Anda di halaman 1dari 23

Nama: ima suryani

Nim: 04011181621222
Learning issue

A. Abortus
a. Algorithma diagnosis

 Anamnesis
o Perdarahan pervaginam dari bercak hingga berjumlah banyak
o Spasme atau nyeri perut nyeri bagian bawah
o Terlambat haid (tidak datang haid lebih dari satu bu lan dihitung dari
haid terakhir)
o Keluarnya massa kehamilan atau produk konsepsi (fragmen plasenta)
 Pemeriksaan fisik
o Pemeriksaan VT, Untuk mengetahui pembukaan servik dan meraba jaringan
konsepsi yang keluar.
o P e m e r i k s a a n d e n g a n s p e k u l u m , untuk melihat sumber perdarahan,
memperhatikan sifat dan jumlah perdaraham pervaginam, massa kehamilan dalam
lumen vagina atau ostium serviks.
o Pemeriksaan bimanual, untuk menentukan besar, arah dan konsistensi
uterus.
 Kriteria diagnosis
o Sesuai kriteria anamnesis
o Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
o Pemeriksaan plano test dengan hasil + (positif)
o Pada pemeriksaan USG : Di dapatkan gambaran intra uteri dengan mean sac
diameter (MSD) ≥ 13 mm, atau hilangnya “embryonic pole” dengan MSD ≥ 30
mm atau gestasional sac irregular atau sisa jaringan, atau tidak didapatkan sisa
jaringan dengan gambaran endometrial line + (positif).
 Diagnosis Kerja
o Abortus Iminens (ICD 10 : O06.4)
o Abortus Inkomplit (ICD 10 : O05.8)
o Abortus Komplit (ICD 10 : O05.4)

b. DD

Diagnosis Perdarahan Nyeri uterus serviks Gejala khas


perut
Abortus Sedikit Sedang Sesuai usia Tertutup Tidak ada ekspulsi
iminens kehamilan jaringan konsepsi
Abortus Sedang- Sedang- Sesuai usia Terbuka Tidak ada ekspulsi
insipiens banyak hebat kehamilan jaringan konsepsi

Abortus Sedang- Sedang- Sesuai usia Terbuka Ekspulsi sebagian


inkomplit banyak hebat kehamilan jaringan konsepsi
Abortus Sedikit Tanpa/sedi Lebih kecil Terbuka Ekspulsi seluruh
komplit kit usia / jaringan konsepsi
kehamilan tertutup
Missed Tidak ada Tidakada Lebih kecil Tertutup Janin telah mati tapi
abortion usia tidak ada ekspulsi
kehamilan jaringan konsepsi

Abortus Ada/tidak Ada/tidak Lebih Terbuka Telah terjadi tanda


septic ada ada kecil/sesuai / tanda infeksi,
usia tertutup didapatkan keputihan
kehamilan berbau
Kehamilan Ada Timbul Uterus besar - Pertumbuhan sel telur
ektopik mendadak dan lembek yang sudah dibuahi
terganggu disusul tidak pada dinding
dengan endometrium kavum
syok atau uteri, rupture akan
pingsan terjadi pada tempat
nidasi menimbulkan
perdarahan
pervaginam dan nyeri
perut yang mendadak

c. Definisi
Abortus didefinisikan sebagai keluarnya hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar
kandungan dengan berat badan kurang dari 500gr atau umur kehamilan kurang dari 20
minggu. Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian
dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kondisi servikalis. Menurut
Sarwono, abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal di dalam uterus.
d. Etiologi
Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan. Umumnya
lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak diantaranya sebagai berikut:
 Faktor Genetik
Abortus spontan dini sering memperlihatkan kelainan perkembangan zigot, mudigah,
janin, dan kadang plasenta. Diketahui bahwa, abortus dapat terjadi pada mudigah
yang mengalami degenerasi atau tidak mengandung mudigah (blighted ovum). Pada
50-60%, kelainan kromosom adalah peyebabn utama mudigah atau janin dini
mengalami abortus spontan. Kelainan kromosom jarang dijumpai seiring dengan
kemajuan kehamilan dan ditemukan pada sekitar sepertiga kematian trimester kedua,
tetapi hanya 5% dari lahir mati trimester ketiga.

