Anda di halaman 1dari 39

Laporan Kasus

Kejadian Tension-Type Headache pada Episode Depresif Berat

dengan Gejala Psikotik

Oleh :

Gt. Andhika Azwar Alam I14A013054

Nurulrezki Atika I14A013036

Truly Graceva I14A013253

Pembimbing :

dr. Nadia Sevirianty, Sp.KJ

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa

Fakultas Kedokteran UNLAM

RSJ Sambang Lihum Banjarmasin

Januari, 2018

0
LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. M
Tempat, Tanggal lahir : Sabuhur, 10 September 1979
Usia : 38 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Dusun limau RT.02/01, Panyipatan, Tanah laut
Pendidikan Terakhir : Tidak sekolah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Status Perkawinan : Menikah

Tanggal Masuk RS : 7 Januari 2018

II. RIWAYAT PSIKIATRIK


Diperoleh dari autoanamnesis dan heteroanamnesis pada hari Minggu

tanggal 7 Januari 2018 pukul 13.30 WITA di IGD RS Jiwa Sambang Lihum

bersama dengan suami pasien.


A. KELUHAN UTAMA
Mengamuk
KELUHAN TAMBAHAN

Sulit tidur, bicara terus menerus, tiba-tiba menangis, berbicara sendiri, marah

terus-menerus, dan mendengar bisikan.

B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Autoanamnesis

Anamnesis dilakukan terhadap pasien di IGD RS Jiwa Sambang Lihum

Gambut pada hari Minggu, 7 Januari 2018. Saat anamnesis, pasien tampak tenang

namun pasien bersikap tidak kooperatif terhadap pemeriksa. Pasien tidak

menyadari bahwa pasien diantar ke RSJ Sambang Lihum oleh keluarganya

menggunakan mobil ambulance saat siang hari.

1
Pasien datang diantar oleh suaminya dengan keluhan mengamuk sejak

hari Rabu, yaitu 4 hari yang lalu. Saat diantar pasien dalam keadaan berbaring dan

tampak lemas. Pasien meggunakan baju merah dan sarung bermotif kotak-kotak.

Pasien tampak cukup terawat. Rambut pasien berwarna hitam, panjang dan lebat.

Kulit pasien berwarna sawo matang, dengan tubuh yang cukup berisi. Kontak

mata dapat dipertahankan dengan perintah. Penampilan dan wajah pasien tampak

sesuai usia dan tidak tampak adanya penelantaran diri.


Saat diwawancara dan dilakukan pemeriksaan pasien tampak tenang

namun pasien tidak kooperatif. Saat ditanya mengenai identitas diri, pasien dapat

menjawab pertanyaannya tetapi pasien tidak dapat menyebutkannya dengan benar.

Kemudian pemeriksa bertanya mengenai alasan pasien berada disini dan pasien

mengatakan bahwa dirinya tidak sakit. Lalu saat pemeriksa memberikan

pertanyaan yang lain pasien tetap memberikan jawaban namun jawaban tidak

sesuai dengan pertanyaan yang diberikan (tidak nyambung). Terkadang pasien

menyebutkan bahwa dia lupa tentang jawaban dari pertanyaan yang diberikan.

Pemeriksa sempat menanyakan mengenai pengetahuan dasar, namun pasien tidak

dapat menjawab pertanyaan tersebut. Saat pasien ditanyakan mengenai perasaan

dalam beberapa waktu belakangan, pasien tidak menjawab dengan jelas. Pasien

sempat mengatakan bahwa beberapa hari terakhir dia sedang banyak pikiran tetapi

saat ditanya mengenai alasannya pasien tidak bisa menyebutkannya. Pasien

sempat mengaku bahwa dirinya adalah seorang penyanyi hebat yang berasal dari

Turki sehingga di rumah, pasien sering bernyanyi-nyanyi layaknya seorang

penyanyi hebat. Selain itu, ketika ditanya apakah pasien pernah merasa sedih atau

bersalah akan sesuatu, pasien menjawab bahwa dirinya memiliki salah yang

teramat besar dan harus dihukum karenanya. Pasien menangis saat menjawab dan

2
kemudian berhenti sama sekali. Selang beberapa saat, pasien kembali berbicara

kacau, tidak bertautan satu sama lain sehingga sulit untuk dipahami. Pasien

mengatakan “saya lapar ingin makan sekarang kakak cari anak kecil putih seperti

bunga melati yang harum”. Pasien juga semakin tidak nyambung saat diajak

berbicara. Saat ditanya mengenai perasaan dalam beberapa waktu belakangan,

pasien menjawab sedih yang dikonfimasi dengan raut wajahnya yang murung.

Pasien juga tampak tidak bersemangat dan tampak tidak bergembira sama sekali.
Selain keluhan tersebut, ketika ditanya mengenai bisikan, pasien

merasakan mendengar bisikan-bisikan yang tidak dapat dirincikan bisikan seperti

apa, oleh siapa dan tentang apa. Informasi yang didapat sangat minim. Kemudian

ketika pasien ditanya mengenai pola tidur, pasien dapat mengatakan bahwa pasien

memiliki gangguan tidur yang juga tidak dapat dirincikan sejak kapan. Pasien

tampak gelisah dan juga bingung dengan orientasi yang tidak sesuai kenyataan.

Mengenai aktivitas sehari-hari di rumah sebagai ibu rumah tangga, pasien tidak

dapat memberikan data yang berarti. Pasien hanya berkontak mata apabila

dipancing atau diberikan perintah. Pasien tampak sulit untuk mempertahankan

konsentrasi. Belakangan ini pun nafsu makan pasien berkurang, pasien tidak mau

makan sendiri sehingga beberapa hari belakangan ia tampak sangat lemah dan

tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari serta tampak lesu dan tidak

berenergi sama sekali.


Saat pasien di follow up pada tanggal 10 Januari 2018, pasien

mengeluhkan sakit kepala seperti terikat dengan kekuatan ringan-sedang sejak

kemarin yang muncul perlahan dan menetap hingga saat ini. Sakit kepala

dirasakan di seluruh kepala terlebih di daerah kepala bagian belakang dekat

perbatasan dengan leher yang tidak terasa berdenyut dan tidak dipengaruhi oleh

3
aktivitas yang dilakukan oleh pasien. Pasien tidak merasakan silau dan tidak enak

saat melihat cahaya. Pasien tidak mengaku ada mual maupun muntah. Sakit

kepala seperti ini muncul sepertinya tidak diperngaruhi oleh banyaknya masalah

yang dihadapi karena sebelumnya (tidak lebih dari satu kali serangan dalam satu

bulannya) sakit kepala juga dirasakan saat belum muncul masalah. Pasien tidak

ada meminum obat untuk meredakan sakit kepalanya. Keluhan ini dirasakan

menetap tetapi saat ditanya mengenai masalah yang dihadapi sebelumnya, pasien

dapat bercerita bahwa masalah yang dihadapi sudah berangsur membaik saat

pasien masuk Rumah Sakit. Keluhan lain disangkal. Saat ditanya mengenai

riwayat berobat dengan dokter lain, pasien tidak pernah berobat kemanapun dan

tidak pernah melakukan pemeriksaan apapun sebelumnya.

