 2 %RH
Point Point RH Point Point
0 0,6 471,82 201,44 31,5 46,4 68 31,5 49,6 54
10 0,6 455,21 188,26 29,9 45,2 67 28,3 40,2 53
20 0,6 432,05 164,8 27,2 42,9 52 41,3 47,4 43
30 0,6 412,46 144,9 28,3 41,6 49 29,9 46,3 42
40 0,6 390,80 120,00 31,1 45,3 47 30,7 47,6 41
50 0,6 378,98 105,30 36,9 43,4 44 33,6 52,0 39
60 0,6 374,70 102,50 29,5 45,4 43 48,7 49,6 53
70 0,6 374,00 102,20 24,4 45,0 41 26 49,2 29
Tabel 3.1.3 Data Berat Tray Keseluruhan dan Udara Panas Sebelum dan
Sesudah Melewati Tray Dengan Ukuran Batubara 10 Mesh

Berat tray +
Laju Alir
Batu bara + Air Sebelum Tray Sesudah Tray
Waktu Udara
(gram)
(menit) Pengering
Dew Bubble % Dew Bubble
(m/s) Tray 1 Tray 2 %RH
Point Point RH Point Point
0 0,6 471,82 201,44 26,4 29,4 89 27,8 35,8 65
10 0,6 457,90 186,06 38,6 39,5 91 31,5 41,9 58
20 0,6 444,01 168,18 43,9 50,70 80 34,8 51,3 43
30 0,6 424,10 149,40 44 51 79 34,9 51,6 41
40 0,6 407,63 129,7 30,7 37,5 71 31,5 48,9 40
50 0,6 387,43 109,59 39,1 46,7 68 35,2 37,1 39
60 0,6 377,44 103,10 26,8 34,6 64 26,4 43,8 35
70 0,6 374,59 102,28 26,5 41,6 52 27,5 51,3 29
80 0,6 373,90 101,87 25,2 39,0 47 27,9 52,7 27
90 0,6 373,80 101,79 22,3 38,5 43 26,7 52,5 25

3.2 Pengolahan Data


Tabel 3.2.1 Data Kandungan Cairan Pada Ukuran Batubara 12 Mesh

Berat tray + Batu Berat Batubara


Waktu Kandungan Cairan tray (%)
bara + Air (gram) Basah (gram)
(menit) Tray 1 Tray 2 Tray 1 Tray 2 Tray 1 Tray 2
0 471,82 201,44 124,18 125,42 371,0926 379,0680
10 455,21 188,26 107,57 112,24 308,0804 328,7242
20 432,05 164,8 84,41 88,78 220,2200 239,1138
30 412,46 144,9 64,82 68,88 145,9029 163,1016
40 390,80 120,00 43,16 43,98 63,7329 67,9908
50 378,98 105,30 31,34 29,48 18,8923 11,8411
60 374,70 102,50 27,06 26,48 2,6555 1,1459
70 374,00 102,20 26,36 26,18 0 0
Tabel 3.2.2 Data Kandungan Cairan Pada Ukuran Batubara 10 Mesh

Waktu Berat tray + Batu Berat Batubara Basah


Kandungan Cairan(%)
(menit) bara + Air (gram) (gram)

Tray 1 Tray 2 Tray 1 Tray 2 Tray 1 Tray 2

0 471,82 201,44 124,18 125,42 374,6942 386,6899


10 457,90 186,06 110,26 110,04 321,4832 327,0081
20 444,01 168,18 96,37 92,16 268,3868 257,6251
30 424,10 149,40 76,46 73,38 192,2783 184,7497
40 407,63 129,7 59,99 53,68 129,3196 108,3042
50 387,43 109,59 39,79 33,57 52,1024 30,2677
60 377,44 103,10 29,8 27,08 13,9144 5,0834
70 374,59 102,28 26,95 26,26 3,0199 1,9014
80 373,90 101,87 26,26 25,85 0,3823 0,3104
90 373,80 101,79 26,16 25,77 0 0

3.3 Pembahasan

Pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui proses pengeringan dan


membuat kurva laju pengeringan dengan suhu konstan, mempelajari pengaruh
kecepatan udara berubah terhadap laju pengeringan padatan basah dengan suhu
tetap, dapat membuat berbagai macam kurva yang dibutuhkan dan menghitung
waktu pengeringan.
Proses pengeringan disebabkan oleh panas dan massa berdifusi melalui
lapisan atas padatan kemampuan difusi molekul air terhadap udara panas akan di
pengaruhi mudah tidaknya air berpindah dalam padatan. Perpindahan panas
tersebut dikontrol oleh wet force yang besarnya tergantung pada perbedaan
tekanan hidrostatik dan pengaruh tegangan permukaan dalam celah – celah antara
partikel – partikel. Untuk membuat kurva laju pengeringan antara kadar air yang
teruapkan dalam bentuk presentase dengan waktu dilakukan pengambilan data
dengan dengan mengisi tray 1 dan 3 sebanyak 30 gram dan menambahkan air
sebanyak 100 ml ke masing-masing tray. Selanjutnya dilakukan pencatatan berat
sampel pada masing-masing tray hingga diperoleh berat sampel yang konstan.
Dengan menvariasikan ukuran partikel dari batu bara yaitu dengan ukuran 10
mesh dan 12 mesh.
400

