Anda di halaman 1dari 14

LATAR BELAKANG MASALAH

Mahasiswa merupakan sebutan untuk seseorang yang sedang


menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi. Dalam mahasiswa
terdapat beberapa golongan remaja. Monks dkk (dalam Saputro dan
Soeharto, 2012, h.2) membagi masa remaja ke dalam 3 bagian, yaitu masa
remaja awal (12-15 tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun), dan
masa remaja akhir (18-21 tahun). Dalam penelitian ini mengambil subyek
mahasiswa yang tergolong masa remaja akhir yang dimana menurut Monk
adalah 18-21 tahun.
Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima
kawan sebaya atau kelompok. Sebagai akibatnya, mereka akan merasa
senang apabila diterima dan sebaliknya akan merasa sangat tertekan dan
cemas apabila dikeluarkan dan diremehkan oleh kawan-kawan sebayanya
(Santrock, 2007a, h.55).
Dalam menyesuaikan diri dengan kelompok teman sebayanya, setiap
anggota akan melakukan apapun. Perilaku yang sama dengan orang lain
yang didorong oleh keinginan sendiri ini disebut dengan konformitas
(Sarwono, 2002, h.182). Pada masa remaja konformitas tidak bisa
dilepaskan dari pergaulan remaja dengan kelompok teman sebayanya.
Menurut Baron & Byrne (2003, h.52) konformitas dapat diartikan
sebagai usaha untuk bertingkah laku dengan cara-cara yang dianggap wajar
atau dapat diterima oleh kelompok atau masyarakat. Demikian pula yang
dilakukan anggota kelompok yang mencoba minum alkohol, obat-obatan
terlarang atau berperilaku agresif, maka remaja akan cenderung
mengikutinya tanpa memperdulikan akibatnya bagi mereka sendiri.

1
2

Terkait hal tersebut peneliti melakukan wawancara awal dengan


beberapa kelompok mahasiswa di Universitas Katolik Soegijapranata
Semarang. Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa tidak sedikit dari
mereka yang menghabiskan waktunya di luar rumah dan itu sering mereka
lakukan dengan teman-teman sekelompoknya. Banyak yang mereka
lakukan bersama-sama yaitu seperti jalan-jalan ke mall. Mereka juga
mengatakan lebih menyukai pergi bersama teman-teman daripada pergi
sendirian. Beberapa mahasiswa sempat berganti-ganti kelompok
bermainnya dan ia berusaha untuk menyamakan dirinya dengan anggota
yang lain seperti dari pakaian, tampilan fisik sampai gaya hidupnya.
Mereka juga membeli pakaian karena ajakan maupun karena ikut-ikutan
temannya agar terlihat sama dan kompak meskipun pada akhirnya barang
tersebut tidak dipakai. Meskipun awalnya sempat menolak ajakan dari
teman-temannya untuk membeli sebuah “hoddie”, namun karena semua
teman kelompoknya membeli, mau tidak mau subjek juga ikut membeli.
Subjek sempat menolak karena masih mempunyai jaket yang bisa dipakai
dan tidak menyukai “hoddie” namun karena ajakan dari teman-teman
tersebut akhirnya ia tetap membeli. Subjek juga pernah membeli kaos
universitas karena melihat teman-teman kelompoknya membeli kaos
tersebut meskipun sebenarnya subjek tidak menyukai desain dari kaos
tersebut. Hal tersebut terjadi karena ajakan dan ikut-ikutan temannya agar
terlihat sama. Bahkan mereka pernah kuliah dengan warna baju yang sama.
Awalnya tidak sengaja, namun dari hal tersebut mereka sepakat beberapa
hari berikutnya memakai baju warna biru. Beberapa dari mereka juga
3

