Anda di halaman 1dari 74

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/304783009

KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Book · January 2003

CITATION READS
1 7,465

2 authors, including:

Ascarya Ascarya
Bank Indonesia
111 PUBLICATIONS   207 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Mudarabah Investment Research Committee at INCEIF View project

waqaf in Indonesia View project

All content following this page was uploaded by Ascarya Ascarya on 04 July 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Seri Kebanksentralan

No. 5

Kelembagaan
Bank Indonesia

F.X. Sugiyono
Ascarya

PUSAT PENDIDIKAN DAN STUDI KEBANKSENTRALAN (PPSK)

BANK INDONESIA
SERI KEBANKSENTRALAN

Seri Kebanksentralan Bank Indonesia

1. Uang: Pengertian, Penciptaan, dan Peranannya dalam Perekonomian,


oleh Solikin dan Suseno, Desember 2002.
2. Penyusunan Statistik Uang Beredar,
oleh Solikin dan Suseno, Desember 2002.
3. Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter,
oleh Ascarya, Desember 2002.
4. Neraca Pembayaran: Konsep, Metodologi, dan Penerapan,
oleh F.X. Sugiyono, Desember 2002.
5. Kelembagaan Bank Indoesia,
oleh F.X. Sugiyono dan Ascarya, Desember 2003.
6. Kebijakan Moneter di Indonesia,
oleh Perry Warjiyo dan Solikin, Desember 2003.
7. Sistem dan Kebijakan Perbankan di Indonesia,
oleh Suseno dan Piter Abdullah, Desember 2003.
8. Kebijakan Sistem Pembayaran di Indonesia,
oleh Sri Mulyati Tri Subari dan Ascarya, Desember 2003.
9. Organisasi Bank Indonesia,
oleh Suarpika Bimantoro dan Syahrul Bahroen, Desember 2003.

Seri Kebanksentralan ini diterbitkan oleh:


Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK)
BANK INDONESIA
Jl. MH. Thamrin No. 2, Gd. Tipikal lt. 2, Jakarta 10010
No. Telepon: 021-3817628, No. Fax: 021-3501912
e-mail: PPSK@bi.go.id

Penulis adalah peneliti pada Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan – Bank Indonesia
Isi dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis
Seri Kebanksentralan No. 5

Kelembagaan
Bank Indonesia

F.X. Sugiyono
Ascarya

PUSAT PENDIDIKAN DAN STUDI KEBANKSENTRALAN (PPSK)


BANK INDONESIA

Jakarta, Desember 2003


i
Sugiyono, F.X.
Kelembagaan Bank Indonesia / F.X. Sugiyono,
Ascarya. – Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi
Kebanksentralan (PPSK) BI, 2003.
51 hlm.; 15,2 cm x 22,8 cm. – (Seri Kebanksentralan; 5)

Bibliografi: hlm. – 35
SBN 000-0000-00-0

ii
Sambutan

Sejalan dengan amanat yang diemban dalam UU No. 23 Tahun 1999


tentang Bank Indonesia, dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk mewujudkan iklim
keterbukaan. Selain itu, sebagai sumbangsih Bank Indonesia untuk
berperan dalam kegiatan peningkatan wawasan dan pembelajaran kepada
masyarakat, dalam tiga tahun terakhir ini Bank Indonesia juga terus
berupaya untuk meningkatkan kualitas kegiatan penelitian yang ditujukan
untuk memperkaya khazanah ilmu kebanksentralan. Sejalan dengan hal
tersebut, pada kesempatan ini Pusat Pendidikan dan Studi
Kebanksentralan, Bank Indonesia, menerbitkan buku seri kebanksentralan.
Lingkup materi yang dibahas dalam rangkaian buku seri
kebanksentralan pada kesempatan kali ini adalah menyangkut berbagai
aspek yang terkait dengan keberadaan bank sentral, mulai dari aspek
kelembagaan, kebijakan-kebijakan yang ditempuh, sampai dengan
organisasi. Berkaitan dengan hal tersebut, sebagai lanjutan dari buku seri
yang telah diterbitkan sebelumnya, kami menerbitkan lima seri buku
sekaligus, yang terdiri dari: (i) Kelembagaan Bank Indonesia, (ii)
Kebijakan Moneter di Indonesia, (iii) Sistem dan Kebijakan Perbankan
di Indonesia, (iv) Kebijakan Sistem Pembayaran di Indonesia, dan (v)
Organisasi Bank Indonesia.
Guna memudahkan pemahaman pembaca, ulasan masing-masing
aspek mengenai bank sentral tersebut dilihat dari dua tataran, yaitu konsep/
teori serta pengalaman dan pelaksanaannya di Indonesia. Buku seri ini
juga menggunakan bahasa yang cukup sederhana dan mudah dipahami
secara luas, serta sejauh mungkin menghindari penggunaan istilah-istilah
teknis yang kiranya dapat mempersulit pembaca dalam memahai isi buku.
Meskipun disajikan dengan singkat dan dalam bahasa yang sederhana,
pada setiap bagian dalam tulisan ini diberikan bahan-bahan yang dapat
dipergunakan sebagai referensi bagi pembaca yang bermaksud untuk
memperdalam pemahaman mengenai bagian yang bersangkutan.

iii
Akhirnya, mengiringi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah,
pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan
kepada para penulis yang telah berusaha secara maksimal serta pihak-
pihak yang telah memberikan kontribusi berharga dalam penyusunan
buku ini. Semoga buku ini bermanfaat dan menambah khazanah
pengetahuan kita.

Jakarta, Desember 2003


Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan

F.X. Sugiyono
Peneliti Utama Senior

iv
Pengantar

Sebelum abad 17, bank sentral belum dikenal, meskipun perbankan sudah
mulai berkembang. Bank dengan sistem perbankannya berkembang
sejalan dengan berkembangnya perdagangan dan perniagaan. Dengan
semakin berkembangnya sistem perbankan, kebutuhan akan suatu lembaga
stabilisator perekonomian mulai dirasakan perlu keberadaannya. Lembaga
tersebut sampai saat ini dikenal sebagai bank sentral. Secara umum, bank
sentral merupakan lembaga yang memiliki peran penting dalam
perekonomian, terutama di bidang moneter, keuangan, dan perbankan.
Hal ini nampak dari fungsi dan tujuan bank sentral yang tidak identik
dengan bank komersial, bank tabungan atau lembaga keuangan lainnya.
Pada dasarnya bank sentral dibentuk untuk mencapai suatu tujuan sosial
ekonomi tertentu yang menyangkut kepentingan nasional atau
kesejahteraan umum, seperti stabilitas harga dan perkembangan ekonomi.
Di sisi lain, dalam suatu sistem perbankan, ketiadaan koordinator dan
regulator yang tidak berpihak akan mengakibatkan bank-bank tidak dapat
melaksanakan operasinya secara efisien.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah ikut serta terlibat dan
membantu dalam penyusunan tulisan ini, khususnya kepada rekan-rekan
di Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan, Direktorat Hukum,
Direktorat Sumber Daya Manusia, Direktorat Riset Ekonomi dan
Kebijakan Moneter, dan semua pihak yang telah membantu kelancaran
penulisan seri kebanksentralan ini, mulai dari tahap awal penyusunan
sampai dengan pencetakan tulisan ini. Ucapan terima kasih secara khusus
juga penulis sampaikan kepada Sdr. Perry Warjiyo, Sdr. Suseno, Sdr.
Hotbin Sigalingging, Sdr. Iskandar, Sdri. Rosalia Suci, Sdr. Wibisono,
dan Sdr. I Made Subaga Wirya atas partisipasi dan masukan-masukannya
dalam diskusi dan pembahasan penyelesaian tulisan ini. Demikian pula
penulis mengucapkan terima kasih kepada Sdr. J.D. Parera dan Sdr. P.
Iman Soesanto yang telah membantu mengedit baik bahasa maupun isi
dari tulisan ini.

v
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis akan sangat menghargai semua kritik
dan saran dari pembaca bagi penyempurnaan tulisan ini di masa yang
akan datang. Akhirnya penulis mengharapkan agar tulisan ini dapat
bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan masyarakat luas.

Jakarta, Desember 2003

Penulis

vi
Daftar Isi

Sambutan iii
Pengantar v
Pendahuluan 1
Perkembangan Status dan Kedudukan Bank Sentral 2
Boks1: Tugas-Tugas Bank Sentral 6
Perkembangan Status dan Kedudukan Bank Indonesia 8
Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia 13
Tujuan 14
Tugas 15
Tugas Menetapkan dan Melaksanakan Kebijakan Moneter 16
Tugas Mengatur dan Menjaga Kelancaran Sistem Pembayaran 18
Tugas Mengatur dan Mengawasi Bank 20

Hubungan dengan Pemerintah 22


Hubungan Internasional 24
Dewan Gubernur 26
Independensi 29
Pendapat Mengenai Independensi Bank Sentral 33
Independensi Bank Indonesia 34
Boks2: Perbandingan Tingkat Independensi Bank Indonesia
1968 - 1999 36

Akuntabilitas dan Transparansi 39

Daftar Pustaka 42
Lampiran 1: Hubungan Internasional yang dilakukan Bank Indonesia 46
Lampiran 2: Cara Mengukur Tingkat Independensi Bank Sentral 53

vii
Lampiran 3: Penghitungan Independensi Bank Indonesia 1968 - 1999 62
Gambar 1: Struktur Bank Indonesia dalam Sistem Ketatanegaraan
Republik Indonesia 12
Gambar 2: Tujuan dan Tugas Bank Indonesia 18
Gambar 3: Susunan Dewan Gubernur Bank Indonesia 28

Tabel 1: Bank Sentral dan Tugasnya 7

viii
Kelembagaan
Bank Indonesia

Pendahuluan

Pada awalnya, meskipun beberapa negara sudah mengenal sistem


perbankan, namun saat tersebut belum dirasakan perlunya suatu bank
sentral. Hal ini mengingat aktivitas penyimpanan dana dan kredit masih
sangat terbatas. Namun pada saat di beberapa negara khususnya di daratan
Eropa, alat produksi semakin berkembang sehingga mendorong banyaknya
aktivitas perdagangan dan perniagaan, pada saat itu pula sistem perbankan
mengalami perkembangan. Dengan semakin berkembangnya sistem
perbankan, kebutuhan akan suatu lembaga stabilisator perekonomian,
mulai dirasakan perlu keberadaannya. Lembaga tersebut sampai saat ini
dikenal sebagai bank sentral.
Secara umum, bank sentral merupakan lembaga yang memiliki peran
penting dalam perekonomian, terutama di bidang moneter, keuangan, dan
perbankan. Hal ini nampak dari fungsi dan tujuan bank sentral yang tidak
identik dengan bank komersial, bank tabungan atau lembaga keuangan
lainnya. Pada dasarnya bank sentral dibentuk untuk mencapai suatu tujuan
sosial ekonomi tertentu yang menyangkut kepentingan nasional atau
kesejahteraan umum, seperti stabilitas harga dan perkembangan ekonomi.
Di sisi lain, dalam suatu sistem perbankan, ketiadaan koordinator dan
regulator yang tidak berpihak, akan mengakibatkan bank-bank tidak dapat
melaksanakan operasinya secara efisien.
Peran bank sentral tersebut tercermin pada tugas-tugas utama yang
dimilikinya, yaitu menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter,
mengatur dan mengawasi bank, serta menjaga kelancaran sistem
pembayaran. Tugas utama tersebut tidak selalu sama antara satu bank

1
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

sentral dengan bank sentral lainnya. Misalnya, terdapat bank sentral yang
hanya bertugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta
menjaga kelancaran sistem pembayaran, sementara terdapat juga bank
sentral lain yang hanya bertugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan
moneter. Tugas utama yang pada umumnya dimiliki oleh bank sentral
tersebut, juga dimiliki oleh Bank Indonesia selaku bank sentral Republik
Indonesia.
Buku Seri Kebanksentralan ini akan menguraikan segi kelembagaan
Bank Indonesia dalam rangka menjalankan tugas-tugasnya sebagai bank
sentral. Uraian akan didahului dengan perkembangan status dan
kedudukan bank sentral yang bermula dari bank umum yang diberi
tanggung jawab khusus, sampai dengan perkembangannya yang terkini.
Dalam buku seri ini dibahas juga gambaran tugas-tugas bank sentral di
beberapa negara. Berikutnya akan dibahas perkembangan status dan
kedudukan Bank Indonesia sebagai bank sentral Republik Indonesia.
Pembahasan meliputi periode sebelum kemerdekaan, periode awal
kemerdekaan, periode UU No. 11 Tahun 1953 yang merupakan awal
berdirinya Bank Indonesia, periode UU No. 13 Tahun 1968, sampai dengan
periode UU No. 23 Tahun 1999. Setelah itu, akan diuraikan tujuan dan
tiga tugas pokok Bank Indonesia yang merupakan pilar dalam pencapaian
tujuan dan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai hubungan Bank
Indonesia dengan Pemerintah dan badan-badan internasional dalam rangka
pelaksanaan tugasnya. Terakhir akan diuraikan mengenai independensi,
akuntabilitas, dan transparansi yang melekat pada Bank Indonesia dengan
diberlakukannya undang-undang mengenai Bank Indonesia yang baru,
yaitu UU No. 23 Tahun 1999.

Perkembangan Status dan Kedudukan Bank Sentral

Dengan semakin berkembangnya perekonomian, penawaran akan uang


menjadi elemen yang sangat penting dan dapat memberikan dampak
multiplier melalui operasi simpan pinjam dalam suatu sistem perbankan.
Sampai akhirnya tiba pada suatu saat dimana perkembangan tersebut

2
Perkembangan Status dan Kedudukan Bank Sentral

telah memunculkan suatu keadaan ketidakseimbangan antara penawaran


akan uang dengan tingkat produksi barang dan jasa yang dihasilkan. Pada
saat tingkat produksi barang dan jasa lebih rendah dari pada tingkat
kenaikan penawaran akan uang, hampir selalu dapat dipastikan akan terjadi
kenaikan harga sehingga terjadi inflasi. Kondisi tersebut mengindikasikan
bahwa bila terjadi kenaikan pendapatan sehingga menambah jumlah uang
yang dimiliki oleh seseorang, maka orang tersebut akan cenderung
membelanjakan uangnya lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan akan
barang dan jasa. Bila pada saat tersebut ternyata produksi barang dan jasa
tidak dapat memenuhi tingkat pertambahan permintaan, maka harga pasar
akan meningkat. Demikian sebaliknya, maka akan terjadi deflasi. Kondisi
tersebut pada gilirannya akan mengganggu stabilitas ekonomi, sehingga
dirasakan perlunya pengaturan terhadap besarnya penawaran akan uang
atau jumlah uang beredar. Keadaan tersebut sekaligus telah mendorong
didirikannya suatu lembaga pengatur jumlah uang beredar, yaitu yang
sampai saat ini dikenal dengan Bank Sentral.
Di lihat dari sejarah berdirinya, keberadaan bank sentral diawali
dengan berdirinya Swedish Riksbank yang beroperasi pada tahun 1668
(Pollard, 2003) dan diikuti oleh berdirinya The Bank of England pada
tahun 1694 (Capie, 1994). Hingga tahun 1913 baru terdapat 21 bank
sentral, namun meningkat pesat setelah perang dunia II terutama akibat
adanya dekolonisasi. Jumlah ini meningkat lagi pada awal 1990an dengan
runtuhnya Uni Soviet dan munculnya negara-negara baru bekas republik-
republik Soviet, sehingga pada tahun 1998 terdapat 173 Bank Sentral.
Dilihat dari sisi tugasnya, bank sentral pada mulanya berkembang
dari suatu bank yang mempunyai tugas sebagaimana dilakukan oleh bank-
bank lainnya. Selanjutnya secara gradual bank sentral diberi tugas dan
tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan dengan bank lainnya,
seperti menerbitkan uang kertas, dan bertindak sebagai agen dan bankir
pemerintah. Dalam perkembangan selanjutnya, bank yang kemudian
dikenal sebagai bank sentral selain memiliki tugas dan tanggung jawab
yang lebih besar juga terlepas dari beberapa tugas dan tanggung jawab
utama bank pada umumnya.
Pada awalnya bank sentral disebut sebagai bank of issue ‘bank
sirkulasi’ karena tugasnya yang harus mempertahankan konversi uang

3
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

kertas yang dikeluarkannya terhadap emas atau perak atau keduanya.


