Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Penghargaan yang diberikan kepada bidan tidak hanya dalam bentuk
imbalan jasa, tetapi juga dalam bentuk pengakuan profesi dan pemberian
kewenangan / hak untuk menjalankan praktik sesuai dengan kompetensi yang
dimiliki.
Sedangkan, sanksi merupakan imbalan negative yang berupa
pembebanan atau penderitaan yang ditentukan oleh hukum aturan yang
berlaku. Sanksi berlaku bagi bidan yang melanggar kode etik dan hak /
kewajiban bidan yang telah diatur oleh organisasi profesi,karena kode etik
bidan merupakan norma yang berlaku bagi anggota IBI dalam menjalankan
praktek profesinya yang telah disepakati dalam Kongres Nasional IBI.
Contoh sanksi bidan adalah pencabutan izin pratek bidan SIPB sementara
atau bisa juga berupa denda.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja sistem penghargaan Bidan?
2. Apa saja Reflektif Practice?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui sistem penghargaan Bidan?
2. Untuk mengetahui Reflektif Practice?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistem Penghargaan Bagi Bidan


Penghargaan yang diberikan kepada bidan tidak hanya dalam bentuk
imbalan jasa, tetapi juga dalam bentuk pengakuan profesi dan pemberian
kewenangan / hak untuk menjalankan praktik sesuai dengan kompetensi yang
dimiliki.
Bidan merupakan tenaga kesehatan yang memegang peranan penting
dalam pelayanan maternal dan perinatal. Dengan jumlah sekitar 73.000 orang
yang tersebar di selruh Indonesia, profesi bidan tentu berada dekat dengan
masyarakat yang sewaktu-waktu memerlukan pertolongnnya. Salah satu
tantangan yang harus di hadapi adalah tuntutan masyarakat terhadap
pelayanan berkualitas. Tantangan ini memang bukan tanggung jawab bidan
semata, namun juga menyangkut peran profesi lain. Keberadaan bidan
memiliki posisi strategis,mengingat sebagian besar persoalan bidan di tuntut
untuk memiliki ketrampilan yang lebih baik, disertai kemampuan untuk
menjalin kerja sama dengan pihak yang terkait dalam persoalan kesehatan
reproduksi di masyarakat Reward atau sanksi bertujuan untuk menignkatkan
kualitas bidan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat
1. Reward
Penghargaan yang di berikan kepada bidan tidak hanya dalam bentuk
imbalan jasa, tetapi juga dalam bentuk pengakuan profesi dan pemberian
kewenangan atau hak untuk menjalankan praktik sesuai dengan
kompetensi yang di miliki.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi ke-3, hak adalah
kewenangan untuk berbuat sesuatu yang telah di tentukan oleh undang-
undang atau aturan tertentu. Bidan di Indonesia memiliki organisasi
profesi, yaitu ikatan bidan atau IBI, yang mengatur hak dan kewajibn serta
penghargaan dan sanksi bagi bidan. Setiap bidan yang telah menyelesaikan
pendidikan kebidanan berhak dan wajib menjadi anggota IBI.

2
Hak bidan:
a. Bidan berhak mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan profesinya.
b. Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap
tingkat jenjang pelayanan kesehatan.
c. Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan kelurga yang
bertentangan dengan peraturan perundangan, dan kode etik profesi.
d. Bidan berhak atas prifasi/kedirian dan menuntut apabila nama baiknya
di cemarkan, baik oleh pasien,keluarga ataupun profesi lain.
e. Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri, baik melalui
pendidikan maupun pelatihan .
f. Bidan berhak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan jenjang
karier dan jabatan yang sesuai.
g. Bidan berhak mendapatkan kompetensi dan kesejahteraan yang sesuai.
Wewenang bidan antara lain:
a. Pemberian kewenangan lebih luas kepada bidan untuk mendekatkan
pelayanan kegawatan obstetric dan neonatal.
b. Bidan harus melaksanakan tugas kewenangan sesuai standar profesi,
memiliki kemampuan dan ketrampilan sebagai bidan,mematuhi dan
melaksanakan protap yang berlaku di wilayahnya serta bertanggun
jawab atas pelayanan yang di berikan dengan mengutamakan
keselamatan ibu dan bayi.
c. Pelayanan kebidanan kepada perempuan oleh bidan meliputi
pelayanan pada masa pranikah, termasuk remaja putri, kehamilan,
persalinan, nifas, menyusui, dan masa antara kehamilan.
d. Dan masih banyak lagi.
e. Dalam lingkup IBI, anggota mempunyai hak tertentu sesuai dengan
kedudukannya, yaitu :
1) Anggota biasa
a) Berhak mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh organisasi.

