Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

ASESMEN PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN

“Teknik Tes Objektif Dan Tes Subjektif”

Disusun Oleh:

Nama : Husairi

Nim : 1520420009

Dosen Pengampu : Dr.Siti Fatonah, M.Pd

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

PROGRAM MAGISTER UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

YOGYAKARTA 2015/2016

1
DAFRAT ISI

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar belakang .............................................................................................. 1


b. Rumusan masalah ........................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

a. Tes pilihan ganda ......................................................................................... 5


b. Tes menjodohkan ......................................................................................... 9
c. Tes isian ....................................................................................................... 10
d. Tes essay ...................................................................................................... 11

BAB III PENUTUP

a. Kesimpulan .................................................................................................. 15
b. Saran ............................................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 16

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian meruapakna tiga dimensi dari sekian
banyak dimensi yang sangatv penting dalam pendidikan. ketiga dimensi tersebut saling
berkitan antara satu dengan yang lainnya. Kurikulum merupakan penjabaran tujuan
pendidikan yang menjadi landasan proses pembelajaran. Proses pembalajaran meruapakan
upaya yang dilakukakn guru untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam kurikulum.
Penilaian merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dan menilai
tingkat pencapaian kurikulum. Penilaian digunakan untuk mengetahui kekuatan dan
kelemahan yang ada dalam proses pembelajaran, sehingga dapat dijadikan dasar untuk
pengenbilan keputusan . penilaian dalam proes pembejalaran antara lain sebagai kegiatan
menghimpun fakta-fakta dan dokumen belajar peserta didik yang dapat dipercaya untuk
melakukan perbaikan program . oleh karena itu penilaian berfungsi untuk membantu guru
untuk merencanakan kurikulum dan program pembelajaran, maka kegiatan penilaian
membutuhkan informasi bervariasi dari setiap individu . guru dapat melakukan penilaian
dengan cara mengumpulkan catatan yang diperoleh melalui apa yang di lakukan setiap hari
oleh peserta didik.
Penilaian juga merupakan proses meyimpulkan dan menafsirkan fakta-fakta dan
membuat petimbangan dasar yang professional untuk mengambil kebijakan pada sekumpulan
informasi tentang peserta didik. Langkah kegiatan penilaian ini dilakukan untuk memenuhi
tuntutan dari program pembelajaran sebagai bagian dari penilaian yang bergantung kepada
kebijakan di sekolah. Oleh karena itu, penilaian akan ditentukan pula oleh seberapa tinggi
tingkat kebutuhan laporan ynag dibutuhkan. Penilaian bersumber dari apa yang akan
digunakan oleh seorang guru dalam mengambil keputusan tentang sebserapa jauh kemampuan
peserta didik dalam mencerna proses pembelajan yang sudah berlasung. Sehingga dalam
proses penilain, salah satunya seorang guru dapat menggunakan teknik penilaian tes baik yang
bersifat objektif (pilihan ganda, isian, dan menjodohkan)dan bersifat subjektif (essay).
Sehingga pada makalah ini kita akan membahas lebih rinci tentang teknik penilaian tes yang
bersifat objektif (multiple coiche, maching dan isian) dan subjektif (essay)

3
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka pembahasan makalah ini akan difokuskan pada
masalah-masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah Teknik penilaian tes pilihan ganda
2. Bagaimanakah Teknik penilian tes isian
3. Bagaimanakah Teknik penilaian tes menjodohkan
4. Bagaimanakah Teknik penilaian tes essay

