Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN PERCOBAAN


1. Memahami prinsip hukum kedua termodinamika yang diaplikasikan pada peralatan
kompresor udara.
2. Menghitung efesiensi kompresor udara.
3. Menghitung panas hilang pada sistem nosel yang dialiri udara dari kompresor.

1.2 DASAR TEORI


1.2.1 Pengertian Termodinamika
Termodinamika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari penyimpanan,
transformasi (perubahan) dan transfer (perpindahan) energi. Energi disimpan sebagai
energi internal (yang berkaitan dengan temperatur), energi kinetik (yang disebabkan
oleh gerak), energi potensial (yang disebabkan oleh ketinggian), dan energi kimia (yang
disebabkan oleh komposisi kimiawi) ; ditransformasikan atau diubah dari salah satu
bentuk energi tadi ke bentuk energi lainnya; dan ditransfer melintasi suatu batas sebagai
kalor atau usaha/kerja.
( Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017 )
Termodinamika di bagi menjadi beberapa hukum :
1. Hukum termodinamika ke-0
2. Hukum termodinamika ke-1
3. Hukum termodinamika ke-2
Perubahan bentuk-bentuk energi dalam proses termodinamika harus ditentukan
dalam suatu objek yang disebut sebagai sistem. Sistem didefinisikan sebagai bagian dari
alam yang mempunyai batas-batas tertentu dan diperlakukan sebagai objek pengamatan.
Sedangkan segala sesutu yang berada diluar sistem disebut lingkungan. Antara sistem
dengan lingkungan dibatasi oleh bidang batas sistem (control volume). (Anonim 2017)
1.2.2 Hukum Termodinamika ke-1
Hukum pertama termodinamika dapat dijabarkan dalam penjelasan berikut :
1) Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan
2) Setiap energi yang hilang selalu diikuti dengan lahirnya bentuk energi lain dengan
jumlah yang sama.
3) Total energi yang terkandung dalam sistem terisolasi adalah konstan
Hukum pertama termodinamika sebagai persamaan matematis dinyatakan dalam
bentuk :
ΔEnergi Sistem = ΔEnergi Lingkungan
ΔEnergi Lingkungan = Q + W ..................................................................(1)
ΔEnergi Sistem = ΔUt + ΔEP + ΔEk …………………..............................(2)
Subtitusi persamaan dan ke persamaan menghasilkan :
ΔUt + ΔEP + ΔEk = Q + W ........................................................................(3)
(Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017)

1.2.3 Hukum Termodinamika ke-2


Bunyi hukum kedua termodinamika adalah:
‘’Tidak ada peralatan atau sistem yang dapat mengubah seluruh energi yang
diterima menjadi kerja’’
Hal ini disebabkan energi yang diterima oleh peralatan atau sistem dari
lingkungan hilang sebagian dan kembali ke lingkungan dalam bentuk energi panas (heat
loss). Energi panas yang hilang dan kembali ke lingkungan disebabkan karena adanya
gesekan (friction) pada peralatan atau sistem selama proses berlangsung.
Pernyataan hokum kedua termodinamika dalam bentuk persamaan matematis
adalah:
𝑊𝑎𝑐
ɳ= X 100% …………………………………………...(4)
𝐸𝑖𝑛

keterangan:
ɳ = efisiensi
Wac = kerja nyata
Ein = energi yang diterima
(Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017)

