Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan

Vol. 12, No. 2, Hlm. 94 - 102, 2017


ISSN 1412-5064, e-ISSN 2356-1661
https://doi.org/10.23955/rkl.v12i2.8819

Pencairan Batubara Peringkat Rendah Papua Menggunakan


Katalis Bijih Besi

Liquefaction of the Papua Low Rank Coal Using Iron Ore Catalyst
Harli Talla1*, Herman Tjolleng Taba 2
1
Jurusan Teknik Pertambangan, Universitas Sains Dan Teknologi Jayapura Papua
2
Jurusan Teknik Mesin, Universitas Sains Dan Teknologi Jayapura Papua
*E-mail: harlitalla2010@gmail.com

Terima draft : 31 Oktober 2017; Terima draft revisi: 16 Desember 2017; Disetujui : 26 Desember 2017

Abstrak

Teknologi pencairan batubara yang rencana dikembangkan di Indonesia adalah pencairan


batubara peringkat rendah yang menggunakan katalis. Menentukan katalis yang tepat dapat
meningkatkan hasil konversi dan perolehan minyak. Konsep ini merupakan ide penelitian,
dengan tujuan untuk mengivestigasi hasil konversi dan perolehan minyak batubara Papua
dengan menggunakan katalis bijih besi. Batubara dicairkan dalam autoklaf 5 liter dengan katalis
biji besi dan antrasen sebagai pelarutnya. Kondisi operasional terdiri dari suhu 400ºC dan waktu
tunggu 60 menit. Hasil konversi ketiga sampel tanpa katalis hanya dalam kisaran 65,72-
66,45%, sedangkan konversi dengan katalis bijih besi berkisar antara 88,63-89,94 % dan
perolehan minyak antara 62,11-63,34 %. Hasil ini sekaligus menunjukkan kontribusi katalis
bijih besi terhadap peningkatan konversi yang rata-rata mencapai 23,04 %.

Kata kunci: pencairan batubara, peringkat rendah, bijih besi, konversi, minyak.

Abstract

The coal liquefaction technology that the plan developed in Indonesia is low rank coal
liquefaction using catalyst. Determining the right catalyst can improve the result of conversion
and oil yield. This concept is research idea, with the aim to investigate the result of conversion
and oil yield of Papua Coal by using iron ore catalyst. Coal is liquefied on the autoclave 5 liter
with iron ore catalyst and antrasen as solvent. Operating conditions consist of temperature of
400ºC and holding time of 60 minutes. The result of conversion of the three samples without
catalyst is only in the range of 65.72-66,45 %, whereas the conversion with iron ore catalysts
ranged from 88.63-89.94 % and oil yield between 62.11-63,34%. This result also shows the
contribution of iron ore catalyst to increase the conversions that averaged 23.04 %.

Keywords: coal liquefaction, low rank, iron ore, conversion, oil.

1. Pendahuluan Kehadiran katalis pada reaksi pencairan


batubara diharapkan dapat mempercepat
Eksploitasi batubara yang dilakukan secara proses reaksi sehingga dapat meningkatkan
gencar selama ini akan mempercepat hasil pencairan. Teknologi pencairan
habisnya cadangan batubara Indonesia, batubara prospek dikembangkan karena
diperlukan solusi cerdas untuk pemanfaatan cadangan batubara peringkat rendah
batubara kita sehingga penggunaannya dapat Indonesia yang melimpah di Sumatera dan
efisien dan mempunyai nilai manfaat yang Kalimantan serta wilayah Indonesia Bagian
besar. Kehadiran teknologi pencairan Timur lainnya. Pulau Papua adalah salah satu
batubara di awal tahun 1990 mestinya wilayah di Indonesia timur yang juga memiliki
menjadi salah satu solusi strategis untuk potensi batubara peringkat rendah yang
meningkatkan nilai tambah batubara belum dimanfaatkan secara maksimal.
Indonesia, sehingga batubara tidak hanya Tujuan penelitian ini adalah menginvestigasi
diekspor langsung tetapi dirubah wujudnya hasil konversi dan perolehan minyak
menjadi minyak dengan berbagai produk batubara peringkat rendah Pulau Papua
unggulan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. dengan menggunakan katalis bijih besi. Riset
Teknologi pencairan batubara yang ini menarik karena menghadirkan batubara
rencananya akan dikembangkan di Indonesia peringkat rendah Pulau Papua dari Cekungan
adalah metode hidrogenasi katalitik dengan Salawati dan Cekungan Papua Utara dan
memanfaatkan katalis dari alam yang cairkan menggunakan katalis bijih besi dari
bermanfaat dengan harga yang murah. alam.