Tabel 1. Gambaran Kromosom pada Sejumlah Abortus


Insiden dalam Persen
Pemeriksaan kromosom
Kajii, dkk. (1980) Eiben, dkk (1990) Simpson (1980)
Normal (euploidi)
46,XY
46 51 54
dan 46,XX
Abnormal (aneuploidi)
Trisomi autosom 31 31 22
Monosomi (45,X) 10 5 9
Triploidi 7 6 8
Tetraploidi 2 4 3
Anomali struktur 2 2 2
Trisomi ganda atau tripel 2 0.9 0.7
Sumber : Williams Obstetric 23rd Edition, 2010

Janin dengan kromosom normal cenderung mengalami abortus lebih belakangan


daripada janin yang mengalami aneuploidi. Sebagai contoh, 75% abortus aneuploidi
terjadi sebelum 8 minggu usia kehamilan, sementara abortus euploidi memuncak
pada sekitar 13 minggu. Abortus euploidi meningkat drastis pada usia ibu > 35 tahun.
Separuh dari abortus karena kelainan sitogenetik pada trisemester pertama berupa
trisomi autosom. Trisomi timbul akibat nondisjuunction meiosis selama
gametogenesis pada pasien dengan kariotipnormal. Abortus berulang bisa disebabkan
oleh penyatuan 2 kroomosom yang abnormal, dimana bila kelainanya hanya pada
salah satu orang tua, faktor tersebut tidak diturunkan.

 Faktor Ibu
1. Infeksi
Beberapa teori diajukan untuk mencoba menerangkan peran infeksi terhadap
risiko abortus, diantaranya sebgaai berikut :
- Adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin, atau sitokin yang
berdampak langsung pada janin atau unit fetoplasenta.
- Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau cacat berat sehingga
janin sulit bertahan hidup.
- Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut
kematian janin.
- Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genitalia bawah yang bisa
mengganggu proses implantasi.
- Adanya infeksi virus sebelum kehamilan, dapat menyebabkan perubahan
genetik dan anatomik embrio.
2. Hormonal
Perempuan penyandang diabetes I dengan kadar HbA1c tinggi pada triseester
pertama, resiko abortus dan malformasi janin meningkat signifikan.
Kadar progesteroon yyang rendah berhubungna dengan resiko abortus, progsteron
mempengaruhi reseptivitas endometrium terhadap implantasi embrio. Pada
penelitian terhadap perempuan abortus lebih dari satu atau sama dengan tiga kali
didapatkan 17% kejadian defek luteal dan 50% nya mempunyai gambaran
progesterone yang normal.
3. Kelainan endokrin
Defisiensi iodium berat dapat berkaitan dengna keguguran. Defisiensi hormon
tiroid sering terjadi pada wanita dan berhubungan dengan penyakit autoimun.
Efek hipotiroidisme pada abortus dini belum diteliti secara mendalam.
Autoantibodi tiroid pernah dilaporkan berkaitan dengan peningkatan insiden
keguguran.
4. Nutrisi
Dalam sebuah penelitian oleh Maconoshie dkk (2007), mendapatkan adanya
penurunan risiko abortus pada wanita yang mengonsumsi buah dan sayuran segar
setiap hari. Defisiensi salah satu nutrien dalam makanan atau defisiensi moderat
semua nutrien tampaknya bukan merupakan penyebab penting abortus. Bahkan,
pada hiperemesis gravidarum yang ekstrim dan disertau penurunan berat badan
yang signifikan, jarang diikuti oleh keguguran.
5. Penyebab anatomis
Defek anatomis diketahui sebagai penyebab komplikasi obstetrik, seperti abortus
berulang, prematuritas, serta malpresentasi janin. Insiden kelainan bentuk uterus
berkisar 1/200 – 1/600 perempuan. Pada perempuan dengan riwayat abortus,
ditemukan anomali uterus pada 27% pasien. Penyebab abortus karena kelainan
anatomik uterus adalah septum uterus (40-80%), kemudian uterus bikornis atau
didelfis atau unikornis (10-30%). Leiomioma uterus yang besar dan multipel
dapat menyebabkan keguguran.

