Anda di halaman 1dari 36

28

BAB III
PEMBAHASAN MASALAH

A. Mengapa crew kapal dan peralatan harus dalam keadaan siap siaga untuk
menghadapi keadaan darurat?
1. Tempat pengoperasian dari kapal-kapal laut selalu dihadapkan dengan
bahaya-bahaya baik yang kelihatan ataupun yang tidak kelihatan, dimana
bila keadaan darurat terjadi di tengah-tengah laut, bantuan dari pihak-pihak
luar tidak dapat diharapkan sepenuhnya sehingga harus mandiri.
2. Keadaan darurat dapat terjadi dimana saja dan kapan saja.
3. Agar crew dapat mengatasi keadaan darurat.
4. Agar dapat menguasai keadaan darurat di atas kapal dengan aman, cepat,
dan terkendali sehingga akibat dapat ditekan sekecil mungkin.
5. Agar bila terjadi keadaan darurat di atas kapal akan terjadi kepanikan dan
situasi yang krisis sehingga menyulitkan dalam mengevakuasi penumpang.
Sehingga selalu dalam keadaan siap siaga.
B. Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan agar crew dan peralatannya dalam
keadaan siap siaga?
1. Paham terhadap manfaat dalam mengetahui penyebab terjadinya keadaan
darurat.
Setiap crew kapal harus bener-bener mengerti dan memahami
penyebab-penyebab terjadinya keadaan darurat karena dengan demikian
maka kita dapat memperoleh manfaat-manfaatnya, yaitu:
a. Dapat melaksanakan setiap pekerjaan dengan penuh kehati-hatian,
teliti dan penuh tanggung jawab, dengan cara:
 Selalu mengedepankan sitem kerja yang aman dalam melaksanakan
setiap kerjaan yang ada di atas kapal dengan cara memahami,
mentaati dan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terdapat
dalam safety regulations.
 Meninggalkan paradigma lama yang menyatakan biasanya tidak
apa-apa.
29

b. Tidak mempercayai kebenaran bekerjanya peralatan secara 100%,


contoh: Pada waktu mengambil posisi dengan Radar, maka hasilnya
harus dicek dengan peralatan yang lainnya. Setiap peralatan harus
dirawat sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar selalu dalam
kondisi baik dan siap pakai.
c. Dapat membuat dan menetapkan prosedur-prosedur kerja dengan tepat
dan benar dengan cara memahami, mentaati dan melaksanakan
ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam safety regulation.
d. Patuh dan taat terhadap semua peraturan yang telah ditetapkan di atas
kapal oleh Nakhoda, Perusahaan Pelayaran, dan Instansi terkait
lainnya.
e. Waspada terhadap aksi-aksi/demo-demo yang dilakukan diluar kapal
yang berpotensi menjalar ke kapal.
f. Mengutamakan do’a sebelum melaksanakan pekerjaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa supaya kisah terhindar dari marabahaya apapun.
2. Paham terhadap organisasi keadaan darurat
a. Muster List
 Pengertian
Suatu daftar yang berisikan nama dan jabatan dari crew sebuah
kapal beserta tugas-tugas khusus yang harus dilaksanakan untuk
mengatasi keadaan-keadaan darurat yang mungkin akan terjadi di
atas kapal.
 Tujuan dibuat muster list
Agar supaya dalam mengatasi keadaan darurat yang terjadi di atas
kapal dapat dilaksanakan secara cepat, tepat, aman, dan terkendali,
sehingga akibat yang ditimbulkannya dapat kita tekan sekecil
mungkin atau dapat ditiadakan sama sekali.
 Perlunya dibuat muster list
Hal ini dikarenakan operasi dari kapal-kapal laut selalu dihadapkan
dengan bahaya-bahaya baik yang kelihatan ataupun yang tidak
kelihatan. Sehingga pada waktu kapal mengalami keadaan darurat
30

di tengah-tengah lautan, bantuan dari pihak-pihak luar tidak dapat


diharapkan sepenuhnya, sehingga harus mandiri.
 Ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembuatan muster list
 Sijil keadaan darurat harus berisikan tugas-tugas khusus yang
harus dilaksanakan oleh setiap crew kapal dalam mengatasi
keadaan darurat.
 Dalam sijil keadaan darurat harus juga dapat menunjukkan
Muster station dan escape routenya.
 Siiil keadaan darurat bagi penumpang harus dibuat dalam
bentuk yang ditetapkan oleh pemerintah.
 Sebelum kapal berangkat, maka sijil darurat harus sudah
selesai dibuat dan salinannya digantungkan / ditempelkan di
tempat-tempat yang strategis (mudah dilihat dan mudah dibaca
oleh semua pelayar.
 Dalam sijil darurat harus dicantumkan alat-alat isyarat
bahayanya.
 Keuntungan dibuatnya muster list
 Tugas dan tanggung jawab tidak terlalu berat, karena dipikul
secara bersama-sama oleh crew kapal.
 Dapat mengurangi tindakan-tindakan yang kurang/tidak
disiplin, karena tugas dan tanggung jawab dari tiap-tiap crew
kapal diberikan secara tertulis.
 Perintah atau instruksi-instruksi akan lebih terarah sehingga
akan terhindar dari kesimpang siuran, karena hanya ada satu
komando.
 Dapat terhindar dari hambatan hirarki formal.
 Semua individu merasa terkait
 Bila terjadi suatu kegagalan, maka dapat segera dipelajari
untuk perbaikan selanjutnya.
 Tempat taruna praktek
Muster list terlampir
31

b. Shipboard Contigency Plan


 Pengertian
Rencana (program kerja) untuk menanggulangi segala macam
kemungkinan akan timbulnya keadaan darurat di atas kapal yang
didasarkan pada suatu pola terpadu, yang mampu mengintegrasikan
aktivitas/upaya penanggulangan secara cepat, tepat, aman dan
terkendali atas dukungan dari instansi dan sumber daya manusia
dan fasilitas yang terjadi.
 Tujuan dibuat Shipboard Contigency Plan
Untuk crew dapat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya dalam
mengatasi keadaan darurat yang terjadi di atas kapal dapat
dilaksanakan secara cepat, tepat, aman, dan terkendali, sehingga
akibat yang ditimbulkannya dapat kita tekan sekecil mungkin atau
dapat ditiadakan sama sekali.
 Perlunya Ship-board Contigency Plan
Ship-Board Contigency Plan perlu sekali dibuat, hal ini
dikarenakan operasi dari kapal-kapal laut selalu dihadapkan dengan
bahaya-bahaya baik yang kelihatan ataupun yang tidak kelihatan.
Sehingga pada waktu kapal mengalami keadaan darurat di tengah-
tengah lautan, bantuan dari pihak-pihak luar tidak dapat diharapkan
sepenuhnya, sehingga harus mandiri.
 Ketentuan-ketentuan
Ship-Board Emergency Contigency Plan mempunyai ketentuan-
ketentuan isi yang harus kita mengerti, yaitu:
 Organisasi Keadaan Darurat
Organisasi yang dibentuk di atas kapal untuk menanggulangi
keadaan darurat yang mencakup adanya Pusat Komando,
Kelompok Kesadaran Darurat, Kelompok Pendukung, dan
Kelompok Ahli Mesin Kapal.
 Isyarat-isyarat Bahaya
32