Dalam perkembangan selanjutnya bank sirkulasi ini menjalankan fungsi-
fungsi lain, seperti untuk mengawasi dan mengatur perbankan, untuk
mempertahankan stabilitas ekonomi dengan mengatur jumlah uang
beredar, atau untuk bertanggung jawab dalam penyelenggaraan sistem
pembayaran.
Dengan berkembangnya tujuan dan tugasnya, bank sentral tidak lagi
identik dengan bank komersial, bank tabungan, atau lembaga keuangan
lainnya. Masyarakat umum tidak dapat lagi menyimpan uangnya atau
meminta kredit atau mentransfer uang di bank sentral. Dengan demikian,
bank sentral dibentuk tidak dalam kerangka mencari keuntungan seperti
bank-bank komersial, tetapi bank sentral dibentuk untuk mencapai suatu
tujuan sosial ekonomi tertentu yang menyangkut kepentingan nasional
atau kesejahteraan umum, seperti stabilitas harga dan perkembangan
ekonomi. Di samping itu, bank sentral dibentuk juga untuk menjaga dan
mengarahkan agar aktivitas lembaga-lembaga perbankan dapat berjalan
secara lancar sehingga dapat mendorong kegiatan ekonomi. Hal ini
mengingat bahwa keberadaan koordinator dan regulator yang tidak
berpihak akan membawa bank-bank dapat melaksanakan operasinya
secara efisien. Contohnya, kalau tidak ada regulator, maka secara ekonomi
keberhasilan bank-bank kecil dapat mengalami kesulitan karena adanya
praktek bisnis yang tidak fair yang dilakukan oleh bank-bank yang lebih
besar. Selain itu, kepentingan para deposan akan kurang mendapat
perhatian, dan juga akan dapat muncul praktek-praktek yang merugikan
kepentingan nasabah suatu bank.
Berkaitan dengan keadaan tersebut, jelas diperlukan pengaturan dalam
bentuk undang-undang, kebijakan, dan peraturan untuk mengarahkan
aktivitas industri perbankan dalam mendorong kegiatan ekonomi. Selain
itu, pengendalian jumlah uang beredar merupakan faktor yang sangat
penting dalam seluruh kegiatan ekonomi suatu negara, sebagaimana
dikemukakan oleh Walter Bagehot bahwa Money will not manage itself. 1
Hal ini terkait dengan diperlukannya uang untuk membiayai seluruh
kegiatan ekonomi, seperti investasi dan perdagangan. Berkembangnya

1 Sebagaimana yang dikatakan oleh Feliciano R Fajardo dan Manuel M Manansala, dalam
Central Banking, Navotas Press, Navotas, Metro Manila, 1994, hlm.19.

4
Perkembangan Status dan Kedudukan Bank Sentral

investasi tersebut akan membuka lapangan kerja, meningkatkan produksi


dan pendapatan, dan pada gilirannya akan dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, bila jumlah uang beredar tidak
dikendalikan secara benar, maka akan terjadi inflasi, yang akan
menghambat peningkatan pendapatan riil masyarakat dan pertumbuhan
ekonomi secara keseluruhan. Untuk itulah diperlukan suatu lembaga bank
sentral yang mempunyai wewenang untuk menetapkan dan melaksanakan
kebijakan moneter, terutama untuk mengatur dan mengawasi aktivitas
yang terkait dengan peredaran uang, kredit, dan perbankan.
Dapat disimpulkan bahwa bank sentral pada umumnya merupakan
suatu lembaga yang bertugas untuk menetapkan dan melaksanakan
kebijakan moneter dan mengawasi (mengontrol) sistem keuangan dan
perbankan. Dalam perkembangannya peranan dan fungsi bank sentral telah
mengalami evolusi dari yang semula hanya sebagai bank sirkulasi menuju
ke bank sentral yang mempunyai fungsi sebagai pelaksana kebijakan
moneter, pengatur perkreditan, dan pengawas perbankan.2 Dengan
demikian, secara lebih rinci peran bank sentral selain sebagai bankers’
bank yaitu sebagai sumber dana bagi bank-bank dan lender of last resort
yaitu sumber dana pinjaman terakhir bagi bank-bank yang mengalami
kesulitan likuiditas, juga sebagai penjaga stabilitas moneter melalui
membuat dan melaksanakan kebijakan-kebijakan moneter, termasuk
mengatur, mengawasi, serta mengendalikan sistem moneter. Untuk dapat
melaksanakan perannya, bank sentral mempunyai beberapa kewenangan
antara lain: 1) mengedarkan uang sekaligus mengatur jumlah uang
beredar; 2) mengatur dan mengawasi kegiatan perbankan; 3)
mengembangkan sistem pembayaran; dan 4) mengembangkan sistem
perkreditan3 . Peran bank sentral tersebut umumnya telah diterapkan di
banyak negara dewasa ini.

2
Dilihat dari perkembangan bank sentral di dunia, awal berdirinya bank sentral yang telah
menerapkan konsep dasar-dasar kebanksentralan dimulai saat berdirinya The Bank of
England pada tahun 1694. Dalam perkembangannya, sampai dengan tahun 1913 baru
terdapat 21 Bank Sentral. Sampai dengan saat ini telah terdapat 173 Bank Sentral di dunia.
Perkembangan terpesat terjadi setelah perang dunia II terutama akibat dekolonisasi, dan
setelah runtuhnya Uni Soviet yang mengakibatkan munculnya negara-negara baru di bekas
wilayah Uni Soviet. Bank Sentral yang terakhir didirikan adalah European Central Bank
(ECB) pada tahun 1998, yang berkedudukan di Frankfurt.
3
The Morgan Stanley Central Bank Directory 2003.

5
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Namun demikian, di negara-negara yang sedang berkembang peran


bank sentral jauh lebih luas, yaitu termasuk juga sebagai agen
pembangunan. Peran sebagai agen pembangunan dimaksudkan untuk
melayani kebutuhan pembiayaan pembangunan yang diselenggarakan oleh
Pemerintah. Peran tersebut diperlukan karena terbatasnya sumber-sumber
dana untuk pembiayaan pembangunan.

Boks 1:
Tugas-tugas Bank Sentral

Bank sentral pada umumnya mempunyai tiga tugas utama yang


meliputi pengendalian moneter, pengaturan dan pengawasan
perbankan, dan pengaturan sistem pembayaran. Tugas pengendalian
moneter dimaksudkan untuk menjaga kestabilan harga dan/atau
pertumbuhan ekonomi. Sementara tugas dalam pengaturan dan
pengawasan perbankan dimaksudkan untuk menjaga kestabilan
sistem perbankan. Selanjutnya, tugas pengaturan sistem
pembayaran bertujuan mengembangkan sitem pembayaran dan
infrastruktur keuangan yang sehat.
Dalam prakteknya, bank sentral tidak seluruhnya menjalankan
tiga tugas utama sebagaimana telah disebutkan di atas. Beberapa
bank sentral mengemban dua tugas utama, bahkan ada juga bank
sentral yang hanya mengemban satu tugas utama. Di bawah ini
diberikan tabel bank sentral beberapa negara dengan tugas masing-
masing.
Beberapa negara yang tugas pengendalian moneter dan
pengawasan perbankannya dilakukan oleh bank sentral adalah
Brasil, India, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, dan Singapura.
Secara umum, alasan penyatuan kedua fungsi tersebut antara lain:
1) Fungsi pengawasan bank dan pengendalian moneter memiliki
sifat yang interdependent, sehingga kedua fungsi tersebut harus
sejalan;

6
Perkembangan Status dan Kedudukan Bank Sentral

Tabel 1: Bank Sentral dan Tugasnya

Negara Otoritas Pengatur Sistem


Moneter Bank Pembayaran
Brunei Ya Tidak Tidak
Hong Kong Ya Tidak Tidak
Inggris Ya Tidak Tidak
Australia Ya Tidak Ya
Jepang Ya Tidak Ya
Amerika Ya Sebagian Sebagian
Perancis Ya Sebagian Sebagian
Belanda Ya Sebagian Ya
Itali Ya Sebagian Ya
Jerman Ya Sebagian Ya
Afrika Selatan Ya Ya Tidak
Brasil Ya Ya Sebagian
India Ya Ya Sebagian
Singapura Ya Ya Sebagian
Indonesia Ya Ya Ya
Malaysia Ya Ya Ya
Selandia Baru Ya Ya Ya
Sumber: berbagai referensi

2) Bank sentral lebih mudah memantau dan menindaklanjuti


dampak kebijakan moneter terhadap perbankan; dan
3) Data dan informasi hasil pengawasan bank sangat diperlukan
dalam mengambil keputusan dan melaksanakan kebijakan
moneter, demikian pula sebaliknya.
Sementara itu, terdapat pula beberapa negara yang pengawasan
banknya dilakukan oleh bank sentral bersama dengan lembaga
lainnya. Beberapa negara yang menggunakan kebijakan tersebut
antara lain Amerika Serikat, Finlandia dan Jerman. Di Amerika
Serikat pemeriksaan bank dilakukan oleh Federal Reserve System
‘Bank Sentral Amerika Serikat’ bekerja sama dengan Office of the
Controller of the Currency, State Government dan Federal Deposit
Insurance Corporation (FDIC), dengan pembagian tugas
pengawasan yang berbeda. Di Finlandia pengawasan bank

7
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

dilakukan oleh Bank of Finland ‘Bank Sentral Finlandia’ bekerja


sama dengan The Bank Inspectorate. Hal yang sama dilakukan oleh
Bundesbank ‘Bank Sentral Jerman’, yang melakukan pengawasan
bank bersama Bundesaufsichtsamt fur das Kreditwesen.
Dalam pada itu, di negara-negara lain, seperti Australia, Belgia,
Inggris, Jepang, Korea Selatan, dan Swiss, fungsi pengawasan bank
dipisahkan dari bank sentral. Alasan pemisahan tersebut antara lain
adanya kekhawatiran akan terjadinya pertentangan kepentingan
antara tugas menjaga kestabilan moneter dan tugas pengawasan
bank.

Perkembangan Status serta Kedudukan Bank


Indonesia selaku Bank Sentral di Indonesia

Sebagaimana negara sedang berkembang lainnya, peran dan tugas Bank


Indonesia selaku Bank Sentral di Indonesia hingga saat ini telah mengalami
evolusi dari yang semula hanya sebagai bank sirkulasi hingga sebagai
agen pembangunan, dan terakhir sejak tahun 1999 telah menjadi
independen dan mempunyai tugas mencapai sasaran tunggal yaitu
stabilitas nilai rupiah.
Sebelum Indonesia merdeka, Indonesia belum memiliki bank sentral
seperti yang ada pada saat ini. Pada periode tersebut fungsi bank sentral
hanya terbatas sebagai bank sirkulasi. Tugas sebagai bank sirkulasi
dilaksanakan oleh De Javasche Bank NV yang telah diberi hak oktrooi
(1827), yaitu hak yang diberikan oleh pemerintah Belanda untuk mencetak
dan mengedarkan uang Gulden Belanda. De Javasche Bank sendiri
didirikan tahun 1828 dan selain berfungsi sebagai bank sirkulasi, bank
ini juga melakukan kegiatan komersial.

8
Perkembangan Status serta Kedudukan Bank Indonesia selaku Bank Sentral
di Indonesia

Pada masa setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, sebagaimana


tertuang dalam penjelasan bab VII pasal 23 UUD 1945 bahwasanya akan
segera dibentuk sebuah bank yang disebut Bank Indonesia.dengan tugas
mengeluarkan dan mengatur peredaran uang kertas. Berkaitan dengan
hal tersebut, pada tanggal 19 September 1945 dalam sidang Dewan
Menteri, Pemerintah Indonesia mengambil keputusan untuk mendirikan
satu bank sirkulasi berbentuk bank milik negara. Langkah pertama
dibentuk yayasan dengan nama “Pusat Bank Indonesia” yang selanjutnya
yayasan tersebut merupakan cikal bakal berdirinya Bank Negara Indonesia
(BNI).
Sampai dengan tahun 1949 yaitu saat berlangsung Konperensi Meja
Bundar (KMB) di Den Haag yang salah satu keputusan pentingnya adalah
penyerahan kedaulatan Indonesia kepada Pemerintah Republik Indonesia
Serikat, utusan pemerintah masih mengalami kesulitan untuk
mengusahakan agar Bank Negara Indonesia yang telah didirikan sejak
tahun 1946 ditetapkan sebagai bank sentral Republik Indonesia Serikat.
Pemerintah Indonesia dengan terpaksa tetap menerima De Javasche Bank
sebagai Bank Sentral. Pada saat tersebut De Javasche Bank masih tetap
melakukan kegiatan komersial.
Dalam perkembangannya, pada tanggal 6 Desember 1951
pemerintah Indonesia mengeluarkan undang-undang nasionalisasi De
Javasche Bank. Selanjutnya pada 1 Juli 1953 dikeluarkan UU No. 11
Tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia sebagai pengganti Javasche
Bank Wet tahun 1922. Mulai saat itu lahirlah satu bank sentral di
Indonesia yang diberi nama Bank Indonesia. Sejak keberadaan Bank
Indonesia sebagai bank sentral hingga tahun 1968, tugas pokok Bank
Indonesia selain menjaga stabilitas moneter, mengedarkan uang, dan
mengembangkan sistem perbankan, juga masih tetap melaksanakan
beberapa fungsi sebagaimana dilakukan oleh bank komersial. Namun
demikian, tanggung jawab kebijakan moneter berada di tangan
Pemerintah melalui pembentukan Dewan Moneter yang tugasnya
menentukan kebijakan moneter yang harus dilaksanakan oleh Bank
Indonesia. Selain itu, Dewan Moneter juga bertugas memberikan
petunjuk kepada direksi Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan nilai
mata uang dan memajukan perkembangan perkreditan dan perbankan.

9
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Kesemuanya ini mencerminkan bahwa kedudukan Bank Indonesia pada


periode tersebut masih merupakan bagian dari Pemerintah.
Menyadari bahwa peran ganda yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia
mengakibatkan kurang sehatnya perkembangan moneter bagi
perekonomian, maka pada tahun 1968 dikeluarkannya UU No. 13 Tahun
1968 tentang Bank Indonesia. DalamUU tersebut, Bank Indonesia tidak
lagi berfungsi ganda karena beberapa fungsi sebagaimana dilakukan oleh
bank komersial dihapuskan.4 Namun demikian, misi Bank Indonesia
sebagai agen pembangunan masih melekat, demikian juga tugas-tugas
sebagai kasir Pemerintah dan bankers’ bank. Selain itu, Dewan Moneter
sebagai lembaga pembuat kebijakan yang berperan sebagai perumus
kebijakan moneter masih tetap dipertahankan. Tugas Bank Indonesia
sebagai agen pembangunan tercermin pada tugas pokoknya, yaitu pertama
mengatur, menjaga, dan memelihara stabilitas nilai Rupiah, dan kedua
mendorong kelancaran produksi dan pembangunan, serta memperluas
kesempatan kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat.
Tugas-tugas pokok yang diemban Bank Indonesia sebagai otoritas
moneter pada periode tersebut, khususnya untuk memelihara kestabilan
nilai rupiah, berkontradiksi dengan tugas lain Bank Indonesia, yaitu tugas
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan
kerja. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, misalnya, sering pula diikuti
oleh peningkatan harga-harga (inflasi) yang tinggi. Hal ini disebabkan
oleh menguatnya permintaan di dalam negeri sehubungan dengan
meningkatnya pendapatan masyarakat sebagai dampak pertumbuhan
ekonomi yang tinggi. Inflasi yang tinggi berkelanjutan dan tidak terkendali

4
Sementara itu, karena berbagai hal di antaranya karena UU No. 13 Tahun 1968 disusun
setelah UU No.14 Tahun 1967, maka muncul kerancuan di lingkungan masyarakat dalam
hal status dan kedudukan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang seolah-olah merupakan
bagian dari sistem keuangan/perbankan di Indonesia dan merupakan bagian dari lembaga
financial intermediary. Akibat kerancuan tersebut sebagian masyarakat beranggapan bahwa
status dan fungsi Bank Indonesia tidak berbeda dengan bank milik negara lainnya.Anggapan
tersebut lebih diperkuat dengan ditetapkannya Komisaris Pemerintah sebagai pengawas
Bank Indonesia, demikian juga dengan adanya kewajiban penyusunan neraca dan laporan
laba-rugi setiap akhir tahun, yang kesemuanya sama dengan kewajiban dari Bank BUMN
(Badan Usaha Milik Negara). Di samping itu, dengan tetap ditunjuknya Dewan Moneter
sebagai lembaga yang mengkoordinasikan pelaksanaan kebijakan moneter, sementara
Dewan Moneter diketuai oleh Menteri Keuangan, selain mengakibatkan Bank Indonesia
tidak otonom, juga memperkuat anggapan bahwa Bank Indonesia sama dengan Bank BUMN
lainnya.

