Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Praktik Kerja Industri yang disingkat dengan “ prakerin”


merupakan bagian dari program pembelajaran yang harus dilaksanakan
oleh setiap peserta didik di kunia kerja, sebagai wujud nyata dari
pelaksanaan sistim p endi di kan di S MK yai t u P endi di kan S i st im
Ganda (P S G). P ro gr am prakerin disusun bersama antara sekolah dan
dunia kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan peserta didik dan
sebagai kontribusi dunia kerja terhadap pengembangan program
pendidikan SMK.
Dengan prakerin peserta didik dapat menguasai sepenuhnya aspek -
aspek kompetensi yang dituntut kuri kulum, dan di samping itu mengenal
lebih dini dunia kerj a yang menj adi dunianya kelak setelah menamat kan
pendidikannya.
Pelaksanaan praktek kerja industri di SMK Negeri 1 Bulakamba untuk tahun
pelajaran 2016/2017 dilaksanakan selama tiga bulan dari tanggal 1 Agustus 2016 sampai
dengan 31 Oktober 2016. DU/DI yang dijadikan penulis sebagai tempat prakerin adalah
di,PT MEKA ADI PRATAMA (CARFIX) TUGU SEMARANG dikarenakan lokasinya
yang dekat dengan rumah sehingga lebih mudah untuk berangkat.
Dalam penulisan laporan ini penulis mengambil topik tune up EFI pada mobil
Toyota Avanza dikarenakan pekerjaan yang sering saya lakukan disana.

B. Tujuan
1. Tujuan Pelaksanaan Prakerin
a) Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dunia kerja dan
industri yang sesungguhnya.
b) Memiliki tingkat kompetensi standart sesuai yang dipersyaratkan
oleh dunia kerja dan industri.
c) Menjadi tenaga kerja yang berwawasan mutu, ekonomi, bisnis,
kewirausahaan dan produktif.
d) Dapat menyerap perkembangan tehnologi dan budaya kerja untuk
kepentingan pengembangan diri.

1
2. Tujuan Pembuatan Laporan
a) Sebagai salah satu tugas yang diisyaratkan untuk menempuh
Ujian Nasional dan Ujian Praktik Kejuruan tahun pelajaran
2016/2017
b) Menambah wawasan tentang penulisan karya ilmiah.

2
BAB II
DASAR TEORI

A. EFI ( Elektronik Fuel Injection )

1. PRINSIP KERJA EFI


Sistem pengontrolan penginjeksian bahan bakar dewasa ini berkembang
dengan pesat , terutama pada mesin bensin. Namun harus kita ingat bahwa tidak
hanya kendaraan dengan bahan bakar bensin yang menggunakan sistem control
injeksi. Sistem EFI dirancang untuk mengukur jumlah udara yang diisap dan
untuk mengontrol penginjeksian bahan bakar yang sesuai.

Gambar 2.1 EFI


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

2. MACAM-MACAM SISTEM EFI


Sistem EFI dirancang untuk mengukur jumlah udara yang diisap dan
mengontrol penginjeksian bahan bakar yang sesuai. Besar udara yang diisap
diukur langsung berdasarkan tekanan di intake manipold atau jumlah
udara di airflow meter.

3
a. Tipe D-EFI
Mengukur udara yang masuk berdasarkan tekanan dalam intake maniFold.

Gambar 2.2 EFI Tipe D


(sumber:http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-injection.html,
10 Januari 2017)

b. Tipe L-EFI
Dalam sistem L-EFI, airflow meter langsung mengukur jumlah udara yang
mengalir melaluiintake manipold sehingga data yang dihasilkan lebih akurat.
Dewasa ini, pada kendaraan EFI tipe L-EFI lebih banyak digunakan.

Gambar 2.3 EFI Tipe L


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

4
3. SUSUNAN DASAR SISTEM EFI
Sistem EFI secara umum dapat dibagi menjadi tiga sistem fungsi, yaitu :
a. sistem control udara masuk ( Air Induction System )
b. sistem distribusi bensin ( Fuel Delivery System )
c. sistem control elektronik ( Electronic Control System )
Skema gambar susunan dasar EFI adalah :

Gambar 2.4 Skema Susunan Dasar EFI


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

4. SISTEM INDUKSI UDARA ( AIR INDUCTION SYSTEM )


Udara bersih dari saringan udara masuk ke airflow meter dengan
membuka measuring plate, besar pembukaan ini bergantung pada kecepatan
aliran udara yang masuk ke intake chamber yang dipengaruhi oleh lebar
throttle terbuka.
a. Skema gambar diagram udara masuk tipe D-EFI.

Gambar 2.5 Skema diagram udara masuk tipe D-EFI


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

5
b. Skema gambar diagram udara masuk tipe L-EFI

Gambar 2.6 Skema diagram udara masuk tipe L-EFI


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

5. NAMA KOMPONEN DAN FUNGSI SISTEM EFI

a. Throttle body
Therottle body Merupakan komponen sistem kontrol udara sebagai saluran
utama yang dilalui oleh udara, sebelum masuk ke intake manipold.
Di dalam throttle body ini terdapat :
1) Throttle valve
2) TPS (Throttle Position Sensor)
3) IAC ( Idle Air Control )
4) FIAC ( Fast Idle Air Control )
5) ISAS ( Idle Speed Adjusting Screw )

Gambar 2.7 : Throttle Body


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

b. Throttle Position Sensor


Throttle Position Sensor berfungsi mendeteksi sudut pembukaan throttle
valve. TPS dihubungkan langsung dengan sumbu throttle valve, jika throttle
valve bergerak, TPS akan mendeteksi perubahan pembukaan throttle

6
valve. Selanjutnya dengan menggunakan tahanan geser, perubahan tahanan ini
dikirim ke ECU sebagai input untuk koreksi rasio udara dan bensin.

