Anda di halaman 1dari 10

Idea Nursing Journal Cut Husna

ISSN: 2087-2879

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESIAPSIAGAAN BENCANA DI


RSUDZA BANDA ACEH

Influencing Factors on Disaster Preparedness in RSUDZA Banda Aceh

Cut Husna
Bagian Keilmuan Keperawatan Medikal Bedah PSIK-FK Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Medical Surgical Nursing Department, School of Nursing, Faculty of Medicine, Syiah Kuala University
E-mail: husna_psik_usk@yahoo.com

ABSTRAK
Kesiapsiagaan adalah upaya yang dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana guna
menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda, dan berubahnya tata kehidupan masyarakat.
Kesiapsiagaan menghadapi suatu bencana adalah suatu kondisi secara individu maupun kelompok yang
memiliki kemampuan secara fisik dan psikis dalam menghadapi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk
melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan bencana di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011. Jenis penelitian adalah deskriptif
eksploratif dengan desain cross sectional study. Sampel berjumlah 30 orang perawat pelakasana dengan
metode total sampling. Kuesioner di rancang oleh penulis yang terdiri dari data demografi: umur, jenis
kelamin, masa kerja, pendidikan dan pelatihan kegawatatdaruratan yang pernah diikuti. Sedangkan sub
variabel faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan bencana terdiri dari 1) faktor pengetahuan terhadap
kesiapsiagaan bencana, 2) sikap terhadap kesiapsiagaan bencana, 3) kebijakan dan panduan, 4) rencana untuk
keadaan darurat bencana, 5) sistim peringatan bencana, dan 6) mobilisasi sumber daya. Data penelitian di
analisis dengan menggunakan computer software. berdasarkan hasil penelitian di peroleh tingkat
pengetahuan terhadap resiko bencana (63,3%), sikap terhadap resiko bencana (83,3%), skebijakan dan
panduan (73,3%), rencana untuk keadaan darurat (73,3%), sistem peringatan bencana (70%), dan mobilisasi
sumber daya (86,7%) dengan semua subvariabelnya berada pada kategori baik. Diharapkan kepada perawat
pelaksana dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan khusus terkait penanganan kebencanaan dan
kepada pengambil kebijakan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh agar dapat
meningkatkan perencanaaan dan pelaksanaan kesiapsiagaan bencana melalui pelatihan kebencanaan dan
kegawatdaruratan secara kontinu kepada seluruh perawat terutama yang bekerja di IGD.

Kata kunci: faktor, kesiapsiagaan bencana, rumah sakit

ABSTRACT
Preparedness is an effort in order to anticipate disaster. It aims to avoid victim, loss of property, and
changes in the community livelihood. Disaster preparedness is a condition of an individual or group that has
the ability to physically and psychologically in the face of disaster. This study aimed to describe the factors
that affect disaster preparedness in emergency installation of dr. Zainoel Abidin regional general hospital
Banda Aceh Year 2011. This research was a descriptive explorative using a cross sectional study. There were
30 nurse practitioners who involved in this study by using total sampling method. The questionnaire was
designed by the researcher which consists of demographic data including, age, gender, length of
employment, education background, and training related to disaster preparedness who have been
participated. Moreover, the influencing factor of disaster preparedness sub-variables including, (1)
Knowledge factor related to disaster preparedness, (2) behavior related to disaster preparedness, 3) policies
and guidelines, 4) plan for disaster emergencies, 5) disaster warning systems, and 6) resource
mobilization.The data were analyzed using computer software. Based on the finding, the knowledge on
disaster risk reduction (63.3%), behaviors towards disaster risk reduction (83.3%), policies and guidance
(73.3%), plan for emergencies (73.3%), the disaster warning system (70%), and the mobilization of
resources (86.7%) with all sub-variables are in proper category. The finding suggested the nurse
practitioners to increase knowledge and skill especially on disaster preparedness and to the policy maker in
dr. Zainoel Abidin regional general hospital Banda Aceh to improve the planning and implementation of
disaster preparedness and emergency training continuously to all nurses especially those working in the
emergency installation.

