Anda di halaman 1dari 215

1

A. Judul Penelitian: PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN


DIRECT INSTRUCTION UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN
KOMUNIKASI SISWA PADA MATERI ASAM BASA DI SMA NEGERI 1
BANGSAL MOJOKERTO
B. Bidang Kajian: Pendidikan Kimia
C. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting sekali untuk
diperhatikan semua bangsa terutama bangsa Indonesia. Suatu bangsa dikatakan
berkualitas salah satunya bisa dilihat dari aspek kemajuan pendidikannya.
Pendidikan mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi
individu dengan lingkungannya, baik secara formal sampai dengan suatu taraf
kedewasaan tertentu. Menurut permendikbud No. 64 tahun 2013, pendidikan
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk
merealisasikan fungsi pendidikan tersebut, maka setiap Negara berusaha untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara membuat kurikulum.
Berdasarkan Lampiran 1 Permendikbud RI Nomor 59 tahun 2014 tentang
Kurikulum 2013 SMA/MA, kurikulum 2013 dikembangkan dengan
penyempurnaan pola pikir antara lain: penguatan pola pembelajaran yang
berpusat pada siswa, penguatan pola pembelajaran interaktif, penguatan pola
pembelajaran aktif mencari, penguatan pola belajar sendiri dan kelompok,
penguatan pembelajaran berbasis multimedia, penguatan pola pembelajaran ilmu
pengetahuan jamak (multidisciplines), dan penguatan pola pembelajaran kritis.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa kurikulum dirancang untuk
memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi siswa dalam
mengembangkan kemampuan bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan
bertindak (Permendikbud Nomor 59 Tahun 2014). Salah satu keterampilan
bersikap yang perlu dikembangkan adalah keterampilan komunikasi.
Salah satu prinsip penting mengembangkan kurikulum adalah adanya
kesinambungan antara pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk
kehidupan bermasyarakat. Untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang
2

lebih baik diperlukan pengembangan kemampuan intelektual, kemampuan


berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan partisipasi.
Dalam kurikulum 2013 terdapat pula penjelasan bahwa kompetensi lulusan
yang diharapkan adalah adanya peningkatan keseimbangan soft skills dan hard
skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan
(Kemendikbud,2013).
Kimia merupakan salah satu mata pelajaran peminatan akademik yang
bertujuan mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan
kompetensi keterampilan (Permendikbud Nomor 59 Tahun 2014). Salah satu
materi pokok yang ada dalam kimia adalah materi asam basa. Berdasarkan hasil
pra penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Bangsal Mojokerto menunjukkan
bahwa sebanyak 56,25% dari 32 siswa menyatakan bahwa pelajaran kimia sulit
dipahami dan 53,13% dari 32 siswa sulit dalam mempelajari asam basa. Selain
data tersebut, hasil wawancara dengan guru bidang studi kimia ketuntasan pada
materi asam basa hanya 60% dari hasil ketuntasan belajar yang ditetapkan 75.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa banyak siswa masih merasa kesulitan untuk
memahami dan juga mencapai ketuntasan hasil belajar pada materi asam basa
dan perlu adanya suatu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada
materi asam basa. Kesulitan tersebut dapat diatasi dengan pembelajaran dalam
bentuk keterampilan untuk memahami konsep, yang dapat didukung dengan
adanya komunikasi aktif, baik komunikasi guru ke siswa, siswa ke guru, ataupun
antar siswa itu sendiri. Keterampilan yang dapat diajarkan adalah keterampilan
komunikasi.
Keterampilan komunikasi siswa menjadi komponen penting yang harus
diperhatikan. Hal ini sesuai dengan identifikasi yang dilakukan oleh Partnership
of 21st Century Learning (2007) yang menyatakan bahwa keterampilan yang
dibutuhkan di abad 21 adalah “The 4C (Critical Thinking, Communication,
Collaboration, dan Creativity)” yang salah satunya adalah Communication. Sehingga
dalam proses pembelajaran siswa juga perlu dibekali keterampilan komunikasi.
Keterampilan komunikasi mencakup keterampilan bertanya dan keterampilan
berpendapat.
3

Pada kenyataannya keterampilan komunikasi siswa di sekolah masih belum


dilatihkan secara maksimal. Hal ini, berdasarkan hasil pra penelitian yang
dilakukan sebanyak 62,5% dari 32 siswa merasa enggan untuk bertanya atau
menyumbangkan ide dalam proses pembelajaran dan 53,12% siswa masih ragu
dalam dalam menyampaikan pendapat di dalam kelas. Selain itu sebanyak 87,5%
siswa menyatakan bahwa guru lebih sering menggunakan penjelasan langsung
dan sebanyak 59,37% siswa menyatakan bahwa selama proses pembelajaran
kimia yang dianggap sulit tidak didukung oleh kegiatan praktikum. Dari hasil
angket tersebut dapat dilihat bahwa guru hanya aktif mentransfer pengetahuan
kepada siswa sedangkan siswa hanya pasif sehingga tidak dapat menumbuhkan
keterampilan-keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh siswa, salah satunya
adalah keterampilan komunikasi. Selain itu, metode pembelajaran yang
digunakan juga tidak menstimulus siswa untuk menggunakan keterampilan
komunikasi mereka khususnya secara lisan. Akibatnya proses komunikasi hanya
bersifat satu arah ketika proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan jurnal penelitian yang ditulis oleh Maryanti (2010), terdapat
suatu hubungan yang signifikan antara keterampilan komunikasi dengan
aktivitas belajar siswa. Pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila proses
komunikasi berjalan dengan lancar, dan sebaliknya proses pembelajaran berjalan
tidak baik jika proses komunikasi tidak berjalan dengan baik.
Dalam kegiatan pembelajaran hendaknya siswa dapat berinteraksi dengan
seluruh siswa yang ada di dalam kelas dan guru. Interaksi ini harus berlangsung
secara berkesinambungan sehingga guru tidak terlalu mendominasi kegiatan
pembelajaran yang berlangsung. Kesempatan interaksi dengan sesama siswa
akan lebih mengembangkan kemampuan siswa dalam mengomunikasikan ide
atau gagasannya mengenai materi yang akan dibahas. Dengan interaksi siswa
dapat membangun pengetahuan secara aktif, pembelajaran berlangsung secara
interaktif, inspirtif, menyenangkan, dan dapat memotivasi siswa sehingga
mencapai hasil belajar maksimal. Oleh karena itu perlu adanya model
pembelajaran yang mampu meningkatkan penguasaan konsep dan keaktifan
siswa selama proses pembelajaran.
4

Dalam proses pembelajaran pada materi asam basa tidak hanya mengacu
dalam satu model pembelajaran tetapi dapat menggunakan lebih dari satu model
pembelajaran dalam materi asam basa. Hal ini dapat memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri agar informasi
yang diperoleh menjadi lebih bermakna dan akan masuk pada memori jangka
panjang. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kooperatif dan direct instruction.
Permendikbud nomor 24 Tahun 2016 tentang kompetensi inti dan kompetensi
dasar pada kurikulum 2013 menyatakan bahwa materi asam basa yang harus
dicapai oleh siswa meliputi pokok bahasan kekuatan dan kesetimbangan
pengionannya dalam larutan dan penentuan sifat larutan asam dan basa melalui
beberapa indikator. Pokok bahasan materi ini perlu diajarkan tahap demi tahap
yang bersifat prosedural dan deklaratif sampai siswa memahaminya. Salah satu
model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik sub materi tersebut adalah
direct instruction. Direct instruction merupakan salah satu model mengajar yang
dirancang secara khusus untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang
pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif dengan baik, yang dapat
diajarkan selangkah demi selangkah (Nur, 2011).
Menurut Sari, Sucikartika (2014) dalam jurnal penelitiannya pada pokok
bahasan kekuatan dan kesetimbangan pengionannya dalam larutan perlu
diajarkan dengan model pengajaran langsung pendekatan deklaratif karena pada
pokok bahasan kekuatan dan kesetimbangan pengionnya dalam larutan siswa
diharapkan dapat menyelesaikan berbagai perhitungan sesuai dengan tahap-
tahap atau langkah-langkah yang telah diberikan sampai siswa memahaminya.
Dan penentuan sifat larutan asam dan basa melalui beberapa indikator perlu
diajarkan dengan model pengajaran langsung pendekatan prosedural karena
pada pokok bahasan ini dilakukan dengan kegiatan praktikum dengan tujuan
siswa dapat mengetahui sifat larutan asam dan basa melalui beberapa indikator
sesuai dengan tahap-tahap atau langkah-langkah percobaan yang telah diberikan
sampai siswa memahaminya.
5

Melalui pendekatan deklaratif dan prosedural ini siswa dapat meningkatkan


hasil belajar karena melalui model direct instruction siswa dituntut untuk
memperhatikan guru seacara seksama, namun kondisi kelas dibuat agar
keterlibatan siswa lebih menonjol, dengan kondisi seperti ini siswa akan lebih
mudah dan lebih cepat memahami materi. Selain itu direct instruction juga dapat
melatihkan keterampilan komunikasi, yakni keterampilan berpendapat dan
bertanya dalam forum kelas.
Untuk sub pokok bahasan materi teori asam basa dan trayek pH dapat
diajarkan melalui model pembelajaran kooperatif. Dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif, diharapkan siswa dapat saling membantu, berdiskusi,
dan beragumentasi untuk menyelesaikan permasalahan. Tiga aspek itu yang
nantinya akan mengasah kemampuan bersosialisasi di masyarakat (Slavin, 2009).
Pemilihan model pembelajaran kooperatif juga didasarkan adanya perbedaan,
misalnya tingkat akademik siswa dan jenis kelamin siswa dalam kelas untuk
mencapai tujuan bersama. Dengan demikian dapat memberikan peluang kepada
siswa yang berkemampuan rendah untuk dapat meningkatkan kemampuannya
karena termotivasi oleh siswa lain yang mempunyai kemampuan lebih tinggi.
Salah satu tipe model kooperatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah
model pembelajaran tipe Numbered Head Together (NHT). Arends (2012)
mengatakan terdapat 4 tahap dalam tipe ini yaitu Numbering, Questioning, Head
Together, dan Answering. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat
digunakan untuk mengetahui keterampilan sosial siswa khususnya keterampilan
komunikasi yang meliputi berpendapat dan bertanya siswa selama proses
pembelajaran (Arends, 2012). Pada tahap bertanya dan berpendapat siswa dapat
mendominasi proses pembelajaran, dimana guru akan menunjuk satu nomor
yang mewakili kelompoknya untuk menjawab pertanyaan dari guru tanpa
dibertahu sebelumnya siapa yang akan mewakili kelompoknya , sehingga setiap
anggota kelompok sama-sama memiliki tanggung jawab untuk siap menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh guru.
Menurut Kusumaningrum (2010) dalam penelitiannya mengenai penerapan
model pengajaran langsung dan model pembelajaran kooperatif didapatkan
6

ketuntasan klasikal dengan presentase 91,89%. Menurut Sharfina, S Cita (2016)


dalam jurnal penelitiannya menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi siswa
sangat baik. Terdapat 88,46% siswa memiliki keterampilan berpendapat baik, dan
11,54% siswa memiliki memiliki keterampilan pendapat cukup baik. Terdapat
73,08% siswa memiliki keterampilan bertanya baik, dan 26,92% siswa memiliki
keterampilan bertanya cukup baik melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, peneliti mengambil judul
penelitian: “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN
DIRECT INSTRUCTION UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN
KOMUNIKASI SISWA PADA MATERI ASAM BASA DI SMA NEGERI 1
BANGSAL MOJOKERTO”
D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka permasalahan
yang dapat diambil dari penelitian ini adalah
1. Bagaimana keterlaksanaan sintak model pembelajaran kooperatif dan model
direct instruction pada materi asam basa?
2. Bagaimana aktivitas siswa selama pembelajaran dengan penerapan model
kooperatif dan model direct instruction pada materi asam basa?
3. Bagaimana ketuntasan hasil belajar siswa dengan penerapan model
pembelajaran kooperatif dan model direct instruction pada materi asam basa?
4. Bagaimana keterampilan komunikasi (bertanya dan berpendapat) siswa
selama pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif
dan direct instruction?
5. Bagaimana respon siswa setelah dilaksanakan model pembelajaran
kooperatif dan direct instruction pada materi asam basa?
E. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah
1. Mengetahui keterlaksanaan pembelajaran dengan penerapan model
pembelajaran kooperatif dan model direct instruction pada materi asam basa
merupakan tujuan yang penting karena digunakan untuk mengetahui
7

apakah guru sudah melaksanakan sintak-sintak pembelajaran dan untuk


mengetahui sejauh mana aspek ini mendukung tercapainya sintaks-sintaks
pembelajaran.
2. Mengetahui aktivitas siswa selama pembelajaran dengan penerapan model
kooperatif dan model direct instruction pada materi asam basa.
3. Mengetahui ketuntasan hasil belajar setelah dilatihkan dengan penerapan
model pembelajaran kooperatif dan model direct instruction pada materi
asam basa.
4. Mengetahui keterampilan komunikasi (bertanya dan berpendapat) siswa
selama pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif
dan direct instruction.
5. Mengetahui respon siswa setelah dilaksanakan model pembelajaran
kooperatif dan direct instruction pada materi asam basa.
F. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian yang diperoleh adalah
1. Bagi Siswa
a. Melatihkan keterampilan komunikasi siswa selama proses belajar
mengajar berlangsung.
b. Memberikan pengalaman baru yang dapat meningkatkan motivasi
siswa agar lebih aktif dalam proses pembelajaran berlangsung.
2. Bagi guru
a. Sebagai alternatif dan inovasi dalam pembelajaran khususnya pada
materi asam basa sehingga dapat menaikan profesionalisme dalam
mengajar.
b. Mengetahui pola dan strategi pembelajaran yang tepat dalam upaya
memperbaiki dan memudahkan mengajar materi asam basa.
3. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
terhadap pembelajaran model pembelajaran kooperatif dan direct
instruction.
8

G. DEFINISI OPERASIONAL
a. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT memiliki 4 tahap yaitu
Numbering, Questioning, Head Together, dan Answering. Pada proses
pembelajaran tahapan tersebut dimasukkan dalam fase kooperatif, di mana
tahap Numbering masuk ke dalam fase 3, tahap Questioning, Head Together
masuk ke dalam fase 4 dan Answering masuk dalam fase 5. Pada tahap
Numbering siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil secara heterogen
dan setiap siswa mendapatkan topi dengan nomor yang berbeda dengan
masing-masing anggota tiap kelompok. Tahap Questioning guru
mengajukan pertanyaan yang harus dijawab tiap-tiap kelompok. Tahap
Head Together siswa diberikan waktu untuk menyatukan pendapat dalam
menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Tahap Answering guru
menyebutkan satu nomor tertentu dan siswa yang memakai topi bernomor
sama dengan yang disebutkan oleh guru harus mengangkat tangan, guru
kemudian menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan yang diberikan
oleh guru. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dilaksanakan selama
2 kali pertemuan pada pertemuan pertama dan keempat. Pada pertemuan
pertama digunakan untuk sub materi teori asam basa dan pertemuan
keempat digunakan untuk sub materi trayek pH.
b. Model pembelajaran direct instruction merupakan suatu model
pembelajaran yang dapat memperoleh informasi dengan diajarkan
selangkah demi selangkah. Model pembelajaran direct instruction
dilaksanakan selama 2 kali pertemuan dengan menggunakan dua
pendekatan yaitu deklaratif dan prosedural pada pertemuan kedua dan
ketiga. Pertemuan kedua menggunakan pendekatan prosedural pada sub
materi untuk mengetahui sifat larutan asam dan basa menggunakan kertas
lakmus dan indikator universal. Sedangkan pertemuan ketiga
menggunakan pendekatan deklaratif pada sub materi kekuatan asam dan
basa.
9

c. Keterlaksanaan sintaks pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head


Together (NHT) dan model pembelajaran direct instruction
Keterlaksanaan sintaks pembelajaran adalah kegiatan proses
pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan tahap-tahap pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head
Together (NHT) dan model pembelajaran direct instruction.
Keterlaksanaan sintaks model pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Head Together (NHT) dan model pembelajaran direct instruction dapat
diketahui dengan melakukan pengamatan 2 orang pengamat dengan
menggunakan lembar pengamatan keterlaksanaan pembelajaran. Sintaks
model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) terdiri
dari menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, menyajikan informasi,
penomoran, mengajukan pertanyaan permasalahan, berpikir bersama,
menjawab (evaluasi) dan memberikan penghargaan. Dan sintaks model
pembelajaran direct instruction terdiri dari menyampaikan tujuan
pembelajaran dan mempersiapkan siswa, mendemonstrasikan ilmu
pengetahuan dan keterampilan, memberikan latihan terbimbing,
mengecek pemahaman siswa dalam memberikan umpan balik,
memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.
Keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan direct
instruction dikatakan baik jika semua aspek atau kegiatan terlaksana
dengan kualitas keterlaksanaan dengan skor sebesar ≥ 61%
d. Aktivitas Siswa
Aktivitas siswa yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan tingkah
laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Semua aktivitas
siswa yang diisi oleh 5 orang pengamat. Lembar aktivitas siswa yang
diamati setiap pertemuan. Aspek-aspek yang diamati dalam aktivitas
siswa menyesuaikan selama kegaiatan pembelajaran berlangsung.
Aktivitas siswa dikatakan terlaksana dengan baik dan mendukung
keaktifan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together
(NHT) dan direct instruction dalam melatihkan keterampilan komunikasi,
10

apabila presentase aktivitas relevan yang dilakukan siswa sebesar ≥ 61%


relevan dengan pembelajaran.
e. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa
Ketuntasan hasil belajar siswa dinyatakan tuntas bila kelas tersebut
telah mencapai ketuntasan secara klasikal. Ketuntasan individu diperoleh
apabila hasil posttest siswa telah memenuhi standar KKM yang ditetapkan
oleh sekolah, yakni ≥75. Sementara untuk ketuntasan klasikal diperoleh
apabila minimal 75% jumlah siswa di kelas telah tuntas secara individu
atau memenuhi KKM.
f. Keterampilan Komunikasi Siswa
Keterampilan komunikasi siswa dalam penelitian ini dikhususkan
untuk komunikasi verbal (lisan) yang diukur melalui beberapa indikator
yaitu keterampilan berpendapat dan bertanya, baik secara kuantitas
maupun kualitas. Kualitas komunikasi siswa ini dinilai sesuai kualitas
berpendapat, yang dianalisis melalui analitis dan kelogisan berpendapat,
dan kualitas bertanya yang dianalisis dengan menggunakan tingkat
bertanya Taksonomi Bloom yaitu C1 sampai C6. Sedangkan kuantitas
komunikasi siswa ini dinilai berdasarkan banyaknya siswa yang
menyampaikan berpendapat dan bertanya. Keterampilan komunikasi
siswa pada penilitian ini diamati saat siswa bertanya dan berpendapat
dalam kelompok besar (kelas) dengan menggunakan lembar pengamatan
keterampilan bertanya dan berpendapat.
Pada saat pembelajaran direct instruction keterampilan komunikasi yang
diperoleh yaitu pada fase 1 (menyampaikan tujuan dan mempersiapkan
siswa), fase 2 (mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan) dan
fase 4 (mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik). Sedangkan
pada pembelajaran kooperatif tipe NHT keterampilan komunikasi yang
diperoleh yaitu pada fase 1 (menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa),
fase 2 (menyajikan informasi), fase 4 (membimbing kelompok bekerja dan
belajar) dan fase 5 (evaluasi). Keterampilan komunikasi dikatakan baik
apabila memiliki presentase ≥ 61%.
11

g. Respon Siswa
Respon siswa merupakan tanggapan siswa terhadap kegiatan
pembelajaran dengan model pembelajaran direct instruction dan kooperatif
tipe Numbered Head Together (NHT) dengan menggunakan instrumen
angket. respon siswa dapat dikatakan positif terhadap pembelajaran
apabila presentase kriteria respon siswa mencapai ≥ 61% dengan kategori
baik.
h. Materi asam basa
Materi dalam penelitian ini adalah materi asam basa. Materi ini
merupakan salah satu materi yang diajarkan di SMA Negeri 1 Bangsal
Mojokerto yang memiliki dua kompetensi dasar, yaitu:
3.10 Menganalisis sifat larutan berdasarkan konsep asam basa dan atau pH
larutan.
4.10 Mengajukan ide atau gagasan tentang penggunaan indikator yang
tepat untuk menentukan keasaman asam atau basa.
H. ASUMSI PENELITIAN
Beberapa hal yang diasumsi dalam penelitian ini adalah
1. Siswa mengerjakan soal pre-test dan post test dengan jujur dan bersungguh-
sungguh.
2. Pengamat dalam melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa
berusaha secara objektif mungkin dalam melakukan penelitian.
3. Siswa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan bersungguh-sungguh.
I. BATASAN MASALAH
1. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA NEGERI 1 Bangsal
Mojokerto yang akan mempelajari materi asam basa, dimana peneliti
menggunakan 1 kelas uji tanpa kelas pembanding.
2. Komponen keterampilan komunikasi yang menjadi fokus penelitian ini
adalah keterampilan berpendapat dan keterampilan bertanya dalam
kelompok besar (kelas).
3. Ketuntasan hasil belajar yang diperoleh siswa diperoleh melalui tes
individu yaitu dengan tes pengetahuan melalui pre test yang diberikan
12

sebelum melaksanakan pembelajaran dan post test setelah melaksanakan


pembelajaran.
4. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kooperatif
tipe Numbered Head Together (NHT) dan model pembelajaran direct
instruction.
13

J. KAJIAN PUSTAKA
1. Kurikulum 2013
Dalam suatu sistem pendidikan, kurikulum itu bersifat dinamis serta
harus selalu dilakukan perubahan, guna mengikuti perkembangan zaman.
Meskipun pada kenyataannya setiap kurikulum pasti memiliki kekurangan,
perlu di evaluasi dan diperbaiki agar tujuan dari pendidikan dapat tercapai
dengan baik.
Dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69
Tahun 2013, kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan faktor-faktor
sebagai berikut:
a. Tantangan internal yang terkait dengan tuntutan pendidikan yang
mengacu kepada delapan Standar Nasional Pendidikan.
b. Tantangan eksternal yang terkait dengan arus globalisasi dan lingkungan
hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industry kreatif
dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional.
c. Penyempurnaan pola pikir kurikulum sebagai berikut: 1) pola
pembelajaran berpusat pada guru, 2) pola pembelajaran interaktif
(interaktif guru-siswa-masyarakat-lingkungan alam, sumber/media
lainnya), pola pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif
mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan
sains).
Permendikbud No. 22 Tahun 2016 menyatakan bahwa Standar
Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah
sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan
pendidikan. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan
(proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas
“menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”.
Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami,
menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta”. Keterampilan
14

diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar,


menyaji, dan mencipta”.
Berdasarkan Permendikbud No. 81 A Tahun 2013 kurikulum 2013
tentang implementasi kurikulum bahwa strategi pembelajaran harus
diarahkan untuk memfasilitasi pencapaian kompetensi yang telah dirancang
dalam dokumen kurikulum agar setiap individu mampu menjadi pembelajar
mandiri sepanjang hayat dan yang pada gilirannya mereka menjadi
komponen penting untuk mewujudkan masyarakat belajar. Siswa juga
didorong untuk menemukan sendiri dan mentransferkan informasi baru
yang sudah ada dalam ingatannya dan melakukan pengembangan menjadi
informasi.
Dalam pembelajaran kurikulum 2013 ada dua proses pembelajaran
yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran tidak langsung.
Pembelajaran langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut
KD yang dikembangkan dari KI-3 dan KI-4. Keduanya dikembangkan secara
bersamaan dalam suatu proses pembelajaraan dan menjadi wahana untuk
mengembangkan KD pada KI-1 dan KI-2. Pembelajaran tidak langsung
berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan
dari KI-1 dan KI-2 (Permendikbud No. 81 A, 2013).
2. Model Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Cooperative Learning menurut Slavin (2009) merujuk pada berbagai
macam model pembelajaran dimana para siswa bekerja sama dalam
kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari berbagai tingkat prestasi, jenis
kelamin, dan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu satu
sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para
siswa diharapkan saling membantu, saling mendiskusikan, dan
beragumentasi untuk mengasah pengetahuan yang dikuasai saat itu.
Model pembelajaran koopratif merupakan model yang khas daripada
model-model pembelajaran yang lainnya karena model pembelajaran
kooperatif menggunakan struktur, tujuan, dan tugas yang berbeda untuk
15

mendukung proses pembelajaran siswa dalam menyelesaikan masalah


(Suprijono, 2011).
Nur (2011) mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif
mempunyai tiga tujuan, yaitu:
1) Hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif dapat membantu
siswa untuk memahami konsep yang sulit sehingga dapat meningkatkan
kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik dan lebih lanjut dalam
meningkatkan hasil belajar.
2) Penerimaan terhadap perbedaan individu, efek dari pembelajaran
kooperatif adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda
ras, budaya, kelas social, kemampuan ataupun ketidakmampuan
sehingga dalam pembelajaran siswa belajar untuk menghargai satu sama
lain.
3) Pengembangan keterampilan sosial, keterampilan yang diajarkan dalam
kooperatif adalah kerjasama dan kolaborasi, sehingga siswa dapat
berkomunikasi dengan baik dengan lingkungan dimana saja mereka
berada. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran diskusi
biasa, dalam kooperatif konstribusi/kerjasama individu sangat
diutamakan dari keberhasilan kelompok.
b. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase Peran Guru

Fase 1 Guru menyampaikan tujuan


Menyampaikan tujuan dan pelajaran yang akan dicapai pada
memotivasi siswa kegiatan pembelajaran dan
menekankan pentingnya topik
yang akan dipelajari dan
memotivasi siswa belajar.
16

Fase Peran Guru


Fase 2 Guru menyajikan informasi atau
Menyajikan informasi materi kepada siswa dengan jalan
demonstrasi atau melalui bahan
bacaan.
Fase 3 Guru menjelaskan kepada siswa
Mengorganisasikan siswa bagaimana caranya membentuk
kedalam kelompok- kelompok belajar dan membimbing
kelompok kerja dan belajar setiap kelompok agar transisi
secara efektif dan efisien.
Fase 4 Guru membimbing kelompok-
Membimbing kelompok kelompok belajar pada saat mereka
kerja dan belajar mengerjakan tugas yang diberikan.
Fase 5 Guru mengavaluasi hasil belajar
Evaluasi tentang materi yang telah dipelajari
atau masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6 Guru mencari cara-cara untuk
Memberi penghargaan menghargai baik upaya maupun
hasil belajar individu dan
kelompok.
(Arends, 2012)
3. Model pembelajaran kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)
a. Pengertian model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together
(NHT)
Menurut Arends (2012) menyatakan bahwa model pembelajaran
NHT adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Kagan untuk
melibatkan banyak siswa dalam review berbagai materi yang dibahas
dalam sebuah pelajaran dan untuk memeriksa pemahaman siswa tentang
isi pelajaran itu. NHT merupakan upaya yang sangat baik untuk
meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok.
17

Arends (2012) mengatakan bahwa model pembelajaran NHT memiliki 4


langkah sebagai berikut :
1) Langkah 1 – Numbering
Pada tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa tim
beranggotakan tiga sampai lima orang dan memberi nomor sehingga
setiap siswa pada masing-masing tim memiliki nomor 1 sampai 5.
2) Langkah 2 – Questioning
Di tahap ini guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa
dengan pertanyaan yang bervariasi. Pertanyaan bisa bersifat spesifik,
umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula.
3) Langkah 3 – Heads Together
Siswa menyatukan jawabannya dengan berdiskusi dan
memastikan bahwa setiap anggota kelompoknya mengetahui
jawabannya.
4) Langkah 4 – Answering
Guru memanggil sebuah nomor dan siswa dari tiap-tiap kelompok yang
memiliki nomor tersebut mengangkat tangannya dan memberikan
jawaban di hadapan siswa yang lain.
b. Kelebihan dan Kekurangan Model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered
Head Together (NHT)
Menurut Nur (2011) yang menyatakan bahwa kelebihan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT yaitu menjadikan setiap siswa siap
karena ciri yang menonjol dalam model pembelajaran ini yaitu guru
menunjuk siswa yang mewakili kelompoknya, tanpa memberi tahu
terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya itu. Upaya ini juga
baik untuk meningkatkan tanggung jawab individu dalam diskusi
kelompok. Sedangkan kekurangan model kooperatif tipe NHT yaitu
kemungkinan nomor yang telah dipanggil akan dipanggil kembali oleh
guru sehingga tidak semua anggota kelompok-kelompok dipanggil oleh
guru.
18

4. Model Pembelajaran Direct Instruction


a. Pengertian Model Pembelajaran Direct Instruction
Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang
ditunjukkan untuk membantu siswa belajar pengetahuan dan
keterampilan dasar yang dapat diajarkan dengan cara langkah demi
langkah (Nur,2011).
Menurut Nur (2011) model pengajaran langsung didasari oleh teori
behaviorisme dan teori perilaku. Model pengajaran langsung telah
dirancang secara khusus untuk membelajarkan siswa tentang prosedural
yang dibutuhkan untuk melaksanakan keterampilan kompleks dan
sederhana serta pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan
dapat diajarkan secara langkah demi langkah. Pengetahuan deklaratif
adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural
adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Menurut Arends (2012) model pembelajaran langsung memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1) Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa
termasuk prosedur penilaian.
2) Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.
3) Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan
agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dan berhasil.
b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Langsung atau Direct Instruction
Tabel 2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Langsung atau
Direct Instruction
19

Fase Peran guru

Fase 1: Guru menyampaikan tujuan,


menyampaikan tujuan informasi latar belakang
pembelajaran dan pelajaran, mempersiapkan
mempersiapkan siswa. siswa untuk belajar.