Gambar1.Septum Uterus dan Uterus Didelfis


Sumber : Williams Obstetric 23rd Edition, 2010

 Faktor Lingkungan dan Pemakaian Obat


Diperkirakan 1-10% malformasi janin akibat paparan obat, bahan kimia, atau radiasi
dan umumnya berakhir dengna abortus, misalnya paparan terhadap buangan gas
anestesi dan tembakau. Rokok diketahui mempunyai zat yang disebut dengna nikotin
yang mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi uteroplasenta.
Karbon monoksida menurunkan pasokan oksigen ibu dan janin serta memacu
neurotoksin. Gangguan sirkulasi fetoplasenta dapat mengakibatkan tergangguna
pertumbuhan janin sehingga terjadinya abortus. Wanita yang mengonsumsi paling
sedikit 500 mg kafein setiap hari atau setara dengan 5 gelas perhari mengalami
peningkatan dua kali lipat risiko keguguran.

B. Pemeriksaan Fisik Umum dan Laboratorium


Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum menunjukkan kondisi pasien secara umum akibat penyakit atau keadaan
yang dirasakan pasien.
2. Kesadaran, dengna menilai tingkat kesadaran yaitu ukuran dari kesadaran dan respon
seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan
3. TB, BB, Untuk memastikan kesan terhadap pasien atau klien terutama mengenai derajat
kesehatan. Pada pasien gemuk atau kurus memberi gambaran kemungkinan mengidap
penyakit.
4. Pemeriksaan tanda vital
o Tekanan darah, untuk menilai system kardiovaskular/keadaan hemodinamik (curah
jantung, tahanan vaskuler perifer, volume darah dan viskositas, dan elastisitas arteri)
o Suhu, Untuk mengetahui rentang suhu tubuh.
o Nadi
o Pernapasan

Pemeriksaan laboratoriuum
1. Mempersiapkan masa kehamilan, persalinan, dan menyusui yang sehat dan aman bagi ibu
hamil dan janin
2. Mengetahui risiko genetis yang akan diturunkan kepada janin sehingga bisa melakukan
pencegahan yang tepat
3. Mengetahui kesehatan ibu hamil dan janin secara keseluruhan
4. Mencegah adanya risiko preeklampsia, gangguan obesitas, riwayat hipertensi, dan
gangguan kehamilan lainnya yang sekiranya bisa menghambat masa kehamilan
5. Memperkecil potensi janin gugur, Penyebab Janin Cacat Sejak dalam Kandungan, atau
meninggal di dalam kandungan
Beberapa pemeriksaan laboratorium pada ibu hami, diantaranya:
a. Hematologi lengkap, untuk mengetahui kemungkinan adanya kelainan pada komponen
darah secara keseluruhan. Tes ini bisa dilakukan selama masa kehamilan, baik pada
trimester 1, trimester 2, atau bahkan saat persalinan. Tes ini juga memungkinkan untuk
mengetahui kemungkinan adanya gangguan pada organ hati dan ginjal pada ibu hamil,
termasuk jika ada gangguan pada pembekuan darah, juga risiko hipertensi pada ibu
hamil.
b. Tes rhesus, untuk mengetahui apakah rhesus keduanya cocok atau tidak. Jika rhesus
antara ibu dan janin tidak cocok, maka, akan terjadi lisis sel darah merah janin karena
antibody sendiri.
c. Glukosa, tes ini bisa mendeteksi kemungkinan adanya diabetes gestasional pada ibu
hamil. Bahaya diabetes pada ibu hamil juga bisa menyebar ke janin, seperti kerusakan
otak pada janin dan kerusakan jantung pada janin.
d. Virus hepatitis, tes ini bisa dilakukan dengan melakukan beberapa tes seperti GbsAg
(untuk mendeteksi virus hepatitis B), tes Anti HBs (untuk mendeteksi antibodi pada
hepatitis), dan Anti HCV (untuk mendeteksi virus hepatitis C).
e. Serologi, untuk mengetahui apakah ada potensi sifilis atau tidak. Jika ada, maka janin
akan memiliki potensi untuk cacat sejak dalam kandungan. Jika ibu hamil terdiagnosa
memiliki sifilis, maka perlu dilakukan penanganan khusus lanjutan, di antaranya:
 Venereal Diease Research Laboratory (VDRL), yaitu salah satu terapi untuk penyakit
sifilis.
 Treponema Pallidum Hemagglutination Assay (TPHA), yaitu pemeriksaan lanjutan
untuk mengkonfirmasi adanya penyakit sifilis pada seseorang.
f. Anti HIV, tes ini dilakukan pada trimester 1.
g. Urinalisa, tujuannya adalah untuk mendeteksi adanya kemungkinan infeksi saluran
kemih, atau gangguan lainnya di ginjal. Tujuan dari tes ini adalah untuk mencegah
kelahiran prematur. Tes ini bisa dilakukan di usia trimester 1 dan 2.
h. Hormon, pemeriksaan hormon ini dilakukan pada hormon b HCG mendeteksi kehamilan
di awal kehamilan), hormon progresteron (untuk mendeteksi normal atau tidaknya kadar
hormon progresteron), dan juga hormon estradiol (untuk mendukung kehamilan itu
sendiri).
i. Virus TORCH, untuk mencegah kecatatan pada bayi. Tes ini idealnya bisa dilakukan di
trimester 1 bisa diulangi lagi saat usia kehamilan sudah memasuki usia trimester 3.
Analisis Masalah

