Anda di halaman 1dari 9

SURAT KEPUTUSAN

DIREKTUR RSUBUNDA THAMRIN MEDAN


NO: 54/INT/DIR/RSUBT/1114
Tentang
KEBIJAKAN PELAYANAN INSTALASI FARMASI
DI RSU BUNDA THAMRIN MEDAN

DIREKTUR RSU BUNDA THAMRIN MEDAN,

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di


RSU Bunda Thamrin Medan yang berorientasi pada keselamatan
pasien, maka diperlukan Penyelenggaraan Pelayanan Instalasi
Farmasi yang bermutu tinggi.
b. Bahwa untuk meningkatkan mutu pelayanan Farmasi di RSU Bunda
Thamrin Medan, maka diperlukan Kebijakan Instalasi Farmasi
sebagai acuan dalam memberikan pelayanan farmasi yang bermuutu
di RSU Bunda Thamrin Medan.
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
butir a dan b, perlu ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur
RSU Bunda Thamrin Medan tentang Kebijakan PelayananInstalasi
Farmasi di RSU Bunda Thamrin Medan.
Mengingat : 1. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
3. Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1998 tentang Pengamanan
Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan .
4. Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Farmasi.
5. PerMenKes No. 58 tahun 2014 tentang standar pelayanan
kefarmasian di Rumah Sakit.

Memutuskan :
Menetapkan :
Kesatu : Keputusan Direktur RSU Bunda Thamrin Medan Tentang Pemberlakuan
Kebijakan Pelayanan Instalasi Farmasi di RSU Bunda Thamrin Medan.
Kedua : Kebijakan pelayanan Instalasi Farmasi RSU Bunda Thamrin Medan agar
digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan Pelayanan Farmasi di
RSU Bunda Thamrin Medan.
Ketiga : Pelayanan Instalasi Farmasi RSU Bunda Thamrin Medan dalam
Penyelenggaraannya harus sesuai dengan SPO yang berlaku di RSU
Bunda Thamrin Medan.
Keempat : Kepala Instalasi Farmasi wajib mensosialisasikan keputusan ini ke
seluruh bagian terkait di RSU Bunda Thamrin Medan
Kelima : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila dikemudian
hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan diadakan
perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Medan
Pada tanggal : November 2014
Direktur RSU Bunda Thamrin Medan

dr. Teren, M.Kes


Tembusan:
1. Dewan Pengawas
2. Komisaris
3. Arsip
Lampiran Keputusan Direktur RSU BundaThamrin Medan
Nomor : 54/INT/SK/DIR/RSUBT/1114

