Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jamur merupakan salah satu penyebab infeksi pada penyakit terutama


di negara-negara tropis. Penyakit kulit akibat jamur merupakan penyakit kulit
yang sering muncul di tengah masyarakat Indonesia. Iklim tropis dengan
kelembaban udara yang tinggi di Indonesia sangat mendukung pertumbuhan
jamur. Banyaknya infeksi jamur juga didukung oleh masih banyaknya
masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan sehingga
masalah kebersihan lingkungan, sanitasi dan pola hidup sehat kurang menjadi
perhatian dalam kehidupan sehari hari masyarakat Indonesia (Hare, 1993).
Jamur yang dapat menyebabkan infeksi antara lain Candida albicans
dan Aspergillus sp. Penyakit yang disebabkan oleh Candida dikenal dengan
kandidiasis. Kandidiasis adalah suatu penyakit jamur yang bersifat akut dan
sub akut yang disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida
albicans dan dapat mengenai kulit mulut, vagina, kuku, kulit, bronki, atau
paru–paru. Penyakit ini ditemukan diseluruh dunia dan dapat menyerang
semua umur baik laki–laki maupun perempuan (Kuswadji, 1987).
Aspergillus merupakan mikroorganisme eukariot yang saat ini diakui
sebagai satu diantara beberapa makhluk hidup yang memiliki daerah
penyebaran paling luas serta berlimpah di alam, selain itu jenis kapang ini
juga merupakan kontaminan umum pada berbagai substrat di daerah tropis
maupun subtropis. (Dina, K. 2016). Aspergillus sp dapat menghasilkan
beberapa mikotoksin. Salah satunya adalah aflatoksin. Aflatoksin sendiri
merupakan segolongan senyawa mikotoksin, toksin yang berasal dari fungi
yang dikenal mematikan dan karsinogenik bagi manusia dan hewan.
Tingginya kandungan aflatoksin pada makanan atau pakan akan berbuntut
keracunan (Gandahusada, dkk., 2006). Penyakit yang di sebabkan oleh
Aspergillus sp adalah aspergillosis. Lebih dari 200 spesies Aspergillus telah
diidentifikasi, dan Aspergillus fumigatus merupakan penyebab infeksi pada
manusia yang terbanyak dimana lebih dari 90% menyebabkan invasive dan
non-invasive aspergillosis (Lubis, 2008).
B. Rumusan Masalah

1. Apa itu jamur Candida sp?


2. Apa itu jamur Aspergillus sp?
3. Bagaimana cara penanganan sampel Candida sp?
C. Tujuan

1. Untuk mengetahui tentang jamur Candida sp.


2. Untuk mengetahui tentang jamur Aspergillus sp.
3. Untuk mengetahui tentang cara penanganan sampel Candida sp.
D. Manfaat

1. Agar mahasiswa mengetahui tentang jamur Candida sp.


2. Agar mahasiswa mengetahui tentang jamur Aspergillus sp.
3. Agar mahasiswa mengetahui tentang cara penanganan sampel Candida sp.
BAB II

