Anda di halaman 1dari 79

Pengstrat (1)

Strategi Clausewitz
* Clausewitz dan Strategi: Kontribusi Sang Jendral dalam Studi Strategis
Dalam studi strategis, nama Carl von Clausewitz menjadi amat berpengaruh,
terutama di dunia Barat, setelah bukunya yang berjudul On War menjadi dasar pemikiran
bagi banyak ahli strategi. Untuk memahami bagaimana pendapat Clausewitz mengenai
strategi dan apa kontribusinya dalam studi strategis, kita perlu melihat terlebih dahulu
latar belakang beliau.
Carl Phillip Gottfried von Clausewitz (lahir 1 Juli 1780 - meninggal 16 November
1831 pada umur 51 tahun, lebih dikenal dengan nama Carl von Clausewitz) adalah
seorang tentara Prusia (Jerman) dan intelektual. Ia menjabat sebagai prajurit lapangan
praktis (dengan luas pengalaman tempur melawan pasukan Revolusi Perancis), sebagai
perwira staf dengan politik/ militer Prusia, dan sebagai pendidik militer terkemuka.
Clausewitz pertama kali memasuki pertempuran sebagai kadet pada usia 13 tahun,
naik pangkat Mayor Jenderal di usia 38, menikah dengan bangsawan tinggi, Countess
Marie von Bruhl, bergerak di kalangan intelektual langka di Berlin, dan menulis sebuah
buku “On War” (terjemahan dari “Vom Kriege”) yang telah menjadi karya paling
berpengaruh terhadap filsafat militer di dunia Barat. Buku tersebut telah diterjemahkan ke
hampir semua bahasa dan berpengaruh pada strategi modern di berbagai bidang.
Setelah melihat latar belakang singkat dari Clausewitz, kita bisa menyimpulkan
bahwa, berbeda dengan Sun Zu yang sampai saat ini latar belakangnya tidak jelas,
Clausewitz adalah seorang perwira militer aktif yang pernah bertugas di beberapa medan
tempur. Sebagai seorang perwira militer, tentunya kita bisa berasumsi bahwa
pengalamannya bertempur dan menjadi pengambil kebijakan di arena pertempuran serta
peperangan menjadi dasar bagi pemikiran-pemikirannya selanjutnya. Oleh karenanya,
akan terlihat bahwa berbeda dengan Sun Zu yang amat filosofis, Clausewitz dalam
bukunya terlihat lebih praktis dan mekanis, walaupun itu tidak berarti lantas
menghilangkan sisi-sisi filosofis dari pandangan Clausewitz.
Dalam bukunya, Clausewitz mencoba mendefinisikan perang. Ia mengatakan
bahwa perang janganlah dilihat sebagai hal yang rumit, bahwa perang sebenarnya adalah
sebuah duel antara beberapa pihak dalam skala yang ekstensif. Oleh karenanya, perang

1
ditujukan untuk membuat lawan mengikuti kehendak kita. Clausewitz melihat bahwa
perang adalah penggunaan kekerasan untuk membuat lawan mengikuti kehendak kita,
dan dengan demikian kekerasan hanyalah sebuah cara untuk memperoleh kepentingan
dan melucuti senjata musuh agar ia tidak bisa lagi melawan adalah tujuan dari sebuah
perang.
Clausewitz mengingatkan bahwa dalam peperangan, seseorang bisa saja
mengasumsikan bahwa mereka akan, dalam istilah Sun Zu, menang tanpa pertumpahan
darah. Akan tetapi, ini bertentangan dengan kondisi alamiah dari perang itu sendiri.
Tanpa mempertimbangkan kekerasan dan pertumpahan darah dalam menyusun strategi
perang, maka pihak yang melakukannya telah menciptakan kekalahannya sendiri karena
justru melupakan elemen paling penting dalam peperangan.
Clausewitz menekankan adanya beberapa aksi resiprokal yang dianggapnya selalu
ada dalam perang: Yang pertama, bahwa perang adalah tindakan kekerasan dalam batas
tertingginya dimana salah satu pihak memaksakan kehendaknya pada pihak yang kalah.
Yang kedua adalah bahwa tujuan perang adalah mengalahkan dan melucuti lawan dari
senjatanya, karena kalau lawan tidak dikalahkan secara total, maka ia akan bisa
mengalahkan kita dikemudian hari, dan akhirnya ia akan memaksakan kehendaknya pada
kita. Yang ketiga, untuk mengalahkan musuh, maka kita harus meningkatkan kekuatan
kita melebihi batas kemampuan bertahan musuh. Namun, tentunya musuh kita juga
berpikiran sama, dan oleh karenanya akan terjadi perlombaan peningkatan kemampuan.
Ada beberapa poin yang juga diungkapkan oleh Clausewitz. Salah satu hal
penting yang diungkapkannya adalah bahwa perang bukanlah kejadian yang terisolasi
dari kejadian lain. Ini akan amat erat kaitannya nanti dengan pendapatnya bahwa perang
adalah kelanjutan dari kebijakan suatu pihak (adagium ke-24 Clausewitz: Perang adalah
diplomasi dengan cara lain). Pendapatnya yang lain adalah bahwa perang tidak bisa
diakhiri hanya dengan satu pukulan instan. Yang dimaksud disini adalah bahwa kita tidak
bisa mengalahkan musuh dengan hanya sekali serang. Oleh karenanya, penggunaan
strategi nantinya akan jadi amat penting. Poin penting lain adalah bahwa hasil dalam
peperangan tidaklah absolut, dalam arti bahwa kekalahan maupun kemenangan bisa jadi
hanyalah kejadian sementara.

2
Salah satu pernyataan yang kemudian menjadi amat legendaris dari Clausewitz
adalah bahwa keinginan-keinginan politiklah yang menjadi penggerak peperangan.
Clausewitz lantas menyimpulkan bahwa semakin besar keinginan-keinginan politik ini
maka semakin besar pula intensitas perang yang terjadi, dan begitu pula sebaliknya.
Ketika ”political will” ini melemah, maka intensitas peperangan juga berkurang. Akan
tetapi, dalam beberapa kasus, dimana keinginan politik sudah amat besar, ternyata perang
masih belum terjadi. Clausewitz tidak melihat hal ini seperti apa yang dilihat Sun Zu
sebagai strategi untuk menang tanpa bertarung. Clausewitz justru melihat bahwa jeda
maupun gencatan senjata dalam peperangan hanyalah aksi dari pihak-pihak yang terlibat
dalam perang untuk menunggu saat yang tepat dan momen yang tepat pula untuk
menyerang.
Strategi, oleh Clausewitz, diartikan sebagai "the employment of the battle as the
means towards the attainment of the object of the War". Ini berarti strategi adalah
penggunaan pertempuran sebagai cara memperoleh tujuan-tujuan perang. Dari sini bisa
diartikan bahwa dalam pandangan Clausewitz, strategi diartikan sebagai penyusunan
cara-cara bertempur agar kita dapat memperoleh tujuan-tujuan kita. Clausewitz menilai
bahwa dalam tataran praktis, strategi sebenarnya amat simpel (mudah) dan tidak banyak
memperhitungkan kekuatan-kekuatan moral.
Akan tetapi, mengingat pendapat awal Clausewitz adalah bahwa strategi amat erat
kaitannya dengan politik dan perang, yang merupakan tujuan pembentukan strategi,
adalah kelanjutan dari kebijakan-kebijakan politik, maka strategi selalu dipengaruhi oleh
unsur-unsur moral. Ia mencontohkan bahwa dalam pembuatan strategi, yang lebih
diperlukan adalah unsur-unsur moral seperti keinginan yang kuat. Berbeda dengan taktik
yang jauh lebih praktis karena dihadapkan langsung dengan lawan, dalam strategi yang
terkait dengan gambaran-gambaran besar maka seorang Jenderal atau Panglima tidak
harus punya kemampuan teknis yang kuat melainkan daya berpikir dan kekuatan
keinginan yang kuat. Karena kalau ia tidak memiliki keduanya, maka ia akan terombang-
ambing dan tidak bisa memutuskan strategi mana yang akan digunakan.
Ada empat elemen strategi menurut Clausewitz. Yang pertama adalah elemen-
elemen yang berkaitan dengan moral. Yang kedua adalah kekuatan militer dan proporsi
kekuatan ketiga angkatan bersenjata serta kekuatan organisasinya. Yang ketiga adalah

3
kegiatan operasional yang akan dilakukan serta gerakan ataupun manuver-manuver yang
biasa dilakukan. Sedangkan yang terkahir adalah kondisi geografis dari wilayah-wilayah
tempat berperang.
Clausewitz juga menilai bahwa penghancuran total bukanlah cara yang tepat
untuk memenangkan peperangan. Ia mencontohkan dalam kasus perang 1814, bagaimana
pengambilalihan wilayah musuh adalah salah satu cara efektif. Jikalau saat itu salah satu
pihak menghancurkan kota musuh dengan amat destruktif, maka hilang pula nilai kota
tersebut bagi musuh dan bagi kita. Dalam pandangan para pemikir, yang dimaksud
Clausewitz disini adalah buat musuh menyerah dengan cara menyerangnya dari sisi yang
amat ditakutinya (ini adalah teori Clausewitz yang dikenal dengan sebutan Center of
Gravity). Ketika musuh terlalu bergantung pada sesuatu, maka serang ia pada titik itu,
dan ia akan kehilangan pegangan serta menyerah.
Ada 3 (tiga) kekuatan moral yang dipandang Clausewitz amat penting dalam
penyusunan strategi dan peperangan. Yang pertama adalah kemampuan dari komandan
perang. Namun, Clausewitz menekankan bahwa kemampuan ini adalah bakat dan tidak
dimiliki oleh semua orang. Oleh karenanya, ia tidak begitu dalam membahas masalah ini.
Yang lebih penting menurutnya adalah 2 kekuatan lainnya yaitu nilai-nilai militer dari
pasukan dan perasaan nasionalisme dari seluruh elemen. Beberapa elemen dasar dari
nilai-nilai militer pasukan adalah keberanian, kemampuan teknis dari pasukan,
kemampuan untuk bertahan dalam segala situasi, dan antusiasme dalam berperang.
Namun, Clausewitz menggarisbawahi bahwa dari semua nilai-nilai yang ada, ada satu hal
yang amat penting yaitu kebanggaan akan angkatan bersenjata tempat mereka berada.
Salah satu kekuatan moral yang penting lainnya adalah ”boldness”. Bila diartikan
dalam bahasa Indonesia, ”boldness” berarti rasa tak kenal takut dan sedikit
memberontak. Dalam hal strategi perang, Clausewitz amat menekankan pada hal ini,
walaupun ia mengingatkan bahwa rasa ”nekat” ini tidak boleh sampai pada aksi
menentang perintah atau ketidaktaatan. Seperti yang diungkapkan Clausewitz, dalam
perang tidak ada yang lebih penting daripada loyalitas dan ketaatan. Oleh karenanya, ia
menempatkan ”boldness” ini pada level tinggi dan hanya bisa digunakan perwira-perwira
tinggi. Seringkali kita lihat, baik dalam kejadian nyata maupun film-film, dimana
pemimpin-pemimpin tertinggi dan komandan perang selalu melakukan sesuatu yang

4
mengejutkan dan berlawanan dengan kebiasaan. Dalam film Star Wars misalnya,
bagaimana seorang Luke Skywalker yang merupakan pemimpin gerakan pemberontak
berpura-pura tertangkap oleh musuh hanya demi membebaskan rekan-rekannya atau
dalam film Lord of The Rings: The Return of the King dimana Aragorn dengan tanpa
kenal takut memasuki wilayah kematian untuk mencari pasukan guna mengalahkan
musuhnya. Clausewitz benar-benar menghargai kekuatan dari rasa tak kenal takut dan
nekat ini karena ia menilai kekuatan ini adalah kekuatan para pahlawan.
Dari beberapa pandangan diatas, penulis menilai bahwa sebenarnya strategi-
strategi yang diungkapkan oleh Clausewitz jauh lebih praktis daripada apa yang
dikemukakan Sun Zu. Ini mungkin nampak dalam pendapatnya bahwa perang hanyalah
kelanjutan dari kebijakan suatu pihak untuk mencapai kepentingan mereka dengan cara-
cara kekerasan. Dan ia juga menilai bahwa strategi adalah penggunaan pertempuran demi
mencapai tujuan-tujuan kita. Ia juga begitu menekankan peran dari situasi dan kondisi
politik dalam mencapai kepentingan-kepentingan peperangan. Begitu pula pendapatnya
tentang kekuatan moral, dimana salah satunya adalah rasa tak kenal takut dan agak nekat
yang menjadi nilai-nilai heroik.
Setelah melihat beberapa pandangan Clausewitz tersebut, maka para pemikir
beranggapan bahwa sumbangan Clausewitz bagi studi strategis amatlah besar. Ini terkait
dengan kemampuannya mengaitkan perang dan strategi dengan politik. Bila Sun Zu
masih menilai bahwa perang itu sendiri adalah tujuan, maka Clausewitz membuka jalan
bagi pemikiran bahwa perang dan strategi sebenarnya hanyalah jalan dan cara untuk
memperoleh kepentingan-kepentingan politik. Clausewitz juga memberikan inspirasi bagi
penggunaan kekuatan moral dalam peperangan. Terkait dengan bukunya yang berjudul
On War, dalam pendahuluan dan pengantar buku tersebut, disebutkan bahwa sumbangan
Clausewitz dalam studi strategis bisa disetarakan dengan sumbangan Charles Darwin
bagi ilmu biologi. Walaupun pernyataan ini masih bisa diperdebatkan, namun mengingat
saat buku tersebut ditulis belum banyak ahli strategi yang muncul selain Sun Zu, maka
bila dibandingkan dengan Sun Zu, Clausewitz mampu membuka cakrawala baru dalam
studi strategis ini. Tidaklah mengherankan ketika pemikiran-pemikiran Clausewitz lantas
banyak diadopsi oleh ahli-ahli strategi baik militer maupun non-militer di negara-negara
Barat.

5
Pengstrat (2)
Strategi Sun Zu
* Seni Berperang oleh : Sun Zu (13 bab Strategi Militer Klasik)
1. Kalkulasi
2. Perencanaan
3. Strategi
4. Kekuatan pertahanan
5. Formasi
6. Kekuatan dan kelemahan
7. Manuver
8. Sembilan variasi
9. Mobilitas
10. Tanah lapang
11. Sembilan situasi klasik
12. Menyerang dengan api
13. Intelijen
* Isi Tiap Bab.
I. Kalkulasi
“Perang adalah urusan vital bagi negara; jalan menuju kelangsungan hidup atau
kehancuran. Oleh karena itu, mempelajari perang secara seksama adalah suatu
keharusan.”
* Lima hal yang harus dipertimbangkan dalam mempelajari peperangan :
1. Alasan moral: keyakinan rakyat dan kepentingan negara untuk tujuan bersama
2. Alam: cuaca, iklim, waktu
3. Situasi: jarak, sifat alami, kondisi fisik
4. Kepemimpinan: kebijaksanaan, kepercayaan diri, keberanian, belas kasihan
5. Disiplin: imbalan, ancaman, hukuman, logistik
II. Perencanaan
Waktu adalah uang, hindari pertempuran yang berlarut, bertempurlah agar cepat
menang. Taktik jitu menentukan nasib sebuah bangsa.
III. Strategi

6
* Perbandingan jika pasukan kita berhadapan dengan musuh :
Jika pasukan kita 10 : 1 dari musuh= kepung dan serang
Jika pasukan kita 5 : 1 dari musuh= pecahkan dan bagilah musuh lalu serang
Jika pasukan kita 2 : 1 dari musuh= menyerang dari 2 arah
Jika pasukan kita 1 : 1 dari musuh= dahului perang
Musuh sedikit lebih besar bertahan.
Musuh lebih besar berkelit dari serangan.
Musuh jauh lebih besar, mundur.
* Lima cara untuk menang :
1. Tahu saat perang dan tidak berperang
2. Tahu memanfaatkan kekuatan pasukan
3. Rebut simpati dan dukungan rakyat
4. Tunggu untuk antisipasi yang belum siap
5. Perwira cakap menjadi komandan yang tanpa campur tangan pemerintah
* Mengenal lawan dan diri sendiri :
1. Tahu kekuatan sendiri dan musuh untuk mampu masuk dalam peperangan tanpa
ancaman bahaya. (TKS & TKM: 100%)
2. Tahu kekuatan sendiri dan tak tahu kekuatan musuh memberikan kesempatan
menang hanya separonya. (TKS & TTKM: 50%)
3. Tak tahu kekuatan sendiri dan musuh akan kalah. (TTKS & TTKM: 0%)
IV. Kekuatan pertahanan
* Alasan menyusun strategi :
1. Kita harus berjuang keras agar tidak kalah
2. Musuh yang harus terlebih dahulu membuat kesalahan besar baru kita
mengalahkannya
3. Kita tak bisa bilang kalau kita tak akan kalah tapi kita tak bisa memastikan musuh
akan membuat kesalahan sehingga kita meraih kemenangan, orang bisa tahu cara
untuk menang tapi tidak bisa memastikan akan memperoleh kemenangan
4. Yang merasa tidak yakin menang akan bertahan
5. Yang merasa akan menang maka menyeranglah
6. Mereka yang cakap dalam bertahan seolah-olah tak tampak oleh musuh

7
7. Mereka yang cakap dalam hal bertahan akan menang bila tiba saatnya untuk
menyerang
V. Formasi
* Penyergapan tiba-tiba, konfrontasi langsung:
1. Atur pasukan (organisasi) besar dan kecil
2. Komando (komunikasi) pasukan besar dan kecil
3. Pasukan besar
* Hakikat kejutan:
1. Perang adalah konfrontasi lansung
2. Pasukan yang melakukan kejutan akan menang
Serangan tiba-tiba dan kofrontasi langsung ada dalam peperangan, kombinasi
keduanya membuat suatu variasi perang.
Kesiagaan
Gerakan
VI. Kekuatan dan kelemahan
* Inisiatif :
1. Pasukan pertama mengambil posisi yang fleksibel
2. Pasukan akhir ikut perang walau dalam keadaan kelelahan
3. Perwira melakukan gertakan mental
4. Umpan untuk mencapai tujuan yang dimaksud
5. Gertakan ke musuh
6. Ganggu musuh
* Mengacaukan musuh :
1. Buat kegaduhan (kacaukan perhatian)
2. Serang satu arah
VII. Manuver
* Keuntungan dan kerugian dalam manuver dan mobilitas:
1. Amankan perbekalan
2. Pasukan yang lincah maju terus tanpa istirahat
3. Organisir pasukan
4. Negara netral tidak boleh masuk dalam persekutuan

8
5. Jangan berperang yang belum pernah kita tahu kondisinya
6. Manfaatkan orang asli wilayah sebagai pemandu arah
VIII. Sembilan variasi
1. Jangan sekali-kali mencari perlindungan disuatu wilayah yang tidak aman
2. Jangan mengabaikan basa-basi diplomasi dalam meminta simpati suatu negara
3. Jangan menunda suatu perjalanan pada saat suatu gerakan justru sulit dilakukan
4. Dalam situasi penuh bahaya, rencanakan untuk meloloskan diri secepat mungkin
5. Saat situasi sulit, bertempurlah sampai titik darah penghabisan
6. Ada rute perjalanan yang harus dihindari dan dilintasi agar dapat mengubah
keadaan yang serba terbatas untuk memberikan peluang yang besar
7. Biarkan musuh meloloskan diri sebagian walau punya kemampuan mengejar,
pikirkan serangan berikutnya
8. Untuk menghancurkan angkatan bersenjata, jangan terperdaya dengan kemudahan
merebut kota
9. Jika perintah penguasa negara tidak mendukung kemajuan perang yang sedang
berlangsung maka abaikan saja
IX. Mobilitas
* Penyebaran :
1. Ketika bergerak maju, jangan melalui punggung gunung/ bukit tapi lewat lembah
2. Naik dataran yang lebih tinggi untuk tahu posisi yang paling menguntungkan
menyerang dan bertahan
3. Jika musuh di dataran yang lebih tinggi, jangan sekali-kali melayani/ mendahului
serangan
4. Segera seberangi sungai, jadi musuh tidak ambil kesempatan (jangan serang
musuh saat musuh di sungai) seranglah musuh saat baru menapakkan kaki di
daratan ketika separo kekuatan ada di sungai
5. Dataran lebih tinggi lebih baik daripada sungai
6. Jangan menyerang musuh dihulu sungai
7. Bila bertempur ditempat berawa, tetaplah bertahan dekat dengan tepi rawa yang
berumput

9
8. Lebih bagus lagi bila dibelakang pasukanmu terdapat pepohonan, ini strategi
untuk bertempur di daerah rawa
9. Pertempuran di tanah datar, maka letakkanlah di tanah yang datar
X. Tanah lapang/ Medan
* Tipe tanah lapang/ medan pertempuran:
1. Mudah dilalui
2. Sulit dilalui
3. Netral: sama-sama sulit menyerang
4. Sempit
5. Berbahaya
6. Jangkaun jauh
XI. Sembilan situasi klasik
1. Biasa-biasa: berada di wilayah sendiri
2. Sederhana: wilayah musuh
3. Kritis: posisi yang sama-sama punya 2 pihak
4. Terbuka: wilayah yang dapat dimiliki 2 pihak
5. Memegang komando: untuk merebut posisi strategis, komando semua daerah
6. Serius: di dalam wilayah musuh
7. Berbahaya: wilayah yang tidak aman dan sukar
8. Sulit: wilayah yang merupakan jalur masuk dan keluar
9. Putus asa: terpojok
XII. Menyerang dengan api
* Lima serangan ganas :
1. Bakar pasukan musuh
2. Rebut atau hancurkan perbekalan mereka
3. Sarana transportasi diganggu
4. Gudang senjata dihancurkan
5. Jalur perbekalan di rusak
Serang saat musim panas dan kering atau malam hari ketika angin berhembus kencang.
XIII. Intelijen
* Jenis mata-mata :

10
1. Penduduk setempat lawan
2. Perwira militer dalam dewan istana
3. Mata-mata yang beralih haluan tetapi dapat dibeli
4. Mata-mata pembawa kematian: tawanan yang diinterogasi
5. Mata-mata pembawa kepastian: membawa informasi dengan selamat
Upah yang besar bagi mata-mata