Keywords: factors, disaster preparedness, emergency installation, hospital

10
Idea Nursing Journal Vol. III No. 2 2012

PENDAHULUAN operasional dan memfasilitasi respon yang


Indonesia merupakan daerah yang efektif ketika terjadi suatu bencana.
rawan dan berisiko tinggi terhadap bencana. Kesiapsiagaan bencana harus diterapkan
Tidak sedikit bencana yang datang secara terutama pada daerah-daerah yang berisiko
periodik, namun negara ini selalu tidak siap bencana seperti di Aceh. Terjadinya bencana
menghadapi bencana. Bencana adalah alam tsunami dan gempa bumi di 13 negara
rangkaian peristiwa yang mengancam dan pada tanggal 26 Desember 2004
menggangu kehidupan yang disebabkan baik menyebabkan 127.672 orang meninggal
oleh faktor alam, faktor non alam maupun dunia, sementara itu data jumlah korban di
faktor manusia sehingga mengakibatkan provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan Sumatera Utara sekitar 110.229 orang
lingkungan, kerugian harta benda, dan meninggal dunia, 12.132 orang dinyatakan
dampak psikologis (Undang-Undang No.24, hilang, 703.748 orang mengungsi dan 925
pasal 1, tentang penanggulangan bencana, orang di rawat di rumah sakit (Baghdady,
2007, p. 2). 2005, p. 39).
Kejadian bencana di Indonesia
Penerapan kesiapsiagaan bencana
intensitasnya atau volume kejadiannya dapat
tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi
mencapai lebih dari 1.000 kali dalam
juga melibatkan masyarakat, terutama bagi
setahun atau mencapai 3 kali dalam sehari
petugas kesehatan. Sebagai salah satu
(Sugandi, 2010, p. 1). Hal ini harus disikapi
komponen yang penting dalam respon
dengan bijak, pengalaman bencana selama
penanganan bencana, perawat memiliki
ini belum berjalan dengan baik. Pemerintah
peran yang sangat besar. Kegagalan peran
dan masyarakat terbukti kurang begitu
dan tanggung jawab perawat berdampak
mampu untuk mengatasi masalah-masalah
kegagalan dalam menangani korban
darurat, keadaan ini perlu di perhatikan yaitu
bencana. Maka selain perawat ahli dalam
dengan upaya melakukan kesiapsiagaan
bidangnya, perawat juga harus mengetahui
bencana baik oleh masyarakat, pemerintah
bagaimana kesiapsiagaan bencana
maupun kelompok profesi (Sugandi, 2010,
diterapkan sehingga bisa meminimalisir
p. 1).
risiko bencana dan memperbesar
Bencana alam merupakan sesuatu
keberhasilan penanganan korban bencana.
yang sering terjadi, setiap saat di wilayah
Kegiatan dari kesiapsiagaan bencana adalah
Indonesia, seperti gempa bumi, tsunami,
membentuk suatu bagian yang tak
banjir, dan lain-lain. Bencana ini sangat
terpisahkan dalam sistem nasional yang
merugikan masyarakat, namun meskipun
bertanggung jawab untuk mengembangkan
banyak dan beragamnya bencana yang
perencanaan dan program pengelolaan
melanda, kita masih dapat hidup aman dan
bencana yang meliputi: pencegahan,
nyaman asalkan dapat mengelola bencana
mitigasi, kesiapsiagaan, respon, rehabilitasi
tersebut dengan baik dan masih banyak
atau rekontruksi (Fauziah, 2006, p. 24).
usaha-usaha yang dapat di lakukan agar
Adapun kesiapsiagaan bencana dapat di
dampak dari bencana tersebut dapat dibuat
lakukan melalui pendidikan penanggulangan
seminimal mungkin yaitu dengan cara
bencana sebagai antisipasi saat terjadinya
menerapkan upaya kesiapsiagaan bencana
bencana, pelatihan pencegahan bencana,
dengan baik (Fanggidae, 2005, p. 92).
pengecekan dan pemeliharaan fasilitas
Kesiapsiagaan bencana adalah setiap
peralatan pencegahan bencana baik di
aktivitas sebelum terjadinya bencana yang
daerah maupun pada fasilitas medis, serta
bertujuan untuk mengembangkan kapasitas