ISI

A. Candida sp.

Candida albicans adalah suatu ragi lonjong, bertunas yang


menghasilkan pseudomiselium baik dalam biakan maupun dalam jaringan
maupun eksudat. Ragi ini adalah anggota flora normal selaput mukosa saluran
pernafasan, saluran pencernaan, dan genitalia wanita. Pada genitalis wanita
Candida albicans menyebabkan vulvovaginitis yang menyerupai sariawan
tetapi menimbulkan iritasi, gatal yang hebat, dan pengeluaran sekret.
Hilangnya pH asam merupakan predisposisi timbulnya vulvovaginitis
kandida. Dalam keadaan normal pH yang asam dipertahankan oleh bakteri
vagina (Jawetz et al., 1986). Candida albicans dapat tumbuh secara optimum
pada pH 4, tetapi juga dapat tumbuh antara pH 3-7 (Anonim, 2010).
1. Klasifikasi Candida sp.
Division : Thallophyta
Subdivisio : Fungi
Classis : Deuteromycetes
Ordo : Moniliases
Familia : Cryptococcaceae
Genus : Candida
Spesies : Candida albicans (Frobisher, 1983)
2. Morfologi dan Identifikasi
Pada medium agar atau dalam 24 jam pada suhu 27˚C atau
suhu ruangan, spesies candida menghasilkan koloni lunak berwarna
krem dengan bau seperti ragi. Setelah inkubasi dalam serum selama
sekitar 90 menit pada suhu 27˚C, sel ragi Candida albicans mulai
membentuk hifa sejati, dan pada medium yang kurang nutrisinya.
Candida albicans menghasilkan klomidospora sferis yang besar (Brooks et
al., 2008).
Jamur golongan Candida yang patogen dan merupakan
penyebab kandidiasis adalah Candida albicans. Penyakit kandidiasis
banyak dihubungkan dengan berbagai faktor, seperti keadaan kulit yang
terus lembab, pemakaian obat-obat antibiotik, steroid dan sitostatika,
perubahan fisiologis tubuh pada kehamilan, penyakit-penyakit menahun
dan kelemahan umum, gangguan endokrin, dan obesitas serta keadaan
malnutrisi (Harahap, 2000).
3. Infeksi yang disebabkan
Candida albicans menimbulkan suatu keadaan yang disebut
kandidiasis, yaitu penyakit pada selaput lendir, mulut, vagina dan
saluran pencernaan (Pelcar & Chan, 1986). Infeksi terbanyak secara
endogen, karena jamur telah ada di dalam tubuh penderita, di dalam
berbagi organ, terutama di dalam usus. Infeksi biasanya terjadi bila ada
faktor predisposisi. Oleh karena itu Candida albicans pada hakikatnya
dimasukkan sebagian jamur oportinis (Suprihatin, 1982).
Candida albicans ditemukan dalam jumlah besar pada saluran
pencernaan setelah pemberian antibiotik oral, misal tetrasiklin, tetapi hal
ini biasanya tidak disertai gejala-gejala. Candida albicans dapat
menimbulkan serangkaian penyakit pada beberapa lokasi, antara lain :
a. Mulut
Pada infeksi mulut (sariawan) terdapat selaput lendir di pipi
dan tampak sebagai bercak-bercak putih yang sebagian besar terdiri
dari pseudomiselium dan epitel terkelupas dari selaput lendir, hal ini
terutama terjadi pada bayi.
b. Genitalia wanita
Vulvovaginitis menyerupai sariawan tetapi menimbulkan
iritasi, gatal yang hebat dan pengeluaran sekret.
c. Kulit
` Infeksi kulit terutama pada bagian-bagian yang basah, hangat
seperti ketiak, lipatan paha, skrotum atau lipatan-lipatan di bawah
payudara. Infeksi paling sering terjadi pada orang gemuk dan
penderita diabetes.
d. Kuku
Penebalan dan alur transversal pada kuku yang ditandai dengan
rasa sakit, bengkak kemerahan pada lipatan kuku, menyerupai
peronikhia progenils, dapat mengakibatkan kuku tanggal.
e. Paru-paru dan organ lain
Infeksi Candida dapat menyerupai invasi sekunder paru-paru,
ginjal, dan organ-organ lain dimana terdapat penyakit sebelumnya.
Pada penderita leukemia yang tidak terkendali dan penderita yang
mengalami penekanan imun atau pembedahan, lesi-lesi yang
disebabkan oleh Candida dapat terjadi pada banyak organ.
f. Kandidiasis mukokutan menahun
Kelainan infeksi ini merupakan tanda kegagalan kekebalan
sekunder (Jawetz et al., 1986).
4. Manifestasi dan gejala klinis
Kandidiasis oral memberikan gejala bercak berwarna putih yang
konfluen dan melekat pada mukosa oral serta faring, khususnya di dalam
mulut dan lidah. Kandidiasis kulit ditemukan pada daerah intertriginosa
yang mengalami maserasi serta menjadi merah, paronikia, balanitis,
ataupun pruritus ani, di daerah perineum dan skrotum dapat disertai
dengan lesi pustuler yang diskrit pada permukaan dalam paha.
Kandidiasis vulvovagina biasanya menyebabkan keluhan gatal,
keputihan, kemerahan di vagina, disparenia, disuria, pruritus, terkadang
nyeri ketika berhubungan seksual atau buang air kecil, pembengkakan
vulva dan labia dengan lesi pustulopapuler diskrit, dan biasanya gejala
memburuk sebelum menstruasi.
Kandidiasis mukokutaneus kronik atau kandidiasis granulomatous
secara khas ditemukan sebagai lesi kulit sirkumkripta yang mengalami
hiperkeratosis, kuku jari mengalami distrofi serta hancur, atau alopesia
parsial pada kulit kepala. Gejala lain meliputi epidermofitosis kronik,
displasia gigi, hipofungsi kelenjar paratiroid, adrenal, serta tiroid.
Kandidiasis esofagus memberikan gejala ulserasi kecil, dangkal, soliter
hingga multipel cenderung terdapat pada bagian sepertiga distal yang
menyebabkan keluhan disfagia atau nyeri substernal. Lesi yang bersifat
asimtomatik dapat terjadi pada pasien leukemia sebagai port d’entre untuk
kandidiasis diseminata. Lesi asimtomatik dan benigna juga terjadi pada
traktus urinarius berupa abses renal atau kandidiasis kandung kemih.
Kandida yang menyebar secara hematogen disertai gejala demam
tinggi disebabkan oleh abses retina yang meluas ke vitreus. Pasien dapat
mengeluh nyeri orbital, penglihatan kabur, skotoma, atau opasitas yang
melayang dan menghalangi lapang pandang penglihatan. Kandidiasis
pulmonalis dapat terlihat dengan foto toraks dengan gambaran infiltrat
noduler yang samar atau difus.
5. Diagnosa
Diagnosis kandidiasis ditentukan berdasarkan gejala klinis yang
menyebar dan tidak mudah dibedakan dari infectious agent yang telah ada.
Diagnosis laboratorium dapat dilakukan melalui pemeriksaan spesimen
mikroskopis, biakan, dan serologi. Tujuan pemeriksaan laboratorium
adalah untuk menemukan C. albicans di dalam bahan klinis baik dengan
pemeriksaan langsung maupun dengan biakan. Bahan pemeriksaan
bergantung pada kelainan yang terjadi, dapat berupa kerokan kulit atau
kuku, dahak atau sputum, sekret bronkus, urin, tinja, usap mulut, telinga,
vagina, darah, atau jaringan. Cara mendapatkan bahan klinis harus
diusahakan dengan cara steril dan ditempatkan dalam wadah steril, untuk
mencegah kontaminasi jamur dari udara.
Identifikasi spesies dapat dilakukan dengan uji morfologi dan
kultur jamur untuk spesifikasi dan uji sensitivitas. Pemeriksaan ini tidak
disarakan untuk digunakan sebagai diagnosis karena tingginya kolonisasi.
Diagnosis pada lesi Kandida juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan
histologi terhadap sayatan spesimen hasil biopsi.
6. Pengobatan
Pengobatan terhadap penderita kandidiasis biasanya meliputi
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Pemberian obat anti jamur
1) Obat derivate poli-en
a) Nistatin
Obat topikal berbentuk krem atau salep dipakai pada
kandidiasis kulit, sebagai suspensi pada kandidiasis mulut dan
sebagai tablet vagina pada vaginitis. Tablet oral dipakai untuk
mengatasi enteritis dan menghilangkan Candida dari usus dan
dengan demikian mencegah kemungkinan infeksi ulang pada
kandidiasis bentuk lainnya.
b) Amfoterisin B
Bentuk kristalnya dipakai sebagai obat topikal baik
pada kandidiasis kulit maupun selaput lendir, sebagai obat
tunggal atau dikombinasi dengan antibiotik, tanpa
menimbulkan reaksi sampingan. Tablet oral dipakai untuk
mengatasi infeksi saluran pencernan dan untuk menghilangkan
sumber infeksi yang dapat menyebabkan infeksi tulang.
c) Pimarisin atau natamisin
Kerja obat ini sebagai obat topikal misalnya sebagai
tablet vagina terhadap vaginitis.
d) Trikomisin
Obat ini berkhasiat sebagai obat topikal terhadap
kandidiasis kulit dan selaput lendir, tanpa menimbulkan reaksi
sampingan.
2) Obat 5-fluorositosin (5-FC)
Obat ini mudah larut dalam air dengan demikian mudah
diserap oleh usus, maka pemberian secara oral dapat berkhasiat
terhadap infeksi sistemik.
3) Obat derivat imidazole
a) Mikonazol
Penyerapan obat oleh usus sangat rendah, maka
penggunaan tablet oral ialah untuk mengatasi kandidiasis usus
atau membersihkan usus dari Candida. Sebagai obat topikal,
baik terhadap kandidiasis kulit atau selaput lendir didapat hasil
yang baik.
b) Klotrinazol
Pemberian topikal memberikan baik pada pengobatan
kandidiasis kulit maupun selaput lendir.
c) Ekonazol
Pemberian topikal memberikan hasil yang baik pada
kandidiasis kulit dan vaginitis.
d) Ketokonazol
Merupakan obat yang dapat dipakai untuk mengatasi
infeksi sitemik, karena obat ini dapat diserap oleh usus dengan
baik. Efek samping yang dapat timbul berupa gangguan fungsi
alat pencernaan ringan dan rasa gatal bila diberikan dalam
waktu yang lama.

