Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konformitas Terhadap Teman Sebaya Dalam Membeli Produk


Fashion
1. Pengertian Konformitas Terhadap Teman Sebaya Dalam
Membeli Produk Fashion
Menurut Bernheim (dalam Tainaka, dkk, 2014, h.1695)
konformitas adalah peniruan perilaku yang terjadi atas dasar
lingkungan sosial, kelompok, panik saat pengambilan keputusan
dan tekanan. Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial
dimana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar
sesuai dengan norma-norma sosial yang ada (Baron dan Byrne,
2003, h.62). Fuhrman (dalam Rianton, 2013, h.9) berpendapat
bahwa konformitas adalah kecenderungan individu untuk menerima
dan melakukan norma yang dimiliki dalam kelompok.
Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa konformitas adalah
peniruan perilaku karena adanya tekanan maupun norma-norma
yang ada didalam lingkungan atau kelompok sehingga membuat
individu mengubah perilakunya sesuai dengan norma tersebut.
Teman sebaya adalah remaja yang memiliki usia yang kurang
lebih sama yang saling berinteraksi dengan teman sebayanya yang
berusia sama dan memiliki peran yang unik didalam budaya
maupun kebiasaan (Santrock, 2007a, h.55). Menurut Suwarjo

7
8

(2008, h.3) teman sebaya merupakan anak-anak dengan tingkat


kematangan atau usia yang kurang lebih sama dan memiliki fungsi
untuk memberikan sumber informasi tentang dunia di luar keluarga.
Menurut Brown (dalam Ryan, 2001. h. 1137) menjelaskan
pengertian teman sebaya adalah teman karib sepermainan yang
memiliki tingkat usia, minat dan tujuan yang sama.
Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa teman sebaya
merupakan teman sepermainan yang memiliki tingkat usia yang
kurang lebih sama yang memiliki budaya yang unik dan memiliki
minat dan tujuan yang sama.
Menurut Kotler dan Amstrong (dalam Nurtjahjanti, 2012, h.3)
membeli adalah kegiatan transaksi barang dengan uang antara
pembeli dan penjual. Menurut kamus besar bahasa Indonesia
membeli adalah memperoleh sesuatu melalui pembayaran dengan
uang. Ditambahkan oleh Prasetijo dan Ilhalauw (dalam
Nurtjahjanti, 2012, h.3) membeli adalah proses ketika seseorang
memiliki keputusan beli dengan menggunakan waktu dan uang
untuk ditukar dengan sebuah barang yang akan dikonsumsi.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa membeli
adalah transaksi dengan penjual untuk memperoleh suatu barang
yang ditukarkan dengan uang.
Produk fashion merupakan mode pakaian yang mencangkup
aksesorisnya seperti ikat pinggang, sepatu, topi, tas, kaus kaki,
maupun pakaian (Chita, dkk, 2015, h. 298). Produk fashion
merupakan barang yang dihasilkan oleh suatu proses produksi baik
9

berupa baju, celana, tas, sepatu dan aksesoris lainnya yang dapat
menunjang penampilan pemakainya (Purbanigrum, 2008, h.59).
Menurut Nurtjahjanti (2012, h.4) produk fashion adalah barang
yang digunakan oleh konsumen seperti pakaian, ikat pinggang,
sepatu, tas, maupun kaus kaki.
Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa produk fashion
merupakan barang produksi yang berupa baju, celana, tas, sepatu
maupun aksesoris lainnya ang digunakan oleh seseorang.
Kesimpulan keseluruhan teori konformitas terhadap teman
sebaya dalam membeli produk fashion adalah peniruan sikap
maupun perilaku terhadap teman yang memiliki tingkatan usia yang
kurang lebih sama dalam memperoleh produk fashion seperti baju,
celana, tas, maupun sepatu karena adanya tekanan maupun norma
yang ada.

