Anda di halaman 1dari 23

KONSEP DIRI

Pertemuan 1
Pengertian
Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan
tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga
dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi
kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri. seseorang dinyatakan
melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme
yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan
keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu
pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.
pengertian konsep diri adalah pandangan, penilaian atau pandangan seseorang pada dirinya
sendiri. Salah satu dari para ahli seperti Atwater membagi konsep diri menjadi tiga bentuk,
antara lain;
 Body image, kesadaran seseorang melihat tubuh dan dirinya sendiri
 Ideal self, harapan dan cita-cita seseorang tentang dirinya sendiri
 Ideal self, harapan dan cita-cita seseorang tentang dirinya sendiri
Konsep diri sangat berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari sosial hingga
lingkungan pekerjaan sekalipun. Seseorang memiliki konsep diri negatif bila memandang dirinya
tidak berdaya, lemah, malang, gagal, tidak disukai, tidak kompeten dan sebagainya.
Konsep diri terdiri dari beberapa komponen, diantaranya:
 Citra Tubuh
Citra tubuh atau gambaran diri adalah sikap individu terhadap dirinya (fisik) baik disadari
maupun tidak disadari. Komponen ini mencakup persepsi masa lalu dan/atau sekarang
mengenai ukuran dan bentuk tubuh serta potensinya.
 Ideal Diri
Ideal diri merupakan persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya berperilaku
berdasarkan standar pribadi dan terkait dengan cita-cita. Pembentukan ideal diri mulai
terjadi sejak masa anak-anak dan dipengaruhi oleh orang-orang yang dekat dengan
dirinya.
 Harga Diri
Harga diri merupakan persepsi individu terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Komponen
konsep diri yang satu ini mulai terbentuk sejak kecil karena adanya penerimaan dan
perhatian dari sekitarnya.
 Peran Diri
Peran diri adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan
kelompok sosial terkait dengan fungsi seseorang di dalam masyarakat.
 Identitas Diri
Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dimiliki oleh seseorang dari hasil
observasi dan penilaian dirinya, menyadari bahwa dirinya berbeda dengan orang lain.
Komponen konsep diri ini mulai terbentuk dan berkembang sejak masa kanak-kanak.
Secara umum jenis konsep diri ada dua macam, diantaranya adalah:
 Konsep Diri Positif
Orang yang memiliki konsep diri positif akan lebih mudah beradaptasi dengan banyak
situasi. Ia memandang hal-hal buruk memiliki hikmah dan bukan sebagai akhir dari
segalanya. Orang seperti ini biasanya lebih percaya diri, optimis dan selalu berpikir ada
yang bisa dipecahkan.
Ciri-ciri individu yang memiliki konsep diri positif adalah:
 Menganggap orang lain sama dengan dirinya
 Punya keyakinan mampu mengatasi bermacam masalah
 Bisa menerima pujian tanpa merasa malu
 Punya kesadaran bahwa orang lain punya perasaan, keinginan, dan perilaku yang
belum tentu diterima semua anggota masyarakat
 Keinginan dan kemampuan dalam memperbaiki diri sendiri
 Konsep Negatif
Orang-orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung lebih pesimistik dan sulit
melihat kesempatan dalam kesulitan. Bahkan, mereka merasa kalah sebelum mencoba.
Jika pun gagal, orang-orang seperti ini akan menyalahkan keadaan, orang lain atau diri
sendiri.
Ciri-ciri individu yang memiliki konsep diri negatif adalah:
 Merasa pesimis setiap kali menghadapi persaingan
 Sangat sensitif terhadap kritikan
 Responsi terhadap pujian
 Cenderung bersikap hiperkritis
 Punya perasaan tidak disenangi oleh orang lain
Masalah yang terjadi pada manusia sebagian besar berakar pada cara pandangnya terhadap
diri sendiri. Pemahaman ini kerap berakar dari pikiran negatif baik pada diri sendiri, seperti
merasa inferior, tidak berguna, tidak cantik dan berbagai kritik pada diri sendiri yang justru
membangun problematika.Ada beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang selain
pola asuh orang tua, diantaranya:
1. Kegagalan
Disadari atau tidak, kegagalan yang terjadi secara terus menerus akan memberikan
pertanyaan besar pada kemampuan diri sendiri yang berujung pada anggapan lemah dan
tidak berguna.
2. Depresi
Ketika seseorang dilanda depresi, ia akan cenderung memikirkan hal yang negatif.
3. Overthingking
Bersikap overthinking sangatlah tidak baik karena bisa mengarah ke pikiran yang buruk,
terlebih pada penilaian diri sendiri. Seseorang cenderung menilai diri sendiri ke arah yang
negatif sehingga overthinking harus segera dihentikan.
SEKSUALITAS
Pertemuan 2
Pengertian
Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Lingkupan seksualitas suatu
yang lebih luas dari pada hanya sekedar kata seks yang merupakan kegiatan hubungan fisik
seksual. Kondisi Seksualitas yang sehat juga menunjukkan gambaran kualitas kehidupan
manusia, terkait dengan perasaan paling dalam, akrab dan intim yang berasal dari lubuk hati
yang paling dalam, dapat berupa pengalaman, penerimaan dan ekspresi diri manusia. Bayak
elemen-elemen yang terkait dengan keseimbangan seks dan seksualitas. Elemen-elemen tersebut
termasuk elemen biologis; yang terkait dengan identitas dan peran gender berdasarkan ciri seks
skundernya dipandang dari aspek biologis. Elemen sosiokultural, yang terkait dengan pandangan
masyarakat akibat pengaruh kultur terhadap peran dan kegiatan seksualitas yang dilakukan
individu. Sedangkan elemen yang terakhir adalah elemen perkembangan Psikososial laki-laki
dan perempuan. Hal ini dikemukakan berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang kaitannya
antara identitas dan peran gender dari aspek psikososial. Termasuk tahapan perkembangan
psikososial yang harus dilalui oleh oleh individu berdasarkan gendernya.