1. Apa penyebab vaginal bleeding pada kehamilan?


Jawab:
Perdarahan pada trimester pertama tidak selalu menandakan masalah. Hal ini dapat
disebabkan oleh:
1. Hubungan seksual saat trisemester awal kehamilan.
2. Infeksi, biasanya disertai dengan discharge vagina.
3. Implantasi janin pada uterus (kehamilan ektopik).
4. Perubahan hormon, menyebabkan perubahan pada serviks sehingga menjadi lebih lembut
dan rentan terhadap perdarahan. Dapat juga memicu pertumbuhan polyp servikal, dan
dengan ditambah dengan adanya trauma yang menyertai seperti hubungan seksual atau
pemeriksaan pelvis.

Beberapa faktor lain penyebab perdarahan vagina pada trimester pertama termasuk:
1. Miscarriage (keguguran), yaitu proses terhentinya kehamilan sebelum embrio atau fetus
dapat hidup didalam uterus. Hampir semua wanita yang mengalami miscarry akan
mengalami perdarahan sebelumnya.
2. Kehamilan ektopik, dapat menyebabkan perdarahan dan kram. Apabila perdarahan terjadi
di awal kehamilan, kehamilan tidak akan selamat.
3. Kehamilan mola, dimana telur yang dibuahi di uterus tidak akan lahir.
4. Abortus insipiens, ditandai dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri telah
membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses
pengeluaran.
5. Abortus komplit, seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan
kurang dari 20 minggu, atau berat janin kurang dari 500 gram.
6. Abortus incomplete, sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavuum uteri dan masihh
ada yang tertinggal. Jumlah perdarahan bergantung pada jaringan yang tersisa, yang
menyebabkan sebagian placental site masihh terbuka sehingga perdarahan berjalan terus.

Penyebab perdarahan pada kehamilan lebih lanjut:


1. Placenta previa
2. Placental abruption
3. Perdarahan uterin
4. Gangguan perdarahan kongenital

2. Bagaimana keterkaitan antara abdominal massage dengan vaginal bleeding?


Jawab:
Pemijatan abdomen adalah faktor risiko (trauma fisik) terhadap keguguran.