10
Perkembangan Status serta Kedudukan Bank Indonesia selaku Bank Sentral
di Indonesia

pada gilirannya akan mengganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi


itu sendiri.
Selain itu, penetapan status dan kedudukan Bank Indonesia
sebagaimana tersebut di atas telah memungkinkan terjadinya campur
tangan pihak luar yang pada gilirannya dapat menyebabkan kebijakan
yang diambil bank sentral menjadi kurang bahkan tidak efektif.
Dengan latar belakang tersebut, maka pada tanggal 17 Mei 1999,
diberlakukan UU No. 23 Tahun 1999 sebagai pengganti UU No.13/1968.
UU yang baru tersebut memberikan status dan kedudukan kepada Bank
Indonesia sebagai suatu bank sentral yang independen dan bebas dari
campur tangan pihak luar termasuk pemerintah.. Dengan status dan
kedudukan tersebut, Bank Indonesia telah mempunyai kedudukan yang
independen sebagaimana dimiliki oleh bank-bank sentral di beberapa
negara, seperti Amerika Serikat, Cile, Filipina, Inggris, Jepang, Jerman,
Korea Selatan, dan Swiss. Sebagai suatu otoritas moneter yang independen,
Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk merumuskan kebijakan
moneter dan melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan dalam
pelaksanaan tugasnya tanpa campur tangan pihak di luar Bank Indonesia.
Dalam kaitan ini, Bank Indonesia wajib menolak dan mengabaikan setiap
bentuk campur tangan atau intervensi dari pihak di luar Bank Indonesia.
Dengan independensi tersebut, Bank Indonesia mempunyai otonomi penuh
dalam merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya,
sebagaimana tertuang dalam undang-undang tersebut. Pihak di luar Bank
Indonesia tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan tugas Bank
Indonesia. Pada saat yang sama, Bank Indonesia juga berkewajiban untuk
menolak atau mengabaikan intervensi dalam bentuk apapun dan dari pihak
manapun.
Selanjutnya, berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999 tersebut, Bank
Indonesia dinyatakan sebagai badan hukum. Dengan status tersebut, Bank
Indonesia mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum
termasuk mengelola kekayaannya sendiri terlepas dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, Bank Indonesia juga
berwenang membuat peraturan yang mengikat masyarakat luas sesuai
dengan tugas dan kewenangannya dan dapat bertindak atas namanya
sendiri di dalam dan di luar pengadilan.

11
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Untuk lebih menjamin independensi, undang-undang tersebut telah


memberikan kedudukan khusus kepada Bank Indonesia dalam sistem
ketatanegaraan Republik Indonesia. Kedudukan Bank Indonesia selaku
lembaga negara yang independen tidak sejajar dengan lembaga tinggi
negara, seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK), dan Mahkamah Agung (MA).5 Kedudukan Bank
Indonesia juga tidak sama dengan departemen, karena kedudukan Bank
Indonesia berada di luar pemerintahan (baca Gambar 1). Status dan
kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar Bank Indonesia dapat
melaksanakan peran dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih
efektif dan efisien. Meskipun demikian, dalam menetapkan kebijakannya
Bank Indonesia tetap berpegang pada kerangka ekonomi dan kesejahteraan
bangsa. Sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang, meskipun Bank
Indonesia sebagai lembaga negara yang independen, dalam melaksanakan
tugasnya tentu mempunyai hubungan kerja dan koordinasi yang baik
dengan DPR, BPK, Pemerintah dan pihak lainnya.
Dalam hubungannya dengan Presiden dan DPR, Bank Indonesia setiap
awal tahun anggaran menyampaikan informasi tertulis mengenai evaluasi
pelaksanaan kebijakan moneter dan rencana kebijakan moneter yang akan

Gambar 1
Struktur Bank Indonesia dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia

MPR

Presiden DPR BPK MA


Bank Kepala Kepala
Indonesia Negara Pemerintahan

Sumber : Didik J. Rachbini, hlm. 166 (disesuaikan)

5
Sebelum Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang disahkan pada
tanggal 10 Agustus 2002, Dewan Pertimbangan Agung (DPA) bersama-sama dengan
Presiden, DPR, BPK, dan MA merupakan Lembaga Tinggi Negara.

12
Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia

datang. Khusus kepada DPR, Bank Indonesia wajib menyampaikan


laporan perkembangan pelaksanaan tugas dan wewenang setiap triwulan
dan sewaktu-waktu bila diminta oleh DPR. Selain itu, Bank Indonesia
menyampaikan rencana dan realisasi anggaran tahunan kepada Pemerintah
dan DPR. Dalam hubungannya dengan BPK, Bank Indonesia wajib
menyampaikan laporan keuangan tahunan kepada BPK.

Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia

Sebagaimana dikemukakan pada bab sebelumnya, sebelum Undang-


Undang No.23/1999 tentang Bank Indonesia diberlakukan, nuansa Bank
Indonesia sebagai bank sentral yang membantu Pemerintah sangat kental.
Hal ini tercermin pada kebijakan yang dilaksanakan Bank Indonesia
merupakan hasil perumusan Dewan Moneter yang diketuai oleh Menteri
Keuangan. Keterbatasan wewenang Bank Indonesia dalam menetapkan
kebijakan dan kekurangtegasan dalam pembagian tugas dan tanggung
jawab antara Bank Indonesia dan Pemerintah ini telah mengakibatkan
kurang efektifnya langkah-langkah yang ditempuh oleh Bank Indonesia.
Ketidakjelasan tugas yang harus dilakukan oleh Bank Indonesia ini
tercermin pada penetapan tugas-tugas pokok Bank Indonesia sesuai yang
ditetapkan undang-undang yaitu (1) mengatur dan memelihara kestabilan
nilai rupiah, (2) mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta
memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Baik secara teoritis maupun dalam pelaksanaannya, untuk mencapai
keberhasilan seluruh tugas tersebut, sering timbul conflict antara
keharusan pencapaian satu kebijakan dengan kebijakan lain yang juga
merupakan tugas yang harus dicapai. Implikasi dari tidak fokusnya tugas
tersebut telah mengakibatkan pencapaian tujuan akhir dari kebijakan Bank
Indonesia kurang efektif. Hal ini terjadi mengingat, (1) peran Bank
Indonesia sebagi otoritas moneter menjadi kabur karena kekurangjelasan
wewenang dan tanggung jawab sebagai akibat tidak fokusnya tujuan dan
tugas yang harus dilaksanakan, (2) fungsi sebagai otoritas moneter kurang
focus karena memungkinkan timbulnya conflict diantara tugas-tugas yang

13
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

harus dilaksanakan dan (3) tugas pokok membantu Pemerintah


mengakibatkan tidak independennya Bank Indonesia dalam menetapkan
dan melaksanakan kebijakan untuk mencapai tujuan yang harus
ditetapkan.
Bersandar pada pengalaman sebelumnya, maka langkah awal agar
Bank Indonesia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan efektif,
diperlukan ketegasan dalam tujuan dan pembagian tugas harus jelas dan
tidak dicampuri oleh kepentingan-kepentingan yang seharusnya dilakukan
oleh Pemerintah. Langkah awal tersebut harus berupa pemberian
independensi kepada Bank Indonesia sehingga Bank Indonesia dapat
menetapkan dan melaksanakan kebijakan untuk mencapai tujuan yang
harus dicapai sebagai lembaga Bank Sentral.

Tu j u a n
UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia secara tegas telah
memberikan landasan bagi independensi Bank Indonesia dalam mencapai
target yang ditetapkan, yaitu memelihara kestabilan nilai rupiah dengan
menggunakan berbagai instrumen kebijakan yang ditetapkan. Kestabilan
nilai rupiah yang dimaksudkan dalam undang-undang tersebut adalah
kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa yang diukur berdasarkan
atau tercermin pada perkembangan laju inflasi, serta terhadap mata uang
negara lain yang diukur berdasarkan atau tercermin pada perkembangan
nilai tukar rupiah (kurs) terhadap mata uang negara lain.
Sebagaimana di negara-negara lain, penetapan inflasi sebagai sasaran
akhir kebijakan moneter dilakukan oleh Bank Indonesia dengan beberapa
pertimbangan. Pertama, bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa dalam
jangka panjang kebijakan moneter hanya dapat mempengaruhi tingkat
inflasi dan tidak dapat mempengaruhi variabel riil, seperti pertumbuhan
ekonomi atau tingkat pengangguran. Kebijakan moneter hanya dapat
mempengaruhi variabel-variabel riil dalam jangka pendek. Kedua,
pencapaian inflasi yang rendah merupakan prasyarat bagi tercapainya
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena perekonomian tidak
dipacu untuk tumbuh melebihi kapasitasnya. Ketiga, dengan ditetapkannya
inflasi sebagai sasaran tunggal, sasaran tersebut akan menjadi dasar acuan

14
Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia

dalam perumusan kebijakan moneter, sehingga tercapai atau tidaknya


tujuan Bank Indonesia akan lebih transparan dan mudah diukur.
Penetapan tujuan tunggal di atas menjadikan sasaran dan batas
tanggung jawab Bank Indonesia akan semakin jelas dan terfokus.
Selanjutnya, sebagai implikasi terfokusnya tujuan tersebut, Bank Indonesia
perlu mengarahkan kebijakannya untuk menyeimbangkan kondisi
ekonomi internal, khususnya keseimbangan antara permintaan dan
penawaran agregat, dengan kondisi ekonomi eksternal yang tercermin
pada kinerja neraca pembayaran. Perwujudan keseimbangan internal
adalah terjaganya inflasi pada tingkat yang rendah, sementara dari sisi
eksternal adalah terjaganya nilai rupiah pada tingkat perkembangan yang
cukup kuat dan stabil. Dengan terjaganya keseimbangan internal dan
eksternal tersebut, maka sasaran tunggal kebijakan moneter yaitu
kestabilan nilai rupiah akan dapat tercapai.

Tu g a s
Dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan, maka tugas Bank
Indonesia sesuai dengan UU No. 23 Tahun 1999 meliputi 3 tugas utama,
yaitu:
1) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
2) Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; dan
3) Mengatur dan mengawasi bank.
Guna mendukung tercapainya tujuan Bank Indonesia secara efektif dan
efisien, maka ketiga tugas tersebut harus saling mendukung (baca Gambar
2). Hal ini mengingat bahwa untuk mencapai kebijakan moneter yang
efektif dan efisien yang dilakukan dengan mengendalikan jumlah uang
yang beredar, diperlukan suatu sistem pembayaran yang efisien, cepat,
aman, dan andal. Sementara itu, sistem pembayaran yang efisien, cepat,
aman, dan andal tersebut juga tidak terlepas dari kondisi sistem
perbankannya yaitu sistem perbankan yang sehat. Dalam hal ini, sistem
perbankan yang sehat, selain mendukung kinerja sistem pembayaran,
juga akan mendukung pengendalian moneter mengingat mekanisme
transmisi kebijakan moneter ke kegiatan ekonomi riil terutama

15
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

berlangsung melalui sistem perbankan. Dengan keterkaitan yang saling


mendukung tersebut, maka pencapaian tujuan Bank Indonesia akan
berhasil dengan baik.

Tugas Menetapkan dan Melaksanakan Kebijakan Moneter


Sesuai dengan UU No. 23 Tahun 1999, Bank Indonesia diberi kewenangan
untuk melaksanakan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran moneter
dengan memperhatikan sasaran laju inflasi serta melakukan pengendalian
jumlah uang beredar dengan menggunakan berbagai instrumen kebijakan
moneter. Pada dasarnya, kebijakan moneter yang ditempuh oleh otoritas
moneter merupakan salah satu bagian integral dari kebijakan ekonomi
makro. Selain itu, kebijakan moneter juga mempunyai peranan yang sangat
strategis, mengingat kebijakan moneter dapat mempengaruhi pencapaian
sasaran akhir dari kebijakan ekonomi makro, seperti stabilitas harga,
pertumbuhan ekonomi, dan perluasan kesempatan kerja.
Secara umum, kebijakan moneter sebagai salah satu kebijakan
ekonomi makro ditujukan untuk mempengaruhi perkembangan kegiatan
perekonomian ke arah sasaran akhir yang diharapkan. Sesuai dengan UU
No. 23 Tahun 1999, sasaran akhir yang diharapkan ini adalah sasaran
tunggal untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk
mencapai tujuan tersebut, bank sentral dapat menggunakan instrumen
langsung maupun tidak langsung. Instrumen moneter yang saat ini
digunakan oleh Bank Indonesia adalah instrumen tidak langsung yang
meliputi operasi pasar terbuka, fasilitas diskonto, penetapan giro wajib
minimum, dan himbauan, yang dalam pelaksanaannya dapat dilakukan
secara bersama-sama atau tersendiri. Sementara instrumen langsung yang
pernah digunakan, seperti penetapan pagu kredit dan penetapan suku bunga
tidak dilakukan lagi mengingat instrumen tersebut kurang efektif dan tidak
berorientasi pasar.
Selain itu, dalam rangka lebih memfokuskan pelaksanaan tugas di
bidang pengendalian moneter, berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999, telah
dilakukan penyesuaian terhadap beberapa tugas Bank Indonesia.
1) Bank Indonesia tidak lagi diperkenankan memberikan kredit kepada
Pemerintah dan kredit likuiditas dalam rangka kredit program. Hal ini

16
Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia

dimaksudkan untuk menghindari terjadinya ekspansi moneter atau


penambahan uang beredar yang berlebihan, yang pada gilirannya dapat
mengakibatkan terjadinya inflasi sehingga mengurangi efektifitas
pengendalian moneter untuk memelihara kestabilan nilai rupiah.
Selanjutnya, pengelolaan kredit likuiditas yang sedang berjalan
dialihkan kepada: 1) Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk Kredit Usaha
Tani, Kredit Koperasi dan Kredit Koperasi untuk Anggotanya (KKPA);
2) Bank Tabungan Negara (BTN) untuk Kredit Perumahan Rakyat
Sederhana (KPRS) dan KPR-Sangat Sederhana (KPRSS); dan 3) PT
Permodalan Nasional Madani untuk KKPA, Kredit Pengusaha Kecil
dan Mikro (KPKM), Kredit Kecil, Mikro dan Menengah (KMKM)-
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Kredit untuk Usaha Angkutan.
2) Bank Indonesia hanya dapat melakukan penyertaan modal pada
perusahaan yang sangat diperlukan dalam menunjang pelaksanaan
tugasnya.
Selanjutnya, pelaksanaan kebijakan moneter tidak dapat dilepaskan dari
sistem nilai tukar dan sistem devisa yang ditetapkan. Dalam hal sistem
nilai tukar, Bank Indonesia melaksanakan kebijakan berdasarkan sistem
nilai tukar yang telah ditetapkan. Bank Indonesia antara lain dapat
melakukan: 1) Devaluasi atau revaluasi terhadap mata uang asing pada
saat sistem nilai tukar yang dianut adalah nilai tukar tetap; 2) Intervensi
pasar pada saat sistem nilai tukar yang dianut adalah nilai tukar
mengambang; dan 3) Penetapan nilai tukar harian dan lebar pita intervensi
pada saat sistem nilai tukar yang dianut adalah mengambang terkendali.
Hingga saat ini Indonesia pernah menerapkan ketiga sistem nilai tukar
tersebut, dan sejak 14 Agustus 1997 Pemerintah menetapkan sistem nilai
tukar yang dianut adalah sistem nilai tukar mengambang.
Selain itu, pelaksanaan kebijakan moneter juga tidak dapat dilepaskan
dari sistem devisa yang dianut. Secara umum terdapat tiga sistem, yaitu:
1) sistem devisa kontrol; 2) sistem devisa semikontrol; dan 3) sistem devisa
bebas. Pada sistem devisa kontrol, setiap perolehan devisa oleh masyarakat
harus diserahkan kepada negara, dan setiap penggunaan devisa harus
memperoleh izin dari negara. Dalam sistem devisa semikontrol, perolehan
devisa tertentu wajib diserahkan kepada negara, dan penggunaannya
diperlukan izin dari negara, sementara jenis devisa lainnya dapat secara

17
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

bebas diperoleh dan dipergunakan. Pada sistem devisa bebas, masyarakat


dapat secara bebas memperoleh dan menggunakan devisa. Sementara itu,
pemilihan sistem devisa yang dianut akan tergantung pada kondisi negara
yang bersangkutan, khususnya keterbukaan ekonominya dalam arti
seberapa jauh negara yang bersangkutan ingin mengintegrasikan
ekonominya dengan ekonomi global. Dapat dikemukakan bahwa pada
saat ini sistem devisa yang dianut Indonesia adalah sistem devisa bebas.

