Anda di halaman 1dari 137

PENGARUH DEPOSIT INSURANCE TERHADAP RISIKO

OPERASIONAL PADA BANK UMUM KONVENSIONAL PADA


PERIODE 2011-2015

(Studi Kasus Terhadap Bank Peserta Lembaga Penjamin Simpanan)

Skripsi

Untuk memenuhi salah satu persyaratan

Mencapai derajat Sarjana S-1

Program Studi Manajemen

Diajukan Oleh

Annisa Kurnia Maulida

10090313106

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

BANDUNG

2017
Halaman Persembahan :

“Karena Sesungguhnya Sesudah Kesulitan Itu Ada Kemudahan.” (QS. Alam


Nasyroh: 5)

“Man Jadda Wa Jadda”


Barang siapa yang bersungguh - sungguh akan mendapatkannya

Kupersembahkan untuk kedua orangtuaku yang sangat kusayangi

Almarhum Ayahku

Ibuku dan untuk Adikku


KATA PENGANTAR

Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirobbil’alamin, penulis panjatkan segala Puji dan Syukur

kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul :“Pengaruh Deposit Insurance

Terhadap Resiko Operasional Pada Bank Umum Konvensional Periode 2011-

2015 (Studi Kasus Terhadap Bank Peserta Lembaga Penjamin Simpanan)”

Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian dari persyaratan

untuk menyelesaikan studi Sarjana S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi

Manajemen Keuangan Universitas Islam Bandung.

Skripsi ini tidak mungkin terselesaikan dengan baik tanpa adanya dukungan,

bimbingan, bantuan, serta doa dari berbagai pihak selama penyusunan skripsi ini.

Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis dengan ketulusan hati mengucapkan terima

kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan saya nikmat iman islam juga kesehatan

lahir dan bathin yang mana sampai saat ini saya telah menyelesaikan skripsi

saya dalam rangka memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan studi S-1

saya di Fakultas Ekonomi dan Bisnisn, Universitas Islam Bandung.

2. Kepada Ayah Ukun Kurniawan S.Pd.i (Alm) Terimakasih karena telah

memberikan kasih sayang sampai saat ini dan nanti, selalu berjuang

i
walaupun lelah, selalu memberikan banyak pelajaran kepadaku tetang apa

itu perjuangan dan kesabaran. Semoga dengan ini keinginmu tercapai bisa

melihatku menyelesaikan pendidikan S1 meski tanpa didampingimu.

Semoga aku bisa memenuhi keinginanmu.

3. Kepada Mamah Rohanah S.Pd Terimaksih karena memberikan kasih

sayang,selalu mendengarkan keluh kesah anakmu dan memberikan doa dan

motivasi sehingga bisa menyelesaikan penulisan ini. Semoga penulis dapat

menjadi anak yang berbakti dan bisa membanggakan keluarga.

4. Kepada kedua adikku Ilham Muhammad Haikal dan Kania Aulia Nursyifa

telah mendukung, mendoakan dan memberikan canda tawa dan semangat

kepada penulis.

5. Prof. Dr. dr. M.Thaufiq Siddiq Boesorie, M.S., Sp. THT, KL(K), selaku

Rektor Universitas Islam Bandung.

6. Dr. Atieh Rohaeti Dariah SE , S.E., M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

dan Bisnis Universitas Islam Bandung.

7. Bapak Dr. Nurdin, SE., M.Si selaku dosen pembimbing utama dan dosen

wali yang telah memberikan saran, bimbingan, dan pengarahan dalam

penyusunan skripsi ini.

8. Bapak H. Azib, SE., M.Si selaku dosen pembimbing pendamping yang telah

memberikan saran, bimbingan, dan pengarahan dalam penyusunan skripsi

ini.

9. Ibu Dr. Sri Suwarsi, SE., M.Si selaku Ketua Program Studi Jurusan

Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung.

ii
10. Semua dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung, yang

telah memberikan bekal ilmu pengetahuan selama masa perkuliahan

11. Seluruh staf pengajar dan staf akademik telah membantu penulis untuk

menjalankan semua aktivitas perkuliahan dengan baik.

12. Keluarga besar selalu mendo’akan dan mendukung setiap langkah penulis

dalam mencari ilmu pengetahun.

13. Sahabat sekaligus keluarga dari Rheza, Zulvia Paradella, M. Yusuf Zaenal,

Adhi Gumilar, Adie Pamungkas, Lulu Luthfiani, Riska Sandita,Febrianti,

terima kasih telah memberikan semangat, canda, tawa, tangis yang sudah

kalian berikan selama ini, meluangkan waktu untuk menemani penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

14. Kepada Sahabatku BBB KwSuper yang selalu aku repotkan Rahadian Mpri,

Robby , Dessy Evilia, Martia Fitriani terimakasih atas doa, semangat canda

dan tawa disetiap moment.

15. Kepada Sahabatku Bojegkerss Fatimah Zahra, Rd. Wilda Zackiya, Nurul

Fatmaida, Fauziyah Nur selalu memberikan doa dan semangat serta canda

tawa selalu ada dalam kondisi senang sedih.

16. Kepada teman-teman Manajemen C Mela, Erfika, Bashirul, Faisal, Lutvi,

Rizki, Wahyuni, dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Terimakasih atas doa dan semangatnya serta perhatiannya.

17. Rekan-rekan Angkatan 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis

18. Rekan-rekan Manajemen Keuangan 2013 terimakasih atas masukan dan

bantuan yang diberikan selama ini dalam menyusun skripsi ini.

iii
19. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak

dapat penulis sebut satu per satu, terimakasih atas bantuan dan dukungan

yang diberikan.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu

kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan

demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak,

dan semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis, mendapat imbalan dan

ridho dari ALLAH SWT. Aaamiiin Ya Robbal Alamiiinnn.

Akhir kata, penulis dengan mengharapkan Ridho ALLAH SWT, semoga skripsi

ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri, umumnya bagi masyarakat

umum dan bias memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan di

Indonesia. Aaamiiinnn Ya Robbal Alamiiinnn.

Bandung, Februari 2016

Penulis

Annisa Kurnia Maulida

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN

HALAMAN PERNYATAAN

HALAMAN PERSEMBAHAN

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i

DAFTAR ISI...................................................................................................................... v

DAFTAR TABEL ............................................................................................................ ix

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... x

Daftar Lampiran .............................................................................................................. xi

Intisari .............................................................................................................................. xii

Abstract........................................................................................................................... xiii

Bab I ................................................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................... 6

1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................................ 7

1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................................... 7

1.4.1 Manfaat Akademis ........................................................................................... 7

1.4.2 Manfaat Praktis .............................................................................................. 8

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis .......................................................................... 8

1.5.1 Kerangka Pemikiran ........................................................................................... 8

1.5.2 Hipotesis Penelitian ......................................................................................... 14

BAB II .............................................................................................................................. 16

2.1 Tinjauan Umum Perbankan Indonesia................................................................... 16

2.1.1 Pengertian Bank ............................................................................................. 16

2.1.2 Fungsi, Asas dan Tujuan Bank ..................................................................... 18

v
2.1.3 Jenis – Jenis Bank .......................................................................................... 20

2.1.4 Manfaat Bank ................................................................................................. 25

2.1.5 Jasa perbankan .............................................................................................. 26

2.2 Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ...................................................................... 27

2.2.1 Fungsi, Tugas dan Wewenang ...................................................................... 29

2.2.2 Skema Penjaminan Simpanan (Deposit Insurance scheme) ...................... 30

2.2.3 Ketentuan Tingkat Bunga Penjaminan ....................................................... 32

2.2.4 Pedoman Dari International Association of Deposit Insurers (IADI) ......... 33

2.2.5. Dana Pihak Ketiga (DPK) ............................................................................ 35

2.2.5.1 Simpanan Giro (Demand Deposit) ....................................................... 36

2.2.5.2 Simpanan Tabungan (Saving Deposit) ............................................... 38

2.2.5.3. Simpanan Deposito (Time Deposit) .................................................... 39

2.3 Pengertian Manajemen Risiko................................................................................. 41

2.3.1 Manajemen Risiko Menurut Ketentuan Bank Indonesia .......................... 42

2.3.1.1. Risiko Pasar.......................................................................................... 42

2.3.2.2. Risiko Kredit ........................................................................................ 43

2.3.2.3 Risiko Likuiditas ................................................................................... 43

2.3.2.4. Risiko Hukum ....................................................................................... 44

2.3.2.5. Risiko Reputasi ..................................................................................... 44

2.3.2.6. Risiko Strategik..................................................................................... 45

2.3.2.7. Risiko Kepatuhan ................................................................................. 45

2.3.2.8. Risiko Valuta Asing .............................................................................. 45

2.3.2.9. Risiko Operasional ............................................................................... 47

2.3.2.9.1 Kejadian Risiko Operasional ....................................................... 49

2.3.2.9.2 Expected Loss dan Unexpected Loss ........................................... 51

2.3.2.9.3 Kategori Kejadian Risiko Operasional ...................................... 52

vi
2.4 Pengaruh Deposit Insurance Terhadap Resiko Operasional bank Umum
Konvensional Periode 2013-2015 ........................................................................... 53

BAB III............................................................................................................................. 55

3.1 Objek Penelitian......................................................................................................... 55

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian................................................................................ 55

3.3 Teknik Pengumpulan Data ....................................................................................... 56

3.4 Variabel dan operasionalisasi Variabel ................................................................... 57

3.4.1 Variabel bebas ............................................................................................... 57

3.4.1.1 Simpanan Giro ...................................................................................... 57

3.4.1.2 Simpanan Deposito ............................................................................... 58

3.4.1.3 Simpanan Tabungan............................................................................. 58

3.4.2 Variabel Terikat ............................................................................................ 59

3.4.3 Operasionalisasi Variabel.............................................................................. 60

3.5 Teknik Analisi Data ................................................................................................... 61

3.5.1 Asumsi Klasik ................................................................................................ 61

3.5.1.1 Uji Asumsi Kalsik Normalitas ............................................................. 61

3.5.1.2 Uji Multikolinearitas ............................................................................ 61

3.5.1.3 Uji Heteroskedastisitas ......................................................................... 63

3.5.1.4 Uji Autokorelasi .................................................................................... 63

3.5.2 Uji hipotesis .................................................................................................... 64

3.5.3 Uji Nilai T ....................................................................................................... 65

3.5.4 Uji F ................................................................................................................. 66

3.5.5 Uji Koefisien Determinasi (R2)..................................................................... 67

BAB IV ............................................................................................................................. 69

2.1 Deposit Insurance dan Resiko Operasional pada Bank Umum Konvensional
Periode 2011-2015 ................................................................................................... 69

vii
4.1.1 Deposit Insurance Bank Konvensional Periode 2011-2015........................ 70

4.1.1.1 Tabungan Bank Konvensional periode 2011-2015 ....................... 70


4.1.1.2 Deposito Bank Konvensional Periode 2011-2015 ......................... 75

4.1.1.3 Giro Bank Konvensional Periode 2011-2015 ................................ 80

4.2 Resiko Operasional Pada Bank Umum Konvensional Periode 2013-2015 ........... 84

4.3 Besar Pengaruh Deposit Insurance Terhadap Resiko Operasional bank Umum
Konvensional Periode 2013-2015 ........................................................................... 88

4.3.1 Asumsi Klasik Regresi ................................................................................... 89

4.3.1.1 Uji Normalitas ....................................................................................... 89

4.3.1.2 Multikolrinelitas.................................................................................... 92

4.3.1.3 Autokoreksi ........................................................................................... 93

4.3.1.4 Heterokaditas ........................................................................................ 94

4.3.2 Analisis linier berganda ............................................................................... 96

4.3.2.1 Koefisien Determinasi (R2) .................................................................. 96

4.3.2.2 Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji T) ....................................... 97

4.3.2.3 Pengujian hipotesis secara Uji F ...................................................... 100

BAB V ............................................................................................................................ 101

5.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 101

5.2 Saran ......................................................................................................................... 103

Daftar Pustaka .............................................................................................................. 105

Lampiran ....................................................................................................................... 108

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu ..............................................................................12

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel ......................................................................60

Tabel 4.1 Daftar Bank Umum Konvensional yang diteliti ....................................69

Tabel 4.2 Simpanan Tabungan Bank Umum Konvensional ..................................70

Tabel 4.3 Simpanan Deposito Bank Umum Konvensional ...................................76

Tabel 4.4 Simpanan Giro Pada Bank Umum Konvensional ..................................80

Tabel 4.5 Resiko Operasional Bank Umum Konvensional ...................................85

Tabel 4.6 Uji Normalitas ........................................................................................92

Tabel 4.7 Uji Multikolrinelitas...............................................................................93

Tabel 4.8 Uji Autokoreksi ......................................................................................94

Tabel 4.9 Koefisien Determinasi (R2) ...................................................................96

Tabel 4.10 Uji Parsial .............................................................................................97

Tabel 4.11 Pengujian hipotesis secara Uji F ........................................................100

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Paradigma Penelitian ..........................................................................14


Gambar 1.2 Bagan Kerangka Pemikiran ................................................................15
Gambar 4.1 Grafik Simpanan Tabungan ..............................................................72
Gambar 4.2 Grafik Simpanan Deposito ................................................................78
Gambar 4.3 Grafik Simpanan Giro .......................................................................82
Gambar 4.4 Grafik Risiko Operasional .................................................................86

x
Daftar Lampiran

Lampiran 1 Daftar yang Menjadi Sampel Penelitian

Lampiran 2 Simpanan Tabungan Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

Lampiran 3 Simpanan Deposito Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

Lamapiran 4 Simpanan Giro Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

Lampiran 5 Total Simpanan Dana Pihak Ketiga Tabungan

Lampiran 6 Total Simpanan Dana Pihak Ketiga Deposito

Lampiran 7 Total Simpanan Dana Pihak Ketiga Giro

Lampiran 8 Tabel Perhitungan Resiko Operasional Bank Umum Konvensional

Lampiran 9 Hasil Analisis Koefisien Determinasi

Lampiran 10 Hasil Uji Parsial

Lampiran 11 Hasil Uji Simultan (Uji F)

xi
Pengaruh Deposit Insurance Terhadap Resiko Operasional Bank
Umum Konvensional pada Periode 2011-2015
(Studi Kasus Terhadap Bank Peserta Lembaga Penjamin Simpanan)

Oleh:

Annisa Kurnia Maulida

10090313106

Intisari

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari deporit insurance


(1) Dana Pihak Ketiga berupa simpanan tabungan pada bank umum konvensional
pada periode 2011-2015 (2) Dana Pihak Ketiga berupa simpanan deposito pada
bank umum konvensional pada periode 2011-2015 (2) Dana Pihak Ketiga berupa
simpanan giro pada bank umum konvensional pada periode 2011-2015 terhadap
resiko operasional pada bank umum konvensional yang terdaftar sebagai bank
peserta lembaga penjamin simpanan pada periode 2011-2015.
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh bank konvensional bank
konvensional yang menjadi peserta lembaga penjamin simpanan, dan penentuan
sampel dilakukan dengan metode purposiif sampling, sehingga sampel penelitian
ini berjumlah 9 bank umum konvensional. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan analisis regresi dengan taraf signifikansi 5%.
Hasil penelitian dengan melakukan uji parsial menunjukan bahwa variabel
deposito dan giro memiliki pengaruh terhadap resiko operasional bank sedangkan
variabel tabungan tidak berpengaruh terhadap resiko operasional. sedangkan dalam
uji simultan menunjukan bahwa varaibel tabungan, deposito, dan giro memiliki
pengaruh terhadap resiko operasonal.

Kata kunci : Deposit Insurance, Tabungan, Deposito, Giro, Resiko


Operasional

xii
Influence Deposit Insurance Againts Operational Risk On Conventional
Bank on Period 2011-2015
(Case Study Of Bank Participant of Deposit Insurance)

Abstract

This study aimed to examine the effect of deporit insurance (1) Deposits in
form savings deposits at conventional banks on the period of 2011-2015 (2) deposit
in from time deposit on the periode of 2011-2015 (3) deposit in from of demand
deposit at conventional bank on periode of 2011-2015 against operational risk in a
conventional bank registered as participating bank deposit insurance agency in the
period 2011-2015.
Population on this study is the whole conventional banks who participated
in conventional bank deposit insurance,and determination of the samples was done
by purposive sampling method, then the sample is feasible to use as much as 9
conventional bank. The analysis used on this research is regression analysis with
significance level of 5%.
Based on these observation by conducted partial test show that the variables
of time deposit and demand deposit have an influence on operational risk bank and
saving deposits while the variable doesn’t affect the operational risk. while in
simultaneous test showed that variable savings, time deposits, and demand deposit
have an influence on Operational risks.

Keyword : Deposit Insurance, Saving Deposit, Time Deposit, Demand


Deposit, Operational Risk

xiii
BAB I PENDAHULUAN

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Lembaga perbankan merupakan inti dari sistem keuangan dari setiap

negara. Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi

perseorangan, badan-badan usaha swasta, badan-badan usaha milik negara,

bahkan lembaga-lembaga pemerintahan menyimpan dana-dana yang

dimilikinya. Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa yang diberikan,

bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem

pembayaran bagi semua sektor perekonomian.

Industri perbankan merupakan salah satu komponen yang sangat penting

dalam perekonomian nasional demi menjaga keseimbangan, kemajuan dan

satuan ekonomi nasional. Stabilitas industri perbankan sangat diperlukan untuk

menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan. Kepercayaan

ini dapat dicapai melalui keberadaan peraturan hukum, pengawasan bank, dan

penjaminan simpanan untuk nasabah bank demi menjaga kelangsungan bisnis

bank secara sehat.

Bank melakukan pengawasan terhadap debitur, namun bank juga diawasi

oleh deposan. Pegawasan ini akan berjalan sebagimana mestinya ketika mereka

memiliki kepentingan yang sama. Bank bisa melakukan agenda tersembunyi

yang bertentangan dengan prinsip-prinsip pengelolaan perbankan yang sehat,

karena kegagalan bank menjadi beban penjaminan dan atau deposan (Krugman,

1999).

1
BAB I PENDAHULUAN

Teori perbankan terkini telah memasukan manajemen resiko sebagai fungsi

inti dari perbankan (Freixas and Rochet, 2008). Fungsi ini menarik perhatian

terutama dalam kondisi lingkungan yang volatile dan berubah secara cepat.

Tujuan manajemen yang ideal tidak hanya memaksimalkan tingkat

kembalinnya dengan suatu kendala sumber daya, namun juga harus

mempertimbangkan tingkat resiko yang masuk akal.

Merupakan preposisi yang umum bahwa dalam kondisi informasi yang

bersifat tidak simetris, manajer bank dan atau pemilik saham cenderung lebih

menyukai tingkat resiko yang lebih tinggi dengan harapan perolehan tingkat

kembalinya yang juga lebih tinggi. Situasi ini akan menjadi buruk ketika

jaminan publik di atas dana pihak ketiga tersedia baik secara eksplisit maupun

implisit. Yang terakhir ini akan mendorong munculnya permasalahan agenda

tersembunyi yang dilakukan oleh bank.

Sebagai lembaga intermediasi, dibawah asynmetric information, manajer

bank dan shareholder memilih resiko porfolio yang tinggi untuk mendapatkan

pengembalian yang tinggi. Situasi ini diperparah ketika terdapat penjaminan

dana pihak ketiga yang dapat mendorong perilaku bank dalam pengambilan

resiko. Pengambilan resiko bank akibat peran penjaminan simpanan dan

intervensi pemerintah lainnya mampu menyebabkan kegiatan agenda

tersembunyi bank, dimana pihak terjamin cenderung ceroboh terhadap perilaku

mengandung resiko dengan alasan kerugian potensial mereka dilindungi oleh

pihak penjamin. Pengambilan resiko bank adalah suatu insentif bank untuk

2
BAB I PENDAHULUAN

mengambil resiko berlebihan demi mendapatkan keuntungan tinggi (Boyd,

2004)

Untuk mengatasi masalah ini, berbagai otoritas membuat skema asuransi

tabungan sebagai jaminan kepada publik. Terdapat berbagai jenis mekanisme

namun dalam hal ini intinnya adalah bank sendiri yang harus meningkatkan

pendanaannya dalam menghadapi kemungkinan terjadinya penarikan besar-

besaran. Skema ini cenderung sudang using. Federal Deposit Insurance

Corporation di Amerika didirikan tahun 1933 sebagai respon dari terjadinya

Great Depresion.

Pada tahun 1933 terjadi Great Depression. Great Depression atau bisa

disebut juga depresi besar adalah sebuah peristiwa kehancuran bursa yang

paling besar dalam sejarah Amerika serikat. Dan akibat dari depresi besar

tersebut mengakibatkan kehancuran perekonomian AS. (detik, 2008)

Menurut Ariefianto dan Soepomo (2013) Great Depression menjadi respon

atas berdirinya Federal Deposit Insurance Corporation di Amerika. Tetapi jauh

sebelum Amerika mendirikan FDIC pada awal tahun 1800 New York telah

mendirikan suatu lembaga yang berperan untuk melindungi deposan/simpanan

jika bank mengalami kebangkutan yang dikenal sebagai lembaga New York

Safety Fund. (Abdullah dan Ahmad, 2013)

Berdirinya sistem deposit insurance sejak awal tahun 1800 di New York

memperlihatkan bahwa deposit insurance telah diterapkan pada perbankan

sejak ratusan tahun lalu jauh sebelum isu perbankan Great Depression terjadi

melanda Amerika Serikat.