Isyarat yang dapat dipakai untuk memberitahukan bahwa kapal


sedang dalam keadaan darurat dan minta pertolongan dengan
segera.
 Lintas Penelamatan Diri / Escape Route
Jalur-jalur yang ditetapkan diatas kapal yang dapat dipakai
untuk menuju stasiun kumpul pada waktu kapal mengalami
keadaan darurat.
 Nomor Telpon yang Dapat Dihubungi
Pejabat-pejabat perusahaan, seperti ; DPA (Designated Person
Ashore), Bagian Operasional Kapal/Agen, Diretur Utama,
Pejabat dari Port Authority, Stasiun Radio Pantai terdekat dan
Kapal-kapal lain.
 Keuntungan-keuntungan
Kentungan-keuntungan dibuatnya Ship-Board Contigency Plan di
atas kapal adalah :
 Tugas dan tanggung jawab tidak terlalu berat, karena dipikul
secara bersama-sama oleh crew kapal.
 Dapat mengurangi tindakan-tindakan yang kurang/tidak
disiplin, karena tugas dan tanggung jawab dari tiap-tiap crew
kapal diberikan secara tertulis.
 Perintah atau instruksi-instruksi akan lebih terarah sehingga
akan terhindar dari kesimpang siuran, karena hanya ada satu
komando.
 Dapat terhindar dari hambatan hirarki formal.
 Semua individu merasa terkait
 Bila terjadi suatu kegagalan, maka dapat segera dipelajari
untuk perbaikan selanjutnya.
 Tempat taruna praktek
Terlampir.
c. Fire Plan
 Pengertian
33

Adalah petunjuk tentang informasi peletakan peralatan untuk fire


fighting untuk mempermudah proses evakuasi dan tindakan
penyelamatan jika terjadi kebakaran.
 Tujuan dibuat fire plan
Untuk mengetahui tempat-tempat alat pemadam kebakaran, agar
supaya dalam mengatasi keadaan darurat yang terjadi di atas kapal
dapat dilaksanakan secara cepat, tepat, aman, dan terkendali,
sehingga akibat yang ditimbulkannya dapat kita tekan sekecil
mungkin atau dapat ditiadakan sama sekali.
 Perlunya Fire Plan
Fire Plan perlu sekali dibuat diatas kapal mengingat ditiap waktu
operasi kapal selalu dihadapkan bahaya yang kelihatan ataupun
tidak kelihatan dimana bila terjadi keadaan darurat bantuan dari
pihak-pihak luar tidak dapat diharapkan sepenuhnya sehingga crew
kapal harus mandiri dalam mengatasi keadaan darurat.
 Ketentuan-ketentuan
Di dalam fire plan harus terdapat :
 Kita dapat mengetahui denah penempatan peralatan pemadam
kebakaran.
 Dapat mengurangi tindakan-tindakan yang kurang/tidak
disiplin, karena tugas dan tanggung jawab dari tiap-tiap crew
kapal diberikan secara tertulis.
 Perintah atau instruksi-instruksi akan lebih terarah sehingga
akan terhindar dari kesimpang siuran, karena hanya ada satu
komando.
 Dapat terhindar dari hambatan hirarki formal.
 Semua individu merasa terkait
 Bila terjadi suatu kegagalan, maka dapat segera dipelajari
untuk perbaikan selanjutnya.
 Tempat taruna praktek
34

Denah fire plan terdapat di kanan-kiri lantai akomodasi kapal dan


di anjungan.
3. Paham tentang latihan darurat
Latihan-latihan keadaan darurat harus dilaksanakan dengan sebaik
mungkin dan semaksial mungkin dengan berpedoman pada sijil keadaan
darurat (muster list) yang telah ditetapkan di atas kapal.
a. Pelaksanaan Latihan Darurat
Pelaksanaan latihan darurat di atas kapal harus dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan SOLAS yaitu :
 Di atas kapal-kapal penumpang latihan-latihan sekoci dan
kebakaran harus dilaksanakan 1kali seminggu jika hal itu
mungkin. Latihan-latihan tersebut meninggalkan suatu
pelabuhan terakhir untuk memulai pelayaran Internasional
jarak jauh. (paling lambat 24 jam setelah kapal berangkat).
 Di atas kapal-kapal barang (kapal container, kapal RORO
carrier, kapal tanker, kapal LNG) latihan sekoci dan latihan
kebakaran harus dilaksanakan 1 kali 1 bulan. Latihan-latihan
tersebut juga harus dilaksanakan dalam jangka waktu 24 jam
setelah kapal meninggalkan pelabuhan bila terdapat pergantian
ABK lebih dari 25% jumlah ABK.
b. Ketentuan-ketentuan tentang latihan darurat.
 Di atas kapal-kapal penumpang latihan-latihan sekoci dan
kebakaran harus dilaksanakan 1kali seminggu jika hal itu
mungkin. Latihan-latihan tersebut meninggalkan suatu
pelabuhan terakhir untuk memulai pelayaran Internasional
jarak jauh. (paling lambat 24 jam setelah kapal berangkat).
 Di atas kapal-kapal barang latihan sekoci dan kebakaran
harus dilaksanakan 1 kali sebulan atau 24 jam setelah kapal
meninggalkan suatu Pelabuhan bila terjadi pergantian ABK
lebih dari 25%.
35

 Hasil pelaksanaan latihan-latihan darurat harus dicatat dalam


Log-Book, bila latihan tersebut tidak dapat dilaksanakan,
maka alasannya harus juga dicatat dalam Log-Book kapal.
 Sekoci-sekoci penolong harus digunakan secara bergiliran
pada saat dilaksanakannya latihan darurat. Bila mungkin
setiap 4 bulan sekali, sekoci harus diturunkan air.
 Semboyan bahaya untuk mengumpulkan para penumpang di
Stasiun kumpul harus terdiri dari 7 atau lebih tiupan pendek
disusul dengan tiupan panjang ( …….._ ) secara terus
menerus yang dibunyikan dengan suling kapal.
Dikapal-kapal Penumpang Internasional jarak jauh, maka
harus ditambah dengan semboyan-semboyan yang dilakukan
secara efektif.
c. Keuntungan tentang latihan darurat
 Menjaga ketrampilan para crew kapal dalam mempergunakan
peralatan yang dapat dipakai untuk menanggulangi keadaan
darurat.
 Menjaga kesiapan crew kapal baik fisik maupun mental
dalam menghadapi dan mengatasi keadaan darurat.
 Membiasakan diri crew kapal dalam situasi darurat, sehingga
rasa panic dapat dikurangi bila keadaan darurat benar-benar
terjadi.
 Memeriksa kondisi peralatan, sehingga semua peralatan
selalu dalam keadaan baik dan siap pakai.
 Melaksanakan ketentuan-ketentuan yang ada dalam SOLAS.
4. Paham tentang denah lay out kapal
a. Life Saving Appliance
Sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam SOLAS
1974 telah mengatur tentang adanya alat-alat keselamatan di air yang
dapat dimanfaatkan pada waktu kapal mengalami keadaan
darurat/situasi krisis, yaitu:
36

 Sekoci penolong (Life boat)