Tugas Mengatur dan Menjaga Kelancaran Sistem Pembayaran


Sistem pembayaran yang lancar dan aman merupakan salah satu prasyarat
dalam keberhasilan pencapaian tujuan kebijakan moneter. Sehubungan
dengan hal tersebut, Bank Indonesia mengatur dan menjaga kelancaran
sistem pembayaran melalui kewenangannya dalam a) menetapkan
penggunaan alat pembayaran; dan b) mengatur penyelenggaraan jasa
sistem pembayaran.
Gambar 2
Tujuan dan Tugas Bank Indonesia

Mencapai dan Memelihara Kestabilan Nilai Rupiah


Menetapkan & Melaksanakan

Kelancaran Sistem Pembayaran


Kebijakan Moneter

Mengatur & Menjaga

Mengawasi Bank
Mengatur &

18
Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia

a) Kewenangan Menetapkan Penggunaan Alat Pembayaran


Secara umum, terdapat dua jenis alat pembayaran yaitu alat pembayaran
tunai dan nontunai. Untuk kelancaran sistem pembayaran diperlukan
pengaturan mengenai penggunaan alat-alat pembayaran yang merupakan
kewenangan Bank Indonesia. Kewenangan dalam menetapkan
penggunaan alat pembayaran tersebut meliputi alat pembayaran tunai dan
nontunai. Kewenangan penggunaan alat pembayaran tunai meliputi
mengeluarkan, mengedarkan, menarik, dan memusnahkan uang rupiah,
termasuk menetapkan macam, harga, ciri uang, bahan yang digunakan,
serta tanggal mulai berlakunya. Sebagai konsekuensi kewenangan-
kewenangan tersebut, Bank Indonesia harus menjamin ketersediaan uang
di masyarakat dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang memadai.
Selain itu, Bank Indonesia juga memberikan kesempatan kepada
masyarakat untuk melakukan penukaran uang dari pecahan yang sama
dan atau ke pecahan yang lain, penukaran uang yang cacat dan atau tidak
layak edar, serta menukar uang yang rusak dengan nilai yang sama atau
lebih kecil tergantung dari tingkat kerusakannya.
Sementara itu, kewenangan dalam menetapkan penggunaan alat
pembayaran nontunai, baik paper based maupun nonpaper based, meliputi
pengaturan dan penggunaan alat pembayaran nontunai.6 Tujuan dari
pengaturan dan penggunaan alat pembayaran nontunai dimaksudkan
adalah untuk memperoleh keyakinan bahwa seluruh alat pembayaran yang
dipergunakan termasuk pengoperasiannya telah memperhitungkan risiko-
risikonya dan dikelola serta dimonitor secara baik.

b) Kewenangan Mengatur dan Menyelenggarakan Sistem Pembayaran


Dalam rangka menjamin kelancaran sistem pembayaran, juga diperlukan
pengaturan dan penyelenggaraan sistem pembayaran. Terkait dengan hal
tersebut, Bank Indonesia mempunyai kewenangan untuk memberikan
persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran, serta
kewenangan untuk mewajibkan penyelenggara sistem pembayaran
menyampaikan laporan kegiatannya kepada Bank Indonesia. Di samping

6
Paper based antara lain bilyet giro, cek dan wesel, sementara nonpaper based antara lain
kartu kredit, kartu debit, ATM, internet dan phone payment

19
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

itu, Bank Indonesia berwenang mengatur sistem kliring dan


menyelenggarakan kliring antarbank, serta menyelenggarakan
penyelesaian akhir transaksi pembayaran antarbank, baik dalam mata uang
rupiah maupun valuta asing.

Tugas Mengatur dan Mengawasi Bank


Tugas pengaturan dan pengawasan bank merupakan salah satu tugas
yang penting khususnya dalam rangka menciptakan sistem perbankan
yang sehat yang pada akhirnya akan dapat mendorong efektivitas
kebijakan moneter. Hal itu mengingat bahwa lembaga perbankan selain
menjalankan fungsi intermediasi, juga berfungsi sebagai media
transmisi kebijakan moneter serta pelayanan jasa sistem pembayaran.
Selain itu, antara fungsi pengawasan bank dan pengendalian moneter
memiliki sifat yang interdepen, sehingga kedua fungsi tersebut harus
sejalan. Dengan demikian akan memudahkan dalam memantau dan
menindaklanjuti dampak kebijakan moneter terhadap perbankan, dan
data dan informasi hasil pengawasan bank sangat diperlukan dalam
mengambil keputusan dan melaksanakan kebijakan moneter, dan
demikian pula sebaliknya.
Sementara itu, terdapat pula beberapa negara yang pengawasan
banknya dilakukan oleh bank sentral bersama dengan lembaga lainnya.
Beberapa negara yang menggunakan kebijakan tersebut antara lain
Amerika Serikat, Finlandia dan Jerman. Di Amerika Serikat
pemeriksaan bank dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat yaitu
Federal Reserve Board bekerja sama dengan Office of the Controller
of the Currency, State Government, dan Federal Deposit Insurance
Corporation, dengan pembagian tugas pengawasan yang berbeda. Di
Finlandia pengawasan bank selain dilakukan oleh bank sentral Finlandia
yaitu Bank of Finland bekerja sama dengan The Bank Inspectorate.
Hal yang sama dilakukan oleh bank sentral Jerman yaitu Bundesbank,
melakukan pengawasan bank bersama Bundesaufsichtsamt fur das
Kreditwesen.
Dalam pada itu, negara-negara lain, seperti Australia, Belgia, Inggris,
Jepang, Korea Selatan, Swiss, dan Perancis, fungsi pengawasan bank

20
Hubungan Dengan Pemerintah

dipisahkan dari bank sentral. Alasan pemisahan tersebut antara lain adanya
kekawatiran akan terjadinya pertentangan kepentingan (conflict of
interest) antara tugas menjaga kestabilan moneter dan tugas pengawasan
bank.
Dalam kaitannya dengan tugas pengawasan bank ini, berdasarkan
undang-undang, Bank Indonesia diberi wewenang mengatur dan
mengawasi bank yang meliputi:
1) Memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha
tertentu dari bank;
2) Menetapkan peraturan di bidang perbankan;
3) Melakukan pengawasan bank baik secara langsung maupun tidak
langsung; dan
4) Mengenakan sanksi terhadap bank sesuai ketentuan perundangan.
Secara umum, dalam melaksanakan tugas-tugas dimaksud, Bank
Indonesia menetapkan ketentuan-ketentuan perbankan berdasarkan prinsip
kehati-hatian sesuai standar yang berlaku secara internasional. Ketentuan
tersebut bertujuan memberikan rambu-rambu penyelenggaraan kegiatan
usaha perbankan yang pada gilirannya dapat mewujudkan suatu sistem
perbankan yang sehat. Sementara itu, agar pelaksanaan pengawasan dan
pengaturan perbankan tersebut dapat berjalan efektif, maka tugas tersebut
dapat dirinci sebagai berikut.
1) Melaksanakan ketentuan prinsip prudential ‘kehati-hatian’ secara
efektif dan sekaligus melaksanakan prinsip disclosure ‘keterbukaan’
yang lebih luas bagi masyarakat tentang kondisi masing-masing bank;
2) Menyehatkan kegiatan operasional di bidang finansial perbankan
melalui program-program penyehatan/restrukturisasi perbankan dan
peningkatan fungsi intermediasi;
3) Memantapkan sistem pengawasan bank, baik pengawasan langsung
maupun tidak langsung; dan
4) Meningkatkan mutu pengelolaan perbankan untuk memantapkan
ketahanan sistem perbankan.

21
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Hubungan Dengan Pemerintah

Menilik pada tujuan dan tugas Bank Indonesia, keterkaitan dengan


kepentingan Pemerintah sangat diperlukan. Disatu sisi bank Indonesia
sebagai otoritas moneter dan bertugas mengatur kebijakan sektor moneter,
di sisi lain Pemerintah mengatur kebijakan sektor fiscal. Baik secara teori
maupun dalam pelaksanaan kedua sektor tersebut saling terkait dalam
mencapai sasaran secara nasional berupa pertumbuhan ekonomi. Sebagai
contoh, dalam penentuan laju inflasi kedua instansi akan bekerja sama
agar target atau sasaran yang ditentukan dapat tercapai. Hubungan kerja
yang harmonis dengan Pemerintah penting untuk mencapai sinergi yang
optimal.
Meskipun Bank Indonesia telah memiliki independensi, cakupan
tugas dan wewenangnya sedikit-banyak terkait dengan kepentingan
Pemerintah. Secara makro, tugas Bank Indonesia juga ditentukan oleh
kinerja institusi-institusi yang berhubungan erat dengan tujuan Bank
Indonesia, yakni mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Dalam kondisi yang demikian, sinkronisasi dan koordinasi Bank
Indonesia dengan Pemerintah tetap diperlukan mengingat keduanya
memiliki tanggung jawab yang semuanya untuk kepentingan bangsa
Indonesia.
Hubungan Bank Indonesia dengan Pemerintah telah diatur dengan
jelas dalam UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yaitu bahwa
Bank Indonesia tetap ditunjuk sebagai pemegang kas Pemerintah. Selain
itu, Bank Indonesia untuk dan atas nama Pemerintah dapat menerima
pinjaman luar negeri, menatausahakan, serta menyelesaikan tagihan dan
kewajiban keuangan Pemerintah terhadap luar negeri. Salah satu
perubahan yang penting dibandingkan dengan ketentuan sebelumnya
adalah saat ini Bank Indonesia tidak diperkenankan lagi memberikan kredit
kepada Pemerintah yang selama ini dipergunakan untuk menutup defisit
anggaran Pemerintah.

22
Hubungan Dengan Pemerintah

Dalam pada itu, sesuai dengan undang-undang, Pemerintah wajib


meminta pendapat dan atau mengundang Bank Indonesia dalam sidang
kabinet yang membahas masalah yang berkaitan dengan tugas Bank
Indonesia yaitu masalah ekonomi, perbankan dan keuangan. Demikian
juga dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (RAPBN) dan atau kebijakan Pemerintah lainnya yang terkait
dengan tugas dan wewenang Bank Indonesia, Bank Indonesia dapat
memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah.
Hal lain yang menggambarkan hubungan antara Bank Indonesia
dengan Pemerintah adalah diaturnya koordinasi yang bersifat konsultatif
dengan Pemerintah dengan dapat hadirnya Pemerintah yang diwakili
seorang menteri atau lebih dalam Rapat Dewan Gubernur dengan hak
bicara tanpa hak suara. Selain itu, dalam hal Pemerintah akan
menerbitkan surat-surat utang negara, Pemerintah wajib lebih dahulu
berkonsultasi dengan Bank Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar
penerbitan surat utang tersebut tepat waktu dan tidak berakibat negatif
terhadap kebijakan moneter. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia dapat
membantu penerbitan surat utang negara, namun tidak diperkenankan
membeli secara langsung di pasar perdana. Bank Indonesia dapat
membeli surat utang negara di pasar sekunder hanya untuk keperluan
kebijakan moneter. Selanjutnya, sesuai dengan amanat UU No. 24 Tahun
2002 tentang Surat Utang Negara (SUN) khususnya pasal 12 dan pasal
13, Bank Indonesia bertindak selaku penatausaha dan agen lelang SUN
baik di pasar perdana maupun di pasar sekunder. Kegiatan
penatausahaan ini mencakup dua fungsi yaitu: 1) sebagai central
registry, yaitu bertugas mencatat kepemilikan surat berharga, kliring,
dan setelmen; dan 2) sebagai paying agent, yaitu bertugas sebagai agen
pembayar bunga (kupon) dan pokok.
Hubungan dengan Pemerintah tampak pula pada pembagian hasil
kegiatan Bank Indonesia. Surplus hasil kegiatan Bank Indonesia setelah
diperhitungkan untuk cadangan tujuan dan cadangan umum serta
kewajiban Pemerintah kepada Bank Indonesia, akan diserahkan kepada
Pemerintah. Sebaliknya, dalam hal Bank Indonesia mengalami defisit
hingga modal turun menjadi kurang dari Rp2 triliun, maka pemerintah
diwajibkan menutup kekurangan tersebut.

23
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Hubungan Internasional

Selain dengan Pemerintah, Bank Indonesia juga menjalin hubungan kerja


dengan lembaga-lembaga internasional. Hubungan tersebut diperlukan
dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas Bank Indonesia
maupun Pemerintah yang berhubungan dengan ekonomi, moneter, maupun
perbankan.
Secara umum, hubungan kerja sama internasional yang dijalin oleh
bank sentral terdiri dari:
1) Kerjasama yang dilakukan atas nama bank sentral sendiri dalam rangka
melaksanakan tugas-tugasnya, seperti keanggotaan bank sentral di
South East Asia Central Bank (SEACEN); dan
2) Kerjasama yang dilakukan untuk dan atas nama negaranya masing-
masing, seperti keanggotaan suatu negara di lembaga keuangan
internasional, seperti International Monetary Fund (IMF).
Sebagaimana bank sentral lainnya, Bank Indonesia juga menjalin
kerjasama internasional yang meliputi bidang-bidang:
1) Investasi bersama untuk kestabilan pasar valuta asing;
2) Penyelesaian transaksi lintas negara;
3) Hubungan koresponden;
4) Tukar-menukar informasi mengenai hal-hal yang terkait dengan tugas-
tugas Bank Sentral; dan
5) Pelatihan/penelitian di bidang moneter dan sistem pembayaran.
Keanggotaan Bank Indonesia di beberapa lembaga dan forum international
atas nama Bank Indonesia sendiri antara lain:7
1) The South East Asian Central Banks Research and Training Centre
(SEACEN Centre).

7
Uraian lebih rinci dapat dibaca pada Lampiran 1

24
Hubungan Internasional

2) The South East Asian, New Zealand and Australia Forum of Banking
Supervisors (SEANZA).
3) The Executives’ Meeting of East Asian and Pacific Central Banks
(EMEAP)
4) ASEAN Central Bank Forum (ACBF)
5) Bank for International Settlement (BIS)8
Sementara itu, keanggotaan Bank Indonesia mewakili pemerintah
Republik Indonesia antara lain:9
1) Association of South East Asian Nations (ASEAN)
2) ASEAN+3 (ASEAN + Cina, Jepang dan Korea)
3) Asian Development Bank (ADB)
4) Asia Pacific Economic Cooperation (APEC)
5) Manila Framework Group (MFG)
6) Asia-Europe Meeting (ASEM)
7) Islamic Development Bank (IDB)
8) Consultative Group on Indonesia (CGI)
9) International Monetary Fund (IMF)
10) World Bank, termasuk keanggotaan di International Bank for
Reconstruction and Development (IBRD), International
Development Association (IDA) dan International Finance
Corporation (IFC) dan Multilateral Investment Guarantee Agency
(MIGA)
11) World Trade Organization (WTO)
12) Intergovernmental Group of 20 (G20)10
13) Intergovernmental Group of 15 (G15, sebagai observer)
14) Intergovernmental Group of 24 (G24, sebagai observer)

8
Disetujui pada sidang BIS 30 Juni 2003.
9
Uraian lebih rinci dapat dibaca pada Lampiran 1
10
Anggota group bisa negara bisa juga lembaga multilateral. Meskipun anggota bertambah,
namanya tetap G20. Demikian pula untuk G15 dan G24.

25
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Dewan Gubernur

Secara umum, pimpinan suatu lembaga merupakan elemen penting dalam


suatu kelembagaan. Dengan melihat tugas, wewenang, hak, dan tanggung
jawab pimpinan suatu lembaga, banyak hal mengenai lembaga tersebut
dapat diketahui. Untuk lembaga Bank Sentral, kendali kepemimpinan
berada pada suatu dewan yang disebut Dewan Gubernur atau Executive
Board, Policy Board atau sebutan lainnya. Dewan tersebut umumnya
dipimpin oleh seorang gubernur, presiden, chairman, atau sebutan lainnya.
Dengan mengetahui tugas, wewenang, hak, dan tanggung jawab pimpinan
suatu bank sentral, dapat diketahui beberapa hal, antara lain seberapa besar
wewenang anggota Dewan Gubernur dalam melaksanakan tugasnya secara
independen dalam rangka pencapaian tujuan bank sentral yang telah
ditetapkan.
Jumlah anggota Dewan Gubernur atau Executive Board atau Policy
Board pada umumnya bervariasi. Sebagai contoh, Bank of Japan (BoJ)
memiliki seorang Gubernur, dua Deputi Gubernur, dan enam anggota
Policy Board. The Bundesbank memiliki seorang presiden, seorang wakil,
dan enam anggota Executive Board. The Federal Reserve System (FedRes)
memiliki seorang Chairman, seorang wakil, dan lima anggota Dewan
Gubernur. Sementara itu, European Central Bank (ECB)11 memiliki
seorang Presiden, seorang wakil, dan empat anggota Executive Board.
Sementara itu, masa jabatan dan kemungkinan pengangkatan kembali
Dewan Gubernur antara bank sentral yang satu dengan yang lain tidak
selalu sama. Sebagai contoh, Dewan Gubernur FedRes mempunyai masa
jabatan 14 tahun dan tidak dapat diangkat kembali. Dua dari anggota
Dewan Gubernur dipilih sebagai Chairman dan wakil untuk masa jabatan

11 ECB merupakan bank sentral supranatural yang didirikan oleh 12 dari 15 bank sentral
anggota European Union, yang merupakan bagian dari The European System of Central
Banks (ESCB). ECB menerapkan matauang bersama “euro” dalam Eurosystem, dan
mempunyai tanggung jawab dalam melaksanakan kebijakan moneter di euro area untuk
memelihara kestabilan harga. Dengan demikian, ke 12 bank sentral tersebut telah
menyerahkan kedaulatan kebijakan moneternya kepada ECB.