Gambar 2.8 : Throttle Position Sensor


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

c. Intake Air Temperatur


Sensor temperatur udara masuk ini biasa terpasang pada air
cleaner atau hose antaraair cleaner dengan throttle body. Sensor temperatur udara
masuk ini berupa thermistor dengan bahan semikonduktor yang mempunyai sifat
semakin panas temperatur maka nilai tahanannya semakin kecil.

Gambar 2.9 : Intake Air Temperatur


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

d. Air Flow Meter


MAF (Massa Air Flow Meter) salah satu jenis sensor dengan
tipe measuring plate,yang terdiri atas plat pengukur, pegas pengembali, dan
potensiometer.
Udara yang masuk ke intake air chamber akan dideteksi dengan gerakan
membuka dan menutup plat pengukur. Plat pengukur ini ditahan oleh sebuah

7
pegas pengembali. Plat pengukur dan potensiometer bergerak pada poros yang
sama sehingga sudut membuka plat pengukur ini akan diubah nilai tahanan
potensiometer. Variasi nilai tahanan ini akan dirbah menjadi output voltage
sensor ke ECM sebagai dasar untuk menentukan jumlah udara yang masuk
ke intake air chamber.

Gambar 2.10 : Air Flow Meter posisi menutup


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

Gambar 2.11 : Air Flow Meter posisi membuka


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

e. Fast Idle Air Control


Fast idle air control terbuat dari thermo wax yang bekerjanya sesuai
dengan temperatur mesin. Bila temperatur masih dingin, thermo wax belum
mengembang sehingga jumlah udara yang masuk melalui saluran bypass menjadi
lebih banyak. Saat temperatur mesin panas, thermo wax akan mengembang

8
sehingga saluran bypass akan menyempit. Jumlah udara yang masuk menjadi
berkurang, putaran mesin ke putaran idle

Gambar 2.12 : Fast idle air control (Dingin)


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

Gambar 2.13 : Fast idle air control Posisi (Panas)


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

6. SISTEM BAHAN BAKAR (Fuel System)


Perbedaan paling mendasar antara sistem karburator dengan sistem injeksi
pada suplai system bahan bakar adalah pada sistem injeksi, suplai bahan bakar
dari tangki bensin ke ruang bakar dikontrol secara elektronik oleh ECM,
sedangkan pada sistem carburator, suplai bensin dari tangki ke ruang bakar masih
dikontrol oleh kunci kontak.

9
Komponen utama dari fuel delivery system adalah :
a. Fuel pump
b. Fuel filter
c. Fuel pressure regulator
d. Pulsation dumper
e. Injector

Gambar 2.14 Diagram system bahan bakar EFI


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

7. KOMPONEN SISTEM BAHAN BAKAR


a. Fuel Pump
Pada semua tipe mesin dengan injeksi, penempatan pompa bensin selalu
ada di dalam tangki bensin. Tipe yang digunakan adalah elektrik dengan motor
listrik. Pompa terdiri atas motor, pompa itu sendiri, check valve, relief
valve dan filter yang diletakkan di saluran masuk pompa.

Gambar 2.15 Fuel Pump


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

10
b. Fuel Filter
Fuel Filter berfungsi menyaring kotoran–kotoran dan partikel asing
lainnya dari bensin supaya tidak masuk ke injektor. Fuel filterdipasangkan pada
saluran tekanan tinggi dari fuel pump. Fuel filter ada yang diletakkan di luar
tangki bensin, ada juga yang diletakkan di dalam tangki bensin.

Gambar 2.16 Fuel Filter


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

c. Fuel Pressure Regulator

Gambar 2.17 Fuel Preasure Regulator


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

1) Fuel Pressure Regulator berfungsi mengatur tekanan bensin yang ke injector


– injector. Jumlah injeksi bensin dikontrol sesuai lama signal yang diberikan
ECU ke injector. Oleh karena itu tekanan tetap pada injektor harus
dipertahankan.
2) Karena adanya perubahan tekanan pada bensin (injeksi bensin oleh injector)
dan variasi perubahan vacuum intake manifold, jumlah bensin yang

11
diinjeksikan sedkit berubah sekalipun signal injeksi dan tekanan bensin tetap.
Oleh karena itu, agar jumlah injeksinya tepat, tekanan bensin harus
dipertahankan pada 2,1 ~ 2,6 kg/cm.

Gambar 2.18 Pulsation Damper


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

d. Pulsation Damper
Pulsation damper terpasang pada delivery pipe berfungsi menyerap variasi
tekanan bensin yang diakibatkan perubahan kevakuman intake manifold dan
penginjeksian bensin oleh injector untuk membantu mempertahankan tekanan
bensin pada 2,1–2,6 kg/cm2 di dalam pipa pembagi (delivery pipe)

e. Injector

Gambar 2.19 Injector


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

Injektor adalah nosel electromagnet yang bekerjanya dikontrol oleh ECU


untuk menginjeksikan bensin ke intake manifold. Injektor dipasangkan di

12
ujung intake manifold dekat intake port(lubang pemasukan) dan dijamin
oleh delivery pipe.