11
Idea Nursing Journal Cut Husna

membangun sistem jaringan bantuan (Urata, kebijakan dan panduan, rencana untuk
2009, p. 15-16). keadaan darurat bencana, sistim peringatan
Adapun hasil studi terkait yang bencana, dan mobilisasi sumber daya dalam
dilakukan oleh Arianti (2007, p. 3), kesiapsiagaan bencana di Instalasi Gawat
menjelaskan bahwa perawat harus mampu Darurat Rumah Sakit Umum Daerah dr.
membuat keputusan yang tepat dalam Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
menangani pasien pada kondisi kritis.
Sedangkan menurut Depkes RI (2007, p. 3), METODE
perawat yang bertugas di bencana harus Jenis penelitian ini adalah deskriptif
mengetahui tindakan yang harus dilakukan eksploratif yaitu untuk melihat faktor-faktor
dalam kesiapsiagaan bencana. Selanjutnya yang mempengaruhi kesiapsiagaan bencana,
penelitian terkait tentang manajemen dengan desain cross sectional study, yang
bencana yang dilakukan oleh Wati (2007, p. merupakan rancangan penelitian dengan
2) menjelaskan bahwa sebagian besar peran melakukan pengukuran atau pengamatan
perawat terhadap manajemen bencana tidak pada saat bersamaan. Populasi dalam
dijalankan sebagaimana mestinya, penelitian ini adalah semua perawat
dikarenakan belum adanya persiapan dari pelaksana yang berada di IGD Rumah Sakit
pihak institusi dalam persiapan bencana. Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda
Meskipun seluruh perawat telah dibekali Aceh yang berjumlah 30 orang. Teknik
pelatihan penanganan kegawatdaruratan, pengambilan sampel yang digunakan adalah
namun tidak adanya perencanaan bencana total sampling yaitu seluruh populasi di
akan menjadi faktor penghambat kesiapan jadikan sampel yang berjumlah 30 orang.
perawat dalam merespon terhadap bencana. Pengumpulan data di lakukan pada tanggal
Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan 19-22 Oktober 2011.
Indonesia (LIPI) dan United Nations Sebagai alat pengumpulan data dalam
Educational, Scientific and Cultural penelitian ini, penulis menggunakan
Organization (UNESCO) (2006, p. 13), kuesioner yang terdiri dari: Bagian A
terdapat 5 faktor-faktor yang mempengaruhi merupakan pengumpulan data demografi
kesiapsiagaan bencana yaitu: 1) pengetahuan yang terdiri dari umur, jenis kelamin, masa
dan sikap terhadap risiko bencana, 2) kerja dan pendidikan serta pelatihan yang
kebijakan dan panduan,3) rencana untuk pernah diikuti. Bagian B merupakan
keadaan darurat bencana, 4) sistem pengumpulan data sub variabel yang
peringatan bencana, 5) kemampuan untuk dirancang oleh penulis berdasarkan literatur,
mobilisasi sumber daya. Berdasarkan hal terdiri dari 1) faktor pengetahuan terhadap
diatas maka penulis tertarik untuk meneliti kesiapsiagaan bencana, 2) sikap terhadap
“Faktor-Faktor yang Mempengaruhi kesiapsiagaan bencana , 3) kebijakan dan
Kesiapsiagaan Bencana di Instalasi Gawat panduan, 4) rencana untuk keadaan darurat
Darurat Rumah Sakit Umum Daerah dr. bencana, 5) sistim peringatan bencana, 6)
Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011”. mobilisasi sumber daya. Pengukuran setiap
Secara umum, penelitian ini bertujuan variabel tersebut menggunakan kuesioner
untuk mengetahui faktor-faktor yang dalam bentuk multipel choices dalam bentuk
mempengaruhi kesiapsiagaan bencana di dichotomous untuk sub variabel
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum pengetahuan yang terdiri dari 6 item.
Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Sedangkan untuk sub variabel lainnya
Tahun 2011”. Tujuan Khusus yaitu untuk menggunakan skala Likert terdiri dari 26
mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, pernyataan yang bersifat positif dan negatif

12
Idea Nursing Journal Vol. III No. 2 2012

(21 item positif dan 5 item negatif). Sebelum Tabel 1. Distribusi Data Demografi Responden
kuesioner diberikan kepada responden, Tentang Kesiapsiagaan Bencana Di IGD
RSUDZA Banda Aceh 2011 (n=30)
penulis terlebih dahulu melakukan uji coba
No Variabel Frekuensi Persentase
instrumen kepada responden yang 1 Usia
mempunyai karakteristik yang sama dengan 20-29 18 60
sampel dalam penulisan ini di Rumah Sakit 30-39 12 40
Umum Meuraxa Kota Banda Aceh. Total 30 100
Berdasarkan hasil reliabilitas yang dilakukan 2 Jenis
kelamin
pada 5 responden didapat untuk semua item Laki-laki 19 63,3
pernyataan adalah valid dan reliabel dengan Perempuan 11 36,7
nilai Cronbach Alpha = 0,993, dan Kuder Total 30 100
dan Richardson (KR-20) dengan nilai 3 Masa Kerja
reliabel untuk sebuah instrument baru adalah <2 tahun 1 3.3
≥0,70. Penelitian ini dilakukan dengan >2 tahun 29 96,7
pertimbangan aspek etik dimana responden Total 30
4 Pendidikan
yang setuju secara sukarela dapat terlibat D-III 22 73,3
dalam penelitian diberikan informasi tentang D-IV 2 6,7
haknya untuk berpartisipasi aktif ataupun S1 Kep 1 3,3
dapat mengundurkan diri kapanpun tanpa Ners 5 16,7
ada penekanan dan efek negatif lainnya.
Total 30 100
Sumber: Data Primer (diolah, 2011)
HASIL
Adapun hasil penelitian tentang dengan frekuensi 19 orang (63,3%), masa
faktor-faktor yang mempengaruhi kerja responden adalah >2 tahun dengan
kesiapsiagaan bencana di Instalasi Gawat frekuensi 29 orang (96,7%) dan pendidikan
Darurat Rumah Sakit Umum Daerah dr. responden adalah D-III dengan frekuensi 22
Zainoel Abidin Banda Aceh dapat dijelaskan orang (73,3%).
sebagai berikut: Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa
sebagian besar pelatihan yang diikuti oleh
Data Demografi Responden dapat responden adalah pelatihan basic life
dilihat pada tabel 1. Berdasarkan tabel 1 support (BLS) dengan frekuensi 26 orang
dapat diketahui bahwa sebagian besar umur (86,7%).
responden adalah 20-29 tahun dengan
frekuensi sebanyak 18 orang (60%). Faktor-faktor yang mempengaruhi
kesiapsiagaan bencana ditampilkan melalui
Sebagian besar jenis kelamin responden
tabel distribusi frekuensi yang sekaligus
adalah perempuan
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pelatihan Kegawatdaruratan di Instalasi
Gawat Darurat RSUDZA Banda Aceh 2011 (n=30)
No Pelatihan Kegawatdaruratan Jumlah Yang ikut pelatihan Persentase
Responden
1 BLS 30 26 86,7
2 BCLS 30 12 40
3 BTLS 30 9 30
4 HDLS 30 2 6,7
5 Pencegahan Infeksi 30 17 56,7
6 Perawatan Luka 30 19 63,3
7 Dukungan Psikologis 30 3 10
Terhadap Korban Bencana
Sumber: Data Primer (di olah, 2011)
13
Idea Nursing Journal Cut Husna

