Anda di halaman 1dari 26

Tugas Akhir Semester

“RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN”


Dosen Pengampu : Inelda Yulita S.Pd.,M.Pd.

NURYANTI (NIM :160384204019)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2018
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah : SMA NEGERI TANJUNGPINANG


Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XI / 2 (Genap)
Materi Pokok : Konsep Asam Basa
Alokasi Waktu : 2 JP (2 x 45 menit)

A. Kompetensi Inti
 KI-1 dan KI-2:Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong
royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif
dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan,
keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan
regional, dan kawasan internasional”.
 KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
 KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak
secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator
3.10 Menjelaskan konsep asam dan 3.10.1 Menjelaskan pengertian asam dan basa
3.10.2 Menuliskan persamaan reaksi asam-basa
basa serta kekuatannya dan
3.10.3 Mengukur pH beberapa larutan asam
kesetimbangan pengionannya dan basa menggunakan indikator
dalam larutan universal
3.10.4 Menghubungkan kekuatan asam atau
basa dengan derajat ionisasi dan tetapan
kesetimbangan ionisasinya
3.10.5 Menghitung pH larutan asam dan basa
dari data konsentrasi
4.10 Menganalisis trayek perubahan 4.10.1 Melakukan percobaan membuat
pH beberapa indicator yang indicator asam basa dari bahan alam dan
diekstrak dari bahan alam melalui Menyajikan hasil percobaan
4.10.2 Melakukan diskusi menentukan pH
percobaan
suatu larutan asam dan basa

C. Tujuan Pembelajaran
Melalui model pembelajaran Problem Based Learning dengan menggali informasi
dari berbagai sumber belajar, melakukan percobaan sederhana dan mengolah informasi,
diharapkan siswa terlibat aktif selama proses balajar mengajar berlansung, memiliki
sikap ingin tahu, teliti dalam melakukan pengamatan dan bertanggung jawab dalam
menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat
menjelaskan pengertian asam dan basa, menuliskan persamaan reaksi asam dan basa,
mengukur pH beberapa larutan asam atau basa dengan menggunakan indicator universal,
menghubungkan kekuatan asam dan kekuatan basa dengan derajat ionisasinya,
menghitung pH larutan asam dan basa dari data konsentrasi serta menyajikan hasil
percobaan sederhana dengan membuat indicator sederhana dari bahan alam.

D. Materi Pembelajaran
1. Konsep asam dan basa serta kekuatannya
2. Kesetimbangan pengionannya dalam larutan
3. Trayek perubahan pH beberapa indicator

E. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan Pembelajaran : Saintifik
2. Model Pembelajaran : Problem Based Learning
3. Metode Pembelajaran : Ceramah, Tanya jawab, demontrasi, diskusi, dan
penugasan.
F. Media Pembelajaran
Media :
 Worksheet atau lembar kerja (siswa)
 LCD Proyektor
Alat/Bahan :
 Spidol, papan tulis
 Laptop dan infocus

G. Sumber Belajar
 Buku Kimia Kelas XI
 Buku atau sumber lain yang relevan,

H. Langkah-Langkah Pembelajaran
1. Pertemuan Ke-1 (2x 45 Menit)
Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)
Guru 1. Memberi salam dan berdoa sebelum pembelajaran
2. Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap
disiplin.
3. Mengkondisikan suasana belajar yang menyenangkan
4. Mengaitkan materi pembelajaran yang akan
dilakukan dengan pengalaman peserta didik dengan
materi sebelumnya.
5. Menyampaikan kompetensi dan tujuan yang akan
dicapai berkaitan dengan pengertian asam basa dan
penulisan reaksi kimia asam dan basa
6. Menyampaikan metode pembelajaran dan teknik
penilaian yang akan digunakan saat membahas materi
asam basa.

Kegiatan Inti ( 70 Menit )


Sintak Model Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran
Mengorientasi Pada Masalah Peserta didik memperhatikan dan menelaah beberapa
peristiwa dalam kehidupan sehari-hari yang disajikankan
lewat tayangan slide pada powerpoint. Contoh bahan
pengamatan berupa gambar dari asam dan memuat
beberapa pertanyaan saat melihat tayangan tersebut :
1. Saat makan buah mangga muda, jeruk nipis,
stroberri, atau belimbing, apa yang kalian rasakan?
Apa kandungan zat dalam buah tersebut sehingga berasa
masam?
Mengorganisasikan 1. Guru membagi siswa dalam
Kegiatan Pembelajaran beberapa kelompok (4-5 siswa).
2. Guru memberikan bahan diskusi
kepada siswa yaitu berupa
pertanyaan atau soal terkait
materi yang dipelajari.
 Pengertian asam dan basa?
 Jelaskan teori asam basa?
 Contoh reaksi asam basa?
 Kegunaan asam basa?

Membimbing penyelidikan dan 1. Siswa mendiskusikan jawaban dari pertanyaan guru


individu kelompok dengan mencari dari berbagai sumber.
2. Guru membimbing siswa pada saat diskusi,
dengan membantu siswa yang kesulitan dalam
merumuskan jawaban.