3
BAB I PENDAHULUAN

Tahun 1997, Bank Indonesia dibantu IMF melikuidasi 16 Bank tanpa

jaminan simpanan. Hal ini menyebabkan bank runs yang terjadi pada beberapa

bank swasta dan kerugian yang mencapai PDB Indonesia. Krisis multidimensi

ini menyebabkan penurunan nilai Rupiah, likuidasi 16 bank, dan penurunan

kepercayaan publik akan sistem perbankan nasional (Doddy dan Soepomo,

2013).

Untuk meredam krisis tersebut pemerintah Indonesia mengeluarkan

kebijakan blanket guarantee yang mengatur penjaminan pemerintah terhadap

seluruh kewajiban bank umum dan bank perkreditan rakyat. Kebijakan ini juga

dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki kinerja perbankan

serta memperkuat struktur permodalan bank dan mengurangi berbagai dampak

negatif akibat peristiwa bank runs. Blanket Gurantee diberikan tanpa batasan

jumlah simpanan nasabah di bank dan diterapkan oleh Badan Penyehatan

Perbankan Nasional (1998-Februari 2004) bekerjasama dengan Kementrian

Keuangan melalui Unit Pelaksana Penjaminan Pemerintah (sejak 27 Februari

2004).

Pemerintah Indonesia telah menerapkan penjaminan implisit (penuh) mulai

1998 sampai dengan 2005 untuk menghentikan pelarian simpanan dan untuk

memulihkan kepercayaan publik terhadap perbankan. Program penjaminan

salah satu indikasi bahwa sistem perbankan di negara tersebut dalam krisis yang

sudah sistematik (Demirguc,-Kunt dan Huizinga, 1998).

Blanket Guarantee menunjukan implikasi positif dalam mengembalikan

kepercayaan publik terhadap sistem perbankan, namun disisi lain jaminan

4
BAB I PENDAHULUAN

tersebut menyebabkan beban keuangan negara dan potensi agenda tersembunyi

bagi perbankan. Dipihak lain penjaminan pemerintah juga menimbulkan moral

hazard, pengambilan resiko yang eksesif atas beban pembayaran pajak

(Krugman, 1999) . Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia melalui UU

Perbankan No.10 yahun 1998 pasal 37 b mengurangi lingkup penjaminan

dengan mengubah kebijakan blanket guarantee menjadi limited guarantee.

Demi kepentingan penjaminan tersebut, Pemerintah mendirikan lembaga

Penjaminan Simpanan (LPS) pada tanggal 22 september 2004, yang dilegalkan

melalui UU No.24 Tahun 2004.

Pada prinsipnya pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan untuk

mencegah bank runs, turunnya kepercayaan deposan serta dapat meminimalkan

krisis pada bank. Upaya yang dilakukan pemerintah, maka dibentuk Lembaga

Penjaminan Simpanan melalui UU No.24 tahun 2004 (selanjutnya disebut

Undang-Undang LPS). Undang-Undang No 24 tahun 2004 akhirnya dilakukan

sedikit perubahan melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

No.3 tahun 2008 tentang perubahan atas Undang-Undang No.24 tahun 2004

tentang lembaga Penjaminan Simpanan khususnya pada pasal 11 yang

kemudian Perpu ini ditetapkan menjadi Undang-Undang Republik Indonesia

No.7 tahun 2009. Diberlakukanya undang-undang tentang LPS ini, maka setiap

bank yang beroperasi di Indonesia baik bak umum maupun bank perkerditan

rakyat diwajibkan untuk menjadi peserta penjaminan. Pada awalnya dalam

Undang-Undang No.24 tahun 2004 jumlah simpanan nasabah penyimpanan

dana yang dijamin hanya maksimal Rp.100.000.000,- tetapi melalui Peraturan

5
BAB I PENDAHULUAN

Lembaga Penjaminan Simpanan No.2/PLPS/2010 tentang Program Penjaminan

Simpanan, Jumlah simpanan nasabah penyimpan dana yang dijamin maksimal

Rp.2.000.000.000,-.

Pengambilan risiko bank merupakan perilaku manjemen bank dalam

menjalankan risiko tersebut. Peran manajemen resiko semakin penting terutama

dalam kondisi lingkungan perekonomian yang volatile seperti saat ini. Kerugian

sub prime mortgage di Amerika Serikat yang diikuti oleh krisis global telah

menunjukan bahwa manajemen resiko dalam lembaga keuangan masih belum

dilakukan dengan tepat. Upaya perbaikan sebagimana tertuang dalam proposal

Basel III mengusung ide praktik pengambulan resiko yang lebih ketat dan

modal yang lebih besar sebagai buffer.

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang: Pengaruh Deposit Insurance Terhadap Risiko

Operasional Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015 (Studi Kasus

Terhadap Bank Peserta Lembaga Penjamin Simpanan)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah ditulis, maka peneliti

membatasi pembahasan dengan :

1. Bagaimana perkembangan deposit insurance (meliputi tabungan, deposito

dan giro) di perbankan Indonesia selama periode 2011-2015 ?

2. Bagaimana pengambilan risiko operasional bank di Indonesia selama

periode 2011-2015 ?

6
BAB I PENDAHULUAN

3. Seberapa besar pengaruh deposit insurance terhadap resiko operasional di

perbankan Indoensia.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas tujuan yang ingin dicapai berdasarkan

rumusan masalah adalah untuk mengatahui :

1. Perkembangan Deposi Insurance (meliputi tabungan, deposito dan giro) di

Perbankan Indonesia selama periode 2011-2015

2. Bagaimana pengambilan risiko operasional di perbankan Indenesia selama

periode 2011-2014

3. Seberapa besar pengaruh deposit insurance terhadap resiko operasional di

perbankan Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Akademis

Bagi akademisi, terdapat beberapa manfaat hasil penelitian yang dapat

dipeoleh sebagai berikut :

1. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi pembaca

mengenai pengaruh deposit insurance terhadap resiko operasional di

bank konvensional yang beroperasi di Indonesia.

2. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi penulis

menganai deposit insurance terhadap resiko operasional di bank

konvensional yang beroperasi di Indonesia.

7
BAB I PENDAHULUAN

3. Penelitian ini dapat menjadi referensi tentang bagimana deposit

insurance mempengaruhi resiko operasional pada Bank Umum

Konvensional yang ada di Indonesia.

1.4.2 Manfaat Praktis

Bagi praktisi, penelitian ini dapat memberikan manfaat antara lain :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pihak Bank Umum

Konvensional di Indonesia untuk menjadi bahan pertimbangan agar

terhindar dari resiko operasional setelah diterapkan penjaminan

simpanan.

2. Hasil penelitian ini diharpkan dapat menambah wawasan bagi

masyarakat untuk memperhatikan pengambilan risiko oleh manajemen

bank umum konvensional di Indonesia yang mempengaruhi bank-bank

tersebut sebelum melakukan penyimpanan dannya di bank tersebut.

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

1.5.1 Kerangka Pemikiran

Dalam dunia perbankan ada istilah yang dikenal yaitu dana pihak ketiga

(DPK). Dana pihak ketiga merupakan dana yang dipercayakan oleh masyarakat

kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dalam dana dalam bentuk

giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang

dipersamakan dengan itu. DPK dijamin oleh pemerintah sehingga masyarakat

akan merasa aman jika menyimpan dana di bank. DPK sendiri dijamin oleh

lembaga pemerintah yaitu Lembaga Penjamin Simpnana (LPS).

8
BAB I PENDAHULUAN

Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga

Penjaminan simpanan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) merupakan

lembaga yang independen, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan

tugas dan wewenangnya berupa menjamin simpanan nasabah penyimpan dan

turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan

kewenangannya.

Di dalam Undang-undang ini ditetapkan penjaminan simpanan nasabah

bank yang diharapkan dapat memelihara kepercayaan masyarakat terhadap

industri perbankan dan dapat meminimumkan risiko yang membebani anggaran

negara atau resiko yang menimbulkan moral hazard. Penjamin simpanan

nasabah bank tersebut berdasarkan UU diselenggarakan oleh Lembaga

Penjamin Simpanan (LPS). LPS pada dasarnya memiliki dua fungsi, yaitu

menjamin simpanan nasabah bank dan melakukan penyelesaian atau

penanganan bank gagal sebagai bagian dari pemeliharaan stabilitas sistem

perbankan. (Siamat, 2005)

Berdasarkan UU tersebut dapat dikatakan bahwa Deposit Insurance di

Indonesia lebih dikenal dengan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) dimana

lembaga ini berkerja untuk melindungi atau menjamin simpanna deposito

nasabah yang ditabung di Bank. Simpanan deposito yang dijamin oleh LPS

adalah minimun dari rata-rata tabungan bulanan yaitu Rp.2.000.000 dan

maksimum yang dijamin oleh LPS adalah sebesar Rp.2.000.000.000.

9
BAB I PENDAHULUAN

LPS hanya akan menjamin pembayaran simpanan nasabah tersebut sampai

jumlah Rp 2 milyar. Sedangkan jumlah simpanan di atas Rp 2 milyar akan

diselesaikan oleh Tim Likuidasi berdasarkan hasil likuidasi kekayaan bank.

LPS menjamin dana nasabah yaitu berupa :

a. Tabungan

Menurut Undang-undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Tabungan

adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat

tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan

/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

b. Deposito

Deposito atau yang sering juga disebut sebagai deposito berjangka, merupakan

produk bank sejenis jasa tabungan yang biasa ditawarkan kepada masyarakat.

Deposito merupana suatu simpanan dana yang disimpan di bank dalam jangka

waktu tertentu bisa 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun sesuai dengan

kesepakatan dan penarikanya hanya dapat dilakukan sesuai waktu tersebut.

Jumlah uang yang biasanya di depositokan oleh nasabah berjumlah banyak dari

tabungan biasa, karena deposito biasanya mempunyai bunga lebih tinggi jika

dibandingkan dengan tabungan.

c. Giro

Giro merupakan salah satu simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan

dengan cek atau dengan surat perintah. sehingga dalam penarikanya tidak

semudah tabungan.

10
BAB I PENDAHULUAN

Menurut Crouhy, Galai dan Mark (2001) mendefinisikan risiko operasional

sebagai risiko dari pengoperasian suatu bisnis. Marshall (2001) mengemukakan

bahwa risiko operasional adalah semua kemungkinan yang menyebabkan

gangguan pada proses operasional perusahaan. Risiko operasional bisa

ditimbulkan oleh kekeliruan kegiatan operasional dalam perusahaan dan

kekurang telitian atau kurang kontrol dari para karyawan yang terlibat.

Risiko operasional sebagai risiko kerugian yang timbul dari kegagalan atau

tidak memadainya proses internal, manusia dan sistem, atau kejadian-kejadian

eksternal. Risiko operasional sebenarnya bukan merupakan suatu risiko yang

baru dan tidak hanya dihadapi oleh bank, walaupun semua bank akan

menghadapi kegagalan dan harus memiliki proses untuk mengatasinya. Risiko

operasional merupakan risiko yang mempengaruhi semua kegiatan usaha

karena merupakan suatu hal yang inherent dalam pelaksanaan suatu proses atau

aktivitas operasional. Risiko operasional juga merupakan suatu risiko yang

sebagain sudah mencakup hampir seluruh risiko yang mungkin terjadi di Bank

Konvensonal.

Berdasarkan pengertian independen variabel dan dependen variabel

menurut Ariefianto dan Soepomo (2013) menyatakan bahwa :

“Dengan adanya deposit insurance tersebut, menimbulkan masalah baru pada


dunia perbankan. Adanya deposit insurance cenderung mendorong manajer
bank untuk mengambil risiko yang berlebih agar dapat memperoleh tingkat
pengembalian yang lebih tinggi. Hal tersebut menimbulkan asimetris informasi
antara manajer bank dan deposan dan menimbulkan masalah moral hazard pada
perbankan.”

11
BAB I PENDAHULUAN

Dengan kata lain bahwa deposit insurance dan pengambilan risiko

memiliki hubungan yang tidak dapat diabaikan karena deposit insurance dapat

mempengaruhi pengambilan resiko pada Bank.

Tabel 1.5
Penelitian terdahulu

No Peneliti Tahun Judul Penelitian Hasil


1. Enkbold dan 2013 The Effect of Deposit Insurance Pengujian menemukan bahwa
Otgonshar on Risk Taking in Asian Banks pelaksanaan asuransi deposito
membantu untuk menstabilkan
sistem perbankan, namun juga
menyebabkan bank mengambil
risiko berlebihan. Insentif
mengambil risiko bervariasi dengan
ukuran bank dan risiko.
2. Ariefianto 2013 Risk Taking Behaviour on Pengujian dalam penellitian ini
dan Indonesian Bank. Analysis on menemukan :Pertama, perilaku
Soepomo The Impact of Deposit pengambilan risiko berkorelasi
Insurance Corporation negatif dengan ukuran bank, Kedua,
Establishment implementasi LPS mengubah
perilaku pengambilan risiko meski
agak berbeda dengan hipotesis awal.
Dengan tidak mengikut sertakan
masa interksi, implementasi
cendrung meningkatkan
pengambilan risiko kredit. Ketiga,
implementasi LPS cenderung
menurunkan pengambilan resiko
operasional yang sejalan dengan
hipotesa. Keempat, dengan
mengontrol jenis bank, ditemukan
bahwa bank milik pemerintah
cenderung mengurangi risiko ketika
ukuran meningkat, dan ini
merupakan temuan keliama dalam
papper ini. Keenam, bank milik
pemerintah cenderung meningkatkan
perilaku pengambilan risiko ketika
modalnya meningkat, sementara
jenis bank lain sebaliknya.

Sumber :dikembangakan dari beberapa skripsi

12
BAB I PENDAHULUAN

Hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa pada penelitian Enkbold dan

Otgonshar (2013) dengan judul The Effect of Deposit Insurance on Risk Taking

in Asian Banks memiliki hasil penelitian bahwa pelaksanaan asuransi deposito

membantu untuk menstabilkan sistem perbankan, namun juga menyebabkan

bank mengambil risiko berlebihan. Insentif mengambil risiko bervariasi dengan

ukuran bank dan risiko. Perbedaaan dengan penelitian terdahulu yaitu variabel

Y yang digunakan dalam penelitian ini merupakan default risk, credit risk and

liquidity risk dan objek penelitian ini merupakan seluruh bank yang ada di Asia.

Persamaan dalam penelitian ini adalah pada variabel X yaitu berupa dana yang

dijamin oleh bank.

Pada penelitian Ariefianto dan Soepomo (2013) Risk Taking Behaviour on

Indonesian Bank. Analysis on The Impact of Deposit Insurance Corporation

Establishment. Perbedaan dengan penelitian tersebut dalam variabel Y

menggunakan 3 variabel yaitu risiko operasional, operasional kredit, dan risiko

suku bunga dan pada objek serta periode dan karakteristik internal. Persamaa

dengan penelitian ini sama dalam variabel yang digunakan yaitu salah satu

variabel Y (risiko operasional).

13
BAB I PENDAHULUAN

1.5.2 Hipotesis Penelitian


Berdasarkan kerangka pemikiran dan penelitian terdahulu maka dapat

ditarik kesimpulan sementara bahwa “Deposit Insurance Mempengaruhi Risiko

Operasional pada Bank Umum Konvensional periode 2011-2015”.

Sesuai dengan judul diatas maka model penelitian yang digunakan dalam penelitian

ini dapat dilihat pada :

Gambar 1.1

Paradigma Penelitian

Deposit
Insurance Manajemen
Hipotesis Risiko
Tabungan (X1)
Risiko
Deposito (X2) Operasional
(Y1)
Giro (X3)

14
BAB I PENDAHULUAN

1.6 Bagan Kerangka Pemikiran

Gambar 1.2

Bagan Kerangka Pemikiran

Sumber : Data diolah

Keterangan :

: Diteliti

: Tidak diteliti

15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II

Tinjauan Pustaka

2.1 Tinjauan Umum Perbankan Indonesia

Perbankan secara umum merupakan lembaga keuangan yang melakukan

kegiatan berupa pengumpulan dana dari masyarakat dan menyalurkanya kembali

kepada masyarakat dalam berbagai bentuk. Perbankan adalah segala sesuatu yang

menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan

proses dalam bentuk melaksanakan kegiatan usahanya.

2.1.1 Pengertian Bank

Bank merupakan salah satu bentuk dari lembaga keuangan. Bank diartikan

sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah mengimpun dana dari

masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta

memberikan jasa bank lainnya. Sedangkan lembaga keuangan didefinisikan sebagai

setiap perusahaan yang bergerak di bidang keuangan di mana kegiatannya baik

hanya menghimpun dana, atau hanya menyalurkan dana atau kedua-duanya

menghimpun dan menyalurkan dana. (Kasmir, 2012:12)

Dendawijaya (2009:14) mengemukakan pengertian bank adalah suatu

badan usaha yang tugas utamanya sebagai perantara keuangan (financial

intermediaries), yang menyalurka dana dari pihak yang berkelebihan dana (idle

16
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

fund surplus unit) kepada pihak yang membutuhkan dana atau kekurangan dana

(deficit unit) pada waktu yang ditentukan.

Di dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 31 dijelaskan:“Bank

adalah lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary)

antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang membutuhkan dana, serta sebagai

lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran”.

Pengertian Bank menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998

Tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan adalah “Badan usaha yang

menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya

kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam

rangka meningkatkan taraf hidup rakyat”.

Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa bank merupakan perusahaan

yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya usaha perbankan selalu berkaitan

dengan masalah bidang keuangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa usaha perbankan

meliputi kegiatan utama yaitu:

a. Menghimpun dana

b. Menyalurkan dana

c. Memberikan jasa bank lainnya

Menghimpun dana maksudnya adalah mengumpulkan atau mencari dana

(uang) dengan cara membeli dari masyarakat luas dalam bentuk simpanan giro,

tabungan dan deposito. Kegiatan penghimpunan dana ini sering disebut dengan

17
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

istilah funding. Sedangkan yang dimaksud dengan menyalurkan dana adalah

melemparkan kembali dana yang diperoleh lewat simpanan giro, tabungan, dan

deposito ke masyarakat dalam bentuk pinjaman (kredit) bagi bank yang

berdasarkan prinsip konvensional atau pembiayaan bagi bank yang berdasarkan

prinsip syariah.

Kegiatan penyaluran dana ini sering disebut dengan istilah lending. Yang

dimaksud dengan jasa bank lainnya adalah jasa bank lainnya adalah jasa pendukung

atau pelengkap kegiatan perbankan terutama untuk mendukung kelancaran kegiatan

menghimpun dan menyalurkan dana, baik yang berhubungan langsung dengan

kegiatan simpanan dan kredit maupun tidak langsung.

2.1.2 Fungsi, Asas dan Tujuan Bank

1. Fungsi Bank

Secara umum fungsi bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan

menyalurkan kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan atau sebagai

financial intermediary. Menurut Triandaru dan Budisantoso (2008:7)

menyatakan secara lebih spesifik bank dapat berfungsi sebagai berikut :

1. Agent of trust Yaitu lembaga yang landasannya kepercayaan. Dasar utama

kegiatan perbankan adalah kepercayaaan (trust), baik dalam penghimpunan

dana maupun dalam penyaluran dana. Masyarakat akan mau menitipkan

dananya di bank apabila dilandasi dengan kepercayaan.

18
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Agent of development Yaitu lembaga yang memobilisasi dana untuk

pembangunan ekonomi. Kegiatan perekonomian masyarakat di sector

moneter dan sector riil tidak dapat dipisahkan. Kedua sector tersebut selalu

berinteraksi dan saling mempengaruhi. Sector riil tidak akan dapat

berkinerja dengan baik apabila sector moneter tidak berkinerja dengan baik.

Kegiatan bank tersebut memungkinkan masyarakat melakukan kegiatan

investasi, kegiatan distribusi, serta kegiatan konsumsi barang dan jasa,

mengingat bahwa kegiatan investasi-distribusi-konsumsi ini tidak dapat

dilepaskan dari adanya penggunaan uang. Kelancaran kegiatan investasi-

distribusi-konsumsi ini tidak lain adalah kegiatan pembangunan

perekonomian.

3. Agent of servies Yaitu lembaga yang memobilisasi dana untuk

pembangunan ekonomi. Disamping melakukan kegiatan penghimpunan

dana dan penyaluran dana, bank juga memberikan penawaran jasa

perbankan yang lain kepada masyarakat. Jasa yang ditawarkan bank ini erat

kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat secara umum. Jasa ini

antara lain dapat berupa jasa pengiriman uang, penitipan barang berharga,

dan penyelesaian tagihan.

Ketiga fungsi bank diatas dapat memberikan gambaran yang menyeluruh

dan lengkap mengenai fungsi bank dalam perekonomian, sehingga bank tidak

hanya dapat diartikan sebagai lembaga perantara keuangan (financial

intermediary intituton).

19
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Asas Bank

Bank-Bank di Indonesia dalam melaksananakn kegiatan usahanya

berdasrkan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip ke hati-hatian.

