Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH KONSEP EVAKUASI PADA

KEGAWATDARURATAN

Kelompok:

1. Sintari Yulanda (P1337420616001)


2. Widya Agustiani (P1337420616004)
3. Khoirun Nafis (P1337420616007)
4. Rokhilah Rizqil Ulla (P1337420616011)
5. Rossy Noor Azizah (P1337420616014)
6. Cicha Setyaningtyas (P1337420616017)
7. Agung Sekar Palupi (P1337420616023)
8. Fadila Syahidita Sufa (P1337420616026)
9. Nastiti Drian Udiyani (P1337420616029)
10. Firdha Rahma N. (P1337420616038)
11. Salma Adilanisa (P1337420616035)
12. Titah Pangesti (P1337420616041)
13. Rizka Puji Lestari (P1337420616045)
14. Zaenal Abidin (P1337420616032)
15. Muhammad Sulkhan (P1337420616048)
16. Evi Lailiya (P1337420616051)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat taufik
hidayat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Konsep Evakuasi Pada
Kegawatdaruratan dengan tepat waktu.

Proposal ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Kegawatdaruratan di program
studi Diploma IV Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang.
Selanjutnya penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Wagiyo,
SKp, M.Kep. Sp.Mat. selaku dosen pembimbing mata kuliah Kegawatdaruratan dan kepada
segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam


penulisan proposal ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif
dari para pembaca demi kesempurnaan proposal ini.

Semarang, 12 Februari 2019


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................................................
BAB I...................................................................................................................................................
1.1 LATAR BELAKANG...........................................................................................................................
1.2 TUJUAN..........................................................................................................................................
1.3 RUMUSAN MASALAH.....................................................................................................................
BAB II..................................................................................................................................................
2.1 DEFINISI..........................................................................................................................................
2.2 SYARAT EVAKUASI...........................................................................................................................
2.3 PRINSIP DASAR EVAKUASI..............................................................................................................
2.4 KEBIJAKAN EVAKUASI.....................................................................................................................
2.5 TEKNIK EVAKUASI ..........................................................................................................................
BAB III.................................................................................................................................................
3.1 KESIMPULAN .................................................................................................................................
3.2 KRITIK DAN SARAN ........................................................................................................................
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi

Kegawatdaruratan adalah suatu keadaan dimana seseorang berada dalam


kondisi ancaman kematian dan memerlukan pertolongan segera guna menghindari
kematian dan kecelakaan. Keadaan ini dapat terjadi kapan saja, dimana saja dan
menimpa siapa saja. Sehingga perlu dilakukan evakuasi medik untuk mendapatkan
pertolongan/pelayanan medik ke fasilitas pelayanan yang memiliki sumber daya dan
fasilitas yang lebih baik. Evakuasi merupakan salah satu bagian penting dalam
kegawat daruratan. Melalui evakuasi yang tepat maka penanganan lanjut korban dapat
lebih optimal. Dalam melakukan evakuasi baik perorangan maupun massal
mempunyai prinsip utama yang sama yaitu korban sudah dalam keadaan stabil,
kecuali bila terdapat sarana transportasi, peralatan dan tenaga kesehatan yang
memungkinkan untuk melakukan resusitasi stabilisasi selama dalam perjalanan.

Evakuasi atau pemindahan korban adalah suatu cara yang digunakan untuk
menyelamatkan korban ke tempat yang lebih aman dengan fasilitas serta sumber daya
manusia yang lebih memadai sesuai kebutuhan korban. Dengan memindahkan korban
maka akan membantu dalam proses penanganan korbannya. Penanganan korban yang
salah akan menimbulkan cedera lanjutan atau cedera baru. Evakuasi sendiri dibagi
menjadi 2 yaitu.

1. Evakuasi darurat

Evakuasi yang dilakukan ketika kondisi dalam keadaan yang darurat atau yang
memerlukan untuk dilakukan evakuasi yang cepat karena terdapat banyak korban
dan tempat terjadinya bencana dikhawatirkan akan terjadi bencana susulan.
Bahaya terbesar dalam melakukan evakuasi darurat adalah terjadi cedera yang
baru.