Mengembangkan Guru meminta perwakilan dari beberapa kelompok


dan menyajikan hasil karya untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan
kelas.
Menganalisi Guru memberikan evaluasi hasil presentasi siswa,
s memberi kesempatan siswa untuk berpendapat terkait
dan evaluasi materi tersebut.
proses
pemecahan
masalah
Kegiatan Penutup (10 Menit)
Guru 1. Untuk memberi penguatan, Guru meminta siswa
untuk menyimpulkan pembelajaran hari ini.
2. Guru menginformasikan rencana kegiatan
pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.
3. Pelajaran ditutup dengan berdoa bersama.
I. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
1. Teknik Penilaian (terlampir)
a. Sikap
- Penilaian Observasi
Penilaian observasi berdasarkan pengamatan sikap dan perilaku peserta didik
sehari-hari, baik terkait dalam proses pembelajaran maupun secara umum.
Pengamatan langsung dilakukan oleh guru. Berikut contoh instrumen penilaian
sikap
Aspek Perilaku yang
N Jumla Skor Kode
Nama Siswa Dinilai
o h Skor Sikap Nilai
BS JJ TJ DS
1 contoh 75 75 50 75 275 68,75 C
2 ... ... ... ... ... ... ...

Keterangan :
• BS : Bekerja Sama
• JJ : Jujur
• TJ : Tanggun Jawab
• DS : Disiplin

Catatan :
1. Aspek perilaku dinilai dengan kriteria:
100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Cukup
25 = Kurang
2. Skor maksimal = jumlah sikap yang dinilai dikalikan jumlah kriteria = 100 x
4 = 400
3. Skor sikap = jumlah skor dibagi jumlah sikap yang dinilai = 275 : 4 = 68,75
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)
5. Format di atas dapat diubah sesuai dengan aspek perilaku yang ingin dinilai
- Penilaian Diri
Seiring dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru kepada peserta didik,
maka peserta didik diberikan kesempatan untuk menilai kemampuan dirinya
sendiri. Namun agar penilaian tetap bersifat objektif, maka guru hendaknya
menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penilaian diri ini, menentukan
kompetensi yang akan dinilai, kemudian menentukan kriteria penilaian yang
akan digunakan, dan merumuskan format penilaiannya Jadi, singkatnya format
penilaiannya disiapkan oleh guru terlebih dahulu. Berikut Contoh format
penilaian :
N Tida Jumla Skor Kode
Pernyataan Ya
o k h Skor Sikap Nilai
Selama diskusi, saya ikut
1 serta mengusulkan 50
ide/gagasan.
Ketika kami berdiskusi,
2 setiap anggota mendapatkan 50
250 62,50 C
kesempatan untuk berbicara.
Saya ikut serta dalam
3 membuat kesimpulan hasil 50
diskusi kelompok.
4 ... 100

Catatan :
1. Skor penilaian Ya = 100 dan Tidak = 50
2. Skor maksimal = jumlah pernyataan dikalikan jumlah kriteria = 4 x 100 =
400
3. Skor sikap = (jumlah skor dibagi skor maksimal dikali 100) = (250 : 400) x
100 = 62,50
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)
5. Format di atas dapat juga digunakan untuk menilai kompetensi pengetahuan
dan keterampilan

- Penilaian Teman Sebaya


Penilaian ini dilakukan dengan meminta peserta didik untuk menilai temannya
sendiri. Sama halnya dengan penilaian hendaknya guru telah menjelaskan
maksud dan tujuan penilaian, membuat kriteria penilaian, dan juga menentukan
format penilaiannya. Berikut Contoh format penilaian teman sebaya:

Nama yang diamati : ...


Pengamat : ...

N Tida Jumla Skor Kode


Pernyataan Ya
o k h Skor Sikap Nilai
Mau menerima pendapat
1 100
teman.
Memberikan solusi terhadap
2 100
permasalahan.
Memaksakan pendapat 450 90,00 SB
3 sendiri kepada anggota 100
kelompok.
4 Marah saat diberi kritik. 100
5 ... 50

Catatan :
1. Skor penilaian Ya = 100 dan Tidak = 50 untuk pernyataan yang positif,
sedangkan untuk pernyataan yang negatif, Ya = 50 dan Tidak = 100
2. Skor maksimal = jumlah pernyataan dikalikan jumlah kriteria = 5 x 100 =
500
3. Skor sikap = (jumlah skor dibagi skor maksimal dikali 100) = (450 : 500) x
100 = 90,00
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)

Penilaian Jurnal (Lihat lampiran)

b. Pengetahuan
- Tertulis Uraian dan atau Pilihan Ganda (Lihat lampiran)
- Tes Lisan/Observasi Terhadap Diskusi, Tanya Jawab dan Percakapan
Praktek Monolog atau Dialog
Penilaian Aspek Percakapan
Skala
N Jumla Skor Kode
Aspek yang Dinilai 10
o 25 50 75 h Skor Sikap Nilai
0
1 Intonasi
2 Pelafalan
3 Kelancaran
4 Ekspresi
5 Penampilan
6 Gestur

c. Keterampilan
- Penilaian Unjuk Kerja
Contoh instrumen penilaian unjuk kerja dapat dilihat pada instrumen penilaian
ujian keterampilan berbicara sebagai berikut:

Instrumen Penilaian
Kuran
N Sangat Tidak
Baik g
Aspek yang Dinilai Baik Baik
o (75) Baik
(100) (25)
(50)
Kesesuaian respon dengan
1
pertanyaan
2 Keserasian pemilihan kata
Kesesuaian penggunaan tata
3
bahasa
4 Pelafalan

Kriteria penilaian (skor)


100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Kurang Baik
25 = Tidak Baik
Cara mencari nilai (N) = Jumalah skor yang diperoleh siswa dibagi jumlah skor
maksimal dikali skor ideal (100)

Instrumen Penilaian Diskusi


No Aspek yang Dinilai 100 75 50 25
1 Penguasaan materi diskusi
2 Kemampuan menjawab pertanyaan
3 Kemampuan mengolah kata
4 Kemampuan menyelesaikan masalah

Keterangan :
100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Kurang Baik
25 = Tidak Baik

2. Instrumen Penilaian (terlampir)


Pertemuan Pertama

3. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan


a. Remedial
Bagi peserta didik yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM),
maka guru bisa memberikan soal tambahan misalnya sebagai berikut :
1) Jelaskan tentang Sistem Pembagian Kekuasaan Negara!
2) Jelaskan tentang Kedudukan dan Fungsi Kementerian Negara Republik
Indonesia dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian!
3) Jelaskan tentang Nilai-nilai Pancasila dalam Penyelenggaraan
pemerintahan!
CONTOH PROGRAM REMIDI

Sekolah : ……………………………………………..
Kelas/Semester : ……………………………………………..
Mata Pelajaran : ……………………………………………..
Ulangan Harian Ke : ……………………………………………..
Tanggal Ulangan Harian : ……………………………………………..
Bentuk Ulangan Harian : ……………………………………………..
Materi Ulangan Harian : ……………………………………………..
(KD / Indikator) : ……………………………………………..
KKM : ……………………………………………..

Indikator
Nama Bentuk Nilai
N Nilai yang Keteranga
Peserta Tindakan Setelah
o Ulangan Belum n
Didik Remedial Remedial
Dikuasai
1
2
3
4
5
6
dst

b. Pengayaan
Guru memberikan nasihat agar tetap rendah hati, karena telah mencapai KKM
(Kriteria Ketuntasan Minimal). Guru memberikan soal pengayaan sebagai
berikut :
1) Membaca buku-buku tentang Nilai-nilai Pancasila dalam kerangka praktik
penyelenggaraan pemerintahan Negara yang relevan.
2) Mencari informasi secara online tentang Nilai-nilai Pancasila dalam
kerangka praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara
3) Membaca surat kabar, majalah, serta berita online tentang Nilai-nilai
Pancasila dalam kerangka praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara
4) Mengamati langsung tentang Nilai-nilai Pancasila dalam kerangka praktik
penyelenggaraan pemerintahan Negara yang ada di lingkungan sekitar.
Tanjungpinang,18 Desember 2018

Mengetahui
Kepala SMAN Tanjungpinang Guru Mata Pelajaran

NIP. NIP.

Catatan Kepala Sekolah


......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
........................................................
LAMPIRAN

1. Teori Asam-Basa Arrhenius

Teori ini digunakan dalam larutan dengan air sebagai pelarut. Teori ini merupakan teori
asam-basa modern yang pertama kali berkembang. Menurut teori ini, asam adalah suatu
bahan yang apabila dilarutkan di dalam air, menghasilkan ion H+ (ion hidrogen). Sebaliknya,
basa adalah suatu bahan yang apabila dilarutkan di dalam air, menghasilkan ion OH – (ion
hidroksida).

HCl(g) merupakan asam Arrhenius, sebab pada saat larut di dalam air, gas tersebut akan
terionisasi (membentuk ion) dengan melepaskan ion H+.

HCl(g) + H2O(l) → HCl(aq) → H+(aq) + Cl–(aq)

Menurut teori Arrhenius, natrium hidroksida diklasifikasikan ke dalam kelompok basa,


sebab pada saat larut, akan dihasilkan ion hidroksida.

NaOH(s) + H2O(l) → NaOH(aq) → Na+(aq) + OH–(aq)

Arrhenius juga mengelompokkan reaksi antara asam dan basa sebagai reaksi netralisasi,
sebab jika kita mencampurkan suatu larutan asam dengan suatu larutan basa, kita akan
mendapatkan larutan netral yang terdiri atas air dan garam.