Tujuan diberlakukanya prinsip ke hati-hatian tidak lain adalah agar bank selalu

dalam keadaan sehat (Lukman Santoso, 2011:36-38)

3. Tujuan Bank

Bank-bank di Indonesia pada dasarnya mempunyai tujuan yntuk

menunjang pelaksanaan pembangunan nasional di Indonesia yang

diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan, pemerataan ekonomi, dan

mampu mewujudkan stabilitas nasional di Indonesia. Hak ini diharpkan

akan mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

2.1.3 Jenis – Jenis Bank

Berdasarkan Undang-Undang No:21 tahun 2008 bank berdasarkan sistem

operasionalnya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu bank konensional dan bank

syariah. Bank Konvensional adalah Bsnk yang menjalanakan kegiatan usahanya

secara konvensional dan berdasarkan terdiri atas bank Umum dan Bank Perkreditan

Rakyat. Bank.

Menurut Kasmir (2008:32), jenis perbankan dewasa ini dapat ditinjau dari

berbagai segi yaitu;

20
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Dilihat dari segi fungsinya

Menurut Undang-Undang RI No.10 Tahun 1998 jenis Perbankan menurut

fungsinya terdiri dari :

a. Bank Umum

Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara

konensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam

kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sifat jasa

yang diberikan adalah umum, dalam arti dapat memberikan seluruh jasa

perbankan yang ada. Begitu pula dengan wilayah operasinya dapat

dilakukan di seluruh wilayah. Bank umum sering disebut dengan bank

komersil.

b. Bank Perkeridtan Rakyar (BPR)

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan

kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah

yang dalam kegiatannya tidak dapat memberikan jasa dalam lalu lintas

pembayaran, artinya, disini kegiatan BPR jauh lebih sempit

dibandingkan dengan kegiatan bank umum.

2. Dilihat dari segi kepemilikannya

Ditinjau dari segi kepemilikannya maksudnya adalah siapa saja yang

memiliki bank tersebut. Kepemilikan ini dapat dilihat dari akte pendirian

dan penguasaan saham yang dimiliki bank yang bersangkutan. Jenis bank

dilihat dari segi kepemilikannya adalah sebagai berikut :

21
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

a. Bank Milik pemerintah

Dimana baik akte pendirian maupun modal dimiliki oleh pemerintah,

sehingga seluruh keuangan bank ini dimiliki oleh pemerintah pula.

b. Bank Miliki Swasta Nasional

Bank jenis ini seluruh atau sebagian besarnya dimiliki oleh swasta

nasional serta akte pendirianya pun didirikan oleh swasta, begitu pula

pembagian keuntungannya untuk keuntungan swasta pula.

c. Bank Milik Koperasi

Kepemilikan saham-saham bank ini dimiliki oleh perusahaan yang

beebadan hukum koperasi.

d. Bank Milik Asing

Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada diluar negri, baik

milik swasta asing atau pemerintah asing. Jelas kepemilikannya pun

dimiliki oleh pihak luar negri.

e. Bank Milik Campuran

Kepemilikan saham bank campuran dimiliki oleh pihak asing dan pihak

swasta nasional. Kepemilikan saham secara mayoritas dipegang warga

Negara Indonesia.

3. Dilihat dari segi status

Dilihat dari segi kemampuannya dalam melayani masyarakat maka bank

umum dapat dibagi ke dalam dua macam. Pembagian jenis ini disebut juga

22
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

pembagian berdasarkan kedudukan atau status bank tersebut. Status bank yang

di maksud adalah :

a. Bank Devisa

Merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negeri atau

yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan,

misalanya transfer keluar negr inkaso keluar negri, traveles cheque,

pembukaan dan pembayaran L/C (Letter of Credits) dan transaksi

lainnya. Persayaratan untuk menjadi bank devisa ini ditentukan oleh

Bank Indonesia.

b. Bank Non Devisa

Merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan

transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan

transaksi seperti halnya bank deisa. Jasi, bank non deisa merupakan

kebalikan dari bank deisa, dimana transaksi yang dilakukan masih

dalam batas-batas negara.

4. Dilihat dari segi cara menentukan harga

Jenis bank ini jika dilihat segi atau caranya dalam menentukan harga baik

harga jual maupun harga beli terbagi dalam dua kelompok, yaitu :

a. Bank yang berdasarkan Prinsip Konvensional

Mayoritas bank yang berkembang di Indonesia dewasa ini adalah bank

yang berorientasi pada prinsip konensioanl. Hal ini tidak terlepas dari

sejarah bangsa Indonesia dimana asal mula bank di Indonesia dibawa

23
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

oleh kolonial belanda. Dalam mencari keuntungan dan menentukan

harga kepada para nasabahnya bank yang berdasarkan prinsip

konvensional menggunakan dua metode yaitu menetapkan bungan

sebagai harga, baik untuk prosuk simpanan seperti giro, tabungan

maupun deposito. Demikian pula harga untuk produk pinjamannya juga

ditentukan berdasarkan tingkat suku bunga tertentu. Untuk jasa-jasa

bank lainnya pihak perbankan barat menggunakan atau menerapkan

berbagai biaya-biaya dalam nominal atau prosentase tertentu.

b. Bank yang berdasarkan Prinsip Syariah

Bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah dalam penentuan harag

produknya sangat berbeda dengan bank berdasarkan prinsip

konensional. Bank berdasarkan prinsip syariah adalah aturan perjanjian

berdasarkan hukum islam antara bank dengan pihak lain untuk

menyimpan dana atau pembiayaan usaha atau kegiatan perbankan

lainnya. Dalam menentukan harga atau mencari keuntungan bagi bank

yang berdasarkan prinsip syariah, yaitu pembiayaan berdasarkan prinsip

bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip pernyetaraan

modal (musharakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh

keuntungan (murabahah) pembiayaan barang modal berdasrkan sewa

murni tanpa pilihan (ijarah), pilihan pemindahan kepemilikan atas

barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

24
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.4 Manfaat Bank

Menurut UU No 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang

perbankan, dapat disimpulkan bahwa usaha perbankan meliputi tiga kegiatan,

yaitu menghimpun dana,menyalurkan dana, dan memberikan jasa bank lainnya.

Kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana merupakan kegiatan pokok bank

sedangkan memberikan jasa bank lainnya hanya kegiatan pendukung. Kegiatan

menghimpun dana, berupa mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk

simpanan giro, tabungan, dan deposito.Biasanya sambil diberikan balas jasa

yang menarik seperti, bunga dan hadiah sebagai rangsangan bagi masyarakat.

Kegiatan menyalurkan dana, berupa pemberian pinjaman kepada masyarakat.

Sedangkan jasa-jasa perbankan lainnya diberikan untuk mendukung kelancaran

kegiatan utama tersebut bank didirikan oleh Prof. Dr. Ali Afifuddin, SE. Inilah

beberapa manfaat perbankan dalam kehidupan:

1. Sebagai model investasi, yang berarti, transaksi derivatif dapat dijadikan

sebagai salah satu model berinvestasi. Walaupun pada umumnya

merupakan jenis investasi jangka pendek (yield enhancement).

2. Sebagai cara lindung nilai, yang berarti, transaksi derivatif dapat

berfungsi sebagai salah satu cara untuk menghilangkan risiko dengan

jalan lindung nilai (hedging), atau disebut juga sebagai risk

management.

3. Informasi harga, yang berarti, transaksi derivatif dapat berfungsi sebagai

sarana mencari atau memberikan informasi tentang harga barang

komoditi tertentu dikemudian hari (price discovery).

25
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. Fungsi spekulatif, yang berarti, transaksi derivatif dapat memberikan

kesempatan spekulasi (untung-untungan) terhadap perubahan nilai pasar

dari transaksi derivatif itu sendiri.

5. Fungsi manajemen produksi berjalan dengan baik dan efisien, yang

berarti, transaksi derivatif dapat memberikan gambaran kepada

manajemen produksi sebuah produsen dalam menilai suatu permintaan

dan kebutuhan pasar pada masa mendatang.

Terlepas dari fungsi-fungsi perbankan (bank) yang utama atau turunannya,

maka yang perlu diperhatikan untuk dunia perbankan, ialah tujuan secara

filosofis dari eksistensi bank di Indonesia. Hal ini sangat jelas tercermin dalam

Pasal empat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang menjelaskan,

”Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional

dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas

nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak”. Meninjau lebih

dalam terhadap kegiatan usaha bank, maka bank (perbankan) Indonesia dalam

melakukan usahanya harus didasarkan atas asas demokrasi ekonomi yang

menggunakan prinsip kehati-hatian.4 Hal ini, jelas tergambar, karena secara

filosofis bank memiliki fungsi makro dan mikro terhadap proses pembangunan

bangsa.

2.1.5 Jasa perbankan

Jasa perbankan diberikan untuk mendukung kelancaran menghimpun

dan menyalurkan dana, baik yang berhubungan langsung dengan kegiatan

26
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

simpanan dan kredit maupun tidak langsung. Jasa perbankan lainnya antara

lain sebagai berikut:

 Jasa setoran seperti setoran listrik, telepon, air, atau uang kuliah

 Jasa pembayaran seperti pembayaran gaji, pensiun, atau hadiah

 Jasa pengiriman uang (transfer)

 Jasa penagihan (inkaso)

 Kliring

 Penjualan mata uang asing

 Penyimpanan dokumen

 Jasa cek wisata

 Kartu kredit

 Jasa-jasa yang ada di pasar modal, seperti pinjaman emisi dan

pedagang efek.

 Jasa Letter of Credit (L/C)

 Bank garansi dan referensi bank

 Jasa bank lainnya

2.2 Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga

Penjaminan simpanan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) merupakan lembaga

yang independen, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas dan

wewenangnya berupa menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif

27
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Di

dalam Undang undang ini ditetapkan penjaminan simpanan nasabah bank yang

diharapkan dapat memelihara kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan

dan dpat meminimumkan risiko yang membebani anggaran negara atau resiko yang

menimbulkan moral hazard. Penjamin simpanan nasabah bank tersebut berdasarkan

UU diselenggarakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). LPS pada dasarnya

memiliki dua fungsi, yaitu menjamin simpanan nasabah bank dan melakukan

penyelesaian atau penanganan bank gagal sebagai bagian dari pemeliharaan

stabilitas sistem perbankan. (Siamat, 2005) Penjaminan Simpanan nasabah bank

yang dilakukan LPS bersifat terbatas tetapi dapat mencakup sebanyak-banyaknya

nasabah. Setiap bank yang menjalankan usahanya di Indonesia diwajibkan untuk

menjadi peserta dan membayar premi penjaminan. Dalam hal bank tidak dapat

melanjutkan usahanya dan harus dicabut izin usahanya, LPS akan membayar

simpanan setiap nasabah bank tersebut sampai jumlah tertentu. Adapun simpanan

yang tidak dijamin akan diselesaikan melalui proses likuidasi bank. Likuidasi ini

merupakan tindak lanjut penyelesaian bank yang mengalami kesulitan keuangan.

LPS melakukan tindakan penyelesaian atau penanganan bank yang mengalami

kesulitan keuangan dalam kerangka mekanisme kerja yang terpadu, efisien, dan

efektif untuk menciptakan ketahanan sektor keuangan Indonesia atau disebut

Indonesia Financial Safety Net (IFSN). (Siamat, 2005)

28
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2.1 Fungsi, Tugas dan Wewenang

Lembaga Penjamin Simpanan mempunyai fungsi, tugas dan wewenangnya

sebagaimana di atur dalam Undang-undang No. 24 Tahun 2004.

Fungsi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS):

1. Menjamin simpanan nasabah penyimpan.

2. Turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan

kewenangannnya.

Tugas Lembaga Penjamin Simpanan (LPS):

1. Merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan simpanan.

2. Melaksanakan penjaminan simpanan.

3. Merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif memelihara

stabilitas sistem perbankan.

4. Merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelesaian Bank

Gagal yang tidak berdampak sistemik.

5. Melaksanakan penanganan Bank Gagal yang berdampak sistemik

Wewenang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS):

1. Menetapkan dan memungut premi penjaminan.

29
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Menetapkan dan memungut kontribusi pada saat bank pertama kali menjadi

peserta.

3. Melakukan pengelolaan kekayaan dan kewajiban LPS.

4. Mendapatkan data simpanan nasabah, data kesehatan bank, laporan keuangan

bank, dan laporan hasil pemeriksaan bank sepanjang tidak melanggar kerahasiaan

bank.

5. Melakukan rekonsiliasi, verifikasi, dan/atau konfirmasi atas data tersebut pada

angka 4.

6. Menetapkan syarat, tata cara, dan ketentuan pembayaran klaim.

7. Menunjuk, menguasakan, dan/atau menugaskan pihak lain untuk bertindak bagi

kepentingan dan/atau atas nama LPS, guna melaksanakan sebagian tugas tertentu.

8. Melakukan penyuluhan kepada bank dan masyarakat tentang penjaminan

simpanan.

9. Menjatuhkan sanksi administratif.

2.2.2 Skema Penjaminan Simpanan (Deposit Insurance scheme)

Menurut Siamat, 2005, dalam hal pelaksanaan penjaminan simpanan

terdapat skema penjaminan simpanan sebagai berikut:

30
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Kepesertaan

Setiap bank yang melakukan kegiatan usaha di wilayah negara Indonesia menurut

undang-undang ini wajib menjadi peserta penjaminan. Kewajiban untuk mengikuti

skema penjaminan berlaku pula bagi kantor cabang dari bank yang berkedudukan

di luar negeri yang melakukan kegiatan perbankan dalam wilayah Republik

Indonesia. Sedangkan kantor cabang dari bank yang berkedudukan di Indonesia

yang melakukan kegiatan perbankan di luar wilayah Republik Indonesia tidak

termasuk dalam skema penjaminan.

2. Jenis dan Jumlah Simpanan yang dijamin

Jenis simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan adalah sebagai

berikut:

a. Giro

b. Deposito

c. Tabungan, dan/atau yang dipersamakan dengan itu

Nilai simpanan yang dijamin LPS menurut ketentuan dalam skema penjaminan ini

adalah sebagai berikut:

a. Nilai simpanan yang dijamin setiap nasabah pada satu bank maksimal

Rp.2.000.000.000

b. Nilai simpanan yang dijamin dapat diubah apabila dipenuhi salah satu atau lebih

kriteria sebagai berikut:

31
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. terjadi penarikan dana perbankan dalam jumlah besar-besaran

2. terjadi inflasi yang cukup besar dalam beberapa tahun

3. jumlah nasabah yang dijamin seluruh simpanannya menjadi kurang dari

90% dari jumlah nasabah penyimpan seluruh kantor bank.

3. Premi Penjaminan dan Pembayaran Klaim

Bank-bank yang menjamin peserta skema penjaminan diwajibkan membeyar premi

penjaminan untuk setiap periode tertentu sebesar 0,1% (satu basis point) dari rata-

rata saldo bulanan total simpanan dalam setiap periode. Perhitungan jumlah premi

dilakukan sendiri oleh bank. Namun dapat diverifikasi oleh LPS melalui

pemerikasaan dokumen, pemanggilan pejabat bank yang bersangkutan, dan atau

pemeriksaan langsung pada bank. Pemeriksaan langsung tersebut dilakukan oleh

otoritas Lembaga Pengawas Perbankan (LPP) atas permintaan LPS.

2.2.3 Ketentuan Tingkat Bunga Penjaminan

Penetapan maksimum tingkat bunga penjaminan oleh LPS mempunyai beberapa

latar belakang antara lain:

1. Membatasi exposure yang menjadi beban LPS mengingat penjaminan meliputi

pokok dan bunga.

2. Mencegah moral hazard pengelola bank untuk menggunakan bunga yang tinggi

sebagai insentif pengerahan dana masyarakat

3. Mendorong masyarakat bersikap hati-hati dalam penempatan dananya.

32
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berdasarkan ketentuan Pasal 19 huruf b UU LPS, klaim penjaminan

nasabah penyimpan dinyatakan tidak layak bayar apabila nasabah tersebut

merupakan pihak yang diuntungkan secara tidak wajar. Nasabah penyimpan

dinyatakan sebagai pihak yang diuntungkan secara tidak wajar apabila nasabah

tersebut memperoleh tingkat bunga melebihi maksimum tingkat bunga penjaminan

yang ditetapkan LPS. Ketentuan maksimum tingkat bunga penjaminan tersebut

hanya diberlakukan untuk simpanan yang mempunyai komponen bunga, dan tidak

diberlakukan untuk simpanan di bank syariah yang tidak mempunyai komponen

bunga. LPS tidak menetapkan maksimum bagi hasil yang diterima nasabah

penyimpan di bank syariah, mengingat besarnya bagi hasil tidak tentu, bersifat

fluktuatif dan tidak diperjanjikan di muka. Oleh karena itu, meskipun realisasi bagi

hasil simpanan di bank syariah apabila diekuivalenkan dengan tingkat bunga

(equivalent return) melebihi maksimum tingkat bunga penjaminan, simpanan di

bank syariah tersebut tetap dijamin oleh LPS.

2.2.4 Pedoman Dari International Association of Deposit Insurers (IADI)

IADI merupakan sebuah organisasi lembaga penjamin dunia dengan tujuan

meningkatkan efektivitas dari sistem penjamin simpanan dengan terus

mengembangkan pedoman sistem penjamin simpanan antar institusi lembaga

penjamin simpanan dari berbagai negara.

Ada beberapa hal yang bisa dipedomani dari IADI yaitu:

33
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Kepesertaan

Secara teoritis, kepesertaan dalam program penjaminan dapat bersifat wajib

(mandatory) atau sukarela (voluntary). Dari 60 lembaga penjamin simpanan yang

ada di dunia, mayoritasnya mempunyai keanggotaan yang bersifat wajib. Meski

bersifat wajib, di beberapa negara seperti Filipina, Kanada, dan Amerika Serikat,

penjamin simpanan mendapat wewenang untuk menghentikan (termination) atau

membatalkan (cancelation) kepesertaan suatu bank dariprogram penjaminan.

Penjamin simpanan akan mengambil langkah itu, apabilabank peserta tidak

memenuhi syarat dan kondisi tertentu.

2. Pendanaan

Ada dua model kontribusi yang diterapkan. Pertama, kontribusi dari bank peserta

dilakukan sebelum muncul bank yang dicabut izin usahanya (ex ante) dengan

melalui premi dan penerimaan lainnya yang diakumulasikan sebagai cadangan

penjaminan. Kedua, kontribusi dari bank peserta penjaminan dilakukan setelah

adanya bank yang dicabut izin usahanya (ex post) dengan cara meminta semua bank

memberi kontribusi atas biaya kegagalan suatu bank dengan proporsi tertentu.

3. Premi

Dalam prakteknya, ada dua metode dominan yang digunakan untuk menghitung

premi. Pertama, premi ditetapkan dengan persentase yang sama untuk semua bank

(flat rate premium). Kedua, premi ditetapkan dengan persentase yang berbeda

sesuai dengan tingkat risiko kegagalan masing-masing bank

(riskbased/differentiated premium).

34
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. Kepedulian Masyarakat

Pencegahan kepanikan itu menjadi bagian dari sejumlah tugas yang diemban

penjamin simpanan dengan cara mengedukasi masyarakat. Tujuannya, agar

masyarakat mendapat pemahaman dan informasi mengenai jenis dan jumlah

simpanan yang dijamin. Selain itu masyarakat juga berhak mengetahui syarat dan

prosedur pembayaran penjaminan.

2.2.5. Dana Pihak Ketiga (DPK)

Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dijelaskan dalam UU Nomor 10 tahun 1998

tentang perbankan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank

berdasarkan perjanjian penyimpanan dalam dana dalam bentuk giro, deposito,

sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan

itu. Menurut Kasmir, 2008, Dana Pihak ketiga (DPK) adalah dana yang berasal dari

masyarakat luas yang merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan operasi

bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu membiayai operasinya

dari sumber dana ini. Pencarian dana dari sumber ini relatif paling mudah jika

dibandingkan dengan sumber lainnya dan pencarian dana dari sumber dana ini

paling dominan, asal dapat memberikan bunga dan fasilitas menarik lainnya.

Menarik dana dari sumber ini tidak terlalu sulit, akan tetapi, pencarian sumber dana

dari sumber ini relatif mahal jika dibandingkan dari dana sendiri.

Adapun sumber Dana Pihak Ketiga atau sumber dana yang berasal dari masyarakat

luas dapat dilakukan dalam:

35
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Simpanan giro (demand deposit)

2. Simpanan tabungan (saving deposit)

3. Simpanan deposito (time deposit)

2.2.5.1 Simpanan Giro (Demand Deposit)

Giro merupakan uangn yang bergerak (alat pembayaran utama yang tersedia

untuk menutup pembelian-pembelian pemerintah, perusahaan-perusahaan, dan

masyarakat), pendeknya giro merupakan modal kerja bangsa. .(American Institute

of Banking,1991)

Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan

yang dimaksud dengan giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan

setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran

lainnya atau dengan cara pemindahbukuan. Menurut Latumaerissa, 2011, giro

adalah bentuk simpanan nasabah baik perorangan ataupun perusahaan, lembaga,

atau institusi pada bank yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat oleh giran

atau pemilik dengan menggunakan cek dan giro bilyet atau surat perintah

pemindahbukuan lainnya.