4
BAB II

PEMBAHASAN

Tes biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif atau
tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian suatu kompetensi tertentu, melalui pengolahan
secara kuantitatif yang hasilnya berbentuk angka.berdasarkan angka itulah selanjutnya
ditafsirkan tingkat penguasaan kompetensi siswa.1 Hasil biasanya diolah secara kuantitatif.
Proes pelaksanaan tes hasil belajar dilakukan setelah berahir pembahasan atau satu pokok
bahasan, atau setelah selesai satu caturwulan atau satu semester. Dilihat dari fungsinya, tes
yang dilaksanakan setelah selesai satu caturwulan atau satu semester dinamakan tes sumatif.
Hal ini disebabkan hasil dari tes itu digunakan untuk menilai keberhasilan siswa dalam proses
pembelajaran sebagai bahan untuk mengisi buku kemajuan belajar (nilai raport). Sedangkan
tes yang yang dilaksanakan setelah proses belajar mengajar atau mungkin setelah selesai satu
pokok bahasan dinamakan tes normative, karena fungsinya bukan untuk melihat keberhasilan
siswa akan tetapi digunakan sebagai umpan balik untuk perbaikan proses belajar mengajar
yang dilakukan oleh guru.
Dilihat dari pelaksanaannya, tes dapat dibedakan menjadi tes tertulis, tes lisan, dan tes
perbuatan. Tes tertulis atau sering juga disebut tes tulisan adalah tes yang dilakukan dengan
cara siswa menjawab sejumlah item soal dengan cara tertulis. Ada dua jenis tes yang termasuk
ke dalam tes tulisan ini, yaitu tes essay dan tes objektif. Tes essay adalah bentuk tes yang
dengan cara siswa diminta untuk menjawab petanyaan secara terbuka, yaitu menjelaskan atau
menguraikan melalui kalimat yang disusunnya sendiri. Tes essay dapat minalai proses mental
siswa terutama dala hal kemampuan menyusun jawban secara sistematis, kesanggupan
menggunakan bahasa lain sebagainya. Sedangkan Tes objektif adalah bentuk tes yang
mengharapkan siswa memilih jawaban yang sudah ditentukan. Misalnya bentuk tes benar
salah (BS), tes pilihan ganda (multiple choice), menjodohkan (matching) dan bentuk
melengkapi.2

1
H. Wina Sanjaya, Kurikulum Dan Pembelajaran Teori Dan Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hlm.354.
2
Tim Pengembang MKDP Kurikulum Dan Pembelajaran, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta:
Rajagrafindo Persada, 2011), hlm.56-59.

5
A. Tes objektif
Yaitu tes tulis yang itemnya dapat dijawab dengan dengan memilih jawaban yang sudah
tersedia, sehingga peserta didik menampilkan keseragaman data, baik yang menjawab benar
maupun mereka yang menjwab salah . kesanaan data inilah yang memungkinkan adanya
keseragaman analisis.
1. Tes pilihan ganda
a. Pengertian tes pilihan ganda
Tes objektif bantuk multiple choice ini sering dikenal dengan istilah tes objektif
bentuk pilihan ganda yaitu salah satu bnetuk tes objektif yang terdiri dari atas
pertanyaan yang sifatnya belum selesai, dan untuk menyelesaikannya harus dipilih
salah satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan pada tiap-tiap
butir soal yang bersangkutan.3 Tes pilihan ganda merupakan jenis objektif yang paling
banyak digunakan oleh para guru. Tes ini dapat mengukur pengetahuan yang luas
dengan tingkat yang bervariasi. Item tes pilihan ganda memiliki semua persaratan
sebagai tes yang baik, yakni dilihat dari segi objektivitas, reliabelitas, dan daya
pembeda antara siswa yang berhasil dengan siswa yang gagal. Tes pilihan ganda dapat
digunakan untuk mengevaluasi pengetahuan hasil belajar yang telah diberikan pada
siswa selama satu semester. Item tes pilihan ganda juga dapat digunakan untuk
mengukur batasan atau definisi pengetahuan yang sudah jelas.
b. Kelebihan tes pilihan ganda
Dalam evaluasi pembelajaran, item tes pilihan ganda mempunyai beberapa kelebihan
yang secara ringkas dapat disebut sebagai berikut:
1. Tes pilihan ganda memiliki karakteristik yang baik untuk suatu alat pengukur hasil
belajar siswa.
2. Item tes pilihan ganda yang dikonstruksi dengan intensif dapat mencakup hampir
seluruh bahan pembelajaran yang diberikan oleh guru di kelas.
3. Item tes pilihan ganda adalah tepat untuk mengukur penguasaan informasi para
siswa yang hendak dievaluasi.