Elemen Seksualitas
Di tinjau dari berbagai sudut baik biologis, psikologis, maupun sosio dan kultural, seksualitas
mencakup diri sendiri dan individu lain. Seksualitas merupakan proses yang berkesinambungan,
yang berubah sesuai dengan usia, sesuai dengan peran yang ada di masyarakat sesuai dengan
gender serta interaksi dengan orang lain dan lingkungan. Seksualitas harus di pandang secara
keseluruhan dalan konteks kehidupan manusia dan dalam berbagai dimensi. Karena pandangan
tentang seksualitas mencakup siapa kita dan apa yang kita kerjakan.
1. Elemen Biologis
Perbedaan Biologis antara laki-laki dan perempuan di tentukan sejak masa konsepsi.
Janin perempuan mempunyai dua kromosom X dari setiaporang tua. Janin laki-laki
mempunyai kromosom X dan Y. Kromosom X daridari ibu dan Y dari ayah. Awalnya
tidak ada perbedaan yang menonjol dariperkembangan janin. Sejak tujuh minggu masa
konsepsi, organ seksualitaslaki-laki mulai terbentuk karena pengaruh hormon testeteron.
Dan padawaktu yang sama organ seksual perempuan mulai terbentuk karenakurangnya
testeteron, bukan karena adanya hormon esterogen.Pada masa puberitas, hormon
membantu untuk menyempurnakanperkembangan laki-laki dan perempuan. Perempuan
mulai menstruasi danterbentuk ciri seks skunder. Laki-laki mulai membentuk sperma dan
ciri sekssekunder.
2. Elemen Psikologis
Identitas gender merupakan perasaan seseorang menjadi laki-laki atau perempuan, dan
mendeskripsikan perasaan seseorang akan sifat kelakilakiannyaatau kewanitaanya. Peran
gender merupakan bagian dari identitasseseorang. Masyarakat mempunyai peran penting
dalam perkembangan identitas gender. Begitu bayi lahir langsung memiliki identitas
gender.Diberikan baju dan mainan tertentu. Selain itu respon orang dewasaterhadapanak
laki-laki dan perempuan berbeda tergantung pada caradia di besarkan dan gaya mengasuh
anak. Ketika anak tumbuh, ia menyatukan informasi dari masyarakat dan dari persepsi
tentang dirinya untuk membangun identitas gender.Pada usia tiga tahun, anak tahu
tentang dirinya sendiri, sebagai anakperempuan atau anak laki-laki. Mereka juga tahu
bahwa tidak akandapat mengubah seks dengan mengubah penampilannya. Josselyn
(1969), mengemukakan bahwa sumber utama identitasseksual yang menentukan konsep
seseorang akan dirinya dan orang lainsebagai wanita/pria tergantung dari:
 Ciri biologis yang di turunkan
 Konsep dan peran gender
3. Elemen Sosiokultural
Komponen sosiokultural merefleksikan keyakinan kultur masyarakat. Keyakinan ini
membentuk perkembangan seseorangan sebagai mahluk seksual. Interaksi sosial pentinng
pada proses ini karena perilaku peran merupakan model dan harapan sosial yang
dipelajari. Sistem agama dan hukum mencobamengontrol atau mengatur seksualitas.
Komponen sosio-kultur jugamempengaruhi seksualitas laki-laki dan perempuan dan
perilaku peran gender.
KONSEP KEHILANGAN, KEMATIAN DAN BERDUKA
Pertemuan 3
Pengertian
A. Kehilangan
Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulaisesuatu tanpa
hal yang yang berart sejak kejadian tersebut.Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap
atau mendadak, sisa tanpa kekerasan atau traumatik, diantisipasiatau tidak diharapkan
atau diduga, sebagian atau total dan sisa kembali atau tidak dapat kembali. Kehilangan
adalah suatu keadaan individu yang terpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada,
kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan ;(Lambert dan
(Lambert, 1985 HAL 35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh
setiap individudalam rentang kehidupan. SeJak lahir individu telah mengalami
kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang
berbeda.
B. Berduka
berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan
yangdimani!estasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur dan
sebagainya. berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan.
NANDA merumuskan dua tipe berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka
disfungsional. berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman
individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang,
hubungan atau kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya
kehilangan. tipe ini masih dalam batas normal.berduka diantisipasi adalah suatu status
yang merupakan pengalamanindividu yang responnya dibesar-besarkan saat individu
kehilangan secara actual maupun potensial, hubungan, objek, dan ketidak mampuan
fungsional. tipe ini kadang-kadang menurus ke tipikal, abnormal, kesalahan dan
kekacauan.
C. Kematian
kematian sebenarnya merupakan topik yang cukup luas. Ia mencakup isu seperti reaksi
terhadap kematian, bunuh diri sebagai fenomena ganjil, tahapan berduka, isu
eksistensialis, dan lain lain. Beberapa tahun belakangan ini mulai muncul penelitian-
penelitian Mengenai peran kecemasan akan kematian terhadap kehidupan kita. Mulai dari
penelitian penelitian behavioral economics sampai pada penelitian mengenai psychology
of religion.betapa sentralnya kematian dalam kehidupan manusia. Rasa takut dan cemas
bahwa suatu saat nanti kita akan mati membuat kita melakukan proses pencarian makna
hidup. Kematian adalah puncak dari segala peristiwa paling mengancam. Karena itu,
kematian adalah isu sentral dalam kehidupan kita semua tanpa terkecuali. Untungnya,
kita biasa hidup dalam masyarakat dan budaya. Mereka memberikan kita makna hidup.