Rekening giro ini memiliki beberapa manfaat bagi nasabah antara lain

sebagai salah satu bentuk penempatan dana (placement fund) dan sekaligus alat

pembayaran secara giral dan sangat praktis dalam penarikannya karena

menggunakan cek atau bilyet giro. Selain itu lebih aman jika dibandingkan dengan

membawa tunai dimana pembayaran degan cek atau bilyet giro, dapat

36
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

meminimalkan kelebihan pembayaran yang mungkin terjadi seperti tidak ada uang

kembalian. Pemegang rekening dapat mengetahui saldo uangnya setiap saat dengan

menghubungi bank yang bersangkutan dan mempunyai peluang untuk

menggunakan jasa-jasa yang dikaitkan dengan rekening giro pada umumnya,

seperti pembayaran listrik, telepon, pajak, dan air minum.

Menurut Kasmir, 2008, jenis-jenis sarana penarikan untuk menarik dana

yang tertanam di rekening giro adalah sebagai berikut:

2.2.5.1.1 Cek (Cheque)

Cek merupakan surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang

memelihara rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada

pihak yang disebutkan di dalamnya atau kepada pemegang cek tersebut. Artinya

bank harus membayar kepada siapa saja yang membawa cek ke bank yang

memelihara rekening nasabah untuk diuangkan sesuai dengan persyaratan yang

telah ditetapkan baik secara tunai atau secara pemindahbukuan. Selain itu ada

beberapa jenis cek yang umum dikenal dalam praktik perbankan.

2.2.5.1.2. Bilyet Giro (BG)

Bilyet Giro merupakan surat perintah dari nasabah kepada bank yang

memelihara rekening giro nasabah tersebut untuk memindahbukuan sejumlah uang

dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya

pada bank yang sama atau bank lainnya.

37
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2.5.1.3. Alat Pembayaran Lainnya

Alat Pembayaran lainnya yaitu surat perintah kepada bank yang dibuat

secara tertulis pada kertas yang ditandatangani oleh pemegang rekening atau

kuasanya untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada pihak lain pada bank

yang sama atau bank lain.

2.2.5.2 Simpanan Tabungan (Saving Deposit)

Rekening tabungan merupakan penghimpunan secara berangsur-angsur dari

kelebihan penghasilan pribadi selama suatu jangka waktu.(American Institute of

Banking,1991)

Pengertian tabungan menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998

adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu

yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan atau alat

lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Syarat-syarat penarikan tertentu maksudnya adalah sesuai dengan

perjanjian yang telah dibuat antara bank dengan si penabung. Sebagai contoh dalam

hal frekuensi penarikan, apakah dua kali seminggu atau setiap hari atau mungkin

setiap saat. Yang jelas haruslah sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Kemudian

dalam hal sarana atau hal penarikan juga tergantung dengan perjanjian antara

keduanya yaitu bank dengan penabung.

Pada umumnya, rekening tabungan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. perseorangan

38
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

b. Bersama, dengan nama dua orang atau lebih, dengan atau tanpa hak hidup

terus (survivorship).

c. Rekening fidusier

d. Rekening Organisasai (Perseroan terbatas, club, asosiasi, distrik, sekolah,

dan seterusnya) yang tidak bekerja untuk laba.

2.2.5.3. Simpanan Deposito (Time Deposit)

Secara ringkas deposito dapat dinyatakan merupakan produksi yang

sekarang yang tidak segera dapat dikonsumsi. Deposito memiliki ciri-ciri untuk

pengambilan seluruh atau sebagian deposito ini diperlukan pemberitahuan

sebelumnya dan karena itu deposito berjangka ini menghasilkan bunga. (American

Insitute of Banking,1991)

Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan

yang dimaksud dengan deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat

dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan

bank.

Artinya jika nasabah deposan menyimpan uangnya untuk jangka waktu tiga

bulan, maka uang tersebut baru dapat dicairkan setelah jangka waktu tersebut

berakhir dan sering disebut tanggal jatuh tempo.

Ada berbagai macam deposito berjangka yang masing-masingnya melayani

tujuan yang agak berbeda dan berkisar dari rekening tabungan yang sudah tidak

asing lagi sampai kepada sertifikat deposito berjangka yang dapat diperdagangkan.

39
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Adapun jenis-jenis deposito yang ada di Indonesia dewasa ini:

2.2.5.3.1. Deposito Berjangka

Deposito berjangka adalah simpanan pihak ketiga di bank yang

penarikannya hanya dapat dilakukan setelah jangka waktu tertentu menurut

perjanjian antara pihak ketiga dengan bank teknis yang bersangkutan

(Latumaerissa, 2011).

2.2.5.3.2. Sertifikat Deposito

Secara sederhana sertifikat deposito dapat didefenisikan sebagai suatu

bentuk simpanan berjangka yang diterbitkan oleh bank yang dapat diperjualbelikan

atau dapat dipindah tangankan kepada pihak tertentu dimana sertifikat deposito

sendiri diterbitkan atas unjuk dalam bentuk sertifikat.( Latumaerissa, 2011).

2.2.5.3.3. Deposito on Call

Merupakan deposito yang berjangka waktu minimal tujuh hari dan paling

lama kurang dari satu bulan. Diterbitkan atas nama dan biasanya dalam jumlah yang

besar misalnya 50 juta rupiah (tergantung bank yang bersangkutan). Pencarian

bunga dilakukan pada saat pencairan deposito on call. Sebelum deposito on call

dicairkan terlebih dahulu tiga hari sebelumnya nasabah sudah memberitahukan

bank penerbit.

40
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Pengertian Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam

mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian

aktivitas manusia termasuk Penilaian Resiko, Pengembangan strategi untuk

mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan atau

pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah

memindahkan risiko kepada pihak lain, menghidari resiko, mengurangi efek negatif

risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu.

Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab

fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan

hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat

dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan.

Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko

yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat

yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman

yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di

sisi lain pelaksanaan manajemen risiko melibatkan segala cara yang tersedia bagi

manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).

41
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3.1 Manajemen Risiko Menurut Ketentuan Bank Indonesia

Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 11/25/PBI/2010 mengenai

Perubahan atas PBI No. 5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003 tentang Penerapan

Manajemen Risiko, terdapat 9 jenis risiko yang wajib dikelola atau

dipertimbangkan oleh Bank Umum yaitu:

2.3.1.1. Risiko Pasar

Risiko pasar adalah risiko kerugian pada posisi On Balance Sheet maupun

Off Balance Sheet akibat perubahan faktor pasar yang meliputi risiko suku bunga,

risiko nilai tukar, risiko ekuitas dan risiko komoditas, dimana risiko suku bunga dan

ekuitas hanya untuk trading book, sedangkan risiko nilai tukar dan komoditas untuk

trading book dan banking book.

Menurut Marrison (2002), ada lima pendekatan yang dapat digunakan untuk

mengukur risiko pasar, yaitu: 1) Sensitivity Analysis, 2) Stress Testing, 3) Scenario

Testing, 4) Capital Asset Pricing Model (CAPM), dan 5) Value at Risk (VaR). Pada

BIS sendiri dalam Pilar 1 menyatakan bahwa ada dua pendekatan yang dapat

dilakukan oleh bank untuk mengukur risiko pasar, yaitu :

• Standardized Model Approach, dimana dalam pendekatan ini biaya modal

dihitung secara terpisah untuk setiap risiko dan dihitung sebagai tambahan modal

untuk menutupi risiko pasar.

42
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

• Internal Model Approach, dimana dalam pendekatan ini bank menghitung seluruh

risiko dengan menggunakan metode yang telah divalidasi oleh pengawas (misal :

VaR).

2.3.2.2. Risiko Kredit

Risiko kredit didefinisikan sebagai risiko kerugian karena kelalaian dari

peminjam atau dalam kejadian adanya penurunan kualitas kredit dari peminjam.

Risiko kredit timbul dari kemungkinan peminjam akan gagal dalam memenuhi

komitmen yang dibuat dalam hal pembayaran kepada bank.

Ada dua pendekatan dalam rangka mengukur risiko kredit, yaitu :

• Standardized Approach, yaitu dengan menggunakan external credit rating untuk

menetapkan bobot risiko.

• Internal Rating Based (IRB), yaitu bank menghitung probability of default untuk

masing-masing kelompok debitur atau dapat juga bank menghitung seluruh

parameter risiko kredit.

2.3.2.3 Risiko Likuiditas

Risiko Likuiditas adalah risiko yang antara lain disebabkan Bank tidak

mampu memenuhi kewajiban yang telah jatuh waktu. Risiko likuiditas dapat

dikategorikan sebagai berikut:

43
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

a. Risiko Likuiditas Pasar, yaitu risiko yang timbul karena Bank tidak mampu

melakukan offsetting posisi tertentu dengan harga pasar karena kondisi likuiditas

pasar yang tidak memadai atau terjadi gangguan di pasar (market disruption);

b. Risiko Likuiditas Pendanaan, yaitu risiko yang timbul karena Bank tidak mampu

mencairkan asetnya atau memperoleh pendanaan dari sumber dana lain. Risiko

Likuiditas dapat melekat pada aktivitas fungsional perkreditan (penyediaan dana),

tresuri dan investasi, kegiatan pendanaan dan instrumen utang. Pengelolaan

likuiditas ini sangat penting karena kekurangan likuiditas dapat mengganggu bukan

hanya Bank tersebut namun sistem perbankan secara keseluruhan.

2.3.2.4. Risiko Hukum

Risiko hukum adalah risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek

yuridis, yang antara lain disebabkan adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan

perundang-undangan yang mendukung, atau kelemahan perikatan seperti tidak

dipenuhinya syarat sahnya kontrak dan pengikatan agunan yang tidak sempurna.

2.3.2.5. Risiko Reputasi

Risiko reputasi adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya

publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha Bank atau persepsi negatif

terhadap Bank.

44
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3.2.6. Risiko Strategik

Risiko strategik adalah risiko yang antara lain disebabkan adanya penetapan

dan pelaksanaan strategi Bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang

tidak tepat atau kurang responsifnya Bank terhadap perubahan eksternal.

2.3.2.7. Risiko Kepatuhan

Risiko Kepatuhan merupakan risiko yang disebabkan Bank tidak mematuhi

atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang

berlaku. Pada prakteknya risiko kepatuhan melekat pada risiko Bank yang terkait

pada peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku, seperti risiko

kredit terkait dengan ketentuan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM),

Kualitas Aktiva Produktif, Pembentukan Penyisihan Aktiva Produktif (PPAP),

Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), risiko pasar terkait dengan ketentuan

Posisi Devisa Neto (PDN), risiko strategik terkait dengan ketentuan Rencana Kerja

Anggaran Tahunan (RKAT) Bank, dan risiko lain yang terkait dengan ketentuan

tertentu.

2.3.2.8. Risiko Valuta Asing

Pasar valuta asing (bahasa Inggris: foreign exchange market, forex) atau

disingkat valas merupakan suatu jenis perdagangan atau transaksi yang

memperdagangkan mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya

(pasangan mata uang/pair) yang melibatkan pasar-pasar uang utama di dunia

selama 24 jam secara berkesinambungan.

45
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Risiko valuta asing (valas) merupakan risiko yang disebabkan oleh

perubahan kurs valuta asing di pasaran yang tidak sesuai lagi dengan yang

diharapkan, terutama pada saat dikonversikan dengan mata uang domestic.

Risiko valas bisa berasal dari beberapa sumber, antara lain transaction,

translation dan economic exposures.

2.3.2.8.1. Transaction exposure


Transaction exposure merupakan risiko yang dihadapi oleh perusahaan

ketika melakukan transaksi dengan pihak lain, baik itu supplier, pelanggan,

ataupun pihak lainnya dengan menggunakan mata uang asing. Sehingga,

perusahaan yang terlibat transaksi ini terekspos terhadap risiko perubahan nilai

valas di masa depan. Perusahaan yang melakukan jual beli dengan denominasi

mata uang asing menghadapi transaction exposure ini.

2.3.2.8.2 Operating exposure

Operating exposure, biasa disebut juga dengan economic exposure atau

strategic exposure, yakni mengukur perubahan pada present value yang

diterima oleh perusahaan akibat perubahan pada arus kas operasi perusahaan

di masa depan, yang disebabkan oleh perubahan yang tidak terduga pada nilai

tukar. Exposure ini mengakibatkan penjualan turun dari pelanggan

internasional. Meskipun dampaknya tidak muncul di neraca, namun

munculnya di laporan laba/rugi, sehingga kemudian mempengaruhi daya saing

perusahaan di pasar.

46
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3.2.8.3 Translation Exposure

Translation atau accounting exposure muncul karena laporan

keuangan dari cabang asing yang dalam mata uang asing, harus dikonversi

ke dalam reporting currency perusahaan induk untuk membuat laporan

keuangan konsolidasi. Misalnya, laporan keuangan dari cabang yang

menggunakan mata uang asing dikonsolidasikan ke laporan keuangan

perusahaan induk ke dalam mata uang lokal.

Translation exposure ini dapat mengakibatkan perubahan pada item-

item neraca seperti utang dan piutang, juga aset dan utang jangka panjang.

2.3.2.9. Risiko Operasional

Risiko operasional telah menyelinap masuk dalam kegiatan bisnis

perusahaan tanpa secara spesifik teridentifikasi. Hal itu jelas yang mengakibatkan

risiko operasional berbeda dengan risiko pasar dan risiko kredit yang mudah

ditemui dan dikenali. Dalam industri asuransi, perkembangan pengukuran

kecukupan modal yang dicadangkan untuk risiko operasional jauh tertinggal

dibandingkan dengan industri perbankan. Sedangkan bisnis utama perusahaan

asuransi adalah berhubungan dengan risiko dan manajemen risiko pada

kesehariannya. Risiko ini melekat pada kontrak asuransi yang diperjanjikan.

Basel II Capital Accord secara khusus mendefinisikan risiko operasional

sebagai risiko kerugian yang timbul dari kegagalan atau tidak memadainya proses

internal, manusia dan sistem, atau kejadian-kejadian eksternal. Secara umum, risiko

47
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

operasional terkait dengan sejumlah masalah yang berasal dari kegagalan suatu

proses atau prosedur. Oleh karena itu, risiko operasional sebenarnya bukan

merupakan suatu risiko yang baru dan tidak hanya dihadapi oleh bank, walaupun

semua bank akan menghadapi kegagalan dan harus memiliki proses untuk

mengatasinya. Risiko operasional merupakan risiko yang mempengaruhi semua

kegiatan usaha karena merupakan suatu hal yang inherent dalam pelaksanaan suatu

proses atau aktivitas operasional.

Bagi otoritas pengawas bank, penerapan managemen risiko akan

mempermudah penilaian terhadap kemungkinan kerugian yang dihadapi bank yang

dapat mempengaruhi permodalan bank dan sebagai salah satu dasar penilaian dalam

menetapkan strategi dan fokus pengawasan bank. Adapun tahap evolusi

managemen risiko operasional dibagi menjadi empat bagian tahap, yaitu:

Tahap 1: Identifikasi dan pengumpulan data

Dalam tahap ini perusahaan perlu melakukan mapping berbagai risiko operasional

yang ada dalam perusahaan dan menciptakan suatu proses untuk mengumpulkan

data dan menjumlahkan kerugian.

Tahap 2: Penyusunan metrics dan tracking

Dalam tahap ini perusahaan perlu menyusun metric dan key risk indicator untuk

tiap risiko operasional yang telah diidentifikasi dalam tahap sebelumnya, termasuk

juga penyusunan sistem tracking data dan informasi frekuensi dan severitas suatu

risiko tertentu.

48
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tahap 3: Pengukuran

Tahap ini perusahaan perlu menyusun suatu metode untuk mengklasifikasi risiko

operasional dari semua unit kerja.

Tahap 4: Managemen

Tahap ini perusahaan perlu melakukan konsolidasi hasil dari tahap tiga untuk

mendapatkan perhitungan alokasi modal untuk menutup risiko operasional dan

analisis kinerja berbasis risiko dan redistribusi portofolio untuk menyesuaikan

profil risiko perusahaan yang diinginkan.

(Muslich, 2007)

2.3.2.9.1 Kejadian Risiko Operasional

Risiko operasional sangat terkait dengan banyaknya masalah yang timbul

karena kelemahan proses di dalam bank. Namun demikian, risiko operasional tidak

hanya terdapat pada bank saja, tetapi pada setiap jenis usaha. Risiko operasional

merupakan risiko yang penting dan dapat mempengaruhi nasabah dalam sehari-

hari. Itu sebabnya mengapa bank meningkatkan fokus perhatiannya pada proses,

prosedur dan pengawasan yang sejalan dengan risiko operasional.

Lembaga Pengawas Perbankan telah mendorong bank-bank untuk melihat

proses operasional seluas mungkin dan mempertimbangkan kejadian-kejadian yang

memiliki frekuensi rendah tetapi memiliki dampak yang tinggi (low frequency/high

impact) selain risiko kredit dan risiko pasar. Ada dua faktor yang digunakan dalam

pengelompokan kejadian risiko operasional yaitu frekuensi dan dampak. Frekuensi

49
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

adalah seberapa sering suatu peristiwa operasional itu terjadi, sedangkan dampak

adalah jumlah kerugian yang timbulkan oleh kejadian risiko operasional.

Kejadian risiko operasional dapat dikelompokkan kedalam empat jenis

kejadian berdasarkan frekuensi dan dampak risiko operasional tersebut, yaitu:

a. Low Frequency/High Impact (LFHI)

b. High Frequency/High Impact (HFHI)

c. Low Frequency/Low Impact (LFLI)

d. High Frequency/Low Impact (HFLI)

Secara umum pengelolaan risiko operasional memfokuskan pada dua jenis

kejadian, yaitu Low Frequency/High Impact (LFHI) dan High Frequency/Low

Impact (HFLI). LFHI sangat sulit untuk dipahami dan sangat sulit untuk diantisipasi

serta LFHI menimbulkan kerugian yang sangat besar bahkan dapat menyebabkan

kejatuhan suatu bank. Sedangkan HFLI dikelola untuk meningkatkan efisiensi

kegiatan usaha.

Pada umumnya bank kurang memperhatikan kejadian yang sifatnya Low

Frequency/Low Impact (LFLI) karena biaya pengelolaan dan pemantauannya lebih

tinggi daripada kerugian yang ditimbulkannya. Sedangkan High Frequency/High

Impact (HFHI) dianggap kurang relevan karena jika jenis kejadian ini timbul pada

bank maka bank tersebut akan jatuh dalam waktu singkat. Dalam hal ini kerugian

yang ada tidak akan dapat diperbaiki dan pengawas bank akan mengambil langkah-

langkah penyehatan bank.

50
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3.2.9.2 Expected Loss dan Unexpected Loss

Pada waktu menghitung kebutuhan modal risiko operasional, bank

diwajibkan untuk mempertimbangkan kerugian yang diperkirakan (expected loss)

dan kerugian yang tidak diperkirakan (unexpected loss).

Kerugian yang diperkirakan (expected loss) adalah kerugian yang timbul

karena dilaksanakannya kegiatan usaha bank secara normal. Untuk memprediksi

kerugian yang diperkirakan, bank menggunakan metode statistik. Dalam hal ini

bank menggunakan data historis dan pengalamannya untuk memprediksi kejadian

yang akan datang.

Kerugian yang tidak diperkirakan (unexpected loss) adalah kerugian yang

berasal dari suatu kejadian yang tidak diharapkan terjadi atau suatu peristiwa

ekstrim dan memiliki probabilitas terjadinya sangat rendah. Bank berusaha

memprediksi unexpected loss dengan menggunakan metode statistik sama halnya

dalam expected loss. Untuk menghitung unexpected loss bank dapat menggunakan

data internal yang tersedia, data eksternal yang berasal dari bank lain dan data yang

berasal dari skenario risiko operasional. Suatu metode sederhana untuk menghitung

kerugian yang tidak diperkirakan adalah dengan menggunakan standar deviasi.

Dalam hal ini standar deviasi akan mengukur simpangan kerugian dari suatu risiko

operasional terhadap rata-rata (mean) kerugian dari seluruh kejadian risiko

operasional.

Untuk menghitung expected loss dan unexpected loss dalam Basel II, bank

harus memiliki data historis kerugian risiko operasional baik itu data internal

51
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

maupun eksternal yang mencakup defenisi-definisi risiko operasional yang berbeda

dan berbagai macam katagori. Untuk mendukung adanya konsistensi penerapan

pendekatan dalam menghitung kerugian risiko operasional diantara bank-bank,

Basel II Accord menetapkan definisi standar mengenai jenis-jenis kerugian risiko

operasional.

2.3.2.9.3 Kategori Kejadian Risiko Operasional

Cara yang paling mudah untuk memahami risiko operasional di bank adalah

dengan mengkategorikan risiko operasional sebagai risiko. Namun demikian,

definisi ini terlalu luas dan kurang membantu dalam pengelolaan risiko operasional.

Oleh karena itu, pemahaman mengenai berbagai kejadian risiko operasional yang

menyebabkan kerugian dapat dikelompokkan ke dalam sejumlah kategori kejadian

risiko yang didasarkan pada penyebab utama kejadian risiko.

Kejadian-kejadian risiko operasional dapat dikelompokkan ke dalam

kategori-kategori sebagai berikut:

a. Risiko proses internal

b. Risiko manusia

c. Risiko sistem

d. Risiko eksternal

e. Risiko hukum

(BSMR Tingkat 1, 2007)

52
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Pengaruh Deposit Insurance Terhadap Risiko Operasional bank Umum


Konvensional Periode 2013-2015

Perlindungan hukum terhadap nasabah penyimpan dana pada lembaga

perbankan diperlukan sebagai upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap

bank yaitu agar masyarakat tetap memiliki keyakinan dalam menyimpan dana yang

dimiliki di bank.

