Anda di halaman 1dari 13

HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN PERILAKU CARING

PERAWAT PADA PASIEN DI RUANG


RAWAT INAP KELAS 3
RSD BALUNG

Artikel Jurnal

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan

OLEH:
CHUSNAWIYAH
13.1101.2030

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU


KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMADIYAH
JEMBER
2015
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Artikel Jurnal

Artikel jurnal ini telah disetujui, diperiksa dan akan dipertahankan diharap Tim
Penguji Prograp Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jember

Jember, 09 Januari 2015

Pembimbing I

Asmuji, SKM., M.Kep


NIP.19720615 200501 1 004

Pembimbing II

Supriyadi, S.Kep., Ns.,M.Kes


NIP.19740425 200501 1 006
HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN PERILAKU CARING PERAWAT
PADA PASIEN DI RUANG RAWAT INAP KELAS 3
RSD BALUNG JEMBER

Chusnawiyah1, Nikmatur Rohmah2, Asmuji3, Supriyadi4

Skripsi, 09 Januari 2015

ABSTRAK

Caring menjadi kunci mutlak bagi layanan keperawatan yang akan berefek terhadap
berkualitasnya suatu institusi kesehatan seperti halnya rumah sakit.Salah satu kunci
terwujudnya prilaku caring perawat terhadap pasiendipengaruhi oleh beban kerja yang
dirasakan oleh perawat. Penelitian ini bertemahubungan beban kerja dengan perilaku Caring
perawat pada Pasien di ruang rawat inap kelas 3 RSD Balung kabupaten Jember dan
bertujuan: 1. Mengidentifikasi beban kerja perawat, 2. Mengidentifikasi perilaku caring
perawat, 3. Menganalisis adanya hubungan antara beban kerja dengan perilaku caring
perawat. desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif-korelasional dengan pendekatan
cross sectional. Sampel sebanyak 33 orang dan pengambilan data menggunakan kuesioner
dengan hasil: 1. Beban kerja perawat kategori sedang sebanyak 25 orang (75,8%), 2. Tingkat
caring perawat kategori cukup caring, yaitu 60,6 %, 3. Uji korelasi Spearman’s diperoleh
nilai signifikansi hitung sebesar 0,031. Nilai ini lebih kecil dari p value 5 % = 0,05 yang
berarti hipotesis dalam penelitian ini diterima. Artinya, ada hubungan yang signifikan antara
beban kerja dengan prilaku caring perawat. Nilai Coefficient Correlation Spearmen
menunjukkan -0,377 hal ini bukti bahwa makin tinggi beban kerja perawat justru akan diikuti
dengan caring yang makin rendah. Oleh karena itu saran yang diberikan, sebaiknya beban
kerja perawat disesuaikan dengan uraian tugas dengan memberikan pekerjaan sesuai job
discription nya.

Kata kunci: Beban Kerja, Caring, Perawat.


Daftar pustaka 23 (2003-2013)
Relationship Workload With Nurses Caring Behaviors
In Patients Hospitalization In Space Class 3
Rsd Balung Jember

ABSTRACT

Caring be the absolute key for nursing services that will have an effect on berkualitasnya a
home health institutions as well as the realization of the key sakit.Salah nurses caring
attitude towards pasiendipengaruhi by workload perceived by nurses. This study
bertemahubungan workload with Caring nurses on patient behavior in inpatient unit grade 3
RSD Balung Jember and aims to: 1. Identify the workload of nurses, nurse caring behaviors
2. Identify, 3. Analyze the relationship between workload of the nurses caring behavior .
research design is descriptive-correlational and cross sectional approach. A sample of 33
people and retrieval of data using a questionnaire with the results: 1. The workload of nurses
categories are as many as 25 people (75.8%), 2. The level of caring nurse caring enough
categories, namely 60.6%, 3. Spearman's correlation test was obtained significant value
count of 0,031. This value is smaller than 5% p-value = 0.05, which means that this
hypothesis is accepted. That is, there is a significant relationship between workload with
prilakucaring perawat.Adanya vareabel relationship between the two is evidence that the
higher workload of nurses caring it will be followed by the lower. Therefore the advice given,
should the workload of nurses adapted to provide a job description with the appropriate job
discription of his job.