3. Bagaimana fisiologi dari siklus menstruasi?


Siklus menstruasi normal dapat dibagi menjadi 2 segmen yaitu, siklus ovarium (indung telur)
dan siklus uterus (rahim). Siklus indung telur terbagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu siklus
folikular dan siklus luteal, sedangkan siklus uterus dibagi menjadi masa proliferasi
(pertumbuhan) dan masa sekresi. Siklus menstruasi normal berlangsung selama 21-35 hari,
2-8 hari adalah waktu keluarnya darah haid yang berkisar 20-60 ml per hari.
Endometrium adalah lapisan dari uterus yang berperan di dalam siklus menstruasi. 2/3 bagian
endometrium disebut desidua fungsionalis yang terdiri dari kelenjar, dan 1/3 bagian
terdalamnya disebut sebagai desidua basalis.
Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:
1. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus
untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
2. LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk
merangsang hipofisis mengeluarkan LH
3. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk mengeluarkan
prolaktin

Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis merangsang
perkembangan folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya hanya 1
folikel yang terangsang namun dapat perkembangan dapat menjadi lebih dari 1, dan folikel
tersebut berkembang menjadi folikel de graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan
produksi FSH, sehingga hipofisis mengeluarkan hormon yang kedua yaitu LH. Produksi
hormon LH maupun FSH berada di bawah pengaruh releasing hormones yang disalurkan
hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen
terhadap hipotalamus. Produksi hormon gonadotropin (FSH dan LH) yang baik akan
menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang mengandung estrogen. Estrogen
mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh LH, folikel de graaf
menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum
yang akan menjadi korpus luteum, di bawah pengaruh hormon LH dan LTH (luteotrophic
hormones, suatu hormon gonadotropik). Korpus luteum menghasilkan progesteron yang
dapat mempengaruhi pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka
korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron.
Penurunan kadar hormon ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan pelepasan dari
endometrium. Proses ini disebut haid atau menstruasi. Apabila terdapat pembuahan dalam
masa ovulasi, maka korpus luteum tersebut dipertahankan.
Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu:

1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu endometrium (selaput
rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan hormon-hormon ovarium berada
dalam kadar paling rendah
2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Setelah menstruasi
berakhir, dimulailah fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari desidua
fungsionalis untuk mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada fase ini
endometrium tumbuh kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi pelepasan sel
telur dari indung telur (disebut ovulasi)
3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi. Hormon progesteron
dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan endometrium untuk membuat kondisi
rahim siap untuk implantasi (perlekatan janin ke rahim)
Siklus ovarium :

1. Fase folikular. Pada fase ini hormon reproduksi bekerja mematangkan sel telur yang
berasal dari 1 folikel kemudian matang pada pertengahan siklus dan siap untuk proses
ovulasi (pengeluaran sel telur dari indung telur). Waktu rata-rata fase folikular pada
manusia berkisar 10-14 hari, dan variabilitasnya mempengaruhi panjang siklus
menstruasi keseluruhan
2. Fase luteal. Fase luteal adalah fase dari ovulasi hingga menstruasi dengan jangka waktu
rata-rata 14 hari

4. Bagaimana intrepretasi pada pemeriksaan diatas?


Hasil pemeriksaan Nilai Normal Keterangan

Height= 160 cm IMT 16,79 Berat badan kurang


Weight 43 kg
Sensorium: CM CM Normal, belum ada
penurunan kesadaran.
BP: 110/70 mmHg Rentang nilai Normal
110/70 dan 120/80
mmHg
HR: 96 x/menit 60-100x/menit Normal

RR: 20x/menit 16-20x/menit Normal

T: 36,80 C 36,50 C -37,20 C Normal

5. Bagaimana mekanisme abnormal pada pemeriksaan diatas?


Jawab:
IMT rendah berkaitan dengan nutrisi saat kehamilan, kurangnya asupan nutrisi memberi
dampak yang tidak baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin.
6. Bagaimana intrepretasi pada pemeriksaan diatas?
Hasil pemeriksaan Nilai Normal Keterangan

Hb: 9,8 g/dL >11 Anemia


PLT: 150.000/mm3 150.000/mm3 - Normal
450.000/mm3
WBC:11.600/mm3 6000-17.000 Normal
Urin examination:
Clear Clear Normal
Pale yellow Kuning pucat Normal
Leukocyte esterase (-) (-) Normal, tidak ada
infeksi saluran kemih
Protein (-) (-) Normal
Glukosa (-) (-) Normal
Keton (-) (-) Normal
Bilirubiin (-) (-) Normal
Leukocyte (-) (-) Normal
Erytrhrocyte:1-2/lp Normal
Plano test (+) (+) Penanda kehamilan

7. Bagaimana mekanisme abnormal pada pemeriksaan diatas?


Jawab:
Hb turun bisa karena fisiologis kehamilan, pada kasus kita tidak mengetahui kadar Hb pasien
sebelum perdarahan jadi tidak bisa dikatakan anemia pada pasien karena perdarahan.

Plano test (+) menandakan adanya human chorionic gonadotropin (hCG) sebagai hormone
yang dihasilkan saat kehamilan

8. Bagaimana pemeriksaan urin pada kehamilan?


Jawab:
Pemeriksaan urin pada kehamilan biasa dikenal dengan plano test. Plano test bertujuan untuk
mendeteksi adanya Human Chorionic Gonadotropin (hCG) yang diproduksi oleh
sinsiotropoblastiksel selama pemeriksaan kehamilan.
Hormon ini disekresi di peredaran darah ibu (pada plasma darah), dan dieskresi pada urine
ibu. Hormon ini dapat mulai dideteksi pada 26 hari setelah konsepsi dan meningkat dengan
cepat pada hari ke 30-60. Tingkat tertinggi pada hari 60-70 usia gestasi, kemudian menurun
pada hari ke 100-130.
Prinsipnya urine wanita hamil mengandung α dan β HCG (monoclonal HCG lengkap). Pada
area sampel terdapat anti α HCG. Di area tes mengandung anti β HCG, sedangkan pada area
kontrol mengandung anti β HCG dan monoclonal HCG lengkap (α dan β HCG). Jika strip
urine dicelupkan pada urine wanita hamil, maka monoclonal HCG lengkap dalam urine akan
bereaksi dengan anti α HCG (di area tes) dan anti HCG yang berlebih akan berikatan dengan
monoclonal HCG lengkap dan β HCG (di area kontrol). Bila ikatan tersebut telah membentuk
ikatan sandwich, maka akan terlihat tanda garis merah.
Hasil negatif : jika terbentuk satu garis di area control
Hasil positif : jika terbentuk dua garis di area tes dan control

9. Bagaimana Algorithma penegakan diagnosis pada kasus?


 Anamnesis
o Perdarahan pervaginam dari bercak hingga berjumlah banyak
o Spasme atau nyeri perut nyeri bagian bawah
o Terlambat haid (tidak datang haid lebih dari satu bu lan dihitung dari
haid terakhir)
o Keluarnya massa kehamilan atau produk konsepsi (fragmen plasenta)
 Pemeriksaan fisik
o Pemeriksaan VT, Untuk mengetahui pembukaan servik dan meraba jaringan
konsepsi yang keluar.
o P e m e r i k s a a n d e n g a n s p e k u l u m , untuk melihat sumber perdarahan,
memperhatikan sifat dan jumlah perdaraham pervaginam, massa kehamilan dalam
lumen vagina atau ostium serviks.
o Pemeriksaan bimanual, untuk menentukan besar, arah dan konsistensi
uterus.
 Kriteria diagnosis
o Sesuai kriteria anamnesis
o Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
o Pemeriksaan plano test dengan hasil + (positif)
o Pada pemeriksaan USG : Di dapatkan gambaran intra uteri dengan mean sac
diameter (MSD) ≥ 13 mm, atau hilangnya “embryonic pole” dengan MSD ≥ 30
mm atau gestasional sac irregular atau sisa jaringan, atau tidak didapatkan sisa
jaringan dengan gambaran endometrial line + (positif).
 Diagnosis Kerja
o Abortus Iminens (ICD 10 : O06.4)
o Abortus Inkomplit (ICD 10 : O05.8)
o Abortus Komplit (ICD 10 : O05.4)