26
Dewan Gubernur

empat tahun dan dapat diangkat kembali selama masih dalam masa jabatan
14 tahun sebagai anggota Dewan Gubernur. Semua anggota Executive
Board (termasuk Presiden dan wakilnya) dari ECB mempunyai masa
jabatan delapan tahun dan tidak dapat diangkat kembali.
Demikian juga dalam hal pengusulan, pengangkatan dan
pemberhentian anggota Dewan Gubernur masing-masing berbeda-beda.
Sebagai contoh, pengusulan anggota Dewan Gubernur FedRes diusulkan
oleh Presiden Amerika Serikat untuk mendapat persetujuan dari Senat.
Sedangkan Chairman dan wakilnya ditunjuk dari anggota Dewan
Gubernur oleh Presiden Amerika Serikat dan dikonfirmasi oleh Senat.
Sementara itu, semua Pemerintah harus setuju apabila ditunjuk sebagai
anggota Executive Board. Prosesnya dimulai dari rekomendasi oleh
Council of Economics and Finance Ministers (ECOFIN) yang
beranggotakan semua Menteri Keuangan negara anggota, sehingga hal
ini mencerminkan konsensus dari semua negara anggota. Setelah
direkomendasi oleh ECOFIN kemudian dikonsultasikan dengan Parlemen
Eropa (European Parliament) dan the Governing Council of ECB.12
Setelah konsultasi ini, pengangkatan dikonfirmasi oleh kepala negara
anggota euro area.
Bank Indonesia sebagai bank sentral Republik Indonesia dipimpin
oleh Dewan Gubernur. Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Gubernur
dipimpin oleh seorang Gubernur dengan Deputi Gubernur Senior sebagai
wakil. Dewan Gubernur terdiri atas seorang Gubernur, seorang Deputi
Gubernur Senior, dan minimal empat orang atau maksimal tujuh orang
Deputi Gubernur sebagai anggotanya. Dewan Gubernur mempunyai masa
jabatan maksimum lima tahun dan hanya dapat diangkat kembali untuk
satu kali masa jabatan berikutnya. Namun demikian, penggantian Dewan
Gubernur diatur secara berkala, yaitu setiap tahun paling banyak dua orang
yang diganti. Saat ini Bank Indonesia memiliki seorang Gubernur, seorang
Deputi Gubernur Senior, dan enam Deputi Gubernur.13

12
The Governing Council terdiri dari anggota Executive Board dan pimpinan bank sentral
dari ke 12 anggota ECB.
13
Menurut undang-undang sebelumnya (UU No. 13 Tahun 1968) Bank Indonesia dipimpin
oleh Direksi yang terdiri dari seorang Gubernur dan minimal lima atau maksimal tujuh
orang Direktur.

27
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh


Presiden dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari DPR.
Sementara itu, Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat
oleh Presiden setelah mendapat persetujuan dari DPR. Persetujuan oleh
DPR diberikan setelah melalui fit and proper test ‘uji kompetensi dan
integritas’. Meskipun anggota Dewan Gubernur diangkat oleh Presiden,
anggota Dewan Gubernur tidak dapat diberhentikan oleh Presiden, kecuali
bila anggota Dewan Gubernur mengundurkan diri, berhalangan tetap, atau
terbukti melakukan tindak pidana kejahatan. Dewan Gubernur (dan atau
Pejabat Bank Indonesia) juga tidak dapat dihukum karena telah mengambil
keputusan atau kebijakan yang sejalan dengan tugas dan wewenangnya,
sepanjang dilakukan dengan itikad baik.
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang calon anggota Dewan
Gubernur yang akan diusulkan oleh Presiden (untuk calon Gubernur dan
Deputi Gubernur Senior) atau Gubernur (untuk calon Deputi Gubernur)
adalah.
1) warga negara Indonesia, sesuai dengan perundang-undangan yang
berlaku;
2) memiliki akhlak dan moral yang tinggi, yang dapat dipercaya baik
dalam ucapan maupun tindakannya; dan
3) memiliki keahlian dan pengalaman di bidang ekonomi, keuangan,
perbankan, atau hukum, khususnya yang berkaitan dengan tugas bank
sentral.
Gambar 3
Susunan Dewan Gubernur Bank Indonesia

Gubernur

Deputi
Gubernur
Senior

Deputi Deputi Deputi Deputi Deputi Deputi Deputi


Gubernur Gubernur Gubernur Gubernur Gubernur Gubernur Gubernur

28
Independensi

Dewan Gubernur sebagai pimpinan Bank Indonesia berwenang untuk


menetapkan kebijakan dalam melaksanakan tugas-tugasnya di bidang
moneter, sistem pembayaran, dan perbankan. Selain itu, Dewan Gubernur
juga mempunyai tugas dan wewenang internal dalam hal organisasi,
kepegawaian, sistem penggajian, penghargaan, pensiun, tunjangan hari
tua, dan penghasilan lainnya bagi pegawai Bank Indonesia.
Dalam menjalankan tugasnya, Dewan Gubernur menyelenggarakan
Rapat Dewan Gubernur (RDG) sebagai suatu forum pengambilan
keputusan tertinggi. RDG diselenggarakan sekurang-kurangnya sekali
dalam sebulan untuk menetapkan kebijakan umum di bidang moneter,
dan sekurang-kurangnya sekali dalam seminggu melakukan evaluasi atas
pelaksanaan kebijakan moneter atau menetapkan kebijakan lain yang
bersifat prinsipal dan strategis. Pengambilan keputusan dalam RDG
dilakukan atas dasar prinsip musyawarah untuk mencapai mufakat.
Apabila mufakat tidak tercapai, Gubernur menetapkan keputusan akhir.

Independensi

Independensi adalah salah satu faktor penting dalam pencapaian tujuan


akhir suatu bank sentral. Permasalahan independensi telah ada semenjak
bank sentral pertama berdiri. David Ricardo (1824) menganjurkan adanya
otonomi bank sentral dan menganjurkan pula agar bank sentral tidak
membiayai defisit anggaran belanja Pemerintah. Independensi bank sentral
sering dihubungkan dengan perkembangan maupun kinerja lembaga
tersebut, tetapi independensi masih diperdebatkan kebaikan dan
keburukannya. Independensi suatu bank sentral menjadi penting pada saat
bank sentral tersebut memiliki target-target tertentu, misalnya, target inflasi
yang rendah.
Secara umum, independensi didefinisikan sebagai kebebasan dari
pengaruh, instruksi/pengarahan, atau kontrol dari pihak/pihak-pihak lain.
Jika diterapkan dalam independensi bank sentral, Meyer (2000)
mengartikannya sebagai kebebasan dari pengaruh, instruksi/pengarahan,
atau kontrol, baik dari badan eksekutif maupun dari badan legislatif.

29
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Sementara itu, Fraser (1994) mendefinisikan independensi bank sentral


sebagai kebebasan bank sentral untuk dapat melaksanakan kebijakan
moneternya yang bebas dari pertimbangan-pertimbangan politik. Tidak
termasuk dalam pengertian independen menurut Fraser adalah pendapat
mengenai kebijakan moneter yang disampaikan oleh Departemen-
departemen, dan konsultasi/koordinasi dengan Pemerintah dalam hal
kebijakan moneter, atau kebijakan lainnya.
Independensi bank sentral dikategorikan berbeda-beda oleh para
ahli. Fraser (1994) dan Meyer (2000) membagi independensi bank sentral
ke dalam goal independence dan instrument independence.
1) Goal independence artinya bank sentral menetapkan sendiri tujuan-
tujuan yang akan dicapai; dan
2) Instrument independence artinya bank sentral memiliki ruang lingkup/
wewenang yang cukup dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan. Menurut Fraser, bank sentral sebaiknya tidak memiliki goal
independence, tetapi memiliki instrument independence.
Sementara itu, Grilli et al. (1991) dan Elgie (1995) membagi independensi
bank sentral kedalam political independence dan economic independence.
1) Political independence berarti kemampuan bank sentral untuk
menetapkan tujuan-tujuan/keputusan kebijakannya yang bebas dari
pengaruh Pemerintah. Termasuk dalam political independence adalah
pengusulan, pengangkatan, pemberhentian, kualifikasi, masa jabatan,
pengangkatan kembali Gubernur, dan jabatan lain dari Gubernur, wakil,
dan anggota Dewan Gubernur, serta proses pengambilan keputusan yang
meliputi pembuatan keputusan, ada/tidaknya instruksi dari Pemerintah,
ada/tidaknya hak veto dari wakil Pemerintah, penetapan penghasilan
Dewan Gubernur dan kepemilikan modal bank sentral; dan
2) Economic independence berarti kemampuan bank sentral untuk
menggunakan semua instrumen kebijakan moneter yang tersedia secara
bebas, tanpa batasan-batasan dari Pemerintah, untuk mencapai tujuan-
tujuannya.
Baka (1994-95) membagi independensi bank sentral kedalam tiga aspek,
yaitu institutional independence, functional independence dan financial
independence.

30
Independensi

1) Institutional independence berarti posisi bank sentral dalam


pemerintah dan prosedur dalam mengangkat dan memberhentikan
pimpinan bank sentral;
2) Functional independence berarti kekuasaan dan kapasitas bank sentral
dalam rangka menetapkan dan menerapkan kebijakan moneter dan
otonomi dalam fungsi-fungsi lainnya; dan
3) Financial independence berarti bank sentral memiliki kontrol penuh
dalam mengakumulasi dan mendistribusi sumber daya finansialnya
tanpa adanya pengaruh luar.
Mboweni (2000) membagi independensi bank sentral ke dalam empat
aspek, yaitu “functional independence”, “personnel independence”,
“instrumental independence” dan “financial independence.”
1. Functional independence berarti hak untuk memutuskan segala hal
yang berkaitan dengan kebijakan moneter dan kestabilan harga;
2. Personnel independence meliputi pemilihan dan pengangkatan anggota
Dewan Gubernur dengan kompetensi profesional tinggi dan tanpa
kewajiban untuk condong pada tekanan-tekanan politik atau lainnya;
3. Instrumental independence berarti bank sentral memiliki kontrol
terhadap instrumen-instrumen yang mempengaruhi proses inflasi,
termasuk larangan pembiayaan langsung defisit Pemerintah; dan
4. Financial independence yang memberi hak kepeda bank sentral untuk
memiliki akses sendiri terhadap sumber finansial yang cukup dan
memiliki kontrol penuh terhadap anggarannya (budget) sendiri.
Selain keempat pembagian independensi bank sentral di atas, masih
banyak lagi klasifikasi yang lain, yang secara umum kurang lebih meliputi
aspek-aspek yang hampir sama, dengan masing-masing kelebihan dan
kekurangannya. Dari gabungan beberapa pendekatan di atas, independensi
dapat dibedakan ke dalam 3 (tiga) aspek.
1) Goal Independence berarti pemerintah tidak memiliki pengaruh
langsung dalam penetapan tujuan-tujuan kebijakan moneter. Goal
independence bervariasi dari kebebasan penuh/tinggi sampai dengan
kebebasan terbatas/rendah. Kebebasan tinggi, seperti di Amerika
Serikat, undang-undangnya hanya menyebutkan tujuan-tujuan yang

31
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

harus dicapai. FedRes memiliki kebebasan untuk menentukan prioritas


sesuai keadaan. Kebebasan cukup tinggi, seperti di Uni Eropa, tujuan
utama ECB dalam menjaga stabilitas harga (tanpa menetapkan rentang
waktu secara spesifik) telah ditetapkan dalam undang-undang, tetapi
ECB masih memiliki kebebasan menetapkan target lain dalam jangka
pendek. Bank Of Japan (BoJ) dan Sveriges Riksbank (SR) juga memiliki
tingkat goal independence cukup tinggi. Kebebasan rendah, seperti di
Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), stabilitas harga dinegosiasikan
antara Menteri Keuangan dan Gubernur bank sentral secara periodik.
Bank of England (BoE) dan Bank of Canada (BOC) juga memiliki
tingkat goal independence rendah mengingat di Inggris Menteri
Keuangan menetapkan batasan stabilitas harga dan di Kanada
Pemerintah dan BOC menetapkan target-target pengendalian inflasi;
2) Instrument Independence berarti bank sentral memiliki wewenang
untuk menetapkan sendiri target-target operasionalnya tanpa pengaruh
dari pemerintah. Instrument independence ini meliputi pengendalian
suku bunga jangka pendek dan nilai tukar, serta larangan pemberian
kredit kepada pemerintah. Sebagai gambaran, bank sentral seperti ECB,
FedRes, BoJ dan SR memiliki kewenangan penuh dalam menetapkan
suku bunga. Dalam hal pengendalian nilai tukar hampir semua bank
sentral hanya memiliki tanggung jawab yang sangat terbatas. Demikian
juga, hampir semua bank sentral masih dapat memberikan kredit kepada
pemerintah. Sementara itu, ECB masih memiliki wewenang dalam
penetapan nilai tukar dan tidak dapat memberikan kredit langsung
kepada pemerintah; dan
3) Personal Independence berarti badan pembuat kebijakan memiliki
wewenang untuk menolak campur tangan pemerintah. Personal
independence ini meliputi masa jabatan, jumlah anggota, dan masa
jabatan berjenjang dari anggota badan pembuat kebijakan, tingkat
keragaman lembaga yang terkait dalam proses pengangkatan anggota
badan pembuat kebijakan, serta status hukum khusus undang-undang
bank sentral. Sebagai gambaran, beberapa bank sentral yang memiliki
tingkat personal independence tinggi sehingga dapat mengurangi
campur tangan pemerintah di bank sentral, antara lain ECB diikuti oleh
FedRes, BOC dan BoJ.

32
Independensi

Seperti dikemukakan di atas, pengusulan, pengangkatan, dan


pemberhentian anggota Dewan Gubernur akan ikut menentukan tingkat
independensi bank sentral. Semakin banyak campur tangan pihak lain
(terutama dalam hal pemberhentian) akan menurunkan tingkat
independensi bank sentral. Sebagai contoh, anggota Dewan Gubernur
FedRes diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat untuk mendapat
persetujuan dari Senat. Sedangkan Chairman dan wakilnya ditunjuk dari
anggota Dewan Gubernur oleh Presiden Amerika Serikat dan dikonfirmasi
oleh Senat. Contoh yang lain, yaitu di ECB. Semua Pemerintah anggota
harus setuju apabila ditunjuk sebagai anggota Executive Board. Prosesnya
dimulai dari rekomendasi oleh Council of Economics and Finance
Ministers (ECOFIN) yang beranggotakan semua menteri keuangan negara
anggota, sehingga hal ini mencerminkan konsensus dari semua negara
anggota. Setelah direkomendasi oleh ECOFIN kemudian dikonsultasikan
dengan European Parliament ‘Parlemen Eropa’ dan the Governing Council
of ECB.14 Setelah konsultasi ini, pengangkatan dikonfirmasi oleh kepala
negara anggota euro area.
Kedudukan Gubernur dalam struktur ketatanegaraan juga berpengaruh
besar terhadap tingkat independensi bank sentral yang bersangkutan.
Apabila kedudukan Gubernur berada di bawah Pemerintah, maka
Pemerintah akan dapat mempengaruhi kebijakan yang diambil. Hal ini
akan menurunkan independensi bank sentral yang bersangkutan.
Sedangkan, apabila kedudukan Gubernur berada di luar Pemerintah, maka
Pemerintah tidak dapat mempengaruhi kebijakan yang diambil. Hal ini
akan meningkatkan independensi bank sentral yang bersangkutan.