Dari mereka, kita belajar tentang alasan mengapa kita tetap bertahan meskipun suatu saat
nanti kita akan mati. Nah, salah satu contoh paling familiar adalah agama. Sejak kecil,
kita dididik bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan
selanjutnya. Selain agama, ada uang, hubungan cinta, kasih sayang, dan prestasi yang
biasanya dijadikan tujuan hidup seseorang. Contoh-contoh ini membuat seseorang lupa
akan kematian, karena ia paham bahwa keberadaannya di dunia ini pasti memiliki
arti.Kontras dengan arti-arti hidup yang seperti itu, filsafat eksistensialisme menekankan
bahwa individu perlu menemukan makna hidup yang bukan hanya ditentukan budaya
atau orang lain. Agama, uang, prestasi. Bagi eksistensialis, itu semua bukanlah makna
hidup yang tepat, karena setiap orang perlu menemukan makna hidupnya sendiri yang
unik. Agama, uang, prestasi dianggap sebagai pelarian dari makna hidup yang
sebenarnya. Karena kita biasanya dicekoki oleh doktrin, dogma, dan nilai-nilai yang kaku
(misalnya: hidup itu harus punya banyak uang), maka makna hidup kita itu bisa dibilang
makna hidup yang superfisial. Makna hidup yang sebenarnya adalah saat seseorang
mencari sendiri apa tujuannya untuk hidup.
STRES ADAPTASI
Pertemuan 4
Pengertian
A. Setres
Menurut Selye tahun 1976, Stres adalah segala situasi dimana tuntutan non spesifik
mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan.
Menurut Hans Selye tahun 1950, Stres adalah respons tubuh tubuh yang bersifat tidak
spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban di atasnya.
• Macam-macam stres, antara lain:
1. Setres fisik
Stres fisik yang disebabkan karena keadaan fisik seperti karena temperatur yang tinggi
atau yang sangat rendah, suara yang bising, sinar matahari atau tegangan arus listrik.
2. Setres kimiawi
Stres ini disebabkan karena zat kimia seperti adanya obat-obatan, zat beracun, asam basa,
faktor hormon atau gas dan prinsipnya karena pengaruh senyawa kimia.
3. Setres mikrobiologik
Stres ini disebabkan karena kuman seperti adanya virus, bakteri atau parasit.
4. Setres fisiologik
Stres yang disebabkan karena gangguan fungsi organ tubuh di antaranya gangguan dari
struktur tubuh, fungsi jaringan, organ dan lain-lain.
5. Stress proses pertumbuhan dan perkembangan
Stres yang disebabkan karena proses pertumbuhan dan perkembangan sperti pada
pubertas, perkawinan dan proses lanjut usia.
6. Setres psikis atau emosional
Stres yang disebabkan karena gangguan situasi psikologis atau ketidakmampuan kondisi
psikologis untuk menyesuaikan diri seperti hubungan interpersonal, sosial budaya atau
faktor keagamaan.
• Faktor-faktor yang mempengaruhi stress
Respons terhadap stresor yang diberikan setiap individu akan berbeda berdasarkan faktor
yang akan mempengaruhi dari stresor tersebut, dan coping yang dimiliki individu, di antara
stresor yang dapat mempengaruhi respons tubuh antara lain:
1. Sifat stresor
Sifat stresor merupakan faktor yang dapat mempengaruhi respons tubuh terhadap
stresor. Sifat stesor ini dapat berupa tiba-tiba atau berangsur-angsur, sifat ini pada setiap
individu dapat berbeda tergantung dari pemahaman tentang arti stresor.
2. Durasi stresor
Lamanya stresor yang dialami klien akan mempengaruhi respons tubuh. Apabila stresor
yang dialami lebih lama, maka respons yang dilaminya juga akan lebih lama dan dapat
mempengaruhi dari fungsi tubuh yang lain.
3. Jumlah stresor
Jumlah stresor yang dialami seseorang dapat menentuka respons tubuh. Semakin banyak
stresor yang dialami pada seseorang, dapat menimbulkan dampak besar bagi fungsi
tubuh juga sebaliknya dengan jumlah stresor yang dialami banyak dan kemampuan
adaptasi baik, maka seseorang akan memiliki kemampuan dalam mengatasinya.
4. Pengalaman masalalu
Pengalaman ini juga dapat mempengaruhi respons tubuh terhadap stresoryang dimiliki.
Semakin banyak stresor dan pengalaman yang dialami dan mampu menghadapinya,
maka semakin baik dalam mengatasinya sehingga kemampuan adaptifnya akan semakin
baik pula.
5. Tipe kepribadian
Tipe kepribadian seseorang juga dapat mempengaruhi respons terhadap stresor. Apabila
seseorang yang memiliki tipe kepribadian A, maka lebih rentan terkena stress
dibandingkan dengan tipe kepribadian B. tipe kepribadian A memiliki ciri ambisius,
agresif, kompetitif, kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung, mudah marah,
memiliki kewaspadaan yang berlebihan, berbicara cepat, bekerja tidak kenal waktu,
pandai berorganisasi dan memimpin atau memerintah, lebih suka bekerja sendirian bila
ada tantangan, kaku terhadap waktu, ramah, tidak mudah dipengaruhi, bila berlibur
fikirannya ke pekerjaan dan lain-lain. Sedangkan tipe kepribadian B memiliki sikap
tidak agresif ambisinya wajar-wajar, penyabar, senang, tidak mudah tersinggung, tidak
mudah marah, cara berbicara tidak tergesa-gesa, perilaku tidak interaktif, lebih suka
kerjasama, mudah bergaul, dan lain-lain atau merupakan kebalikan dari tipe kepribadian
A.