B. Aspergillus sp

Aspergillus sp terdapat di alam sebagai saprofit, tumbuh di daerah


tropik dengan kelembaban yang tinggi. Aspergillus mampu memproduksi
mikotoksin, karena memiliki gen yang mampu memproduksinya. Habitat asli
Aspergillus dalam tanah, kondisi yang menguntungkan meliputi kadar air
yang tinggi (setidaknya 7%) dan suhu tinggi. Aspergillus memiliki tangkai-
tangkai panjang (conidiophores) yang mendukung kepalanya yang besar
(vesicle). Di kepala ini terdapat spora yang membangkitkan sel hasil dari
rantai panjang spora. Aspergillus mampu tumbuh pada suhu 37°C. (Pratiwi,
2008).
1. Klasifikasi
Phylum : Ascomycota
Classis : Ascomycetes
Ordo : Eurotiales
Famili : Trichocomaceae
Genus : Aspergillus
Spesies : Aspergillus sp
2. Morfologi
Aspergillus mempunyai hifa selebar 2,5-8 µm, bercabang seperti
pohon atau kipas dan miselium bercabang, sedangkan hifa yang muncul
diatas permukaan merupakan hifa fertil, koloninya berkelompok,
konidiofora berseptat atau nonseptat yang muncul dari sel kaki, pada
ujung hifa muncul sebuah gelembung, pada sterigma muncul konidium-
konidium yang tersusun berurutan mirip bentuk untaian mutiara,
konidium–konidium ini berwarna (hitam, coklat, kuning tua, hijau) yang
memberi warna tertentu pada jamur.