Fase 2: Guru mendemonstrasikan


mendemonstrasikan keterampilan dengan benar
ilmu pengetahuan dan untuk memberikan informasi
keterampilan. dengan tahap demi tahap.

Fase 3: Guru merancang dan


Memberikan latihan memberikan bimbingan
terbimbing. pelatihan awal.

Fase 4: Mengecek apakah siswa


Mengecek pemahaman sudah berhasil melakukan
siswa dalam tugas dengan baik dan
memberikan umpan memberi umpan balik.
balik.
Fase 5: Guru mempersiapkan
Memberi kesempatan kesempatan melakukan
untuk pelatihan pelatihan lanjutan, khususnya
lanjutan dan penerapan pada situasi
penerapan. kompleks dan kehidupan
sehari-hari.

(Arends, 2012)

Menurut Daniel Mujis dan David Reynold (dalam Arends, 2012), kelima
fase pembelajaran langsung dapat dikembangkan sebagai berikut:
20

a) Directing. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada seluruh kelas


dan memastikan bahwa semua siswa mengetahui apa yang harus
dikerjakan dan menarik perhatian siswa pada poin-poin yang
membutuhkan perhatian khusus.
b) Instructing. Guru memberi informasi dan menstrukturisasikannya
dengan baik.
c) Demonstrating. Guru menunjukkan, mendeskripsikan dan membuat
model dengan menggunakan sumber serta display visual yang tepat.
d) Explanning and illustrating. Guru memberikan penjelasan-penjelasan
akurat dengan tingkat kecepatan yang tepat dan merujuk pada metode
sebelumnya.
e) Questioning and discussing. Guru bertanya dan memastikan keseluruh
siswa ikut ambil bagian. Guru mendengarkan dengan sesakma jawaban
siswa dan merespons secara konstruktif untuk mengembangkan belajar
siswa. Guru menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan
tertutup. Guru memastikan bahwa siswa dengan semua kemampuan
yang dimilikinya terlibat dan memberikan konstribusi di dalam diskusi.
Guru memberikan waktu kepada siswa untuk memikirkan jawabannya
sebelum siswa menjawab.
f) Consolidating. Guru memaksimalkan kesempatan menguatkan dan
mengembangkan apa yang sudah diajarkan melalui berbagai macam
kegiatan di kelas. Guru dapat pula memberi tugas-tugas yang
difokuskan dengan baik untuk dikerjakan dirumah.
g) Evaluating pupil’s responses. Guru mengevaluasi presentasi hasil kerja
siswa.
h) Summarizing. Guru merangkum apa yang telah diajarkan dan apa yang
telah dipelajari siswa selama dan menjelang akhir pelajaran.
c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Direct Instruction
1) Kelebihan
a) Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun
kecil.
21

b) Dapat digunakan untuk menekankan kesulitan-kesulitan yang


mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal tersebut dapat
diungkapkan.
c) Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan
keterampilan-keterampilan.
d) Demonstrasi memungkinkan siswa untuk berkonsentrasi pada
hasil-hasil dari suatu tugas. Hal ini penting terutama jika siswa tidak
memiliki kepercayaan diri atau keterampilan dalam melakukan
tugas tersebut.
e) Model pembelajaran langsung bergantung pada kemampuan
refleksi guru sehingga guru dapat terus menerus mengevaluasi dan
memperbaikinya. Model pembelajaran langsung yang menekankan
kegiatan mendengar (misalnya ceramah) dan mengamati (misalnya
demonstrasi) dapat membantu siswa yang cocok belajar dengan
cara-cara ini.
2) Kekurangan
a) Karena guru merupakan pusat dalam cara penyampaian ini, maka
kesuksesan pembelajaran ini bergantung pada guru. Jika guru tidak
tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias dan
terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya,
dan pembelajaran akan terhambat.
b) Dalam model pembelajaran langsung, sulit untuk mengatasi
perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat
pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan
siswa.
c) Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan
strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru
tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias, dan
terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya,
dan pembelajaran mereka akan terhambat.
22

5. Teori-Teori yang Mendukung Model Pembelajaran Kooperatif dan Direct


Instruction
a. Teori Konstruktivisme
Pembelajaran kooperatif merupakan penerapan pendekatan
konstruktivisme dalam pembelajaran, berdasarkan teori bahwa siswa lebih
mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka
saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya.
Konstruktivisme merupakan hasil dari gagasan Piaget dan Vygotsky yang
keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika
konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah dalam upaya
memahami informasi-informasi baru. Pengajaran konstruktuvisme ini
menuntut keaktifan siswa, dalam proses pembelajarannya guru hanya
sebagai penghubung atau fasilitator didalamnya.
Teori Vygotsky yang penting dalam konstruktivisme modern adalah
penekanan pada zona perkembangan terdekat atau Zone of proximal
development dimana siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu
berada dalam zona perkembangan terdekat mereka. Siswa yang sedang
bekerja dalam zona perkembangan terdekat mereka pada saat mereka
terlibat dalam tugas-tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri
tetapi dapat menyelesaikannya bila dibantu oleh teman sebaya mereka
atau orang yang lebih dewasa (Nur, 2000).
Berdasarkan prinsip-prinsip konstruktivis yang diuraikan di atas, jelas
bahwa belajar merupakan kegiatan aktif siswa membangun sendiri
pengetahuannya dalam kegiatan belajar, siswa sendiri yang bertanggung
jawab atas hasil belajarnya. Mereka sendiri yang membuat penalaran atas
apa yang dipelajari dengan cara mencari makna dengan membandingkan
apa yang telah diketahui dengan apa yang diperlukan dalam pengalaman
baru. Dalam proses ini, peran guru adalah membantu anak dalam
membuat hubungan antara apa yang dipelajari dengan apa yang sudah
diketahui.
23

b. Teori Elaborasi Kognitif


Menurut Slavin (2009) penelitian dalam psikologi kognitif telah
menemukan bahwa apabila informasi harus ditinggal dalam memori, siswa
harus terlibat dalam beberapa macam kegiatan restruktur atau elaborasi
atas suatu materi. Sebagai contoh, membuat hubungan ikhtisar atau outline
dari suatu pembelajaran merupakan kegiatan belajar yang lebih baik
daripada sekedar membuat catatan, karena ikhtisar atau outline
menghendaki siswa merorganisasi materi dan memilih materi yang
penting. Salah satu cara elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan
materi itu kepada siswa lain. Dalam hal ini ada yang menjadi pembicara
dan pendengar, antara pembicara dan pendengar akan lebih banyak
belajar. Bila dibandingkan dengan belajar sendiri, pembicara akan lebih
banyak belajar. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa siswa yang
menerima penjelasan yang telah dijabarkan akan mendapatkan satu
pelajaran lebih bila dibandingkan dengan belajar sendiri, tetapi tidak
sebanyak yang diperoleh siswa yang menerangkannya.
Menurut Nur (2011) Teori pembelajaran sosial menyatakan bahwa
sebagian besar dari apa yang dipelajari manusia itu diperoleh melalui
pengamatan terhadap orang lain. Sementara itu, teori pembelajaran sosial
mengadakan perbedaan antara pembelajaran (cara pengetahuan diperoleh)
dan kinerja (perilaku yang dapat diamati). Pembelajaran melalui
pengamatan atau observational learning merupakan proses tiga langkah:
a) Atensi yaitu siswa harus menaruh perhatian pada aspek-aspek penting
dari apa yang akan dipelajarinya.
b) Retensi yaitu siswa harus menyerap atau mengingat perilaku yang
dipelajarinya.
c) Produksi yaitu siswa harus dapat mengulang kembali atau
melaksanakan perilaku tersebut.
Prinsip-prinsip pembelajaran sosial apabila dikaitkan dalam perilaku
pembelajaran, maka akan muncul tindakan guru sebagai berikut:
24

a) Guru harus menggunakan strategi-strategi untuk membangkitkan


perhatian siswa.
b) Guru harus dapat memastikan bahwa pengamatan yang dilakukan
oleh siswa tidak terlalu kompleks.
c) Guru harus dapat mengaitkan keterampilan baru dengan
pengetahuan awal siswa.
d) Guru harus memberikan latihan guna memastikan penyerapan
jangka panjang. Pastikan munculnya sikap positif terhadap
keterampilan baru sehingga siswa akan termotivasi untuk
mengulang kembalai dan menggunakan perilaku baru itu.
(Nur,2011)
6. Keterampilan Komunikasi
a. Pengertian Komunikasi
Dalam proses belajar mengajar, komunikasi menjadi dasar terbentuknya
hubungan antar siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa. Melalui
komunikasi, siswa dapat membangun pengetahuan barunya, berdiskusi
dengan teman atau guru untuk menyelesaikan suatu masalah merupakan
cara berkomunikasi. Menyelesaikan suatu masalah diperlukan kemampuan
individu untuk menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki dengan
pengetahuan baru yang didapat akibat timbulnya komunikasi. Secara tidak
langsung informasi baru yang didapatkan dapat ditransfer dari memori
jangka pendek ke memori jangka panjang. Hal ini sesuai dengan teori
elaborasi yang mendasari komunikasi. Elaborasi menurut Slavin (2009)
merupakan suatu proses berpikir untuk memperoleh dan mengolah
pengetahuan baru untuk menghubungkannya dengan pengetahuan lama
yang telah dimiliki. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengeksplorasi
suatu materi dan menyampaikan ilmu baru yang siswa dapat secara lisan
atau tertulis. Sehingga terbentuk suatu proses komunikasi baik antar siswa
maupun guru dengan siswa.
25

b. Pengertian Keterampilan Komunikasi


Keterampilan komunikasi merupakan keterampilan untuk berinteraksi
dengan orang lain dalam ranah hubungan sosial. Keterampilan komunikasi
adalah salah satu bentuk dari keterampilan sosial atau social skill yang
merupakan keterampilan berinteraksi dengan orang lain dalam konteks
sosial maupun orang lain.
Menurut Johnson (dalam Ibrahim, 2000) mengemukakan hal-hal yang
termasuk dalam keterampilan sosial yaitu keterampilan untuk saling
mengenali dan membangun kepercayaan dengan individu lain,
kemampuan berkomunikasi secara tepat dan jelas dengan individu lain,
keterampilan untuk saling menerima dan membantu individu lain dan
keterampilan untuk saling mengatasi konflik dan masalah-masalah dalam
hubungan sosial. Keterampilan sosial memiliki fungsi sebagai sarana untuk
berhubungan baik dengan individu lain.
Keterampilan sosial juga termasuk dalam ranah keterampilan hidup
atau life skill. Menurut Samani (dalam Suyono dan Haryanto, 2011)
keterampilan hidup atau life skill di definisikan sebagai keterampilan yang
dimiliki seseorang untuk berani menghadapi masalah hidup dan kehidupan
dengan wajar dan secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan
solusi untuk memecahkan problema hidup tersebut. Keterampilan hidup
atau life skill diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu:
a. Keterampilan personal (personal skill)
b. Keterampilan sosial (social skill)
c. Keterampilan akademik (academic skill)
d. Keterampilan vokasional (vocational skill)
Keterampilan-keterampilan tersebut dapat ditunjukkan dengan cara
verbal (lisan) maupun non-verbal (tertulis).
c. Keterampilan Komunikasi dengan Cara Verbal (Lisan)
1) Keterampilan Berpendapat
Keterampilan komunikasi siswa dalam berpendapat dapat diukur
dari segi efektivitas isi pesan atau pendapat yang disampaikan. Suatu
26

komunikasi akan efektif apabila komponen-komponen yang menjadi


syarat terjadinya komunikasi saling mendukung. Menurut Vardiansyah
(2004) terdapat 4 komponen utama dalam komunikasi, yaitu
komunikator (orang yang menyampaikan pesan), saluran dan media
komunikasi, serta umpan balik. Agar pesan dapat diterima oleh
komunikan dan komunikasi yang berlangsung secara efektif, maka
komunikator harus memperhatikan hal-hal berikut:
a) Pesan atau informasi yang disampaikan oleh komunikator bersifat
komunikatif sehingga terjadi perubahan sikap dari orang yang diajak
komunikasi. Syarat yang perlu diperhatikan dalam hal ini antara lain
pemilihan kata yang lugas dan jelas juga menyusun kata yang baik
dan benar sehingga pesan atau informasi mudah dipahami (Cangara,
2007).
b) Pesan atau informasi yang disampaikan harus disusun dan dirancang
sedemikian rupa seperti membuat intonasi bahasa, serta gerakan-
gerakan non-verbal yang dapat menarik perhatian saat
berkomunikasi (Cangara, 2007).
c) Kesungguhan dalam menyampaikan pesan. Seorang komunikator
harus menunjukkan kesungguhan dalam membahas suatu topik
untuk menimbulkan kepercayaan pihak komunikan kepadanya
dengan cara menguasai pesan yang ingin disampaikan terlebih
dahulu (Cangara, 2007).
d) Pesan atau informasi yang disampaikan harus logis. Pesan yang
disampaikan harus dilandasi dengan fakta-fakta dan pendapat yang
bisa mendukung materi yang disajikan (Cangara, 2007).
2) Keterampilan Bertanya
Sanjaya (2006) menjelaskan bahwa secara umum bertanya
merupakan dianggap sebagai proses kognitif dan juga tindakan mental
untuk memperoleh pengetahuan. Selain itu, bertanya juga merupakan
refleksi dari keingintahuan seseorang dan juga salah indikator seseorang
berpikir. Oleh karena itu, bertanya dapat digunakan untuk mengecek
27

pemahaman siswa terhadap apa yang dipelajari dalam proses


pembelajaran.
Bertanya merupakan suatu proses belajar bagi siswa. Ketika belajar
untuk bertanya, maka siswa juga secara tidak langsung akan berlatih
untuk berpikir tingkat kekompleksan suatu pertanyaan. Ketika siswa
bertanya dengan suatu pertanyaan yang kompleks maka hal tersebut
akan memaksa siswa lain berpikir tingkat kekompleksan suatu
pertanyaan. Ketika siswa bertanya dengan suatu pertanyaan yang
kompleks maka hal tersebut akan memaksa siswa lain untuk berpikir
lebih untuk menjawab pertanyaan tersebut dan akhirnya akan
mengalami suatu pengalaman baru yang akan memberikan inspirasi
untuk memberikan pertanyaan yang lain. Untuk mengetahui tingkat
kekompleksan suatu pertanyaan dapat diukur berdasarkan tingkatan
bertanya Taksonomi Bloom.
Arends (2012) menjelaskan bahawa Taksonomi Bloom dibagi menjadi
dua dimensi, yaitu dimensi pengetahuan dan dimensi kognitif. Untuk
mengetahui keterampilan bertanya siswa, ranah Taksonomi Bloom yang
digunakan adalah dimensi proses kognitif.
1. Dimensi Pengetahuan
Dimensi pengetahuan ini mendeskripsikan berbagai tipe
pengetahuan dan mengorganisasikan pengetahuan menjadi
pengetahuan metakognitif. Kategori-kategori tersebut bergerak
mulai dari pengetahuan yang bersifat konkret (faktual) sampai yang
lebih abstrak (metakognitif).
2. Dimensi Proses Kognitif
Dimensi kognitif berisi enam kategori yaitu remember
(mengingat), understand (memahami), apply (menerapkan), analyze
(menganalisis), evaluate (mengevaluasi), dan create (menciptakan).
Dibawah ini dapat dilihat penjabaran dimensi proses kognitif
Taksonomi Bloom revisi.
28

Penjabaran dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif


Taksonomi Bloom Revisi dapat dilihat pada Tabel 3, berikut:
Tabel 3. Dimensi Pengetahuan dan Dimensi Proses Kognitif
Taksonomi Bloom Revisi
Kategori Proses Proses Kognitif
1. Remember (mengingat) Mengambil pengetahuan yang
1.1 Recognizing (mengenali) relavan dari ingatan jangka
1.2 Recalling (mengingat panjang.
kembali)
2. Understand (memahami) Mengkonstruksikan makna dari
2.1 Interpreting pesan-pesan instruksional,
(menginterpretasikan) termasuk komunikasi lisan,
2.2 Examplifying (memberi tulisan, dan grafis.
contoh)
2.3 Classifying
(mengklasifikasikan)
2.4 Summarizing
(merangkum)
2.5 Inferring
(menyimpulkan)
3. Apply Melaksanakan atau
(mengaplikasikan) menggunakan prosedur dalam
3.1 Executing situasi tertentu.
(melaksanakan)
3.2 Implementing
(mengimplementasikan)
29

Kategori Proses Proses Kognitif


4. Analyziz (menganalisis) Memecah materi menjadi bagian-
4.1 Differentiating bagian konstituen dan
(mendiferensiasikan) menentukan hubungan antara
4.2 Organizing satu bagian lain dan dengan
(mengorganisasikan) struktur atau maksud
keseluruhan.
5. Evaluate (mengevaluasi) Membuat keputusan
5.1 Checking (mengecek) berdasarkan kriteria atau
5.2 Critiquing (mengkritik) standar.
6. Create (menciptakan) Menyatukan berbagai elemen
6.1 Generating (melahirkan) untuk membentuk sebuah pola
6.2 Planning atau struktur baru.
(merencanakan)
6.3 Producing
(memproduksi)
(Krathwohl,2002)
Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa dimensi kognitif
memberikan skema klasifikasi untuk berbagai proses kognitif yang
mungkin termasuk dalam sebuah tujuan instruksional. Proses-proses
ini bergerak mulai dari yang sederhana yaitu mengingat sampai yang
lebih kompleks yaitu menciptakan. Mengingat berarti mengambil
pengetahuan yang relevan dari ingatan jangka panjang. Memahami
berarti mengkonstruksikan makna dari pesan-pesan instruksional,
termasuk komunikasi lisan, tulisan, dan grafis. Menerapkan berarti
melaksanakan atau menggunakan prosedur dalam situasi tertentu.
Menganalisis berarti memecah materi menjadi bagian-bagian dan
menentukan hubungan antara satu bagian dengan bagian lain dan
dengan struktur atau maksud keseluruhan. Mengevaluasi dan
menciptakan, dua kategori yang terletak dalam ujung kontinum yang
lebih kompleks, berarti membuat keputusan berdasarkan kriteria dan
30

menyatukan berbagai elemen untuk membentuk sebuah pola atau


struktur baru.
7. Hubungan Keterampilan Komunikasi dengan Kooperatif tipe NHT dengan
Direct Instruction
a. Hubungan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together
(NHT) dengan keterampilan komunikasi
Pada saat model Pembelajaran kooperatif tipe NHT keterampilan
komunikasi yang diperoleh yaitu pada fase 1 (menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa), fase 2 (menyajikan informasi), fase 4 (membimbing
kelompok bekerja dan belajar) dan fase 5 (evaluasi).
b. Hubungan Model Pembelajaran direct instruction dengan keterampilan
komunikasi
Pada saat pembelajaran direct instruction keterampilan komunikasi
yang diperoleh yaitu pada fase 1 (menyampaikan tujuan dan
mempersiapkan siswa), fase 2 (mendemonstrasikan pengetahuan atau
keterampilan) dan fase 4 (mengecek pemahaman dan memberikan umpan
balik).
8. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajar. Pengalaman belajar tidak hanya berfokus pada hasil
belajar, namun pada kemampuan yang lain termasuk keterampilan
komunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Gagne (dalam Sudjana, 2002)
yang mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar, yaitu:
a. Informasi verbal
b. Kecakapan intelektual
c. Strategi kognitif
d. Sikap
e. Keterampilan
Hasil belajar yang optimal banyak dipengaruhi oleh berbagai komponen
belajar mengajar. Menurut Muhibbin (2003) salah satu faktor yang
mempengaruhi hasil belajar siswa adalah keterampilan berkomunikasi.
31

Keterampilan komunikasi dalam penelitian ini berfokus pada bertanya dan


berpendapat. Hal ini sesuai dengan permendikbud Nomor 104 Tahun 2014
yang menyatakan bahwa keterampilan komunikasi merupakan salah satu
keterampilan yang diperlukan dalam bermasyarakat. Hal ini menunjukkan
pentingnya siswa untuk dilatihkan keterampilan komunikasi. Salah satunya
adalah keterampilan bertanya dan berpendapat.
Komponen komunikasi yang diperlukan untuk membangun
komunikasi yang baik yaitu, menulis, membaca, berbicara, mendengar, dan
kemampuan bernalar (berpikir). Keterampilan komunikasi berperan dalam
pengetahuan siswa, yang awalnya tidak tahu menjadi tahu karena
berkomunikasi.
9. Materi Asam Basa
1) Teori Asam Basa
c. Teori Asam-Basa Arrhenius
Teori Arrhenius dikemukakan oleh Svante Arrhenius pada tahun
1887. Arrhenius mengemukakan bahwa asam adalah senyawa yang
apabila terlarut dalam air mengahsilkan ion H+, sedangkan basa adalah
senyawa yang apabila terlarut dalam air menghasilkan ion OH-.
Kelemahan dari teori asam basa Arrhenius ini yaitu hanya menjelaskan
senywa-senyawa asam dan basa dalam pelarut air (Chang,2003).
d. Teori Asam-Basa Bronsted-lowry
Teori Bronsted-Lowry diambil dari dua nama ilmuwan yaitu
Johannes Nicolaus Bronsted dan Thomas Thomas Martin Lowry.
Mereka mengemukakan bahwa asam adalah spesi yang dapat
memberikan atau donor proton (H+), sedangkan basa adalah spesi yang
dapat menerima atau akseptor proton (H+). Setelah melepas satu proton
(asam) akan membentuk spesi yang disebut asam konjugasi dari basa
tersebut.Kelebihan dari teori asam basa Bronsted-Lowry ini yaitu tidak
terbatas hanya dalam pelarut air saja tetapi juga dapat menjelaskan
reaksi dalam pelarut lain. Kelemahan teori ini yaitu sulit untuk
32

menentukan suatu zat, karena tergantung pada pasangan reaksinya


(Chang, 2003).
e. Teori Asam-Basa Lewis
Teori Lewis ditemukan oleh ilmuwan Gilbert N. Lewis. Gilbert
N. Lewis mengemukakan bahwa asam adalah spesi yang menerima
(akseptor) pasangan elektron bebas, sedangkan basa adalah spesi yang
memberi (donor) pasangan elektron bebas. Kelebihan teori asam basa
lewis yaitu dapat mencakup banyak reaksi asam-basa meskipun tidak
melibatkan proton (Chang, 2003).
2) Indikator Asam Basa
Indikator asam basa adalah suatu zat yang mempunyai warna tertentu
pada pH tertentu. Sebagai contoh, brotimol biru (BTB) akan berwarna
kuning dalam lingkungan asam, berwarna biru dalam basa, dan berwarna
hijau pada suasana netral. Pengertian indikator asam basa adalah cara untuk
mengetahui jenis suatu larutan tersebut asam, basa atau netral
menggunakan indikator baik indikator alami maupun buatan. Cara
penentuan larutan yang bersifat asam, basa, atau netral dapat menggunakan
kertas lakmus, indikator universal dan indikator alami.
a. Kertas lakmus
Untuk mengidentifikasi suatu larutan yang bersifat asam, basa, atau
netral secara sederhana dapat digunakan kertas lakmus. Dalam larutan
yang bersifat asam kertas lakmus berwarna merah, sedangkan dalam
larutan yang bersifat basa kertas lakmus berwarna biru. Warna kertas
lakmus dalam larutan yang bersifat asam, basa, netral ditunjukkan pada
tabel 4 di bawah ini:
Tabel 4. Perubahan Warna kertas lakmus dalam larutan asam basa
Indikator Larutan asam Larutan basa Larutan netral
Lakmus merah Merah Biru Merah
Lakmus biru Merah biru Biru
33

b. Indikator universal
Indikator universal adalah gabungan beberapa jenis indikator
yang sensitif dalam kisaran pH yang luas. Setiap komponen indikator
universal akan berubah warna pada pH yang berbeda sehingga indikator
menampilkan berbagai warna sesuai dengan pH larutan uji. Pada pH < 3
termasuk asam kuat, pada pH 3-6 termasuk asam lemah, pada pH 7
termasuk netral, pada pH 8-11 termasuk basa lemah dan pada pH > 11
termasuk basa kuat.
Indikator universal ada dua macam yaitu indikator yang berupa
kertas dan indikator yang berupa larutan. Cara menggunakan indikator
universal bentuk kertas adalah dengan cara mencelupkan kertas tersebut
ke dalam larutan yang hendak kita ketahui pH-nya. Sedangkan jika
menggunakan indikator universal bentuk larutan adalah dengan cara
memasukan/meneteskan larutan indikator universal ke dalam larutan
yang hendak kita ketahui pH-nya. Warna yang terbentuk kemudian
dicocokkan / dibandingkan dengan warna standar yang sudah diketahui
nilai pH-nya. Dengan mengetahui nilai pH maka dapat ditentukan
apakah larutan bersifat asam, basa atau netral.
c. Indikator alami asam basa
Tumbuh-tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai indikator asam
basa, contoh: mahkota bunga (bunga sepatu, bugenvil, dan mawar),
kunyit, kubis ungu, dan kulit manggis. Ekstrak bahan-bahan tersebut
dapat memberikan warna yang berlainan dalam larutan asam basa
maupun larutan basa. Berikut ini beberapa contoh indikator alami:
a) Ekstrak bunga sepatu
Bunga sepatu salah satu indikator alami. Bunga sepatu memberikan
perubahan warna yang signifikan pada penambahan asam maupun
basa. Pada suasana asam, bunga sepatu memiliki warna awal merah
mengalami perubahan menjadi merah tua. Sedangkan pada suasana
basa terjadi perubahan warna dari merah menjadi hijau dan hijau
gelap. Bunga sepatu memberikan warna yang signifikan pada
34

penambahan asam ataupun basa maka ekstrak bunga sepatu dapat


dijadikan indikator pada suasana asam maupun basa.
b) Ekstrak kol merah
Kol merah salah satu contoh indikator alami. Kol merah pada
suasana basa memberikan warna hijau. Sedangkan pada suasana asam
memberikan warna merah muda. Dengan demikian kunyit bisa
dijadikan indikator alami untuk suasana basa.
Indikator alami hanya bisa menunjukkan apakah zat tersebut
bersifat asam atau basa, tetapi tidak dapat menunjukkan nilai pH-nya.
Penggunaan bahan pengekstrak, cara mengekstraksi dan cara
penyimpanan mempengaruhi karakter indikator alami yang
digunakan. Kelebihan dari indikator alami yaitu mudah didapatkan di
alam atau di lingkungan sekitar.
3) Kekuatan Asam Basa
a. Derajat ionisasi
Derajat ionisasi adalah perbandingan antara jumlah zat yang mengion
dengan jumlah zat mula-mula.
𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖
α = 𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡−𝑧𝑎𝑡 𝑚𝑢𝑙𝑎−𝑚𝑢𝑙𝑎

