Anda di halaman 1dari 8

TINGKAT KEPUASAN PASIEN POST OPERATIF TERHADAP PELAYANAN PERAWAT DI

RUANGAN RECOVERY ROOM

UL AHDAZUMAR1) SITI RAHMALIA2)ARNELI3)

hp 07617755705

Abstract

The aim of this study is to know the determine the level of satisfaction, service nurses in recovery room and service
relationship nurse's to the level of patient satisfaction postoperative recovery room. The design of the research is
description correlation, the correlation picture satisfaction patient postoperative with the services nurse. The
research do in the Hospital Ibnusina with sample as 71 . The sampling method was purposive sample The research
uses questionnaire, the questionnaire thad been tested validity and reliability. The research uses Univariate and
bivariate analysis. The results showed the average quality of care nurses are very good that as many as 40
respondents (56.3%), average patient satisfaction are very good hat as many 52 responden (73.2%). The results of
the statistical test chi quare obtained p value = 0.000 means p value <α (0.05) then Ho is rejected so it can be
concluded that there is a correlation between postoperative patient satisfaction with the services nurse. The results
of this study recommend continue to improve nurse patient satisfaction for the quality of nursing care in the
recovery room space.

Keywords: quality of care, satisfaction.


Reference: 26 (2002-2011)

PENDAHULUAN terbanyak dan yang paling banyak kontak


dengan pasien. Perawat memberikan pelayanan
Persaingan bisnis dalam era globalisasi selama 24 jam terus menerus pada pasien
saat ini menjadi sangat tajam, baik di pasar sehingga menjadikan satu-satunya profesi
domestik (nasional) maupun di pasar kesehatan di rumah sakit yang banyak
internasional, dan gelombang globalisasi ini memberikan persepsi terhadap pelayanan
telah menciptakan tantangan besar bagi rumah kesehatan pada diri pasien (Purnomo, 2004).
sakit yaitu kompetisi yang semakin ketat dan Memahami kebutuhan dan keinginan
pelanggan semakin selektif dan pasien adalah hal penting yang mempengaruhi
berpengetahuan. Tantangan seperti ini membuat kepuasan pasien. Pasien yang puas merupakan
rumah sakit menentukan pada dua pilihan yaitu aset yang sangat berharga, karena apabila pasien
masuk arena kompetisi dengan melakukan puas, 1) mereka akan terus melakukan
perubahan dan perbaikan atau keluar arena pemakaian terhadap jasa pilihannya, 2)
kompetisi tanpa dibebani perubahan atau Menganjurkan orang lain menggunakan jasa
perbaikan. Kondisi lingkungan seperti ini pilihannya, 3) Membela kita apabila ada orang
membawa organisasi rumah sakit pada suatu menjelekan pilihannya, tetapi jika pasien merasa
kenyataan bahwa kualitas mutu serta tidak puas menurut Kotler (2000) umumnya
profesionalisme menjadi suatu keharusan agar pelanggan (pasien) yang tidak puas akan
perusahaan tetap bertahan dan sukses, baik menyampaikan pengalaman buruknya kepada
ditingkat operasional, manajerial maupun sebelas orang lain, bila masing – masing dari
strategi (Wijaya, 2011). sebelas orang ini meneruskan informasi tersebut
Rumah sakit merupakan jasa pelayanan kepada orang lain lagi, maka berita buruk ini
kesehatan harus berusaha meningkatkan mutu bisa berkembang secara eksponensial, dan
pelayanannya untuk memberikan kepuasan berakibat kerugian bagi rumah sakit.
kepada pelanggannya. Suatu produk dikatakan Menurut Depkes (2001) rumah sakit
bermutu apabila dapat memenuhi kebutuhan merupakan institusi pelayanan yang sangat
pelanggannya (Kristiani dkk, 2006). Pelayanan komplek, padat profesi, padat modal dan padat
keperawatan mempunyai posisi yang strategis tekhnologi. Rumah sakit dapat melaksanakan
dalam menentukan mutu pelayanan kesehatan di fungsinya dengan baik, jika memiliki sumber
rumah sakit karena jumlah perawat adalah yang daya manusia, sarana, prasarana dan peralatan
yang memadai serta dikelola secara profesional. Berdasarkan hasil evaluasi kepuasan
Menurut Ma’rufin Husin (1999) bahwa yang pasien / keluarga pasien terhadap mutu
dikatakan perawat profesional adalah perawat pelayanan keperawatan Rumah Sakit Islam
yang mampu memberikan asuhan keperawatan Ibnu Sina Pekanbaru, persentase mutu
berdasarkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan pelayanan keperawatan rawat inap untuk bulan
keperawatan, yang bersifat humane Oktober - Desember tahun 2011 adalah 80% dan
menggunakan ilmu dan kiat keperawatan untuk bulan Januari-Maret tahun 2012 adalah
berorientasi pada kebutuhan objektif klien 82% dapat diartikan mutu pelayanan
dengan menggunakan metode penyelesaian keperawatan masuk dalam skala “ Baik ” tetapi
masalah secara ilmiah dengan berlandaskan ilmu hasil tersebut belum menggambarkan mutu
pengetahuan dan tekhnologi keperawatan serta pelayanan keperawatan di ruangan recovery
keterampilan profesional keperawatan. room kamar bedah Rumah Sakit Islam Ibnu
Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru Sina Pekanbaru.
merupakan salah satu rumah sakit swasta yang Dari studi pendahuluan yang dilakukan
banyak pesaingnya, untuk itu Rumah Sakit Islam dengan wawancara terhadap 8 orang pasien post
Ibnu Sina dituntut selalu untuk menjaga operatif dengan spinal anatesi di ruang rawat
kepercayaan pasien dengan meningkatkan inap Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru,
kwalitas pelayanan agar kepuasan pasiennya didapatkan 3 orang pasien diantaranya masih
meningkat. mengeluh kurangnya pelayanan perawat
Salah satu bentuk fasilitas layanan unit terhadap pasien seperti petugas yang kurang
khusus Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru cepat tanggap, tidak ramah dan kurang empati.
yaitu unit kamar bedah dan ruangan recovery Melihat semua fenomena tersebut diatas
room. Layanan kamar bedah buka 24 jam penulis tertarik untuk meneliti masalah tentang
dengan jumlah kamar operasi sebanyak 3 tingkat kepuasan pasien post operatif terhadap
kamar, untuk tahun 2011 jumlah pasien yang pelayanan perawat di ruangan recovery room
dioperasi yaitu sebanyak 3005 , dengan rata - (RR) kamar bedah Rumah Sakit Islam Ibnu Sina
rata perbulannya sekitar ± 250 operasi dan Pekanbaru. Penelitian ini menjadi penting untuk
dilihat dari rata rata perhari menjadi sekitar 8 diteliti karena penelitian serupa belum pernah
operasi. Mengacu kepada Depkes dalam Buku dilakukan di ruangan RR kamar bedah Rumah
Standar Tenaga Perawatan di Rumah Sakit Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru, dan penelitian
(2002) tingkat ketergantungan pasien adalah ini dapat menjadi gambaran mutu pelayanan
untuk operasi besar 5 jam per 1 operasi, operasi perawat di ruangan RR kamar bedah Rumah
sedang 2 jam per 1 operasi dan operasi kecil 1 Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru dan diharapkan
jam per 1 operasi. Berdasarkan info dan acuan memberi dampak positif bagi pengembangan
yang ada di depkes dengan kondisi yang ada di rumah sakit, sehingga Rumah Sakit Islam Ibnu
RSI Ibnu Sina dapat disimpulkan bahwa jumlah Sina Pekanbaru dapat dijadikan sebagai rumah
operasi di kamar bedah RSI Ibnu Sina masih sakit pilihan bagi masyarakat di Pekanbaru.
tergolong kurang, hal ini mengindikasikan Berdasarkan hasil penelitian Jakson
adanya kemungkinan ketidakpuasan pasien Napitupulu (2010) yang berjudul tingkat
terhadap pelayanan yang diberikan. kepuasan pasien rawat inap terhadap pelayanan
Jumlah tenaga perawat yang ada di kamar keperawatan di Rumah Sakit Umum Estomihi
operasi sebanyak 20 orang dengan komposisi Medan, didapatkan hasil dari 40 responden
dinas pagi 5 orang, dinas sore 5 orang dan dinas menunjukan rata-rata pencapaian tingkat
malam 4-5 orang dan libur 5 orang, serta masing kepuasan pasien rawat inap adalah cukup puas
masing shif untuk petugas recovery room 1 (21 orang, 52,5%), pasien yang merasa puas (14
orang. Perawat yang dinas di ruangan recovery orang, 35%), dan kurang puas (5 orang, 12.5%).
room haruslah seorang yang profesional, cepat Hal ini terlihat bahwa masih perlu
dan tanggap serta mampu memberikan perhatian terhadap peningkatan pelayanan
pelayanan yang baik dengan harapan kondisi keperawatan, agar pasien merasa puas terhadap
pasien cepat stabil dan tidak terjadi komplikasi. palayanan keperawatan yang diterimanya.
Jumlah operasi setiap shifnya tidak merata Kepuasaan pasien adalah salah satu indikator
kadang pada shif tertentu operasi kosong yang dapat digunakan untuk mengevaluasi mutu
sementara shif berikutnya operasi sangat pelayanan keperawatan sehingga perawat dan
banyak, kondisi seperti ini yang bisa pihak manajemen RS dapat membuat suatu
menyebabkan kurangnya perhatian perawat progarm dan perencanaan yang lebih matang
terhadap pasien sehingga bisa menimbulkan demi mengefektifkan dan mengefesienkan sistim
ketidak puasan oleh pasien dan keluarganya.
pelayanan serta memuaskan pasien yang berhubungan atau berkolerasi, dengan pengujian
menggunakan jasa perawat. statistik chi Square (X) dengan batas derajat
kepercayaan (α=0,05). Apabila dari uji statistik
RUMUSAN MASALAH didapatkan P Value <α (0,05) maka dapat dikatakan
ada hubungan yang signifikan antara variabel
Kepuasan pasien merupakan salah satu independen dengan variabel dependen
hal yang sangat penting dalam mengevaluasi
mutu pelayanan suatu rumah sakit. Kepuasan
pasien yang rendah akan berdampak terhadap HASIL PENELITIAN
jumlah kunjungan di rumah sakit, termasuk
jumlah operasi diunit kamar bedah. Berdasarkan Berdasarkan penelitian didapatkan hasil sebagai
uraian latar belakang dapat dilihat bahwa berikut:
jumlah operasi tergolong masih kurang, dan
dengan terbatasnya tenaga perawat yang dinas di A. Analisa univariat
ruangan recovery room kamar bedah, serta tidak
meratanya jumlah operasi tiap shif, maka perlu 1. Karakteristik Responden
dipikirkan sejauh mana pelayanan perawat
ruangan recovery room dapat diterima oleh Tabel. 1
pasien, keluarga pasien, apakah sudah Distribusi frekuensi berdasarkan
memuaskan serta pelayanan apa yang belum
karakteristik responden
memuaskan, dan apa yang mempengaruhi
kepuasan pasien, maka rumusan masalah ini
No Tingkat Frekuensi Persentase
adalah: ” Apakah pelayanan kesehatan yang
Pendidikan (Orang) (%)
diberikan oleh perawat berpengaruh terhadap
kepuasan pasien post operatif di ruangan 1 Umur
recovery room kamar bedah Rumah Sakit Islam a. 15-21 tahun 11 15,5
Ibnu Sina Pekanbaru ”. b. 22-45 tahun 41 57,7
c. 46-59 tahun 12 17
d. >60 tahun 7 9,8
TUJUAN
2 Jenis Kelamin
Mengetahui tingkat kepuasan pasien post a. Perempuan 42 59,2
b. Laki-laki 29 40,8
operatif terhadap pelayanan perawat,
mengidentifikasi pelayanan perawat, mengetahui 3 Pendidikan
hubungan pelayanan perawat terhadap tingkat a. SD 3 4,2
kepuasan pasien post operatif di ruangan recovery b. SMP 7 9,9
room kamar bedah. c. SMA 46 64,8
d. PT 15 21,1
METODE
3 Pekerjaan
Desain; desain korelasi yang bertujuan a. PNS 6 8,5
untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan dua b. Wiraswasta 4 5,6
c. Swasta 20 28,2
atau lebih variabel penelitian d. Pensiun 6 8,5
Sampel: Teknik sampling yang digunakan e. Ibu Rumah 25 35,2
pada penelitian ini adalah purposive sampling, Tangga 4 5,6
sebanyak 71 pasien. (IRT) 6 8,5
Instrument: Alat pengumpulan data yang f. Mahasiswa
digunakan pada penelitian ini berupa lembar g. Pelajar
kuesioner yang telah diuji validitas dan
reliabilitasnya.
Analisa Data: Analisa data yang digunakan
adalah analisa univariat kategorik yaitu dilakukan
untuk menganalisa terhadap distribusi frekwensi
setiap kategorik jawaban pada variabel penelitian,
selanjutnya dilakukan analisa terhadap tampilan
tersebut. Analisa bivariat adalah analisa yang
dilakukan terhadap dua variabel yang diduga
2. Mutu Pelayanan Perawat Berdasarkan hasil analisis didapatkan data
bahwa mutu pelayanan yang tidak baik memiliki
Tabel. 2 tingkat kepuasan yang tidak puas sebanyak 5 orang
Distribusi frekuensi responden (71,4%), mutu pelayanan yang baik memiliki tingkat
berdasarkan mutu pelayanan perawat kepuasan yang sangat puas sebanyak 17 responden
(32,7%) dan mutu pelayanan yang sangat baik
No Mutu Frekuensi Persentase memiliki tingkat kepuasan yang sangat puas ada
Pelayanan (Orang) (%)
sebanyak 34 responden (65,4%). Hal ini
1 Tidak Baik 7 9,9 menunjukkan bahwa mutu pelayanan sebanding
2 Baik 24 33,8 dengan tingkat kepuasan yang dimiliki oleh pasien
3 Sangat 40 56,3 artinya apabila mutu pelayanan baik maka kepuasan
Baik
pasien akan baik pula.
Total 71 100 Hasil uji statistik chi quare didapatkan nilai p
value= 0,000 berarti p value < α (0,05) maka Ho
3. Kepuasan Pasien ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan tingkat kepuasan pasien post operatif
Tabel. 3 terhadap pelayanan perawat.
Distribusi frekuensi responden
berdasarkan kepuasan pasien
PEMBAHASAN
No Kepuasan Frekuensi Persentase
Pasien (Orang) (%) A. Analisa Univariat