Key word : Workload , Nurses, Caring


Bibliographi 23 (2003-2013)

PENDAHULUAN yang mempunyai peran penting dalam


Rumah sakit merupakan salah satu terwujudnya kualitas pelayanan yang ada
organisasi yang bergerak di bidang di rumah sakit adalah perawat, karena
kesehatan untuk memenuhi kebutuhan perawat merupakan tenaga rumah sakit
pelayanan kesehatan masyarakat di suatu yang perannya paling dominan bagi
wilayah (Suarli, 2010). Sebagai organisasi pelayanan pasien. Peran dominan ini
layanan kesehatan, rumah sakit tentu menjadikan perawat sebagai ujung tombak
menginginkan dapat memberikan layanan pelayanan yang berkualitas di rumah sakit
yang berkualitas. Mutu pelayanan tentunya harus dapat menunjukkan
kesehatan di rumah sakit yang berkualitas kemampuan dalam memberikan pelayanan
sangat dipengaruhi oleh kualitas sarana yang terbaik. Ciri pelayanan keperawatan
fisik, jenis tenaga yang tersedia, obat dan yang menjadi roh profesi keperawatan
alat kesehatan, serta proses pemberian adalah prilaku caring. Caring merupakan
layanan (Bustami, 2011). Jenis tenaga pemberian perawatan secara totalitas dan
dengan sepenuh hati. Caring menjadi memberikan perhatian dan selalu
kunci mutlak bagi layanan keperawatan melakukan interaksi dan berkomunikasi
yang akan berefek terhadap berkualitasnya kepada pasien. Prilaku caring/perhatian
suatu institusi kesehatan seperti halnya perawat ini akan meningkatkan kualitas
rumah sakit. layanan dan membuat pasien serta
Peran, sikap dan perhatian (prilaku keluarganya merasa puas.
caring) perawat sangat diharapkan bagi Salah satu kunci terwujudnya prilaku
pasien dalam setiap pelayanan di rumah caring perawat terhadap pasien
sakit. Perilaku caring merupakan suatu dipengaruhi oleh banyak faktor, dimana
sikap, rasa peduli, hormat dan menghargai salah satunya adalah beban kerja yang
orang lain, artinya memberikan perhatian dirasakan oleh perawat. Beban kerja yang
yang lebih kepada seseorang. Perilaku terjadi pada perawat dimungkinkan berasal
caring sangat penting untuk dari faktor jenis pekerjaan, ketidakcocokan
mengembangkan, memperbaiki dan pendidikan dengan pekerjaan, jam kerja
meningkatkan kondisi atau cara hidup atau lama kerja, pengalaman kerja.
manusia. Perilaku caring perawat sangat Ambulasi dan transportasi pasien dari satu
penting dalam layanan keperawatan karena ruangan ke ruangan lain semisal untuk CT
akan memberikan kepuasan pada klien. Scan atau ronggen, kesibukan administrasi
Caring mengandung 3 hal yang tidak dalam ruangan, serta antar-jemput
dapat dipisahkan yaitu perhatian, tanggung specimen pasien ke laboratorium
jawab, dan dilakukan dengan ikhlas merupakan salah satu layanan keperawatan
(Suarli, 2010). Caring juga merupakan yang dirasa meningkatkan beban kerja
sikap peduli, menghormati dan perawat.
menghargai orang lain, artinya memberi Fenomena yang terjadi di ruang rawat
perhatian dan mempelajari kesukaan- inap kelas 3 RSD Balung terkait dengan