6. Tingkat perkembangan
Tingkat perkembangan pada individu ini juga dapat mempengaruhi respons tubuh di
mana semakin matang dalam perkembangannya, maka semakin baik pula kemampuan
untuk mengatsinya. Dalam perkembangannya kemampuan individu dalam mengatasi
stresor dan respons terhadapnya berbeda-beda dan stresor yang dihadapinya pun beda.
B. Adaptasi
Adaptasi adalah suatu perubahan yang menyertai individu dalam berespons terhadap
perubahan yang ada di lingkungan dan dapat mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara
fisiologis maupun psikologis yang akan menghasilkan perilaku adaptif.
• Macam-macam adaptasi, antara lain:
1. Adaptasi fisiologis merupakan proses penyesuaian tubuh secara alamiah atau secara
fisiologis untuk mempertahankan keseimbangan dan berbagai faktor yang menimbulkan
atau mempengaruhi keadaan menjadi tidak seimbang contohnya masuknya kuman
penyakit, maka secara fisiologis tubuh berusaha untuk mempertahankan baik dari pintu
masuknya kuman atau sudah masuk dalam tubuh. Adaptasi secara fisiologis dapat dibagi
menjadi dua yaitu: apabila kejadiannya atau proses adaptasi bersifat lokal, maka itu
disebut dengan LAS (Local Adaptation Syndroma) seperti ketika daerah tubuh atau kulit
terkena infeksi, maka di daerah kulit tersebut akan terjadi kemerahan, bengkak, nyeri,
panas dan lain-lain yang sifatnya lokal atau pada daerah sekitar yang terkena. Akan
tetapi apabila reaksi lokal tidak dapat diatasi dapat menyebabkan gangguan secara
sistemik tubuh akan melakukan proses penyesuaian seperti panas seluruh tubuh,
berkeringat dan lain-lain, keadaan ini disebut sebagai GAS (General Adaption
Syndroma).
2. Adaptasi psikologis merupakan proses penyesuaian secara psikologis akibat stresor yang
ada, dengan memberikan mekanisme pertahanan dari dengan harapan dapat melindungi
atau bertahan diri dari serangan atau hal-hal yang tidak menyenangkan.Dalam adaptasi
secara psikologis terdapat dua cara untuk mempertahankan diri dari berbagai stresor
yaitu dengan cara melakukan koping atau penanganan diantaranya berorientasi pada
tugas (task oriented) yang di kenal dengan problem solving strategi dan ego oriented
atau mekanisme pertahanan diri.
3. Adaptasi sosial budaya merupakan cara untuk mengadakan perubahan dengan
melakukan proses penyesuaian perilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku di
masyarakat, berkumpul dalam masyarakat dalam kegiatan kemasyarakatan.
4. Adaptasi spiritual. Proses penyesuaian diri dengan melakukan perubahan perilaku yang
didasarkan pada keyakinan atau kepercayaan yang dimiliki sesuai dengan agama yang
dianutnya. Apabila mengalami stres, maka seseorang akan giat melakukan ibadah,
seperti rajin melakukan ibadah.
KONSEP KESEHTAN SPIRITUAL
Pertemuan 5
Pengertian
Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang MahaKuasa dan Maha
Pencipta. Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman
hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas jugamemberikan suatu perasaan
yang berhubungan dengan intrapersonal (hubunganantara diri sendiri), interpersonal (hubungan
antara orang lain dan lingkungan)dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu
suatu hubungandengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Adapun unsur-unsur
spiritualitasmeliputi kesehatan spiritual, kebutuhan spiritual dan kesadaranspiritual. Dimensi
spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjadi satukesatuan antara unsur psikologikal,
fisiologikal atau fisik, sosiologikal danspiritual. Berdasarkan konsep keperawatan, makna
spiritual dapat dihubungkandengan kata-kata : makna, harapan, kerukunan, dan sistem
kepercayaan (Dyson,Cobb, Forman, 1997). Dyson mengamati bahwa perawat menemukan aspek
spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain,dan dengan
Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup hubungan intra-,inter-, dan transpersonal.
Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yangmemasuki dan mempengaruhi
kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku serta dalam hubungannya
dengan diri sendiri, orang lain,alam, dan Tuhan (Dossey & Guzzetta, 2000).Menurut Burkhardt
(1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek :
1. berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalamkehidupan
2. menemukan arti dan tujuan hidup
3. menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam dirisendiri
4. mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang MahaTinggi
BUDAYA UMUM KESEHATAN
Pertemuan 6
Pengertian
kebudayaan yaitu sistempengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat
dalam pikiran manusia, sehinggadalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaanadalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai
makhluk yang berbudaya, berupa perilakudan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-
pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasisosial, religi, seni, dan lain-lain, yang
kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalammelangsungkan kehidupan
bermasyarakat.Budaya adalah salah satu hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Tak hanya
berpengaruh terhadap kehidupan, ternyata kebudayaan memiliki pengaruh terhadap terjadinya
kesehatan mental seseorang. Psikologi telah dibedakan menjadi beberapa sub bagian seperti
psikologi perkembangan, psikologi olahraga, psikologi sosial, psikologi faal, psikologi forensik,
dan psikologi yang lain. Pada kesempatan kali ini, kita akan mengupas secara tuntas pengaruh
budaya terhadap kesehatan mental. Hubungan antara budaya dan kesehatan sangat erat
hubungannya dan sebagai salah satu contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat
bertahan dengan cara pengobatan tertentu sesuai dengan tradisi mereka. Kebudayaan atau kultur
dapat membentuk kebiasaan dan respons terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala
masyarakat tanpa memandang tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk
tidak hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti tentang proses
terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan keyakinan atau budaya yang dianut
hubungannya dengan kesehatan.