mengkatagorikan faktor-faktor yang sebanyak 19 orang (63,3%) berada pada


mempengaruhi kesiapsiagaan bencana kategori baik, sikap terhadap resiko bencana,
meliputi pengetahuan terhadap resiko diperoleh hasil tertinggi sebanyak 25 orang
bencana, sikap terhadap risiko bencana,
(83,3%) berada pada kategori baik,
kebijakan dan panduan, rencana untuk
keadaan darurat bencana, sistem peringatan gambaran tentang rencana untuk keadaan
bencana dan mobilisasi sumber daya yang di darurat bencana, diperoleh hasil tertinggi
persepsikan oleh perawat pelaksana di sebanyak 22 orang (73,3%) berada pada
Instalasi Gawat Darurat dalam kategori baik kategori baik, gambaran tentang sistim
atau kurang. peringatan bencana, diperoleh hasil tertinggi
Tabel 3. Distribusi frekuensi Faktor-Faktor Yang sebanyak 21 orang (70%) berada pada
Mempengaruhi Kesiapsiagaan Bencana Di kategori baik, dan gambaran tentang
Instalasi Gawat Darurat RSUDZA Banda Aceh
mobilisasi sumber daya, diperoleh hasil
Tahun 2011 (n = 30)
No Kategori f % tertinggi sebanyak 26 orang (86,7%) berada
1 Pengetahuan terhadap pada kategori baik.
risiko bencana Berdasarkan tabel 4 diperoleh hasil bahwa
Baik 19 63,3 faktor-faktor yang mempengaruhi
Kurang 11 36,7
kesiapsiagaan bencana termasuk dalam
Total 30 100
2 Sikap terhadap risiko kategori baik yaitu 25 orang (83,3%).
bencana Tabel 4. Distribusi frekuensi Faktor-Faktor
Baik 25 83,3 Yang Mempengaruhi Kesiapsiagaan Bencana
Kurang 5 16,7 Di Instalasi Gawat Darurat RSUDZA Banda
Total 30 100 Aceh 2011(n = 30)
3 Kebijakan dan
No Kategori Frekuensi Persentase
panduan terhadap
1 Baik 25 83,3
kesiapsiagaan bencana
2 Kurang 5 16,7
Baik 22 73,3
Kurang 8 26,7 Jumlah 30 100%
Total 30 Sumber: Data Primer (di olah, 2011)
4 Rencana untuk
keadaan darurat
bencana DISKUSI
Baik 22 73,3 Pada diskusi ini diuraikan hasil
Kurang 8 26,7
penelitian yang didapat mengenai faktor-
Total 30 100
5 Sistim peringatan faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan
bencana terhadap bencana di Instalasi Gawat Darurat Rumah
kesiapsiagaan bencana Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin
Baik 21 70 Banda Aceh Tahun 2011.
Kurang 9 30
Berdasarkan hasil penelitian pada
Total 30 100
6 Mobilisasi sumber tabel 4 dapat dilihat bahwa kesiapsiagaan
daya terhadap bencana di Instalasi Gawat Darurat Rumah
kesiapsiagaan bencana Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin
Baik 26 86,7 Banda Aceh, dilihat dari persentasenya
Kurang 4 13,3
Total 30 100
berada pada kategori baik yang berjumlah
Sumber: Data Primer (diolah, 2011) 25 orang (83,3%). Ini artinya perawat
pelaksana sudah mengetahui dan memahami
Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat
tentang faktor-faktor kesiapsiagaan bencana
bahwa pengetahuan responden terhadap
walaupun belum maksimal. Adapun yang
resiko bencana, diperoleh hasil tertinggi
diketahui dan dipahami oleh perawat