kesukaan seseorang dan bagaimana beban kerja, banyak perawat yang
seseorang berfikir dan bertindak. Peran mengeluh tentang jenis pekerjaannya yang
perawat pada pasien secara umum tidak sesuai dengan pendidikan, kondisi
bermakna memberikan pelayanan ruangan yang berada dilantai 2 tanpa
keperawatan terhadap pasien tentang eskalator sehingga mengantar pasien dari
penyakitnya secara totalitas, kemungkinan- lantai 2 ke lantai 1 maupun sebaliknya, itu
kemungkinan lain yang terjadi, peluang semua merupakan jenis atau bentuk
kesembuhannya secara hati-hati dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan
menyentuh kesadaran pasien. Perawat profesionalisme. Fenomena tersebut sesuai
dengan fakta bahwa 64 % perawat Kondisi serta fenomena-fenomena tersebut
menyatakan overload/beban kerja mereka berdampak pada model layanan yang
terlalu tinggi/berat, 31 % menyatakan diberikan oleh perawat menjadi setengah
beban kerja dan kinerja mereka biasa saja, hati pada pasien dan keluarganya. Oleh
sementara 5 % sisanya enggan karenanya, peneliti sangat tertarik
berkomentar. melakukan penelitian lebih mendalam
Selain itu ada beberapa pasien yang dengan tema Hubungan Beban Kerja
merasa tidak puas karena kurangnya Dengan Prilaku Caring Perawat Pada
perhatian dari perawat contohnya pasien Pasien Di Ruang Rawat Inap Kelas 3 RSD
sering lapor untuk minta ditensi, Balung kabupaten Jember.
perawatnya jarang menyapa ketika
pergantian dinas, tidak kenal perawatnya METODE PENELITIAN
karena tidak ada tanda pengenal. Kesan Desain penelitian ini adalah
kurang ramah, mahal senyum dan sikap penelitian lapangan, karena peneliti dalam
perawat yang sensitif/mudah emosi jika proses pengambilan data terjun langsung
ditanya oleh pasien ataupun keluarganya di lapangan. Penelitian ini menggunakan
juga menjadi fakta nyata yang dirasakan desain penelitian deskriptif-korelasional
dan diungkapkan oleh pasien dan keluarga dengan pendekatan cross sectional, yang
pada peneliti. Kondisi beban kerja yang bertujuan untuk mendapat gambaran
berat atau kelelahan membuat faktor tentang hubungan antara beban kerja
pemicu stress kerja bagi perawat yang dengan perilaku caring perawat pada
memungkinkan munculnya sikap/prilaku pasien di Ruang Rawat Inap Kelas 3 RSD
semacam itu. Tentu layanan keperawatan Balung.
akan menurun dan pasien yang menjadi Populasi adalah setiap subjek
dampaknya. (misalnya: manusia, pasien) yang telah
Secara garis besar, terbentuknya memenuhi kriteria yang telah ditetapkan
prilaku caring dipengaruhi oleh faktor (Nursalam, 2009). Populasi penelitian ini
internal yang meliputi: faktor genetik dan adalah semua perawat pelaksana dan ka
karakter seseorang, juga dipengaruhi oleh Tim yang bekerja di Ruang Rawat Inap
faktor eksternal yang meliputi: Kelas 3 RSD Balung Kabupaten Jember,
pendidikan, pengetahuan, pengalaman baik yang PNS maupun non-PNS, yaitu