2. Aspek-aspek Konformitas
Menurut Sears, dkk (dalam Rianton, 2013, h.9), aspek-aspek
dari konformitas yaitu :
a. Peniruan
Yaitu keinginan individu untuk sama dengan orang lain baik
secara terbuka ataupun karena ada tekanan.
b. Penyesuaian
Yaitu keinginan untuk diterima oleh orang lain. Seorang
individu biasanya melakukan penyesuaian pada norma yang
ada pada kelompoknya.
10

c. Kepercayaan
Semakin besar keyakinan individu pada konformitas yang
benar, semakin meningkat ketetapan informasi yang dimiliki.
Aspek-aspek dalam konformitas terhadap teman sebaya
adalah remaja akan berperilaku sesuai dengan kelompok dan
mematuhi norma yang ada didalam kelompok, remaja akan lebih
sering berkumpul dengan teman yang ada di kelompoknya
dibandingkan teman yang diluar kelompoknya, remaja akan
menyesuaikan pendapatnya sendiri dengan pendapat lain yang lebih
banyak di pilih oleh anggota kelompok, remaja akan lebih
mementingkan perannya sebagai anggota dalam kelompok daripada
mengembangkan dirinya sendiri, remaja akan mencari informasi
tentang kelompoknya dengan tujuan supaya dapat berperilaku benar
terhadap kelompoknya (Saputro & Soeharto, 2012, h.9).
Menurut Baron dan Bryne (2003, h.33) aspek-aspek
konformitas adalah:
1. Normatif
Yaitu penyesuaian persepsi, keyakinan, maupun perilaku
seseorang agar disukai ataupun diterima dalam kelompok dan
agar terhindar dari penolakan.
2. Informatif
Yaitu penyesuaian persepsi, keyakinan, maupun perilaku
seseorang karena kepercayaan terhadap informasi yang
dianggap bermanfaat yang berasal dari kelompok.
11

Dari aspek-aspek di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa


aspek-aspek dalam konformitas adalah penyesuaian terhadap
persepsi, keyakinan maupun perilaku terhadap norma agar disukai
ataupun diterima dalam kelompok agar terhindar dari penolakan
atau dapat disebut dengan normatif, dan adanya penyesuaian
persepsi, keyakinan maupun perilaku karena kepercayaan terhadap
informasi yang dianggap bermanfaat yang berasal dari kelompok
atau dapat disebut dengan informatif.

3. Faktor-faktor Konformitas
Dalam Baron dan Byrne (2003, h.56) faktor-faktor yang
mempengaruhi konformitas adalah:
a. Kohesivitas
Yaitu tingkat ketertarikan individu terhadap suatu kelompok.
Jika individu memiliki ketertarikan yang besar terhadap
kelompok maka memiliki kohesivitas yang tinggi. Begitu
sebaliknya, ketika kohesivitas rendah maka tekanan terhadap
konformitas rendah.
b. Ukuran Kelompok
Semakin banyak anggota yang tergabung dalam kelompok
maka akan membuat individu semakin melakukan konformitas.
Konformitas cenderung meningkat seiring dengan
meningkatnya ukuran kelompok.
c. Norma Sosial Deskriptif dan Norma Sosial Injugtif
Norma deskriptif adalah norma yang hanya mendeskripsikan
sebagian besar apa yang orang harus lakukan pada situasi
12