1.2.4 Energi
Dalam sistem-sistem Termodinamika sering terlibat energi dalam bentuk- bentuk
sebagai berikut :
a) Energi Potensial
Energi yang ditimbulkan oleh gaya gravitasi karena benda berada pada ketinggian
tertentu
Ep = m g Δh ……………..…..................................................(5)
Keterangan:
Ep = energi potensial (J)
m = massa fluida (kg)
Δh = perbedaan ketinggian antara titik satu dan titik dua
(Modul Termodinamika, 2014-2015)

b) Energi Kinetik
Energi yang ditimbulkan oleh benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu.
Ek = 1⁄2 m Δv2.......................................................................(6)
Keterangan:
m = massa fluida (kg)
v1 = kecepatan alir masuk di titik satu (m/s)
v2 = kecepatan alir keluar di titik dua (m/s)
(Modul Termodinamika, 2014-2015)

c) Energi Dalam ( U )
Energi dalam merupakan besaran yang menyatakan keadaan mikroskopis sistem.
Besaran yang menyatakan keadaan mikroskopis sistem (energi dalam) tidak bisa
diketahui secara langsung. Yang kita analisis dalam persamaan Hukum Pertama
Termodinamika hanya perubahan energi dalam saja. Perubahan energi dalam bisa
diketahui akibat adanya energi yang ditambahkan pada sistem dan energi yang
dilepaskan sistem dalam bentuk kalor dan kerja. Jika besaran yang menyatakan keadaan
mikroskopis sistem (energi dalam) tidak bisa diketahui secara langsung, maka besaran
yang menyatakan keadaan makroskopis bisa diketahui secara langsung. Besaran yang
menyatakan keadaan makroskopis adalah suhu (T), tekanan (p), volume (V) dan massa
(m) atau jumlah mol (n). (Anonim, 2017)

1.2.5 Pemampatan (Kompresi) Gas


Pemampatan (kompresi) gas merupakan suatu proses yang secara alami
mengakibatkan tekanan akhir gas sistem menjadi lebih besar dari tekanan awalnya.
Sedangkan volume akhir menjadi lebih kecil dari volume awalnya.
a. P2 > P1
b. V2 < V1
c. T2 > T1
Proses pemampatan gas dapat terjadi secara:
a. Isobar
b. Isotermal
c. Isovolum (isokor)
d. Adiabatik
Alat yang digunakan untuk memampatkan fluida gas adalah kompresor. Prinsip
kerja lompresor ideal adalah melakukan kompresi (pemampatan) gas/uap pada kondisi
isothermal dan isentropis. Keadaan awal dan akhir gas/uap pada kompresi ideal adalah:
P2 > P1
V2 < V1
T2 = T1
S2 = S1
2

Ws

1
Ws = H …………………………………………………….…(7)

H 2
2

Hs H

P1

1
S
Gambar 1.1 Diagram H – S Kompresor
(𝑊)𝑠 𝑖𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑜𝑝𝑖𝑠
ɳ= …………...………..…………………..(8)
𝑊𝑠
𝐻𝑠
ɳ= ………………...………………………………(9)
𝐻

Efisiensi kompresor biasanya mencapai 0,7 sampai 0,8


(Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017)

1.2.6 Pengembangan (Ekspansi) Gas


Pengembangan (ekspansi) gas merupakan suatu proses yang secara alami
mengakibatkan tekanan akhir gas system menjadi lebih kecil dari tekanan awalnya,
sedangkan volume akhir menjadi lebih besar dari volume awalnya.
a. P2 < P1
b. V2 > V1
c. T2 < T1
Pemampatan dan pengembangan gas dapat dilakukan pada kondisi isothermal,
isobar, isovolume (isokor) dan adiabatic.
Nosel merupakan salah satu peralatan yang dapat digunakan untuk menghasilkan
gas berkecepatan tinggi maupun mengendalikan arah dan bentuk fluida melalui proses
ekspansi. Pada nosel isotermal terjadi perubahan sifat fisik fluida sebagai berikut:
P2 < P1
V2 > V1
V2 >>>>> V1
T2 = T1
Untuk memudahkan menghitung ataupun mencari data-data karakteristik gas
pada saat mengalami ekspansi maupun kompresi, dapat diasumsikan gas berada dalam
keadaan ideal.
(Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017)