3
b) Berhak mengemukakan pendapat, saran, dan usul untuk
kepentingan organisasi
c) Berhak memilih dan dipilih
2) Anggota luar biasa
a) Dapat mengikuti kegiatan yang dilakukan organisasi.
b) Dapat mengemukakan pendapat, saran dan usul untuk
kepentingan organisasi
3) Anggota kehormatan
Dapat mengemukakan pendapat, saran, dan usul untuk
kepentingan organisasi.
2. Sanksi
Sedangkan Sanksi merupakan imbalan negatif yang berupa
pembebanan atau penderitaan yang ditentukan oleh hukum aturan yang
berlaku.
Sanksi berlaku bagi bidan yang melanggar kode etik dan hak atau
kewajban bidan yang telah diatur oleh organisasi profesi, karena kode etik
bidan merupakan norma yang berlaku bagi anggota IBI dalam
menjalankan praktik profesinya yang telah disepakati dalam Kongres
Nasional IBI.
Kode etik bidan :
a. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat
1) Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan
mengamalkan sumpah jabatanya dalam melaksanakan tugas
pengabdiannya.
2) Setiap bidan, dalam menjalankan tugas profesinya, menjunjung
tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara
citra bidan.
3) Setiap bidan, dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman
pada peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan
klien, keluarga dan masyarakat.

4
4) Setiap bidan, dalam menjalankan tugasnya, mendahulukan
kepentingan klien, menghormati hak klien, dan nilai- nilai yang
dianut oleh klien.
5) Setiap bidan, dalam menjalankan tugasnya senantisa mendahulukan
kepentingan klien, keluarga dan masyarakat dengan identitas yang
sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang
dimilikinya.
6) Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam
hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi
masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatanya secara optimal.
b. Kewajiban bidan terhadap tugasnya.
1) Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada
klien, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi
yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien, keluarga, dan
masyarakat.
2) Setiap bidan berkewajiban memberikan pertolongan sesuai dengan
kewenangan dalam mengambil keputusan, termasuk mengadakan
konsultasi dan/atau rujukan.
3) Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat
dan/atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh
pengadilan atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien.
c. Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya
1) Setip bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya
untuk menciptkan suasana kerja yang serasi.
2) Setiap bidan, dalam melaksanakan tugasnya, harus saling
menghormati, baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan
lainya.
d. Kewajiban bidan terhadap profesinya
1) Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra
profesi, dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan
memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat.

5
2) Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan
meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
3) Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan
kegiatan sejenisnya dang dapat meningkatkan mutu dan citra
profesinya.
e. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri
1) Setiap bidan wajib memelihara kesehatanya agar mampu
melaksanakan tugas profesinya dengan baik.
2) Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3) Setiap bidan wajib memelihara kepribadian dan penampilan diri.
f. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa, bangsa, dan tanah air.
1) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan
ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan,
khususnya dalam pelayanan Kesehatan Reproduksi, Keluarga
Berencana, dan Kesehatan Keluarga.
2) Setip bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan
pemikiran kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu dan
jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA atau KB
dan kesehatan keluarga.
3. Jabatan Fungsional Bidan
Jabatan dapat ditinjau dari 2 aspek, yaitu jabatan structural dan
fungsionol. Jabatan structural adalah jabatan yang secara jelas tertera
dalam struktur dan di atur berjengjang dalam suatu organisasi, sedangkan
jabatan fungsional adalah jabatan yang di tinjau serta di hargai dari aspek
fungsinya yang vital dalam kehidupan masyarakat dan Negara. Selain
fungsi dan perannya yang vital dalam kehidupan masyarakat,jabatan
fungsional juga berorientasi kualitatif. Seseorang memiliki jabatan
fungsional berhak mendapatkan tunjangan fungsional. Jabatan bidan