Pendapat tentang Independensi Bank Sentral


Sudah cukup banyak studi, riset, dan artikel mengenai independensi bank
sentral yang meyakini dan yang tidak meyakini manfaat independensi
bank sentral dengan pendapat yang berbeda.
Pendapat yang meyakini manfaat independensi antara lain didasarkan
pada hasil studi.

14
The Governing Council terdiri dari anggota Executive Board dan pimpinan bank sentral
dari ke 12 anggota ECB.

33
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

1) Sejumlah studi telah membuktikan bahwa semakin besar independensi


bank sentral, semakin rendah dan stabil inflasi sehingga dapat
mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang; dan
2) Sejumlah studi telah membuktikan bahwa semakin besar independensi
bank sentral, semakin kecil defisit anggaran belanja dalam jangka
panjang. Hal ini karena adanya pemisahan wewenang antara pencetakan
dan pembelanjaan uang.
Pendapat yang tidak meyakini manfaat independensi antara lain didasarkan
pada hasil studi pula.
1) Walaupun terdapat keterkaitan antara independensi dan rendahnya laju
inflasi, tidak berarti bahwa semakin independen suatu bank sentral,
inflasi yang rendah dapat dicapai;
2) Kebijakan moneter merupakan bagian dari kebijakan ekonomi secara
keseluruhan sehingga tidak ada artinya untuk memisahkan kebijakan fiskal,
moneter, ketenagakerjaan, perdagangan, atau kebijakan lainnya; dan
3) Apabila pejabat bank sentral tidak dipilih secara demokratis, maka
keputusan mengenai suku bunga, nilai tukar, inflasi, dan hal-hal moneter
lainnya tidak mewakili kepentingan masyarakat pada umumnya.
Dengan kondisi tersebut, independensi dapat mengakibatkan terjadinya
penyalahgunaan wewenang.
Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut di atas, kenyataan menunjukan
bahwa semakin banyak bank sentral yang independen, baik di negara-
negara maju maupun di negara-negara berkembang.

Independensi Bank Indonesia


Konsep independensi bank sentral telah banyak dibahas semenjak tahun
1950-an. Mr. Sjafruddin Prawiranegara, presiden De Javasche Bank waktu
itu, sudah mensinyalir adanya gangguan terhadap independensi karena
rencana pembentukan dewan moneter. Beliau menyatakan :

Justru karena oleh sifat pekerjaan bank sirkulasi, pimpinannya tak


boleh ikut diombang-ambingkan oleh pengaruh dan kepentingan

34
Independensi

politik dari sesuatu saat, maka tidaklah benar apabila Pemerintah


diberi kekuasaan yang mutlak terhadap bank sirkulasi. Bahaya dari
keadaan yang demikian itu ialah bahwa bank sirkulasi mungkin
dipergunakan buat kepentingan partai-partai politik, yang pada
suatu saat kebetulan memegang kekuasaan Negara...

Dengan undang-undang yang baru tentang Bank Indonesia (UU No. 23


Tahun 1999, yang berlaku sejak 17 Mei 1999), Bank Indonesia telah
memiliki status dan kedudukan sebagai suatu lembaga negara yang
independen. Tingkat independensi Bank Indonesia tersebut dapat dilihat
dari aspek goal independence, instrument independence, dan personal
independence.

1) Goal independence.
Tujuan Bank Indonesia telah ditetapkan dalam undang-undang, yaitu
mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah (tanpa penetapan rentang
waktu secara spesifik). Namun, Bank Indonesia masih memiliki kebebasan
menetapkan target dalam jangka pendek sehingga Bank Indonesia dapat
dikatakan memiliki goal independence yang cukup tinggi, seperti ECB
dan BoJ tetapi tidak seindependen FedRes.

2) Instrument independence
Bank Indonesia, sesuai dengan undang-undang, memiliki wewenang
untuk menetapkan sendiri target-target operasionalnya tanpa pengaruh
dari pemerintah. Dalam menjalankan kebijakan moneternya, Bank
Indonesia memiliki wewenang penuh dalam menetapkan suku bunga
jangka pendek tanpa pengaruh dari pemerintah. Dalam hal nilai tukar,
sebagaimana negara-negara lain yang menerapkan sistem nilai tukar
mengambang, pada dasarnya Bank Indonesia tidak diarahkan untuk
mencapai target nilai tukar tertentu. Namun, Bank Indonesia masih dapat
mempengaruhi gejolak nilai tukar melalui operasi valuta asing. Selain
itu, Bank Indonesia tidak dapat lagi memberikan kredit kepada Pemerintah.
Bank Indonesia dapat dikatakan memiliki instrument independence yang

35
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

cukup tinggi yang lebih independen dari FedRes dan BoJ tetapi tidak
seindependen ECB.

3) Personal independence
Sesuai dengan undang-undang, pihak luar tidak dibenarkan
mencampuri pelaksanaan tugas Bank Indonesia (Dewan Gubernur), dan
Bank Indonesia (Dewan Gubernur) juga berkewajiban untuk menolak atau
mengabaikan intervensi dalam bentuk apa pun dari pihak mana pun juga.
Anggota Dewan Gubernur mempunyai masa jabatan lima tahun dan dapat
diangkat kembali satu kali. Jumlah anggota Dewan Gubernur berkisar
antara enam dan sembilan orang dengan penggantian secara berkala.
Pengusulan dan pengangkatan Gubernur dan Deputi Gubernur Senior
dilakukan oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Sedangkan pengusulan
Deputi Gubernur dilakukan oleh Gubernur dan diangkat oleh Presiden
dengan persetujuan DPR. Sementara itu, Bank Indonesia tidak memiliki
status hukum khusus, seperti ECB. Bank Indonesia dapat dikatakan
memiliki personal independence yang sedang, lebih independen
dibandingkan dengan BoJ tetapi tidak seindependen FedRes atau ECB.

Boks2:
Perbandingan Tingkat Independensi Bank
Indonesia 1968 - 1999

Seperti yang telah disebutkan dalam subbab tugas, UU


No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia secara tegas telah
memberikan landasan bagi independensi Bank Indonesia dalam
menetapkan target-target yang akan dicapai dan dalam
menggunakan berbagai instrumen kebijakan yang ditujukan untuk
mencapai target yang ditetapkan, yaitu memelihara kestabilan nilai
rupiah. Untuk dapat mengetahui seberapa independen Bank
Indonesia saat ini dibandingkan sebelumnya, secara teoretis dapat

36
Independensi

dilakukan penghitungan sesuai dengan pendekatan yang dilakukan


oleh Robert Elgie (1995). Pendekatan Elgie selengkapnya dapat
dibaca di lampiran 1.

Periode Tahun 1968 sampai dengan 1999


UU No. 13 Tahun 1968 mempengaruhi kedua indikator political
dan economic independence. Dalam hal political independence,
keempat aspeknya tercakup. Sebagai contoh, pasal 15
menyebutkan bahwa Gubernur dan Direktur diangkat oleh
Presiden atas usul Dewan Moneter untuk masa lima tahun dan
dapat diangkat kembali. Pasal 16 menyebutkan bahwa Direksi
bertanggung jawab kepada Pemerintah. Pasal 17 menyebutkan
bahwa Presiden dapat memberhentikan Gubernur dan Direktur-
Direktur, meskipun masa jabatannya belum berakhir. Sebagai
tambahan, anggota Direksi tidak boleh merangkap jabatan pada
lembaga lain kecuali karena kedudukannya (pasal 18). Sementara
itu, pasal 22 menyebutkan bahwa komisaris Pemerintah
mengawasi pengurusan Bank Indonesia sebagai perusahaan dan
boleh hadir dalam Rapat Direksi. Pengambilan keputusan
dilakukan atas dasar musyawarah untuk mencapai mufakat
(kolektif). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Bank
Indonesia memiliki political independence yang terbatas.
Dalam hal economic independence, pasal 7 menyebutkan
bahwa Bank Indonesia mempunyai multi tujuan, yaitu: a)
mengatur, menjaga, dan memelihara kestabilan nilai Rupiah (price
stability); dan b) mendorong kelancaran produksi dan
pembangunan serta memperluas kesempatan kerja; guna
meningkatkan taraf hidup rakyat. Sedangkan, pasal 8 menyebutkan
bahwa Bank Indonesia menjalankan tugas-tugas pokok tersebut
berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah,
termasuk kebijakan moneternya (pasal 16). Bank Indonesia dapat
memberikan kredit kepada Pemerintah (pasal 35). Akhirnya,
Pemerintah menyetujui anggaran tahunan Bank Indonesia (pasal

37
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

44). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Bank Indonesia


memiliki economic independence yang terbatas.

Periode tahun 1999 sampai saat ini


UU No. 23 Tahun 1999 membawa perubahan yang sangat
signifikan pada tingkat independensi Bank Indonesia dari
Pemerintah. Dalam hal political independence, pasal 41
menyebutkan bahwa anggota Dewan Gubernur ( Gubernur, Deputi
Gubernur Senior dan para Deputi Gubernur) diangkat untuk masa
jabatan lima tahun dan dapat diangkat kembali satu kali pada
jabatan yang sama. Pada pasal 57 disebutkan bahwa masa jabatan
mereka cukup aman karena anggota Dewan Gubernur tidak dapat
diberhentikan dalam masa jabatannya kecuali karena
mengundurkan diri, berhalangan tetap, atau melakukan tindak
kejahatan. Selain itu, mereka juga tidak dapat dihukum karena
telah mengambil keputusan atau kebijakan sesuai dengan tugas
dan kewenangannya (pasal 45). Sebagai tambahan, anggota Dewan
Gubernur tidak boleh merangkap jabatan pada lembaga lain
kecuali karena kedudukannya (pasal 47). Sementara itu, pasal 43
menyebutkan bahwa wakil Pemerintah boleh hadir dalam Rapat
Dewan Gubernur dengan hak bicara tanpa hak suara atau veto.
Pengambilan keputusan dilakukan atas dasar musyawarah untuk
mencapai mufakat (kolektif). Apabila mufakat tidak tercapai,
Gubernur menetapkan keputusan akhir. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa Bank Indonesia memiliki political
independence yang meningkat cukup tajam dibandingkan
sebelumnya.
Dalam hal economic independence, pasal 7 menyebutkan
bahwa tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara
kestabilan nilai rupiah, sedangkan, pasal 8 menyebutkan bahwa
Bank Indonesia menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan
moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran,
serta mengatur dan mengawasi bank. Sedangkan, pasal 10

38
Akuntabilitas dan Transparansi

menjabarkan bahwa pelaksanaan kebijaksanaan moneter termasuk


penetapan suku bunga kunci. Pasal 12 menyebutkan bahwa Bank
Indonesia melaksanakan kebijakan nilai tukar. Bank Indonesia
dilarang memberikan kredit kepada Pemerintah (pasal 56).
Akhirnya, Dewan Gubernur menetapkan anggaran tahunan Bank
Indonesia (pasal 60). Dengan demikian, berarti Bank Indonesia
pada periode ini memiliki economic independence yang cukup
tinggi.
Hasil perhitungan tingkat independensi Bank Indonesia
terhadap UU No. 13 Tahun 1968 adalah 0,45, sedangkan tingkat
independensi terhadap UU No. 23 Tahun 1999 adalah 0,87. Hasil
perhitungan tersebut mencerminkan peningkatan signifikan
independensi Bank Indonesia dari Pemerintah. Tentunya, angka-
angka tersebut yang merupakan proksi tidak mutlak sesuai dengan
hasil perhitungan tersebut (0,45 atau 0,87). Perincian lebih lanjut
mengenai pengukuran tersebut dapat dibaca pada lampiran 2.

Akuntabilitas dan Transparansi

Akuntabilitas dan transparansi dalam suatu lembaga seperti bank


sentral sangat berkaitan erat. Dengan kelembagaan yang lebih transparan
diharapkan lembaga tersebut dapat mencapai hasil kebijakan (kinerja)
yang lebih baik melalui peningkatan efisiensi pasar dan peningkatan
kejelasan pembuatan keputusan itu sendiri (Poole, 2001). Selanjutnya,
kinerja yang lebih baik akan meningkatkan akuntabilitas lembaga yang
bersangkutan. Oleh karena itu, akuntabilitas dan transparansi lembaga
yang bersangkutan menjadi penting agar semua kebijakan lembaga yang
bersangkutan dapat diketahui secara terbuka oleh para stakeholder15

15 Stakeholder adalah pihak-pihak yang berkepentingan, seperti pemerintah, DPR, dan


masyarakat.

39
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

sehingga dapat dilakukan pengawasan terhadap kinerja lembaga yang


bersangkutan.
Transparansi merupakan necessary condition untuk akuntabilitas,
tetapi bukan merupakan sufficient condition karena akuntabilitas juga
ditentukan oleh tanggung jawab dalam melaksanakan kebijakan moneter.
Menurut Geraats (2002), terdapat tiga bentuk transparansi yang
menunjang akuntabilitas.
1) Political transparency dalam bentuk tujuan-tujuan formal, target-target
kuantitatif, dan kejelasan tentang struktur institusi. Political
transparency merupakan hal yang terpenting karena dapat memberikan
kriteria dan identifikasi siapa yang bertanggung jawab;
2) Economic, procedural and policy transparency diperlukan untuk
mengetahui latar belakang kebijakan-kebijakan yang dilakukan; dan
3) Operational transparency diperlukan untuk mengetahui kendala-
kendala proses pencapaian suatu kebijakan.
Sementara itu, akuntabilitas bank sentral dapat dilihat dari dua aspek utama
(Meyer,2000), yaitu:
1) Tujuan.
Tujuan tunggal akan membuat bank sentral lebih terpercaya
dibandingkan dengan bank sentral yang mempunyai tujuan ganda
karena ada konflik di antara tujuan ganda tersebut sehingga tidak jelas
pengukurannya; dan
2) Proses pengangkatan kembali Dewan Gubernur.
Masa jabatan Dewan Gubernur yang pendek dengan kemungkinan
diangkat kembali akan membuat bank sentral lebih terpercaya.
Sementara itu, masa jabatan Dewan Gubernur yang panjang dan tidak
bisa diangkat kembali akan menurunkan akuntabilitas bank sentral.
Sementara itu, Undang-undang Bank Indonesia menuntut adanya
akuntabilitas dan transparansi dalam setiap pelaksanaan tugas, wewenang,
dan anggarannya. Tuntutan akan akuntabilitas dan transparansi Bank
Indonesia tersebut dimaksudkan agar supaya semua pihak yang
berkepentingan dapat ikut melakukan pengawasan terhadap setiap langkah
kebijakan yang ditempuh oleh Bank Indonesia.

40
Akuntabilitas dan Transparansi

Prinsip akuntabilitas dan transparansi pelaksanaan tugas dan


wewenang Bank Indonesia diterapkan dengan cara menyampaikan
informasi kepada masyarakat luas secara terbuka melalui media masa,
pada setiap awal tahun. Laporan tersebut meliputi evaluasi pelaksanaan
kebijakan moneter pada tahun sebelumnya, serta rencana kebijakan
moneter dan penetapan sasaran-sasaran moneter untuk tahun yang akan
datang. Laporan tersebut juga disampaikan secara tertulis kepada Presiden
dan DPR. Dalam pasal yang sama juga disebutkan bahwa Bank Indonesia
diwajibkan untuk menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan
tugas dan wewenangnya kepada DPR setiap triwulan dan sewaktu-waktu
bila diminta oleh DPR. Hal ini sejalan dengan fungsi pengawasan yang
diemban oleh DPR.
Di bidang anggaran, demi tercapainya transparansi, sebelum
dimulainya tahun anggaran, Bank Indonesia menyampaikan rencana dan
realisasi anggaran tahunan kepada DPR dan Pemerintah. Selain itu,
Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia juga disampaikan kepada
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diperiksa dan diumumkan
kepada masyarakat luas melalui media massa. Kewajiban lain Bank
Indonesia adalah menyusun neraca singkat mingguan yang diumumkan
dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Dalam rangka lebih meningkatkan transparansi, Bank Indonesia secara
berkala menerbitkan berbagai laporan dan publikasi, seperti Laporan
Mingguan, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia Bulanan, Tinjauan
Kebijakan Moneter Bulanan, Perkembangan Ekonomi dan Moneter
Triwulanan, Laporan Triwulanan Perkembangan Kebijakan Moneter, dan
Laporan Tahunan. Selain itu, sesuai dengan perkembangan teknologi
informasi, Bank Indonesia juga mempunyai homepage yang berisikan
informasi terkini mengenai data ekonomi moneter dan organisasi dan tata
kerja Bank Indonesia.