Cara pemindahan darurat:

a. Shirt drag ( tarikan baju), cara ini dilakukan dengan menarik baju bagian belakan
milik korban
b. Blanket drag ) tarikan selimut), cara ini dilakukan dengan korban dipindahkan
terlebih dahulu di atas selimut, baru kemudian ditarik selimutnya

c. Shoulder drag (tarikan bahu), cara ini dilakukan dengan mengangkat bahu korban
dari belakang

d. Sheet drag (tarikan kain), cara ini sama dengan cara dari tarikan selimut

e. Piggyback carry ( menggendong), cara ini dilakukan dengan gendongan berada


dibelakang

f. One rescuer crutch (menyokong), cara ini

g. Cradly carry ( membopong)

h. Firefighter drag

2. Evakuasi tidak darurat

Evakuasi tidak darurat dilakukan ketika korban sudah selesai mendapat


pertolongan dan tidak mengharuskan untuk segera dievakuasi, dimisalkan korban
harus mendapat pertolongan terlebih dahulu. Evakuasi ini bisa dilakukan dengan
angkatan langsung maupun adanya alat gerak. Misalkan dragbar. Dragbar (tandu)
merupakan alat yang digunakan untuk mengangkat atau mengevakuasi korban
yang berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bahan yang relatif ringan.
Jenis-jenis dragbar (tandu):

 Tandu beroda

 Tandu kursi

 Tandu basket

 Tandu scoop

 Tandu lipat

 Matras vakum

 Papanspinal
2.2. Syarat Evakuasi Korban

A. Pada dasarnya syarat korban dievakuasi yaitu:

a. Penilaian awal sudah dilakukan lengkap, dan monitor terus keadaan umum
korban

b. Denyut nadi dan napas korban stabil dan dalam batas normal

c. Perdarahan yang ada sudah diatasi dan dikendalikan

d. Patah tulang yang ada sudah diatasi

e. Mutlak tidak ada cedera spinal

f. Rute yang dilalui memungkinkan dan tidak membahayakan penolong dan


korban

Penggunaan tubuh penolong dalam melakukan pengangkatan dan


pemindahan korban perlu mendapatkan perhatian yang serius. Jangan sampai
akibat cara melakukanyang salah mengakibatkan cedera atau keadaan korban
bertambah parah, atau bahkan penolong mengalami cedera. Untuk mencegah hal-
hal diatas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Pikirkan kesulitan memindahkan sebelum mencobanya

2. Jangan coba mengangkat dan turunkan korban jika tidak dapat


mengendalikannya.

3. Selalu mulai dari posisis seimbang dan tetap jaga keseimbangan

4. Rencanakan pergerakan sebelum mengangkat

5. Upayakan untuk memindahkan beban serapat mungkin dengan tubuh penolong

6. Lakukan gerakan secara menyeluruh, serentak dan upayakan agar bagian tubuh
saling menopang

7. Bila dapat kurangi jarak atau tinggi yang harus dilalui korban.

8. Perbaiki posisi dan angkat secara bertahap


9. Punggung tegak waktu mengangkat korban atau menjaga kelurusan tulang
belakang.

Berbagai contoh cara memindahkan korban: menarik kemeja korban (shirt


drag), menarik selimut korban (blanket drag), menarik ketiak / lengan
(shoulder/forearm drag), menarik kain (sheet drag), gendong punggung (piggy
back carry), memapah (one rescuercrutch), angkat depan (cradle carry), menarik
dengan merangkak (fire fighter drag), dipikul (fire fighter carry), dan lain-lain.

2.3. Prinsip Dasar Evakuasi

Dalam melakukan proses evakuasi terdapat beberapa prinsip yang harus


diperhatikan agar proses ini dapat berjalan dengan lancer dan tidak menimbulkan
masalah yang lebih jauh lagi. Prinsip-prinsip itu antara lain:
a. Lokasi kejadian:
Tempat kejadian tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan lebih
lanjut sehingga tindakan evakuasi diperlukan agar korban dapat diselamatkan dan
tidak mengalami cidera yang lebih jauh lagi.
b. Kondisi Korban
Dalam melakukan evakuasi, evaluasi terhadap kondisi korban yang
ditemukan harus diperhatikan agar proses evakuasi dapat berjalan dengan lancar.
Kondisi yang perlu untuk diperhatikan antara lain:
1. Kondisi korban dapat bertambah parah ataupun dapat menyebabkan kematian
2. Kontrol CAB
3. Tidak terdapat trauma tulang belakang ataupun cedera leher
4. Jika terdapat patah tulang pada daerah yang lain maka hendaknya dilakukan
immobilisasi pada daerah tadi
5. Angkat Tubuh korban bukan tangan/kaki(alat gerak)
6. Jangan menambah parah kondisi korban