KEBIJAKAN PELAYANAN INSTALASI FARMASI


RSU BUNDA THAMRIN

1. Pelayanan Instalasi Farmasi di RSU Bunda Thamrin tersedia selama 24 jam.


2. Seorang petugas farmasi mempunyai Surat Izin atau Sertifikat dan terlatih terlebih
dahulu harus melalui proses kredensial untuk memberikan supervisi pada pelayanan
kefarmasian.
3. Manajemen penggunaan obat yang efekif di dalam RSU Bunda Thamrin mengikuti
mulai dari proses :
 Pemilihan
 Perencanaan Kebutuhan
 Pengadaan
 Penerimaan
 Penyimpanan
 Pendistribusian
 Penarikan
 Pemusnahan
 Pengendalian
 Administrasi
4. Pelayanan farmasi klinik meliputi :
a. Pengkajian dan pelayanan resep
b. Penelusuran riwayat penggunaan obat
c. Rekonsiliasi obat
d. Pelayanan informasi obat (PIO)
e. Konseling
f. Visite
g. Pemantauan terapi obat (PTO)
h. Monitoring efek samping obat (MESO)
i. Evaluasi penggunaan obat (EPO)
5. Proses pemilihan obat yang dimasukkan ke dalam formularium berdasarkan pola
penyakit, efektifitas, keamanan, pengobatan berbasis bukti, mutu, harga, ketersediaan di
pasaran dan usulan dokter.
6. Daftar obat atau formularium rumah sakit dibuat berdasarkan proses
kerjasama/kolaboratif yang mempertimbangkan baik kebutuhan dan keselamatan pasien
maupun kondisi ekonomis.
7. Perencanaan kebutuhan Instalasi Farmasi dilakukan berdasarkan pemakaian dengan
mempertimbangkan stok yang tersedia dan perputaran cost atau prinsip ekonomi.
8. Pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
dilakukan dengan cara melakukan pembelian melalui telepon dan email ke distributor
yang telah bekerjasama dengan RSU Bunda Thamrin.
9. Apabila obat yang diresepkan tidak tersedia di farmasi, maka petugas farmasi akan
menghubungi dokter penulis resep untuk mengganti dengan obat yang komposisi dan
kegunaannya sama yang tersedia di farmasi. Apabila dokter penulis resep tidak bersedia
mengganti, maka petugas farmasi akan mencari ke Apotek yang telah bekerja sama
dengan RSU Bunda Thamrin.
10. Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah,
mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak dan surat pesanan dengan
kondisi fisik yang diterima.
11. Kebijakan penyimpanan
 Metode penyimpanan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
disusun berdasarkan bentuk sediaan, alfabetis, stabilitas sediaan. Obat-obat yang
termasuk ke dalam golongan LASA dan high alert disimpan terpisah dari obat-obat
yang lain. Keseluruhan bagian obat tersebut menerapkan prinsip First Expired First
Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO).
 Metode penyimpanan untuk obat narkotika dan psikotropika adalah dengan double
lock yaitu dengan dua pintu dengan kunci yang berbeda lalu dipegang oleh dua
orang yang berbeda. Obat narkotika dan psikotropika disimpan secara terpisah dari
obat yang lainnya.
 Farmasi RSU Bunda Thamrin mempunyai produk nutrisi parenteral dalam bentuk
sediaan jadi. Produk nutrisi parenteral disimpan berdasarkan karateristik setiap
sediaan, yang pada umumnya disimpan di bawah suhu 25oC dan terlindung dari
cahaya.
 Elektrolit pekat disimpan terpisah dari sediaan farmasi lainnya dan diberi tanda
garis merah serta penandaan label high alert.
12. Kebijakan pendistribusian :
 Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dari
gudang ke Instalasi Farmasi dengan menggunakan bukti mutasi.
 Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dari
instalasi farmasi untuk pasien rawat inap disiapkan dalam One Day Dose (ODD).
 Setelah resep disiapkan obat dan alkes segera diantar ke ruangan oleh Petugas
Farmasi
 Untuk terapi baru resep diturunkan oleh perawat ke Instalasi Farmasi dan petugas
farmasi segera menyiapkan obat dan alat kesehatan sesuai resep dan SPK untuk
pemakaian obat sampai malam hari
 Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai untuk
pasien rawat jalan disiapkan berdasarkan resep perseorangan.
 Pendistribusian untuk amprahan ruangan dilakukan sekali seminggu setiap hari
Kamis.
 Pendistribusian amprahan ruangan OK dilakukan setiap hari pada pagi hari pada
pukul 07.30 WIB
13. Pelayanan kefarmasian dalam menyiapkan dan mengeluarkan obat dilakukan didalam
lingkungan yang bersih dan aman sesuai dengan Peraturan pemerintah
No.1204/MENKES/SK/X/2004 tentang persyaratan lingkungan rumah sakit.
14. Penarikan Obat (Recall) dilakukan apabila obat tersebut izin edarnya dicabut oleh Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) atau pabrik asal obat tersebut.
15. Kebijakan pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
yang akan kadaluarsa
 Petugas farmasi melaporkan daftar obat yang akan kadaluarsa di tahun yang sedang
berjalan ke Direktur melalui Ka.Sub.bid penunjang medis setiap bulan.
 Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai tersebut terlebih
dahulu harus dipakai sebelum kadaluarsa.
 Petugas farmasi mengembalikan sediaan farmasi 3 bulan sebelum masa kadaluarsa
ke gudang farmasi agar dapat dilakukan proses retur.
16. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang telah kadaluarsa akan
dilakukan pemusnahan.
17. Kebijakan mengenai pemusnahan Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai:
 Kepala Instalasi Farmasi mencatat daftar obat-obat yang akan dimusnahkan.
 Kepala Instalasi Farmasi melaporkan ke direktur dan pihak terkait yaitu Dinas
Kesehatan Kota, Dinas Kesehatan Propinsi dan BPOM Propinsi Sumatera Utara.
18. Pengendalian dilakukan oleh Instalasi Farmasi bersama dengan Panitia Farmasi dan
Terapi (PFT) tentang obat baru yang ditambahkan dalam formularium, memonitoring
keamanan dan efikasi obat.
19. Administrasi adalah proses pencatatan dan pelaporan secara periodik terhadap kegiatan
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dalam
periode waktu tertentu (bulanan dan tahunan).
20. Pengkajian resep adalah proses penilaian kelayakan/kelengkapan resep untuk penilaian
persyaratan administrasi, persyaratan farmasi, persyaratan klinis, yang dilakukan oleh
Apoteker atau Tenaga Kefarmasian yang sudah dilatih.
21. Penelusuran riwayat penggunaan obat merupakan proses untuk mendapatkan informasi
mengenai seluruh obat/sediaan farmasi lain yang pernah dan sedang digunakan, riwayat
pengobatan diperoleh dari wawancara atau data rekam medik/pencatatan penggunaan
obat pasien.
22. Kebijakan rekonsiliasi obat
 Rekonsiliasi obat dilakukan secara kolaborasi antara Dokter, Apoteker dan Perawat
disaat pertama kali pasien masuk ke rumah sakit dan sebelum pemberian obat
pertama kalinya.
 Jika obat-obat tersebut tidak dapat digunakan oleh pasien di rumah sakit akan
disimpan di lemari karantina farmasi.
23. Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan dan pemberian
informasi dan rekomendasi terkait obat yang dilakukan oleh Apoteker/Tenaga Teknis
Kefarmasian yang sudah dilatih kepada Dokter, Apoteker, Perawat, Profesi kesehatan
lainnya serta pasien dan pihak lain di luar Rumah Sakit.
24. Konseling Obat adalah suatu aktivitas pemberian nasehat atau saran terkait Terapi Obat
dari Apoteker kepada pasien dan/atau keluarganya.
25. Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan Apoteker
secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan yang terlibat dalam asuhan pasien.
26. Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan untuk
memastikan Terapi Obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien.
27. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan pemantauan setiap respon
terhadap obat yang tidak dikehendaki, yang terjadi pada dosis lazim yang digunakan
pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnose dan terapi.
28. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) merupakan program evaluasi penggunaan obat yang
terstruktur dan berkesinambungan secara kualitatif dan kuantitatif.
29. Kriteria menambah dan mengurangi obat dalam formularium, yaitu:
a. Kriteria Menambah Obat Dalam Formularium
Pemilihan obat dalam formularium RSU Bunda Thamrin, didasarkan atas kriteria
berikut:
 Jumlah obat dengan nama generik yang sama mengikuti rasio sebagai berikut:
1 (satu) obat generik; 1 (satu) obat original; dan 3 (tiga) obat me too
 Memiliki rasio manfaat- risiko yang paling menguntungkan penderita
 Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavaibilitas
 Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
 Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
 Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien
 Memiliki rasio manfaat-biaya yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan
tidak langsung
 Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang serupa,
pilihan dijatuhkan pada:
- Obat yang sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah
- Obat dengan sifat farmakokinetik yang paling menguntungkan
- Obat yang stabilitasnya lebih baik
- Mudah diperoleh
- Obat yang telah dikenal
b. Kriteria mengurangi obat dalam formularium
 Obat-obat yang jarang digunakan (slow moving) akan dievakuasi
 Obat-obat yang tidak digunakan (death stok) setelah waktu 3 (tiga bulan) maka
akan diingatkan kepada dokter-dokter terkait mengggunakan obat tersebut.
Apabila pada waktu 3 (tiga) bulan berikutnya tetap tidak kurang digunakan,
maka obat tersebut dikeluarkan dari buku formularium.
 Obat-obat yang dalam proses penarikan oleh pemerintah/ BPOM atau dari
pabrikan
30. Kebijakan yang menetapkan petugas yang berwenang memberikan obat
 Penyerahan obat kepada pasien dilakukan oleh petugas farmasi yang memiliki Surat
Tanda Registrasi Tenaga Teknik Kefarmasian (STRTTK) dan Surat Izin Kerja
(SIK) untuk Tenaga Teknik Kefarmasian, Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA)
dan Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) untuk Apoteker.
 Penyerahan obat kepada pasien dilakukan oleh petugas yang berpengalaman,
pelayanan obat rawat jalan dilakukan oleh petugas farmasi sedangkan di rawat inap
dilakukan oleh perawat.