350

300
tray 1
250
Kadar Air (%)

200 tray 2

150

100

50

0
0 20 40 60 80
-50
Waktu (menit)

Gambar 1. waktu vs kandungan cairan pada ukuran partikel 12 mesh

Gambar 1 merupakan kurva laju pengeringan pada variasi ukuran partikel


12 mesh, tray satu dan tray tiga memiliki selisih laju pengeringan yang kecil
dalam artian kemapuan pengeringan di tray satu dan tray tiga kecepatannya dapat
di anggap sama. Terlihat dari kurva proses pengeringan mulai masuk pada menit
ke 70 dan seterusnya. Pada tray 1 kadar air awal 371,09 % dan konstan pada
kisaran 0%.

450

400

350

300

250
tray 1
200 tray 2

150

100

50

0
0 20 40 60 80 100

Gambar 2. waktu vs kandungan cairan laju ukuran partikel 10 mesh


Gambar 2 merupakan kurva laju pengeringan pada variasi laju alir flow
control lima, tray satu dan tray tiga memiliki selisih laju pengeringan yang
berbeda dalam artian kemapuan pengeringan di tray satu dan tray tiga
kecepatannya tidak dapat diangap sama hal ini tidak jauh kaitannya dengan laju
alir flow yang di gunakan. Terlihat dari kurva proses pengeringan mulai masuk
pada menit ke 90 dan seterusnya.
Dari 2 variasi ukuran partikel 10 mesh dan 12 mesh, diperoleh hasil bahwa
bahan isian tray yang ukurannya semakin kecil maka akan menghasilkan luar
permukaan yang semakin besar yang merupakan salah satu faktor laju pengeringa,
maka dari itu untuk mempercepat laju pengeringan dibutuhkan bahan dengan
ukuran yang semakin kecil akan semakin baik. Hal ini di buktikan dengan data
dari praktikum pada ukuran 10 mesh waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan
kadar air 374,69 % pada tray 1 dan 386,689 % pada tray 3 membutuhkan waktu
90 menit dan pada ukuran 12 mesh memerlukan waktu 70 menit.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan:
1. Dari kurva laju pengeringan dengan ukuran partikel 12 mesh
pada gambar 1 menunjukan tray satu dan tray tiga memiliki
selisih laju pengeringan yang kecil dalam artian kemapuan
pengeringan di tray satu dan tray tiga kecepatannya dapat di
anggap sama. Pada tray 1 kadar air awal 371,09 % dan konstan
pada kisaran 0%.
2. Gambar 2 merupakan kurva laju pengeringan pada variasi laju
alir flow control lima, tray satu dan tray tiga memiliki selisih
laju pengeringan yang berbeda terlihat dari kurva proses
pengeringan mulai masuk pada menit ke 90 dan seterusnya.
3. Pada ukuran 10 mesh waktu yang dibutuhkan untuk
menurunkan kadar air 374,69 % pada tray 1 dan 386,689 %
pada tray 3 membutuhkan waktu 90 menit dan pada ukuran 12
mesh memerlukan waktu 70 menit.
4. Ukuran partikel akan mempengaruhi laju pengeringan semakin
besar ukuran partikel maka akan semakin lama laju yang
dibutuhkan untuk mengeringkan bahan dengan berat bahan
yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Online. https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara. Diakses pada 19


Oktober 2017.
Jobsheet. 2012.”Buku Penuntun Praktikum Satuan Operasi.”POLSRI :
Palembang. Online. www.scribd.com/doc/97496586/tpp. acr1. Diakses 19
Oktober 2017
Tim Laboratorium Pilot Plant. 2009. “Penuntun Praktikum Laboratorium
Satuan Operasi”. Samarinda: Politeknik Negeri Samarinda.
Tim Penyusun Modul Ajar. 2007. Peralatan Industri Semester IV. Samarinda:
Politeknik Negeri Samarinda.
LAMPIRAN

Sampel Perhitungan pada 10 mesh


Pada menit ke 40; suhu pada skala temperatur 7
a. Tray 1
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑐𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 = × 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ − 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
=
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
× 100%
59,99 − 26,16
= × 100% = 129,32%
26,16

b. Tray 2

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑐𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 = × 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ − 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
=
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
× 100%
53,68 − 25,77
= × 100% = 108,30%
25,77