94
Harli Talla dkk. / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 12, No. 2

1.1. Pencairan Batubara menjadi fragmen-fragmen reaktif (free


radicals). Gas H2, pelarut dan bantuan katalis
Pencairan batubara (Coal Liqeufaction) diperlukan untuk menstabilkan fragmen
adalah proses mengubah wujud batubara dari radikal bebas sehingga membentuk fraksi
padat menjadi cair. Pencairan batubara minyak. Teknolgi DCL menggunakan katalis
pertama kali di gagas oleh Bergius 1931 di memiliki potensi sukses karena mengguna-
Jerman yang selanjutnya dikembangkan oleh kan batubara peringkat rendah Indonesia
Fischer-Tropsch 1925. Proses ini akhirnya yang cadangannya cukup besar dan katalis
berhasil di kembangkan di Afrika Selatan dan alam yang melimpah.
masih berproduksi hingga saat ini. Secara
teknolgi, pencairan batubara dapat dilakukan 1.2. Katalis Alam
dengan dua jalur, yaitu: proses Fischer–
Tropsch (F-T) atau sering disebut indirect coal Pemakaian katalis bijih besi pada pencairan
liquefaction (ICL) dan metode pencairan batubara biasanya ditambahkan sulfur,
batubara langsung (direct coal liquefaction) tujuannya agar terjadi reaksi antara bijih besi
(Rong & Victor, 2017). (Fe) dan sulfur (S) membentuk pirhotit (Fe1-
xS). Pirhotit adalah fasa aktif pada reaksi
A. Proses Fischer–Tropsch
hidrogenasi. Menurut Kaneko dkk., (1997)
senyawa besi-sulfur adalah fasa aktif pada
Mekanisme Fischer–Tropsch (F-T) dilakukan
pencairan batubara. Pirhotit juga dapat
melalui tahap gasifikasi, yaitu batubara
terbentuk dari reaksi pirit (FeS2), goetit
difragmentasi menjadi CO, CO2, H2 dan CH4,
(FeOOH), hematit (Fe2O3), dan magentit
yang selanjutnya direkombinasikan
(Fe3O4) serta goethit buatan α(FeOOH) dan
menghasilkan produk cair. Proses ini
γFeOOH (Kaneko dkk., 1997). Reaksi-reaksi
menghasilkan hidrokarbon cair dari reaksi
pembentukkan pirhotit diuraikan, sebagai
antara gas karbon monoksida dan hidrogen
berikut:
dengan bantuan katalis. Produk utama proses
Fischer-Tropsch adalah parafin dan olefin,
FeS2 + H2  Fe1-x S + H2S (6)
reaksi yang terjadi yaitu:
FeOOH + S +3/2 H2  Fe1-x S +2H2O (7)
Fe2O3 + 2S + 3H2  2Fe1-x S + H2O (8)
2nH2 + nCO  CH2n + nH2O (1)
Fe3O4 + 3S + 4H2  3Fe1-x S + H2O (9)
2nH2 + nCO  CH2n+1 + (n-1) H2O (2)
2. Metode Penelitian
Gas karbon monoksida dan hidrogen dapat
direaksikan menjadi metanol (Williams & 2.1. Bahan dan Alat
Larson, 2003 dan Vasireddy dkk., 2011).
Sintesis metanol ini berasal dan reaksi: Bahan yang digunakan dalam peneltiian ini
adalah batubara peringkat rendah, gas
CO + 2H2  CH3OH (3) hydrogen, antrasen, katalis bijih besi, dan
sulfur. Peralatan yang digunakan meliputi
Gas CO2 akan direaksikan kemudian dalam autoklaf, pompa, penyaring, kasa, peralatan
alat pengubah berdasarkan reaksi: ekstraksi, dan unit anlisis gas.