8. SISTEM PENGONTROL ELEKTRONIK (ELECTRONIC CONTROL


SYSTEM)
Selain ECU yang berfungsi untuk mengontrol besar penginjeksian bensin
dan seluruh aktivitas elektronik, pada mesin terdapat pula sensor – sensor selain
yang sudah dijelaskan di atas yang berfungsi sebagai sistem koreksi air
fuel ratio dan juga sebagai ignition control system.Sensor–sensor yang dimaksud
akan dijelaskan bersama dengan electronic control system yang juga akan
membahas lebih detail kerja daripada ECU.
Sensor-sensor itu adalah :
a. ECT ( Electronic Control Temperature )
b. TPS ( Throttle Position Sensor )
c. VSS ( Vehicle Speed Sensor )
d. CMP (Camshaft Position Sensor )
e. CKP ( Crankshaft Position Sensor )
f. Oxygen Sensor

9. NAMA KOMPONEN DAN FUNGSI SISTEM PENGONTROL


ELEKTRONIK
a. ECT (Electronic Control Temperature)

Gambar 2.20 ECT (Electronic Control Temperature)


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

13
ECT terbuat dari thermistor, yaitu sebuah variable resistor yang
dipengaruhi oleh temperatur. Kerja ECT sama dengan IAT, hanya fungsi
pendeteksiannya yang berbeda. ECT berfungsi mendeteksi temperatur air
pendingin mesin sebagai input ECM untuk mengoreksi besar penginjeksian
bensin pada injector. ECT juga berfungsi sebagai kontrol temperatur air pendingin
mesin kepada pengemudi melalui temperature gauge pada instrument panel.
b. TPS (Throttle Position Sensor)

Gambar 2.21 TPS (Trottle Position Sensor)


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

Throttle Position Sensor (TPS) dihubungkan dengan throttle


valve shaft pada throttle bodyuntuk mendeteksi pembukaan throttle valve.

c. VSS (Vehicle Speed Sensor)

Gambar 2.22 VSS (Vehicle Speed Sensor)


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

14
Sensor ini dipasangkan pada transmisi dan digerakkan oleh driver
gear poros output. Jenis VSS yang digunakan adalah tipe MRE ( Magnetic
Resistance Element ). Signal yang dihasilkan oleh VSS berupa gelombang bolak –
balik, oleh komparator (yang terdapat di speed sensor pada panel instrument)
gelombang bolak – balik tersebut dirubah menjadi sinyal digital yang kemudian
dikirim ke ECU.

d. CMP (Camshaft Position Sensor)

Gambar 2.23 CMP (Chamshaft Position Sensor)


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

1) CMP sensor terdiri atas komponen elektronik yang terdapat di


dalam sensor case dan tidak dapat distel maupun diperbaiki. Sensor ini
mendeteksi posisi piston pada langkah kompresi melalui putaran signal
rotor yang diputar langsung oleh camshaft untuk mengetahui posisi
pembukaan dan penutupan intake dan exhaust valve.
2) Signal digital dari CMP ini, oleh ECU digunakan untuk memproses kerja dari
sistem EFI bersama-sama dengan signal dari sensor CKP.

15
e. CKP ( Crankshaft Position Sensor )

Gambar 2.24 CKP (Crankshaft Position Sensor)


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

1) CKP terdiri dari magnit dan coil yang ditempatkan di bagian bawah timing belt
pulley atau dibelakang V-belt pulley. Saat mesin berputar CKP menghasilkan
pulsa tegangan listrik.
2) Sensor CKP digunakan sebagai sensor utama untuk mendeteksi putaran mesin,
output signal dari CKP sensor dikirim ke ECU untuk menentukan besar basic
injection volume.
3) Selain digunakan untuk mendeteksi putaran mesin, sensor CKP juga digunakan
sebagai sensor utama sistem pengapian. Output signal dari sensor CKP
digunakan ECU untuk menentukan ignition timing
f. Oxygen Sensor

Gambar 2.25 Oxygen Sensor


(sumber : http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-
injection.html, 10 Januari 2017)

16
1) Sensor O2 dipasangkan di exhaust manifold yang berfungsi untuk mendeteksi
konsentrasi oksigen pada gas buang kendaraan, menghitung perbandingan
udara dan bensin, dan menginformasikan hasilnya pada ECU.
2) Bila kadar oksigen pada gas buang tinggi, ECU akan menyimpulkan bahwa
campuran terlalu kurus (lebih banyak udaranya)
3) Bila kadar oksigen pada gas buang rendah, ECU akan menyimpulkan bahwa
campuran terlalu gemuk (lebih banyak bensinnya ).

17
B. SISTEM SUSPENSI

Kenyamanan dalam berkendara, baik menggunakan motor atau mobil


merupakan aktor ang diutamaan oeh pengendara maupun penmpang.Namun
demikian, kendaraan bermotor akan selalu mengalami gearan atau gocangan yang
disebabkan oleh mesin itu sendiri atau karena kondisi pemukaan jalan yang
dilaluinya. Getaran atau goncangan itu kadang-kadang dirasakan ole penmpang
sehingga mengganggu kenyamanan.Untuk mengurangi getaran dan goncangan
tersebut, setiap kendaraan perlu dilengkapi dengan susupensi.
Sistem suspensi adalah mekanisme yag ditempatkan diantara bodi atau rangka dan
roda-roda.
Fungsi dari sistem suspensi untk menahan :
a. Goncangan-goncangan
b. Getaran-getaran, dan
c. Kejutan-kejutan yang ditimbulkan oleh permaan yang tia rata

Pada sebah sepeda, rangka dipasangkan langsung pada roda-roda. Jika


sepeda dikendarai melalui jalan yang tidak rata, benturan jalan akan diteruskan
langsung ke rangka, dirasakan oleh sipengendara getaran-getran yang tidak
menyenangkan.
Hal yang sama juga akan terjadi pada mobil. Apabila mibil tidak
dilengkapi dengan sistem suspensi antara roda-roda dan bodi, maka tidak aka
menimbulkan kenyamanan dalam mengendarai mobil. Selain itu juga akan
merusak muatan, dan sudah tentu mobil menjadi tidak praktis.
Selain berfungsi untuk menahan getaran atau goncangan, sistem suspensi juga
mempunyai fungsi lainya, yaitu :
1) Selama kendaraan berjalan bersama-sama dengan ban, menyerap berbagai
macam :
a) Getaran,
b) Osilasi, dan
c) Kejuatan yang diterima kendaraan

18
Dapat pula untuk melindngi penumpang serta barang muatan dan menambah
stabilitas kendaraan.
2) Meneruskan gaya getran dan gaya pengereman yang diakibatkan adanya
pergesekan antara permukaan jalan dan roda-roda ke chasis dan bodi.
3) Menopang bodi pada poros-poros (axle) da menjaga hubungan geometris
yang berhuungan denan bodi dan roda-roda.