c. Peralatan
Dalam melakukan suatu proses evakuasi penggunaan peralatan yang
memadai perlu diperhatikan. Hal ini penting karena dengan adanya peralatan yang
memadai ini proses evakuasi dapat lebih dipermudah dan cidera lebih lanjut yang
mungkin terjadi pada korban dapat lebih diperkecil kemungkinanannya.
Penggunaan peralatan ini juga harus disesuaikan dengan kondisi medan tempat
korban ditemukan.

d. Pengetahuan dan Keterampilan perorangan


Pengetahuan yang dimiliki dan kemampuan dari orang yang akan
melakukan proses evakuasi juga menjadi factor penting karena dengan
pengetahuan dan keterampilan ini semua masalah yang dapat timbul selama
proses evakuasi dapat ditekan. Sebagai contoh, dengan keterampilan yang ada
seseorang dapat melakukan evakuasi dengan alat seadanya. Dalam melakukan
evakuasi, keselamatan penolong haruslah diutamakan.

2.4. Kebijakan Sistem Evakuasi

Keberhasilan suatu evakuasi sangat tergantung pada beberapa sub sistem yang
mendukung antara lain organisasi, pelayanan, transportasi, SDM, Komunikasi dan
sarana medik.
1. Organisasi
Pengorganisasian pelayanan evakuasi diharapkan dapat menjamin pelayanan
medik yang cepat, aman dan efisien. Pengorganisasian akan melibatkan pelayanan
evakuasi linttas sektor yang memerlukan koordinasi baik di ttingkat daerah
maupun di tingkat nasional.pelayanan evakuasi dapatt dikelola oleh pemerintah
maupun pihak swasta dan harus dapat menjamin seluruh langkah-langkah
evakuasi yang seharusnya.
2. Pelayanan
Pelayanan evakuasi medik dapat dilakukan pada kejadian sehari-hari dan pada
saat terjadi bencana dengan memperhatikan Sistem Penanggulangan Gawat
Darurat Terpadu (SPGDT). Evakuasi medik mempunyai ruang lingkup meliputi
evakuasi di lapangan (dari lokasi kejadian ke fasilitas kesehatan), evakuasi
pelayanan (puskesmas ke rumah sakit, antar RS) dan evakuasi medik didalam RS
(antar unit kerja terlibat). Pelayanan evakuasi medik harus berdasarkan:
a. Jenis kasus yang akan dievakuasi harus disesuaikan dengan klasifikasi dan
kemampuan fasilitas pelayanan medik yang menjadi tujuan evakuasi
b. Pelayanan evakuasi untuk korban gawat darurat harus selalu disertai petugas
pendamping yang terampil (dokter/tenaga keperawatan)
c. Pelayanan evakuasi untuk korban gawat darurat harus menggunakan sarana
transportasi yang memenuhi persyaratan pelayanan gawat darurat.
3. Transportasi
Sebagai sarana untuk melakukan evakuasi maka ditetapkan beberapa jenis
ambulance, yaitu:
a. Ambulance darat, terdiri dari
 Ambulance transport
 Ambulance gawat darurat
 Ambulance jenazah
b. Ambulance air
 Ambulance laut
 Ambulance sungai dan danau
c. Ambulance udara
 Pesawat udara jenis fixed wing (bersayap tengah)
 Pesawat udara jenis rotary wing (sayap putar/helikopter)

4. Sumber Daya Manusia


SDM yang akan terlibat dalam pelayanan evakuasi sangat tergantung dari
kondisi korban yang akan dievakuasi terdiri dari:
a. Dokter
Memiliki kemampuan General Emergency Life Support (GELS), Advance
Life Support (ALS), manajemen oksigen therapy dan manajemen penanganan
bencana.