BUDAYA TENTANG KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
Pertemuan 7
Pengertian
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat mengalami
peningkatan pengetahuan tentang kesehatan dan perkembangan informasi semakin cepat.
Pembangunan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, sebagai unit tempat pelayanan kesehatan,
bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar untuk
memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Demikian juga dengan upaya pemberian
pelayanan keperawatan di rumah sakit yang merupakan bagian integral dari upaya pelayanan
kesehatan, dan secara langsung akan memberi konstribusi dalam peningkatan kualitas hospital
care. Namun, perubahan pola hidup termasuk dalam bidang kesehatan sering dihadapkan dalam
suatu hal yang berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat
yang bermukim dalam suatu tempat tertentu.Kebudayaan Rumah Sakit Mempunyai premis
budaya rumah sakit itu sangat penting, nyawa sangat berharga, perlu berbagai upaya yang harus
dilakukan oleh Rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa pasien. Kebudayaan di Indonesia,
beranggapan bahwa menjadi pasien adalah hal yang tidak mengenakkan, karena harus
mengeluarkan biaya mahal, bahkan mendapat bantuan pun masih mengeluarkan biaya, karena
bantuan yang diberikan tidak 100% meringankan beban pasien. Berikut ini adalah beberapa
kebiasaan anggapan orang Indonesia terhadap adanya rumah sakit: Naturalistik memerangi
penyakit ke dokter ke rumah sakit. Personalistik, disebabkan oleh roh-roh jahat, ke dukun dulu.
Birokrat Rumah Sakit Tuntutan kebutuhan masyarakat pada abad ke- 21 terhadap asuhan
keperawatan yang berkualitas semakin besar karena adanya globalisasi yang menyebabkan
adanya pergeseran terhadap tuntutan asuhan keperawatan Namun, keperawatan mempunyai
landasan body of knowledge yang kuat, yang dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan
dalam praktek keperawatan.Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk
yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi
pendekatan keperawatan fungsi : memberikan asuhan keperawatan sesuai budaya dengan
menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap
lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi.tenaga
keperawatan harus memenuhi standar global dalam memberikan pelayanan / asuhan
keperawatan. Aspek-aspek dalam Standar Internasional perawat profesional: Intelektual,
interpersonal dan teknikal, bahkan peka terhadap perbedaan social budaya, mempunyai
pengetahuan transtrutural yang luas ,mampu memanfaatkan alih IPTEK.

UNSUR KEBERLANGSUNGAN RUMAH SAKIT


 PASIEN / CUSTOMER
Manajemen Rumah sakit Berusaha Seoptimal Mungkin Memenuhi Segala Kebutuhan Pasien,
Kepuasan Pasien
 PERSAINGAN ANTAR RUMAH SAKIT / COMPETITION
Anggapan Bahwan Rumah sakit Lain Memiliki Mutu Lebih Baik Dapat Memicu
Mempertahankan Bahkan Meningkatkan Kualitas& Slalu Beradaptasi Atas Perkembangan
Zaman
 PENGHEMATAN BIAYA /COSTS
Tdk Slalu Dibebankan kepada Pasien, Hal Ini Dapat Diatasi Dengan Meningkatkan
Produktifitas & Perbaikan Mutu Pelayanan
 MENGATASI KEGAWATAN/CRISIS
Rumah sakit Harus Dapat Meantisipasi Kegawatan Dengan Prediksi Yang Tepat
Di rumah sakit kita harus menerapkan budaya kerja 5 R dan 5 S sebagai berikut:
5R
1. Ringkas
2. Rapi
3. Resik
4. Rawat
5. Rajin
5S
1. Salam
2. Sapa
3. Senyum
4. Sopan
5. Santun
BUDAYA MELAYANI
 Sesuai Dengan Perkembangan Baru Dalam Paradigma Pelayanan, Budaya Kerja Rumah
Sakit Yang Positif Adalah Budaya Kerja Melayani. Caranya Adalah DenganContoh
Membiasakan Arah Orientasi Tindakan Dan Sikap Serta Perilaku Kepada Kepentingan
Orang Lain Yang dilayani, bukan kepentingan diri sendiri.
 Namun, apabila orientase tindakan kea rah kepentingan diri sendiri akan bertentangan
dengan "BUDAYA KERJA MELAYANI".contoh tindakan yang negatif adalah
karyawan rumah sakit yang suka membolos atau terlambat datang. kemudian perawat
yang kurang perhatian terhadap pasien orang miskin, dan dokter menyuruh pasien
membeli obat atau alat di apotik tertentu.
 Apabila Tindakan Yang Positif Dari Setiap Individu Dapat Dilaksanakan Secara
Konsisten Dan Terus Menerus Akan Menghasilkan Tabiat Positif. Pada Akhirnya Secara
Kelompok Akan Menghasilkan Budaya Kerja Positif.
BUDAYA MENJAGA KESELAMATAN PASIEN
7 Standar Sasaran Keselamatan Pasien
1. Hak Pasien
2. Mendidik Pasien Dan Keluarga
3. Keselamatan Pasien Dalam Kesinambungan Pelayanan
4. Penggunaan Metode- Metode Peningkatan Kinerja Untuk Melakukan Evaluasi Dan
Program Peningkatan Keselamatan Pasien
5. Peran Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Keselamatan Pasien
6. Mendidik Staf Tentang Keselamatan Pasien
7. Komunikasi Merupakan Kunci Bagi Staf Untuk Mencapai Keselamatan Pasien
Menurut Joint Commission International (2013) terdapat enam sasaran keselamatan pasien
yaitu:
1. Identifikasi pasien dengan benar
2. Meningkatkan komunikasi yang efektif
3. Meningkatkan keamanan obat yang perlu diwaspadai
4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi
5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
6. Pengurangan risiko pasien jatuh.
ETIOLOGI PENYAKIT BERBASIS BUDAYA
Pertemuan ke 8
Pengertian
Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunannasional diarahkan guna
tercapainya kesadaran, kemauan, dankemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar
dapatmewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dan kesehatanyang demikian yang menjadi
dambaan setiap orang sepanjanghidupnya. Tetapi datangnya penyakit merupakan hal yang
tidakbisa ditolak meskipun kadang -kadang bisa dicegah ataudihindari.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa:Kesehatan adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa dansosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial danekonomi.
Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihatsebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari
unsur-unsurfisik,mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakanbagian integral
kesehatan.Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila iamenderita penyakit menahun
(kronis), atau gangguan kesehatanlain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya
terganggu.Walaupun seseorang sakit (istilah sehari-hari) seperti masukangin, pilek, tetapi bila ia
tidak terganggu untukmelaksanakan kegiatannya, maka ia dianggap tidak sakit. Masyarakat dan
pengobat tradisional menganut dua konseppenyebab sakit, yaitu: Naturalistik dan Personalistik.
Penyebab bersifat Naturalistik yaitu seseorang menderita sakitakibat pengaruh lingkungan,
makanan (salah makan), kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk
jugakepercayaan panas dingin seperti masuk angin dan penyakitbawaan. Konsep sehat sakit yang
dianut pengobat tradisional(Battra) sama dengan yang dianut masyarakat setempat, yaknisuatu
keadaan yang berhubungan dengan keadaan badan ataukondisi tubuh kelainan-kelainan serta
gejala yang dirasakan.Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal,wajar, nyaman,
dan dapat melakukan aktivitas sehari-haridengan gairah.Sedangkan konsep Personalistik
menganggap munculnya penyakit(illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yangdapat
berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atauroh jahat), atau makhluk manusia
(tukang sihir, tukangtenung). Menelusuri nilai budaya, misalnya mengenaipengenalan kusta dan
cara perawatannya. Kusta telah dikenaloleh etnik Makasar sejak lama.
MENERAPKAN KONSEP TEORITIS KEPERAWATAN TRANSKULTURAL
DALAM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN YANG PEKA BUDAYA KEPADA
PASIEN
Pertemuan ke 13
Pengertian
1. Globalisasi & perspektif transcultural
Seiring berkembangnya zaman di era globalisasi saat ini, terjadi peningkatan jumlah
penduduk baik populasi maupun variasinya. Keadaan ini memungkinkan adanya multikultural
atau variasi kulturpada setiap wilayah. Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan
kesehatan yang berkualitas pun semakin tinggi. Hal ini menuntut setiap tenaga kesehatan
profesional termasuk perawat untuk mengetahui dan bertindak setepat mungkin dengan
prespektif global dan medis bagaimana merawat pasien dengan berbagai macam latar belakang
kultur atau budaya yang berbeda dari berbagai tempat di dunia dengan memperhatikan namun
tetap pada tujuan utama yaitu memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. Penanganan
pasien dengan latar belakang budaya disebut dengan transkultural nursing. Tanskultural nursing
adalah suatu daerah/wilayah keilmuan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang
fokusnya memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan,
sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini
digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepda manusia (Leininger, 2002). Proses keperawatan transkultural diaplikasikan untuk
mengurangi konflik perbedaan budaya atau lintas budaya antara perawat sebagai profesional dan
pasien.
Tujuan dari transkultural nursing adalah untuk mengidentifikasi, menguji, mengerti dan
menggunakan norma pemahaman keperawatan transcultural dalam meningkatkan kebudayaan
spesifik dalam asuhan keperawatan. Asumsinya adalah berdasarkan teori caring, caring adalah
esensi dari, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Perilaku
caring diberikan kepada manusia sejak lahir hinggameninggal dunia. Human caring merupakan
fenomena universal dimana, ekspresi, struktur polanya bervariasi diantara kultur satu tempat
dengan tempat lainnya.
Konsep dan Prinsip dalam Asuhan Keperawatan Transkultural
1. Budaya; Norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dibagi serta
memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
2. Nilai budaya; Keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau suatu tindakan
yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan
3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan; Merupakan bentuk yang optimal dalam
pemberian asuhan keperawatan
4. Etnosentris; Budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain adalah persepsi yang dimiliki
individu menganggap budayanya adalah yang terbaik
5. Etnis; Berkaitan dengan manusia ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan
menurut cirri-ciri dan kebiasaan yang lazim
6. Ras; Perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal
manusia. Jenis ras umum dikenal kaukasoid, negroid, mongoloid.
7. Etnografi/Ilmu budaya; Pendekatan metodologi padapenelitian etnografi memungkinkan
perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada pemberdayaan budaya setiap
individu.
8. Care; Fenomena yang berhubungan dengan bimbingan bantuan, dukungan perilaku pada
individu, keluarga dan kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhikebutuhan
baik actual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan
manusia
9. Caring; Tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan
mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi
kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia
10. Culture care; Kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola
ekspresi digunakan untuk membimbing, mendukung atau member kesempatan individu,
keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat dan berkembang
bertahan hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
11. Cultural imposition; Kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan,
praktek dan nilai karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi dari
kelompok lain.