tertentu. Dalam arti lain norma deskripsi dapat juga diartikan


sebagai himbauan. Sedangkan norma injugtif adalah
menetapkan apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu
yang dalam arti lain norma injugtif adalah perintah.
Menurut Sears (dalam Sumarlin, 2009, h.7) faktor-faktor yang
mempengaruhi konformitas adalah :
a. Pengaruh informasi
Tingkat konformitas ditentukan oleh sejauh mana kebenaran
informasi yang dimiliki orang lain dan penilaian kepercayaan
diri terhadap penilaian diri sendiri.
b. Kepercayaan terhadap kelompok
Setiap individu mempunyai mempunyai pandangan yang
berbeda, setiap individu ingin memberikan informasi yang tepat
sehingga semakin besar kepercayaan individu terhadap
kelompok sebagai sumber informasi yang benar dan tepat maka
semakin besar kemungkinan untuk menyesuaikam diri terhadap
kelompok.
c. Rasa takut terhadap celaan sosial dan penyimpangan
Seseorang melakukan konformitas salah satunya karena ingin
menghindari celaan kelompok, tidak ingin terlihat sebagai
orang lain di dalam kelompoknya, dan ingin agar kelompoknya
menyukainya.
d. Kepercayaan yang lemah terhadap penilaian sendiri
Meningkatnya kepercayaan individu terhadap penilaiannya
sendiri akan menurunkan konformitas. Semakin rendah rasa
13

percaya diri maka semakin besar kemungkinan akan mengikuti


penilaian orang lain.
Menurut Sarwono (dalam Sumarlin, 2009, h.7) faktor-faktor
yang mempengaruhi konformitas yaitu:
a. Kohesivitas
Semakin kuat rasa kohesivitas pada kelompok maka semakin
besar pengaruhnya pada setiap individu.
b. Ukuran Kelompok
Semakin besar ukuran suatu kelompok maka semakin besar
pula pengaruhnya.
c. Suara bulat
Salah satu anggota yang memiliki suara paling berbeda tidak
dapat bertahan lama dan lebih merasa tidak enak dan tertekan
sehingga akhirnya menyerah pada pendapat kelompok yang
lain.
d. Status
Semakin tinggi status orang yang menjadi contoh, maka
semakin besar pengaruhnya terhadap orang lain untuk
melakukan konformitas.
Dari faktor-faktor di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konformitas antara lain
ketertarikan individu terhadap kelompoknya, banyaknya jumlah
anggota kelompok yang membuat kepercayaan yang besar terhadap
kelompoknya, adanya norma-norma yang berupa himbauan dan
perintah, tidak percaya terhadap pendapatnya sendiri sehingga lebih
14

memilih mengikuti pendapat anggota lain, seseorang yang memiliki


kepercayaan diri yang kurang akan lebih mengikuti pendapat maupun
perilaku orang lain dan yang terakhir adanya anggota yang memiliki
status yang tinggi sehingga menjadi contoh untuk melakukan
konformitas.

B. Kepercayaan Diri
1. Pengertian Kepercayaan Diri
Menurut Lauster (dalam Idrus & Rohmiati, tt, h.3)
kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin pada
kemampuan diri sendiri, sehingga tidak terpengaruh oleh orang
lain. Sedangkan menurut Bandura (dalam Siska, 2003, h.68)
kepercayaan diri adalah suatu keyakinan yang dimiliki oleh
seseorang bahwa dirinya mampu berperilaku seperti apa yang
dibutuhkan untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan.
Kepercayaan diri pada dasarnya adalah persepsi positif dan
realistis tentang diri dan kemampuan individu (Goel & Aggarwal,
2012, h.90). Menurut Wijaya (dalam Rosita, 2012, h.6)
Kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang atas kemampuan dan
kondisi pada diri sendiri yang berpengaruh terhadap perkembangan
kepribadian seseorang.
Percaya diri juga dapat diartikan sebagai cara pandang
seseorang dan perasaan yakin, sanggup maupun berani pada
kemampuan yang dimilikinya (Surya, 2009, h.64).
15

Dari teori-teori di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa


kepercayaan diri adalah sikap dan cara pandang yang positif akan
keyakinan dan kemampuan terhadap diri sendiri untuk memperoleh
hasil yang diharapkan.
2. Aspek-aspek Kepercayaan Diri
Lauster (dalam Idrus & Rohmiati, tt, h.4) mengemukakan
aspek-aspek kepercayaan diri antara lain:
a. Ambisi
Merupakan dorongan untuk mencapai hasil. Orang yang
percaya diri cenderung mempunyai ambisi yang tinggi,
berfikiran positif dan yakin bahwa mampu untuk melakukan
sesuatu.
b. Mandiri
Individu yang mandiri tidak bergantung pada individu yang lain
karena merasa mampu untuk melaksanakan semua tugasnya
dan tahan terhadap tekanan.
c. Optimis
Individu yang optimis selalu berpikiran positif dan selalu
beranggapan bahwa akan berhasil.
d. Tidak mementingkan diri sendiri
Individu yang percaya diri tidak hanya mementingkan diri
sendiri namun selalu peduli terhadap orang lain.
16