OSILASI DAN KENYAMAN KENDARAAN

1. Sprung Weight dan Unsprung Weight.


Berat bodi dan lain-lainya yang ditoang oleh pegas-pegas disebt sprung
wegiht. Adapun roda-toda dan poros serta komponen lainya yang tidak ditopang
ole pegas disebut unsprng weight.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa makin besar sprung weightnya dari
suatu kendaraan akan menjadikanya maikin baik karena tendesi bodyuntuk
terguncang akan menjadi kurang.Sebalknya , unsprung weight yang terlalu besar
cenderung menyebabkan bodi muda terguncang. Osilasi dan bergoyangnya bagian
pegas dari kendaraan terutama bodi berpengaruh besar pada kenyamanan
kendaraan.

Gambar 2.26 Sprung Weight dan Unsprung Weight


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

19
2. Osilasi Sprung Weight
Sprung weight adalah bera bodi mobil yang dijamin olh pegas suspensi.
Osilasi dan goyangan ini dibedakan menjadi empat, yaitu :
a) Pitching
b) Rolling (bergulir)
c) Bounching (melambung), dan
d) Yawing (zigzag).

Gambar 2.27 Osilasi Sprung Weight


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

a) PITCHING
Pitching adalah osilasi turun naiknya bagian depan dan belakang
berhubungan dengan titik berat depan dan belakang kendaraan. Hal ini terjadi
khususnya jika kendaaan melalui jalan yang kasar dan banyak lubang. Pitching
juga lebih mudah terjadi pada kendaraan yang pegasnya lemah dibandingkan yang
pegasnya lebih kuat.

Gambar2. 28 Pitching
(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

b) ROLLING (BERGULIR)
Ketika kendaraan membelok atau melalui jalan yan begelombang, salah
satu pegas pada salah satu sisi kendaraan mengembang dan pada sisi lainya

20
mengerut. Hal ini mengkibatkan bodi beputar (rolling) dalam ara yang lurus (dari
sisi ke sisi)

Gambar 2 29 Rolling
(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

c) BOUNCHING (MELAMBUNG)
Bounching adalah gerakan aik turunya bodi kendaraan secara keseluruan.
Jika kendaraan berjaan pada kecepatan tinggi melalui jalan yang bergelombang,
maka seoah-olah terjadi gerakan naik turun. Juga mudah terjadi jika keadaan
pegas-pegas lemah.

d) YAWING (ZIGZAG)
Yawing adalah gerakan bodi kendaraan arah memanjang, ke kanan dan ke
kiri terhadap titik tengah (centerline). Pada permukaan jalan dimana terjadinya
pitching seperti juga pada yawing.

Gambar 2.30 Yawing


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

21
3. Osilasi Unsprung Weiht
Unsprung weight adalah berat poros-oros dan bagian-bagian lainya yang
tedapat antara ban dan pegas-pegas susupensi. Osilasi ini dibedakan menjadi tiga,
yaitu :
a. Hopping
b. Tramping, dan
c. Wind Up.

Gambar 2.31 Osilasi Unspurung Weiht


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

a. HOPPING
Hopping adalah gerakan melambung (bounching) roda-roda ke atas dan ke
bawah yang biasanya terjadi pada jalan-jalan berobmak dengan kecepatan sedang
dan tinggi.

b. TRAMPING
Tramping adalah gerakan osilasi turun naik dengan arah yang berlawanan
pada roda-roda kiri dan kanan. Akibatnya roda-roda kiri dan kanan melompat
terhadap permuakaan jalan. Keadaan ini muda terjadi pada kendaraan yang
menggunakan suspensi poros rigid (rigid axle suspension).

22
Gambar 2.32 Trampping
(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

c. WIND UP
Wind Up adalah gejala terjadinya pegas daun melintir di sekeliling poros
yang disebabkan oleh momen pengerak (driving torque) kendaraan.

Gambar 2.33 Wind Up


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

C. KOMPONEN SUSPENSI

Sistem suspensi memiliki komponen-komponen utama sebagai berikut :


1. Pegas, Menetralisir kejutan-kejutan dan getaran-getaran daripermukaan
jalan yang tdak rata.
2. Shock absorber, berungsi untuk menyempurnakan pengendaraan dengan
membatasi kebebasab osilasi pegas-pegas.
3. Stabilizer bar, yang mencegah bergoyangnya kendaraan ke arah sisi.
Sistem linkage, yang menahan komponen tersebut di atas pada tempatnya
dan mengontrol gerakan roda-roda ke arah sisi atau ke arah depan.

23
Gambar 2.34 suspensi depan Gambar 2.35 suspensi belakang
(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

1. PEGAS
Pegas tebuat dari baja dan berfungsi untuk menyerap kejutan dari
permukaan jalan dan getaran roda-rda agar tidak ke bodi.
Pegas terdiri dari :
a) Pegas Koil
b) Pegas Daun
c) Pegas Batang Torsi

Gambar 2.36 pegas koil


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

24
Gambar 2.37 pegas daun
(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

Gambar 2.38 pegas batang torsi


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

c. SHOCK ABSORBER
Shock absorber berfungsi untuk meredam osilasi (gerakan naik turun)
pegas saat menerima kejtan dai permukaan jalan.