6
merupakan jabatan fungsional professional sehingga berhak mendapat
tunjangan fungsional.
Pengembangan karir bidan meliputi karir fungsional dan karir
structural. Jabatan fungsional sebagai bidan bisa di dapat melalui
pendidikan berkelanjutan, baik secara formal maupun non formal, yang
hasil akhirnya akan meningkatkan kemampuan professional bidan dalam
melaksanakan fungsinya sebagai pelaksana, pendidik, pengelolah, dan
peneliti.
Sedangkan jabatan sturkturalnya bergantung dimana bidan tersebut
bertugas, misalnya di rumah sakit,puskesmas,dan sebagainya. Karir ini
dapat dicapai oleh bidan di setiap tatanan pelayanan kebidanan/kesehatan
sesuai dengan tingkat kemampuan, kesempatan, dan kebijakan yang ada.
4. Etika, Moral dan Nilai-nilai
Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang
perilaku benar atau salah, kebajikan atau kejahatan yang berhubungan
dengan perilaku.
Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi
moral kedalam situasi nyata dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep
yang membimbing manusia berpikir dan bertindak dalam kehidupannya
yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Banyak pihak yang
menggunakan istilah etik untuk mengambarkan etika suatu profesi dalam
hubungannya dengan kode etik profesional seperti Kode Etik IBI(Ikatan
Bidan Indonesia).
Nilai-nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang
penghargaan terhadap suatu standar atau pegangan yang mengarah pada
sikap/perilaku seseorang. Sistem nilai dalam suatu organisasi adalah
rentang nilai-nilai yang dianggap penting dan sering diartikan sebagai
perilaku personal.

7
5. Nilai-Nilai Esensial Dalam Profesi
Pada tahun 1985, “The American Association Colleges of
Nursing” melaksanakan suatu proyek termasuk didalamnya
mengidentifikasi nilai-nilai esensial dalam praktek keperawatan
profesional. Perkumpulan ini mengidentifikasikan 7 nilai-nilai esensial
dalam kehidupan profesional, yaitu:
a. Aesthetics (keindahan): Kualitas obyek suatu peristiwa atau kejadian,
seseorang memberikan kepuasan termasuk penghargaan, kreatifitas,
imajinasi, sensitifitas dan kepedulian.
b. Altruism (mengutamakan orang lain): Kesediaan memperhatikan
kesejahteraan orang lain termasuk keperawatan atau kebidanan,
komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan hati serta
ketekunan.
c. Equality (kesetaraan): Memiliki hak atau status yang sama termasuk
penerimaan dengan sikap asertif, kejujuran, harga diri dan toleransi
d. Freedom (Kebebasan): memiliki kapasitas untuk memilih kegiatan
termasuk percaya diri, harapan, disiplin serta kebebasan dalam
pengarahan diri sendiri.
e. Human dignity (Martabat manusia): Berhubungan dengan
penghargaan yang lekat terhadap martabat manusia sebagai individu
termasuk didalamnya kemanusiaan, kebaikan, pertimbangan dan
penghargaan penuh terhadap kepercayaan.
f. Justice (Keadilan): Menjunjung tinggi moral dan prinsip-prinsip legal
termasuk objektifitas, moralitas, integritas, dorongan dan keadilan
serta kewajaran.
g. Truth (Kebenaran): Menerima kenyataan dan realita, termasuk
akontabilitas, kejujuran, keunikan dan reflektifitas yang rasional.