3. Identifikasi
Aspergillus sp dapat kelompokkan dalam beberapa golongan untuk
memudahkan dalam identifikasi. Beberapa golongan tersebut antara lain:
a. Aspergillus Flavus
Jamur dalam grup ini sering menyebabkan kerusakan
makanan. Koloni memiliki corak, kuning hijau atau kuning abu-abu.
Konidiofornya tak berwarna, kasar, bagian atas agak bulat serta
konidia kasar dengan bermacam-macam warna.
b. Aspergillus Fumigatus
Aspergillus fumigatus adalah saprotroph atau saprofit yang
tersebar luas di alam. Penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh jamur
ini adalah Aspergilosis Bronkopulmoner Alergika (ABPA), Chronic
Necrotizing Pneumonia Aspergillosis (CNPA).

c. Aspergillus Niger
Konidia atas berwarna hitam, hitam kecoklatan coklat violet.
Bagian atas membesar dan membentuk glubosa. Konidiofornya halus
tak berwarna atau berwarna coklat kuning. Vesikel berbentuk glubosa
dengan bagian atas membesar bagian ujung seperti batang kecil.
konidia kasar.
d. Aspergillus Terreus
Fungi ini mempunyai konidia di bagian atas berwarna putih
konidiofornya kasar, berdinding halus tak berwarna. Konidia
berbentuk elips, halus dan berdinding halus.

4. Infeksi yang disebabkan


Aspergillus sp menyebabkan penyakit aspergillosis. Ada tujuh jenis
aspergillosis yaitu:
a. Aspergilosis Bronkopulmoner Alergika (ABPA)
Bentuk paling ringan dari aspergillosis dan biasanya
mempengaruhi orang-orang dengan asma atau fibrosis kistik (kondisi
warisan di mana paru-paru bisa terpasang dengan lendir). Kondisi ini
biasanya sebagai akibat dari reaksi tubuh terhadap aspergillus.
b. Aspergilloma
Aspergilloma adalah tempat jamur memasuki paru-paru dan
kelompok bersama untuk membentuk simpul padat jamur, yang
disebut bola jamur. Aspergilloma adalah kondisi jinak yang mungkin
pada awalnya tidak menimbulkan gejala, tapi seiring, waktu kondisi
yang mendasarinya dapat memburuk dan mungkin menyebabkan:
Batuk darah (hemoptitis), Mengi, Sesak napas, Penurunan berat badan,
Kelelahan.
c. Chronic Necrotizing Pneumonia Aspergillosis (CNPA)
Penyebaran, infeksi kronis lambat paru-paru. Hal ini biasanya
hanya mempengaruhi orang-orang dengan kondisi paruparu yang
sudah ada, atau orangorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh
yang lemah.
d. Aspergillosis Paru Invasif (IPA)
Aspergillosis paru invasif (IPA) adalah infeksi umum pada
orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah karena sakit atau
mengambil imunosupresan. Ini adalah bentuk paling serius dari
aspergillosis yang dimulai di paru-paru yang kemudian menyebar
dengan cepat ke seluruh tubuh.
e. Aspergillosis invasif Sinusitis
Sinusitis yang tidak responsive terhadap terapi pada pasien
polip nasi seringkali ditemukan disebabkan oleh Aspergillus spp., dan
bisa disertai ABPA. Histologi dan imunologinya sangat mirip dengan
ABPA. Bentuk ”semi-invasif” yang terlihat pada pasien yang
mengalami penurunan daya tahan tubuh yang ringan, khususnya bagi
mereka yang memiliki riwayat penyakit paru. Diabetes mellitus,
sarkoidosis dan terapi dengan glukokortikoid dosis rendah dapat
menjadi faktor predisposisi lain. Gejala yang lazim termasuk demam,
batuk dan produksi sputum; presipitasi serum antibodi positif juga
dapat dideteksi (Singh and Bhalodiya, 2005).
f. Aspergillosis Diseminata
Penyebaran hematogenik ke organ dalam lain dapat terjadi,
terutama pada pasien dengan penurunan daya tahan tubuh yang berat
atau ketagihan obat intravena. Abses dapat terjadi di otak (aspergillosis
otak), ginjal (aspergillosis ginjal), jantung (endokarditis, miokarditis),
tulang (osteomielitis), saluran pencernaan. Lesi mata (keratitis
mikotik, endoftalmitis dan aspergilloma orbital) dapat juga terjadi,
baik sebagai hasil dari penyebaran atau setelah trauma setempat atau
pembedahan.
g. Aspergillosis Kutaneus
Aspergillosis kutaneus adalah manifestasi yang jarang,
biasanya merupakan hasil penyebaran dari infeksi paru primer pada
pasien yang mengalami penurunan daya tahan tubuh. Meskipun
demikian, kasus aspergillosis kutaneus primer juga terjadi, biasanya
sebagai hasil dari trauma atau kolonisasi. Lesi bermanifestasi sebagai
papul yang eritematosa atau makula dengan nekrosis sentral yang
progresif.
5. Gejala Klinis
Tanda-tanda dan gejala aspergillosis bervariasi. Berikut adalah di
antaranya:
a. Reaksi alergi
Beberapa orang dengan asma atau cystic fibrosis akan
mengalami reaksi alergi saat terpapar jamur aspergillus. Tanda dan
gejala dari kondisi yang dikenal sebagai alergi bronchopulmonary
aspergillosis, meliputi: demam, batuk yang disertai darah dan lendir,
memburuknya asma.
b. Kumpulan serat jamur
Kumpulan serat jamur dapat terbentuk di paru-paru yang
memiliki rongga. Jenis aspergillosis ini disebut aspergilloma. Rongga
paru-paru dapat terjadi pada orang yang mengalami penyakit paru-
paru serius seperti emfisema, tuberkulosis, dan sarcoidosis.
Aspergilloma adalah kondisi jinak yang pada awalnya mungkin tidak
menimbulkan gejala, tapi seiring waktu menyebabkan: batuk yang
sering berdarah, sesak napas, penurunan berat badan, kelelahan.
c. Infeksi
Bentuk paling parah aspergillosis disebut aspergillosis paru
invasif. Kondisi ini terjadi ketika infeksi menyebar dengan cepat dari
paru-paru melalui aliran darah ke otak, jantung, ginjal, atau kulit.
Aspergillosis paru invasif umumnya terjadi pada orang dengan sistem
kekebalan tubuh melemah karena penyakit tertentu atau saat menjalani
kemoterapi. Tanda dan gejala tergantung pada organ yang terkena,
tetapi secara umum meliputi: demam dan menggigil, batuk berdarah,
pendarahan parah dari paru-paru, sesak napas, nyeri dada dan nyeri
sendi, mimisan, pembengkakan wajah pada satu sisi, lesi kulit (lecet-
lecet pada kulit).
Hemoptisis adalah gejala yang paling umum dari aspergilloma.
Gejala lain termasuk suhu tinggi dan batuk. Gejala CNA mencakup
batuk terus-menerus yang membawa lendir, hemoptisis, suhu tinggi,
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, keringat malam,
dan badan terasa tidak enak. Gejala IPA dapat bervariasi tergantung
pada keberadaan infeksi menyebar dalam tubuh. Mungkin termasuk
suhu tinggi, batuk yang membawa lendir, hemoptisis, menginitis, nyeri
dada, dangkal, napas cepat, sakit kepala, dan kelelahan. Kondidi buruk
aspergillosis dapat menyebar melalui aliran darah untuk menyebabkan
kerusakan organ luas. Gejalanya meliputi demam, menggigil, shock,
delirium, kejang, dan pembekuan darah, dapat mengem-bangkan gagal
ginjal, gagal hati (menyebabkan penyakit kuning), dan kesulitan
bernapas, kematian dapat terjadi dengan cepat. Aspergillosis dari
saluran telinga menyebabkan gatal dan kadang-kadang nyeri. Cairan
dapat terkuras semalaman dari telinga, sehingga meninggalkan noda
diatas bantal.
Sebuah bola jamur di paru-paru dapat menyebabkan gejala dan
dapat ditemukan hanya dengan sinarX dada, atau mungkin
menyebabkan berulang batuk darah, nyeri dada, dan kadang-kadang
parah, bahkan fatal, pendarahan. Infeksi Aspergillus invasif cepat di
paru-paru sering menyebabkan batuk, demam, nyeri dada, dan
kesulitan bernapas. Selain gejala tersebut di atas, sebuah X-ray atau
computerized tomography (CT) scan daerah yang terinfeksi
memberikan petunjuk untuk membuat diagnosis. Bila mungkin, dokter
mengirimkan sampel material yang terinfeksi ke laboratorium untuk
mengkonfirmasi identifikasi jamur.