Gambar 2.39 shock absorber


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

25
1) Cara kerja shock absorber
Di dalam shok absorber telescopic terdapat cairan khusus yang disebut minyak
shock absorber.
a) Saat kompresi
Katup terbuka,minyak dapat mengalir dengan mudah sehingga tidak
terjadi peredaman.
b) Saat ekspansi
Katup tertutp, inyak menglir melalui orifice (lubang kecil) sehingga tdrjadi
peredaman.

Gambar 2.40 cara kerja shock absorber


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

2) Tipe Shock Absorber


Shock absorbe dikelompokkan berdasarkan cara kerjanya, konstruksinya, dan
medium kerjanya.
a) Penggolongan menuut cara kerjanya
- Shock absorber kerja tunggal (single action) Efek meredam hanya erjadi
saat ekspansi. Sebaliknya saat kompesi tidak terjadi peredaman.

26
Gambar 2.41 Shock Absorber kerja tunggal
(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

- Shock absorber kerja ganda (doule action) Saat ekspansi dan kompresi selalu
erjadi peredaman

Gambar 2.42 Shock Absorber kerja ganda


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

27
b) Penggolongan menurut konstrksinya Shock absorber tipe mono tube. Dalam
shock absorber trdapat satu silinder tanpa reservoir

Gambar 2.43 Shock Absorber tipe mono tube


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

c) Shock absorber tipe twin tube Dalam shock absorber terdapat pressure dan
outer chamber yang membatasi workng chaber dan reservoir chamber.

Gambar 2.44 Shock Absorber tipe twin tube


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

d) Penggolongan menurut medium kerja


Shock absorber tipe hidrolis Di dalamnya terdaat minyak shock absorber
sebagai media kerjanya. Shock absorber tipe gas Ini adalah shock absorber
hidrolis yang diisi dengan gas.

28
Biasanya gas yang dignakan adalah gas nitrogen, yang dijaga ada tekanan
rendah 10 - 15 kg/cm2 atau tekanan tinggi 20 - 30 kg/cm2.

Gambar 2.45 shock Absorber tipe gas


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

e) BALL JOINT
Fungsi dari ball joint untuk menerima beban vertikal dan lateral, juga
sebagai sumbu putaran roda saat kendaraan membelok. Pda bagian dalam ball
joint terdapat gemuk untuk melumasi bagian yang bergeseka dan setiap interval
tertentu harus diganti dengan tipe molibdenum disulfide lithium base. Pada tipe
bal joint yang menggunakan dudukan dari resin, tidak dperlukn
penggantiangemuk.

Gambar 2.46 Ball Joint


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

29
f) STABILIZER BAR
Stabilizer bar berfungsi untuk mengurangi kemiringan kendaraan akibat
gaya sentrifugal saat kendaraan membelok.Untuk suspensi depan, stablizer bar
biasanya dipasang pada kedua lower arm melalui bantalan karet dan linkage. pada
bagian tenan ke frame ada dua tempat melalui bushing. Batang stabilizer
cenderung menahan terhadap puntiran. Tahanan ini berfungsi mengurangi body
roll dan memelihara bodi dalam kemiringan yang aman.
g) STRUT BAR
Strut bar berfungsi untuk menahan lower arm agar tidak bergerak aju
mundur, saat menerima kejutan dari jalan atau dorongan akibat terjadinya
pengereman.

Gambar 2.47 Strut bar


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)
h) LATERAL CONTROL
Lateral control rod dipasang diantara axle dan bodi kendaraan. Tujuanya
untuk menahan axle pada posisinya terhadap beban dari samping.

Gambar 2.48 Lateral Control


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

30
i) BUMPER
Bumper berfungsi sebagai pelindung komponen-komponen suspensi saat
pegas mengerut atau mengembang di luar batas maksimum.

Gambar 2.49 Bumper


(sumber : http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-
mobil.html, 15 Januari 2017)

Bottoming adalah kejutan karena rebound menumbuk rangka. Penyebabnya


adalah rolling atau pitching ketika melalui jalan yang berlubang atau tonjolan
besar.

31
C. SISTEM PENERANGAN PADA MOBIL
Sistem penerangan (lighting sistem) sangat diperlukan untuk keselamatan
pengendara dimalam hari. Sistem ini dibagi menjadi dua sistem penerangan :
1. Penerangan luar
a) Lampu besar
b) Lampu belakang
c) Lampu rem
d) Lampu jarak/kota
e) Lampu tanda belok
f) Lampu hazard
g) Lampu plat nomor
h) Lampu mundur
2. Penerangan dalam
a) Lampu meter
b) Lampu ruangan

1. Lampu Penerangan luar


a) Lampu besar
Sistem lampu besar merupakan lampu penerangan untuk menerangi jalan
dibagian depan kendaraan. Pada umumnya lampu besar ini dilengkapi dengan
lampu jauh dan lampu dekat (high beam dan low beam) dan dapat dihidupkan dari
salah satu swi tch oleh dimmer switch.

Gambar 2.50 Lampu besar


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

32
Ada dua tipe lampu besar yang digunakan Pada kendaraan, yaitu :
1) Lampu besar tipe sealed beam.
Di dalam lampu besar tipe sealed beam, penggunaan bola lampunya tidak
terpisah, keseluruhan terpasang menjadi satu seperti bola lampu dan filament
terpasang di depan kaca pemantul untuk menerangi kaca lensa.

Gambar 2.51 Lampu besar tipe sealed beam


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

2) Lampu besar tipe semisealed beam.


Perbedaan antara semisealed beam dan sealed beam ialah pada
konstruksinya, dimana pada semi sealed beam bola lampunya dapat diganti
dengan mudah sehingga tidak di perlukan penggantian secara keseluruhan bila
bola lampunya putus atau terbakar. Lagi pula bila menggantinya dapat
langsung diganti dengan cepat. Bola lampu besar semi sealed beam tersedia
dalam tipe seperti berikut:
a) Bola lampu biasa
b) Bola lampu Quartz – halogen

Gambar 2.52 Lampu besar tipe Sealeed Beam


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

Cara memasang pada seat mengganti bole lampu Quartz Halogen :


Bola lampu quartz halogen lebih panas dibandingkan dengan bola lampu biasa

33
saat digunakan, umur lampu ini akan lebih pendek bila oli atau gemuk menempel
pada permukaannnya. Lagi pula garam dalam keringat manusia dapat menodai
kacanya (quartz).Untuk mencegah ini peganglah bagian flange bila mengganti
bola lampu untuk mencegah jari-jari menyentuh quartz.

Gambar 2.52 Cara memasang bola lampu


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

b) Lampu jarak dan lampu belakang


Lampu kecil untuk dalam kota ini memberi isyarat adanya serta lebarnya dari
sebuah kendaraan pada malam hari bagi kendaraan lainnya, baik yang ada di
depan maupun di belakang. Lampu-lampu tersebut untuk yang bagian depan
disebut dengan lampu jarak (clearence light) dan yang dibagian belakang disebut
dengan lampu belakang (tail light).

Gambar2.53 Letak lampu jarak dan lampu belakang beserta saklarnya


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

34
c) Lampu Rem
Lampu rem (brake light) dilengkapi pada bagian belakang kendaraan
sebagai isyarat untuk mencegah terjadinya benturan dengan kendaman d!
bedakang yang mengikuti seat kendaraan mengerem.

Gambar 2.54 lampu rem


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

d) Lampu tanda belok (turn sighal light)


Lampu tanda belok yang dipasang di bagian ujung kendaman seperti pada
fender depan, untuk memberi isyarat pada kendaraan yang ada di depan, belakang
dan sisi kendaraan bahwa pengendara bermaksud untuk membelok atau pindah
jalur. Lampu tanda belok mengedip secara tetap antara 60 sampai 120 kaii setiap
menitnya. Lampu bisa berkedip karena dilengkapi dengan flasher, Flasher tanda
belok adalah suatu alat yang menyebabkan lampu belok mengedip secara
interval.Turn signal flasher bekela pada prinsip yang bervariasi.Pada umumnya
menggunakan tipe semi - transistor yang kompak, ringan dan dapat
diandalkan.Dalam flasher tanda belok tipe semi-transistor, bila bola lampunya
putus, maka mengedipnya mulai cepat dari yang normal, dan ini merupakan tanda
kepada pengemudi untuk menggantinya.

35
Gambar 2.55 lampu tanda belok
(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

e) Lampu hazard (hazard warning light)


Lampu hazard digunakan untuk memberi isyarat keberadaan kendaman
dari bagian depan, belakang dan kedua sisi selama berhenti atau parkir dalam
keadaan darurat. Yang digunakan adalah lampu tanda belok, tapi seluruh
lampu mengedip serempak.

Gambar 2.56 Lampu Hazard


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

f) Lampu plat nomor


Lampu ini menerangi plat nomor bagian belakang. Lampu plat nomor menyala
bila lampu belakang menyala.

36
Gambar 2.57 Lampu Plat Nomor
(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

g) Lampu mundur
Lampu mundur (back up light) dipasang pada bagian belakang kendaraan
untuk memberikan penerangan tambahan untuk melihat kebelakang kendaman
saat mundur di malam hari, dan memberikan isyarat untuk kendaman yang
mengikutinya bahwa pengendara bermaksud untuk mundur/sedang mundur.
Lampu mundur akan menyala bila Luas transmisi diposisikan mundur dengan
kunci kontak ON.

Gambar 2.58 Lampu Mundur


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

h) Lampu kabut
Lampu kabut digunakan pada saat cuaca berkabut, jalanan berdebu atau
hujan lebat. Penggunaan lampu harus mengikuti aturan yang berlaku yakni :
Pemasangan kedua lampu harus berjarak sama baik yang kanan dari titik
tengah kendaran. Lampu kabut dihubungkan bersama-sama lampu jarak dekat
(pada saklar dim). Lampu kabut.tidak dihidupkan bersama-sama dengan
lampu jarak dan hanya dihidupkan bersama lampu kota. Lampu kabut boleh
menggunakan lensa wama putih atau warna kuning.

37
Gambar 2.59 Rangkaian lampu kabut
(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

Bila lampu kabut akan diaktifkan maka saklar larnpu kepala harus pada
posisi lampu jarak dekat. Saat saklar lampu basket diaktifkan, anus listrik dari
saklar lampu kepala akan mengalir ke relay melalui saklar lampu kabut. Dengan
aktifnya relay maka arus listrik dari baterai akan mengalir ke lampu kabut melalui
sekering dan relay.

2. Lampu Penerangan Dalam


a) Lampu ruangan
Lampu ruangan (dome light) menerangi interior ruangan penumpang yang
dirancang agar tidak menyilaukan pengemudi pada malam hari. Umumnya lampu
ruangan (interior) letaknya dibagian tengah ruang penumpang kendaraan untuk
menerangi interior dengan merata. Lampu ini disatukan dengan switchnya yang
mempunyai 3 (tiga) posisi yaitu : ON, DOOR dan OFF. (untuk memberi
kemudahan keluar masuk pada malam hari, lampu ruangan dapat disetel hanya
menyala bila salah satu pintunya dibuka. Ini dapat dilakukan dengan menyetel
switch pada posisi DOOR.

38
Gambar 2.60 Lampu ruangan
(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

b) Lampu Instrumen Panel (lampu meter).