CO2 + 3H2  CH3OH + H2O (4) 2.2. Persiapan Batubara


Atau dengan,
Penelitian ini mengeksploitasi potensi
CO + 2H2  CH3OH (5) batubara peringkat rendah pulau Papua
(Cekungan Salawati, Papua Barat) tepatnya
B. Pencairan batubara langsung
di Formasi Klasaman daerah Kabupaten
Sorong. Sampel diberi label Batubara
Pencairan batubara langsung adalah proses
Cekungan Salawati (CBS). Selanjutnya, dua
mengubah batubara padat menjadi bahan
sampel yang diperoleh dari Cekungan Papua
bakar cair dengan menambahkan hidrogen
Utara yang tersedimentasi di Formasi Unk
pada suhu dan tekanan yang tinggi dengan
Kabupaten Jayapura dengan kode BCPU 01
atau tanpa bantuan katalis (Vasireddy, dan BCPU 02 atau batubara Cekungan Papua
2011). Salah satu metode pencairan Utara satu dan dua. Sampel yang diperoleh
langsung yang berpotensi dikembangkan di dipreparasi dan dilakukan pengecilan ukuran.
Indonesia adalah metode katalitik. Metode
langsung (DCL) yang menggunakan katalis 2.3. Proses Pencairan Batubara
dilakukan dengan melarutkan batubara
dalam pelarut (solvent) yang diberi tekanan Pencairan batubara skala laboratorium
dan suhu yang tinggi. Tujuannya untuk dilakukan dengan metode eksperimental
memecahkan struktur hidrokarbon batubara

95
Harli Talla dkk. / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 12, No. 2

laboratorium. Batubara yang telah digerus Menghitung konversi dan perolehan minyak
hingga berukuran 200 mesh selanjutnya menggunakan Persamaan 1 dan 2. Skema
dicampur dengan antrasen, katalis bijih besi pengujian pencairan terlihat pada Gambar 1.
dan sulfur. Kemudian dimasukkan dalam
autoklaf. Selanjutnya autoklaf dikunci atau Peralatan pencairan yang digunakan terdiri
ditutup dan diinjeksi gas hidrogen dengan dari autoklaf berkapasitas 5 liter (Gambar 2).
tekanan awal sebesar 150 MPa lalu Peralatan pendukung terdiri dari pompa,
dipanaskan sesuai suhu yang diterapkan penyaring, kasa dan peralatan ekstraksi.
(400°C). Suhu operasi akan terus meningkat Kondisi operasi yang diterapkan disesuaikan
dengan konstan selama proses reaksi dengan karakteristik batubara peringkat
berlangsung hingga mencapai suhu target. rendah, yaitu suhu operasi 400°C, waktu
Suhu dipertahankan selama satu jam yang tunggu (holding time) 60 menit, rasio
disebut waktu reaksi/waktu tunggu, setelah solven/coal atau 2/1 dan tekanan hidrogen
waktu reaksi selesai, autoklaf lalu dimatikan. awal 150 Mpa. Komposisi bahan yang
Setelah suhu mendingin, kran-kran gas digunakan meliputi batubara 400 gram,
dilepas untuk mengeluarkan gas. Batubara pelarut antrasen 600 gram, bijih besi yang
cair lalu dikeluarkan dan disaring dipakai sebesar 3 % dari batubara daf atau
menggunakan kasa dengan tarikan pompa sebesar 21.81 gram dan ditambahkan
penyedot hingga minyak terpisah dengan dengan bubuk sulfur sebesar 13.71 gram
Residu. Residu hasil pencairan kemudian agar dapat membentuk pirhotit (Fe1-xS). Kode
diekstraksi dengan menggunakan toluen sampel batubara beserta kondisi operasi
untuk memisahkan minyak pada residu. proses pencairan ditabulasikan pada Tabel 1.