Pada prinsipnya pembentukan Lembaga penjamin Simpanan untuk

mencegah bank runs, turunnya kepercayaan deposan serta dapat meminimalkan

krisis pada bank. Upaya yang dilakukan pemerintah sesuai amanat UU No.10 tahun

1998 maka dibentuk Lembaga Penjamin Simpanan berdasarkan atas Undang-

Undang No.24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

Dasar pembentukan undang-Undang No.24 Tahun 2004 tentang LPS

didasari oleh urgensi perlindungan hukum terhadap nasabah penyimpanan dana

pada lembaga perbankan diperlukan sebagai upaya menjaga kepercayaan

masyarakat terhadap bank, dan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Setelah penerapan deposit insurance jika bank mengambil risiko bank yang

lebih tinggi maka mereka akan dikenakan sanksi dengan presmi asuransi. Adapaun

pengambilan risiko yang berlebihan karena penerapan deposit insurance dilakukan

oleh pelaku bank. Oleh karena itu resiko operasional diukur untuk menjelaskan

hasil dari penelitian karena resiko operasional merupakan risiko yang terjadi karena

kesalahan pelaku atau orang-orang dalam bisnis tersebut dan juga risiko operasional

mencakup hampir sebagian risiko yang mungkin terjadi dalam kegiatan bank.

53
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Basel Committe (2001) resiko operasional sebagai potensi

kerugian bank (baik langsung maupun tidak langsung) akibat kegagalan atau tidak

tepatnya sistem internal. Menurut Ariefianto dan Soepomo (2013) implementasi

LPS cenderung menurunkan pengambilan resiko operasional dan bahwa bank milik

pemerintah cenderung mengurangi resiko ketika ukurannya meningkat.

Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa deposit insurance dan pengambilan

risiko bank khususnya risiko operasional memiliki hubungan yang tidak dapat

dipisahkan karena dengan adanya deposit insurance dapat mempengaruhi

keputusan pengambilan risiko operasional bank.

54
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III

Objek Penelitian dan Metode Penelitian

3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah Deposit

Insurance, yaitu berupa dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank

berdasarkan perjanjian penyimpanan dalam dana dalam bentuk giro, deposito,

sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan

itu. Dan Resiko Operasional yaitu sebagai risiko kerugian yang timbul dari

kegagalan atau tidak memadainya proses internal, manusia dan sistem, atau

kejadian-kejadian eksternal.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah jumlah dari keseluruhan kelompok individu, kejadian-

kejadian yang menarik perhatian peneliti untuk diteliti atau diselidiki (Sekaran,

2006). Populasi yang terdaftar sebagai Peserta Lembaga penjamin Simpanan (LPS)

periode 2013-2015

Sampel adalah bagian dari populasi (elemen-elemen populasi) yang dinilai

dapat mewakili karakteristiknya (Indriantoro dan Supomo, 1999). Penelitian ini

menggunakan sampel yang diambil dari daftar bank peserta LPS. Penentuan sampel

akan menggunakan metode purposive sampling yaitu sampel atas dasar kesesuaian

55
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

karakteristik sampel dengan kriteria pemilihan sampel yang telah ditentukan,

dengan kriteria sebagai berikut:

a. Bank Umum Konvensional periode 2011-2015

b. Bank Umum Konvensional Peserta Lembaga penjamin Simpanan

(LPS)

c. Bank Umum Konvensional Peserta Lembaga Penjamin Simpanan

(LPS) dengan 9 Bank memiliki aset tertinggi.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini dengan data

dokumentasi. Dokumentasi adalah penelitian arsip yang memuat kejadian masa lalu

(Indriantoro dan Supomo, 1999: 146). Pengumpulan data dokumentasi dilakukan

dengan kategori dan klasifikasi data-data tertulis yang berhubungan dengan

masalah penelitian, baik dari sumber dokumen, buku, koran, majalah dan

sebagainya.

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder. Data

sekunder yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1) Data keuangan Dana Pihak Ketiga berupa Tabungan, Deposito dan

Giro yang diambil dari laporan keuangan konsolidasi Bank Umum

Konvensional yang terdaftar sebagai peserta LPS periode 2013-2015

56
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

2) Data Aset Tetap dan Total Aset Bank untuk menghitung Resiko

Operasional yang di ambil dari laporan keuangan konsolidasi

konsolidasi Bank Umum Konvensional yang terdaftar sebagai

peserta LPS periode 2013-2015 .

3.4 Variabel dan operasionalisasi Variabel

Dalam penelitian ini digunakan variabel-variabel untuk melakukan analisis

data. Variabel tersebut terdiri dari variabel terikat (dependent variable) dan

variabel bebas (independent variabel). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah

resiko operasional dan variabel bebas dari penelitian ini adalah deposit insurance

yaitu berupa simpanan deposito, tabungan dan giro.

3.4.1 Variabel bebas

Variabel bebas (independen) adalah variabel yang dapat mempengaruhi

variabel terikat secara positif atau negatif (Sekaran, 2006). Variabel bebas dalam

penelitian ini adalah deposit insurance yaitu berupa simpanan deposito, tabungan

dan giro.

3.4.1.1 Simpanan Giro

Giro merupakan uangn yang bergerak (alat pembayaran utama

yang tersedia untuk menutup pembelian-pembelian pemerintah,

perusahaan-perusahaan, dan masyarakat), pendeknya giro

merupakan modal kerja bangsa. .(American Institute of

Banking,1991)

57
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

Perhitungan dari simpanan giro didapat dari :

Giro = Jumlah Simpanan Giro dijamin Pemerintah

Total seluruh data

3.4.1.2 Simpanan Deposito

Secara ringkas deposito dapat dinyatakan merupakan produksi

yang sekarang yang tidak segera dapat dikonsumsi. Deposito

memiliki ciri-ciri untuk pengambilan seluruh atau sebagian

deposito ini diperlukan pemberitahuan sebelumnya dan karena

itu deposito berjangka ini menghasilkan bunga. (American

Insitute of Banking,1991)

Perhitungan dari simpanan deposito di dapat dari :

Deposito = Jumlah Simpanan Deposito dijamin Pemerintah

Total Seluruh Data

3.4.1.3 Simpanan Tabungan

Rekening tabungan merupakan penghimpunan secara

berangsur-angsur dari kelebihan penghasilan pribadi selama

suatu jangka waktu.(American Institute of Banking,1991)

Perhitungan dari simpanan deposito di dapat dari :

Tabungan = Jumlah Simpanan tabungan dijamin

Total seluruh data

58
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

3.4.2 Variabel Terikat

Variabel terikat (dependent variable) merupakan variabel yang terikat dan

variabel yang dipengaruhi oleh variabel lainnya. Melalui analisis terhadap variabel

terikat adalah mungkin untuk menemukan jawaban atas suatu masalah (Sekaran,

2006). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah resiko operasional.

Basel II Capital Accord secara khusus mendefinisikan risiko operasional sebagai

risiko kerugian yang timbul dari kegagalan atau tidak memadainya proses internal, manusia

dan sistem, atau kejadian-kejadian eksternal. Secara umum, risiko operasional terkait

dengan sejumlah masalah yang berasal dari kegagalan suatu proses atau prosedur.

Perhitungan resiko operasional diperoleh dari :

Risiko Operasional = Total fixed asset

Total Aseet

Dimana total fixed asset merupakan harta kekayaan atau sumber daya

entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta dikuasai dari hasil kegiatan

ekonomi (transaksi) pada masa yang lalu. Sedangkan total aset merupakan sumber

daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan

darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan.

59
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

3.4.3 Operasionalisasi Variabel

Variabel Sub Variabel Indikator Skala


Deposit Deposito adalah produk Jumlah deposito nasabah yang Rasio
simpanan di bank yang dijamin pemerintah
Insurance (X)
penyetorannya maupun
= Jumlah deposito yang dijamin
Deposit insurance penarikannya hanya bisa
merupakan dilakukan pada waktu Total seluruh data
lembaga tertentu saja.
penjamin
Tabungan adalah suatu
simpanan yang di simpanan yang berupa uang Jumlah tabungan nasabah yang Rasio
bangun dari pihak ke tiga dijamin pemerintah
pemerintah untuk (perorangan) atau suatu
badan usaha pada Bank, = Jumlah deposito yang dijamin
melindungi
simpanan yang dimana penarikan
Total seluruh data
uangnya dapat dilakukan
nasabah di bank
setiap saat dengan
berupa tabungan menggunakan media
deposito dan giro tertentu, tapi tidak dapat
menggunakan biyet giro,
(UU RI No.24) cek ataupun alat-alat
lainnya

Giro merupakan suatu cara


pembayaran yang hampir
merupakan kebalikan dari
sistem cek, berupa surat Jumlah giro nasabah yang dijamin Rasio
perintah untuk pemerintah
memindahbukukan
sejumlah uang dari rekening = Jumlah giro yang dijamin
seseorang kepada rekening
Total seluruh data
lain yang ditunjuk surat
tersebut.

Risiko (Y) Rasio

Risiko Risiko Operasional


Risiko Operasional =
merupakan suatu adalah risiko kerugian yang
kejadian potensial disebabkan karena tak
baik yang dapat berjalannya atau Total of fixed asset
diperkirakan gagalnya proses internal,
maupun yang manusia dan sistem, serta Total Asset
tidak dapat oleh peristiwa eksternal
diperkirakan yang
berdampak
negatif terhadap
pendapatan dan
permodalan.
(Karim, 2011)

60
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

3.5 Teknik Analisi Data

3.5.1 Asumsi Klasik

3.5.1.1 Uji Asumsi Kalsik Normalitas

Pengujian asumsi normalitas untuk menguji data variabel bebas (X) dan

variabel terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan, apakah berdistribusi

normal atau berdistribusi tidak normal. Jika distribusi data normal, maka analisis

data dan pengujian hipotesis digunakan statistik parametrik. Pengujian normalitas

data menggunakan uji kolmogorov-smirnov one sampel test dengan rumus:

𝑀𝑎𝑥 𝐹𝑖
𝐷 = 𝐹𝑜 (𝑋𝑖)−𝑆𝑁(𝑋𝑖) 𝑆𝑁(𝑋𝑖) = 𝑁

Dimana:

Fo (X) = fungsi distribusi komulatif yang ditentukan.

SN (X) = distribusi frekuensi komulatif yang diobservasi dari suatu sampel random

dengan N observasi.

i = 1,2,…N

Adapun kriteria uji : jika probabilitas signifikan > 0,05 maka data berdistribusi

normal.

3.5.1.2 Uji Multikolinearitas

Uji asumsi klasik Multikolinieritas ini digunakan untuk mengukur tingkat

asosiasi (keeratan) hubungan/pengaruh antar variabel bebas tersebut melalui

besaran koefisien korelasi (r). Multikolinieritas terjadi jika koefisien korelasi antar

61
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

variabel bebas lebih besar dari 0,60 (pendapat lain: 0,50 dan 0,90). Dikatakan tidak

terjadi multikolinieritas jika koefisien korelasi antar variabel bebas lebih kecil atau

sama dengan 0,60 (r < 0,60). Dengan cara lain untuk menentukan multikolinieritas,

yaitu dengan :

 Nilai tolerance adalah besarnya tingkat kesalahan yang dibenarkan secara

statistik (a).

 Nilai variance inflation factor (VIF) adalah faktor inflasi penyimpangan baku

kuadarat.

Nilai tolerance (a) dan variance inflation factor (VIF) dapat dicari dengan, sebagai

berikut:

Besar nilai tolerance (a): a = 1 / VIF

Besar nilai variance inflation factor (VIF): VIF = 1 / a

~ Variabel bebas mengalami multikolinieritas jika a hitung VIF.

~ Variabel bebas tidak mengalami multikolinieritas jika a hitung > a dan VIF

hitung< VIF.

62
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

3.5.1.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan

lain. Jika varians dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut

homoskedositas atau tidak terjadi heterokedastisitas. Dan jika varians berbeda maka

disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas

atau tidak terjadi heteroskedasitas (Ghozali;2006).

Deteksi ada tidaknya heterokedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada

tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot antara SRESID dan ZPRED dimana

sumbu Y’ adalah Y yang diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi-Y

sesungguhnya) yang telah di studentized (Ghozali;2006). Selain dengan

menggunakan analisis grafik, pengujian heterokedastisitas dapat dilakukan dengan

Uji Glejser. Uji ini mengusulkan untuk meregresi nilai absolut residual terhadap

variabel independen. Jika variabel independen signifikan secara statistic

mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi heterokedastisitas. Jika

probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5%, maka dapat

disimpulkan model regresi tidak mengandung heterokedastisitas (Ghozali;2006).

3.5.1.4 Uji Autokorelasi

Persamaan regresi yang baik adalah tidak memiliki masalah autokorelasi. Jika

terjadi autokorelasi maka perasamaan tersebut menjadi tidak baik atau tidak layak

dipakai prediksi. Ukuaran dalam menentukan ada tidaknya masalah autokorelasi

dengan uji Durbin-Watson (DW), dengan ketentuan sebagai berikut:

63
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

1. Terjadi autokorelasi positif jika DW di bawah -2 (DW < -2).

2. Tidak terjadi autokorelasi jika DW berada di antara -2 dan +2 atau -2 < DW +2

3.5.2 Uji hipotesis

Penelitian ini akan menganalisis pengaruh variabel bebas terhadap resiko

operasional bank umum konvensional. Statistik deskriptif digunakan untuk

menggambarkan atau mendeskripsikan variabel-variabel dalam penelitian. Statistik

deskriptif yang digunakan adalah nilai rata-rata (mean), standard deviasi,

maksimum, dan minimum untuk menggambarkan variabel deposit insurance yaitu

tabungan, deposito dan giro.

Untuk menguji seluruh hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan

regresi liner berganda

Persamaan yang dibentuk adalah sebagai berikut :

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3

dimana:

Y = Resiko Operasional

X1= Tabungan

X2= Deposito

X3= Giro

64
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

a = Konstanta ( nilai Y apabila X1,X2,…Xn= 0)

b = Koefisien Regresi

3.5.2 Uji Nilai T

Uji t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel

independen secara individual menerangkan variasi variabel terikat (Ghozali, 2006).

Pengujian parsial regresi dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel bebas

secara individual mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat dengan asumsi

variabel yang lain itu konstan. Untuk melakukan pengujian t maka dapat digunakan

dengan rumus sebagai berikut:

t = βn/Sβn

Dimana :

t: mengikuti fungsi t dengan derajat kebebasan (df).

βn : koefisien regresi masing-masing variabel.

Sβn : standar error masing-masing variabel.

Dasar pengambilan keputusan:

a. Jika probabilitas (signifikansi)> 0,05 (α) atau T hitung < T tabel berarti hipotesa

tidak terbukti maka H0 diterima Ha ditolak, bila dilakukan uji secara parsial.

65
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

b. Jika probabilitas (signifikansi)< 0,05 (α) atau T hitung > T tabel berarti hipotesa

terbukti maka H0 ditolak dan Ha diterima, bila dilakukan uji secara parsial.

3.5.4 Uji F

Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen

secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Derajat

kepercayaan yang digunakan adalah 5 %. Apabila nilai F hasil perhitungan lebih

besar dari nilai F tabel maka hipotesis alternatif yang menyatakan bahwa semua

variabel independen secara stimultan berpengaruh signifikan tehadap variabel

dependen (Gunjarati, 2001).

Dimana:

R2 : koefisien determinasi

n: Jumlah sampel

k: Jumlah variabel bebas

Dasar pengambilan keputusan:

66
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

a. Jika probabilitas (signifikansi)> 0,05 (α) atau F hitung < F tabel berarti hipotesis

tidak terbukti maka H0 diterima Ha ditolak bila dilakukan secara simultan.

b. Jika probabilitas (signifikansi)< 0,05 (α) atau F hitung > F tabel berarti hipotesis

terbukti maka H0 ditolak dan Ha diterima bila dilakukan secara simultan.

3.5.6 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Menurut Gujarati (2001:98)dijelaskan bahwa koefisien determinasi (R2)

yaitu angka yang menunjukkan besarnya derajat kemampuan menerangkan variabel

bebas terhadap variabel terikat dari fungsi tersebut. Koefisien determinasi sebagai

alat ukur kebaikan dari persamaan regresi yaitu memberikan proporsi atau

presentase variasi total dalam variabel tidak bebas Y yang dijelaskan oleh variabel

bebas X.

Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0 < R2< 1), dengan ketentuan sebagai berikut :

 Jika R2 semakin mendekati angka 1, maka hubungan antara variabel bebas dengan

variabel terikat semakin dekat, atau dengan kata lain model tersebut dapat dinilai

baik.

 Jika R2 semakin menjauhi angka 1, maka hubungan antara variabel bebas dengan

variabel terikat jauh atau tidak erat, atau dengan kata lain model tersebut dapat

dinilai kurang baik.

67
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap

jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap tambahan

satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel

tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu

banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted R2 pada saat

mengevaluasi mana model regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai adjusted R2 dapat

naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model.

Dalam kenyataan nilai adjusted R2 dapat bernilai negatif, walaupun yang

dikehendaki harus bernilai positif. Menurut Gujarati (2003) jika dalam uji empiris

didapat nilai adjusted R2 negatif, maka nilai adjusted R2 dianggap bernilai nol.

Secara matematis jika nilai R2 = 1, maka adjusted R2 = R2 = 1 sedangkan jika nilai

R2 = 0, maka adjusted R2= (1 - k)/(n - k). Jika k > 1, maka adjusted R2 akan bernilai

negative.

68
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV

Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.1 Deposit Insurance dan Resiko Operasional pada Bank Umum


Konvensional Periode 2011-2015

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan

Bank Umum Konvensional yang menjadi Peserta Lembaga Penjamin Simpanan

(LPS) periode 2011-2015. Data yang dikumpulkan diolah terlebih dahulu dan

dianalisis yang disajikan dalam bentuk tabel.

Tabel 4.1

Daftar Bank Umum Konvensional yang diteliti

Nama Bank Bank Tahun


Konvensional 2011 2012 2013 2014 2015
BTN     
BNI     
BRI     
MANDIRI     
BCA     
Bank CIMB Niaga     
Bank Danamon     
Bank Permata     
Maybank     
Sumber : Data diolah

Berdasarkan pada tabel 4.1 pada penelitian ini sampel yang digunakan

adalah 9 (Sembilan) bank umum konvensional yang mana bank tersebut telah

dipilih dengan diolah data yang lengkap dan ditentukan sesuai kriteria yakni

perbankan umum yang ada di Indonesia dengan aset tertinggi.

69
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.1 Perkembangan Deposit Insurance Pada Bank Umum Konvensional


Periode 2011-2015

4.1.1.1 Perkembangan Tabungan Pada Bank Umum Konvensional


periode 2011-2015

Rekening tabungan merupakan penghimpunan secara berangsur-angsur dari

kelebihan penghasilan pribadi selama suatu jangka waktu

Perhitungan dari simpanan deposito di dapat dari :

Tabungan = Jumlah Simpanan tabungan yang dijamin Pemerintah

Total seluruh data

Berdasarkan perhitungan simpanan tabungan pada masing-masing bank


umum konvensional pada periode 2011-2015 dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4.1.1.1

Simpanan Tabungan Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

No Nama Bank Tahun Tabungan Max Min Rata-rata


1 BTN 14.410.554
2 BNI 81.412.810
3 BRI 152.643.459
4 MANDIRI 149.868.333
5 BCA 2011 172.990.000 172.990.000 14.410.554 73.025.087
6 Bank CIMB Niaga 27.747.547
7 Bank Danamon 23.371.081
8 Bank Permata 17.156.724
9 Maybank 17.625.278
Sumber : Data diolah

70
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

No Nama Bank Tahun Tabungan Max Min Rata-rata


10 BTN 20.879.423
11 BNI 100.083.453
12 BRI 182.481.686
13 MANDIRI 202.216.209
14 BCA 2012 200.802.000 202.216.209 18.798.232 69.116.029
15 Bank CIMB Niaga 29.892.991
16 Bank Danamon 27.142.136
17 Bank Permata 22.994.585
18 Maybank 18.798.232
19 BTN 24.238.000
20 BNI 107.518.779
21 BRI 212.997.000
22 MANDIRI 236.510.887
23 BCA 2013 219.738.000 236.510.887 21.455.030 101.584.980
24 Bank CIMB Niaga 35.232.962
25 Bank Danamon 31.885.166
26 Bank Permata 21.455.030
27 Maybank 24.688.995
28 BTN 26.168.000
29 BNI 114.969.594
30 BRI 236.395.000
31 MANDIRI 252.444.999
32 BCA 2014 228.993.000 252.444.999 23.454.717 108.980.135
33 Bank CIMB Niaga 39.166.392
34 Bank Danamon 34.912.909
35 Bank Permata 24.316.606
36 Maybank 23.454.717
37 BTN 30.758.000
38 BNI 129.364.312
39 BRI 272.471.000
40 MANDIRI 271.707.530
41 BCA 2015 244.608.000 272.471.000 25.599.942 120.008.831
42 Bank CIMB Niaga 43.123.113
43 Bank Danamon 32.853.401
44 Bank Permata 29.594.180
45 Maybank 25.599.942
Sumber : Data diolah

71
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Grafik 4.1.1.1

Simpanan Tabungan Bank Konvensional 2011-2015

Berdasarkan pada tabel 4.1.1.1 dan Grafik 4.1.1.1 dapat dilihat jika dalam

dana pihak tabungan jenis tabungan setiap tahun dari 9 bank yang dijadikan sebagai

sampel dalam penelitian ini simpanna tersebut mengalami peningkatan setiap

tahun. Pada tahun 2011 bank yang memiliki simpanna tabungan tertinggi adalah

bank BCA dengan simpanna tabungan sebesar Rp. 172.990.000. hal ini

menunjukan bahwa BCA lebih diminati untuk menyimpan tabungan dibandingkan

dengan bank lain karena bank BCA merupakan Bank swasta. Sedangkan bank yang

memiliki simpanan terendah adalah Bank BTN dengan simpanan tabungan sebesar

Rp. 14.410.554 hal ini menunjukan bawa bank BTN tidak terlalu diminati karena

bank BTn menurpakan bank BUMN.