 Rakit penolong (Life raft)
 Pelampung penolong (Life buoy)
 Jacket penolong (Life jacket)
 Alat-alat pelempar tali (line throwing apparatus)
 Distress signals
 Alat-alat peluncur
 Rescue boat
 Survival craft
 Alat-alat apung lainnya
 Lampu-lampu sorot
b. Fire Fighting Appliance
Fire fighting appliances (FFA) adalah alat-alat pemadam kebakaran
yang harus ada diatas kapal sebagaimana diatu dalam SOLAS
chapter II-2 yang kemudian diperjelas dalam fss code = fire safety
system code.
5. Paham tentang penggunaan alat-alat penolong
Life Saving Appliance adalah sebuah standar keselamatan yang
harus dipenuhi sebuah kapal, untuk menjamin keselamatan awak kapal
bila terjadi bencana. Seluruh perlengkapan dan prosedur harus
mendapat persetujuan dari klass. Sebelum persetujuan diberikan, seluruh
perlengkapan LSA harus melalui serangkaian pengetesan untuk
memenuhi standar keselamatan yang ada dan bekerja sesuai fungsinya
dengan baik. Selain itu diperiksa juga dokumen sertifikat tentang
kevalidan peralatan keselamatan. Klass memiliki wewenang untuk
memberi persetujuan atau membatalkannya bila dirasa perlu.
a. Sekoci penolong (life boat)
i. Glass fibre sekoci harus dicek setiap bulan
ii. Perbekalan sekoci harus dicek setiap tahunnya
iii. Markah-markah sekoci harus selalu tertera dengan
jelas
37

iv. Bangku-bangku sekoci harus selalu dicek setiap


bulan
v. Disenganging gear sekoci harus dicek setiap bulan

b. Life boat falls


i. Wire ropes harus diadakan turned-for-end pada
interval waktu tidak lebih dari 30 bulandan harus
diganti dengan yang baru pada interval waktu tidak
lebih dari 5 tahun
ii. Wire ropes harus diberi gemuk dan diperiksa serat-
seratnya ada yang putus atau tidak pada waktu yang
tetap dan periodik
iii. Lead block harus diberi gemuk setiap dua minggu
sekali dan dioverhaul setiap 6 bulan sekali

c. Life boat davit s


i. Trackways harus dibersihkan dari karat, dicat dan
diberi gemuk seperlunya dan titik putar dewi-dewi
harus diberi gemuk setiap 2 minggu
ii. Main body dari dewi-dewi harus tidak berkarat dan
wire spam untuk boarding dicek
iii. Periksa grips tali pegangan dari karat dan adanya
serat-serat yang putus
iv. Brake mechanism harus dites setiap 4 bulan,
demikian juga penurunan sekoci ke air
v. Periksa seluruh tali-tali, tangga-tangga monyet
untuk boarding.. semuanya harus terikat kuat pada
lubang pengikat.
vi. Whinch-whinch untuk lifeboats diadakan pengujian
setiap 2 tahun atau 4 tahun

d. Liferaft
i. Inflatable liferafts harus disurvey setiap 12 bulan
ii. Pengikatan inflatable liferafts harus menggunakan
automatic release system
38

iii. Inflatable liferafts harus ditempatkan sedemikian


rupa sehingga jika kapal tenggelam alat ini bisa
mengapung bebas dari kapal
iv. Rigit liferafts boleh diservice di atas kapal oleh
pabriknya

e. Lifebuoys
i. Cek adanya keretakan, bila didapatkan ganti dengan
yang baru dan yang lama dikirim ke darat
ii. Bila perlu cat kembali nama dan port of registry
iii. Keseluruhan pelampung harus mempunyai tali
apung yang panjangnya 27,5 meter dan jamin
bahwa tali ini tidak dalam keadaan kusut
iv. Separo dari keseluruhan lifebuoy harus dilengkapi
dengan lampu yang dapat menyala sendiri
v. Periksa keadaan lifebuoy secara regular dan
pemeriksaan secara periodik
vi. Berat lifebuoy kurang lebih dari 4.3 kg

f. Lifejackets
i. Petunjuk pemakaian lifejacket harus ada dan
ditempatkan di tempat yang baik (untuk dilihat)
pada lifejacket tersebut
ii. Harus ada lifejacket tambahan sebanyak 25 % dari
jumlah yang ada di kapal mengangkut lebih dari 16
persons
iii. Tempat penyimpanan lifejacket tambahan adalah di
dekat area embarkasi dimana tempat tersebut harus
kering, ridak dikunci dan diberi tanda.

g. International Shore Connection


i. Securing bolt harus diberi gemuk dengan baik
ii. Connection harus ditempatkan sedemikian rupa di
tempat-tempat yang tidak trbuka dari cuaca
iii. Harus ada minimal 1 connectiom, namun di kapal-
kapal VLCC ada tiga connection
39

iv. Harus ada cadangan sebanyak 1 buah yang


ditempatkan mustering station
v. Tanggung jawab terhadap peralatan ini ada pada
masinis II
vi. Lokasi penyimpanan/penempatan alat ini harus
ditandai dengan jelas

h. Emergency Fire Pumps


i. Harus dites setiap minggu
ii. Harus dirawat dengan sebaik mungkin

i. Fire hose
i. Canvas dari selang-selang pemadam kebakaran
harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum disimpan
ii. Periksa kebocoran dari selang oemadam, bila ada
harus diganti
iii. Selang-selang yang bukan dari canvas secara terus
menerus harus dicek kemungkinan adanya
keretakan
iv. Selang-selang pemadam harus dites secra terus-
menerus dan bergiliran pada waktu latihan darurat
v. Dijaga jangan sampai copling rusak akibat jatuh
dsb. Jika terjadi, maka harus segera diganti dengan
yang baru
vi. Hose boxes harus bersih, tergantung, dicat dengan
baik dan bebas dari karat dalam diberi nomor

j. Fire Hydrant Valves


i. Harus selalu diberi gemuk
ii. Cek di setiap minggu untuk melihat apakah roda
pemutar valves bisa berputar dengan baik
iii. Cek the accomodation hydrants

k. Fire Nozzle
i. Periksa secara periodik tekanan pada noozle
ii. Periksa kerusakan-kerusakan terutama pada pemutar
dari fag ke jaket

l. Fire Extinguisher
i. Semua alat-alat pemadam kebakaran harus :
40

1. Ditempatkan ditempat yang mudah dilihat


dan mudah dijangkau
2. Dari tipe yang cocok dengan klas kebakaran
dari ruangan yang bersangkutan
3. Cat dengan warna yang cocok sebagai tanda
a. Halon : Hijau xammrud
(emerald green)
b. Air : signal red
c. Foam : pale cream
d. Powder : french blue
e. CO2 : black
4. The european standart fire clasification,
terdiri :
A. : untuk kebakaran barang-
barang kertas, kayu, kain dan
ketas
B. :untuk kebakaran barang-
barang cair dan barang-
barang cair yang mudah
terbakar (petrol, kerosin,
minyak-minyak masak)
C. : untuk kebakaran gas seperrti
batu bara
D. : untuk kebakaran logam
mudah terbakar (sodium,
potasium, magnesium)
5. Media terbaik untuk pemadaman :
A. : water, dry powder
B. : foam, dry powder
C. : CO2, halon
D. : powder
6. Tanggal pengetesan dan pengisian harus
ditempel dengan jelas pada alat tersebut
7. Semua alat pemadam kebakaran harus siap
dipergunakan di setiap saat bila diperlukan

m. Breathing Apparatus (Self-Contained)


i. Periksa seal pada toopeng dan bersihkan kacanya
41

ii. Periksa katub utama dan katub by-pass dan periksa


pengukur tekanan untuk mengetahui kerusakan
iii. Periksa tekana pada waktu akan digunakan
iv. Adanya penurunan tekanan dalam tabbung harus
ditambah bila kapal mempunyai fasilitas pengisian.
Setiap kapal harus mempunyai portable compressor
sehingga tabung dapat digunakan terus-menerus
selama dilaksanakannya latihan-latihan darurat. Bila
tidak ada fasilitas tersebut kirinkan ke darat untuk
pengisian.