3
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1996), hlm.118

6
4. Dalam menggunakan kunci jawaban yang sudah disiapkan secara terpisah, jawaban
siswa dapat dikoreksi dengan lebih mudah.
5. Hasil jawaban siswa yang diperoleh dari tes pilihan ganda dapat dikoreksi bersama,
baik guru maupun siswa dengan situasi yang lebih kondusip.
6. Item tes pilihan ganda yang sudah dibuat terpisah antara lembar soal dan lembar
jawaban, dapat diapakai secara berulang-ulang.
c. Kelemahan tes pilihan ganda
1. Membuat Item tes pilihan lebih sulit serta membutuhkan waktu yang lebih lama
dibandingkan dengan penyusunan item tes bentuk objektif lainnya.
2. Tidak semua guru senang menggunkan tes pilihan ganda untuk mengukur hasil
pembelajaran yang telah diberikan dalam waktu tertentu.
3. Item tes pilihan ganda kurang dapat mengukur kecakapan siswa dalam
mengorganisasikan materi hasil pembelajaran
4. Sanagt sensitive terhadap menerka terhadap alternative jawaban.
5. Item tes pilihan ganda memberikan peluang pada siswa untuk menerka jawaban.4
d. Kaidah penulisan
Seperti halnya bentuk soal yang lain, penulisan soal pilihan ganda harus
didasarkan pada spesifikasi soal yang terdapat dalam kisi-kisi tes. Soal pilihan ganda
dapat ditingkatkan mutunya apabila penulisannya, di samping berlandasan kisi-kisi,
juga mengikuti berbagai kaidah penulisan soal. Kadah penulisan soal merupakan
petunjuk atau pedoman yang perlu diikuti oleh penulis agar soal yang sihasilkan
mempunyai mutu yang baik. soal yang mutunya baik adalah soal yang mampu
menjaring informasi yang diperlukan dan berfungsi secara optimal. Kualitas suatu tes
sebenarnya banyak ditentukan oleh kualitas butir-butir penyusunnya.
- Soal harus disesuaikan dengan kompetensi dasar dan indicator yang terdapat dalam
kurikulum
- Pilihan jawaban harus berfungsi homogeny, dan logis.
- Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau paling benar

4
H.M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip Dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm.125-
126

7
- Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas
- Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang
diperlukan saja.
- Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negative ganda.
- Gambar, grafik, table diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas
dan berfunsi
- Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “semua pilihan jawaban di atas
salah atau semua pilihan jawaban di atas benar”
- Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan
urutan besar kecilnya nilai angka tersebut atau kronologi waktunya.
- Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
- Menggunakan bahasa yang komunikatif sehingga mudah dimengerti
- Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan
untuk daerah lain atau nasional.5
e. Teknik penskoran
Pemberian skor (scoring) merupakan langkah pertama dalam proses pengelolaan
hasil tes yaitu proses pengubahan jawaban-jawaban soal tes menjadi angka-angka.
Dengan kata lain, pemberian skor itu merupakan tindakan kuantifikasi terhadap
jawaban-jawaban yang diberikan oleh teste dalam suatu hasil belajar. Angka-angka
hasil penilian itu selanjutnya diubah menjadi niali-nilai (garde) melalui proses tertentu.6
Penskoran dalam soal pilihan ganda dapat dilakukan setelah soal tersebut digunakan.
Penskoran soal pilihan ganda sangat mudah dilakukan. Skor 1 diberikan apabila
jawaban benar, dan skor 0 diberikan apabila jawaban salah. Penskoran soal pilihan
ganda dapat dilakukan dengan dua cara yaiut (1) tanpa adanya koreksi terhadap
jawaban yang tidak dijawab dan (2) dengan koreksi terhadap jawaban yang tidak
dijawab. Penskoran tanpa koreksi terhadap jawaban yang tidak dijawab, menggunakan
persamaan sebagai berikut:

5
Sumarna Surapranata, Panduan Penulisan Tes Terulis Implementasi Kurikulum 2014, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2005), Hlm.179-193

6
Anas Sudijono, Pengantar Pendidikan, (Jakarta:Rajagrafindo Persada), Hlm.301.

8
B
skor∑𝑠𝑘𝑜𝑟 = ∑ 𝑁 𝑥100

keterangan :
∑B= Banyaknya soal yang dijawab benar
N = Banyak soal
100 = Nilai konstanta
Contoh: seorang siswa menjawab benar 30 soal dari 50 soal yang disediakan. Skor
peserta tes tersebut adalah:
30
𝑠𝑘𝑜𝑟 = ∑ 𝑥100 = 60
50

Penskoran dengan koreksi terhadap jawaban yang tidak dijawab menggunakan


persamaan sebagai berikut:

𝑆
𝑠𝑘𝑜𝑟 = ∑ 𝐵 − 𝑃−1 /𝑁 𝑥100

Keterangan:

∑B = Banyaknya jawaban yang dijawab benar

S = Banyaknya jawaban yang dijawab salah

P = Banyaknya alternatif jawaban

1 = Nilai konstanta

N = Banyaknya soal

Contoh:

Dari 50 soal dengan 4 alternatif jawaban yang disajikan, seseorang peserta tes
menjawab benar sebanyak 30 soal, dijawabsalah sebanyak 18, dan tidak dijawab
sebanyak 2 soal. Skor yang diperoleh peserta tes tersebut adalah:

18
𝑠𝑘𝑜𝑟 = ∑ 30 − 4−1 /50 𝑥100

9
18
∑ 30 − /50 𝑥100 = 48
3

2. Tes menjodohkan
Dalam bentuk tes tradisional, soal menjodohkan adalah bentuk soal yang terdiri dari
dua kelompok pernyataan. Kelompok pertama ditulis pada lajur sebelah kiri biasanya
merupakan pernyataan soal atau pertanyaan yang berupa kalimat. Kelompok kedua biasa
disebut respon yang ditulis dilajur sebelah kanan, biasanya merupakan pernyataan jawabn.
Matching test dapat kita ganti dengan istilah memperbandingkan, mencocokkan,
memasangkan, atau menjodohkan. Maching test terdiri atas satu pertanyaan dan satu
jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang tercantum dalam seri
jawaban. Bentuk soal menjodohkan sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta didik
yang sangat sederhana, yaitu kemampuan untuk mengidentifiksi kemampuan
menghubungkan antara dua hal. Keunggulan dan kelemahan tes menjodohkan adalah:
a. Keunggulan
1. Luasnya materi yang dapat dicakup
2. Relatif lebih mudah dibuat butir soal
3. Ringkas dilihat dari segicara memberikan jawaban
4. Dapat dilakukan dengan mudah, dan cepat dalam penskorannya
b. Kelemahan
1. Adanya kecendrungan untuk mengukur kemampuan mengingat dan kurang tepat
digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif yang lebih tinggi
2. Kemampuan menebak dengan benar relatif tinggi, karena jumlah pertanyaan soal
dalam lajur kiri dengan jawaban di dalam lajur kanan hampir sama.7
c. Kaidah penulisan
Soal yang diberikan kepada siswa hendaknya merupakan soal yang sesuai dengan
indicator yang terdapat pada kurikulum.
d. Penskoran