41
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Daftar Pustaka

Ascarya (2002), Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter, Seri


Kebanksentralan No.3, PPSK, Bank Indonesia, Jakarta.
Baka, W. (1994-95), ‘Please Respect the National Bank’, Central Banking,
vol.5, hlm.65-72.
Bank Indonesia, Laporan Tahunan Bank Indonesia, Beberapa tahun
penerbitan, Bank Indonesia, Jakarta.
Bofinger, Peter (2001), Monetary Policy: Goals, Institutions, Strategies,
and Instruments, Oxford University Press, New York.
Burdekin R. et al. (1992), ‘A Monetary Constitution Case for an
Independent European Central Bank’, The World Economy, vol.15/2.
Capie, Forest (1994), ‘The Evolution of Central Banking’, Seminar Paper,
World Bank.
Chandavarkar, Anand (1996), Central Banking in Developing Countries,
MacMillan Press Ltd., London.
Cukierman, Alex (1992), Central Banking Strategy, Credibility and
Independence: Theory and Evidence, Cambridge, Massachussetts.
Cukierman, Alex et al. (1992), ‘Measuring the Independence of Central
Banks and its Effect on Policy Outcomes’, The World Bank Economic
Review, vol.6/3.
Doriyanto, Triatmo dan Pranoto, M. Seto (2000), ‘Central Bank
Independence and Accountability: the Case of Indonesia’, Makalah,
disampaikan pada EMEAP Central Banking Seminar, Tokyo, 14-19
Februari.
Elgie, Robert (1995), ‘Core Executive-Central Bank Relations: Central
Bank Independence: What It Is and How to Compare It’, unpublished
Political Studies Association 1995 Annual Conference Paper, Political
Studies Association.

42
Daftar Pustaka

Esmara, Hendra ed. (1987), Teori Ekonomi dan Kebijaksanaan


Pembangunan, PT Gramedia, Jakarta.
Fajardo, Feliciano R dan Manansala, Manuel M. (1994), Central Banking,
Navotas Press, Navotas, Metro Manila.
Fraser, B.W. (1994), ‘Central Bank Independence: What Does It Means?’,
Pidato pada 20th SEANZA Central Banking Course, Karachi, 23
Nopember.
Fry, Maxwell J. et al. (1996), Central Banking in Developing Countries:
Objectives, Activities and Independence, Routledge, London.
Geraats, Petra M. (2002), ‘Central Bank Transparency’, Survey Article,
University of Cambridge, Massachussetts, Maret.
Gokbudak, Nuran (1996), ‘Central Bank Independence, The Bundesbank
Experience and the Central Bank of the Republic of Turkey’, Discussion
Paper, no.9610, Research Department, The Central Bank of the
Republic of Turkey, March.
Grilli, V., Masciandaro D., and Tabellini, G. (1991), ‘Political and
Monetary Institutions and Public Financial Policies in the Industrial
Countries’, Economic Policy, vol. 13, hlm. 341-392.
Hadiwigeno, Soetatwo dan Wijaya, Faried (1980), Lembaga-lembaga
Keuangan dan Bank: Perkembangan, Teori dan Kebijaksanaan, Bagian
Penerbitan Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Hartono, Noek (1976), Bank Indonesia: Sejarah Lahir dan
Pertumbuhannya, mimeo.
Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha Indonesia (2003),
Pengkajian Mengenai Independensi dan Akuntabilitas Bank Sentral,
Jakarta.
Masciandro, D. dan Spinelli, F. (1994), ‘Central Banks Independence:
Institutional Determinants, Rankings and Central Bankers’ Views’,
Scottish Journal of Political Economy, vol.41/4.
Mboweni, TT. (2000), ‘Central Bank Independence,’ Pidato pada the
Reuters Forum Lecture, Johannesburg, 11 Oktober, www.stlouisfed.org/
news/speeches/1999/11_04_99.html.

43
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Meyer, Laurence H. (2000), ‘The Politics of Monetary Policy: Balancing


Independence and Accountability’, Ceramah pada the University of
Wisconsin, LaCrosse, Wisconsin, 24 Oktober, www.federalreserve.gov/
boarddocs/speeches/2000/20001024.htm.
Parkin, M. (1987), ‘Domestic Monetary Institutions and Deficits’, dalam
J. Buchanan dkk. (eds), Deficits, Blackwell.
Pollard, Patricia S. (2003), ‘A Look Inside Two Central Banks: The
European Central Bank and the Federal Reserve’, Federal Reserve
Bank of St. Louis Review, January/February 2003, hlm.12-30.
Poole, William (1999), ‘Central Bank Transparency: Why and How’,
Pidato pada the University of Missouri, Columbia, 4
Nopember,www.stlouisfed.org/news/speeches/1999/11_04_99.html
Prawiroardjo, Priasmoro (1987), Perbankan Indonesia 40 Tahun,
Kumpulan Esei untuk menghormati Sumitro Djojohadikusumo, P.T.
Gramedia, Jakarta.
Rachbini, Didik J. dkk. (2000), Bank Indonesia: Menuju Independensi
Bank Sentral, PT Mardi Mulyo, Jakarta.
Raharjo, Dawam (1995), Sejarah Bank Indonesia, LP3ES, Jakarta.
Ribeiro, Fausto de Andrade (2002), ‘Central Bank: Independence,
Governance and Accountability’, Minerva Program, Fall 2002, Institute
of Brazilian Issues.
Rissal, Romeo (2002), ‘Independensi dan Tuntutan Transformasi Bank
Indonesia’, Makalah, disampaikan pada Seminar Sehari di Hotel Tiara
Medan, 21 Maret.
Sabirin, Syahril (2000), ‘Upaya Pemulihan Ekonomi Melalui Strategi
Kebijakan Moneter-Perbankan dan Independensi Bank Indonesia’,
Makalah, disampaikan pada Seminar Nasional Strategi Pemulihan
Ekonomi Era Pemerintahan Baru, KAGAMA, Jawa Timur, 5 Februari.
Sukandar, Ahmad (1998), ‘Independensi Bank Indonesia, Pembahasan
dari Segi Hukum’, Paper SESPIBI XXIII, Bank Indonesia, Jakarta.
Suseno (1998), ‘Independensi Bank Indonesia dan Konflik Kepentingan

44
Daftar Pustaka

antara Efektifitas Kebijakan Moneter dan Pengawasan Bank’, Paper


SESPIBI XXIII, Bank Indonesia, Jakarta.
Tim RUU Bank Indonesia (1998), Naskah Akademis Rancangan Undang-
undang tentang Bank Indonesia, Jakarta.
Tjahjono, Endy Dwi (2000), ‘Perjalanan Panjang Independensi Bank
Sentral: Dari Deregulasi Perbankan, Hingga Krisis Ekonomi, Menuju
Bank Sentral yang Independen’, Makalah, no.2/DKM/OP/19, DKM,
Bank Indonesia, Jakarta.
__________ (1953), UU No. 11 Tahun 1953 tentang Pokok Bank
Indonesia, Jakarta.
__________ (1968), UU No. 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral, Jakarta.
__________ (1999), UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia,
Jakarta.

45
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Lampiran 1
Hubungan Internasional Yang dilakukan
Bank Indonesia

Organisasi (tahun berdiri, keanggotaan)


Keterangan (sekilas mengenai organisasi)

Atas Nama Sendiri Sebagai Anggota

1. SEACEN, 1982, 12 bank sentral


SEACEN Centre merupakan pusat penelitian dan pelatihan bagi
pegawai bank sentral yang menjadi anggotanya dari kawasan Asia
Tenggara di bidang keuangan, moneter, perbankan, kebanksentralan,
dan ekonomi pembangunan. Termasuk juga memprakarsai dan
memfasilitasi kerjasama dalam bidang penelitian dan pelatihan yang
berhubungan dengan aspek kebijakan dan operasional bank sentral,
survei ekonomi dan prakiraan (outlook) tahunan, dan publikasi hasil
survey, analisa dan telaah ulang.

2. SEANZA, 1957, 20 bank sentral


SEANZA dibentuk terutama untuk membantu mengatasi masalah
keterbatasan sumber daya manusia yang ahli dan berpengalaman,
khususnya pada tingkat manajerial menengah ke atas, yang dihadapi
bank sentral negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

3. EMEAP, 1991, 11 bank sentral


EMEAP merupakan organisasi kerjasama bank sentral dan otoritas
moneter di kawasan Asia dan Pasifik yang bertujuan untuk mempererat
hubungan kerjasama sesama anggotanya. Kerjasama ini dilakukan
dalam bentuk Governors’ Meeting, Deputies’ Meeting, dan Working

46
Lampiran 1
Hubungan Internasional Yang dilakukan Bank Indonesia

Group. Bentuk lainnya antara lain pembentukan jejaring regional untuk


pertukaran informasi.

4. ACBF, 2002, 10 bank sentral


ACBF dibentuk dengan tujuan untuk mengevaluasi perekonomian dan
risiko keuangan yang mungkin timbul dengan menekankan pada policy
option dan implikasinya, serta mendorong dilakukannya langkah awal
untuk meminimalisasi risiko tersebut dengan bantuan dari beberapa
lembaga multilateral baik di tingkat regional maupun internasional.

5. BIS, Mei 1930, 49 bank sentral


BIS merupakan forum kerjasama keuangan dan moneter internasional,
sebagai lembaga yang memainkan peran penting dalam menyediakan
jasa keuangan dalam pengelolaan devisa, menjadi pusat riset ekonomi
dan moneter, memberikan kontribusi dalam memahami pasar keuangan
internasional, dan sebagai forum pembahasan hasil riset moneter dan
perbankan

Atas Nama Pemeritah, Sebagai Anggota

1. ASEAN, Agustus 1967, 10 negara


ASEAN merupakan asosiasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara
yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi,
perkembangan sosial dan pembangunan kultural di kawasan ini. Selain
itu juga untuk mendorong stabilitas ekonomi dan politik dikawasan
ini dan memecahkan berbagai isu yang ada dalam kawasan ini.
Kesemuanya itu untuk mencapai masyarakat yang damai dan sejahtera
di kawasan Asia tenggara.

2. ASEAN+3, 1997, 13 negara


ASEAN+3 merupakan forum kerjasama di bidang ekonomi dari negara-
negara ASEAN ditambah Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Kerjasama

47
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

ini di masa yang akan datang terus ditingkatkan sehingga meliputi juga
bidang politik dan keamanan untuk mendorong perdamaian, kestabilan,
dan kesejahteraan di kawasan ini. Forum yang digelar antara lain
berbentuk Pertemuan Puncak dan Pertemuan tingkat Menteri.

3. ADB, 1966, 61 negara


ADB adalah lembaga pembangunan keuangan yang ditujukan untuk
memberantas kemiskinan melalui strategi pengurangan kemiskinan di
kawasan Asia dan Pasifik. Untuk itu ADB terus mendorong
pertumbuhan ekonomi, pembangunan sumber daya manusia,
peningkatan status wanita, dan pelestarian lingkungan. Selain itu,
kerjasama regional, pembangunan sektor swasta, dan pembangunan
sosial juga menjadi perhatian dalam rangka mencapai tujuan utama.

4. APEC, 1989, 21 negara


APEC adalah forum utama untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi,
kerjasama perdagangan dan investasi di kawasan sekitar Asia dan
Pasifik. Anggotanya meliputi 47% perdagangan dunia. Tiga aspek
prioritasnya adalah liberalisasi perdagangan dan investasi, memfasilitasi
kegiatan usaha, dan kerjasama ekonomi dan teknis.

5. Manila Framework, Nopember 1997, 14 negara (bank sentral &


DepKeu)
Manila Framework dibentuk setelah terjadinya krisis di beberapa
negara Asia pertengahan 1997 lalu. Tujuannya adalah untuk
menyediakan forum untuk mendiskusikan isu-isu yang mempengaruhi
stabilitas keuangan di kawasan ini. Grup ini bertemu dua kali setahun,
yang dihadiri oleh pejabat Departemen Keuangan dan bank sentral
negara anggotanya, ditambah wakil dari IMF, WB, BIS, dan ADB.

6. ASEM, 1996, 25 negara


ASEM merupakan forum kerjasama negara Asia dan Eropa untuk

48
Lampiran 1
Hubungan Internasional Yang dilakukan Bank Indonesia

memelihara perdamaian secara global, stabilitas, dan kemakmuran yang


bertujuan untuk memajukan kegiatan perdagangan dan investasi yang
lebih besar antara dua kawasan melalui liberalisasi perdagangan dan
investasi serta fasilitasi di antara negara anggota.

7. IDB, Juli 1975, 54 negara anggota OIC


IDB merupakan agen pembangunan yang bertujuan untuk
meningkatkan pembangunan ekonomi dan perkembangan sosial negara
anggotanya dan komunitas muslim, baik secara individu maupun
kelompok, sesuai dengan prinsip-prinsip syariah islam. Dalam rangka
mencapai tujuan, IDB berpartisipasi dalam equity capital ‘modal
ekuitas’ dan pemberian pinjaman untuk proyek-proyek produktif dan
untuk perusahaan-perusahaan, selain juga menyediakan bantuan
keuangan kepada negara-negara anggotanya dalam bentuk lain untuk
pembangunan ekonomi dan sosial.

8. CGI, 1991, 30 negara & organisasi multilateral


CGI merupakan kelompok donor yang memberi bantuan dana kepada
Indonesia untuk kepentingan dana taktis pembangunan . Sektor utama
pendanaan adalah penanggulangan masalah kemiskinan, pembangunan
infrastruktur, penanganan masalah-masalah pemerintahan yang bersih
(good governance), restrukturisasi perbankan, dan penanganan
masalah-masalah kesejahteraan masyarakat. CGI terbentuk
menggantikan IGGI (Intergovernmental Group on Indonesia). CGI
melakukan pertemuan dialog setiap tahun antara negara/organisasi
multilateral donor dan pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi
kegiatan sebelumnya, rencana selanjutnya, dan biasanya diakhiri
dengan komitmen/persetujuan untuk memberikan bantuan.

9. IMF, Desember 1945, 184 negara


IMF merupakan organisasi internasional yang dibentuk sesuai dengan
kesepakatan konferensi Bretton Woods tahun 1944 yang ditujukan untuk
mendorong kerjasama moneter internasional untuk menghindari

49
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

terjadinya kembali economic disaster seperti great depression tahun


1930an. Indonesia bergabung Pebruari 1967 (setelah pernah bergabung
sebelumnya dan keluar). Dalam rangka mencapai tujuan, IMF
memfasilitasi perluasan dan pertumbuhan yang seimbang dari
perdagangan internasional; mendorong stabilitas nilai tukar; membantu
pembentukan sistem pembayaran multilateral; dan membantu
pendanaan bagi negara-negara yang mengalami kesulitas neraca
pembayaran. Secara lebih umum IMF bertanggung jawab untuk
memastikan stabilitas sistem keuangan internasional.

10. World Bank/IBRD, Juli 1944, 184 negara


World Bank atau Bank Dunia merupakan organisasi internasional yang
juga dibentuk sesuai kesepakatan Bretton Woods tahun 1944 yang
merupakan sumber terbesar didunia untuk bantuan pembangunan.
Indonesia bergabung April 1967. Bank Dunia bukanlah sebuah bank
seperti pada umumnya melainkan sebuah agen pembangunan khusus
dari PBB yang terdiri dari lima organisasi yaitu IBRD (International
Bank for Reconstruction and Development), IDA (International
Development Association), IFC (International Finance Corporation),
MIGA (Multilateral Investment Guarantee Agency) dan ICSID
(International Centre for Settlement of Investment Disputes). Pada
perkembangannya, Bank Dunia menjadi nama yang digunakan untuk
IBRD dan IDA.

11. IDA, 1960, 164 negara anggota IBRD


IDA merupakan bagian dari World Bank yang membantu negara-negara
termiskin di dunia untuk mengurangi kemiskinan dengan memberikan
kredit dengan bunga nol persen, dengan grace period 10 tahun dan
jangka waktu 35 sampai 40 tahun. IDA membantu membangun human
capital, kebijakan-kebijakan, institusi-institusi dan infrastruktur fisik
yang dibutuhkan negara-negara ini untuk mempercepat pertumbuhan
yang environmentally sustainable. Tujuan IDA adalah untuk
mengurangi kesenjangan antar negara dan dalam negara. Terutama
dalam hal akses terhadap pendidikan dasar, kesehatan pokok dan air

50
Lampiran 1
Hubungan Internasional Yang dilakukan Bank Indonesia

bersih dan sanitasi dan untuk mendorong meningkatkan produktivitas


masyarakat. Indonesia bergabung tahun 1968.