Pada tahun 2012, bank yang memiliki simpanan tabungan tertinggi sama

dengan pada tahun 2011 yaitu bank BCA dengan besar simpanan tabungan Rp.

72
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

200.802.000 dengan peningkatan sebesar Rp. 27.812.000 hal ini disebabkan karena

bank BCA setiap tahun meningkatkan pelayanan untuk mempermudah nasabah.

Sedangkan bank yang memiliki simpanan tabungan terendah adalah Maybank

dengan besar simpanan Rp. 18.798.232 dalam hal ini Maybank mengalami

peningkatan Rp. 1.172.954 dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp.

17.625.278. bank mandiri simpanana tabungan pada tahun 2012 mengalami

penurunan drastis yaitu sebesar Rp. 18.969.756 dari tahun sebelumnya sebesar Rp.

149.868.333

Pada tahun 2013 bank yang memiliki dana simpanan tabungan tertinggi

adalah bank Mandiri dengan besar simpanan tabungan sebesar Rp. 236.510.887

kemudian bank yang memiliki simpanan tabungan dengan nilai terendah adalah

Bank Permata dengan total simpanan tabungan sebesar Rp. 22.994.585. pada tahun

2013 mulai terlihat bahwa nasabah mulai tertarik melakukan penyimpanan

tabungan pada bank BUMN dibandingkan dengan Bank Swasta.

Pada tahun 2014 Bank Mandiri menjadi bank dengan total simpanan

tabungan tertinggi yaitu dengan besar simpanan sebesar Rp. 252.444.999 dan bank

yang memiliki simpanan tabungan terendah adalah bank Maybank dengan total

simpanan tabungan sebesar Rp. 23.454.717.

Pada tahun 2015 bank yang memiliki simpanan tabungan tertinggi adalah

bank BRI dengan total simpnana tabungan sebesar Rp. 272.471.000 dari

sebe,umnya total simpanan Rp. 236.395.000 dengan peningkatan sebesar

Rp.36.076.000. hal ini memperlihatkan bahwa kinerja bank BRI pada tahun 2015

73
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

mulai diperhitungkan oleh nasabah sehingga nasabah mulai tertarik untuk

melakukan penyimpanan dana pada bank BRI. Bank yang memiliki simpanan

tabungan terendah adalah Maybank dengan total simpanan tabungan nasabah Rp.

25.599.942.

Rata-rata simpanan pertahun pada periode 2011 sebesar Rp.73.025.087

pada 2012 Rp. 69.116.029 pada tahun 2013 sebesar Rp.101.584.980 pada tahun

2014 sebesar Rp.108.980.135 pada tahun 2015 sebesar Rp.120.008.831hal ini

menunjukan bahwa setelah diterapkan peraturan bahwa LPS memberikan jaminan

di bawah simpanan Rp.2.000.000.000 pada awalnya mengalami penurunan dari

tahun sebelumnya sebelum ditambah jaminann simpannanya namun setelah

sethaun kemudian mulai bertambah karena penetapan peratutan tersebut meskipun

jumlah simpanan tiap bank mengalami kenaikan dari tahu sebelumnya tetapi rata-

rata menurun pada tahun 2012.

Dari perkembangan dana simpanan tabungan dari tahun 2011-2015 dapat

dilihat pada tahun 2011 bank yang memiliki simpanan tabungan tertinggi adalah

bank Swasta yaitu Bank BCA dengan total simpnan yaitu sebesar Rp.172.990.000

dan bank yang memiliki simpanan terendah adalah bank BUMN yaitu Bank BTN

dengan total simpanan sebesar Rp.14.410.554 dengan rata-rata simpanan pada

tahun tersebut sebesar Rp. 73.025.087 sebelum penjaminan simpanan dinaikan.

Pada tahun 2012 setelah penjaminan simpanan dinaikan rata-rata simpanan

tabungan mengalami penurunan yaitu sebesar Rp.3.909.058 menjadi

Rp.69.116.029 pada awal mula ditetapkan penjaminan simpanan dibawah 2 miliar

rupaih. Pada tahun berikutnya rata-rata mulai naik dan Pada Bank BUMN mulai

74
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

meningkatkan kinerja dan pelayanannya sehingga pada tahun 2012-2015 bank yang

memiliki simpanan tabungan tertinggi dikuasai oleh Bank BUMN yaitu pada tahun

2012-1014 bank yang miliki simpanan tabungan tertinggi adalah Bank Mandiri dan

pada tahun 2015 adalah bank BRI. Untuk bank yang memiliki simpanan tabungan

terendah yaitu Bank BUMS yaitu Maybank dan Permata Bank. Dengan

perkembangan dari tahun 2011-2015 dapat dilihat bahwa bank BUMN setiap tahun

memiliki peningkatanan kinerja terbukti dengan kepercayaan yang diberikan

masyarakat kepada bank tersebut untuk mempercayakan simpanannya kepada bank

BUMN.

4.1.1.2 Simpanan Deposito Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

Menurut Undang-Undang No. 10/1998, Pasal 1 ayat 7 (1998:7) yang

memberikan pengertian deposito adalah sebagai berikut: Deposito adalah simpanan

yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan

perjanjian nasabah penyimpan dengan bank.

Deposito dapat dinyatakan merupakan produksi yang sekarang yang tidak

segera dapat dikonsumsi.

Simpanan depito biasanya lebih besar dibandingkan dengan simpanan lain

yang ada di bank dikarenakan simpanan deposito memiliki bunga yang cukup

tinggi.

75
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Perhitungan dari simpanan deposito di dapat dari :

Deposito = Jumlah Simpanan Deposito yang dijamin Pemerintah

Total Seluruh Data

Berikut merupakan total simpanan deposito pada masing-masing bank

umum konvensional periode 2011-2015.

Tabel 4.1.1.2

Simpanan Deposito Pada Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

No Nama Bank Tahun Deposito Max Min Rata-rata


1 BTN 31.027.400
2 BNI 83.953.714
3 BRI 146.006.981
4 MANDIRI 142.329.684
5 BCA 2011 74.418.000 146.006.981 31.027.400 78.098.126
6 Bank CIMB Niaga 73.397.763
7 Bank Danamon 50.937.074
8 Bank Permata 60.494.389
9 Maybank 40.318.127
10 BTN 41.521.575
11 BNI 84.211.810
12 BRI 177.267.237
13 MANDIRI 144.960.251
14 BCA 2012 73.016.000 177.267.237 41.521.575 85.297.940
15 Bank CIMB Niaga 85.364.373
16 Bank Danamon 48.391.263
17 Bank Permata 60.494.389
18 Maybank 52.454.565
Sumber : Data Diolah

76
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

No Nama Bank Tahun Deposito Max Min Rata-rata


19 BTN 52.845.000
20 BNI 87.037.798
21 BRI 211.948.000
22 MANDIRI 196.385.250
23 BCA 2013 86.591.000 211.948.000 52.845.000 103.910.803
24 Bank CIMB Niaga 91.711.400
25 Bank Danamon 57.500.308
26 Bank Permata 86.319.710
27 Maybank 64.858.759
28 BTN 56.880.000
29 BNI 102.552.029
30 BRI 295.875.000
31 MANDIRI 255.870.003
32 BCA 2014 111.494.000 295.875.000 56.880.000 143.370.902
33 Bank CIMB Niaga 96.332.484
34 Bank Danamon 59.755.706
35 Bank Permata 97.009.785
36 Maybank 62.065.011
37 BTN 65.583.000
38 BNI 133.809.209
39 BRI 282.157.000
40 MANDIRI 232.513.741
41 BCA 2015 113.405.000 282.157.000 65.583.000 128.098.617
42 Bank CIMB Niaga 94.966.361
43 Bank Danamon 66.382.653
44 Bank Permata 90.341.596
45 Maybank 73.728.994
Sumber : Data Diolah

77
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Grafik 4.1.1.2

Simpanan Depsito Bank Konvensional 2011-2015

Berdasarkan tabel 4.1.1.2 dapat dilihat jika dalam dana pihak tabungan jenis

deposito setiap tahun dari 9 bank yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian

ini simpanna tersebut mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2011 bank

yang memilki simpanan deposito tertinggi merupakan bank BRI yaitu dengan total

simpanan deposito sebesar Rp. 146.006.981 dan bank yang memiliki simpanan

deposito terkecil dari sampel adalah bank BTN yaitu dengan total simpanan

deposito sebesar Rp. 31.027.400.

Pada tahun-tahun berikutnya 2012-2015 Bank BRI masih menjadi bank

yang memiliki simpanan deposito tertinggi jika dibandingkan dengan bank-bank

lain yaitu dengan total simpanan pada tahun 2012 sebesar Rp. 177.267.237 pada

tahun 2013 simpanan deposito sebesar Rp.211.948.000 pada tahun 2014 total

simpanan deposito sebesar Rp.295.875.000 pada tahun 2015 total simpanan

deposito sebesar Rp.282.157.000 dan pada tahun 2012-2015 untuk bank yang

78
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

memiliki simpanan depsotio terkecil masih sama seperti pada tahun 2011 yaitu

Bank BTN yaitu dengan total simpanan deposito pada tahun 2012 simpanan

deposito sebesar Rp.41.521.575 pada tahun 2013 total simpanan deposito bank

BTN sebesar Rp.52.845.000 pada tahun 2014 total simpanan deposito sebesar

Rp.56.880.000 dan pada tahun 2015 total simpanan deposito sebesar Rp.

65.583.000.

Rata-rata deposito pada tahun 2011-2015 setiap tahun mengalami kenaikan

baik itu sebelum ditetapkan Peraturanbaru maupun setelah peraturan baru tersebut.

Pada tahun 2015 mengalmi penurunan jumlah rata-rata simpanan sebesar

Rp15.272.285 menjadi Rp. 128.098.617. meskipun mengalami rata-rata penurunan

tetapi dalam jumlah simpanan deposito pada tahun 2015 mengalami kenaikan dari

tahun sebelumnya.

Pada tahun 2011-2015 dapat dilihat bahwa Bank BRI mendapat

kepercayaan dari para nasabah untuk menyimpan dana simpanan deposito

dibandingkan dengan bank lain karena setiap tahun bank BRI simpanan

depositonya meningkat namun pada tahun 2015 bank BRI simpanan depositonya

mengalami penurunan sebesar Rp.13.718.000 dari sebelumnya Rp.295.875.000

menjadi Rp.282.157.000 tetapi jika dibandingkan dengan bank lain bank Bri tetap

menjadi bank yang memiliki simpanan deposito tertinggi.

79
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.1.3 Simpanan Giro Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat

dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau

dengan cara pemindah bukuan. Simpanan giro biasanya digunakan lebih sering

untuk keperluan bisnis karena dirasa lebih mudah untuk penggunaanya.

Perhitungan dari simpanan giro didapat dari :

Giro = Jumlah Simpanan Giro dijamin Pemerintah

Total seluruh data

Berikut merupakan total simpanan Giro pada masing-masing bank umum


konvensional periode 2011-2015.

Tabel 4.1.1.3

Simpanan Giro Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

No Nama Bank Tahun Giro Max Min Rata-rata


1 BTN 12.715.462
2 BNI 65.929.216
3 BRI 76.262.900
4 MANDIRI 92.530.586
5 BCA 2011 76.020.000 92.530.586 11.670.172 43.925.277
6 Bank CIMB Niaga 30.668.994
7 Bank Danamon 11.670.172
8 Bank Permata 17.150.648
9 Maybank 12.379.512
Sumber : Data Diolah

80
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

No Nama Bank Tahun Giro Max Min Rata-rata


10 BTN 12.510.533
11 BNI 73.365.578
12 BRI 79.403.214
13 MANDIRI 113.907.856
14 BCA 2012 96.456.000 113.907.856 12.510.533 51.287.195
15 Bank CIMB Niaga 35.757.755
16 Bank Danamon 14.364.467
17 Bank Permata 21.125.503
18 Maybank 14.693.850
19 BTN 19.116.000
20 BNI 88.183.377
21 BRI 79.337.000
22 MANDIRI 123.445.524
23 BCA 2013 103.157.000 123.445.524 17.691.804 56.977.738
24 Bank CIMB Niaga 36.793.000
25 Bank Danamon 19.775.748
26 Bank Permata 25.300.186
27 Maybank 17.691.804
28 BTN 23.423.000
29 BNI 82.743.186
30 BRI 90.052.000
31 MANDIRI 128.067.091
32 BCA 2014 107.419.000 128.067.091 16.344.264 59.530.971
33 Bank CIMB Niaga 39.224.358
34 Bank Danamon 21.826.609
35 Bank Permata 26.679.229
36 Maybank 16.344.264
37 BTN 31.368.000
38 BNI 90.763.359
39 BRI 114.367.000
40 MANDIRI 172.165.990
41 BCA 2015 115.653.000 172.165.990 15.905.474 69.622.633
42 Bank CIMB Niaga 40.443.603
43 Bank Danamon 15.905.474
44 Bank Permata 29.594.863
45 Maybank 16.342.412
Sumber : Data Diolah

81
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Grafik 4.1.1.3

Simpanan Giro Bank Konvensional 2011-2015

Berdasarkan pada tabel 4.1.1.3 dapat dilihat jika dalam dana pihak tabungan

jenis Giro setiap tahun dari 9 bank yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian

ini simpanna tersebut cenderung mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun

2011 bank yang memiliki total simpanan giro tertinggi adalah Bank Mandiri dengan

total simpanan giro sebesar Rp. 92.530.586. Bank yang memiliki simpana giro

tertinggi adalah bank BTN dengan total simpanan sebesar Rp. 12.379.512

Pada tahun 2012 bank yang memiliki simpanan giro tertinggi masih sama

yaitu bank Mandiri dengan total simpanan giro sebesar Rp. 113.907.856 dan bank

yang memilki simpanan giro tertinggi yaitu bank BTN yaitu sebesar Rp.

12.510.533.

82
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada tahun 2013 bank yang memiliki simpanan giro tertinggi adalah bank

Mandiri dengan besar simpanan giro sebesar Rp. 123.445.524 dan bank yang

memiliki simpanan giro terendah adalah bank Maybank dengan simpanan giro

sebesar Rp.17.691.804.

Pada tahun 2014 bank yang memilki simpanan giro tertinggi adalah bank

Mandiri dengan simpanan sebesar Rp.128.067.091 dan bank yang memilki

simpanan giro tekecil adalah bank Maybank yaitu dengan total simpanan giro

sebesar Rp. 16.344.264.

Pada tahun 2015 bank yang memilki simpanan giro terbesar adalah bank

Mandiri dengan total simpanan giro sebesar Rp.172.165.990 dan bank yang

memiliki simpanan terendah adalah bank Danaom dengan simpanan giro sebesar

Rp.15.905.474.

Berdasarkan dari data perkembangan simpanan giro pada bank umum

konvensional pada periode tahun 2011-2015 dapat dilihat bahwa selama periode

2011-2015 bank yang menguasai penyimpanan giro yang medapat kepercayaan dari

nasabah adalah bank BUMN yaitu bank Mandiri karena dalam periode 2011-2015

bank tersebut mendapatkan total dana simpanan giro dari nasabah paling tinggi jika

dibandingkan dengan bank lain. Meskipun pada tahun 2011 dan 2012 bank BTN

yang merupakan bank BUMN mendapatkan simpanan giro terendah tetapi pada

tahun 2013-2015 bank yang memiliki simpanan giro terendah dimiliki oleh bank

BUMS dapat dilihat jika dari perkembangan tersebut bank BUMN berusaha

83
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

meningkatkan kinerja agar mendapat kepercayaan dari nasabahnya dan agar tidak

kalah dengan BUMS.

4.2 Resiko Operasional Pada Bank Umum Konvensional Periode 2013-


2015

Basel II Capital Accord secara khusus mendefinisikan risiko operasional sebagai

risiko kerugian yang timbul dari kegagalan atau tidak memadainya proses internal, manusia

dan sistem, atau kejadian-kejadian eksternal. Secara umum, risiko operasional terkait

dengan sejumlah masalah yang berasal dari kegagalan suatu proses atau prosedur.

Perhitungan resiko operasional diperoleh dari

Risiko Operasional = Total Fixed Aseset

Total Asset

Dimana total fixed asset merupakan harta kekayaan atau sumber daya

entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta dikuasai dari hasil kegiatan

ekonomi (transaksi) pada masa yang lalu. Sedangkan total aset merupakan sumber

daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan

darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan.

Berikut adalah tabel perhitungan resiko operasional masing-masing bank

umum konvensional pada periode 2011-2015 bank yang menjadi peserta lembaga

penjaminan simpanan.

84
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Tabel 4.1.1.4

Resiko Operasional Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

Risiko
No Nama Bank Tahun Max Min
Operasional
1 BTN 0,016802407
2 BNI 0,013551571
3 BRI 0,003943011
4 MANDIRI 0,010960929
5 BCA 2011 0,010852496 0,016802407 0,003943011
6 Bank CIMB Niaga 0,008411178
7 Bank Danamon 0,013343633
8 Bank Permata 0,007213809
9 Maybank 0,009722837
10 BTN 0,014164044
11 BNI 0,013775997
12 BRI 0,005086484
13 MANDIRI 0,011017124
14 BCA 2012 0,014462097 0,014462097 0,005086484
15 Bank CIMB Niaga 0,008411348
16 Bank Danamon 0,013452329
17 Bank Permata 0,005685296
18 Maybank 0,008796825
19 BTN 0,011608806
20 BNI 0,014259667
21 BRI 0,006345006
22 MANDIRI 0,010429137
23 BCA 2013 0,014974391 0,014974391 0,006345006
24 Bank CIMB Niaga 0,009448311
25 Bank Danamon 0,012932729
26 Bank Permata 0,006931898
27 Maybank 0,007883984
Sumber : Data Diolah

85
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Risiko
No Nama Bank Tahun
Operasional
Max Min
28 BTN 0,010294817
29 BNI 0,014936252
30 BRI 0,007378537
31 MANDIRI 0,010442622
32 BCA 2014 0,015989951 0,015989951 0,0060932
33 Bank CIMB Niaga 0,010657927
34 Bank Danamon 0,012714989
35 Bank Permata 0,0060932
36 Maybank 0,00821089
37 BTN 0,009041515
38 BNI 0,040811613
39 BRI 0,009151912
40 MANDIRI 0,010726382
41 BCA 2015 0,016339949 0,040811613 0,007265767
42 Bank CIMB Niaga 0,0140752
43 Bank Danamon 0,013608312
44 Bank Permata 0,014912626
45 Maybank 0,007265767
Sumber : Data Diolah

Grafik 4.1.1.4

Perkembangan Risiko Operasional Periode 2011-2015

86
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasrkan pada tabel 4.2 pada tahun 2011 bank yang memiliki resiko

operasional tertinggi adalah bank BTN yaitu sebesar 1,68% dan bank yang

memiliki resiko operasional rendah adalah bank BRI yaitu sebesar 0,39%. Pada

tahun 2012 bank yang memilki resiko operasional tertinggi adalah bank Bank BTN

dengan resiko operasional sebesar 1,42% dan bank yang memiliki resiko

operasional terendah adalah bank BRI yaitu sebesar 0,51%.

Pada tahun 2013 bank yang memiliki resiko operasional tertinggi adalah

bank BCA yaitu dengan resiko operasional sebesar 1,50% dan bank yang memiliki

resiko operasional terendah adalah bank BRI yaitu sebesar 0,63%. Pada tahun 2014

bank yang memiliki resiko operasional tertinggi adalah bank BCA dengan

persentase sebesar 1,60% dan bank yang memiliki resiko operasional terendah

adalah bank BRI 0,61%. Pada tahun 2015 bank yang memiliki resiko operasional

tertinggi adalah bank BCA dengan persentase sebesar 4.08% dan bank yang miliki

resiko operasional terendah adalah bank Maybank dengan persentase sebesar

0,73%.

Pada perkembangan resiko operasional perbankan umum konvensional

pada periode 2011-2015 dapat dilihat jika dalam tahun 2011-2012 bank yang

memiliki resiko operasional tinggi merupakan bank BTN dibandingkan dengan

bank lain hal ini menujukan bahwa bank BTN tidak dapat mengontrol resikonya

dengan baik dibandingkan dengan bank lain. Bank BRI menjadi bank BUMN

dengan resiko operasional terendah pada tahun 2011 dengan persentase sebesar

0,39%. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa bank BRI dapat menekan resiko

operasionalnya agar tidak tinggi.