1 Tidak Puas 7 9,9 1. Karakteristik responden


2 Puas 12 16,9
3 Sangat Puas 52 73,2 a. Umur
Total 71 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
rata-rata umur responden adalah 22-45 tahun
yaitu sebanyak 41 responden (57,7%). Usia
B. Analisa Bivariat adalah umur individu yang terhitung mulai
dari dilahirkan sampai saat berulang tahun
Tabel. 4 (Notoadmojo, 2007). Belum ada penelitian
Distribusi frekuensi hubungan tingkat kepuasan terkait mengenai umur yang paling sering
pasien post operatif terhadap pelayanan perawat dioperasi, namun menurut survei dari
Kesehatan Nasional (2001) dalam Ratnawati
(2006), didapatkan data bahwa seiring
Kepuasan
dengan peningkatan usia maka angka
Mutu Tidak Puas Sangat Total p
Pelayanan value
kesakitan dan penggunaan pelayanan
Puas Puas kesehatan akan semakin meningkat pula.
F % F % F % F % Berdasarkan segi kepuasan, menurut
Tidak Baik 5 71,4 1 8,3 1 1,9 7 9,8 Kurniasih (2002), seseorang yang lebih
0,00 dewasa memiliki persepsi dan makna
Baik 0 0 7 58,3 17 32,7 24 33,8 kepuasan yang lebih baik dibandingkan yang
Sangat lebih muda. Perbedaan ini terletak pada unsur
2 28,6 4 33,4 34 65,4 40 56,4 harapan dimana usia muda harapannya lebih
Baik
1 tinggi sehingga tuntutan kinerja yang
Total 7 100 12 100 52 0 71 100 diharapkan terhadap pelayanan akan semakin
0 tinggi pula.
b. Jenis Kelamin Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang telah dilakukan oleh
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurniasih (2002) tentang hubungan mutu
perempuan yaitu sebanyak 42 responden pelayanan keperawatan terhadap tingkat
(59,2%). Menurut Notoadmojo (2003), jenis kepuasan pasien di rumah sakit Kepolisian
kelamin merupakan identitas responden yang Pusat Raden Said Sukanto, dimana
dapat digunakan untuk membedakan pasien ditemukan mayoritas responden
laki-laki atau perempuan. berpendidikan menengah.
Hasil penelitian yang menyatakan
jumlah pasien perempuan yang lebih banyak d. Pekerjaan
menjalani tindakan di ruang operasi ini Pekerjaan adalah kegiatan yang harus
sesuai dengan pendapat Notoadmojo (2001). dilakukan seseorang dalam menunjang dan
Notoadmojo menyatakan bahwa angka mempertahankan kehidupannya dan
kesakitan lebih tinggi di kalangan perempuan kehidupan keluarganya. Pekerjaan bukanlah
oleh karena itulah perempuan lebih banyak sumber kesenangan, tetapi lebih banyak
datang ke rumah sakit untuk mendapatkan merupakan cara mencari nafkah yang
pelayanan kesehatan. berulang, banyak tantangan dan menyita
Namun menurut penelitian Kurniasih waktu (Nursalam, 2003).
(2002), jenis kelamin tidak mempengaruhi Hasil penelitian menunjukan bahwa
kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan. rata-rata pekerjaan yang terbanyak adalah ibu
Hal ini dikarenakan kepuasan merupakanlah rumah tangga yaitu sebanyak 25 responden
suatu hal yang bersifat subjektif, hasil reaksi (35,2%). Menurut Notoadmojo (2005)
afeksi penilaian perasaan seseorang akan pekerjaan erat kaitannya dengan kejadian
berbeda satu sama lain tergantung bagaimana kesakitan dimana timbulnya penyakit melalui
kebutuhan dan harapan pasien tersebut beberapa jalan yakni karena adanya faktor
terhadap pelayanan kesehatan lingkungan langsung yang dapat
menimbulkan kesakitan yang penuh dengan
c. Pendidikan stress, ada tidaknya gerak badan dalam
lingkungan pekerjaan dan adanya kesibukan
Pendidikan merupakan suatu bimbingan akibat pekerjaan. Namun dalam penelitian ini
yang diberikan seseorang terhadap didapatkan data mayoritas ibu rumah tangga
perkembangan orang lain menuju kearah yang dijadikan sebagai responden karena
cita-cita tertentu yang menentukan manusia kebanyakan ibu rumah tangga ini melakukan
untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk operasi sexio cesaria (sc).
mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Semakin tinggi pendidikan formal maka 2. Mutu Pelayanan Perawat