8
B. Pengertian Reflective Practice secara umum
Reflective Practice adalah kemampuan untuk mencerminkan pada
tindakan sehingga untuk terlibat dalam proses pembelajaran yang
berkelanjutan, yang menurut pencetus istilah, adalah salah satu karakteristik
mendefinisikan praktek profesional. Refleksi juga dapat diartikan sebagai
suatu tindakan atau kegiatan untuk mengetahui serta memahami apa yang
terjadi sebelumnya, belum terjadi, dihasilkan apa yang belum dihasilkan, atau
apa yang belum tuntas dari suatu upaya atau tindakan yang telah dilakukan.
(Tahir, 2011: 93). Istilah refleksi di sini dipahami dalam pengertian khas, yaitu
suatu upaya menyimak dengan penuh perhatian terhadap bahan studi tertentu,
pengalaman, ide-ide, usul-usul, atau reaksi spontan untuk mengerti pentingnya
pemahaman mendalam sampai pada makna dan konsekuensinya.
1. Pengertian Reflective Practice dalam Pelayanan Kebidanan
Refleksi praktik dalam pelayanan kebidanan dimaksudkan sebagai
bentuk pedoman/acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan
dalam memberikan asuhan kebidanan, dipengaruhi oleh filosofi yang
dianut bidan (filosofi asuhan kebidanan) meliputi unsur-unsur yang
terdapat dalam paradigma kesehatan (manusia-perilaku, lingkungan &
pelayanan kesehatan). Dalam praktek kebidanan, pemberian asuhan
kebidanan yang berkualitas sangat dibutuhkan. Kualitas kebidanan
ditentukan dengan cara bidan membina hubungan, baik sesama rekan
sejawat ataupun dengan orang yang diberi asuhan. Upaya meningkatkan
kualitas pelayanan kebidanan juga ditentukan oleh ketrampilan bidan
untuk berkomunikasi secara efektif dan melakukan konseling yang baik
kepada klien.
Bidan merupakan ujung tombak memberikan pelayanan yang
berkuliatas dan sebagai tenaga kesehatan yang professional, bekerja
sebagai mitra masyarakat, khususnya keluarga sebagai unit terkecilnya,
yang berarti bidan memiliki posisi strategis untuk memberikan pelayanan
kesehatan yang bersifat holistik komprehensif (berkesinambungan,
terpadu, dan paripurna), yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif

9
dan rehabilitatif dalam upaya mencapai terwujudnya paradigma sehat. Jadi
seorang bidan dituntut untuk menjadi individu yang professional dan
handal memberikan pelayanan yang berkualitas karena konsep kerjanya
berhubungan dengan nyawa manusia.
2. Ruang Lingkup dalam Praktik Kebidanan
a. Praktik Kebidanan adalah implementasi dari ilmu kebidanan oleh
bidan yang bersifat otonom, kepada perempuan, keluarga dan
komunitasnya, didasari etika dan kode etik bidan. Selain itu diartikan
juga sebagai serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan
oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga dan masyarakat) sesuai
dengan kewenangan dan kemampuannya.
b. Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari keilmuan dan
seni yang mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan
menyusui, masa interval dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan
menopause, bayi baru lahir dan balita, fungsi–fungsi reproduksi
manusia serta memberikan bantuan/dukungan pada perempuan,
keluarga dan komunitasnya.
c. Manajemen Asuhan Kebidanan adalah pendekatan dan kerangka pikir
yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan
masalah secara sistematis mulai dari pengumpulan data, analisis data,
diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
d. Asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan
yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup
praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan.
e. Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari sistem pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar (teregister)
yang dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau rujukan.
3. Reflective Practice dalam Pelayanan Kebidanan
Pelayanan praktik kebidanan merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari pelayanan rumah sakit. Oleh karena itu, tenaga bidan
bertanggung jawab memberikan pelayanan kebidanan yang optimal dalam