6. Tes dan Diagnosa


Mendiagnosis infeksi yang disebabkan oleh jamur aspergillus bisa
sulit dan tergantung pada jenis infeksi aspergillus. Aspergillus terkadang
ditemukan dalam air liur dan dahak orang sehat. Sulit untuk membedakan
aspergillus dari jamur lainnya di bawah mikroskop dan gejala infeksi
biasanya mirip dengan kondisi seperti tuberkulosis. Untuk
mengkonfirmasi kondisi, dokter mungkin melakukan beberapa tes seperti:
a. Tes olah gambar
Rontgen dada atau CT scan dapat mengungkapkan massa
jamur (aspergilloma), serta tanda karakteristik invasif dan alergi
aspergilosis bronkopulmoner.
b. Tes sekresi pernapasan
Dalam tes ini sampel dahak akan diwarnai dengan zat pewarna
dan diperiksa untuk mengidentifikasi adanya filamen aspergillus.
Spesimen ini kemudian ditempatkan dalam suatu tempat yang
mendorong pertumbuhan jamur untuk membantu memastikan
diagnosa.
c. Tes darah dan jaringan
Tes kulit, dahak dan air liur dapat membantu dalam
mengkonfirmasi alergi aspergilosis bronkopulmoner. Untuk tes kulit,
sedikit antigen aspergillus disuntikkan ke dalam kulit lengan. Jika
darah memiliki antibodi terhadap jamur, kulit akan terasa mengeras
dan muncul benjolan. Tes darah dapat menunjukkan kadar antibodi
tertentu yang menunjukkan respon alergi.
d. Biopsi
Dalam beberapa kasus, memeriksa sampel jaringan dari paru-
paru atau sinus di bawah mikroskop mungkin diperlukan untuk
mengkonfirmasi diagnosis aspergillosis invasif (Agarwal, et al., 2013).