b. Perawat
Memiliki kemampuan Basic Life Support (Pelatihan penanggulangan gawat
darurat untuk perawat), asuhan keperawatan korban gawat darurat dan tekhnik
stabilisasi dan evakuasi.
c. Pengemudi ambulance
Memiliki kemampuan basic life support (PPGD untuk awam khusus) dan
tekhnik evakuasi.
d. Petugas Safety ( SAR, pemadam kebakaran, security, polisi, dan TNI).
Untuk kasus-kasus khusus diperlukan kemampuan dan ketrampilan tambahan
misalnya:
1. Penanganan kegawatan respirasi (respiratory emergency)
2. Penanganan kegawatan kardiovaskular ( cardiovasculer emergency)
3. Penanganan trauma, balut bidai dan stabilisasi
4. Penanganan neonatal dan kegawatan anak (pediatric emergency)
5. Penanganan ibu hamil dan saat persalinan
6. Pengetahuan materi tambahan tentang KLB/outbreak, keracunan, bencana
dan korban massal.

5. Komunikasi
Komunikasi harus dapat menghubungkan antara petugas evakuasi dilapangan
dengan rumah sakit yang akan menerima korban atau posko penanggulangan
bencana. Diperlukan ketentuan tentang pemberian informasi awal sebelum
evakuasi dilakukan, antara lain:
a. Kondisi korban saat berangkat (diagnosa)
b. Tindakan medik yang sudah dilakukan
c. Waktu/jam berangkat
d. Data peralatan dan tindakan yang dibutuhkan di rumah sakit (misalnya korban
dengan fraktur perlu dilakukan pemasangan pen).
6. Sarana Medik
Sarana medik untuk evakuasi harus dipersiapkan secara lengkap kemudian secara
periodik dilakukan pemeriksaan (jumlah alat/obat/bahan medik habis pakai).
Sarana medik pada pelayanan evakuasi minimal terdiri dari:
a. Brankar (stretcher, tandu)
b. Oksigen tabung dan kelengkapannya
c. Unit pengisap (suction unit)
d. Obat-obatan life saving
e. Alat-alat life saving
f. EKG monitor, inkubator bayi (sesuai kasusnya)
g. Cairan infus
h. Lampu senter, balut bidai
i. Alat komunikasi
j. Formulir pencatatan dan pelaporan
2.5. Teknik Evakuasi Pada Pertolongan Pertama Gawat Darurat
Ketika terjadi suatu kecelakaan, hal terpenting yang harus dilakukan adalah
mengenai bagaimana sikap kita sebagai tim kesehatan mengatasi masalah yang ada.
Sikap tanggap namun tenang tetap harus dijaga dalam melaksanakan tindakan PPGD
terhadap korban. Hal serupa juga harus kita lakukan ketika berada pada kondisi
bencana di suatu wilayah.

Salah satu hal yang perlu dilakukan ketika kita dihadapkan pada situasi-situasi
seperti ini adalah pertolongan terhadap korban. Penempatan korban pada wilayah
aman adalah prioritas penting setelah melakukan tindakan-tindakan pencegahan
kematian seperti pemeriksaan tanda-tanda vital dan pada kondisi lebih lanjut adalah
resusitasi.

Untuk dapat melakukan transportasi korban dengan benar, tentunya


diperlukan teknik-teknik tertentu agar pemindahan benar-benar mampu memberikan
kondisi kepada korban yang lebih baik, bukan malah memperburuk keadaan karena
teknik yang salah. Apalagi jika kita dihadapkan dengan tenaga penolong dengan
jumlah yang variatif. Tentu tidak akan sama teknik pemindahan/ transportasinya
ketika kita bersama 2 penolong yang lain, 1 penolong yang lain, atau bahkan sendiri.