Heteroanamnesis (dengan suami pasien, Tn.A)

Pasien dibawa ke RSJ Sambang Lihum oleh ibu, suami, adik dan anak

pasien dengan keluhan mengamuk. Menurut suami pasien yang tinggal serumah,

pasien mulai mengamuk dan berbicara kacau sejak 4 hari yang lalu (hari Rabu)

dan muncul dengan tiba-tiba. Ia mengaku istrinya tidak pernah mengalami

keluhan serupa sebelumnya. Sebelum keluhan muncul, pasien memiliki masalah

keluarga yang cukup rumit mengenai perkelahian orangtua yang tak kunjung

selesai berupa masalah mengenai lilitan hutang yang menimpa orang tua pasien,

sehingga orang tua pasien tinggal bersama keluarga pasien dan sering bertengkar

di sana. Akhirnya pasien merasa tidak enak dan bersalah karena seakan-akan

membawa masalah tersebut di dalam keluarga kecilnya. Pasien merupakan anak

sulung sehingga sepertinya cenderung terlalu memikirkan hal tersebut. Karena

masalah tersebut, pasien tampak sangat terbebani. Ketika suami pasien menasehati

4
dan menenangkan pasien untuk beristirahat saja tanpa memikirkan masalah

tersebut karena nanti bisa menjadi gila, seketika pasien langsung mengamuk,

berteriak histeris dengan nada tinggi melengking tidak berhenti, menangis,

menendang-nendangkan kaki, melempar bantal dan guling serta sempat memukul-

mukul suami. Mengamuk kemudian berhenti setelah sekitar 3 jam, menangis

berhenti sendiri tetapi marah-marah tetap terjadi hingga saat ini. Pasien juga

mengalami sulit tidur, paling lama tidur hanya ± ½ jam sehari. Pasien juga

mengalami bisikan bisikan berupa melahirkan anak kecil yang kemudian

dilahirkannya. Saat kondisi marah pasien sempat mengancam untuk bunuh diri

dengan cara gantung diri, tetapi pasien tidak melakukannya. Sejak Rabu, pasien

juga tidak mau makan sehingga membuat alasan lebih kuat dibawa ke rumah

sakit. Pasien tampak sangat tidak bersemangat dan berenergi sehari-harinya.

Sehari-hari, pasien termasuk orang yang cenderung pendiam dan

cenderung memendam apabila ada masalah, pasien cenderung tertutup. Beberapa

hari sebelum keluhan mengamuk tepatnya 8 hari SMRS, pasien makin terlihat

tertutup dan mengurung diri dengan pandangan kosong serta terkadang diikuti

dengan lonjakan emosi berupa marah-marah tanpa sebab. Sejak saat itu, pasien

jadi sulit tidur dan tampak gelisah dan terkadang suka bicara sendiri, melamun

serta mondar-mandir. Suami pasien juga menyatakan pasien sering melakukan

gerakan aneh seperti menari tapi sudah berkurang. Saat ini pasien tidak bisa

mengerjakan tugasnya sehari hari karena pasien tidak bisa berjalan dan tampak

lemas; tidak bisa mandi, makan dan mengenakan baju sendiri. Sejak hari Rabu,

suami pasien sering diberitahukan istrinya bahwa ia mendengar bisikan. Bisikan

dari telinganya oleh seorang wanita bahwa iya baru saja melahirkan seorang anak

5
kecil dan suaminya diminta untuk mencarinya saat itu juga. Suami lalu

kebingungan.

C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien tidak pernah mengeluhkan keluhan serupa sebelumnya.

D. RIWAYAT PENYAKIT MEDIS

Pasien tidak pernah dirawat di RS akibat suatu penyakit fisik.

E. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI

a) Riwayat Antenatal dan Prenatal

Berdasarkan anamnesis dengan suami pasien, tidak ada data yang

didapat mengenai riwayat sakit ibu pasien saat mengandung pasien.

Menurut suami pasien, ibunya tidak pernah mengkonsumsi alkohol dan

obat-obatan. Pasien tidak tahu bagaimana riwayat antenatal pasien apakah

terdapat riwayat kejang atau tidak, pasien hanya ingat bahwa pasien lahir

di rumah dibantu oleh bidan kampung. Pasien lahir cukup bulan, spontan

dan langsung menangis, tidak ada cacat bawaan.

b) Riwayat Infanticy/Masa Bayi (0 – 1,5 tahun)Basic Trust vs Mistrust

Tidak ada cukup data yang dapat digali dari pasien

c) Riwayat Pre School Age/Masa Sekolah (3 – 6 Tahun) initiative vs Guilt

Tidak ada cukup data yang dapat digali dari pasien

d) Riwayat School Age/Masa Sekolah (6 – 12 Tahun) Industry vs

Inferiority

Tidak ada cukup data yang dapat digali dari pasien

e) Riwayat Adolenscance (12 – 20 Tahun) Identity vs Role

Diffusion/Identity Confusion

6
Tidak ada cukup data yang dapat digali dari pasien

f) Riwayat Early Adulthood (20-39 tahun)) Intimacy vs Isolation

Tidak ada cukup data yang dapat digali dari pasien

g) Riwayat masa dewasa madya (40-65 tahun)) Generavity vs Stagnation

Tidak ada cukup data yang dapat digali dari pasien

h) Riwayat pendidikan
Riwayat pendidikan pasien secara umum tidak baik. Pasien tidak

sekolah.
i) Riwayat pekerjaan

Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga. Terkadang pasien

bekerja membantu adiknya berjualan. Selain itu terkadang pasien juga

turut serta membantu suaminya yang bekerja sebagai petani.

j) Riwayat perkawinan
Pasien sudah menikah. Rumah tangga pasien dalam keadaan yang

cukup harmonis. Pasien memiliki 2 orang anak laki-laki.

F. RIWAYAT KELUARGA

Genogram

Keterangan :

= Laki-laki

= Penderita

7
= Perempuan

= meninggal dunia

Pasien anak pertama dari 5 bersaudara, orangtua pasien masih ada

keduanya. Pasien merupakan anak sulung dengan jarak umur dengan adiknya

sekitar 4 tahun. Berdasarkan keterangan suami, tidak ada yang mengalami hal

serupa seperti pasien.


G. RIWAYAT SITUASI SEKARANG
Pasien tinggal hidup bersama suami dan kedua anak pasien. Pasien tinggal

di daerah pedesaan, jarak antar rumah cukup dekat, sekitar satu meter. Rumah

terdiri atas dua kamar, ruang tengah, dan dapur, serta tempat mencuci baju dan

piring bersambung dengan kamar mandi.

H. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA

Pasien mengaku bahwa dirinya sedang sakit namun di saat yang bersamaan

terkadang pasien menyangkal bahwa dirinya sedang sakit. Pasien tidak

mengatakan apapun mengenai lingkungannya.