Lampu instrumen panel digunakan untuk menerangi meter-meter pada
instrumen panel pada malam hari dan memungkinkan pengemudi membaca
meter-meter dan gauge dengan mudah dan cepat pada saat mengemudi. Lampu
instrumen panel akan menyala bila lampu belakang (tail light) menyala.
Ada beberapa model yang dilengkapi dengan lampu pengontrol rheostat yang
memungkinkan pengendara mengontrol terangnya lampu-lampu pada instrumen
panel.
3. Macam-macam bola lampu dan titik pengunci dalam mengganti bola lampu.
Tipe bola lampu bervariasi yang digunakan pada sebuah kendaraan, dapat
dikiasifikasikan dalam beberapa cara. Pada modul kompetensi ini dijelaskan
beberapa titik pengund pada saat mengganti bola lampu, yang dapat
dikiasifikasikan berdasarkan bentuk base capnya yaitu
a) Bola lampu model single - end
Tipe bola lampu ini hanya mempunyai satu base cap yang juga sebagai
penghubung ke massa. Blola lampu singie - end selanjutnya diklasifikasikan
ke dalam dua jenis sesuai dengan jumlah dari filament. Single filament pada
bola lampu model single - end dan double filament pada bola lampu single
end.

39
Gambar 2.61 Jenis bola lampu single – end
(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

Bola larnpu dipasang pada socket dengan menernpatkan pin pada base cap.
Mengganti bola lampu :
tekan bola lampu kedepan socket untuk melepas pin base cap tidak mengunci
pada tarikan socket, putar bola lampu tersebut dan tarik keiuar untuk melepasnya.

Memasang bola lampu:


Dalam rnemasang bola lampu yang baru urutannya adalah kebalikan dari cara
melepasnya.

Gambar 2.62 Mengganti bola lampu


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

Pin pada bola lampu double filament single - end letaknya tidak segaris
(offset) dalam pengaturan tingginya. Hal ini Untuk mencegah kesalahan posisi
pernasangan lampu.

b) Bola lampu widge - base (socket gepeng).


Tipe bole lampu ini mempunyai satu filament dan filamennya berhubungan
langsung dengan socket terminal.

40
Gambar 2.63 Bola lampu wigde – base
(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

Mengganti bola lampu:


tarik bola lampu keluar dengan menggunakan jari tangan
Memasang bola lampu:
Dorong / tekan bola lampu pada lubang socket.

Gambar 2.64 Memasang dan melepas bola lampu


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

c) Bola lampu dengan ujung ganda


Tipe bola lampu ini mempunyai satu filament dan dua base-cap. seperti
pada gambar berikut:
Memperbaiki / mengganti bola lampu :
 Tekan salah satu den terminal socket dam untuk membuka tarik keluar bola
lampu tersebut.
Memasang bola lampu:
 Tempatkan salah satu ujungnya ke dalarn lubang kemudian dorong / tekan
yang lainnya sehingga kedua ujung masuk pada lubangnya masing-masing.

41
Gambar 2.65 Bola lampu dengan ujung ganda
(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

Gambar 2.61 pelepasan lampu ujung ganda


(sumber : dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-
mobil.html?m=1, 21 Januari 2017)

42
BAB III
PROSES PENGERJAAN

1. SERVICE BERKALA KM 10.000


a. Alat :
a) Kunci 14 mm
b) Kunci 21
c) Kunci moment
d) Fender

b. Bahan :
1) Air Radiator
2) Gris
3) Oli Mesin
4) Air Aki
5) Corong
6) Bak Oli
7) Breake cleaner

Langkah Kerja
a. Tempatkan mobil pada stan perbaikkan
b. Fender Cover, pasangkan fender cover pada kendaraan untuk melindungi
fender kendaraan dari goresan maupun kotoran.
c. Pasang carlift pada mobil, pastikan semua terpasang dengan benar.
d. Cek semua lampu
e. Lepas Saringan udara, lalu bersihkan dengan air gun
f. Naikkan mobilnya, kemudian lepas masing – masing roda untuk dilakukan
balancing.
g. Bersihkan semua pad rem dengan breake cleaner.
h. Lepas baut oli mesin dengan kunci 14, lalu buang olinya.
i. Jika sudah kencangkan baut oli.
j. Apabila pad rem sudah dibersihkan semua, pasang semua roda.

43
k. Turunkan mobil.
l. Lakukan moment pada masing-masing roda
m. Cek tekanan angin pada masing-masing roda
n. Buka tutup oli lalu isikan oli sesuai dengan spesifikasi kendaraan.
o. Isikan air aki, air radiator.
p. Lumasi engsel pintu dengan gris
q. Pasang filter udara
r. Terakhir Lepas fender.

44
2. PERBAIKAN SHOCK BELAKANG
c. Alat :
a) Kunci 17 mm (dua biji)
b) Kunci soket
c) Kunci roda + dongkrak

d. Bahan :
d) Shockbreaker belakang yang baru

Langkah Kerja :
a) Lepas baut shockbreaker menggunakan kunci soket dan putar berlawanan
searah jarum jam. Jika Anda kesusahan melepaskan baut, lumasi komponen
tersebut terlebih dahulu menggunakan cairan penembus untuk menghilangkan
karat yang menyulitkan pelepasan baut.
b) Berikutnya, lepas shockbreaker dari komponen suspensi. Anda harus melepas
mur dari baut yang menjadi penghubung antara shockbreaker dengan suspensi.
Mulailah melepas shockbreaker dari baut bagian bawah terlebih dahulu
kemudian atas.
c) Setelah shockbreaker lama sudah lepas, anda akan memulai langkah
pemasangan shockbreaker yang baru, ambil satu buah shockbreaker
baru.Dalam proses ini, Anda juga perlu mengangkat komponen suspensi lain
untuk pemasangan kembali baut sesuai dengan posisinya.
d) Setelah posisinya sudah tepat,kencangkan kembali baut.