n. Breathing Apparatus, Smoke Helmet or Mask Type


i. Periksa seal yang terdapat topeng kemungkinan
karetnya sudah mati untuk menjamin kelip tidak
rusak
ii. Periksa selang udara dari kerusakan terutama sekitar
kopling
iii. Cuci dan keringkan topeng sebelum disimpan

o. Breathing Apparatus, Both Type


i. Baca manual dari pabrik pembuatannya untuk
menjamin intruksi pemakaiannya
ii. Setiap alat harus :
 Tahan api dan mempunyai tali (signaling line)
 Mempunyai harnes yang bisa diatur
kedudukannya
 Perlatan pelindung mata dan muka
iii. Semua unit dari topeng harus sering kali
dibersihkan menggunakan cairan disinfektan
iv. Pembersihan bagian dalam dari topeng
menggunakan cairan yang tidak menimbulkan
embun ketika dipakai

p. Fireman Outfit
i. Pakaian tahan api harus meliputi :
 Alat bantu pernafasan
42

 Battery portable untuk menghidupkan safety


lamp untuk durasi waktu 3 jam
 Kampak
 Pakaian pelindung
 Dua buah sarung tangan
 Helm
ii. Fireman’s outfit harus disimpan di tempat
sedemikian rupa sehingga bebas dari api. Dalah
satunya harus ditempatkan/disimpan di station
kumpul

q. Fixed Gas Extinguisher Instalation


i. Pastikan bahwa tempat-tempat untuk meletakkan
harus terbuka dan dicat dengan warna merah
ii. Periksa seluruh kontrol valve
iii. Setiap orang harus sadar terhadap dibunyikan alarm
kebakaran dan alarm harus dicek secara terus-
menerus
iv. Pintu masuk ke ruang C02 harus kedap dengan
ruangan CO2 harus diberi tanda dengan tulisan yang
permanen
v. Periksa silinder secara visual bila terdapat lubang
segera diganti

r. Additional Safety Equipment


i. Semua alat-alat safety tambahan harus dirawat
dengan menggunakan standar yang tinggi sehingga
dapat digunakan pada setiap terjadi keadaan darurat.

6. Paham dengan isyarat bahaya dan cara – cara meresponnya akan


dibunyikan / diperlihatkannya alat – alat isyarat bahaya.
a. Isyarat kebakaran
Apabila terjadi kebakaran di atas kapal maka setia orang di atas
kapal yang pertama kali melihat adanya kebakaran wajib
melaporkan kejadian tersebut pada mualim jaga di anjungan.
43

Mualim jaga akan terus memantau perkembangan upaya


pemadaman kebakaran dan apabila kebakaran tersebut tidak dapat
di atasi dengan alat-alat pemadam portable dan dipandang perlu
untuk menggunakan peralatan pemadam kebakaran tetap serta
membutuhkan peran seluruh anak buah kapal, maka atas keputusan
dan perintah Nakhoda isyarat kebakaran wajib dibunyikan dengan
kode suling atau bel satu pendek dan satu panjang secara terus
menerus seperti berikut :
. _____________ . ___________ . _________ . __________

Setiap anak buah kapal yang mendengar isyarat kebakaran wajib


melaksanakan tugasnya sesuai dengan perannya pada sijil
kebakaran dan segera menuju ke tempat tugasnya untuk menunggu
perintah lebih lanjut dari komandan regu pemadam kebakaran.
b. Isyarat sekoci / meninggalkan kapal
Dalam keadaan darurat yang menghendaki Nakhoda dan seluruh
anak buah kapal harus meninggalkan kapal maka kode isyarat yang
dibunyikan adalah melalui bel atau suling kapal sebanyak 7 (tujuh)
pendek dan satu panjang secara terus menerus seperti berikut :
……. ___________ ……. _________ ……. __________

Isyarat Orang Jatuh ke Laut Man Over Board


Dalam pelayaran sebuah kapal dapat saja terjadi orang jatuh ke
laut, bila seorang awak kapal melihat orang jatuh ke laut, maka
tindakan yang harus dilakukan adalah :
1. Berteriak "Orang jatuh ke laut"
2. Melempar pelampung penolong (lifebuoy)
3. Melapor ke Mualim jaga.

Selanjutnya Mualim jaga yang menerima laporan adanya orang


jatuh ke laut dapat melakukan manouver kapal untuk berputar
44

mengikuti ketentuan "Willemson Turn" atau "Carnoevan


turn" untuk melakukan pertolongan.

Bila ternyata korban tidak dapat ditolong maka kapal yang


bersangkutan wajib menaikkan bendera internasional huruf "O"
Isyarat Bahaya lainnya

Dalam hal-hal tertentu bila terjadi kecelakaan atau keadaan darurat


yang sangat mendesak dengan pertimbangan bahwa bantuan
pertolongan dari pihak lain sangat dibutuhkan maka setiap awak
kapal wajib segera memberikan tanda perhatian dengan
membunyikan bel atau benda lainnya maupun berteriak untuk
meminta pertolongan.

Tindakan ini dimaksud agar mendapat bantuan secepatnya sehingga


korban dapat segera ditolong dan untuk mencegah timbulnya
korban yang lain atau kecelakaan maupun bahaya yang sedang
terjadi tidak meluas.

Dalam keadaan bahaya atau darurat maka peralatan yang dapat


digunakan adalah peralatan atau mesin-mesin maupun pesawat-
pesawat yang mampu beroperasi dalam keadaan tersebut.

Sebuah kapal didesain dengan memperhitungkan dapat beroperasi


pada kondisi normal dan kondisi darurat.Oleh sebab itu pada kapal
dilengkapi juga dengan mesin atau pesawat yang mampu
beroperasi pada kondisi darurat.
7. Paham tentang tata cara khusus dalam menghadapi setiap keadaan
darurat.
a. Kejadian tubrukan (Imminient Collision)
 Bunyikan sirine bahaya (Emergency alarm sounded)
45

 Menggerakkan kapal sedemikian rupa untuk mengurangi


pengaruh tubrukan
 Pintu-pintu kedap air dan pintu-pintu kebakaran otomatis di
tutup
 Lampu-lampu dek dinyalakan
 Nakhoda diberi tahu
 Kamar mesin diberi tahu
 VHF dipindah ke chanel 16
 Awak kapal dan penumpang dikumpulkan di stasiun darurat
 Posisi kapal tersedia di ruangan radio dan diperbaharui bila
ada perubahan.
 Setelah tubrukan got-got dan tangki-tangki di ukur.
b. Kandas, terdampar (Stranding)
 Stop mesin
 Bunyikan sirine bahaya
 Pintu-pintu kedap air di tutup
 Nakhoda diberi tahu.
 Kamar mesin diberi tahu.
 VHF di pindah ke chanel 16.
 Tanda-tanda bunyi kapal kandas dibunyikan.
 Lampu dan sosok-sosok benda diperlihatkan.
 Lampu dek dinyalakan.
 Got-got dan tangki-tangki diukur/sounding.
 Kedalaman laut disekitar kapal diukur.
c. Kebakaran atau Fire
 Sirine bahaya dibunyikan (internal clan eksternal)
 Regu-regu pemadam kebakaran yang bersangkutan siap dan
mengetahui lokasi kebakaran.
 Ventilasi, pintu-pintu kebakaran otomatis, pintu-pintu kedap
air di tutup
 Lampu-lampu di dek dinyalakan
 Nakhoda diberi tahu
 Kamar mesin diberi tahu
 Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila
ada perubahan
 Air masuk ke dalam ruangan (Flooding)
 Sirine bahaya dibunyikan (internal dan eksternal)
 Siap-siap dalam keadaan darurat
 Pintu-pintu kedap air di tutup
 Nakhoda diberi tahu
 Kamar mesin diberi tahu
46

 Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila


ada perubahan
 Berkumpul di sekoci/rakit penolong (meninggalkan kapal)
 Sirine tanda berkumpul di sekoci/rakit penolong untuk
meninggalkan kapal, misalnya kapal akan tenggelam yang
dibunyikan atas perintah Nakhoda
 Awak kapal berkumpul di sekoci/rakit penolong
c. Orang jatuh ke laut (Man overboard)
 Sirine bahaya dibunyikan (internal clan eksternal)
 Regu-regu pemadam kebakaran yang bersangkutan siap dan
mengetahui lokasi kebakaran.
 Ventilasi, pintu-pintu kebakaran otomatis, pintu-pintu kedap
air di tutup.
 Lampu-lampu di dek dinyalakan
 Nakhoda diberi tahu
 Kamar mesin diberi tahu
 Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila
ada perubahan
 Air masuk ke dalam ruangan (Flooding)
 Sirine bahaya dibunyikan (internal dan eksternal)
 Siap-siap dalam keadaan darurat
 Pintu-pintu kedap air di tutup
 Nakhoda diberi tahu
 Kamar mesin diberi tahu
 Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila
ada perubahan
 Berkumpul di sekoci/rakit penolong (meninggalkan kapal)
 Sirine tanda berkumpul di sekoci/rakit penolong untuk
meninggalkan kapal, misalnya kapal akan tenggelam yang
dibunyikan atas perintah Nakhoda.
 Awak kapal berkumpul di sekoci/rakit penolong.
d. Pencemaran
 Sirine/alarm bahaya internal & eksternal dibunyikan
 Melaporkan kejadiannya ke pihak-pihak terkait, seperti :
Syahbandar, Port Control, stasiun radio pantai terdekat, dll
 Menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan
 Nakhoda diberitahu, untuk over all comand
47

 Kamar mesin diberitahu, untuk menyiapkan mesin-mesin


yang diperlukan
 Pada malam hari lampu-lampu deck dinyalakan, untuk
penerangan kerja
 Regu-regu pencemaran mengatasi pencemaran dengan
menggunakan semua peralatan yang ada
 Bila pencemaran tidak dapat ditanggulangi, maka segera
pancarkan distress message May Day 3 kali
 Buat kronologi kejadian untuk pelaporan ke pihal-pihak
terkait dan untuk penyelesaian asuransi

8. Paham tentang cara-cara mengevakuasi orang-orang yang ada di kapal


Mengevakuasi para penumpang pada saat kapal mengalami
keadaan darurat atau situasi krisis adalah salah satu upaya untuk
memperkecil atau meniadakan sama sekali akibat yang
ditimbulkannya. Adapun tata kerjanya adalah :
a. Memberi peringatan kepada mereka baik secara verbal order
atau dengan membunyikan alarm tanda bahaya.
b. Mengawasi mereka dalam melakukan persiapan perorangan
terutama pemakaian life jacket.
c. Mengumpulkan mereka ke muster station atau deck sekoci.
d. Mengawasi gerakan mereka pada waktu mereka bergerak ke
muster station, terutama ketika mereka berada di tangga-tangga
dan atau di lorong-lorong atau gang-gang agar supaya aliran
mereka ketika menuju ke muster station lancar.
e. Gunakan crew list untuk mengevakuasi mereka yang telah
dinaikkan ke sekoci-sekoci atau rakit-rakit penolong.
f. Melakukan kontrol di ruang-ruang atau kamar-kamar mereka
untuk memastikan tidak satupun dari mereka yang tertinggal.
g. Pada waktu mengevakuasi mereka naik ke sekoci-sekoci atau
rakit-rakit penolong maka awasilah mereka, usahakan lengan
tangan tidak keluar dari badan sekoci atau rakit penolong dan
usahakan semua kebagian tempat duduk.
h. Dahulukan anak-anak kemudian wanita-wanita kemudian yang
lainnya.
48

i. Setelah sekoci-sekoci atau rakit-rakit penolong di area ke laut,


maka usahakan mereka menjauh dari kapal pada jarak yang
cukup dan usahakan sekoci-sekoci atau rakit-rakit penolong
bergerombol.

j. Berikanlah pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan


pertolongan atau orang-orang yang mengalami stres.
9. Paham tentang komunikasi dalam keadaan darurat
Dalam menngatasi keadaan darurat yang terjadi diatas kapal,
komunikasi memegang peranan penting untuk menentukan berhasil
tidaknya penanggulangan suatu keadaan darurat, karena pada situasi
yang demikian menjadikan semua orang yang ada diatas kapal
panic,cemas dan khawatir sehingga mereka tidak bisa berfikir secaa akal
sehat, yang ada dibenaknya hanya berkeinginan untuk selamat dari maut
walaupun mereka belum/tidak familiar terhadap seluk beluk yang ada
diatas kapal. Oleh karena itu komunikasi harus dilakukan secara efektif
dan efisien artinya isi pesan singkat dan jelas sehingga mudah
dimengerti, dipahami dan dilaksanakan.
Prinsip-prinsip berkomunikasi dalam keadaan darurat adalah bahwa si
pemberi pesan harus berusaha untuk dapat dipercaya oleh penerima
pesan, dengan cara menampilkan dirinya sendiri dengan percaya diri
yang tinggi, seperti : berpakaian menyolok, berdiri ditempat-tempat
yang tinggi dan memperkenalkan diri sebelum menyampaikan
informasi. Isi informasi harus singkat, padat dan jelas sehingga mudah
dimengerti, dipahami dan dilaksanakan, seperti : menggunakan bahasa
mayoritas dari orang-orang yang ada diatas kapal, membaca teks-teks
yang sudah disediakan, menggunakan dobel bahasa/bahasa tubuh,
berbicara dengan keras, lambat namun jelas menggunakan gaya
kepemimpinan yang tegas dank eras yang dapat memaksa mereka untuk
dapat melaksanakannya (autocratic, dictatorial, directive).
49

PERALATAN
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh alat-alat penolong :
Sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam
SOLAS 1974, terdapat persyaratan-persyaratan yang harus
dimengerti, dipahami, dan dilaksanakan oleh crew kapal,
yaitu :
1. POMPA KEBAKARAN DAN PIPA-PIPA PENYALUR
AIRNYA :
a. Harus dijalankan sendiri tidak bergantung dari
mesin yang lainnya, pompa-pompa balas, pompa-
pompa bilge, pompa seniter bisa dipakai sebagai
pompa kebakaran
b. Di kapal penumpang yang mengangkut 36 orang
atau lebih harus mempunyai kapasitas tidak kurang
dari 80% dari kapasitas total yang diisyaratkan
dibagi dengan jumlah minimum pompa kebakaran
yang disyaratkan. Tiap-tiap pompa kebakaran itu
pada setiap saat harus mampu menyalurkan
sekurang-kurangnya 2 pancaran air yang
disyaratkan.
c. Di kapal penumpang, pompa-pompa kebakaran
harus mempunyai tekanan dan mampu menyalurkan
air tidak kurang dari 2/3 jumlah yang disyaratkan
dan bagi kapal barang minimal 4/3 jumlah yang
disyaratkan.
d. Tekanan pada pipa induk dan pipa-pipa penyalur,
untuk kapal penumpang (isi kotor 4.000 ton ke atas
adalah 3,2 kg/cm. Isi kotor 1.000-4.000 ton adalah
2,8 kg/cm. Isi kotor kurang dari 1000 ton adalah
sesuai ketentuan pemerintah), untuk kapal barang
(isi kotor 6.000 ke atas adalah 2,8 kg/cm. Isi kotor
1000-6000 ton adalah 2,6 kg/cm. Isi kotor kurang
50

dari 1000 ton adalah sesuai dengan ketentian


pemerintah

2. HYDRANT DAN PIPA-PIPA HYDRANT


a. Jumlah dan letaknya harus sedemikiian rupa
sehingga sekurang-kurangnya dua pancaran air yang
tidak berasal dari hydrant yang sama, salah satu
hydrant itu harus dari sebuah selang tunggal yang
dapat mencapai setiap bagian kapal yang dapat
dijangkau secara normal oleh para penumpang atau
crew kapal selagi berlayar
b. Pipa-pipa dan hydrant harus terbuat dari bahan yang
tahan panas dan harus ditempatkan sedemikian rupa
sehingga selang-selang pemadam kebakaran dapat
dengan mudah disambungkan dengannya
c. Keran atau katup harus dipasang untuk melayani
masing-masing selang kebakaran sehingga setiap
selang dapat dilepas dengan mudah selagi pompa
kebakaran sedang bekerja