14
Idea Nursing Journal Vol. III No. 2 2012

pelaksana yaitu perawat mengetahui dimana pelatihan terbanyak yaitu pelatihan


pengertian risiko bencana yaitu suatu potensi BLS yaitu 26 orang (90%).
kerugian yang ditimbulkan akibat bencana Selain itu, pengalaman kerja perawat
pada suatu wilayah dalam kurun waktu di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit
tertentu yang berakibat juga hilangnya rasa Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda
aman, perawat mengetahui sikap yang Aceh rata-rata >2 tahun hal tersebut dapat
dilakukan terhadap risiko bencana yaitu mendukung adanya pengetahuan dan
sebelum terjadinya bencana perawat harus keterampilan tentang kesiapsiagaan bencana
mengetahui alur penyelamatan yang ada di perawat yang baik, dan juga di dukung oleh
rumah sakit, perawat mengetahui kebijakan faktor pendidikan dimana dapat dilihat pada
dan panduan yang harus tersedia di rumah data demografi bahwa pendidikan terbanyak
sakit yaitu rumah sakit memiliki tim siaga adalah D-III Keperawatan yaitu 22 orang
bencana dengan tepat dan efektif, perawat (73,3%). Adanya pendidikan perawat yang
mengetahui rencana untuk keadaan darurat tinggi maka pengetahuan atau suatu
bencana yaitu rumah sakit sudah dirancang informasi yang diterima semakin mudah
menjadi bangunan yang tahan gempa atau untuk dipahami.
reruntuhan ketika bencana.Perawat Berdasarkan hasil penelitian, perawat
mengetahui adanya sistem peringatan pelaksana memiliki pengetahuan terhadap
bencana yaitu rumah sakit mempunyai alat risiko bencana yang baik dimana mereka
untuk menandakan adanya suatu bencana mengetahui pengertian risiko bencana yaitu
seperti alarm, perawat mengetahui adanya potensi kerugian yang ditimbulkan akibat
mobilisasi sumber daya yaitu rumah sakit bencana pada suatu wilayah dalam kurun
memiliki kerja sama yang terjalin baik waktu tertentu dan berakibat juga hilangnya
dengan organisasi-organisasi yang rasa aman. Dapat ditambahkan, perawat
menangani bencana serta adanya tim pelaksana juga mengetahui tindakan
penanganan bencana di rumah sakit yang pengurangan risiko bencana yang bertujuan
terlatih. untuk mengurangi dampak dari risiko
Hasil penelitian menguraikan bahwa bencana seperti dampak fisik, psikologis,
pengetahuan terhadap risiko bencana di psikososial dan spiritual. Hal ini didukung
instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum oleh adanya pelatihan kebencanaan yang
Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, pernah diikuti oleh sebagian besar perawat
berada pada kategori baik yang berjumlah dalam beberapa tahun terakhir baik sesaat
19 orang (63,3%). Hal ini karena perawat setelah tsunami pada tahun 2004 maupun
pelaksana di Instalasi gawat darurat Rumah pelatihan kegawatdarurutan dan
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin kebencanaan dalam beberapa tahun
Banda Aceh telah mendapatkan pelatihan- belakangan yang diselenggarakan oleh
pelatihan antara lain pelatihan rumah sakit sendiri ataupun kerjasama
kegawatdaruratan, kebencanaan dan dengan beberapa intansi pemerintah dan non
pelatihan perawatan luka dan lain-lainnya pemerintah.
serta perawat juga mendapatkan informasi- Hasil penelitian terhadap faktor-faktor
informasi yang di berikan oleh tim siaga yang mempengaruhi kesiapsiagaan tentang
bencana di Rumah Sakit Umum Daerah dr. sikap terhadap risiko bencana di Instalasi
Zainoel Abidin Banda Aceh. Pengetahuan Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah
pelatihan kegawatdaruratan dan dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, dilihat dari
kebencanaan, dapat dilihat rata-rata persentasenya berada pada kategori baik
responden sudah mengikuti pelatihan, yang berjumlah 25 orang (83,3%).