Paradigma keperawatan transkultural (Leininger 1985), adalah cara pandang, keyakinan, nilai-
nilai, konsep-konsep dalam asuhan keperawatan yang sesuai latar belakang budaya, terhadap 4
konsep sentral keperawatan yaitu :
1. Manusia; Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilaidan
norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan danmelakukan
pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memilikikecenderungan untuk
mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapundia berada (Geiger and
Davidhizar, 1995). 2)
2. Sehat; Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam
mengisikehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan
suatukeyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan
untukmenjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasidalam
aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang samayaitu ingin
mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yangadaptif (Andrew and
Boyle, 1995). 3)
3. Lingkungan; didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu
totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga
bentuk lingkungan yaitu: fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan
alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman
padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak
pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur
sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam
masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur
dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah
keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa
bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4. Keperawatan; Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada
praktikkeperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuai dengan budaya
klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan adalah
perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi budaya dan
mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).

Pengertian
2. Diversity dalam masyarakat
Diversity diartikan sebagai kekayaan budaya yang dilihat sebagai cara yang ada dalam
kebudayaan kelompok atau masyarakat untuk mengungkapkan ekspresinya.Hal ini tidak hanya
berkaitan dalam keragaman budaya yang menjadi kebudayaan latar belakangnya, namun juga
variasi cara dalam penciptaan artistik, produksi, disseminasi, distribusi dan penghayatannya,
apapun makna dan teknologi yang digunakannya. Atau diistilahkan oleh UNESCO dalam
dokumen konvensi UNESCO 2005 sebagai “Ekpresi budaya” (cultural expression). Isi dari
keragaman budaya tersebut akan mengacu kepada makna simbolik, dimensi artistik, dan nilai-
nilai budaya yang melatarbelakanginya.Dalam konteks ini pengetahuan budaya akan berisi
tentang simbol-simbol pengetahuan yang digunakan oleh masyarakat pemiliknya untuk
memahami dan menginterprestasikan lingkungannya. Pengetahuan budaya biasanya akan
berwujud nilai-nilai budaya suku bangsa dan nilai budaya bangsa Indonesia, dimana didalamnya
berisi kearifan-kearifan lokal kebudayaan lokal dan suku bangsa setempat.Kearifan lokal tersebut
berupa nilai-nilai budaya lokal yang tercerminkan dalam tradisi upacara-upacara tradisional dan
karya seni kelompok suku bangsa dan masyarakat adat yang ada di nusantara. Sedangkan tingkah
laku budaya berkaitan dengan tingkah laku atau tindakan-tindakan yang bersumber dari nilai-
nilai budaya yang ada. Bentuk tingkah laku budaya tersebut bisa dirupakan dalam bentuk tingkah
laku sehari-hari, pola interaksi, kegiatan subsisten masyarakat, dan sebagainya. Atau bisa kita
sebut sebagai aktivitas budaya. Dalam artefak budaya, kearifan lokal bangsa Indonesia
diwujudkan dalam karya-karya seni rupa atau benda budaya (cagar budaya). Jika kita melihat
penjelasan diatas maka sebenarnya kekayaan Indonesia mempunyai bentuk yang beragam. Tidak
hanya beragam dari bentuknya namun juga menyangkut asalnya. Keragaman adalah
sesungguhnya kekayaan budaya bangsa Indonesia. Didasari pemikiran diatas, sebagai bagian
upaya menjaga secara penuh kepemilikan atas warisan kebudayaan tradisional bangsa Indonesia
yang Agung dan Luhur. Serta menjadikan narasi narasi kecil yang selama ini telah kami lakukan
agar mampu menjadi bagian dari sebuah catatan kebudayaan, maka Bantengan Nuswantara 2010
kembali kami laksanakan. Sebuah upaya kebersamaan aktivitas budaya agar berguna bagi
Bangsa Indonesia tentunya.

Pengertian
3. Teori cultural care
Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan
pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu,
keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan
hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrewand Boyle, 1995)
yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan
kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan
dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
a. Cultural care preservation/maintenance
1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
b. Cultural care accomodation/negotiation
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimanakesepakatan
berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien danstandar etik
c. Cultural care repartening/reconstruction
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikandan
melaksanakannya
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budayakelompok
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatanyang dapat
dipahami oleh klien dan orang tua
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
MENERAPKAN KONSEP TEORITIS KEPERAWATAN TRANSKULTURAL DALAM
PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN
Pertemuan 14

Konsep teori keperawatan transkultural. Keperawatan transkultural merupakan suatu area utama
dalam keperawatan yang berfokys pada study komparatif dan analisis tentang budaya dan sub-
budaya yang berbeda didunia yang menghargai perilaku caring,layanan keperawatan,nilai-
nilai,keyakinan tentang sehat sakit,serta pola-pola tingkah laku yang bertujuan mengembangkan
body of knowledge yang ilmiah dan humanistik guna memberi tempat praktik keperawatan pada
budaya tertentu dan budaya universal ( marriner-tomay,1994). Teori keperawatan transkultural
ini menekankan pentingnya peran perawat dalam memahami budaya klien. Pemahaman yang
benar pada diri perawat mengenai budaya klien,baik individu,keluarga,kelompok,maupun
masyarakat,dapat mencegah terjadinya culture shock mauppun cultur imposition. Cultur shock
terjadi saat pihak luar(perawat) mencoba mempelajari atau nberadaptasi secara efektif dengan
kelompok budaya tertentu (klien) . klien akan merasakan perasaan tidak nyaman,gelisah dan
disorientasi kerena perbedaan nilai budaya,keyakinan,dan kebiasaan. Sedangkan culture
imposition adalah kecenderungan tenaga kesehatan (perawat), baik secara diam-diam maupun
terang-terangan,memaksakan nilai-nilai budaya,keyakinan dan kebiasaan atau perilaku yang
dimilikinyakepada individu,keluarga atau kelompok dari budaya lain karena mereka meyakini
ahwa budayanya lebih tinggi dari pada budayaa kelompok lain. Leininger menggambarkan teori
keperawatan transkultural matahari terbit,sehingga disebut juga sebagai sunrise model . Model
matahari terbit (sunrise model) ini melembagakan esensi keperawatan dalam transkultural yang
menjelaskan bahwa sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien
(individu,keluarga,kelompok,komunitas,lembaga),perawat terlebih dahulu harus mempunyai
pengetahuan mengenai pandangan dunia (world view) tentang dimensi dan budaya serta struktur
sosial yang berkembang di berbagai belahan dunia(secara global)maupun masyarakat dalam
lingkup yang sempit.