7. Perawatan dan Pengobatan


Perawatan dan pengobatan aspergillosis dapat dilakukan dengan cara:
a. Observasi
Aspergillomas tunggal biasanya tidak membutuhkan
pengobatan, dan obat-obatan biasanya tidak efektif dalam mengobati
massa jamur ini. Aspergillomas yang tidak menimbulkan gejala
mungkin diperiksa secara ketat dengan bantuan rontgen dada. Jika
kondisi terus berkembang, penggunaan obat anti-jamur mungkin
disarankan.
b. Kortikosteroid oral
Tujuan mengobati alergi aspergilosis bronkopul-moner adalah
untuk mencegah asma yang sudah ada atau memburuknya cystic
fibrosis. Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan
kortikosteroid oral. Obat anti-jamur tidak membantu untuk alergi
aspergilosis bronkopulmoner, tetapi dapat dikombina-sikan dengan
kortikosteroid untuk mengurangi dosis steroid dan meningkatkan
fungsi paru-paru.
c. Obat anti jamur
Obat ini adalah pengobatan standar untuk aspergillosis paru
invasif. Secara historis, obat yang sering digunakan adalah amfoterisin
B, tetapi obat yang lebih baru vorikonazol (Vfend) kini lebih disukai
karena tampaknya menjadi lebih efektif dan mungkin memiliki efek
samping yang lebih sedikit. Semua obat anti-jamur dapat
menyebabkan masalah serius seperti kerusakan hati atau ginjal. Obat
juga dapat berinteraksi dengan obat lain jika diberikan kepada orang-
orang dengan sistem imun lemah.
d. Operasi
Karena obat anti-jamur tidak cukup untuk mengatasi
aspergillomas yang parah, operasi untuk mengangkat massa jamur
adalah pilihan pengobatan pertama yang diperlukan ketika terjadi
pendarahan di paru-paru. Karena operasi sangat berisiko, dokter
mungkin menyarankan embolisasi sebagai gantinya. Dalam
embolisasi, ahli radiologi akan mengulir kateter kecil ke dalam arteri
yang memasok darah ke rongga yang berisi bola jamur dan
menyuntikkan bahan yang menyumbat arteri. Meskipun prosedur ini
dapat menghentikan pendarahan masif, tetapi pendarahan bisa saja
terulang. Embolisasi umumnya dianggap sebagai pengobatan
sementara (Barnes and Marr,2006).

C. Cara Penanganan Sampel Candida Sp


1. Pemeriksaan Langsung Candida albicans dengan Larutan KOH
Pemeriksaan langsung dengan Larutan KOH dapat berhasil bila
jumlah jamur cukup banyak. Keuntungan pemeriksaan ini dapat dilakukan
dengan cara sederhana, dan terlihat hubungan antara jumlah dan bentuk
jamur dengan reaksi jaringan. Pemeriksaan langsung harus segera
dilakukan setelah bahan klinis diperoleh sebab C. albicans berkembang
cepat dalam suhu kamar sehingga dapat memberikan gambaran yang tidak
sesuai dengan keadaan klinis. Gambaran pseudohifa pada sediaan
langsung/apus dapat dikonfirmasi melalui pemeriksaan kultur, merupakan
pilihan untuk menegakkan diagnosis kandidiasis superfisial. Bentuk
pseudohifa pada pewarnaan KOH dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.