Tabel 1. Timeline berdasarkan autoanamnesis dan heteroanamnesis

Kepribadian 8 hari SMRS 4 hari SMRS MRS 3 hari MRS


sebelum
sakit
Pada Pasien Pasien mulai Saat dilakukan Pasien
dasarnya tampak berbicara anamnesis, mengeluhkan
pasien adalah semakin kacau, antar pasien tidak sakit kepala
orang yang tertutup dan kalimat tidak kooperatif dan ringan-
pendiam mengurung nyambung berbicara kacau sedang sejak
diri di rumah, dan tidak ada tidak nyambung kemarin.
Tidak
tidak makna yang antar kalimat.
berdenyut
berinteraksi dapat
dan terasa
dengan disimpulkan
luas di
lingkungan di

8
luar rumah seluruh
kepala,
khususnya
bagian
belakang.
Muncul saat
masalah
keluarganya
berangsur
membaik.
Pasien Melamun Pasien Bisikan yang Pasien tidak
cenderung dengan tampak sebelumnya pernah
memendam pandangan sangat dirasakan masih berobat
masalah yang kosong terbebani oleh terdengar kemana-
dihadapi masalah yang mana dan
dihadapinya belum
meminum
obat.
Tertutup Terdapat Pasien Gangguan tidur Raut wajah
lonjakan mengamuk yang sebeulmnya pasien tetap
emosi berupa dengan dirasakan juga murung
marah-marah berteriak masih ada.
tanpa sebab histeris Pasien hanya
yang jelas dengan nada bisa tidur paling
dengan tinggi yang lama selama 30
frekuensi melengking, menit sehari
yang sering menangis,
menendang
kaki hingga
memukul
suami, dan
berhenti
dalam 3 jam
Bicara sendiri Lonjakan Pasien tampak

9
diikuti emosi pasien bingung dengan
dengan bertambah kondisi sekitar,
sesekali berat, marah- orientasi kacau
menangis marah sehingga
berlanjut menimbulkan
samapai kegelisahan
akhirnya
dibawa ke
rumah sakit
Pasien Melamun Pasien sulit
tampak dengan mempertahankan
gelisah pandangan kontak mata dan
dengan yang kosong konsentrasi
perwujudan masih tetap
bejalan ada
mondar-
mandir di
dalam rumah
Pasien mulai Pasien juga Pasien merasa
ada gangguan masih tampak sangat bersalah
tidur, seperti berdiam diri dan tampak
memikirkan tetapi lebih merasa sangat
hal yang terlihat terbebani karena
berat dan menutup diri masalah tersebut,
terlihat sangat dari pasien menangis
mengganggu. lingkungan sambil menjawab
sekitar pertanyaan.
Pasien Suami pasien
merasa mengaku
sebagai istrinya
penari dan sempat
penyanyi melakukan
tenar dari gerakan aneh

10
Turki. Ia seperti penari
menyebutkan dan
berkali-kali dilakukannya
dan berulang, beberapa kali
tetapi kadang dalam sehari,
menyadari tetapi saat ini
bahwa itu sudah
tidak benar berkurang
Tidak mau
makan sejak
hari ini,
sehingga
pasien
tampak lemas
dan tidak bisa
jalan,
sehingga
aktivitas
pasien
terganggu. Ia
jadi tidak bisa
makan, mandi
dan
menjalankan
peran sebagai
ibu rumah
tangga
dengan baik.
Pasien
mendengar
bisikan dari
seorang
wanita yang

11
memintanya
untuk
mencari anak
kecil yang
baru saja
dilahirkannya
Pasien sempat
ingin bunuh
diri dengan
cara gantung
diri karena
tidak sanggup
menghadapi
masalahnya.

Tabel 2. Timeline gejala klinis berdasarkan autoanamnesis dan heteroanamnesis

Gejala klinis Intepretasi


Saat berbicara, sesekalipasien  Gangguan bentuk pikir non realistik
 Gangguan arus pikir asosiasi
berbicara sesuai kehendaknya tanpa
longgar
mendengarkan pertanyaan dan kalimat  Gangguan isi pikir obsesi dan

pasien tidak nyambung satu sama lain waham dosa


 Gangguan kualitas bicara asosiasi
dan terkadang terdiam sejenak. Pasien
longgar
juga merasa bahwa dirinya sangat  Gangguan kuantitas bicara blocking

bersalah atas masalah tersebut dan

pesimis untuk menyelesaikannya.


Pasien mendengar bisikan berupa kata-  Gangguan persepsi berupa

kata jelas yang terdengar di telinga dari halusinasi auditorik bentuk phoneme

seorang wanita yang ia kenal bahwa

dirinya baru saja melahirkan seorang

anak kecil lalu meminta suami untuk

12
mencarinya.
Raut wajah pasien diperiksa 
saat Afek depresif
 Anhedonia
tampak murung, tidak ekspresif dan  Anenergia
 Konsentrasi dan perhatian terganggu
tampak tidak bersemangat dan

berenergi. Pasien juga tampak tidak

bisa mempertahankan konsentrasi dan

perhatian.
Pasien memiliki keluhan sulit tidur  Gangguan tidur

sejak 8 hari SMRS dan menetap sampai

hari ini
Nafsu makan berkurang  Anorexia
Tidak mengenali waktu, tempat dan  Orientasi waktu, tempat dan orang

orang saat diperiksa terganggu.


Nyeri kepala bilateral, intensitas ringan-  Gejala klinis Tension type headache

sedang dan tidak berdenyut dengan

fotofobia dan muncul dengan pemicu

pikiran

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT

1. Status Interna :

Tekanan darah : 110/70 mmHg

Nadi : 84 x/menit

Frekuensi napas : 19 x/menit

Suhu tubuh : 36,7 C

SpO2 : 99% tanpa 02

 Kulit

Inspeksi : anemis (-), ikterik (-), edema (-)

13
Palpasi : nodul (-), sklerosis (-), atrofi (-)

 Kepala dan Leher

Inspeksi : normosefali, dalam batas normal.


Palpasi : nyeri bilateral terutama daerah occipital (+), pembesaran KGB

(-/-), peningkatan JVP (-/-)


Auskultasi : bruit (-)

 Mata

Inspeksi : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), merah (-/-),

iiiperdarahan (-), mata berair (-), ptosis (-), pandangan kabur (-),

iiipupil isokor kiri dan kanan.