Jika zat mengion sempurna, maka derajat ionisasi = 1


Jika zat tidak ada yang mengion, maka derajat ionisasi = 0
Jadi batas-batas nilai derajat ionisasi adalah 0 ≤ α ≤1
Zat elektrolit yang mempunyai derajat ionisasi besar (mendekati 1)
disebut elektrolit kuat, sedangkan zat yang derajat ionisasi kecil
(mendekati 0) disebut elektrolit lemah.
Contoh :
Zat elektrolit kuat :
Asam : HCl, H2SO4, HNO3 dan HClO4
Basa : NaOH, KOH, Ba(OH)2 dan Ca(OH)2
Contoh :
Zat elektrolit lemah
Asam : CH3COOH, H2CO3, H2S dan HCN
35

Basa : NH3
b. Kekuatan Asam
a) Tetapan ionisasi asam (Ka)
telah disebutkan bahwa asam kuat mengion sempurna. Reaksi
ionisasinya merupakan merupakan reaksi berkesudahan.
Contoh : HCl (aq) → Cl- + H+
Di lain pihak, asam lemah terion sebagian. Reaksi ionisasinya
merupakan reaksi kesetimbangan.
Contoh : CH3COOH (aq) ⇌ CH3COOH- (aq) + H+
Secara umum, reaksi ionisasi asam lemah valensi satu dapat
dirumuskan sebagai berikut :
HA (aq) ⇌ H+ (aq) + A- (aq)
Tetapan kesetimbangan untuk ionisasi asam disebut tetapan
ionisasi asam dan diberi lambing Ka. Untuk asam lemah HA dapat
dituliskan tetapan ionisasinya adalah sebagai berikut :
Ka = [H+] [A-]
[HA]
Hubungan antara kekuatan asam dengan kesetimbangan asam
(Ka) adalah semakin kuat suatu asam, maka reaksi kesetimbangan
asam semakin condong ke kanan. Akibatnya nilai Ka bertambah besar.
Oleh karena itu, nilai Ka mencerminkan kekuatan asam. Semakin besar
Ka semakin kuat asam.
b) Hubungan tetapan ionisasi asam (Ka) dengan derajat ionisasi
Telah disebutkan bahwa derajat ionisasi adalah perbandingan
antara jumlah zat yang mengion dengan jumlah zat mula-mula.
𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖
α = 𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡−𝑧𝑎𝑡 𝑚𝑢𝑙𝑎−𝑚𝑢𝑙𝑎

Jika konsentrasi elektrolit (zat mula-mula) adalah M (molar), maka


persamaan di atas dapat ditulis sebagai berikut :
𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖
α= 𝑀
36

Selanjutnya, komposisi kesetimbangan dari suatu asam lemah (HA)


yang mempunyai konsentrasi M (molar) dan terionisasi dengan derajat
ionisasi α dapat dinyatakan sebagai berikut :
HA ⇌ H+ (aq) + A- aq)
Mula-mula : M - -
Reaksi : - Mα + Mα + Mα
Setimbang : M(1-α) Mα Mα
Jika komposisi kesetimbangan ini dimasukkan ke dalam persamaan
tetapan kesetimbangan asam diperoleh :
Mα x Mα
Ka = 𝑀 (1−α)

Dengan menganggap (1- α) ≈ 1, maka persamaan diatas menjadi :


Mα x Mα
Ka = atau Ka = Mα2
𝑀

𝐾𝑎
Jadi, α = √ 𝑀

c. Kekuatan Basa
Seperti halnya asam kuat, reaksi ionisasi basa kuat merupakan
reaksi berkesudahan.
Contoh :
NaOH (aq) → Na+ + OH- (aq)
Ba(OH)2 (aq) → Ba2+ (aq) + 2OH- (aq)
Di lain pihak, reaksi ionisasi basa lemah merupakan reaksi
kesetimbangan. Secara umum, reaksi ionisasi bervalensi satu dapat
dirumuskan sebagai berikut:
LOH (aq) ⇌ L+ (aq) + OH- (aq)
Tetapan kesetimbangan persamaan di atas disebut tetapan ionisasi basa
(Kb).
Kb = [L+] x [OH-]
[LOH]
Nilai Kb merupakan merupakan ukuran kekuatan basa, semakin kuat
basa semakin besar nilai Kb dan sebaliknya.
37

Hubungan tetapan ionisasi basa dengan derajat ionisasi basa


adalah sebagai berikut :
𝐾𝑏
α = √𝑀

(Purba,2003)
4) Trayek pH
Harga pH suatu larutan dapat diperkirakan dengan menggunakan
trayek pH indikator. Indikator memiliki trayek perubahan warna yang
berbeda-beda. Pengujian larutan dengan beberapa indikator akan
diperoleh irisan pH yang dapat digunakan sebagai perkiraan nilai pH
suatu larutan. Daftar beberapa indikator beserta perubahan warna, pH
dan daerah perubahan warna ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Daftar beberapa indikator beserta perubahan warna, pH
dan daerah perubahan warna
Indikator Perubahan Warna Trayek pH
Timol Biru Merah-kuning 1,2-2,8
Metil jingga Merah-kuning 3,2-4,4
Bromkesol hijau Kuning-biru 3,8-5,4
Metil merah Kuning-merah 4,8-6,0
Bromotimol biru Kuning-biru 6,0-7,6
Fenol merah Kuning-merah 6,8-8,4
Fenoftalein Tak berwarna-merah 8,3-10,0
(Sugiarto, 2015)
K. PENELITIAN YANG RELEVAN
1. Menurut Kusumaningrum (2010) dalam penelitiannya mengenai
penerapan model pengajaran langsung dan model pembelajaran
kooperatif didapatkan ketuntasan klasikal dengan presentase 91,89%.
2. Sharfina, S Cita (2016) dalam jurnal penelitiannya yang menunjukkan
bahwa keterampilan komunikasi siswa sangat baik. Terdapat 88,46 % siswa
memiliki keterampilan berpendapat baik, dan 11,54% siswa memiliki
memiliki keterampilan pendapat cukup baik. Terdapat 73,08% siswa
38

memiliki keterampilan bertanya baik, dan 26,92% siswa memiliki


keterampilan bertanya cukup baik melalui pembelajaran kooperatif tipe
NHT.
3. Fadhilah, Alif Fatin (2016) dalam jurnal penelitiannya yang memberikan
hasil keterampilan komunikasi siswa meliputi kuantitas dan kualitas
bertanya dan berpendapat. Kuantitas bertanya siswa mengalami
peningkatan pada setiap pertemuan, sedangkan kuantitas berpendapat
siswa pada pertemuan 1,2 dan 3 diperoleh sebesar 100%. Kualitas bertanya
dan berpendapat siswa juga mengalami peningkatan pada pertemuan 1
hingga 3 melalui pembelajaran kooperatif tipe TSTS.
39

L. KERANGKA KONSEPTUAL
Fakta : Harapan :
1. Berdasarkan hasil prapenelitian menunjukkan bahwa 1. Peserta didik mampu memahami konsep dalam
sebanyak 53,13% dari 32 peserta didik menyatakan materi asam basa dengan jelas.
mengalami kesulitan dalam materi asam basa. 2. Diharapkan terselenggaranya pembelajaran dengan
2. Berdasarkan hasil prapenelitian yang diberikan kepada direct instruction dilakukan secara tahap demi
peserta didik menunjukkan 62,5% dari 32 peserta didik tahapan dan kooperatif tipe NHT dapat membangun
merasa enggan untuk bertanya atau menyumbangkan ide pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik
dalam proses pembelajaran dan 53,12% peserta didik dimana mereka dapat mengkonstruksikan informasi
masih ragu dalam dalam menyampaikan pendapat di dalam baru yang di dapat dari memori jangka pendek ke
kelas. memori jangka panjang.
3. Berdasarkan wawancara dengan guru, guru menyatakan 3. Peserta didik aktif berkomunikasi selama
bahwa jarang mengkondisikan kelas untuk melakukan pembelajaran berlangsung paling tidak 75% dari
diskusi pada materi asam basa. keseluruhan peserta didik.

Masalah
Bagaimana upaya terselenggaranya pembelajaran dengan kooperatif dan pembelajaran langsung melalui tahapan untuk melatihkan
keterampilan komunikasi peserta didik dan meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi asam basa?

Kajian Teori: Kajian Empiris:


1. Model pembelajaran kooperatif 1. Menurut Kusumaningrum (2010) dalam penelitiannya mengenai
2. Model pembelajaran direct instruction penerapan model pengajaran langsung dan model pembelajaran
3. Teori yang mendukung kooperatif dan direct instruction
4. Keterampilan komunikasi kooperatif didapatkan ketuntasan klasikal dengan presentase
5. Hasil Belajar 91,89%.
6. Asam basa
2. Sharfina, S Cita (2016) dalam jurnal penelitiannya yang
menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi peserta didik
sangat baik. Terdapat 88,46 % peserta didik memiliki
keterampilan berpendapat baik, dan 11,54% peserta didik
memiliki memiliki keterampilan pendapat cukup baik. Terdapat
73,08% peserta didik memiliki keterampilan bertanya baik, dan
26,92% peserta didik memiliki keterampilan bertanya cukup baik
melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT.
3. Fadhilah, Alif Fatin (2016) dalam jurnal penelitiannya yang
memberikan hasil keterampilan komunikasi siswa meliputi
kuantitas dan kualitas bertanya dan berpendapat. Kuantitas
bertanya siswa mengalami peningkatan pada setiap pertemuan,
sedangkan kuantitas berpendapat siswa pada pertemuan 1,2 dan
3 diperoleh sebesar 100%. Kualitas bertanya dan berpendapat
siswa juga mengalami peningkatan pada pertemuan 1 hingga 3
melalui pembelajaran kooperatif tipe TSTS.

1.

Solusi
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dan Direct Instruction untuk Melatihkan Keterampilan
Komunikasi Siswa pada Materi Asam Basa di Sma Negeri 1 Bangsal Mojokerto .
40

M. METODOLOGI PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yag digunakan adalah penelitian pra-eksperimen.
Penelitian ini akan menganalisis keterampilan komunikasi, keterlaksanaan
pembelajaran dengan model pembelajaran direct instruction dan kooperatif,
dan ketuntasan hasil belajar siswa pada materi pokok asam basa. Penelitian
ini hanya menggunakan satu kelas untuk dijadikan objek penelitian tanpa
adanya kelas pembanding.
2. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Bangsal
Mojokerto.
3. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah “The One Group Pre test -
Post Test” yang dilakukan terhadap satu kelas saja tanpa kelompok
pembanding. Desain penelitiannya dapat digambarkan sebagai berikut:

O1 X O2
Keterangan:
O2 = Nilai Pre Test sebelum diterapkan model pembelajaran direct
instruction dan kooperatif tipe NHT.
X = Perlakuan yang diberikan adalah menggunakan model
pembelajaran direct instruction dan kooperatif tipe NHT pada
materi asam basa dan untuk melatihkan keterampilan
komunikasi siswa selama pembelajaran langsung.
O2 = Nilai Post Test setelah diterapkan model pembelajaran direct
instruction dan kooperatif tipe NHT.
4. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksnakan di kelas XI SMA Negeri 1 Bangsal
Mojokerto Semester genap tahun ajaran 2018/2019.
41

5. Perangkat Pembelajaran dan Instrumen Penelitian


a. Perangkat pembelajaran
1) Silabus
Silabus merupakan garis besar bahan pembelajaran atau
program pembelajaran yang bersifat umum yang mencakup tentang
kegiatan pembelajaran. Silabus adalah rencana pembelajaran pada
suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang
mencakup kompetensi inti, indikator, penilaian, dan sumber belajar.
2) Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan penjabaran dari
silabus yang dibuat untuk mempelancar kegiatan pembelajaran.
Rencana pelaksanaan pembelajaran dalam penelitian ini berisi
rancangan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model direct
instruction dan kooperatif tipe NHT.
3) Buku Ajar
Buku ajar adalah buku yang berisi tentang materi yang akan
digunakan dalam pembelajaran pada materi asam basa di SMA
Negeri 1 Bangsal Mojokerto.
4) Lembar Kegiatan Siswa (LKPD)
Lembar kegiatan siswa berfungsi untuk menguji kemampuan
sesuai dengan sub materi asam basa dan mencakup semua tujuan
pembelajaran yang akan dicapai. Lembar kegiatan ini juga disusun
oleh peneliti dengantujuan mempermudah siswa memahami materi
dan melatihkan keterampilan komunikasi. Lembar kegiatan siswa ini
harus dikerjakan siswa selama pembelajaran berlangsung. Penelitian
ini menggunakan 4 LKPD yaitu LKPD 1, LKPD 2, LKPD 3, LKPD 4.
Lembar kegiatan siswa yang digunakan dalam penelitian ini
diadaptasi dari penelitian skripsi milik Suci Kartika Sari Eka Pratiwi
yang berjudul “Keterampilan Siswa Kelas XI SMA IPIEM Surabaya
Melalui Model Pengajaran Langsung Dan Metode Diskusi Kelas Pada
Materi Pokok Asam Basa“. Pada setiap pertemuan menggunakan
42

satu LKPD. Lembar kerja siswa ini akan divalidasi dan ditelaah oleh
dosen ahli.
6. Instrumen Penelitian
a. Lembar keterlaksanaan pembelajaran
Lembar pengamatan ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui
kesesuaian keterlaksanaan model pembelajaran direct instruction dan
kooperatif tipe NHT selama proses pembelajaran berlangsung. Pada
lembar ini, pengamat menilai keterlaksanaan sintaks model
pembelajaran kooperatif tipe NHT dan direct instruction sesuai dengan
kegiatan pembelajaran.
b. Lembar pengamatan keterampilan komunikasi
Lembar pengamatan ini digunakan untuk megetahui tingkat
keterampilan komunikasi siswa pada proses pembelajaran
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan direct
instruction yang meliputi keterampilan bertanya dan keterampilan
berpendapat baik dari segi kuantitas dan kualitas.
c. Lembar aktivitas siswa
Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati aktivitas
siswa pada pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan
direct instruction dari awal hingga akhir pembelajaran.
d. Lembar tes ketuntasan hasil belajar
Lembar tes ini berupa lembar soal post test yang berisi 15 butir
soal yang berbentuk pilihan ganda pada materi asam basa yang sesuai
dengan indikator yang ingin dicapai siswa setelah penerapan model
pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan direct
instruction. Tes tersebut juga digunakan untuk mengetahui ketercapaian
nilai-nilai siswa dan mengetahui apakah tujuan pembelajaran telah
tercapai.
43

e. Lembar respon siswa


Lembar respon siswa ni bertujuan untuk melihat tanggapan
siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT dan direct instruction.
7. Prosedur Penelitian
a. Tahap penelitian
Dalam penelitian yang dilaksanakan, teknik pengumpulan data
yang dilakukan meliputi beberapa tahap, yaitu:
1) Tahap persiapan
Langkah yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah.
a) Melakukan observasi ke sekolah yang akan diteliti.
b) Melakukan pra-penelitian dengan menyebar angket penelitian
kepada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Bangsal Mojokerto dan
melakukan wawancara salah satu guru kimia.
c) Menelaah hasil pra penelitian.
d) Melakukan kajian pustaka tentang model-model pembelajaran
yang dapat melatihkan keterampilan komunikasi.
e) Menyusun proposal penelitian.
f) Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus,
RPP, LKS kemudian melakukan telaah dan validasi.
g) Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari lembar
pengamatan kemampuan guru dalam melaksanakan tiap fase
pada model pembelajaran dan lembar pengamatan untuk
keterampilan komunikasi yang meliputi bertanya dan
berpendapat.
2) Tahap pelaksanaan
Penelitian ini dilakukan selam 4 kali pertemuan. Kegiatan
yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan uji awal
(pretest) yaitu lembar tes berupa soal pilihan ganda sebelum
melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kemudian tahap
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan di SMA Negeri 1
44

Bangsal Mojokerto dengan mengamati keterampilan komunikasi


siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan direct
instruction. Pembelajaran dilakukan sesuai dengan sintaks model
pembelajaran tersebut. Perlakuan tersebut diberikan pada saat
proses pembelajaran berlangsung. Sehingga data hasil ketuntasan
belajar siswa pada setiap indikator diperoleh dari data hasil belajar
siswa.
3) Tahap akhir
Langkah terakhir dalam penelitian ini yang dilakukan dengan
memberikan soal-soal post test yang berupa tes kognitif untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap konsep yang
diberikan dan juga mengetahui ketuntasan belajar siswa. Kemudian
mengumpulkan lembar pengamatan keterampilan komunikasi dan
menganalisis untuk menyimpulkan bagaimana keterampilan
komunikasi siswa selama diberi perlakuan. Post test diberikan
kepada siswa dengan alokasi waktu sebanyak 30 menit dengan 15
butir soal pilihan ganda.
b. Alur penelitian
Kegiatan-kegiatan dalam penelitian ini dapat digambarkan pada
bagan alur sebagai berikut:
45

Melakukan observasi sekolah yang


akan diteliti
Menganalisis data dan
memberikan kesimpulan
penelitian
Melakukan pra-penelitian dengan
cara menyebar angket untuk siswa
SMA Negeri 1 Bangsal Mojokerto
Mengumpulkan data

Menelaah hasil pra-penelitian Memberikan tes hasil belajar


peserta didik

Melakukan kajian pustaka tentang Memberikan perlakuan dengan


model-model pembelajaran yang menerapkan model
dapat melatihkan keterampilan pembelajaran kooperatif tipe
komunikasi NHT dan direct instruction

Menyusun proposal penelitian


Revisi 2 (draf perangkat
pembelajaran dan draf
instrumen penelitian)
Penyusun draf perangkat
pembelajaran (Silabus, RPP, LKPD)

Melakukan telaah dan validasi


perangkat juga instrumen
kepada penelaah dan validator
Menyusun draf instrumen penelitian
yang terdiri dari lembar pengamatan
keterlaksanaan pembelajaran,
aktivitas peserta didik, respon Revisi 1 (proposal penelitian,
peserta didik, lembar komunikasi draf perangkat pembelajaran
peserta didik, dan lembar ketuntasan dan draf instrumen penelitian)
hasil belajar peserta didik
46

8. Pengumpulan Data
a. Metode pengamatan
Metode ini digunakan untuk mengetahui kondsi kelas dan
keterlaksanaan metode pembelajaran langsung (direct instruction) dan
diskusi kelas saat penerapan model pembelajaran berlangsung.
Melalui metode ini akan diamati keterampilan komunikasi siswa
selama pembelajaran langsung pada beberapa fase tertentu. Pengamat
mengisi lembar pengamatan aktivitas siswa, pengamatan
keterampilan komunikasi siswa dan lembar pengamatan
keterlaksanaan fase model pembelajaran yang diterapkan selama
proses belajar mengajar. Lembar pengamatan diberikan kepada
pengamat yang berjumlah 7 orang. 2 orang bertugas mengisi lembar
pengamatan keterlaksanaan fase model pembelajaran. Kemudian 5
orang pengamat lainnya bertugas mengisi lembar pengamatan
aktivitas siswa dan pengamatan keterampilan komunikasi siswa yang
berjumlah ≥30 orang. Satu pengamat mengamati 5 siswa. Agar proses
observasi pada penelitian ini dapat dilakukan dengan optimal, selama
pembelajaran berlangsung diperlukan perangkat recorder, baik audio
recorder maupun audio visual recorder sehingga seluruh aktivitas siswa
dapat diamati secara optimal.
b. Metode tes
Metode tes yang digunakan pada penelitian ini dilakukan
sebelum diterapkan model pembelajaran dengan diberikan pre test dan
setelah proses pembelajaran dengan diberikan post test.
c. Angket
Angket diberikan kepada siswa yang digunakan dalam
penelitian. Pembagian angket digunakan untuk mengetahui respon
siswa terhadap model pembelajaran model pembelajaran direct
instruction dan kooperatif tipe NHT. Pembagian angket dilaksanakan
ketika siswa telah diberikan model pembelajaran model pembelajaran
direct instruction dan kooperatif tipe NHT.
47

9. Teknik Analisis Data


a. Analisis hasil telaah
Saran yang diperoleh berdasarkan hasil telaah dari para ahli di
bidang pendidikan kimia dan digunakan untuk perbaikan perangkat
pembelajaran dan instrumen penelitian.
b. Analisis lembar validasi
Analisis data yang digunakan yaitu dengan cara deskriptif kuantitatif
yaitu memberi penilaian tentang perangkat pembelajaran dan
instrumen penelitian dengan skor presentase. Presentase diperoleh
berdasarkan perhitungan skor skala Likert yaitu penilaian sangat baik
dan tidak perlu perbaiki diberi skor 4, penilaian baik dan tidak perlu
perbaiki diberi skor 3, penilaian kuranng baik dan perlu perbaiki diberi
skor 2, dan penilaian kurang baik dan harus diperbaiki diberi skor 1.
Data hasil validasi dianalisis dengan menggunakan rumus:
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑙𝑖ℎ
Rata-rata validasi = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑣𝑎𝑙𝑖𝑑𝑎𝑡𝑜𝑟

Rata-rata validasi hasil olahan dari data tiap validator tersebut


kemudian di presentase:
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑙𝑖ℎ
% validasi = 𝑥100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑣𝑎𝑙𝑖𝑑𝑎𝑡𝑜𝑟

Presentase tersebut dapat dipresepsikan ke dalam kategori yang


mengacu pada tabel 6 sebagai berikut:
Tabel 6. Kriteria Hasil Validasi
No. Presentase Kategori
1. 0% -20% Sangat tidak layak
2. 21% -40% Tidak layak
3. 41% - 60% Cukup layak
4. 61%-80% Layak
5. 81%-100% Sangat Layak
(Adaptasi: Riduwan, 2013)
c. Analisis data keterlaksanaan pembelajaran
Keterlaksanaan pembelajaran di kelas dengan menggunkan model
direct instruction dan kooperatif tipe NHT diamati melalui kemampuan
48

guru menjalankan pembelajaran berdasarkan Rencana Pelaksanaan


Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat. Pengamatan dilakukan oleh satu
orang pengamat dengan mengisi lembar pengamatan yang telah
dipersiapkan.
Adapun kriteria penilaian untuk keterlaksanaan model
pembelajaran direct instruction dan kooperatif tipe NHT diadaptasi dari
Riduwan (2013) disajikan seperti dalam tabel 7 berikut:
Tabel 7. keterlaksanaan model pembelajaran direct instruction dan
kooperatif tipe NHT

Keterangan Skor

Tidak baik 0

Kurang Baik 1

Cukup Baik 2

Baik 3

Sangat Baik 4

( Adaptasi: Riduwan, 2013)


Kemudian dari skor yang didapatkan dapat dihitung presentase
keterlaksanaan pembelajaran dapat diketahui dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
Σ𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑓𝑎𝑠𝑒 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎
%𝐾𝑃 = Σskor maksimal fase secara keseluruhan x100%

Keterangan:
KP = Keterlaksanaan Pembelajaran
Berdasarkan hasil Analisis data pengamatan akan diperoleh kriteria
keterlaksanaan model pembelajaran direct instruction dan kooperatif tipe
NHT sebagaimana disajikan pada tabel 8 berikut:
49

Tabel 8. Kriteria Keterlaksanaan Sintaks

Presentase Kategori

0% - 20% Sangat Buruk

21% - 40% Buruk

41% - 60% Cukup

61% - 80% Baik

81% - 100% Sangat Baik

(Adaptasi: Riduwan, 2013)


Keterlaksanaan model pembelajaran direct instruction dan kooperatif tipe
NHT dikatakan baik jika semua aspek terlaksana dengan kualitas
keterlaksanaan dengan skor sebesar ≥ 61% .
d. Analisis data pengamatan keterampilan komunikasi
Analisis ini digunakan untuk mengetahui keterampilan komunikasi
siswa selama proses pembelajaran. Data diambil dari lembar observasi
keterampilan komunikasi yang diamati oleh pengamat. Data yang
diperoleh untuk menganalisis kualitas dan kuantitas komunikasi siswa.
Kuantitas komunikasi siswa dianalisis menggunakan perhitungan
jumlah siswa yang berkomunikasi saat pembelajaran berlangsung,
bukan dari jumlah pertanyaan atau pendapat yang dikomunikasikan
oleh siswa. Analisis ini dilakukan secara keseluruhan dalam kelas pada
setiap pertemuan menggunakan perhitungan:
%Kuantitas komunikasi siswa=
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑜𝑚𝑢𝑛𝑖𝑘𝑎𝑠𝑖
𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
Kualitas komunikasi yang dianalisis adalah kualitas bertanya siswa
sesuai tingkatan Taksonomi Bloom dan kualitas berpendapat siswa
dianalisis menggunakan indikator berpendapat secara logis dan analitis.
Kualitas bertanya dan berpendapat diberi penilaian sesuai indikator.
Kemudian dikonversi dalam bentuk lain sebagai berikut:
50

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎


%Kualitas komunikasi siswa = 𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎

Selanjutnya skor siswa dikonversi dengan kriteria sebagai berikut:


Tabel 9. Konversi Skor Keterampilan Bertanya dan Berpendapat
Batasan Kriteria
0% ≤ x < 33,3% Kurang Baik
33,4% ≤ x < 66,6% Cukup Baik
66,6% ≤ x < 100% Baik
(Adaptasi: Sudjana, 2010)
Keterampilan komunikasi dikatakan baik apabila memiliki presentase ≥
61%.
e. Analisis aktivitas siswa
Data hasil observasi yang di dapat melalui lembar observasi
aktivitas siswa digunakan untuk melihat proses dan perkembangan
aktivitas siswa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung, Data
jumlah siswa yang terlibat dalam masing-masing aktivitas, kemudian
dipresentasekan dalam rumus:
Σ𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑛𝑐𝑢𝑙
%aktivitas siswa = 𝑥 100%
Σ𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛

(Arifin,2010)
Adapun kriteria penilaian untuk aktivitas siswa disajikan seperti dalam
tabel 10 berikut:

Tabel 10. kriteria Aktivitas siswa

No. Presentase Keterangan hasil


1. 0%-20% Buruk sekali
2. 21%-40% Buruk
3. 41%-60% Sedang
4. 61%-80% Baik
5. 81%-100% Sangat Baik
(Adaptasi: Riduwan,2013)
Siswa dikatakan aktif dalam pembelajaran apabila presentase aktivitas
siswa yang relevan dengan pembelajaran sebesar ≥ 61%.
51

f. Analisis hasil belajar


Dalam analisis hasil belajar siswa dibuat dengan tujuan untuk
mengetahui ketuntasan hasil belajar kognitif siswa setelah
diterapkannya model pembelajaran direct instruction dan kooperatif tipe
NHT. Nilai hasil belajar kognitif siswa dihitung dengan rumus sebagai
berikut :
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
Nilai = 𝑥 100%
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

Menurut Permendikbud No.23 tahun 2016, berdasarkan hasil


belajar kognitif siswa digunakan rentang penilaian dalam bentuk angka
skala 0-100 dan dikonversi dalam predikat A-D. Ketuntasan hasil belajar
ranah kognitif siswa dikatakan tuntas dalam belajar apabila siswa telah
mencapai nilai ≥75 atau dengan predikat B dari skor maksimal 100 yang
didapatkan dari hasil pretest dan posttest pada materi asam basa yang
disajikan pada tabel 11.
Tabel 11. Kriteria Interprestasi Skor Hasil Belajar Siswa
Nilai Predikat

96 – 100 A

88 – 95 A-

80 – 87 B+

871 – 79 B

63 – 70 B-

55 – 62 C+

46 – 54 C

38 – 45 C-

30-37 D+

25-29 D

(Adaptasi: Permendikbud Nomor 23 Tahun2016)


52

Hasil belajar siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai


ketuntasan secara klasikal. Ketuntasan secara klasikal yaitu apabila
minimal 75% siswa telah tuntas secara individu atau memenuhi KKM.
Presentase ketuntasan secara kalsikal dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠
Kentuntasan klasikal = 𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎

Data hasil belajar siswa yang diperoleh selanjutnya dianalisis


dengan menggunakan Gain Score (skor peningkatan). Besarnya
peningkatan atau Gain dianalisis menggunakan rumus berikut:
𝑆𝑝𝑜𝑠𝑡 −𝑆𝑝𝑟𝑒
g= 100−𝑆𝑝𝑟𝑒

Dengan:
g (gain) = peningkatan hasil belajar siswa
Spost = rata-rata nilai post test
Spre = rata-rata nilai pre test
Kemudian hasil yang diperoleh diinterpretsikan ke dalam tabel 12
berikut:
Tabel 12. Kriteria Penilaian Gain Score
Nilai gain (<g>) Kriteria
0,70 < (<g>) ≤ 1,00 Tinggi
0,30 < (<g>) ≤ 0,70 Sedang
0,00 < (<g>) ≤ 0,30 Rendah
(Hake,1998)
g. Analisis lembar angket respon siswa
Data respon siswa yang diperoleh dianalisis dengan presentase
dan disimpulkan dalam bentuk kalimat deskriptif. Presentase data
diperoleh menggunakan perhitungaan skala Guttman, sehingga angket
siswa dibuat dalam bentuk “Ya” atau “Tidak”, dengan skor seperti pada
tabel 13.
53

Tabel 13. Kriteria penilaian angket respon siswa


Jawaban Kategori
Ya 1
Tidak 0
(Adaptasi: Riduwan, 2013)
Data yang diperoleh dihitung presentasenya dengan :
ΣY
P (%) = Σ𝑀𝑌 𝑥 100%

Keterangan:
P = presentase (%) respon
ΣY = Jumlah jawaban “Ya” dari seluruh siswa
Σ𝑀𝑌 = Jumlah maksimal jawaban “Ya” dari seluruh siswa
Hasil analisis dari lembar respon digunakan untuk mengetahui
respon siswa dengan menggunakan interpretasi skor sebagai berikut:
Tabel 14. Kriteria Skala Guttman

Presentase Kategori Respon

0% - 20% Sangat Buruk

21% - 40% Buruk

41% - 60% Cukup

61% - 80% Baik

81% - 100% Sangat Baik

(Adaptasi: Riduwan, 2013)


Respon siswa dikatakan baik dalam pembelajaran apabila
presentase respon siswa sebesar ≥ 61% dengan kategori baik.
54

DAFTAR PUSTAKA
Arends, Richard L. 2012. Learning To Teach 10th Edition. New York: McGraw-Hill
Education.