7
Sudaryono, Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarat: Graham Ilmu, 2012), hlm.115-116

10
Penskoran dalam dalam soal menjodohkan dapat dilakukan setelah soal tersebut
digunkan. Penskoran soal menjodohkan sangat mudah dilakukan. Skor 1 diberikan
apabila jawaban benar, dan skor 0 diberikan apabila jawaban salah.
( S = R ), artinya skor dihitung jawaban yang benar saja.8
3. Tes isian
Mengonstruksi item tes, baik kenis isian maupun jenis pilihan mereupakan langkah
penting yng harus dikuasi dengan baik oleh seorang guru kelas. Hal ini terjadi karena
validitas tes objektif jenis isian tergantung pada kualitas isi dan tampilannya, sedangkan
kualitas isi dan tampilan sangat dirpengaruhi oleh kemampuan guru dalam membuat tes.9
Tes objektif jenis isian ini biasanya berbentuk cerita atau karangan. kata-kata
penting dalam cerita atau karangan itu beberapa diantaranya dikosongkan, sedangkan tugas
dari peserta didik adalah mengisi bagian-bagian yang telah dikosongkan itu.
Tes objektif bentuk isian ini memiliki segi-segi kebaikan dan kelemahan.
a. Kebaikan-kebaikan yang dimilikinya adalah:
a. Dengan menggunakan tes objektif bentuk isian ini maka masalah yang diujikan
tertuang dalam secara keseluruhan dalam konteksnya.
b. Butir-butir item tes objektif bentuk isian ini berguna sekali untuk mengungkap
pengetahuan siswa secara utuh mengenai suatu bidang
c. Cara penyusunan itemnya mudah
b. Kelemahan yang disandang tes objektif bentuk isian adalah:
a. Tes objektif bnetuk isian ini cenderung lebih banyak mengungkapkan aspek
pengetahuan saja.
b. Karena tes tertuang dalam bentuk rangkaian cerita, maka tes objektif bentuk
isian ini umunya banyak memakan tempat
c. Tes objektif bentuk isian ini hanya dapat mengungkap sebagain saja dari bahan
yang seharusnya diteskan

8
Sumarna Surapranata, Panduan Penulisan Tes Terulis Implementasi Kurikulum 2014, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2005), Hlm.117

9
H.M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip Dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm.108

11
d. Terbuka peluang bagi para siswa untuk bermain tebak-tebakan.10
c. Kaidah penulisan soal isian
Beberapa saran berikut ini dapat menolong para guru dalam mengembangkan tes isian.
a. Rumusan butir soal harus sesuai dengan kemampuan atau kompetensi dasar dan
indicator
b. Rumusan butir soal harus menggunakan bahasa yang baik, ,kalimat singkat, dan
jelas sehingga mudah dipahami
c. Jawaban yang dituntut oleh butir soal harus singkat dan pasti
d. Apabila rumusan butir soal dalam bentuk kalimat yang belum lengkap,bagian yang
dikosongkan (perlu diisi oleh siswa) maksimum dua untuk satu kalimat soal.11
d. Penskoran
Penskoran dalm soal jawaban isian dapat dilakukan setelah soal tersebut digunakan.
Skor 1 diberikan apabila jawaban benar, dan skor 0 diberikan apabila jawaban salah.12
B. Tes subyektif (essay)

Tes subyektif sering disebut dengan tes uraian, tes ini peserta didik memiliki kebebasan
memilih dan menentukan jawaban . kebebasan ini mengakibatkan data jawaban bervariasai,
sehingga tingkat kebenaran dan tingkat kesalahan berfariasi juga.13 Ciri khas tes essai adalah
jawabn terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh penyusun soal, tetapi harus disusun oleh
peserta tes. Butir soal tipe essay hanya terdiri dari pertanyaan dan jawaban sepenuhnya harus
dipikirkan oleh peserta tes. Cirri-ciri pertanyaan didahului dengan kata-kata seperti: uraikan,
jelaskan, bandingkan, mengapa, bagaimana, simpulkan dan sebaginya.

10
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1996), hlm.114-117

11
Kusaeri, Acuan Dan Teknik Penilaian Proses Dana Hasil Belajar Dalam Kurikulum 2013,
(Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2014), hlm.97.

12
Sumarna Surapranata, Panduan Penulisan Tes Terulis Implementasi Kurikulum 2014, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2005), Hlm.89.

