Anda di halaman 1dari 10

ASIMETRI INFORMASI

DALAM AKUNTANSI KEUANGAN


SEMINAR AKUNTANSI EKA 445

KELOMPOK 9

Pande Putu Gayatri Maharani (1607531027)


Putu Agoes Suanthara (1607531098)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2019
1. Definisi Manajemen Laba
Manajemen laba sebagai bentuk dari manipulasi laporan keuangan, hingga saat ini
belum mempunyai batasan mengenai definisi dari manajemen laba. Berikut pendapat
beberapa ahli mengenai definisi manajemen laba. Menurut Davidson, Stickney dan Weil
dalam Sulistyanto (2008), manajemen laba merupakan proses untuk mengambil langkah
tertentu yang disengaja dalam batas-batas prinsip akuntansi yang diterima umum untuk
menghasilkan tingkat yang diinginkan dari laba yang dilaporkan.
Schipper dalam Widodo Lo (2005) mendefinisikan manajemen laba sebagai
intervensi atau campur tangan dengan maksud tertentu terhadap proses penyusunan
pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi.
Definisi tersebut mengartikan bahwa manajemen laba merupakan perilaku oportunistik
manajer untuk memaksimumkan utilitas mereka. Manajer melakukan manajemen laba
dengan memilih metode atau kebijakan akuntansi tertentu untuk menaikkan laba atau
menurunkan laba. Manajer dapat menaikkan laba dengan menggeser laba periode-periode
yang akan datang ke periode kini dan manajer dapat menurunkan laba dengan menggeser
laba periode kini ke periode berikutnya.
Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen laba
merupakan permainan manajerial untuk memanipulasi laporan keuangan dengan
mengatur besar kecilnya laba perusahaan demi kepentingan pribadi. Sementara itu Davin
(2005) menyebutkan bahwa terdapat tujuh permainan manajerial untuk memanipulasi
laporan keuangan yaitu dengan jalan mencatat pendapatan terlalu cepat, mencatat
pendapatan palsu, mengakui pendapatan lebih cepat satu periode, mengakui biaya periode
berjalan menjadi biaya periode sebelum atau sesudahnya, tidak mengungkapkan semua
kewajibannya, mengakui pendapatan periode berjalan menjadi pendapatan periode
sebelumnya dan mengakui pendapatan masa depan menjadi pendapatan periode berjalan.
Tujuan dilakukannya manajemen laba adalah untuk memanipulasi laporan keuangan
suatu perusahaan seolah-olah laba perusahaan tersebut naik sehingga akan meningkatkan
kepercayaan para investor untuk menginvestasikan dananya di perusahaan tersebut.
Dengan demikian, perusahaan akan mendapatkan dana masuk yang besar dari para
investor.

2. Model Empiris Manajemen Laba


Sulistyanto (2008) menyebutkan secara umum terdapat tiga kelompok model
empiris manajemen laba yang diklasifikasikan atas dasar basis pengukuran yang digunakan
yaitu model yang berbasis akrual agregat (aggregate accruals), akrual khusus (specific
accruals) dan distribusi laba (distribution of earnings).
1) Model berbasis akrual agregat (aggregate accruals) merupakan model yang
digunakan untuk mendeteksi aktivitas rekayasa dengan menggunakan discretionary
accruals sebagai proksi manajemen laba. Model ini pertama kali dikembangkan
oleh Healy, DeAngelo dan Jones. Selanjutnya Dechow, Sloan dan Sweeney
mengembangkan model Jones menjadi model yang dimodifikasi (modified Jones
Model). Model ini menggunakan total akrual dan model regresi untuk menghitung
akrual yang diharapkan (expected accruals) dan akrual yang tidak diharapkan
(unexpected accruals). Model Jones menggunakan sisa regresi total akrual dari
perubahan penjualan dan property, plant and equipment sebagai proksi manajemen
laba.. Model Healy merupakan model yang relatif sederhana karena menggunakan
total akrual (total accruals) sebagai proksi manajemen laba. Total akrual disini
merupakan penjumlahan discretionary accruals dan nondiscretionary accruals.
Discretionary accruals merupakan komponen akrual yang dapat diatur dan
direkayasa sesuai dengan kebijakan (discretion) manajerial, sementara
undiscretionary accruals merupakan komponen akrual yang tidak dapat diatur dan
direkayasa sesuai dengan kebijakan manajer perusahaan. Model Angelo
dikembangkan dengan menggunakan perubahan dalam total akrual (change in total
accruals) sebagai proksi manajemen laba. Model Jones dimodifikasi (Modified
Jones Model) menggunakan sisa regresi total akrual dari perubahan penjualan dan
property, plant and equipment, dimana pendapatan disesuaikan dengan perubahan
piutang yang terjadi pada periode bersangkutan.