3. SELANG KEBAKARAN
a. Harus dari bahan yang disetujui pemerintah dan
cukup panjang utnuk mengarahkan pancaran air ke
ruangan manapun di dalam mana selang kebakaran
diperlukan
b. Selang kebakaran harus dilengkapi dengan pipa
pancar dan sambungan-sambungan yang diperlukan
c. Selang-selang kebakaran harus ditempatkan yang
mudah dijangkau dan dekat dengan hydrant dan di
kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36
orang ditempatkan di bagian kapal

4. PIPA PANCAR (NOZZLE)


51

a. Standar ukuran nozzle garis tengahnya adalah 12


mm(1/2 inch), 16 mm(5/8 inch) dan 19 mm(3/4
imch)
b. Untuk ruang akomodasi garis tengahnya tidak perlu
lebih dari 12mm(1/2 inch) dan ruang mesin/luar
ruangan tidak lebih dari 19 mm(3/4 inch)
c. Untuk ruang-ruang mesin/ruangan lain yang ada
resiko kebocoran minyak pipa pancar harus dapat
menyemprotkan air ke minyak dari jenis dwiguna

2. SAMBUNGAN DARAT INTERNATIONAL


a. Ukuran standar dari flensa untuk sambungan darat
internaional adalah :
 Garis tengah luar : 179 mm(7
inch)
 Garis tengah dalam : 64 mm(2,5
inch)
 Garis tengah lingkungan baut : 132 mm(5,5
inch)
 Parit-parit dari flensa : 4 lubang
yang garis tengahnya 19 mm (3/4 inch) yang
ditempatkan dengan jarak-jarak yang sama
di sebuah lingkaran baut dengan garis tengah
tersebut di atas, di peritkan di tepi luar
flensa.
 Tebal flensa : minimal 14,5
mm
 Baut-baut dan mur : 4, masing-
masing dengan garis tengah 16 mm(5,8
inch) dan panjang 16 mm(5,8 inch) dan
panjang 50 mm(2 inch)

b. Flensa harus mempunyai permukaan reta di satu


sisi, dan sisi lain harus terpasang secara tetap
sebuah sambungan yang cocok Sambungan harus
52

terbuat dari bahan yang sesuai untul tekanan 10,5


kg/cm
c. dengan hydrant dan selang kapal.

d. Sambungan harus disimpan di kapal bersama-sama


dengan packing yang dibuat dari bahan yang sesaui
untuk tekanan kerja 10,5 kg/cm bersama-sama
dengan 4 baut berukuran 16 mm(5/8 inch), panjang
50 mm(2 inch) dan 8 cinccin pegas

3. FIXED GAS-FIRE EXTINGUISHER SYSTEM (SISTEM


PEMADAM KEBAKARAN DENGAN GAS YANG
DIPASANG TETAP)
a. Bahan yang digunakan bukan bahan beracun yang
jumlahnya sedemikian banyak sehingga
membahayakan orang-orang.
b. Pipa-pipa yang digunakan untuk menyalurkan gas
harus dilengkapi dengan katup-katup atau keran-
keran pengatur yang ditandai sedemikian rupa
sehingga dapat menunjukkan secara jelas ke
kompartment-komaprtment mana pipa itu
disalurkan.
c. Bila CO2 digunakan sebagai pemadam kebakararn
di ruang muat, maka jumlah gas yang tersedia harus
cukup menyalurkan gas bebas dengan volume
minimum 30 % isi kotor muatan kompartment
muatan terbesar di kapal yang ditutup rapat
d. Bila CO2 digunakan sebagai pemadam kebakaran di
ruang muat kelas A, maka jumlah gas yang tersedia
harus cukup menyalurkan gas bebas dengan volume
min. 35-40 persen isi kompartment terbesar
e. Isi CO2 harus dihitung berdasarkan perbandingan
0,56 m3 untuk setiap kilogram (9 ft3/pon)
f. Gas CO2 yang digunakan sebagai bahan pemadam
kebakaran di kamar mesin kategori A, maka sistem
53

saluran yang dipasang tetap harus sedemikian rupa


sehingga 85% gas dapat dikeluarkan untuk
dimasukkan ke dalam ruangan itu dalam waktu 2
menit
g. Ruangan-ruangan utnuk menyimpan botol-botol
CO2 harus :
2. Ditempatkan di tempat yang aman dan dapat
dijangkau dengan mudah
3. Harus ada ventilasi yang efektif
4. Pintu masuk ke ruangan tempat-tempat
penyimpanan sebaiknya di geladak terbuka
5. Pintu-pintu harus kedap gas dan sekat-
sekat/geladak-geladak pemisah harus kedap
gas dan harus diisolasi dengan sempurna
h. Penggunaan uap sebagai bahan pemadam kebakaran
pada instalansi tetap tidak diijinkan untuk kapal-
kapal baru
i. Harus dilengkapi dengan sarana-darana yang secara
otomatis memberikan peringatan yang dapat
didengar atas mengalirnya gas pemadam kebakaran
ke dalam ruangan manapun yang biasa didatangi
orang. Tanda bahaya harus bekerja untuk waktu
yang layak sebelum gas disalurkan
j. Sarana pengawasan harus dapat dicapai dengan
cepat dan dapat dijalankan dengan mudah

4. INSTALANSI SPRINKLER (INSTALANSI PERCIK)


a. Harus mampu bekerja dengan segera pada setiap
saaat dan awak kapal tidak perlu bertindak untuk
menjalankan
b. Pipa-pipa penyalur air harus dilindungi dari
pembekuan
c. Harus meliputi sarana untuk memberikan tanda
bahaya yang dapat terdengar dan dapat dilihat
secara otomatis di satu unit petunjuk atau lebih
54

bilamana suatu percik mulai bekerja (dianjungan


atau di stasiun pengawasan kebakaran)
d. Percik-percik harus tahan korosi yang disebabkan
oleh udara laut
e. Di ruang-ruang akomodasi dan ruang-ruang
pelayanan, percik-percik harus mulai bekerja dalam
batas suhu 68 C(I55 F) sampai 79 C(175 F), kecuali
di kamar-kamar pengering dimana suhu-suhu
selitarnya dapat diperkirakan akan menjadi tinggi,
suhu kerja boleh dirnaikkan tidak lebih dari 30 C(54
F) di atas puncak geladak
f. Percik-percik harus ditempatkan pada kedudukan di
atas dan berjarak abatara dengan pola-pola yang
layak untuk memungkinkan terlaksananya jumlah
penggunaan rat-rata yang tidak kurang dari 5liter
g. Harus meliputi tanki tekan, dimana sebuah tanki
tekan yang mempunyai volume sekurang-kurangnya
dama dengan 2 kali volume yang diisikan
sebagaimana yang dipercikan, dan tanki-tanki
tersebut harus berisi air tawar dan harus ada sarana-
sarana untuk mencegah masuknya air kaut ke dalam
tanki
h. Harus dipasangi dengan pompa yang berdiri sendiri
dan harus dapat berjalan secara otomatis karena
turunnya tekanan di dalam sistem serta harus bisa
mempertahankan tekanan yang diperlukan pada
ketinggian percik yang tertinggi utnuk menjamin
pengeluaran air secara terus menerus yang
jumlahnya paling sedikit 280 m2
i. Sistem percik harus ada sambungan dengan saluran
kebakaran utama kapal dengan menggunakan
sebuah katup balik yang dapat dikunci rapat ke
55