kerja dan beban kerja. Nampak nyata sebanyak 33 orang, dan semua populasi
bahwa beban kerja berat dirasakan oleh dijadikan sampel penelitian. Penelitian ini
mayoritas perawat di kelas 3 RSD Balung. dilakukan pada bulan Mei 2014
dilanjutkan dengan penyusunan proposal HASIL PENELITIAN
penelitian pada bulan Juni 2014, 1. Distribusi Responden Berdasarkan
pengambilan data dilakukan pada bulan Jenis Kelamin di RSD Balung, tahun
September-Oktober 2014 di Ruang Rawat 2014
Inap Kelas 3 RSD Balung Kabupaten Jenis Frekuensi Persentase (%)
Jember. Kelamin
Masalah etik penelitian ditetapkan Laki-laki 15 45,5
peneliti untuk melindungai responden dan Perempuan 18 54,5
peneliti sendiri secara aspek legalitas Total 33 100
untuk itu peneliti mencantumkan beberapa Berdasarkan distribusi responden jenis
hal penting dalam etik, diantaranya kelamin sebagian besar responden
informed conscent, anonimity dan wanita 54,5 % (18 responden).
confidential. 2. Distribusi Responden Berdasarkan
Instrumen pengambilan data variabel Usia di RSD Balung, tahun 2014
independen (beban kerja) terdiri dari 10 Usia Frekuensi Persentase
pertanyaan dengan 4 pilihan jawaban : (%)
selalu, sering, kadang-kadang dan tidak 20-25 2 6
pernah. Sedang instrumen pengambilan 26-30 10 30,4
data variabel dependen (caring perawat) 31-35 16 48,5
terdiri dari 10 pertanyaan dengan 4 pilihan 36-40 5 15,2
jawaban : selalu, sering, kadang-kadang Total 33 100
dan tidak pernah.
Prosedur pengambilan data terdiri Berdasarkan Distribusi Responden
dari prosedur administrasi dan prosedur Berdasarkan Usia dapat diketahui
teknis. Pengolahan data dengan cara bahwa mayoritas responden berusia
editing, coding, tabulating, entry data dan 31-35 tahun, yaitu 16 orang (48,5 %).
cleaning. Uji statistik menggunakan uji
statistik Spearman dengan tingkat
signifikan 5%. Artinya apabila p value ≤
0,05. Data yang terkumpul ditabulasi
dengan analisis univariat dan analisis
bivariat.
3. Distribusi Responden Berdasarkan Nilai ini lebih kecil dari p value 5 % =
Beban Kerja di RSD Balung, tahun 0,05 yang berarti hipotesis dalam
2014 penelitian ini diterima. Artinya, ada
Beban Frekuensi Persentase hubungan antara beban kerja dengan
Kerja (%) prilaku caring di ruang rawat inap
Tinggi 8 24,2 kelas 3 RSD Balung kabupaten
Sedang 25 75,8 Jember. Nilai Coefficient Correlation
Total 33 100 Spearman’s rho menunjukkan angka
Menunjukkan dari 33 responden α=-0,377 yang bertanda negatif. Hal
sebagian besar 25 orang (75,8 %) ini menunjukkan terdapat hubungan
perawat menyatakan bahwa beban negatif yang signifikan, maksudnya
kerjanya sedang. semakin tinggi beban kerja perawat
4. Distribusi Responden Berdasarkan maka semakin tidak caring perawat
Tingkat Caring Di RSD Balung tahun tersebut dalam layanan
2014 keperawatannya.
Tingkat Caring Frekuensi Persentase
(%) PEMBAHASAN
Tidak Caring 4 12,1 1. Jenis Kelamin Perawat
Cukup Caring 20 60,6 Perawat berjenis kelamin
Caring 9 27,3 perempuan cenderung untuk

