Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Desa Sindosa Kecamatan Sindue Tobata Kabupaten

Donggala

Desa Sindosa adalah desa yang terletak di Kecamatan Sindue Tobata

Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. Luas wilayah Desa

Sindosa yaitu sebesar 20,63 km2. Dengan batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah utara : Desa Oti Kecamatan Sindue Tobata

2. Sebelah selatan : Desa Tamarenja Kecamatan Sindue Tobata

3. Sebelah timur : Desa Batusuya Go’o Kecamatan Sindue Tombusabora

4. Sebelah barat : Desa Oti Kecamatan Sindue Tobata

Desa Sindosa terdiri dari 3 dusun dengan total kepala keluarga

sebanyak 189 KK tahun 2018. Seluruh masyarakat Desa Sindosa

mengambil air bersih yang bersumber dari sungai. Mayoritas pekerjaan di

Desa Sindosa yaitu petani.

32
B. Hasil Penelitian

Penelitian dilaksanakan sejak tanggal 27 Februari sampai dengan 13

Maret 2018 untuk pengambilan sampel air dan kegiatan pemeriksaan sampel

air dilakukan di Laboratorium Makmin Jurusan Kesehatan Lingkungan.

Adapun yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah air yang

digunakan oleh masyarakat Desa Sindosa Kecamatan Sindue Tobata

Kabupaten Donggala yang di ambil di 16 titik yaitu satu titik di badan air

(sungai), satu titik di parit penangkap tetapi karena terdapat tiga parit

penangkap jadi totalnya tiga titik, dan untuk bak reservoar juga satu titik

tetapi karena bak reservoar terdapat tiga jadi totalnya tiga titik , kemudian tiga

titik (rumah) di dusun I, 3 titik (rumah) di dusun II, dan 3 titik (rumah) di

dusun III. Kemudian dilakukan pemeriksaan di Laboratorium Makmin

Jurusan Kesehatan Lingkungan dan hasilnya dapat dilihat pada tabel sebagai

berikut :

33
Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Kandungan Bakteri Coliform Pada Sampel
Air yang Digunakan Oleh Masyarakat Desa Sindosa Kecamatan
Sindue Tobata Kabupaten Donggala

No. Nama Sampel Hasil Standar Ket.

Pemeriksaan (MPN/100 ML)

1. Sampel A ≥ 2.400 50/100 ML TMS

2. Sampel B ≥ 2.400 50/100 ML TMS

3. Sampel C ≥ 2.400 50/100 ML TMS

4. Sampel D ≥ 2.400 50/100 ML TMS

5. Sampel E ≥ 2.400 50/100 ML TMS

6. Sampel F ≥ 2.400 50/100 ML TMS

7. Sampel G ≥ 2.400 50/100 ML TMS

8. Sampel H ≥ 2.400 50/100 ML TMS

9. Sampel I ≥ 2.400 50/100 ML TMS

10. Sampel J 1.100 50/100 ML TMS

11. Sampel K ≥ 2.400 50/100 ML TMS

12. Sampel L ≥ 2.400 50/100 ML TMS

13. Sampel M ≥ 2.400 50/100 ML TMS

14. Sampel N 1.100 50/100 ML TMS

15. Sampel O 1.100 50/100 ML TMS

16. Sampel P ≥ 2.400 50/100 ML TMS

(Sumber : Data Primer, 2018)

34
Keterangan :

- Sampel A = Bak Reservoar 1

- Sampel B = Air Sungai

- Sampel C = Parit penangkap 2

- Sampel D = Bak reservoar 3

- Sampel E = Rumah Dusun III

- Sampel F = Parit penangkap 3

- Sampel G = Parit penangkap 1

- Sampel H = Bak reservoar 2

- Sampel I = Rumah dusun I

- Sampel J = Rumah dusun I

- Sampel K = Rumah dusun I

- Sampel L = Rumah dusun II

- Sampel M = Rumah dusun II

- Sampel N = Rumah dusun II

- Sampel O = Rumah dusun III

- Sampel P = Rumah dusun III

- TMS = Tidak Memenuhi Syarat

C. Pembahasan

Menurut Permenkes RI No.416 tahun 1990, Air bersih adalah air yang

digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat

kesehatan dan dapat diminum apabila telah di masak. Syarat air bersih yaitu

tidak berasa, tidak berbau, dan tidak berwarna bebas dari cemaran kimia

35
seperti logam berat, dan mikrobologi. Cemaran mikrobiologi yaitu air yang

digunakan sebagai air bersih bebas dari keberadaan kontaminasi Coliform.