bawah disambungkan guna mencegah pengaliran


balik dari sitem percik ke saluran utama kebakaran

5. FIRE ALARM DAN FIRE DETECTION (SISTEM


TANDA BAHAYA DAN SISTEM PENEMU
KEBAKARAN OTOMATIS)
a. Harus dapat bekerja dengan cara otomatis tanpa
dioperasikan oleh crew kapal dan dapat
menunjukkan tempat terjadinya kebakaran
b. Harus dapat memberikan isyarat-isyarat bahaya
kebakaran yang dapat dilihat dan didengar di
anjungan atau di pusat stasiun pengawasan
kebakaran serta harus dapat menunjukkan bila mana
di dalam sistem itu terjadi kesalahan
c. Harus dapat beroperasi akibat sushu udara yang luar
biasa (57C-74C)
d. Penemu-penemu harus dipasang di kedudukan di
atas kepala dan harus dilindungi terhadap sentuhan
dan kerusakan fisik
e. Sekurang-kurangnya harus ada satu penemu yang
ditempatkan di dalam tiap ruangan untuk setiap 37
m2 luas geladak. Di dalam ruangan-ruangan yang
besar harus berjarak minimal 9m antara penemu
dengan sekat tidak labih jauh dari 4,5 m
f. Sekurang-kurangnya harus ada 2 sumber tenaga
listrik yang digunakan untuk menjelaskan. Salah
satunya harus dari sumber-sumber harus sumber
tenaga darurat
g. Sistm janringan listrik tidak boleh melewati dapur-
dapur, ruang-ruang mesin, dan ruang-ruang tertutup
lain yang mempunyai resiko kebakaran tinggi

6. ALAT-ALAT PEMADAM KEBAKARAN JINJINGAN


56

a. Kapasitas tidak lebih dari 13 liter(3 galon) dan tidak


kurang dari 9 liter (2 galon)
b. Isian cadangan harus tesedia sesuai syarat-syarat
yang ditentykan oelh pemerintah
c. Alat-alat pemadam jinjingan yang dapat
menghasilkan gas beracun yang dapat membahadak
orang-orang tidak diperbolehkan
d. Alat pemadam busa jinjingan harus terdiri dari
induktor jenis pipa pancar busa udara yang dapat
disambungkan pada saluran induk kebakaran
dengan menggunakan selang kebakaran, beserta
dengan sebuah tanki jinjing yang berisi sekurang-
kurangnya 20 liter(4 ½ galon) cairan pembuat busa
dan satu tanki cadangan
e. Pipa pancar harus mampu menghasilkan busa yang
berdaya guna layak untuk memadamlan minyak
dengan daya semprot sekurang-kurangnya 1,5 m3
tiap menit
f. Alat pemadam kebakaran jinjing harus diperiksa
secara berkala dan menjalani ujian yang disyaratkan
oleh pemerintah
g. Alat pemadam jinjing yang digunakan untuk
ruangan-ruangan manapun harus ditempatkan di
dekat pintu masuk ke ruangan tersebut

7. FIREMAN OUTFIT (KELENGKAPAN JURU


PEMADAM KEBAKARAN)
a. Harus trediri dari pakaian pelindung yang bahannya
dapat melindungi kulit terhadap pancaran panas dari
api dan luka-luka bakar serta panas yang amat
sangat panas oleh uap. Permukaan luar harus tahan
air
57

b. Sepatu-sepatu timggi dan sarung-sarung tangan dari


karet atau bahan lain yabg bukan penghantar arus
listrik
c. Sebuah katup keoala yang kekar yang memberikan
perlindungan terhafap benturan
d. Sebuah lampu keselematan listrik (lampu senter)
yang tipenya disetujui dengan waktu nyala min.3
jam
e. Sebuah kapak yang memenuhi syarat yang
ditentukan oleh pemerintah

8. ALAT BANTU PERNAFASAN


a. Harus terdiri dari sebuah tutup kepala/toprng yang
dilengkapi
Dengan pompa udara dan selang udara yang cukup
panjang cukup bebas dari ambang palka Atau
lubang pintu untuj dapat menjangkau setiap bagian
ruang muatan atau ruang-ruang mesin dari geladak
terbuka
b. Jika panjang selang udara yang diperlukan itu lebih
dari 36 meter(120 kaki), maka harus diganti atau
dilengkapi dengan alat pernafasan yang berdiri
sendiri yang mampu berfungsi selama jangka waktu
yang ditentukan oelh badan pemerintah
c. Masing-masing alat pernafasan harus dilengkapi tali
keselamatan tahan api yang cukup panjang dan
cukup kuat dan pegas untuk mencegah alat
pernafasan itu terlepas bilamana tali keselamatan itu
digunakan

9. SEKOCI PENOLONG (LIFE BOATS)


a. Setiap life boats harus kuat sehingga bisa
diturunkan ke air dengan aman ketika penuh dan
58

kuat digandeng oleh kapal yang kecepatannya 5


knots di perairan yang tenang
b. Setiap kapal barang lifeboats harus dapat dinaikki
oelh orang-orang yang sesuai kapasitasnya dalam
waktu 3 menit seteklah ada perintah untuk menaiki
sekoci
c. Harus ada tangga untuk boarding yang dapat
dipakai untuk boarding dari air. Anak tangga paling
bawah harus berada tidak kurang dari 0,4 meter
dibawah garis air dari sekoci
d. Lifeboats harus ditata sedemikian rupa sehingga
orang-orang yang memerlukan pertolongan dapat
diangkut baik dari laut atau berada dalam strectcher
e. Settiap lifeboats harus mempunyai power yang
mampu dihidupkan pada temperatur -15 C dalam
waktu 2 menit
f. Setiap mesin sekoci harus dapat dioperasikan dalam
waktu tipada waktu tidak kurang dari 5 menit dan
dapat dioperasikan pada waktu tidak kurang dari 5
menit dan dapat diopersikan pada waktu ada
genangan di crankshaft
g. Kecepatan lifeboats tidak boleh kurang dari 6 knots
dengan bahan bakar yang cukup untuk 24 jam
h. Penataan mesin harus diberi tutup dari bahan bakar
yang tahan api
i. Alat-alat recharging seluruh engine starting, radio,
dan lampu senter harus tersedia
j. Setiap lifeboats harus dilengkapi dengan lubang
pengiring, minimal datu buah dan harus ditanndai
dengan jelas
k. Setiap life boats harus dilengkapi dengan sebuah
releasi device yang mampu melepas tali depan
ketika mendapat tekanan
l. Di bagian luar (di atas penutup) dan bagian dalam
lifeboats harus ada dipasangi lampu yang dapat
59

menyala tidak kurang dari 12 jam (lampu minyak


tanah tidak boleh digunakan)
m. Kapasitas daya angkut dari lifeboats adalah
sedemikian rupa sehingga orang yang
menggunakanlifejacket bisa duduk dalam posisi
normal tanpa menghalangi pengoperasian jacket
n. Setiap life boats harus yang ditrunkan menggunakan
gaya berat harus dilengkapi dengan release
mechanism yang memenuhi persyaratan di bawah
ini :
1. Alat pelepas tali ditata sedemikian rupa
sehingga bisa melepas senua hooks secara
bersama-sama
2. Releasse control harus ditandai dengan jelas
menggunalan warna yang kontras
o. Sekoci penolong harus diberi tulisan :
1. Jumlah orang yang bisa diangkut
2. Nama pelabuhan pendaftaran kapal di
bagian haluannya pada kedua sisi
menggunakan Roman Capitale