semakin mudah seseorang menerima
informasi dan melakukan pemanfaatan Pelayanan merupakan suatu jasa yang
terhadap pelayanan kesehatan yang ada untuk diberikan kepada pelanggan atau pasien untuk
meningkatkan kualitas hidupnya memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuannya.
(Notoatmodjo, 2003).
Untuk menjaga mutu pelayanan perawat, hal ini tidak
Pernyataan ini sesuai dengan hasil
penelitian yang menunjukan bahwa rata-rata terlepas dari pelayanan keperawatan keluarga yang
pendidikan responden dalam penelitian ini sebaik-baiknya. Hasil penelitian menunjukan bahwa
adalah SMA yaitu 46 responden (64,8%). bahwa rata-rata mutu pelayanan perawat adalah
Responden yang berpendidikan menengah sangat baik yaitu sebanyak 40 responden (56,3%),
memiliki perhatian lebih besar terhadap mutu yaitu sebanyak 24 responden (33,8%) dan mutu
kesehatannya dibandingkan dengan tingkat tidak baik sebanyak 7 responden (9,9%). Hal ini
pendidikan yang lebih rendah, sehingga bila
membuktikan bahwa Ruangan Recovery RS Ibnusina
responden berpendidikan menengah
berkemungkinan besar untuk langung telah memenuhi 5 dimensi konsep Servqual tentang
berobat ke pelayanan kesehatan. Tingkat penilaian kualitas pelayanan yang telah
pendidikan berpengaruh terhadap pelayanan dikembangkan oleh Zeithlam. Konsep ServQual ini
kesehatan, semakin tinggi tingkat pendidikan mencakup dimensi tangible (tampilan fisik),
maka intensitas pemanfaat pelayanan fasilitas reliability (keandalan), responsiveness (ketanggapan),
kesehatan akan semakin tinggi pula assurance (kepastian) dan empathy (empati).
(Kusnanto, 2006).
Meskipun pasien yang berjumlah tidak puas responden (65,4%). Hal ini menunjukkan bahwa
hanya ada 7 responden (9,9%), namun hal ini dapat mutu pelayanan sebanding dengan tingkat kepuasan
menyebabkan masalah yang cukup eksponensial di yang dimiliki oleh pasien. Hasil uji statistik chi quare
didapatkan nilai p value= 0,000 berarti p value < α
masyarakat. Menurut Kotler (2000) jika terdapat
(0,05) maka Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan
pasien yang merasa tidak puas maka pada umumnya bahwa ada hubungan tingkat kepuasan pasien post
pelanggan (pasien) yang tidak puas ini akan operatif terhadap pelayanan perawat.
menyampaikan pengalaman buruknya kepada 11 Berpedoman pada akreditasi rumah sakit,
orang lainnya, bila masing – masing dari 11 orang ini pelayanan keperawatan merupakan suatu indikator
meneruskan informasi tersebut kepada orang lain kepuasan pasien. Berbagai kegiatan dan prasarana
lagi, maka berita buruk ini bisa berkembang secara kegiatan pelayanan kesehatan yang mencerinkan
kulaitas rumah sakit merupakan suatu determinan
eksponensial dan berakibat kerugian bagi rumah
utama dari kepuasan pasien. Pasien akan memberikan
sakit. penilaian terhadap berbagai kegiatan pelayanan yang
diterimanya baik dari sarana dan prasarana kesehatan
3. Kepuasan Pasien yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan
kesehatan. Penilaian mereka terhadap mutu
Kotler (2000) menyatakan bahwa kepuasan pelayanan merupakan gambaran kualitas rumah sakit
adalah tingkat keadaan yang dirasakan seseorang seutuhnya berdasarkan penilaian subjektif pasien.
yang merupakan hasil dari membandingkan Pemantauan kepuasan pasien dapat memberikan
penampilan atau outcome produk yang dirasakan umpan balik dan masukan bagi keperluan
dalam hubungannya dengan harapan seseorang pengembangan dan implementasi strategi
Hasil penelitian menunjukan bahwa bahwa peningkatan kepuasan pasien.
rata-rata kepuasan pasien terhadap pelayanan perawat Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara
adalah sangat puas yaitu sebanyak 52 responden umum pelayanan keperawatan yang telah diberikan
(73,2%), puas sebanyak 12 responden (16,9%) dan telah memenuhi harapan pasien sehingga pasien