13
Chabib thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan (Jakarta: raja grafindo persada, 1994), hlm.55

12
Jumlah butir soal dalam tes essay biasanya tidak banyak, hanya sekitar 5-10 butir soal
dalam waktu kira-kira 90-120 menit. Soal-soal bentuk essay ini menuntut kemampuan peserta
didik menginterprestasi, menghubungkan pengertian-pengertian yang dimiliki. Secara singkat
dapat dikatakan bahwa tes essay menuntut peserta didik untuk mengingat-ingat dan mengenal
kembali atas apa yang sudah dipelajari.14

a. Kelebihan
1. Sangat baik untuk mengukur atau menilai kemampuan menulis dan kretivitas dalm
menuangkan pendapat dalam bentuk lisan
2. Relative mudah dan cepat membuatnya
3. Dapat membuat siswa belajar lebih giat dan sungguh-sungguh
4. Meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar lebih rajin jika dibandingkan dengan
tes objektif
5. Mudah disiapkan dan disusun, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi guru
untuk mempersiapkannya.
6. Tidak banyak kesempatan untuk untung-untungan
7. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengeluarkan pendapat atau
mengutrakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri.
b. Keterbatasan tes essay
1. Hanya dapat memberikan sampel yang terbatas
2. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengoreksi lembar jawaban dan tidak
dapat diwakilkan kepada orang lain
3. Reliabilitasnya rendah baik rendah baik bagi guru maupun siswa.15
c. Penggunaan tes essay
Tes essay sangat baik digunakan apabila:

14
Eko Putro Widoyoko, Teknik Penyusunan Instrument Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2102),
hlm. 83

15 Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Program Dan Instrument Evaluasi Untuk Program Pendidikan Dan
Penilaian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 207-208.

13
1. Jumlah responden relative sedikit, misalnya kurang dari 100. Bila responden terlalu
banyak, misalnya lebig dari 100 orang, penggunaan tes essay akan menyita banyak
waktu korektor dalam memeriksa lembar jawaban.
2. Waktu yang dimiliki penyusun soal untuk memperiapkan soal sangat terbatas,
sedangkan ia mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa hasil ujian.
3. Tujuan yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresiakan pikiran dalam
bentuk tulisan.
4. Untuk memperoleh hasl pengalaman belajar peserta didik, maka tes essay merupakan
salah satu bentuk yang paling tepat untuk mengukur pengalaman belajar tersebut.16
d. Kemampuan yang diukur
Tes essay digunakan untuk mengukur kemampuan yang tidak bisa diukur dengan
bentuk soal objektif. Kemampuan yang dapat diukur antara lain:
1. Menhubungkan
2. Menganalisis
3. Membandingkan
4. Menjelaskan sebab akibat
5. Memberikan argument yang releven
e. Penskoran
Penskoran dalam soal essay merupakan hal yang sangat penting. Seharusnya setiap
penulis soal essay harus segera membuat pedoman penskoran sedini mungkin. Yaitu
segera setelah soal essay selesai dibuat. Dalam proses penskoran untuk jawaban essay
biasa guru mneggunakan penskoran analitik. Penskoran analitik adalah penskoran yang
mengharuskan para guru untuk memtukan daftar unsur-unsur penting yang harus dinilai.
Dalam pemberian skor tes essay, seorang guru sebaiknya
1. Menyusun kunci jawaban untuk setiap pertanyaan yang mengandung materi
yang dapat digunakan sebagai acuan dasar ketika melakukan penilaian
2. Menentukan nilai dari setiap pertanyaan berdasarkan bobot permasalahan dan
waktu untuk yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jawaban