11
Pengstrat (3)
Strategi Perang Gerilya
Gerilya merupakan terjemahan dari bahasa Spanyol, yaitu guerrilla yang secara
harafiah berarti perang kecil.
Gerilya adalah salah satu strategi perang yang dikenal luas, karena banyak
digunakan selama perang kemerdekaan di Indonesia pada periode 1950-an. Jendral A.H.
Nasution yang pernah menjabat pucuk panglima Tentara Nasional Indonesia, Angkatan
Darat (TNI-AD) menuliskan di buku "Pokok-pokok Gerilya".
Menurut kabar, buku ini masih tetap menjadi bahan acuan untuk pendidikan
gerilya dan anti-gerilya di West Point ("AKABRI" nya Amerika).
Kalau dilihat dari isi buku ini, sebenarnya masih sangat layak untuk
dikembangkan terus konsep dari pokok-pokok gerilya dikaitkan dengan kondisi bangsa
Indonesia saat ini. Sayangnya, buku ini hanya menjadi bagian sejarah saja, padahal diakui
atau tidak, Perang Kemerdekaan Indonesia I dan II tidak kalah dahsyatnya dengan Perang
Dunia II dari sisi strategi militer, ekonomi, budaya, dan politik. TNI saat ini lebih banyak
mengambil konsep konsep “perang modern” dibandingkan mengembangkan terus konsep
“warisan” pendahulunya. Tidak heran, TNI menjadi tidak kuat dan citranya sudah jauh
menurun dibandingkan dengan kondisi pada saat Perang Kemerdekaan I dan II.
Berikut ini adalah isi dari buku karangan Jendral A.H Nasution yang berjudul
“Pokok-pokok Gerilya”.
* Pokok-Pokok Gerilya
I. Pokok-Pokok Gerilya
1. Peperangan abad ini adalah perang rakyat semesta
2. Perang Gerilya adalah perang si kecil/ si lemah melawan si besar /si kuat
3. Perang Gerilya tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan terakhir,
Perang Gerilya hanya untuk memeras darah musuh, kemenangan terakhir
hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang biasa, karena hanya
tentara demikianlah yang dapat melakukan offensif yang dapat menaklukkan
musuh
4. Perang Gerilya biasanya adalah perang ideologi. Perang Gerilya adalah
perang rakyat semesta

12
5. Akan tetapi Perang gerilya tidak berarti bahwa seluruh rakyat
bertempur
Perang Gerilya adalah adalah perang rakyat semesta, perang
militer, politik, sosial-ekonomi dan psikologis
6. Perang Gerilya tidak boleh sembarang Gerilyaisme
7. Gerilya berpangkalan dalam rakyat. Rakyat membantu merawat dan
menyembunyikan gerilya, serta menyidik untuk keperluannya
8. Gudang Senjata gerilya adalah gudang senjata musuh
9. Menyimpulkan strategi dan taktik gerilya
a. Tentara regulerlah yg dapat membawa keputusan hasil perang
b. Gerilya hanya :
 Mengikat dan melelahkannya
 Memeras darah keringat urat syarafnya dimana saja dia berada
 Siasat gerilya adalah mengikat musuh sebanyak mungkin, melelahkan,
memeras darah dan keringantnya sebanyak mungkin
 Gerilya adalah: muncul-menghilang, mondar-mandir dimana-mana,
sehingga bagi musuh, dia tidak dapat dicari dimanapun, tapi dapat
dirasakan menggempur dimana-mana
 Siasat Gerilya: untuk memaksa musuh tersebar kemana-mana
menjadi immobil sebanyak-banyaknya dan terpaksa mengadakan
perbentengan yang tetap
 Salah kalau organisasi pemerintah gerilya bersifat statis
10. Syarat pokok perang gerilya ialah rakyat yang membantu, ruangan
geografis yang cukup dan adanya perang yang lama
Perlu rakyat yang:
 Kuat batinnya
 Kuat ideologinya
 Kuat semangat kemerdekaannya
 Kuat semangat perjuangannya
 Tabah menderita kesengsaraan perjuangan

13
11 Perang rakyat yang total memerlukan pimpinan yang total pula, dan bukan
saja pada puncak nasional melainkan juga pada daerah-daerah gerilya
terbawah
Siasat perang total:
 Militer
 Politik
 Ekonomis
 Psikologis
 Sosial
12. Perang anti-gerilya harus menuju kepada memisah gerilya dari rakyat
pangkalannya, dan karena itu lebih harus mengutamakan gerakan politik,
psikologis dan ekonomis. Gerilya harus dilawan dengan senjata-senjatanya
sendiri, kegiatan offensif, kemampuan yang mobil dan fleksibel
13. Sari-sari pengalaman Gerilya "Tentara Pembebasan Rakyat Cina" wujud perang si
kecil melawan si besar
2. Gerilya dan Perang Kita yang Akan Datang
1. Sediakan payung sebelum hujan
2. Buat 10 tahun atau lebih, gerilya adalah pokok dalam pertahanan kita
3. Masa sekarang dan tahun-tahun yang akan datang kita masih tetap dalam
alam anti-gerilya
Gerilya berakar dari rakyat, anti-gerilyanya haruslah pertama-tama
menghilangkan akar-akar itu dari dalam rakyat
 Bagaimana si anti-gerilya dapat menawan hati rakyat kembali?
 Bagaimana ia dapat menumbuhkan kepercayaan dan simpati kembali?
 Bagaimana si anti-gerilya dapat menimbulkan ideologi yang lebih tinggi lagi?
4. Perang gerilya kita yang lalu dalam arti militer masih tahap yang pertama
5. Kita harus selekas mungkin membangun tentara reguler yang sebenarnya
Mao Tse Tung (Mo Zedong) “Dalam strategi kita satu lawan sepuluh, tapi dalam
taktik sepuluh lawan satu.”

14
Walaupun kita lebih kecil dari musuh, namun kita mencari sasaran-sasaran
dimana kita dengan konsentrasi sementara memperoleh kelebihan yang mampu
menghancurkan bagian musuh yang kecil dan terputus.
6. Organisasi dan pendidikan buat perang gerilya yang akan datang:
 Tiga lapisan
 Perlawanan tentara
 Perlawanan partisan (gerilya rakyat)
 Pertahanan rakyat sipil
7. Pimpinan dan pembangunan gerilya harus regional (sifat "wehrkreise")
8. Tentara gerilya adalah pelopor perang ideologi yang biasanya ideologi
politik
9. Sistem tentara rakyat dan gerilya
10. Penyelesaian keamanan dalam negeri adalah tugas tentara nomor satu
buat tahun-tahun pertama

15
Pengstrat (4)
36 Strategi
Tiga Puluh Enam Strategi yang juga dikenal dengan sebutan Tiga Pulu Enam
Taktik, merupakan sajak Cina yang mengulas taktik-taktik kemiliteran. Buku ini memuat
36 skenario perang dalam sejarah Cina pada Zaman Negara-negara Berperang dan Zaman
Tiga Negara. Tiga Puluh Enam Strategi ini lebih banyak disampaikan sebagai cerita dari
mulut ke mulut daripada didokumentasikan secara tertulis. Meskipun demikian, banyak
penulis di Cina yang berusaha mengompilasikan “36 Stretegi” ini dari berbagai cerita
turun-menurun.
* Strategi untuk Menang
Strategi 1: Perdaya Langit untuk melewati Samudera. Bergerak di kegelapan dan
bayang-bayang hanya akan menarik kecurigaan. Untuk memperlemah pertahanan musuh
bertindaklah di tempat terbuka dengan menyembunyikan maksud tersembunyi anda.
Strategi 2: Kepung Wei untuk menyelamatkan Zhao. Ketika musuh terlalu kuat untuk
diserang, seranglah sesuatu yang berharga yang dimilikinya. Seranglah sesuatu yang
berhubungan atau dianggap berharga oleh musuh untuk melemahkannya secara
psikologis.
Strategi 3: Pinjam tangan seseorang untuk membunuh. Serang dengan menggunakan
kekuatan pihak lain. Perdaya sekutu untuk menyerang musuh, sogok tentara musuh
menjadi pengkhianat, atau gunakan kekuatan musuh untuk melawan dirinya sendiri.
Strategi 4: Buat musuh kelelahan sambil menghemat tenaga. Rencanakan waktu dan
tempat pertempuran terlebih dahulu. Dengan cara ini, anda akan tahu kapan dan di mana
pertempuran akan berlangsung, sementara musuh anda tidak. Dorong musuh anda untuk
menggunakan tenaga secara sia-sia sambil menghemat tenaga. Saat ia lelah dan bingung,
seranglah.
Strategi 5: Merompak sebuah rumah yang terbakar. Saat musuh mengalami konflik
internal, inilah waktunya untuk menyerang.
Strategi 6: Berpura-pura menyerang dari timur dan menyeranglah dari barat.
* Strategi Berhadapan dengan Musuh
Strategi 7: Buatlah sesuatu untuk hal kosong. Buatlah tipu daya 2 kali. Setelah beraksi
terhadap tipuan pertama dan kedua, musuh akan ragu-ragu untuk bereaksi pada tipuan

16
yang ketiga. Namun tipuan ketiga adalah serangan sebenarnya untuk menangkap musuh
saat pertahanannya lemah.
Strategi 8: Secara rahasia pergunakan lintasan Chen Chang. Serang musuh dengan dua
kekuatan konvergen. Yang pertama adalah serangan langsung dan yang kedua secara
tidak langsung dimana musuh tidak menyangka dan membagi kekuatannya sehingga
akhirnya mengalami kebingungan.
Strategi 9: Pantau api yang terbakar sepanjang sungai. Tunda untuk memasuki wilayah
pertempuran sampai seluruh pihak yang bertikai mengalami kelelahan akibat
pertempuran yang terjadi antara mereka. Kemudian serang dengan kekuatan penuh dan
habiskan.
Strategi 10: Pisau tersarung dalam senyum. Puji dan jilat musuh anda. Ketika mendapat
kepercayaan darinya, mulailah melawan secara diam-diam.
Strategi 11: Pohon kecil berkorban untuk pohon besar. Ada suatu keadaan dimana anda
harus mengorbankan tujuan jangka pendek untuk mendapatkan tujuan jangka panjang. Ini
adalah strategi kambing hitam dimana seseorang akan dikorbankan untuk menyelamatkan
yang lain.
Strategi 12: Mencuri kambing sepanjang perjalanan. Sementara tetap berpegang pada
rencana, anda harus cukup fleksibel untuk mengambil keuntungan dari tiap kesempatan
yang ada sekecil apapun.
* Strategi Penyerangan
Strategi 13: Kagetkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya. Ketika anda tidak
mengetahui rencana lawan secara jelas, serang dan pelajari reaksi lawan.
Strategi 14: Pinjam mayat orang lain untuk menghidupkan kembali jiwanya. Ambil cara
yang telah dilupakan atau tidak digunakan lagi. Hidupkan kembali sesuatu dari masa lalu
dengan memberinya tujuan baru.
Strategi 15: Permainkan harimau untuk meninggalkan sarangnya. Jangan pernah
menyerang secara langsung musuh yang memiliki keunggulan akibat posisinya yang
baik. Permainkan mereka untuk meninggalkan sarangnya sehingga mereka akan terjauh
dari sumber kekuatannya.
Strategi 16: Pada saat menangkap, lepaslah satu orang. Mangsa yang tersudut biasanya
akan menyerang secara membabi buta. Untuk mencegah hal ini, biarkan musuh percaya

17
bahwa masih ada kesempatan untuk bebas. Hasrat mereka untuk menyerang akan
teredam dengan keinginan untuk melarikan diri. Ketika pada akhirnya kebebasan yang
mereka inginkan tersebut tak terbukti, moral musuh akan jatuh dan mereka akan
menyerah tanpa perlawanan.
Strategi 17: Melempar Batu Bata untuk mendapatkan Giok. Persiapkan sebuah jebakan
dan perdaya musuh anda dengan umpan seperti kekayaan, kekuasaan, dan wanita.
Strategi 18: Kalahkan musuh dengan menangkap pemimpinnya. Jika tentara musuh kuat
tetapi dipimpin oleh komandan yang mengandalkan uang dan ancaman, maka ambil
pemimpinnya. Sisa pasukannya akan terpecah belah atau menyerah.
* Strategi Membingungkan
Strategi 19: Jauhkan kayu bakar dari tungku masak. Ketika berhadapan dengan musuh
yang sangat kuat untuk dihadapi secara langsung, lemahkan musuh dengan meruntuhkan
dasarnya dan menyerang sumberdayanya.
Strategi 20: Memancing di air keruh. Sebelum menghadapi pasukan musuh, buatlah
sebuah kekacauan untuk memperlemah persepsi dan pertimbangan mereka.
Strategi 21: Mepaskan kulit serangga. Ketika anda dalam keadaan tersudut dan anda
hanya memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan harus menyatukan kelompok,
buatlah sebuah tipuan. Sementara perhatian musuh terfokus atas muslihat yang dilakukan,
pindahkan pasukan anda secara rahasia di belakang muka anda yang terlihat.
Strategi 22: Tutup pintu untuk menangkap pencuri. Jika anda memiliki kesempatan
untuk menangkap seluruh musuh maka lakukanlah, sehingga dengan demikian
pertempuran akan segera berakhir. Membiarkan musuh untuk lepas akan menanam bibit
dari konflik baru.
Strategi 23: Berteman dengan negara jauh dan serang negara tetangga. Ketika anda
adalah yang terkuat di sebuah wilayah, ancaman terbesar adalah dari terkuat kedua di
wilayah tersebut, bukan dari yang terkuat di wilayah lain.
Strategi 24: Cari lintasan aman untuk menjajah Kerajaan Guo. Pinjam sumberdaya
sekutu untuk menyerang musuh bersama. Sesudah musuh dikalahkan, gunakan
sumberdaya untuk berbalik menyerang sekutu.
* Strategi Pendekatan

18
Strategi 25: Gantikan balok dengan kayu jelek. Kacaukan formasi musuh, buatlah satu
hal yang berlawanan dengan latihan standarnya. Dengan cara ini anda telah meruntuhkan
tiang-tiang pendukung yang diperlukan oleh musuh dalam membangun pasukan yang
efektif.
Strategi 26: Lihat pada pohon murbei dan ganggu ulatnya. Untuk mendisiplinkan,
mengawal, dan mengingatkan suatu pihak yang status atau posisinya di luar konfrontasi
langsung; gunakan analogi atau sindiran. Tanpa langsung menyebut nama, pihak yang
tertuduh tidak akan dapat memukul balik tanpa keberpihakan yang jelas.
Strategi 27: Pura-pura menjadi seekor babi untuk memakan harimau. Sembunyi di balik
topeng kebodohan untuk menciptakan kebingungan atas tujuan dan motivasi anda. Tipu
lawan anda ke dalam sikap meremehkan kemampuan anda sampai pada akhirnya terlalu
yakin akan diri sendiri sehingga menurunkan level pertahanannya.
Strategi 28: Jauhkan tangga ketika musuh telah sampai di atas. Biarlah musuh mengacau
ke daerah anda. Kemudian putus jalur komunikasi dan jalan untuk melarikan diri. Lalu
serang sekuat tenaga.
Strategi 29: Hias pohon dengan bunga palsu. Dengan menggunakan muslihat dan
penyamaran akan membuat sesuatu yang tak berarti tampak berharga; tak mengancam
kelihatan berbahaya.
Strategi 30: Buat tuan rumah dan tamu bertukar tempat. Kalahkan musuh dari dalam
dengan menyusup ke dalam benteng lawan di bawah muslihat kerjasama. Dengan cara ini
anda akan menemukan kelemahan dan kemudian saat pasukan musuh sedang beristirahat,
serang secara langsung pertahanannya.
* Strategi Kalah
Strategi 31: Jebakan indah. Kirim musuh anda umpan yang akan menyebabkan
perselisihan di basis pertahanannya. Jebakan ini terutama menggunakan wanita.
Strategi 32: Kosongkan benteng. Perangkap psikologis, benteng yang kosong akan
membuat musuh berpikir bahwa benteng tersebut penuh perangkap.
Strategi 33: Biarkan mata-mata musuh menyebarkan konflik di wilayah pertahanannya.
Gunakan mata-mata musuh untuk menyebarkan informasi palsu.
Strategi 34: Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh. Berpura-pura
terluka akan mengakibatkan dua kemungkinan: musuh akan bersantai sejenak karena

19
tidak melihat anda sebagai ancaman serius; kedua, jalan untuk menjilat musuh anda
dengan berpura-pura luka oleh sebab musuh merasa aman.
Strategi 35: Ikat seluruh kapal musuh secara bersamaan. Jangan pernah bergantung pada
satu strategi.
Strategi 36: Larilah untuk bertempur di lain waktu. Ketika pihak anda mengalami
kekalahan, hanya ada tiga pilihan: menyerah, kompromi, atau melarikan diri. Menyerah
adalah kekalahan total, kompromi adalah setengah kalah, tapi melarikan diri bukanlah
sebuah kekalahan. Selama tidak kalah, anda masih memiliki kesempatan menang!

20
Pengstrat (5)
Strategi Serangan
* Operasi Darat
* Serangan Frontal
Serangan frontal adalah serangan yang secara langsung ditunjukkan kepada
seluruh kelebaran garis depan kekuatan militer musuh. Biasanya serangan frontal
dilakukan kalau penyerang menganggap memiliki kekuatan yang cukup banyak
mengungguli kekuatan musuhnya, yaitu paling sedikit tiga kali lipat.
Dengan serangan frontal, penyerang bermaksud menggulung kekuatan pertahanan
sehingga tujuan serangan tercapai. Contoh serangan frontal sebagai operasi darat adalah
serangan pasukan Korea Utara terhadap Korea Selatan pada tahun 1950 yang menyulut
Perang Korea.
Sekarang, pada umumnya serangan frontal tidak dilakukan tersendiri, melainkan
digabung dengan pola serangan lain.
* Serangan Melambung
Serangan melambung adalah serangan yang dilakukan dengan menggerakkan
pasukan penyerang mengitari salah satu lambung garis pertahanan musuh, kemudian
menyerangnya di lambung tersebut sebagai titik berat serangan. Pada saat bersamaan, ada
pasukan lain yang menyerang garis depan musuh secara ringan untuk melakukan
penipuan, seakan-akan titik berat serangan tertuju ke garis depan. Serangan dapat juga
dilakukan terhadap kedua lambung pertahanan musuh, dinamakan serangan melambung
rangkap (double envelopment).
Contoh serangan melambung adalah serangan Letnan Jendral Erwin Rommel
ketika merebut kota Tobruk di Afrika bagian utara pada tahun 1941.
* Serangan Melingkar (Encirclement)
Serangan melingkar adalah serangan yang didahului manuver atau gerakan ke
bagian belakang pertahanan musuh dan kemudian menyerangnya dari belakang. Seperti
dalam serangan melambung, ada penipuan dengan menggerakkan pasukan seperlunya
untuk menghadapi garis depan pertahanan musuh.
Contoh serangan melingkar adalah ofensif permulaan Jerman terhadap pasukan
Prancis dalam PD I.