Gambar 1. Skema pengujian pencairan batubara

Keterangan:
1. Termokopel
2. Tabung reaktor autoklaf
3. Pengaduk
4. IR Furnace
5. Buffle Tank
6. Motor

Gambar 2. Reaktor autoklaf dan komponennya (Talla, 2013)

96
Harli Talla dkk. / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 12, No. 2

Tabel 1. Sampel dan kondisi pencairan batubara

Sampel Batubara Waktu tunggu


Keterangan Rasio S/C Suhu (°C)
(menit)
BCS Batubara Cekungan
60 2:1 400
Salawati
BCPU 01 Batubara Cekungan
60 2:1 400
Papua Utara 01
BCPU 02 Cekungan Papua 60 2:1 400
Utara 02

2.4. Yield dan konversi terbang juga tinggi mencapai 32,80 % adb,
kadar abu sebesar 4,94 % adb, kadar karbon
Hasil konversi dan perolehan minyak dari tertambat hanya sebesar 30,23 %adb. Kadar
penelitian ini dihitung dengan menggunakan hidrogen tinggi mencapai 7,78% adb, kadar
persamaan (1) dan (2). oksigen 37,21 % adb, kadar belerang 0,89
% adb dan rasio H/C tinggi mencapai 1,6
Batubara−Minyak (daf)
Yield = x 100% (1) (Talla dkk., 2013). Nilai kalor hanya 4090
Batubara (daf) kal/gram dan terklasifikasi dalam peringkat
lignit B.
Batubara−Residu (daf)
Konversi = x 100% (2) Sampel BCPU 01 dari hasil analisis proksimat
Batubara (daf)
dan ultimat menunjukkan kadar air sebesar
Keterangan: 25,59 % adb, kadar karbon tertambat sangat
- yield = Perolehan minyak (%) rendah sebesar 29,60 % adb, sebaliknya
- daf = Dried ash free (%). kadar zat terbang sangat tinggi mencapai
41,40 % adb, kadar abu sebesar 3,41 % adb
(lihat Tabel 3).
3. Hasil dan Pembahasan
Kadar hidrogen sampel BCPU 01 mencapai
3.1. Karakteristik Bijih besi 5,93 % adb, demikian juga kadar oksigen
yang mencapai 37,35 % adb dan kadar
Biji besi yang digunakan sebagai katalis pada belerang tinggi mencapai 3,56 % adb dan
penelitian ini berasal dari salah satu kadar karbon hanya 48,79 % adb dengan
perusahan yang menambang bijih besi di rasio H/C mencapai 1,4. Nilai kalor batubara
Kalimantan Selatan. Pemilihan Bijih besi ini hanya sebesar 4300 kal/gram dan
sebagai katalis didasari pada kandungan diklasifikasikan dalam peringkat lignit A.
mineralnya yang banyak mengandung unsur
besi. Hasil analisis kimia bijih besi oleh Sampel BCPU 02 memiliki karbon tertambat
Ningrum (2010) memperlihatkan dominasi paling mencapai 37,89 % adb, kadar air
unsur besi pada bijih besi yang digunakan, hanya 21,37 % adb, kadar abu 3,65 % adb
yaitu besi (Fe) mencapai 53,6% dan Fe2O3 dan kadar zat terbang 38,26 % adb. Hasil
sebesar 76,6%. Berikut hasil analisis kimia Analisis ultimat sampel BCPU 02
bijih besi Kalimantan Selatan yang digunakan memperlihatkan kadar karbon yang tinggi
(lihat Tabel 2). mencapai 58,92 % abd, kadar hidrogen 6,25
% adb dan rasio H/C sebesar 1,2. Nilai kalor
Tabel 2. Analisis Kimia Katalis Bijih Besi sampel BCPU 02 mencapai 5100 kal/gram
(Ningrum, 2010) serta tergolong peringkat lignit A (Tabel 2).