1.2.7 Kerja
Kerja adalah hasil kali antara gaya yang bekerja pada benda dengan perubahan
jarak yang dialami benda tersebut.
dW = F . dL …………..........................................................(10)
Modifikasi persamaan tersebut untuk aplikasi penggunaan fluida :
dW = F . dL
𝑑𝑉
dW = - p A 𝐴

dW = - p dV
𝑣2
W = − ∫𝑣1 𝑝 𝑑𝑉
W = - p (V2 – V1) ………….................................................(11)
Keterangan:
W = Kerja yang dilakukan oleh pompa ( watt, J/s)
p = Tekanan (atm)
V1 = Volume masuk fluida (liter)
V2 = Volume keluar fluida (liter)
W (+) = Sistem menerima kerja dari lingkungan
W (-) = Sistem menghasilkan (melakukan) kerja
terhadap lingkungan
(Modul Termodinamika, 2014-2015)

1.2.8 Panas
Panas adalah sesuatu yang berpindah sehingga mengakibatkan perubahan suhu
suatu sistem disebut panas ( kalor). Secara alamiah panas mengalir dari temperatur tinggi
ke temperatur rendah. Kemampuan suatu benda untuk menyerap panas dikaitkan dengan
besaran kapasitas panas (c). Kapasitas panas adalah panas yang diperlukan oleh suatu
benda untuk meningkatkan suhunya setiap 1 derajat.
 Berdasarkan jumlah massa kapasitas panas dapat digolongkan menjadi :
- Kapasitas panas Spesifik
Contoh : cal/g ᵒC ; J/kg K ; Btu/lbm ᵒR
- Kapasitas Panas Molar
Contoh : cal/gmol ᵒC
 Khusus untuk fase gas, kapasitas panas juga dapat diklasifikasikan sesuai
dengan kondisi perubahan gas tersebut, yaitu :
- Kapasitas panas pada tekanan konstan (cp)
- Kapasitas panas pada volume konstan (cv)
Haraga kapasitas panas dipengaruhi oleh temperatur dan biasanya dinyatakan
dalam bentuk persamaan.
c = a + bT + cT2 + dT3 ………….........................................(12)
Dengan demikian harga kapasitas panas memengaruhi harga energi panas dalam
bentuk :
dQ = m c dT ….....................................................................(13)
atau
dQ = n c dT …………..........................................................(14)
Keterangan:
Q = Kalor (J)
m = massa, dipakai untuk kapasitas panas spesifik
n = mol, dipakai untuk kapasitas molar
Integrasi persamaan
𝑇2
Q = m ∫𝑇1 𝑐 𝑑𝑇 ………….…...............................................(13)
𝑇2
Q = n ∫𝑇1 𝑐 𝑑𝑇 ……….……................................................(14)
(Modul Termodinamika, 2014-2015)
1.2.9 Proses Isentropik
1.2.9.1 Penggunaan Model Gas Ideal
Gambar 6.10 memperlihatkan dua keadaan gas ideal yang memiliki nilai
entropi spesifik yang sama. Dengan mempertimbangkan hubungan antara tekanan,
volume spesifik, dan temperature pada keadaan ini, pertama menggunakan tabel gas
ideal dan kemudian mengasumsikan kalor spesifik adalah tetap.
Dari dua keadaan yang memiliki entropi spesifik yang sama, Persamaan 6.21a
direduksi menjadi
𝑃2
0 = so(T2) – so(T1) – R ln 𝑃1 (6.42a)

Persamaan 6.42a mempergunakan empat nilai sifat: p1, T1,p2, dan T2. Jika
terdapat tiga sifat yang diketahui, maka yang keempat dapat diketahui. Jika, sebagai
contoh, temperature pada keadaan 1 dan perbandingan tekanan p2/p1 diketahui, maka
temperature pada keadaan 2 dapat diketahui dari
𝑃2
so(T2) – so(T1) – R ln 𝑃1 (6.42b)