Cangara, Hafied. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi Edisi Pertama. Jakarta: PT


Rajagrafindo.

Chang, Raymond . 2003. Kimia Dasar : Konsep-konsep Inti Jilid 2/ Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga.

Depdikbud . 2016. Permendikbud No. 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian


Pendidikan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Depdikbud. 2016. Permendikbud No. 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan
Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Depdikbud. 2014. Permendikbud No. 59 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah
Menengah Atas atau Madrasah Aliyah . Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.

Depdikbud. 2013. Permendikbud No. 64 Tahun 2013 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar
dan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Depdikbud. 2014. Permendikbud No.104 tahun 2014 Tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh
Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.

Depdikbud. 2013. Permendikbud Nomor 81A tahun 2013 Tentang Implementasi


Kurikulum. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Fadhilah , Alif Fatin. 2016. "Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay
Two Stay Pada Materi Larutan Elektrolit dan Non-Elektrolit Untuk Melatihkan
Keterampilan Komunikasi Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Lamongan." Unesa
Journal of Chemical Education V (2). (online) Di akses 21 Oktober 2018.
http://journal.unesa.ac.id.

Ibrahim, M; dkk. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar . Surabaya: Unesa


University Press.

Kusumaningrum. 2010. Penerapan Model Pengajaran Langsung dan Model Pembelajaran


Kooperatif Pada Materi Stoikiometri di SMA Negeri 2 Bojonegoro . Skripsi tidak
diterbitkan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Krathwohl . 2002. Revisi Taksonomi Bloom. Jakarta: Rineka Cipta.


55

Maryanti. 2010. Hubungan Antara Keterampilan Komunikasi Dengan Aktivitas Belajar


Siswa. (Online) Di akses 21 Oktober 2018.
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor/article/download/700/594.

Muhibbin, Syah. 2003. Psikologi Belajar . Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Nur, Muhammad dan Prima Retno W. 2000. Pengajaran Berpusat kepada siswa dan
Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Surabaya: Pusat Studi Matematika
dan IPA Sekolah Universitas Negeri Surabaya.

Nur, Muhammad. 2011. Pembelajaran direct instruction. Surabaya: UNESA.

Nur, Muhammad. 2011. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA.

Patnership of 21st Century Learning. 2007. Framework for 21st Century Learning. One
Massachusetts Avenue. http://www.p21.org. (Online) Di akses 21 September
2018.

Purba, Michael. 2006. Kimia Untuk SMA Kelas XI . Jakarta: Erlangga.

Richard, R. Hake. 1998. "Analyzing Change/Gain Score." American Educational


Research Association's Division D, Measurment and Research Methodology. (Online)
Di akses 2 April 2018. http://www.physics.indiana.edu.

Riduwan. 2013. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya , Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan .


Jakarta: Prenada Media Group.

Sari, Sucikartka. 2014. "Keterampilan Komunikasi Siswa kelas XI SMA IPIEM


Surabaya Melalui Model Pengajaran Langsung dan Metode Diskusi Kelas Pada
Materi Pokok Asam Basa." Unesa Journal of Chemical Education III (02). (online)
Diakses 31 Januari 2019. http://journal.unesa.ac.id.

Sharfina, S Cita, and Ismono. 2016. "Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
NHT untuk Melatihkan Keterampilan Komunikasi Siswa Pada Materi Larutan
Asam Basa Kelas XI SMA NEGERI 18 Surabaya." Journal of Chemical Education
V (2). (online) Di akses 21 September 2018. http://journal.unesa.ac.id.

Slavin, Robert E. 2009. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa
Media.
56

Sudjana, N. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Sugiarto, Bambang. 2015. KImia Dasar. Surabaya: FMIPA UNESA.

Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Suyono, and Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya Offset.

Identifikasi Asam Dan Basa. Di akses 1 April 2018.


http://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil/Identi
fikasi-Asam-dan-Basa-2013/konten4.html.

Vardiansyah, Dani. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.


LAMPIRAN 1 57

MATRIKS PENELITIAN

Rumusan Masalah Variabel Instrumen Jenis Data yang Teknik Teknik


Penelitian Penelitian Diperoleh Pengumpulan Analisis
Data Data
Bagaimana keterlaksanaan sintak model Keterlaksana Lembar Skor Observasi Analisis
pembelajaran kooperatif dan model an sintak pengamatan keterlaksanaan deskriptif
direct instruction pada materi asam basa? model keterlaksanaan sintak model kuantitatif
pembelajaran model pembelajaran
pembelajaran.
Bagaimana aktivitas siswa selama Aktivitas Lembar Jumlah aktivitas Observasi Analisis
pembelajaran dengan penerapan model siswa pengamatan siswa selama deskriptif
pembelajaran kooperatif dan model aktivitas siswa. proses kuantitatif
direct instruction pada materi asam basa? pembelajaran
Bagaimana keterampilan komunikasi Keterampilan Lembar Skor Observasi Analisis
(bertanya dan berpendapat) siswa komunikasi pengamatan keterampilan deskriptif
selama pembelajaran dengan penerapan siswa keterampilan komunikasi kuantitatif
model pembelajaran kooperatif dan komunikasi siswa
direct instruction pada materi asam basa? siswa.
58

Rumusan Masalah Variabel Instrumen Jenis Data yang Teknik Teknik


Penelitian Penelitian Diperoleh Pengumpulan Analisis
Data Data
Bagaimana ketuntasan hasil belajar Ketuntasan Lembar tes hasil Nilai tes Tes Analisis
siswa dengan penerapan model hasil belajar belajar deskriptif
pembelajaran kooperatif dan model siswa kuantitatif
direct instruction pada materi asam basa?
Bagaimana respon siswa setelah Respon siswa Lembar angket Jawaban siswa Angket Deskriptif
dilaksanakan model pembelajaran respon siswa kuantitatif
kooperatif dan model direct instruction
pada materi asam basa?
LAMPIRAN 2 59

SILABUS MATA PELAJARAN KIMIA

(Peminatan Bidang MIPA)

Satuan Pendidikan : SMA

Kelas/Semester : XI/2

Materi : Asam Basa

Alokasi Waktu : 8 x 45 menit

Kompetensi Inti :

KI : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

K2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai),
santun, responsif, dan proaktif, dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.

KI 3 : Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan
rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
60

kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkrit dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai
kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran Penilaian Alokasi Sumber Belajar
Waktu
Siswa mampu: Asam dan Mengamati (observing)  Tes tertulis (pre-test 8x45 menit  Buku kimia
3.10 Menganalisis sifat Basa  Mengamati gambar yang telah dan post-test).  Lembar
larutan berdasarkan  Perkembang disajikan guru.  Aktivitas yang Kegiatan
konsep asam basa dan an konsep  Mengamati perubahan warna dilakukan siswa Siswa.
atau pH larutan. asam dan larutan menggunakan kertas selama proses  Berbagai
4.10 Mengajukan ide atau basa. lakmus dan indikator universal. pembelajaran sumber
gagasan tentang  Indiktor Menanya (Associating) berlangsung. lainnya.
penggunaan indikator asam dan  Mengajukan pertanyaan yang  Keterampilan
yang tepat untuk basa. berkaitan tentang indikator komunikasi
menentukan keasaman  Kekuatan asam basa.
asam atau basa. asam basa.
Trayek pH.
61

Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran Penilaian Alokasi Sumber Belajar
Waktu
Mengumpulkan data
(eksperimenting)
 Menganalisis teori asam basa
berdasarkan konsep Arrhenius,
Bronsted Lowry dan Lewis.
Melakukan percobaan indikator
asam dan basa.
 Mendiskusikan perbedaan
asam/basa lemah dengan
asam/basa kuat.
 Mencatat hasil percobaan.
 Menganalisis trayek pH.
62

Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran Penilaian Alokasi Sumber Belajar
Tes Observasi Waktu
 Memprediksi pH larutan dengan
menggunakan beberapa indikator.
 Menyimpulkan sifat larutan asam
dan basa.
 Menghubungkan antara derajat
ionisasi dengan tetapan ionisasi
asam (Ka) dan tetapan ionisasi basa
(Kb).
Mengkomunikasi
(Communicating)
 Mempresentasikan hasil diskusi.
 Mengajukan pendapat atau
pertanyaan berdasarkan
pendapat kelompok lain.
LAMPIRAN 3 63

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)

Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Bangsal Mojokerto


Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XI/Genap
Materi Pokok : Asam basa
Alokasi Waktu : 8 jam pertemuan (4 kali pertemuan)

A. Kompetensi Inti
KI-1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI-2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun,
responsif dan proaktif serta menunjukkan sikap sebagai bagian dari
solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI-3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI-4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkrit dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.
64

B. Kompotensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)


Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah Berperilaku ilmiah antara lain :
(memiliki rasa ingin tahu, 2.1.1 Menunjukkan karakter jujur dalam
disiplin, jujur, objektif, menuliskan hasil percobaan.
terbuka, mampu 2.1.2 Menunjukkan karakter aktif dalam
membedakan fakta dan opini, proses pembelajaran materi asam
ulet, teliti, bertanggung jawab, basa.
kritis, kreatif, inovatif,
demokratis, komunikatif) dan
melakukan percobaan serta
berdiskusi yang diwujudkan
dalam sikap sehari-hari.
2.2 Menunjukkan perilaku 2.2.1 Bekerja sama dengan anggota
kerjasama, santun, toleran, kelompoknya.
cinta damai dan peduli
lingkungan serta hemat dalam
memanfaatkan sumber daya
alam.
65

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)


3.10Menganalisis sifat larutan Pertemuan 1
berdasarkan konsep asam 3.10.1 Menjelaskan konsep asam basa
basa dan atau pH larutan. menurut Arrhenius.
3.10.2 Menjelaskan konsep asam basa
menurut Bronsted-Lowry.
3.10.3 Menuliskan persamaan reaksi asam
basa menurut Bronsted-Lowry dan
menunjukkan pasangan asam dan
basa konjugatnya.
3.10.4 Menjelaskan konsep asam dan basa
menurut Lewis.
3.10.5 Menjelaskan kelebihan dan kelemahan
asam basa.
3.10.6 Menuliskan spesi asam basa menurut
Lewis.
Pertemuan 2
3.10.7 Mengidentifikasi sifat asam dan basa
suatu larutan menggunakan indikator
kertas lakmus dan kertas indikator
universal.
3.10.8 Menentukan pH dan sifat asam dan
basa suatu larutan menggunakan
indikator kertas lakmus dan kertas
indikator universal.
3.10.9 Menyimpulkan sifat larutan asam dan
basa berdasarkan trayek perubahan
warna indikator asam basa.
3.10.10trayek pH yang telah disajikan.
66

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)


Pertemuan 3
3.10.11Menjelaskan hubungan antara derajat
ionisasi dengan tetapan ionisasi asam
(Ka) dan tetapan ionisasi basa (Kb)
berdasarkan analisis tugas.
3.10.12Menuliskan tahapan berdasarkan
analisis tugas untuk menentukan
derajat ionisasi.
3.10.13Menuliskan tahapan berdasarkan
analisis tugas untuk menentukan pH
jika diketahui derajat ionisasi.
3.10.14Menuliskan tahapan berdasarkan
analisis tugas untuk menentukan Ka
dan Kb jika diketahui derajat ionisasi.
Pertemuan 4
3.10.15 Menjelaskan penggunaan konsep pH
dalam lingkungan.
3.10.16 Menganalisis soal-soal tentang
trayek pH untuk menentukan trayek
pH larutan.
Menganalisis sifat asam dan basa berdasarkan
tabel

4.10 Mengajukan ide atau Pertemuan 2


gagasan tentang 4.10.1 Melakukan percobaan penentuan pH
penggunaan indikator yang dan sifat asam basa suatu larutan
tepat untuk menentukan berdasarkan trayek perubahan warna
keasaman asam atau basa. indikator asam basa.
67

C. Tujuan Pembelajaran
2.1.1.1 Melalui kegiatan praktikum diharapkan siswa dapat menunjukkan
sikap jujur dalam menulis hasil praktikum.
2.1.1.2 Berdasarkan penjelasan dari guru, diharapkan siswa berani bertanya
dan berpendapat dalam proses pembelajaran asam basa.
2.2.1.1 Melalui kegiatan praktikum dan diskusi, diharapkan siswa mampu
bekerja sama sesame anggota kelompoknya.
Pertemuan 1
3.10.1.1 Melalui diskusi, siswa mampu menjelaskan konsep asam basa menurut
Arrhenius dengan benar.
3.10.1.2 Melalui diskusi, siswa mampu menjelaskan konsep asam basa menurut
Bronsted-Lowry dengan benar.
3.10.1.3 Melalui diskusi, siswa mampu menuliskan persamaan reaksi asam basa
menurut Bronsted-Lowry dan menunjukkan pasangan asam dan basa
konjugatnya dengan tepat.
3.10.1.4 Melalui diskusi, siswa mampu menjelaskan konsep asam dan basa
menurut Lewis dengan benar.
3.10.1.5 Melalui diskusi, siswa mampu menjelaskan kelebihan dan kelemahan
asam basa dengan benar.
3.10.1.6 Melalui diskusi, siswa mampu menuliskan spesi asam basa menurut
Lewis dengan tepat.
Pertemuan 2
3.10.1.7 Melalui data hasil percobaan, siswa mampu mengidentifikasi sifat asam
dan basa suatu larutan menggunakan indikator kertas lakmus dan
kertas indikator universal dengan tepat.
3.10.1.8 Diberikan data hasil percobaan, siswa mampu menentukan pH dan sifat
asam dan basa suatu larutan menggunakan indikator kertas lakmus dan
kertas indikator universal dengan tepat.
3.10.1.9 Siswa mampu menyimpulkan sifat larutan asam dan basa berdasarkan
trayek perubahan warna indikator asam basa dengan benar.
68

Pertemuan 3
3.10.1.10 Siswa mampu menjelaskan hubungan antara derajat ionisasi dengan
tetapan ionisasi asam (Ka) dan tetapan ionisasi basa (Kb) berdasarkan
analisis tugas dengan benar.
3.10.1.11 Siswa mampu menuliskan tahapan berdasarkan analisis tugas untuk
menentukan derajat ionisasi dengan benar.
3.10.1.12 Siswa mampu menuliskan tahapan berdasarkan analisis tugas untuk
menentukan pH jika diketahui derajat ionisasi dengan benar.
3.10.1.13 Siswa mampu menuliskan tahapan berdasarkan analisis tugas untuk
menentukan Ka dan Kb jika diketahui derajat ionisasi dengan benar.
Pertemuan 4
3.10.1.14 Melalui diskusi, siswa dapat menjelaskan penggunaan konsep pH
dalam lingkungan.
3.10.1.15 Melalui diskusi, siswa mampu menganalisis soal-soal tentang trayek
pH untuk menentukan trayek pH larutan dengan tepat.
3.10.1.16 Melalui diskusi, siswa mampu menganalisis sifat asam dan basa
berdasarkan tabel trayek pH yang telah disajikan dengan tepat.
Pertemuan 4
4.10.1.1 Melalui kegiatan percobaan, siswa mampu melakukan percobaan
penentuan pH dan sifat asam basa suatu larutan berdasarkan trayek
perubahan warna indikator asam basa dengan tepat.
D. Materi Pembelajaran
Pertemuan 1 : Teori Asam Basa
Pertemuan 2 : Indikator Asam Basa
Pertemuan 3 : Kekuatan asam dan basa
Pertemuan 4 : Trayek pH
E. Model Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Pendekatan Pembelajaran
Pertemuan 1:
Model Pembelajaran : Kooperatif Tipe NHT
Metode : Diskusi, tanya jawab
Pendekatan : Saintific Approach
69

Pertemuan 2:
Model Pembelajaran : Direct Instruction pendekatan prosedural
Metode : Ceramah, Praktikum dan tanya jawab
Pendekatan : Saintific Approach
Pertemuan 3:
Model Pembelajaran : Direct Instruction pendekatan deklaratif
Metode : Ceramah, tanya jawab
Pendekatan : Saintific Approach
Pertemuan 4:
Model Pembelajaran : Kooperatif Tipe NHT
Metode : Diskusi, tanya jawab
Pendekatan : Saintific Approach

F. Media, Alat dan Sumber Belajar


1. Sumber Pembelajaran
a. Buku Kimia Kelas XI
b. Lembar Kerja Siswa (LKPD)
2. Media Pembelajaran
Media/Alat : Papan Tulis/White Board, Alat Lab, Power point
3. Alat dan Bahan Pembelajaran
a. Alat :
1) Pipet tetes
2) Pelat tetes
3) Tabung reaksi
4) Gelas ukur
b. Bahan
1) Larutan : HCl, H2SO4, CH3COOH, NaOH, Ba(OH)2, NH3, HCOOH,
HNO3, aquades, NH4OH
2) Indikator universal dan Kertas lakmus biru dan lakmus merah
70

G. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1 (2x45menit)
Kegiatan Deskripsi Waktu
Pembelajaran
Pendahuluan Fase 1 : menyampaikan tujuan dan memotivasi 10 menit
siswa
1. Guru menyampaikan salam .dan memulai
pembelajaran dengan berdoa.
2. Guru memeriksa kehadiran siswa.
3. Siswa mengamati, bertanya, dan
berpendapat pada saat guru memberikan
apersepsi dan motivasi.
4. Guru mengkomunikasikan tujuan
pembelajaran.
5. Guru menyampaikan mengenai informasi
bahwa materi pokok yaitu tentang teori
asam basa akan dipelajari menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe NHT.
71

Kegiatan Deskripsi Waktu


Pembelajaran
Inti Fase 2 : menyajikan informasi 70 menit
1. Guru menyajikan materi teori asam basa
secara garis besar. (mengamati)
2. Siswa diberikan kesempatan untuk
bertanya atau berpendapat mengenai
konsep teori asam basa
Fase 3 : mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok bekerja dan belajar
Langkah 1 : penomoran
1. Guru mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok kooperatif (1 kelompok
heterogen dari 6 siswa) kemudian siswa
duduk dalam kelompoknya masing-
masing.
2. Guru memberikan nomor kepala 1-6 sesuai
jumlah anggota pada masing-masing
anggota kelompok.
Fase 4 : membimbing kelompok belajar dalam
anggota
Langakah 2 : mengajukan pertanyaan
1. Guru membagikan Lembar Kegiatan Siswa
1 tentang teori asam basa, dan meminta
siswa untuk mempelajari LKPD tersebut.
2. Siswa dibimbing bertanya mengenai
konsep yang belum dipahami.
3. Siswa dibimbing untuk menganalisis
konsep teori asam basa secara
berkelompok. (mengumpulkan data)
72

Kegiatan Deskripsi Waktu


Pembelajaran
Langkah 3 : Berpikir bersama
1. Siswa saling bertukar pendapat dengan
mendiskusikan soal yang terdapat pada
LKPD 1 tentang teori asam basa secara
berkelompok, sehingga setiap anggota
kelompok memahami dan mengetahui
jawaban dari pertanyaan pada LKPD 1.
(mengasosiasi)
Fase 5 : evaluasi
langkah 4 : Menjawab
1. Siswa ditunjuk oleh guru berdasarkan
nomor kepala untuk mewakili
kelompoknya menjawab pertanyaan pada
LKPD 1 tentang teori asam basa siswa yang
ditujuk harus berpendapat menyampaikan
hasil kerja kelompoknya. Sedangkan
kelompok lain dapat berpendapat atau
bertanya.
Siswa bersama guru mengevaluasi jawaban dengan
menanggapi setiap jawaban yang diberikan perwakilan
kelompok.
Penutup Fase 6 (memberikan penghargaan) 10 menit
1. Guru memberikan penghargaan kepada
kelompok yang mendapatkan poin lebih
banyak yang berhasil dikumpulkan.
2. Guru bersama siswa mengakhiri
pembelajaran dengan berdoa.
73

Pertemuan 2 (2x45menit)
Kegiatan Deskripsi Waktu
Pembelajaran
Pendahuluan Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memberi 10 menit
motivasi
1. Guru memberikan salam dan menanyakan
kabar siswa hari ini serta mengecek
kehadiran siswa.
2. Siswa mengamati, bertanya, dan
berpendapat pada saat guru memberikan
apersepsi dan motivasi.
3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
4. Guru menyampaikan mengenai informasi
bahwa materi pokok yaitu tentang indikator
asam basa akan dipelajari menggunakan
pembelajaran Direct instruction.

Inti Tahap 1 70 menit


Fase 2 : Menyampaikan pengetahuan atau
keterampilan
1. Guru menginstrusikan siswa untuk duduk
dengan kelompoknya sesuai pada
pertemuan sebelumnya.
2. Guru membagikan LKPD 2 tentang
indikator asam basa.
3. Guru membagi alat dan bahan percobaan,
dan setiap perwakilan kelompok
mengambil alat dan bahan didepan kelas.
74

Kegiatan Deskripsi Waktu


Pembelajaran
4. Guru menjelaskan alat dan bahan yang akan
digunakan.
5. Guru mempersilahkan siswa untuk
bertanya apabila ada yang belum dipahami.
6. Guru menjelaskan langkah demi langkah
untuk percobaan menentukan jenis larutan
asam/basa menggunakan kertas lakmus
langkah-langkahnya sebagai berikut:
1) Indikator kertas lakmus :
a. Menyiapkan alat dan bahan
percobaan.
b. Mengambil masing-masing larutan
dengan pipet tetes sebanyak 4 tetes.
c. Masukkan masing-masing larutan
tersebut dalam plat tetes
d. Mengambil kertas lakmus merah
dan biru dan masukkan kertas
lakmus merah dan biru ke dalam
masing-masing larutan dan air yang
berada di plat tetes
e. Diamati perubahan warna yang
terjadi pada kertas lakmus.
7. Guru mencontohkan di depan kelas dengan
melakukan percobaan 1 yaitu dengan
kertas lakmus dan seluruh siswa
memperhatikan.
75

Kegiatan Deskripsi Waktu


Pembelajaran
Fase 3 : Melakukan latihan terbimbing
1. Kemudian guru mengajak siswa bersama-
sama melakukan percobaan 1 secara
berkelompok.
Tahap 2
Fase 2 : Menyampaikan pengetahuan atau
keterampilan
1. Guru menjelaskan langkah demi langkah
untuk menentukan pH larutan
menggunakan indikator universal, langkah-
langkahnya sebagai berikut:
2) Indikator Universal
a. Menyiapkan indikator universal
beserta skala pH
b. Memasukkan indikator universal
dalam masing-masing larutan
c. Menentukan besarnya pH dengan
mencocokkan warna indikator dengan
skala pH
d. Menentukan sifat larutan termasuk
asam atau basa pada larutan tersebut
2. Guru mencotohkan di depan kelas, langkah
selanjutnya untuk menentukan pH larutan
menggunakan kertas indikator universal
yaitu percobaan 2.
Fase 3 : Melakukan latihan terbimbing
3. Kemudian guru mengajak siswa bersama-
sama melakukan percobaan 2 secara
berkelompok.
76

Kegiatan Deskripsi Waktu


Pembelajaran
Fase 4 : Mengecek pemahaman dan memberikan
umpan balik
1. Guru meminta siswa untuk menjawab soal
pada LKPD 2 secara mandiri.
2. Guru meminta siswa untuk berpendapat
menyampaikan hasil kerjanya di depan
kelas. Sedangkan siswa lain dapat
berpendapat atau bertanya.
Guru memberikan umpan balik terhadap pelajaran.