tidak puas yaitu sebanyak 7 responden (9,9%). Hal merasa puas. Hal ini sesuai dengan pendapat
ini membuktikan bahwa secara umum pelayanan Supranto (2006), bahwa kepuasan adalah tingkat
keperawatan yang diberikan perawat di Ruangan perasaan seseorang setelah telah membandingkan
recovery room RS Ibnusina telah mampu memenuhi kinerja/ hasil yang dirasakan sesuai dengan
harapan pasien. harapannya. Kepuasan pasien adalah suatu keadaan
Menurut Supranto (2006) kepuasan terjadi dimana keinginan, harapan dan kebutuhan pasien
setelah seseorang membandingkan kinerja / hasil dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila
yang dirasakan dengan harapannya. Kepuasan pasien pelayanan tersebut memenuhi kebutuhan dan harapan
ini ditentukan oleh persepsi pasien sendiri atas pasien. Pasien yang merasa puas apabila harapannya
performance dalam memenuhi harapannya. Pasien terpenuhi atau akan sangat puas jika harapannya
yang merasa puas apabila harapannya terpenuhi atau terlampaui.
akan sangat puas jika harapannya terlampaui. Bila ditinjau dari moto rumah sakit yaitu
mengutamakan kepuasan pasien dan memberikan
B. Analisa Bivariat suatu pelayanan yang optimal pada masyarakat
umumnya. Berdasarkan hasil penelitian ini
Menurut Soeyadi (1996), pasien atau klien didapatkan data masih terdapat responden yang tidak
merupakan individu terpenting di rumah sakit sebagai puas terhadap pelayanan keperawatan sehingga perlu
konsumen sekaligus sasaran produk rumah sakit, di kiranya perawat berupaya untuk meningkatkan
dalam suatu proses keputusan, konsumen yaitu kualitas pelayanan baik dari segi performance, sikap,
pasien, tidak akan berhenti sebagai penerima layanan. peningkatan kemampuan dan keterampilan perawat
Pasien akan mengevaluasi pelayanan yang terus menerus dengan melakukan dan memberikan
diterimanya tersebut. Hasil dari proses evaluasi ini kesempatan melanjutkan pendidikan maupun
akan menghasilkan perasaan puas atau tidak puas pelaihan keterampilan.
(Sumarwan, 2003).
Berdasarkan hasil analisis didapatkan data bahwa KESIMPULAN
mutu pelayanan yang tidak baik memiliki tingkat
kepuasan yang tidak puas sebanyak 5 orang (71,4%), Setelah dilakukan penelitian tentang “Tingkat
mutu pelayanan yang baik memiliki tingkat kepuasan kepuasan pasien post operatif terhadap pelayanan
yang sangat puas sebanyak 17 responden (32,7%) perawat di ruangan recovery room” maka dapat
dan mutu pelayanan yang sangat baik memiliki disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat kepuasan
tingkat kepuasan yang sangat puas ada sebanyak 34
pasien post operatif terhadap pelayanan perawat di UCAPAN TERIMA KASIH
ruangan recovery room.
Berdasarkan hasil analisis didapatkan data Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah
bahwa mutu pelayanan yang tidak baik memiliki membantu dalam penelitian ini terutama untuk
tingkat kepuasan yang tidak puas sebanyak 5 orang pembimbing I, II dan penguji serta semua pihak
(71,4%), mutu pelayanan yang baik memiliki tingkat Yayasan Autisme dan seluruh responden dalam
kepuasan yang sangat puas sebanyak 17 responden penelitian ini.
(32,7%) dan mutu pelayanan yang sangat baik
memiliki tingkat kepuasan yang sangat puas ada
sebanyak 34 responden (65,4%). Hal ini DAFTAR PUSTAKA
menunjukkan bahwa mutu pelayanan sebanding
dengan tingkat kepuasan yang dimiliki oleh pasien. Ali,z. (2002). Dasar-dasar keperawatan profesional,
Hasil uji statistik chi quare didapatkan nilai p value= Jakarta: Widya medika.
0,000 berarti p value < α (0,05) maka Ho ditolak
sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan Brunner  Suddarth. (2002). Keperawatan medikal
tingkat kepuasan pasien post operatif terhadap bedah, Jakarta: EGC.
pelayanan perawat.
Depkes. (2002). Standar tenaga keperawatan di
SARAN rumah sakit, Jakarta: Bakti husada.