10
meningkatkan dan mempertahankan mutu pelayanan kebidanan yang
diberikan selama 24 jam secara berkesinambungan. Bidan harus memiliki
keterampilan professional, ataupun global. Agar bidan dapat menjalankan
peran fungsinya dengan baik, maka perlu adanya pendekatan sosial budaya
yang dapat menjembatani pelayanannya kepada pasien.
Program pelayanan kebidanan yang optimal dapat dicapai dengan
adanya tenaga bidan yang professional dan dapat diandalkan dalam
memberikan pelayanan kebidanannya berdasarkan kaidah-kaidah profesi
yang telah ditentukan,seperti memiliki berbagai pengetahuan yang luas
mengenai kebidanan, dan diterapkan oleh para bidan dalam melakukan
pendekatan asuhan kebidanan kepada masyarakat.
Bidan dapat menunjukan otonominya dan akuntabilitas profesi,
melalui pendekatan sosial dan budaya yang akurat. Terdapat beberapa
bentuk pendekatan yang dapat digunakan atau diterapkan oleh para bidan
dalam melakukan pendekatan asuhan kebidanan kepada masyarakat
misalnya paguyuban, kesenian tradisional, agama dan sistem banjar.
Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam menerima,
bahwa pelayanan atau informasi yang diberikan oleh petugas, bukanlah
sesuatu yang tabu tetapi sesuatu hal yang nyata atau benar adanya.
Dalam memberikan pelayanan kebidanan, seorang bidan lebih
bersifat :
a. Promotif, bidan yang bersifat promotif berarti bidan berupaya
menyebarluaskan informasi melalui berbagai media. Metode
penyampaian, alat bantu, sasaran, media, waktu ideal, frekuensi,
pelaksana dan bahasa serta keterlibatan instansi terkait maupun
informal leader tidaklah sama di setiap daerah, bergantung kepada
dinamika di masyarakat dan kejelian kita untuk menyiasatinya agar
informasi kesehatan bisa diterima dengan benar dan selamat. Penting
untuk diingat bahwa upaya promotif tidak selalu menggunakan dana
negara, adakalnya diperlukan adakalanya tidak. Selain itu, penyebaran
informasi hendaknya dilakukan secara berkesinambungan dengan

11
memanfaatkan media yang ada dan sedapat mungkin dikembangkan
agar menarik dan mudah dicerna. Materi yang disampaikan
seyogyanya selalu diupdate seiring dengan perkembangan ilmu
kesehatan terkini.
b. Preventif berarti bidan berupaya pencegahan semisal imunisasi,
penimbangan balita di Posyandu dll. Kadang ada sekelompok
masyarakat yang meyakini bahwa bayi berusia kurang dari 35 hari
(jawa: selapan) tidak boleh dibawa keluar rumah.
c. Kuratif berarti bidan tidak dikehendaki untuk mengobati penyakit
terutama penyakit berat.
d. Rehabilitatif berarti bidan melakukan upaya pemulihan kesehatan,
terutama bagi pasien yang memerlukan perawatan atau pengobatan
jangka panjang.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penghargaan yang diberikan kepada bidan tidak hanya dalam bentuk
imbalan jasa, tetapi juga dalam bentuk pengakuan profesi dan pemberian
kewenangan, atau hak, untuk menjalankan praktik sesuai dengan kompetensi
yang dimiliki.
Sanksi berlaku bagi bidan yang melanggar kode etik dan hak atu
kewajiban bidan yang telah diatur oleh organisasi profesi.
Dalam upaya mendorong profesi kebidanan agar dapat diterima dan
dihargai oleh pasien, masyarakat atau profesi lain, maka mereka harus
memanfaatkan nilai-nilai kebidanan dalam menerapkan etika dan moral
disertai komitmen yang kuat dalam mengemban peran profesionalnya.
Dengan demikian bidan yang menerima tanggung jawab, dapat melaksanakan
asuhan keperawatan atau kebidanan secara etis profesional.
Bidan merupakan ujung tombak memberikan pelayanan yang
berkuliatas dan sebagai tenaga kesehatan yang professional, bekerja sebagai
mitra masyarakat, khususnya keluarga sebagai unit terkecilnya, yang berarti
bidan memiliki posisi strategis untuk memberikan pelayanan kesehatan yang
bersifat holistik komprehensif (berkesinambungan, terpadu, dan paripurna),
yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam
upaya mencapai terwujudnya paradigma sehat. Jadi seorang bidan dituntut
untuk menjadi individu yang professional dan handal memberikan pelayanan
yang berkualitas karena konsep kerjanya berhubungan dengan nyawa
manusia.
B. Saran
Penghargaan bagi bidan bisa di berikan dalam bentuk imbalan jasa
atau pengakuan sebagai profesi bidan dan pemberian hak dan kewenangan
kepada bidan dalam menjalankan tugasnya sebagai bidan. Misalnya tidak
pernah bermasalah dengan hokum dan selalu berjalan seiring dengan kode