Penutup Penutup 10menit

Fase 5 : Memberikan latihan lanjutan


1. Siswa menyimpulkan materi indikator
asam basa yang telah dipelajari dengan
bimbingan guru.
2. Guru bersama siswa menutup mengakhiri
pembelajaran.
77

Pertemuan 3 (2x45menit)
Kegiatan Deskripsi Waktu
Pembelajaran
Pendahuluan Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memberi 10 menit
motivasi
1 Guru memberikan salam dan menanyakan
kabar siswa hari ini serta mengecek
kehadiran siswa.
2 Siswa mengamati, bertanya, dan
berpendapat pada saat guru memberikan
apersepsi dan motivasi.
3 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
4 Guru menyampaikan mengenai informasi
bahwa materi pokok yaitu tentang kekuatan
asam basa akan dipelajari menggunakan
pembelajaran Direct instruction.
Inti Tahap 1 70 menit
Fase 2 : Menyampaikan pengetahuan atau
keterampilan
1. Guru membagikan LKPD 3 tentang kekuatan
asam basa.
2. Guru menjelaskan langkah demi langkah
menentukan derajat ionisasi dan menghitung
pH jika diketahui derajat ionisasi serta
langkah-langkah menghitung Ka dan Kb jika
diketahui derajat ionisasi dengan langkah
sebagai berikut:
78

Kegiatan Deskripsi Waktu


Pembelajaran
 Langkah menentukan derajat ionisasi dan
menghitung pH jika diketahui derajat
ionisasi:
1) Menghitung jumlah zat mula-mula
2) Menghitung jumlah zat pengion
3) Menghitung derajat ionisasi
4) a Menghitung nilai [H+]
4) b Menghitung nilai [OH-]
5) Menghitung nilai pOH
6) Menghitung pH larutan
 Langkah menghitung Ka dan Kb bila
diketahui tetapan ionisasi:
1) Menentukan derajat ionisasi
2) Menghitung kemolaran
3) a. Menghitung Ka
3) b. Menghitung Kb
3. Guru mempersilahkan siswa untuk bertanya
apabila ada yang belum dipahami.
Fase 3 : Melakukan latihan terbimbing
1. Guru bersama siswa melakukan latihan
terbimbing dengan langkah 1-6
menentukan derajat ionisasi dan
menghitung pH jika diketahui derajat
ionisasi serta perhitungan Ka dan Kb jika
diketahui derajat ionisasi langkah 1-3.
79

Kegiatan Deskripsi Waktu


Pembelajaran
Fase 4 : Mengecek pemahaman siswa dan memberi
umpan balik
1. Guru meminta siswa mengerjakan
latihan mandiri yang ada di LKPD 3 sesuai
dengan langkah-langkah yang diajarkan
guru.
2. Guru meminta siswa untuk berpendapat
menyampaikan hasil kerjanya di depan
dikelas. Sedangkan siswa lain dapat
berpendapat atau bertanya.
3. Guru memberikan umpan balik terhadap
pelajaran.
Penutup Penutup 10 menit

Fase 5 : Memberikan latihan lanjutan


1. Siswa menyimpulkan materi kekuatan asam
dan basa yang telah dipelajari dengan
bimbingan guru.
2. Guru bersama siswa menutup mengakhiri
pembelajaran.
80

Pertemuan 4 (2x45menit)
Kegiatan Deskripsi Waktu
Pembelajaran
Pendahuluan Fase 1 : menyampaikan tujuan dan memotivasi 10 menit
siswa
1. Guru menyampaikan salam .dan memulai
pembelajaran dengan berdoa.
2. Guru memeriksa kehadiran siswa.
3. Siswa mengamati, bertanya, dan
berpendapat pada saat guru memberikan
apersepsi dan motivasi.
4. Guru mengkomunikasikan tujuan
pembelajaran mengenai trayek pH.
5. Siswa diberikan penjelasan mengenai model
pembelajaran yang digunakan.
Inti Fase 2 : menyajikan informasi 70 menit
1. Guru menyajikan materi trayek pH secara
garis Siswa diberikan kesempatan untuk
bertanya atau berpendapat mengenai materi
trayek pH.
Fase 3 : mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok belajar
Langkah 1 : penomoran
1. Guru mengorganisasikan siswa duduk
dalam kelompoknya masing-masing sesuai
dengan pertemuan 1 dan pertemuan 2.
2. Guru memberikan nomor kepala 1-6 sesuai
jumlah anggota pada masing-masing
anggota kelompok.
81

Kegaitan Deskripsi Waktu


Pembelajaran
Fase 4 : membimbing kelompok bekerja dan
belajar dalam anggota
Langakah 2 : mengajukan pertanyaan
1. Guru membagikan Lembar Kegiatan Siswa 4
tentang trayek pH, dan meminta siswa
untuk mempelajari LKPD tersebut.
2. Siswa dibimbing bertanya mengenai konsep
yang belum dipahami.
3. Siswa dibimbing untuk menganalisis konsep
teori asam basa secara berkelompok.
(mengumpulkan data)
Langkah 3 : Berpikir bersama
1. Siswa saling bertukar pendapat dengan
mendiskusikan soal yang terdapat pada
LKPD 4 tentang trayek pH secara
berkelompok, sehingga setiap anggota
kelompok memahami dan mengetahui
jawaban dari pertanyaan pada LKPD 4.
(mengasosiasi)
82

Kegiatan Deskripsi Waktu


Pembelajaran
Fase 5 : evaluasi
langkah 4 : Menjawab
1. Siswa ditunjuk oleh guru berdasarkan
nomor kepala untuk mewakili kelompoknya
menjawab pertanyaan pada LKPD 4 tentang
trayek pH siswa yang ditujuk harus
berpendapat menyampaikan hasil kerja
kelompoknya. Sedangkan kelompok lain
dapat berpendapat atau bertanya.
2. Siswa bersama guru mengevaluasi jawaban
dengan menanggapi setiap jawaban yang
diberikan perwakilan kelompok.
Penutup Fase 6 : memberikan penghargaan 10 menit
1. Guru memberikan penghargaan kepada
kelompok yang mendapatkan poin lebih
banyak yang berhasil dikumpulkan.
2. Guru bersama siswa mengakhiri
pembelajaran dengan berdoa.
83

H. Penilaian
1. Pengetahuan
a. Teknik Penilaian : Tes Tertulis
b. Bentuk Penilaian : Pre-Test dan Post-Test
2. Ketermpilan Komunikasi
a. Teknik Penilaian : Pengamatan
b. Bentuk instrumen : Lembar pengamatan
c. Kisi-kisi :

No. Keterampilan Komunikasi Butir

Bertanya

1 Siswa bertanya sesuai dengan


tingkatan Taksonomi Bloom

No. Keterampilan Komunikasi Butir

Berpendapat

1 Siswa menyampaikan pendapat


dengan analitis dan logis.
84

LAMPIRAN 4

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK


(LKPD) 1
TEORI ASAM BASA

Kelompok :........................................................................
Anggota Kelompok:........................................................................
...........................................................................
............................................................................
............................................................................
............................................................................
........................................................................... XI/2
DI ADAPTASI LKPD DARI : Suci Kartika Sari Eka
Pratiwi
85
Tujuan Pembelajaran

1 Melalui kegiatan diskusi, siswa mampu mendeskripsikan perbedaan asam dan


basa Arrhenius dengan benar.

2 Melalui kegiatan diskusi, siswa mampu mendeskripsikan perbedaan asam dan


basa Bronsted-Lowry dengan benar.

3 Melalui kegiatan diskusi, siswa mampu mendeskripsikan perbedaan asam dan


basa Lewis dengan benar.

4 Melalui kegiatan diskusi, siswa mampu menentukan asam dan basa Arrhenius
dengan benar.

5 Melalui kegiatan diskusi, siswa mampu menentukan asam dan basa Bronsted-
Lowry dengan benar.

6 Melalui kegiatan diskusi, siswa mampu menentukan asam dan basa Lewis
dengan benar.
86

Ringkasan Materi

1. Teori Asam Basa


a. Teori Asam-Basa Arrhenius
Teori Arrhenius dikemukakan oleh Svante Arrhenius pada tahun
1887. Arrhenius mengemukakan bahwa asam adalah senyawa yang
apabila terlarut dalam air mengahsilkan ion H+, sedangkan basa adalah
senyawa yang apabila terlarut dalam air menghasilkan ion OH-.
Kelemahan dari teori asam basa Arrhenius ini yaitu hanya menjelaskan
senywa-senyawa asam dan basa dalam pelarut air (Chang,2003).
b. Teori Asam-Basa Bronsted-lowry
Teori Bronsted-Lowry diambil dari dua nama ilmuwan yaitu
Johannes Nicolaus Bronsted dan Thomas Thomas Martin Lowry. Mereka
mengemukakan bahwa asam adalah spesi yang dapat memberikan atau
donor proton (H+), sedangkan basa adalah spesi yang dapat menerima atau
akseptor proton (H+). Setelah melepas satu proton (asam) akan membentuk
spesi yang disebut asam konjugasi dari basa tersebut.Kelebihan dari teori
asam basa Bronsted-Lowry ini yaitu tidak terbatas hanya dalam pelarut air
saja tetapi juga dapat menjelaskan reaksi dalam pelarut lain. Kelemahan
teori ini yaitu sulit untuk menentukan suatu zat, karena tergantung pada
pasangan reaksinya (Chang, 2003).
c. Teori Asam-Basa Lewis
Teori Lewis ditemukan oleh ilmuwan Gilbert N. Lewis. Gilbert N.
Lewis mengemukakan bahwa asam adalah spesi yang menerima
(akseptor) pasangan elektron bebas, sedangkan basa adalah spesi yang
memberi (donor) pasangan elektron bebas. Kelebihan teori asam basa lewis
yaitu dapat mencakup banyak reaksi asam-basa meskipun tidak
melibatkan proton (Chang, 2003).
87

AYO
BERDISKUSI!

Diskusikan dan kerjakanlah latihan soal dibawah ini bersama kelompok anda!

1. Mengapa HCl dan H2SO4 disebut asam, sedangkan NaOH dan Al(OH)3 disebut
basa menurut teori Arrhenius? Jelaskan dan setarakan reaksi ionisasinya!
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
2. Tuliskan reaksi ionisasi dari senyawa berikut.
a. H3PO4
b. KOH
c. Ba(OH)2

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

3. Jelaskan perbedaan asam dan basa menurut Bronsted-Lowry!


……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
88

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
4. Jelaskan perbedaan asam dan basa menurut teori Lewis!
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

5. Tentukanlah asam dan basa Bronsted-Lowry serta konjugatnya dari beberapa


reaksi berikut:
a. NH3 (aq) + HCl (l) ⇌ NH4+ (aq) + Cl- (aq)
b. CH3COOH (aq) + H2O (l) ⇌ CH3COO- (aq) + H3O+ (aq)
c. HNO3 (aq) + H2PO4 (aq) ⇌ H3PO4 (aq) + NO3- (aq)

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

6. Jelaskan kelebihan dan kelemahan teori asam basa Arrhenius, Bronsted-Lowry


dan Lewis !
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
89

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
7. Jelaskan sifat asam dan basa dari senyawa NH3 dan BF3 menurut teori Lewis !
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
90

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK


(LKPD) 2
LARUTAN ASAM BASA

Nama :........................................................................

Kelas :.........................................................................

XI/2

DI ADAPTASI LKPD DARI : Suci Kartika Sari Eka


Pratiwi
91

Tujuan Pembelajaran

1. Melalui data hasil percobaan, siswa mampu mengidentifikasi sifat asam dan basa
suatu larutan menggunakan indikator kertas lakmus dan kertas indikator universal
dengan tepat.
2. Diberikan data hasil percobaan, siswa mampu menentukan pH dan sifat asam dan
basa suatu larutan menggunakan indikator kertas lakmus dan kertas indikator
universal dengan tepat.
3. Siswa mampu menyimpulkan sifat larutan asam dan basa berdasarkan trayek
perubahan warna indikator asam basa dengan benar.
4. Melalui kegiatan praktikum, siswa mampu merancang dan melakukan percobaan
penentuan pH dan sifat asam basa suatu larutan berdasarkan trayek perubahan
warna indikator asam basa dengan tepat.
5. Melalui praktikum, siswa dapat terampil menggunakan:
a. Pipet tetes
b. Indikator kertas lakmus
c. Indikator universal
92

Ringkasan Materi

1. Indikator Asam Basa


Indikator asam basa adalah suatu zat yang mempunyai warna tertentu pada
pH tertentu. Sebagai contoh, brotimol biru (BTB) akan berwarna kuning
dalam lingkungan asam, berwarna biru dalam basa, dan berwarna hijau
pada suasana netral. Pengertian indikator asam basa adalah cara untuk
mengetahui jenis suatu larutan tersebut asam, basa atau netral
menggunakan indikator baik indikator alami maupun buatan. Cara
penentuan larutan yang bersifat asam, basa, atau netral dapat menggunakan
kertas lakmus, dan indikator universal.
a. Kertas lakmus
Untuk mengidentifikasi suatu larutan yang bersifat asam, basa, atau
netral secara sederhana dapat digunakan kertas lakmus. Dalam larutan
yang bersifat asam kertas lakmus berwarna merah, sedangkan dalam
larutan yang bersifat basa kertas lakmus berwarna biru. Warna kertas
lakmus dalam larutan yang bersifat asam, basa, netral ditunjukkan pada
tabel di bawah ini:
Tabel Perubahan Warna kertas lakmus dalam larutan asam basa
Indikator Kertas lakmus Larutan asam Larutan Larutan netral
basa
Lakmus Merah Biru Merah
merah
Lakmus Merah biru Biru
biru
b. Indikator Universal

Indikator universal adalah gabungan beberapa jenis indikator


yang sensitif dalam kisaran pH yang luas. Setiap komponen indikator
universal akan berubah warna pada pH yang berbeda sehingga indikator
menampilkan berbagai warna sesuai dengan pH larutan uji. Pada pH < 3
termasuk asam kuat, pada pH 3-6 termasuk asam lemah, pada pH 7
93

termasuk netral, pada pH 8-11 termasuk basa lemah dan pada pH > 11
termasuk basa kuat.

http://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil
/Identifikasi-Asam-dan-Basa-2013/konten4.html
Indikator universal ada dua macam yaitu indikator yang berupa
kertas dan indikator yang berupa larutan. Cara menggunakan indikator
universal bentuk kertas adalah dengan cara mencelupkan kertas tersebut
ke dalam larutan yang hendak kita ketahui pH-nya. Sedangkan jika
menggunakan indikator universal bentuk larutan adalah dengan cara
memasukan/meneteskan larutan indikator universal ke dalam larutan
yang hendak kita ketahui pH-nya. Warna yang terbentuk kemudian
dicocokkan / dibandingkan dengan warna standar yang sudah diketahui
nilai pH-nya. Dengan mengetahui nilai pH maka dapat ditentukan
apakah larutan bersifat asam, basa atau netral.
94

Untuk mengidentifikasi sifat larutan asam basa dapat dilakukan dengan


percobaan dibawah ini:

Analisis Tugas
I. Judul Percobaan : Penentuan sifat dan pH larutan asam basa
II. Tujuan Percobaan : Menentukan jenis larutan termasuk asam atau basa dan
menentukan besar pH larutan tersebut
III. Alat dan Bahan :
1. Alat :
1) Pipet tetes
2) Plat tetes
3) Tabung reaksi
2. Bahan :
1) Larutan : HCl, H2SO4, CH3COOH, NaOH, Ba(OH)2, NH3, HCOOH, HNO3,
aquades, NH4OH
2) Indikator universal
3) Kertas lakmus biru dan lakmus merah
IV. Alur Percobaan :
1. Kertas Lakmus

a. Menyiapkan alat dan bahan

b. Mengambil masing-masing larutan dengan pipet tetes


sebanyak 4 tetes

c. Masukkan masing-masing larutan tersebut dalam plat tetes

d. Mengambil kertas lakmus merah dan biru dan masukkan


kertas lakmus merah dan biru ke dalam masing-masing
larutan dan air yang berada di plat tetes

e. Diamati perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus


95

2. Indikator Universal

a. Menyiapkan indikator universal beserta skala pH

b. Memasukkan indikator universal dalam masing-masing


larutan

c. Menentukan besarnya pH dengan mencocokkan warna


indikator dengan skala pH

d. Menentukan sifat larutan termasuk asam atau basa


pada larutan tersebut

e. Tulislah hasil pengamatan kalian pada tabel hasil


pengamatan
96

A. Tabel Pengamatan
No. Jenis Larutan Perubahan warna Indikator Universal Sifat
Lakmus Lakmus Perubahan pH Larutan
Biru Merah Warna
1. Asam klorida
(HCl)
2. Asam sulfat
(H2SO4)
3. Asam asetat
(CH3COOH)
4. Natrium
hidroksida
(NaOH)
5. Ba(OH)2
(Barium
Hidroksida )
6. Asam
Amonia
(NH3)
7. Asam format
(HCOOH)
8. Asam nitrat
(HNO3)
9. Aquades
(H2O)
10. NH4OH
(ammonium
hidroksida)
97

B. Analisis Data
1. Larutan manakah yang bersifat asam kuat dan asam lemah ? Jelaskan alasan
anda !
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
………………………….……………………………………………………………..
2. Larutan manakah yang bersifat basa kuat dan basa lemah ? Jelaskan alasan
anda !
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………….

3. Larutan manakah yang bersifat netral ? Jelaskan alasan anda !


…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
………………………….………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………….
4. Larutan manakah yang bersifat netral ? Jelaskan alasan anda !
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
98

…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
………………………….………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………….
C. Kesimpulan
Buatlah kesimpulan berdasarkan percobaan yang telah anda lakukan !
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
………….…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………….
99

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK


(LKPD) 3
KEKUATAN ASAM DAN BASA

Nama :…………………………………………………….

Kelas :.........................................................................

XI/2
DI ADAPTASI LKPD DARI : Suci Kartika Sari Eka
Pratiwi
100

Tujuan Pembelajaran

3.10.17Melalui analisis tugas, siswa mampu menjelaskan hubungan antara derajat


ionisasi dengan tetapan ionisasi asam (Ka) dan tetapan ionisasi basa (Kb)
berdasarkan andengan benar.
3.10.18Siswa mampu menuliskan tahapan berdasarkan analisis tugas untuk
menentukan derajat ionisasi dengan benar.
3.10.19Siswa mampu menuliskan tahapan berdasarkan analisis tugas untuk
menentukan pH jika diketahui derajat ionisasi dengan benar.
3.10.20Siswa mampu menuliskan tahapan berdasarkan analisis tugas untuk
menentukan Ka dan Kb jika diketahui derajat ionisasi dengan benar.
101

Ringkasan Materi

4) Kekuatan Asam Basa


1. Derajat ionisasi
Derajat ionisasi adalah perbandingan antara jumlah zat yang mengion
dengan jumlah zat mula-mula.
𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖
α = 𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡−𝑧𝑎𝑡 𝑚𝑢𝑙𝑎−𝑚𝑢𝑙𝑎

Jika zat mengion sempurna, maka derajat ionisasi = 1


Jika zat tidak ada yang mengion, maka derajat ionisasi = 0
Jadi batas-batas nilai derajat ionisasi adalah 0 ≤ α ≤1
Zat elektrolit yang mempunyai derajat ionisasi besar (mendekati 1)
disebut elektrolit kuat, sedangkan zat yang derajat ionisasi kecil
(mendekati 0) disebut elektrolit lemah.
Contoh :
Zat elektrolit kuat :
Asam : HCl, H2SO4, HNO3 dan HClO4
Basa : NaOH, KOH, Ba(OH)2 dan Ca(OH)2
Contoh :
Zat elektrolit lemah
Asam : CH3COOH, H2CO3, H2S dan HCN
Basa : NH3
2. Kekuatan Asam
a) Tetapan ionisasi asam (Ka)
telah disebutkan bahwa asam kuat mengion sempurna. Reaksi
ionisasinya merupakan merupakan reaksi berkesudahan.
Contoh : HCl (aq) → Cl- + H+
Di lain pihak, asam lemah terion sebagian. Reaksi ionisasinya
merupakan reaksi kesetimbangan.
Contoh : CH3COOH (aq) ⇌ CH3COOH- (aq) + H+
102

Secara umum, reaksi ionisasi asam lemah valensi satu dapat


dirumuskan sebagai berikut :
HA (aq) ⇌ H+ (aq) + A- (aq)
Tetapan kesetimbangan untuk ionisasi asam disebut tetapan
ionisasi asam dan diberi lambing Ka. Untuk asam lemah HA dapat
dituliskan tetapan ionisasinya adalah sebagai berikut :
Ka = [H+] [A-]
[HA]
Hubungan antara kekuatan asam dengan kesetimbangan asam
(Ka) adalah semakin kuat suatu asam, maka reaksi kesetimbangan
asam semakin condong ke kanan. Akibatnya nilai Ka bertambah besar.
Oleh karena itu, nilai Ka mencerminkan kekuatan asam. Semakin besar
Ka semakin kuat asam.
b) Hubungan tetapan ionisasi asam (Ka) dengan derajat ionisasi
Telah disebutkan bahwa derajat ionisasi adalah perbandingan
antara jumlah zat yang mengion dengan jumlah zat mula-mula.
𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖
α = 𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡−𝑧𝑎𝑡 𝑚𝑢𝑙𝑎−𝑚𝑢𝑙𝑎

Jika konsentrasi elektrolit (zat mula-mula) adalah M (molar), maka


persamaan di atas dapat ditulis sebagai berikut :
𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖
α= 𝑀

Selanjutnya, komposisi kesetimbangan dari suatu asam lemah (HA)


yang mempunyai konsentrasi M (molar) dan terionisasi dengan derajat
ionisasi α dapat dinyatakan sebagai berikut :
HA ⇌ H+ (aq) + A- aq)
Mula-mula : M - -
Reaksi : - Mα + Mα + Mα
Setimbang : M(1-α) Mα Mα
Jika komposisi kesetimbangan ini dimasukkan ke dalam persamaan
tetapan kesetimbangan asam diperoleh :
Mα x Mα
Ka = 𝑀 (1−α)
103

Dengan menganggap (1- α) ≈ 1, maka persamaan diatas menjadi :


Mα x Mα
Ka = atau Ka = Mα2
𝑀

𝐾𝑎
Jadi, α = √ 𝑀

3. Kekuatan Basa
Seperti halnya asam kuat, reaksi ionisasi basa kuat merupakan
reaksi berkesudahan.
Contoh :
NaOH (aq) → Na+ + OH- (aq)
Ba(OH)2 (aq) → Ba2+ (aq) + 2OH- (aq)
Di lain pihak, reaksi ionisasi basa lemah merupakan reaksi
kesetimbangan. Secara umum, reaksi ionisasi bervalensi satu dapat
dirumuskan sebagai berikut:
LOH (aq) ⇌ L+ (aq) + OH- (aq)
Tetapan kesetimbangan persamaan di atas disebut tetapan ionisasi basa
(Kb).
Kb = [L+] x [OH-]
[LOH]
Nilai Kb merupakan merupakan ukuran kekuatan basa, semakin kuat
basa semakin besar nilai Kb dan sebaliknya.
Hubungan tetapan ionisasi basa dengan derajat ionisasi basa
adalah sebagai berikut :
𝐾𝑏
α = √𝑀

(Purba,2003)
104

Analisis Tugas

Langkah menentukan derajat ionisasi (α) dan pH jika diketahui derajat ionisasi (α)

1. Menentukan jumlah zat yang mula-mula

2. Menentukan jumlah zat mengion

3. Menentukan derajat ionisasi

4.b Menghitung [OH-]


4.a Menghitung [H+]

5. Menghitung pOH

6. Menghitung pH larutan
105

Analisis Tugas

Langkah menentukan tetapan asam (Ka) dan tetapan basa (Kb) jika diketahui derajat
ionisasi (α)

1. Menentukan derajat ionisasi yang diketahui

2. Menghitung kemolaran

3.a Menghitung tetapan 3.b Menghitung tetapan


ionisasi asam (Ka) ionisasi basa (Kb)
106

Latihan Soal Terbimbing

Langkah menentukan derajat ionisasi (α) dan pH jika diketahui derajat ionisasi (α)
1. Suatu asam lemah HX sebanyak 2 mol diarutkan ke dalam air sehingga volume
larutan menjadi 2 liter pada saat setimbang setelah terionisasi, ion H+ yang
terbentuk adalah 0,02 mol. Tentukan derajat ionisasinya !
Langkah I : Menentukan jumlah zat yang mula-mula
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Langkah II : Menentukan jumlah zat mengion
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………..
Langkah III : Menentukan derajat ionisasi
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………….
2. Hitunglah pH larutan berikut
a. HCOOH 0,1 M ; α = 0,001
b. CH3COOH 0,005 M ; α = 0,005
c. Larutan basa LOH 0,01 M ; α = 0,02
d. Larutan basa MOH 0,1 M ; α = 1%
Langkah III : Menuliskan derajat ionisasi yang telah diketahui
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Langkah IV A : Jika larutan asam, maka menentukan nilai [H+]
Langkah IV B dan V : Jika larutan basa, maka menentukan nilai [OH-] dan pOH.
Rumus : [H+] = M x α ; [OH-] = M x α ; pOH = -log [OH-]
107

…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………

Langkah VI : Jika larutan asam, maka menentukan pH melalui rumus pH = -


log[H+]. JIka larutan basa, maka menentukan nilai pH melalui rumus : pH =
14-pOH
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………….

Langkah menentukan tetapan ionisasi asam (Ka) dan tetapan ionisasi basa (Kb) jika
diketahui derajat ionisasi (α)
3. Larutan basa LOH 0,1 M mengion 2%. Tentukan nilai tetapan ionisasi basa (Kb)
tersebut !
Langkah 1 : Tuliskan derajat ionisasi (α) yang diketahui
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Langkah II : Tuliskan kemolaran yang diketahui
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Langkah III : Tentukan Kb melalui rumus
𝐾𝑏
α=√
𝑀

…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
108

Latihan Mandiri

1. Gas HCOOH sebanyak 1 mol dilarutkan ke dalam air hingga volume larutan
menjadi 2 liter. Pada saat setimbang setelah terionisasi diperoleh jumlah ion H+
sebanyak 0,01 mol. Tentukan derajat ionisasi !
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
2. Hitunglah pH larutan berikut
a. HCOOH 0,01 M ; α = 0,1
b. CH3COOH 0,03 M ; α = 0,05
c. Larutan basa LOH 0,1 M ; α = 0,02
d. Larutan basa MOH 0,1 M ; α = 5%
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
3. Asam asetat 0,01 M memiliki derajat ionisasi (α) yang sama dengan asam
HCOOH 0,1 M yang memiliki pH = 3. Tentukan nilai tetapan ionisasi asam
(Ka) asam asetat tersebut !
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
109

…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
4. Suatu basa lemah MOH (Kb = 10-7) memiliki pH = 10. Tentukan Molaritas
larutan tersebut !
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
5. Tetapan ionisasi suatu asam adalah 1 x 10-5. Tentukan asam itu mengion dalam
larutan yang konsentrasinya :
a. 0,1 M
b. 0,01 M
c. 0,001 M
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
110

LEMBAR KERJA PESERTA


DIDIK (LKPD) 4
TRAYEK pH

Kelompok :........................................................................
Anggota Kelompok:........................................................................
........................................................................
............................................................................
............................................................................ XI/2
............................................................................
...........................................................................

DI ADAPTASI LKPD DARI : Suci Kartika Sari Eka Pratiwi


111

Tujuan Pembelajaran

1. Melalui diskusi, siswa dapat menjelaskan penggunaan konsep pH


dalam lingkungan.
2. Melalui diskusi, siswa mampu menganalisis tabel pengamatan trayek
pH.
3. Melalui diskusi, siswa dapat mengidentifikasi larutan asam, basa dan
netral berdasarkan tabel pengamatan trayek pH.
112
Ringkasan Materi

Harga pH suatu larutan dapat diperkirakan dengan menggunakan trayek pH


indikator. Indikator memiliki trayek perubahan warna yang berbeda-beda.
Pengujian larutan dengan beberapa indikator akan diperoleh irisan pH yang
dapat digunakan sebagai perkiraan nilai pH suatu larutan. Daftar beberapa
indikator beserta perubahan warna, pH dan daerah perubahan warna
ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Daftar beberapa indikator beserta perubahan warna, pH dan daerah
perubahan warna
Indikator Perubahan Warna Trayek pH
Timol Biru Merah-kuning 1,2-2,8
Metil jingga Merah-kuning 3,2-4,4
Bromkesol hijau Kuning-biru 3,8-5,4
Metil merah Kuning-merah 4,8-6,0
Bromotimol biru Kuning-biru 6,0-7,6
Fenol merah Kuning-merah 6,8-8,4
Fenoftalein Tak berwarna-merah 8,2-10,0
(Sugiarto, 2015)
113

AYO
BERDISKUSI!

Diskusikan dan kerjakanlah latihan soal dibawah ini bersama kelompok anda!

Daftar beberapa indikator beserta perubahan warna, pH dan daerah perubahan


warna:
Indikator Perubahan Warna Trayek pH
Timol Biru Merah-kuning 1,2-2,8
Metil jingga Merah-kuning 3,2-4,4
Bromkesol hijau Kuning-biru 3,8-5,4
Metil merah Kuning-merah 4,8-6,0
Bromotimol biru Kuning-biru 6,0-7,6
Fenol merah Kuning-merah 6,8-8,4
Fenoftalein Tak berwarna-merah 8,2-10,0
(Tim Kimia dasar, 2015)
1. Bromtimol biru memiliki perubahan warna dari kuning-biru. Penambahan
bromtimol biru kedalam suatu larutan mengakibatkan warna larutan menjadi
biru, apakah larutan tersebut bersifat asam, basa, netral? (gunakan trayek pH
indikator bromtimol biru, tentukan kisaran harga pH larutan)
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
114

2. Air sungai yang diperoleh dari 3 tempat berbeda ditetesi dengan beberapa
indikator dan menghasilkan data sebagai berikut:
No. Sampel Air Metil Merah Bromtimol Biru Fenoftalein

1. A Merah Kuning Tidak Berwarna

2. B Kuning Biru Merah

3. C Kuning Biru Tidak Berwarna

Indikator Trayek pH

Metil Merah 4,4 - 6,2


(Merah - Kuning)
Bromtimol Biru 6,0 – 7,6
(Kuning - Biru)
Fenoftalein 8,3 – 10,0
(Tidak berwarna – merah)
Berapakah pH sampel air A,B dan C ?