Teknik-teknik ini dapat dipaparkan sebagai berikut:

1 PENOLONG

a) Korban Tidak Sadar

- Teknik sampir bahu (korban dalam kondisi tengkurap)

Teknik ini dilakukan ketika sudah dipastikan bahwa korban tidak mengalami
patah tulang, urai sendi, atau cedera semacamnya. Jika korban mengalami
patah tulang punggung, maka teknik ini jangan dilakukan. Sebab bisa
menyebabkan kondisi korban semakin fatal.
- Teknik sampir bahu (korban dalam kondisi terlentang)

Teknik ini juga dilakukan pada kondisi yang sama seperti pada teknik kondisi korban
tengkurap.

- Korban berada di dalam reruntuhan gedung

Teknik ini lebih sering dipakai ketika kondisi kebakaran yang terjadi di dalam
gedung. Prioritas utama adalah korban yang kita tolong, sehingga posisi penolong
harus berada di atas korban untuk melindungi tubuh korban dari reruntuhan.

- Teknik membopong
Jika korban adalah anak-anak, maka teknik ini bisa digunakan karena lebih praktis
dibandingkan dengan teknik-teknik lainnya. Namun jika penolong memiliki tenaga
yang lebih, teknik ini pun bisa dilakukan untuk korban orang dewasa.

- Tenaga penolong yang lemah

Ketika kita tidak memiliki tenaga yang cukup untuk melakukan pertolongan terhadap
korban, secara darurat kita dapat memindahkan korban ke tempat yang aman.
Tujuannya adalah untuk mengurangi resiko terjadinya kondisi yang lebih darurat
dibandingkan jika korban berada pada wilayah bencana.

Kita dapat menggunakan tangan kosong maupun alat seadanya sebagai fasilitas
pendukung. Alat yang digunakan dapat berupa kain atau selimut. Usahakan untuk
memilih kain yang tebal untuk meminimalisir luka ketika tubuh korban bergesekan
dengan tanah/ ground. Teknik ini hanya layak dilakukan untuk pemindahan korban
pada jarak yang relatif dekat.

a. Tarikan bahu
b. Tarikan lengan

c. Tarikan kain

d. Tarikan selimut

b) Korban Sadar

- Teknik sampir bahu


Jika korban tidak mengalami patah tulang punggung, kaki, maupun lengan, teknik ini
dapat dilakukan. Teknik ini dipakai ketika korban dalam kondisi yang sangat lemah
yang membutuhkan pertolongan dengan segera.

- Teknik gendong

Jika korban dalam kondisi lemah dan tidak mampu untuk berjalan, penolong dapat
menggunakan teknik ini.

- Teknik memapah

Jika korban masih mampu berjalan namun dengan kondisi yang lemah, maka
penolong diajurkan memilih teknik ini. Teknik ini juga disarankan bagi penolong
yang tidak memiliki cukup tenaga untuk mengangkat korban.
- Teknik mempopong

Teknik ini sama seperti teknik membopong pada korban tidak sadar. Hanya saja
korban diminta untuk meletakkan tangan sebelah kirinya pada leher/ atas bahu kiri
penolong agar tidak menyulitkan penolong dalam melakukan pemindahan.

2 PENOLONG

a) Korban Tidak Sadar

- Teknik angkat langsung

Teknik ini adalah teknik umum yang digunakan ketika kita tak menemukan alat
apapun untuk proses evakuasi korban. Caranya adalah dengan melipatkan kedua
tangan korban ke dada, lalu tangan kanan penolong 1 memegang lengan kanan bawah
dan tangan kiri memegang lengan kiri bawah korban. Sedangkan penolong 2
memegang bagian lutut korban.

- Evakuasi menggunakan kursi

Teknik ini lebih praktis dan akan mempermudah penolong dalam melakukan
evakuasi.
b) Korban Sadar

- Teknik memapah

Teknik ini dilakukan jika korban masih mampu berjalan namun dengan kondisi fisik
yang sangat lemah.

- Duduk 2 tangan

Teknik ini dilakukan jika korban sama sekali tak mampu berjalan. Kondisi korban
dengan cedera kaki pada bagian bawah juga lebih tepat menggunakan teknik evakuasi
ini.
- Duduk 4 tangan

Teknik ini digunakan pada kasus sama seperti teknik pada evakuasi duduk 2 tangan.