No Bijih besi Kadar Analisis petrografi sampel BCS terdiri dari


grup maseral vitrinit 77,8 % vol dengan sub
1 Fe Total 53,6 %
maseral detrovitrinit 54,6 % vol. Grup liptinit
2 Fe2O3 (Hematit) 76,6 %
3,8 % vol dominan sub maseral resinit 1,8 %
3 SiO2 5,25 %
vol. Grup inertinit mencapai 11,8 % vol,
4 S Total 0%
didominasi oleh sclerotinit 6,4 % vol.
Petrografi sampel BCPU 01 terdiri dari grup
3.2. Karakteristik Batubara maseral vitrinit 78,4 % vol dan didominasi
Hasil analisa proksimat dan ultimat sampel oleh detrovitrinit 75,4 % vol. Grup liptinit 7,2
BCS memperlihatkan kadar airnya sangat % vol, dominan sub maseral alginit 2,8 % vol.
tinggi mencapai 32,03% adb, kadar zat Grup inertinit 5,2 %.

97
Harli Talla dkk. / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 12, No. 2

Tabel 3. Karakteristik sampel batubara

Analisis ultimat Analisis Proksimat


Sampel
C H N S O H/C Mst Ash VM FC
BCS 52,34 7,78 0,64 0,89 37,21 1,6 32,03 4,94 32,80 30,23
BCPU 01 48,79 5,93 0,96 3,56 37,35 1,4 25,59 3,41 41,40 29,60
BCPU 02 58,92 6,25 1,06 0,76 29,36 1,2 21,37 3,65 38,26 37,89
BCS (Batubara Cekungan Salawati); BCPU (Batubara Cekungan Papua Uatara); C (Karbon),
H (Hidogen); N (Nitrogen); S (Sulfur); O (Oksigen); H/C (Rasio Hidrogen/Karbon);
Mst (Moisture = Air); Ash (Abu) dan VM (Volatile Matter= Zat terbang)

Gambar 3. Analisis petrografi batubara. Sampel BCS (a,b); sampel BCPU 01 (c,d); dan sampel BCPU 02 (e,f)

Petrografi sampel BCPU 02 memperlihatkan 3.3. Hasil pencairan batubara


kehadiran grup maseral vitrinit yang tinggi
mencapai 81,8 % vol dan dominan Data hasil pencairan batubara ketiga sampel
detrovitrinit 74,2 % vol. Grup liptinit 5,4 % memperlihatkan konversi berkisar antara
vol, dominasi sub maseral resinit 3,4 % vol. 88,63-89,94 % (Gambar 4). Material organik
Grup inertinit 8,6 % vol. Maseral utama dari batubara (macerals) ditengarai sebagai faktor
setiap sampel terlihat pada Gambar 3. yang berpengaruh besar terhadap peningka-