Karena T1 diketahui, so(T1) dapat diketahui dari tabel yang cocok, nilai dari
so(T2) dapat dihitung, dan temperature T2 dapat diketahui dari interpolasi. Jika p1, T1,
dan T2 diketahui dan tekanan pada keadaan 2 dicari, Persamaan 6.42a dapat
digunakan untuk mendapatkan
𝑠°(𝑇2)−𝑠°(𝑇1)
p2 = p1 exp [ ] (6.42c)
𝑅

Persamaan 6.42 dapat digunakan ketika data so (atau s⎺o) diketahui, dan juga
Tabel gas A-22 dan A-23.
Untuk jenis kasus khusus dimana udara dimisalkan sebagai gasi ideal,
Persamaan 6.42c dapat digunakan sebagai dasar untuk alternatif pendekatan tabel
yang menghubungkan temperature dan tekanan pada dua keadaan yang memiliki
entropi spesifik yang sama. Untuk itu persamaannya dapat diubah menjadi:
𝑝2 exp[𝑠°(𝑇2)/𝑅
=
𝑝1 exp[𝑠°(𝑇1)/𝑅

Nilai exp[so(T)/R] yang muncul pada persamaan ini murni sebagai fungsi dari
temperatur, dapat ditulis dengan simbol pr(T). Tabulasi dari pr terhadap temperatur
untuk udara terdapat pada Tabel A-22.1 Dalam fungsi pr, persamaan terakhir menjadi
𝑝2 𝑝𝑟2
= (s1 = s2, hanya udara) (6.43)
𝑝1 𝑝𝑟1

Dimana pr1 = pr(T1) dan pr2 = pr(T2). Fungsi pr terkadang disebut sebagai
tekanan relatif.
Kita dapat juga mengembangkan hubungan antara volume spesifik dan
temperatur untuk dua keadaan udara yang memiliki entropi spesifik sama. Dengan
persamaan gas ideal, v = RT/p, perbandingan volume spesifik adalah
𝑣2 𝑅𝑇2 𝑝1
= ( 𝑝2 ) (𝑅𝑇1)
𝑣1

(Moran,2004)
1.2.10 Thermocouple
Thermocouple merupakan sensor suhu yang paling sering atau kebanyakan
digunakan. Termokopel dapat mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup
luas dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1⁰ C. Termokopel terdiri dari 2
jenis kawat logam konduktor yang digabung pada ujungnya sebagai ujung pengukuran.
Konduktor ini kemudian akan mengalami gradiasi suhu dan dari perbedaan suhu antara
ujung termokopel/ujung pengukuran dengan ujung kedua kawat logam konduktor yang
terpisah akan menghasilkan tegangan listrik. Hal ini disebut sebagai efek termo
elektrik. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga 70 microvolt setiap
perbedaan satu derajat celcius untuk kisaran yang dihasilkan dari kombinasi logam
modern. Jadi sangat penting untuk di ingat bahwa termokopel hanya
mengukur perbedaan temperatur diantara 2 titik, bukan temperatur absolut. Jadi
temokopel tidak bisa digunakan untuk mengukur suhu ruangan karena tidak ada
perbedaan antara ujung pengukuran dengan ujung referensi / ujung pada kedua kawat
logam. (Anonim, 2017)