12. IFC, 1956, 175 negara anggota IBRD


IFC merupakan bagian dari World Bank yang bertujuan untuk
mendorong investasi/petumbuhan sektor swasta yang sustainable di
negara-negara berkembang sebagai salah satu cara untuk mengurangi
kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai
bagian dari the World Bank Group, IFC juga mempunyai tujuan utama
untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di negara-negara
berkembang anggotanya. Indonesia bergabung tahun 1968. Aktivitas
IFC termasuk pembiayaan proyek-proyek sektor swasta di negara-
negara berkembang, membantu perusahaan swasta untuk mencari dana
di pasar keuangan internasional, dan memberikan saran dan bantuan
teknis untuk dunia usaha dan pemerintah.

13. MIGA, 1988, 157 negara anggota IBRD


MIGA merupakan bagian dari World Bank yang bertujuan untuk
mendorong investasi asing langsung (foreign direct investment) di
negara-negara berkembang untuk meningkatkan tingkat kehidupan
masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Untuk mencapai tujuan
tersebut MIGA menawarkan political risk insurance/guarantees kepada
para investor dan pemberi pinjaman, dan juga membantu negara-negara
berkembang untuk menarik dan menjaga investasi swasta.

14. WTO, 1995, 146 negara


WTO merupakan forum negosiasi kebijakan/peraturan-peraturan
perdagangan internasional yang antara lain bertujuan untuk menangani
perselisihan perdagangan, memonitor kebijakan perdagangan nasional
negara anggota, memberikan bantuan berupa pelatihan dan bantuan
teknis bagi negara-negara yang sedang berkembang, dan menjalin
kerjasama dengan organisasi internasional lainnya.

51
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

15. G20, September 1999, 19 negara, EU, IMF dan IBRD


G20 merupakan forum internasional Menteri Keuangan dan Gubernur
bank sentral dari negara-negara industri dan berkembang untuk
mendorong stabilitas keuangan dan ekonomi setelah terjadinya krisis
keuangan dan perbankan di Asia pada pertengahan 1997. G20 dibentuk
atas prakarsa G7. Agenda group kemudian meluas sampai kepada
masalah-masalah dan tantangan-tantangan globalisasi dan cara-cara
untuk memerangi kejahatan terorisme keuangan. G20 tidak memiliki
sekretariat permanen, namun dirancang untuk mendorong pertukaran
pandangan secara informal dan pembentukan konsensus mengenai isu-
isu internasional.

Atas nama Pemeritah, Sebagai Pengamat

1. G15, Pebruari 1999, 17 negara berkembang dari Asia, Afrika dan


Amerika Selatan
G15 merupakan kelompok dari 17 negara-negara berkembang dari Asia,
Afrika dan Amerika Latin yang bertujuan untuk meningkatkan
kerjasama dan memberikan input untuk kelompok internasional lain,
seperti WTO (the World Trade Organization) dan G7 (kelompok tujuh
negara industri kaya).

2. G24, 1971, 24 negara


G24 merupakan kelompok dari 24 negara berkembang dari Afrika,
Amerika Selatan, Karibia, Asia dan Eropa, yang tujuan utamanya adalah
untuk menggalang persatuan posisi dari negara-negara berkembang
dalam isu-isu moneter dan pembangunan keuangan. Negara anggota
G77 boleh hadir sebagai pengamat. G24 beroperasi melalui dua level
yaitu level politis di tingkat Menteri Keungan/Gubernur bank sentral
dan level official di tingkat Deputi.

52
Lampiran 2
Cara Mengukur Tingkat Independensi Bank Sentral

Lampiran 2
Cara Mengukur Tingkat Independensi Bank Sentral

Terdapat berbagai metodologi yang berbeda untuk mengukur tingkat


independensi suatu bank sentral dibandingkan dengan bank sentral lainnya.
Demikian juga tingkat independensi suatu bank sentral pada periode
tertentu dibandingkan periode lainnya. Para ahli telah mengembangkan
dan mengidentifikasi indikator-indikator independensi yang kemudian
digunakan dalam pengukuran tingkat independensi bank sentral. Sebagai
contoh, Parkin (1978 dan 1987) mengembangkan pendekatan yang
memungkinkan untuk membedakan jenis-jenis independensi bank sentral.
Burdekin et al. (1992) dan Masciandro & Spinelli (1994) mengembangkan
pendekatan yang memungkinkan untuk me-rangking independensi.
Sementara itu, Cukierman et al. (1992) telah mengembangkan pengukuran
independensi bank sentral yang dapat menghasilkan hasil pengukuran yang
presisi. Cukirman menggunakan 16 indikator yang dikategorikan kedalam
delapan set indikator. Kedelapan set indikator ini kemudian diberi bobot
yang berkisar antara 0.20 untuk empat set indikator mengenai Gubernur
dan 0.05 untuk set indikator yang berisi satu indikator mengenai pinjaman
yang diberikan oleh Bank Sentral.
Cara pengukuran tingkat independensi yang akan dijelaskan lebih
lanjut adalah cara yang dilakukan oleh Robert Elgie (1995) yang
menggunakan cara Cukierman et al. yang disempurnakan. Elgie
menggunakan 29 indikator political independence sementara yang
digunakan Cukierman et al. hanya lima indikator. Selain itu, Elgie
menggunakan tujuh indikator untuk gubernur, sedangkan Cukierman et
al. mengunakan hanya empat indikator. Kemudian, Elgie menggunakan
lima indikator untuk proses pengambilan keputusan intern, delapan
indikator untuk deputi gubernur dan sembilan indikator untuk dewan
gubernur (board of governors).
Untuk economic independence Elgie hanya menggunakan tujuh
indikator, sedangkan Cukierman et al. menggunakan 11 indikator. Namun
demikian, delapan dari kesebelas indikator tersebut berkaitan dengan
pembatasan bank sentral untuk memberi pinjaman kepada Pemerintah.

53
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Sementara itu Elgie merangkum kedelapan indikator tersebut ke dalam


satu indikator. Sehingga secara keseluruhan Elgie memiliki sekumpulan
indikator economic independence yang akan dapat memberikan gambaran
yang lebih lengkap. Secara keseluruhan, metodologi yang disempurnakan
ini mencakup indikator-indikator political dan economic independence
yang jauh lebih komprehensif.
Selengkapnya, indikator dan bobotnya adalah sebagai berikut:

Political independence
(bobot keseluruhan 0.50)

(i) Gubernur
(bobot 0.30)

(a) Pengangkatan
1.00 Pengangkatan oleh bank sentral sendiri
0.75 Pengangkatan dengan campur tangan bank sentral
0.50 Pengangkatan oleh pihak eksekutif dan legislatif
0.25 Pengangkatan oleh pihak eksekutif secara kolektif
0.00 Pengangkatan oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

(b) Pengusulan
1.00 Pengangkatan oleh bank sentral sendiri
0.75 Pengangkatan dengan campur tangan bank sentral
0.50 Pengangkatan oleh pihak eksekutif dan legislatif
0.25 Pengangkatan oleh pihak eksekutif secara kolektif
0.00 Pengangkatan oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

54
Lampiran 2
Cara Mengukur Tingkat Independensi Bank Sentral

(c) Kualifikasi
1.00 Beberapa kualifikasi diperlukan
0.00 Kualifikasi tidak diperlukan

(d) Masa Jabatan


1.00 Lebih dari delapan tahun
0.50 Antara lima dan delapan tahun
0.00 Kurang dari lima tahun

(e) Pemberhentian
1.00 Keamanan penuh masa jabatan
0.75 Pemberhentian dengan campur tangan bank sentral
0.50 Pemberhentian oleh pihak eksekutif dan legislatif
0.25 Pemberhentian oleh pihak eksekutif secara kolektif
0.00 Pemberhentian oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

(f) Pengangkatan Kembali


1.00 Tidak bisa diangkat kembali
0.50 Bisa diangkat kembali satu kali
0.00 Bisa diangkat kembali

(g) Posisi Lain


1.00 Tidak diperbolehkan menduduki posisi lain
0.00 Diperbolehkan menduduki posisi lain

55
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

(ii) Sub-gubernur
(bobot 0.20)

(a) Pengangkatan
1.00 Pengangkatan oleh bank sentral sendiri
0.75 Pengangkatan dengan campur tangan bank sentral
0.50 Pengangkatan oleh pihak eksekutif dan legislatif
0.25 Pengangkatan oleh pihak eksekutif secara kolektif
0.00 Pengangkatan oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

(b) Pengusulan
1.00 Pengangkatan oleh bank sentral sendiri
0.75 Pengangkatan dengan campur tangan bank sentral
0.50 Pengangkatan oleh pihak eksekutif dan legislatif
0.25 Pengangkatan oleh pihak eksekutif secara kolektif
0.00 Pengangkatan oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

(c) Kualifikasi
1.00 Beberapa kualifikasi diperlukan
0.00 Kualifikasi tidak diperlukan

(d) Masa Jabatan


1.00 Lebih dari delapan tahun
0.50 Antara lima dan delapan tahun
0.00 Kurang dari lima tahun

(e) Pemberhentian
1.00 Keamanan penuh masa jabatan

56
Lampiran 2
Cara Mengukur Tingkat Independensi Bank Sentral

0.75 Pemberhentian dengan campur tangan bank sentral


0.50 Pemberhentian oleh pihak eksekutif dan legislatif
0.25 Pemberhentian oleh pihak eksekutif secara kolektif
0.00 Pemberhentian oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

(f) Pengangkatan Kembali


1.00 Tidak bisa diangkat kembali
0.50 Bisa diangkat kembali satu kali
0.00 Bisa diangkat kembali

(g) Posisi Lain


1.00 Tidak diperbolehkan menduduki posisi lain
0.00 Diperbolehkan menduduki posisi lain

(h) Pengangkatan berkala


1.00 Pengangkatan dilakukan berkala
0.00 Pengangkatan dilakukan bersama-sama

(iii) Anggota Dewan Gubernur


(bobot 0.20)

(a) Pengangkatan
1.00 Pengangkatan oleh bank sentral sendiri
0.75 Pengangkatan dengan campur tangan bank sentral
0.50 Pengangkatan oleh pihak eksekutif dan legislatif
0.25 Pengangkatan oleh pihak eksekutif secara kolektif
0.00 Pengangkatan oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

57
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

(b) Pengusulan
1.00 Pengangkatan oleh bank sentral sendiri
0.75 Pengangkatan dengan campur tangan bank sentral
0.50 Pengangkatan oleh pihak eksekutif dan legislatif
0.25 Pengangkatan oleh pihak eksekutif secara kolektif
0.00 Pengangkatan oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

(c) Kualifikasi
1.00 Beberapa kualifikasi diperlukan
0.00 Kualifikasi tidak diperlukan

(d) Masa Jabatan


1.00 Lebih dari delapan tahun
0.50 Antara lima dan delapan tahun
0.00 Kurang dari lima tahun

(e) Pemberhentian
1.00 Keamanan penuh masa jabatan
0.75 Pemberhentian dengan campur tangan bank sentral
0.50 Pemberhentian oleh pihak eksekutif dan legislatif
0.25 Pemberhentian oleh pihak eksekutif secara kolektif
0.00 Pemberhentian oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

(f) Pengangkatan Kembali


1.00 Tidak bisa diangkat kembali
0.50 Bisa diangkat kembali satu kali
0.00 Bisa diangkat kembali

58
Lampiran 2
Cara Mengukur Tingkat Independensi Bank Sentral

(g) Posisi Lain


1.00 Tidak diperbolehkan menduduki posisi lain
0.00 Diperbolehkan menduduki posisi lain

(h) Pengangkatan berkala


1.00 Pengangkatan dilakukan berkala
0.00 Pengangkatan dilakukan bersama-sama

(i) Wakil Pemerintah


1.00 Tidak ada wakil Pemerintah di dewan gubernur
0.00 Ada wakil Pemerintah di dewan gubernur

(iv) Proses Pengambilan Keputusan Intern


(bobot 0.30)

(a) Pengambilan Keputusan


1.00 Pengangkatan oleh bank sentral sendiri
0.00 Pengangkatan oleh pimpinan eksekutif secara pribadi

(b) Instruksi
1.00 Bank sentral tidak menerima instruksi dari Pemerintah
0.00 Bank sentral menerima instruksi dari Pemerintah

(c) Wakil Pemerintah


1.00 Wakil Pemerintah tidak mempunyai hak veto
0.00 Wakil Pemerintah mempunyai hak veto

59
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

(d) Pendapatan
1.00 Bank sentral menetapkan sendiri pendapatannya
0.00 Pemerintah menetapkan pendapatan Dewan Gubernur

(e) Modal
1.00 Modal swasta 100%
0.50 Sebagian modal swasta
0.00 Tidak ada modal swasta

Economic independence
(bobot keseluruhan 0.50)

(i) Misi
1.00 Misi tunggal untuk menjaga kestabilan harga
0.50 Beberapa misi yang saling conflicting
0.00 Tidak ada pernyataan misi sama sekali

(ii) Kebijakan Moneter


1.00 Bank sentral menetapkan kebijakan moneter
0.50 Ada Keterlibatan bank sentral dalam kebijakan moneter
0.00 Pemerintah menetapkan kebijakan moneter

(iii) Suku Bunga


1.00 Bank sentral menentukan pergerakan suku bunga kunci
0.00 Pemerintah menentukan pergerakan suku bunga kunci

60
Lampiran 2
Cara Mengukur Tingkat Independensi Bank Sentral

(iv) Nilai Tukar


1.00 Bank sentral menetapkan paritas nilai tukar
0.00 Pemerintah menetapkan paritas nilai tukar

(v) Peraturan Perbankan


1.00 Bank sentral mengatur keseluruhan sektor perbankan
0.50 Bank sentral bertanggung jawab untuk mengatur bersama
0.00 Peerintah merupakan pengatur utama

(vi) Pinjaman Pemerintah


1.00 Bank sentral dilarang memberikan pinjaman Pemerintah
0.00 Bank sentral diwajibkan memberikan pinjaman
Pemerintah

(vii) Anggaran
1.00 Bank sentral berperan penting dalam proses anggaran
0.00 Pemerintah bertanggung jawab penuh mengenai anggaran

Setiap indikator economic independence dibobot sama


dan rata-ratanya diambil

61
KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

Lampiran 3
Penghitungan Independensi Bank Indonesia
1968 - 1999

Political independence 1968 1999

(i) Gubernur
Pengangkatan 0.00 0.50
Pengusulan 0.00 0.00
Kualifikasi 1.00 1.00
Masa Jabatan 0.50 0.50
Pemberhentian 0.00 1.00
Pengangkatan Kembali 0.50 0.50
Posisi Lain 1.00 1.00
Total 3.00 4.50
Rata-rata 0.43 0.64

(ii) Sub-gubernur
Pengangkatan 0.00 0.50
Pengusulan 0.00 0.00
Kualifikasi 1.00 1.00
Masa Jabatan 0.50 0.50
Pemberhentian 0.00 1.00
Pengangkatan Kembali 0.50 0.50
Posisi Lain 1.00 1.00
Pengangkatan Bertahap 1.00 1.00
Total 4.00 5.50
Rata-rata 0.50 0.69

(iii) Anggota Dewan Gubernur


Pengangkatan 0.00 0.50
Pengusulan 0.00 1.00
Kualifikasi 1.00 1.00
Masa Jabatan 0.50 0.50

62
Lampiran 3
Penghitungan Independensi Bank Indonesia 1968 - 1999

Pemberhentian 0.00 1.00


Pengangkatan Kembali 0.50 0.50
Posisi Lain 1.00 1.00
Pengangkatan Bertahap 1.00 0.50
Wakil Pemerintah 1.00 1.00
Total 5.00 7.00
Rata-rata 0.55 0.78

(iv) Proses Pengambilan Keputusan Intern


Pengambilan Keputusan 1.00 1.00
Instruksi 0.00 1.00
Wakil Pemerintah 1.00 1.00
Pendapatan 0.00 1.00
Modal 0.00 0.00
Total 2.00 4.00
Rata-rata 0.40 0.80
Jumlah rata-rata tertimbang 0.46 0.73
Political Independence tertimbang 0.23 0.37

Economic independence
Misi 0.50 1.00
Kebijakan Moneter 0.50 1.00
Suku Bunga 0.50 1.00
Nilai Tukar 0.50 1.00
Peraturan Perbankan 1.00 1.00
Pinjaman Pemerintah 0.00 1.00
Anggaran 0.00 1.00
Total 3.00 7.00
Rata-rata 0.43 1.00
Economic Independence tertimbang 0.22 0.50
Independensi keseluruhan 0.45 0.87

63

View publication stats