Total 33 100 melakukan aplikasi prilaku caring.

Menunjukkan dari 33 responden Sampai saat ini perawat identik

sebagian besar tingkat caring perawat dengan seorang wanita, perawat

dinyatakan cukup caring sebanyak wanita mempunyai insting dan

60,6%. memiliki sifat kelembutan karena

5. Analisis korelasi spearment konsep awal keperawatan dalam

Berdasarkan hasil uji statistic yang sejarahnya adalah mother insting.

menyatakan ada Hubungan Beban Oleh karenanya perawat wanita

Kerja Dengan Prilaku caring Perawat cenderung lebih caring terhadap

diruang Rawat Inap Kelas 3 RSD pasiennya. meskipun dalam

Balung Kabupaten Jember. Uji kenyataannya laki-laki juga memiliki

korelasi Spearman’s diperoleh nilai hak serta mampu berprofesi sebagai

signifikansi hitung sebesar 0,031. seorang perawat (Sheldon, 2010).


Namun, jumlah perawat wanita masih
mendominasi, kondisi ini sesuai dijalankan bertujuan untuk mengatur
dengan fakta yang ditemukan di proses mobilisasi potensi dan
lapangan dalam penelitian ini pengembangan sumber daya
bahwa54,5 % (18 orang) perawat di manusiadalam memenuhi tugas-tugas
kelas 3 RSD Balung adalah wanita. mencapai tujuan individu dan
Kenyataan bukan berarti serta- merta organisasi (Suyanti, 2009). Untuk
perawat laki-laki tidak dapat bersifat menghindari terjadinya beban kerja
caring. yang tidak seimbang maka manager
2. Usia Perawat harus mampu merencanakan
Umur menjadi salah satu faktor kebutuhan tenaga keperawatan dengan
internal yang mempengaruhi beban baik. Manager juga dituntut dapat
kerja bagi perawat. Siklus hidup mengatur jadwal dinas yang baik dan
manusia dapat digambarkan seperti seimbang, karena beban kerja yang
lonceng terbalik. Melihat data bahwa tidak seimbang dapat mempengaruhi
usia perawat di RSD Balung berkisar perilaku caring yang ditujukan oleh
antara 20-35 tahun. Sehingga dapat perawat kepada pasien.(Marini,
dikatakan perawat RSD Balung Sartika,Idianola & Edward, 2009).
mempunyai usia dalam kategori Dari hasil penelitian diketahui perawat
produktif, yang berarti di lapangan sebanyak 25 orang (75,8
keemasan(puncak) untuk berproduksi. %) menyatakan bahwa beban kerja
Semangat dan motivasi yang tinggi mereka di tingkat sedang, dan 8 orang
seharusnya terlihat dalam yang lain (24,2 %) menyatakan beban
menjalankan peran dan fungsinya. kerja mereka tinggi.
Semakin tua usia perawat maka Beban kerja sedang merupakan
semakin caring, karena perawat pengakuan terbanyak yang dialami
tersebut akan makin sabar, oleh perawat di ruang rawat inap RSD
berpengalaman dan akan lebih Balung kabupaten Jember. Secara
dewasa. umum, faktor yang mempengaruhi
3. Beban Kerja beban kerja tediri dari dua faktor yaitu
Beban kerja yang terlalu berlebihan faktor eksternal dan faktor internal.
akan mengakibatkan stres kerja Faktor internal meliputi faktor somatis
baik fisik maupun psikis dan reaksi- (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh,
reaksi emosional (Sufiati, 2007). status gizi, dan kondisi kesehatan) dan
Fungsi ketenagaan dijalankan faktor psikis (motivasi, persepsi,
kepercayaan, keinginan dan dan penempatan tenaga kerja,
kepuasan). Hasil penelitian hubungan antara pekerja dengan
menunjukkan perawat wanita sedikit pekerja, atau hubungan atasan dan
lebih banyak dari pada perawat laki- bawahan). Ketiga aspek ini sering
laki. Angka ini tidaklah menimbulkan disebut sebagai stressor. Makin tinggi
perbedaan yang nyata, tapi menurut stressor di tempat kerja akan membuat
argumentasi tingkat stres perawat beban kerja terasa makin berat. Dari
wanita lebih tinggi dari pada perawat hasil kuesioner yang menyatakan
laki-laki. Hal ini berakibat beban kerja beban kerja tinggi adalah dalam hal
yang dirasakan akan semakin tinggi. perawat sebagai administrasi yaitu
Sedangkan faktor eksternal yang selalu merinci administrasi pasien
mempengaruhi beban kerja adalah pulang.untuk mengatasi beban kerja
tugas-tugas yang bersifat fisik, seperti tidak tinggi, maka sebaiknya perawat
tata ruang, tempat kerja, alat dan bekerja sesuai dengan job description.
sarana kerja, kondisi kerja, sikap 4. Prilaku Caring
kerja, dan tugas-tugas yang bersifat Caring secara umum dapat
psikologis, seperti kompleksitas diartikan sebagai suatu kemampuan
