Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN ERITEMA MULTIFORM MINOR


DI BANGSAL BOUGENVILE RSUD BANYUMAS

Disusun untuk memenuhi tugas individu


Praktik Profesi Ners Stase Keperawatan Medikal Bedah

Disusun Oleh :
Alfi Kurnia Adha
17/420944/KU/20129

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN, KESEHATAN MASYARAKAT DAN KEPERAWATAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
ERITEMA MULTIFORM MINOR

A. PENGERTIAN
Erythema Multiforme (EM) adalah merupakan suatu penyakit akut dari kulit dan
membran mukosa yang dapat menyebabkan beberapa jenis lesi kulit, karenanya
dinamakan multiforme (Greenberg,2003). Penyakit ini merupakan suatu reaksi
hipersensitivitas, yang karakteristik dengan adanya lesi target pada kulit atau lesi
ulserasi pada mukosa.
Erythema multiforme (EM) adalah suatu kondisi kulit akut, self-limited , dan
kadang-kadang recurrent karena reaksi hipersensitivitas tipe IV yang berhubungan
dengan infeksi, medikasi, dan berbagai pemicu lain.
Kondisi bervariasi dari ringan, ruam terbatas diri (E. multiforme minor) . Yang
parah, bentuk yang mengancam jiwa yang dikenal sebagai eritema multiforme
mayor (atau erythema multiforme mayora) yang juga melibatkan selaput lendir. Bentuk
parah ini mungkin berhubungan dengan Sindrom Stevens-Johnson.
Bentuk yang ringan biasanya agak gatal, merah muda, bercak-bercak merah,
simetris dan mulai pada ekstremitas. Sering mengambil klasik "target lesi" penampilan,
dengan sebuah cincin merah muda-merah di sekitar pusat pucat. Resolusi dalam waktu
7-10 hari adalah normal.
B. KLASIFIKASI ERITEMA MULTIFORM
Eritema Multiform diklasifikasikan menjadi dua yaitu eritema multiform minor dan
eritema multiform mayor.
1. Eritema Multiform Minor
a) Bagian mukosa rongga mulut
Hal ini terjadi pada 20-30 % kasus. Pada tipe eritema multiforme minor jarang
sekali terjadi hanya pada bagian rongga mulut saja. Lesi berupa vesikula yang banyak
dan pecah, meninggalkan daerah erosi yang sakit dan ditutupi pseudomembran putih.
b) Bagian mukosa lainnya
Pada mukosa genital, dan jarang terjadi pada konjungtiva. Pada kulit Biasanya
muncul macula papula kemerahan. Paling sering muncul dengan khas berupa lesi
target (Laskaris, 2005).
2. Eritema Multiform Mayor
Merupakan bentuk penyakit yang lebih parah dengan lesi target yang lebih besar
dengan keterlibatan membran mukosa. Tipe ini melibatkan dua atau lebih membran
mukosa dengan lebih banyak lagi daerah kulit yang terlibat (Scully, 2007)
a) Pada mukosa rongga mulut
Lesi pada mukosa rongga mulut lebih sering terjadi pada kasus EM tipe mayor.
Awalnya adalah daerah kemerahan, berubah dengan cepat menjadi bentuk vesikula dan
segera pecah dan meninggalkan daerah erosi kemerahan yang ditutupi pseudomembran
putih dan krusta akibat perdarahan.
b) Bagian mukosa lainnya
Terjadi pada mata, genital, pharyng, laryng, esophagus, dan bronchial terutama
pada kasus yang sangat parah.Pada kulit Lesi ini lebih sering terjadi, dengan bentukan
lesi merah yang edematous, melepuh, dan adanya lesi target (Laskaris, 2005).

C. ETIOLOGI
Pada lebih dari 50% kasus, faktor pemicu tidak diketahui. Yang paling umum
adalah kasus dengan infeksi herpes simpleks (oral atau genital) yang mendahuluinya,
atau dengan infeksi mikoplasma, infeksi bakteri atau virus yang lain juga telah
dibuktikan. Berikut beberapa faktor pemicu yang menyebabkan eritema multiforme :
1. Infeksi virus
a) Herpes simpleks d) Adenovirus
b) Pneumonia atipikal primer, e) Cytomegalovirus
f) Hepatitis B
infeksi mikoplasma
g) Mononukleasis infeksius
c) AIDS
h) Limfogranuloma inguinal
i) Milker’s nodes m) Psittacosis
j) Mumps n) Variola
k) Orf o) Vaccinia
l) Poliomyelitis p) Varicella
2. Infeksi bakteri
a) Rickettsia
3. Infeksi jamur
a) Histoplasmosis
b) Vaksinasi
4. reaksi obat
5. reaksi kontak
6. Karsinoma, limfoma, leukemia
7. Lupus eritematosus (Rowell’s syndrome)
8. Poliarteritis nodosa
9. Pregnansi, premenstrual,’dermatitis progesteron autoimun’
10. Sarkoidosis
11. Wegener’s granulomatosis
12. X-ray terapi
13. Tidak diketahui
Eritema multiforme telah dianggap sebagai contoh yang jelas dari reaksi akibat obat
yang merugikan. Meskipun pada studi prospektif dari kasus-kasus eritema multiforme
hanya 10% yang terkait penggunaan obat-obatan. Pada studi yang lain, riwayat
penggunaan obat-obatan, khususnya golongan sefalosporin, tercatat pada 59% pasien
eritema multiforme.
Obat-obatan sering dianggap sebagai penyebab berdasarkan bukti yang kurang
adekuat.; konfirmasi sensitivitas obat memerlukan paparan ulang terhadap obat
tersebut, yang mungkin dapat menimbulkan resiko yang tidak diinginkan.