10. Apa saja diagnosis banding ada kasus?

Jawab:
Diagnosis Perdarahan Nyeri uterus serviks Gejala khas
perut
Abortus Sedikit Sedang Sesuai usia Tertutup Tidak ada ekspulsi
iminens kehamilan jaringan konsepsi
Abortus Sedang- Sedang- Sesuai usia Terbuka Tidak ada ekspulsi
insipiens banyak hebat kehamilan jaringan konsepsi

Abortus Sedang- Sedang- Sesuai usia Terbuka Ekspulsi sebagian


inkomplit banyak hebat kehamilan jaringan konsepsi

Abortus Sedikit Tanpa/sedi Lebih kecil Terbuka/ Ekspulsi seluruh


komplit kit usia tertutup jaringan konsepsi
kehamilan
Missed Tidak ada Tidakada Lebih kecil Tertutup Janin telah mati tapi
abortion usia tidak ada ekspulsi
kehamilan jaringan konsepsi

Abortus Ada/tidak Ada/tidak Lebih Terbuka/ Telah terjadi tanda


septik ada ada kecil/sesuai tertutup tanda infeksi,
usia didapatkan
kehamilan keputihan berbau
Kehamila Ada Timbul Uterus besar - Pertumbuhan sel
n ektopik mendadak dan lembek telur yang sudah
terganggu disusul dibuahi tidak pada
dengan dinding
syok atau endometrium
pingsan kavum uteri,
rupture akan terjadi
pada tempat nidasi
menimbulkan
perdarahan
pervaginam dan
nyeri perut yang
mendadak

11. Apa definisi penyakit pada kasus?


Jawab:
Abortus didefinisikan sebagai keluarnya hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar
kandungan dengan berat badan kurang dari 500gr atau umur kehamilan kurang dari 20
minggu.
Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil
konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kondisi servikalis. Menurut Sarwono, abortus
inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan masih ada sisa tertinggal di dalam uterus.
12. Apa saja etiologi penyakit pada kasus?
Jawab:
Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan. Umumnya
lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak diantaranya sebagai berikut:
1. Faktor Genetik
Abortus spontan dini sering memperlihatkan kelainan perkembangan zigot, mudigah,
janin, dan kadang plasenta. Diketahui bahwa, abortus dapat terjadi pada mudigah yang
mengalami degenerasi atau tidak mengandung mudigah (blighted ovum). Pada 50-60%,
kelainan kromosom adalah peyebabn utama mudigah atau janin dini mengalami abortus
spontan. Kelainan kromosom jarang dijumpai seiring dengan kemajuan kehamilan dan
ditemukan pada sekitar sepertiga kematian trimester kedua, tetapi hanya 5% dari lahir
mati trimester ketiga.

Tabel 1. Gambaran Kromosom pada Sejumlah Abortus


Insiden dalam Persen
Pemeriksaan kromosom
Kajii, dkk. (1980) Eiben, dkk (1990) Simpson (1980)
Normal (euploidi)
46,XY
46 51 54
dan 46,XX
Abnormal (aneuploidi)
Trisomi autosom 31 31 22
Monosomi (45,X) 10 5 9
Triploidi 7 6 8
Tetraploidi 2 4 3
Anomali struktur 2 2 2
Trisomi ganda atau tripel 2 0.9 0.7
Sumber : Williams Obstetric 23rd Edition, 2010

Janin dengan kromosom normal cenderung mengalami abortus lebih belakangan daripada
janin yang mengalami aneuploidi. Sebagai contoh, 75% abortus aneuploidi terjadi
sebelum 8 minggu usia kehamilan, sementara abortus euploidi memuncak pada sekitar 13
minggu. Abortus euploidi meningkat drastis pada usia ibu > 35 tahun. Separuh dari
abortus karena kelainan sitogenetik pada trisemester pertama berupa trisomi autosom.
Trisomi timbul akibat nondisjuunction meiosis selama gametogenesis pada pasien dengan
kariotipnormal. Abortus berulang bisa disebabkan oleh penyatuan 2 kroomosom yang
abnormal, dimana bila kelainanya hanya pada salah satu orang tua, faktor tersebut tidak
diturunkan.