HCl(aq) + NaOH(aq) → H2O(l) + NaCl(aq)

H+(aq) + Cl–(aq) + Na+(aq) + OH–(aq) → H2O(l) + Na+(aq) + Cl–(aq)

(Air terbentuk dari penggabungan ion hidrogen dan ion hidroksida; Persamaan ion bersih
sama untuk semua reaksi asam-basa Arrhenius, yaitu H+(aq) + OH–(aq) → H2O(l).
Teori ini tetap digunakan, walaupun jarang. Sama seperti teori-teori lain, teori ini memiliki
beberapa keterbatasan. Sebagai contoh, reaksi fasa gas antara gas amonia dan gas hidrogen
klorida dalam wadah tertutup, berlangsung melalui persamaan reaksi berikut :

NH3(g) + HCl(g) → NH4+ + Cl– → NH4Cl(s)

Dua gas yang tidak berwarna bercampur, dan kemudian menghasilkan padatan putih
amonium klorida. Ion di dalam persamaan reaksi ini menunjukkan peristiwa yang
sesungguhnya terjadi; HCl memberikan ion H+-nya kepada amonia. Pada dasarnya ini
merupakan hal yang sama seperti yang terjadi pada reaksi HCl dengan NaOH. Sebaliknya,
reaksi yang melibatkan amonia tidak dapat dikelompokkan ke dalam reaksi asam-basa, sebab
reaksi tersebut tidak terjadi di dalam air dan tidak melibatkan ion hidroksida. Oleh karena itu,
untuk menerangkan proses yang terjadi pada amonia, suatu teori asam-basa baru
dikembangkan, yaitu teori asam-basa Bronsted-Lowry.

2.Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry

Teori ini menggunakan konsep memberi dan menerima ion hidrogen. Teori Bronsted-
Lowry berusaha mengatasi keterbatasan teori Arrhenius dengan mendefinisikan asam
sebagai penyumbang (donor) proton (ion H+) dan basa sebagai penerima (akseptor) proton
(ion H+). Basa menerima ion H+ dengan melengkapi satu pasang elektron bebas untuk
membentuk ikatan kovalen koordinasi (datif).

Pada reaksi antara NH3 dengan HCl, spesi HCl bertindak sebagai pemberi proton, atau
sebagai asam. Sedangkan amonia sebagai penerima proton atau sebagai basa. Amonia
memiliki pasangan elektron bebas yang tidak berikatan yang dapat digunakan untuk
membentuk ikatan kovalen koordinasi (datif).

Menurut teori asam-basa Arrhenius, reaksi asam-basa merupakan reaksi netralisasi.


Namun, menurut teori asam-basa Bronsted-Lowry, reaksi asam-basa merupakan reaksi
kompetisi untuk menangkap proton. Sebagai contoh, berikut adalah reaksi amonia dengan
air :

HN3)g) + H2O(l) → NH4OH(aq) <—> NH4+(aq) + OH–(aq)


Amonia merupakan basa (menangkap proton), sedangkan air merupakan asam
(memberikan proton) pada reaksi maju (dari kiri ke kanan). Tetapi, pada reaksi balik (dari
kanan ke kiri), ion amonium (NH4+) adalah asam, dan ion hidroksida (OH–) adalah basa. Jika
keasaman air lebih kuat dari ion amonium, maka konsentrasi ion amonium dan ion
hidroksida relatif besar pada saat kesetimbangan. Namun, sebaliknya, jika ion amonium
lebih asam dibandingkan air, maka jumlah amonia menjadi jauh lebih banyak
dibandingkan ion amonium pada saat kesetimbangan.

Bronsted-Lowry mengatakan bahwa jika suatu asam bereaksi dengan suatu basa,
pasangan asam-basa konyugasi dapat terbentuk. Pasangan asam-basa konyugasi dibedakan
oleh satu buah ion H+. Pada contoh di atas, NH3 adalah suatu basa, dan NH4+ adalah asam
konyugasinya. Di sisi lain, H2O adalah suatu asam, dan ion OH– adalah basa konyugasinya.
Pada reaksi di atas, ion OH– merupakan basa kuat, dan amonia merupakan basa lemah.
Akibatnya, kesetimbangan cenderung bergeser ke kiri. Dengan demikian, pada
kesetimbangan tidak terdapat banyak ion hidroksida.

Asam Kuat

Pada saat kita melarutkan gas hidrogen klorida ke dalam air, HCl tersebut akan bereaksi
dengan molekul air dan memberikan sebuah proton (ion H+) kepada molekul air.

HCl(g) + H2O(l) → H3O+(aq) + Cl–(aq)

Ion H3O+ disebut ion hidronium. Reaksi ini terjadi hingga kondisi sempurna, yang
berarti bahwa reaktan tetap berubah menjadi produk sampai semua habis digunakan. Pada
kasus ini, semua HCl terionisasi sempurna menjadi ion H3O+ dan ion Cl–, sehingga tidak ada
lagi HCl-nya. Asam seperti HCl, yang terionisasi 100% di dalam air, disebut asam kuat.
Sebagai catatan, bahwa air disini, bertindak sebagai basa, menerima proton dari hidrogen
klorida.

