Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umum
Untuk penulisan tugas akhir ini peneliti mengambil referensi dari
beberapa Jurnal Penelitian sebelumnya sebagai bahan tinjauan pustaka untuk
dijadikan pedoman penulisan tugas akhir.

2.2 Penelitian Terdahulu


Everlyn (2018), “Analisa Kapasitas Kolom Struktur Pada Bangunan
Pasca Kebakaran (Studi Kasus Plaza Sukarama) Kota Pekanbaru”. Adanya
penurunan kekuatan pada struktur pasca kebakaran dan tentunya akan diikuti
penurunan kapasitas dari struktur tersebut. Tingkat kerusakan yang terjadi sangat
tergantung pada intensitas api dan durasi kebakaran. Adapun tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui kondisi kerusakan kolom struktur pada bangunan pasca
kebakaran secara pengamatan visual, mengetahui kekuatan struktur kolom setelah
penggunaan Metode Cobcrete Jacketing, dan tahan metode perbaikan struktur
pasca kebakaran. Metode penelitian dilakukan tinjauan langsung kelapangan dan
mendokumentasikan proses tahapan perbaikan kolom struktur. Kemudian peneliti
menghitung kapasitas penampang kolom existing dan penampang kolom setelah
perkuatan Concrete Jacketing. Hasil analisa peneliti untuk kapasitas penampang
maximum pada penampang kolom sebelum terjadinya kebakaran yang berdimensi
500 x 500 mm dengan mutu beton K-300 yakni pada kondisi tekan Pn = 3421,692
Kn, kondisi momen murni Mn = 227,3079 kNm, kondisi seimbang Pb =
1555,2407Kn MR=392,9268 kNm dan kondisi pembebanan tarik Pn = 1360,938
Kn. Dan pada perbaikan metode Concrete Jacketing yang berdimensi 600 x 600
mm dengan mutu beton K-500 yakni pada kondisi tekan Pn = 5869,05 Kn,
kondisi momen murni Mn = 422,914 kNm, kondisi seimbang Pb = 3793,933 Kn
MR = 1115,632 kNm dan kondisi tarik Pn = 2268,229 Kn. Berdasarkan
pengamatan visual elemen kolom struktur pada lantai dasar, lantai 1, lantai 2 dan
lantai 3 telah mengalami keretakan pada bagian inti kolom dan pengelupasan

5
selimut beton dari kolom existing. Pada beberapa kolom struktur kondisi
permukaan selimut beton hanya terdapat retak rambut. Dan dari hasil perhitungan
maka dapat dilihat bahwa metode Concrete Jacketing menghasilkan kekuatan
yang lebih besar dibandingkan kolom existing sebelum terjadinya kebakaran,
maka dapat dikatakan bahwa metode Concrete Jacketing efektif untuk beton
pasca terbakar.
Wijaya (2015), “Perkuatan Ruko Pasar Sentral Pasca Kebakaran” Akhir-
akhir ini, kebakaran gedung mulai mendapat perhatian serius dari semua pihak
setelah di Indonesia didera sejumlah kasus kebakaran gedung yang cenderung
meningkat tajam dengan skala yang cukup besar. Kebakaran dapat diakibatkan
oleh berbagai hal, mulai dari hubungan pendek arus listrik, kompor meledak,
huru-hara, maupun tindak kriminalitas. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis perkuatan gedung pasca kebakaran khususnya pada bagian balok.
Data diambil melalui sebuah studi kasus yang telah mengalami kebakaran sebagai
sebuah pendekatan tinjauan hubungan perilaku beton dengan tingkat temperature
yang telah diteliti sebelumnya. Studi kasus ini merupakan studi lapangan pada
sebuah struktur yakni Gedung Pasar Sentral yang terbakar pada hari Rabu, 7 Mei
2014. Gedung Pasar Sentral merupakan sebuah struktur terbuka dengan
komponen utamanya terbuat dari struktur beton. Elemen Balok yang belum runtuh
mengalami kerusakan kategori moderat berat. Balok yang diperbaiki mengalami
peningkatan kekuatan yang besar dibandingkan kekuatan eksisting balok.
Persentase Peningkatan kekuatan lentur denga metode GFRP sekitar 25,89%
sedangkan dengan metode Concrete Jacketing sekitar 43,94%. Persentase
Peningkatan kekuatan Geser dengan metode GFRP sekitar 74,39% sedangkan
dengan metode Concrete Jacketing sekitar 68,83%. Dari data hasil penelitian
secara keseluruhan dengan mempertimbangkan aspek keamanan, biaya dan
pekerjaan, maka metode perbaikan yang tepat digunakan pada Balok gedung
Ruko Pasar Sentral Makassar adalah metode Concrete Jacketing karena melihat
kondisi balok yang rusak menyulitkan untuk menggunakan metode GFRP, selain
itu dari segi kekuatan, peningkatan kekuatan dengan concrete jacketing juga
cukup besar.