pekerjaan, tingkat kesulitan, tanggung untuk berdedikasi bagi orang lain,
jawab pekerjaan, selain itu juga pengawasan dengan waspada,
disebabkan karena organisasi kerja, menunjukkan perhatian, perasaan
seperti lamanya waktu bekerja, waktu empati pada orang lain dan perasaan
istirahat, shift kerja, kerja malam, cinta atau menyayangi yang
sistem pengupahan, model struktur merupakan kehendak keperawatan.
organisasi, pelimpahan tugas dan Caring adalah sentral untuk praktik
wewenang. Lingkungan kerja juga keperawatan karena caring merupakan
mempengaruhi factor eksternal suatu cara pendekatan yang dinamis,
meliputi lingkungan kerja fisik dimana perawat bekerja untuk lebih
(intensitas penerangan, kebisingan, meningkatkan kepeduliannya kepada
temperatur ruangan, dan getaran), klien. Dalam keperawatan, caring
lingkungan kimiawi (debu, gas-gas merupakan bagian inti yang penting
pencemar udara, dan uap logam), terutama dalam praktik keperawatan.
lingkungan kerja biologis (bakteri, Berdasarkan hasil penelitian diketahui
virus, jamur, dan parasit) dan bahwa prilaku caring perawat terbagi
lingkungan kerja psikologis(pemilihan 3, yang caring 27,3 %, tidak caring
12,1 % sementara yang paling banyak orang juga. Perawat yang menyatakan
adalah cukup caring yaitu 60,6 %. beban kerjanya sedang tapi tidak
Caring tidak akan pernah lepas dari caring adalah 4 orang, yang beban
profesi keperawatan, karena caring kerjanya sedang tapi cukup caring
merupakan esensi keperawatan itu adalah 16 orang, dan yang beban
sendiri. Selain itu berdasarkan fakta kerjanya sedang tapi caring adalah 25
bahwa sebagian besar perawat orang.
melakukan tindakan responsive atau Semakin tinggi beban kerja yang
bersegera dalam melayani pasien ditanggung perawat, maka
diruang perawatan, sedangkan kecenderungannya akan membuat
tindakan yang sering dilanggar atau perawat mengalami kejenuhan dan
tidak dilakukan adalah melakukan berdampak pada menurunnya prilaku
pemeriksaan tensi, suhu, nadi setiap caring. Hal tersebut sesuai dengan
pergantian dinas. Secara garis besar, temuan peneliti melalui uji korelasi
prilaku caring perawat dipengaruhi Spearman’s diketahui nilai
oleh faktor internal dan faktor signifikansi hitung adalah 0,031. Nilai
eksternal (Yudiarto, 2011). Diantara ini lebih kecil dari p value 5 % = 0,05
faktor internal antara lain yang berarti hipotesis dalam penelitian
herediter/genetik, dan karakter. Faktor ini diterima. Artinya, ada hubungan
eksternal yang mempengaruhi prilaku antara beban kerja dengan prilaku
caring adalah: pendidikan, caring di ruang rawat inap kelas 3
pengetahuan, pengalaman kerja, dan RSD Balung kabupaten Jember. Nilai
beban kerja. Coefficient Correlation Spearman’s
5. Hubungan Beban Kerja dengan rho menunjukkan angka - 0,377 yang
Prilaku Caring bertanda negatif. Hal ini menunjukkan
Beban kerja yang seimbang dengan terdapat hubungan negatif yang
kesejahteraan dan kenyamanan signifikan, maksudnya semakin tinggi
perawat menjadi faktor penting dalam beban kerja perawat maka semakin
mempengaruhi kinerja dan caring tidak caring perawat tersebut dalam
perawat. Dari fakta lapangan diketahui layanan keperawatannya. Fakta
bahwa perawat yang menyatakan tersebut memunculkan logika terbalik,
beban kerjanya tinggi tapi cukup yaitu jika beban kerja diringankan
caring adalah 4 orang, yang beban maka perilaku caring perawat akan
kerjanya tinggi tapi caring adalah 4 muncul secara maksimal. Untuk
meringankan beban kerja, dengan 3. Perlu dilakukan penelitian yang lebih
memberikan pekerjaan pada perawat mendalam lagi terkait tema ini dengan
sesuai kapasitas pendidikan, wilayah mempertimbangkan variabel-variabel
kerja dan job discription nya. Jika lainnya yang mungkin menjadi
perawat dibebani dengan pekerjaan pengaruh terhadap perilaku caring
yang tidak sesuai dengan bidangnya perawat.
atau keluar dari wilayah profesinya, 4. Perlu dilakukan penelitian yang lebih
maka akan meningkatkan beban kerja mendalam lagi terkait dengan definisi
yang akhirnya akan menurunkan operasional berkaitan dengan
perilaku caring dalam layanan parameter dengan membedakan
keperawatan. antara tugas ketua tim dan perawat
pelaksana.