…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
3. Diketahui trayek perubahan warna indikator sebagai berikut.
Metil Merah Trayek pH

Metil Merah 4,4-6,2


(Merah – Kuning)
115

Bromtimol Biru 6,0-7,6


(Kuning – Biru)

Fenoftalein 8,3-10,00
(Tidak berwarna – Merah)

Hasil analisis air sungai menunjukkan sebagai berikut.


 Terhadap indikator metil merah memberikan warna kuning.
 Terhadap indikator bromtimol biru memberi warna biru.
 Terhadap indikator fenoftalein tidak berwarna.
Berdasarkan analisis tersebut tentukan pH air sungai !
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
4. Suatu larutan yang ditetesi fenol merah mengakibatkan larutan berwarna
kuning, apakah larutan tersebut bersifat asam atau basa ? Jelaskan !
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
5. Suatu larutan B berwarna merah dengan indikator fenol merah, berwarna biru
dengan indikator bromtimol biru, dan berwarna merah dengan indikator
116

fenoftalein. Jelaskan sifat senyawa tersebut ! (gunakan trayek pH indikator


bromtimol biru, fenol merah dan fenoftalein)
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
117

LAMPIRAN 5

AYO
BERDISKUSI!

Diskusikan dan kerjakanlah latihan soal dibawah ini bersama kelompok anda!

1. Mengapa HCl dan H2SO4 disebut asam, sedangkan NaOH dan Al(OH)3
disebut basa menurut teori Arrhenius? Jelaskan dan setarakan reaksi
ionisasinya!

Jawab

a. HCl dan H2SO4 disebut asam, karena menurut teori Arrhenius asam adalah
senyawa yang apabila terlarut dalam air menghasilkan ion H+.
Reaksi ionisasi :
HCl (aq) → H+ (aq) + Cl- (aq)
H2SO4 (aq) → H+ (aq) + SO42- (aq)
b. NaOH dan Al(OH)3 disebut basa, karena menurut teori Arrhenius basa adalah
senyawa yang apabila terlarut dalam air menghasilkan ion OH-.
Reaksi ionisasi :
NaOH (aq) → Na+ (aq) + OH- (aq)
Al(OH)3 → Al3+ (aq) + 3 OH- (aq)
2. Tuliskan reaksi ionisasi dari senyawa berikut.
b. H3PO4
c. KOH
d. Ba(OH)2

Jawab

a. H3PO4 → 3H+ + PO43- (melepaskan ion hidrogen)


b. KOH → K+ + OH- (melepaskan ion hidroksida)
c. Ba(OH)2 → Ba2+ + 2 OH- (melepaskan ion hidroksida)
118

3. Jelaskan perbedaan asam dan basa menurut Bronsted-Lowry!

Jawab

a. Asam adalah spesi yang dapat memberikan (donor) proton atau ion H+ .
b. Basa adalah spesi yang dapat menerima (akseptor) proton atau ion H+.
4. Jelaskan perbedaan asam dan basa menurut teori Lewis!

Jawab

a. Asam adalah spesi yang menerima (akseptor) pasangan elektron bebas.


b. Basa adalah spesi yang memberi (donor) pasangan elektron bebas.
5. Tentukanlah asam dan basa Bronsted-Lowry serta konjugatnya dari beberapa
reaksi berikut:
a. NH3 (aq) + HCl (l) ⇌ NH4+ (aq) + Cl- (aq)
b. CH3COOH (aq) + H2O (l) ⇌ CH3COO- (aq) + H3O+ (aq)
c. HNO3 (aq) + H2PO4 (aq) ⇌ H3PO4 (aq) + NO3- (aq)

Jawab

a. NH3 (aq) + HCl (l) ⇌ NH4+ (aq) + Cl- (aq)


(Basa) (Asam) (Asam konjugat) (Basa konjugat)
b. CH3COOH (aq) + H2O (l) ⇌ CH3COO- (aq) + H3O+ (aq)
(Asam) (Basa) (Basa Konjugat) (Asam konjugat)
c. HNO3 (aq) + H2PO4 (aq) ⇌ H3PO4 (aq) + NO3- (aq)
(Asam) (Basa) (Asam konjugat) (Basa konjugat)
6. Jelaskan kelebihan dan kelemahan teori asam basa Arrhenius, Bronsted-Lowry
dan Lewis !

Jawab

a. Arrhenius
Kelebihan : berhasil menerangkan aktivitas katalis dari asam dalam reaksi-
reaksi tertentu
119

Kelemahan : hanya menjelaskan senyawa-senyawa asam dan basa dalam


pelarut air
b. Bronsted-Lowry :
Kelebihan : tidak terbatas hanya dalam pelarut air saja tetapi juga dapat
menjelaskan reaksi dalam pelarut lain.
Kelemahan : sulit untuk menentukan sifat suatu zat, karena tergantung pada
pasangan reaksinya.
c. Lewis
Kelebihan : dapat mencakup banyak reaksi asam basa meskipun tidak
melibatkan proton.
Kelemahan : hanya dapat menjelaskan sifat asam basa zat atau ion yang
mencapai kaidah oktet atau kestabilan saja.
7. Jelaskan sifat asam dan basa dari senyawa NH3 dan BF3 menurut teori Lewis !

Jawab

Boron memiliki elektron valensi tiga, yang berikatan dengan tiga atom Flour yang
memiliki elektron valensi tujuh dan membentuk tiga pasangan elektron ikatan.
Sedangkan Nitrogen memiliki elektron valensi lima, yang berikatan dengan tiga
atom hidrogen yang me3miliki elektron valensi satu dan membentuk tiga elektron
ikatan serta pasangan elektron bebas. Jadi, NH3 memiliki kemampuan untuk
mendonorkan pasangan elektron bebasnya untuk membentuk ikatan kovalen
koordinasi dengan BF3, sehingga NH3 bertindak sebagai donor pasangan elektron
(basa) dan BF3 bertindak sebagai akseptor pasangan elektron (asam).
120

D. Tabel Pengamatan
No. Jenis Perubahan warna Indikator Universal Sifat
Larutan Lakmus Lakmus Perubahan pH Larutan
Biru Merah Warna
1. Asam merah Merah merah 1 asam
klorida
(HCl)
2. Asam sulfat merah Merah merah 1 asam
(H2SO4)
3. Asam asetat merah Merah kuning 6 asam
(CH3COOH
)
4. Natrium biru Biru ungu 13 basa
hidroksida
(NaOH)
5. Ba(OH)2 biru Biru ungu 13 basa
(Barium
Hidroksida)
6. Asam biru Biru biru 11 basa
Amonia
(NH3)
7. Asam biru Biru kuning 6 basa
format
(HCOOH)
8. Asam nitrat merah Merah merah 1 asam
(HNO3)
9. Aquades biru Merah hijau 7 netral
(H2O)
121

10. NH4OH biru Biru biru 11 basa


(ammonium
hidroksida)

E. Analisis Data
1. Larutan manakah yang bersifat asam kuat dan asam lemah ? Jelaskan alasan
anda !
Jawab

Larutan Asam klorida (HCl), larutan Asam sulfat (H2SO4) dan larutan Asam
nitrat (HNO3) bersifat asam kuat karena memiliki pH < 3, sedangkan larutan
Asam asetat (CH3COOH) dan larutan Asam format (HCOOH) bersifat asam
lemah karena memiliki pH 3-6.
2. Larutan manakah yang bersifat basa kuat dan basa lemah ? Jelaskan alasan
anda !

Jawab

larutan Natrium hidroksida (NaOH), larutan Ba(OH)2 (Barium Hidroksida)


bersifat basa kuat karena memiliki pH > 11, sedangkan Asam Amonia (NH3)
dan NH4OH (ammonium hidroksida) bersifat basa lemah karena memiliki pH
8-11.
3. Larutan manakah yang bersifat netral ? Jelaskan alasan anda !

Jawab

Aquades bersifat netral karena memiliki pH = 7


F. Kesimpulan
Buatlah kesimpulan berdasarkan percobaan yang telah anda lakukan !

Larutan yang bersifat asam kuat memiliki pH < 3, dan larutan yang bersifat asam
lemah memiliki pH 3-6. Sedangkan larutan yang bersifat basa kuat memiliki pH
> 11, dan larutan yang bersifat basa lemah memiliki pH 8-11. Sedangkan larutan
yang bersifat netral memiliki pH = 7.
122

Latihan Soal Terbimbing

Langkah menentukan derajat ionisasi (α) dan pH jika diketahui derajat ionisasi (α)
i. Suatu asam lemah HX sebanyak 2 mol diarutkan ke dalam air sehingga volume
larutan menjadi 2 liter pada saat setimbang setelah terionisasi, ion H+ yang
terbentuk adalah 0,02 mol. Tentukan derajat ionisasinya !
Jawab

HX → H+ + X-
m: 2 mol - -
t : 0,02 mol + 0,02 mol 0,02 mol –
s : 0,197 mol 0,02 mol 0,02
Langkah I : Menentukan jumlah zat yang mula-mula

Jawab

2 mol
Langkah II : Menentukan jumlah zat mengion

Jawab

0,02 mol
Langkah III : Menentukan derajat ionisasi
Jawab

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑧𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑜𝑛 0,02 𝑚𝑜𝑙


α = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑧𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑙𝑎−𝑚𝑢𝑙𝑎 = = 0,01
2 𝑚𝑜𝑙

ii. Hitunglah pH larutan berikut


e. HCOOH 0,1 M ; α = 0,001
f. CH3COOH 0,005 M ; α = 0,005
g. Larutan basa LOH 0,01 M ; α = 0,02
h. Larutan basa MOH 0,1 M ; α = 1%
Langkah III : Menuliskan derajat ionisasi yang telah diketahui
123

Jawab

a. 0,001
b. 0,005
c. 0,02
d. 1% = 0,01
Langkah IV A : Jika larutan asam, maka menentukan nilai [H+]
Langkah IV B dan V : Jika larutan basa, maka menentukan nilai [OH-] dan pOH.
Rumus : [H+] = M x α ; [OH-] = M x α ; pOH = -log [OH-]

Jawab

a. [H+] = M x α b. [H+] = M x α
= 0,1 x 0,001 = 0,005 x 0,005
= 10-4 = 25 x 10-6
c. [OH-] = M x α d. [OH-] = M x α
= 0,01 x 0,02 = 0,1 x 0,01
= 2 x 10-4 = 10-3
Langkah VI : Jika larutan asam, maka menentukan pH melalui rumus pH = -
log[H+]. JIka larutan basa, maka menentukan nilai pH melalui rumus : pH =
14-pOH

Jawab

a. pH = -log [H+]
= -log [10-4]
=4
b. pH = -log [H+]
= -log [25 x 10-6]
= 6 – log 25
c. pOH = -log [OH-]
= - log [2 x 10-4]
124

= 4 – log 2
pH = 14-pOH
= 14 – (4 - log 2)
= 10 + log 2
d. pOH = -log [OH-]
= - log [ 10-3]
=3
pH = 14-pOH
= 14 – 3
= 11

Langkah menentukan tetapan ionisasi asam (Ka) dan tetapan ionisasi basa (Kb) jika
diketahui derajat ionisasi (α)
iii. Larutan basa LOH 0,1 M mengion 2%. Tentukan nilai tetapan ionisasi basa (Kb)
tersebut !
Langkah 1 : Tuliskan derajat ionisasi (α) yang diketahui
Jawab

2% = 0,02
Langkah II : Tuliskan kemolaran yang diketahui

Jawab

0,1 M
Langkah III : Tentukan Kb melalui rumus
𝐾𝑏
α = √𝑀
Jawab

𝐾𝑏
α = √𝑀

Kb = α2 x 0,1
Kb = 0,022 x 0,1
Kb = 4 x 10-5
125

Latihan Mandiri

1. Gas HCOOH sebanyak 1 mol dilarutkan ke dalam air hingga volume larutan
menjadi 2 liter. Pada saat setimbang setelah terionisasi diperoleh jumlah ion H+
sebanyak 0,01 mol. Tentukan derajat ionisasi !

Jawab

HCOOH → HCOO- + H+
m: 1 mol - -
t : 0,01 mol + 0,01 mol 0,01 mol –
s : 0,99 mol 0,01 mol 0,01
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑧𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑜𝑛 0,01 𝑚𝑜𝑙
α = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑧𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑙𝑎−𝑚𝑢𝑙𝑎 = = 0,01
1 𝑚𝑜𝑙

2. Hitunglah pH larutan berikut


e. HCOOH 0,01 M ; α = 0,1
f. CH3COOH 0,03 M ; α = 0,05
g. Larutan basa LOH 0,1 M ; α = 0,02
h. Larutan basa MOH 0,1 M ; α = 5%

Jawab

a. [H+] = M x α
= 0,01 x 0,1
= 10-3
pH = 3
b. [H+] = M x α
= 0,03 x 0,05
= 15 x 10-4
pH = 4 – log 15
c. [OH-] = M x α
= 0,1 x 0,02
= 2 x 10-3
pOH = - log [OH-]
126

= - log [2 x 10-3]
= 3 – log 2
pH = 14 – pOH
= 14 – (3 - log 2)
= 11 + log 2
d. [OH-] = M x α
= 0,1 x 0,05
= 5 x 10-3
pOH = - log [OH-]
= - log [5 x 10-3]
= 3 – log 5
pH = 14 – pOH
= 14 – (3 - log 5)
= 11 + log 5
3. Asam asetat 0,01 M memiliki derajat ionisasi (α) yang sama dengan asam
HCOOH 0,1 M yang memiliki pH = 3. Tentukan nilai tetapan ionisasi asam
(Ka) asam asetat tersebut!

Jawab

pH =3
[H+] = 10-3
[H+] = M x α
10-3 = 0,1 x α
α = 10-2
𝐾𝑎
α = √𝑀

Ka = α2 x 0,1
Kb = (10-2)2 x 0,01
Kb = 10-6
4. Suatu asam lemah HCOOH (Ka = 10-6) memiliki pH = 10. Tentukan Molaritas
larutan tersebut !
127

Jawab

pH = 10
H+ = 10-10

H+ = √𝐾𝑎 𝑥 𝑀
[10-10] = 10-6 x M
10−10
M= 10−6

= 10-4
5. Tetapan ionisasi suatu asam adalah 1 x 10-5. Tentukan asam itu mengion dalam
larutan yang konsentrasinya :
d. 0,1 M
e. 0,01 M
f. 0,001 M

Jawab

𝐾𝑎
a. α = √ 𝑀

0,00001
α=√ 0,1

α = √10−4 = 2
𝐾𝑎
b. α = √ 𝑀

0,00001
α=√ 0,01

α = √10−3 = 1,5
𝐾𝑎
c. α = √ 𝑀

0,00001
α=√ 0,001

α = √10−2 = 1
128

AYO
BERDISKUS
I!

Diskusikan dan kerjakanlah latihan soal dibawah ini bersama kelompok anda!

Daftar beberapa indikator beserta perubahan warna, pH dan daerah perubahan


warna
Indikator Perubahan Warna Trayek pH
Timol Biru Merah-kuning 1,2-2,8
Metil jingga Merah-kuning 3,2-4,4
Bromkesol hijau Kuning-biru 3,8-5,4
Metil merah Kuning-merah 4,8-6,0
Bromotimol biru Kuning-biru 6,0-7,6
Fenol merah Kuning-merah 6,8-8,4
Fenoftalein Tak berwarna-merah 8,3-10,0
(Tim Kimia dasar, 2015)
1. Bromtimol biru memiliki perubahan warna dari kuning-biru. Penambahan
bromtimol biru kedalam suatu larutan mengakibatkan warna larutan menjadi
biru, apakah larutan tersebut bersifat asam, basa, netral ? (gunakan trayek pH
indikator bromtimol biru, tentukan kisaran harga pH larutan)
Jawab

Sifat larutan adalah basa karena memberikan warna biru setelah penambahan
bromtimol biru kedalam suatu larutan dengan pH ≥ 7,6
129

2. Air sungai yang diperoleh dari 3 tempat berbeda ditetesi dengan beberapa
indikator dan menghasilkan data sebagai berikut:
No. Sampel Air Metil Merah Bromtimol Biru Fenoftalein

1. A Merah Kuning Tidak Berwarna

2. B Kuning Biru Merah

3. C Kuning Biru Tidak Berwarna

Indikator Trayek pH

Metil Merah 4,4 - 6,2


(Merah - Kuning)
Bromtimol Biru 6,0 – 7,6
(Kuning - Biru)
Fenoftalein 8,3 – 10,0
(Tidak berwarna – merah)
Berapakah pH sampel air A,B dan C ?

Jawab

Sampel A :
 Sampel A yang diuji dengan indikator metil merah menunjukkan warna
merah. Hal ini menunjukkan bahwa sampel A memiliki ≤ 4,4.
 Sampel A yang diuji dengan indikator bromtimol biru menunjukkan warna
kuning ≤ 6,0.
 Sampel A yang diuji dengan indikator fenoftalein menunjukkan tidak
berwarna ≤ 8,3.
 Jadi dapat disimpulkan bahwa pH sampel A adalah ≤ 8,3.
Sampel B :
 Sampel B yang diuji dengan indikator metil merah menunjukkan warna
kuning. Hal ini menunjukkan bahwa sampel B memiliki ≥ 6,2.
130

 Sampel B yang diuji dengan indikator bromtimol biru menunjukkan warna


biru ≥ 7,6.
 Sampel B yang diuji dengan indikator fenoftalein menunjukkan warna
merah ≥10,0.
 Jadi dapat disimpulkan bahwa pH sampel B adalah ≥ 10,0.

Sampel C :

 Sampel C yang diuji dengan indikator metil merah menunjukkan warna


kuning. Hal ini menunjukkan bahwa sampel B memiliki ≥ 6,2.
 Sampel C yang diuji dengan indikator bromtimol biru menunjukkan warna
biru ≥ 7,6.
 Sampel C yang diuji dengan indikator fenoftalein menunjukkan tidak
berwarna ≤ 8,3.
 Jadi dapat disimpulkan bahwa pH sampel C adalah 6,2 ≤ pH ≤ 8,3 .
3. Diketahui trayek perubahan warna indikator sebagai berikut.
Metil Merah Trayek pH

Metil Merah 4,4-6,2


(Merah – Kuning)

Bromtimol Biru 6,0-7,6


(Kuning – Biru)

Fenoftalein 8,3-10,00
(Tidak berwarna – Merah)

Hasil analisis air sungai menunjukkan sebagai berikut.


 Terhadap indikator metil merah memberikan warna kuning.
 Terhadap indikator bromtimol biru memberi warna biru.
 Terhadap indikator fenoftalein tidak berwarna.
Berdasarkan analisis tersebut tentukan pH air sungai !
131

Jawab

 Air sungai yang di uji dengan indikator metil merah menunjukkan warna
kuning. Hal ini menunjukkan bahwa air sungai memiliki pH ≥ 6,2.
 Air sungai yang di uji dengan indikator bromtimol biru menunjukkan warna
biru. Hal ini menunjukkan bahwa air sungai memiliki pH ≥ 7,6.
 Air sungai yang di uji dengan indikator fenoftalein menunjukkan tidak
berwarna. Hal ini menunjukkan bahwa air sungai memiliki pH ≤ 8,3.
 Jadi, dapat disimpulkan pH air sungai adalah 7,6 ≤ pH ≤ 8,3
4. Suatu larutan yang ditetesi fenol merah mengakibatkan larutan berwarna
kuning, apakah larutan tersebut bersifat asam atau basa ? Jelaskan !

Jawab

Suatu larutan yang ditetesi fenol merah menghasilkan larutan berwarna


kuning sehingga terletak pada pH ≤ 6,8, hal ini menunjukkan sifat larutan
adalah asam
5. Suatu larutan B berwarna merah dengan indikator fenol merah, berwarna biru
dengan indikator bromtimol biru, dan berwarna merah dengan indikator
fenoftalein. Jelaskan sifat senyawa tersebut ! (gunakan trayek pH indikator
bromtimol biru, fenol merah dan fenoftalein)
Jawab

Sifat senyawa tersebut adalah basa, karena memberikan warna merah pada
indikator fenol merah dengan pH ≥ 8,4. Memberikan warna biru pada
indikator bromtimol biru dengan pH ≥ 7,6. Memberikan warna tidak
berwarna pada indikator fenoftalein dengan pH ≥ 10,0.
132

LAMPIRAN 6

LEMBAR OBSERVASI KETERLAKSANAAN PEMBELAJARAN

Hari / Tanggal :
Petunjuk :
a. Beri tanda (√) pada kolom yang tersedia berdasarkan keterlaksanaan pembelajaran.
b. Kriteria penilaian keterlaksanaan pembelajaran:
0 = kegiatan tidak dilakukan
1 = apabila kegiatan terlaksana kurang baik, yaitu konten atau materinya salah,
penyampaiannya kurang jelas dan atau kurang interaktif.
2 = apabila kegiatan terlaksana cukup baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya kurang jelas dan interaktif.
3 = apabila kegiatan terlaksana baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya jelas dan kurang interaktif.
4 = apabila kegiatan terlaksana sangat baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya jelas dan interaktif.

PERTEMUAN I ( 2x 45 menit)
1. Kegiatan pembelajaran
a. Model pembelajaran: Kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)
b. Metode pembelajaran: Diskusi, tanya jawab
2. Materi ajar
Teori Asam basa menurut Arrhenius, Bronsted-Lowry dan Lewis
133

3. Langkah pembelajaran
a. Kegiatan Pendahuluan
Sintak Model Skor
Pembelajaran
Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 1 Orientasi
Menyampaikan 1. Guru mengucapkan salam pembuka.
tujuan dan 2. Guru mengecek kehadiran siswa.
memotivasi
Apersepsi dan Motivasi
siswa
3. Siswa mengamati, bertanya, dan
berpendapat pada saat guru
memberikan apersepsi dan motivasi.

Pemberian Acuan
4. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai pada
hari ini.
5. Guru menyampaikan mengenai
informasi bahwa materi pokok yaitu
tentang teori asam basa akan dipelajari
menggunakan pembelajaran kooperatif
tipe NHT.
134

b. Kegiatan Inti

Sintak Model Skor


Pembelajaran
Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 2 6. Guru menyajikan materi teori asam basa


Menyajikan secara garis besar.
informasi 7. Siswa diberikan kesempatan untuk
bertanya atau berpendapat mengenai
konsep teori asam basa.
Fase 3 Langkah 1 : penomoran
Mengorganisasi 8. Guru mengorganisasikan siswa ke
kan siswa dalam kelompok kooperatif (1 kelompok
kedalam heterogen dari 6 siswa dan telah
kelompok ditentukan oleh guru berdasarkan nilai
belajar pretest yang telah diberikan sebelumnya)
kemudian siswa duduk dalam
kelompoknya masing-masing.
9. Guru memberikan nomor kepala 1-6
sesuai jumlah anggota pada masing-
masing anggota kelompok.
Fase 4 Langakah 2 : mengajukan pertanyaan
Membimbing 10. Guru membagikan Lembar Kegiatan
kelompok Siswa 1 tentang teori asam basa, dan
bekerja dan meminta siswa untuk mempelajari
belajar LKPD tersebut.
11. Siswa dibimbing bertanya mengenai
konsep yang belum dipahami
135

12. Siswa dibimbing untuk menganalisis


konsep teori asam basa secara
berkelompok

Langkah 3 : Berpikir bersama


13. Siswa saling bertukar pendapat
mendiskusikan soal yang terdapat pada
LKPD 1 tentang teori asam basa secara
berkelompok, sehingga setiap anggota
kelompok memahami dan mengetahui
jawaban dari pertanyaan pada LKPD 1.
Fase 5 Evaluasi langkah 4 : Menjawab
14. Siswa ditunjuk oleh guru berdasarkan
nomor kepala untuk mewakili
kelompoknya menjawab pertanyaan
pada LKPD 1 tentang teori asam basa
siswa yang ditujuk harus berpendapat
menyampaikan hasil kerja
kelompoknya. Sedangkan kelompok
lain dapat berpendapat atau bertanya.
15. Siswa bersama guru mengevaluasi
jawaban dengan menanggapi setiap
jawaban yang diberikan perwakilan
kelompok
136

c. Kegiatan akhir
Sintak model Skor
pembelajaran

Kegiatan

0 1 2 3 4

Fase 6 16. Guru memberikan penghargaan kepada


Memberikan kelompok yang mendapatkan poin
penghargaan lebih banyak yang berhasil
dikumpulkan
17. Guru bersama siswa mengakhiri
pembelajaran dengan berdoa.
18. Guru mengakhiri pertemuan
pembelajaran dengan berdoa.

Mojokerto, ……………………….

Pengamat

( )
137

LEMBAR OBSERVASI KETERLAKSANAAN PEMBELAJARAN

Hari / Tanggal :
Petunjuk :
a. Beri tanda (√) pada kolom yang tersedia berdasarkan keterlaksanaan pembelajaran.
b. Kriteria penilaian keterlaksanaan pembelajaran:
0 = kegiatan tidak dilakukan
1 = apabila kegiatan terlaksana kurang baik, yaitu konten atau materinya salah,
penyampaiannya kurang jelas dan atau kurang interaktif.
2 = apabila kegiatan terlaksana cukup baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya kurang jelas dan interaktif.
3 = apabila kegiatan terlaksana baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya jelas dan kurang interaktif.
4 = apabila kegiatan terlaksana sangat baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya jelas dan interaktif.

PERTEMUAN 2 ( 2x 45 menit)

1. Kegiatan pembelajaran
a. Model pembelajaran: Direct Instruction pendekatan prosedural
b. Metode pembelajaran: Ceramah, Praktikum dan tanya jawab
2. Materi ajar
Indikator asam basa
138

3. Langkah pembelajaran
a. Kegiatan Pendahuluan
Sintak Model Skor
Pembelajaran Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 1 Orientasi
Menyampaikan 1. Guru mengucapkan salam pembuka
tujuan dan
memotivasi 2. Guru mengecek kehadiran siswa
siswa
Apersepsi dan motivasi
3. Siswa mengamati, bertanya, dan
berpendapat pada saat guru
memberikan apersepsi dan motivasi.
Pemberian acuan
4. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran.
5. Guru menyampaikan mengenai
informasi bahwa materi pokok yaitu
tentang indikator asam basa akan
dipelajari menggunakan pembelajaran
Direct instruction pendekatan
prosedural.
139

b. Kegiatan inti

Sintak Model Skor


Pembelajaran Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 2 Tahap 1
Menyampaikan 6. Guru menginstrusikan siswa untuk
pengetahuan duduk dengan kelompoknya sesuai
atau pada pertemuan sebelumnya.
keterampilan 7. Guru membagikan LKPD 2 tentang
indikator asam basa.
8. Guru membagi alat dan bahan
percobaan, dan setiap perwakilan
kelompok mengambil alat dan bahan
didepan kelas.
9. Guru menjelaskan alat dan bahan yang
akan digunakan.
10. Guru mempersilahkan siswa untuk
bertanya apabila ada yang belum
dipahami.
11. Guru meminta siswa membaca dan
mengamati langkah kerja yang ada di
LKPD 2 tentang indikator asam basa.
12. Guru menjelaskan langkah demi
langkah untuk percobaan menentukan
jenis larutan asam/basa menggunakan
kertas lakmus langkah-langkahnya
sebagai berikut:
1) Indikator kertas lakmus :
a. Menyiapkan alat dan bahan
percobaan.
140

b. Mengambil masing-masing
larutan dengan pipet tetes
sebanyak 4 tetes.
c. Masukkan masing-masing
larutan tersebut dalam plat tetes
d. Mengambil kertas lakmus
merah dan biru dan masukkan
kertas lakmus merah dan biru ke
dalam masing-masing larutan
dan air yang berada di plat tetes
e. Diamati perubahan warna yang
terjadi pada kertas lakmus.
13 Guru mencontohkan di depan kelas
dengan melakukan percobaan 1
yaitu dengan kertas lakmus dan
seluruh siswa memperhatikan.
Fase 3 14 Kemudian guru mengajak siswa
Melakukan bersama-sama melakukan
latihan percobaan 1 secara berkelompok.
terbimbing
Fase 2 Tahap 2
Menyampaikan 15 Guru menjelaskan langkah demi
pengetahuan langkah untuk menentukan pH
atau larutan menggunakan indikator
keterampilan universal, langkah-langkahnya
sebagai berikut:
c. Indikator Universal
a. Menyiapkan indikator universal
beserta skala pHMemasukkan
141

indikator universal dalam


masing-masing larutan
b. Menentukan besarnya pH
dengan mencocokkan warna
indikator dengan skala pH
c. Menentukan sifat larutan
termasuk asam atau basa pada
larutan tersebut
16 Guru mencotohkan di depan kelas,
langkah selanjutnya untuk
menentukan pH larutan
menggunakan kertas indikator
universal yaitu percobaan 2.
Fase 3 Melakukan 17 Kemudian guru mengajak siswa
latihan bersama-sama melakukan
terbimbing percobaan 2 secara berkelompok.
Fase 4 Mengecek 18 Guru meminta siswa untuk
pemahaman dan menjawab soal pada LKPD 2 secara
memberikan mandiri.
umpan balik 19 Guru meminta siswa untuk
berpendapat menyampaikan hasil
kerjanya di depan kelas. Sedangkan
siswa lain dapat berpendapat atau
bertanya.
20 Guru memberikan umpan balik
terhadap pelajaran.
142

c. Kegiatan akhir
Sintak model Skor
pembelajaran
Kegiatan
4
0 1 2 3
Fase 5 21 Siswa menyimpulkan materi
Memberikan indikator asam basa yang telah
latihan lanjutan dipelajari dengan bimbingan guru.
22 Guru bersama siswa menutup
mengakhiri pembelajaran.