D. PATOFISIOLOGI
Erythema Multiformis merupkan suatu jenis reaksi kulit yang secara histologis
ditandai mula-mula adanya infiltrat limfositolitik pada batas antara dermis dan
epidermis dan kemudian dengan adanya vesiculasi sub – epidermis. Secara klinis ini
ditandai oleh adanya berbagai lesi, termasuk lesi-lesi kulit yang khas seperti iris atau
target (sasaran). Erythema multiformis dianggap sebaga syndrom hipersensitivitas,
tetapi mekanisme imunologisnya yang tepat belumlah diketahui. Penyakit yang akut
sering kambuh ini, paling sering muncul dalam musim dingin dan awal musim semi
pada kanak-kanak dan orang dewasa.
Banyak faktor penyebab yang telah diketemukan, termasuk infeksi obat-obatan,
perubahan hormonal, penyakit-penyakit kanker. Infeksi herpes simpleks merupakan
asal mula penyebab infeksi yang paling sering, meskipun berbagai penyakit infeksi
yang lain seperti virus,bakteri dan myobakteri. Juga sering dijumpai mycoplasma
pnemoniae pernah dapat dibiakkan dari tenggorokan dan bulo dari bebepa pasien.
Penicillin, barbiturat, sulfonamide dan banyak obat lainnya bisa menimbulkan
gambaran yang sama
Bentuk Erythema Multiformis ringan sembuh dengan sendirinya dalam 2–3
minggu, bentuk yang lebih berat dimana ikut juga terkena secara luas selaput lendir,
disebut sebagai Syndrom Steven Johnson, bisa berlangsung 6 – 8 minggu dan
merupakan penyakit sangat berbahaya dan sering fatal.
Eritema Multoforme terjadi karena adanya peningkatan kadar kompleks antigen-
antibodi (imun) yang menyebabkan vaskulitis. Faktor-faktor spesifik penyebab
vaskulitis kompleks imun adalah alergi makanan, reaksi terhadap mikroorganisme,
radioterapi, penyakit sistemik, dan keganasan (Greenberg, 2003).
Beberapa penelitian melaporkan keterlibatan beberapa mikroorganisme sebagai
pencetus eritema multiforme termasuk virus dan terutama herpes simplex virus (HSV)
yang prosentasenya mencapai 70% pada kasus-kasus yang rekuren. Beberapa pasien
melaporkan adanya riwayat infeksi HSV dua minggu sebelumnya serta didapatkannya
DNA HSV (36-81%) dimana HSV-1 66%, HSV-2 28% dan keduanya 6%. HSV yang
mencetuskan terjadinya Erythema Multiforme disebut herpes associated EM (HAEM).
Fragmen DNA HSV pada kulit dan mukosa merupakan pencetusnya, sel CD4+
mentransport fragmen HSV ke epitelium dan terjadi akumulasi sel-T yang merespon
antigen HSV sehingga terjadilah kerusakan sel-sel (Scully, 2007).
Pemakaian obat-obatan juga dapat memicu terjadinya EM, penelitian melaporkan
59% terjadinya Eritema multiformal oleh karena hal ini. Peningkatan yang tajam
terjadi karena penggunaan cephalosporin. Hal ini dipicu oleh metabolit obat-obatan
reaktif dan adanya peningkatan apoptosis keratinosit oleh karena peningkatan TNF-α
yang dirilis oleh keratinosit, makrofag dan monosit menyebabkan kerusakan jaringan.
Penyebab EM lainnya adalah penggunaan phenytoin dan pemberian terapi radiasi
kranial (Scully, 2007).
Selain itu pada erythema multifore tipe mayor terjadi adanya reaksi
hipersensitivitas tipe III yang diperantarai oleh pengendapan kompleks antigen-
antibodi (imun). Diikuti dengan aktivasi komplemen, dan akumulasi limfosit
polimorfonuklear. Dimanapun kompleks imun mengendap akan timbul kerusakan
jaringan yang membentuk lesi patologis (Kumar, 2008).
Eritema multiforme merupakan hasil dari T-cell mediated immune reactions
sebagai agen pencetus terjadinya cytotoxic immunological attack pada keratinosit yang
mengekpresikan non-self antigen yang kemudian akan terjadi vesikulasi subepitelial
dan intraepitelial dan akhirnya terjadilah blister dan erosi yang meluas (Scully,2007).
A. MANIFESTASI KLINIS
Ada berbagai macam variasi dari eritema multiforme, dan semua diberikan nama
yang berhubungan dengan gambaran yang paling jelas yang menyusun erupsi tersebut.
Lesi yang terjadi dapat berupa makula, papul, nodus, vesikel atau bulla. Bentuknya
dapat anular, sirsinar, atau iris (target, bull’s eye). Sifatnya dapat persisten, purpura
atau urtika.