16
Eko Putro Widoyoko, Teknik Penyusunan Instrument Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2102),
hlm. 89.

14
3. Mengevaluasi satu pertanyaan pada semua lembar jawaban sebelum pindah ke
pertanyaan yang lainnya
4. Usahakan dalam proses penilaian jawaban soal tidak melihat nama siswa
penjawabnya
5. Pedoman penskoran essay terdapat skor maksimum 4 dan skor minimum 0.17
f. Kaidah penulisan
Pada umumnya kaidah penulisan yang berlaku pada soal objektif seperti soal
pilihan ganda juga berlaku untuk subjektif seperti soal essay.
1. Soal harus sesuai dengan kompetensi dasar dan indicator yang terdapat dalam
kurikulum
2. Ruang lingkup berupa batasan pertanyaan dan jawaban harus jelas
3. Isi materi yang ditanyakan harus sesuai dengan jenjang pendidikan, jenis sekolah
atau tingkatan sekolah
4. Rumusan pertanyaan atau pernyataan harus menggunakan kata-kata Tanya atau
perintah.
5. Buatlah pedoman penskoran segera setelah soal essay selesai ditulis
6. Hal-hal lain yang menyertai soal seperti table, gambar, grafik,peta dan lain
sebagainya harus disajikan secara jelas sehingga tidak menibulkan penapsiran
yang berbeda.18

17
H.M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip Dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm.102

18
Sumarna Surapranata, Panduan Penulisan Tes Terulis Implementasi Kurikulum 2014, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2005), Hlm.234.

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Teknik tes merupakan suatu kenyataan bahwa manusia dalam hidupnya berbeda antara
individu yang satu dengan individu lainnya. Adanya perbedaan individual itu sudah barang
tentu akan turut serta menentukan berhasil tidaknya individu-individu dalam menjalankan
tugas dan kewajibannya sehingga dengan demikian akan berakibat pula adanya perbedaan
prestasi yang diraihnya. Senada dengan adanya perbedaan individu itu maka perlu
diciptakan alat untuk mengukur keadaan individu, dan alat pengukur itulah yang lazim
disebut tes. Dengan alat ukur berupa tes tersebut, maka orang akan berhasil mengetahui
adanya perbedaan antar individu.
Tes dapat dibedakan tiga bagian yaiut tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan. Tes
tertulis atau sering juga disebut tes tulisan adalah tes yang dilakukan dengan cara siswa
menjawab sejumlah item soal dengan cara tertulis. Ada dua jenis tes yang termasuk ke
dalam tes tulisan ini, yaitu tes essay dan tes objektif. Tes objektif adalah bentuk tes yang
mengharapkan siswa memilih jawaban yang sudah ditentukan. Seperti bentuk tes benar salah
(BS), tes pilihan ganda (Multiple Choice), menjodohkan (Matching) dan bentuk isian..
Sedangkan Tes essay adalah bentuk tes yang dengan cara siswa diminta untuk menjawab
petanyaan secara terbuka, yaitu menjelaskan atau menguraikan melalui kalimat yang
disusunnya sendiri. Tes essay dapat minalai proses mental siswa terutama dala hal
kemampuan menyusun jawban secara sistematis, kesanggupan menggunakan bahasa lain
sebagainya.
B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini kami menyadari masih banyak kekeliruan dan
kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu kepada dosen pengampu mata
kuliah dan rekan sekalian saya mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun
demi kesempurnaan makalah ini, dan semoga dapat bermanfaat bagi pelajar umum lainnya
khususnya bagi saya untuk itu sebelum dan sesudahnya saya sampaikan terima kasih.

16
DAFTAR PUSTAKA

H.M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip Dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara,
2009).

Sumarna Surapranata, Panduan Penulisan Tes Terulis Implementasi Kurikulum 2014,


(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005).

Eko Putro Widoyoko, Teknik Penyusunan Instrument Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka


Pelajar, 2102).

H. Wina Sanjaya, Kurikulum Dan Pembelajaran Teori Dan Praktik Pengembangan


Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013).

Tim Pengembang MKDP Kurikulum Dan Pembelajaran, Kurikulum Dan Pembelajaran,


(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011).

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1996).

Kusaeri, Acuan Dan Teknik Penilaian Proses Dana Hasil Belajar Dalam Kurikulum
2013, (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2014).

Chabib thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan (Jakarta: raja grafindo persada, 1994), hlm.55

Sudaryono, Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarat: Graham Ilmu, 2012).

Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Program Dan Instrument Evaluasi Untuk Program
Pendidikan Dan Penilaian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008).

17