Coliform merupakan indikator adanya cemaran tinja dalam air. Standar air

bersih yang diizinkan adalah untuk air perpipaan adalah 10/100 ml air,

sedangkan air bukan perpipaan adalah 50/100 ml air (Permeenkes No. 416

tahun 90).

Bakteri coliform merupakan golongan bakteri yang merupakan campuran

antara bakteri fecal, misalnya Escherichia coli dan bakteri non fecal misalnya

Enterobacter aerogenes. Bakteri coliform termasuk dalam bakteri yang

membahayakan kesehatan karena bakteri coliform bersifat toksigenik. Bakteri

coliform digunakan sebagai indikator adanya polusi kotoran tinja dan kondisi

yang tidak baik pada air dan makanan. Apabila terdapat bakteri coliform

dalam makanan atau minuman, maka terdapat mikroba yang bersifat

membahayakan bagi kesehatan. Semakin tinggi tingkat kontaminasi bakteri

coliform pada makanan atau minuman, maka akan semakin tinggi pula resiko

kehadiran bakteri patogen lain yang biasa hidup dalam kotoran manusia dan

hewan pada makanan atau minuman tersebut sehingga air yang digunakan

untuk keperluan sehari-hari berbahaya dan dapat menyebabkan penyakit

infeksius (Sirait, 2010).

Kualitas air minum dapat dilihat juga dari banyak tidaknya bakteri patogen

yang terkandung, masalah bagi kesehatan manusia seperti diare, muntaber

dan masalah pencernaan lainnya. Menurut Effendi (2003), situasi dan kondisi

36
kualitas air bersih yang tidak memenuhi persyaratan akan sangat berbahaya

bagi makhluk hidup yang bergantung pada sumber air.

Pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan sampel air yang

berjumlah 16 sampel tidak memenuhi syarat karena mengandung bakteri

coliform yang melebihi nilai ambang batas menurut Permenkes RI No.416

Tahun 1990 yaitu 50/100 ml sampel untuk air non perpipaan. Alasan

menggunakan angka pembanding untuk air non perpipaan karena walaupun di

distribusikan ke masyarakat menggunakan sarana perpipaan tetapi air di Desa

Sindosa tidak melalui pengolahan yang lengkap.

Pada hasil pemeriksaan sampel air dari sumber air yaitu sungai diperoleh

hasil bahwa kandungan bakteri coliform di dalam sumber air melebihi standar

yang telah ditentukan yaitu ≥ 2.400 koloni/100 ml sampel. Sehingga hasil

pemeriksaan sampel air dari titik parit penangkapan air sampai ke titik rumah-

rumah masyarakat telah tercemar oleh bakteri coliform karena sumber air

memang telah tercemar.

Tingginya kandungan bakteri coliform pada sumber air diasumsikan

karena sungai yang menjadi sumber air juga digunakan untuk tempat

aktivitas masyarakat di sekitar sumber air seperti memandikan hewan ternak,

BAB sembarangan, mencuci gerobak. Ternyata kebiasaan masyarakat yang

masih BAB di sungai juga didukung karena tingkat kepemilikan jamban

berdasarkan data Kantor Desa Sindosa hanya 37% dari 189 KK sehingga

memungkinkan masyarakat untuk membuang kotoran di sungai. Pernyataan

di atas juga didukung pula dalam penelitian Handayani et al (2001)

37
menjelaskan dalam penelitiannya bahwa terdapatnya kegiatan penduduk di

sepanjang aliran sungai Brantas dapat berpengaruh terhadap kualitas airnya,

karena sisa buangan dari aktivitas yang manusia lakukan langsung dibuang ke

sungai.