98
Harli Talla dkk. / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 12, No. 2

tan konversi dan perolehan minyak. Maseral Analisis data pencairan memperlihatkan
vitrinit dengan dominasi sub maseral tingginya koversi berhubungan dengan
desmocolinit memiliki komposisi material komposisi geokimia batubara, yaitu kadar
penyusun yang terdiri dari jaringan kayu, hidrogen dan rasio H/C yang tinggi. Kadar
akar, batang dan daun yang terbentuk dari hidrogen tinggi menjadi faktor utama karena
selulosa dan lignin (Talla, 2016). Secara mempermudah berlangsungnya proses donor
struktur kimia, selulosa merupakan polimer hidrogen dengan cepat walaupun pada suhu
yang membentuk rantai panjang lurus rendah, akibat tersedianya cadangan
dengan kelompok hidroksil dan ikatan hidrogen internal pasca perombakkan
hidrogen (Kržan, 2009; Zhang et al., 2008). struktur hidrokarbon batubara.
Sedangkan lignin dibentuk oleh struktur
aromatik dengan ikatan eter dan gugus Kandungan hidrogen tinggi memungkinkan
samping guiakol, syringyl dan hidroksi fenil terbentuknya fraksi minyak melalui
(Chen, H., 2014). mekanisme hydrogen shuttling pada suhu
yang rendah (Talla, 2016). Hydrogen
Selain itu, maseral dari grup maseral reaktif shuttling adalah batubara cenderung
(vitrinit+liptini) seperti alginit memiliki rasio mengkonsumsi kandungan hidrogennya
H/C sangat tinggi, sehingga sangat reaktif sendiri (Suzuki, 1994). Pendekatan penting
saat pencairan. Struktur hidrokarbon seperti untuk meningkatkan hasil minyak dan
ini mudah terkonversi karena ikatan-ikatan konversi adalah memberikan cukup hidrogen
eter (C-O) cepat mengalami pemutusan untuk menstabilkan radikal bebas dari
ikatan ketika diberi panas dan dengan donor pirolisis batubara (Li dkk., 2008). Ketiga
hidrogen akan cepat membentuk struktur sampel batubara yang digunakan memiliki
benzena dan siklik yang kaya hidrogen atau rasio H/C tinggi, terutama sampel BCS
setara dengan struktur minyak (Talla, 2016). dengan rasio H/C mencapai 1,6 (Tabel 2).
Shu & Zhang (2014) menunjukkan bahwa Rasio H/C batubara BCS ini hampir setara
batubara SDV dengan maseral vitrinit dengan rasio H/C minyak bumi yang berkisar
mencapai 80% adb menghasilkan konversi antara 1,48-1,94. Rasio H/C tinggi
tinggi mencapai 91,22 %, sebaliknya mempermudah proses donor hidrogen karena
batubara SDI dengan maseral vitrinit hanya hidrogen internal yang melimpah. Hasil-hasil
17,8 % adb hanya terkonversi sebesar 89,69 ini mengisyaratkan adanya hubungan kuat
%. Pengaruh lain adalah Batubara SDV juga antara peningkatan konversi dengan
memiliki maseral inertinit hanya 16,4 % adb tingginya hidrogen dan rasio H/C. Berbeda
dan batubara SDI memiliki inertinit mencapai dengan konversi, perolehan minyak tertinggi
80,1 % adb. justru dihasilkan oleh sampel BCPU 01 yang
memiliki hasil konversi sedikit lebih rendah.
Sampel BCS menghasilkan konversi paling Faktor pengaruhnya adalah maseral reaktif
tinggi mencapai 89,94 % dan konversi (vitrinit+liptinit), zat terbang dan sulfur.
terendah terlihat pada sampel BCPU 02 yang
hanya sebesar 88,63 % (lihat Gambar 4).