Asam kuat terionisasi sempurna, maka mudah untuk menghitung konsentrasi ion
hidronium dan ion klorida di dalam larutan jika kita mengetahui konsentrasi awal asam kuat
tersebut. Sebagai contoh, misalkan kita melarutkan gas HCl 0,1 mol ke dalam satu liter air.
Dengan demikian, konsentrasi HCl mula-mula adalah 0,1 mol/L (0,1 M). Kita dapat
menuliskan konsentrasi HCl 0,1 M dengan lambang [HCl] = 0,1 M. Senyawa HCl terionisasi
sempurna sesuai dengan persamaan reaksi berikut :

HCl(g) + H2O(l) → H3O+(aq) + Cl–(aq)

Berdasarkan persamaan reaksi di atas, terlihat bahwa setiap mol HCl yang terionisasi,
akan menghasilkan satu mol ion H 3O+ dan satu ion mol Cl–. Dengan demikian, konsentrasi
ion dalam larutan HCl 0,1 M adalah :

H3O+] = 0,1 M

[Cl–] = 0,1 M

Berikut adalah daftar asam kuat yang paling umum kita temukan dalam kehidupan
sehari-hari :

Nama Kimia Rumus Molekul


Asam Hidroklorat/Asam Klorida HCl
Asam Hidrobromat/Asam Bromida HBr
Asam Hidroiodat/Asam Iodida HI
Asam Nitrat HNO3
Asam Perklorat HClO4
Asam Sulfat (hanya ionisasi pertama) H2SO4

Asam sulfat disebut pula sebagai asam diprotik, sebab asam tersebut dapat memberikan
dua proton, tetapi hanya pada ionisasi pertama yang terjadi 100% secara sempurna. Asam-
asam lain yang ditampilkan dalam tabel merupakan asam monoprotik, sebab hanya
memberikan satu proton.

Basa Kuat

Menghitung konsentrasi ion hidroksida sangat mudah. Sebagai contoh, kita memiliki 1,5
mol/L (1,5 M) larutan NaOH. Larutan natrium hidroksida tersebut akan terdisosiasi
(pecah/terurai) sempurna menjadi ion-ion.

NaOH(aq) → Na+(aq) + OH–(aq)

Konsentrasi ion yang dihasilkan masing-masing 1,5 M.


Asam Lemah

Saat kita melarutkan asam asetat (CH3COOH) ke dalam air, yang akan terjadi adalah
asam tersebut akan bereaksi dengan molekul-molekul air, memberikan sebuah proton dan
membentuk ion hidronium (ion H3O+). Dalam hal ini, terjadi kesetimbangan, di mana kita
masih tetap memiliki sejumlah asam asetat yang tidak terionisasi (pada reaksi sempurna,
irreversible [lihat : Kesetimbangan Kimia], seluruh reaktan digunakan untuk membentuk
produk). Pada sistem kesetimbangan asam lemah, ion-ion berkesetimbangan dengan molekul
asam.

Reaksi yang terjadi antara asam asetat dengan air adalah sebagai berikut :

CH3COOH(aq) + H2O(l) <—> CH3COO–(aq) + H3O+(aq)

Asam asetat yang ditambahkan ke dalam air akan terionisasi sebagian. Pada reaksi
kesetimbangan ini, hanya sekitar 5% asam asetat yang terionisasi. Sementara 95% lainnya
masih dalam bentuk molekul. Jumlah ion hidronium (ion H3O+) yang diperoleh dalam larutan
asam yang tidak terionisasi sempurna jauh lebih sedikit dibandingkan yang diperoleh dari
asam kuat. Asam yang hanya terionisasi sebagian disebut asam lemah.

Menghitung konsentrasi ion hidronium pada asam lemah tidak sama dengan menghitung
pada larutan asam kuat, sebab tidak semua asam lemah yang larut dapat terionisasi. Untuk
menghitung konsentrasi ion hidronium, kita harus menggunakan konstanta kesetimbangan
untuk asam lemahnya (lihat : Kesetimbangan Kimia). Untuk larutan asam lemah, kita
menggunakan konstanta kesetimbangan asam lemah, Ka. Secara umum :

HA(aq) + H2O(l) <—> H3O+(aq) + A–(aq)

Nilai Ka untuk asam lemah tersebut adalah :

Ka = {[H3O+][A–]} / [HA]

Sebagai catatan, [HA] menunjukkan konsentrasi molar HA pada kesetimbangan, bukan


konsentrasi awal. Konsentrasi air tidak ditunjukkan pada persamaan Ka, sebab konsentrasi air
([H2O]) merupakan konstanta yang akan tergabung dengan Ka.
Berikut ini adalah tabel beberapa contoh asam lemah yang sering dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari beserta nilai Ka masing-masing asam lemah :

Nama Asam Rumus Kimia Ka Basa Konyugasi Kb


Asam Fluorida HF 7,1 x 10-4 F– 1,4 x 10-11
Asam Nitrit HNO2 4,5 x 10-4 NO2– 2,2 x 10-11
Asam Asetil C9H8O4 3,0 x 10-4 C9H7O4– 3,3 x 10-11
Salisilat (Aspirin)
Asam Format HCOOH 1,7 x 10-4 HCOO– 5,9 x 10-11
Asam Askorbat C6H8O6 8,0 x 10-5 C6H7O6– 1,3 x 10-10
(Vitamin C)
Asam Benzoat C6H5COOH 6,5 x 10-5 C6H5COO– 1,5 x 10-10
Asam Asetat CH3COOH 1,8 x 10-5 CH3COO– 5,6 x 10-10
Asam Sianida HCN 4,9 x 10-10 CN– 2,0 x 10-5
Fenol C6H5OH 1,3 x 10-10 C6H5O– 7,7 x 10-5