Funduskopi : tidak dilakukan

 Telinga

Inspeksi : serumen minimal, sekret (-/-)


Palpasi : nyeri mastoid (-/-)

 Hidung

Inspeksi : epistaksis (-/-)


Palpasi : nyeri (-/-)

 Mulut

Inspeksi : perdarahan gusi (-), pucat (-), sianosis (-), stomatitis (-),

leukoplakia (-)

 Toraks

Inspeksi : gerak dada simetris antara kanan dan kiri


Palpasi : fremitus vokal simetris
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara napas vesikuler, wheezing (-/-), rhonki (-/-)

 Jantung

Inspeksi : iktus tidak tampak


Palpasi : iktus teraba pada ICS V midclavicula sinistra
Perkusi : batas kanan: ICS IV linea sternalis dektra
Batas kiri: ICS V linea midklavikula sinistra

14
Auskultasi : S1>S2 tunggal, irama regular, murmur (-), gallop (-)

 Abdomen

Inspeksi : bentuk permukaan abdomen cembung


Auskultasi : peristaltik usus (+) normal 3x/ menit
Perkusi : timpani
Palpasi : shifting dullness (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)
Nyeri tekan (-) - - -

- - -

- - -

Punggung
Inspeksi : skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
Palpasi : nyeri (-) nyeri ketok ginjal (-)
Ekstremitas
Inspeksi : gerak sendi normal, deformitas (-)
Palpasi : panas (-), nyeri (-), massa (-), edema (-)

2. Status Neurologis
Nervus I – XII : Dalam batas normal
Rangsang Meningeal : Tidak ada
Gejala peningkatan TIK : Tidak ada
Refleks Fisiologis : Dalam batas normal
Refleks patologis : Tidak ada

IV. STATUS MENTAL

A. Deskripsi Umum

1. Penampilan

Pasien merupakan seorang perempuan, datang dengan menggunakan baju

kaos berwarna merah dan kain sarung bermotif kotak-kotak. Wajah dan

penampilan pasien tampak sesuai dengan usianya. Pasien tampak terawat dan

tampak tenang.

2. Kesadaran : Jernih

3. Perilaku dan aktivitas motorik : Normoaktif

15
4. Pembicaraan : Spontan, asosiasi longgar, kontak verbal

(+), irama sedang dengan lancar dan

volume yang cukup.

5. Sikap terhadap pemeriksa : Tidak kooperatif

6. Kontak psikis : Kontak (+) ada, tidak wajar

B. Keadaan Afektif, perasaan, ekspresi

1. Mood : Hypothim
2. Afek : Depresif
3. Keserasian : Tidak serasi

C. Fungsi Kognitif

1. Kesadaran : Jernih
2. Daya konsentrasi : Terganggu (tidak dapat dipertahankan)
3. Orientasi
Waktu/Tempat/Orang/Situasi : Tidak baik/Tidak baik/Tidak baik/Tidak

baik
4. Daya ingat
Segera : Sulit dievaluasi
Jangka pendek : Sulit dievaluasi
Jangka menengah : Sulit dievaluasi
Jangka panjang : Sulit dievaluasi

5. Intelegensia : Sulit dievaluasi

D. Reaksi Emosional

1. Stabilitas : Stabil
2. Pengendalian : Terkendali
3. Sungguh-Sungguh/Tidak : Tidak sungguh-sungguh
4. Dalam dan dangkalnya : Dangkal
5. Empati : Tidak dapat diraba-rasakan
6. Skala diferensiasi : Menyempit

7. Arus Emosi : Cepat

E. Gangguan Persepsi

1. Halusinasi A / V / G / T / O :+/–/–/–/–

16
2. Ilusi A / V / G / T / O :–/–/–/–/–
3. Depersonalisasi : Tidak
4. Derealisasi : Tidak
F. Proses Pikir

1. Bentuk pikir : Autistik


2. Arus pikir : Asosiasi longgar
3. Isi pikir : Waham dosa (+), obsesi

G. Kemampuan pengendalian Impuls : Terganggu

H. Daya Nilai

1. Norma sosial : Sulit dievaluasi

2. Uji daya nilai : Sulit dievaluasi

I. Tilikan : Derajat 2

Pasien menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan, tetapi dalam waktu

yang bersamaan juga menyangkal dirinya merasa sakit.

J. Taraf Dapat Dipercaya : Dapat dipercaya

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Anamnesis :

 Pada hari Senin (8 hari yang SMRS) pasien mulai menunjukan perubahan

perilaku. Pasien susah tidur, tampak gelisah, bicara sendiri, dan suka

melamun.
 Pada hari Rabu (4 hari yang SMRS) hingga sekarang pasien mulai

mengamuk, marah-marah terus-menerus, bicara terus-menerus, bicara

meracau, bicara sendiri, berteriak-teriak, menari-nari sendiri, gangguan

perawatan diri dan gangguan aktvitas sosial.


 Pada hari ketiga perawatan (10 Desember 2018), pasien mengeluhkan

sakit kepala ringan-sedang di seluruh kepala sejak kemarin yang tidak

17
berdenyut dan tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik. Sakit kepala muncul

saat masalah berangsur membaik.


 Pasien memiliki masalah ekonomi di keluarga yang menjadi beban pikiran

pasien yang tampaknya memicu timbulnya keluhan


 Halusinasi auditorik : Mendengar bisikan yang menyuruh suami mencari

anak kecil yang baru saja ia lahirkan.


 Obsesi : menyakini bahwa dirinya merupakan seorang penyanyi dan

terkenal dari Turki, sering menyanyi dan menari sendiri tetapi pasien sadar

bahwa itu tidak benar dan tidak berdaya menyingkirkan pikiran tersebut.

Pemeriksaan Psikiatri

 Kesadaran : Jernih
 Psikomotor : Normoaktif
 Mood : Hipotim
 Afek : Depresif
 Keserasian : Tidak serasi
 Kontak psikis : Kontak (+) ada , tidak wajar
 Ekspresi Emosi

1. Stabilitas : Stabil
2. Pengendalian : Terkendali
3. Sungguh-Sungguh/Tidak : Tidak sungguh-sungguh
4. Dalam dan dangkalnya : Dangkal
5. Empati : Tidak dapat diraba-rasakan
6. Skala diferensiasi : Menyempit

7. Arus Emosi : Cepat

 Proses Berpikir
1. Bentuk pikir : Autistik
2. Arus pikir : Asosiasi longgar
3. Isi Pikir : Waham (+); waham dosa dan obsesi
 Halusinasi : Auditorik (+)
 Stressor ekonomi dalam keluarga
Pasien merasa ekonomi keluarga kurang mencukupi sehingga

orang tua terlilit hutang sehingga orang tua menjadi sering bertengkar di

depan adik-adik pasien lalu memaksanya untuk tinggal di rumah pasien

dan suaminya dan pasien merasa sangat bersalah dengan keluarganya.

18
 Tilikan : Derajat 2 : Pasien menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan,

tetapi dalam waktu yang bersamaan juga menyangkal dirinya merasa sakit.

 Realitas terganggu dalam hal: Perilaku, kontak psikis, bentuk pikir, isi

pikir, persepsi, dan tilikan derajat 2.

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL

1. Aksis I : F 32.3 Episode depresif berat dengan gejala psikotik


2. Aksis II : Ciri kepribadian paranoid
3. Aksis III : None
4. Aksis IV : Masalah ekonomi dan masalah keluarga
5. Aksis V : GAF scale 40-31, beberapa disabilitas dalam hubungan

dengan realita & komunikasi, disabilitas berat dalam

beberapa fungsi.

1. Hendaya dalam menilai realita


Pasien terganggu dalam hal menilai realita, seperti

adanya perasaan bersalah yang teramat besar dan

tampak sangat terbebani oleh masalah dan mendengar

bisikan yang memberi perintah yang menurut suami hal

tersebut tidak benar.


2. Hendaya fungsi peran
Pasien lemas sehingga tidak dapat mengerjakan

aktivitas rumah tangga seperti biasanya.