13
etik bidan dan standar profesi bidan yang ada. Tapi menurut kelompok kami,
sebaiknya juga di sediakan rencana berprestasi bagi bidan yang memiliki
prestasi dalam prakteknya atas pengabdiannya kepada Negara.
Tiada kesempurnaan di muka bumi ini. Oleh karena itu, kami dengan
senang hati akan menerima segala saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

14
DAFTAR PUSTAKA

Asrina, Siswoyo Putri Sinta, Sulistyorini Dewie, Muflihah Syamrotul Ima, Sari
Dr. Eman Suparman,S.H.,M.H; Tanggung Jawab Hukum & Etika Profesi

Nirmala Dian. 2010. Konsep Kebidanan. GRAHA ILMU


http://ferranovidetaviani.blogspot.com/2010/12/sistem-penghargaan-bagi-
bidan.html

http://lisnamegaresky.blogspot.com/2012/12/makalah-refleksi-praktik-dalam.html

http://gracedessy1230.blogspot.com/2012/12/model-pembelajaran-reflektif.html

http://zulsophistsaidi.blogspot.com/search/label/peranan%20refleksi

http://ibibblog.blogspot.com/2009/01/sistem-penghargaan-bagi-bidan.html

http://leranthia.blogspot.com/2010/03/makalah-penghargaan-bagi-bidan.html

15
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “MEMAHAMI SISTEM PENGHARGAAN BIDAN”
Dengan selesainya makalah ini maka segala kerendahan hati kami
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang memberi dukungan kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan
yang harus di benahi untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
konstruktif untuk menuju kesempurnaan.
Makalah ini di susun untuk dapat memenuhi tugas mata kuliah, dan
semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum Wr.Wb

Unaaha, 21 Januari 2019


Penulis

Kelompok 3

16
ii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
C. Rumusan Masalah ............................................................................... 1
B. Tujuan Masalah ................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Sistem Penghargaan Bagi Bidan ......................................................... 2
B. Pengertian Reflektif Practice .............................................................. 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 13
B. Saran .................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA

17
iii
MAKALAH

“ SISTEM PENGHARGAAN BIDAN “


Dosen : Pebrianti, S.ST., M.Keb

OLEH :

SULVIANI

Disusun Oleh

KELOMPOK 3

1. IRMA SURIANI
2. LAILA NURJANA
3. LINDA SUKMAWATI
4. MEGA NURHALISA
5. MELIANA
6. NENG AYU LESTARI
7. NILUH RIRIN SURIANI

YAYASAN PENDIDIKAN KONAWE


AKADEMI KEBIDANAN
2019

18