Sekarang kita kembali ke kesetimbangan asam asetat. Nilai K a untuk asam asetat adalah 1,8 x
10-5. Persamaan Ka ionisasi asam asetat adalah sebagai berikut :

Ka = 1,8 x 10-5 = {[H3O+][CH3COO–]} / [CH3COOH]

Kita dapat menggunakan nilai Ka ini untuk menghitung konsentrasi ion hidronium. Misalkan
diberikan larutan asam asetat 2 M. Kita ketahui bahwa konsentrasi awal asam asetat tersebut
adalah 2 M. Kita juga mengetahui bahwa sebagian kecil asam asetat tersebut telah terionisasi,
menghasilkan sedikit ion hidronium dan ion asetat. Melalui persamaan reaksi kesetimbangan
asam asetat, terlihat bahwa untuk setiap ion hidronium yang terbentuk, akan disertai pula
pembentukan ion asetat. Akibatnya, konsentrasi kedua ion tersebut sama. Kita dapat
memisalkan nilai [H3O+] dan [CH3COO–] masing-masing sebesar x M.

[H3O+] = [CH3COO–] = x M

Dengan demikian, untuk menghasilkan sebanyak x M ion hidronium dan ion asetat,
dibutuhkan asam asetat yang terionisasi sebanyak x M pula. Sehingga, kita dapat menuliskan
jumlah asam asetat yang tersisa pada saat kesetimbangan sebagai jumlah asam asetat mula-
mula, 2 M, dikurangi dengan yang mengalami ionisasi, sebesar x M.

[CH3COOH] = (2 – x) M
Pada kondisi umum, kita dapat menganggap nilai x sangat kecil dibandingkan dengan
konsentrasi asam lemah mula-mula. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa nilai 2 – x mendekati
2. Ini berarti bahwa kita dapat sering menganggap konsentrasi asam lemah pada saat
kesetimbangan sama dengan konsentrasi mula-mulanya. Persamaan konstanta
kesetimbangan asam lemah sekarang dapat dituliskan sebagai berikut :

Ka = 1,8 x 10-5 = {(x)(x)} / (2 – x) = {(x)(x) / (2)}

1,8 x 10-5 = (x)2 / 2

Selanjutnya kita dapat menentukan nilai x, yang sama dengan nilai [H3O+].

x2 = 1,8 x 10-5 x 2

x = (1,8 x 10-5 x 2)1/2 = 6 x 10-3

[H3O+] = 6 x 10-3 M

Salah satu cara untuk membedakan antara asam kuat dengan asam lemah adalah dengan
mencari nilai konstanta ionisasi asam (Ka). Jika asamnya memiliki nilai Ka, berarti asam
lemah. Jika tidak, berarti asam kuat.

Basa Lemah

Basa lemah juga bereaksi dengan air untuk mencapai sistem kesetimbangan. Amonia
merupakan salah satu basa lemah. Amonia dapat bereaksi dengan air untuk membentuk ion
amonium dan ion hidroksida.

NH3(g) + H2O(l) <—> NH4+(aq) + OH–(aq)

Seperti halnya asam lemah, basa lemah hanya terionisasi sebagian. Konstanta
kesetimbangan basa lemah adalah Kb. Kita menggunakannya sama persis seperti pada saat
kita menggunakan Ka (lihat pembahasan Asam Lemah di atas). Yang dicari pada basa lemah
adalah [OH–]-nya.
Berikut ini adalah tabel beberapa contoh basa lemah yang sering dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari beserta nilai Kb masing-masing basa lemah :

Nama Basa Rumus Kimia Kb Asam Konyugasi Ka


Etil Amina C2H5NH2 5,6 x 10-4 C2H5NH3+ 1,8 x 10-11
Metil Amina CH3NH2 4,4 x 10-4 CH3HN3+ 2,3 x 10-11
Amonia NH3 1,8 x 10-5 NH4+ 5,6 x 10-10
Piridina C5H5N 1,7 x 10-9 C5H5NH+ 5,9 x 10-6
Anilina C6H5NH2 3,8 x 10-10 C6H5NH3+ 2,6 x 10-5
Kafeina C8H10N4O2 5,3 x 10-14 C8H11N4O2+ 0,19
Urea CO(NH2)2 1,5 x 10-14 H2NCONH3+ 0,67

Ketika asam asetat bereaksi dengan air, air bertindak sebagai basa (atau sebagai
akseptor proton). Namun, pada saat air bereaksi dengan amonia, air bertindak sebagai asam
(atau sebagai donor proton). Ternyata, air dapat bertindak sebagai asam maupun sebagai basa,
tergantung bereaksi dengan zat apa. Zat yang dapat bertindak sebagai asam maupun sebagai
basa disebut amfoterik. Jika kita mencampurkan air dengan asam, air bertindak sebagai basa.
Begitu pula sebaliknya, saat mencampurkan air dengan basa, air bertindak sebagai asam.