Mojokerto, ……………………….

Pengamat

( )
143

LEMBAR OBSERVASI KETERLAKSANAAN PEMBELAJARAN

Hari / Tanggal :
Petunjuk :
a. Beri tanda (√) pada kolom yang tersedia berdasarkan keterlaksanaan pembelajaran.
b. Kriteria penilaian keterlaksanaan pembelajaran:
0 = kegiatan tidak dilakukan
1 = apabila kegiatan terlaksana kurang baik, yaitu konten atau materinya salah,
penyampaiannya kurang jelas dan atau kurang interaktif.
2 = apabila kegiatan terlaksana cukup baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya kurang jelas dan interaktif.
3 = apabila kegiatan terlaksana baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya jelas dan kurang interaktif.
4 = apabila kegiatan terlaksana sangat baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya jelas dan interaktif.

PERTEMUAN 3 ( 2x 45 menit)
1. Kegiatan pembelajaran
a. Model pembelajaran: Direct Instruction pendekatan deklaratif
b. Metode pembelajaran: Ceramah dan tanya jawab
2. Materi ajar
Kekuatan asam basa
144

3. Langkah pembelajaran
a. Kegiatan Pendahuluan
Sintak Model Skor
Pembelajaran Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 1 Orientasi
Menyampaikan 1. Guru mengucapkan salam pembuka.
tujuan dan
memotivasi 2. Guru mengecek kehadiran siswa.
siswa
Apersepsi dan motivasi
3. Siswa mengamati, bertanya, dan
berpendapat pada saat guru
memberikan apersepsi dan motivasi.
Pemberian acuan
4. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran.
5. Guru menyampaikan mengenai
informasi bahwa materi pokok yaitu
tentang indikator asam basa akan
dipelajari menggunakan pembelajaran
Direct instruction pendekatan
prosedural.
145

b. Kegiatan inti

Sintak Model Skor


Pembelajaran Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 2 Tahap 1
Menyampaikan 6. Guru membagikan LKPD 3 tentang
pengetahuan kekuatan asam basa.
atau 7. Guru menjelaskan langkah demi
keterampilan langkah menentukan derajat ionisasi
dan menghitung pH jika diketahui
derajat ionisasi serta langkah-langkah
menghitung Ka dan Kb jika diketahui
derajat ionisasi dengan langkah
sebagai berikut:
 Langkah menentukan derajat
ionisasi dan menghitung pH jika
diketahui derajat ionisasi:
1) Menghitung jumlah zat mula-
mula
2) Menghitung jumlah zat pengion
3) Menghitung derajat ionisasi
4) a Menghitung nilai [H+]
4) b Menghitung nilai [OH-]
5) Menghitung nilai pOH
6) Menghitung pH larutan
 Langkah menghitung Ka dan Kb
bila diketahui tetapan ionisasi:
1) Menentukan derajat ionisasi
2) Menghitung kemolaran
146

3) a. Menghitung Ka
3) b. Menghitung Kb
8. Guru mempersilahkan siswa untuk
bertanya apabila ada yang belum
dipahami
Fase 3 9. Guru bersama siswa melakukan
Melakukan latihan terbimbing dengan langkah 1-
latihan 6 menentukan derajat ionisasi dan
terbimbing menghitung pH jika diketahui derajat
ionisasi serta perhitungan Ka dan Kb
jika diketahui derajat ionisasi langkah
1-3.
Fase 4 10. Guru meminta siswa mengerjakan
Mengecek latihan mandiri yang ada di LKPD 3
pemahaman sesuai dengan langkah-langkah yang
siswa dan diajarkan guru.
memberi umpan 11. Guru meminta siswa untuk
balik berpendapat menyampaikan hasil
kerjanya di depan dikelas.
Sedangkan siswa lain dapat
berpendapat atau bertanya.
12. Guru memberikan umpan balik
terhadap pelajaran.
147

c. Kegiatan akhir
Sintak model Skor
pembelajaran Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 5 13. Siswa menyimpulkan materi


Memberikan indikator asam basa yang telah
latihan lanjutan dipelajari dengan bimbingan guru.
14. Guru bersama siswa menutup
mengakhiri pembelajaran.

Mojokerto, ……………………….

Pengamat

( )
148

LEMBAR OBSERVASI KETERLAKSANAAN PEMBELAJARAN

Hari / Tanggal :
Petunjuk :
a. Beri tanda (√) pada kolom yang tersedia berdasarkan keterlaksanaan pembelajaran.
b. Kriteria penilaian keterlaksanaan pembelajaran:
0 = kegiatan tidak dilakukan
1 = apabila kegiatan terlaksana kurang baik, yaitu konten atau materinya salah,
penyampaiannya kurang jelas dan atau kurang interaktif.
2 = apabila kegiatan terlaksana cukup baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya kurang jelas dan interaktif.
3 = apabila kegiatan terlaksana baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya jelas dan kurang interaktif.
4 = apabila kegiatan terlaksana sangat baik, yaitu konten atau materinya benar,
penyampaiannya jelas dan interaktif.

PERTEMUAN 4 ( 2x 45 menit)
1. Kegiatan pembelajaran
a. Model pembelajaran: Kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)
b. Metode pembelajaran: Diskusi, tanya jawab
c. Materi ajar
Trayek pH
149

d. Langkah pembelajaran
a. Kegiatan Pendahuluan
Sintak Model Skor
Pembelajaran Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 1 Orientasi
Menyampaikan 1. Guru mengucapkan salam pembuka
tujuan dan 2. Guru mengecek kehadiran siswa
memotivasi
Apersepsi dan Motivasi
siswa
3. Siswa mengamati, bertanya, dan
berpendapat pada saat guru memberikan
apersepsi dan motivasi
Pemberian Acuan
4. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai pada
hari ini
5. Guru menyampaikan mengenai informasi
bahwa materi pokok yaitu tentang trayek
pH akan dipelajari menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe NHT.
150

b. Kegiatan inti

Sintak Model Skor


Pembelajaran Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 2 6. Guru menyajikan materi trayek pH


Menyajikan secara garis besar.
informasi 7. Siswa diberikan kesempatan untuk
bertanya atau berpendapat mengenai
materi trayek pH.

Fase 3 Langkah 1 : penomoran


mengorganisasik 8. Guru mengorganisasikan siswa duduk
an siswa ke dalam kelompoknya masing-masing
dalam kelompok sesuai dengan pertemuan 1 dan
belajar pertemuan 2.
9. Guru memberikan nomor kepala 1-6
sesuai jumlah anggota pada masing-
masing anggota kelompok.

Fase 4 Langakah 2 : mengajukan pertanyaan


membimbing 10. Guru membagikan Lembar Kegiatan
kelompok belajar Siswa 4 tentang trayek pH, dan
dalam anggota meminta siswa untuk mempelajari
LKPD tersebut.
11. Siswa dibimbing bertanya mengenai
konsep yang belum dipahami.

12. Siswa dibimbing untuk menganalisis


konsep teori asam basa secara
berkelompok. (mengumpulkan data)
151

Langkah 3 : Berpikir bersama


13. Siswa saling bertukar pendapat
dengan mendiskusikan soal yang
terdapat pada LKPD 4 tentang trayek
pH secara berkelompok, sehingga
setiap anggota kelompok memahami
dan mengetahui jawaban dari
pertanyaan pada LKPD 4.
(mengasosiasi)
Fase 5 evaluasi langkah 4 : Menjawab
14. Siswa ditunjuk oleh guru
berdasarkan nomor kepala untuk
mewakili kelompoknya menjawab
pertanyaan pada LKPD 4 tentang
trayek pH siswa yang ditujuk harus
berpendapat menyampaikan hasil
kerja kelompoknya. Sedangkan
kelompok lain dapat berpendapat
atau bertanya.
15. Siswa bersama guru mengevaluasi
jawaban dengan menanggapi setiap
jawaban yang diberikan perwakilan
kelompok.
152

c. Kegiatan akhir
Sintak model Skor
pembelajaran Kegiatan
0 1 2 3 4

Fase 6 16. Guru memberikan penghargaan


Memberikan kepada kelompok yang
penghargaan mendapatkan poin lebih banyak
yang berhasil dikumpulkan
17. Guru bersama siswa mengakhiri
pembelajaran dengan berdoa.
18. Guru mengakhiri pertemuan
pembelajaran dengan berdoa.

Mojokerto,
……………………….

Pengamat

( )
153

LAMPIRAN 7

LEMBAR AKTIVITAS SISWA PERTEMUAN 1

Materi : Asam Basa


Hari/tanggal :

Petunjuk Pengisian:
1. Pengamat dalam melakukan pengamatan ditempat yang memungkinkan untuk melihat aktivitas siswa.
2. Pengamat mencatat aktivitas siswa yang muncul dalam 2 menit.
3. Aktivitas siswa yang muncul dicatat dalam kolom lembar pengamatan dengan menggunakan kode aktivitas siswa yang telah
diberikan.
Kode Aktivitas Siswa:
1. Siswa memperhatikan penjelasan guru ketika pembelajaran berlangsung.
2. Siswa mengajukan pertanyaan.
3. Siswa mengajukan pendapat.
4. Siswa membentuk kelompok.
5. Siswa mengerjakan LKPD secara berkelompok.
6. Mendiskusikan permasalahan yang ada di LKPD.
154

7. Siswa mengkomunikasikan hasil diskusi dalam forum kelas.


8. Siswa menyimpulkan materi yang diajarkan.
9. Peserta melakukan aktivitas yang tidak relavan (bergurau, bermain handphone, dan mengantuk).

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA

No. Nama Periode Menit Ke-


Siswa
2 4 6 8 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 8 8 8 8 8 9
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0

1.

2.

3.

4.

5.

6.
155

LEMBAR AKTIVITAS SISWA PERTEMUAN 2

Materi : Asam Basa


Hari/tanggal :

Petunjuk Pengisian:
1. Pengamat dalam melakukan pengamatan ditempat yang memungkinkan untuk melihat aktivitas siswa.
2. Pengamat mencatat aktivitas siswa yang muncul dalam 2 menit.
3. Aktivitas siswa yang muncul dicatat dalam kolom lembar pengamatan dengan menggunakan kode aktivitas siswa yang telah
diberikan.
Kode Aktivitas Siswa:
1. Siswa memperhatikan penjelasan guru ketika pembelajaran berlangsung.
2. Siswa mengajukan pertanyaan.
3. Siswa mengajukan pendapat.
4. Siswa membentuk kelompok.
5. Siswa menyiapkan alat dan bahan praktikum.
6. Siswa melaksanakan praktikum.
7. Siswa mengerjakan LKPD.
8. Siswa mengkomunikasikan hasil kerja di forum kelas.
156

9. Siswa menyimpulkan materi yang diajarkan.


10. Peserta melakukan aktivitas yang tidak relavan (bergurau, bermain handphone, dan mengantuk).

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA

No. Nama Periode Menit Ke-


Siswa
2 4 6 8 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 8 8 8 8 8 9
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0

1.

2.

3.

4.

5.

6.

LEMBAR AKTIVITAS SISWA PERTEMUAN 3


157

Materi : Asam Basa


Hari/tanggal :

Petunjuk Pengisian:
1. Pengamat dalam melakukan pengamatan ditempat yang memungkinkan untuk melihat aktivitas siswa.
2. Pengamat mencatat aktivitas siswa yang muncul dalam 2 menit.
3. Aktivitas siswa yang muncul dicatat dalam kolom lembar pengamatan dengan menggunakan kode aktivitas siswa yang telah
diberikan.
Kode Aktivitas Siswa:
1. Siswa memperhatikan penjelasan guru ketika pembelajaran berlangsung.
2. Siswa mengajukan pertanyaan.
3. Siswa mengajukan pendapat.
4. Siswa mengerjakan LKPD.
5. Siswa mengkomunikasikan hasil kerja di forum kelas.
6. Siswa menyimpulkan materi yang diajarkan.
7. Peserta melakukan aktivitas yang tidak relavan (bergurau, bermain handphone, dan mengantuk).
.
158

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA

No. Nama Periode Menit Ke-


Siswa
2 4 6 8 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 8 8 8 8 8 9
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0

1.

2.

3.

4.

5.

6.
159

LEMBAR AKTIVITAS SISWA PERTEMUAN 4

Materi : Asam Basa


Hari/tanggal :

Petunjuk Pengisian:
1. Pengamat dalam melakukan pengamatan ditempat yang memungkinkan untuk melihat aktivitas siswa.
2. Pengamat mencatat aktivitas siswa yang muncul dalam 2 menit.
3. Aktivitas siswa yang muncul dicatat dalam kolom lembar pengamatan dengan menggunakan kode aktivitas siswa yang telah
diberikan.
Kode Aktivitas Siswa:
1. Siswa memperhatikan penjelasan guru ketika pembelajaran berlangsung.
2. Siswa mengajukan pertanyaan.
3. Siswa mengajukan pendapat.
4. Siswa membentuk kelompok.
5. Siswa mengerjakan LKPD secara berkelompok.
6. Mendiskusikan permasalahan yang ada di LKPD.
7. Siswa mengkomunikasikan hasil diskusi dalam forum kelas.
8. Siswa menyimpulkan materi yang diajarkan.
160

9. Peserta melakukan aktivitas yang tidak relavan (bergurau, bermain handphone, dan mengantuk).

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA

No. Nama Periode Menit Ke-


Siswa
2 4 6 8 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 8 8 8 8 8 9
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0 2 4 6 8 0

1.

2.

3.

4.

5.

6.
161

LAMPIRAN 8

LEMBAR PENGAMATAN

KUANTITAS KOMUNIKASI SISWA

Petunjuk Pengisian :

1. Pengamat dalam melakukan pengamatan di tempat yang memungkinkan


untuk melihat aktivitas siswa.
2. Pengamatan dilakukan sejak guru memulai pembelalajaran.
3. Berilah tolly pada kolom kuantitas bertanya siswa jika siswa mengajukan
pertanyaan.
4. Berilah tolly pada kolom kuantitas berpendapat siswa jika peserta didk
berpendapat.
5. Berilah silang (x) pada kolom kuantitas bertanya siswa jika siswa tidak
mengajukan pertanyaan.
6. Berilah silang (x) pada kolom kuantitas berpendapat siswa jika peserta didk
tidak berpendapat.

No. Nama Siswa Kuantitas Bertanya Kuantitas Berpendapat

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑜𝑚𝑢𝑛𝑖𝑘𝑎𝑠𝑖


% Kuantitas komunikasi siswa = 𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
162
LAMPIRAN 9

LEMBAR PENGAMATAN KUALITAS BERPENDAPAT


Petunjuk:
1. Berilah tanda (√) pada kolom ke-untuk setiap indikator komunikasi sesuai
dengan skor
2. Panduan skor terdapat pada rubrik lembar keterampilan berpendapat
No. indikatorPengamatan Skor Siswa ke-
1 2 3 4 5
1. Siswa menyampaikan informasi dengan analitis 0
dan logis. 1
2
3

Keterangan :

Skor maksimal = 3
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
% 𝑘𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 = 𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎
163
LAMPIRAN 10

RUBRIK LEMBAR PENGAMATAN KUALITAS BERPENDAPAT SISWA


No Indikator Pengamatan Skor Deskripsi
.
1. Siswa menyampaikan  Siswa menyampaikan pendapat dalam
informasi dengan analitis dan 3 kelompok besar (kelas) secara analitis dan
logis. logis serta berpendapat minimal 1 kali.
 Siswa menyampaikan pendapat dalam
2 kelompok besar (kelas) secara analitis atau
logis serta berpendapat minimal 1 kali.
Siswa menyampaikan pendapat dalam
1 kelompok besar (kelas) tidak secara
analitis dan logis.

0 Siswa tidak berpendapat


164

Keterangan:
1. Analitis yaitu menyampaikan informasi dengan penyusunan kata yang baik,
singkat, dan jelas sehingga informasi mudah dipahami.
Contoh:
Menurut pendapat saya, asam Bronsted-Lowry adalah spesi yang dapat
memberikan atau donor proton (H+).
2. Logis yaitu menyampaikan pendapat dilandasi dengan fakta-fakta dan pendapat
yang bisa mendukung materi yang disajikan.
Contoh:
Larutan sabun bersifat basa, karena dilihat dari ciri fisiknya yaitu licin. Selain itu
ketika kertas lakmus merah dimasukkan ke dalam larutan sabun tersebut akan
berubah warna menjadi biru.
165

LAMPIRAN 11

LEMBAR PENGAMATAN KUALITAS BERTANYA

Petunjuk:
 Berilah tanda (√) pada kolom ke- untuk setiap indikator komunikasi sesuai dengan
skor.
 Panduan skor terdapat pada rubrik lembar keterampilan bertanya yang terlampir.
No. indikatorPengamatan Skor Siswa
1 2 3 4 5
1. Siswa bertanya sesuai dengan tingkat bertanya 0
Taksonomi Bloom. 1
2
3

Keterangan :

Skor maksimal jumlah aspek x 3 = 1 x 3 = 3


𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
%𝑘𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 = 𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎
166
LAMPIRAN 12

RUBRIK LEMBAR PENGAMATAN KUALITAS BERTANYA SISWA


No Indikator Pengamatan Skor Deskripsi
.
1. Siswa bertanya sesuai dengan Siswa mengajukan pertanyaan yang
tingkat bertanya Taksonomi 3 berada pada tingkat bertanya
Bloom. Taksonomi Bloom C5-C6.

Siswa mengajukan pertanyaan yang


2 berada pada tingkat bertanya
Taksonomi Bloom C3-C4.

Siswa mengajukan pertanyaan yang


1 berada pada tingkat bertanya
Taksonomi Bloom C1-C2.

0 Siswa tidak bertanya.

Keterangan:
Tingkatan C1 (Mengingat)
Kemampuan yang diukur dari pertanyaan yang diajukan bertujuan untuk hal-hal
yang bersifat hafalan.
Contoh kata tanya :
 Apa …..
 Siapa …
 Dimana ….
 Kapan
 Sebutkan ….
Tingkatan C2 (Memahami)
Kemampuan yang akan diukur adalah seberapa jauh siswa memahami materi ajar
yang telah dipelajari.
Contoh kata tanya :
167

 Mengapa …
 Simpulkanlah …
Tingkatan C3 (Aplikasi)
Kemampuan yang diukur adalah menerapkan ilmu yang dimiliki atau diperoleh
untuk memecahkan suatu permasalahan.
Contoh kata tanya :
 Bagaimana ………
 Mengapa ………..
Tingkatan C4 (Analisis)
Kemampuan menganalisa, membandingkan, menguraikan suatu informasi menjadi
tingkatan berpikir tahap ini.
Contoh kata tanya :
 Bagaimana dampak ……
 Bagaimanakah hal tersebut jika dibandingkan …..
 Analisislah ……
 Dari gambar …… temukanlah ……
Tingkatan C5 (Evaluasi)
Kemampuan mempertimbangkan hal-hal yang baik dan buruk sebagai pertimbangan
untuk mengambil keputusan atau tindakan yang sesuai atau layak.
Contoh kata tanya :
 Manakah yang lebih baik ……
Tingkatan C6 (Mencipta)
Kemampuan menggabungkan beberapa informasi menjadi temuan baru atau
kesimpulan.
Contoh kata tanya:
 Kembangkanlah sebuah rencana ……
 Buatlah ……
168
LAMPIRAN 13

LEMBAR RESPON SISWA

Petunjuk Pengisian:

Berilah penilian dengan memberikan tanda checklist (√) pada kolom pendapat untuk
pengamatan yang paling sesuai dengan diri Anda.

No. Pertanyaan Pendapat


Ya Tidak
1. Menurut Anda apakah model pembelajaran
yang telah dilakukan menarik dan
menyenangkan?
2. Apakah kegiatan pembelajaran yang
diterapkan model pembelajaran kooperatif
Tipe Numbered Heads Together (NHT) dan
Direct Interaction untuk melatihkan
keterampilan komunikasi dapat menarik
siswa?
3. Apakah model pembelajaran kooperatif Tipe
Numbered Heads Together (NHT) dan Direct
Interaction untuk melatihkan keterampilan
komunikasi menjadikan Anda lebih mudah
menyelesaikan soal-soal dan tugas yang
diberikan oleh guru terutama pada materi
asam basa?
4. Apakah Anda menginginkan kegiatan
pembelajaran yang telah diterapkan di
aplikasikan pada materi yang lain?
5. Apakah Anda merasa kesulitan mengikuti
kegiatan pembelajaran kooperatif Tipe
Numbered Heads Together (NHT) dan Direct
169

Interaction untuk melatihkan keterampilan


komunikasi?
6. Setelah mengikuti proses pembelajaran yang
telah dilakukan, apakah Anda lebih
memahami materi yang diberikan?
7. Apakah pembelajaran dengan menggunakan
praktikum yang telah dilakukan dapat
membantu Anda untuk memahami materi
yang dijelaskan?
8. Apakah pembelajaran yang telah dilakukan
dapat mendorong anda dalam berkomunikasi
dan belajar?
9. Apakah pembelajaran yang telah dilakukan
dapat menumbuhkan keyakinan terhadap
kemampuan komunikasi yang anda miliki?
10. Apakah pembelajaran yang telaah dilakukan
dapat mempermudah Anda dalam membuat
kesimpulan serta alasan dari kesimpulan
yang anda buat?
170

LAMPIRAN 14

KISI-KISI SOAL PRE-TEST DAN POST-TEST

Mata pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : XI / 2

Materi pokok : Asam Basa

Kompetensi Dasar : 3.10. Memahami konsep asam basa serta kekuatannya dan kesetimbangan pengionannya dalam larutan

Nomor Kunci Ranah


Soal
Soal Jawaban Kognitif

1 Berikut ini merupakan pengertian asam basa: A C2

1) Donor / memberi proton


2) Akseptor / menerima proton
3) Akseptor / menerima pasangan elektron bebas
4) Menghasilkan ion OH- dalam air
5) Menghasilkan ion H+ dalam air
171

Nomor Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

Yang merupakan pengertian asam dan basa Bronsted-Lowry berturut-turut adalah ……

a. 1 dan 2
b. 1 dan 3
c. 3 dan 5
d. 4 dan 5

2 dan 4

2 Asam cuka (CH3COOH) termasuk senyawa asam. Menurut Arrhenius, asam cuka mempunyai B C2
sifat asam karena ….

a. Memiliki atom hydrogen


b. Dalam air melepaskan ion H+
c. Dalam air melepaskan ion OH-
d. Dapat menerima pasangan electron
e. Dapat memberi proton kepada molekul
172

Nomor Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

3 Pada reaksi kimia: B C3

H3PO4 (aq) + H2O (l) → H2PO4- (aq) + H3O+ (aq)

Yang bertindak sebagai asam konjugasi dan basa konjugasi berturut-turut adalah …..

a. H2O dan H3O+


b. H3O+ dan H2PO4-
c. H2PO4- dan H3O+
d. H3PO4 dan H2PO4-
e. H3PO4 dan H3O+

4 Berikut ini merupakan beberapa reaksi ionisasi: C C3

1) HCl (aq) ⇌ H+ (aq) + Cl- (aq)


2) Al(OH)3 ⇌ Al3+ (aq) +3OH- (aq)
3) HCN (aq) ⇌ H+ (aq) + CN- (aq)
4) CH3COOH (aq) ⇌ CH3COO- (aq) + H+ (aq)
5) NaOH (aq) ⇌ Na+ (aq) + OH- (aq)
173

Nomor Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

Reaksi ionisasi dari basa Arrhenius terdapat pada reaksi nomor ….


a. 1 dan 3
b. 2 dan 4
c. 2 dan 5
d. 3 dan 5
e. 4 dan 5
5 Identifikasi reaksi berikut ini : E C3
NH3 (aq) + H2O → NH4+ (aq) + OH-
Yang bertindak sebagai asam dan basa Bronsted Lowry berturut-turut adalah
a. NH3 dan OH-
b. NH3 dan NH4+
c. NH3 dan H2O
d. H2O dan OH-
e. H2O dan NH3
6 Berikut ini adalah hasil pengujian beberapa larutan dengan menggunakan indikator kertas B C2
lakmus:

Larutan Lakmus merah Lakmus biru


1 Merah Merah
2 Biru Biru
174

Nomor Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

3 Merah Biru
4 Merah Merah
5 Biru Biru
Dari hasil pengujian diatas, larutan yang bersifat asam adalah

a. 1 dan 2
b. 1 dan 4
c. 2 dan 4
d. 2 dan 5
e. 3 dan 4
175

Nomor Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

7 Seorang siswa diberikan tugas oleh guru untuk mengidentifikasi bahan-bahan dalam kehidupan E C4
sehari-hari yaitu air kapur, cuka, cairan pembersih lantai, obat maag dan jus tomat. Apa yang
terjadi pada kertas lakmus setelah dilakukan tes pada masing-masing larutan tersebut ……

a. Air kapur dan obat maag membirukan kertas lakmus, cuka dan jus tomat memerahkan
kertas lakmus, dan cairan pembersih lantai tidak memberikan perubahan warna pada
kertas lakmus.
b. Air kapur dan cairan pembersih lantai membirukan kertas lakmus, cuka dan jus tomat
memerahkan kertas lakmus, dan obat maag tidak memberikan perubahan pada kertas
lakmus.
c. Cuka dan jus tomat membirukan kertas kertas lakmus, air kapur dan obat maag
memerahkan kertas lakmus, dan cairan pembersih tidak memberikan perubahan warna
pada kertas lakmus.
d. Cuka, jus tomat membirukan kertas lakmus, sedangkan cairan pembersih lantai, air kapur
dan obat maag memerahkan kertas lakmus.
e. Cuka, jus tomat dan cairan pembersih lantai memerahkan kertas lakmus, sedangkan air
kapur dan obat maag membirukan kertas lakmus.
176

No. Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

8 Dalam suatu percobaan, indikator kertas lakmus merah dapat berubah menjadi biru jika B C3
diteteskan larutan NaOH. kertas lakmus ini juga akan berubah menjadi biru jika diteteskan
larutan ….
a. CH3COOH dan HCl
b. Ca(OH)2 dan Al(OH)3
c. H2SO4 dan HI
d. HI dan HCl
e. NH4OH dan HCl
9 Tentukan konsentrasi H+ dari larutan H2SO4 0,02 M …. B C2

a. 0,02 M
b. 0,04 M
c. 0,2 M
d. 0,4 M
e. 0,004 M
177

No. Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

10 Berikut ini merupakan sifat larutan asam dan basa A C2


1) memiliki pH > 7
2) Dapat memerahkan kertas lakmus biru
3) Memiliki pH < 7
4) Dapat membirukan kertas lakmus merah
5) Memiliki pH = 7
Yang merupakan sifat dari larutan basa adalah
a. 1 dan 2
b. 1 dan 4
c. 2 dan 3
d. 2 dan 5
e. 3 dan 4
11 Nilai pH dari 500 mL larutan Ba(OH)2 0,01 M adalah …. A C3

a. 12 + log 2
b. 12 – log 2
c. 10 + log 2
d. 10 – log 2
e. 10 + log 3
178

No. Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

12 Larutan HF memiliki konsentrasi sebesar 0,1 M dan memiliki derajat ionisasi (α) sebesar 0,08. C C3
Tentukan pH larutan HF !

