Anda di halaman 1dari 16

1

PENGARUH FASILITAS SEKOLAH DAN KOMPETENSI GURU


TERHADAP HASIL BELAJAR KELISTRIKAN OTOMOTIF SISWA SMK
SOEDIRMAN JAKARTA

MUHAMMAD HANIF

5315154179

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2018
2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengalaman mengajar Kelistrikan Otomotif di SMK SOEDIRMAN Jakarta,
rata-rata nilai akhir semester siswa 70. Sementara KKM yang telah ditetapkan pihak
sekolah adalah 75. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui
rendahnya nilai Gambar Teknik Mesin tersebut.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, terdapat beberapa masalah :
1. Motivasi belajar siswa rendah
2. Guru kurang menguasai materi mata pelajaran Kelistrikan Otomotif
3. Fasilitas yang disediakan sekolah tidak mendukung kegiatan belajar
mengajar

1.3 Batasan Masalah


Agar permasalahan yang dibahas tidak terlalu meluas, maka diberikan
batasan masalah hanya pada hubungan sikap siswa terhadap pelajaran Kelistrikan
Otomotif

1.4 Rumusan Masalah


Dari uraian diatas, permasalahan yang muncul dari penelitian ini adalah :
1. Apakah terdapat hubungan antara sikap siswa terhadap Kelistrikan
Otomotif dengan hasil belajar
2. Apakah ada pengaruh sikap siswa terhadap Kelistrikan Otomotif
terhadap hasil belajar

1.5 Tujuan Penelitian


3

Tujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan manfaat dari hasil penelitian,
baik manfaat teoritis maupun manfaat praktis. Manfaat teoritis berkenaan
dengan keilmuan, sedangkan manfaat praktis berkenaan pemecahan masalh.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah


menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). Sedangkan menurut
Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar
mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3).
Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 : 22).

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan
keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima
perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan
pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). Sedangkan menurut
Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar
mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3).
Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 : 22).

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan
keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima
perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan
pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

2.2.2 Kompetensi Guru


Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi
Guru, adapun macam-macam kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga guru
5

antara lain: kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial yang


diperoleh melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi
dalam kinerja guru.
1) Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya. Secara rinci setiap subkompetensi dijabarkan menjadi indikator
esensial sebagai berikut;

 Memahami peserta didik secara mendalam memiliki indikator esensial:


memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip
perkembangan kognitif; memahami peserta didik dengan memanfaatkan
prinsip-prinsip kepribadian; dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta
didik.

 Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk


kepentingan pembelajaran memiliki indikator esensial: memahami
landasan kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran;
menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik,
kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar; serta menyusun rancangan
pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

 Melaksanakan pembelajaran memiliki indikator esensial: menata latar


(setting) pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.

 Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran memiliki indikator


esensial: merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan
hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode;
menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan
tingkat ketuntasan belajar (mastery learning); dan memanfaatkan hasil
penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran
secara umum.
6

 Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai


potensinya, memiliki indikator esensial: memfasilitasi peserta didik untuk
pengembangan berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta didik
untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.

2) Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan
bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Secara rinci subkompetensi tersebut
dapat dijabarkan sebagai berikut:

 Kepribadian yang mantap dan stabil memiliki indikator esensial: bertindak


sesuai dengan norma hukum; bertindak sesuai dengan norma sosial;
bangga sebagai guru; dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai
dengan norma.

 Kepribadian yang dewasa memiliki indikator esensial: menampilkan


kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja
sebagai guru.

 Kepribadian yang arif memiliki indikator esensial: menampilkan tindakan


yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat
serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.

 Kepribadian yang berwibawa memiliki indikator esensial: memiliki


perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki
perilaku yang disegani.

 Akhlak mulia dan dapat menjadi teladan memiliki indikator esensial:


bertindak sesuai dengan norma religius (iman dan taqwa, jujur, ikhlas,
suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

3) Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul
secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang
7

tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki


subkompetensi dengan indikator esensial sebagai berikut:

 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik


memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta
didik.

 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik


dan tenaga kependidikan.

 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali


peserta didik dan masyarakat sekitar.

4) Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas
dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di
sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan
terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya. Setiap subkompetensi tersebut
memiliki indikator esensial sebagai berikut:

 Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi memiliki


indikator esensial: memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum
sekolah; memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi
atau koheren dengan materi ajar; memahami hubungan konsep antar mata
pelajaran terkait; dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam
kehidupan sehari-hari.

 Menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator esensial


menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk
memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.

Keempat kompetensi tersebut di atas bersifat holistik dan integratif dalam kinerja
guru. Oleh karena itu, secara utuh sosok kompetensi guru meliputi (a) pengenalan
peserta didik secara mendalam; (b) penguasaan bidang studi baik disiplin ilmu
(disciplinary content) maupun bahan ajar dalam kurikulum sekolah (c)
8

penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik yang meliputi perencanaan dan


pelaksanaan pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, serta tindak lanjut
untuk perbaikan dan pengayaan; dan (d) pengembangan kepribadian dan
profesionalitas secara berkelanjutan. Guru yang memiliki kompetensi akan dapat
melaksanakan tugasnya secara profesional (Ngainun Naim, 2009:60).

C. Kerangka Berpikir

Penelitian menjelaskan kerangka berpikir tentang:

Hubungan antara Fasilitas Sekolah dan Kompetensi Guru dengan Hasil Belajar
Gambar Teknik Mesin

1. Hubungan sikap siswa terhadap mata pelajaran Gambar Teknik Mesin


dengan hasil belajar
2. Pengaruh sikap siswa terhadap mata pelajaran Gambar Teknik Mesin
dengan hasil belajar

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian asosiatif:

1. Ada hubungan yang positif antara sikap siswa terhadap Gambar Teknik
Mesin dengan Hasil Belajar
2. Ada pengaruh positif antara sikap siswa terhadap Gambar Teknik Mesin
dengan Hasil Belajar
9

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan anatara sikap siswa terhadap


mata pelajaran Kelistrikan Otomotif dan hasil belajar.

B. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMK Soedirman Jakarta, mulai bulan Januari-


Maret 2019

C. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan paradigma sebagai Commented [D1]:
Commented [D2R1]:
berikut:

Keterangan:

Y: hasil belajar Kelistrikan Otomotif

X: sikap siswa terhadap mata pelajaran Kelistrikan Otomotif

D. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel


10

Populasi penelitian ini adalah siswa SMK SOEDIRMAN Jakarta,


sebanyak 60 siswa. Sampel penelitian 30 siswa diambil secara acak dari populasi
penelitian

E. Teknik Pengambilan Data

1. Observasi

Observasi dilakukan oleh peneliti dengan cara melakukan pengamatan


dan pencatatan mengenai aspek-aspek komponen pelaksanaan
pembelajaran di kelas pada waktu proses pembelajaran berlangsung tanpa
menggangu berjalannya kegiatan pembelajaran. Observasi menggunakan
lembar observasi yang telah disiapkan. Hasil observasi digunakan untuk
mendapatkan data mengenai aspek-aspek komponen motivasi siswa melalui
pelaksanaan pembelajaran dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas.

2. Angket

Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan


cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
responden untuk dijawab. Angket merupakan teknik pengumpulan data
yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan
tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, angket juga cocok
digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang
luas. Angket ini digunakan untuk mengetahui tanggapan responden
terhadap pertanyaan yang diajukan (Sugiyono, 2010). Instrumen penelitian
berupa angket pada penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui respon
siswa terhadap model pembelajaran yang telah diterapkan guna
meningkatkan motivasi siswa dalam belajar akuntansi. Angket tersebut
akan dimodifikasi dengan empat alternatif jawaban, sehingga responden
tinggal memberikan tanda (√) pada kolom jawaban yang disediakan.
11

Pengukuran variabel tersebut dengan menggunakan alternatif jawaban yang


disediakan yaitu :

a. Sangat setuju, apabila pernyataannya sangat sesuai dengan yang


dirasakan responden.

b. Setuju, apabila pernyataanya sesuai dengan yang dirasakan responden.

c. Kurang setuju, apabila pernyataannya kurang sesuai dengan yang


dirasakan responden.

d. Tidak setuju, apabila pernyataannya tidak sesuai dengan yang dirasakan


responden. Adapun penskoran terhadap alternatif jawaban tersebut
dengan ketentuan sebagai berikut :

Tabel 3.2 Ketentuan Pengukuran Instrumen Angket

Pernyataan bersifat positif Pernyataan besifat negatif Skor

Sangat setuju Tidak setuju 4

Setuju Kurang Setuju 3

Kurang Setuju Setuju 2

Tidak setuju Sangat Setuju 1

3. Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar


siswa pada materi Tes yang digunakan pada penelitian ini berupa tes tertulis.
Hasil belajar diukur berdasar kriteria ketuntasan minimal yang harus dicapai
siswa yaitu 75.