87
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada tahun 2012-2015 bank BUMS dapat menekan resiko operasionalnya

sehingga lebih kecil dari bank BUMN selama periode tersebut. Pada tahun 2013-

2015 bank BCA tidak bisa mengendalikan resiko operasionalnya sehingga bank

tersebut dari tahun 2012-2015 mengalami resiko operasional yang cukup tinggi

dibandingkan dengan bank-bank lain selama periode tersebut padahal pada tahun

sebelumnya resiko bank BCA tidak terllau tinggi jika dibandingkan dengan bank

lain.

4.3 Besar Pengaruh Deposit Insurance Terhadap Resiko Operasional bank


Umum Konvensional Periode 2013-2015

Perlindungan hukum tergadap nasabah penyimpan dana pada lembaga

perbankan diperlukan sebagai upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap

bank yaitu agar masyarakat tetap memiliki keyakinan dalam menyimpan dana yang

dimiliki di bank.

Menurut Basel Committe (2001) resiko operasional sebagai potensi

kerugian bank (baik langsung maupun tidak langsung) akibat kegagalan atau tidak

tepatnya sistem internal. Menurut Soepomo (2013) implementasi LPS cenderung

menurunkan pengambilan resiko operasional dan bahwa bank milik pemerintah

cenderung mengurangi resiko ketika ukurannya meningkat

Setelah penerapan deposit insurance jika bank mengambil resiko bank yang

lebih tinggi maka mereka akan dikenakan sanksi dengan presmi asuransi. Adapaun

pengambilan resiko yang berlebihan karena penerapan deposit insurance dilakukan

88
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

oleh pelaku bank. Oleh karena itu resiko operasional diukur untuk menjelaskan

hasil dari penelitian karena resiko operasional merupakan risiko yang terjadi karena

kesalahan pelaku atau orang-orang dalam bisnis tersebut dan resiko operasional

merupakan resiko yang hampir bisa dikatakan mencakup seluruh resiko yang

mungkin terjadi di bank.

4.3.1 Asumsi Klasik Regresi

Uji asumsi klasik digunakan untuk melihat apakah data penelitian dapat

dianalisis dengan menggunakan persamaan regresi linear berganda. Uji asumsi

klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, uji

heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, dan uji autokorelasi. Model regresi yang

baik adalah model yang lolos dari uji asumsi klasik tersebut (Imam Ghozali, 2009).

4.3.1.1 Uji Normalitas

Uji normalitas berguna untuk menentukan data yang telah dikumpulkan

berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal. Metode klasik dalam

pengujian normalitas suatu data tidak begitu rumit. Berdasarkan pengalaman

empiris beberapa pakar statistik, data yang banyaknya lebih dari 30 angka (n > 30),

maka sudah dapat diasumsikan berdistribusi normal. Biasa dikatakan sebagai

sampel besar.

Model regresi yang baik mensyaratkan adanya normalitas pada data

penelitian atau pada nilai residualnya bukan pada masing-masing variabelnya. Uji

Normalitas Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel dependen,

89
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

independen, atau keduanya berdistribusi normal, mendekati normal, atau

tidak (Umar, 2008:181). Uji normalitas model regresi dalam penelitian ini

menggunakan analisis tabel kolmogrov-smirnov dan grafik dengan melihat

histogram dan normal probability plot. Apabila ploting data membentuk satu garis

lurus diagonal maka distribusi data adalah normal. Berikut adalah hasil uji

normalitas dengan menggunakan diagram.

Sumber:(Laporan Keuangan Publikasi, yang diolah menggunakan pengolah data statistik)

Dengan melihat tampilan grafik histogram, dapat disimpulkan bahwa grafik

histogram memberikan pola distribusi yang normal karena distribusi data

tersebut tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan. Namun, dengan hanya

melihat grafik histogram, hal ini dapat memberikan hasil yang

meragukan/menyesatkan khususnya untuk jumlah sampel yang kecil. Metode yang

90
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

lebih handal adalah dengan melihat normal probability plot (Ghozali,2009:107),

sebagaimana ditampilkan pada Gambar 4.2 berikut :

Sumber:(Laporan Keuangan Publikasi, yang diolah menggunakan pengolah data statistik)

Pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal,

serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Hal ini berarti data

berdistribusi normal. Namun seringkali data kelihatan normal karena

mengikuti garis diagonal. Secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik

bisa jadi sebaliknya. Oleh sebab itu, analisis harus dilengkapi denganuji statistik,

diantaranya adalah uji statistik Kolmogorov-Smirnov (KS).

Uji K-S dilakukan dengan emnggunakan taraf signifikansi 0,05. Data

dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansinya lebih besar dari 0,05 atau 5%.

Dapat dilihat pada tabel dibawah ini, hasil dari uji normalitas dengan menggunakan

uji Kolmogorov-Sminov (KS) melalu program SPSS yakni sebagai berikut :

91
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Tabel 4.3.1.1. Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardize
d Residual

N 45
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation ,14674490
Most Extreme Absolute ,103
Differences Positive ,102
Negative -,103
Test Statistic ,103
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber:(SPSS 23)

Hasil uji kolmogrov-smirnov dapat dilihat dari table Unstandardized

Residual pada Asymp.Sig. (2-tailed) yang menunjukkan bahwa sig > 0,05 yaitu

sebesar 0.200, maka dapat disimpulkan data residual memiliki distribusi normal

sehingga model regresi layak dipakai.

4.3.1.2 Multikolrinelitas

Uji multikolinearitas dalam penelitian ini dengan melihat koefisien

Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai Tolerance. Gangguan multikolinearitas

tidak terjadi jika VIF di bawah 10 atau Tolerance di atas 0,1. Berikut adalah uji

multikolinearitas dalam penelitian ini :

92
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Tabel 4.3.1.2 Uji Multikolrinelitas

Coefficientsa

Standardize

Unstandardized d Collinearity
Coefficients Coefficients Correlations Statistics

Std. Zero-
Model B Error Beta T Sig. order Partial Part Tolerance VIF

1 (Constant) -
-2,393 ,180 ,000
13,263

Tabungan
061 ,117 ,157 ,526 ,601 ,115 ,082 ,070 ,198 5,040
_X1

Deposito_
-,676, ,177 -,909 -3,812 ,000 -,178 -,512 -,507 ,311 3,211
X2

Giro_x3 ,352 ,162 ,737 2,181 ,035 ,126 ,322 ,290 ,155 6,452

a. Dependent Variable: ResikoOperasional_Y


Sumber:Data Olahan SPSS 23

Dari table diatas diperoleh data bahwa deposit insurance bank umum meiliki

nilai VIF yaitu Tabungan (X1) Deposito 5,040 (X2) 3,211 dan Giro (X3) 6,452.

Hasil pengujian multikolonearitas menunjukan bahwa semua variabel bebas

memiliki nilai VIF di bawah angka 10. Dan dari hasil penelitian data di atas bahwa

risiko likuiditas bank umum memiliki tolerance yang sama yaitu 1,000. Hal ini

dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi multikolonearitas.

4.3.1.3 Autokoreksi

Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada

korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu

pada periode t-1 (sebelumnya). Salah satu cara untuk mengetahui ada

93
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

atau tidaknya autokorelasi adalah dengan uji Durbin Watson (DW test). Berikut

adalah uji autokorelasi dalam penelitian ini :

Tabel 4.3.1.3 Autokoreksi

Model Summaryb

Std. Change Statistics

Adjusted Error of R F
Mode R R the Square Chang df df Sig. F Durbin-
l R Square Square Estimate Change e 1 2 Change Watson

1 ,523a ,273 ,220 ,15202 ,273 5,145 3 41 ,004 1,937

a. Predictors: (Constant), Giro_x3, Tabungan_X1, Deposito_X2


b. Dependent Variable: ResikoOperasional_Y
Sumber:(Laporan Keuangan Publikasi, yang diolah menggunakan pengolah data statistik)

Berdasarkan tabel diatas Durbin-Watson (D-W hitung) sebesar 1.937.

Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan hasil autokolerasi yang layak digunakan

dalam penelitian ini jika DW yang diperoleh diantara -2 dan 2. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa hasil analisis regresi memenuhi ketentuan uji autokolerasi

bahwa tidak terjadi autokolerasi.

4.3.1.4 Heterokaditas

Uji heterokedastitas dilakukan dengan plot grafik antara ZPRED (nilai

prediksi) dengan SRESID (nilai residual) pada Gambar Terlihat pada grafik

scatterplots bahwa titik-titik tidak menyebar secara acak disekitar titik 0 pada

sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terjadi heteroskedastisitas pada model

regresi.

94
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Menurut Imam Ghozali (2009), untuk mengobati terhadap pelanggaran

asumsi klasik ini, maka model regresi dapat diubah dalam bentuk semilog atau

doublelog. Untuk mengobati terhadap pelanggaran asumsi klasik ini, model regresi

kita ubah dalam bentuk semi-log yaitu variabel dependen diubah menjadi

logaritma natural (Ln) dan variabel independen tetap sehingga terlihat Gambar 4.

Sumber:(Laporan Keuangan Publikasi, yang diolah menggunakan pengolah data statistik)

Berdasarkan gambar diatas, terlihat bahwa tidak ada pula yang jelas, serta

titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka hasi analisis

regresi memenuhi ketentuan uji heteroskedastisitas bahwa tidak terjadi

heteroskedastisitas.

95
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3.2 Analisis linier berganda

4.3.2.1 Koefisien Determinasi (R2)

Selain untuk menguji hipotesis, analisis regresi berganda juga digunakan

untuk mengukur pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel

dependen serta untuk mengukur koefisien determinasi model penelitian. Untuk

mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel

dependen, maka digunakanlah koefisien determinasi. Dalam penelitian ini, nilai

koefisien determinasi yang dipakai adalah nilai adjusted R square. Tabel berikut ini

menyajikan nilai koefisien determinasi dari model penelitian.

Tabel 4.3.2.1 Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb

Std. Change Statistics

Adjusted Error of R
R R the Square F Sig. F Durbin-
Model R Square Square Estimate Change Change df1 df2 Change Watson

1 ,523a ,273 ,220 ,15202 ,273 5,145 3 41 ,004 1,937

a. Predictors: (Constant), Giro_x3, Tabungan_X1, Deposito_X2


b. Dependent Variable: ResikoOperasional_Y
Sumber:(Laporan Keuangan Publikasi, yang diolah menggunakan pengolah data statistik)

Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai koefisien determinasi R Square

sebesar 0,273 atau 27,3%. Hal ini menunjukkan bahwa Deposit Insurance dalam

Tabungan, Deposito dan Giro berpengaruh sebesar 27,3% terhadap Resiko

Operasional dalam Perbankan Umum Konvensional. Sedangkan sisanya sebesar

72,7% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model.

96
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3.2.2 Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji T)

Uji-T pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel

penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel

dependen. Tampilan output SPSS uji-T dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3.2.2 Uji Parsial

Coefficientsa

Standardize
Unstandardized d Collinearity
Coefficients Coefficients Correlations Statistics

Std. Zero-
Model B Error Beta T Sig. order Partial Part Tolerance VIF

1 (Constant) -
-2,393 ,180 ,000
13,263

Tabungan
061 ,117 ,157 ,526 ,601 ,115 ,082 ,070 ,198 5,040
_X1

Deposito_
-,676, ,177 -,909 -3,812 ,000 -,178 -,512 -,507 ,311 3,211
X2

Giro_x3 ,352 ,162 ,737 2,181 ,035 ,126 ,322 ,290 ,155 6,452

a. Dependent Variable: ResikoOperasional_Y


Sumber: SPSS 23

Berdasarkan penjelasan tabel diatas, diperoleh t hitung masing-masing variabel

dapat kita jabarkan sebagai berikut :

1.Tabungan

Hipotesis uji t untuk variabel Deposit Insurance yaitu tabungan

sebagai berikut : Dari hasil uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar

(0,526) dengan nilai signifikansi sebesar 0,601 atau 6%. Karena signifikansi

97
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

lebih besar dari 5% maka tabungan tidak berpengaruh terhadap resiko

operasional bank umum konvensional.

Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh t hitung 0.526 sehingga -

2,010954<0,526<2,01954. Hal ini menunjukan bahwa tabungan tidak

berpengaruh terhadap resiko operasional.

2.Deposito

Hipotesis uji t untuk variabel Deposit Insurance yaitu Deposito

sebagai berikut : Dari hasil uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar

(-3,812) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 atau 0%. Karena

signifikansi kurang dari 5% maka deposito berpengaruh terhadap resiko

operasional bank umum konvensional.

Beradasarkan hasil uji statistik diperoleh t hitung -3,812 sehingga -

3,812<-2,01952<2,01954. Hal ini menunjukan bahwa deposito memiliki

pegaruh terhadap risiko operasional.

3.Giro

Hipotesis uji t untuk variabel Deposit Insurance yaitu Giro sebagai

berikut : Dari hasil uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar (2,181)

dengan nilai signifikansi sebesar 0,035 atau 3%. Karena signifikansi kurang

dari 5% maka giro berpengaruh terhadap resiko operasional bank umum

konvensional.

Berdasarlan uji statistik diperoleh t hitung 2,181 sehingga -

2,019554<2,181<2,01954 hal ini menujukan bahwa giro memiliki pengaruh

terhadap risiko operasional.

98
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan pada hasil pengujian sebagaimana disajikan maka dapat

dirumuskan persamaan regresinya

Risk Operational= -2,393 + 0,061 Tabungan + -0,676 Deposito + 0,352 Giro

Berdasarkan pada hasil pengujian empiris yang telah dilakukan, hasilnya

menunjukkan bahwa dari hipotesis sejumlah dua hipotesis diterima sedangkan satu

hipotesis ditolak.

pada persamaan diatas dapat diuraikan dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Apabila diasumsikan untuk deposit insurance sebesar 1 dan variabel lainnya

sebesar 0 maka risiko operasional akan berkurang sebesar – 2,393.

2. Apabila diasumsikan untuk simpanan tabungan sebesaar 1 dan variabel

lainnya sebesar 0 maka risiko operasional akan bertambah sebesar 0.061.

3. Apabila diasumsikan untuk simpanan deposito sebesar 1 dan untuk variabel

lainnya sebesar 0 maka risiko operasional akan berkurang sebesar -0,676.

4. Apabila diasumsikan untuk simpanan giro sebesar 1 dan untuk variabel

lainnya sebesar 0 maka risiko operasional akan bertambah sebesar 0,352.

99
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3.2.3 Pengujian hipotesis secara Uji F

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen

yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama

terhadap variabel dependen. Sejauh mana pengaruh antara ketujuh variabel

independen tersebut secara parsial dan simultan dengan variabel dependen dapat

diukur dari nilai F hitung. Pada dasarnya nilai F turunan dari ANOVA (analysis of

variance. Berikut ini merupakan hasil perhitungan Uji-F.

Tabel 4.3.2.3 Pengujian hipotesis secara Uji F

ANOVAa

Sum of
Model Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression ,357 3 ,119 5,145 ,004b

Residual ,947 41 ,023

Total 1,304 44

a. Dependent Variable: ResikoOperasional_Y

b. Predictors: (Constant), Giro_x3, Tabungan_X1, Deposito_X2


Sumber : SPSS 23

Dari table 4.3.2.3 ANOVA diatas dapat diperoleh hasil perhitungan nilai F

hitung yaitu sebesar 5,145 dan dari hasil Df1 = 3, Df2 = 41 dan nilai signifikansi

lebih kecil dari 0,005 atau 5% yaitu 0,005<0,004 hal ini menunjukkan bahwa

Deposit Insurance berpengaruh secara Simultan terhadap variabel dependen yakni

Resiko Operasional.

100
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh Deposit Insurance

terhadap Risiko Operasional Bank Umum Konvensional. Populasi dalam penelitian

ini adalah 9 Bank Umum Konvesional yang memiliki aset tertinggi selama periode

2011-2015 yang berjumlah 45 bank.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Pengaruh Deposit

Insurance terhadap Risiko Operasional Bank Umum Konvensional yang terdaftar

sebagai peserta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada periode 2011-2015 ,

maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

1. Perkembangan Deposit Insurance Pada Bank Umum Konvensional Periode

2011-2015 yang terdaftar sebagai peserta LPS :

a. Dana pihak ketiga jenis tabungan pada tiap tahun selama periode 2011-

2015 mengalami kenaikan yang cukup baik meskipun pada tahun 2012

mengalami penurunan rata-rata namun pada tahun berikutnya mengalami

kenaikan.

b. Dana pihak ketiga jenis deposito pada tiap tahun selama periode 2011-

2015 mengalami kenaiakan yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan

jenis DPK jenis lain.

101
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

c. Dana pihak ketiga jenis giro pada tiap tahun selama periode 2011-2015

mengalami kenaiakan di beberapa bank dan penurunan di beberapa bank.

2. Berdasarkan pada pembahasan sebelumnya bahwa dana pihak ketiga :

a. Dana Pihak Ketiga jenis Tabungan tidak memiliki pengaruh

signifikansi terhadap Resiko Operasional. Karena simpanan

tabungan merupakan jenis simpanan yang mudah untuk di ambil

oleh nasabah sehingga menyebabkan tabungan tidak dapat

digunakan oleh bank untuk menjalankan kegoatan operasionalnya.

b. Dana Pihak Ketiga dengan jenis Deposito Tidak memiliki pengaruh

terhadap resiko operasional bank umum kovensional. hal ini

menunjukan bahwa dengan adanya simpanan deposito yang tiap

tahun meningkat hal tersebut justru menambah bahwa bank bisa

melakukan agenda tersembunyi.

c. Dana Pihak ketiga dengan jenis Giro memiliki pengaruh terhadap

resiko operasional bank umum konvensional. Karena dengan adanya

deposit insurance bank cendreung melakukan agenda tersembunyi.

2. Berdasarkan pembahasan bahwa pengambilan risiko pada bank konvensional

yang dijadikan sampel penelitian bahwa pengambilan risiko terhadap bank

tersebut sebagi peserta lembaga penjamin simpanan cenderung kecil.

3. Berdasarkan penjelasan uji parsial didapat hasil t hitung masing-masing

variabel dapat dijabarkan sebagai berikut :

102
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

a. Tabungan

Hipotesis uji t untuk variabel Deposit Insurance yaitu tabungan sebagai

berikut : Dari hasil uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar (0,526)

dengan nilai signifikansi sebesar 0,601 atau 6%. Karena signifikansi lebih

besar dari 5% maka tabungan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

resiko operasional bank umum konvensional.

b. Deposito

Hipotesis uji t untuk variabel Deposit Insurance yaitu Deposito sebagai

berikut : Dari hasil uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar (-3,812)

dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 atau 0%. Karena signifikansi kurang

dari 5% maka deposito berpengaruh terhadap resiko operasional bank

umum konvensional

a. Giro

Hipotesis uji t untuk variabel Deposit Insurance yaitu Giro sebagai berikut

: Dari hasil uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar (2,181)

dengan nilai signifikansi sebesar 0,035 atau 3%. Karena signifikansi

kurang dari 5% maka giro berpengaruh terhadap resiko operasional bank

umum konvensional.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan hasil penelitian

yang telah dilakukan dan keterbatasan yang ada, yaitu sebagai berikut :

103
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1. Disarankan bagi manajemen Bank Umum Konvensional di Indonesia dapat

menjadikan deposit insurance sebagai faktor untuk melakukan

pertimbangan dalam mengambil resiko lebih banyak pada bank dan

melakukan kontrol interen manajemen bank sehingga dapat meminimalisir

resiko operasional yang diambil bank.

2. Bagi penulis Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu variabel yang

terbatas, maka diharapkan untuk penelitian selanjutnya penulis dapat

melakukan penelitian dengan menambahkan variabelnya.

104
Daftar Pustaka

Abdullah, Syarifah Adlina Syeh, dan Ahmad, Rubi. 2012. Deposit Insurance
System An exposition For The islamic Bank In Malaysia, International
Journal of Social Sciences and Humanity Studies. <repository.um.edu>

Adiwarman, Karim. 2011. Bank Islam “Analisis Fiqih dan Keuangan” PT


Rajagrafindo Persada : Jakarta

American Institute of Bank. 1991 Dasar-Dasar Operasi Bank

Ariefianto, Moch Doddy, dan Soepomo, Soenartomo, 2013. Risk Taking


Behaviour in Indonesia Banks: Analysis on The Impact Of Deposit
Insurance Corporation Establismhment, Buletin Ekonomi Moneter dan
Perbankan.

Asnawi, Said Kelana. 2006. Desain Premi dan Manfaat Asuransi Deposito,
melalui <journal.uii.ac.id>

Ayat, Safri 1996. Kamus praktis Asuransi : Erlangga

Az, Lukman Santoso. 2011. Hak dan Kewajiban Hukum Nasabah Bank.
Yogyakarta. Pustaka Yustisia

Basel Committee on Banking Supervision. 2011. Consultative Document :


Overview of The New basel capital Accord. Bank for International
Settlements

Budisantoso,Totok dan Sigit Triandaru.2011.Bank dan Lembaga Keuangan


Lainnya.Edisi dua.Jakarta:Salemba Empat

Crouhy, M., D. Galai dan R. Mark` 2011. Risk Management, McGraw Hill, New
York, AS

105
Dahlan Siamat, 2005. Manajemen Lembaga Keuangan. “Kebijakan Moneter dan
Perbankan”, Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, edisi
kesatu.