b. 3 + log 8
c. 2 + log 6
d. 3 – log 8
e. 7 + log 8
13 Suatu larutan A ketika di uji dengan indikator metil merah (trayek pH 3,2-4,4 dengan perubahan C C4
warna merah-kuning) menghasilkan warna jingga kemerahan. Tentukan perkiraan harga pH dan
sifat larutan A

a. pH < 3,2 bersifat asam


b. pH > 3,2 bersifat basa
c. pH 3,2 – 3,8 bersifat asam
d. pH 3,2-3,8 bersifat basa
e. pH 3,8-4,4 bersifat asam
179

No. Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

14 Berikut adalah trayek perubahan warna beberapa indikator : E C4

Indikator Perubahan pH
Metil jingga (MO) Merah-Kuning 3,1-4,4
Metil merah (MR) Merah-Kuning 4,4-6,2
Bromtimol Biru (BTB) Kuning-Biru 6,0-7,6
Fenoftalein (PP) Tidak berwarna- 8,3-10,0
merah
Suatu larutan Y di uji dengan metil jingga dan metil merah menghasilkan warna kuning, ketika di
uji dengan bromtimol biru menghasilkan warna biru, dan ketika di uji PP menghasilkan warna
merah. Tentukan perkiraan harga pH dan sifat larutan Y !

a. pH < 3,1 bersifat asam


b. pH < 3,1 bersifat basa
c. 3,1 < pH < 10,0 bersifat asam
d. pH > 10,0 besifat asam
e. pH > 10,0 bersifat basa
180

No. Soal Kunci Ranah


Soal Jawaban Kognitif

15 Berikut adalah trayek perubahan warna beberapa indikator D C4


Indikator Perubahan pH
Metil Ungu Kuning – Biru 0,0 – 2,0
keunguan
Metil Kuning Merah – kuning 2,9 – 4,0
Bromtiomol Biru Kuning – Ungu 3,0 – 4,6
Suatu larutan menghasilkan warna biru keunguan ketika di uji dengan metil ungu dan
menghasilkan warna merah ketika di uji dengan metil kuning. Tentukan perkiraan harga pH dan
sifat dari larutan tersebut !
a. pH 0,0 - 2,0 bersifat asam
b. pH 0,0 - 3,0 bersifat basa
c. pH 1,0 - 2,9 bersifat asam
d. pH 2,0 - 2,9 bersifat asam
e. pH 2,0 – 2,9 bersifat basa
LAMPIRAN 15 181

LEMBAR TELAAH
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN MODEL DIRECT
INTRUCTION UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI
SISWA PADA MATERI ASAM BASA DI SMAN 1 BANGSAL MOJOKERTO

Nama :
NIP :
Hari/Tanggal :

Oleh:
Firda Haqiqi
NIM 15030194103

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
2019
182

LEMBAR TELAAH PERANGKAT DAN INSTRUMEN PENELITIAN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN MODEL DIRECT


INTRUCTION UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI SISWA
PADA MATERI ASAM BASA DI SMAN 1 BANGSAL MOJOKERTO

Mohon ketersediaan Bapak/Ibu untuk menelaah dan memberikan komentar


serta saran pada kolom yang telah tersedia demi kesempurnaan perangkat
pembelajaran dan instrumen penelitian yang terlampir.
Petunjuk:
1. Perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian ini terdiri dari silabus, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKPD), Lembar observasi
keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi
keterampilan komunikasi siswa, dan lembar tes hasil belajar.
2. Dimohon ketersediaan Bapak/Ibu untuk memberikan komentar dan saran pada
kolom yang disediakan untuk kesempurnaan perangkat pembelajaran dan
instrumen penelitian ini.
3. Bapak/ibu dapat memberikan saran dan perbaikan pada draft perangkat
pembelajaran dan instrumen penelitian ini.
183

LEMBAR TELAAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DAN INSTRUMEN

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


1. Silabus
a. Kesesuaian silabus dengan kurikulum
2013
b. Urutan dalam silabus
c. Perumusan kegiatan pembelajaran pada
silabus
d. Perumusan instrumen penilaian pada
silabus
e. Perumusan sumber/alat/bahan/alat
belajar pada silabus
2. RPP
a. Pertemuan 1
1) Kesesuaian RPP dengan silabus.
2) Perumusan indikator pembelajaran.
3) Perumusan tujuan pembelajaran
4) Kesesuaian model pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator
5) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator dan tujuan
pembelajaran.
6) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan sintak model pembelajaran
Kooperatif tipe Numbered Head
Together (NHT).
184

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


7) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan pendekatan scientific approach.
8) Kesesuaian alokasi waktu pelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
9) Kesesuaian rubrik penilaian dengan
tujuan pembelajaran.
10) Format rencana pelaksanaan
pembelajaran.
11) Penggunaan bahasa yang baik dan
benar.
12) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
13) Kejelasan huruf dan angka.
b. Pertemuan 2
1) Kesesuaian RPP dengan silabus.
2) Perumusan indikator pembelajaran.
3) Perumusan tujuan pembelajaran.
4) Kesesuaian model pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indicator.
5) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator dan tujuan
pembelajaran.
6) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan sintak model Direct Intruction
pendekatan prosedural.
185

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


7) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan pendekatan scientific approach.
8) Kesesuaian alokasi waktu pelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
9) Kesesuaian rubrik penilaian dengan
tujuan pembelajaran.
10) Format rencana pelaksanaan
pembelajaran.
11) Penggunaan bahasa yang baik dan
benar
12) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
13) Kejelasan huruf dan angka.
c. Pertemuan 3
1) Kesesuaian RPP dengan silabus.
2) Perumusan indikator pembelajaran.
3) Perumusan tujuan pembelajaran.
4) Kesesuaian model pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
5) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator dan tujuan
pembelajaran.
6) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan sintak model Direct
Instruction pendekatan deklaratif.
186

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


7) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan pendekatan scientific approach.
8) Kesesuaian alokasi waktu pelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
9) Kesesuaian rubrik penilaian dengan
tujuan pembelajaran
10) Format rencana pelaksanaan
pembelajaran
11) Penggunaan bahasa yang baik dan
benar
12) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami
13) Kejelasan huruf dan angka
d. Pertemuan 4
1) Kesesuaian RPP dengan silabus.
2) Perumusan indikator pembelajaran.
3) Perumusan tujuan pembelajaran.
4) Kesesuaian model pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indicator.
5) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator dan tujuan
pembelajaran.
6) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan sintak model pembelajaran
Kooperatif tipe Numbered Head
Together (NHT).
187

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


7) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan pendekatan scientific
approach.
8) Kesesuaian alokasi waktu pelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
9) Kesesuaian rubrik penilaian dengan
tujuan pembelajaran.
10) Format rencana pelaksanaan
pembelajaran.
11) Penggunaan bahasa yang baik dan
benar.
12) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
13) Kejelasan huruf dan angka.
3. LKPD
a. Pertemuan 1
1) Materi sesuai dengan KI dan KD.
2) Materi relevan dengan indicator.
3) Materi relevan dengan model
pembelajaran Kooperatif tipe
Numbered Head Together (NHT).
4) Materi dalam LKPD memuat
kebenaran konten.
5) Kesesuaian isi LKPD dengan model
pembelajaran Kooperatif tipe
Numbered Head Together (NHT).
188

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


6) Ukuran font.
7) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
8) Kejelasan huruf dan angka.
b. Pertemuan 2
1) Materi sesuai dengan KI dan KD.
2) Materi relevan dengan indikator.
3) Materi relevan dengan model Direct
Instruction pendekatan deklaratif.
4) Materi dalam LKPD memuat
kebenaran konten
5) Kesesuaian isi LKPD dengan model
pembelajaran Direct Instruction
pendekatan deklaratif.
6) Ukuran font.
7) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
8) Kejelasan huruf dan angka.
c. Pertemuan 3
1) Materi sesuai dengan KI dan KD
2) Materi relevan dengan indikator
3) Materi relevan dengan model Direct
Instruction.
4) Materi dalam LKPD memuat
kebenaran konten.
5) Kesesuaian isi LKPD dengan model
Direct Instruction pendekatan
deklaratif.
6) Ukuran font.
189

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


7) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
8) Kejelasan huruf dan angka.
d. Pertemuan 4
1) Materi sesuai dengan KI dan KD.
2) Materi relevan dengan indikator.
3) Materi relevan dengan model
pembelajaran Kooperatif tipe
Numbered Head Together (NHT).
4) Materi dalam LKPD memuat
kebenaran konten.
5) Kesesuaian isi LKPD dengan model
pembelajaran Kooperatif tipe
Numbered Head Together (NHT).
6) Ukuran font.
7) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
Kejelasan huruf dan angka.
4. Lembar Observasi Keterlaksanaan
Pembelajaran
a. Pertemuan 1
1) Kesesuaian dengan RPP.
2) Dapat memberikan nilai yang terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
b. Pertemuan 2
1) Kesesuaian dengan RPP.
190

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


2) Dapat memberikan nilai yang terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
c. Pertemuan 3
1) Kesesuaian dengan RPP.
2) Dapat memberikan nilai yang terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
d. Pertemuan 4
1) Kesesuaian dengan RPP.
2) Dapat memberikan nilai yang terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
191

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


5. Lembar observasi aktivitas siswa
a. Pertemuan 1
1) Kesesuaian dengan petunjuk
pengisian.
2) Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
b. Pertemuan 2
1) Kesesuaian dengan petunjuk
pengisian.
2) Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
c. Pertemuan 3
1) Kesesuaian dengan petunjuk
pengisian.
2) Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
192

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


5) Kejelasan huruf dan angka.
d. Pertemuan 4
1) Kesesuaian dengan petunjuk
pengisian.
2) Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
6. Lembar observasi keterampilan komunikasi
a. Kesesuaian dengan petunjuk pengisian.
b. Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
c. Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
d. Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
e. Kejelasan huruf dan angka.
193

No. Aspek yang diamati Komentar Saran


7. Lembar tes hasil belajar
a. Dapat memberikan nilai yang terukur.
b. Penggunaan bahasa yang baik dan
benar.
c. Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
d. Kejelasan huruf dan angka.

Surabaya,…………………….
Penelaah

( )
194
LAMPIRAN 16

LEMBAR VALIDASI
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN MODEL DIRECT
INTRUCTION UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI
SISWA PADA MATERI ASAM BASA DI SMAN 1 BANGSAL MOJOKERTO

Nama :
NIP :
Hari/Tanggal :

Oleh:
Firda Haqiqi
NIM 15030194103

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
2019
195

LEMBAR VALIDASI PERANGKAT DAN INSTRUMEN PENELITIAN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN MODEL DIRECT


INTRUCTION UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI SISWA
PADA MATERI ASAM BASA DI SMAN 1 BANGSAL MOJOKERTO
Mohon ketersediaan Bapak/Ibu untuk memvalidasi dengan cara memberikan
skor penilaian pada kolom yang telah disediakan demi kesempurnaan perangkat
pembelajaran dan instrumen penelitian yang terlampir.
Petunjuk:
1. Dimohon Bapak/Ibu untuk memvalidasi perangkat dan instrumen penelitian,
meliputi: Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa
(LKPD), Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi
aktivitas siswa, lembar observasi keterampilan komunikasi, dan lembar tes hasil
belajar.
2. Bapak/Ibu memberikan skor penilaian dengan memberikan tanda (√) pada kolom
yang telah disediakan.
3. Keterangan skala penelitian:
Sangat baik dan tidak perlu perbaiki =4
Baik dan tidak perlu perbaiki =3
Kurang baik dan perlu perbaiki =2
Sangat kurang baik sekali dan perlu perbaikan =1
4. Komentar dan saran perbaikan dapat dituliskan di akhir lembar validasi pada
kolom yang telah disediakan.
196

No Penilaian
Aspek yang diamati
. 1 2 3 4
1. Silabus
a. Kesesuaian silabus dengan kurikulum
2013.
b. Urutan dalam silabus.
c. Perumusan kegiatan pembelajaran pada
silabus.
d. Perumusan instrumen penilaian pada
silabus.
e. Perumusan sumber/alat/bahan/alat
belajar pada silabus.
2. RPP
a. Pertemuan 1
1) Kesesuaian RPP dengan silabus.
2) Perumusan indikator pembelajaran.
3) Perumusan tujuan pembelajaran.
4) Kesesuaian model pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indicator.
5) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator dan tujuan
pembelajaran.
6) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan sintak model pembelajaran
Kooperatif tipe Numbered Heads
Together (NHT).
7) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan pendekatan scientific approach.
197

8) Kesesuaian alokasi waktu pelajaran


dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
9) Kesesuaian rubrik penilaian dengan
tujuan pembelajaran.
10) Format rencana pelaksanaan
pembelajaran.
11) Penggunaan bahasa yang baik dan
benar
12) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami
13) Kejelasan huruf dan angka
b. Pertemuan 2
1) Kesesuaian RPP dengan silabus.
2) Perumusan indikator pembelajaran.
3) Perumusan tujuan pembelajaran.
4) Kesesuaian model pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indicator.
5) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator dan tujuan
pembelajaran.
6) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan sintak model pembelajaran
Direct Intruction pendekatan
prosedural.
7) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan pendekatan scientific approach.
198

8) Kesesuaian alokasi waktu pelajaran


dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
9) Kesesuaian rubrik penilaian dengan
tujuan pembelajaran.
10) Format rencana pelaksanaan
pembelajaran.
11) Penggunaan bahasa yang baik dan
benar.
12) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
13) Kejelasan huruf dan angka.
c. Pertemuan 3
1) Kesesuaian RPP dengan silabus.
2) Perumusan indikator pembelajaran.
3) Perumusan tujuan pembelajaran.
4) Kesesuaian model pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
5) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator dan tujuan
pembelajaran
6) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan sintak model Direct
Instruction pendekatan deklaratif.
7) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan pendekatan scientific approach.
199

8) Kesesuaian alokasi waktu pelajaran


dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
9) Kesesuaian rubrik penilaian dengan
tujuan pembelajaran.
10) Format rencana pelaksanaan
pembelajaran.
11) Penggunaan bahasa yang baik dan
benar
12) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
13) Kejelasan huruf dan angka.
d. Pertemuan 4
1) Kesesuaian RPP dengan silabus.
2) Perumusan indikator pembelajaran.
3) Perumusan tujuan pembelajaran.
4) Kesesuaian model pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
5) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator dan tujuan
pembelajaran
6) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan sintak model pembelajaran
Kooperatif tipe Numbered Head
Together (NHT).
7) Kesesuaian langkah pembelajaran
dengan pendekatan scientific approach.
200

8) Kesesuaian alokasi waktu pelajaran


dengan kompetensi inti, kompetensi
dasar, dan indikator.
9) Kesesuaian rubrik penilaian dengan
tujuan pembelajaran.
10) Format rencana pelaksanaan
pembelajaran.
11) Penggunaan bahasa yang baik dan
benar
12) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
13) Kejelasan huruf dan angka.
3. LKPD
a. Pertemuan 1
1) Materi sesuai dengan KI dan KD
2) Materi relevan dengan indikator
3) Materi relevan dengan model
pembelajaran Kooperatif tipe
Numbered Head Together (NHT).
4) Materi dalam LKPD memuat
kebenaran konten.
5) Kesesuaian isi LKPD dengan model
pembelajaran Kooperatif tipe
Numbered Head Together (NHT).
6) Ukuran font.
7) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
8) Kejelasan huruf dan angka.
b. Pertemuan 2
1) Materi sesuai dengan KI dan KD.
2) Materi relevan dengan indikator.
201

3) Materi relevan dengan model


pembelajaran Direct Intruction
pendekatan prosedural.
4) Materi dalam LKPD memuat
kebenaran konten.
5) Kesesuaian isi LKS dengan model
pembelajaran Direct Intruction
pendekatan prosedural.
6) Ukuran font.
7) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
8) Kejelasan huruf dan angka.
c. Pertemuan 3
1) Materi sesuai dengan KI dan KD.
2) Materi relevan dengan indikator.
3) Materi relevan dengan Direct
Intruction
4) Materi dalam LKS memuat kebenaran
konten.
5) Kesesuaian isi LKS dengan model
Direct Instruction.
6) Ukuran font.
7) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
8) Kejelasan huruf dan angka.
d. Pertemuan 4
1) Materi sesuai dengan KI dan KD.
2) Materi relevan dengan indikator.
3) Materi relevan dengan model
pembelajaran Kooperatif tipe
Numbered Head Together (NHT).
202

4) Materi dalam LKPD memuat


kebenaran konten
5) Kesesuaian isi LKPD dengan model
pembelajaran Kooperatif tipe tipe
Numbered Head Together (NHT).
6) Ukuran font.
7) Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
8) Kejelasan huruf dan angka.
4. Lembar Observasi Keterlaksanaan
Pembelajaran
a. Pertemuan 1
1) Kesesuaian dengan RPP.
2) Dapat memberikan nilai yang terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
b. Pertemuan 2
1) Kesesuaian dengan RPP.
2) Dapat memberikan nilai yang terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
c. Pertemuan 3
1) Kesesuaian dengan RPP.
2) Dapat memberikan nilai yang terukur.
203

3) Menggunakan bahasa yang baik dan


benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
d. Pertemuan 4
1) Kesesuaian dengan RPP.
2) Dapat memberikan nilai yang terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
5. Lembar Observasi Aktivitas Siswa
a. Pertemuan 1
1) Kesesuaian dengan petunjuk
pengisian.
2) Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
b. Pertemuan 2
1) Kesesuaian dengan petunjuk
pengisian.
2) Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
204

4) Istilah yang digunakan tepat dan


mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
c. Pertemuan 3
1) Kesesuaian dengan petunjuk
pengisian.
2) Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
d. Pertemuan 4
1) Kesesuaian dengan petunjuk
pengisian.
2) Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
3) Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
4) Istilah yang digunakan tepat dan
mudah dipahami.
5) Kejelasan huruf dan angka.
6. Lembar Observasi Keterampilan Sosial
a. Kesesuaian dengan petunjuk pengisian.
b. Dapat memberikan penilaian yang
terukur.
c. Menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
d. Istilah yang digunakan tepat dan mudah
dipahami.
205

e. Kejelasan huruf dan angka.


7. Lembar Tes Hasil Belajar
a. Dapat memberikan nilai yang terukur.
b. Penggunaan bahasa yang baik dan benar.
c. Penggunaan istilah yang tepat dan
mudah dipahami.
d. Kejelasan huruf dan angka.

Komentar dan saran perbaikan:


………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
Kesimpulan
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
Untuk kesimpulan mohon diisi:
LD : Layak Digunakan
LDP : Layak Digunakan dengan Perbaikan
TLD : Tidak Layak Digunakan (digunakan)
Surabaya, …………………
Validator

( )
206

LAMPIRAN 17

LEMBAR ANGKET PRA-PENELITIAN


Nama :
Kelas :
No. Absen :
Dimohon kesediaan kalian untuk mengisi angket berikut sesuai dengan keadaan
sebenarnya. Jawaban kalian tidak akan mempengaruhi nilai kalian. Mohon kejujuran
kalian untuk mengisi angket ini.
1. Apakah anda tertarik dan senang dengan pelajaran kimia ?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah menurut anda pelajaran kimia merupakan pelajaran yang mudah
dipahami ?
a. Ya
b. Tidak
3. Menurut anda, bagaimana materi pelajaran asam basa ?
a. Sulit dipahami
b. menyenangkan
c. Lain-lain, sebutkan….
4. Metode pembelajaran apakah yang sering anda dapatkan selama pembelajaran
sehari-hari di sekolah ?
a. Penjelasan langsung dari guru
b. Diskusi kelompok/kelas
c. Banyak hafalan
d. Praktikum dan penemuan konsep sendiri
5. Apakah anda pernah melakukan kegiatan praktikum pada saat pelajaran kimia
yang anda anggap sulit ?
a. Ya
b. Tidak
6. Pada saat membentuk kelompok, anda lebih senang jika anggota kelompok :
a. Memilih sendiri
207

b. Dipilih guru dengan anggota heterogen


c. Berhitung
d. Lain-lain, sebutkan……
7. Dalam pembelajaran kimia, metode apakah yang anda lebih suka pada saat
kegiatan pembelajaran ? (penjelasan dari guru langsung, praktikum, dan
berdiskusi dengan kelompok)
8. Apakah dalam proses pembelajaran guru pernah menghubungkan materi kimia
yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari ?
a. Pernah
b. Tidak pernah
9. Apakah pada saat kegiatan pembelajaran dalam kelas anda dapat dengan bebas
menyampaikan pendapat dan bertanya ?
a. Ya
b. Tidak
10. Apakah pada saat proses pembelajaran atau diskusi anda terlibat aktif dalam
menyumbangkan ide atau pendapat dan bertanya?
a. Ya
b. Tidak
11. Apakah anda merasa ragu dalam menyampaikan pendapat atau bertanya di
dalam kelas ?
a. Ya
b. Tidak
208

LAMPIRAN 18
Analisis Hasil Angket Pra-Penelitian

No. Pertanyaan Jawaban Presentase


1. Apakah anda tertarik dan a. Ya = 14 a. Ya = 43,75%
senang dengan pelajaran b. Tidak = 18 b. Tidak = 56,25%
kimia ?
2. Apakah menurut anda a. Ya = 14 a. Ya = 43,75%
pelajaran kimia merupakan b. Tidak = 18 b. Tidak = 56,25%
pelajaran yang mudah
dipahami ?
3. Menurut anda, bagaimana f. Sulit dipahami = 17 a. Sulit dipahami =
materi pelajaran asam basa ? g. Menyenangkan = 15 53,13%
h. Lain-lain = 0 b. Menyenangkan =
46,87%
4. Metode pembelajaran a. Penjelasan langsung a. Penjelasan
apakah yang sering anda dari guru= 28Diskusi langsung dari
dapatkan selama b. kelompok/kelas= 2 guru= 87,5%
pembelajaran sehari-hari di c. Banyak hafalan= 0 b. Diskusi = 6,25%
sekolah ? d. Praktikum dan
penemuan konsep
sendiri= 0
5. Apakah anda pernah a. Ya = 13 a. Ya = 40,63%
melakukan kegiatan b. Tidak = 19 b. Tidak = 59,37%
praktikum pada saat
pelajaran kimia yang anda
anggap sulit ?
6. Pada saat membentuk a. Memilih sendiri = 5 a. Memilih sendiri
kelompok, anda lebih b. Dipilih guru dengan = 15,62%
senang jika anggota anggota heterogen = 20 b. Dipilih guru
kelompok : c. Berhitung = 7 dengan anggota
209

a. Memilih sendiri d. Lain-lain = 0 heterogen=


b. Dipilih guru dengan 62,5%
anggota heterogen c. Berhitung=
c. Berhitung 21,87%
d. Lain-lain

7. Dalam pembelajaran kimia, a. Penjelasan dari guru= a. Penjelasan


metode apakah yang anda 10 dari guru= 31,25%
lebih suka pada saat b. Praktikum= 14 b. Praktikum=
kegiatan pembelajaran? c. berdiskusi= 8 43,75%
(penjelasan dari guru c. Berdiskusi= 25%
langsung, praktikum, dan
berdiskusi dengan
kelompok)
8. Apakah dalam proses a. Pernah = 32 a. Pernah = 100%
pembelajaran guru pernah b. Tidak pernah = 0 b. Tidak pernah =
menghubungkan materi 0%
kimia yang diajarkan
dengan kehidupan sehari-
hari ?
9. Apakah pada saat kegiatan a. Ya = 27 a. Ya = 84,37%
pembelajaran dalam kelas b. Tidak = 5 b. Tidak = 15,62%
anda dapat dengan bebas
menyampaikan pendapat
dan bertanya ?
10. Apakah pada saat proses a. Ya = 12 a. Ya = 37,5%
pembelajaran atau diskusi b. Tidak = 20 b. Tidak = 62,5%
anda terlibat aktif dalam
menyumbangkan ide atau
pendapat dan bertanya?
210

11. Apakah anda merasa ragu a. Ya = 17 a. Ya = 53,12%


dalam menyampaikan b. Tidak = 15 b. Tidak = 46,87%
pendapat atau bertanya di
dalam kelas ?
211
LAMPIRAN 19

Angket Wawancara Guru

1. Kurikulum apa yang digunakan di SMAN 1 Bangsal Mojokerto pada tahun


2018/2019 ?
Kurikulum 2013
2. Berapakah nilai KKM mata pelajaran kimia yang ditetapkan di sekolah ini ?
KKM Kimia: 75
3. Bagaimana respon siswa terhadap pelajaran kimia?
Beragam, tergantung dari tangkat pemahaman, prestasi dan minat siswa
4. Bagaimana ketuntasan belajar siswa pada materi asam basa?
Tuntas 60%
5. Pada kelas XI, apakah materi asam basa juga termasuk pada materi pelajaran
dengan presentase hasil belajar yang rendah?
Tidak
6. Kendala apa yang sering ditemui pada siswa saat melaksanakan proses
pembelajaran pada materi asam basa ?
Penafsiran siswa terhadap soal menghitung pH campuran
7. Model pembelajaran apa saja yang bapak/ibu gunakan untuk mengajarkan
materi asam basa?
Penjelasan langsung dari guru,, tanya jawab, latihan soal
8. Apakah Bapak/ibu pernah menerapkan pembelajaran multi model
khususnya model pembelajaran langsung dan diskusi kelas dalam
mengajarkan materi kimia asam basa?
Kalau pembelajaran langsung pernah, tetapi diskusi kadang-kadang
tergantung sub materi
9. Apakah dalam pelaksanaan pembelajaran materi asam basa ditunjang
dengan menggunakan praktikum dan demonstrasi?
Tidak
10. Bagaimana cara Bapak/Ibu untuk mengaktifkan siswa agar secara aktif
bertanya, menyumbangkan ide, dan berpendapat? Dan bagaimana hasilnya?
- Memberikan umpan balik pertanyaan berupa masalah yang harus
dipecahkan oleh siswa
212

- Memberikan pujian atau nilai kepada siswa yang aktif bertanya atau
berpendapat
11. Menurut Bapak/Ibu, apakah keterampilan komunikasi perlu dilatihkan?
Mengapa demikian?
Keterampilan komunikasi perlu dilatihkan karena digunakan untuk
mengembangkan kemampuan kognitif dan motorik
12. Apa harapan Bapak/Ibu untuk pembelajaran kimia khususnya asam basa
lebih lanjut?
Diharapkan lebih memahami materi dan menerapkan dalam perhitungan pH
serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari
213
LAMPIRAN 20

SURAT PERNYATAAN ADAPTASI LEMBAR KERJA SISWA


SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Firda Haqiqi
NIM/Prodi : 15030194103/ Pendidikan Kimia
Dosen Pembimbing : Rusmini, S.Pd., M.Si.
Judul Proposal Skripsi:Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Dan Direct
Interaction Untuk Melatihkan Keterampilan Komunikasi Siswa
Pada Materi Asam Basa Di SMA Negeri 1 Bangsal Mojokerto

Dengan ini menyatakan bahwa telah mengadaptasi LKPD dari:


Nama : Suci Kartika Sari Eka Pratiwi
NIM/Prodi : 10030194010
Dosen Pembimbing : Bertha Yonata, S.Pd., M.Pd.
Judul Skripsi : Keterampilan Siswa Kelas XI SMA IPIEM Surabaya Melalui
Model Pengajaran Langsung Dan Metode Diskusi Kelas Pada
Materi Pokok Asam Basa
Demikian surat pernyataan ini saya buat sebenar-benarnya.
Surabaya, 23 Oktober 2018

Bertha Yonata, S.Pd., M.Pd.


NIP 198206222005012002
214
215