Gambar 4. Hasil konversi dan perolehan minyak

99
Harli Talla dkk. / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 12, No. 2

Gambar 5. Hasil pencairan tanpa katalis dan menggunakan katalis bijih besi

Maseral reaktif tdak hanya berpengaruh atau terdapat selisih sebesar 22,56%.
terhadap konversi, tetapi besar pengaruhnya Sedangkan konversi batubara BCPU 02 tanpa
pada peningkatan perolehan minyak. Hal ini katalis hanya 65,72 % dan konversi dengan
karena maseral-maseral dari grup maseral katalis bijih besi mencapai 88,63 % atau ada
reaktif terbentuk dari meterial organik seperti selisih sebesar 22,91 %. Hasil ini menunjuk-
alga, lignin, lipid dan wax yang merupakan kan pentingnya peran katalis bijih besi
material organik pembentuk minyak bumi. terhadap peningkatan konversi yang rata-
Hasil penelitian ini sejalan dengan kesimpulan rata dari ketiga sampel mencapai 23,06 %.
Singh (2012) huminit (vitrinit) memainkan
peran penting terhadap peningkatan Katalis adalah media yang membantu proses
perolehan minyak hingga > 65 % pada donor hidrogen ke dalam struktur radikal
pencairan batubara peringkat rendah. Kadar bebas batubara hasil rombakan termal.
zat terbang tinggi adalah indikasi melimpah- Menurut Niu dkk., (2017) fungsi katalis
nya kandungan hidrogen internal yang dominan saat mempromosikan hidrogen yang
dibutuhkan saat pembentukkan fraksi minyak dapat meningkatkan kinerja pencairan
tahap awal. batubara pada waktu pemanasan pencairan
langsung. Peneliti-peneliti yang memanfaat-
Keberadaan sulfur dengan persentase tinggi kan katalis alam berbasis besi antara lain
dalam batubara cederung berpengaruh Agarwal dkk., (2017) yang memakai katalis
terhadap reaksi-reaksi katalitik atau reaksi limonit dan menghasilkan minyak lignin
antara katalis bijih besi yang digunakan mencapai 34% dan didominasi produk-
dengan sulfur internal maupun sulfur yang produk mudah menguap dengan berat
ditambahkan dan terlihat pengaruhnya pada molekul rendah. Hasil sama juga ditemukan
kecepatan reaksi hidrogenasi, sehingga Li dkk., (2017) dengan katalis Fe3O4 dan
ketiga sampel terkonversi maksimal pada menghasilkan konversi dan produk minyak
suhu rendah. Menurut Minchener (2011) yang tinggi. Katalis bijih besi merupakan
penambahan katalis pada reaksi pencairan katalis yang praktis untuk pencairan batubara
batubara dapat mempercepat reaksi. karena tidak perlu penanganan khusus saat
penggunaan, baik sebelum pemakaian atau
Hasil pencairan batubara tanpa katalis bijih ketika akan dipisahkan dari produk minyak.
besi memperlihatkan konversi yang rendah, Jumlahnya melimpah di Indoensia, dan
ketiga sampel batubara terkonversi hanya harganya murah sehingga efisien dalam
dalam kisaran 65,72-66,45 % (Gambar 5). pembiayaan.
Konversi Batubara BCS tanpa katalis hanya
sebesar 66,23 % dan menggunakan katalis 4. Kesimpulan
bijih besi mencapai 89,94 % atau terdapat
Beberapa hal penting yang dapat disimpulkan
selisih sebesar 23,71 %, konversi batubara
dari hasil penelitian ini adalah sebagai
BCPU 01 tanpa katalis sedikit lebih tinggi dari
berikut:
dua sampel lain yang mencapai 66,41 % dan
dengan katalis bijih besi mencapai 88,97 %