45
3. PERBAIKAN FOGLAMP
 Alat :
a) Multi Tester
b) Obeng (+),(-)
 Bahan :
a) Satu foglamp Avanza baru
Langkah Kerja:
a. Buka kap mesin. Lampu kabut dudukan bumper biasanya berada di bawah
lampu depan.
b. Cek sekring atau fuse dari lampu fog lamp. Kotak fuse (fuse box) avanza
berada di sebelah kiri ketika anda membuka kap mesin.kemudian cari fuse fog
lamp. lihat apa rangkaian dalam fusenya masih terhubung.biar lebih yakin, test
dengan multi tester dan gunakan pilihan OHM. Jika putus ganti dengan fuse
serupa tetapi jiak tidak.lakukan pemeriksaan terhadap lampu.
c. Buka lampu fog lamp dan cek apakah lampu terdapat hubungan atau tidak.jika
teryata putus. baru ganti lampunya.
d. Putuskan sakelar lampu kabut dari rumahnya. Ini akan memutuskan lampu
kabut dari sistem kelistrikan. Cukup putuskan dengan cara memisahkan klip.
e. Lepaskan ring, baut, dan mur. Ini agar Anda dapat melepas rumah lampu
kabut. Pastikan Anda memiliki semua bagian lampu hingga pemasangan
selesai.
f. Lepaskan rumah lampu. Jangan sampai menggores bumper. Jika Anda
memasang lampu dudukan grill atau kap, angkatlah dari kendaraan untuk
menghindari menggores kap atau badan.
g. Masukkan lampu kabut baru. Rumah lampu akan sesuai dengan tempat yang
ditinggalkan oleh lampu lama. Jika tidak, mungkin Anda telah membeli lampu
yang salah.Pastikan lubang baut yang ada sejajar; jika tidak Anda harus
mengebor lubang baru.
h. Masukkan baut. Masukkan ring dan mur pada baut, ketatkan dengan kunci pas
atau roda gigi. Jangan terlalu kencang karena dapat merusak rumah lampu
kabut atau kendaraan. Rumahan harus nyaman dan kokoh.

46
i. Pasang kembali sakelar. Sambungkan kembali lampu kabut dengan
menggunakan klip. Lampu kabut baru kini seharusnya akan menyala.
j. Nyalakan mesin mobil. Ujilah lampu baru Anda. Pastikan bahwa sudut lampu
sesuai untuk visibilitas dan tidak menyilaukan pengemudi lain.

A. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja pada saat Penulis melakukan Kegiatan Praktek Kerja
Industri sangatlah di utamakan. Terbukti apa yang diterapkan di sekolah
tentang keselamatan kerja baik secara teori maupun secara praktek,
ternyata di DU/DI lebih cenderung ke implementasi prakteknya.
Berikut adalah penerapan keselamatan kerja di bengkel,antara lain:

1. Adanya alat pemadam kebakaran yang ditempatkan di dinding


ruangan.
2. Gambar atau tulisan NO SMOKING
3. Dan lain-lain
B. Hasil Yang Dicapai
Setelah selesai kegiatan sesuai dengan yang direncanakan dan yang kami
susun untuk mendukung tercapainya tujuan, maka hasil yang kami capai
telah selesai dan berjalan lancar meskipun terdapat kendala yang dihadapi.
Kami berharap dengan adanya prakerin akan memiliki keahlian
profesional sesuai kurikulum sekolah sehingga tamatan SMK diharapkan
mempunyai keterampilan, untuk terjun ke dunia kerja dan mampu bersaing
di era gobalisasi ini.

47
1. Keterlaksanaan (Faktor Pendukung dan Penghambat)
a. Faktor Pendukung
Faktor pendukung yang ada di dalam pelaksanaan
prakerin antara lain: (misalnya)
1) Fasilitas peralatan yang ada di bengkel sangat
mendukung.
2) Pembimbingan kepada peserta prakerin oleh pihak
Bengkel sangat baik.
3) Ruangan yang cukup luas.
4) Pembimbing lebih banyak.

b. Faktor Penghambat
5) Di tempat praktek kadang-kadang tidak ada
pekerjaan.
6) Kadang pihak Bengkel merasa terbebani dengan
adanya peserta prakerin.
2. Manfaat Yang Dirasakan
Melalui pelaksanaan praktek kerja industri (prakerin) ada
beberapa manfaat yang dirasakan antara lain:
7) Mempraktekkan teori dan praktek yang didapatkan di
sekolah dalam dunia kerja.
8) Menambah wawasan dalam dunia kerja.
9) Meningkatkan kedewasaan siswa.

48
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembelajaran di dunia kerja dan industri adalah suatu strategi yang
memberi peluang kepada peserta mengalami proses belajar melalui
bekerja langsung pada pekerjaan sesungguhnya. Dengan adanya prakerin
penulis dapat merasakan bagaimana pelaksanaan praktek langsung di
lingkungan dunia kerja yang langsung dibimbing oleh pihak ASTRIDO
TOYOTA Karawang sesuai dengan pengalaman siswa selama praktek di
Industri

B. Saran-saran
1. Sekolah hendaknya lebih menyiapkan lagi kemampuan siswa
sebelum praktek di dunia kerja dan industri.
2. Adanya kerjasama yang baik antara sekolah dengan dunia kerja
dan industri sehingga terjadi sinkronisasi materi yang diajarkan di
sekolah dan proses pembimbingan di tempat praktek.

49
DAFTAR PUSAKA
http://rianalfean.blogspot.co.id/2013/11/efi-elektronik-fuel-injection.html,
10 Januari 2017
http://www.viarohidinthea.com/2014/10/sistem-suspensi-pada-mobil.html,
15Januari 2017
dahbrit.blogspot.co.id/2012/12/system-penerangan-pada-mobil.html?m=1,
21Januari 2017

50
LEMBAR BIMBINGAN
PENULISAN LAPORAN PRAKERIN
Tanda Tangan
No Hari/ Tanggal Materi Bimbingan
Pembimbing

51