Dimensi budaya dan struktur sosial tersebut menurut leininger dipengaruhi oleh tujuh
faktor,yaitu teknologi,agama dan falsafah hidup,faktor sosial dan kekerabatan ,nilai budaya dan
gaya hidup,politik dan hukum,ekonomi,dan pendidikan. Faktor-faktor tersebut merupakan
totalitas dari suatau keadaan ,situasi,atau pengalaman yang memberi arti bagi perilaku
manusia,interpretasi dan interaksi sosial dalam tatanan fisik ,ekologi,sosial –politik,dan / struktur
kebudayaan.termasuk di dalam nya adalah etnohistori atau riwayat kebudayaan yang mengacu
pada keseluruhan fakta pada masa lampau,kejadian,dan pengalaman
individu,kelompok,kebudayaan,serta suatu institusi yang difokuskan pada manusia/masyarakat
yang menggambarkan,menjelaskan,dan menginterprestasikan cara hidup manusia dalam suatu
bentuk kebudayaan tertentu dalam jangka waktu panjang maupun pendek. Semua faktor tersebut
berbeda pada setiap negara atau area ,sesuai dengan kondisi masing-masing daerah,dan akan
memengaruhi pola/cara dan praktik keperawatan.semua langkah langkah perawatan tersebut
ditunjukkan untuk pemeliharaan kesehatan holistik,penyembuhan penyakit ,dan persiapan
menghadapi kematian.oleh karena itu,ketujuh faktor tersebut harus dikaji oleh perawat sebelum
memberikan asuhan keperawatan kepada klien sebab masing-masing faktor memberi pengaruh
terhadap eksperesi,pola,dan praktik keperawatn(care expression,patterns,and practices) .Dengan
demikian,keujuh faktor tersebut besar kontribusinya.terhadap pencapaian kesehatan secara
holistik atau kesejahteraan manusia,baik pada level
individu,keluarga,kelompok,komunitas,maupun institusi,di berbagai sistem
kesehatan.jika disesuaikan dengan proses keperawatan,ketujuh faktor tersebut masuk ke dalam
level pertama yaitu tahap pengkajian. Peran perawat pada transcultural nursing theory ini adalah
menjebatani antara sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan
profesional elalui asuhan keperawatan.ekstensi peran perawat tersebut digambarkan oleh
leininger dengan gambar seperti di bawah ini.oleh karena itu perawat harus mampu membuat
keputusan dan rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada masyarakat.jika di
sesuaikan dengan proses keperawatn,hal tersebut merupakan tahap perencanaan tindakan
keperawatan. Tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien harus tetap memperhatikan
tiga prinsip asuhan keperawatan yaitu :
1. Culture care preservation/maintenance, yaitu prinsip membantu, memfasilitasi,atau
memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan
gaya hidup yang diinginkan.
2. Culture care accomodation, yaitu prinsip membantu, memfasilitasi,atau memperhatikan
budaya fenomena ada,yang merefleksikan cara-cara untuk
beradaptasi,bernegosiasi,ataumempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu atau
klien.
3. Cultur care repatterning/restructuring, yaitu prisip merekonstruksi atau mengubah desain
untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien ke arah yang lebih baik.
Hasil akhir yang diperoleh melalui pendekatan keperawatan transkultural pada asuhan
keperawatan adalah tercapainya culture congruent nursing care health and well being, yaitu
asuhan keperawatan yang kompeten berdasarkan budaya dan pengetahuan kesehatan yang
sensitif, kreatif,serta cara-cara bermakna guna mencapai tingkat kesehatan dan kesejahteraan
bagi masyarakat.
G. MODEL KEPERAWATAN TRANSCULTURAL NURSING
Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya padaproses belajar
danpraktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dankesamaan diantara budaya
denganmenghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkanpada nilai budaya manusia, kepercayaan
dantindakan, dan ilmu ini digunakanuntuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya
ataukeutuhan budayakepada manusia (Leininger, 2002).Asumsi mendasar dari teori adalah
perilaku Caring. Caring adalah esensidari keperawatan,membedakan, mendominasi serta
mempersatukan tindakankeperawatan. Tindakan Caringdikatakan sebagai tindakan yang
dilakukan dalammemberikan dukungan kepada individu secarautuh. Perilaku Caring
semestinyadiberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan danpertumbuhan,masa
pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secaraumumdikatakan sebagai
segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan danbimbingan pada manusiayang utuh. Human
caring merupakan fenomena yanguniversal dimana ekspresi, struktur danpolanya bervariasi
diantara kultur satutempat dengan tempat lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

PPT
PPT
PPT
PPT
http://belajarpsikologi.com/pengertian-konsep-diri/
https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-konsep-diri.html
ppt
http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan-salbiah.pdf
https://www.scribd.com/document/336781999/Makalah-Kehilangan-Dan-Berduka
https://www.scribd.com/doc/143531878/Konsep-Kesehatan-Spiritual
https://www.scribd.com/doc/96908725/BUDAYA-KESEHATAN
https://www.bastamanography.id/faktor-sosial-dan-budaya-pada-perilaku-kesehatan/
https://www.slideshare.net/FitriaAnwarawati/penerapan-sosial-budaya-dalam-rumah-sakit