3 PENOLONG

Teknik 3 penolong atau lebih, secara umum diprioritaskan bagi korban tak sadar. Selebihnya,
untuk mengatasi jarak evakuasi yang jauh, maka digunakan alat bantu berupa tandu dan
peralatan-peralatan lain dengan jumlah penolong variatif. Berikut macam-macam teknik
evakuasi dengan 3 penolong:

- 3 penolong pada satu sisi korban

Teknik ini adalah yang paling sering digunakan pada evakuasi korban dengan 3
penolong. Posisi penolong pada 1 sisi menjadikan perjalanan evakuasi lebih terarah.
Kekompakan dan koordinasi tim menjadi penentu berhasilnya teknik evakuasi ini.
Jika penguncian korban benar, maka korban tidak akan terasa berat.
- 3 penolong berhadapan

Teknik ini digunakan ketika kondisi penolong memiliki tinggi badan yang tidak sama.
Penolong berhadapan pada kedua sisi korban dengan tangan penolong saling
berpegangan di bawah tubuh korban.

4 PENOLONG

Jika jumlah penolong lebih banyak, maka proses evakuasi akan lebih baik. Beban korban
akan semakin berkurang dan akurasi dalam proses evakuasi pun semakin baik. Tekniknya
adalah dengan saling berpegangan tangan di bawah tubuh korban dengan posisi penolong
saling berhadapan.
6 PENOLONG

Jika korban memiliki berat badan yang cukup besar, maka dapat dilakukan evakuasi dengan 6
penolong. Tekniknya sama seperti evakuasi dengan 4 penolong.
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Evakuasi atau pemindahan korban adalah suatu cara yang digunakan untuk
menyelamatkan korban ke tempat yang lebih aman dengan fasilitas serta sumber
daya manusia yang lebih memadai sesuai kebutuhan korban. Dengan memindahkan
korban maka akan membantu dalam proses penanganan korbannya. Penanganan
korban yang salah akan menimbulkan cedera lanjutan atau cedera baru. Evakuasi
sendiri dibagi menjadi 2 yaitu evakuasi darurat dan evakuasi tidak darurat. Syarat
evakuasi ada 6 yaitu sebagai berikut Penilaian awal sudah dilakukan lengkap, dan
monitor terus keadaan umum korban, Denyut nadi dan napas korban stabil dan dalam
batas normal, Perdarahan yang ada sudah diatasi dan dikendalikan, Patah tulang yang
ada sudah diatasi, Mutlak tidak ada cedera spinal, Rute yang dilalui memungkinkan
dan tidak membahayakan penolong dan korban. Dalam melakukan proses evakuasi
terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu Lokasi kejadian, Kondisi
Korban, Peralatan, Pengetahuan dan Keterampilan perorangan. Keberhasilan suatu
evakuasi sangat tergantung pada beberapa sub sistem yang mendukung antara lain
organisasi, pelayanan, transportasi, SDM, Komunikasi dan sarana medik. Untuk
dapat melakukan transportasi korban dengan benar, tentunya diperlukan teknik-
teknik tertentu agar pemindahan benar-benar mampu memberikan kondisi kepada
korban yang lebih baik, bukan malah memperburuk keadaan karena teknik yang
salah. Apalagi jika kita dihadapkan dengan tenaga penolong dengan jumlah yang
variatif. Tentu tidak akan sama teknik pemindahan/ transportasinya ketika kita
bersama 2 penolong yang lain, 1 penolong yang lain, atau bahkan sendiri.

3.2 Kritik dan saran


Masalah penanggulangan bencana tidak hanya menjadi beban pemerintah atau
lembaga-lembaga terkait. Tetapi juga diperlukan dukungan dari masyarakat umum.
Diharapkan masyarakat dari tiap lapisan dapat ikut berpartisipasi dalam upaya
penanggulangan bencana.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2009. Pedoman Penanganan Evakuasi Medik, Jakarta: Direktorat
Bina Pelayanan Medik Dasar.

Krisanty P., dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: TIM

Perwali. 2015. Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu. 16-c. Surakarta: Walikota

Raiz, Andi Raswadi., dkk. 2012. Management Bencana. Makalah. Fakultas Kedokteran
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”. Jakarta: Tidak Diterbitkan