Namun, dapatkah air bereaksi dengan dirinya sendiri? Ternyata, ya. Air dapat bereaksi
dengan dirinya sendiri. Dua molekul air dapat saling bereaksi, dengan cara yang satu
mendonorkan satu proton dan yang lain menerimanya. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut :

H2O(l) + H2O(l) <—> H3O+(aq) + OH–(aq)

Reaksi tersebut merupakan reaksi kesetimbangan (lihat : kesetimbangan Kimia). Konstanta


kesetimbangan yang dimodifikasi disebut Kw (yang menunjukkan konstanta disosiasi air).
W adalah water = air. Nilai Kw adalah 1,0 x 10-14 dan mengikuti persamaan berikut :

1,0 x 10-14 = Kw = [H3O+][OH–]

Pada air murni, persamaan reaksi ini menunjukkan bahwa nilai [H3O+] sama dengan [OH–].
Dengan demikian, nilai [H3O+] = [OH–] = 1 x 10-7 M. Nilai Kw selalu konstan (asalkan suhu
tidak berubah). Dengan nilai ini, kita dapat mengubah [H 3O+] menjadi [OH–], dan sebaliknya,
pada berbagai macam larutan (dengan pelarut air), tidak hanya pada air murni. Pada larutan
(dengan pelarut air), konsentrasi ion hidronium dan ion hidroksida jarang memiliki nilai yang
sama. Namun, dengan mengetahui konsentrasi salah satu ion, dan dengan nilai K w, kita dapat
menentukan konsentrasi ion lainnya.

Kembali kita membahas larutan 2 M asam asetat di atas. Kita mendapatkan [H 3O+] sama
dengan 6 x 10-3 M. Dengan demikian, kita memiliki cara untuk menghitung [OH –] di dalam
larutan tersebut dengan menggunakan rumus Kw.

Kw = 1,0 x 10-14 = [H3O+][OH–]

1,0 x 10-14 = (6 x 10-3) [OH–]

[OH–] = 1,0 x 10-14 / 6 x 10-3 = 1,7 x 10-12 M

Besarnya tingkat keasaman suatu larutan tergantung pada konsentrasi ion hidronium di dalam
larutan. Semakin asam suatu larutan, semakin besar konsentrasi ion hidronium di dalam
larutan tersebut. Dengan kata lain, larutan dengan [H3O+] sama dengan 1,0 x 10-2 M lebih
asam daripada larutan dengan [H3O+] yang sama dengan 1,0 x 10-7 M. Oleh karena
konsentrasi ion hidronium mupun ion hidroksida umumnya sangat kecil, Sores Sorensen,
pada tahun 1909, mengajukan cara praktis untuk menentukan tingkat keasaman larutan, yaitu
dengan skala pH. Skala pH adalah skala yang berdasarkan [H3O+], dikembangkan untuk
mempermudah penentuan tingkat keasaman larutan. Singkat kata, pH menunjukkan tingkat
keasaman relatif suatu larutan. pH didefinisikan sebagai minus logaritma (-log) [H3O+].
Secara matematis, rumus pH dapat dituliskan dalam persamaan berikut :

pH = – log [H3O+]

Berdasarkan konstanta disosiasi air (Kw), nilai [H3O+] pada air murni sama dengan 1,0 x 10 -
7
M. Dengan menggunakan persamaan matematika ini, kita dapat menghitung pH air.

pH = – log [H3O+]

pH = – log (1,0 x 10-7)

pH = – (-7)

pH = 7
Jadi, pH air sama dengan 7. Para kimiawan menyebut titik ini ( pH = 7) pada skala pH
sebagai posisi netral. Suatu larutan disebut asam jika memiliki [H 3O+] lebih besar dari air,
sehingga pHnya lebih kecil dari 7. Sebaliknya, suatu larutan disebut basa jika memiliki
[H3O+] lebih kecil dari air, sehingga pHnya lebih besar dari 7.

Larutan Asam : [H3O+] > 1,0 x 10-7 M ; pH < 7

Larutan Basa : [H3O+] <1,0 x 10-7 M ; pH > 7

Larutan Netral : [H3O+] = 1,0 x 10-7 M ; pH = 7

Skala pH pada dasarnya tidak ada batasnya. Kita dapat saja memiliki larutan dengan pH
kurang dari nol (misal : larutan HCl 10 M, memiliki pH = -1). Namun demikian, menurut
perjanjian, batas pH adalah dari nol (0) hingga 14, yang digunakan sebagai batas pH asam
lemah dan basa lemah, dan juga untuk larutan encer asam kuat dan basa kuat.