Selain itu hasil pemeriksaan sampel air pada parit penangkap dusun 1,

dusun 2, dan dusun 3 juga melebihi standar yaitu ≥ 2.400 koloni/100 ml

sampel, hal ini karena parit penangkap air hanya di desain seperti selokan dan

yang dibiarkan terbuka serta tidak terdapat saringan halus yang dapat

menahan sisa-sisa daun atau bahan buangan yang berukuran kecil dan hasil

pembusukan dari bahan pencemar lain seperti bangkai binatang. Pernyataan

di atas didukung pula dalam penelitian Mariana Sidabutar, dkk (2013) yang

mengatakan bahwa di dalam bangunan intake harus terdapat saringan kasar

yang berfungsi menyaring sampah berukuran besar dan saringan halus yang

berfungsi untuk menyaring sampah yang berukuran kecil karena keberadaan

sampah ini juga dapat mempengaruhi kandungan total coliform di dalam air.

Pada bak reservoar di dusun 1, bak reservooar dusun 2 dan bak reservoar

dusun 3 juga melebihi standar yaitu ≥ 2.400 koloni/100 ml sampel hal ini

disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurang bersihnya bak reservoar

yang digunakan dalam penampungan air atau sebelum ke bak reservoar tidak

terdapat pengolahan yang melibatkan desinfektan yang dapat membunuh

bakteri-bakteri yang terdapat di dalam air. Pernyataan di atas didukung pula

dalam buku bahan ajar yang disusun oleh Masduki (2009) yang menjelaskan

bahwa desinfeksi sangat penting untuk proses membebaskan air dari

38
mikroorganisme patogen dengan cara memutuskan rantai antara manusia

dengan bibit penyakit melalui media air.

Akibat dari banyaknya jumlah bakteri yang ditemukan pada sumber air,

parit penangkap, dan bak reservoar serta tidak efektifnya sistem sterilisasi air

mengakibatkan jumlah bakteri yang sampai pada kran air di rumah

masyarakat juga melebihi standar yang telah ditentukan menurut Permenkes

No. 416 Tahun 1990.

Selain hasil pemeriksaan di atas, pemeriksaan ini juga sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Iksan (2003) yang meneliti tentang kualitas air

secara mikrobiologi pada PDAM di Kelurahan Mamboro Palu Utara yang

menggunakan sumber air dari sungai yang memperoleh hasil bahwa

kandungan Coliform pada air PDAM di Kelurahan Mamboro secara

mikrobiologi belum memenuhi standar kualitas sesuai yang ditetapkan oleh

WHO dan Permenkes No. 416 Tahun 1990 yaitu hasil pemeriksaan pada

intek 1.222 koloni/100 ml sampel, pada reservoar 1.750 koloni/100 ml

sampel, dan pada konsumen 1.212 koloni/100 ml sampel.

Hal ini disebabkan karena sumber air yang digunakan berupa sungai

sehingga pada musim hujan air akan berpotensi lebih besar untuk tercemar

dengan kotoran manusia maupun hewan berdarah panas ataupun hasil

pembusukan dari bahan pencemar lain seperti bangkai binatang dan tumbuh-

tumbuhan. Dan juga tempat parit penangkap dan reservoar yang digunakan

periode pembersihannya setiap 6 bulan sekali.

39
Setelah diketahui bahwa air yang digunakan oleh masyarakat Desa

Sindosa tidak memenuhi syarat menurut Permenkes No. 416 Tahun 1990,

maka dapat dipastikan secara bakteriologi air ini belum layak untuk

dikonsumsi langsung tanpa dimasak terlebih dahulu, sehingga sebaiknya air

ini sebelum dikonsumsi harus dimasak sampai mendidih pada suhu 100ºC

selama 15 menit, sehingga dipastikan bakteri yang terdapat di dalamnya

khususnya bakteri coliform mati.

40