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk eritema multiforme. Pada
kasus yang berat dapat terjadi elevasi tingkat sedimentasi eritrosit, leukositosis
moderat, peningkatan level protein fase akut, dan dapat pula terjadi elevasi
aminotranferase hati yang ringan. Apabila terdapat tanda-tanda kelainan di saluran
pernapasan maka pemeriksaan radiologi dibutuhkan (Smeltzer, 2002).

C. PENATALAKSANAAN
1. Terapi secara sistemik
Menghindari faktor penyebab atau mengobatinya, terutama karena adanya reaksi
hipersensitivitas karena pemakaian obat. Pemakaian kortikosteroid secara oral,
terutama setelah hari ke2-4, untuk mengurangi periode erupsi akut dan gejala. Tipe
minor pemberian kortikosteroid oral antara 20-40 mg/hari selama 4-6 hari lalu
diberikan secara tapering dosis tak lebih dari 2 minggu. Pada tipe mayor perlu
pemberian antara 40-80 mg/hari selama 2-3 minggu. Pemberian antibiotik untuk
menghindari infeksi sekunder (Laskaris, 2005).
Obat-obat antivirus diindikasikan untuk pasien HAEM, dengan pemberian
acyclovir 200 mg, lima kali sehari sejak terlihat pertamakali munculnya lesi atau 400
mg, empat kali sehari selama 6 bln atau melanjutkan terapi menggunakan valacyclovir,
pemberian 500 mg dua kali sehari disarankan sebagai profilaksis (Scully, 2006).
2. Terapi secara topikal
Instruksi pada pasien untuk diet lunak, pemakaian anastesi topikal, obat kumur
yang berisi antibiotik, dan kortikosteroid topikal untuk mengurangi ketidaknyamanan
pada pasien (Laskaris, 2005).
Kemungkinan penyebab yang banyak pada kasus eritema multiforme menghalangi
pengobatan yang spesifik, kecuali penyebab spesifik telah diketahui. Tujuan
pengobatan dari eritema multiforme ialah untuk mengurangi lamanya waktu demam,
erupsi maupun perawatan di rumah sakit.
Pada kasus ringan diberi pengobatan simtomatik, meskipun sedapat-dapatnya perlu
dicari penyebabnya. Pemberian kortikosteroid sistemik dihindari mengingat komplikasi
yang dapat timbul. Pengobatan simptomatik meliputi pemberian analgesic atau
NSAID; kompres dingin dengan menggunakan larutan saline;pengobatan oral seperti
saline kumur; lidokain dan diphenhydramine.
Pada kasus-kasus berat, dapat diberikan kortikosteroid (prednisolon) dengan dosis
awal 30-60 mg/hari, kemudian dosis diturunkan dalam 1-4 minggu. Kegunaan
kortikosteroid hingga saat ini masih diperdebatkan, namun perbaikan gejala sistemik
seperti demam dapat tercapai dengan kortikosteroid.
Tujuan pemberian antivirus adalah untuk mempersingkat perjalanan klinis penyakit,
mencegah komplikasi, mencegah perkembangan rekurensi yang tersembunyi dan atau
yang muncul kemudian, mengurangi penyebaran serta mengeliminasi rekurens laten
yang tidak dapat dihindari. Acyclovir mengurangi lamanya gejala lesi. Diberikan pada
pasien dengan lesi yang muncul dalam waktu 48 jam. Pasien yang diberikan acyclovir
merasakan nyeri berkurang dan penyembuhan yang cepat dari lesi pada kulit.

C. KOMPLIKASI
Pada situasi yang jarang, erosi okular pada eritema multiforme dapat menyebabkan
jaringan parut yang parah pada mata. Eritema multiforme yang berhubungan dengan
infeksi pneumonia dapat dihubungan dengan bronkitis erosif.

D. MASALAH KEPERAWATAN
Menurut Dongeos ada beberapa diagnosa keperawatan pada kasus Eritema
multifrom yaitu :
1. Kerusakan integritas kulit b.d lesi dan reaksi inflamasi lokal
2. Risiko infeksi dengan faktor risiko penurunan imunitas, adanya port de entree
pada lesi
3. Gangguan gambaran diri (citra diri) b.d perubahan struktur kulit, perubahan peran
keluarga.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak adekuat,
respon sekunder dari kerusakan krusta pada mukosa mulut.

DAFTAR PUSTAKA
Bulecheck,G. N & Doctherman, J. M. (2008). Nursing Intervensions Classification
(NIC), Fifth Edition. St. Louis : Mosby – Year Book
Carpenito, L. J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 9. Jakarta : EGC.
Dagul. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Eritema Multiforme
Kowalak, J. P, Welsh, W. & Mayer, B. (2012). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC
NANDA International, 2015. Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi 2015-
2017. Jakarta: EGC