3. Hendaya fungsi sosial
Pasien cenderung menyendiri, berdiam diri dan

melamun. Pasien juga lemas sehingga hanya berbaring

di kamar.
4. Hendaya perawatan diri
Pasien masih mau mandi, tetapi pasien lemas sehingga

tidak bisa mandi, makan hingga berbaju sendiri.

19
VII. DAFTAR MASALAH

A. Masalah terkait fisik


Hasil pemeriksaan fisik ditemukan keluhan cephalgia akut dengan keluhan

yang mengarah ke tension type headache.


B. Masalah terkait psikologis
Adanya gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik, bentuk pikir yang

autistik, gangguan arus pikir asosiasi longgar serta gangguan isi pikir

berupa waham dosa dan obsesi. Terdapat mood hipotim dengan afek

depresif, anhedonia, anenergia serta gangguan tidur, penurunan nafsu

makan, penurunan konsentrasi dan perhatian dan gagasan merasa bersalah.

VIII. PROGNOSIS

Diagnosis penyakit : dubia ad malam

Fase prodormal : dubia ad bonam

Diagnosis stressor : dubia ad bonam

Gangguan sistemik : dubia ad bonam

Perjalanan penyakit : dubia ad bonam

Usia saat menderita : dubia ad malam

Pendidikan : dubia ad bonam

Lingkungan sosial : dubia ad bonam

Pengobatan psikiatri : dubia ad bonam

Ekonomi : dubia ad bonam

Pernikahan : dubia ad malam

Keluarga : dubia ad bonam

Kesimpulan : dubia ad bonam

IX. TERAPI

20
Psikofarmaka :

- PO. Haloperidol 5mg 3x1

- PO. Fluoxetin 10 mg 1-0-0

- PO. Trihexyphenidil 2mg 3x1 (k/p)

- PO. Ibuprofen 2x400mg (k/p)

Psikoterapi :

Support terhadap penderita dan keluarga, yaitu memberi penjelasan kepada

keluarga tentang keadaan dan agar selalu memberikan dukungan kepada pasien.

X. DISKUSI

1. Definisi

Menurut World Health Organization (WHO), depresi merupakan satu

masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaaan

ditandai dengan munculnya gejala penurunan mood, kehilangan minat terhadap

sesuatu, perasaan bersalah, gangguan pola tidur atau gangguan makan, kehilangan

energi atau penurunan konsentrasi.1,2

2. Epidemiologi

Depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi

jutaan orang dewasa setiap tahunnya. Menurut WHO, depresi berada pada

peringkat ke empat sebagai penyakit yang menyebabkan ketidakmampuan di

dunia dan pada tahun 2020 diperkirakan akan naik menjadi peringkat kedua.

Terdapat sekitar 35 juta orang dengan depresi, 60 juta orang dengan bipolar, 21

juta orang dengan skizofrenia serta 47,5 juta orang dengan demensia. 2,3 Gangguan

depresi berat merupakan gangguan yang sering terjadi, dengan prevalensi seumur

21
hidup sekitar 15%, kemungkinan sekitar 25% terjadi pada wanita.1 Usia onset

untuk gangguan depresi berat kira-kira usia 40 tahun. 50% dari semua pasien,

mempunyai onset antara usia 20-50 tahun.3

Kondisi medis lain yang telah lama dikaitkan dengan gangguan depresi

antara lain adalah nyeri kepala primer tipe tegang atau tension-type headache

(TTH). Nyeri kepala ini merupakan nyeri kepala yang paling umum dialami oleh

30-78% masyarakat. Penelitian menyebutkan bahwa sebagian besar penderita

gangguan depresi pada TTH adalah perempuan dengan usia rata-rata 43 tahun.

Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa penderita gangguan

depresi pada populasi umum lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan

laki-laki dengan usia awitan rata-rata 40 tahun dan 50% penderita mengalami

gangguan depresi pada rentang usia 20-50 tahun.7 Berdasarkan klasifikasi TTH,

TTH episodik adalah nyeri kepala primer yang paling umum terjadi dengan

prevalensi sekitar 38-74%.

3. Etiologi dan Faktor Risiko

Dasar umum untuk gangguan depresi berat tidak diketahui, tetapi diduga

faktor -faktor dibawah ini berperan.

a) Faktor Biologis

Data yang dilaporkan paling konsisten dengan hipotesis bahwa

gangguan depresi berat berhubungan dengan disregulasi heterogen pada

amin biogenik (norepinefrin dan serotonin) seperti asam 5-

hydroxyindoleacetic (5-HIAA) dan asam homovanilic (HVA) yang ada

di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal. Norepinefrin dan

serotonin adalah dua neurotransmitter yang paling terilibat dalam

22
patofisiologi gangguan mood. Penurunan serotonin dapat mencetuskan

depresi, dan pada beberapa pasien yang bunuh diri memiliki

konsentrasi metabolik serotonin di dalam cairan serebrospinal yang

rendah serta konsentrasi tempat ambilan serotonin yang rendah di

trombosit. Serotonin berfungsi dalam meregulasi afek, agresi, tidur dan

nafsu makan.3

b) Faktor Genetika

Faktor genetik merupakan faktor penting dalam perkembangan

gangguan mood dengan jalur penurunan yang kompleks. Memiliki satu

orang tua yang terdepresi kemungkinan meningkatkan resiko dua kali

untuk keturunan, memiliki kedua orang tua terdepresi kemungkinan

meningkatkan resiko empat kali bagi keturunan untuk terkena

gangguan depresi sebelum usia 18 tahun.1

c) Faktor Psikososial

Peristiwa kehidupan dan stess lingkungan, suatu pengalamn klinis

yang telah lama direplikasikan adalah bahwa peristiwa kehidupan yang

menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan

mood daripada episode selanjutnya. Hubungan tersebut telah

dilaporkan untuk gangguan depresi berat.1

Data yang paling mendukung menyatakan bahwa peristiwa

kehidupan paling berhubungan dengan perkembangan depresi

selanjutnya adalah kehilangan orang tua sebelum usia 13 tahun.

Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset suatu

episode depresi adalah kehilangan pasangan.3,4

23
Berbagai faktor berkaitan dengan risiko terjadinya depresi antara

lain berhubungan dengan riwayat klinis seblelumnya (misalnya riwayat

depresi berulang, riwayat dysthymia, komorbiditas medis dan psikiatris,

gangguan cemas serta penyakit medis yang kronis. Faktor risiko lain

yaitu ras/etnis, kemiskinan, stress tinggi dalam pekerjaan,

pengangguran, tingkat kesehatan yang buruk, masalah keluarga,

perceraian dan menjadi orang tua tunggal.