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
1. Sebagian besar beban kerja perawat
adalah sedang sebanyak 25 orang Amstrong, & Michael. (2006). Manajemen
(75,8 %). Sumber Daya Manusia Strategik :
2. Sebagian besar tingkat caring perawat Mengelola Karyawan. Buku Wajib
adalah cukup caring yaitu 60,6 %. Bagi Manajer Lini. Jakarta: PT.
3. Ada hubungan yang signifikan antara Bhuana Ilmu Populer,
beban kerja dengan prilaku caring Bustami, (2011). Penjaminan Mutu
perawat di ruang rawat inap kelas 3 Pelayanan Kesehatan. Jakarta:
RSD Balung kabupaten Jember. Erlangga,
Fitrini, (2011). Analisis Kebutuhan Tenaga
SARAN Berdasarkan Beban Kerja Di
1. Sebaiknya beban kerja perawat Instalasi Farmasi RSUD Pasaman
disesuaikan dengan uraian tugas Barat Tahun. Penelitian.
dengan memberikan pekerjaan sesuai Gatot, & Dewi Basmala. (2005).
job discription nya. Hubungan Karakteristik Perawat,
2. Perlu adanya seting ruangan agar Isi Pekerjaan Dan Lingkungan
mengurangi kejenuhan dan Pekerjaan Terhadap Kepuasan
penambahan sarana lift atau eskalator Kerja Perawat Di Instalasi Rawat
jika memungkinkan agar tenaga Inap RSUD Gunung Jati Cirebon,
perawat tidak terlalu terporsir.
Makara, Kesehatan, Vol. 9, No. 1, Rakhmat, J. (2009). Psikologi
Juni 2005: 1-8. Komunikasi. Bandung : PT Remaja
Gunarsa, & Singgih D. (2005). Psikologi Rosdakarya.
Perawatan. Jakarta: PT BPK Rizqiyanto. (2008). Manajemen Sumber
Gunung Mulia, Daya Manusia. Jakarta: UIN Syarif
Ilyas. (2004). Perencanaan SDM Rumah Hidayatulloh.
Sakit, Teori, Metoda dan Formula. Sheldon. (2010). Komunikasi Untuk
Jawa Barat: Fakultas Kesehatan Keperawatan. Jakarta : Erlangga.
Masyarakat Universitas Indonesia, Suarli. (2010). Manajemen Keperawatan
Khotimah, & Khusnul. (2010). Hubungan Dengan Pendekatan Praktis.
Antara Persepsi Terhadap Jakarta : EMS.
Lingkungan Kerja Psikologis Sufiati, & Siti Hanifah. (2007). Analisis
Dengan Burnout Pada Perawat Beban Kerja Karyawan Pada
RSU Budi Rahayu Pekalongan. Divisi Produksi. Bogor: Skripsi
Semarang: Universitas Diponegoro. IPB,
Moehijat. (2005). Perencanaan Tenaga Sugiyono. (2012). Metode Penelitian
Kerja. Bandung: Penerbit Alumni, Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Notoatmodjo, S. (2003) Pendidikan Bandung : Raja Grafindo Persada.
dan Perilaku Kesehatan. Rineka Sugiyono. (2004). Statistika untuk
Cipta: Jakarta, Penelitian. Jakarta : Alfabeta,
Notoatmodjo, S. (2007). Kesehatan Suyanto. (2009). Mengenal Kepemimpinan
Masyarakat Ilmu&Seni. PT Rineka dan Manajemen Rumah Sakit.
Cipta, Notoatmodjo S. (2005). Yogyakarta: Mitra cendekia Ofset.
Metodologi Penelitian Kesehatan. Tim. (2013). Panduan Karya Tulis Ilmiah.
PT Rineka Cipta, FIKES UNMUH Jember,
Nursalam. (2008). Pedoman Skripsi, Tesis Yudiarto, & Teguh. (2011). Aplikasi
dan Instrumen Penelitian Konsep Caring Dalam Praktek
Keperawatan, Salemba Medika. Keperawatan, Gombong: STIKES
Nursalam. (2005). Manajemen Muhammadiyah.
Keperawatan. Surabaya : Salemba
Medika.