15
Idea Nursing Journal Cut Husna

Terbentuknya sikap yang baik sangat menjelaskan bahwa gambaran tentang


dipengaruhi oleh pengetahuan, seperti yang kebijakan dan panduan yang ada di Rumah
di kemukakan oleh Tuhusetya (2010, p. 16) Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin
yaitu tujuan pentingnya pendidikan Banda Aceh sudah baik dimana salah
kebencanaan adalah untuk menanamkan satunya adalah rumah sakit telah memiliki
sikap tanggap dan responsif terhadap tim siaga bencana dan juga memiliki standar
bencana sehingga risiko yang fatal bisa operasional prosedur dalam menangani
dihindari dan mereka tidak hanya sekedar korban bencana. Hal ini menunjukan bahwa
mengetahui dan memahami tentang bencana, adanya kesamaan antara teoritis yang
tetapi yang lebih penting dan utama adalah menyebutkan salah satu dari kebijakan dan
bagaimana mereka bisa menghadapi risiko panduan yang ada di rumah sakit yaitu
bencana dengan sikap siaga dan responsif memiliki standar operasional prosedur
sehingga mampu meminimalkan dampak kebencanaan. Kondisi ini didukung karena
yang lebih parah. Secara umum sikap Aceh sudah pernah dilanda bencana tsunami
terhadap risiko bencana di Instalasi Gawat pada tahun 2004 oleh karena itu pemerintah
Darurat Rumah Sakit Umum Daerah dr. telah menetapkan kebijakan-kebijakan dan
Zainoel Abidin Banda Aceh oleh perawat panduan khususnya di rumah sakit untuk
pelaksana sudah baik, perawat pelaksana mengantisipasi dan meminimalkan korban
mengetahui pentingnya sikap terhadap jiwa ketika bencana datang.
resiko bencana yaitu perawat harus bisa Hasil penelitian ini di dukung oleh
menyampaikan informasi kesiapsiagaan LIPI dan UNESCO (2006, P. 14) yang
yang jelas dan akurat saat bencana datang. menjelaskan bahwa kebijakan kesiapsiagaan
Sikap terhadap resiko bencana di bencana sangat penting dan merupakan
katagorikan baik karena perawat pelaksana upaya konkrit untuk melaksanakan kegiatan
telah didasari oleh pengetahuan terhadap siaga terhadap bencana. Kebijakan yang
risiko bencana yang baik sehingga signifikan berpengaruh terhadap
menumbuhkan sikap yang baik pula kesiapsiagaan yang meliputi pendidikan
terhadap kesiapsiagaan terhadap bencana. publik, emergency planning, sistem
Hal ini di dukung oleh pendapat peringatan bencana dan mobilisasi sumber
Notoadmodjo (2005, p. 5) yang mengatakan daya termasuk pendanaan, organisasi
bahwa sikap merupakan respon tertutup pengelola, fasilitas-fasilitas penting untuk
seseorang terhadap stimulasi atau objek keadaan darurat bencana. Kebijakan-
tertentu yang melibatkan faktor pendapat kebijakan dicantumkan dalam berbagai
dan/atau emosi yang bersangkutan (senang- bentuk, tetapi akan lebih bermakna apabila
tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak di cantumkan secara konkrit dalam
baik dan sebagainya) dalam peraturan-peraturan seperti: surat keterangan
menginterpretasikan suatu fenomena atau (SK) atau peraturan daerah (perda) yang
peristiwa. disertai dengan job description yang jelas
Hasil penelitian terhadap faktor agar kebijakan dapat di implementasikan
kebijakan dan panduan yang ada di Rumah dengan optimal, maka di butuhkan panduan-
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin panduan operasionalnya.
Banda Aceh, dilihat dari persentasenya Berdasarkan hasil penelitian, rencana
berada pada kategori baik yang berjumlah untuk keadaan darurat bencana di Instalasi
22 orang (73,3%). Berdasarkan hasil Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah
penelitian dapat dilihat hasil persentasenya dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, dilihat dari
berada pada kategori baik. Hal ini