e. Toleransi
Sikap toleransi yaitu selalu mau menerima pendapat maupun
perilaku orang lain yang berbeda dengan pendapat dan perilaku
dirinya sendiri.
Menurut Kumara (dalam Yulianto dan Nashori, 2006, h.58)
menyatakan empat aspek kepercayaan diri, yaitu :
a. Kemampuan menghadapi masalah
b. Bertanggung jawab terhadap keputusan dan tindakannya
c. Kemampuan dalam bergaul
d. Kemampuan menerima kritik
Menurut Saleh (dalam Dawam, 2012, h.23) aspek-aspek
percaya diri adalah sebagai berikut:
a. Tidak tergantung pada orang lain
Dalam berusaha maupun berbuat sesuatu yakin akan
kemampuan yang dimilikinya dan tidak melihat orang lain.
Meskipun gagal, namun akan tetap berusaha bangkit dan
memulainya kembali.
b. Tanpa ragu-ragu dalam mengambil keputusan
Mampu bertindak dan mengambil keputusan dengan tegas
tanpa ragu-ragu dan yakin dengan keputusan yang diutarakan
dan sesuai dengan kemampuannya.
c. Mempunyai persuasive sehingga memperoleh banyak
dukungan
17

Kemampuan akan mengubah sikap, pandangan atau perilaku


orang lain, dan sebagai hasilnya pihak yang dipengaruhi
tersebut melakasanakan dengan kesadaran sendiri.
d. Mempunyai penampilan yang menyakinkan sehingga disegani
Memilih pakaian yang cocok karena penampilan sangat
diperhatikan agar menumbuhkan rasa percaya diri.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas peneliti lebih
menekankan pendapat dari Kumara yaitu: kemampuan menghadapi
masalah, bertanggung jawab terhadap keputusan dan tindakannya,
kemampuan dalam bergaul, kemampuan menerima kritik. Peneliti
lebih menekankan pendapat dari Kumara karena dipandang sudah
meliputi aspek-aspek dari kepercayaan diri. Keempat aspek
kepercayaan diri inilah yang akan digunakan peneliti dalam menyusun
alat ukur untuk variabel kepercayaan diri.

C. Hubungan antara kepercayaan diri dengan konformitas terhadap


teman sebaya dalam membeli produk fashion
Kehidupan remaja tidak pernah lepas dari teman sebaya. Remaja
biasanya memiliki lebih banyak kenalan dibandingkan anak-anak.
Remaja memiliki kebutuhan yang sangat kuat untuk disukai dan
diterima teman sebaya maupun kelompoknya. Maka dari itu mereka
akan merasa senang apabila diterima dan mereka akan sangat tertekan
dan cemas apabila diremehkan oleh teman sebayanya.
Remaja lebih sering berada di luar rumah bersama teman-teman
sebaya sebagai kelompok, maka pengaruh teman-teman sebaya pada
sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih besar
18