2) Model akrual khusus (specific accruals), yaitu pendekatan yang menghitung akrual
sebagai proksi manajemen laba dengan menggunakan item atau komponen laporan
keuangan tertentu dari industri tertentu. Misalnya piutang tak tertagih dari sektor
industri tertentu atau cadangan kerugian piutang dari industri asuransi. Model ini
dikembangkan oleh McNichols dan Wilson, Petroni, Beaver dan Engel, Beaver dan
McNichols. McNichols dan Wilson mengembangkan model yang menggunakan
sisa provisi untuk piutang tak tertagih, yang diestimasi sebagai sisa regresi provisi
untuk piutang tak tertagih pada saldo awal, serta penghapusan piutang periode
berjalan dan periode yang akan datang sebagai proksi manajemen laba. Petroni
menggunakan klaim terhadap estimasi cadangan kesalahan yang diukur selama
lima tahun perkembangan cadangan kerugian penjaminan kerusakan property
sebagai proksi manajemen laba. Model Beaver dan Engel menggunakan biaya yang
tersisa dari kerugian pinjaman, yang diestimasi sebagai sisa regresi biaya dari
kerugian pinjaman pada charge-of bersih, pinjaman yang beredar, aktiva yang
tidak bermanfaat dan melebihi satu tahun perubahan aktiva tidak bermanfaat
sebagai proksi manajemen laba. Sementara Beneish mengembangkan model yang
menggunakan hari-hari dalam indeks piutang, indeks laba kotor (gross margin),
indeks kualitas aktiva, indeks depresiasi, indeks biaya administrasi umum dan
penjualan, indeks total akrual terhadap total aktiva sebagai proksi manajemen laba.
Model Beaver dan McNichols menggunakan korelasi serial dari satu tahun
perkembangan cadangan kerugian penjaminan kerusakan property sebagai proksi
manajemen laba.

3) Model distribusi laba (distribution of earnings). Pendekatan ini dikembangkan


dengan melakukan pengujian secara statistik terhadap komponen-komponen laba
untuk mendeteksi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan laba. Model ini
terfokus pada pergerakan laba disekitar benchmack yang dipakai, misalkan laba
kuartal sebelumnya. Untuk menguji apakah incidence jumlah yang berada di atas
maupun di bawah bencmark telah didistribusikan secara merata atau merefleksikan
ketidak berlanjutan kewajiban untuk menjalankan kebijakan yang telah dibuat.
Model ini dikembangkan oleh Burgtahler dan Dichev, Degeorge, Patel dan
Zeckhauser serta Myers dan Skinners. Model Burgtahler dan Dichev merupakan
model yang menguji apakah frekuensi realisasi laba tahunan yang merupakan
bagian atas (bawah) laba yang besarnya nol dan laba akhir tahun adalah lebih besar
(kecil) daripada yang diharapkan untuk mendeteksi manajemen laba. Degeorge,
Patel dan Zeckhauser mengembangkan model yang menguji apakah frekuensi
realisasi laba kuartalan yang merupakan bagian atas (bawah) laba yang besarnya
nol, laba akhir kuartal dan forecast investor adalah lebih besar (kecil) daripada yang
diharapkan untuk mendeteksi manajeman laba. Model Myers dan Skinners
merupakan model yang menguji apakah angka-angka laba meningkat yang
berurutan adalah lebih besar dibandingkan angka-angka jika tanpa manajemen laba
untuk mendeteksi manajemen laba.
3. Motivasi Manajemen Laba.
Secara umum terdapat beberapa hal yang memotivasi individu atau badan usaha
melakukan tindakan creative accounting atau manajemen laba, yaitu:
1) Motivasi Bonus.
Dalam sebuah perjanjian bisnis, pemegang saham akan memberikan sejumlah
insentif dan bonus sebagai feedback atau evaluasi atas kinerja manajer dalam
menjalankan operasional perusahaan. Insentif ini diberikan dalam jumlah relatif
tetap dan rutin. Sementara, bonus yang relatif lebih besar nilainya hanya akan
diberikan ketika kinerja manajer berada di area pencapaian bonus yang telah
ditetapkan oleh pemegang saham. Kinerja manajer salah satunya diukur dari
pencapaian laba usaha. Pengukuran kinerja berdasarkan laba dan skema bonus
tersebut memotivasi para manajer untuk memberikan performa terbaiknya sehingga
tidak menutup peluang mereka melakukan tindakan manajemen laba agar dapat
menampilkan kinerja yang baik demi mendapatkan bonus yang maksimal.
2) Motivasi Utang.
Selain melakukan kontrak bisnis dengan pemegang saham, untuk kepentingan
ekspansi perusahaan, manajer seringkali melakukan beberapa kontrak bisnis
dengan pihak ketiga, dalam hal ini adalah kreditor. Agar kreditor mau
menginvestasikan dananya di perusahaan, tentunya manajer harus menunjukkan
performa yang baik dari perusahaannya. Untuk memperoleh hasil maksimal, yaitu
pinjaman dalam jumlah besar, perilaku kreatif dari manajer untuk menampilkan
performa yang baik dari laporan keuangannya pun seringkali muncul.
3) Motivasi Pajak.
Tindakan manajemen laba tidak hanya terjadi pada perusahaan go public dan selalu
untuk kepentingan harga saham, tetapi juga untuk kepentingan perpajakan.
Kepentingan ini didominasi oleh perusahaan yang belum go public. Perusahaan
yang belum go public cenderung melaporkan dan menginginkan untuk menyajikan
laporan laba fiskal yang lebih rendah dari nilai yang sebenarnya. Kecenderungan
ini memotivasi manajer untuk bertindak kreatif melakukan tindakan manajemen
laba agar seolah-olah laba fiskal yang dilaporkan memang lebih rendah tanpa
melanggar aturan dan kebijakan akuntansi perpajakan.
4) Motivasi Initial Public Offering (IPO).
Motivasi ini banyak digunakan oleh perusahaan yang akan go public ataupun sudah
go public. Perusahaan yang akan go public akan melakukan penawaran saham
perdananya ke publik atau lebih dikenal dengan istilah Initial Public Offering (IPO)
untuk memperoleh tambahan modal usaha dari calon investor. Begitupun dengan
perusahaan yang sudah go public untuk kelanjutan dan ekspansi usahanya.