2. Pemeriksaan Langsung Candida albicans dengan Pewarnaan Gram


Pemeriksaan langsung dengan pewarnaan Gram sedikit membutuhkan
waktu dibandingkan pemeriksaan dengan KOH. Pemeriksaan ini dapat
melihat jamur C. albicans berdasarkan morfologinya, tetapi tidak dapat
mengidentifikasi spesiesnya. Pemulasan dengan pewarnaan Gram dapat
disimpan untuk penilaian ulangan. Pewarnaan Gram memperlihatkan
gambaran seperti sekumpulan jamur dalam bentuk blastospora, hifa atau
pseudohyfae, atau campuran keduanya. Sel jaringan seperti epitel,
leukosit, eritrosit, dan mikroba lain seperti bakteri atau parasit juga dapat
terlihat dalam sediaan. Jamur muncul dalam bentukan budding yeast cells
dan pseudomycelium juga terlihat pada sebagian besar sediaan seperti
pada Gambar 2.
3. Pemeriksaan Kultur pada Candida albicans
Media kultur yang dipakai untuk biakan C. albicans adalah Sabouraud
dextrose agar/SDA dengan atau tanpa antibiotik,5-6 ditemukan oleh
Raymond Sabouraud (1864-1938) seorang ahli dermatologi
berkebangsaan Perancis. Pemeriksaan kultur dilakukan dengan mengambil
sampel cairan atau kerokan sampel pada tempat infeksi, kemudian
diperiksa secara berturutan menggunakan Sabouraud’s dextrose broth
kemudian Sabouraud’s dextrose agar plate. Pemeriksaan kultur darah
sangat berguna untuk endokarditis kandidiasis dan sepsis. Kultur sering
tidak memberikan hasil yang positif pada bentuk penyakit diseminata
lainnya. Sabouraud’s dextrose broth/SDB berguna untuk membedakan C.
albicans dengan spesies jamur lain seperti Cryptococcus, Hasenula,
Malaesezzia. Pemeriksaan ini juga berguna mendeteksi jamur kontaminan
untuk produk farmasi. Pembuatan SDB dapat ditempat dalam tabung atau
plate dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24-48 jam, setelah 3 hari
tampak koloni C. albicans sebesar kepala jarum pentul, 1-2 hari kemudian
koloni dapat dilihat dengan jelas. Koloni C. albicans berwarna putih
kekuningan, menimbul di atas permukaan media, mempunyai permukaan
yang pada permulaan halus dan licin dan dapat agak keriput dengan bau
ragi yang khas. Pertumbuhan pada SDB baru dapat dilihat setelah 4-6
minggu, sebelum dilaporkan sebagai hasil negatif. Jamur dimurnikan
dengan mengambil koloni yang terpisah, kemudian ditanam seujung jarum
biakan pada media yang baru untuk selanjutnya dilakukan identifikasi
jamur. Pertumbuhan C. albicans dan jamur lain/C. dublinensis pada SDB
dapat dilihat pada Gambar 3 di berikut ini.
Sabouraud’s dextrose agar plate/SDA plate direkomendasikan untuk
sampel atau bahan klinis yang berasal dari kuku dan kulit. Media ini
selektif untuk fungi dan yeast melihat pertumbuhan dan identifikasi C.
albicans yang mempunyai pH asam/pH 5,6.14 Penambahan antibiotika
membuat plate direkomendasikan untuk sampel atau bahan klinis yang
berasal dari kuku dan kulit. Media ini selektif untuk fungi dan yeast
melihat pertumbuhan dan identifikasi C. albicans yang mempunyai pH
asam/pH 5,6. Penambahan antibiotika membuat media ini lebih selektif
yang bertujuan untuk menekan bakteri yang tumbuh bersama jamur di
dalam bahan klinis. Pertumbuhan pada SDA plate terlihat jamur yang
menunjukkan tipikal kumpulan mikroorganisma yang tampak seperti krim
putih dan licin disertai bau khas/yeast odour.
4. Identifikasi Candida albicans dengan Corn Meal Candida Agar
Corn meal Candida/CMA agar berguna untuk membedakan spesies C.
albicans dengan Kandida yang lain, ditemukan oleh Hazen and Reed.
Media ini memperlihatkan bentuk hifa, blastokonidia, chlamydospores,
and arthrospores dengan jelas. Khusus pada Kandida adalah untuk melihat
bentukchlamydospores. Pemeriksaan ini juga dapat dilakukan kultur pada
kaca objek/slide culture untuk melihat morfologi C. albicans. Bercak
koloni yang diduga sebagai C. albicans ditanam pada CMA (pH 7)
kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 48-72 jam. Pertumbuhan
Kandida pada CMA akan memperlihatkan bentuk chlamydospore yang
berukuran besar, sangat refraktif, dan berdinding tebal. Gambaran
chlamydospore dapat dilihat pada Gambar 4 di bawah ini.

5. Identifikasi Candida albicans dengan Germ Tube


Germinating blastospores/germ tube terlihat berbentuk bulat lonjong
seperti tabung memanjang dari yeast cells (Reynolds-Braude
phenomenon) pada serum manusia yang ke dalamnya disuntikkan koloni
yang diduga sebagai strain Kandida ke dalam tabung kecil dan diinkubasi
pada suhu 37oC selama 2-3 jam. Germ tube terbentuk dalam dua jam
setelah proses inkubasi. Bagian ujung yang menempel pada yeast cells
terlihat adanya pengerutan/pengecilan (tidak ada konstriksi). Bentuk germ
tube dari C. albicans dapat dilihat pada Gambar 4.
6. Pemeriksaan kultur dengan Hichrome Candida Agar pada Candida
albicans
Identifikasi juga dapat dilakukan dengan kultur pada media hichrome
candida agar/HCA yang digunakan untuk mendapatkan hasil identifikasi
Candida yang berbeda dan lebih spesifik. Hichrome Candida agar/pH 6.5
digunakan untuk presumptive identification spesies Kandida yang penting
secara klinis. Bahan klinis dapat ditanam secara langsung pada HCA dan
diinkubasi pada suhu 37⁰C selama 48 jam. Hasil positif memperlihatkan
koloni terlihat berwarna hijau kemilau. Bentuk dan warna C. albicans
yang terlihat tumbuh pada HCA dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini.