6
Rohman (2009), “Assessment Struktur Atas Gedung Timbul Jaya Plaza Kota
Madiun Akibat Alih Fungsi” Gedung Timbul Jaya Plaza yang terletak di Jalan
Pahlawan Madiun, sebelumnya merupakan milik Bank Harapan Sentosa
(BHS). Gedung ini ketika baru dibeli tidak bisa langsung digunakan karena
akan diadakan perubahan fungsi. Sebelumnya berfungsi untuk kantor bank
kemudian beralih fungsi menjadi plaza. Berkait dengan terjadinya alih fungsi
bangunan maka akan terjadi perubahan pembebanan pada bangunan tersebut.
Masalah yang timbul adalah desain pembebanan ruang tersebut yang semula
untuk kantor dengan beban hidup 250 kg/m2 akan berubah menjadi desain
pembebanan untuk plaza 400 kg/m2. Oleh karena itu perlu dilakukan beberapa
tahapan analisis, tahapan itu adalah analisa dalam keadaan existing dengan
desain pembebanan yang baru. Apabila terdapat komponen struktur yang tidak
memenuhi syarat kemudian dilakukan perkuatan struktur. Selain adanya
perubahan beban gravitasi, terdapat juga perubahan beban gempa. Hal ini
perlu ditinjau mengingat gedung ini ketika dibangun mengacu pada Pedoman
Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung SKBI 1987.
Sesuai dengan perkembangan maka saat ini telah diberlakukan SNI 03 1726
2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Gedung.
Assessment terhadap struktur Timbul Jaya Plaza ini sebenarnya sudah
dilakukan. Uji Beban Langsung dan Hammer Test dilakukan oleh Tim
Laboratorium Beton dan Konstruksi Universitas Kristen Petra Surabaya. Dari
Uji Beban Langsung tersebut diketahui beban maksimum yang mampu
dipikul 320 kg/m2 dan dari hammer test didapat kuat tekan karakteristiknya
360 kg/cm2. Perhitungan struktur telah dilakukan oleh Sungkono Kristanto.
Namun, di dalam analisisnya tidak dilakukan analisis beban gempa sesuai SNI
03 1726 2002. Perkuatan struktur yang dilakukan terhadap struktur Timbul
Jaya Plaza yaitu dengan menambahkan balok anak WF Castella. Hal ini
bertujuan untuk memperpendek bentang struktur sehingga memperkecil gaya-
gaya dalam yang terjadi.
Sari (2009), “Analisis Kekuatan Elemen Balok Dan Kolom Pasca Bakar
Pada Gedung Teater Atrium Solo Baru” Akhir-akhir ini kasus kebakaran

7
gedung cenderung meningkat dengan skala yang cukup besar. Salah satu kasus
besar bangunan terbakar adalah gedung teater Atrium yang terletak di jalan utama
Solo - Sukoharjo tepatnya di kawasan Solo Baru. Kebakaran tersebut diakibatkan
oleh huru-hara/kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998. Tidak sedikit kerugian
yang dialami pihak developer sebagai pemilik gedung secara khusus dan Pemkab
Sukoharjo secara umum, mengingat bahwa site gedung yang strategis sebagai
roda perekonomian dan merupakan kawasan berkembang. Kondisi eksisting yang
terjadi saat ini tampak sebagai bangunan tidak terawat. Elemen kolom dan balok
pasca bakar masih berdiri tegak dimana beton tersebut terlihat berwarna
kehitaman karena terbakar api. Sebagian besar beton masih terselimut penuh
namun terdapat sebuah elemen balok dan kolom dengan selimut beton telah
terkelupas. Kerusakan-kerusakan yang ada pada elemen tersebut akan semakin
memprihatinkan bila tidak segera dilakukan perbaikan. Pada elemen balok dan
kolom tersebut telah terjadi deformasi terbukti dengan terkelupasnya selimut
beton, menjadi pertanyaan seberapa besar perubahan terhadap struktur apabila
gedung difungsikan kembali. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui kekuatan elemen pasca bakar pada balok dan kolom terdeformasi
sebagai acuan dalam perencanaan kembali gedung yang telah terbakar. Penelitian
yang dilakukan diantaranya adalah mengetahui mutu material pasca bakar yaitu
kuat tekan beton dan kuat tarik baja setelah terbakar sebagai kapasitas untuk
menahan gaya-gaya dalam yang terjadi pada balok dan kolom. Umur pakai suatu
gedung tidaklah mesti berakhir dengan bangunan yang terbengkalai dan tak
terawat, melainkan masih dapat dipakai apabila pada gedung tersebut diperbaiki
dengan teknologi rehabilitasi yang tepat. Hal ini akan diperoleh jika survey atau
investigasi yang dilakukan di lapangan dapat menggambarkan kondisi yang
sebenarnya. Jika melihat ke masa depan, maka akan semakin banyak dijumpai
titik-titik yang memiliki potensi tinggi bagi terjadinya bencana kebakaran, seperti
pada kawasan-kawasan perumahan yang akan semakin padat tingkat huniannya.
Disamping kerugian jiwa dan material, bencana kebakaran juga menyisakan
trauma bagi para korbannya, oleh sebab itu sebisa mungkin bencana ini harus
dihindari.

8
2.3 Keaslian penelitian
Adapun perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah
pada penelitian ini melakukan pengujian kapasitas nyata lantai bangunan (loading
test) untuk mengetahui kualitas perkuatan yang telah dilaksanakan. Metode
perbaikan dan perkuatan pada bangunan ini menggunakan system ijeksi pada
bagian yang retak, jacketing pada komponen yang mengalami kerusakan serta
pergantian/pembetonan ulang pada komponen yang telah mengalami kerusakan
parah. Serta penelitian ini mengacu pada peryaratan SNI 2847:2013. Metode yang
digunakan pada penelitian ini adalah metode analisis data.