5) Motivasi Pergantian Direksi


Praktik manajemen laba biasanya terjadi pada sekitar periode pergantian direksi
atau chief executive officer (CEO). Menjelang berakhirnya masa jabatan, direksi
cenderung bertindak kreatif dengan memaksimalkan laba agar performa kerjanya
tetap terlihat baik pada tahun terakhir ia menjabat. Motivasi utama yang mendorong
hal tersebut adalah untuk memperoleh bonus yang maksimal pada akhir masa
jabatannya.
6) Motivasi Politis.
Motivasi ini biasanya terjadi pada perusahaan besar yang bidang usahanya banyak
menyentuh masyarakat luas, seperti perusahaan-perusahaan strategis semisal
perminyakan, gas, listrik, dan air. Demi menjaga tetap mendapatkan subsidi,
perusahaan-perusahaan tersebut cenderung menjaga posisi keuangannya dalam
keadaan tertentu sehingga prestasi atau kinerjanya tidak terlalu baik karena jika
sudah baik, kemungkinan besar subsidi tidak lagi diberikan. Dari penjelasan di atas
terdapat beberapa motivasi yang mendorong terjadinya manajemen laba, namun
yang sejalan dengan penelitian ini yaitu ditinjau dari motivasi perpajakan (taxation
motivations). Scott mengemukakan bahwa motivasi penghematan pajak menjadi
motivasi manajemen laba yang paling nyata. Namun demikian, kewenangan pajak
cenderung untuk memaksakan aturan akuntansi pajak sendiri untuk menghitung
pendapatan kena pajak. Seharusnya secara umum perpajakan tidak mempunyai
peran besar dalam keputusan manajemen laba. Intinya manajer termotivasi
melakukan manajemen laba untuk menurunkan laba demi mengurangi beban pajak
yang harus dibayar.

4. Bentuk Manajemen Laba


Bentuk pengaturan laba menurut Scott yaitu:
1) Taking a bath
Disebut juga dengan big baths, teknik ini bisa terjadi saat tekanan reorganisasi,
misalnya penggantian direksi. Jika teknik ini dilakukan, maka seluruh biaya yang
ada pada periode yang akan datang, diakui pada periode berjalan. Akibatnya, laba
pada periode di masa yang akan datang menjadi tinggi, meskipun kondisi tidak
menguntungkan.
2) Income minimization
Teknik ini adalah dengan meminimumkan laba, alasannya karena motif politik
atau motif meminimumkan pajak. Cara ini digunakan pada saat perusahaan
memperoleh profitabilitas tinggi, dengan tujuan supaya tidak mendapat perhatian
secara politis. Income minimization dapat dilakukan dengan cara penghapusan
(write off) atas barang modal dan aktiva tak berwujud, riset, pembebanan
pengeluaran iklan dan pengembangan yang cepat.
3) Income maximization
Teknik ini adalah dengan cara memaksimalkan laba, tujuannya adalah untuk
memperoleh bonus yang lebih besar. Tindakan ini juga bisa dilakukan untuk
menghindari pelanggaran atas kontrak hutang jangka panjang (debt covenant).
4) Income smoothing
Teknik ini adalah dengan cara melaporkan trend pertumbuhan laba yang stabil,
daripada perubahan laba yang meningkat atau menurun secara drastis.
5) Timing Revenue dan Expenses Recognation
Teknik ini dilakukan dengan membuat kebijakan yang berkaitan dengan timing
suatu transaksi, contohnya: pengakuan prematur atas pendapatan.