21
* Serangan Penetrasi
Serangan Penetrasi adalah serangan dengan kekuatan utama pasukan lapis baja
(tank) yang menembus pertahanan musuh dari depan pada titik tertentu, kemudian
memanfaatkan lubang dalam pertahanan itu untuk menggerakkan pasukan lapis baja
menembus garis pertahanan dengan cepat. Yang pertama menggunakan cara serangan ini
adalah Jerman dalam PD II.
* Serangan Perembesan
Serangan perembesan adalah serangan yang menggerakkan pasukan penyerang
melalui lubang-lubang (gap) pertahanan musuh dalam kelompok-kelompok relatif kecil,
kemudian kelompok itu bergabung di tempat yang telah ditentukan di belakang daerah
pertahanan musuh dan menyerang musuh dari belakang.
Contoh serangan perembesan adalah serangan pasukan Cina terhadap pasukan
Amerika dalam Perang Korea, ketika pasukan Amerika di bawah pimpinan Jendral
Douglas Mc Arthur berhasil maju sepanjang jazirah Korea dan mendekati perbatasan
dengan Cina.
* Serangan Lintas Udara
Serangan lintas udara adalah serangan yang dilakukan dengan menerjunkan
pasukan di tempat tertentu, biasanya di daerah belakang atau lambung pertahanan musuh,
dan kemudian menyerang sasaran-sasaran vital dalam pertahanan musuh. Biasanya
serangan lintas udara dibarengi dengan serangan penetrasi melintasi darat yang kemudian
mengadakan link-up dengan pasukan lintas udara.
Serangan ini merupakan operasi gabungan kekuatan darat dan udara. Angkatan
udara mengangkut pasukan angkatan darat sampai di atas daerah penerjunan, tempat
pasukan darat terjun dari pesawat angkut angkatan udara. Contoh serangan lintas udara
yang paling menonjol adalah yang dinamakan Operation Market Garden yang dilakukan
pasukan AS dan sekutunya dalam PD II.
* Serangan Pendaratan Amfibi
Serangan pendaratan amfibi adalah serangan yang dilakukan dengan mendaratkan
pasukan di pantai wilayah musuh untuk membangun tumpuan pantai (beachhead) sebagai
pangkalan ofensif terhadap pertahanan musuh. Serangan seperti itu merupakan operasi
bersama antara kekuatan darat dengan dibantu kekuatan udara. Kekuatan darat dapat

22
terdiri atas pasukan marinir atau pasukan angkatan darat atau gabungan marinir dan
angkatan darat.
Kekuatan udara dapat terdiri atas kekuatan udara angkatan laut atau angkatan
udara atau gabungan dari dua angkatan. Pasukan pendarat diangkut angkatan laut sampai
ke depan pantai pendaratan dan didaratkan dengan menggunakan sekoci pendarat
angkatan laut. Contoh paling menonjol adalah amfibi Sekutu Barat di Pantai Normandie
(Prancis Barat) yang dinamakan Overlord Operation pada bulan Juni 1944 di bawah
pimpinan Jendral Dwight Eisenhower.
* Serangan Dalam
Serangan dalam adalah serangan gabungan kekuatan darat dan kekuatan udara
yang dilakukan dengan penembakan peluru kendali jauh ke dalam daerah pertahanan
musuh, diikuti dengan serangan udara dan serangan pendaratan amfibi, dan dilanjutkan
dengan serangan penetrasi serta serangan lintas udara.
Konsep serangan ini lahir ketika berkembang RMA yang diterapkan dalam
konsep untuk menghadapi kemungkinan serangan Uni Soviet di Eropa Barat. Para pakar
taktik AS berpikir bahwa menghadapi konsep serangan darat Uni Soviet di Eropa Barat
tidak dapat dengan cara pertahanan biasa sebab Uni Soviet berencana menyerang dalam
bentuk gelombang.
Mungkin saja pertahanan AS dapat menahan serangan gelombang pertama, tetapi
lama kelamaan akan kehabisan tenaga menghadapi gelombang ketiga atau keempat. Oleh
sebab itu, harus secara dini dilakukan serangan balasan yang tertuju ke posisi gelombang
kedua dan ketiga di daerah belakang Uni Soviet dan menghancurkan atau
melumpuhkannya.
Serangan AS ke Irak pada tahun 2003 merupakan contoh pertama dalam sejarah
yang memperaktikkan konsep serangan dalam dengan memanfaatkan segala kemajuan
teknologi yang dapat digunakan. Tujuan serangan adalah mencapai sasaran serangan
secepat mungkin dengan sesedikit mungkin kehilangan korban, terutama manusia.
Dengan sendirinya, serangan juga berusaha meniadakan kemungkinan operasi
pertahanan.
* Operasi Laut
* Penguasaan Laut

23
Operasi di laut merupakan bagian penting dari pernyataan dari perang atau
strategi, baik itu serangan ataupun pertahanan. Lautan diperlukan untuk dapat membawa
kekuatan perang ke daerah-daerah lain di seberang lautan. Oleh sebab itu, setiap pihak
berusaha menguasai lautan dan untuk itu membangun armada yang besar dan kuat. Di
masa lalu, Spanyol, Belanda, dan Inggris berhasil meluaskan daerah kekuasaan ke
seberang lautan dan membangun daerah jajahan yang membuat negaranya kaya dan
sejahtera.
Itu semua tercapai karena negara-negara itu pada zamannya berhasil membangun
armada kuat yang menguasai lautan. Kalau ada negara yang berarmada kuat, negara lain
yang hendak menguasai lautan akan membangun armadanya untuk menantang armada
negara pertama. Itulah yang mengakibatkan terjadinya pertempuran di masa lalu.
Sekalipun sebelumnya armada Spanyol dan Belanda terkenal kekuatannya,
akhirnya pada permulaan abad ke-20 yang mendominasi lautan dunia adalah Inggris.
Ketika Jerman pada permulaan abad ke-20 hendak muncul sebagai kekuatan dunia, ia
pun membangun armada untuk mengakhiri dominasi armada Inggris. Pertempuran laut
terjadi dalam PD I, yaitu Pertempuran Laut Jutland. Akan tetapi, armada Jerman tidak
berhasil merebut kemenangan dan Inggris tetap menguasai dunia.
* Interdiksi atau Guerre de Course
Yang tidak kalah pentingnya dalam usaha penguasaan laut adalah interdiksi atau
guerre de course. Dulu, pihak yang merasa armadanya kurang kuat untuk melawan
musuh dalam pertempuran laut melakukan interdiksi.
Itu adalah gerakan berupa raid dengan kapal perang yang bergerak sendiri
terhadap kapal-kapal dagang musuh. Yang menjadi tujuan adalah mengganggu sejauh
mungkin keleluasaan musuh dalam penggunaan lautan. Dalam PD I, dikenal peran kapal
jelajah Jerman, Emden, yang membuat lalu lintas Samudera Hindia tidak aman bagi
Inggris.
* Blokade
Penguasaan laut di masa lalu juga memanfaatkan blokade yang dilakukan
terhadap pelabuhan-pelabuhan penting musuh. Blokade dilakukan dengan menggunakan
kapal perang yang berjaga di depan pelabuhan atau dipasang lapangan ranjau yang
menimbulkan kekhawatiran kapal angkut musuh yang mau masuk atau keluar pelabuhan.

24
Di masa kini, tindakan seperti itu masih dapat terjadi kalau ada negara besar
hendak memaksakan kemauannya terhadap negara kecil. Sebelum menyerang Irak, AS
melakukan blokade untuk menjamin bahwa Irak tidak dapat mengekspor minyaknya
tanpa diketahui AS dan tidak dapat mengimpor bahan keperluannya.
* Operasi di Udara
* Penguasaan Udara
Penguasaan udara amat penting untuk menjamin kebebasan beroperasi, baik di
darat, laut maupun udara. Oleh sebab itu, negara yang berambisi menyerang biasanya
membangun kekuatan udara seampuh mungkin.
Kekuatan udara menyerang semua kemungkinan pihak musuh untuk menguasai
udara. Pangkalan kekuatan udara musuh diserang dan pesawat terbang yang ada di
pangkalan itu sebanyak mungkin dihancurkan.
Pusat komando, fasilitas logistik, serta perhubungan pun mengalami perlakuan
sama. Kalau musuh berhasil mengudarakan pesawatnya untuk melawan serangan,
kekuatan udara musuh itu harus dimusnahkan.
Yang juga menjadi sasaran serangan adalah kemampuan musuh melakukan
pertahanan udara dari darat dengan menggunakan rudal, meriam dan mitraliur. Agar
musuh tidak mampu membangun kembali kekuatan udara yang sudah hancur, semua
industrinya juga harus diserang.
Melihat sifat dan jarak letak sasaran, serangan udara dibedakan antara serangan
udara strategis dan serangan udara taktis. Serangan udara strategis erat hubungannya
dengan teori Douhet, yaitu berusaha menghancurkan kemampuan musuh untuk berperang
sehingga musuh dipaksa menyerah.
Dalam sejarah hal itu hanya sekali terjadi, yaitu ketika Jepang menyerah dalam
PD II karena pimpinan negaranya tidak tahan melihat rakyatnya menderita akibat
pengeboman dengan bom atom. Sekalipun teori Douhet kurang didukung kenyataan,
serangan udara strategis tetap bermanfaat untuk mengurangi kemampuan perang musuh.
Konsep strategi nuklir, yaitu penembakan rudal balistik untuk menyerang negara
musuh, baik rudal antar-benua (ICBM) maupun jarak sedang (MRBM), termasuk dalam
serangan udara strategis. Serangan udara taktis lebih berhubungan dengan perebutan

25
penguasaan udara di atas daerah depan dan serangan bantuan dekat kekuatan darat dan
laut.
* Interdiksi
Dengan mencapai penguasaan udara, kekuatan udara dapat dimanfaatkan untuk
bermacam-macam fungsi, seperti menghancurkan prasarana musuh, yaitu jembatan, pusat
tenaga listrik, dan lainnya. Juga untuk melakukan serangan terhadap kegiatan logistik
musuh dari belakang ke garis depan.
* Serangan Bantuan Dekat
Kekuatan udara juga dioperasikan untuk mendukung operasi darat dan laut atas
permintaan pasukan darat dan kekuatan laut. Diperlukan koordinasi yang baik dan erat
antara ketiga kekuatan agar bantuan dekat dari udara datang sesuai permintaan dan
menyerang sasaran yang dikehendaki pihak yang minta bantuan.
Yang amat menonjol adalah peran kekuatan udara dalam mendukung gerakan
maju pasukan tank dalam operasi darat penetrasi. Serangan udara itu tidak hanya
menghancurkan perlawanan antitank musuh, tetapi juga amat besar dampaknya dalam
menciptakan kegaduhan dan kekacauan di daerah belakang musuh sehingga meruntuhkan
semangat perlawanannya.
Peran kekuatan udara dalam pertempuran laut juga menonjol dengan menyerang
kapal induk musuh, seperti ditujukan dalam pertempuran laut Midway. Hal lain yang juga
besar dampaknya adalah kerjasama antara pasukan kapal selam Jerman dengan kekuatan
udaranya yang berpangkalan di darat untuk menyerang angkutan laut Sekutu di Samudera
Atlantik dalam PD II. Tidak sedikit kapal Inggris yang tenggelam karena serangan itu dan
hampir mencekik daya tahan masyarakat Inggris.

26
Pengstrat (6)
Strategi Pertahanan
* Bentuk Operasi Pertahanan
* Operasi di Darat
* Pertahanan Linier
Pertahanan linier adalah pertahanan satu atau dua garis, tanpa ada kedalaman
yang berarti. Bentuk pertahanan ini boleh dikatakan sebagai yang paling sesuai dengan
naluri manusia yang ingin mempertahankan dan menyelamatkan segala hal yang ia
miliki. Biasanya dilakukan untuk memanfaatkan kondisi medan, seperti sungai yang
dalam dan cukup lebar yang melintasi wilayah yang akan dimasuki penyerang.
Dalam bentuknya yang modern, pertahanan linier dapat berupa pertahanan depan
(forward defense) sebagaimana direncanakan NATO dalam menghadapi kemungkinan
serangan Uni Soviet dalam Perang Dingin. Dengan menempatkan pertahanan depan
sebagai strategi pertahanan Eropa Barat, NATO menjamin kepada rakyat Jerman bahwa
wilayahnya tidak akan dikorbankan secara mudah dan kurang bertanggung jawab.
Kelemahan bentuk pertahanan ini adalah kalau penyerang tidak melakukan
serangan pada front yang lebar, melainkan memusatkan serangan pada satu atau dua
poros untuk melakukan penetrasi dengan kekuatan besar. Karena tidak terjadi perang
fisik antara blok Barat dan blok Komunis, kebenaran konsep pertahanan itu tidak dapat
diuji.
* Pertahanan Elastis
Sebagai kebalikan ekstrem dari pertahanan linier dan pertahanan depan adalah
pertahanan elastis. Dalam bentuk pertahanan ini, sama sekali tidak disiapkan garis
pertahanan untuk menahan gerak maju penyerang. Sebaliknya, penyerang seakan-akan
dipersilakan bergerak masuk ke wilayah pertahanan. Pihak pertahanan tahu bahwa setiap
gerak maju ada saat maksimalnya karena pasukan penyerang memerlukan pembekalan
kembali dan konsolidasi.
Diperkirakan bahwa gerak maju penyerang tidak akan melampaui sekitar 20
kilometer. Pada saat pasukan penyerang berhenti, pasukan pertahanan yang telah
disiapkan melakukan serangan balasan.

27
Bentuk pertahanan ini memerlukan kondisi geografis yang sesuai. Hanya negara
yang wilayahnya cukup luas dan dalam yang dapat melakukan bentuk pertahanan ini.
Negara seperti Rusia dan Cina dapat melakukan bentuk pertahanan seperti ini. Akan
tetapi, itu juga memerlukan persiapan matang dalam menjaga penduduk yang tinggal di
wilayah yang seakan-akan dikorbankan tidak patah semangat.
* Pertahanan Berlapis
Konsep pertahanan ini timbul terutama setelah berkembang operasi serangan
penetrasi dengan kekuatan tank. Untuk mencegah penetrasi yang terjadi pada garis
pertahanan depan yang dimanfaatkan oleh pasukan tank, disusun garis pertahanan di
belakang pertahanan terdepan. Dari pertahanan kedua dapat diadakan penembakan
kepada pasukan musuh yang berhasil menembus pertahanan pertama.
Setiap garis pertahanan diperkuat dengan kubu; rencana tembakan langsung
termasuk anti-tank, rencana tembakan tidak langsung disertai penggalian parit anti-tank,
pemasangan lapang ranjau anti-tank dan anti-personel, dan pengaturan tembakan anti-
tank oleh tank yang ditempatkan dalam posisi tergali. Disamping itu, pasukan infanteri
yang berada di tiap garis pertahanan memegang senjata rudal atau roket anti-tank yang
menambah kemampuan menahan gerak tank.
Setelah momentum serangan dapat dihentikan oleh garis pertahanan kedua, ketiga
atau manapun, pasukan pertahanan melakukan serangan balasan dengan menggerakkan
pasukan cadangan yang disiapkan sebelumnya di daerah belakang. Dalam bentuk
pertahanan ini, kekuatan pertahanan terdiri atas berbagai cabang kesenjataan dan tidak
banyak unsur tanknya (tank heavy).
Persoalan yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pertahanan berlapis adalah
bahwa ia selalu disertai gerakan mundur ketika pasukan pertahanan harus pindah dari
lapis satu ke yang lain.
Gerakan mundur mengandung cukup banyak kesulitan kalau dikerjakan oleh
pasukan yang kurang disiplin dan terlatih karena dapat saja menjadi gerakan yang kacau
apabila pasukan kurang baik.
Hal seperti itu malah menimbulkan keadaan pertahanan yang chaotis dan dapat
terjadi demoralisasi, apalagi kalau gerakan mundur pasukan bercampur dengan rakyat
yang mengungsi atau melarikan diri dari daerah yang diserang musuh. Yang pertama

28
mengembangkan pertahanan seperti ini adalah tentara Uni Soviet ketika terjadi ofensif
Jerman pada tahun 1941 (Barbarossa Operation).
* Pertahanan Mobil
Versi lain pertahanan berlapis adalah pertahanan mobil. Bentuk pertahanan ini
biasa dilakukan oleh pertahanan yang banyak unsur tanknya. Dalam bentuk pertahanan
mobil tidak disusun garis-garis pertahanan, melainkan “pulau-pulau perlawanan” (islands
of resistance) yang menghadapi poros gerak maju musuh.
Musuh tidak semata-mata ditahan di garis depan, melainkan disalurkan dengan
menggunakan daya tembak dan daya gerak yang dikeluarkan oleh pulau perlawanan.
Pulau perlawanan terdiri atas infanteri bermotor, pasukan zeni bermotor, dan sejumlah
tank.
Bersamaan dengan usaha pulau berlawanan untuk menyalurkan gerak maju
musuh juga dilakukan tembakan altileri dengan maksud sama. Gerakan maju musuh
disalurkan sedemikian rupa agar pasukan penyerang masuk ke satu daerah yang sudah
disiapkan sebagai daerah penghancur (killing grand).
Kalau pasukan musuh sudah cukup banyak masuk daerah penghancur, diadakan
serangan balasan dengan pasukan tank pihak pertahanan.
* Pertahanan Wilayah
Pertahanan wilayah adalah pertahanan yang memanfaatkan kondisi wilayah guna
menimbulkan korban sebanyak-banyaknya pada penyerang. Dalam pertahanan wilayah,
tidak mustahil tempat-tempat tertentu dalam wilayah itu dikuasai penyerang.
Pihak yang bertahan tidak mau melakukan pertempuran yang inisiatifnya ada
pada pihak penyerang. Ia memperkirakan bahwa pertempuran yang diprakarsai
penyerang bergerak dengan kekuatan yang lebih besar jumlahnya atau memiliki
superioritas lain. Pihak bertahan menyingkir dari medan itu sehingga penyerang tidak
mencapai tujuannya.
Sebaliknya, pihak bertahan selalu mencari peluang untuk memukul pihak
penyerang dalam pertempuran yang diprakarsai pihak bertahan. Itu dilakukan dengan
merencanakan pengandangan terhadap kedudukan pasukan penyerang tanpa ada tujuan
menduduki seterusnya tempat itu, serangan terhadap perbekalan pasukan penyerang, dan
cara-cara lain yang dapat menempatkan pasukan penyerang dalam posisi kurang kuat.

29
Dalam segala usaha pihak bertahan, faktor pendadakan amat penting. Taktik
gerilya yang bersifat pukul-menghilang (hit and run tactics) memiliki peran penting
dalam pertahanan wilayah. Akan tetapi, kalau pihak bertahan pada satu saat dapat
mengosentrasi pasukan sehingga mencapai keunggulan relatif terhadap penyerang, ia
tidak segera menghilang setelah memukul.
Ia menggunakan peluang itu untuk melakukan pertempuran lebih lama dan
menimbulkan korban lebih banyak terhadap pihak penyerang.
* Operasi di Laut
* Penguasaan Laut
Baik pihak yang menjalankan strategi serangan maupun strategi pertahanan
berusaha menguasai lautan. Bagi yang menjalankan pertahanan, tentu dengan maksud
agar pihak penyerang tidak dapat menggunakan lautan sebagai jalan untuk mendekati
wilayah yang dipertahankan. Demikian pula, penting bagi pihak pertahanan bahwa ia
dapat menggunakan lautan sebagai transportasi segala macam keperluannya.
Perbedaan yang dapat dilihat antara kekuatan yang hendak menguasai lautan
sebagai pihak pertahanan dengan kekuatan yang menyerang adalah bahwa yang
mempertahankan dapat melakukan penguasaan lautan dengan cara penolakan (denial),
sedangkan yang menyerang memerlukan penguasaan atas lautan. Hal ini berakibat pada
susunan kekuatan yang dapat berbeda bagi yang bertahan dan yang menyerang.
Pihak yang menyerang memerlukan banyak kapal permukaan yang dapat
mengeluarkan banyak daya tembak yang ditujukan kepada sasaran di wilayah negara
musuhnya, seperti kapal induk, tempur, dan jelajah yang semuanya dapat mengeluarkan
daya tembak berupa pesawat terbang, peluru kendali, dan meriam.
Hal itu diperlukan karena penyerang memasuki wilayah lautan yang jauh dari
wilayah negaranya. Dengan kekuatan itu, pihak penyerang bermaksud menguasai lautan
seluas mungkin, khususnya wilayah lautan yang terletak antara negaranya sendiri dan
negara yang diserang, dan dapat menyerang sasaran di wilayah negara musuh dengan
leluasa, termasuk melakukan operasi pendaratan amfibi.
Sebaliknya, pihak pertahanan dapat menitikberatkan pada usaha menetralisasi
armada penyerang dengan menyusun lapangan ranjau yang mempersulit manuver

30
penyerang, terutama di tempat-tempat yang penting bagi pertahanan. Selain itu, pihak
pertahanan menggunakan banyak kapal-kapal permukaan pihak penyerang.
Itu adalah kapal yang relatif kecil dengan daya tembak yang banyak dan kuat,
seperti peluru kendali dan torpedo. Gerakan laut penyerang juga dapat diganggu dengan
serangan udara yang dilakukan dari pangkalan di darat.
* Pertahanan Selat
Bagi pihak pertahanan, penting untuk dapat melakukan pertahanan selat yang
efektif. Hal ini terutama penting bagi negara-negara yang memiliki banyak selat. Gerak
armada penyerang harus memasuki dan bergerak melintasi selat. Kalau ada persiapan
memadai, itu adalah peluang baik bagi pihak pertahanan untuk menghancurkannya.
Sistem senjata yang paling penting bagi pertahanan selat adalah peluru kendali
yang telah disiapkan untuk menembaki serta menguasai tempat tertentu di selat.
Penggunaan lapang ranjau juga penting untuk memaksa musuh bergerak ke arah tertentu
di selat itu dan kemudian diserang dengan rudal.
* Operasi di Udara
* Pertahanan Udara
Sebagaimana dalam penguasaan lautan, baik pihak penyerang maupun pihak
pertahanan berkepentingan merebut penguasaan udara. Disini juga ada perbedaan dalam
mencapai tujuan itu. Bagi yang melakukan pertahanan, penting untuk dapat menolak
serangan udara, baik yang dilakukan dengan serangan peluru kendali maupun dengan
pesawat terbang.
Cara utamanya adalah dengan menembak jatuh rudal musuh sebelum jatuh di
wilayah pertahanan menggunakan rudal yang tepat, selain menembak jatuh pesawat
terbang musuh menggunakan pesawat terbang dan senjata lawan udara, baik rudal
maupun meriam dan mitraliur.
Apabila penyerang menggunakan senjata nuklir, pertahanan terbaik adalah
dengan juga menembak wilayah penyerang dengan senjata nuklir sehingga baik yang
menyerang maupun diserang sama-sama mengalami banyak kehancuran.
AS juga mengembangkan pertahanan anti-rudal balistik, yaitu kemampuan
menembak jatuh rudal balistik yang membawa senjata nuklir sebelum sampai di sasaran.
* Pembangunan Perlindungan

31
Salah satu aspek penting dalam pertahanan udara adalah pembangunan
perlindungan untuk dapat meniadakan atau membatasi akibat negatif serangan udara.
Perlindungan itu terutama diperlukan untuk fasilitas atau lingkungan kerja yang bersifat
strategis, yaitu yang hasil pekerjaan atau produksinya amat mempengaruhi kelanjutan
pertahanan.
Misalnya, kantor pimpinan negara dan anggota pemerintah lainnya, markas besar
angkatan perang dan kepolisian, pusat komunikasi, pabrik-pabrik penting bagi produksi
keperluan pertahanan, dan lainnya.
* Akan tetapi, untuk keperluan masyarakat juga diperlukan pembangunan perlindungan
karena pengeboman dan serangan udara lainnya tidak membatasi diri pada sasaran
militer. Oleh sebab itu, perlu dibangun kompleks perlindungan di pusat kota tempat
banyak orang berbelanja. Bahkan, setiap rumah tangga sebaiknya membangun tempat
perlindungan.
Sebaiknya perlindungan merupakan pembangunan fasilitasi di bawah tanah
dengan lapisan beton di atasnya agar pengeboman pihak penyerang tidak mengakibatkan
dampak merugikan.
Ini terutama untuk menghadapi serangan senjata nuklir sehingga diperlukan
perlindungan yang lebih kuat dan luas, seperti yang telah dilakukan oleh Swedia dengan
membangun kompleks di bawah tanah di kota Stockholm. Di Jepang dan Cina juga ada
kompleks-kompleks luas di bawah tanah yang dibangun dengan kokoh untuk dapat
mengatasi akibat serangan nuklir.
Meskipun perlindungan itu tidak dapat meniadakan serangan udara atau serangan
nuklir, tetapi dengan memilikinya akan amat mengurangi akibat buruk serangan itu.

32
Pengstrat (7)
Keamanan dalam HI
* Konsep Keamanan dalam Konteks Hubungan Internasional
Definisi yang paling sering digunakan oleh penstudi HI adalah definisi dari Barry
Buzan yang dalam bukunya People, States, and Fear mengatakan bahwa:
“Keamanan, dalam arti objektif, mengukur tidak adanya ancaman terhadap nilai-
nilai yang diperoleh, dalam arti subjektif, tidak adanya ketakutan bahwa nilai-nilai
tersebut akan diserang" (Buzan, 1991:4).
Maka dari definisi-definisi yang telah disebutkan oleh para penstudi HI tersebut
dapat dilihat bahwa keamanan merupakan ketiadaan ancaman dari nilai-nilai yang
dibutuhkan manusia dalam menjalani kehidupannya.
Sedangkan konsep ancaman terhadap keamanan sendiri didefinisikan Ullman
sebagai:
“Sebuah tindakan atau urutan peristiwa yang (1) mengancam drastis dan lebih
dari rentang waktu relatif singkat waktu untuk menurunkan kualitas hidup penduduk
negara atau (2) mengancam signifikan untuk mempersempit rentang pilihan kebijakan
yang tersedia bagi pemerintah dari negara, atau untuk pribadi, non-pemerintah entitas
(orang, kelompok, perusahaan) dalam negara " (Ullman, 1983:133).
Sementara itu, menurut Simon Dalby, dimensi keamanan dalam studi Hubungan
Internasional telah mengalami pergeseran dari perspektif tradisional yang terbatas pada
perang dan damai menuju perspektif non-tradisional yang lebih mengedepankan human
security dan mengandung lebih banyak aspek. Keamanan tidak lagi terfokus pada
interstate relations, tetapi juga pada keamanan untuk masyarakat (Dalby, 2003:102-103).
Peter Hough mengatakan bahwa definisi mengenai keamanan masih bersifat
“contested concept”, atau sebuah konsep yang masih akan terus berkembang (Hough,
2004:15). Namun Viotti dan Kauppi telah mendefinisikan keamanan sebagai pertahanan
dan perlindungan dasar dari suatu negara, dan konsep keamanan ini berlaku untuk
individu maupun kelompok (Viotti dan Kauppi, 1999:56). Sedangkan Kamus Besar
Bahasa Indonesia mendefinisikan keamanan sebagai suatu situasi yang terlindung dari
bahaya (keamanan objektif), adanya perasaan aman (keamanan subjektif) dan bebas dari
keragu-raguan.

33
* National Insecurity
Dalam konteks sistem internasional maka keamanan adalah kemampuan negara
dan masyarakat untuk mempertahankan identitas kemerdekaan dan integritas fungsional
mereka. Untuk mencapai keamanan, kadang-kadang negara dan masyarakat berada dalam
kondisi harmoni atau sebaliknya. Dalam studi hubungan internasional dan politik
internasional, keamanan merupakan konsep penting yang selalu dipergunakan dan
dipandang sebagai ciri eksklusif yang konstan dari hubungan internasional (Buzan,1991:
2,12). Karena konsepsi keamanan nasional ini senantiasa memiliki hubungan erat dengan
pengupayaan, pertahanan dan pengembangan kekuatan atau kekuasaan sepanjang
kaitannya dengan analis hubungan internasional dan politik luar negeri, maka dalam
pengaplikasiannya selalu menimbulkan perdebatan sehingga langkah ke arah
konseptualisasinya tidak selalu berjalan seiring. Power atau kekuasaan itu sendiri secara
simplistis merupakan kemampuan satu unit politik (negara) dalam mencegah konflik dan
mengatasi rintangan-rintangan (Deutsch dalam Rosenau, 1976 :157). Secara implisit hal
ini menyimpulkan tentang terdapatnya faktor keamanan sebagai unsur yang menstimulasi
pengupayaan pencapaian dari power itu sendiri.
Penyimpulan Buzan menyebutkan bahwa aspek keamanan ini telah menjadi satu
pendekatan dalam Studi Hubungan Internasional kontemporer dengan menunjuk kepada
motif utama perilaku suatu negara, yang memiliki perbedaannya sendiri dengan power
sebagai kondisi yang dibutuhkan untuk terciptanya perdamaian (Buzan,1991: 2).
Konteks anarki menentukan tiga kondisi utama dalam konsep keamanan yaitu
(Buzan, 1991:22) :
1, Negara merupakan objek utama dalam keamanan karena kedua-duanya adalah
kerangka aturan dan sumber tertinggi otoritas pemerintah. Hal ini menjelaskan mengenai
kebijakan utama yaitu keamanan nasional.
2. Meskipun negara adalah objek utama keamanan tetapi dinamika keamanan nasional
memiliki hubungan yang tinggi dan adanya interdependensi antara negara.
Ketidakamanan negara dapat atau tidak dapat mendominasi agenda keamanan nasional
tetapi ancaman eksternal akan selalu terdiri dari elemen-elemen utama dalam masalah
keamanan nasional. Oleh karena itu, ide keamanan internasional dapat digunakan pada

34
kondisi sistemik yang mempengaruhi usaha negara untuk membuat negara lain merasa
lebih aman atau sebaliknya.
3. Dengan adanya kondisi anarki, arti praktis keamanan hanya dapat dibentuk jika ada
suatu hubungan persaingan dalam lingkungan operasional yang tidak dapat dielakkan.
Jika keamanan bergantung pada hegemoni atau harmoni maka hal ini tidak dapat dicapai
dalam kondisi anarki. Dengan kata lain keamanan bersifar relatif bukan absolut.
Konsep keamanan merupakan salah satu pendekatan dalam mengkaji hubungan
internasional yang lebih baik, mendalam dan berguna dibanding dengan konsep kekuatan
dan perdamaian. Konsep keamanan ini dapat dilihat sebagai pengaruh dari masing-
masing posisi ekstrem antara kekuatan dan perdamaian (Buzan, 1991:2-3). Analisis
keamanan memerlukan suatu cara pandang yang menempatkan negara dan sistem ke
dalam sebuah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dimana negara
sebagian terbentuk dengan sendirinya dan sebagian lain dibentuk oleh lingkungan anarki
yang kompetitif dan sengit. Lingkungan domestik dan dinamika internasional, keduanya
merupakan hal yang paling penting bagi analisis keamanan karena merupakan hubungan
yang kompleks di antara keduanya (Buzan, 1991:61).
Landasan utama dalam pendekatan ini yaitu lensa keamanan (security) yang dapat
diartikan sebagai pelaksanaan kemerdekaan atas suatu ancaman tertentu atau kemampuan
suatu negara dan masyarakatnya untuk mempertahankan identitas kemerdekaan dan
integritas fungsional mereka terhadap kekuatan-kekuatan tertentu yang mereka anggap
bermusuhan (hostile) (Buzan, 1991:61).
Meskipun terdapat tiga tingkatan keamanan dalam problem kehidupan manusia
yaitu: keamanan individu, keamanan nasional, dan keamanan internasional, namun pada
dasarnya konsep inti dari ketiga tingkatan tersebut adalah keamanan nasional. Hal ini
dikarenakan negara merupakan titik sentral yang mendominasi regulasi hubungan
maupun kondisi keamanan di antara kedua level lainnya.
Selanjutnya keamanan (security) di sini dapat kita bedakan dengan konsep
pertahanan (defense) yang memiliki kesamaan dari segi tujuannya, yaitu kemerdekaan
atas ancaman yang mengganggu kebebasan dalam melaksanakan kedua konsep di atas,
dimana keamanan biasanya lebih bersifat preventif dan antisipatif dalam merespon
ancaman dibandingkan pertahanan.

35
Menurut Barry Buzan dalam bukunya yang berjudul : People State and Fear: An
Agenda for International Security Studies in Post Cold War Era, bahwa keamanan yang
dimaksud di dalam pendekatan ini tidak sebatas pada keamanan saja, tetapi mencakup
keamanan militer, politik, ekonomi, sosial dan lingkungan, seperti yang dipaparkan di
bawah ini:
1. Keamanan militer, mencakup interaksi antar dua tingkat dan kekuatan yaitu
kemampuan defensif dan persepsi militer mengenai intensi masing-masing pihak.
2. Keamanan politik, mencakup kesinambungan dan stabilitas organisasi suatu
negara atau sistem pemerintahan serta ideologi yang melegitimasi kedua hal tadi.
3. Keamanan ekonomi, mencakup akses pada sumber daya finansial maupun pasar
yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan dan kekuatan
negara.
4. Keamanan sosial, mencakup kemampuan untuk mempertahankan dan
menghasilkan pola-pola tradisional dalam bidang bahasa, kultur, agama, dan
identitas nasional.
5. Keamanan lingkungan, mencakup pemeliharaan lingkungan lokal sebagai
pendukung utama kelangsungan hidup manusianya.
Meskipun masing-masing sektor tersebut mempunyai titik-titik vokal dalam kerangka
masalah-masalah keamanan, dan merumuskan cara-cara sendiri dalam menentukan
prioritas kebijakan utama suatu negara namun faktor-faktor itu sendiri saling terkait
dalam operasinya (Buzan, 1991:19). Masalah-masalah keamanan yang muncul salah
satunya bisa berupa tindakan peningkatan kekuatan militer suatu negara, dan pendekatan
yang demikian apabila dilakukan secara terus menerus pada gilirannya dapat
menimbulkan apa yang disebut dilema keamanan (Buzan, 1991:295). Dilema keamanan
ini dapat terjadi apabila peningkatan kapabilitas pertahanan dan keamanan dipersepsikan
sebagai ancaman dan petunjuk sikap bermusuhan oleh pihak lain. Demikian suatu reaksi
atas aksi yang dilakukan suatu pihak akan menimbulkan reaksi yang baru dari pihak lain.
Keamanan merupakan suatu fenomena yang berhubungan, oleh karenanya
seseorang tidak bisa memahami keamanan nasional suatu negara tanpa memahami pola
internasional yang melekat dalam kesalingtergantungan keamanan yang ada (Buzan,
1991:187).

36
Menurut Barry Buzan dalam People, States and Fear: an Agenda for
International Security Studies in the Post Cold War Era bahwa penerapan strategi
keamanan suatu negara selalu memperhitungkan aspek-aspek threat (ancaman) dan
vulnerability (kerentanan) negara tersebut. Ancaman dan kerentanan adalah dua konsep
yang berbeda namun mempunyai keterkaitan yang erat di dalam perwujudan keamanan
nasional. Suatu ancaman terhadap keamanan nasional yang dapat dicegah akan
mengurangi derajat kerentanan suatu negara pada keamanan nasionalnya. Kedua aspek
dari keamanan nasional tersebut sangat ditentukan oleh kapabilitas yang dimiliki negara
tersebut (Buzan,1991: 112-114).
Tidak seperti kerentanan, aspek ancaman sulit untuk diidentifikasikan. Hal itu
disebabkan karena bentuk ancaman seringkali lahir dari persepsi aktor pembuat kebijakan
dan belum tentu secara subtantif adalah nyata (Buzan,1991: 112). Ancaman dan
kerentanan inilah yang menjadi konteks hadirnya ketidakamanan nasional (national
insecurity) (Buzan,1991: 112-114).
Tingkat kerawanan sebuah negara berhubungan erat dengan lemahnya sebuah
bangsa dan lemahnya kekuatan yang dimiliki. Kekuatan yang lemah (weak powers)
berarti ketidakmampuan mereka dalam menghadapi pengaruh-pengaruh sistem negara-
negara kuat di sekitar mereka, seperti negara tetangga atau negara adidaya, serta
ditambah dari fakta bahwa kebanyakan diantara mereka adalah negara kecil. Negara
dengan kekuatan lemah adalah belum tentu negara lemah. Namun negara dengan
kekuatan lemah, kelemahannya diukur berdasarkan kapabilitas militernya yang relatif
inferior terhadap negara lain dalam sistem, terutama tetangga-tetangganya dan kekuatan
besar pada saat itu (Buzan,1991: 112-114).
Weak states umumnya adalah weak power, dimana kerentanannya mencapai
tingkatan yang tertinggi. Secara kontras dikotomi negara diatas juga menimbulkan
dikotomi negara yang lainnya dengan kriteria strong atau kuat baik kapabilitas power-nya
maupun kapabilitas ekonominya (Buzan,1991: 112-114).
Ketidakamanan nasional merupakan fenomena yang berkebalikan dari konteks
keamanan nasional. Hal ini terjadi ketika ancaman mulai merasuki wilayah nasional dari
suatu negara. Menurut Barry Buzan, ada lima tipe dari ancaman yang dibagi atas aspek-
aspek militer, politik, sosial, ekonomi dan ekologi (Buzan,1991: 116-134). Ada dua

37
bentuk ancaman yang dihasilkan dari pengembangan instrumen militer. Yang pertama
berasal dari senjata yang dimiliki aktor itu sendiri yang menghasilkan ancaman
penghancuran, dimana lebih dikenal dengan sebutan defense dilemma (dilema
pertahanan). Kedua adalah berasal dari senjata yang dimiliki aktor lain di sistem yang
menghasilkan bentuk ancaman kekalahan, dimana nantinya disebut sebagai security
dilemma (dilema keamanan) (Buzan,1991: 271).
Dilema pertahanan terjadi apabila terjadi kontradiksi antara pertahanan militer
dan keamanan nasional. Angkatan bersenjata dijustifikasi oleh keperluannya akan
keamanan nasional dan secara politis diasumsikan kekuatan militer berkorelasi positif
dengan keamanan nasional. Keadaan ini juga didorong oleh kemajuan teknologi di
bidang pertahanan, salah satunya adalah teknologi nuklir yang dapat membahayakan
negara itu sendiri serta lingkungannya (Buzan,1991: 271-291).
Dilema keamanan terjadi didasari oleh dua kondisi, yaitu bahwa setiap negara
mempunyai perilaku selalu ingin mengejar power untuk kepentingan nasionalnya dan
yang kedua akibat perilaku tadi sistem yang tercipta menjadi anarki dimana masing-
masing negara akan berusaha mempertahankan dirinya dari ancaman pihak lain atau
dapat dikatakan mengejar atau pencapaian keamanan. Dilema akan terjadi pada suatu
negara karena ia merasa takut akan ancaman kekalahan dari pihak lain yang dicurigai
terus mengembangkan kekuatan militernya, sehingga suatu negara A mengembangkan
kekuatan militernya agar dapat mengimbangi negara B. Dan negara B yang melihat
perkembangan tersebut kembali mengembangkan kekuatannya lagi sehingga kembali
mengancam negara A, dan begitu seterusnya (Buzan,1991: 294-324).
Penelitian atas dasar keamanan merupakan satu pendekatan yang sangat
digalakkan. Hal ini timbul dari keinginan untuk mengurangi konflik dan menghalangi
timbulnya perang. Konsep keamanan sendiri merupakan konsep yang mulai
dikembangkan sejak awal tahun 1950-an oleh John Herz, ia menganggap keamanan
sebagai akibat dari hubungan kekuatan antar negara.
Secara tradisional literatur-literatur mengenai hubungan internasional berdasarkan
kepada kekuatan dan perdamaian. Para peneliti yang lebih suka melakukan pendekatan
melalui konsep kekuatan digolongkan ke dalam realis, sedangkan peneliti yang lebih suka
melakukan pendekatan melalui konsep perdamaian digolongkan ke dalam kaum idealis.

38
Pengstrat (8)
Keamanan Abad 20 dan 21
* Strategi Raya/ Besar
Grand Strategy disebut juga Strategi Raya, terdiri dari “tujuan kerja dari semua
instrumen kekuasaan tersedia bagi komunitas keamanan.” Jadi Strategi Raya merupakan
proses dimana tujuan dapat diwujudkan.
Strategi Raya militer meliputi perhitungan sumber daya ekonomi dan tenaga
manusia. Hal ini juga mencakup sumber-sumber moral, yang kadangkala disebut
nasional. Isu-isu strategi raya biasanya meliputi pilihan primer-sekunder versus teater
dalam perang, distribusi sumber daya di antara berbagai layanan, jenis umum manufaktur
persenjataan untuk kebaikan, dan aliansi internasional terbaik yang sesuai dengan tujuan
nasional.
Ini memiliki banyak tumpang tindih dengan kebijakan luar negeri, tetapi Strategi
Raya memfokuskan pada implikasi kebijakan militer. Beberapa telah memperluas konsep
Strategi Raya untuk menggambarkan strategi multi-tier pada umumnya, termasuk
pemikiran strategis di tingkat korporasi dan partai politik.
Strategi Raya biasanya diarahkan oleh kepemimpinan politik suatu negara,
dengan input dari pejabat militer paling senior. Karena ruang lingkup dan jumlah orang
yang berbeda dan kelompok-kelompok yang terlibat, grand strategy biasanya masalah
catatan publik, meskipun rincian pelaksanaan (seperti tujuan langsung aliansi tertentu)
sering tersembunyi.
Pengembangan suatu Strategi Raya bangsa dapat memperpanjang selama
bertahun-tahun atau bahkan beberapa generasi.
* Keamanan Nasional
Konsep keamanan nasional mengacu pada situasi atau keadaan di mana unsur-
unsur pokok yang membentuk suatu negara seperti kedaulatan, wilayah, penduduk atau
warga negara, basis ekonomi, pemerintah dan sistem konstitusi serta nilai-nilai hakiki
yang dianutnya terjamin eksistensinya dan dapat menjalankan fungsi sesuai tujuannya
tanpa gangguan atau ancaman dari pihak manapun.
* Keamanan Internasional

39
Keamanan internasional yaitu keamanan yang dilihat sebagai situasi dan kondisi
yang ditentukan dalam interaksi aktor-aktor internasional.
* Doktrin Strategi Keamanan Perang Dingin Abad 20
* Diplomasi Koersif 1945-1962
Negara-negara yang menikmati superioritas militer terhadap lawannya sering
berpikir bahwa senjata adalah instrumen diplomasi untuk tujuan mengubah perilaku
negara lain. Amerika Serikat yang merupakan negara nuklir pertama menikmati kekuatan
senjata ini sampai 1949 saat Uni Soviet meledakkan percobaan nuklirnya.
Compellence (Pemaksaan) melukiskan tentang doktrin stratetgi AS saat
superioritas nuklir dimilikinya. Strategi ini membuat senjata nuklir instrumen untuk
mempengaruhi negara lain.
Untuk meraih kemenangan politik Menlu AS John Doster Dulles mempraktekan
apa yang disebut brinkmanship yang melukiskan keinginan untuk mengejar tujuan AS
sampai hampir batas perang dengan mengancam musuhnya menggunakan senjata nuklir.
Brinkmanship ini masuk akal tatkala AS menikmati superioritas nuklir. Praktek
itu bagian dari strategi AS yang disebut massive retliation (pembalasan besar-besaran).
Praktek brinkmanship dan massive retaliation ini mencemaskan Uni Soviet.
* Mutual Deterrence 1962-1983
Pada saat superioritas nuklir AS mengalami erosi, para pembuat kebijakan di AS
mulai mempertanyakan asumsi mereka tentang penggunaan senjata nuklir untuk
instrumen politik luar negeri. Setelah krisis rudal Kuba tahun 1962 yang nyaris
mendorong AS dan Uni Soviet ke arah perang nuklir, Washington memikirkan kembali
penggunaan senjata berbahaya ini.
Oleh sebab itulah kemudian berkembang pemikiran di Washington bahwa senjata
nuklir ini dialihkan dari berpotensi dipergunakan sebagai senjata strategis menjadi senjata
pencegah serangan. Perubahan kebijakan strategis ini dari compellence (pemaksaan)
kedalam deterrence (penggetar/ pencegah) adalah cara untuk mencegah lawan
menggunakan apa yang ingin dilakukan pihak lainnya.
Pada periode ini kedua negara adidaya mengejar postur extended deterrence
(penggetar yang diperluas). Tujuan strategi ini adalah mencegah serangan kepada pemilik

40
nuklir tetapi juga sekutunya. Berkembanglah aliansi seperti terjadi di Eropa dengan Pakta
Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
* Mutual Assured Destruction
Para pengambil kebijakan terutama di AS menyebut Mutual Assured Destruction
(MAD) untuk menunjukkan perimbangan strategis yang muncul selama tahun 1960-an
dan awal 1970-an. Secara harfiah singkata itu bisa diartikan kehancura bersama yang
disingkat mad (gila).
Istilah itu sebenarnya merujuk pada jalan buntu yang dialami dua negara adidaya
dengan doktrin saling mencegah dalam penyerangan. Mereka kini berpikir bahwa
keduanya bisa hancur sama-sama jika terjadi perang nuklir. Kesadaran ini menimbulkan
perasaan bahwa jika perang nuklir terjadi tak ada yang bisa selamat.
Dengan situasi seperti ini, perdamaian (setidaknya stabilitas) merupakan produk
kerawanan dari kedua pihak pemilik nuklir. Jika salah satu negara diserang maka
imbalannya adalah kehancuran yang sama. Dengan demikian tidak ada yang selamat dari
perang nuklir.
Menurut Couloumbis, MAD ini tergantung pada kemampuan kedua negara
adidaya dalam menahan serangan nuklir pertama dan berkemampuan membalas sehingga
menimbulkan “kerusakan yang tidak bisa diterima” oleh penyerangnya. Kalangan pakar
strategis nuklir menyebutnya kemampuan membalas itu sebagai sebagai “kemampuan
serangan kedua.”
Dengan adanya doktrin seperti ini maka, kemampuan membalas serangan itu
menjadi tumpuan sehingga harus kuat dan mobil. Hal ini ditujukan agar senjata nuklir
bisa selamat dari serangan pertama. Sistem senjata ofensif memainkan peran penting.
Kemudian berkembanglah apa yang disebut dengan MIRV (Multiple Independently
Targeted Reentry Vehicle). Ini adalah satu jenis rudal yang bisa melepaskan sejumlah
hulu ledak termasuk hulu ledak tipuan. MIRV ini dapat dipasang di rudal balistik antar
benua atau rudal yang diluncurkan dari kapal selam.
* Teori Utilisasi Nuklir (Nuclear Utilization Theory)
Hubungan politik diantara negara adidaya memburuk cepat pada wal 1980-an.
Situasi itu mengubah kerja sama antar dua musuh besar ini menjadi konfrontasi.

41
Kemudian muncul debat tentang peran dan tujuan senjata nuklir. Timbul pula pertanyaan
apakah senjata nuklir masih bisa digunakan untuk bertahan atau mencegah serangan?
Saat hubungan dua adidaya itu memburuk, di AS berkembang tentang cara terbaik
melindungi kepentingan nasional melalui senjata strategis. Penganut MAD masih
melanjutkan sikapnya untuk bersama-sama hancur jika terjadi perang nuklir. Namun
kemudian muncul pula penganut teori utilisasi nuklir atau pendekatan NUT.
Pendekatan itu beranggapan senjata nuklir tak hanya digunakan sebagai pencegah
tetapi juga digunakan dalam perang. Sikap ini perlu diambil, kata pendukung NUT,
karena Uni Soviet siap perang nuklir dan memenangkannya.
* Dari Ofensif ke Defensif
Tantangan baru terhadap pemikiran strategis berkembang tahun 1983 saat
Presiden AS Ronald Reagan mengusulkan pertahanan yang berlandaskan angkasa luar
dalam melawan rudal balistik.
Secara resmi kebijakan Reagan itu disebut Strategic Defense Initiative (SDI) atau
Prakarsa Pertahana Strategis. Kebijakan baru itu malah lebih populer disebut Star Wars.
Strategi pertahanan ini akan menggunakan teknologi canggih untuk menghentikan laju
rudal nuklir di angkasa luar sehingga, seperti dikatakan Reagan, membuat senjata nuklir
“impoten dan ketinggalan jaman.”
* Konsep Keamanan Tradisional dan Non-Tradisional (paska Perang Dingin-mulai
1990-an)
Pendekatan keamanan tradisional terkait erat dengan tradisi realisme dan
neorealisme. Kaum neorealis beranggapan objek acuan keamanan adalah negara dan
struktur sistem internasional yang bersifat anarkis, sehingga meningkatkan kemampuan
militernya untuk mengamankan kedaulatannya.
Keamanan non-tradisional mengalihkan perhatian dari negara sebagai satu-
satunya objek acuan serta memperhitungkan aspek-aspek non militer baik dari segi
ekonomi, kesehatan, lingkungan hidup maupun hak azasi manusia.
Isu-isu keamanan yang baru yaitu meningkatnya kejahatan transnasional dalam
bentuk perdagangan narkoba, human traficking, penyelundupan senjata, money
loundering, terorisme dan sebagainya.

42
Adapun isu-isu keamanan dan perdamaian internasional yang akan dipengaruhi
oleh konstelasi politik global dan preferensi kekuatan-kekuatan besar seperti yang
diuraikan di atas adalah:
1. Krisis kemanusiaan (humanitarian crisis) seperti kasus Darfur,
2. Isu pelanggaran HAM berat (seperti Myanmar, Pantai Gading, Irak, Israel, Bosnia
dan juga Timor Leste)
3. Konflik di negara-negara dalam kategori failing states (Somalia, Iraq)
4. Terorisme dan isu clash of civilisation
5. Konflik antar-negara, dan masalah WMD dan masalah non-traditional security
issues
* Elemen Penting dalam Konsep Keamanan
1. keamanan tidak lagi hanya didominasi oleh komponen militer semata.
2. keamanan merupakan produk dari kebijakan yang dihasilkan beragam aktor
(negara maupun non-negara).
3. keamanan merupakan interaksi yang bersifat interdependen yang dihasilkan dari
tataran lokal, nasional, regional dan global (multisektor).
4. agenda keamanan juga bersifat majemuk.
* Disarmament (Perlucutan Senjata)
Menurut Couloumbus & Wolfe (1999: 236) adalah merupakan istilah yang cukup
inklusif yang diartikan sebagai sesuatu yang terkait erat dengan pernyataan tidak sah
untuk semua arsenal dan pembangunan-pembangunan militer, larangan terhadap senjata-
senjata tersebut demi kepentingan kemanusiaan (human security) dan perang, serta
pengimplementasian perjanjian-perjanjian tertentu yang dirancang untuk mencegah
kecelakaan yang bisa menimbulkan pecahnya peperangan.
Menurut Miller (2006: 256-267) adalah secara absolut menghendaki adanya
pemusnahan persenjataan secara global dan pembubaran seluruh angkatan bersenjata
serta menghancurkan arsenal strategis yang dimiliki negara
* Arms Control
Arms control berbeda dengan disarmament. Arms control merupakan konsep yang
relatif, yang menghendaki pembatasan terhadap jenis-jenis senjata tertentu atau
pengurangan tingkat persenjataan.

43
Couloumbus dan Wolfe (1999: 236-237) arms control bisa dibagi menjadi dua
macam, yaitu arms reduction (pengurangan senjata) dan arms limitation (pembatasan
senjata).
* Arms Reduction (Partially Disarmament)
Mengimplikasikan suatu kesepakatan bersama mengenai tingkat persenjataan bagi
negara-negara yang terlibat, baik dalam skala regional maupun global. Prototipe arms
reduction yang bersifat regional seperti yang dicontohkan dalam perjanjian Rush-Bagot
1917 antara AS dan Inggris mengenai demiliterisasi di Great Island. Contoh lainnya,
perjanjian larangan senjata nuklir di Amerika Latin 1967, dimana 22 negara di Amerika
Tengah dan Selatan berusaha melarang senjata nuklir masuk ke negara mereka.
* Arms Limitation
Mencakup berbagai jenis persetujuan internasional yang didesain untuk
membatasi peperangan dan untuk mencegah pecahnya perang yang disebabkan oleh
kecelakaan atau kelalaian. Contoh, instalasi peralatan yang fail-safe yang didesain untuk
meledakkan rudal-rudal nuklir di udara yang bisa ditembakkan dengan tidak sengaja,
saluran telepon langsung (hot line) agar para decision-maker kunci senantiasa bisa
mengadakan kontak langsung pada masa-masa kritis, penundaan percobaan jenis senjata
nuklir tertentu, dan perjanjian-perjanjian antara dua atau lebih negara yang melarang
penjualan senjata serta pengalihan teknologi militer ke negara-negara Dunia Ketiga
(Couloumbus & Wolfe 1999: 237; dan Miller 2006: 224-225, 253-263).
Arms limitation juga mencakup peraturan-peraturan hukum internasional
konvensional, yang bertujuan membatasi ruang lingkup dan daya hancur peperangan
dalam batas-batas yang telah ditentukan doktrin kebutuhan milliter. Contoh, Konferensi
Den Haag 1907 yang melarang penembakan proyektil dari balon-balon dan Konvensi
Jenewa 1949 mengenai jaminan perlindungan bagi tawanan perang dan prajurit yang
terluka (Wagiman 2005: 15-16).
Konfrensi umum Dewan Kerja Sama Keamanan di Asia Pasifik (CSCAP) 2007
yang diselenggarakan di Jakarta mencontohkan meningkatnya belanja militer di beberapa
negara di kawasan Asia Selatan.
Data yang diungkapkan Center for Arms Control dan Non-Proliferation (2007)
menunjukkan pengeluaran dunia untuk militer (US$780 miliar) sangat jauh lebih besar

44
daripada biaya yang diinvestasikan pada bidang kesehatan dan pendidikan. Oleh karena
itu, pengendalian senjata akan menemukan titik yang berlawanan bila dihadapkan dengan
seberapa besar anggran negara untuk keamanan, militer dan pertahanannya.

45
Pengstrat (9)
Pertahanan AS
* Sistem Pertahanan Rudal AS
Obama telah secara formal meninggalkan sistem pertahanan rudal yang dirancang
oleh Bush. Akan tetapi sebagai gantinya, Obama menetapkan sistem pertahanan rudal
dalam bentuk lain yang lebih kuat pada beberapa aspeknya dari sistem Bush. Akan tetapi
Obama menetapkannya tidak lebih provokatif dari bentuk yang ditetapkan oleh Bush.
Supaya menjadi jelas deskripsinya dan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem pertahanan
rudal AS, maka harus diperhatikan hal-hal berikut:
1. Sejak tahun 1950 para politisi dan para ahli Amerika bekerja dengan berbagai sarana
dan jalan untuk melindungi Amerika dari ancaman rudal balistik antar benua Uni Soviet
(ICBMs/ Interconteniental Ballistic Missiles). Hanya saja upaya itu terbatas pada Sistem
Pertahanan Rudal Nasional (NMD/ National Missile Defense) yang belakangan
berkembang menjadi Sistem Penangkal Rudal Terhadap Potensi Ancaman Serangan
Nuklir Soviet. Pada tahun 1961 upaya program itu terhenti karena sebab teknik. Dan
digantikan oleh sejumlah rencana pertahanan. Namun aktivitas di dalam rencana-rencana
itu tidak berlangsung lama karena belum terbukti kemampuannya dalam mencegat dan
menangkal rudal balistik Soviet. Disamping rencana-rencana itu juga sangat membebani.
Terlebih rencana-rencana itu mengalami masalah-masalah teknologi yang utama. Akan
tetapi program-program tersebut dan program-program balasannya yang terkait dengan
persaingan rudal dan perlindungan dari serangan rudal, telah mendorong kedua negara,
Amerika dan Uni Soviet, untuk menandatangani perjanjian pembatasan penyebaran rudal
balistik (ABMT/ Anti Ballistic Missile Treaty) pada tahun 1972. Menurut perjanjian itu
masing-masing negara bisa membangun pertahanan rudal menghadapi bahaya rudal
balistik. Namun perjanjian itu membatasi kedua negara dengan batas geografis dan
jumlah rudal yang boleh disebarkan oleh masing-masing dalam rangka mempertahankan
dirinya. Sebagai contoh, Uni Soviet menyebarkan sistem rudal yang dinamakan A-35
Sistem Rudal Galosh (Galosh Missile System). Sistem itu hanya untuk melindungi
Moskow saja. Sedangkan Amerika menyebarkan sistem pertahanan preventif di sekitar
Amerika Serikat untuk membentengi dan mempertahankannya dari rudal manapun yang

46
diluncurkan dari pangkalan manapun yang ada di bawah Sistem Rudal Balistik Soviet
(Intercontenental Ballistic Missiles).
2. Inisiatif Pertahanan Strategis (SDI/ Strategic Defense Initiative) yang diluncurkan
oleh Ronald Reagen pada tanggal 23 Maret 1973 dinilai sebagai pelanggaran terhadap
perjanjian yang ditandatangani oleh Amerika dan Uni Soviet untuk membatasi
penyebaran senjata balistik (ABM/ Anti Ballistic Missile). Hal itu juga menjerumuskan
Uni Soviet ke dalam persaingan dengan Amerika. Persaingan itu menyebabkan terjadinya
tekanan terhadap perekonomian Uni Soviet. Tekanan itu bersama dengan faktor-faktor
lainnya menyebabkan hancurnya Uni Soviet. Inisiatif Pertahanan Strategis (SDI) atau
yang dikenal dengan Perang Bintang (Star Wars) merupakan proyek sangat ambisius
Amerika pada masa lalu yang dimaksudkan untuk Sistem Penangkal Rudal. Program
Perang Bintang mencakup penyebaran rudal, radar, penangkal di darat, udara, laut dan
luar angkasa. Termasuk di dalamnya sejumlah Stasiun Angkasa Untuk Perang Laser
(Space Based Laser Battle Stations) dan Nuclear Pumped X-ray Laser Satellites, sistem-
sistem penuntun super canggih dan sistem-sistem kontrol. Program Perang Bintang (SDI)
berbeda dengan program-program sebelumnya. Program itu berbeda dengan Sistem
Pertahanan Rudal Nasional (NMD/ National Missile Defense) yang hanya untuk
melindungi Amerika Serikat saja. Akan tetapi program Perang Bintang (SDI) juga
disiapkan untuk tujuan melindungi sekutu-sekutu Amerika di Eropa dari bahaya rudal
balistik Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, program Perang Bintang
ditarik dan tentu saja aktivitas program itu pun berhenti. Akan tetapi Sistem Partahanan
Rudal Nasional (NMD/ National Missile Defense) tetap bekerja. Pada masa pemerintahan
Bill Clinton dilakukan pengembangan sistem tersebut kemudian diaktifkan secara
bertahap. Dan akhirnya menjadi perhatian pemerintahan Amerika pada masa Bush Junior
dan menjadi titik sentral dalam menaikkan tensi hubungan Amerika-Rusia. Pada tanggal
13 Desember 2001, Bush mengumumkan penarikan diri dari perjanjian pembatasan
penyebaran rudal balistik (ABMT/ Anti Ballistic Missiles Treaty). Peristiwa itu dinilai
sebagai pertama kalinya dalam sejarah, Amerika menarik diri dari perjanjian
internasional utama untuk persenjataan. Akibat dari penarikan diri Amerika itu, dibentuk
Lembaga Pertahanan Rudal Amerika (MDA/ Missile Defense Agency) yang di antara

47
tugasnya membuat rencana ambisius untuk membangun sistem Pertahanan Rudal
Nasional (NMD/ National Missile Defense).
3. Pada tanggal 16 Desember 2002 Bush mengeluarkan “Pengarahan Presiden no. 23
tentang Keamanan Nasional.” Ini merupakan rencana global membangun sistem-sistem
pertahanan terhadap rudal balistik yang siap diluncurkan. Pada hari berikutnya Amerika
secara resmi meminta kepada Inggris dan Denmark untuk menggunakan fasilitas di kedua
negara itu sebagai bagian dari aktifitas pembangunan ulang sistem pertahanan rudal
nasional (NMD/ National Missile Defense). Bush mengubah nama Sistem Pertahanan
Rudal Nasional (NMD) menjadi GMD/ Ground-based Midcourse Defense. Secara praktis
Sistem Pertahanan Rudal Nasional mencakup rencana-rencana pangkalan luar angkasa,
laut dan udara. Pada Februari 2007 Amerika secara resmi mulai melakukan pembahasan
dengan Polandia dan Republik Ceko tentang dimulainya pembangunan pangkalan
penangkal rudal untuk mempermudah aktifitas sistem GMD. Amerika menjustfikasi
sebab dimulainya program GMD karena terdapat negara-negara setan, seperti Korea
Utara dan Iran secara khusus, yang berupaya mengembangkan rudal-rudal jarak jauh
yang mampu mengusung hulu ledak nuklir yang mengancam kepentingan Amerika di
Eropa dan Israel. Padahal sebenarnya aksi Amerika itu merupakan pengepungan Rusia
dan melanggengkan Rusia berada pada daerah ancaman penangkal rudal Amerika. Rusia
memahami hakikat perkara tersebut. Rusia menilai sistem GMD sebagai ancaman
mematikan terhadap keamanan Rusia. Pada November 2008 duta besar Rusia untuk
NATO Dmitry Rogozin mengatakan “Rudal Amerika di Polandia bisa menghujani
Moskow hanya dalam waktu empat detik. Dan untuk mengeluarkan Amerika dan
membongkar kepalsuan klaim Amerika bahwa fasilitas rudal di Polandia dan Ceko itu
untuk menangkal Iran, Rusia menawarkan kepada Amerika untuk menyebar radarnya
disamping radar Rusia di pangkalan radar Rusia di Gabala, Azerbaijan dan itu lebih dekat
ke Iran dari pada Polandia dan Ceko, jika memang targetnya adalah Iran!” Amerika tidak
menyetujuinya karena target Amerika adalah menancapkan pangkalan di Eropa Timur
untuk mengancam Rusia. Dan Amerika tidak ingin Rusia ikut berkontribusi di
pangkalannya sehingga pangkalan Amerika akan berada dalam pengamatan Rusia,
selama targetnya adalah Rusia itu sendiri.

48
Begitulah, Rusia memahami bahwa penangkal rudal Amerika itu diarahkan untuk
melawan Rusia, bukannya melawan ngara-negara setan itu. Karena itu, Putin pada April
2007 telah mengancam akan terjadinya Perang Dingin baru jika Amerika tetap berkeras
menyebarkan penangkal rudal di Eropa Tengah. Sebagai tambahan, sebagai reaksi atas
berbagai ancaman Amerika, Putin mengancam akan menarik diri dari Perjanjian
Kekuatan Nuklir (NFT/ Nuclear Forces Treaty) yang ditandatangani dengan Amerika
pada tahun 1987. Kemudian Putin mengancam akan menyebar rudal-rudal di perbatasan
Kaliningrad di laut Baltik yang dekat dengan Polandia. Salah seorang jenderal Rusia
berpendapat lebih jauh di mana ia mengancam akan menghujani Polandia jika tetap
berkeras menjadi bagian dari penangkal rudal Amerika. Pada tanggal 15 Agustus 2008,
jenderal Rusia Anatoly Nogovitsyn mengatakan: “Dengan masuknya Polandia dalam
penangkal rudal, maka itu menjadikan Polandia sebagai target. Ini saya yakin 100 %.
Sungguh Polandia telah menjadi target serangan dan penghancuran target ini menjadi
salah satu prioritas.”
4. Sebelum Obama secara resmi mengumumkan meninggalkan rencana penanaman
rudal Amerika di Polandia dan Republik Ceko, Obama telah menyatakan pada awal tahun
2009 bahwa ia akan membatalkan rencana pertahanan rudal di Eropa Timur demi
kepentingan sistem pertahanan rudal bergerak yang dibangun di atas kapal perang
Amerika. Karena itu, pengumuman Obama pada tanggal 17 September 2009 untuk
meninggalkan penanaman rudal Amerika itu sudah dia perhitungkan dengan seksama.
Keputusan itu datang setelah ia meminta penilaian terhadap program Bush GMD.
5. Sedangkan Obama meninggalkan rencana Bush yaitu sistem GMD itu apakah benar-
benar atau merupakan tipu daya untuk meyakinkan dan menenangkan Rusia secara aman
dan temporer, maka hal itu bisa dipahami dari paparan berikut:
a. Di dalam pidato Obama yang baru tentang rencana tersebut, Obama mengatakan:
“Saya setuju dengan sejumlah rekomendasi dari Menteri Pertahanan dan Kepala Staf
untuk memperkuat perlindungan Amerika menghadapi kemungkinan serangan rudal
balistik. Pendekatan ini akan melahirkan kemampuan yang lebih cepat, membangun
sistem yang lebih efisien, memberikan bentuk yang lebih defensif menghadapi rudal, dari
pada program pertahanan rudal Eropa tahun 2007.” Obama menambahkan: “Kita berhasil
membuat kemajuan besar dalam mengembangkan rudal pertahanan kita dan khususnya

49
dalam mengembangkan pemancar rudal darat dan laut serta peralatan pendukungnya.
Pendekatan kita yang baru akan memungkinkan kita untuk menggunakan teknologi baru
termodern dalam bentuk yang lebih cepat dari sistem sebelumnya. Sistem yang baru di
Eropa akan lebih kuat, lebih cerdas dan lebih cepat melindungi militer Amerika dan
sekutu-sekutunya, dari sistem sebelumnya. Pendekatan baru kita akan memberikan
kemampuan yang lebih efisien dan efektif. Pendekatan baru kita akan membangun
kepercayaan dalam komitmen kita untuk melindungi Amerika dari ancaman rudal balistik
serta menjamin dan memperkuat perlindungan sekutu-sekutu kita di NATO.”
b. Menteri Pertahanan Robert Gates membantah berbagai kritik menentang keputusan
Obama dengan mangatakan: “Sebenarnya mereka yang mengatakan bahwa kita telah
mencampakkan pertahanan rudal di Eropa, bisa jadi mereka tidak mendengarkan berita
secara benar atau mereka belum memahami konstelasi dengan sebenarnya.” Gates juga
menegaskan bahwa sistem baru itu “Memberikan kemampuan pertahanan rudal yang
lebih baik dari program-program sebelumnya yang telah dimulai sekitar tiga puluh tahun
lalu.” Ia menambahkan “Kita memiliki kesempatan menyebarkan sensor dan rudal
pencegat di utara dan selatan Eropa (dalam jangka waktu dekat) yang akan bisa mencegat
rudal yang datang dari Iran dan yang lainnya.”
c. Dari pidato Obama dan Menteri Pertahanan jelaslah bahwa keduanya tidak
membicarakan tentang ditinggalkannya sistem pertahanan GMD. Akan tetapi sebaliknya,
keduanya berbicara tentang program yang lebih kompleks. Gates mengungkapkan
rencananya untuk membangun sistem pertahanan rudal nasional (NMD/ National Missile
Defense) generasi baru. Ia mengatakan: “Langkah berikut pada tahun 2015 kira-kira akan
mencakup pangkalan-pangkalan bumi yang bersifat tetap dan fleksibel yaitu SM-3.”
Begitu pula di majalah Euronet dilansir pernyataan jenderal James Cartwright, wakil
kepala staf gabungan Amerika, tentang komentar terhadap penyebaran rudal-rudal yang
diajukan “Yang dominan adalah akan dilakukan penyebaran radar-radar di wilayah
Kaukasus, karena itu akan lebih dekat dalam mendapatkan peringatan diri.”
6. Dengan begitu jelaslah bahwa ditinggalkannya sistem pertahanan GMD di Polandia
dan Ceko akan bersifat sementara untuk menyenangkan Rusia. Gates telah berlaku cerdik
dengan tidak menyebutkan dibukanya pembahasan Pentagon dengan Polandia dan Ceko
tentang dimasukkannya model darat untuk sistem SM-3 dan peralatan lain untuk sistem

50
tersebut. Demikian pula Gates tidak menyebutkan pembahasan-pembahasan seputar
berita yang bocor bahwa Turki, Georgia, dan Azerbaijan bisa masuk di dalam organisasi
penyebaran rudal Amerika. Bocoran berita itu telah membuat resah Rusia karena itu
artinya bahwa penyebaran pangkalan rudal darat telah meluas ke kebun belakang Rusia.
Hal itu ditambah lagi pidato Obama yang baru dan menteri pertahanan Robert Gates
sangat meresahkan. Karena itu, meskipun Rusia menyambut keputusan Obama
meninggalkan sistem GMD pada tanggal 17 September 2009, dan terdapat pernyataan
presiden Rusia, Dmitry Medvedev, bahwa ia akan menarik kembali keputusannya tentang
penyebaran rudal di Kaliningrad, meski semua itu, reaksi yang datang dari Rusia
menunjukkan ketidakpuasan Rusia terhadap keputusan Obama. Karena itu, juru bicara di
kantor berita Rusia menjawab pidato Obama dan menteri pertahanan Robert Gates
dengan komentar: “Seperti yang kami perhitungkan, Barack Obama dalam pidatonya
pada tanggal 24 September 2009, dia tidak akan berbicara tentang meninggalkan atau
menunda sesuatu pun. Akan tetapi ia justru mengadopsi rencana partahanan rudal baru
yang dibangun di atas asas-asas teknologi yang sedang berkembang dan modern yang
mampu secara labih baik untuk menghadapi ancaman rudal kontemporer. Obama
mengatakan bahwa rencana tersebut lebih memiliki kapabilitas dari rencana sebelumnya
yang menggabungkan Polandia dan Ceko.”
7. Sedangkan apakan keunggulan Amerika secara militer telah goyah dan kemudian
kontrol Amerika di dalam konstelasi internasional melemah, dan Amerika akhirnya
memperhitungkan peningkatan kekuatan Rusia secara militer, maka jelas bahwa Amerika
tidak lagi memiliki kontrol atas dunia sebagaimana kontrol yang dimilikinya sebelum
menginvasi Irak. Karena Irak dan Afganistan menyedot kekuatan militer dan pendapatan
Amerika. Ditambah lagi krisis ekonomi global makin memperparah pelemahan posisi
Amerika di dunia. Akan tetapi meski semua itu, Amerika tetap lebih unggul dalam
bidang militer dan memiliki kontrol yang lebih kuat di dalam konstelasi internasional.
Namun Amerika menghadapi sejumlah tantangan dan persaingan dari kekuatan utama
lainnya di dunia. Akibat meletusnya krisis yang kami sebutkan sebelumnya, maka
tantangan dari saingannya makin dramatis.
Sedangkan tentang Rusia, dengan memanfaatkan krisis-krisis Amerika, Rusia bisa
mengambil manfaat dari kenaikan harga minyak untuk merubah sebagian dari kekayaan

51
ekonomi menjadi sumber-sumber militer dan kekuatan politik. Peran Rusia bisa
diperhatikan sampai batas tertentu di Amerika Tengah, Kaukasus, Eropa Tengah dan
Asia Tengah, hingga sudah ramai dibicarakan ungkapan “Beruang Rusia yang Bangun”
untuk mendeskripsikan kondisi Rusia sekarang. Akan tetapi, di atas semua itu, Rusia
masih sangat jauh untuk kembali seperti masa keemasannya dahulu. Rusia masih terus
menderita krisis kelemahan struktur pada aspek-aspek politik dan ekonomi. Hal itu
menghalangi Rusia melakukan lompatan kuat di dalam konstelasi internasional dalam
jangka waktu dekat ini.

52
Pengstrat (10)
Pertahanan Cina
Kawasan Asia Timur dikenal sebagai kawasan yang memiliki tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, terutama sebelum terjadinya krisis moneter yang
melanda kawasan ini, sehingga beberapa negara yang berada dalam kawasan Asia Timur
ini disebut juga sebagai The New Industrialized Countries (NIE's). Akan tetapi walaupun
kawasan ini sempat dilanda krisis moneter yang bergulir menjadi krisis ekonomi yang
berkepanjangan, kembali bangkit dan mengalami pertumbuhan ekonominya. Dibalik
pesatnya pertumbuhan ekonomi dan derasnya arus perdagangan di negara-negara
kawasan Asia Timur seperti; Jepang, Republik Rakyat Cina (RRC), Cina Taiwan, dan
Korea Selatan, ternyata negara-negara tersebut memiliki tingkat kerawanan dalam
hubungannya satu sama lain, yang berupa masalah sengketa teritorial, ketegangan akibat
konflik warisan sejarah masa lalu seperti Perang Dunia II dan Perang Korea, serta
ketegangan yang diakibatkan oleh kecurigaan dalam peningkatan kapabilitas militer dari
masing-masing negara tersebut.
Ternyata tidak hanya negara-negara yang disebutkan diatas saja yang memiliki
potensi konflik satu sama lain, melainkan juga terdapat Korea Utara yang merupakan
negara Komunis yang masih mengisolasi dan membatasi interaksinya dengan negara-
negara lain, sementara dilain pihak negara ini disinyalir tengah membangun suatu
kekuatan militer dan senjata pemusnah massal nuklir, biologi dan kimia (nubika).
Sedangkan negara lainnya yang berkepentingan untuk menanamkan pengaruhnya di
kawasan Asia Timur adalah, Amerika Serikat dan Rusia. Oleh karena itu tidak jarang
terjadinya ketegangan di kawasan ini disebabkan oleh campur tangan atau kebijakan
global dari kedua negara tersebut. Dalam perkembangannya pada pasca Perang Dingin,
Amerika Serikat terlihat sangat mendominasi dalam merealisasikan kepentingannya
sebagai hegemon global, terutama untuk mempertahankan status quo serta
“keseimbangan” kekuatan di Asia Timur.
Program modernisasi angkatan bersenjata RRC, selain menimbulkan dilema
keamanan bagi negara-negara di kawasan Asia Timur, juga mengundang AS melalui
sekutu-sekutunya di kawasan ini seperti Jepang dan Taiwan untuk “mengimbangi”
kekuatan bersenjata Cina antara lain melalui program Theater Missile Defensenya, dilain

53
pihak Rusia juga mulai menggulirkan wacana keamanan bersamanya di kawasan Asia
Tengah dan Timur melalui inisiatif Shanghai Five, yang sekarang sudah menjadi
Shanghai Six, dengan negara-negara yang terlibat seperti RRC dan beberapa negara eks-
Uni Soviet.
* Program Modernisasi Angkatan Bersenjata RRC
Program modernisasi Tentara Pembebasan Rakyat RRC, merupakan bagian dari 4
modernisasi yang dicanangkan oleh Deng Xiaoping pada tahun 1977 yang meliputi
modernisasi di bidang militer, ekonomi, politik, dan teknologi.
Dalam bidang militer program modernisasi bermula dari perubahan strategi dasar
Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) yakni, strategi yang bertumpu pada perang rakyat
(people's war) “dimodifikasi” untuk dapat mengikuti “kondisi modern” yang meliputi 3
peringkat secara teknikal, taktik, dan operasional. Dimana dalam modernisasi tersebut,
TPR mulai meninggalkan strategi perang massal yang melibatkan sejumlah besar
personel Tentara Angkatan Darat, khususnya yang ditujukan untuk menghadapi invasi
dari luar terutama Uni Soviet. Pada era Mao Zedong strategi people's war menjadi
tumpuan pertahanan oleh karena minimnya teknologi persenjataan yang dimiliki oleh
RRC pada waktu itu.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi RRC, terutama sejak era kekuasaan Deng
Xiaoping maka pertumbuhan tersebut secara otomatis memberikan kontribusi terhadap
pengembangan industri militer RRC, yang tidak lagi bertumpu pada pendekatan
kuantitatif. Modernisasi militer ini secara formal dikukuhkan dalam bentuk doktrin pada
tahun 1985 oleh Komite Sentral Militer yang mengadopsi proposal Deng Xiaoping
tentang modernisasi militer, yang dinamakan “Doktrin Perang Tentara Pembebasan
Rakyat; Strategi Pertahanan Aktif dalam Era Baru.” Aktif yang dimaksud dalam hal ini
adalah dengan menahan serangan musuh diluar wilayah kunci dari negara RRC, yang
bilamana perlu diluar perbatasan.
* Kebijakan dan Langkah Menuju Modernisasi TPR RRC
A). Dalam mengoptimalkan personel militer, Kementerian Pertahanan RRC
melaksanakan pengetatan bagi pemilihan calon anggota TPR baru dengan tujuan
meningkatkan kualitas personil yang mampu menangani persenjataan modern
mendatang, sedangkan untuk meningkatkan profesionalisme personil, dilaksanakan

54
pergeseran bagi pejabat tingkat regional yang mencapai usia pensiun, termasuk
pengurangan sejumlah 500.000 personil dalam jangka waktu selama 3 tahun yang
dinyatakan oleh Presiden Jiang Zemin pada Kongres Nasional Partai Komunis Cina
(PKC) ke-15 bulan September 1997 serta pernyataan Presiden Jiang Zemin dan pejabat
tinggi pemerintah Cina pada Kongres Rakyat Nasional ke-3 pada bulan Maret 1998,
bahwa anggaran belanja pertahanan naik sebesar 12,8% yang disesuaikan dengan inflasi
yang terjadi, hal tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan disiplin militer, latihan
personil dan modernisasi militer.
B). Dalam rangka reformasi ini, pemerintah RRC memutuskan bahwa Angkatan
Bersenjata, Polisi, Jaksa, lembaga-lembaga keamanan publik dan pengadilan tidak boleh
lagi terlibat dalam bisnis. Demikian juga lembaga-lembaga partai dan pemerintahan pada
tingkat pusat diminta untuk memutuskan hubungannya dengan semua kegiatan bisnis,
sedangkan dalam upaya mewujudkan pembangunan militernya yang kecil dengan
memiliki kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, RRC melaksanakan berbagai
reformasi kedalam tubuh TPR, baik reformasi terhadap pengurangan jumlah personil,
pembangunan maupun modernisasi militer serta mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru,
guna menuju sasaran yang ingin dicapai.
C). RRC yang sedang memodernisasi militernya memerlukan lingkungan internasional
yang damai dan stabil serta menempatkan kebijakan pembangunan dan modernisasi
militer RRC adalah terbentuknya militer yang kecil namun memiliki ilmu pengetahuan
dan teknologi. Dalam rangka modernisasi tersebut, RRC melakukan pengurangan
personil miluter sejumlah 500.000 dalam jangka waktu selama 3 tahun (1997-2000)
dengan rincian 19% dari AD-TPR, 11,6% dari AL-TPR dan 11% AU TPR, dimana pada
tahun 1998 telah dilakukan pengurangan sejumlah 100.000 personil, alih teknologi dan
pembelian peralatan militer dari luar serta pembangunan dalam negeri.
D). Presiden Jiang Zemin yang juga sebagai Ketua Komisi Militer Pusat dalam diskusi
dengan para anggota Kongres Rakyat Nasional (KRN) menekankan pentingnya
persenjataan teknologi tinggi guna memenangkan "Hi-tech Warfare Under New
Condition", juga dikatakan bahwa sebagian besar dana untuk pembangunan persenjataan
Angkatan Laut dan Udara TPR Cina dan sebagian untuk kepentingan unit artileri dan
infanteri.

55
E). Presiden Jiang Zemin yang juga sebagai Ketua Komisi Militer Pusat dalam pertemuan
dengan para delegasi militer pada sidang KRN bulan Maret 2000 mengatakan bahwa
militer Cina harus mendorong modernisasi dan meningkatkan kesiapan bertempur, hal ini
diungkapkan berdasarkan perkiraan perkembangan baru hegemonisme dan kekuatan
politik, juga konsentrasi terhadap perkembangan ekonomi yang harus dikonsolidasikan
dengan masalah pertahanan Nasional dan pembangunan suatu Angkatan Bersenjata yang
kuat, ditambahkan juga oleh Wakil Kepala Staf Umum TPR, Letnan Jenderal Xiong
Guangkai bahwa pembangunan ekonomi merupakan prioritas utama daripada
pembangunan militer dengan tugas mendasar adalah berkonsentrasi pada modernisasi dan
meningkatkan kesejahteraan.
F). Presiden Jiang Zemin saat konferensi persenjataan menyatakan bahwa unit-unit
persenjataan militer nasional untuk memodernisasi persenjataannya dengan
merefleksikan kedalam ilmu pengetahuan dan teknologi nasional, karena hal tersebut
merupakan indikator kapabilitas pertahanan dan kekuatan nasional RRC, seperti halnya
saat parade militer pada perayaan hari nasional ke-50, hal itu menunjukkan kepada dunia
bahwa Cina pada kenyataannya telah memiliki sistem pertahanan nasional yang kuat,
untuk itu sektor persenjataan perlu terus ditingkatkan melalui ilmu pengetahuan dan
teknologi serta memfokuskan perkembangan persenjataan militer dengan teknologi
tinggi.
G). Jenderal Cao Gangchuan, Kepala Persenjataan Umum TPR dalam kunjungannya ke
daerah Komando Militer Jinan mengulangi pernyataan Presiden Jiang Zemin tentang
pemikiran masalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi baru untuk diterapkan dalam rangka
modernisasi TPR, hal tersebut sebagai dasar dari perubahan bagi persenjataan dan
peralatan TPR Cina yang sudah ketinggalan, dimana tugas utamanya adalah dengan
membangun sumber daya manusia yang berkompeten dengan teknologi serta memiliki
"sense of mission and urgency".
H). Dalam rapat kepala staf TPR Cina, Presiden Jiang Zemin mengatakan bahwa Cina
harus meningkatkan kemampuan militernya dalam menghadapi abad ke-21, dikatakan
juga bahwa masalah keamanan dan persatuan merupakan kepentingan utama bagi setiap
bangsa, sedangkan pertahanan nasional yang kuat dapat mendukung keamanan nasional,
disamping itu juga ditekankan bahwa strategi Angkatan Bersenjata Cina sebaiknya betul-

56
betul dikembangkan untuk mempersiapkan militer dalam menghadapi perang, dimana
personel merupakan faktor penting dalam memenangkan pertempuran, disamping
persenjataan dengan tetap memperhatikan teori Mao Zedong dan Deng Xiaoping.
I). Dalam pertemuan para perwira tinggi TPR, Jenderal Fu Quanyou, Kepala Staf Umum
TPR Cina, dan wakilnya Jenderal Guo Boxiong mengatakan bahwa TPR akan
memformulasikan dan meningkatkan strategi baru secara keseluruhan, guna
meningkatkan kemapuan kepemimpinan, sedangkan Panglima AU TPR, Letnan Jenderal
Liu Shunyao mengatakan akan melakukan perubahan strategi dari peran defensif menjadi
peran defensif yang berkemampuan ofensif.
J). Dalam pidato Jenderal Chi Haotian pada resepsi peringatan 72 tahun TPR Cina pada
Juli 1999 mengatakan antara lain, TPR Cina saat ini sedang melakukan reorganisasi dan
restrukturisasi, termasuk pelaksanaan rencana pengurangan sejumlah 500.000 personil
yang merupakan langkah menuju pembentukan kekuatan militer yang kecil tetapi lebih
kuat dan efisien, disamping juga larangan bagi anggota TPR dan Polisi Bersenjata Cina
untuk melakukan bisnis serta ikut berpartisipasi aktif dalam penanggulangan banjir,
sedangkan dalam membangun militernya dalam menghadapi periode baru, TPR Cina
mengambil langkah menuju pembangunan militer yang kecil tetapi kuat dengan ciri khas
Cina dengan menerapkan strategi pembangunan militer yang tangguh seiring dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik melalui pendidikan, latihan maupun
pemutakhiran persenjataan dan peralatan militer serta melakukan reorganisasi yang
ditujukan untuk memperkokoh kemampuan pertahanan dan efektifitas daya tempur
dimedan perang dengan teknologi modern, terutama perang teknologi canggih.
* Kekuatan Tentara Pembebasan Rakyat RRC tahun 2008
Dari jumlah penduduk 1,3 milyar jiwa, terdiri atas :
 pria 20.831.700 jiwa dan perempuan 47.054.000 jiwa yang berumur 13-17 tahun,
 pria 58.989.300 dan perempuan 55.249700 yang berumur 18-22 tahun,
 pria 120.113.300 dan perempuan 111.812.200 yang berumur 23-32 tahun, sisanya
adalah anak-anak dan orang tua.
Total kekuatan aktif adalah 2.930.000 orang, dimana diperkirakan 1.500.000 personil
masih dalam proses demobilisasi. Sekitar 1.275.000 orang dari jumlah tersebut adalah
wajib militer serta 136.000 orang adalah korps wanita. Masa dinas wajib militer bagi

57
anggota TPR adalah 3 tahun bagi Angkatan Darat dan Marinir serta 4 tahun bagi
Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Kekuatan cadangan sekitar 1.200.000 orang dan
kekuatan milisi yang terdapat di setiap propinsi dibentuk dalam organisasi yang terawasi,
Anggaran pertahanan yang dibutuhkan TPR setiap tahun sebenarnya diperkirakan US $
29,8 milyar, namun untuk tahun 1996 telah diumumkan bahwa anggaran yang turun
hanya sekitar US $ 8 milyar.
Kemudian anggaran pertahanan naik 14,9 persen pada tahun 2009. Pada Tahun 2009
Pemerintah Cina menaikkan anggaran militernya mencapai 480,686 miliar yuan (70,2
miliar dollar AS), meningkat 62,482 miliar yuan dari 2008. Kemudian pada tahun 2010
Cina akan menambahkan lagi sebesar 10% yaitu 84,9 miliar dollar di tahun 2010.

58
Pengstrat (11)
Pertahanan India
* Proyeksi Kemiliteran
Dengan anggaran sebesar US$ 13,6 miliar hanya untuk 2000/ 2001 ini, hanya
US$ 1 miliar di bawah RRC (ini menurut pengakuan India, sementara RRC mengaku
anggaran militernya jauh di bawah India) India menunjukkan kemampuannya untuk
menjadi salah satu militer yang terkuat di Asia. Pengadaan dilakukan dengan mekanisme
yang cukup kompleks dan profesional, sekali pun sebagai akibat dari masih besarnya
ketergantungan teknologi, beberapa kasus sempat muncul. Berikut beberapa pengadaan
yang patut dicatat:
1. Angkatan Darat
Angkatan Darat dengan bangga menantikan 300 T-90 Russia, selain berbagai
macam radar, UAV, howitzer dan roket BM21 Grad M yang akan memperkuat peluncur
roket lokal Arjun. Sebagian besar amunisi dibeli dari Israel. Demikian pula banyak proses
upgrade persenjataan dilakukan dengan bantuan Israel.
Mirip seperti di Indonesia, tapi dalam taraf yang jauh lebih rendah, korupsi juga
merupakan momok yang menghantui militer India dalam pengadaan persenjataan, di
samping tentu saja kesalahan pengambilan keputusan. Namun berbeda dengan Indonesia,
upaya melakukan pengamanan atas kebocoran telah dilakukan dengan meningkatkan
audit sejak 1985. Contoh isu yang beredar, bahwa implementasi MiG-29K untuk
Gorshkov adalah dipaksakan. SU-30 yang dikirim disebut hanyalah SU-27 yang di
upgrade. Demikian pula versi T-90 yang akan diterima India, disebutkan sebagai model
eksperimental yang pada prinsipnya hanyalah T-80 yang dilengkapi dengan mesin disel
baru.
2. Angkatan Laut
Angkatan Laut akan diperkuat dengan MiG-29K yang satu paket dengan kapal
induk Admiral Gorshkov. Banyak kritik tentang hal ini, karena Gorshkov sebenarnya
tidak dibuat untuk mengangkut MiG-29K, bahkan lebih merupakan pengangkut
helikopter, atau maksimal Yak. Implementasi MiG-29 untuk carrier base aircraft sendiri
masih belum populer.

59
Pengadaan TU-22M Backfire untuk maritime aircraft cukup penting, mengingat
kategorinya sebagai pembom jarak jauh, yang sanggup menyerang sebelum dikenali oleh
radar. Ditambah dengan TU-142M (ASW). Selain itu, empat kapal selam Kelas Kilo
akan menambah armada kapal selam India.
Yang juga perlu dicatat adalah bahwa India menyewa beberapa peralatan militer
dari Rusia. Termasuk diantaranya adalah kapal selam nuklir seperti INS Chakra. Metode
sewa ini seharusnya juga dipertimbangkan Indonesia, daripada membeli peralatan dalam
jumlah tidak memadai dan tidak memiliki fungsi militer.
Israel turut membantu dalam melakukan modernisasi kapal-kapal tempur India,
khususnya dalam teknologi radar dan perlengkapan electronic warfare lainnya.
3. Angkatan Udara
Angkatan Udara menantikan kedatangan 50 SU-30MKI yang disertai dengan alih
teknologi. Ini menandai peningkatan standar fighter India, sekali pun dalam
implementasinya masih bermasalah.
Pembelian 10 Mirage 2000 menunjukkan bahwa India tidak meninggalkan
teknologi Prancis. Namun karena penolakan India atas NPT kemungkinan Prancis tidak
akan memberikan teknologi Mirage yang terakhir.
India juga telah melakukan upgrade lokal atas 125 MiG-21 yang dimilikinya.
Mempertahankan wing lama tempur ini sangat dibutuhkan untuk menandingi superioritas
jumlah jet tempur RRC. Sedang dirundingkan kemungkinan pembelian Beriev A-50
(Mainstay), pesawat AWACS Rusia. Perlu menjadi pertimbangan Indonesia untuk turut
membeli Beriev dibandingkan state of art AWACS AS, khususnya karena pertimbangan
ketersediaan pasokan serta minimnya kemungkinan berhadapan dengan Rusia (zero
enggagement possibility) dalam 50 tahun ke depan.
Selain itu, 40 helikopter Mi-17-1B versi upgrade juga sedang dinantikan
pengirimannya. Heli ini dapat beroperasi pada high altitude, sesuai dengan geografi India
di perbatasan dengan Cina dan Pakistan. Pilihan ini perlu menjadi pertimbangan untuk
operasi TNI di Irian. Juga perlu ditiru kerjasama India-Rusia untuk membangun Il-214,
pesawat kargo militer yang berdaya tampung 82 para atau 100 penumpang atau kapasitas
15 ton. Indonesia sangat membutuhkan jenis seperti ini, karena dapat lepas dari lingkaran

60
setan supply militer karena ketergantungan pada pesawat kargo buatan Amerika seperti
Hercules. Cara ini sangat baik dilakukan untuk memperoleh teknologi secara lebih cepat.
* Pasokan Kemiliteran
Militer India dipasok oleh 39 pabrik lokal dan 8 Defence Public Sector
Undertakings (DPSUs) :
1. Hindustan Aeronautics Limited (HAL). Salah satu buatannya adalah LANCER,
yaitu helikopter serang berbeaya rendah (low cost attack heli), serta akan
membuat Intermediate Jet Trainer.
2. Bharat Electronics Limited (BEL). Ia khusus membuat peralatan elektronik untuk
mesin perang. Sangat bermanfaat dalam menghadapi embargo, dengan membuat
unsur alternatif.
3. Bharat Earth Movers Limited (BEML), membuat peralatan berat.
4. Mazagon Dock Ltd (MDL), membangun kapal perang sampai 6000 DWT dan
kapal sipil sampai 27.000 DWT, termasuk kapal selam, kapal rudal, fregat,
corvette dan perusak. Perusak ke-dua, INS Mysore, diresmikan penggunaannya
pada Juni 1999.
5. Goa Shipyard Limited (GSL), membuat kapal modern yang lebih kecil. Buatan
terakhirnya adalah Extra Fast Attack Craft (Mei 1999) dan Advance Offshore
Patrol Vessel (Mei 1999).
6. Garden Reach Ship builders and Engineers Limited (GRSE), membuat kapal
perang, serta perbaikan kapal.
7. Bharat Dynamics Limited (BDL), membuat ATGM SS11 B1 teknologi
Aerospatiale Prancis, ATGM Milan teknologi Euromissile Prancis, serta ATGM
Konkurs teknologi Rusia, serta amunisinya.
8. Mishra Dhatu Nigam Limited (Midhani), membuat bahan khusus dan lakuranadi
(superalloy) untuk kepentingan pertahanan, energi atom, luar angkasa,
kedirgantaraan, dsb.
* Ancaman dan permusuhan
1. Pakistan
India telah empat kali berperang melawan Pakistan. Teoritis, kekuatan militer
India masih di atas Pakistan. Demikian pula dalam hal teknologi, ekonomi, industri,

61
sosial dan politik. Kekuatan militer Pakistan utamanya dapat berkembang salah satunya
karena dukungan politis dari Amerika Serikat, khususnya dalam era Perang Dingin dalam
strategi peyangga menghadapi Rusia di Afghanistan. Setelah berakhirnya Perang Dingin,
Pakistan kehilangan nilai strategis bagi AS, dan dengan demikian AS memberlakukan
penghentian seluruh bantuan ke Pakistan sejak Oktober 1990 (Pressler Amandement).
Setelah perang India-Pakistan tahun 1965, Cina memberi bantuan kepada
Pakistan. Hal ini disebabkan karena Cina memandang India sebagai potensi-lawan
(pseoudo-enemy), karena perang Cina-India tahun 1962. Namun setelah hubungan AS-
Pakistan berakhir pasca Pressler Amandement tahun 1990, barulah Cina secara besar-
besaran memberi dukungan kepada Pakistan. Yang paling mengancam India adalah
penjualan IRBM M-9 dan M-11 dari Cina pada 1991, serta penjualan melalui Korea
Utara (Nodong I dan II). Rudal-rudal ini diganti namanya menjadi Ghauri I, Ghauri II dan
Shaneen.
Kemampuan nuklir Pakistan diperoleh dengan bantuan teknologi dari Prancis dan
kemudian Cina. Kepemilikan nuklir ini diungkapkan dengan uji coba Ghauri pada April
1998 yang merupakan balasan atas percobaan rudal nuklir India.
Kemampuan nuklir Pakistan dan Cina menjadi alasan bagi India untuk
mengembangkan teknologi peluncuran dari laut sebagai proyeksi minimum detterance-
nya (kemampuan serangan balasan nuklir).
Dengan sejarah 4 kali pertempuran, potensi konflik di Kashmir, adanya dukungan
Cina serta kepemilikan rudal nuklir balistik, Pakistan menjadi potensi-lawan nomor satu
bagi India.
2. Republik Rakyat Cina
Perang perbatasan Cina-India berakhir dengan kekalahan tragis militer India. Hal
ini mendorong India untuk mengembangkan militernya baik konvensional maupun non-
konvensional dengan kemampuan untuk menghadapi Cina. Langkah ke arah ini dapat
dilihat misalnya dengan rencana pengadaan 300 TUT T-90, yang jelas dimaksudkan
untuk pertahanan menghadapi Cina.
Sekali pun keadaan pseudo-hostile antara India dan Cina mulai mencair, serta
hubungan kedua negara bertambah baik terutama sejak kunjungan Jiang Zemin
November 1996, namun sangat jelas bahwa India masih menganggap Cina sebagai

62
ancaman. Entah itu dari analisis militer atau pun hanya sebagai alasan untuk
mengembangkan kekuatan militer-nya, yang jelas proyeksi militer India ditujukan untuk
menyaingi kekuatan militer Cina.
Satu hal yang paling jelas adalah pernyataan para petinggi India pasca percobaan
nuklir Pokhran II tahun 1998, bahwa alasan dari pengembangan militer India adalah
untuk menghadapi ancaman Cina. Tak kurang PM Atal Behari Vajpayee dan Menteri
Pertahanannya, George Fernandes memberikan pernyataan tersebut, yang kemudian
disikapi dengan kemarahan besar dari para pejabat Cina. Sekali pun kemudian pernyataan
tersebut dibantah oleh India.
Membaiknya hubungan Cina-India kemungkinan tidak lepas dari upaya Cina
untuk menjamin keamanannya di Barat Laut, menjelang Invasi ke Taiwan. Bukan rahasia
lagi bahwa Cina tengah mempersiapkan Invasi ke Taiwan dan mungkin juga ke
Kepulauan Cina Selatan yang merupakan bagian dari “urusan dalam negeri” Cina. Dan
keberadaan India yang bermusuhan sangat menghalangi hal ini. Cina harus menjamin
persahabatan dengan India sebelum dapat membereskan “urusan dalam negerinya.”
3. Fundamentalisme
Berbagai fundamentalisme mengancam India. Yang terbesar di antaranya adalah
fundamentalisme Islam, Tamil dan Hindu. Ancaman fundamentalisme diwujudkan dalam
bentuk kekacauan, terorisme, serta separatisme.
Fundamentalisme Hindu berdampak pada kekacauan politik India yang
demokratis. Juga membawa konflik dengan agama-agama lain. Kerusuhan sering terjadi
saat fundamentalis yang satu berhadapan dengan yang lain.
Fundamentalisme Tamil, berdampak besar setelah serangan ditujukan pada para
pejabat India. Serangan bom bunuh diri yang menewaskan PM India merupakan puncak
dari terorisme fundamentalis Tamil.
Fundamentalisme Islam, datang dalam bentuk ancaman separatisme dari dua
wilayah kantong Islam di Utara dan Selatan India. Dukungan dari Pakistan sangat
mempengaruhi gerakan fundamentalisme di India sejak lama. Pada akhir Perang
Afghanistan, India menghadapi sumber fundamentalisme baru dari Kandahar,
Afghanistan, di mana Revolusi Islam Taliban yang Suni Wahabi malah terbukti lebih
parah daripada Revolusi Islam Iran yang Shiah. Mulai dari pembantaian kaum Shiah di

63
provinsi Herat dan Bamiyan, di perbatasan dengan Iran, hingga kebijakan anti-wanita,
yang membuat malu Pakistan, sebagai sponsor utama Taliban.
* Ambisi India
India berambisi menjadi adidaya Asia. Ambisi ini telah diperlihatkan sejak awal
berdirinya negara tersebut. Awalnya militer India mewujudkan hal tersebut dengan
mengoperasikan Carrier. Kemudian proyeksi militer India secara jelas menuju
perwujudan blue water navy yang modern. Langkah kearah ini dilakukan dengan
kemampuan membangun di dalam negeri kapal perusak dan fregat yang modern, serta
mengalihkan teknologi untuk membangun kapal selam. Sewa kapal selam nuklir dari
Rusia sejak beberapa tahun yang lalu memberikan AL India kemampuan untuk
mengoperasikan kapal selam nuklir, sedang anggaran militernya yang begitu besar
memungkinkannya membeli kapal selam nuklir sewaktu-waktu.
Sejalan dengan itu, India berharap dapat menjadi anggota tetap Dewan Keamanan
PBB dan dengan demikian dapat memiliki hak veto. Untuk mendukung harapannya
tersebut India mempersiapkan diri dalam bidang ekonomi, politik, teknologi dan militer.
Dalam keempat bidang tersebut India telah menunjukkan kemajuan yang cukup pesat.
Untuk dapat diakui dunia, India bukan hanya mengejar kepemilikan atas blue
water navy, tetapi juga kepemilikan atas senjata nuklir. Uji coba nuklir Cina 1964, dua
tahun setelah perang perbatasan India-Cina, menjadi alasan kuat bagi India untuk
mengejar teknologi senjata nuklir dan melakukan uji coba serupa pada 1974. Penelitian
atas senjata termonuklir dimulai sejak 1980.
Ambisi India terlihat setelah negara tersebut menolak meratifikasi perjanjian NPT
(Non-Poliferation Treaty) tahun 1968 hingga sekarang. Bahkan kemudian menolak
menandatangani CTBT tahun 1996, hingga sekarang, jauh setelah Perang Dingin
berakhir.
Pada Mei 1998, India kembali melakukan uji coba nuklir, berlawanan dengan
trend pemusnahan nuklir pasca Perang Dingin. Hal ini segera diikuti oleh Pakistan
dengan uji coba nuklir yang lebih bersifat balasan atas uji coba India. Maka dimulailah
perlombaan senjata nuklir baru secara terbuka.
India saat ini diperkirakan memiliki 60 senjata nuklir yang dapat diluncurkan
dengan rudal Agni atau Phritvi, atau melalui pesawat. Target India selanjutnya adalah

64
memiliki kemampuan peluncuran rudal nuklir dari laut, baik permukaan mau pun dari
kapal selam. Ini adalah target minimum detterence India saat ini. Enam reaktor nuklir air
berat India memiliki plutonium yang cukup untuk mempersenjatai 200 nuklir.
India tidak memiliki harapan untuk menjadi pemimpin regional, mengingat posisi
politisnya di kawasan Asia Selatan yang dikelilingi oleh negara-negara besar yang
pseudo-hostile, seperti Pakistan, Cina dan Afghanistan. Kecuali tentunya di wilayah Bay
of Bengal yang tergabung dalam Bimstec. Disini pun India harus berhadapan dengan
Thailand.
Peran India di Maldives menunjukkan keinginan dan kemampuan AL India untuk
beroperasi jauh dari Home Sea. Ambisi India ini akan secara langsung berhadapan
dengan ambisi serupa dari Cina dan Australia, dalam perlombaan menjadi Penguasa
Samudra Asia Selatan. Siapa yang akan menjadi Penguasa Laut Selatan? Hanya waktu
yang menentukan.

65
Pengstrat (12)
Pertahanan Jepang
* Kebijakan Pertahanan Jepang
Kebijaksanaan pertahanan Jepang setelah Perang Dunia II jauh berbeda dari masa
sebelum berperang. Itu disebabkan karena Jepang kalah dalam Perang Dunia II dan
kekalahan itu tidak saja memungkinkan pihak yang menang untuk lebih memaksakan
kehendaknya kepada Jepang, tetapi di samping itu kekalahan tersebut juga menimbulkan
satu trauma kepada rakyat Jepang yang sukar hilangnya.
Dalam proses modernisasinya Jepang berusaha memasukkan demokrasi dalam
kehidupan bangsanya. Ini dilakukan karena Jepang mengikuti segala hal yang dilakukan
bangsa-bangsa Barat. Demokrasi merupakan salah satu ekspresi kehidupan masyarakat
Barat. Namun setelah tahun 1930-an kaum militer Jepang berhasil menciptakan kondisi
dalam negeri sedemikian rupa sehingga demokrasi tidak dapat berlanjut. Kaum militerlah
yang memegang kekuasaan di bawah Tenno Heika. Perkembangan itu membuat Jepang
amat agresif keluar dan itulah yang membawanya kepada politik pertahanan yang agresif
pula. Poltik pertahanan yang agresif itu mengakibatkan Jepang sering terlibat perang,
bahkan sudah terjadi sebelum kaum militer mengusai pemerintahan. Dimulai dengan
perang terhadap Cina, yaitu pada tahun 1895 yang menjadikan Taiwan dan beberapa
bagian daratan Cina masuk kekuasaan Jepang. Kemudian perang dengan Rusia pada
tahun 1904-1905 yang kembali dimenangkan Jepang dan melebarkan pengaruhnya ke
Korea dan Manchuria.
Pada tahun 1937 Jepang berperang lagi dengan Cina untuk meluaskan
kekuasaannya di daratan Asia. Pada tahun 1941 terjun dalam perang dengan AS dan
sekutu-sekutunya. Akan tetapi inilah yang memberikan pengalaman yang belum pernah
dialaminya, yaitu kalah perang dan wilayahnya diduduki tentara asing. Akibatnya adalah
bahwa rakyat Jepang menjadi amat benci kepada peperangan dan terhadap kaum militer
yang menyebabkan Jepang kalah perang.
Di pihak lain pihak yang menang melalui tentara pendudukan AS berketetapan
hati agar Jepang tidak lagi menyerang bagsa-bangsa lain. Maka diadakan proses
demiliterisasi segera setelah tentara AS menduduki wilayah Jepang. Itu juga menyangkut
disusunnya konstitusi baru bagi Jepang yang harus menjamin bahwa Jepang di masa

66
depan tidak akan lagi menjadi bangsa yang dikuasi militer dan tidak akan mempunyai
politik yang agresif. mak dimuatlah dalam kontitusi baru itu pasal 9 yang berbunyi:
“Dengan maksud yang sungguh-sungguh untuk menciptakan perdamaian internasional
berlandaskan keadilan dan ketertiban, maka rakyat Jepang untuk selamanya menolak
perang sebagai hak bangsa berdaulat dan menolak pula penggunaan ancaman atau
kekuatan sebagai cara untuk mengatasi persengketaan internasional. Untuk mewujudkan
maksud tersebut angkatan darat, laut, dan udara maupaun potensi perang lainnya tidak
akan pernah diadakan. Hak berperang bagi negara tidak akan diakui.”
Itulah sebabnya mengapa kebijaksanaan Jepang setelah Perang Dunia II begitu
berbeda dengan sebelum perang. Bahkan banyak dipengaruhi oleh kehendak-kehendak
bangsa lain, khususnya AS.
Sikap rakyat Jepang setelah perang bersikap menolak terhadap segala sesuatu
yang bersangkutan dengan dunia militer dapat dilihat dalam kehidupan masyarakatnya.
Kalau sebelum perang orang bangga bila mengenakan pakaian seragam militer, maka
setelah kalah perang rakyat sama sekali tidak suka melihat orang berseragam militer.
Maka ketika Jepang atas desakan AS kembali membentuk kekuatan pertahanan dengan
nama Angkatan Bela Diri/ ABD (Jietai, Self-defence Forces), maka mula-mula para
anggota ABD itu tidak mau mengenakan pakaian seragam di luar tempat kerjanya karena
khawatir menimbulkan rasa permusuhan pada rakyat.
Meskipun rakyat Jepang sejak tahun 1952 kembali sebagai bangsa yang berdaulat
sejak ditandatangani persetujuan perdamaian di San Fransisco pada tahun 1951 dan
diakhiri status tentara pendudukan, namun dalam kenyataan politik pemerintah Jepang
hampir sepenuhnya mengikuti kehendak AS. Maka meskipun rakyat kurang setuju
dengan usaha militerisasi itu, kehendak AS tetap berjalan. Hal itu dapat dilihat dari partai
oposisi di DPR mula-mula tidak mengakui ABD karena dianggap bertentangan dengan
pasal 9 UUD. Akan tetapi karena partai pemerintah, yaitu LDP, selalu memegang
mayoritas suatu kehendak paratai oposisi tidak dapat mencapai tujuannya. Baru jauh
kemudian, yaitu setelah tahun 1970-an, partai oposisi Komeito dan partai Demokrat
Sosial bersedia menerima ABD sebagai kenyataan. Sedangkan partai Oposisi yang
terbesar, partai Sosialis, hingga sekarang tetap tidak mengakui ABD secara
Konstitusional.

67
Kemajuan ekonomi yang dapat diciptakan Jepang setelah tahun 1960-an turut
memperkuat sikap rakyat untuk tidak kembali ke militerisasi. Justru dengan kemajuan
ekonominya Jepang dapat mencapai pengaruh dan posisi di dunia internasional, bahkan
lebih luas daipada yang ingin dicapai dengan melakukan perang sebelum Perang Dunia
II. Jadi rakyat berpikir untuk apa membentuk kekuatan militer yang mahal dan sebaliknya
mengambil resiko harus berperang lagi. Sedangkan di kalangan rakyat Jepang lainnya
yang mendukung kebijaksanaan pertahanan yang meningkatkan kekuatan ABD dan
anggaran pertahanan hanya mereka yang tergolong ekstrim kanan dan kaum industri yang
berkepentingan untuk membangun industri pertahanan yang lebih besar. Dalam
merumuskan kebijaksanaan pertahanan, pemerintah Jepang dipengaruhi oleh berbagai
faktor: pertama, adalah faktor ancaman yang dapat terjadi terhadap Jepang. Dalam hal ini
ancaman utama adalah Uni Soviet yang setelah Perang Dunia II menganut politik luar
negeri yang agresif untuk mengubah dunia menjadi kekuasaan komunis. Sejak Jepang
dikalahkan oleh AS dan sekutunya dalam Perang Dunia II dan wilayah Jepang diduduki
oleh tentara AS, maka ketergantungan Jepang kepada AS amat besar. Adalah juga karena
bantuan AS ketika dapat dengan cepat bangkit kembali setelah kalah perang. Meskipun
itu bukan karena kebaikan hati AS, melainkan sepenuhnya merupakan bagian dari
kepentingan AS untuk membentuk sekutu yang kuat di Asia. Juga untuk kepada dari
kesungguhan rakyat Jepang sendiri untuk cepat bangkit kembali dari kesengsaraan.
Jendral Douglas MacArtur, mengambil sikap untuk menjadikan Jepang sekutu utama AS
di Asia dan membatunya untuk segera bangkit kemabali.
Karena hubungannya yang dekat dengan AS itulah maka pada bulan juli 1950
Jepang membentuk Cadangan Polisi Nasional dengan kekuatan 75.000 orang.
Pembentukan itu dipengaruhi oleh pecahnya perang Korea pada tahun itu. Meskipun
namanya polisi tetapi sebenarnya yang menjadi anggota organisasi itu sebagian besar
anggota tentara dan angkatan laut Jepang lama. Organisasi yang pada tahun 1960 diberi
nama Angkatan Bela Diri (Jietai, Self Defence Force).
Ketika Jepang makin kuat ekonominya, AS mendesak agar Jepang lebih
memperbesar ABD untuk memikul beban yang lebih luas dalam kerjasama pertahanan
itu. Jepang didesak untuk menaikkan anggaran pertahanannya yang kurang dari 1 persen
dari GNP menjadi 2 sampi 2,5 persen. AS berpendapat bahwa itu diperlukan untuk

68
mengamankan Jepang terhadap satu invasi Soviet dan kuat bertahan sampai pasukan AS
tiba untuk melakukan offensive pembalasan. Ketika ekonomi AS menurun, maka AS
minta kepada Jepang agar turut membiayai kehadiran pasukan AS di wilayah Jepang. Hal
itu merupakan alasan untuk peingkatan anggaran pertahanan Jepang. Karena Jepang amat
berkepentingan dengan kerjasama pertahanan yang erat daengan AS serta kehadiran
pasukan AS di Asia Timur, maka semua kehendak AS itu selalu menjadi perhatian
pemerintah Jepang.
Bangsa-bangsa Asia, terutama yang mengalami peperangan dan pendudukan oleh
Jepang sebelum dan selama Perang Dunia II, masih amat khawatir terhadap kemungkinan
perkembangan Jepang menjadi negara dengan sistem militerisme kembali. Terutama
Cina, Korea Utara, dan Korea Selatan amat vokal dalam reaksi mereka, karena menjadi
korban militerisme Jepang yang amat kejam. Pemerintah Jepang menyadari bahwa ia
harus memperoleh kepercayaan dan kerjasama bangsa-bangsa Asia kalau hendak
memelihara dan meningkatkan posisinya sebagi kekuatan ekonomi. Tanpa hubunngan
yang cukup dekat dengan bangsa-bangsa Asia, khususnya Asia Pasifik, konsepnya untuk
membangun Pasific Basic Community tidak mungkin terwujud. Padahal konsep itu
penting sekali bagi masa depan Jepang, juga dilihat dari sudut politik.
* Sikap dan Pendapat Rakyat Jepang
Setelah selesainya Perang Dunia II tentara pendudukan AS menanamkan sistem
politik di Jepang yang demokratis. Jendral Douglas MacArthur memerintahkan stafnya
untuk membuat konsepsi konstitusi baru untuk dibicarakan dengan tokoh-tokoh politik
dan pemerintahan Jepang. Pada tahun 1946 diadakan sidang DPR sistem lama yang ke-90
dan yang terakhir. Sebab dalam sidang itu DPR menyetujui untuk perumusan konstitusi
baru. Setelah selesai dibicarakan oleh Majelis Rendah maka diteruskan kepada Majelis
Tinggi 24 agustus 1946 dan disetujui oleh Majelis itu pada tanggl 6 oktober 1946 dengan
beberapa perubahan. Disahkan pada tanggal 3 November 1946.
Perbedaan pokok dengan konstitusi lama adalah bahwa yang baru memberikan
wewenang lebih besar kepada Majelis Rendah daripada kepada Majelis Tinggi. Seluruh
anggota Majelis Rendah dan Majelis Tinggi dipilih langsung oleh rakyat dan diangkat
oleh pemerintah. Dalam sistem politik Jepang ada penggunaan perhitungan suara atau
“Voting”, tetapi partai yang berkuasa jarang sekali menggoalkan satu undang-undang

69
melalui perhitungan suara sekalipun mempunyai keunggulan jumlah anggota dalam DPR.
Partai-partai oposisi pada umumnya menolak legalitas Pasukan Bela Diri karena
bertentangan dengan pasal 9 UUD. Bahkan dalam Partai Demokrat Liberal sebagai partai
berkuasa, cukup banyak orang yang juga kurang setuju dengan peningkatan ABD.
Berbagai pengaruh ini menjadi pertimbangan setiap pemerintah Jepang dalam
merumuskan kebijaksanaan pertahanan. Oleh karena pengaruh itu cukup banyak yang
bertentangan satu sama lain, maka hasil perumusan pemerintah Jepang tidak
menimbulkan kepuasaan semua pihak.
Kebijaksanaan pertahanan Jepang dirumuskan dengan tujuan menjamin
perdamaian dan keamanan negaranya dan mempertahankan dari invasi musuh. Untuk itu
perlu diwujudkan dan diusahakan diplomasi positif untuk memperoleh untuk
memperoleh lingkungan internasional yang stabil. Guna mencapi kemampuan pertahanan
nasional (National Defense Program Outline) Jepang melakukan berbagai usaha, sesuai
dengan ketentuan UUD dan landasan kebijaksanaan pertahanan.
Jepang berpendapat bahwa pasal 9 UUD tidak mengikari hak Jepang untuk
mempertahankan diri terhadap serangan pihak lain sebagai haknya menjadi negara dan
bangsa yang berdaulat. Oleh sebab itu pembentukan ABD tidak melanggar UUD selama
digunakan untuk pertahanan pasif, yaitu hanya beroperasi apabila negaranya diserang
oleh negara lain. Landasan kebijakasanaan pertahanan Jepang adalah apa yang
dinamakan “Basic Policy For Nationa Defense” yang ditetapkan oleh Dewan Pertahanan
nasional dan disahkkan oleh Kabinet pada bulan Mei 1957. Selain itu Jepang
berpegangan pada tiga prinsip non-nuklir, yaitu: tidak mempunyai senjata nuklir, tidak
membuat senjata nuklir dan tidak mengizinkan masuknya senjata nuklir dari luar.
Untuk menjamin keamanan garis suplai Jepang yang begitu panjang dan terbentang dari
Timur Tengah hingga Jepang, kekuatan ABD tidak mungkin memadai kalau dipakai
berdiri sendiri. Oleh sebab itu Jepang menganut sistem pengamanan komprehensif yang
terdiri dari tiga unsur utama yaitu: Diplomasi, Bantuan Ekonomi, dan Kekuatan ABD.
Diplomasi disini harus dilakukan dengan baik terhadap Negara-negara yang
terletak sepanjang garis suplai itu agar terjamin bahwa hubungan mereka dengan Jepang
baik. Bantuan ekonomi diberikan kepada negara-negara yang terletak sepanjang garis
suplai untuk mendukung usaha diplomasi dan untuk menjamin stabilitas mereka.

70
Kekuatan ABD merupakan unsur yang paling kurang maknanya di antara tiga unsur itu,
karena dengan keterbatasan kekuatannya hanya dapat secara terbatas mengatasi gangguan
terhadap garis suplai, apabila terjadi kemampuan ABD terutama tertuju kepada invasi
terhadap Jepang. Invasi dipersepsikan sebagai berikut:
1. Satu invasi pendaratan dengan kekuatan darat, laut dan udara.
2. Serangan teritorial dengan penggunaan kekuatan laut dan udara.
3. Ganguan terhadap hubungan laut dengan penggunaan kekuatan laut dan udara.
4. Kombinasi dari tiga bentuk di atas.
Untuk menhadapi kemungkinan invasi itu ABD membangun kemampuan berikut:
1. Operasi pertahanan udara
Operasi pertahanan udara dibagi dua kategori, yaitu pertahanan udara bagi daerah
penting dilihat dari sudut politik, ekonomi, dan militer dan pertahanan udara bagi
pangkalan dan satuan ABD. Kategori pertama terutama dilakukan oleh ABD udara,
sedangkan kategori kedua oleh pangkalan dan satuan yang bersangkutan.
2. Operasi lawan pendaratan
Diusahakan agar pendaratan dicegah dengan mengahacurkan kekuatan darat
musuh sebanyak-banyaknya sebelum mendarat. Untuk itu dioperasikan ABD laut,
pesawat-pesawat ABD udara dan penembakan rudal darat ke darat dan senjata lain milik
ABD darat. Kalau musuh tetap dapat menjalankan pendaratan, maka ABD akan
melakukan pertahanan pantai di tempat pendaratan. Bila musuh tidak dapat dihancurkan
di daerah pantai, maka pasukan pertahanan mengadakan operasi pertahanan di daerah-
daerah strategis di pedalaman sambil menunggu mobilisasi kekuatan di daerah lain untuk
kemudian mengadakan offensif pembalasan. Pelaksanaan pertahanan ke dalam tadi
memerlukan kerjasama dan integarasi kemampuan ABD Darat, Laut, dan Udara.
3. Operasi perlindungan Transportasi Laut.
Musuh akan menggunakan kapal selam dan kekuatan udara untuk meyerang atau
menggangu transportasi laut. disamping itu, melihat keadaan, musuh juga dapat
menggunakan kapal permukaan dan ranjau darat. Untuk menghadapi serangan musuh itu
harus daiadakan berbagai tindakan seperti patroli, pengawalan, pertahanan udara,
pertahanan pelabuhan dan lainnya sambil mengurangi daya serang musuh. Kapal selam
dan permukaan musuh yang berusaha melalui selat-selat penting harus diganggu oleh

71
ABD laut dengan melakukan patroli lawan kapal selam dan pemasangan ranjau laut.
4. Pasukan Bela diri
Meskipun namanya Pasukan Bela Diri, namun dalam kenyataan hal itu tidak beda
dari angkatan bersenjata di negara lain. ABD yang terdiri dari ABD Darat, Laut, dan
Udara terbentuk dari personil sukarela yang menjadi kekuatan bersenjata, ditambah
dengan pegawai sipil untuk pekerjaan administrasi. Meskipun anggaran pertahanan
Jepang rata-rata 1 persen atau kurang dari (sekitar US$ 3 trilyun), maka ABD telah dapat
berkembang menjadi kekuatan bersenjata yang modern dan handal. Pada tahun 1989
kekuatan personil seluruh ABD adalah 247.000 orang.
Peralatan dan senjata utamanya adalah: 1.200 tank tempur yang terdiri dari 430
dari tipe-61 dan 770 tipe-74, kendaraan tempur (APC)430 dari tipe-60 dan 210 dari tipe-
73, meriam artileri dari kaliber 105 mm 290 buah, rudal darat ke darat (SSM) 50 buah,
senjata anti-tank (ATGW) 220 tipe-64, rudal darat udar Stinger 180 buah, Hawk 200
buah. Selain itu ada pesawat terbang AD fixed wing 20 buah, 40 helikopter serbu dan 370
helikopter angkut. ABD Laut mempunyai 5 pangkalan yaitu Yokosuka, Kure, Sasebo,
Maizuru dan Ominato. Sistem senjata yang dimiliki adalah: Bantuan udara dekat 3
skadron dengan 70 F-1, pemburu sergap 6 skadron dengan 120F-15J/ DJ, 3 skadron
dengan 72 f-4EJ. Penyiap udara 1 skadron dengan 10 E-2C. Ada penilaian kualitatif yang
menyatakan bahwa ABD merupakan kekuatan bersenjata yang kelima terkuat di dunia.
Senantiasa menjadi pertanyaan banyak pihak bagaimana masa depan Jepang,
khususnya dalam hal pengembangan kekuatan pertahanannya. sebab orang berpendapat
bahwa sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia, Jepang juga harus memikul
tanggung jawab internasional yang lebih besar. Itu tidak cukup hanya melalui peran
ekonomi, melainkan juga harus diimbangi dengan peran politik.
Kita melihat bahwa kebijaksanaan pertahanan Jepang akhirnya berada di tangan
rakyatnya. Oleh sebab itu sangat penting bagaimana pemikiran dan perasaan yang
dikandung oleh rakyat itu, karena itu akan menghasilkan maksud (intentions) mereka.
Akan tetapi rakyat Jepang juga amat dipengaruhi oleh perkemabangan internasional,
khususnya AS. Sebaliknya, apa yang menjadi maskud yang dikandung rakyat Jepang
juga besar pengaruhnya terhadap dunia internasional. Terlebih lagi karena Jepang
merupakan kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia. Maka bagi kepentiangan dunia

72
mudah-mudahan perkembangan pemikiran dan perasaan rakyat jepang akan tetap positif
bagi dunia.

73
Pengstrat (13)
Pertahanan Indonesia
Strategi pertahanan nasional diarahkan untuk mencapai tiga tujuan fundamental,
yaitu perlindungan teritorial, kedaulatan, dan keselamatan bangsa. Dalam konteks
Indonesia, upaya untuk memenuhi kepentingan pertahanan nasional di atas harus
memperhatikan, pertama, faktor geostrategis negara baik ke dalam dan keluar. Ke dalam,
yaitu untuk menciptakan sistem pertahanan nasional yang kredibel yang didasarkan atas
konsep unified approach (pendekatan persatuan) atau a single all-encompassing strategy
(strategi satu mencakup semua) yang meng-cover 17 ribu lebih pulau dengan luas 7.7 juta
Km² (termasuk wilayah zona ekonomi eksklusif) dengan panjang pantai sekitar 80 ribu
kilometer. Upaya bela negara bagi negara kepulauan seperti Indonesia berarti juga
mempertahankan kedaulatan maritim dan sumber daya yang berada di dalamnya,
termasuk ZEE. Keluar, untuk menciptakan faktor penangkal yang kuat kepada pihak
eksternal, paling tidak melalui pengembangan kemampuan surveillance (pengawasan)
dan reconnaissance (pengintaian).
Kedua, strategi pertahanan harus memperhatikan perubahan-perubahan dunia
internasional, terutama perubahan sifat perang, sifat dan bentuk ancaman dalam dunia
yang digerakkan oleh perkembangan pesat di bidang teknologi dan komunikasi. Perang
modern tidak lagi didominasi perang teritorial yang dilakukan dengan konsep-konsep
perlawanan bersenjata secara gerilya, melainkan merupakan perang yang menekankan
penghancuran infrastruktur vital atau center of gravity. Perkembangan ini tidak bisa
diatasi dengan mengandalkan cara pikir konvensional yang menekankan pada
kemampuan kekuatan darat yang juga tidak sesuai dengan posisi geografis Indonesia
sebagai negara kepulauan.
Kalaupun pemikiran-pemikiran atas dasar land-based strategy ini masih
dipertahankan, strategi ini tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan kekuatan udara dan
laut. Terlebih, kemajuan teknologi informasi dan persenjataan, misalnya munculnya
rudal-rudal balistik dan RMA, telah mengaburkan batas-batas teritorial, sifat perang
menjadi lebih cepat, negara makin rawan terhadap serangan preemptif, dan menuntut
pengembangan kekuatan mobile dan efektif.

74
Perang teritorial dengan melakukan pendudukan atas wilayah musuh menjadi
tidak populer dan mahal baik secara finansial dan moral. Sifat dan bentuk ancaman
menjadi makin kompleks terutama dengan memperhatikan posisi geografis Indonesia.
Indonesia akan menghadapi masalah-masalah baru yang tidak dapat dihindarkan
misalnya migrasi ilegal, perdagangan obat bius dan obat-obat terlarang lain, pencucian
uang, pencurian ikan, perdagangan gelap yang lain, serta teorisme internasional.
Perkembangan-perkembangan ini telah merubah pemikiran dan perencanaan
strategis yang mengarah pada kebutuhan akan kekuatan yang terlatih dan dilengkapi
dengan kemampuan untuk bergerak cepat dalam menjalankan tugas-tugas perang dan
selain perang. Secara lebih khusus, argumen di atas adalah untuk menegaskan perlunya
perubahan paradigma tentang perang dan perencanannya, pengorganisasian (organising),
penyusunan (structuring), dan komando (commanding) kekuatan militer, terutama bagi
negara-negara yang mempunyai wilayah kepulauan sangat luas dan menyebar.
* Implikasi Bagi Doktrin dan Strategi Pertahanan
Perubahan internasional, sifat perang, bentuk dan sifat ancaman, dan perlunya
reformasi di dalam tubuh militer Indonesia menjadi faktor penting dalam melihat apakah
doktrin dan strategi pertahanan Indonesia yang masih bertumpu pada doktrin kekuatan
darat dengan implikasi institusional yang berwujud struktur teritorial masih relevan untuk
mencapai tujuan kebijakan pertahanan nasional?
Secara umum doktrin pertahanan adalah prinsip-prinsip dasar yang memberikan
arah bagi pengelolaan sumber daya pertahanan untuk mencapai tujuan nasional. Prinsip-
prinsip dasar doktrin pertahanan pada level ini mencakup nilai, etika, dan moral yang
dalam khasanah kemiliteran Indonesia disebut sebagai doktrin induk. Doktrin induk
merumuskan apa hakekat kepentingan pertahanan nasional, jati diri/ identitas militer/
tentara (who we are?), dan tugas militer/ tentara (what do we do?) secara umum. Di
bawah doktrin induk adalah doktrin dasar yang pada intinya berisi rumusan strategi untuk
memaksimalkan pelaksanaan tugas pokok militer untuk mencapai tujuan pertahanan
nasional. Misalnya, apakah akan menggunakan continental strategy (strategi kontinental),
ataukah defence in depth (pertahanan mendalam) atau layered defence (pertahanan
lapisan). Doktrin ini kemudian dijabarkan ke dalam postur dan struktur kekuatan (posture
and force structure), dan penggelarannya. Lapis berikutnya adalah doktrin operasional

75
yang merujuk pada doktrin militer yang memberikan arah bagi penggunaan secara efektif
dan efisien kekuatan militer dalam melaksanakan operasi militer baik gabungan maupun
kecabangan. Pada lapis ini doktrin operasional mengidentifikasi karakteristik dasar
masing-masing kekuatan yang mempunyai implikasi bagi pengembangan strategi dan
operasi militer. Sedangkan doktrin paling bawah dan operasional adalah pada tingkat
taktis yang dikembangkan langsung untuk pelaksanaan operasi militer di lapangan.
Dilihat dari kerangka di atas, bagaimana dengan sistem pertahanan Indonesia
yang didasarkan atas doktrin pertahanan semesta (sishanta) dengan paradigma taktik
perang gerilya? Baik dilihat dari sisi sejarah maupun strategi militer, doktrin sishanta
bersifat defensif dan dipengaruhi oleh pemikiran matra darat. Doktrin ini paling tidak ada
mengandung beberapa masalah. Pertama, bahwa doktrin ini mengandung aspek politik
yang sangat kental yaitu menyangkut peran teritorial militer yang terwujud dalam
struktur komando teritorial. Doktrin Catur Dharma Eka Karma dan Sad Daya Dwi
Bhakti sangat sarat dengan muatan kepentingan politik yang sama sekali tidak terkait
dengan nilai, moral dan etika tentang bagaimana seharusnya TNI menggunakan kekuatan
militer untuk menjalankan tugas dalam pertahanan negara. Seharusnya dalam konteks
nilai, etika, dan moralitas, sishanta menjelaskan posisi TNI sebagai kekuatan yang tunduk
pada otoritas politik dan demokrasi secara umum, mempunyai komitmen kuat pada upaya
perdamaian baik nasional maupun internasional, tunduk pada prinsip-prinsip ius ad
bellum dan ius in bello dalam menggunakan instrumen kekerasan untuk menjalankan
tugas seperti diatur dalam hukum humaniter dan konvensi internasional tentang hak azasi
manusia.
Kedua, sistem pertahanan semesta yang bertumpu pada matra kekuatan darat
tidak sesuai dengan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan. Sishanta membentuk cara
pandang mengenai taktik perang gerilya. Dilihat dari posisi geografi Indonesia taktik ini
tentu sulit dipertahankan. Lagipula, dengan kemajuan teknologi sistem persenjataan dan
perubahan sifat perang yang tidak lagi bersifat perang teritorial, taktik perang gerilya
justru membuat pertahanan militer Indonesia sangat terbuka terhadap serangan musuh.
Perang modern dengan tekanan pada penghancuran infrastruktur dan fasilitas militer akan
ditentukan oleh kemajuan teknologi dan tingkat mobilitas militer.

76
Bahkan sekalipun strategi perang gerilya tetap dipakai atas dasar analisa tentang
ancaman dalam negeri, strategi ini tidak akan berhasil tanpa adanya kemampuan
mobilisasi yang ditopang oleh kekuatan laut dan udara. Seharusnya, pengalaman perang
kemerdekaan dan operasi tempur selama ini membentuk pemikiran mengenai
pengembangan kemampuan counter-insurgency (perlawanan terhadap pemberontak)
yang efisien dan efektif, bukan taktik perang gerilya. Lagipula, strategi perang gerilya
sebenarnya bukan dasar pengembangan strategi pertahanan, melainkan suatu bagian
strategi dari operasi militer perang, yang tidak dapat dilanggengkan dalam penyebaran
pasukan secara permanen di masa damai.
Ketiga, sistem pertahanan perang gerilya tidak mengarah pada pembentukan
integrated armed forces yang sangat penting bagi negara kepulauan. Ini disebabkan
karena lemahnya mobilitas AU dan AL yang sangat diperlukan dalam mengerahkan
secara cepat pasokan logistik dan pasukan. Situasi ini menyulitkan pengembangan
operasi militer gabungan. Dominasi paradigma taktik perang gerilya juga menyebabkan
ketidakefisienan dan ketidakefektifan dalam pengerahan sumber daya. Komando
teritorial menyerap 45% total belanja pertahanan, 69.8% dari seluruh pasukan TNI-AD
atau 51.7% dari seluruh pasukan TNI, dan hanya 50.6% dari seluruh pasukan teritorial
AD bertugas di satuan tempur. Sementara itu dalam waktu yang sama, operasi-operasi
militer di daerah konflik masih mengandalkan central command units yaitu Kopassus
atau Kostrad.
Keempat, sishanta sebenarnya bukan monopoli Indonesia. Singapura memiliki
apa yang disebut total defence. Demikian juga dengan negara-negara lain yang memiliki
dinas wajib militer melalui sistem konskripsi (conscription) atau mobilisasi.
Melihat kompleksitas lingkungan strategis, sifat dan bentuk ancaman, perubahan
sifat perang, kemajuan teknologi, dan faktor geografis, strategi pertahanan Indonesia
memerlukan perubahan doktrin yang mendasar. Dalam jangka panjang, strategi
pertahanan kontinental sulit dipertahankan karena tidak mampu mencegah dan
menangkal secara dini di wilayah maritim dan kontrol wilayah udara yang sekarang ini
menjadi media beroperasinya ancaman-ancaman non-tradisional dan transnational.
* Perubahan Doktrin TNI

77
Seiring tuntutan reformasi nasional, TNI sampai saat ini terus melaksanakan
reformasi internal dengan melakukan berbagai perubahan yang signifikan termasuk
diantaranya perubahan doktrin. Berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI nomor: Kep/
21/ I/ 2007 tanggal 12 Januari 2007, telah ditetapkan Doktrin TNI dari “Catur Dharma
Eka Karma” menjadi “Tri Dharma Eka Karma”. Ada sejumlah point penting perbedaan
antara Doktrin ABRI “CADEK” dan Doktrin TNI “TRIDEK” yang perlu diketahui dan
dipahami oleh segenap prajurit TNI Perbedaan sebagai berikut :
Doktrin ABRI Doktrin TNI
“Catur Dharma Eka Karma” “Tri Dharma Eka Karma”
TNI Polri masih bergabung TNI pisah dari Polri
Peran ABRI sebagai kekuatan pertahanan Peran TNI sebagai alat negara di bidang
keamanan dan sebagai kekuatan sosial pertahanan yang dalam menjalankan
politik. tugasnya berdasarkan kebijakan dan
keputusan politik negara.
A. Fungsi ABRI sebagai kekuatan Hankam Fungsi TNI sebagai kekuatan pertahanan
sebagai berikut : sebagai berikut :
1) Penindak dan penyanggah awal setiap A. Penangkal, kekuatan TNI harus mampu
ancaman musuh dari dalam maupun dari mewujudkan daya tangkal terhadap setiap
luar negeri. bentuk ancaman militer dan non-militer
2) Pengaman, penertib, dan penyelamat dari dalam dan luar negeri terhadap
masyarakat serta penegak hukum negara. kedaulatan, keutuhan wilayah dan
3) Pelatih dan pembimbing rakyat bagi keselamatan bangsa.
penyelenggaraan tugas Hankamneg dalam B. Penindak, kekuatan TNI harus mampu
mewujudkan kemampuan dan kekuatan digerakkan untuk menghancurkan kekuatan
perlawanan rakyat semesta untuk musuh yang mengancam terhadap
menghadapi ancaman. kedaulatan, keutuhan wilayah dan
4) Pembina kemampuan dan kekuatan keselamatan bangsa.
Hankamneg dalam pembinaan Hankamneg C. Pemulih, kekuatan TNI bersama dengan
dengan memelihara dan meningkatkan instansi pemerintah membantu fungsi
kemampuan dan kekuatan Hankam di pemerintah untuk mengembalikan kondisi
darat, laut dan udara serta penertiban dan keamanan negara keamanan akibat
penyelamatan masyarakat. kekacauan perang.
B. Fungsi ABRI sebagai kekuatan sosial
politik.
Tugas pokok ABRI sebagai kekuatan Tugas pokok TNI adalah menegakkan
Hankam adalah : kedaulatan negara, mempertahankan
A. Mengamankan, menyelamatkan, keutuhan wilayah NKRI serta melindungi
mempertahankan dan melestarikan segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
kemerdekaan, kedaulatan serta integritas Indonesia dari ancaman dan gangguan
bangsa dan negara. terhadap keutuhan bangsa dan negara.
B. Mengamankan, menyelamatkan,
mempertahankan dan melestarikan idiologi
Pancasila dan UUD 1945.

78
C. Mengamankan, menyelamatkan,
mempertahankan dan melestarikan
penyelenggaraan pembangunan nasional
dan hasil-hasilnya.
Pola operasi ABRI adalah : Tugas pokok TNI dilaksanakan melalui
a. Operasi pertahanan. operasi sebagai berikut :
1) Ops Penciptaan kondisi. a. Operasi militer untuk perang.
2) Ops Konvensional 1) Ops Gab TNI.
3) Ops Perlawanan wilayah 2) Ops Darat.
4) Ops Serangan balas 3) Ops Laut
5) Ops Pemulihan keamanan dan 4) Ops Udara.
penyelamatan masyarakat. 5) Kampanye Militer
b. Operasi Kamdagri 6) Ops Bantuan.
1) Ops Intelijen. b. Operasi militer selain perang
2) Ops Teritorial 1) Mengatasi gerakan separatis bersenjata.
3) Ops Tempur 2) Mengatasi pemberontakan bersenjata.
4) Ops Kamtibnas 3) Mengatasi aksi terorisme.
4) Mengamankan wilayah perbatasan.
5) Mengamankan obyek vital nasional yang
bersifat strategis.
6) Melaksanakan tugas perdamaian dunia
sesuai dengan kebijakan politik luar negeri.
7) Mengamankan Presiden dan Wakil
Presiden RI beserta keluarganya.
8) Memberdayakan wilayah pertahanan dan
kekuatan pendukungnya secara dini dalam
rangka sistem pertahanan semesta.
9) Membantu tugas pemerintahan di
daerah.
10) Membantu Kepolisian Negara
Republik Indonesia dalam rangka tugas
keamanan dan ketertiban masyarakat.
11) Mengamankan tamu negara setingkat
Kepala Negara dan Perwakilan Asing.
12) Membantu menanggulangi akibat
bencana alam, pengungsian dan pemberian
bantuan kemanusiaan.
13) Membantu pencarian dan pertolongan
dalam kecelakaan (Search and Rescue).
14) Membantu pemerintah untuk
pengamanan pelayaran dan penerbangan
terhadap pembajakan, perompakan dan
penyelundupan

79