merasa apabila penampilannya berbeda jauh dengan teman-temannya maka


akan merasa minder dan kurang percaya diri.
Ciri dari seorang remaja adalah ingin diakui kehadirannya sebagai
bagian dari kelompok teman sebayanya, remaja menempatkan teman
sebaya sebagai bagian penting dalam perkembangan dirinya, oleh karena itu
remaja akan berusaha untuk menyamakan dirinya dengan kelompok, baik
dari pakaian, perilaku, hingga gaya hidup (Sarwono,2002, h.123).
Konformitas tidak semuanya negatif, contoh perilaku konformitas
yang tidak negatif yaitu keinginan untuk terlibat dalam dunia teman sebaya
dalam hal berpakaian yang sama seperti teman-temannya, menabung dan
menghemat bersama agar dapat membeli produk fashion yang diinginkan.
Penelitian yang dilakukan Anin, dkk (tt, h. 182) menyatakan bahwa terdapat
remaja mengkonsumsi produk fashion karena ingin diterima kelompok
melalui penampilannya.
Chita, dkk (2015, h. 298) menyatakan seorang remaja menunjukan
diri mereka melalui penampilan, oleh karena itu produk fashion adalah hal
penting untuk remaja. Hal ini sesuai dengan dengan hasil penelitian Anin
dkk, bahwa remaja mengkonsumsi produk fashion karena ingin diterima
kelompok melalui penampilannya. Produk fashion merupakan barang-
barang yang dihasilkan dari suatu proses produksi seperti berupa baju,
celana, tas, sepatu, maupun aksesoris (Purbaningrum, 2008, h.59).
Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima
oleh temannya, maka dari itu seorang remaja akan merasa senang apabila
diterima dan akan merasa tertekan atau cemas apabila diremehkan oleh
teman sebayanya (Santrock, 2007b, h.225). Sehingga akan menyamakan
4

perilakunya sesuai dengan teman kelompoknya. Anastasia (dalam


Hariyono, 2015, h.570-571) menjelaskan bahwa perilaku yang sesuai
dengan keinginan kelompok sosial disebut konformitas.
Menurut Sears (dalam Sumarlin,2009, h.7) salah satu faktor yang
mempengaruhi konformitas adalah kepercayaan diri. Dari hasil wawancara
mendapatkan bahwa awalnya menolak ajakan membeli sebuah “hoddie”,
namun akhirnya tetap membeli, dan karena melihat teman kelompoknya
membeli kaos universitas, ia juga ikut membeli meskipun tidak menyukai
desainnya dan setelah saya tanyakan lagi mereka merasa takut tidak
dianggap sebagai bagian dari kelompok. Dari hasil wawancara
membuktikan banyak mahasiswa yang mengikuti teman-temannya dan
terkadang perilaku tersebut mempengaruhi kesehariannya seperti
menyamakan dirinya dengan kelompok yaitu memakai pakaian dengan
warna yang sama saat kuliah. Dari hal tersebut menunjukan bahwa
perilakuanya sama dengan anggota kelompoknya dan hal tersebut juga
menunjukan bahwa subjek tidak memiliki kepercayaan diri sehingga
membuat menjadi bergantung kepada teman-temannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas adalah pengaruh
informasi, kepercayaan terhadap kelompok, rasa takut terhadap celaan
sosial dan penyimpangan, kepercayaan yang lemah terhadap penilaian
sendiri (Sumarlin, 2009, h.7). Apabila subjek memiliki kepercayaan diri
yang baik maka subjek tidak akan melakukan perilaku konformistik.
kepercayaan diri yang tinggi akan lebih mudah mengendalikan
dirinya sendiri dalam suatu keadaan yang menekan. Semakin rendah rasa
percaya diri yang dimiliki maka semakin besar kemungkinannya untuk
5

mengikuti orang lain. Kepercayaan diri merupakan keyakinan pada


kemampuan diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang diinginkan dan
merasa puas terhadap dirinya sendiri (Rosita, 2012, h.6).
Kepercayaan diri dapat diidentikan dengan kemandirian. Lauster
(dalam Idrus dan Rohmiati, tt, h.3) menyatakan bahwa kepercayaan diri
sebagai suatu sikap atau perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri,
sehingga tidak terpengaruh oleh orang lain. Hal ini juga didukung oleh hasil
penelitian dari Sumarlin (2009, h.18), yang menyatakan bahwa salah satu
faktor yang mempengaruhi konformitas adalah kepercayaan diri.
Berdasarkan uraian di atas peneliti memiliki pemahaman bahwa ada
hubungan antara Kepercayaan Diri dengan Konformitas Terhadap Teman
Sebaya dalam membeli Produk Fashion.

HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN


KONFORMITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA DALAM
MEMBELI PRODUK FASHION
Kehidupan remaja tidak pernah lepas dari teman sebaya. Remaja
biasanya memiliki lebih banyak kenalan dibandingkan anak-anak. Remaja
memiliki kebutuhan yang sangat kuat untuk disukai dan diterima teman
sebaya maupun kelompoknya. Maka dari itu mereka akan merasa senang
apabila diterima dan mereka akan sangat tertekan dan cemas apabila
diremehkan oleh teman sebayanya.
Remaja lebih sering berada di luar rumah bersama teman-teman
sebaya sebagai kelompok, maka pengaruh teman-teman sebaya pada sikap,
pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih besar dibandingkan
6

oleh pengaruh keluarga. Misalnya, sebagian remaja mengetahui bahwa bila


mereka memakai model pakaian yang sama dengan pakaian anggota
kelompok, maka kesempatan untuk diterima oleh kelompok semakin besar.
Hasil penelitian Purbaningrum (2008, h.98) dengan judul pola
konsumsi produk fashion di kalangan pelajar putri menyatakan bahwa
dengan melalui fashion dapat menampilkan diri maupun citra diri para
pelajar. Pada usia pelajar mudah terbujuk rayuan iklan dan suka ikut-ikutan
temannya.
Dalam jurnal Anin, dkk (tt, h.182) yang berjudul hubungan antara
Self monitoring dengan impulsive buying terhadap produk fashion pada
remaja menjelaskan bahwa terdapat remaja mengkonsumsi produk fashion
karena ingin diterima kelompok melalui penampilannya. Seorang remaja
ingin diterima dalam kelompok teman sebayanya dengan mepresentasikan
diri mereka melalui penampilannya.
Seorang remaja yang menyesuaikan dirinya sesuai dengan kelompok
pertemanannya karena ingin diterima oleh teman-temannya disebut dengan
konformitas. Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial dimana
individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan
norma-norma sosial yang ada (Baron dan Byrne, 2003, h.62). Saat remaja
berada diluar rumah bersama dengan teman-teman sebayanya dapat
dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya dalam sikap, pembicaraan,
minat, perilaku, dan minat akan lebih berpengaruh lebih besar daripada
dengan keluarga.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat faktor-faktor
yang mempengaruhi konformitas yaitu ketertarikan individu terhadap
7

kelompoknya, banyaknya jumlah anggota kelompok yang membuat


kepercayaan yang besar terhadap kelompoknya, adanya norma-norma yang
berupa himbauan dan perintah, adanya anggota yang memiliki status yang
tinggi sehingga menjadi contoh untuk melakukan konformitas, dan tidak
percaya terhadap pendapatnya sendiri sehingga lebih memilih mengikuti
pendapat anggota lain, seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang
kurang akan lebih mengikuti pendapat maupun perilaku orang lain.
Dari beberapa faktor diatas yang lebih disorot pada penelitian ini
adalah kepercayaan diri. Menurut Wijaya (dalam Rosita, 2012, h.6)
Kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang atas kemampuan dan kondisi
pada diri sendiri yang berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian
seseorang.
Hasil penelitian Sumarlin (2009, h.15) dengan judul perilaku
konformitas pada remaja yang berada di lingkungan peminum alkohol
menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi konformitas
adalah kepercayaan diri. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang
proporsional maka tidak terdorong untuk melakukan konformis demi
diterima oleh orang lain atau temannya.
Dari hasil wawancara yang telah peneliti lakukan kepada beberapa
mahasiswa Unika Soegijapranata, mengaku bahwa merasa kurang memiliki
kepercayaan diri apabila penampilannya berbeda jauh dengan teman-
temannya dari hal tersebut subjek lebih menyamakan dirinya dengan teman-
temannya khususnya dalam membeli produk fashion. Individu yang
memiliki kepercayaan diri yang tinggi tidak mudah terpengaruh oleh
lingkungan pergaulannya. Mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri yang
8

tinggi tidak mudah dalam berperilaku konformis, mampu dalam


menghadapi masalah, bertanggung jawab terhadap keputusan dan
tindakannya, kemampuan dalam bergaul, dan kemampuan dalam menerima
kritik sehingga individu tersebut tidak memaksakan diri untuk melakukan
konformis terhadap lingkungan pergaulannya seperti halnya dalam membeli
produk fashion.
Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa ada keterkaitan anatara
kepercayaan diri dengan konformitas. Individu yang memiliki kepercayaan
diri yang tinggi tidak akan mudah melakukan konformis, begitu sebaliknya
apabila individu memiliki kepercayaan diri yang rendah kan mudah
melakukan konformis.