1. Bagi Rumah Sakit Gaffar. (1999). Pengantar keperawatan profesional,


Bagi rumah sakit hasil penelitian ini dapat Jakarta: EGC
digunakan sebagai masukan dan
pertimbangan dalam meningkatkan mutu Hidayat. 2008). Riset keperawatan, Jakarta: Salemba
pelayanan keperawatan di ruangan recovery medika.
room.
Kotler, Philip (2000). Manajemen pemasaran,
2. Bagi Perawat Jakarta: Bumi aksara.
Bagi perawat, dapat dijadikan sebagai
masukan dalam meningkatkan kepuasan Kristiani. (2006). Analisa harapan dan kepuasan
pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan pasien terhadap mutu pelayanan kesehatan
di ruangan recovery room. dengan metoda IPA ( Importance Performance
3. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan Analysis ), diperoleh tanggal 28 Juli 2012 dari
Diharapkan hasil penelitian ini akan menjadi http://www.scribd.com/doc/76994189.
sumber informasi dalam pengembangan ilmu
keperawatan. Kusnanto, H. (2006). Pemanfaatan pelayanan gratis
4. Bagi Peneliti di Puskesmas Kabupaten Lombok Tengah
NTB. Diperoleh tanggal 13 Januari 2013 dari
Sebagai evidence based untuk menambah
http://www.damandiri.or,id.
pengetahuan serta pengalaman peneliti
tentang tingkat kepuasan pasien post operatif Kurniasih, Y. (2002). Hubungan kinerja perawat
terhadap pelayanan perawat di ruangan dalam melakukan asuhan keperawatan dengan
recovery room. kepuasan pasien ditinjau dengan persepsi
5. Bagi Peneliti Selanjutnya pasien di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit
Diharapkan penelitian ini menjadi sumber Kepolisian Pusat Raden Said Sukanto Jakarta
dan pedoman dalam melakukan penelitian tahun 2002. Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan
selanjutnya. Penelitian selanjutnya Universitas Indonesia. Depok.
disarankan untuk melakukan penelitian
tentang peran perawat dalam upaya Lupiyoadi,  Hamdani. (2006). Manajemen
pencegahan komplikasi anastesi. pemasaran jasa, Jakarta: Salemba empat.

Muninjaya,A.A.Gde. (2004). Manajemen kesehatan,


Jakarta:EGC.
\Napitupulu,Jakson. (2010). Tingkat kepuasan pasien Supriyanto,  Ernawati, (2010).Pemasaran industri
rawat inap terhadap pelayanan keperawatan di jasa kesehatan, Yogyakarta: Andi.
Rumah Sakit Umum Estomihi Medan,
diperoleh tanggal 20 September 2010 dari Tjiptono, Fandi. (2008). Strategi pemasaran,
http://repository.USU.ac.id./Handle/12345678 Yogyakarta: Andi.
9/17289.
Tjiptono, F,  Chandra. (2007). Service, quality &
Nursalam. (2003). Konsep dan penerapan satisfaction, Yogyakarta: Andi.
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan,
Jakarta: Salemba medika. Wijaya. (2011). Pentingnya penerapan mutu terpadu
di rumah sakit, diperoleh tanggal 25 Juli
Purnomo. (2004). Analisa tingkat kepuasan pasien 2012 dari http://Karyawijaya,studens-
pada pelayanan keperawatan prima di ruang blog.undip.ac.id./Pentingnya penerapan
rawat inap, diperoleh tanggal 3 Juli 2012 dari mutu terpadu di rumah sakit milik
http://gudang makalah.com /2011/12/ Skripsi pemerintah di era globalisasi.
analisa tingkat kepuasan pasien. Html.

Purwanto,Setyo. (2007). Kepuasan pasien terhadap


pelayanan rumah sakit, diperoleh tanggal 5
September 2010 dari http://klinis
wordpres.com/2007/12/28 Kepuasan pasien
terhadap pelayanan rumah sakit.

Rahnawati, W. (2006). Hubungan karakteristik


pasien dengan kepuasan pasien terhadap
pelayanan kesehatan di RS Islam Sukapura
Jakarta utara. Tesis. Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia. Depok.

Robby. (2009). Keperawatan post operatif, diperoleh


tanggal 2 September 2010 dari
http://www.google.co.id. Keperawatan post
operatif.

RSI Ibnu Sina. (2012). Laporan hasil evaluasi


kepuasan pasien (instrumen B) terhadap mutu
asuhan keperawatan RSI Ibnu Sina tahun
2011/2012, Pekanbaru.

RSI Ibnu Sina. (2012). Laporan tindakan kamar


bedah RSI Ibnu Sina tahun 2012,Pekanbaru.

Setiadi. (2007). Riset keperawatan, Yogyakarta:


Graha ilmu

Soekidjo,N. (2005) Metologo penelitian kesehatan,


Jakarta: Renika cipta.

Sumarwan, Ujang. (2003). Perilaku konsumen teori


dan penerapannya dalam pemasaran,
Jakarta: Ghalia Indonesia.

Supranto, J. (2006). Pengukuran tentang tingkat


kepuasan pelanggan, Jakarta: Rineka cipta.