16
Idea Nursing Journal Vol. III No. 2 2012

persentasenya berada pada kategori baik mempersiapkan diri menghadapi


yang berjumlah 22 orang (73,3 %). kemungkinan bencana (Depkes RI, 2001, p.
Berdasarkan hasil persentase rencana 2). Berdasarkan hasil persentase faktor-
untuk keadaan darurat bencana di Instalasi faktor kesiapsiagaan bencana yang terdiri
Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah dari sistem peringatan bencana termasuk
dr. Zainoel Abidin Banda Aceh berada pada dalam kategori baik. Ini berarti Rumah Sakit
kategori baik. Hal ini di sebabkan Rumah Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Aceh sudah memiliki sistem peringatan
Banda Aceh telah mempunyai persiapan bencana dengan baik walaupun belum
untuk keadaan darurat bencana misalnya maksimal. Hal ini disebabkan karena adanya
tersedianya bahan-bahan medik seperti pengalaman dari kejadian bencana tsunami
perban, benang jahit dan cairan pembilas sebelumnya bahwa saat bencana datang
dalam jumlah besar. Tersedianya obat- rumah sakit adalah tempat yang paling
obatan serta alat transportasi dan sistem utama melakukan pertolongan secara
informasi seperti nomor telpon pemadam optimal, oleh karena itu di rumah sakit harus
kebakaran, polisi dan lain-lain. mempunyai alat untuk menandakan adanya
Menurut Nasution (2005, p. 8) suatu bencana seperti alarm atau informasi
rencana untuk keadaan darurat bencana ini resiko terjadinya bencana.
menjadi bagian yang penting dalam Menurut Susanto (2006, p. 29)
kesiapsiagaan terutama berkaitan dengan peringatan dini meliputi penyampaian
evakuasi, pertolongan pertama dan informasi yang tepat waktu dan efektif
penyelamatan agar korban bencana dapat melalui kelembagaan yang jelas sehingga
diminimalkan. Upaya ini sangat penting memungkinkan setiap individu yang
terutama pada saat terjadinya bencana dan terancam bahaya baik itu masyarakat awam
hari-hari pertama setelah bencana sebelum maupun tenaga kesehatan dapat mengambil
datangnya bantuan dari pihak luar. Adapun langkah untuk menghindari atau mengurangi
menurut Fauziah (2006, p. 31) menjelaskan risiko dan mempersiapkan diri untuk
adapun rencana untuk keadaan darurat melakukan upaya tanggap darurat secara
bencana di rumah sakit mengacu pada efektif. Tersedianya sumber-sumber
organisasi yang ada di rumah sakit itu informasi untuk peringatan bencana baik
sendiri dan terfokus pada pengembangan dari sumber tradisional maupun lokal serta
rencana kedaruratan, pelatihan, informasi, adanya akses untuk mendapatkan informasi
keselamatan pasien dan personel rumah peringatan akan terjadinya bencana
sakit, dan ketersediaan obat-obatan dan merupakan salah satu faktor terjadinya
peralatan medis untuk kedaruratan, sistem bencana.
cadangan untuk komunikasi. Berdasarkan penelitian, mobilisasi
Berdasarkan hasil penelitian, sistem sumber daya di instalasi gawat darurat
peringatan bencana di instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, dilihat dari
Abidin Banda Aceh, dilihat dari persentasenya berada pada kategori baik
persentasenya berada pada kategori baik yang berjumlah 26 orang (86,7%).
yang berjumlah 21 orang (70%). Sistem Dari hasil persentase mobilisasi
peringatan dini juga merupakan subsistem sumber daya di IGD Rumah Sakit Umum
awal dalam kegiatan kesiapsiagaan, agar Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh,
masyarakat dan jajaran kesehatan terutama termasuk dalam kategori baik. Ini berarti
di daerah potensi bencana agar dapat lebih gambaran adanya mobilisasi sumber daya di