100
Harli Talla dkk. / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 12, No. 2

1. Batubara peringkat rendah Pulau Papua Li, Y., Cao, Y., and Jia., 2017. Direct Coal
berpotensi untuk dicairkan karena Liquefaction with Fe3O4 Nanocatalysts
menghasilkan konversi hingga 89,94 %. Prepared by a Simple Solid-State
2. Batubara peringkat rendah berpotensi Method. Energies, 1-7.
untuk dicairkan karena memiliki maseral
reaktif (vitrinit+liptinit) yang reaktif saat Minchener, A.J., 2011. Coal-to-oil, gas and
pencairan. chemicals in China. IEA Clean Coal
3. Geokimia batubara seperti hidrogen tinggi Centre.
merupakan faktor pengaruh yang
memberi kemudahan pada reaksi Ningrum, N.S., 2010. Uji Sulfidasi Bijih Besi
hidrogenasi atau transfer hidogen. Kalimantan Selatan dan Ampas
4. Kehadiran bijih besi sebagai katalis pada Pengolahan Tembaga PT. Freeport
pencairan batubara mempengaruhi Indonesia untuk Katalis Pencairan
peningkatan konversi rata-rata 23,06 %. Batubara. Proseding Seminar Rekayasa
Kimia dan Proses, Semarang.
Ucapan Terima kasih
Niu, B., Jin, L., Li, Y., Shi, Z., Li, Y., Hu, H.,
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih
2017. Mechanism of hydrogen transfer
yang tulus kepada Ibu Nining S. Ningrum,
and role of solvent during heating-up
yang telah memberikan ijin kepada penulis
stage of direct coal liquefaction. Fuel
untuk menggunakan katalis bijih besi dan
Processing Technology. 160 (1),130-135.
peralatan pencairan batubara di laboratorium
Puslitbang Tekmira Bandung.
Rong, F., and Victor, D.G., 2011. Coal
liquefaction policy in China: Explaining
Daftar Pustaka
the policy reversal since 2006. Energy
Agarwal, S., Chowdari, R.K., Hita, I., and Policy, 39 (12), 8175-8184.
Heeres, H.J., 2017. Experimental Studies
on the Hydrotreatment of Kraft Lignin to Singh, P.K., 2012. Petrological and
Aromatics and Alkylphenolics Using Geochemical Considerations to Predict Oil
Economically Viable Fe-Based Catalysts. Potential of Rajpardi and Vastan Lignite
ACS Sustainable Chemistry & Deposits of Gujarat, Western India.
Engineering, 5 (3), 2668–2678. Journal of Geological Society of India. 80
(6), 759–770.
Badan Geologi., 2015. Executive Summary
Pemutakhiran Data Dan Neraca Sumber Suzuki, T., 1994. Development of Highly
Daya Mineral. Dispersed Coal Liquefaction Catalysts.
Energy & Fuels. 8 (2), 341-347.
Chen, H., 2014. Biotechnology of
Lignocellulose Theory and Practice, Talla, H., Amijaya, D.H., Harijoko, A., dan
Chemical Industry Press, Beijing. Huda, M., 2013. Karakteristik Batubara
dan Pengaruhnya terhadap Proses
Höök, M., and Aleklett, K. A., 2010. Review Pencairan. Jurnal Reaktor, 14 (4), 267-
on coal to liquid fuels and its coal 271.
consumption. International Journal
Energy Research. 34, 848–864. Talla. H., 2016. Pengaruh Karakteristik
Batubara Terhadap Hasil Konversi dan
Kaneko, K., Tazawa, K., Koyama, T., Satou, Perolehan Minyak pada Pencairan
K., Shimasaki, K., Kageyama, Y., 1997. Batubara Langsung Batubara Asal
Transformation of Iron Catalyst to the Formasi Unk (Cekungan Papua Utara),
Active Phase in Coal Liquefaction. Formasi Balikpapan dan Formasi Pulau
American Chemical Society. Energy & Balang (Cekungan Kutai). Disertasi,
Fuels 12, 897-904. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kržan, A., 2009. Wood Liquefaction. National Vasireddy, S., Morreale, B., Cugini, A., Song,
Institute of Chemistry, Slovenia. C., and Spivey, J., 2011. Clean liquid
fuels from direct coal liquefaction:
Li, X., Hu, H., Jin, L., Hu, S., and Wu, B., chemistry, catalysis, technological status
2008. Approach for promoting liquid yield and challenges. Energy & Environmental
in direct liquefaction of Shenhua coal. Science. 04 (02), 311-345.
Fuel Processing Technology, 89 (11),
1090-1095. Williams R.H., Larson, E.D., 2003. A
comparison of direct and indirect

101
Harli Talla dkk. / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 12, No. 2

liquefaction technologies for making fluid Structure and Decrystallization of


fuels from coal. Energy for Sustainable Cellulose. Chemistry and Industry of
Development. 7 (04), 103-129. Forest Products. 28 (6), 14-109.

Zhang, J.Q., Lin, L., Sun, Y., Mitchell, G., and


Liu, S.J., 2008. Advance of Studies on

102