Nilai [H3O+] dari larutan asam asetat 2 M (lihat pembahasan Asam Lemah di atas) adalah 6 x
10-3 M. Larutan tersebut termasuk asam. pH larutan tersebut dapat dihitung dengan cara
sebagai berikut :

pH = – log [H3O+]

pH = – log (6 x 10-3)

pH = – (-2,22)

pH = 2,2

Persamaan lain, yang disebut pOH, dapat digunakan untuk menentukan pH suatu larutan.
Nilai pOH sama dengan logaritma negatif dari [OH–]. Kita dapat menghitung nilai pOH
suatu larutan sama seperti pada saat menghitung pH dengan menggunakan logaritma negatif
dari konsentrasi ion hidroksida. Jika kita menggunakan Kw dan bila kedua sisi logaritma
dinegatifkan, maka diperoleh :

Kw = 1,0 x 10-14 = [H3O+][OH–]

– log Kw = – log (1,0 x 10-14) = – log {[H3O+][OH–]}


pKw = 14 = pH + pOH

Persamaan pH + pOH = 14 mempermudah perhitungan pOH menjadi pH. Seperti halnya kita
mengubah [H3O+] ke pH, kita juga dapat melakukan perhitungan pH ke [H 3O+]. Untuk itu,
kita menggunakan persamaan antilog, sebagai berikut :

[H3O+] = 10-pH

Misalkan, darah manusia memiliki pH sekitar 7,3. Hal ini berarti, konsentrasi ion hidronium
dalam darah manusia adalah sekitar 10-7,3 = 5,01 x 10-8 M. Dengan cara yang sama, kita dapat
menghitung [OH–] dari pOH.

Berikut ini adalah tabel pH beberapa zat yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari :

Zat pH
Pembersih oven 13,8
Penghilang rambut 12,8
Amonia rumah tangga 11,0
Susu magnesia 10,5
Pemutih klor 9,5
Air laut 8,0
Darah manusia 7,3
Air murni 7,0
Susu 6,5
Kopi 5,5
Minuman ringan 3,5
Aspirin 2,9
Cuka 2,8
Jus jeruk 2,3
Asam aki mobil 0,8

Indikator adalah zat (pewarna organik) yang mengalami perubahan warna karena
keberadaan asam atau basa. Salah satu contoh ekstrak tanaman yang dijadikan sebagai
indikator asam-basa adalah kembang bokor. Jika tanaman ini tumbuh di tanah masam,
bunganya akan berwarna merah muda. Sebaliknya, jika tanaman ini tumbuh di tanah alkalin
(basa), bunganya akan berwarna biru. Selain kembang bokor, bahan lain yang telah lama
dikenal sebagai indikator asam-basa yang baik adalah kubis merah. Ekstrak kubis merah
dapat digunakan untuk menguji keasaman zat-zat. Saat dicampur dengan asam, cairan
tersebut berubah menjadi merah muda. Sedangkan, saat dicampur dengan basa, cairan
tersebut berubah menjadi hijau.
Di dalam ilmu kimia, indikator digunakan untuk menguji keberadaan asam atau basa. Para
kimiawan memiliki banyak indikator yang akan berubah pada perubahan kecil pH. Dua
indikator yang paling banyak digunakan adalah kertas lakmus dan fenolftalein.

Soal Pilihan Berganda

1. Yang dimaksud asam kuat adalah....

a. asam yang cepat melarutkan logam


b. asam yang dalam rumus kimianya banyak mengandung atom H
c. asam yang jika dilarutkan dalam air dapat menghantar arus listrik
d. asam yang dapat memerahkan lakmus biru
e. asam yang jika dilarutkan dalam air banhyak menghasilkan ion H+

2. Manakah dari zat-zat berikut jika larut dalam air bersifat asam menurut Arrhenius?

a. KOH d. NaNO3

b. KCl e. NaCl

c. H2SO4

3. Kalsium hidrida bereaksi dengan air berlebih membentuk...

a. CaO dan H2 d. Ca(OH)2 dan H2

b. Ca(OH)2 dan O2 e. CaO saja

c. Ca(OH)2 saja

4. Hasil pengujian pH beberapa air limbah dengan menggunakan beberapa larutan indikator
Larutan Rentang perubahan indikator Hasil pengujian

indikator Warna pH Limbah K Limbah L

Metil merah Merah – Kuning 4,2 – 6,3 Kuning Merah

BTB Kuning – Biru 6,0 – 7,6 Biru Kuning

Phenoftalein Tak berwarna - Merah 8,0 – 10,0 Tak berwarna Tak berwarna

Timol hijau Kuning – Biru 1,2 – 2,8 Biru Biru

Limbah K dan L memiliki pH berturut – turut...

a. 6,0 – 7,6 dan 2,8 – 6,0


b. 2,8 – 6,0 dan 6,3 – 7,6

c. 2,8 – 7,6 dan 4,2 – 8,0

d. 2,8 – 4,0 dan 7,6 – 8,0

e. 7,6 – 8,0 dan 2,8 – 4,2

5. Suatu larutan asam format (HCOOH) 0,1M mempunyai pH = 2. Derajat ionisasi asam ini adalah...

a. 0,001 d. 0,2

b. 0,01 e. 0,3

c. 0,1

6. Jika diketahui pH = -log [H+], maka pH larutan HCl 1,0 x 10-8 adalah....
a. 10 d. 7

b. 9 e. 6

c. 8

7. Larutan 0,74 gram Ca(OH)2 (Mr = 74) dalam 2 liter air mempunyai harga pH....

a. 2-log 4 d. 12 – log 4

e. 12 + log 4
b. 2 + log 4