17
Idea Nursing Journal Cut Husna

IGD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel hari di bagiannya. Tindakan
Abidin Banda Aceh sudah baik yaitu baik mempertahankan pemrosesan pasien yang
dari segi adanya pelatihan kegawatdaruratan rutin ini memungkinkan perawat untuk
dan kebencanaa, ketersediaan tim siaga melakukan tugasnya pada tingkat yang
bencana dan juga adanya hubungan kerja paling efektif ketika mereka menghadapi
sama dengan organisasi lain, baik ditingkat suasana yang penuh stres dan kekacauan
nasional maupun internasional. (Oman, 2008, p. 20).
Mobilisasi sumber daya di instalasi
gawat darurat Rumah Sakit Umum Daerah KESIMPULAN DAN SARAN
dr. Zainoel Abidin Banda Aceh berada pada Faktor-faktor kesiapsiagaan bencana
katagori baik, kaadaan tersebut di karenakan di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit
perawat pelaksana mendapatkan pelatihan Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda
kegawatdaruratan dan di dukung juga oleh Aceh berada pada kategori baik.
adanya poster tentang bencana serta adanya Pengetahuan terhadap risiko bencana, sikap
pengalaman tentang keadaan bencana terhadap risiko bencana, kebijakan dan
tsunami masa lalu, memiliki masa kerja rata- panduan, rencana untuk keadaan darurat
rata diatas 2 tahun. Menurut Notoatmodjo bencana, sistem peringatan bencana, dan
(2003) yaitu sebagian besar pengetahuan mobilisasi sumber daya di Instalasi Gawat
merupakan domain yang sangat penting Darurat Rumah Sakit Umum Daerah dr.
untuk terbentuknya tindakan seseorang. Zainoel Abidin Banda Aceh berada pada
Maka apabila seseorang itu memiliki kategori baik.
pengetahuan yang baik secara otomatis Berdasarkan hasil penelitian yang
keberhasilan dalam melakukan tindakan pun telah disimpulkan di atas, maka peneliti
akan baik pula begitu juga sebaliknya, memberikan rekomendasi kepada perawat
dimana seseorang yang memiliki tingkat pelaksana agar lebih meningkatkan
pengetahuan yang kurang maka keberhasilan pengetahuan dan ketrampilan tentang
dalam melakukan tindakanpun akan kurang kesiapsiagaan bencana dengan mengikuti
pula. pelatihan kebencanaan dan
Sedangkan menurut Depkes RI (2007, kegawatdaruratan secara kontinu. Dan bagi
P. 60) sumber daya yang di perlukan untuk Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel
kesiapsiagaan bencana salah satunya adalah Abidin Banda Aceh agar lebih
sumber daya manusia terutama tenaga meningkatkan peran serta dalam
kesehatan sangat berpengaruh pada meningkatkan kesiapsiagaan terhadap
kesiapsiagaan bencana karena ketiadaan bencana baik dari segi ketersediaan fasilitas
pakar kesehatan akan menjadi faktor dan alat-alat medis serta kebutuhan lainnya
penghalang dalam menangani situasi yang dibutuhkan ketika bencana. Serta bagi
darurat. LIPI dan UNESCO (2006, p. 14-15) peneliti yang berminat untuk membuat
dalam mobilisasi sumber daya juga penelitian lebih lanjut dalam bentuk metode
diperlukan adanya tim yang terlatih untuk penelitian atau desain penelitian lainnya
menangani kesiapsiagaan bencana, untuk dengan jumlah sampel yang lebih banyak
mewujudkan sumber daya manusia yang pada beberapa rumah sakit sehingga
terlatih maka diperlukan adanya pelatihan hasilnya dapat dijadikan bahan referensi
kegawatdaruratan dan kebencanaan bagi untuk penelitian lanjutan menyangkut
setiap individu terutama perawat. faktor-faktor yang mempengaruhi
Perawat Instalasi gawat darurat yang kesiapsiagan bencana.
telah terbiasa dengan kegiatan rutin sehari-

18
Idea Nursing Journal Vol. III No. 2 2012

KEPUSTAKAAN
Arianti, L. (2007). Faktor-faktor yang Sugandi. (2010). Pengetahuan dan
mempengaruhi keputusan perawat pengurangan resiko bencana. Dikutip
dalam triase pasien di instalasi gawat Tanggal 15 November 2011 dari
darurat badan pelayanan kesehatan http://sigap bencana.com.
rumah sakit umum daerah dr. Zainoel
Abidin. Banda Aceh: Skripsi (Tidak Susanto. (2006). Kesiapsiagaan menghadapi
Dipublikasikan). bencana oleh masyarakat. Dikutip
tanggal 15 November 2011, dari
Baghdady, A. (2005). Tsunami Tanda http://www.antara news.com
Kekuasaan Allah. Jakarta: Cakrawala
Publishing. Tuhusetya, S. (2010). Pendidikan
kebencanaan dan kesigapan
Departemen Kesehatan R.I. (2001). mengurangi resiko. Dikutip tanggal
Pedoman teknis upaya kesehatan 15 September 2011, dari
kerja rumah sakit. Jakarta: Bakti http://sawali.com
Husada.
Urata. (2009). Keperawatan bencana (Ed.
Departemen Kesehatan R.I. (2007). 1). Banda Aceh: Forum Keperawatan
Pedoman teknis penanggulangan Bencana.
krisis kesehatan akibat bencana.
Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia No. 24,
(2007). Tentang penanggulangan
Fanggidae, A. (2005). Bencana Gempa dan bencana. Dikutip tanggal 04 Maret
Tsunami. Jakarta: Kompas. 2011, dari http://keperawatan
komunitas.com
Fauziah. (2006). Bencana alam:
Perlindungan kesehatan masyarakat. Wati, N. L. (2007). Gambaran kesiapsiagaan
Jakarta: EGC. perawat puskesmas dalam manajemen
bencana di puskesmas 1 bantul
LIPI & UNESCO (2006). Pengembangan Yogyakarta. Dikutip tanggal 24 Maret
framework untuk mengukur 2011, dari http://publikasi.umy.ac.id
kesiapsiagaan masyarakat terhadap
bencana alam. Dikutip tanggal 28
September 2011, dari
http://Repository.upi.edu.com.

Notoatmodjo, S. (2003). Pengantar


pendidikan kesehatan & ilmu perilaku
kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi


penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.

Nasution, (2005). Kesiapsiagaan rumah


tangga. Dikutip Tanggal 29
September 2011 dari
http://www.poskomerapi.com

Oman, K. (2008). Panduan belajar


keperawatan emergensi. Jakarta:
EGC.

19