5. Pengertian Teori Agensi


Menurut Jensen dan Meckling (1976) hubungan keagenan merupakan suatu
kontrak dimana satu atau lebih orang (principal) memerintah orang lain (agen) untuk
melakukan suatu jasa atau nama principal serta memberi wewenang kepada agen
membuat keputusan yang terbaik. Bagi principal jika kedua belah pihak tersebut
mempunyai tujuan yang sama memaksimumkan nilai perusahaan maka agen akan
bertindak dengan cara yang sesuai dengan kepentingan principal.
Konsep teori agency theory mendasarkan pada hubungan antara principal
sebagai pemilik atau pemegang saham, sedangkan manajemen sebagai agen. Principal
merupakan pihak yang memberikan mandat kepada agen untuk bertindak atas nama
principal. Sedangkan agen merupakan pihak yang diberikan amanat oleh principal
untuk menjalankan perusahaan. Agen berkewajiban untuk
mempertanggungkanjawabkan apa yang telah diamanatkan oleh principal.
Inti dari agency theory (Teori Keagenan) adalah pendesainan kontrak yang tepat
untuk menyelaraskan kepentingan principal dan agen dalam hal terjadi konflik
kepentingan. Agency theory memiliki 3 landasan asumsi:
1. Asumsi tentang sifat manusia
Manusia memiliki sifat untuk mementingkan diri sendiri dan tidak menyukai risiko.
2. Asumsi tentang keroganisasian
Adanya konflik antar anggota organisasi, efisiensi sebagai criteria produktivitas dan
adanya asymmetric information antara principal dan agen.
3. Asumsi tentang informasi
Informasi sebagai barang komoditi yang bisa diperjualbelikan.

6. Konflik Antara Manajer Dan Agen


Agency Theory menimbulkan masalah "perilaku yang mementingkan diri sendiri”
dalam organisasi. Manajer Sebuah perusahaan relatif memiliki tujuan-tujuan pribadi yang
bertentangan dengan tujuan untuk memaksimalkan kekayaan pemilik pemegang saham.
Karena manajer pemegang saham memiliki hak untuk mengelola aset perusahaan, sebuah
potensi konflik kepentingan muncul antara dua kelompok. Perbedaan kepentingan antara
prinsipal dan agen inilah disebut dengan Agency Problem, yang salah satunya disebabkan
oleh adanya Asymmetric Information.
Asymmetric Information (AI), yaitu ketidakseimbangan informasi yang disebabkan
karena adanya distribusi informasi yang tidak sama antara prinsipal dan agen. Dalam hal
ini, prinsipal seharusnya memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam mengukur tingkat
hasil yang diperoleh dari usaha agen, namun ternyata informasi tentang ukuran
keberhasilan yang diperoleh oleh prinsipal tidak seluruhnya disajikan oleh agen. Sebagai
akibatnya, informasi yang diperoleh prinsipal kurang lengkap sehingga tetap tidak dapat
menjelaskan kinerja agen yang sesungguhnya dalam mengelola kekayaan prinsipal yang
dipercayakan kepada agen.
Akibat adanya informasi yang tidak seimbang ini dapat menimbulkan 2 permasalahan
yang menyebabkan adanya kesulitan prinsipal untuk memonitor dan melakukan kontrol
terhadap tindakan-tindakan agen. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan permasalahan
tersebut adalah:
a. Moral Hazard
Moral hazard adalah permasalahan yang muncul jika agen tidak melaksanakan hal-hal
yang telah disepakati bersama dalam kontrak kerja.
b. Adverse Selection
Adverse selection adalah suatu keadaan di mana prinsipal tidak dapat mengetahui
apakah suatu keputusan yang diambil oleh agen benar-benar didasarkan atas informasi
yang telah diperolehnya, atau terjadi sebagai sebuah kelalaian dalam tugas.
DAFTAR PUSTAKA

Dedhy Sulistiawan, Yeni Januarsi dan Liza Alvia, Creative Accounting–Mengungkap


Manajemen Laba dan Skandal Akuntansi, Salemba Empat, Jakarta, 2011

Widodo Lo, Eko. 2005. Penjelasan Teori Prospek Terhadap Manajemen Laba. Jurnal
Akuntansi ,dan Manajemen. Vol. XVI. No. 1. April. STIE YKPN. Yogyakarta.