Faktor risiko terjadinya TTH antara lain buruknya upaya kesehatan

diri sendiri (poor self-related health), tidak mampu relaks setelah

bekerja dan gangguan pola tidur. Sedangkan beberapa hal yang dapat

mencetuskan bangkitan terjadinya TTH adalah dehidrasi, pekerjaan

atau beban yang terlalu berat (overexertion), perubahan pola tidur,

caffeine withdrawal, fluktuasi hormonal wanita serta stress dan konflik

emosional, di mana stress dan konflik emosional adalah pemicu

tersering terjadinya TTH seperti pada kasus ini.7,8

d) Manifestasi Klinis

Gejala utama (pada derajat ringan, sedang dan berat):


Afek depresif,

Kehilangan minat dan kegembiraan, dan

Berkurangnya energi yang menuju

meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja

sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.4

Gejala lainnya :

a. Konsentrasi dan perhatian berkurang

24
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

c. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis

e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

f. Gangguan tidur

g. Nafsu makan berkurang.4

Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa

sekurang – kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode

lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung

lama.4

Tension type headache (TTH) dapat bermanifestasi berupa nyeri kepala seperti

terasa terikat di seluruh kepala dengan onset akut 24-72 jam, intensitas ringan-

sedang, tidak berdenyut dan tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik serta kadang

disertai dengan keluhan fotofobia. Nyeri kepala terasa kencang dengan kualitas

nyeri yang khas; menekan (pressing), mengikat (tightening) dan tidak berdenyut

(non-pulsating) yang terasa di kedua sisi kepala, leher, pelipis dan dahi, bahkan

leher dapat terasa kaku. Berdasarkan analisis multivariat karakterisitik klinis

kriteria diagnosis TTh yang memiliki nilai sensitivitas tertiggi adalah tidak

disertai muntah (99%), tidak disertai mual (96%), lokasi bilateral (95%).

Sedangkan yang memiliki nilai spesifisitas tinggi adalah intensitas ringan (93%)

dan kualitas menekan atau mengikat (86%).8 Berikut adalah perbedaan varian

TTH berdasarkan onset kejadian:

 TTH episodik bila nyeri kepala berlangsung selama 30 menit hingga 7

hari, minimal 10 kali dan kurang dari 180 kali setahun.

25
 TTH kronis bila nyeri kepala 15 hari dalam sebulan atau 180 hari dalam

setahun.

Tension-type headache (TTH) pada kasus ini harus diklasifikasikan antara

TTH yang disebabkan oleh gangguan fisik dan psikis, di mana dapat

diperhatikan beberapa hal di bawah ini:

 Situasi semula sakit kepala.

Apabila sakit kepala memiliki onset yang akut dengan keluhan yang dapat

terklasifikasikan sebagai gejala nyeri kepala primer yang tergolong nyeri

kepala karena gangguan fisik. Sedangkan sakit kepala yang dapat

dihubungkan dengan situasi psikis seperti stress karena suatu hal yang

dengan intensitas ringan yang bersifat kontinyu yang akan berhenti seiring

dengan berlalunya masalah.

 Lokasi sakit kepala

Lokasi sakit kepala dapat diklasifikasikan sesuai tipe nyeri kepala primer

maupun sekunder. Sakit kepala tanpa pola dan lokasi yang jelas, dapat

diarahkan menjadi sakit kepala karena gangguan psikis.

 Pola sakit kepala

Pola sakit kepala dapat diklasifikasikan sesuai tipe nyeri kepala primer

maupun sekunder. Pola dapat menentukan nyeri kepala karena gangguan

fisik maupun psikis, apabila keluhan cenderung berputar-putar dan

menyebutkan banyak keluhan lain yang bahkan tidak berhubungan serta

tidak sesuai dengan keluhan masing-masing tipe nyeri kepala maka dapat

diklasifikasikan sebagai nyeri kepala karena gangguan psikis.

26
e) Patofisiologi

Timbulnya depresi dihubungkan dengan peran beberapa neurotransmiter

aminergik. Neurotransmiter yang paling banyak diteliti ialah serotonin.

Konduksi impuls dapat terganggu apabila terjadi kelebihan atau kekurangan

neurotransmiter di celah sinaps atau adanya gangguan sensitivitas pada

reseptor neurotransmiter tersebut di post sinaps sistem saraf pusat.

Pada depresi telah di identifikasi 2 sub tipe reseptor utama serotonin yaitu

reseptor 5HTIA dan 5HT2A. Kedua reseptor inilah yang terlibat dalam

mekanisme biokimiawi depresi dan memberikan respon pada semua golongan

anti depresan.

Pada penelitian dibuktikan bahwa terjadinya depresi disebabkan karena

menurunnya pelepasan dan transmisi serotonin (menurunnya kemampuan

neurotransmisi serotogenik). Beberapa peneliti menemukan bahwa selain

serotonin terdapat pula sejumlah neurotransmiter lain yang berperan pada

timbulnya depresi yaitu norepinefrin, asetilkolin dan dopamin. Sehingga

depresi terjadi jika terdapat defisiensi relatif satu atau beberapa

neurotransmiter aminergik pada sinaps neuron di otak, terutama pada sistem

limbik. Oleh karena itu teori biokimia depresi dapat diterangkan sebagai

berikut :

1. Menurunnya pelepasan dan transport serotonin atau menurunnya

kemampuan neurotransmisi serotogenik.

27
2. Menurunnya pelepasan atau produksi epinefrin, terganggunya regulasi

aktivitas norepinefrin dan meningkatnya aktivitas alfa 2 adrenoreseptor

presinaptik.

3. Menurunnya aktivitas dopamin.

4. Meningkatnya aktivitas asetilkolin.

Teori yang klasik tentang patofisiologi depresi ialah menurunnya

neurotransmisi akibat kekurangan neurotransmitter di celah sinaps. Ini

didukung oleh bukti-bukti klinis yang menunjukkan adanya perbaikan depresi

pada pemberian obat-obat golongan SSRI (Selective Serotonin Re-uptake

Inhibitor) dan trisiklik yang menghambat re-uptake dari neurotransmiter atau

pemberian obat MAOI (Mono Amine Oxidasi Inhibitor) yang menghambat

katabolisme neurotransmiter oleh enzim monoamin oksidase.