10. INFLATABLE LIFERAFTS


a. Liferafts harus dilengkapi dengan tali yang cukup
panjang yaitu 2 kali jarak antara penempatan
liferafts sampai waterline(min 15 m). Tali ini harus
dari type yang dapat mengapung dan harus
dilengkapi dengan alat pengikat antara kapal dan
liferafts serta dilengkapi dengan penataan yang
dapat melepaskan dirinya sendiri ketika kapal
tenggelam
b. Hydrostatic release unit yang digunakan dalam
penataan float-free harus bisa melepaskannya dari
kapal dalam kedalaman tidak lebih dari 4 meter
c. Tabung karet harus dibagi tidak kurang dari 2
kompartment yang terpisah
60

d. Lantai dari liferafts harus bisa menahan dingin


biasanya dengan double floor
e. Gas yang dipakai untuk mengembungkan liferaft
tidak boleh gas beracun
f. Minimal harus ada satu pintu masuk yang
dilengkapi dengan
g. Di bagian dalam sekitar pintu masuk dari liferafts
harus diberi pegangan untuk membantu
memindahkan orang naik masuk dalam lifrafts
h. Pada waktu inflatable terbalik di laut tenang, maka
harus bisa ditegakkan hanya oleh 1 orang
i. Bagian atas canopy dilengkapi dengan lampu yang
bisa menyala sendiri yang bisa terlihat dari jarak 2
mil dan mampu menyala dalam waktu 12 jam
j. Bagian dalam dari liferafts dipasangi dengan lampu
yang mampu menyala selama 12 jam
k. Liferafts harus dipak dalam kontainer sedemikian
rupa sehingga bisa mengambang dalam posisi tegak
l. Container harus diberi label :
1. Pabrik pembuatnya
2. Nomor seri
3. Jumlah orang yang diijinkan masuk
4. Nama authority yang mengeprof
5. SOLAS
6. Tanggal terakhir servis
7. Tinggi maksimum yang diijinkan untuk
penempatan dari waterline(tes dilaksanakan
pada ketinggian 18 meter atau lebih)
m. Perlengkapan yang harus ada dalam liferafts, adalah
:
1. 4 buah rocket parachute flare
2. 6 buah hand flare
3. 2 buah bouyant smoke signal
4. Thermal/protective aids yang cukup untuk
100 % yang berada dalam liferaft atau 2
buah dan boleh lebih
5. Radar reflector secukupnya
61

6. 2 buah jangkar apung dari ttype yang


disetujui
7. Kantong muntah

11. RESCUE BOATS


a. Rescue boats di desain untuk menolong orang-orang
yang dalam bahaya dan sebagai pemimpin dari
survival craft
b. Rescue boats bisa dai type rigit juga bisa dari type
inflatable atau kombinasi dari keduanya
c. Rescue boats harus mampu mengangkut paling
sedikit 5 orang
d. Rescue boats harus mampu manuver pada kecepatan
6 knots dalam waktu paling sedikit 4 jam

12. LAUNCHING AND EMBARCATIONS :


a. Alat-alat peluncur harus mampu dipakai pada
kemirinhan 20 yang berlawanan dengan miringnya
kapal pada trim 10
b. Alat-alat pengukur harus ditata sedemikian rupa
sehingga dapat dikerjakan oleh 1 orang
c. Semua resque boats launching harus dipasangi
dengan winch motor yang mampu
menghibob/mengangkatnya dari air dengan penuh
orang dan perlengkapannya
d. Setiap alat peluncur harus dipasangi dengan brakes
yang mampu untuk menstop survival craft yang
bermuatan penuh selama punurunan
e. Alat-alat peluncur harus bebas berputar dan bebas
karat

13. LIFE JACKET (NON-INFLATABLE)


a. Tidak terbakar dalam waltu 2 detik
b. Dapat dipakai secara benar dalam waktu 1 menit
c. Bisa dipakai dengan enak/nyaman
d. Bisa dibawa terjun oleh pemakainya dari ketinggian
4,5 m ke air tanpa mencelakakan penggunanya dan
life jacket tidak rusak
62

e. Bisa mengangkat mulut orang yang sangat letih atau


orang tidak sadar diri tidak kurang dari 120 mm
bebas dari air dengan tubuh mengadah
f. Bisa memutar tubuh orang yang tidak sadarkan diri
sehingga mulut/muka bisa bebas dari air dalam
waktu 5 detik
g. Daya apung lifejacket tidak boleh berkurang lebih
dari 5 % setelah 24 jam pemakaian
h. Orang yang memakai life jacket bisa berenang
untuk jarak pendek untuk menuju liferaft/survival
craft
i. Dipasangi dengan peluit yang dihubungkan dengan
tali yang menempel
j. Dipasangi retro-reflective material

14. LIFE BUOY


a. Panjang kapal kurang dari 100 m, jumlah min. 8
buah
Panjang kapal antara 100-150 m, jumlah min. 10
buah
Panjang kapal antara 150-200 m, jumlah min, 12
buah
Panjang kapal lebih dari 200 m, jumlah min. 14
buah
b. Lifebuoys harus ditempatkan tersebar sehingga siap
digunakan dan paling sedikit di sekitar buritan
c. Paling sedikit satu lifebuoys yang ditempatkan pada
kedua sisi lambung kapal harus dilengkapi dengan
tali apung yang panjangnya 2 kali jarak antara
lifebuoys ditempatkan sampai garis air pada setiap
keadaan atau 30 m dan boleh lebih
d. Tidak kurang dari separo dari jumlah lifeboats harus
mempunyai self-igniting lights, tidak kurang dari 2
buah lifebuoy dengan self-activating smoke signal
63

yang mampu secara cepat dilepaskan/dilemparkan


ke laut dari anjungan
e. Lifebuoy yang dilengkapi dengan lampu atau smoke
signal harus bukan lifebuoy yang dilengkapi dengan
tali dan ditempatkan pada kedua sisi lambung kapal
f. Setiap lifebuoy harus ditulisi nama kapal dan nama
pelabuhan pendaftaran kapal dengan warna hitam
dengan huruf Rowman.

C. Kendala – kendala apa yang menghambat sehingga crew kapal dan peralatan
tidak / kurang siap siaga dalam menghadapi keadaan darurat ?
1. Kurangnya ketrampilan crew kapal dalam menggunakan peralatan yang
dapat di pakai untuk menanggulangi keadaan darurat.
2. Mengganggap remeh saat latihan atau drill dalam keadaan darurat di
atas kapal, sehingga saat kejadian darurat benar-benar terjadi banyak
crew yang merasa panik dan kebingungan untuk melakukan tindakan.
3. Tidak diadakan pemeriksaan atau pengecekan peralatan secara rutin,
sehingga semua peralatan saat dibutuhkan masih dalam kondisi kurang
siap.
4. Tidak menerapkan ketentuan-ketentuan yang sudah dijelaskan di dalam
SOLAS.