Demirguc,-kunt, A Huizinga, H 2004. Market Disipline and deposit insuranc.


Jpurnal og monetery economic. 51(2) 375-399

Enkhold, Enerelt, dan Orgonshor, Batnairamadal. 2013. The Effect oF Deposit


Insurance on Risk Taking in Asian Banks, Asian Journal of Finance and
Accounting.

Hanafi, Mahmud H. 2012. Manajemen Resiko. Edisi kedua : Yogyakarta : UPP


STIM YKPN

Indriantoro dan Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan
Manajemen. Edisi Pertama. BPFE Yogyakarta. Yogyakarta.

Ismaya, Sujana 2006. Kamus Akuntansi. Bandung : Pustaka Grafika

Kasmir, 2012. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta : Rajawali Pers

Kinasih, Ni Made Sekar Putri. 2014. Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap


Nasabah Yang Mempunyai Simpanan Di Bank Diatas 2 Milyar Rupiah
yang Tidak Dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan.

Latumaerissa, Julius. R, 2011, Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta :


Salemba Empat

Lukman, Dendawijaya. 2009. Manajemen Perbankan. Edisi Kedua. Jakarta :


Ghalia Indonesia.

Marshall, Christopher Lee 2001, Measuring & Managing Operational Risk In


Financial Institution, John Wiley & Sons (Asia) Pte Ltd.

106
Muslich, Muhammad. 2007. Manajemen Resiko Operasional. Jakarta : Bumi
Aksara

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang No.24 tentang Penjaminan


Simpanan

Pemerintah Republik Indonesia. Undang-Undang No. 10/1998 tentang Perbankan

Ratnaningsih. 2012. Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Penyimpan Dana


oleh Lembaga Penjamin Simpanan

Suarniati, I Gusti Ayu. 2012. Pengaruh Pembentukan Lembaga Penjamin


Simpanan Terhadap industri Perbankan (Berdasarkan Undang-Undang
N0.24 Tahun 2004 Trntang lembaga Penjamin Simpanan )

Taswan, 2013. Pengujian Empiris Disiplin Pasar Periode Penjaminan Simpanan


Implisit dan Eksplisit di Indonesia.

107
Lampiran

108
Lampiran 1

Tabel Bank yang Menjadi Sampel Penelitian

Nama Bank Bank Tahun


Konvensional 2011 2012 2013 2014 2015
BTN     
BNI     
BRI     
MANDIRI     
BCA     
Bank CIMB Niaga     
Bank Danamon     
Bank Permata     
Maybank     

109
Lampiran 2 Simpanan Tabungan Bank Konvensional Periode 2011-2015

No Nama Bank Tahun Tabungan Max Min Rata-rata


1 BTN 14.410.554
2 BNI 81.412.810
3 BRI 152.643.459
4 MANDIRI 149.868.333
5 BCA 2011 172.990.000 172.990.000 14.410.554 73.025.087
6 Bank CIMB Niaga 27.747.547
7 Bank Danamon 23.371.081
8 Bank Permata 17.156.724
9 Maybank 17.625.278
10 BTN 20.879.423
11 BNI 100.083.453
12 BRI 182.481.686
13 MANDIRI 18.969.756
14 BCA 2012 200.802.000 200.802.000 18.798.232 69.116.029
15 Bank CIMB Niaga 29.892.991
16 Bank Danamon 27.142.136
17 Bank Permata 22.994.585
18 Maybank 18.798.232
19 BTN 24.238.000
20 BNI 107.518.779
21 BRI 212.997.000
22 MANDIRI 236.510.887
23 BCA 2013 219.738.000 236.510.887 21.455.030 101.584.980
24 Bank CIMB Niaga 35.232.962
25 Bank Danamon 31.885.166
26 Bank Permata 21.455.030
27 Maybank 24.688.995
28 BTN 26.168.000
29 BNI 114.969.594
30 BRI 236.395.000
31 MANDIRI 252.444.999
32 BCA 2014 228.993.000 252.444.999 23.454.717 108.980.135
33 Bank CIMB Niaga 39.166.392
34 Bank Danamon 34.912.909
35 Bank Permata 24.316.606
36 Maybank 23.454.717
37 BTN 30.758.000
38 BNI 129.364.312
39 BRI 272.471.000
40 MANDIRI 271.707.530
41 BCA 2015 244.608.000 272.471.000 25.599.942 120.008.831
42 Bank CIMB Niaga 43.123.113
43 Bank Danamon 32.853.401
44 Bank Permata 29.594.180
45 Maybank 25.599.942

110
Lampiran 3 Simpanan Deposito Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

No Nama Bank Tahun Deposito Max Min Rata-rata


1 BTN 31.027.400
2 BNI 83.953.714
3 BRI 146.006.981
4 MANDIRI 142.329.684
5 BCA 2011 74.418.000 146.006.981 31.027.400 78.098.126
6 Bank CIMB Niaga 73.397.763
7 Bank Danamon 50.937.074
8 Bank Permata 60.494.389
9 Maybank 40.318.127
10 BTN 41.521.575
11 BNI 84.211.810
12 BRI 177.267.237
13 MANDIRI 144.960.251
14 BCA 2012 73.016.000 177.267.237 41.521.575 85.297.940
15 Bank CIMB Niaga 85.364.373
16 Bank Danamon 48.391.263
17 Bank Permata 60.494.389
18 Maybank 52.454.565
19 BTN 52.845.000
20 BNI 87.037.798
21 BRI 211.948.000
22 MANDIRI 196.385.250
23 BCA 2013 86.591.000 211.948.000 52.845.000 103.910.803
24 Bank CIMB Niaga 91.711.400
25 Bank Danamon 57.500.308
26 Bank Permata 86.319.710
27 Maybank 64.858.759
28 BTN 56.880.000
29 BNI 102.552.029
30 BRI 295.875.000
31 MANDIRI 255.870.003
295.875.000 56.880.000 143.370.902
32 BCA 2014 111.494.000
33 Bank CIMB Niaga 96.332.484
34 Bank Danamon 59.755.706
35 Bank Permata 97.009.785
36 Maybank 62.065.011
37 BTN 65.583.000
38 BNI 133.809.209
39 BRI 282.157.000
40 MANDIRI 232.513.741
41 BCA 2015 113.405.000 282.157.000 65.583.000 128.098.617
42 Bank CIMB Niaga 94.966.361
43 Bank Danamon 66.382.653
44 Bank Permata 90.341.596
45 Maybank 73.728.994

111
Lampiran 4 Simpanan Giro Pada Bank Umum Konvensional Periode 2011-2015

No Nama Bank Tahun Giro Max Min Rata-rata


1 BTN 12.715.462
2 BNI 65.929.216
3 BRI 76.262.900
4 MANDIRI 92.530.586
5 BCA 2011 76.020.000 92.530.586 11.670.172 43.925.277
6 Bank CIMB Niaga 30.668.994
7 Bank Danamon 11.670.172
8 Bank Permata 17.150.648
9 Maybank 12.379.512
10 BTN 12.510.533
11 BNI 73.365.578
12 BRI 79.403.214
13 MANDIRI 113.907.856
14 BCA 2012 96.456.000 113.907.856 12.510.533 51.287.195
15 Bank CIMB Niaga 35.757.755
16 Bank Danamon 14.364.467
17 Bank Permata 21.125.503
18 Maybank 14.693.850
19 BTN 19.116.000
20 BNI 88.183.377
21 BRI 79.337.000
22 MANDIRI 123.445.524
23 BCA 2013 103.157.000 123.445.524 17.691.804 56.977.738
24 Bank CIMB Niaga 36.793.000
25 Bank Danamon 19.775.748
26 Bank Permata 25.300.186
27 Maybank 17.691.804
28 BTN 23.423.000
29 BNI 82.743.186
30 BRI 90.052.000
31 MANDIRI 128.067.091
32 BCA 2014 107.419.000 128.067.091 16.344.264 59.530.971
33 Bank CIMB Niaga 39.224.358
34 Bank Danamon 21.826.609
35 Bank Permata 26.679.229
36 Maybank 16.344.264
37 BTN 31.368.000
38 BNI 90.763.359
39 BRI 114.367.000
40 MANDIRI 172.165.990
41 BCA 2015 115.653.000 172.165.990 15.905.474 69.622.633
42 Bank CIMB Niaga 40.443.603
43 Bank Danamon 15.905.474
44 Bank Permata 29.594.863
45 Maybank 16.342.412

112
Lampiran 5

Total Simpanan Dana Pihak Ketiga Tabungan

No Nama Bank Tahun Tabungan Ln


1 BTN 2011 14.410.554 0.003387184
2 BNI 2011 81.412.810 0.01913119
3 BRI 2011 152.643.459 0.035869675
4 MANDIRI 2011 163.779.820 0.035217548
5 BCA 2011 172.990.000 0.040650907
6 Bank CIMB Niaga 2011 27.747.547 0.006520394
7 Bank Danamon 2011 23.371.081 0.005491969
8 Bank Permata 2011 17.156.724 0.004031657
9 Maybank 2011 17.625.278 0.004141763
10 BTN 2012 20.879.423 0.005061683
11 BNI 2012 100.083.453 0.023518603
12 BRI 2012 182.481.686 0.042881358
13 MANDIRI 2012 202.216.209 0.004457702
14 BCA 2012 200.802.000 0.047186447
15 Bank CIMB Niaga 2012 29.892.991 0.007024552
16 Bank Danamon 2012 27.142.136 0.006378129
17 Bank Permata 2012 22.994.585 0.005403496
18 Maybank 2012 18.798.232 0.004417395
19 BTN 2013 24.238.000 0.005695686
20 BNI 2013 107.518.779 0.02526583
21 BRI 2013 212.997.000 0.050052149
22 MANDIRI 2013 236.510.887 0.055577676
23 BCA 2013 219.738.000 0.051636216
24 Bank CIMB Niaga 2013 35.232.962 0.008279391
25 Bank Danamon 2013 31.885.166 0.007492693
26 Bank Permata 2013 21.455.030 0.005041716
27 Maybank 2013 24.688.995 0.005801665
28 BTN 2014 26.168.000 0.006149216
29 BNI 2014 114.969.594 0.027016696
30 BRI 2014 236.395.000 0.055550443
31 MANDIRI 2014 252.444.999 0.059322031
32 BCA 2014 228.993.000 0.053811048
33 Bank CIMB Niaga 2014 39.166.392 0.009203708
34 Bank Danamon 2014 34.912.909 0.008204182
35 Bank Permata 2014 24.316.606 0.005714157
36 Maybank 2014 23.454.717 0.005511622
37 BTN 2015 30.758.000 0.00722782
38 BNI 2015 129.364.312 0.03039931
39 BRI 2015 272.471.000 0.06402794
40 MANDIRI 2015 271.707.530 0.063848532
41 BCA 2015 244.608.000 0.057480416
42 Bank CIMB Niaga 2015 43.123.113 0.010133497
43 Bank Danamon 2015 32.853.401 0.007720218
44 Bank Permata 2015 29.594.180 0.006954334
45 Maybank 2015 25.599.942 0.006015728
Jumlah 4.451.593.502

113
Lampiran 6

Total Simpanan Dana Pihak Ketiga Deposito

No Nama Bank Tahun Deposito Ln


1 BTN 2011 31.027.400 0.006606518
2 BNI 2011 83.953.714 0.017848083
3 BRI 2011 146.006.981 0.031040256
4 MANDIRI 2011 142.329.684 0.030258483
5 BCA 2011 74.418.000 0.015820844
6 Bank CIMB Niaga 2011 73.397.763 0.015603948
7 Bank Danamon 2011 50.937.074 0.010828933
8 Bank Permata 2011 60.494.389 0.012860764
9 Maybank 2011 40.318.127 0.008571405
10 BTN 2012 41.521.575 0.009748725
11 BNI 2012 84.211.810 0.017902953
12 BRI 2012 177.267.237 0.037686009
13 MANDIRI 2012 166.786.895 0.030817727
14 BCA 2012 73.016.000 0.015522787
15 Bank CIMB Niaga 2012 85.364.373 0.018147981
16 Bank Danamon 2012 48.391.263 0.010287708
17 Bank Permata 2012 60.494.389 0.012860764
18 Maybank 2012 52.454.565 0.011151543
19 BTN 2013 52.845.000 0.011234547
20 BNI 2013 87.037.798 0.018503742
21 BRI 2013 211.948.000 0.045058942
22 MANDIRI 2013 196.385.250 0.04175039
23 BCA 2013 86.591.000 0.018408755
24 Bank CIMB Niaga 2013 91.711.400 0.019497323
25 Bank Danamon 2013 57.500.308 0.012224239
26 Bank Permata 2013 86.319.710 0.01835108
27 Maybank 2013 64.858.759 0.013788604
28 BTN 2014 56.880.000 0.012092365
29 BNI 2014 102.552.029 0.021801979
30 BRI 2014 295.875.000 0.062901346
31 MANDIRI 2014 255.870.003 0.054396511
32 BCA 2014 111.494.000 0.023702992
33 Bank CIMB Niaga 2014 96.332.484 0.020479739
34 Bank Danamon 2014 59.755.706 0.012703724
35 Bank Permata 2014 97.009.785 0.02062373
36 Maybank 2014 62.065.011 0.013194669
37 BTN 2015 65.583.000 0.013942574
38 BNI 2015 133.809.209 0.028447078
39 BRI 2015 282.157.000 0.059984977
40 MANDIRI 2015 232.513.741 0.049431102
41 BCA 2015 113.405.000 0.024109259
42 Bank CIMB Niaga 2015 94.966.361 0.020189309
43 Bank Danamon 2015 66.382.653 0.014112575
44 Bank Permata 2015 90.341.596 0.019206111
45 Maybank 2015 73.728.994 0.015674366
Jumlah 4.718.310.036

114
Lampiran 7

Total Simpanan Dana Pihak Ketiga Giro

No Nama Bank Tahun Giro Ln


1 BTN 2011 12.715.462 0.005021717
2 BNI 2011 65.929.216 0.026025143
3 BRI 2011 76.262.900 0.030104299
4 MANDIRI 2011 92.616.188 0.036525866
5 BCA 2011 76.020.000 0.030008416
6 Bank CIMB Niaga 2011 30.668.994 0.012106392
7 Bank Danamon 2011 11.670.172 0.004606727
8 Bank Permata 2011 17.150.648 0.00677011
9 Maybank 2011 12.379.512 0.004886734
10 BTN 2012 12.510.533 0.005238644
11 BNI 2012 73.365.578 0.0289606
12 BRI 2012 79.403.214 0.031343918
13 MANDIRI 2012 113.907.856 0.044964408
14 BCA 2012 96.456.000 0.038075398
15 Bank CIMB Niaga 2012 35.757.755 0.014115148
16 Bank Danamon 2012 14.364.467 0.005670283
17 Bank Permata 2012 21.125.503 0.008339159
18 Maybank 2012 14.693.850 0.005800305
19 BTN 2013 19.116.000 0.007545921
20 BNI 2013 88.183.377 0.034809832
21 BRI 2013 79.337.000 0.031317781
22 MANDIRI 2013 123.445.524 0.048729343
23 BCA 2013 103.157.000 0.040720576
24 Bank CIMB Niaga 2013 36.793.000 0.014523805
25 Bank Danamon 2013 19.775.748 0.007806352
26 Bank Permata 2013 25.300.186 0.009987089
27 Maybank 2013 17.691.804 0.006983728
28 BTN 2014 23.423.000 0.009246082
29 BNI 2014 82.743.186 0.032662351
30 BRI 2014 90.052.000 0.03554746
31 MANDIRI 2014 128.067.091 0.050553677
32 BCA 2014 107.419.000 0.042402973
33 Bank CIMB Niaga 2014 39.224.358 0.015483568
34 Bank Danamon 2014 21.826.609 0.008615916
35 Bank Permata 2014 26.679.229 0.010531458
36 Maybank 2014 16.344.264 0.006451795
37 BTN 2015 31.368.000 0.01238232
38 BNI 2015 90.763.359 0.035828264
39 BRI 2015 114.367.000 0.045145653
40 MANDIRI 2015 172.165.990 0.06796144
41 BCA 2015 115.653.000 0.045653293
42 Bank CIMB Niaga 2015 40.443.603 0.015964857
43 Bank Danamon 2015 15.905.474 0.006278586
44 Bank Permata 2015 29.594.863 0.011682386
45 Maybank 2015 16.342.412 0.006451064
Jumlah 2.532.179.925

115
Lampiran 8

Tabel Perhitungan Resiko Operasional Bank Umum Konvensional


No Nama Bank Tahun Aset Tetap Total Aset Resiko Operasional
1 BTN 2011 1.497.455 89.121.459 0,016802407
2 BNI 2011 4.052.708 299.058.161 0,013551571
3 BRI 2011 1.852.818 469.899.284 0,003943011
4 MANDIRI 2011 6.049.246 551.891.704 0,010960929
5 BCA 2011 4.144.659 381.908.353 0,010852496
6 Bank CIMB Niaga 2011 1.402.994 166.801.130 0,008411178
7 Bank Danamon 2011 1.898.695 142.292.206 0,013343633
8 Bank Permata 2011 730.932 101.324.002 0,007213809
9 Maybank 2011 922.883 94.919.111 0,009722837
10 BTN 2012 1.582.812 111.748.593 0,014164044
11 BNI 2012 4.591.588 333.303.506 0,013775997
12 BRI 2012 2.804.366 551.336.790 0,005086484
13 MANDIRI 2012 7.002.690 635.618.708 0,011017124
14 BCA 2012 6.406.625 442.994.197 0,014462097
15 Bank CIMB Niaga 2012 1.660.505 197.412.481 0,008411348
16 Bank Danamon 2012 2.095.756 155.791.308 0,013452329
17 Bank Permata 2012 749.314 131.798.595 0,005685296
18 Maybank 2012 1.018.434 115.772.908 0,008796825
19 BTN 2013 1.522.724 131.169.730 0,011608806
20 BNI 2013 5.513.569 386.654.815 0,014259667
21 BRI 2013 3.972.612 626.100.633 0,006345006
22 MANDIRI 2013 7.645.598 733.099.762 0,010429137
23 BCA 2013 7.440.017 496.849.372 0,014974391
24 Bank CIMB Niaga 2013 2.067.918 218.866.409 0,009448311
25 Bank Danamon 2013 2.383.993 184.337.964 0,012932729
26 Bank Permata 2013 1.149.572 165.837.996 0,006931898
27 Maybank 2013 1.108.495 140.600.863 0,007883984
28 BTN 2014 1.488.383 144.575.961 0,010294817
29 BNI 2014 6.222.050 416.573.708 0,014936252
30 BRI 2014 5.917.470 801.984.190 0,007378537
31 MANDIRI 2014 8.928.856 855.039.673 0,010442622
32 BCA 2014 8.844.930 553.155.534 0,015989951
33 Bank CIMB Niaga 2014 2.485.028 233.162.423 0,010657927
34 Bank Danamon 2014 2.489.860 195.820.856 0,012714989
35 Bank Permata 2014 1.129.397 185.353.670 0,0060932
36 Maybank 2014 1.177.156 143.365.211 0,00821089
37 BTN 2015 1.553.401 171.807.592 0,009041515
38 BNI 2015 20.756.594 508.595.288 0,040811613
39 BRI 2015 8.039.280 878.426.312 0,009151912
40 MANDIRI 2015 9.761.688 910.063.409 0,010726382
41 BCA 2015 9.712.021 594.372.770 0,016339949
42 Bank CIMB Niaga 2015 3.361.851 238.849.252 0,0140752
43 Bank Danamon 2015 2.559.144 188.057.412 0,013608312
44 Bank Permata 2015 2.724.378 182.689.351 0,014912626
45 Maybank 2015 1.145.223 157.619.013 0,007265767

116
Lampiran 9 Hasil Analisis Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Change Statistics
Std.
Adjusted Error of R F Sig. F
Mode R R the Square Chang df df Chang Durbin-
l R Square Square Estimate Change e 1 2 e Watson

1 ,523a ,273 ,220 ,15202 ,273 5,145 3 41 ,004 1,937

a. Predictors: (Constant), Giro_x3, Tabungan_X1, Deposito_X2

b. Dependent Variable: ResikoOperasional_Y

117
Lampiran 10 Hasil Uji Parsial

Coefficientsa

Standard
ized
Unstandardized Coefficie Collinearity
Coefficients nts Correlations Statistics

Zero- Tolera
Model B Std. Error Beta t Sig. order Partial Part nce VIF

1 (Constant -
-
) ,180 13,26 ,000
2,393
3

Tabungan
061 ,117 ,157 ,526 ,601 ,115 ,082 ,070 ,198 5,040
_X1

Deposito_
-,676, ,177 -,909 -3,812 ,000 -,178 -,512 -,507 ,311 3,211
X2

Giro_x3 ,352 ,162 ,737 2,181 ,035 ,126 ,322 ,290 ,155 6,452

a. Dependent Variable: ResikoOperasional_Y

118
Lampiran 11 Hasil Uji Simultan (Uji F)

ANOVAa

Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression ,357 3 ,119 5,145 ,004b

Residual ,947 41 ,023

Total 1,304 44

a. Dependent Variable: ResikoOperasional_Y

b. Predictors: (Constant), Giro_x3, Tabungan_X1, Deposito_X2


Sumber : SPSS 23

119