Anda di halaman 1dari 6

Nama : Kadek Chintya Sanita Dewi

NIM : 1808612017

POST TEST

1. Metoklopramid

a) Indikasi : Antiemetik
b) Mekanisme : Metoklopramid merupakan suatu derivate dari
prokainamid, yang berkhasiat antiemetik kuat karena
kemampuannya pada sistem saraf pusat memblok
reseptor dopamine terutama reseptor D-2, pada
Chemoreseptor Trigger Zone (CTZ)

Dosis pada pasien : 10 mg i.v saat awal serangan


gawat darurat
Luaran terapi : Mengurangi rasa mual akibat migrain

Monitoring : Kepatuhan terapi obat, gastroparesis, agitasi


(Tjay dan Rahardja, 2007).

2. Proklorperazin

a) Indikasi : Mual, muntah berat


b) Mekanisme : Proklorperazin merupakan derivate fenotiazine.
Mekanisme dengan cara perintangan neurotransmitter
dari CTZ ke pusat muntah dengan jalan blokade resptor
dopamine
c) Dosis pada : 10 mg i.v saat awal serangan
pasien gawat
darurat
d) Luaran terapi : Mengurangi rasa mual
e) Monitoring : Kepatuhan terapi obat, gastroparesis, agitasi
(Tjay dan Rahardja, 2007 ;Pionas, 2015).

3. Paracetamol

a) Indikasi : Nyeri, migrain, demam


b) Mekanisme : Menghambat sintesis prostaglandin, mengaktivasi jalur
serotoninergik, Peningkatan endocannabinoid

c) Dosis pada : Dewasa 500 mg- 1 gram per kali, diberikan tiap 4-6 jam.
pasien gawat Maksimum 4 g per hari.
darurat
d) Luaran terapi : Berkurangnya nyeri kepala
e) Monitoring : Pemeriksaan radiologik (foto rontgen kepala, CT scan,
MRI), pemeriksaan elektrofisiologik (EEG, EMG,
potensial cetusan), pemeriksaan laju endap darah (LED),
monitoring frekuensi serangan migraine pada pasien

(Andrew et al., 2013).

4. Dextrose 50%

a) Indikasi : Dextrose 50% Injeksi diindikasikan untuk perawatan


hipoglikemia insulin, kejang, serangan jantung

b) Mekanisme : Meningkatkan kadar glukosa darah serum

c) Dosis pada : Dewasa ½ hingga 1 ampul penuh IV lambat (25 hingga


pasien gawat 100 ml larutan 50%)
darurat
d) Luaran terapi : Kadar gula darah pasien normal
e) Monitoring : Perbaikan keseimbangan cairaan dan kadar gula darah
(Martindale, 2007).
5. Na. Bikarbonat

a) Indikasi : Asidosis metabolik


b) Mekanisme : Menetralkan konsentrasi ion hidrogen dan meningkatkan
pH urin dan pH darah
c) Dosis pada : 8.4% dosis 1000 mmol per liter
pasien gawat
darurat
d) Luaran terapi : Tercapainya sirkulasi yang spontan
e) Monitoring : pH darah, EKG
(Pionas, 2015).

6. Adrenaline

a) Indikasi : Resusitasi jantung


b) Mekanisme : Pada kardiovaskular epinephrine mempercepat kontraksi
otot jantung, sehingga menyebabkan curah jantung
meningkat dengan mempengaruhi kebutuhan oksigen
dari otot jantung. Epinephrine juga dapat sebagai
vasokontriksi, membran mukosa, dan visceral.
c) Dosis pada : 10 mL secara injeksi intravena sentral
pasien gawat
darurat
d) Luaran terapi : Terjadi sirkulasi spontan
e) Monitoring : EKG pada pasien yang mendapat epinefrin i.v
(Pionas, 2015).
7. Atropin

a) Indikasi : Antispasmodik
b) Mekanisme : Menghambat asetilkolin pada bagian parasimpatik otot
halus, SSP, meningkatkan output jantung, , antagonis
histamin dan serotonin
c) Dosis pada : Dosis dewasa 0,5mg hingga 1 mg secara i.v
pasien gawat
darurat
d) Luaran terapi : Sirkulasi spontan
e) Monitoring : Monitoring denyut jantung, dan tekanan darah
(Informasi Obat, 2018).

8. Lignocain

a) Indikasi : Aritmia
b) Mekanisme : Memblok penghantaran impuls dengan menurunkan
kadar natrium yang menyebabkan penghambatan
depolarisasi sehingga penghambatan hantaran
c) Dosis pada : Injeksi intravena tanpa gangguan sirkulasi yang berat,
pasien gawat 100 mg i.v bolus selama beberapa menit (50 mg pada
darurat pasien dengan BB lebih ringan atau pasien dengan
gangguan sirkulasi yang berat), diikuti dengan infus 4
mg/menit selama 30 menit, 2 mg/menit selama 2 jam,
kemudian 1 mg/menit; pengurangan kadar bila infus
dilanjutkan lebih dari 24 jam
d) Luaran terapi : Terjadinya sirkulasi spontan
e) Monitoring : Monitoring tanda vital, kardiovaskular, dan pernapasan.
(Lacy et al., 2008; Pionas, 2015).
9. Nebulised Adrenalin

a) Indikasi : Batuk yang disertai dengan bunyi yg khas


b) Mekanisme : Pada sistem pernapasan, epinephrine bekerja pada otot
polos bronkus pada reseptor Beta-2 sehingga
menyebabkan relaksasi (bronkodilatasi)
c) Dosis pada : 5 mL adrenalin 1 : 1000, pengulangan pada 2, 3, dan 6
pasien gawat jam setelah dosis pertama
darurat
d) Luaran terapi : Laju napas normal
e) Monitoring : Pemantauan EKG, denyut jantung tidak lebih 200
denyut/menit

(Hoffman, 2012).

10. Dexamethasone
a) Indikasi : Antialergi
b) Mekanisme : Menekan inflamasi dengan cara menghambat
pembentukan mediator inflamasi
c) Dosis pada : Injeksi i.m atau injeksi i.v lambat atau infus (sebagai
pasien gawat deksametason fosfat), dosis awal 0,5 - 24 mg; anak 200 -
darurat 400 mcg/kg bb/hari.
d) Luaran terapi : Laju napas normal
e) Monitoring : Pemantauan kadar glukosa dan kadar kalium
(Pionas, 2015).
DAFTAR PUSTAKA

Andrew, W. and Robert Twycross. 2013. Therapeutic Reviews. Journal of Pain


and Symptom Management. Vol. 46(5): 747-755.

Martindale. 2007. The Complete Drug Reference (35 th edition). In Scan C.


Sweerman.London: The Pharmaceutical Press.

Hoffman, B. B. (2012). Obat-obat pengaktif adrenoseptor dan simpatomimetik


lainnya. In B. G. Katzung, Farmakologi Dasar dan Klinik (pp.123-142).
Jakarta: EGC.

PIO Nas. 2015. Pusat Informasi Obat Nasional. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia.

Lacy CF, Armstrong LL, Goldman MP, Lance LL.Drug Information Handbook
17th ed. (2008),Lexi-Comp Inc. Ohio.

Tjay, T. H. dan K. Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan


Efek-Efek Sampingnya. Edisi Keenam. Jakarta : PT. Elex Media Kompu
tindo.