Belakangan ini dikemukakan juga hipotesis lain mengenai depresi yang

menyebutkan bahwa terjadinya depresi disebabkan karena adanya aktivitas

neurotransmisi serotogenik yang berlebihan dan bukan hanya kekurangan atau

kelebihan serotonin semata. Neurotransmisi yang berlebih ini mengakibatkan

gangguan pada sistem serotonergik, jadi depresi timbul karena dijumpai

gangguan pada sistem serotogenik yang tidak stabil. Hipotesis yang

belakangan ini dibuktikan dengan pemberian anti depresan golongan SSRE

(Selective Serotonin Re-uptake Enhancer) yang justru mempercepat re-uptake

serotonin dan bukan menghambat. Dengan demikian maka turn over dari

serotonin menjadi lebih cepat dan sistem neurotransmisi menjadi lebih stabil

yang pada gilirannya memperbaiki gejala-gejala depresi. Mekanisme

28
biokimiawi yang sudah diketahui tersebut menjadi dasar penggunaan dan

pengembangan obat-obat anti depresan.5

Somatoform adalah kelompok gangguan yang meliputi simptom fisik

berulang (misalnya nyeri, mual dan sakit kepala) dimana tidak didapatkan

penjelasan secara medis mengenai dasar keluhannya.7,8 Pikiran juga dapat

dikaitkan dengan munculnya gejala fisik, seperti ketika kita merasa takut atau

cemas bisa muncul tanda-tanda seperti denyut jantung menjadi cepat,

berdebar, mual dan ingin muntah, gemetaran, berkeringan, mulut kering, sakit

dada sakit kepala, sakit perut nyeri otot serta nyeri punggung. Gejala fisik

tersebut disebabkan oleh meningkatnya aktivitas impuls saraf dari otak ke

berbagai daerah di tubuh. Selain itu, pelepasan adrenalin ke dalam aliran darah

juga bisa menyebabkan gejala fisik tersebut. Namun, ketika faktor mental

memunculkan gejala penyakit tetapi penyakit itu sendiri tidak dapat dideteksi

atau mengeluhkan sakit yang tidak sesuai dengan gejalanya, keadaan ini dapat

dikelompokkan menjadi gangguan psikosomatis.7 Pada pasien ini, nyeri kepala

yang dirasakan pada hari ke-3 perawatan timbul saat masalah keluarganya

sudah mulai berangsur-angsur mereda. Keluhan yang dirasakan juga tampak

sesuai dengan pengklasifikasian salah satu tipe nyeri kepala primer, yaitu

tension-type headache (TTH). Keluhan ini tidak menetap dan tidak berulang

dalam waktu yang bedekatan. Pasien tidak pernah berobat kemanapun dan

belum mendapatkan terapi serta tidak ada keluhan lain yang tidak

berhubungan dengan keluhan awal yang disertai dengan preukopasi

berlebihan. Pada pasien ini dapat ditinjau kembali mengenai ciri kepribadian

yang dimiliki, yaitu ciri kepribadian paranoid yang cenderung diam, kaku,

29
memendam, mudah tersinggung, hipersensitif dan mudah curiga yang

memang terdapat pada pasien ini yang dapat memicu tercetusnya episode

depresi.

f) Pedoman diagnostik

Pedoman diagnostik untuk episode depresi berat tanpa gejala psikotik:



Semua 3 gejala utama depresi harus ada

Ditambah sekurang-kurangnya 4 gejala

lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat



Bila ada gejala penting (misalnya agitasi

atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak

mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci

Episode depresif biasanya harus

berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, tetapi jika gejala utama amat

berat dan beronset cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan

diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu



Sangat tidak mungkin pasien akan mampu

meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali

pada taraf yang sangat terbatas.4

Pedoman diagnostik untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik



Episode depresif berat yang memiliki kriteria tanpa gejala psikotik tersebut

diatas;

Diseratai waham, halusinasi, atau stupor depresif. Waham biasanya

melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang

30
mengancam, dan pasien merasa bertanggungjawab atas hal itu. Halusinasi

auditorik atau alfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau

menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor

yang berat dapat menuju stupor. 4

g) Diagnosis banding

Pada setiap diagnosis banding gangguan psikotik, pemeriksaan medis

lengkap harus dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik. Semua kondisi

yang dituliskan di dalam diagnosis banding gangguan mood dan skizofrenia perlu

dipertimbangkan. Setiap kecurigaan terhadap kelainan neurologis perlu didukung

dengan pemeriksaan pemindaian (CT Scan) otak untuk menyingkirkan kelainan

anatomis dan EEG untuk memastikan setiap gangguan yang mungkin.

Diagnosis banding psikiatrik juga termasuk semua kemungkinan yang

dipertimbangkan untuk skizofrenia. Menurut PPDGJ III dan DSM V, diagnosis

banding untuk skizofrenia paranoid yang dapat digunakan adalah:

- Episode depresif berat dengan gejala psikotik (F 32.3)

- Gangguan psikotik polimorfik akut dengan gejala skizofrenia (F 23.1)

- Skizoafektif tipe depresif (F 25.1)

Tabel 3. Diagnosis Banding untuk Episode depresif berat dengan gejala


psikotik (PPDGJ III dan DSM-V)

31
F23.1
F32.3 Gangguan
F25.1
Episode depresif psikotik
Gejala Skizoafektif
berat dengan gejala polimorfik akut
tipe depresif
psikotik dengan gejala
skizofrenia

Onset 2
+ + +
minggu/kurang
Adanya
+ - +/-
stressor
Afek depresi + - +
Anhedonia + + -
Anergia + +/- +
Gangguan tidur + + +
Nafsu makan ↓ + - -
Konsentrasi
+ +/- +/-
dan perhatian ↓
Harga diri dan
kepercayaan + - +/-
diri ↓
Gagasan
tentang rasa
+ - +/-
bersalah dan
tidak berguna
h) Pandangan
masa depan + - +/-
yang suram
Gagasan atau
perbuatan
+ + +
membahayakan
diri sendiri
(+) (+)
Waham (+)
Berdosa,kemiskinan kebesaran
Halusinasi
+ + +
auditorik
Menonjol
bersama-
Keluhan yang
Depresif Skizofrenia sama
menonjol
(depresif &
skizofrenia)
Penatalaksanaan

32
Modalitas terapi yang utama untuk episode depresif berat dengan gejala

psikotik adalah penatalaksanaan kegawatdaruratan psikiatri bila ada, perawatan di

rumah sakit, medikasi, dan intervensi psikososial.

1) Penatalaksaan Fase Akut

Pada fase akut terapi bertujuan untuk mencegah pasien melukai dirinya

atau orang lain, mengendalikan perilaku yang merusak, mengurangi beratnya

gejala psikotik dan gejala terkait lainnya seperti agitasi, agresi, dan gaduh gelisah.

Langkah Pertama

Berbicara kepada pasien dan memberinya ketenangan.

Langkah Kedua

Pengikatan hanya dilakukan bila pasien hanya berbahaya terhadap dirinya

sendiri dan orang lain, serta usaha restriksi lainnya tidak berhasil. Pengikatan

dilakukan hanya boleh untuk sementara yaitu sekitar 2-4 jam dan digunakan untuk

memulai pengobatan.

Langkah Ketiga

Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk episode depresif berat

dengan gejala psikotik dengan pemberian obat antipsikotik. Meskipun terapi oral

lebih baik, pilihan obat injeksi untuk mendapatkan awitan kerja yang lebih cepat

serta hilangnya gejala dengan segera perlu dipertimbangkan.