31. Kebijakan pelabelan digunakan dalam menyiapkan obat dan bahan kimia
 Semua obat yang dikeluarkan dari kemasan aslinya harus diberi label nama obat,
dosis, tanggal penyiapan, tanggal kadaluarsa, dan identitas pasien.
 Bahan kimia yang digunakan untuk menyiapkan obat diberi tanda simbol bahan
kimia berbahaya pada kemasan dan di lemari tempat penyimpanan.
32. Kebijakan pengawasan dan penggunaan obat di rumah sakit
 Pengawasan dan penggunaan obat di rumah sakit dilakukan oleh praktisi pelayanan
kesehatan dengan cara stok opname setiap sebulan sekali, inspeksi berkala dan
pemasangan cctv.
 Dokter, perawat dan praktisi kesehatan lainnya bekerja sama untuk memantau
pasien yang mendapat obat untuk mengevaluasi efek pengobatan terhadap gejala
pasien atau penyakitnya.
33. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang digunakan oleh
pasien rawat inap harus melalui Instalasi Farmasi RSU Bunda Thamrin.
34. Kebijakan Tentang Obat Emergensi :
 Obat emergensi disediakan di setiap ruang perawatan untuk memudahkan
pelayanan pada saat keadaan emergensi dan harus selalu dalam keadaan terkunci.
 Obat emergensi berada dalam troli emergensi hanya digunakan pada keadaan
emergensi dan setiap kali troli emergensi dibuka maka perawat ruangan harus
melaporkan kepada petugas farmasi agar mengganti obat dalam waktu 2 jam setelah
tindakan dilakukan.
 Petugas farmasi harus memeriksa stok troli emergensi setiap 6 bulan sekali.
 Obat emergensi yang rusak dan tanggal kadaluarsa 6 bulan lagi, maka obat harus
segera diganti.
35. Petugas farmasi setiap bulan melakukan inspeksi ke setiap unit untuk memeriksa stok
ruangan
36. Waktu tunggu pelayanan obat sediaan jadi ≤ 15 menit sedangkan untuk obat racikan
≤ 45 menit.
37. Pelaporan obat narkotika dan psikotropika dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Medan
dengan tembusan ke Badan POM paling lambat tanggal 10 setiap bulannya.
38. Instalasi Farmasi RSU Bunda Thamrin tidak memiliki bahan radioaktif dan obat sampel.

Ditetapkan di : Medan

Tanggal : November 2014


Direktur RSU Bunda Thamrin Medan

dr. Teren, M.Kes


Tembusan:
1. DewanPengawas
2. Komisaris
3. Arsip