1.2.10 Kompresor
Kompresor adalah alat pemampat atau pengkompresi udara dengan kata lain
kompresor adalah penghasil udara mampat. Karena proses pemampatan, udara
mempunyai tekanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan udara lingkungan
(1atm). Fungsi dari sebuah kompresor adalah untuk menaikkan tekanan suatu gas,
tekanan gas dapat dinaikkan dengan memaksakan untuk mengurangi volumenya.
Ketika volumenya dikurangi, tekanannya naik. Sebuah kompresor “positive
displacement”, memaksa gas dengan cara ini.
Kompressor adalah mesin untuk memampatkan udara atau gas. Secara umum
biasanya mengisap udara dari atmosfer, yang secara fisika merupakan campuran
beberapa gas dengan susunan 78% Nitrogren, 21% Oksigen dan 1% Campuran Argon,
Carbon Dioksida, Uap Air, Minyak, dan lainnya. Namun ada juga kompressor yang
mengisap udara/ gas dengan tekanan lebih tinggi dari tekanan atmosfer dan biasa
disebut penguat (booster). Sebaliknya ada pula kompressor yang menghisap udara/ gas
bertekanan lebih rendah dari tekanan atmosfer dan biasanya disebut pompa vakum.
(anonim 2017)
1.2.11 Kerja Ekspansi atau Kompresi
Pada saat gas berekspensi, tekanan gas meningkat dan dihasilkan gaya normal
pada dinding torak. Jika p adalah tekanan yang bekerja pada daerah batas gas dan torak,
maka gaya yang dihasilkan gas dan mengenai dinding torak dapat dinyatakan sebagai
bentuk perkalian tekanan p dengan luas permukaan torak A atau pA. Kerja yang
dihasilkan sistem pada saat torak bergerak sejauh dx adalah
𝟃W = pA dx (2.15)
Bentuk perkalian A dx seperti tampak pada Persamaan 2.15 setara dengan
perubahan volume sistem, dV. Dengan demikian, kerja ekspansi dapat dituliskan
sebagai
𝟃W = p dV (2.16)
Mengingat dV bernilai positif ketika volume bertambah, maka kerja pada
daerah batas bergerak adalah positif saat gas berekspansi. Untuk proses kompresi,
maka dV adalah negatif, maka perhitungan kerja berdasarkan Persamaan 2.16 juga
akan menghasilkan nilai negatif.
Kerja yang terjadi selama perubahan volume V1 ke V2 dapat dihitung dengan
mengintegralkan Persamaan 2.16 sebagai berikut
V2
W =∫𝑉1 𝑝 𝑑𝑉 (2.17)
Meskipun Persamaan 2.17 disusun berdasarkan kasus mekanisme silinder-
torak untuk gas (atau cairan), namun tetap dapat dipergunakan untuk berbagai bentuk
sistem selama terdapat tekanan yang seragam pada dinding pergerakan daerah batas.
(Moran,2004)

1.2.12 Wattmeter Ziglini


Wattmeter adalah instrument pengukur daya listrik yang pembacaannya dalam
satuan watt. Wattmeter pada dasarnya merupakan penggabungan dari dua alat ukur
dimana satuan watt tersebut merupakan kombinasi voltmeter dan amperemeter.
Voltmeter dan amperemeter berfungsi untuk mengukur secara langsung daya yang
terpakai pada suatu rangkaian listrik.
Pada wattmeter terdiri dari kumparan arus (kumparan tetap) dan kumparan
tegangan (kumparan putar), sehingga pemasangannya juga sama yaitu kumparan arus
dipasang seri dengan beban dan kumparan tegangan dipasang parallel dengan sumber
tegangan. Wattmeter merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur daya listrik
secara langsung. (anonim 2017)

1.2.11 Alat Ukur Laju Alir Linier


Alat ukur laju alir linier (anemometer) adalah alat ukur yang dapat digunakan
untuk kecepatan angin. Anemometer dapat dibagi menjadi dua yaitu mengukur angin
dari kecepatan dan mengukur angin dari tekanan. (anonim 2017)
Pada praktikum hukum termodinamika 2 alat laju alir linier (anemometer)
adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur laju alir udara yang masuk ke
kompresor dan keluar dari kompresor dalam satuan ft per minute (FPM) atau meter per
sekon (MPS).
BAB II
METODOLOGI

2.1 ALAT DAN BAHAN


2.1.1 Alat yang digunakan :
1) Kompresor udara tipe Fini compressor – Masko BS-315
2) Alat ukur laju alir linier udara tipe Omega HHF710
3) Thermocouple tipe Lutron TM-936
4) Wattmeter Ziglini
5) Rangkaian nosel terdiri dari pipa nosel berdiameter 0,7 mm, konektor
kompresor dengan nosel yang dilengkapi valve dan alat ukur tekanan
6) Alat ukur tekanan tipe tomeco dan alat ukur tekanan tipe EN562
2.1.2 Bahan yang digunakan :
1) Udara dari lingkungan