Terapi psikofarmaka yang diberikan pada kasus ini adalah obat

antipsikotik oral dengan efek sedatif sehingga dapat mengatasi gangguan tidur,

kegelisahan, kekacauan pikiran dan perilaku pada penderita. Antipsikosis

merupakan obat yang digunakan untuk menghilangkan gejala psikotik primer

berupa waham dan halusinasi.6

33
Pada umumnya pemberian obat antipsikosis dimulai pada dosis awal sesuai

dengan dosis anjuran, dinaikkan setiap 2-3 hari sampai mencapai dosis efektif

yang dievaluasi setiap 2 minggu. Bila perlu, dosis dapat dinaikkan menjadi dosis

optimal, yang dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi). Setelah itu, dosis

dapat diturunkan setiap 2 minggu menjadi dosis maintenance yang dipertahankan

selama 6 bulan sampai 2 tahun yang diselingi oleh drug holiday 1-2 hari per

minggu. Lalu dosis di-tappering off setiap 2-4 minggu dan akhirnya dihentikan. 7

Penghentian obat ini dilakukan secara bertahap karena penghentian mendadak

akan menimbulkan efek ekstrapiramidal, jika hal ini terjadi dapat diberikan

triheksiphenidil.3 Pada kasus ini, tryhexyphenidil diberikan bila perlu saja, yaitu

bila muncul gejala-gejala sindrom ekstrapiramidal, karena obat tersebut berefek

dalam mempengaruhi absorpsi antipsikosis sehingga kadarnya dalam plasma

menurun.

Untuk pasien dengan sindrom psikosis yang “multi-episode”, terapi

pemeliharaan (maintenance) diberikan paling sedikit selama 5 tahun. Pemberian

yang cukup lama ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5-5 kali.7

Selain dilakukan pemberian obat anti-psikosis, pasien juga dapat diberikan

obat anti-depresi. Mekanisme kerja dari obat anti-depresi adalah :

 Menghambat ‘reuptake aminergic

neurotransmitter’

 Menghambat penghancuran oleh enzim

‘monoamine oxidase’

Sehingga terjadi peningkatan jumlah ‘aminergic transmitter’ pada sinaps

neuron di SSP.1,2,5

34
Golongan obat anti depresan antara lain :

 Trisiklik: Amitriptylin, Tianeptine,

Imipramine, Clomipramine, Opipramol

 Tetrasiklik: Maprotiline, Mianserin,

Amoxapine

 MAOI Reversibel: Moclobemide

 Atypical: Trazodone, Mirtazepin

 SSRI (Selective Serotonin Reuptake

Inhibitor): Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Citalopram.

Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan onset efek primer (efek

klinis) sekitar 2-4 minggu, efek sekunder (efek samping) sekitar 12-24 jam, serta

waktu paruh sekitar 12-48 jam (pemberian 1-2 kali per hari). Ada 5 proses dalam

pengaturan dosis, yaitu:

- Initiating dosage (tes dosage), untuk mencapai dosis anjuran selama 1

minggu, misalnya amitriptylin 25 mg/hari pada hari 1-2,50 mg/hari pada hari

ke 3 dan ke 4, 100 mg/hari pada hari ke 5 dan ke 6.

- Titrating dosage (optimal dose), dimulai pada dosis anjuran sampai dosis

efektif, kemudian menjadi dosis optimal. Misalnya amitriptylin 150 mg/hari

selama hari ke 7-15 ( minggu II), kemudian minggu ke III 200 mg/hari dan

minggu ke IV 300 mg/hari.

- Stabilizing dosage (Stabilzation dose), dosis optimal dipertahankan selama 2-

3 bulan. Misalnya amitriptylin 300 mg/hari (dosis optimal) kemudian

diturunkan sampai dosis pemeliharaan.

35
- Maintaning dosage (maintanance dose), selama 3-6 bulan. Biasanya dosis

pemeliharaan ½ dosis optimal. Misalnya amitriptylin 150 mg/hari.

- Tapering dosage (tapering dose), selama 1 bulan, kebalikan dari proses

initialing dose. Misalnya amitriptylin 150 mg/hari  100 mg/hari selama 1

minggu. 100 mg  75 mg/hari selama 1 minggu, 75 mg  50 mg/hari

selama 1 minggu, 50 mg/hari  25 mg/hari selama 1 minggu.

Dengan demikian obat anti depresan dapat dihentikan total. Kalau kemudian

sindrom depresi kambuh lagi, proses dimulai lagi dari awal dan seterusnya.

Pada dosis pemeliharaan dianjurkan dosis tunggal pada malam hari (single

dose one hour before sleep) untuk golongan trisiklik dan tetrasiklik. Untuk

golongan SSRI diberikan dosis tunggal pada pagi hari setelah sarapan.1,2,5

Tension type headache (TTH) ditatalaksanai dengan tujuan reduksi

frekuensi dan intensitas nyeri kepala. Terapi dapat dimulai dengan

memberikan analgesik seperti ibuprofen (400mg), paracetamol (1000 mg) dan

ketoprofen (25 mg). Ibuprofen lebih efektif daripada paracetamol. Di samping

itu, intervensi nonfarmakologis juga dapat diberikan, antara lain: latihan

relaksasi, relaksasi progresif, terapi kognitif, biofeedback training, cognitive-

behavioural therapy, atau kombinasinya. Solusi lain adalah modifikasi gaya

hidup seperti istirahat di tempat tenang atau ruangan gelap. Peregangan leher

dan otot bahu selama 20-30 menit yang idealnya setiap pagi hari selama

minimal seminggu dan yang paling penting adalah meminimalisir faktor

risiko dan faktor pemicu.7,8

2) Psikoedukasi

Dilakukan terhadap pasien jika kondisi sudah membaik:

36
- Pengenalan terhadap penyakit, manfaat pengobatan, cara pengobatan, efek

samping pengobatan.

- Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol setelah

pulang dari perawatan.

- Menggali kemampuan pasien yang bisa dikembangkan.

3) Pengobatan Psikososial

Pasien dapat terbantu dengan kombinasi terapi keluarga, latihan

keterampilan sosial, dan rehabilitasi kognitif. Oleh karena bidang psikiatri sulit

memutuskan diagnosis dan prognosis gangguan skizofrenia yang sebenarnya,

ketidakpastian tersebut harus dijelaskan kepada pasien. Kisaran gejala mungkin

sangat luas, karena pasien mengalami keadaan psikosis dan variasi kondisi mood

yang terus berlangsung. Anggota keluarga dapat mengalami kesulitan untuk

menghadapi perubahan sifat dan kebutuhan pasien tersebut.1,6

4) Terapi kognitif (Cognitive Behavioral Therapy)

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, Sadock, Sinopsis Psikiatri, Jilid II, edisi Ketujuh, Binarupa


Aksara, Jakarta, 1997.

2. Kaplan, Harold I: Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat, Widya Medika, Jakarta,


1998.

3. Maslim, R: Panduan Praktis Penggunaan Obat Psikotropika, edisi II,


Jakarta, 2001.

4. Maslim, R : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari


PPGDJ III, Jakarta, 2001.

5. Maramis WF. Catatan Kuliah Kedokteran Jiwa, Cetakan Ketujuh. Penerbit


Airlangga University Press, Surabaya, 1998.

6. Elvira SD, Hadisukanto G, editor. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia.

37
7. Setiawan CJ, Sadeli HA, Sapiie TWA. Hubungan antara gejala depresi dan
Tension-type headache (TTH): Studi eksploratif. Departemen Ilmu Saraf
Fakultas Kedekteran Universitas Padjajadaran. 2013; vol 45(1), 28-34.

8. Anurogo D. Tension Type Headache. Neuroscience Department, Brain


and Circulation Institute of Indonesia (BCII). 2014; vol 41(3), 186-91.

38