dibandingkan oleh pengaruh keluarga. Misalnya, sebagian remaja


mengetahui bahwa bila mereka memakai model pakaian yang sama
dengan pakaian anggota kelompok, maka kesempatan untuk diterima
oleh kelompok semakin besar.
Hasil penelitian Purbaningrum (2008, h.98) dengan judul pola
konsumsi produk fashion di kalangan pelajar putri menyatakan bahwa
dengan melalui fashion dapat menampilkan diri maupun citra diri para
pelajar. Pada usia pelajar mudah terbujuk rayuan iklan dan suka ikut-
ikutan temannya.
Dalam jurnal Anin, dkk (tt, h.182) yang berjudul hubungan
antara Self monitoring dengan impulsive buying terhadap produk
fashion pada remaja menjelaskan bahwa terdapat remaja
mengkonsumsi produk fashion karena ingin diterima kelompok melalui
penampilannya. Seorang remaja ingin diterima dalam kelompok teman
sebayanya dengan mepresentasikan diri mereka melalui
penampilannya.
Seorang remaja yang menyesuaikan dirinya sesuai dengan
kelompok pertemanannya karena ingin diterima oleh teman-temannya
disebut dengan konformitas. Konformitas adalah suatu jenis pengaruh
sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar
sesuai dengan norma-norma sosial yang ada (Baron dan Byrne, 2003,
h.62). Saat remaja berada diluar rumah bersama dengan teman-teman
sebayanya dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya
dalam sikap, pembicaraan, minat, perilaku, dan minat akan lebih
berpengaruh lebih besar daripada dengan keluarga.
19

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat faktor-faktor


yang mempengaruhi konformitas yaitu ketertarikan individu terhadap
kelompoknya, banyaknya jumlah anggota kelompok yang membuat
kepercayaan yang besar terhadap kelompoknya, adanya norma-norma
yang berupa himbauan dan perintah, adanya anggota yang memiliki
status yang tinggi sehingga menjadi contoh untuk melakukan
konformitas, dan tidak percaya terhadap pendapatnya sendiri sehingga
lebih memilih mengikuti pendapat anggota lain, seseorang yang
memiliki kepercayaan diri yang kurang akan lebih mengikuti pendapat
maupun perilaku orang lain.
Dari beberapa faktor diatas yang lebih disorot pada penelitian ini
adalah kepercayaan diri. Menurut Wijaya (dalam Rosita, 2012, h.6)
Kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang atas kemampuan dan
kondisi pada diri sendiri yang berpengaruh terhadap perkembangan
kepribadian seseorang.
Hasil penelitian Sumarlin (2009, h.15) dengan judul perilaku
konformitas pada remaja yang berada di lingkungan peminum alkohol
menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi konformitas
adalah kepercayaan diri. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri
yang proporsional maka tidak terdorong untuk melakukan konformis
demi diterima oleh orang lain atau temannya.
Dari hasil wawancara yang telah peneliti lakukan kepada
beberapa mahasiswa Unika Soegijapranata, mengaku bahwa merasa
kurang memiliki kepercayaan diri apabila penampilannya berbeda jauh
dengan teman-temannya dari hal tersebut subjek lebih menyamakan
20

dirinya dengan teman-temannya khususnya dalam membeli produk


fashion. Individu yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi tidak
mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya. Mahasiswa yang
memiliki kepercayaan diri yang tinggi tidak mudah dalam berperilaku
konformis, mampu dalam menghadapi masalah, bertanggung jawab
terhadap keputusan dan tindakannya, kemampuan dalam bergaul, dan
kemampuan dalam menerima kritik sehingga individu tersebut tidak
memaksakan diri untuk melakukan konformis terhadap lingkungan
pergaulannya seperti halnya dalam membeli produk fashion.
Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa ada keterkaitan
anatara kepercayaan diri dengan konformitas. Individu yang memiliki
kepercayaan diri yang tinggi tidak akan mudah melakukan konformis,
begitu sebaliknya apabila individu memiliki kepercayaan diri yang
rendah kan mudah melakukan konformis.

D. Hipotesis
Ada hubungan negatif antara kepercayaan diri dengan
konformitas terhadap teman sebaya dalam membeli produk fashion
pada mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang. Semakin tinggi
kepercayaan diri seseorang maka semakin rendah konformitasnya
terhadap teman sebaya dalam membeli produk fashion, dan sebaliknya
semakin rendah kepercayaan diri maka semakin tinggi konformitas
seseorang terhadap teman sebaya dalam membeli produk fashion.