2.2. PROSEDUR KERJA


2.2.1 Prosedur Kerja Menghitung Efisiensi Kompresor
1) Memastikan tabung kompresor tidak berisi udara dengan cara memeriksa
tekanan kompresor.
2) Menghubungkan kompresor dengan arus listrik melalui alat wattmeter ziglini.
3) Mengisi tabung kompresor dengan udara dengan cara menjalankan
kompresor.
4) Menunggu pengisian hingga tekanan udara di kompresor mencapai 4,5 bar.
5) Menghubungkan selang kompresor dengan selang konektor 1 sehingga udara
pada tabung kompresor mengalir keluar.
6) Mengamati tekanan udara keluar kompresor dan menunggu hingga hingga
mencapai 4 bar. Pada saat yang bersamaan mencatat daya listrik yang
digunakan, mengukur laju alir dan temperatur udara keluar kompresor.
7) Mengulangi langkah 4 sampai 6 untuk variasi tekanan 3 bar dan 2 bar.
8) Mematikan kompresor.
9) Melepaskan konektor kompresor dengan konektor 1.

2.2.2 Prosedur Kerja Menghitung Hilang Panas Pada Sistem Nosel


1) Mengisi tabung kompresor dengan udara dengan cara nebjalankan kompresor.
2) Menunggu pengisian hingga tekanan udara di kompresor mencapai 4,5 bar.
3) Menghubungkan selang kompresor dengan selang konektor 2 sehingga udara
pada tabung kompresor mengalir menuju nosel.
4) Mematikan tekanan udara keluar kompresor dan menunggu hingga mencapai
4 bar. Pada saat yang bersamaan mencatat daya listrik yang digunakan.
Mengukur laju alir dan temperatur udara keluar nosel.
5) Mengulangi langkah 2 sampai 4 untuk variasi tekanan 3 bar dan 2 bar.
6) Mematikan kompresor.
7) Melepaskan konektor kompresor dengan rangkaian nosel.

2.2.3 Prosedur Kerja Menghentikan Percobaan (Shut Down


1) Mengeluarkan semua sisa udara yang masih berada dalam tabung kompresor
dengan menarik knob buang (flushing) dan pastikan tekanan udara pada
kompresor sudah mencapai 0 bar.
2) Memastikan semua peralatan berada dalam keadaan mati (off).
3) Memastikan semua koneksi arus listrik pada peralatan telah dicabut.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 2015. “Alat Ukur Wattmeter Beserta Kegunaannya”


http://kaksipit.blogspot.co.id/2015/11/alat-ukur-wattmeter-beserta-
kegunaannya.html?m=l

Anonim b. 2010. “Energi Dalam dan Hukum Pertama”


http://snapsyoga.blogspot.co.id/2010/05/energi-dalam-dan-hukum-
pertama.html. Diakses pada 28 Oktober 2017 pukul 14.45
Anonim c. 2010. ‘’ Definisi Kompresor”
http://elon2.blogspot.co.id/2010/06/kompresor-definisi-kompresor-
kompresor.html

Anonim d. 2011. “Laporan Anemometer”


http://nisadear.blogspot.co.id/2011/06/laporan-anemometer.html?m=l

Anonim e. ‘’Termokopel’’ https://id.wikipedia.org/wiki/Termokopel. Diakses pada 28


Oktober 2017 pukul 14.23

Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017, “Penuntun Praktikum Perpindahan


Panas dan Termodinamika”, Samarinda : Politeknik Negeri Samarinda.

Modul Teknik Kimia, 2015, “Termodinamika”, Samarinda : Politeknik Negeri


Samarinda