HIPOTESIS
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara
kepercayaan diri dengan konformitas terhadap teman sebaya dalam
membeli produk fashion. Semakin tinggi kepercayaan diri, maka semakin
rendah konformisnya, dan sebaliknya apabila semakin rendah kepercayaan
diri, maka semakin tinggi untuk melakukan konformis.
9

METODE PENELITIAN
Subjek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif Unika
Soegijapranata Semarang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
adalah Icidental Sampling.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah skala. Skala
yang digunakan adalah skala kepercayaan diri dan skala konformitas teman
sebaya dalam membeli produk fashion.
Metode Analisi Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik korelasi product Moment, untuk mengetahui hubungan antara
kepercayaan diri degan konformitas terhadap teman sebaya dalam membeli
produk fashion.

HASIL PENELITIAN
Uji Asumsi
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data memiliki
distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan
menggunakan Kolmogorov Smirnov Z. Data normalitas ditunjukan
apabila P > 0,05 dan diperoleh hasil sebagai berikut:
a. Pada Kepercayaan diri diperoleh nilai K-S Z = 0,516 (nilai p > 0,05),
yang berarti data kepercayaan diri memiliki distribusi normal.
10

b. Pada konformitas teman sebaya dalam membeli produk fashion


diperoleh nilai K-S Z = 0,903 (nilai p > 0,05), yang berarti data
konformitas teman sebaya dalam membeli produk fashion memiliki
distribusi normal.
2. Uji Linieritas
Uji linieritas ini dilakukan terhadap hubungan antara variabel
bebas dan variabel tergantung. Uji linieritas dalam penelitian ini
menggunakan uji F dengan program Statistical Packages For Social
Science (SPSS) for Windows Release 16.00.
Hasil uji linieritas didapatkan koefisien Flinier rxy sebesar 3,755
dengan p=0,05 yang berarti bahwa hubungan kepercayaan diri dengan
konformitas teman sebaya dalam membeli produk fashion pada
mahasiswa bersifat linier.

Uji Hipotesis
Uji korelasi Product Moment memberikan hasil nilai rxy = -0,260
(nilai p < 0,05), yang berarti ada hubungan negatif antara kepercayaan diri
dengan konformitas teman sebaya dalam membeli produk fashion pada
mahasiswa. Semakin tinggi kepercayaan diri maka semakin rendah
konformitas teman sebaya dalam membeli produk fashion, dan sebaliknya,
jika semakin rendah kepercayaan diri maka semakin tinggi konformitas
teman sebaya dalam membeli produk fashion. Hasil ini menunjukan bahwa
hipotesis yang diajukan diterima.
11

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dengan korelasi
Product Moment diperoleh rxy = -0,260 dengan p < 0,05. Hal ini
menunjukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kepercayaan
diri dengan konformitas teman sebaya dalam membeli produk fashion.
Semakin tinggi kepercayaan diri maka semakin rendah konformitas teman
sebaya dalam membeli produk fashion, dan sebaliknya apabila semakin
rendah kepercayaan diri maka semakin tinggi konformitas teman sebaya
dalam membeli produk fashion. Artinya, hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa hipotesis diterima.
Hasil hipotesis ini sejalan dengan pendapat dari Sumarlin (2009, h.18)
yang menjelaskan bahwa kepercayaan diri merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi konformitas. Remaja lebih banyak diluar rumah
bersama teman sebayanya, maka pengaruh temannya lebih besar daripada
pengaruh keluarga. Remaja memiliki kebutuhan yang sangat kuat untuk
disukai dan diterima teman sebaya maupun kelompoknya. Maka dari itu
mereka akan merasa senang apabila diterima dan mereka akan sangat
tertekan dan cemas apabila diremehkan oleh teman sebayanya. Dalam
usahanya untuk dapat diterima oleh kelompok, mereka harus bertingkah
laku ataupun berpenampilan sama dengan teman-temannya (Meilinda,
2013, h.18). Seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan
lebih mudah mengendalikan dirinya sendiri dalam suatu keadaan yang
menekan. Semakin rendah rasa kepercayaan diri yang dimiliki maka
semakin besar kemungkinannya untuk mengikuti orang lain.
12

Mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri yang rendah kurang


percaya atas dirinya sendiri atau pilihannya sendiri sehingga akan lebih
melakukan konformis terhadap temannya dalam membeli produk fashion.
Sebaliknya, Mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan
percaya terhadap dirinya sendiri lebih yakin akan pilihannya sendiri,
sehingga tidak mudah melakukan konformis terhadap temannya dalam
melakukan pembelian terhadap produk fashion.
Penelitian ini memberikan informasi dan hasil tambahan berupa
sumbangan efektif sebesar 6,67%, hal ini menunjukan bahwa kepercayaan
diri mempengaruhi konformitas teman sebaya dalam membeli produk
fashion pada mahasiswa sebesar 6,76%, Sedangkan sisanya 93,2%
dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya seperti ketertarikan individu terhadap
kelompoknya, banyaknya jumlah anggota kelompok yang membuat
kepercayaan yang besar terhadap kelompoknya, adanya norma-norma yang
berupa himbauan dan perintah, dan yang terakhir adanya anggota yang
memiliki status yang tinggi sehingga menjadi contoh untuk melakukan
konformitas
Hasil analisis menunjukan bahwa konformitas teman sebaya dalam
membeli produk fashion memiliki Mean Empirik (Me) sebesar 34,07 dan
Standart Deviasi Empirik (SDE) sebesar 4,403 dengan hasil kategori rendah
berjumlah 9, kategori sedang berjumlah 39, kategori tinggi berjumlah 9.
Hasil penelitian menunjukan konformitas teman sebaya dalam membeli
produk fashion tergolong sedang. Hasil penelitian kepercayaan diri
memiliki Mean Empirik (Me) sebesar 68 dan Standart Deviasi Empirik
13

(SDE) sebesar 6,687 dengan hasil kategori rendah berjumlah 5, kategori


sedang berjumlah 38, kategori tinggi berjumlah 11.
Individu yang memiliki kepercayaan diri mampu dalam menghadapi
masalah, bertanggung jawab terhadap keputusan dan tindakannya,
kemampuan dalam bergaul, dan kemampuan dalam menerima kritik
sehingga individu tersebut tidak memaksakan diri dalam melakukan
konformis seperti penyesuaian terhadap persepsi, keyakinan, maupun
perilaku terhadap norma agar disukai maupun diterima dalam kelompok
agar terhindar dari penolakan dan penyesuaian terhadap persepsi,
keyakinan, maupun perilaku karena kepercayaan terhadap informasi yang di
anggap bermanfaat yang berasal dari kelompok.
Penelitian ini tidak terlepas dari berbagai kelemahan-kelemahan yang
dapat mempengaruhi hasil dari penelitian ini, antara lain:
1. Peneliti belum bisa optimal dalam memonitor pengisian skala dalam
bentuk link.
2. Beberapa responden masih terpengaruh orang lain dalam pengisian
skala yang seharusnya peneliti sudah mengantisipasi kemungkian
tersebut.
3. Kurang spesifik dalam penentuan usia subjek
4. Skala konformitas untuk subjek yang sedang bergerombol kurang
dijelaskan dalam petunjuk pengisian.
14

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan dalam
pembahasan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini diterima, yaitu ada hubungan negatif yang
signifikan antara kepercayaan diri dengan konformitas teman sebaya dalam
membeli produk fashion pada mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang.
Semakin tinggi kepercayaan dirinya maka semakin rendah konformitas
teman sebaya dalam membeli produk fashion, demikian pula sebaliknya.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan kesimpulan, maka
peneliti memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi subyek penelitian
Bagi subyek penelitian diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan
dirinya dengan cara mampu menghadapi masalah, bertanggung
jawab terhadap keputusan dan tindakannya, kemampuan dalam
bergaul, kemampuan menerima kritik agar perilaku konformitasnya
tetap proposional dan tidak meningkat.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Membuat petunjuk pengisian skala melalui link dengan benar
sehingga dimungkinkan yang mengisi skala tersebut memang
responden yang dituju.
b. Peneliti dapat membuat situasi dan kondisi yang memungkinkan
bagi para responden agar dapat melakukan pengisian skala
dengan cermat dan tenang tanpa dapat melihat skala milik teman
yang lainnya.