4. Dokumentasi
12

Dokumentasi digunakan sebagai penguat data yang diperoleh selama


kegiatan observasi berlangung. Dokumentasi yang digunakan dalam
penelitian ini berupa data jumlah siswa, hasil belajarsiswa, catatan
lapangan, foto-foto pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, silabus,
dan RPP.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara
terus-menerus selama pengumpulan data berlangsung sampai akhir penelitian
atau penarikan kesimpulan. Dalam penelitian ini dilakukan dua bentuk analisis
data yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.

Analisis data kualitatif dilakukan dengan tiga tahap:

1. Reduksi data

Reduksi data adalah proses analisis untuk memilih, memusatkan


perhatian, meyederhanakan, mengabstraksikan serta
mentransformasikan data yang muncul dari catatan-catatan lapangan.
Mereduksi data dapat dilakukan dengan membuat rangkuman, memilih
hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, mencari tema dan
pola, serta membuang yang dianggap tidak perlu.

2. Penyajian data

Setelah data direduksi, langkah analisis selanjutnya adalah


penyajian (display) data. Penyajian data diarahkan agar data hasil
reduksi terorganisasi dengan baik, tersusun dalam pola hubungan,
13

sehingga semakin mudah dipahami. Penyajian data dapat dilakukan


dalam bentuk uraian naratif, bagan, hubungan antar kategori, diagram
alur (flow chart).

3. Menarik kesimpulan

Langkah berikutnya dalam proses analisis data kualitatif adalah


melakukan penarikan kesimpulan untuk menjawab permasalahan.
Analisis data kuantitatif berupa data hasil observasi dan data angket
diperoleh dengan cara memberikan skor pada setiap aspek komponen
yang diamati. Setiap aspek pengamatan memiliki indikator
ketercapaian yang dibuat dengan rentang skor 4, 3, 2, 1. Rumus untuk
menghitung persentase hasil observasi dan data angket penerapan
pembelajaran dan motivasi belajar siswa yaitu:

% penerapan pembelajaran = Skor total yang diperoleh x 100%


Skor maksimal

% motivasi belajar = Skor total yang diperoleh x 100%


Skor maksimal

Tabel 3.5 Klasifikasi Hasil Persentase Skor Penerapan Pembelajaran dan


motivasi Belajar siswa

Persentase skor yang diperoleh Kategori

85% < X < 100% Sangat tinggi

65% < X < 84% Tinggi

55% < X < 64% Sedang


14

35% < X < 54% Rendah

0% < X < 34% Sangat rendah

Sumber : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1993)

G. Hipotesis Statistika

Koefisien korelasi populasi antara hasil belajar mata pelajaran Gambar


Teknik Mesin dan sikap siswa terhadap hasil belajar
15

DAFTAR PUSTAKA-

Apip.(2009).Pengaruh Campuran Bahan Bakar

Premium dan Etanol Hasil Fermentasi

Tetes Tebu Dalam Berbagai Persentase

Perbandingan Untuk Kerja Mesin.

Yogyakarta : Tugas Akhir Universitas

Janabadra Yogyakarta.

Ardawalika.(2009). Pengaruh Pemakaian Variasi

Campuran Bahan Bakar Bensin-Etanol

Terhadap Unjuk Kerja Mesin Bensin Empat

Langkah Satu Silinder.Surabaya : Tugas

Akhir Institut Teknologi Sepuluh

November.

Arismunandar. W,.(2002).Penggerak Mula Motor

Bakar Torak.Bandung : Institut

Teknologi Bandung.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

(2009).Karakteristik

Ethanol.http ://www.bppt.go.id/30.
16

Chandra.(2007).Analisa Blending Etanol-Premium

Sebagai Bahan Bakar Motor

Bensin.Surabaya : Tugas Akhir Universitas

Kristen Petra Surabaya.