7. Pemeriksaan Candida albicans dengan Uji Biokimiawi


Uji biokimiawi dilakukan dengan pemeriksaan asimilasi karbohidrat
untuk konfirmasi spesies kandida. Carbohydrate assimilation test yaitu
mengukur kekuatan yeast dalam memaksimalkan karbohidrat tertentu
sebagai bahan dasar karbon dalam oksigen. Hasil reaksi positif
mengindikasikan adanya pertumbuhan/perubahan pH yang terjadi pada
media yang diuji dengan memanfaatkan gula sebagai bahan dasar.
Pemeriksaan ini membutuhkan waktu inkubasi selama 10 hari pada suhu
37ºC. Hasil produksi berupa gas dibandingkan pH standar merupakan
indikasi adanya proses fermentasi.
8. Pemeriksaan Aktivitas Fosfolipase Candida albicans
Pemeriksaan yang masih baru dan sudah mulai dilakukan pada tahap
penelitian adalah pemeriksaan aktivitas fosfolipase (Pz value).
Pemeriksaan ini mengukur enzim hidrolitik yang disekresi pada infeksi
yang disebabkan oleh C.albicans, dan juga dapat diukur aktivitasnya
adalah proteinase. Kedua enzim ini menyebabkan destruksi membran
ekstraseluler dan berperan pada proses infeksi C. albicans ketika terjadi
invasi melalui mukosa membran sel epitel. Sampel yang dipakai pada
pemeriksaan ini adalah strain C.albicans dari isolat yang sudah diketahui,
kemudian ditanam pada media agar yang mengandung SDA. Gambar 7
memperlihatkan zona yang terbentuk dari koloni yang tumbuh pada media
agar.

Pengukuran aktivitas fosfolipase dilakukan berdasarkan zona yang


terbentuk pada media agar kemudian dihitung dengan menggunakan
rumus. Hasil perhitungan tersebut kemudian dilakukan penilaian dengan
menggunakan Tabel standar.

9. Pemeriksaan Serologi dan Biologi Molekuler pada Candida albicans


Pemeriksaan serologi terhadap Candida albicans dapat menggunakan
metode imunofluoresen/fluorecent antibody test yang sudah banyak
tersedia dalam bentuk rapid test. Hasil pemeriksaan harus sejalan dengan
keadaan klinis penderita, ini disebabkan karena tingginya kolonisasi.
Pemeriksaan Candida albicans dengan metode serologis sangat berguna
untuk kandidiasis sistemik. Pemeriksaan biologi molekuler untuk
C.albicans dilakukan dengan polymerase chain reaction/PCR, restriction
fragment length polymorphism/RFLP, peptide nucleic acid fluorescence in
situ hybridization/PNA FISH dan sodium dodecyl sulphate-poly
acrylamide gel electrophoresis/SDS-PAGE. Pemeriksaan biologi
molekuler untuk Candida albicans sangat berguna karena dapat
memberikan hasil yang lebih cepat dari pada pemeriksaan dengan biakan.
Pemeriksaan dengan PCR untuk identifikasi spesies kandida, hasilnya
cukup cepat akan tetapi kurang sensitif dibandingkan dengan biakan pada
media. Sekarang ini belum berhasil dibuat oligonukleotida primer yang
spesifik untuk Candida albicans. Amplifikasi dengan PCR dan analisis
restriksi enzim dengan RFLP sudah dapat dipakai untuk mengetahui
genotipe dari Candida albicans. Pembacaan hasil dari kedua pemeriksaan
tersebut dilakukan dengan menggunakan sinar UV illumination dan gel
image dengan alat khusus, dan terbaca sebagai bentuk pita (band).
Pemeriksaan PNA FISH adalah hibridisasi asam nukleat untuk identifikasi
Candida albicans dan Candida glabrata, dengan sampel yang dipakai
adalah kultur darah. Pemeriksaan dapat dilakukan langsung dari hasil
kultur yang jamur positif, dapat juga dilakukan pada semua jenis sampel
dari media kultur darah. Pemeriksaan ini menggunakan label fluoresen
untuk melapisi ribosomal RNA/rRNA Candida albicans. Gambaran
Candida albicans dari mikroskop fluoresen dapat dilihat pada Gambar 8
berikut ini.

Deteksi antibodi terhadap Candida albicans sudah dapat dilakukan


terhadap enolase dengan metode SDS-PAGE, serta deteksi antigen jamur
terhadap mannan, (1,3)-Beta-D-Glucan, dan enolase. Pemeriksaan ini
sudah dilakukan pada tahap penelitian, tetapi sampai saat ini hasil yang
didapat belum memuaskan baik dari sensitifitas maupun spesifitiasnya.
Pemeriksaan SDS-PAGE diawali dengan membuat subkultur Candida
albicans yang ditanam pada media yeast-extract-peptonedextrose/YEPD.
Media ini terdiri dari dekstrosa sebagai bahan utama dan menyediakan
karbon, nitrogen, mineral, vitamin sebagai nutrisi untuk pertumbuhan
jamur. Hasil biakan disentrifugasi kemudian dilakukan pemeriksaan
fraksinasi sel dengan SDS-PAGE. Pembacaan hasil dilakukan dengan
pengukuran, dan melihat profil polypeptide band dengan menggunakan
seperti pada Gambar 9.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Jamur merupakan salah satu penyebab infeksi pada penyakit terutama
di negara-negara tropis. Jamur yang dapat menyebabkan infeksi antara lain
Candida albicans dan Aspergillus sp. Penyakit yang disebabkan oleh Candida
dikenal dengan kandidiasis. Sedangkan Penyakit yang di sebabkan oleh
Aspergillus sp adalah aspergillosis. Ada berbagai cara penanganan sampel
Candida sp baik dengan pemeriksaan langsung maupun dengan biakan kultur.

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA