Anda di halaman 1dari 40

Buku Ajar

KOROSI INFRASTRUKTUR
PADA BANGUNAN YANG TERENDAM TSUNAMI

Penyusun
HERDI SUSANTO, ST, MT
NIDN : 0122098102

Mata Kuliah
KERUSAKAN LOGAM DAN PENGUJIAN TAK MERUSAK

PRODI TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS TEUKU UMAR
TAHUN 2015
RINGKASAN
Korosi merupakanpenyebab utamakegagalan dini banyak infrastuktur yang berada di
daerah pesisir. Tsunami yang melanda Aceh pada Desember 2004 telah menyebabkan
sebahagian besar wilayah pesisir Aceh termasuk wilayah Aceh Barat terendam air laut dan
berdampak pada rusaknya lingkungan disekitar pesisir pantai. Kondisi ini menjadikan
infrastruktur dalam kawasan landaan tsunami menjadi lebih rentan terhadap serangan
korosi. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa wilayah Aceh merupakan daerah yang
rawan gempa bumi sehingga infrastruktur yang telah terkorosi dapat rubuh dengan tiba-
tiba pada saat gempa dengan skala lebih kecil terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisa dampak tsunami 2004 terhadap korosi infrastruktur di wilayah Aceh
khususnya wilayah Aceh Barat. Korosi infrastruktur difokuskan pada korosi beton
bertulang. Tiga lokasi landaan tsunami di wilayah Aceh Barat dipilih sebagai lokasi
penelitian pemetaan potensial korosi tahun 2014 dan 2015, yaitu Suak Ribee, Ujong Kalak
dan Padang Seurahet. Pada setiap bangunan tersebut ditetapkan tiga kolom untuk dianalisa.
Metode Half-cell Potential Technique ASTM C867 digunakan untuk memetakan korosi
baja tulangan dalam beton dengan cara mengukur nilai potensial di permukaan beton.
Enam lokasi penelitian pengukuran laju korosi atmosferik dipilih, yaitu: Pasi Ujong Kalak,
Peunaga Pasi, Kubang Gajah penelitian tahun 2014 dan Alue Peuyareng, Pasi Jambu, Paya
Lumpat penelitian tahun 2015 mengikuti ASTM G 50. Hasil penelitian Bangunan yang
tidak terendam tsunami nilai potensial permukaan secara umum terjadi peningkatan dan
penyebaran potensial permukaan beton bertulang. Bangunan yang terendam tsunami nilai
potensial permukaan rata-rata terjadi penurunan nilai potensial ini disebabkan pasivasi
pada besi tulangan. Hasil penelitian korosi atmosferik menunjukkan bahwa semakin jauh
dengan pinggir pantai maka laju korosi atmosferik akan menurun.

Kata Kunci: korosi infrastruktur, korosi atmosferik, half-cell potential technique, Aceh
Barat, ASTM C867, ASTM G 50

i
PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan keberhasilan bagi
kami untuk menyelesaikan sub bab buku mata kuliah Kerusakan Logam dan Pengujian Tak
Merusak dengan judul Korosi Infrastruktur pada Bangunan Yang Terendam Tsunami,
buku ini diadopsi dari buku laporan Penelitian Kerjasama Antar Perguruan Tinggidengan
judul “Pemetaan Korosi Insfrastruktur di Kabupaten Aceh Barat”. Penelitian ini dibiayai
oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti)melalui skema Penelitian
Disentralisasi skim Penelitian Kerjasama Antar Perguruan Tinggi(Pekerti)
Ucapan terima kasih kami haturkan karena dengan penelitian Pekerti telah tersusun
buku ajar ini, kepada Universitas Teuku Umar yang melalui Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat telah mempercayakan kami dengan memenangkan proposal
penelitian yang kamiajukan sehingga penelitian ini dapat terlaksana. Kemudian, kami
ucapkan terima kasih kepada pihak Fakultas Teknik dan terutama kepada Jurusan Teknik
Mesin yang telah memberikan kerja sama yang sangat baik bagi kelancaran penelitian ini.
Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada Tim Peneliti Mitra (TPM) Dr. Ir. M.Ridha,
M.Eng dan Dr. Syifaul Huzni, ST, M.Sc dan tim dari Corosion dan Computation Research
Group (CCRG) Unsyiah Dr. Syarizal Fonna, ST, M.Sc yang telah membimbing dan
mengarahkan Tim Peneliti Pengusul (TPP) dalam melaksanakan penelitian ini.
Tidak lupa pula kami haturkan terima kasih kepada seluruh tim peneliti mulai dari
mahasiswa tugas akhir sampai dengan staf pengajar yang telah mencurahkan seluruh
tenagadan pikirannya dalam menyelesaikan penelitian ini.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada emua pihak yang telah membantu
keberhasilan penyusunan ini yang kiranya tidak mungkin kami sebutkan satu persatu di
sini.
Akhirnya, semoga buku ajar ini bisa menjadi rujukan untuk penelitian-penelitian
berikutnya.

Meulaboh, Desember 2015

Herdi Susanto, ST, MT

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ........................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ ii
RINGKASAN ......................................................................................................... iii
PRAKATA ............................................................................................................. iv
DAFTAR ISI .......................................................................................................... v
DAFTAR TABEL.................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ ix

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 2


2.1 Kerugian Akibat Serangan Korosi ..................................................... 2
2.2 Potensi Bencana Provinsi Aceh ......................................................... 3
2.3 Pengukuran Laju Korosi ................................................................... 4
2.4 Pemantauan Potensial Korosi dengan Half-Cell Potential Technique 5
2.5 Road Map Penelitian ......................................................................... 6
2.6 Penelitian yang Sudah Dilakukan ...................................................... 6

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN


3.1 Tujuan Penelitian .............................................................................. 7
3.2 Manfaat Penelitian ............................................................................ 7

BAB IV METODE PENELITIAN ..................................................................... 8


4.1 Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................... 8
4.2 Alat dan Bahan yang Digunakan ....................................................... 8
4.3 Prosedur Kerja .................................................................................. 8
3.3.1. Pengukuran Potensial Korosi .................................................. 9
3.3.2. Pengujian Eksposur ................................................................ 11

BAB V HASIL YANG DICAPAI ..................................................................... 13


5.1 Pengukuran Potensial Korosi ............................................................ 13
5.2 Pengukuran Laju Korosi Atmosferik ................................................. 18
5.3. Hasil Pengukuran Potensial Korosi .................................................. 20
5.4. Hasil Pengukuan Laju Korosi Atmosferik ........................................ 23

BAB VI RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA ............................................ 26


6.1. Pemetaan Potensial Permukaan Beton Bertulang ............................. 26
6.2. Pemetaan Korosi Atmosferik........................................................... 26

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN............................................................. 27


7.1. Kesimpulan ..................................................................................... 27
7.2. Saran............................................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 28

v
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai konstanta konversi satuan laju korosi ...................................... 5


Tabel 2.2 Kriteria level-level resiko korosimerujuk kepada ASTM C867 ........ 6

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar2.1 Jembatan layang (highway) yang ambruk di Quebec , Kanada, tahun


2006 yang salah satunya disebabkan oleh efek korosi ...................... 2
Gambar 2.2. Wahana Atlantis, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, pada tanggal 25
September 2011 yang salah satunya disebabkan oleh efek korosi ..... 3
Gambar 2.3. Spesimen yang diekspos diatas rak pengujian dalam suatu pelaksanaan
uji ekspos korosi atmosferik ............................................................ 5
Gambar 2.4. Pengukuran potensial korosi dengan half-cell potential technique .... 6
Gambar 4.1. Diagram Alir Penelitian ................................................................... 9
Gambar 4.2. Diagram alir langkah-langkah pengukuran potensial korosi ............. 10
Gambar 4.3. Diagram alir langkah-langkah pengujian eksposur ........................... 11
Gambar 5.1. Peta Lokasi Penelitian Pemetaan Potensial Korosi ........................... 13
Gambar 5.2. Bangunan terendam tsunami sebagai objekpenelitianI ...................... 14
Gambar 5.3. Bangunan terendam tsunami sebagai objekpenelitianII .................... 14
Gambar 5.4. Bangunan tidak terendam tsunami sebagai objekpenelitianIII .......... 15
Gambar 5.5. Bangunan tidak terendam tsunami sebagai objekpenelitianIV .......... 15
Gambar 5.6. SkemaDenah (a) Objek Penelitian I; (b) Objek Penelitian II ............. 16
Gambar 5.7. SkemaDenah (a) Objek Penelitian III; (b) Objek Penelitian IV ......... 16
Gambar 5.8. pemetaan posisi baja tulangan dalam beton ...................................... 17
Gambar 5.9(a) proses pembentukan grid; (b) grid pada kolom.............................. 17
Gambar 5.10. Pengukuran nilai potensial permukaan kolom ................................ 18
Gambar 5.11.Peta Lokasi Penelitian Pemetaan Korosi Atmosferik ....................... 19
Gambar 5.12. (a) ekpos spesimen uji; (b) TPM tinjau lokasi uji korosi atmosferik 19
Gambar 5.13. Lokasi Penelitian Pemetaan Korosi Atmosferik di desa Peunaga .... 20
Gambar 5.14. Kontur kolom Potensial permukaan objek penelitian I.................... 20
Gambar 5.15. Kontur kolom Potensial permukaan objek penelitian II .................. 21
Gambar 5.16. Kontur kolom Potensial permukaan objek penelitian III ................. 22
Gambar 5.17. Kontur kolom Potensial permukaan objek penelitian IV ................. 23

vii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Instrumen .................................................................................. 30


Lampiran 2. Personalia Tenaga Peneliti Beserta Kualifikasinya .................... 31
Lampiran 3. Artikel Ilmiah (Draft Revisi ke 2).............................................. 32

viii
BAB I
PENDAHULUAN

Wilayah Aceh Barat merupakan salah satu kawasan yang rawan terhadap bencana
gempa bumi. Sementara, di wilayah tersebut banyak terdapat infrastrukturbaja dan beton
bertulang yang sudah berumur. Kemudian, ketika musibah gempa dan tsunami Desember
2004, sebagian infrastruktur tersebut tidak runtuh, namun sempat terendam air laut dalam
kurun waktu tertentu. Dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi banyak dari infrasruktur
tersebut yang dilakukan perbaikan dan selanjutnya digunakan kembali.
Permasalahan yang muncul adalah infrasruktur yang diperbaiki kembali tersebut
dengan tetap menggunakan struktur yang telah terendam air laut akibat
tsunami.Infrasruktur yang dibangun kemudian pun juga berada dalam kawasan landaan
tsunami. Sehingga infrastruktur menjadi rentan terhadap serangan korosi.
Infrastruktur yang telah mengalami serangan korosi menyebabkan penurunan
kekuatannya sehingga dapat rubuh secara tiba-tiba ketika gempa bumi dengan skala kecil
terjadi. Hal ini tentunya tidak diinginkan karena selain mengakibatkan kerugian materil
juga dapat menyebabkan korban jiwa pada masyarakat akibat tertimpa reruntuhan
infrastruktur.
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kegagalan secara tiba-tiba pada
infrastruktur khususnya yang berada dalam kawasan landaan tsunami 2004 di Aceh Barat,
pemantauan potensial korosi dan laju korosi secara berkala terhadap infrastruktur tersebut
mutlak diperlukan.
BAB II
1 PUSTAKA
TINJAUAN

2.1. Kerugian Akibat Serangan Korosi


Korosi merupakan proses degradasi bahan yang tidak bisa dihindari, dan telah
menjadi permasalahan dunia yang mengakibatkan kerugian besar secara ekonomi [1].
Kerugian akibat korosi ini telah mencapai 3-4% GDP negara-negara industri [2]. U.S.
Federal Highway Administration (FHWA) melaporkan estimasi total biaya tahunan korosi
di Amerika Serikat sekitar $276 milyar (kira-kira 3.1% dari U.S. GDP)[3]. Di Indonesia,
sekitar 20 triliun rupiah diperkirakan hilang percuma setiap tahunnya karena proses
korosi [4].
Korosi infrastruktur seperti bangunan, jembatan, jalan, pabrik, jaringan pipa dan
tangki, merupakan masalah korosi yang paling serius dihadapi dunia pada saat ini.
Utamanya terhadap infrastruktur yang berumur (aging infrastructure) yang telah
mendekati umur desainnya, yang mana perawatan dan upaya untuk memperpanjang umur
pemakaiannya menjadi perhatian utama [3]. Kemudian, kegagalan dini berbagai
infrastruktur seperti jalan, jembatan, dermaga dan transmisi perpipaan sering disebabkan
oleh korosi infrastruktur tersebut [5].

Gambar 2.1. Jembatan layang (highway) yang ambruk di Quebec , Kanada, tahun 2006
yang salah satunya disebabkan oleh efek korosi [6]
3

Contoh kegagalan infrastruktur yang pernah perjadi akibat serangan korosi seperti
ambruknya struktur jembatan layang di Kanada yang diperlihatkan dalam Gambar 2.1 dan
ambruknya struktur Wahana Atlantis, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, pada bulan
2 2.2.
September 2011 yang ditunjukkan pada Gambar

Gambar 2.2. Wahana Atlantis, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, pada tanggal 25
September 2011 yang salah satunya disebabkan oleh efek korosi [7]

2.2. Potensi Bencana Provinsi Aceh


Provinsi Aceh merupakan daerah yang rawan bencana alam seperti gempa bumi,
gunung berapi, longsor, banjir dan badai. Gempa bumi yang sering terjadi di provinsi ini
adalah sebagai akibat posisi geologis Aceh yang berada di jalur penunjaman dari
pertemuan lempeng Asia dan Australia, serta berada di bagian ujung patahan besar
Sumatera (sumatera fault/transform) yang membelah pulau Sumatera dari Aceh sampai
Selat Sunda yang dikenal dengan Patahan Semangko [8].
Selain itu, zona patahan aktif yang terdapat di wilayah Aceh adalah wilayah bagian
tengah, yaitu di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh
Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan. Hal ini dapat
menyebabkan Aceh mengalami bencana geologis yang cukup panjang [8].
Gempa bumi yang terjadi selama kurun waktu 2007-2010 di Aceh sebanyak 97 kali
dengan kekuatan 5 sampai dengan 7,5 Skala Richter. Kejadian diprediksi akan berulang
karena Aceh berada diatas tumbukan lempeng dan patahan. Dampak yang ditimbulkan
4

selama kurun waktu tersebut yaitu korban jiwa sebanyak 62 orang, kerusakan harta benda
diperkirakan mencapai 25–50 Milyar rupiah, kerusakan sarana dan prasarana 20–40
persen, sedangkan cakupan wilayah yang terkena gempa sekitar 60–80 persen, dan 5
persen berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Kabupaten/Kota yang
diperkirakan akan terkena dampak adalah: Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan
Raya, Simeulue, Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Subulussalam, Sabang,
Aceh Besar, Pidie, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara [8].

2.3. Pegukuran Laju Korosi


Pada penelitian ini, laju korosi infrastruktur direpresentasikan dengan laju korosi
atmosferik. Pengukuran laju korosi atmosferik dapat dilakukan dengan dua metode,
bergantung kepada perspektif dalam menentukan korosi atmosferik, apakah dari perspektif
bahannya atau dari faktor-faktor penyebabnya [9].
Pengujian berdasarkan perspektif yang pertama melibatkan spesimen secara
langsung, dengan mengukur kehilangan massa yang diakibatkan oleh korosi. Metode ini
melibatkan proses eksposur (exposure) sampel bahan pada udara terbuka, hingga sampel
bahan tersebut terkorosi. Sampel bahan ini biasanya dipotong dalam bentuk-bentuk yang
praktis disebut kupon (coupon). Seiring waktu, spesimen akan mengalami penipisan akibat
kehilangan massa. Pengukuran kehilangan massa dalam interval waktu tertentu (per hari,
minggu atau bulan, bergantung kepada laju korosinya secara visual) dilakukan, dan laju
korosi atmosferik pada lokasi tersebut, untuk bahan logam yang diuji, dapat ditentukan dan
direpresentasikan dalam satuan penetrasi per tahun (seperti mils per tahun atau milimeter
per tahun), melalui persamaan berikut [10]:

Laju korosi = (KW) / (ATD) 1

dimana :
= konstanta konversi satuan laju korosi (Tabel 1)
= kehilangan massa, gram
= luas permukaan, cm2
= waktu eksposur, jam
= massa jenis, g/cm3
5

Tabel 2.1. Nilai konstanta konversi satuan laju korosi


Satuan laju korosi yang diinginkan Nilai
Mils per tahun (mpy) 3.45 106

Milimeter per tahun (mm/y) 8.76 104

Gram per meter kuadrat per jam (g/m2.h) 1.00 104 x

Gambar 2.3. Spesimen yang diekspos diatas rak pengujian dalam suatu
pelaksanaan uji ekspos korosi atmosferik [11]

Standar untuk metode ini adalah ASTM G50 atau ISO 8565. Metode ini dinamakan
pengujian eksposur (exposure test). Gambar 2.3 menunjukkan contoh pelaksanaan
pengujian eksposur.
Metode yang kedua adalah dengan mengukur parameter-parameter yang
menyebabkan korosi atmosferik seperti kadar polutan (terutama SO2 dan ion klorida),
TOW, dan lain-lain. Hasil dari pengukuran dapat direpresentasikan dalam klasifikasi udara
berdasarkan parameter-parameter tersebut, berdasarkan standar ISO 9223.

2.4. Pemantauan Potensial Korosi dengan Half-Cell Potential Technique


Half-cell potential technique adalah suatu pengujian tidak merusak yang banyak
digunakan untuk memantau dan menentukanlokasi korosi pada infrastruktur beton
bertulang. Metode inimengukur nilai potensial korosi permukaan beton untuk menentukan
level resiko korosi yang telah terjadi [12]. ASTM C867 ialah standar yang digunakan
dalam melaksanakan half-cell potential technique[13].Gambar 2.4 menunjukkan cara
pengukuran potensial korosi permukaan beton dengan metode tersebut.
6

Gambar 2.4. Pengukuran potensial korosi dengan half-cell potential technique

Tabel 2.2 Kriteria level-level resiko korosimerujuk kepada ASTM C867 [12]
Elektroda Rujukan (mV)
Level resiko
No Standar
Cu/CuSO4 Ag/AgCl korosi
Hidrogen Calomel
Rendah (resiko
1 > (-200) > (-100) > (+120) > (-80)
korosi 10%)

(-80) – (-
2 (-200)– (-350) (-100)– (-250) (+120) – (-30) Menengah
230)

Tinggi (resiko
3 < (-350) < (-250) < (-30) < (-230)
korosi>90%)

4 < (-500) < (-400) < (-180) < (-380) Sangat tinggi
BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.1.Tujuan penelitian
Menganalisa dampak tsunami 2004 terhadap korosi infrastruktur di Provinsi Aceh
khususnya wilayah Aceh Baratdengan melakukan pemantauan potensial korosi dan
pengukuran laju korosi terhadap infrastruktur dalam kawasan landaan tsunami.

1.2. Manfaat Penelitian


1. Tersedianya data terkini korosi infrastruktur kawasan landaan tsunami Aceh Barat
2. Lebih menjamin keselamatan masyarakat. Potensial korosi dan laju korosi dapat
diketahui sehingga kegagalan diniinfrastruktur dapat dihindari.
3. Mengurangi kerugian materil maupun non-materil akibat bencana rubuhnya
infrastruktur secara tiba-tiba.
BAB IV
7
METODE PENELITIAN

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di wilayah landaan tsunami 2004 Aceh Barat pada
lokasiuntuk pemetaan potensial permukaan beton, yaitu Suak Ribee, Padang Seurahet dan
Ujung Kalak, untuk pemetaan korosi atmosferik, yaitu Ujung Kalak, Peunaga, dan Kubang
Gajah.Penelitian akan dilakukan selama 8 (delapan) bulan yang terbagi menjadi dua
kelompok yaitu pemantauan potensial korosi infrastruktur dan pengukuran laju korosi
infrastruktur yang direpresentasikan dengan laju korosi atmosferik.

4.2. Alat dan Bahan yang Digunakan


Peralatan utama yang digunakan adalah Half-cell meter, rebar locator, rak
eksposur/rak pengujian, timbangan digital, dan perlengkapan pembersihan spesimen
seperti wadah, sarung tangan, sikat, dan lain-lain.
Spesimen eksposur untuk menganalisa korosi atmosferik berupa baja konstruksi yang
banyak digunakan dilapangan. Lima jenis baja konstruksi, yang umum dijual dipasaran
Aceh, yaitu berbentuk baja plat, baja strip, baja siku, baja segi empat dan baja
tulangan,dipilih menjadi spesimen.

4.3. Prosedur Kerja


Penelitian yang diajukan ini mengikuti diagram alir yang diberikan dalam Gambar
4.1. Penelitian dimulai dengan studi literatur mengenai korosi infrastruktur, faktor-faktor
yang mempengaruhinya, bahaya dan kerugian yang dapat ditimbulkannya serta metode
pengukurannya. Kemudian dilakukan survey lapangan untuk menentukan lokasi yang tepat
untuk pengujian potensial korosi dan pengujian eksposur.
Berdasarkan data dari studi literatur dan survey lapangan, dilakukan perumusan
masalah untuk penelitian ini. Dari berbagai permasalahan ditetapkan batasan masalah.
Kemudian ditetapkan tujuan penelitian. Berdasarkan tujuan penelitian dirumuskan
hipotesis untuk penelitian yang akan dijalankan. Kemudian dilanjutkan dengan pengukuran
potensial korosi dan pengujian eksposur.
9

8
Mulai

KajianPustakadan Survey Lapangan

Perumusan Masalah

Batasan Masalah/Ruang Lingkup Penelitian

Tujuan Penelitian

Hipotesis

Pengukuran data potensial korosi (Gambar 7) dan


pengujian eksposur (Gambar 8)

Analisa

Hasil Penelitian

Kesimpulan dan Rekomendasi

Pelaporan

Selesai

Gambar 4.1 Diagram alir penelitian

4.3.1. Pengukuran potensial korosi


10

Pengukuran potensial korosi infrastruktur beton bertulang (Gambar 4.2) dilakukan


pada empat bangunan yang berada dalam lokasi landaan tsunami 2004 di Aceh Barat.
Empat bangunan tersebut terdiri dari bangunan lama (yang dibangun sebelum tsunami
2004) dan juga bangunan baru (yang dibangun setelah tsunami 2004). Kemudian, untuk
setiap bangunan dipilih minimal tiga kolom untuk dilakukan pengukuran potensial korosi.
Pada setiap kolom dilakukan penentuan lokasi tulangan dengan alat rebar locator.
Kemudian, dibuatkan grid pada permukaan kolom sesuai dengan lokasi tulangan.

Mulai

Penentuan lokasi infrastruktur


beton bertulang

Pemilihan kolom beton untuk


pengukuran potensial

Identifikasi lokasi tulangan (rebar locator) dan


pembuatan grid pada permukaan beton

Mengukur potensial korosi (half-cell meter)

Ploting potensial korosi


Lokasi
berikutnya
Analisa data potensial korosi untuk setiap
kolom pengukuran

Semua lokasi selesai?


Tidak
Ya
Integrasi data dari setiap lokasi

Selesai
Gambar 4.2 Diagram alir langkah-langkah pengukuran potensial korosi

Selanjutnya, potensial korosi permukaan kolom diukur tepat pada persilangan grid
dengan menggunakan alat half-cell meter. Data potensial korosi ini diplot sehingga
diperoleh peta kontur nilai potensial korosi pada permukaan kolom. Kemudian, level
resiko korosi yang terjadi ditentukan berdasarkan criteria yang ada dalam ASTM C867
(Tabel 2.2). Seterusnya, pengukuran dilanjutkan pada bangunan berikutnya sehingga
seluruh bangunan selesai diukur.
11

4.3.2. Pengujian eksposur


Pengukuran laju korosi infrastruktur dilakukan melalui pengujian eksposur
(Gambar 4.3) yang didasarkan pada standar ASTM G 50. Empat lokasi eksposur yang
berbeda yang tersebar di wilayah Aceh Barat dipilih dalam penelitian ini. Pada setiap
lokasi pengujian, diletakkan satu rak yang mengekspos 5 (lima) jenis spesimen yang
masing-masing jenis terdiri dari 3 (tiga) spesimen. Sebelum dilakukan eksposur, setiap
spesimen ditimbang untuk mendapatkan berat awalnya.

Mulai

Penentuan lokasi (berdasarkan


kaidah ASTM G 50)

Persiapan spesimen (kupon) dan rak


(berdasarkan ASTM G 50)

Pengumpulan data awal


(berdasarkan ASTM G 33)

Eksposur

Pembersihan spesimen (ASTM G 1)

Tidak Uji kehilangan berat dan pengumpulan data


setelah periode berakhir (ASTM G33)

Target waktu
berakhir?
Ya
Integrasi data dari setiap lokasi

Selesai
Gambar 4.3 Diagram alir langkah-langkah pengujian eksposur
12
Setiap spesimen diekspos dan pada setiap periode dua minggu sekali akan dilakukan
pengujian kehilangan massa dengan menngunakan timbangan digital. Mula-mula spesimen
dibersihkan dari produk korosi, sesuai dengan standar ASTM G 33, kemudian berat
spesimen pada saat itu ditimbang menggunakan timbangan digital untuk menjamin akurasi.
Laju korosi ditentukan dari data kehilangan massa tersebut, melalui persamaan (1).
Setelah data untuk semua lokasi pengujian didapat, data-data ini kemudian
diintegrasikan untuk analisa secara menyeluruh sehingga dapat disusun suatu kesimpulan
dan rekomendasi. Sebagai langkah terakhir, akan disusun suatu laporan mengenai
penelitian ini.
BAB V
HASIL YANG DICAPAI

5.1. Pengukuran Potensial Korosi


Pengukuran potensial korosi bangunan beton bertulang yang menjadi objek
penelitian di dalam kabupaten Aceh Barat dilakukan untuk tahun pertama tanggal 19-22
Agustus 2015 dan tahun kedua tanggal 31 Mei -2 Juni 2015 . Dua bangun yang pernah
terendam tsunami dan dua bangunan yang tidak terendam tsunami dipilih dalam penelitian
ini, lokasi bangunan yang menjadi objek penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Gambar 5.1 Peta Lokasi Penelitian Pemetaan Potensial Korosi


Sumber: Google Earth , 2014

Keempat bangunan yang menjadi objek penelitian tersebut, untuk objek penelitian
dua bangunan yang terendam tsunami terlihat pada Gambar 5.2 dan Gambar 5.3. Objek
penelitian dua bangunan yang tidak terendam tsunami terlihat pada Gambar 5.4. dan
Gambar 5.5.
Gambar 5.2. Bangunan terendam tsunami sebagai objekpenelitianI
ianI

Gambar5.2.adalahRumah
Rumahpendudukyangberadadi Gampong Suak
Ribeeyangterendamairlaut.Ketikatsun
tikatsunami,Rumahiniterendam dengan
ketinggian±4m.Rumahiniterletak
terletak sekitar 300 m dari bibir pantai.

Gambar 5.3. Bangunan terendam tsunami sebagai objekpenelitianI


ianII
Gambar5.3.adalahsebuah
sebuah mesjidyangberadadi
mesjid Gampong Padang Seurahet
yangterendamairlaut.Ketikatsun
tikatsunami,mesjidiniterendam dengan
ketinggian±6m.mesjidiniterletak
terletak sekitar 100 m dari bibir pantai.

Gambar 5.4. Bangunan tidak terendam tsunami sebagai


s objekpenelitianI
ianIII

Gambar5.4adalahrumaah warung (ruwa)pendudukyangberadadi gampong Suak


RibeeKecamatan Johan Pahlawan.
Pahlawan Bangunan ini dibangun pada tanggal 13 Maret 2014 dan
terletak sekitar 300 m dari bibir pantai.
panta

Gambar 5.5. Bangunan tidak


tida terendam tsunami sebagai objekpenelitianI
ianIV
Gambar5.5.adalahsebuah mushallayangberadadi Gampong Ujong Kalak dan
dibangun setelah bencana alam gempa dan tsunami 2004.mesjidiniterletak sekitar 200 m dari
bibir pantai.
Kemudian, keempat bangunan tersebut dipilih untuk pemantau level korosi, pada
masing-masing bangunan ditetapkan tiga tiang (kolom) bangunan untuk dijadikan objek
pengukuran potensial permukaan beton. Untuk skema denah kolom yang menjadi objek
pengukuran bangunan yang terendam tsunami terlihat pada Gambar 5.6.

Kolom 2

Kolom 3 Kolom 2

Kolom 1
Kolom 1
Kolom 3

(a) (b)
Gambar 5.6.SkemaDenah (a) Objek Penelitian I; (b) Objek Penelitian II

Skema denah bangunan yang tidak terendam tsunami yang menjadi objek
pengukuran terlihat pada Gambar 5.7.

Kolom 2 Kolom 3
Kolom 1
Kolom 1

Kolom 3
Kolom 2

(a) (b)
Gambar 5.7.SkemaDenah (a) Objek Penelitian III; (b) Objek Penelitian IV

Selanjutnya dilakukan persiapan pengukuran dengan melakukan pemetaan posisi


baja tulangan dalam beton menggunakan alat rebar locator, pada lokasi ditemukan posisi
tulangan dalam benton, maka posisi tersebut ditandai dengan menggunakan kapur tulis,
seperti terlihat pada Gambar 5.8.

Gambar 5.8. pemetaan posisi baja tulangan dalam beton

Dilanjutkan dengan pembentukangrid,inidilakukanpada kolom yang telah dipetakan

posisi baja tulangan dalam beton, pembentukan grid dengan menggunakan penggaris dan

kapur tulis, seperti terlihat pada gambar 5.9.

(a) (b)
Gambar 5.9. (a) proses pembentukan grid; (b) grid pada kolom

Tahapan selanjutnya Pengukuran nilaipotensialbaja


padapermukaanbetonmenggunakanalat HalfCellPotentialMapping, dimana pengukuran
potensial permukaan beton dilakukan pada permukaan beton tepat berada diatas posisi baja
tulangan yang telah di gridkan diatas permukaan beton.seperti terlihat pada Gambar 5.10.

Gambar 5.10. Pengukuran nilai potensial

Data hasil pengukuran nilai postensial dan ketebalan selimut beton dicatat dalam
logbook dan didokumentasi dengan bantuan komputer untuk menjamin akuntabilitas hasil
penelitian, dan setiap pengujian di dampingi oleh Tim Mitra Penelitian (TPM).

5.2. Pengukuran Laju Korosi Atmosferik


Survey lokasi untuk menentukan lokasi penempatan rak pengujian dilakukan di
dalam kabupaten Aceh Barat dari tanggal04 -16 Agustus 2014Untuk memastikan kondisi
lokasi aman dan layak dilakukan ekpos spesimen uji. Untuk tahap awal 2 (dua) lokasi telah
ditetapkan dan dilaksanakan pengujian, lokasi penempatan rak dan spesimen uji yang
menjadi lokasi penelitian adalah desa Kubang Gajah, Peunaga, Kampung Belakang, Alue
Peuyareng, Pasi Jambu dan Paya Lumpat seperti dilihat pada Gambar 5.11.
Gambar 5.11. Peta Lokasi Penelitian Pemetaan Korosi Atmosferik
Sumber: Google Earth , 2014

Penempatan
enempatan rak pengujian dilakukan dengan menempatkan rak pengujian pada
posisi menghadap ke laut dan spesimen uji ditempatkan seesuai dengan posisi yang telah
ditetapkan dalam rak uji, ekpos spesimen uji dengan menggunakan rak uji pada tahun
pertama di desa Kubang Gajah seperti terlihat pada Gambar 5.12.

(a) (b)
Gambar 5.12. (a) ekpos spesimen uji; (b)
(b) TPM tinjau lokasi uji korosi atmosferik

Penempatan spesimen uji dilokasi penelitian pemetaan laju korosi atmosferik di


desa Kubang Gajah telah dilakukan dan telah dilakukan monitoring dan evaluasi hasil
penelitian awal oleh Tim Mitra Penelitian (TPM) pada
pada tanggal 18 Agustus 2014. Untuk
penempatan rak dan spesimen uji untuk lokasi desa Peunaga, dapat dilihat pada Gambar
5.13.

Gambar 5.13. Lokasi Penelitian Pemetaan Korosi Atmosferik di desa Peunaga

Penelitian tahun kedua penambahan empat (4) lokasi penelitian baru untuk
pengukuran korosi atmosferik yaitu di desa Kampung Belakang, Alue Peuyareng, Pasi
Jambu dan Paya Lumpat. Kondisi ekspos spesimen uji untuk lokasi penelitian desa
Kampung Belakang Kecamatan Johan Pahlawan dan desa Alue Peuyareng Kecamatan
Meureubo ditunjukkan pada Gambar 5.14.

(a) (b)
Gambar 5.14. Ekspos spesimen uji tahun kedua (a). lokasi Kampung Belakang
(b) lokasi Alue Peuyareng
Ekspos spesimen uji untuk lokasi penelitian desa Pasi Jambu Kecamatan Kaway
XVI dan desa Paya Lumpat Kecamatan Samatiga, diperlihatkan pada Gambar 5.15.

(a) (b)
Gambar 5.15. Ekspos spesimen uji tahun kedua (a). lokasi Pasi Jambu
(b) lokasi Paya Lumpat
5.3. Hasil Pengukuran Potensial Korosi
Data hasil pengukuran potensial permukaan yang telah di dapatkan di petakan
dalam struktur beton bertulang dengan menggunakan sofware V-Isit 2.7.3. sehingga dihasil
plot kontur kolom bangunan.

5.3.1. Objek Penelitian I (Bangunan Terendam Tsunami)


Hasil pengukuran potensial korosi permukaan beton bertulang pada objek
penelitian I (Desa Suak Ribee) pada tahun 2014 dan 2015,hasil plot kontur kolom
ditunjukkan pada Gambar 5.14

Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 Kolom 4

Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015


Gambar 5.14.Kontur kolom Potensial permukaan objek penelitian I
21

Hasil pengukuran potensial permukaan pada gambar 5.14. menunjukkan bahwa


untuk kolom 1 dan 2 telah berada pada level korosi menengah bawah dengan kisaran
potensial permukaan rata-rata 200-250 mV dengan kondisi kolom kering dan menghadap
kearah laut, untuk kolom 2 dan 3 berada pada level korosi menengah atas potensial
permukaan rata-rata 250-350 mV dengan kondisi kolom 3 kering dan kolom 4 lembab dan
menghadap kearah gunung. Dari keempat kolom tersebut diketahui bahwa laju korosi telah
terdistribusi merata pada tiap kolom bangunan, sehingga direkomendasikan jika bangunan
tersebut akan digunakan kembali maka perlu dilakukan perbaikan pada struktur kolom.
Dan kondisi kolom 4 perlu tindakan dini karena telah berada pada level korosi tinggi.

5.3.2. Objek Penelitian II (Bangunan Terendam Tsunami)


Hasil pengukuran potensial korosi permukaan beton bertulang pada objek
penelitian II (Desa Padang Seurahet) tahun 2014 dan 2015.Hasil plot kontur kolom
ditunjukkan pada Gambar 5.15
Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3

Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015


Gambar 5.15.Kontur kolom Potensial permukaan objek penelitian II

Gambar 5.15 menunjukkan bahwa untuk kolom 1 dengan kondisi kolom


menghadap kearah laut berada dalam level korosi tinggi dengan tingkat potensial
permukaan kolom 250-400 mV dan terdistribusi merata pada permukaan kolom dan sangat
rentan terjadi kegagalan dini dan hasil pengukuran pada tahun 2015 menunjukkan bahwa
telah terjadi pasivasi pada tulangan dan dikwatirkan besi tulangan sebahagian besar telah
22

menjadi karat, sedangkan kolom 2 dan 3 berada pada level menengah, kecuali bagian
kolom bawah dan atas telah berada pada level korosi tinggi dan terjadi peningkatan
potensial korosi pada tahun 2015. Penanggulangan dini terhadap kolom bangunan ini perlu
dilakukan.

5.3.3. Objek Penelitian III (Bangunan Tidak Terendam Tsunami)


Hasil pengukuran potensial korosi permukaan beton bertulang pada objek
penelitian III (Desa Suak Ribee) tahun 2014 dan 2015,Hasil plot kontur kolom
ditunjukkan pada Gambar 5.16

Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 Kolom 4

Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015

Gambar 5.16Kontur kolom Potensial permukaan objek penelitian III

Kondisi kolom bangunan pada objek penelitian ruko desa suak ribee, Gambar 4.9.
menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan laju korosi dimulai dari bagian kolom yang
berada dibawah yaitu yang terdekat dengan permukaan tanah, kecuali untuk kolom 4 laju
korosi dimulai dari bagian sepertiga permukaan kolom dari bawah, kondisi kolom 4
disebabkan oleh adanya genangan air dipermukaan pondasi. Keempat kolom tersebut
berada dalam level korosi rendah dan bagian kolom yang berada dibawah pondasi berada
pada level menengah. Pada tahun 2015 tidak menunjukkan peningkatan potensial yang
terlalu tinggi, tetapi distribusi potensial korosi terlihat menjadi lebih luas pada permukaan
beton bertulang.
23

4.2.3. Objek Penelitian IV (Bangunan Tidak Terendam Tsunami)


Hasil pengukuran potensial korosi permukaan beton bertulang tahun 2014 dan
2015 pada objek penelitian IV (Desa Ujong Kalak).Dengan kondisi bangunan tidak
terendam tsunami. Hasil plot kontur kolom ditunjukkan pada Gambar 5.17

Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 Kolom 4

Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015 Th.2014 Th.2015


Gambar 5.17.Kontur kolom Potensial permukaan objek penelitian IV

Gambar 5.17. menunjukkan kondisi kolom Mushalla di desa Ujong Kalak, dimana
untuk kolom 1 dan 2 dengan posisi kolom pada bagian bangunan yang menghadap ke arah
laut, menunjukkan laju korosi telah terdistribusi secara merata pada permukaan kolom
disebabkan oleh uap dan kelembaban udara terkandung ion klorida pada bagian ini sangat
besar dengan jarak kepinggir pantai 200 meter dan kondisi ombak yang cukup besar
menyebabkan ion klorida dari uap udara dan tiupan angin menuju dinding mushala yang
menghadap ke arah laut. Pada tahun 2015 menunjukkan peningkatan potensial korosi pada
permukaan beton bertulang untuk kolom 1 dan untuk kolom 2 yang berada pada sudut
bangunan terjadi penurunan potensial korosi ini disebabkan terjadinya fase pasivasi pada
besi tulangan dan setelah melewati fase ini berkemungkinan akan terjadi peningkatan laju
potensial yang sangat cepat.
Kolom 3 bagian dinding yang menghadap ke gunung menunjukkan peningkatan
laju korosi dimulai dari kolom bagian bawah, kolom 4 merupakan kolom yang berada
dibagian depan mushalla dengan posisi menyamping dari arah laut menunjukkan
peningkatan distribusi laju korosi telah mencapai bagian tengah dari kolom. Pada tahun
24

2015 terjadi fase pasivasi untuk kolom 3 dan 4 berkemungkinan kedepannya akan terjadi
distribusi laju potensial korosi secara merata pada permukaan beton bertulang.

5.4. Hasil Pengukuran Laju Korosi Atmosferik

5.4.1. Lokasi Penelitian Laju Korosi Atmosferik Desa Pasi Ujong Kalak (2014)

Pada Gambar 5.26 menunjukkan pengaruh tingkat laju korosi pada lokasi Desa Pasi

Ujong Kalak yang terjadi sangat fluktuatif, tingkat laju korosi atmosferik yang terjadi pada

baja plat mencapai 0,34 – 2,38 mpy, baja strip mencapai 2,31 – 6,28 mpy.baja siku di

mencapai 1,06 – 1,81 mpy. baja segi empat mencapai 1,78 – 4,13 mpy. Dan pada baja

tulangan mencapai 1,42 – 4,19 mpy. Dari hasil pengukuran laju korosi tertinggi terjadi

pada bulan September sedangkan laju korosi terendah pada bulan Juni.

7.00

6.00

5.00
4.00 Baja plat
3.00 Baja strip

2.00 Baja siku

1.00 Baja segi empat


Baja tulangan
0.00
Agustus
Mei

Juli
April

Oktober
Juni

November
September

Gambar5.26. Grafik Hasil Pengukuran Laju Korosi Atmosferik pada Lokasi


Desa Pasi Ujong Kalak

5.4.2. Lokasi Penelitian Laju Korosi Atmosferik Desa Peunaga Pasi (2014)
Pada Gambar 5.27 menunjukkan pengaruh tingkat laju korosi pada lokasi Desa
25

Peunaga Pasi juga yang terjadi sangat fluktuatif, tingkat laju korosi atmosferik yang
terjadi pada baja plat mencapai 0,91 – 1,35 mpy, baja strip mencapai 1,40 – 4,29
mpy.baja siku di mencapai 0,74 – 1,57 mpy. baja segi empat mencapai 1,07 – 1,88 mpy.
Dan pada baja tulangan mencapai 0,74 – 2,42 mpy. Dari hasil pengukuran laju korosi
tertinggi terjadi pada bulan September sedangkan laju korosi terendah pada bulan Juni.

5.00
4.50
4.00
3.50
3.00 Baja plat
2.50
Baja strip
2.00
1.50 Baja siku
1.00 Baja segi empat
0.50
Baja tulangan
0.00
Mei

Oktober
April

Juni

Agustus
Juli

September

November

Gambar5.27. Grafik Hasil Pengukuran Laju Korosi Atmosferik pada Lokasi


Desa Peunaga Pasi

5.4.3. Lokasi Penelitian Laju Korosi Atmosferik Desa Kubang Gajah (2014)
Pada Gambar 5.28 menunjukkan pengaruh tingkat laju korosi pada lokasi Desa
Kubang Gajah tingkat laju korosi atmosferik yang terjadi pada baja plat mencapai 0,99 –
1,22 mpy, baja strip mencapai 1,35 – 2,89 mpy.baja siku di mencapai 0,85 – 1,50 mpy.
baja segi empat mencapai 1,32 – 2,24 mpy. Dan pada baja tulangan mencapai 1,92 –
2,61 mpy. Dari hasil pengukuran laju korosi tertinggi terjadi pada bulan September
sedangkan laju korosi terendah pada bulan Agustus.
26

3.50

3.00

2.50

2.00 Baja plat


1.50 Baja strip

1.00 Baja siku

0.50 Baja segi empat


Baja tulangan
0.00 Agustus

Oktober
September

November
Gambar5.28. Grafik Hasil Pengukuran Laju Korosi Atmosferik pada Lokasi
Desa Kubang Gajah

5.4.4. Lokasi Penelitian Laju Korosi Atmosferik Desa Alue Peuyareng (2015)
Pada Gambar 5.29 menunjukkan pengaruh tingkat laju korosi pada lokasi Desa
Alue Peuyareng tingkat laju korosi atmosferik yang terjadi pada baja plat mencapai 0,17 –
0,92 mpy, baja strip mencapai 0,13 – 2,19 mpy. baja siku di mencapai 0,18 – 1,83 mpy.
baja segi empat mencapai 0,05 – 5,99 mpy. Dan pada baja tulangan mencapai 0,61 – 7,87
mpy. Dari hasil pengukuran laju korosi tertinggi terjadi pada bulan Mei sedangkan laju
korosi terendah pada bulan Juli.

10.0 Desa Alue Penyareng


9.0
8.0
Baja Tulangan
Laju Korosi (mpy)

7.0
6.0 Baja Segi Empat
5.0
4.0 Baja Plat Strip
3.0
2.0 Baja Siku
1.0
Baja Plat
0.0

Waktu Ekspos

Gambar5.28. Grafik Hasil Pengukuran Laju Korosi Atmosferik pada Lokasi Desa Alue
Peuyareng
27

5.4.5. Lokasi Penelitian Laju Korosi Atmosferik Desa Pasi Jambu (2015)
Pada Gambar 5.29 menunjukkan pengaruh tingkat laju korosi pada lokasi Desa
Pasi Jambu tingkat laju korosi atmosferik yang terjadi pada baja tulangan mencapai 0,17
– 1,83, baja nako mencapai 0,32 – 1,33 mpy, baja strip mencapai 0,57 – 1,17 mpy, baja
siku di mencapai 0,31 – 1,06 mpy, baja plat mencapai 0,14 – 0,66 mpy. Dari hasil
pengukuran laju korosi tertinggi terjadi pada bulan September sedangkan laju korosi
terendah pada bulan Mei.

3.50 Desa PS. Jambu

3.00
Baja Tulangan
Laju Korosi (mpy)

2.50
Baja Nako
2.00
Baja Plat Strip
1.50
Baja Siku
1.00
Baja Plat
0.50

0.00

Waktu Ekspos

Gambar5.29. Grafik Hasil Pengukuran Laju Korosi Atmosferik pada Lokasi Desa Pasi
Jambu

5.4.6. Lokasi Penelitian Laju Korosi Atmosferik Desa Paya Lumpat (2015)
Pada Gambar 5.30 menunjukkan pengaruh tingkat laju korosi pada lokasi Desa
Paya Lumpat tingkat laju korosi atmosferik yang terjadi pada baja tulangan mencapai
0,27 – 1,61 mpy, baja nako mencapai 0,09 – 1,51 mpy, baja strip mencapai 0,42 – 1,61
mpy, baja siku di mencapai 0,08 – 0,90 mpy, baja plat mencapai 0,16 – 0,73 mpy. Dari
hasil pengukuran laju korosi tertinggi terjadi pada bulan September sedangkan laju korosi
terendah pada bulan Mei.
28

3.50 Desa Paya Lumpat


3.00
Baja Tulangan
2.50
Baja Nako
Laju Korosi (mpy)
2.00
1.50 Baja Plat Strip
1.00
Baja Siku
0.50
Baja Plat
0.00

Waktu Ekspos

Gambar5.30. Grafik Hasil Peengukuran Laju Korosi Atmosferik pada Lokasi Desa Paya
Lumpat
Tabel. 4.1 Kriteria laju korosi pada baja nikel paduan

Sumber : (M. G Fontana7)


Berdasarkan dari tabel 3 terlihat tingkat laju korosi pada dasarnya masih tergolong sangat
baik hanya berkisar antara 0,37 mpy – 6,28 mpy.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Dari data hasil penelitian yang telah dilakukan secara umum dan sementara dapat
diambil beberapa kesimpulan:
1. Hasil penelitian Bangunan yang tidak terendam tsunami nilai potensial permukaan
secara umum terjadi peningkatan dan penyebaran potensial permukaan beton bertulang.
Bangunan yang terendam tsunami nilai potensial permukaan rata-rata terjadi penurunan
nilai potensial ini disebabkan pasivasi pada besi tulangan.
2. Hasil penelitian korosi atmosferik menunjukkan bahwa semakin jauh dengan pinggir
pantai maka laju korosi atmosferik akan menurun.

6.2. Saran
Bangunan yang telah terendam tsunami dan jika digunakan kembali, disarankan
perlu dilakukan penanggulangan agar bangunan tersebut tidak terjadi kegagalan/ rubuh
secara tiba-tiba

29
DAFTAR PUSTAKA

[1] NACE, 2006, Corrosion Cost by Industrial Sector, Supplement to Material


Performance, Vol. 41, No. 7, p.4.

[2] Günter Schmitt, Michael Schütze, George F. Hays, Wayne Burns, En-Hou Han,
Antoine Pourbaix, and Gretchen Jacobson, 2009, Global Needs for Knowledge
Dissemination, Research, and Development in Materials Deterioration and Corrosion
Control, the World Corrosion Organization (WCO),
http://www.corrosion.org/images_index/whitepaper.pdf (diakses pada tanggal 16 Maret
2012)

[3] NACE, 2002, Cost of Corrosion Study Unveiled, A Supplement to Material


Performance, NACE International,
http://www.nace.org/uploadedFiles/Publications/ccsupp.pdf (diakses pada tanggal 16
Maret 2012)

[4] Widyanto, B., 2008, Permasalahan Korosi dan Penanganannya di Industri


Perminyakan Di Indonesia, http://www.migas-
indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=1230&Itemid=42
(diakses pada tanggal 16 Maret 2012)

[5] Guofu Qiao, Tiejun Liu, Yi Hong, and Jinping Ou, 2011, Optimization Design of a
Corrosion Monitoring Sensor by FEM for RC Structures, IEEE SENSORS
JOURNAL, VOL. 11, NO. 9, SEPTEMBER 2011

[6] CTV.ca News Staff. 2006. Engineer Links Overpass Collapse to Steel Bars.
http://www.ctv.ca/CTVNews/Specials/20061002/overpasscollapse_causes_061002/
(diakses pada tanggal 1 April 2012).

[7] Afifah,R. &Latief. 2011. Struktur Wahana Atlantis Dikaji Ulang.


http://megapolitan.kompas.com/read/2011/09/28/12185069/Struktur.Wahana.Atlanti
s.Dikaji.Ulang (diakses pada tanggal 1 April 2012).

[8] BAPPEDA Aceh, 2010, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh)
Tahun 2005-2025,
http://bappeda.acehprov.go.id/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=
109&Itemid=57 (diakses pada tanggal 2 April 2012).

[9] NACE, Corrosion - Atmospheric Corrosion,


http://events.nace.org/library/corrosion/AtmCorros/introduction.asp (diakses pada
tanggal 26 Agustus 2012).

30
31

[10] ASTM International, 2003, Standard Practice for Conducting Atmospheric Corrosion
Tests on Metals, ASTM G50.

[11] Corrosion-doctor, Atmospheric Corrosion Tests, http://www.corrosion-


doctors.org/Corrosion-Atmospheric/Corrosion-tests.htm (diakses pada tanggal 26
Agustus 2012).

[12] Broomfield, J. P. 2007.Corrosion of Steel in Concrete - Understanding, Investigation


and Repair. 2nd edition. Taylor& Francis. London.

[13] Song, H.W. & Saraswathy, V. 2007. Corrosion Monitoring of Reinforced Concrete
Structures – A Review. Int. J. Electrochem. Sci. 2:1- 28.

[14] M. Ridha, Syifaul Huzni, Syarizal Fonna, 2009, Aplikasi Metode Elemen Batas
untuk Menganalisa Korosi Bangunan Publik yang Terendam Air Laut pada Bencana
Tsunami Aceh 2004, Laporan Hasil Riset Unggulan Strategis Nasional, UNSYIAH
Lampiran 1. Instrumen

32