2. Faktor Ibu
1) Infeksi
Beberapa teori diajukan untuk mencoba menerangkan peran infeksi terhadap risiko
abortus, diantaranya sebgaai berikut :
- Adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin, atau sitokin yang berdampak
langsung pada janin atau unit fetoplasenta.
- Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau cacat berat sehingga janin
sulit bertahan hidup.
- Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut kematian
janin.
- Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genitalia bawah yang bisa
mengganggu proses implantasi.
- Adanya infeksi virus sebelum kehamilan, dapat menyebabkan perubahan genetik
dan anatomik embrio.
2) Hormonal
Perempuan penyandang diabetes I dengan kadar HbA1c tinggi pada triseester
pertama, resiko abortus dan malformasi janin meningkat signifikan.
Kadar progesteroon yyang rendah berhubungna dengan resiko abortus, progsteron
mempengaruhi reseptivitas endometrium terhadap implantasi embrio. Pada penelitian
terhadap perempuan abortus lebih dari satu atau sama dengan tiga kali didapatkan
17% kejadian defek luteal dan 50% nya mempunyai gambaran progesterone yang
normal.
3) Kelainan endokrin
Defisiensi iodium berat dapat berkaitan dengna keguguran. Defisiensi hormon tiroid
sering terjadi pada wanita dan berhubungan dengan penyakit autoimun. Efek
hipotiroidisme pada abortus dini belum diteliti secara mendalam. Autoantibodi tiroid
pernah dilaporkan berkaitan dengan peningkatan insiden keguguran.
4) Nutrisi
Dalam sebuah penelitian oleh Maconoshie dkk (2007), mendapatkan adanya
penurunan risiko abortus pada wanita yang mengonsumsi buah dan sayuran segar
setiap hari. Defisiensi salah satu nutrien dalam makanan atau defisiensi moderat
semua nutrien tampaknya bukan merupakan penyebab penting abortus. Bahkan, pada
hiperemesis gravidarum yang ekstrim dan disertau penurunan berat badan yang
signifikan, jarang diikuti oleh keguguran.
5) Penyebab anatomis
Defek anatomis diketahui sebagai penyebab komplikasi obstetrik, seperti abortus
berulang, prematuritas, serta malpresentasi janin. Insiden kelainan bentuk uterus
berkisar 1/200 – 1/600 perempuan. Pada perempuan dengan riwayat abortus,
ditemukan anomali uterus pada 27% pasien. Penyebab abortus karena kelainan
anatomik uterus adalah septum uterus (40-80%), kemudian uterus bikornis atau
didelfis atau unikornis (10-30%). Leiomioma uterus yang besar dan multipel dapat
menyebabkan keguguran.

Gambar1.Septum Uterus dan Uterus Didelfis


Sumber : Williams Obstetric 23rd Edition, 2010

3. Faktor Lingkungan dan Pemakaian Obat


Diperkirakan 1-10% malformasi janin akibat paparan obat, bahan kimia, atau radiasi dan
umumnya berakhir dengna abortus, misalnya paparan terhadap buangan gas anestesi dan
tembakau. Rokok diketahui mempunyai zat yang disebut dengna nikotin yang
mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi uteroplasenta. Karbon
monoksida menurunkan pasokan oksigen ibu dan janin serta memacu neurotoksin.
Gangguan sirkulasi fetoplasenta dapat mengakibatkan tergangguna pertumbuhan janin
sehingga terjadinya abortus. Wanita yang mengonsumsi paling sedikit 500 mg kafein
setiap hari atau setara dengan 5 gelas perhari mengalami peningkatan dua kali lipat risiko
keguguran.

Referensi
Cunningham F.G., 2012. Obstetri Williams. Cetakan 23, EGC, Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku PelayananKesehatan Ibu di Fasilitas
Kesehatan Dasar dan Rujukan.1st ed. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia;2013
Moeloek FA et al, editors. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi POGI. Jakarta:
POGI; 2003.
Prawirohardjo,S.2018.Ilmu Kebidanan.Edisi ke-4.Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo